Anda di halaman 1dari 13

Adsorbsi Isoterm

Hanifah 2009430009

PTK II PERCOBAAN 3

I.

JUDUL Adsorpsi Isoterm

II. PRINSIP PERCOBAAN Teori Langmuir dan Freundlich yaitu dimana banyaknya zat yang diadsorpsi pada temperature tetap oleh suatu adsorben tergantung dari konsentrasi dan keaktifan adsorbat untuk mengadsorpsi zat-zat tertentu. III. MAKSUD DAN TUJUAN Menentukan jumlah gram zat yang diadsorpsi oleh karbon pada temperatur tertentu. IV. TEORI Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal dua istilah yang hampir sama tetapi sebenarnya mempunyai pengertian yang sedikit berbeda, yaitu istilah absorbsi dan adsorbsi. Istilah adsorbsi dan absorbsi biasanya disamakan, padahal tidak. Absorbsi merupakan proses dimana substansi tidak hanya terikat pada permukaan saja tetapi menembus permukaan dan terdistribusi ke bagian-bagian dalam dari komponen yang mengabsorbsi, solid atau liquid. Sebagai contoh air terabsorbsi oleh spons, uap air terabsorpsi oleh anhidrat CaCl2. Sedangkan pengertian adsorbsi adalah peristiwa penyerapan molekul-molekul cairan atau gas pada permukaan adsorban, hingga terjadi perubahan konsentrasi pada cairan atau gas tersebut. Zat yang diserap disebut adsorbat, sedangkan zat yang menyerap disebut adsorban., contoh dari peristiwa adsorbsi adalah larutan asam asetat diadsorbsi oleh karbon. Pada peristiwa adsorbsi ini, bila konsentrasi zat pada bidang batas menjadi lebih besar daripada konsentrasi medan salah satu fase adsorbsi maka disebut adsorbsi positif, demikian juga sebaliknya.apabila konsentrasi zat pada bidang batas menjadi lebih kecil daripada konsentrasi medan salah satu fase adsorbsi maka disebut adsorbsi negatif.

Peristiwa adsorbsi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. yang mempengaruhi jumlah dari molekul yang teradsorbsi, antara lain adalah sifat-sifat dari adsorban dan adsorbat itu sendiri, luas permukaan total adsorban, suhu proses dan tekanan jika pada adsorbsi tersebut terdiri dari gas. Substansi yang tertarik pada permukaan disebut adsorbat, sementara substansi yang menarik disebut adsorban. Ada dua tipe adsorbsi, dimana perbedaan antara kedua tipe adsorbsi ini ditentukan oleh panas reaksi yang terlibat dalam proses adsorbsi tersebut. Kedua tipe reaksi tersebut adalah : 1. Adsorbsi secara fisika Adsorbsi secara fisika ini mempunyai karakteristik antara lain panas reaksi yang rendah yaitu 10000 kal/mol atau kurang. Hal ini disebabkan oleh ikatan yang terlibat dalam adsorbsi itu ikatan yang lemah, yakni gaya Van der Waals. 2. Adsorbsi secara kimia. Adsorbsi secara kimia ini melibatkan panas adsorbsi yang cukup besar antara 10000 kal/mol sampai 20000 kal/mol. Hal ini disebabkan adanya reaksi kimia yang biasanya terjadi dan menyebabkan adanya ikatan antara adsorban dan adsorbat menjadi lebih kuat. Hubungan antara jumlah substansi yang diserap oleh adsorban dan tekanan atau konsentrasi pada kesetimbangan pada suhu konstan disebut adsorbsi isothermis. Hubungan dari jumlah zat teradsorbsi persatuan luas atau satuan massa dan tekanan dinyatakan dengan persamaan Freundlich : y=k P1/n (1) (Maron and Lando, 755) dimana : y = berat atau volume zat yang teradsorbsi persatuan luas atau massa adsorban. P = tekanan saat kesetimbangan tercapai k, n = konstanta untuk adsorbsi solute yang tidak melibatkan gas maka persamaan Freundlich menjadi : y = k C1/n (2) yaitu

dimana C adalah konsentrasi solute saat kesetimbangan. Persamaan (2) dapat dituliskan dalam bentuk logaritma : log10y = log10k + 1/n log10C (3) jika kemudian dibuat plot log10y melawan log10C maka akan diperoleh garis lurus yang mempunyai slope sebesar 1/n dan nilai interceptnya sebesar log10k. Disamping persamaan Freundlich terdapat persamaan yang lebih baik untuk menyatakan adsorbsi isothermis yaitu lebih dari satu lapis ketebalannya. Pada adsorbsi isothermis ini, persamaan-persamaan yang digunakan dalam perhitungan diturunkan dari teori Langmuir, dengan asumsi-asumsi : 1. Seluruh permukaan adsorban memiliki aktivitas adsorbsi yang sama atau seragam. 2. 3. 4. Tidak terjadi interaksi antara molekul-molekul adsorbat. Mekanisme adsorbsi yang terjadi seluruhnya sama. Hanya terbentuk satu lapisan adsorbat yang sempurna di permukaan adsorban. Teori Langmuir menggambarkan proses adsorbsi terdiri dari dua proses berlawanan, yaitu kondesasi molekul-molekul fase teradsobsi menuju permukaan dan evaporasi/penguapan molekul-molekul dari permukaan kembali ke dalam larutan. Jika adalah fraksi total luas permukaan yang tertutup oleh molekul yang teradsorbsi, maka ruang kosong yang masih tersedia untuk adsorbsi adalah (1- ). Menurut teori kinetik, kecepatan rata-rata molekul yang menyerang satuan luas permukaan solid yang tidak tertutupi adsorbat. Rate kondensasi = k1 (1- ) C dimana : k1 adalah konstanta perbandingan. Pada sisi lain, bila k2 adalah rate dimana suatu molekul menguap dari permukaan saat permukaan tersebut tertutup penuh, maka rate penguapannya adalah : Rate penguapan = k2 (5) (4) persamaan Langmuir. Langmuir berpendapat bahwa gas diadsorbsi pada permukaan solid dan membentuk tidak

Pada saat kesetimbangan maka rate kondensasi harus sama dengan rate penguapan sehingga : k1 (1- ) C = k2 = = dimana k = k1/k2 Dan karena = N/Nm, maka dari persamaan (6) selanjutnya dapat diturunkan sebagai berikut :
N = kC / (1 + kC) Nm
N Nm = kC 1 + kC

k1 C k 2 +k1 C
kC 1 + kC

(6)

Jika kedua ruas dibalik akan diperoleh :


kC 1 + kC = N Nm
C 1 + kC = N k Nm

dan akhirnya didapatkan bentuk persamaan :


C N = C N m + 1 kN m

.(7)

dimana : N C = = jumlah adsorbat yang teradsorbsi per gram adsorban pada konsentrasi pada saat kesetimbangan. konsentrasi saat tercapai kesetimbangan Nm = jumlah mol adsorbat yang diperlukan untuk satu lapisan tunggal. Luas permukaan adsorban dapat dihitung dengan menggunakan persamaan A = Nm . N . . 10-20 Dimana : A = luas permukaan adsorbsi per gram (m2/gram) No = Bilangan Avogadro = Luasaan yang ditempati satu molekul teradsorbsi. (m2/gram) .(8)

(Maron and Lando, 755) Isoterm Freundlich Untuk rentang konsentrasi yang kecil dan campuran yang cair, isoterm adsorpsi dapat digambarkan dengan persamaan empirik yang dikemukakan oleh Freundlich. Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda. Persamaan ini merupakan persamaan yang paling banyak digunakan saat ini. Persamaannya adalah x/m = kC1/n dengan x = banyaknya zat terlarut yang teradsorpsi (mg) m = massa dari adsorben (mg) C = konsentrasi dari adsorbat yang tersisa dalam kesetimbangan k,n,= konstanta adsorben Dari persamaan tersebut, jika konstentrasi larutan dalam kesetimbangan diplot sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada koordinat logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersep k. Dari isoterm ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan efisiensi dari suatu adsorben. Hal-hal yang dapat dilihat dari kurva isoterm adalah sebagai berikut. 1. Kurva isoterm yang cenderung datar artinya, isoterm yang digunakan menyerap pada kapasitas konstan melebihi daerah kesetimbangan. 2. Kurva isoterm yang curam artinya kapasitas adsorpsi meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi kesetimbangan. Adsorpsi ion logam oleh material padat secara kuantitatif mengikuti persamaan Langmuir. Persamaan Langmuir merupakan tinjauan teoritis proses adsorpsi. C/(x/m) = 1/Kb + C/b Persamaan tersebut dapat digunakan pada adsorpsi oleh padatan. Konstanta pada persamaan adsorpsi Langmuir menunjukan besarnya adsorpsi maksimum (b) oleh adsorben, dan K menunjukkan konstanta yang dihubungkan dengan energi ikat.

V. ALAT DAN BAHAN A. 1. r 2. 3. 4. Kaca 5. saring 6. 7. sampel B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bahan : Asam Asetat (CH3COOH) Natrium Hidroksida (NaOH) Asam Oksalat (C2H2O4 . 2 H2O) Kalium Permanganat (KMnO4) Karbon aktif Phenol Phtalein (PP) Aquadest Filler Botol Kertas Buret Kaca arloji Corong Alat : Erlenmeye 8. shaker 9. volume 10. semprot 11. klem 12. Labu ukur Statif dan Botol Pipet Flask

VI.

PROSEDUR 1. 0,1 N. 2. Botol H2O I 50 Dibuat larutan dalam botol sampel dengan perbandingan: II 0 III 75 IV 90 V 95 Digunakan larutan NaOH 0,1 N; H2C2O4 0,1 N; CH3COOH

CH3COOH Karbon Aktif 3. 4. 5. 6. normalitas. VII.

50 1gr

100 1gr

25 1gr

10 1gr

5 1gr

Dikocok semua botol dengan flash shaker selama 20 menit. Dititrasi dari tiap larutan sebanyak 5 ml dengan indicator Dicatat hasil volume titrasi (duplo) Dihitung konsentrasi larutan baku tiap botol dalam

PP dan larutan baku NaOH 0,1 N.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN N NaOH Volume titrasi = 8,5 mL Konsentrasi Asam Oksalat = 0,1 N Volume Asam Oksalat = 10 mL N NaOH = (10 x 0,1)/8,5 = 0.1176 N A.Tabel konsentrasi Asam asetat sebelum dan setelah reaksi

Botol 1 2 3 4 5

C1 50% x 0.1176 = 0.0588 100% x 0.1176 = 11.76 25% x 0.1176 = 2.94 10% x 0.1176 = 1.176 5% x 0.1176 = 0.588

C2 (2.12 x 0.1176)/0.588 = 0.277 (4.52 x 0.1176)/11.76 = 0.026 (0.75 x 0.1176)/2.94 = 0.0392 (0.52 x 0.1176)/1.176 = 0.0226 (0.22 x 0.1176)/0.588 = 0.0268

B. menghitung Asam Asetat yang diadsorbsi X1 =((5.88-0.277) x 60 x 100)/ 1000 = X2 =((11.76-0.026) x 60 x 100)/ 1000 =

X3 =((2.94-0.0392) x 60 x 100)/ 1000 = X4 =((1.176-0.0226) x 60 x 100)/ 1000 = X5 =((0.588-0.0268) x 60 x 100)/ 1000 = C Tabel logaritma botol 1 2 3 4 5 X (gram) - Log x C2 (N) -log C2

VIII. IX.

PEMBAHASAN TUGAS MODUL 1. Syarat-syarat apa yang dibutuhkan untuk adsorpsi bagi percobaan adsorpsi? 2. Apakah perbedaan antara : a. Adsorpsi fisik dan adsorpsi kimiawi b. Adsorpsi dan absorpsi 3. Turunkan persamaan isotherm Langmuir untuk adsorpsi dari larutan-larutan melalui jalan kinetic yaitu dengan anggapan bahwa terjadi kesetimbangan antara kecepatan molekul yang tiba pada permukaan dari fase larutan dan kecepatan molekul-molekul yang meninggalkan permukaan kelarutannya 4. Buatlah grafik : a. Korelasi waktu antara C vs Waktu b. Log C vs Log x/m c. Konsentrasi vs C1/n d. Konsentrasi vs x/m e. Tentukan besar harga k dari nilai grafik Jawab ;

1. Syarat yang dibutuhkan untuk percobaan adsorpsi : a.Seluruh permukaan adsorban memiliki aktivitas adsorbsi yang sama atau seragam. b. d. Tidak terjadi interaksi antara molekul-molekul adsorbat. Hanya terbentuk satu lapisan adsorbat yang sempurna di permukaan adsorban.

c. Mekanisme adsorbsi yang terjadi seluruhnya sama.

2.

a. Adsorbsi secara fisika

Adsorbsi secara fisika ini mempunyai karakteristik antara lain panas reaksi yang rendah yaitu 10000 kal/mol atau kurang. Hal ini disebabkan oleh ikatan yang terlibat dalam adsorbsi itu ikatan yang lemah, yakni gaya Van der Waals. b. Adsorbsi secara kimia. Adsorbsi secara kimia ini melibatkan panas adsorbsi yang cukup besar antara 10000 kal/mol sampai 20000 kal/mol. Hal ini disebabkan adanya reaksi kimia yang biasanya terjadi dan menyebabkan adanya ikatan antara adsorban dan adsorbat menjadi lebih kuat. Perbedaan adsorpsi dan absorpsi : Adsorpsi atau penyerapan adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan maupun gas , terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penjerap, adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis atau film (zat terjerap, adsorbat) pada permukaannya. Berbeda dengan absorpsi yang merupakan penyerapan fluida oleh fluida lainnya dengan membentuk suatu larutan. Absorpsi atau penyerapan, dalam kimia, adalah suatu fenomena fisik atau kimiawi atau suatu proses sewaktu atom, molekul, atau ion memasuki suatu fase limbak (bulk) lain yang bisa berupa gas, cairan, ataupun padatan. Proses ini berbeda dengan adsorpsi karena pengikatan molekul dilakukan melalui volume yaitu

dan bukan permukaan.

3. Jika adalah fraksi total luas permukaan yang tertutup oleh molekul yang teradsorbsi, maka ruang kosong yang masih tersedia untuk adsorbsi adalah (1- ). Menurut teori kinetik, kecepatan rata-rata molekul yang menyerang satuan luas permukaan solid yang tidak tertutupi adsorbat. Rate kondensasi = k1 (1- ) C dimana : k1 adalah konstanta perbandingan. Pada sisi lain, bila k2 adalah rate dimana suatu molekul menguap dari permukaan saat permukaan tersebut tertutup penuh, maka rate penguapannya adalah : Rate penguapan = k2 penguapan sehingga : k1 (1- ) C = k2 = = dimana k = k1/k2 Dan karena = N/Nm, maka dari persamaan (6) selanjutnya dapat diturunkan sebagai berikut :
N = kC / (1 + kC) Nm

(4)

(5)

Pada saat kesetimbangan maka rate kondensasi harus sama dengan rate

k1 C k 2 +k1 C
kC 1 + kC

(6)

N Nm = kC 1 + kC

Jika kedua ruas dibalik akan diperoleh :


kC 1 + kC = N Nm

C 1 + kC = N k Nm

dan akhirnya didapatkan bentuk persamaan :


C N = C N m + 1 kN m

.(7)

dimana : N C = = jumlah adsorbat yang teradsorbsi per gram adsorban pada konsentrasi pada saat kesetimbangan. konsentrasi saat tercapai kesetimbangan Nm = jumlah mol adsorbat yang diperlukan untuk satu lapisan tunggal. Luas permukaan adsorban dapat dihitung dengan menggunakan persamaan A = Nm . N . . 10-20 Dimana : A = luas permukaan adsorbsi per gram (m2/gram) No = Bilangan Avogadro = Luasaan yang ditempati satu molekul teradsorbsi. X. Daftar Pustaka Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Basset, J etc. 1994. Buku Ajar Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Day, R. A. dan Underwood, A. L. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. Mulyono, HAM. 2005. Kamus Kimia Cetakan ke-3. Jakarta : Bumi aksara. Svehla, G. 1995. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. Jakarta: Kalman Media Pustaka. (m2/gram) .(8)