Anda di halaman 1dari 12

UPACARA RAMBU SOLO

Oleh: Resty Aditya Wardani (121041001)

MAGISTER KAJIAN SASTRA DAN BUDAYA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS AIRLANGGA 2011

1. Pendahuluan Suku Toraja adalah salah satu suku di Indonesia yang mendiami Kabupaten Tana Toraja di provinsi Sulawesi selatan. Jika dilihat dari segi topografinya, Tana toraja terletak di daerah pegunungan, perbukitan, dan berlembah. Tana toraja termasuk salah satu tujuan wisata popular setelah Bali di Indonesia. Toraja yang sering juga dikenal sebagai the land of heavenly kings memlilki berbagai macam tradisi dan kebudayaan yang tidak dapat ditemukan di dunia sehingga menjadi salah satu daya tarik wisatawan baik asing maupun lokal. Kata Toraja sendiri berasal dari bahasa Bugis to riaja, yang artinya 'orang yang berdiam di negeri atas'. Jika dilihat dari segi mitosnya, suku Toraja percaya bahwa nenek moyang pertama mereka menggunakan tangga dari langit untuk turun dari nirwana yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa). Jika dilihat dari segi sejarahnya, penelitian menyatakan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk lokal yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang imigran dari Teluk Tongkin (daratan Tiongkok). Meskipun saat ini mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen protestan dan Islam, namun kepercayaan asli Tana Toraja yaitu Aluk Todolo yang merupakan warisan budaya nenek moyang suku Toraja masih tetap dilestarikan dan dilaksanakan hingga saat ini. Ritual atau prosesi adat masyarakat Toraja dikelompokkan dalam dua jenis:
1. Rambu Tuka: upacara berkaitan dengan upacara kehidupan, seperti kelahiran,

perkawinan, pesta panen, dan pesta sukacita. Ritual ini dilakukan pada saat matahari terbit hingga tengah hari (aluk rampe mataallo). Karena ritual ini berorientasi ke arah timur, maka dilaksanakan di sebelah timur tongkonan (rumah adat Toraja).
2. Rambu Solo: upacara yang berkaitan dengan kematian. Ritual ini mengikuti aturan

upacara pada tengah hari hingga sore hari (aluk rampe matampu). Upacara ini dilaksanakan di sebelah barat tongkonan.

2. Upacara Rambu Solo A. Pengertian Rambu Solo adalah upacara kematian yang telah diwarisi oleh masyarakat Toraja secara turun-temurun. Upacara ini mewajibkan keluarga yang ditinggal mati membuat pesta besar sebagai penghormatan terakhir kepada mendiang untuk kemudian kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan yang disebut dengan Puya (dunia arwah atau akhirat). Upacara ini sering juga disebut sebagai upacara penyempurnaan kematian. Dikatakan demikian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang sakit sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman bahkan diajak berbicara. Dalam masa penungguan sebelum prosesi Rambu Solo terpenuhi, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Penyimpanan jenazah itu bisa memakan waktu lama hingga bertahun-tahun karena biaya yang dibutuhkan untuk melangsungkan upacara tergolong besar. Masyarakat Toraja juga percaya bahwa kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah orang yang meninggal tersebut, apakah akan menjadi arwah gentayangan (bombo), arwah yang mencapai tingkat dewa (to-membali puang), atau menjadi dewa pelindung (deata). Rambu Solo tergolong sebagai upacara yang meriah karena dilangsungkan selama berhari-hari bahkan dua minggu bagi kalangan bangsawan. Adapun tingkatan dalam upacara Rambu Solo berdasarkan waktu penyelenggaraan:
1. Dipasang Bongi: upacara pemakaman yang hanya dilaksanakan dalam 1 malam saja. 2. Dipatallung Bongi: upacara pemakaman yang berlangsung selama 3 malam dan

dilaksanakan dirumah mendiang serta dilakukan pemotongan hewan.


3. Dipalimang Bongi: upacara pemakaman yang berlangsung selama 5 malam dan

dilaksanakan disekitar rumah mendiang serta dilakukan pemotongan hewan.


4. Dipapitung Bongi: upacara pemakaman yang berlangsung selama 7 malam yang pada

setiap harinya dilakukan pemotongan hewan.

B. Prosesi Upacara Rambu Solo


1. Pertama-tama, jenazah dipindahkan dari rumah duka ke tongkonan tammuon (tongkonan

pertama), lalu dilakukan prosesi Ma'pasilaga tedong (Adu kerbau).

Gambar 1: Ma'pasilaga Tedong


2. Disusul dengan Matinggoro Tedong, yaitu penyembelihan satu ekor kerbau sebagai

kurban dengan cara menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja. Kerbau lalu dipotong-potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir.

Gambar 2: Matinggoro Tedong

3. Setelah sehari berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon), jenazah dipindahkan

ke tongkonan yang berada lebih tinggi dari tongkonan pertama, yaitu tongkonan barebatu. Prosesi yang dilakukan pun sama yaitu penyembelihan kerbau dan pembagian daging.

Gambar 3: Pemindahan jenazah


4. Setelah disemayamkan pada tongkonan barebatu selama sehari, jenazah diarak atau

dipindahkan ke Rante (lapangan tempat acara berlangsung). Jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba terdapat lambalamba (kain merah panjang, biasanya terletak di depan keranda jenazah). Para lakilakilah yang mengangkat keranda tersebut sedangkan wanita yang menarik lamba-lamba. Dalam pengarakan terdapat urut-urutan yang harus dilaksanakan, pada urutan pertama kita akan lihat orang yang membawa gong yang sangat besar, lalu diikuti dengan tompi saratu (umbul-umbul), lalu tepat di belakang tompi saratu ada barisan tedong (kerbau) diikuti dengan lamba-lamba dan yang terakhir barulah duba-duba.

Gambar 4: Duba-duba

Gambar 5: Proses pengarakan jenazah

5. Puncak dari upacara Rambu Solo disebut dengan upacara Rante. Di rante akan berdiri

lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga dan tamu yang hadir karena selama acara berlangsung mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap di lantang. Pertama-tama Jenazah diarak sampai di rante yang nantinya akan diletakkan di lakkien (menara tertinggi berbentuk tongkonan yang terbuat dari pohon bambu tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Dalam upacara Rante ini

terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah (matudan, mebalun), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah (maroto), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan (mapopengkalo alang), dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (mapalao), dll. Pihak keluarga dapat memilih menguburkan jenazah orang tua dan dewasa di patane (kuburan dari kayu yang berbentuk tongkonan), gua batu, makam batu berukir, atau tebing batu; patung kayu yang disebut tau-tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Sedangkan untuk bayi dan anak-anak, biasanya di kubur di pohon-pohon besar ataupun menggantung peti mati mereka dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut akan bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.

Gambar 6: Makam Tebing Batu

Gambar 7: Kuburan pohon

6. Setelah upacara rante terlaksana, agenda acara berikutnya selama beberapa hari ke depan

adalah penerimaan tamu dan adu kerbau. C. Simbol-Simbol yang Terkandung dalam Upacara Rambu Solo 1. Kerbau

Pada upacara kematian ini terdapat beberapa simbol yang muncul, salah satunya adalah penggunaan kerbau sebagai syarat utama dalam upacara. Kerbau yang disembelih berkisar puluhan ekor bahkan jumlah itu bisa mencapai ratusan:
1. Dari segi spiritual: masyarakat Toraja percaya bahwa kerbau adalah hewan suci yang

digunakan sebagai kendaraan bagi roh untuk dapat sampai ke alam nirwana. Semakin banyak kerbau yang dikurbankan, maka semakin cepat dan lancar roh tersebut untuk sampai ke sana.
2. Dari segi ekonomi dan sosial: kerbau merupakan hewan yang melambangkan tingkat

kemakmuran dan status sosial seseorang karena harga satu ekor kerbau di Tana Toraja bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah tergantung jenisnya. 2.Ketinggian Di kalangan masyarakat Tana Toraja, keberadaan makam diketinggian tertentu seperti bukit dan tebing, menandakan beberapa hal:
1. Dari segi spiritual: semakin tinggi tempat jenazah tersebut disemayamkan, maka semakin

cepat pula rohnya sampai ke nirwana.


2. Dari segi sosial: semakin tinggi tempat pemakaman menandakan semakin tinggi status

sosialnya. D. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Upacara Rambu Solo 1. Nilai Moral Upacara Rambu Solo adalah salah satu fenomena budaya yang mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong orang Toraja yang terkenal dengan semboyan misa kada di potuo pantan kada di po mate (artinya kurang lebih sama dengan bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh). Meskipun terlihat sebagai pemborosan karena mencari harta untuk dihabiskan dalam upacara kematian, unsur gotong royong dan tolong-menolong yang terlihat masih sangatlah jelas, contohnya dalam menyediakan dan menyumbang modal dan hewan kurban dan juga dalam membantu berjalannya prosesi upacara seperti mendirikan lantang bersama-sama, menyiapkan jamuan bagi para tamu, mempersiapkan keperluan upacara,

mengarak jenazah, dll. Ada juga pembagian daging kerbau dan babi kepada orang-orang yang tidak mampu sehingga upacara ini dapat dianggap sebagai perekat hubungan kekeluargaan tidak hanya antar sesama keluarga sendiri atau sesama kelas sosial tetapi juga antar kelas-kelas sosial lainnya. 2.Nilai Religi Suku Toraja dikenal sebagai suku yang religius dan memiliki integritas yang tinggi dalam menjunjung dan melestarikan budayanya. Setiap kegiatan dan pekerjaan mereka memiliki nilai sacral dan dilaksanakan menurut adat yang berlaku karena mereka percaya bahwa melanggar adat adalah suatu pantangan. Demikian halnya keberadaan manusia dari lahir sampai mati, aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol yang berhubungan dengan kesakralan itu selalu mengiringi keberadaan masyarakat Toraja. Hal inilah yang membentuk way of thinking dan way of living Toraja dan menjadi budaya yang melekat dengan begitu kuatnya. Begitu juga yang terlihat dalam pelaksanaan upacara Rambu Solo yang kental dengan nilai religinya. Masyarakat Toraja memaknai kematian sebagai suatu hal yang tidak untuk ditakuti karena mereka percaya bahwa ada kehidupan yang kekal setelah kematian. Bagi mereka, kematian adalah bagian dari ritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau boleh ditangisi, kematian juga menjadi kegembiraan yang membawa manusia kembali menuju kehidupan kekal, tempat leluhur berasal. 3.Nilai Sosial Dari sekian banyak kebudayaan yang ada, upacara kematian Rambu Solo merupakan fenomena sosial yang penting dalam menunjukkan strata sosial masyarakat Toraja. Dahulu, hanya kaum bangsawan dan kelas ataslah yang dapat menyelenggarakan upacara yang membutuhkan dana besar ini. Adapun srata sosial yang ada di Toraja:
1. Tana bulaan: bangsawan tinggi, pemegang aturan dan pemimpin agama 2. Tana bassi: bangsawan menengah 3. Tana karurun: rakyat kebanyakan, orang-orang terampil 4. Tana kua-kua: hamba pengabdi bangsawan

E. Tinjauan Kritis terhadap Upacara Rambu Solo

Setelah mempelajari dan mencari tahu tentang Rambu Solo, kita dapat melihat beberapa pergeseran nilai yang ditemukan dalam upacara kematian ini. Dahulu, upacara ini murni bersifat religius dan wajib yang bertujuan untuk memenuhi syarat dan kewajiban seseorang yang tunduk pada adat dan kepercayaan nenek moyang suku Toraja. Masyarakat percaya bahwa melanggar aturan adat berarti pantangan dan dengan menyempurnakan upacara kematian ini, seseorang akan terjamin kehidupan masa depannya di alam nirwana. Namun sekarang, telah terjadi pergeseran atas makna upacara ini antara lain:

1.

Nilai Moral Nilai kebersamaan yang ada dahulu telah terkikis dengan jaman dan tergantikan oleh

nilai individualitas. Dari luar kita melihat adanya nilai kebersamaan yang besar dalam upacara ini, namun jika kita mencermati lebih dalam, kita akan menemukan bahwa unsur gengsi atau prestise sangat mencolok dalam upacara ini. Demi martabat di mata masyarakat, keluarga mendiang akan mempersiapkan pesta semeriah mungkin dengan hewan kurban sebanyak mungkin. Walaupun merupakan sebuah pemborosan yang penting harga diri akan terjaga. Lebih jauh lagi, sumbangan dukacita yang dibawa keluarga dan para tamu tidak lagi dianggap sebagai tanda simpati melainkan hutang. Jika sekali waktu kelurga atau tamu tersebut menggelar upacara yang sama, maka mau tidak mau hutang itu harus dibayar, jika tidak, harga diri menjadi taruhan. 2. Nilai Religi Unsur-unsur upacara yang dulunya murni berbau Aluk Todolo, kini telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan nilai-nilai agama-agama (mayoritas pemeluk agama Kristen protestan) yang dipeluk oleh masyarakat Toraja seperti contohnya, setelah prosesi utama upacara selesai, biasanya masyarakat akan mengadakan acara doa atau kebaktian bersama sekaligus acara amal dan pembagian daging kurban. 3. Nilai Sosial

Saat ini, upacara Rambu Solo merupakan peristiwa sosial yang dijadikan sebagai ajang pembuktian status sosial bagi masyarakat Toraja. Melalui upacara ini, telah terjadi pergeseran standard dalam menentukan status sosial masyarakat Toraja. Dulu, upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan, namun seiring dengan perkembangan ekonomi dan jaman, status sosial tidak lagi berdasarkan pada darah, keturunan atau kedudukan (bangsawan atau tidak) melainkan berdasarkan tingkat kemapanan ekonomi bahkan pendidikan. Masyarakat Toraja beranggapan bahwa semakin meriah upacara tersebut dan semakin banyak harta yang dikeluarkan, maka semakin baik pula nilai upacara tersebut dan semakin tinggi pula status sosial yang dimiliki (terlepas dari status berdasarkan darah kebangsawanannya).

4.

Nilai Ekonomis Saat ini, upacara Rambu Solo tidak hanya dipandang semata-mata sebagai ritual suci melainkan juga sebagai salah satu objek wisata budaya dan aset ekonomi penting bagi masyarakat Toraja dan Indonesia pada umumnya. Selain makna religius yang dikandung, sebagai salah satu budaya Toraja, upacara ini juga telah membuka lapangan pekerjaan dan jalan perekonomian yang baik bagi masyarakat Toraja. Toraja beserta aset budayanya telah menjadi objek wisata terlaris kedua setelah Bali dimana pendapatan utama daerahnya berasal dari bidang pariwisata. Para pengembang pariwisata menjadikan Toraja sebagai daerah petualangan yang eksotis yang memiliki kekayaan budaya. Dengan adanya makam-makam Tana Toraja beserta upacara-upacara adat dan budaya-budayanya yang unik sebagai sumber wisata baik dalam maupun luar negeri, perekonomian yang dimiliki Tana Toraja jelas terangkat. Sebagian besar dari masyarakat Toraja bekerja di bidang pariwisata, menjadi pemandu wisata, atau menjual cinderamata,dll.

Daftar Pustaka Mardi. 2005. Tradisi Aluk Todolo Tanah Toraja. Yogyakarta.

Said, Abdul Azis. 2004. Simbolisme Tradisional Toraja. Yogyakarta.