Anda di halaman 1dari 9

FRAKTUR NASAL Fraktur tulang muka disebabkan trauma pada wajah yang menyebabkan satu hingga banyak tulang

wajah patah komplit atau tidak komplit. Tulang nasal merupakan tulang yang paling sering patah dari tualng maxillofacial lainnya. Pada anamnesa, ditanyakan : 1. Penyebab fraktur nasal Penyebab terbanyak adalah jatuh atau kecelakaan lalu lintas dari sepeda motor tanpa menggunakan helm. Penyebab lainnya adalah trauma langsung misalnya akibat perkelahian, terjatuh, olahraga, kecelakaan industrial, dan luka tembak. Dalam sebuah penelitian retrospektif anak-anak Brasil usia 5-17 tahun, Cavalcanti dan Melo menemukan bahwa luka wajah yang paling sering pada laki-laki (78,1%; 3-kali lipat lebih umum daripada pada wanita) usia 13-17 tahun (60,9%), dan penyebab paling umum dari cedera ini adalah jatuh (37,9%) dan kecelakaan lalu lintas (21,1%). [1] Dari luka di wajah, patah tulang hidung juga yang paling umum (51,3%), diikuti oleh kompleks zygomatic-orbital (25,4%) (Samuel, 2009; Sudjatmiko, 2010). 2. Rentang waktu Rentang waktu antara trauma dan konsultasi dengan dokter bedah sangatlah penting untuk penatalaksanaan pasien. 3. Arah dan besarnya trauma Arah dan besarnya kekuatan dari benturan. Sebagai contoh, trauma dari arah frontal bisa menekan dorsum nasal, dan menyebabkan fraktur nasal. Pada kebanyakan pasien yang mengalami trauma akibat olahraga, trauma nasal yang terjadi berulang dan terus menerus, dan deformitas hidung akan menyebabkan sulit menilai antara trauma lama dan trauma baru sehingga akan mempengaruhi terapi yang diberikan. 4. Keluhan penyerta Informasi mengenai keluhan hidung sebelumnya dan bentuk hidung sebelumnya juga sangat berguna. Keluhan utama yang sering dijumpai adalah epistaksis, deformitas hidung, obstruksi hidung dan anosmia (Samuel, 2009; McMullin, 2009).

Fraktur nasal ditandai dengan (Rubinstein, 2000) :


a. Laserasi pada hidung, b. Epistaksis akibat robeknya membran mukosa. Jaringan lunak hidung

akan nampak ekimosis dan udem yang terjadi dalam waktu singkat beberapa jam setelah trauma dan cenderung nampak di bawah tulang hidung dan kemudian menyebar ke kelopak mata atas dan bawah. c. Deformitas hidung seperti deviasi septum atau depresi dorsum nasal yang sangat khas, deformitas yang terjadi sebelum trauma sering menyebabkan kekeliruan pada trauma baru. d. Pemeriksaan yang teliti pada septum nasal sangatlah penting untuk menentukan antara deviasi septum dan hematom septi, yang merupakan indikasi absolut untuk drainase bedah segera. e. Sangatlah penting untuk memastikan diagnosa pasien dengan fraktur, terutama yang meliputi tulang ethmoid. Fraktur tulang ethmoid biasanya terjadi pada pasien dengan fraktur nasal fragmental berat dengan tulang piramid hidung telah terdorong ke belakang ke dalam labirin ethmoid, disertai remuk dan melebar, menghasilkan telekantus, sering dengan rusaknya ligamen kantus medial, apparatus lakrimalis dan lamina kribriformis, yang menyebabkan rhinorrhea cerebrospinalis. f. Pada pemeriksaan fisis dengan palpasi ditemukan krepitasi akibat emfisema sukutan, teraba lekukan tulang hidung dan tulang menjadi irregular.
g. Pada pasien dengan hematom septi nampak area berwarna putih

mengkilat atau ungu yang nampak berubah-ubah pada satu atau kedua sisi septum nasal. Keterlambatan dalam mengidentifikasi dan penanganan akan menyebabkan deformitas bentuk pelana, yang membutuhkan penanganan bedah segera.
h. Pemeriksaan dalam harus didukung dengan pencahayaan, anestesi,

dan semprot hidung vasokonstriktor. Spekulum hidung dan lampu kepala akan memperluas lapangan pandang. Pada pemeriksaan dalam akan nampak bekuan darah dan/atau deformitas septum nasal.
2

DIAGNOSIS BANDING Diagnosis Banding : kontusio nasal, fraktur le fort II, III Diagnosis fraktur nasal yang akurat tergantung pada riwayat dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Riwayat yang lengkap meliputi penilaian terhadap (1) kekuatan, arah, dan mekanisme cedera; (2) munculnya epistaksis atau rhinorea cairan serebrospinalis, (3) riwayat fraktur atau operasi nasal sebelumnya, dan (4) obstruksi nasal atau deformitas nasal eksterna setelah cedera. Pemeriksaan fisik yang paling akurat jika dilakukan sebelum timbulnya edema pasca trauma. Pemeriksaan ini memerlukan pencahayaan yang cukup (lampu kepala atau otoskop), instrumentasi (spekulum hidung), dan suction (sebaiknya tipe Frasier). Inspeksi pada bagian dalam hidung sangat penting (Ross, 2009). Fraktur Le Fort CT scan koronal tulang wajah telah menggantikan foto polos dalam evalusi fraktur Le fort, terutama dengan penggunaan rekonstruksi 3-D. karena fraktur le fort sering bercampur dari satu sisi ke sisi lainnya, CT scan lebih unggul daripada foto polos dan membuat visualisasi dari yang lebih mudah dalam rekonstruksi fraktur (Samuel, 2009). Jika CT scan tidak tersedia dapat dilakukan foto lateral, waters dan cladwell untuk mengevaluasi fraktur. Hampir semua fraktur Le fort menyebabkan darah berkumpul di sinus maksilaris. 1) Fraktur Le fort I : menunjukan pelebaran fraktur ke horizontal di mandibula inferior, kadang kadang termasuk fraktur dari dinding lateral sinus, memanjang ke tulang palatine dan pterygoid. 2) Fraktur Le fort II : pemeriksaan radiologis menunjukan gangguan dari pelek orbital inferior lateral saluran orbital dan patah tulang dari dinding medial orbital dan tulang nasal. Fraktur memperluas posterior kedalam piring pterygoid. 3) Fraktur Le fort III : pemeriksaan radiologis menunjukan patah tulang pada sutura zygomaticofrontal, zygoma, dinding medial orbita, dan tulang

hidung meluas ke posterior melalui orbita di sutura pterygomaksilaris ke fosa sphenopalatina. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan darah lengkap Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada penderita dengan kelainan bedah ditujukan pada mencapai diagnosis dasar yang spesifik dari patologi bedah yang diderita. Selain itu, pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk evaluasi keadaan patologi lainnya yang ditemukan pada penderita yang menentukan atau turut menentukan pemulihan terapi bedah atau resiko terapi. Berdasarkan penemuan laboratorium dapat dinilai kondisi pasien yang sebelumnya tidak dikenal untuk memperkecil resiko pembedahan dan untuk memperbaiki perjalanan pascabedah Dalam kasus dengan jumlah perdarahan yang signifikan dari atau di mana pasien mungkin memerlukan intervensi operatif, tes darah berikut ini harus diperoleh:
1) Sel darah lengkap - Untuk mengecek hemoglobin dan jumlah trombosit 2) Studi

koagulasi

(protrombin

waktu

[PT]

diaktifkan

parsial

thromboplastin waktu [aPTT])


3) Golongan Darah untuk transfusi jika diperlukan

4) Elektrolit b. Pemeriksaan radiologis 1) Foto polos kepala tiga posisi Hampir 50% dari patah tulang hidung kemungkinan akan terjawab dengan foto polos hidung. Cedera tulang rawan cedera tidak terdeteksi oleh radiografi, karena itu, tidak dianggap rutin memesan radiograf hidung hanya jika fraktur hidung diduga terisolasi. Walaupun garis patah kadang tidak jelas dengan membandingan sisi kontralateral, bisa ditemui diskuntinuitas tulang. Perhatikan pengisian sinus oleh darah. 2) CT-Scan

Computed tomography (CT) scan menyediakan informasi terbaik mengenai sejauh mana cedera patah tulang di hidung dan wajah, khususnya digital Volume tomography (DVT). CT-Scan bisa melihat garis patah yang tidak Nampak dengan foto polos (Sudjatmiko, 2010; Lee, 2009; Bremke, 2009; Seltzer, 1973). PENATALAKSANAAN 1. Konservatif Fraktur nasal merupakan fraktur wajah yang tersering dijumpai. Jika dibiarkan tanpa dikoreksi, akan menyebabkan perubahan struktur hidung dan jaringan lunak sehinggga akan terjadi perubahan bentuk dan fungsi. Karena itu, ketepatan waktu terapi akan menurunkan resiko kematian pasien dengan fraktur nasal. Penatalaksanaan fraktur nasal berdasarkan atas gejala klinis, perubahan fungsional dan bentuk hidung, oleh karena itu pemeriksaan fisik dengan dekongestan nasal dibutuhkan. Dekongestan berguna untuk mengurangi pembengkakan mukosa. Pasien dengan perdarahan hebat, biasanya dikontrol dengan pemberian vasokonstriktor topikal. Jika tidak berhasil bebat kasa tipis, kateterisasi balon, atau prosedur lain dibutuhkan tetapi ligasi pembuluh darah jarang dilakukan. Bebat kasa tipis merupakan prosedur untuk mengontrol perdarahan setelah vasokonstriktor topikal. Biasanya diletakkan dihidung selama 2-5 hari sampai perdarahan berhenti. Pada kasus akut, pasien harus diberi es pada hidungnya dan kepala sedikit ditinggikan untuk mengurangi pembengkakan. Antibiotik diberikan untuk mengurangi resiko infeksi, komplikasi dan kematian. Analgetik berperan simptomatis untuk mengurangi nyeri dan memberikan rasa nyaman pada pasien (Brian, 2009). 2. Operatif Untuk fraktur nasal yang tidak disertai dengan perpindahan fragmen tulang, penanganan bedah tidak dibutuhkan karena akan sembuh dengan spontan. Deformitas akibat fraktur nasal sering dijumpai dan membutuhkan reduksi dengan fiksasi adekuat untuk memperbaiki posisi hidung.
5

a. Penanganan fraktur nasal sederhana Periosteum dibungkus dan dinaikkan dengan kasa vaselin sampai ke dalam lubang hidung. Dengan adanya tekanan maka fraktur tulang akan terangkat dan dengan bantuan jari-jari tangan, tekanan dimanipulasikan untuk memperbaiki posisi hidung. Jika perdarahan terus berlangsung, hidung harus ditutup dengan kasa tipis berminyak selama 24 jam. Jika memungkinkan, fragmen tulang harus dipindahkan dalam beberapa jam sebelum terjadi pembengkakan yang akan menyebabkan deformitas. Bidai ekstrenal digunakan untuk mempertahankan posisi tulang hidung. Jika bidai tidak digunakan maka deformitas akan terjadi. b. Bidai fraktur nasal sederhana Kazanjian dan Converse menggambarkan bidai hidung sempurna sebagai sepotong lempeng logam lunak (ukuran 22), bentuk seperti jam pasir dibengkokan, jadi bagian bawah sesuai dengan bentuk hidung dan bagian atas dari lempeng berada pada dahi. Sebagian kecil dari pelat timah. Bidai hidung ini merupakan bidai biasa yang dapat membentuk hidung dan meratakan tekanan di segala sisi. Segala alat-alat tersebut ditahan oleh strip plester adhesif berbentuk T , yang melintasi dahi di bagian atas dan plester di bagian bawah menahan hidung . Hanya tekanan sedang yang dapat digunakan, bebat ini tidak dapat digangu paling sedikit 2 hari. Batas waktu penggunaan bebat adalah sampai hidung tidak meradang dan bengkak. Bidai fraktur nasal Kazanjian : Bidai ini diciptakan untuk melawan kekuatan yang timbul pada bagian lateral hidung pada titik tertentu yang diinginkan. Bidai ini terdiri dari bingkai logam berbentuk bujur; yang permukaan bagian bawah disediakan jeruji yang mengelilingi dengan ketebalan sekitar inchi. Bingkai merupakan pelat timah dan berada pada dahi. Bingkai dan pelat timah ini ditahan dengan bantuan plester adhesif yang berada di sekitar kepala. Batang horizontal dari bidai tidak dilapisi oleh pelat timah tetapi tetap terbuka sebagai persendian umum yang dapat dilalui dengan bebas dan tetap berada diposisinya pada kanan atau kiri garis tengah. Batang vertikal mencapai
6

bagian bawah dan dilapisi tipis oleh pelat timah , berguna untuk melawanan tekanan dari samping hidung. Perban elastis dipasang untuk melawan tekanan dari samping hidung; tekanan kuat pada hidung berguna untuk mempertahankan posisi hidung agar berada pada posisi koreksi. c. Metode suspensi; Kawat ini diperkenalkan oleh Kazanjian dan Converse sebagai penyokong bagian dalam hidung untuk mengangkat dan menggerakan fragmen tulang yang terpisah-pisah. Kawat ini berukuran 14, panjang 2 inchi, bentuk U dengan bahannya pelat timah. Kemudian kawat ini dimasukkan ke dalam hidung, yang dengan sendirinya akan mengangkat fragmen tulang tersebut ke atas dan melawanan tekanan yang timbul akibat bergesernya fragmen tulang hidung. Elastis perban kecil dihubungkan untuk menjangkau intranasal dan ekstranasal. Dengan adanya penahan elastis maka cukup kekuatan untuk menahan fragmen tulang agar berada diposisi yang seharusnya. d. Teknik manipulasi reduksi tertutup Teknik ini merupakan satu teknik pengobatan yang digunakan untuk mengurangi fraktur nasal yang baru terjadi. Sekitar 2-3 minggu setelah trauma, akan terbentuk jaringan fibrotik pada fragmen tulang di posisi yang tidak seharusnya, dan hal inilah yang menyebabkan reduksi dengan teknik ini tidak mungkin dilakukan. Hal yang kebanyakan menyebabkan kegagalan dalam terapi yang tidak adekuat adalah trauma septum nasal. Trauma septum nasal tidak lebih dari 30 % dari fraktur dasal. Dimana, satu hal yang sering ditemukan adalah fraktur depresi tulang hidung dan kasus Harisson (1979) telah menunjukkan bahwa sekitar 70 % dari frakktur nasal adalah disertai dengan fraktur septum nasal, yang biasanya dimulai di bagian atas spina nasalis anterior dan kemudian melewati bagian belakang dan naik sepanjang kartilago kuadrilateral sebelum belok ke dalam lamina perpendikularis os ethmoidalis, dan akhirnya meneruskan ke arah tulang hidung (Green, 2001; Mayorga, 2009; Vipul, 2008; Whitaker, 2010).
7

DAFTAR PUSTAKA

Bremke; Wiegand; Sesterhenn; Eken; Bien; Werner. 2009. Digital volume tomography in the diagnosis of nasal bone fractures. Rhinology, Vol47, 126-131 Green, K.M.J. Reduction of nasal fractures under local anaesthetic. Department of Otolaryngology, Royal Bolton Hospital, Bolton, United Kingdom. Rhinology, 39, 43-46 Lee, Min Hee; Cha, Jang Gyu ; Hong, Hyun Sook ; Lee; Jong Se; Park, Seong Jin; Paik, Sang Hyun; Lee, Hae Kyung. 2009. Comparison of High-Resolution Ultrasonography and Computed Tomography in the Diagnosis of Nasal Fractures. American Institute of Ultrasound in Medicine J Ultrasound Med 2009; 28:717723 Mayorga, Oliver. 2009. Nasal Fracture Reduction. Emedicine Medscape Journal McMullin, Brian. 2009. Facial Fractures in Motor Vehicle Collisions Epidemiological Trends and Risk Factors. Arch Facial Plast Surg/Vol 11 (No. 3), Pp.165-170 Powers, David B.; Will ,Michael; Bourgeois, Sidney L ; Hatt , Holly D. 2005. Maxillofacial Trauma Treatment Protocol. Oral Maxillofacial Surg Clin N Am Vol.17, Pp 341 355 Ross, Adam T. 2009. Nasal and Septal Fractures. Medical University of South Carolina. Emedicine Medscape Journal Rubinstein, Brian; Strong, Bradley. 2000. Management Of Nasal Fractures. American Medical Association, Arch Fam Med/Vol 9, Aug Samuel, Haraldson. 2009. Nasal Fracture. Emedicine medscape Journal. Seltzer, Albert. 1973. Depressed Nasal. Journal of National Medical Accociations. Vol.65 No.5: 420-421 Sudjatmiko, Gentur. 2010. Petunjuk praktis ilmu bedah plastik rekonstruksi. Edisi 2. Jakarta: Yayasan Khasana Kebajikan. Vipul, Dev. 2008. Nasal Fracture Surgery Treatment & Management. Emedicine Medscape Journal
8

Whitaker, Elizabeth. 2010. Rhinoplasty, Nasal Hump. Emedicine Medscape Journal