Anda di halaman 1dari 15

I.

JUDUL
Pematahan Dormansi Biji
II. TUJUAN
- Mengetahui cara pematahan dormansi pada biji berkulit keras dengan
fisik dan kimiawi
III. TINJAUAN PUSTAKA
Sebelum berubah menjadi tumbuhan baru, biji harus mengalami
fase yang berupa suatu proses perkecambahan. Perkecambahan adalah
permulaan aktif dari embrio yang menghasilkan pecahnya kulit biji dan
munculnya tanaman yang mampu mencukupi kebutuhan nutrisinya sendiri.
(Tim Pembina Fisiologi Tumbuhan. 2011 : 35)
Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda
perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan
untuk melangsungkan proses tersebut. Roberts (1972) menyebutkan bahwa
dormansi dapat terjadi meskipun benih viabel, benih tidak berkecambah
pada kondisi yang sudah memenuhi syarat untuk berkecambah (suhu, air dan
oksigen yang cukup). Dormansi dapat terjadi pada kulit benih maupun pada
embrio. Benih yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan
kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan
dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi
digunakan untuk mematahkan dormansi kulit benih, sedangkan stratifikasi
digunakan untuk mengatasi dormansi embrio.
Berdasarkan faktor penyebabnya, dormansi terbagi menjadi 2 yaitu
(1) Imposed dormancy (quiescence) dan (2) Innate dormancy (rest). Imposed
dormancy yaitu dormansi yang disebabkan terhalangnya pertumbuhan aktif
karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan, sedangkan Innate
dormancy disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ-organ benih
itu sendiri (Anonim. 2009) [Online]
Berdasarkan bentuk dormansi, maka dormansi dapat disebabkan oleh :
1. Kulit biji immpermeabel terhadap air (O
2
)
y Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nukleos,
pericarp, endocarp.
y Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam
substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
y Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun
lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan
skrifikasi mekanisme.
y Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit
biji, raphe/hilum, strophiole, adapun mekanisme higroskopinya diatur
oleh hilum.
y Keluar masuknya O
2
pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam
kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O
2
melalui
kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan
pemberian larutan kuat.
2. Embrio belum masak (immature embryo)
y Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio
masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya. Misalnya
Gnetum gnemon (melinjo)
y Embrio belum terdiferensiasi
y Embrio secara morfologis telah berkembang, namun masih butuh
waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.
y Dormansi immature embryo ini dapat dipatahkan dengan perlakuan
temperatur rendah dan zat kimia. (Kurniawati. 2010) [Online]
Penyebab Dormansi
Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangkaian kompleks
proses-proses metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa
gangguan. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat
pada terhambatnya seluruh rangkaian proses perkecambahan. Beberapa zat
penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan
lacton tidak jenuh; namun lokasi penghambatannya sukar ditentukan karena
daerah kerjanya berbeda dengan tempat di mana zat tersebut diisolir. Zat
penghambat dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun
daging buah. Selain itu dormansi biji juga dapat disebabkan oleh beberapa
hal, diantaranya antara lain :
1. Rendahnya / tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh
struktur benih (kulit benih) yang keras, sehingga mempersulit keluar
masuknya air ke dalam benih.
2. Respirasi yang tertukar, karena adanya membran atau pericarp dalam kulit
benih yang terlalu keras, sehingga pertukaran udara dalam benih menjadi
terhambat dan menyebabkan rendahnya proses metabolisme dan
mobilisasi cadangan makanan dalam benih.
3. Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio, karena kulit
biji yang cukup kuat sehingga menghalangi pertumbuhan embrio. Pada
tanaman pangan, dormansi sering dijumpai pada benih padi, sedangkan
pada sayuran dormasni sering dijumpai pada benih timun putih, pare dan
semangka non biji. (Mulyadi. 2010) [Online]

Teknik Pematahan Dormansi
Dikenal beberapa cara untuk memecahkan dormansi benih yaitu
secara fisik dan kimia. Beberapa literatur menyatakan perlunya kombinasi
antara metode pematahan dormansi untuk menghasilkan hasil yang optimal.
Berikut teknik pematahan dormansi yang dilakukan :
1. Secara Fisik (mekanik)
Teknik yang umum dilakukan yaitu skarifikasi / deoperkulasi
dengan kertas amplas tepat pada bagian titik tumbuh sampai terlihat
bagian embrionya. Skarifikasi memungkinkan air masuk ke dalam benih
untuk memulai berlangsungnya perkecambahan. Skarifikasi
mengakibatkan hambatan mekanis kulit benih untuk berimbibisi berkurang
sehingga peningkatan kadar air dapat terjadi lebih cepat sehingga benih
cepat berkecambah (Widyawati et al., 2009).
Cara lain yaitu dengan melakukan perendaman dalam air dengan
suhu normal atau suhu tinggi (500C), dan perlukaan daerah sekitar embrio
selebar 5 mm. Pelaksanakan teknik skarifikasi / deoperkulasi harus hati-
hati dan tepat pada posisi embrio berada. (Rofik dan Murniati, 2008).
2. Secara Kimia
Dilakukan perendaman pada larutan kimia yaitu KNO3, HCl,
H2SO4 dan hormon Giberelin/Giberelat (GA3). Teknik aplikasi larutan
KNO3 0,5% yaitu benih direndam ke dalam larutan kemudian ditutup
dengan plastik yang sudah diberi lubang pada bagian atasnya selama 36
jam. Perendaman dalam larutan HCl dengan kepekatan 95 % selama 15
25 menit, larutan H2SO4 10 % selama 3 jam, sedangkan konsentrasi
Giberelin (GA3) yang digunakan antara 100-300 mg/L air dengan waktu
perendaman selama 1-3 minggu (Sirait, D. 2011)
Perkecambahan Biji
Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar
embrionik) memanjang keluar menembus kulit biji. Di balik gejala morfologi
dengan permunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang
kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis. Secara fisiologi,
proses perkecambhan berlangsung dalam beberapa tahapan penting meliputi :
absorbsi air, metabolisme pemecahan materi cadangan makanan, transport
materi hasil pemecahan dari endosperm ke embrio yang aktif bertumbuh,
proses-proses pembentukan kembali materi-materi baru, respirasi, dan
pertumbuhan. (Salibury, 1985: 4160)
Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang
internal dan eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan
keseimbangan antara promotor dan inhibitor perkecambahan, terutam asam
giberelin (GA) dan asam abskisat (ABA). Faktor eksternal yang merupkan
ekologi perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban, cahaya dan adanya
senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor
perkecambahan (Lakitan. 1993).
Syarat perkecambahan biji
a. Air, memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
- Melunakkan kulit biji, embrio dan endosperm mengembang sehingga
kulit biji robek
- Memfasilitasi masuknya O
2
kedalam biji, air imbibisi pada dinding sel
sehingga sel jadi permeabel terhadap gas. Gas masuk secara difusi
sehingga suplai O
2
pada sel hidup meningkat dan pernafasan aktif
- Mengencerkan protoplasma, aktivasi macam-macam fungsinya
- Alat transport larutan makanan dari endosperm/kotiledon ketitik tumbuh
di embryonic axis : untuk membentuk protoplasma baru
Bagian biji yang mengatur masuknya air yaitu kulit dengan cara
imbibisi (perembesan ) dan mikro raphae hilum dengan cara difusi
(perpindahan substansi karena perbedaan konsentrasi) dari kadar air tinggi
ke rendah/konsentrasi larutan rendah ke tinggi
b. Tekanan hidrostatik
Berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan air. Kerika
volume air dalam membran biji telah sampai pada batas tertentu akan
timbul tekanan hidrostatik yang mendorong keluar biji sehingga
kecepatan penyerapan air menurun..
c. Daya intermolekuler
Merupakan tenaga listrik pada molekul-molekul tanah atau media
tumbuh. Makin rapat molekulnya, makin sulit air diserap oleh
biji.Berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan air.
d. Spesies dan Varietas
Berhubungan dengan faktor genetik yang menentukan susunan
kulit biji. (Pane, 2009) [Online]

Asam (Tamarindus indica) merupakan tumbuhan monokotil, dengan
akar berupa akar tunggang (radix primaria) yang menembus ke dalam tanah.
Batang Tamarindus indica merupakan tanaman yang berbatang jelas, dengan
batang yang biasanya keras dan kuat yang disebut dengan batang berkayu
(lignosus). Bentuk batang bulat (teres), dengan pohon yang selalu tegak
(fastigiatus) dan percabangan berupa simpodial. Daun pada tanaman
Tamarindus indica ini termasuk ke dalam daun
majemuk, yang lebih spesifik lagi merupakan daun
majemuk menyirip genap karena saling berhadapan..
Duduk daun bergantian, daun majemuk dengan 8 18
pasang anak daun, panjang anak daun 1 3,5 cm.
Bunga termasuk bunga lengkap karena memiliki daun kelopak, daun
mahkota, benang sari dan putik sebagai alat kelamin,
dengan demikian juga disebut sebagai bunga
hermaphrodite karena memiliki 2 alat kelamin bunga
yaitu benang sari sebagai alat kelamin jantan dan putik
sebagai alat kelamin betina.
Buah termasuk buah sejati tunggal (buah sungguh) dan
kering. Dimana mengandung banyak atau lebih dari satu
biji dan jika masak dapat pecah menjadi beberapa bagian
buah (mericarpia). Biji umumnya memiliki panjang
sampai 18 mm, bentuk tidak teratur,
warna : kemerah-merahan, coklat tua
atau hitam mengkilat. Kulit luarnya sangat keras.
(Plantamor. 2011) [Online]



IV. METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Alat dan Bahan
Alat, meliputi :
- Cawan petri 3
- Beaker glass
- Kertas ampelas kasar

Bahan, meliputi :
- Biji asam 30 buah
- Asam sulfat pekat
- Kertas hisap
- Air

4.2 Cara Kerja










Memilih 30 biji asam, bagi menjadi 3 kelompok
10 asam dibiarkan
(control)
10 asam di
ampelas
10 asam + H
2
SO
4

Pekat selama 15
menit
Membilas dengan air
Menyusun masing-masing biji pada cawan petri yang telah
dilapisi dengan kertas hisap basah
Menutup susunan biji asam dengan kertas hisap basah








}umlah benih yang beikecambah
}umlah benih keseluiuhan
x

V. HASIL PENGAMATAN
Kel. Kontrol H
2
SO
4
Amplas
1 2 4 6
2 5 5 5
3 0 9 10
4 - 5 -
5 0 1 0
6 0 7 7
7 2 0 4
8 4 4 4
TOTAL 13/70 39/80 38/70


}umlah benih yang beikecambah
}umlah benih keseluiuhan
x

x
Menyiram dengan air secukupnya tiap hari
Membiarkan selama 2 minggu di tempat yang terang
Mengamati proses terbentuknya radikel yang menandai biji
berkecambah dan menghitung prosentase perkecambahnya

BS0

x
Amplas

x
VI. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini, praktikan melkukan pengamatan mengenai
pematahan dormansi biji. Pematahan dormansi biji kali ini dilkukan pada
buah asam. Telah diketahui bahwasanya asam memiliki buah yang
mempunyai kulit luar yang keras, sehingga umumnya biji asam memiliki
waktu dorman yang cukup panjang. Dormansi biji sendiri yaitu suatu
keadaan tanaman dimana sebenarnya biji tersebut adalah hidup namun tidak
mau berkecambah. Tebalnya kulit biji yang menyebabkan dormansi terjadi
di karenakan pada biji yang kulit luarnya terlalu tebal akan menyebabkan
air dan oksigen susah masuk ke dalam biji tersebut sehingga embrio tidak
bisa melakukan proses pertumbuhan. Karena lamanya dormansi biji pada
buah asam ini maka dilakukan praktikum untuk mematahkan dormansi biji
asam.
Menurut Plantamor (2011) Kulit biji (spermodermis) pada asam
(Tamarindus sp.) memiliki kulit luar (testa) keras yang halus sedangkan
lapisan tengahnya (sclerotesta) kuat dan keras, serta lapisan kulit dalam
(endotesta) yang biasanya tipis seperti selaput, yang juga disebut sebagai
kulit ari. Asam memiliki masa dorman yang cukup tinggi karena kerasnya
kulit luar yang menyebabkan imbibisi air dan gas yang sulit masuk ke dalam
kulit biji sehingga menyebabkan embrio tidak bisa melakukan proses
perkecambahan.
Perlakuan pematahan dormansi biji yang praktikan gunakan yaitu
secara mekanik dan kimia. Perlakuan secara mekanik dilakukan dengan
menggunakan amplas (skarifikasi/deoperkulasi), dimana seluruh bagian biji
terutama yang tertutup oleh kulit luar yang keras diamplas sepenuhnya
hingga biji asam terlihat bewarna putih tanpa kulit luar. Skarifikasi
memungkinkan air masuk ke dalam benih untuk memulai berlangsungnya
perkecambahan. Skarifikasi mengakibatkan hambatan mekanis kulit benih
untuk berimbibisi berkurang sehingga peningkatan kadar air dapat terjadi
lebih cepat sehingga benih cepat berkecambah. Adapun perlakuan kimia
yang dilakukan yaitu dengan merendam biji asam pada H
2
SO
4
pekat (asam
sulfat pekat) selama kurang lebih 15 menit. Perendaman biji asam pada
H
2
SO
4
pekat ini bertujuan agar kulit luar biji asam yang keras bisa
terkelupas, mengingat H
2
SO
4
pekat merupakan asam kuat yang dapat
melunakkan dan memecahkan kulit biji asam yang cukup keras, dengan
lunaknya biji asam akan menyebabkan biji lebih permeabel terhadap air dan
gas serta dapat menghidrolisa kulit biji yang keras dan perkecambahan biji
dapat terjadi lebih cepat. Sebagai kontrol digunakan pula biji asam yang
tidak diberi perlakuan apapun, hal ini untuk melihat bagaimana tingkat
prosentase perkecambahan biji pada ketiga perlakuan, lebih cepat mana
perkecambahan pada biji yang tidak diberi perlakuan (control), di ampelas
atau di larutkan dalam H
2
SO
4
pekat. Untuk mendapatkan hasil yang valid,
maka dilakukan pengamatan selama 2 minggu dengan tiap harinya disiram
air secukupnya agar kelembapan tetap terjaga. Masing-masing 10 asam pada
tiap perlakuan diletakkan pada cawan petri dengan bagian bawah dan atas
biji diberi kertas hisap, kertas hisap ini berfungsi sebagai media
pertumbuhan biji asam sekaligus untuk menjaga kelembapan air pada cawan
petri.
Setelah 2 minggu pengamatan, didapatkan hasil bahwasanya tingkat
pertumbuhan kecambah biji asam yang tercepat berturut-turut adalah biji
asam yang telah diampelas, biji asam yang dilarutkan dalam H
2
SO
4
pekat,
dan yang paling lambat yaitu biji asam yang tanpa perlakuan (control).
Prosentase perkecambahan biji yang dimpelas sebesar 54.28 %, prosentase
perkecambahan biji asam yang dilarutkan dalam H
2
SO
4
pekat sebesar
43.75%, sedangkan prosentase perkecambahan biji asam control hanya
sekitar 18.57%. Berdasarkan data tersebut maka dapat dikatakan
bahwasanya hasil pengamatan telah sesuai dengan literature yang ada, diman
disana dijelaskan bahwasanya pada biji asam yang tanpa perlakuan (control)
memiliki masa dormansi biji yang cukup tinggi, oleh karenanya disana
didapati prosentase pertumbuhan kecambah yang relative kecil. Masa
dormansi yang tinggi pada biji asam control ini dikarenakan kerasnya kulit
biji pada asam sehingga sulit ditembus oleh radikel. Adanya perkecambahan
biji asam pada praktikum ini mungkin dikarenakan biji asam yang
digunakan sudah melalui masa dormansi biji yang lama dan sudah waktunya
untuk berkecambah. Dari kedua perlakuan antara pematahan dormansi biji
secara mekanik dan kimia dapat diketahui bahwasanya pematahan dormansi
biji yang lebih efektif yaitu dengan pematahan secara mekanik (ampelas),
hal ini dikarenakan pematahan biji yang dilakukan dengan mengamplas
semua kulit biji keras hingga tak btersisa akan mempermudah radikel untuk
tumbuh terutama setelah disiram dengan air, ketika air disiramkan pada biji ,
akan terjjadi imbibisi biji yang selanjutnya akan mempermudah radikel
untuk tumbuh dan cepat melakukan perkecambahan. Pada perlakuan dengan
perendaman pada H
2
SO
4
pekat ternyata kurang efektif untuk mematahkan
dormansi biji, meskipun H
2
SO
4
pekat merupakan asam kuat yang dapat
melemahkan kulit biji yang keras namun mungkin dari 70 biji asam yang
dilakukan pada piraktikum ini tidak semua kulit bijinya terpecah ketika
diberi H
2
SO
4
pekat akibatanya biji asam yang tumbuh hanya 43.75% saja.
Tidak terpecahnya kulit biji pada perendaman H
2
SO
4
pekat ini terjadi karena
beberapa factor diantaranya factor intrinsic dari biji asam itu sendiri
(perbedaan kerasnya kulit luar biji asam pada tiap biji) atau factor dari
kurang lamanya perendaman dalam H
2
SO
4
pekat.
Faktor lain yang menyebabkan dormansi pada biji yaitu faktor
lingkungan eksternal, seperti cahaya, temperatur, dan air. Adapun factor
internalnya yaitu struktur luar kulit biji, kematangan embrio, adanya
inhibitor, dan rendahnya zat perangsang tumbuh. Faktor selanjutnya yaitu
faktor waktu, yaitu waktu setelah pematangan, hilangnya inhibitor, dan
sintesis zat perangsang tumbuh.

VII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan maka dapat
diambil kesimpulan bahwasnya :
- Pematahan dormansi biji pada biji berkulit keras dapat dilkukan secara
mekanik maupun kimiawi. Pematahan dormansi biji secara mekanik
dapat dilkukan dengan mengamplas kulit luar biji asam yang keras
hingga bersih (tidak ada kulit luar biji asam lagi yang terlihat),
sedangkan pematahan dormansi biji secara kimiawi dapat dilkukan
dengan merendam biji berkulit keras pada H
2
SO
4
pekat selama kurang
lebih 15 menit.
- Pematahan dormansi biji berkulit keras yang paling efektif dilakukan
yaitu secara mekanik dengan mengamplas semua kulit luar biji hingga
bersih. Pematahan dormansi biji secara mekanik ini menghasilkan
prosentase perkecambahan sebesar 54.28%. Pematahan dormansi yang
lumayan efektif selanjutnya yaitu dengan pematahan dormansi biji
secara kimiawi, yaitu dengan penambahan H
2
SO
4
pekat, prosentase
perkecambahanya mencapai 43.75%. Adapun biji tanpa perlakuan
prosentase perkecambahanya hanya mencapai 18.57%.
- Faktor yang menyebabkan dormansi pada biji diakibatkan oleh beberapa
factor, diantaranya yaitu faktor lingkungan eksternal, seperti cahaya,
temperatur, dan air. Adapun factor internalnya yaitu struktur luar kulit
biji, kematangan embrio, adanya inhibitor, dan rendahnya zat
perangsang tumbuh. Faktor selanjutnya yaitu faktor waktu, yaitu waktu
setelah pematangan, hilangnya inhibitor, dan sintesis zat perangsang
tumbuh.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Dormansi Biji. Online : http://agrica.wordpress.com/2009/01/03/
dormansi-biji/. (Diakses tanggal 17 Desember 2011)
Kurniawati, Heny Dwi. 2010. Laporan Dormansi dan Perkecambahan Biji.
Online : http://dwikahenny24.wordpress.com/2010/02/08/laporan-
dormansi-danperkecambahan-biji/ (Diakses tanggal 17 Desember 2011)
Lakitan, B. 1993. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada.
Jakarta
Mulyadi, A. 2010. Pemecahan masa dormansi benih aren (Arenga pinnata
(Wurmb.) Merr.) dengan lama ekstraksi buah dan berbagai
perlakuanbenih. Online : http://yadiboy83.blogspot.com. (Diakses
tanggal 17 Desember 2011)
Pane, P. 2009. Pematahan dormansi biji untuk mempercepat perkececambahan.
Online : http://pardomuanpane.blogspot.com/2009/08/teknik-
pembibitan-aren.html. (Diakses tanggal 17 Desember 2011)
Plantamor. 2011. Asam (Tamarindus indica). Online : http://www.plantamor.com.
(Diakses tanggal 17 Desember 2011)
Roberts, E. H. 1972. Viability of Seeds.Chapman and Hall Ltd. London.
Rofik, A. dan E. Murniati. 2008. Pengaruh perlakuan deoperkulasi dan media
perkecambahan untuk meningkatkan viabilitas benih aren (Arenga
pinnata (Wurmb.) Merr.). Buletin Agronomi 36 (1) 33 40.
Salisbury, F. C. & C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Penerbit ITB.
Bandung
Sirait, D. 2011. Pengaruh Skarifikasi Bagian-Bagian Benih dan Konsentrasi
Asam Giberelat (GA3) terhadap Perkecambahan Benih Aren (Arenga
pinnata (Wurmb.) Merr.). Skripsi. Sumatera Utara : Universitas
Sumatera Utara.
Tim Pembina Fisiologi Tumbuhan. 2011. Petunjuk Praktikum Fisiologi
Tumbuhan. Jember : Universitas Jember.
Widyawati, N., Tohari, P. Yudono, dan I. Soemardi. 2009. Permeabilitas dan
perkecambahan benih aren (Arenga pinnata (Wurmb.) Merr.). Jurnal
Agronomi Indonesia 37 (2) : 152 158.

















LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

PEMATAHAN DORMANSI BIJI





Disusun oleh :
Kelompok 6

Fanny Aprilia P. R (090210103008)
Mahbubatur Rohmah (090210103011)
Enki Dani Nugroho (090210103031)
Siska Suryaning B. L (090210103057)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2011