Anda di halaman 1dari 31

Jaringan Komunikasi Serat Optik

Dense Wavelength Division Multiplexing


(DWDM)
Andi Sofyah Annisaa Andi Ulfa Irna Januarty Titi Ardianti Zulfadli D411 D411 D411 D411 08 872 08 276 08 294 08

Tugas JKSO

Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM)

HASRAWATI FATMI UMRAYANI H JULIANA RAHMA 122

D411 06 083 D411 06 109 D411 06

JURUSAN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN

2009

BAB I PENDAHULUAN Kebutuhan Transmisi Data Dewasa ini, kebutuhan akan transmisi data dengan kapasitas besar semakin bertambah. Hal ini mengingat berbagai macam layanan telekomunikasi terus tumbuh dan menawarkan berbagai macam keragaman, yang secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah traffic (lalu lintas data). Tak ketinggalan juga kebutuhan untuk layanan jaringan internet semakin meningkat seiring dengan jumlah penggunanya yang juga terus meningkat tajam. Dengan jumlah traffic yang semakin besar serta beragam, maka penyediaan kapasitas jaringan transmisi yang mencukupi akan menjadi suatu kewajiban, utamanya pada sisi jaringan utama (backbone). Teknologi serat optik (fibre optic), menjadi salah satu pilihan teknologi yang dapat diandalkan sebagai media yang digunakan dalam jaringan transmisi yang dapat menyediakan kapasitas transmisi data dalam jumlah yang sangat besar. Dan dengan demikian, banyak perusahaan yang memanfaatkan teknologi tersebut dengan membuat

jaringan utamanya menggunakan kabel optik (kumpulan dari serat optik), baik itu terrestrial (darat) maupun laut. Teknologi Multipleksing Dalam Jaringan Serat Optik Untuk membangun suatu jaringan transmisi kabel optik yang baru dalam upaya meningkatkan kapasitasnya diperlukan biaya yang tidak sedikit, selain itu waktu dan tenaga yang juga terbatas ikut menyumbangkan kesulitan yang dihadapi dalam peningkatan kapasitas jaringan tersebut. Untuk itu dikembangkan teknologi multipleksing yang dapat menjadi solusi atas masalah tersebut. Multipleksing adalah suatu teknik untuk menggabungkan sekaligus mengirimkan beberapa sinyal (yang berisi traffic) secara bersama-sama melalui satu saluran (kanal). Tujuan utamanya adalah untuk menghemat penggunaan saluran fisik misalnya kabel, pemancar dan penerima (transceiver), atau kabel optik. Sebagai contoh, satu helai serat optik di dalam kabel optik antara Jakarta-Batam melalui kabel laut dapat digunakan sebagai media untuk menyalurkan jutaan percakapan telepon sekaligus data internet secara bersama-sama melalui teknik multipleksing. Salah satu jenis teknik multipleksing yang sering digunakan adalah multipleksing frekuensi (frequency

division multipleksing). Dalam hal ini, rentang frekuensi yang ada, dimanfaatkan dengan cara dibagi-bagi menjadi beberapa kanal atau saluran untuk dilewati traffic. Sebagai contoh rentang frekuensi optikal antara 1530 s/d 1565 nm yang dikenal sebagai band C, dapat dibuat menjadi beberapa kanal. Misalnya antara rentang frekuensi 1543.20 nm sampai dengan 1544.00 nm dapat dibuat 4 kanal frekuensi yaitu 1543.20 nm, 1543.47 nm, 1543.73 nm, dan 1544.00 nm. Perangkat yang berfungsi untuk menjalankan fungsi multipleksing disebut multiplekser dan perangkat yang berfungsi untuk mengembalikan fungsi multipleksing atau membalik Umumnya prosesnya fungsi disebut sebagai dan demultiplekser. demultipleksing multipleksing

dimiliki oleh masing-masing terminal sekaligus. Teknologi WDM WDM (wavelength division multipleksing) merupakan salah satu jenis multipleksing frekuensi. Multipleksing yang dilakukan adalah dengan membagi-bagi sinyal dalam bentuk cahaya ke dalam beberapa frekuensi tertentu. berfungsi Masing-masing nantinya frekuensi sebagai tersebut kanal akan traffic.

Gambar 1. Contoh Jaringan Optik Sederhana Gambar di atas, mengilustrasikan suatu koneksi atau hubungan antara terminal A dan X, melalui suatu kanal yang disebut lambda 1 melalui satu serat optik. Bagaimana jika akan dilakukan penambahan kapasitas jaringan? Secara sederhana maka perlu ditambahkan lagi serat optik antara dua terminal tersebut. Anggap saja B sebagai terminal yang baru, harus berhubungan dengan Y pada sisi lawannya.

Gambar 2. Pengembangan Jaringan Hal ini dapat diilustrasikan oleh gambar 2. Di sini terlihat bahwa terminal A dan X terhubung melalui kanal lambda 1 pada serat optik petama. Terminal B terhubung ke Y melalui lambda 2 pada serat optik kedua. Sekilas, cara ini kelihatan sebagai solusi yang paling mungkin. Lalu kemudian bagaimana jika akan ditambah lagi terminal

yang lain? atau katakanlah bagaimana jika terminal yang akan dihubungkan berjumlah puluhan atau ratusan? Kabel optik, terdiri dari beberapa serat optik, ada yang berjumlah 24, 48, 72 dan sebagainya. Anggap dalam suatu waktu karena kebutuhan pengembangan jaringan ternyata serat optik di dalam kabel optik tersebut terpakai semua. Maka jika akan dilakukan penambahan kapasitas yang baru, pastilah perlu dilakukan penanaman kabel baru. Namun ternyata penambahan jumlah dalam hal ini sebagai media transmisinya, bukan merupakan solusi yang tepat. Karena pada penanaman kabel optik yang baru, selain memakan banyak banyak dan Untuk waktu, tenaga. itulah juga Belum akan lagi menambah biaya lainnya.

kesulitan-kesulitan

diterapkan

teknologi multipleksing (dalam hal ini WDM), sebagai solusi seandainya akan dilakukan penambahan kapasitas transmisi jaringan. Meskipun jumlah terminal semakin banyak, namun serat optik yang digunakan jumlahnya tetap seperti sediakala atau dengan kata lain tidak perlu menambah serat optik sebagai media transmisinya. Bagaimana hal ini dilakukan?

Gambar 3. Contoh Sederhana Teknologi WDM Dalam Jaringan Optik Secara sederhana, teknologi WDM dapat digambarkan melalui ilustrasi di atas. Pada gambar 3, terdapat dua kanal traffic yaitu lambda 1 dan lambda 2, dimana masing-masing secara bersama-sama menggunakan satu saluran serat optik. Terminal A berkomunikasi secara langsung dengan X menggunakan kanal lambda 1 dan terminal B berkomunikasi secara langsung dengan Y menggunakan kanal lambda 2, seolah-olah masingmasing terminal memiliki saluran yang berbeda-beda meskipun menggunakan satu saluran fisik serat optik yang sama. Dengan demikian dapat dilakukan penghematan penggunaan serat optik. Rentang Frekuensi WDM Sebagaimana yang dijelaskan di atas, teknologi WDM merupakan implementasi teknologi multipleksing frekuensi. Dalam hal ini multipleksing frekuensi cahaya yang dilewatkan melalui serat optik. Sumber cahaya atau sinar yang digunakan berasal dari LED atau LASER. Rentang frekuensi cahaya yang dihasilkan oleh LED atau LASER tersebut dikenal dengan sebutan "window", yang

memiliki wavelength (panjang gelombang) berkisar antara 850 nm hingga 1700 nm. WDM sendiri memanfaatkan rentang frekuensi antara 1260 nm hingga 1675 nm, dimana rentang frekuensi tersebut juga masih terbagi atas beberapa band frekuensi yaitu O, E, S, C, L dan U.

Gambar 4. Rentang Frekuensi / Window Tabel 1. Rentang Frekuensi Band O band E band S band C band L band U band Description Wavelength Original 1260 to 1360 Extended 1360 to 1460 short wavelengths 1460 to 1530 conventional ("erbium Range nm nm nm

window") 1530 to 1565 nm long wavelengths 1565 to 1625 nm ultralong wavelengths 1625 to 1675 nm

Pengembangan Teknologi WDM Dalam pengembangannya, secara umum teknologi WDM itu sendiri terbagi atas teknologi DWDM, CWDM, dan

WWDM. Secara konsep, teknologi CWDM dan DWDM tidak terlalu berbeda. Yang membedakan antara teknologi tersebut adalah atau rapat lambda atau renggangnya saluran panjang data dan gelombang sebagai

pemanfaatan jarak yang berbeda, yang mana CWDM dikhususkan untuk terminal dengan jarak yang saling berdekatan dan memiliki panjang gelombang sebagai kanal yang agak renggang. Hal-hal tersebut nantinya akan berimplikasi pada jumlah kanal dan jumlah perangkat yang digunakan yang ujung-ujungnya akan terkait dengan biaya. Secara umum CWDM lebih murah dibandingkan dengan DWDM. Berikut merupakan grafik perbandingan rapat renggangnya panjang gelombang sebagai kanal yang digunakan pada teknologi CWDM dan DWDM.

Gambar 5. Bentuk Gelombang CWDM vs DWDM Pada Sisi Demultipleks Sedangkan pada WWDM, lebar spasi panjang

gelombangnya tidak membutuhkan pengontrolan laser, sehingga sangat menurunkan biaya implementasi sistem Sistem WWDM ini menggunakan panjang gelombang dari 1310 nm 1557 nm.

BAB II DENSE WAVELENGTH DIVISION MULTIPLEXING (DWDM) Konsep Dasar DWDM Dense Wavelength Division Multipleksing (DWDM) merupakan suatu bentuk teknologi multipleks dalam transmisi data melalui jaringan optic jarak jauh antara satu titik terminasi (terminal) dengan titik terminasi lainnya. Jarak tersebut bervariasi antara ratusan hingga ribuan kilometer jauhnya. Gambar berikut memberikan ilustrasi bagaimana proses multipleksing (mux) dan demultipleksing (demux) cahaya yang berfungsi sebagai carrier atau pembawa traffic dalam teknologi DWDM. Terlihat berbagai macam frekuensi cahaya yang diwakili oleh warna-warna tertentu ditransmisikan secara bersama-sama menggunakan satu kanal atau saluran bersama.

Gambar 6. Teknologi DWDM

Masukan

sistem

DWDM

berupa

trafik

yang

memiliki format data dan laju bit yang berbeda dihubungkan dengan laser DWDM. Laser tersebut akan mengubah masing-masing dalam sinyal informasi dan yang memancarkan masing-masing panjang gelombang

berbeda-beda 1, 2, 3,, N. Kemudian panjang gelombang tersebut dimasukkan kedalam MUX (multiplexer), dan keluaran disuntikkan kedalam sehelai serat optik. Selanjutnya keluaran MUX ini akan ditransmisikan sepanjang jaringan serat. Untuk mengantisipasi pelemahan sinyal, maka diperlukan penguatan sinyal sepanjang jalur transmisi. Sebelum ditransmisikan sinyal ini diperkuat terlebih dahulu dengan menggunakan penguat akhir (post amplifier) untuk mencapai tingkat daya sinyal yang cukup. ILA (in line amplifier) sepanjang digunakan saluran untuk menguatkan sinyal transmisi.

Sedangkan penguat awal (pre-amplifier) digunakan untuk menguatkan sinyal sebelum dideteksi. DEMUX (demultiplexer) digunakan pada ujung penerima untuk memisahkan antar panjang gelombang yang

selanjutnya photodetector.

akan

dideteksi

menggunakan

DWDM terbagi dalam jenis yaitu Long Haul DWDM dan Metro DWDM. Haul Long Haul DWDM Aplikasi. Long Haul DWDM terdiri dari Pada dasarnya merupakan sistem p2p untuk Long komponen jaringan fotonik, fleksibel switch, serta jaringan optik manajemen dan fungsi kontrol. Hal ini membuat jaringan lebih cerdas, sederhana dan dapat diandalkan. Aplikasi Long haul DWDM dapat ditemukan dalam koneksi-koneksi dari jaringan regional dan internasional. Metro DWDM Jenis ini diaplikasikan pada wilayah metro, dengan mengkonfigurasi jaringan ke dalam sebuah cincin lengkap dengan mekanisme perlindungan. Metro DWDM memungkinkan operator jaringan untuk memanfaatkan seluruh fiber yang ada, sehingga dapat lebih cepat, ekonomis dan efektif dalam penggunaan bandwidth.

Adapun tipe serat optik yang umum digunakan pada teknologi DWDM yaitu :
1.

Non Dispersion Shifted Fiber (NDSF) Fiber (SSMF) dan dibuat berdasarkan

Serat optik NDSF juga dikenal dengan Standard Single Mode rekomendasi ITU-T G.652. NDSF memiliki nilai koefisien dispersikromatik (D) mendekati nol di daerah panjang gelombang 1310 nm, sedangkan pada daerah 1550 nm koefisien disperse maksimumnya adalah 18 ps/nm.km.
2.

Non Zero Dispersion Shifted Fiber (NZDSF)

Dibandingkan dengan NDSF, serat optik NZDSFmemiliki koefisien dispersi kromatik yang lebih rendah pada daerah panjang gelombang 1550 nm, yaitu maksimum 6 ps/nm.km Sistem DWDM

Gambar 10.. Sistem DWDM

Secara umum sistem DWDM melakukan fungsi-fungsi sebagai berikut: 1. Menghasilkan sinyal. Sumber cahaya (LASER atau LED) harus menyediakan cahaya yang stabil dengan spesifikasi tertentu, bandwitdh yang sempit yang membawa data digital, dimodulasi sebagai suatu sinyal analog. 2. Menggabungkan multiplekser masukan. 3. Mentransmisikan sinyal. Efek degradasi sinyal atau gangguan lainnya dapat diminimalisir dengan cara mengontrol variabel-variabel yang berpengaruh seperti spacing kanal, toleransi panjang gelombang cahaya dan tingkatan daya LASER. 4. Penguatan dilewatkan penguatan. kembali, sinyal melalui dan serat regenator. optik sinyal regenerator Sinyal yang untuk memiliki harus mengalami sinyal. DWDM menggunakan sinyal-sinyal untuk menggabungkan

Penguat

berfungsi selain

menguatkan sinyal yang diterima untuk diteruskan sementara kemampuan untuk menguatkan sinyal juga dapat memperbaiki kualitas sinyal yang diterima, sehingga sinyal keluarannya memiliki kualitas yang baik.

Sumber Cahaya Sumber cahaya yang digunakan berasal dari LED ataupun LASER. Dalam teknologi ini diperlukan sumber cahaya yang memiliki nilai toleransi persebaran cahaya (dispersi) yang lebih besar serta panjang gelombang yang standar dan stabil. Oleh karena itu DWDM bekerja pada rentang frekuensi L dan C yaitu antara 1530 sampai dengan 1565 nm untuk C band dan 1565 sampai dengan 1625 nm untuk L band. Salah satu contoh sumber laser yang digunakan dalam sistem DWDM adalah Distribution Feedback (DFB) laser. DFB memiliki kelebihan mampu mengakses semua bandwidth optik pada jendela transmisi 1550 nm, yang memiliki daya output sampai 25 mW (tunable) dari 15301563 nm. APD (Avanlanche Photo Dioda) adalah salah satu jenis detector yang digunakan dalam DWDM, yang memiliki sensitivitas penerimaan yang besar dan akurat. Spasi Kanal Spasi kanal merupakan jarak minimum antar panjang gelombang agar tidak terjadi interferensi. Standarisasi spasi perlu dilakukan agar sistem DWDM dari berbagai vendor yang berbeda dapat saling berkomunikasi. Jika panjang gelombang operasi berbanding terbalik dengan frekuensi, hubungan bedanya dikenal dalam panjang

gelombang

masing-masing

sinyal.

Faktor

yang

mengendalikan besar spasi kanal adalah bandwidth pada penguat optik dan kemampuan penerima mengidentifikasi dua set panjang gelombang yang lebih rendah dalam spasi kanal. Kedua faktor itulah yang membatasi jumlah panjang gelombang yang melewati penguat. Saat ini terdapat dua pilihan untuk melakukan standarisasi kanal, yaitu menggunakan spasi lamda atau spasi frekuensi. Hubungan antara spasi lamda dan spasi frekuensi adalah:

Konversi

spasi

lamda

ke

spasi

frekuensi

(dan

sebaliknya) akan menghasilkan nilai yang kurang presisi, sehingga sistem DWDM dengan satuan yang berbeda akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. ITU-T kemudian menggunakan spasi frekuensi sebagai standar penentuan spasi kanal. Jarak atau spacing antara 1 kanal dengan kanal lain atau 1 panjang gelombang (lambda) dengan panjang gelombang lain umumnya berkisar antara 200, 100 dan 50 GHz atau setara dengan 0.4, 0.8 dan 1.6 nm. Dan

sedang dikembangkan untuk spacing yang lebih rapat pada 25 dan 12.5 GHz atau yang setara dengan 0.2 dan 0.1 nm (yang nantinya disebut sebagai Ultra DWDM). Jarak atau spacing tersebut diperlukan agar tidak terjadi interferensi atau percampuran kanal yang masing-masing terdapat sinyal traffic, sehingga proses multipleksing dan demultipleksing nantinya berlangsung sesuai dengan yang diharapkan.

Gambar 7. Spacing Antar Kanal DWDM

Elemen Jaringan DWDM

Gambar 9. Elemen Jaringan DWDM Dalam aplikasi DWDM terdapat beberapa elemen yang memiliki spesifikasi khusus disesuaikan dengan kebutuhan sistem. Elemen tersebut adalah: 1. Wavelength Multiplexer/Demultiplexer Wavelength Multiplexer berfungsi untuk memultiplikasi kanal-kanal wavelength yang panjang gelombang serat optik optik. berfungsi kanal kanal yang akan untuk panjang ditransmisikan dalam Sedangkan

demultiplexer menjadi

mendemultiplikasi kembali kanal panjang gelombang ditransmisikan gelombang menjadi seperti semula. 2. OADM (Optical Add/Drop Multiplexer) Diantara titik multiplexing dan demultiplexing dalam sistem DWDM merupakan daerah dimana berbagai macam panjang gelombang berada, pada beberapa titik sepanjang span ini sering diinginkan untuk dihilangkan atau yang ditambah digunakan dengan untuk satu atau lebih panjang dan gelombang. OADM (Optical Add/Drop Multiplexer) inilah melewatkan sinyal

melakukan fungsi add and drop yang bekerja pada level optik. ADM diperlukan jika antara dua terminal yang saling terhubung akan diintegrasikan atau disisipkan terminal lain. Fungsi ADM juga dilakukan oleh sebuah multiplekser dan demultiplekser.

Gambar 10.a Sistem DWDM Dengan ADM) 3. OXC (Optical Cross Connect) Perangkat OXC (Optical Cross Connect) ini melakukan proses switching tanpa terlebih dahulu melakukan proses konversi OEO (Optik-elektrooptik) dan berfungsi untuk merutekan kanal panjang gelombang. OXC ini berukuran NxN dan biasa digunakan dalam konfigurasi jaringan ring yang memiliki banyak node terminal. Optical cross connect atau OXC diperlukan jika akan melakukan mux/demux integrasi dan juga atau interkoneksi optikal. beberapa Berikut jaringan optik menjadi satu jaringan. OXC terdiri atas switching merupakan ilustrasi OXC dalam jaringan optik.

Gambar 10.b. OXC Dalam Jaringan Optik)


4.

OA (Optical Amplifier)

Merupakan penguat optik yang bekerja dilevel optik, yang dapat berfungsi sebagai pre-amplifier, in lineamplifier dan post-amplifier. Terdapat 2 tipe penguat optikal yaitu: 1) Solid State Optical Amplifier berupa penguat optikal yang terbuat dari bahan semikonduktor. 2) Fiber Amplifier berupa penguatan pada serat optik yang . Berikut ini beberapa keunggulan yang dimiliki oleh EDFA, sehingga dapat mendukung teknologi DWDM: Penguatan EDFA sangat tinggi terbagi atas EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier) dan Raman Amplifier

EDFA pada tahap eksperimen memiliki gain sebesar 40 dB. Sedangkan perangkat EDFA komersil mempunyai gain 20-30 dB dengan memompa energi sebesar 10 mW.

Bandwidth lebar Ion Erbium melepaskan foton dengan interval panjang gelombang 1530-1560 nm atau sama dengan bandwidth sebesar 3 THz. Pada interval tersebut redaman yang terjadi pada serat optik hanya berkisar 0.2 dB/km, sehingga EDFA dapat memperkuat puluhan sinyal dengan panjang gelombang yang berbeda secara bersamaan.

Noise Figure EDFA sangat kecil Noise Figure merupakan perbandingan antara S/Nin dengan S/Nout, sehingga untuk tansmisi jarak jauh akan menghasilkan akumulasi derau optik, namun dengan adanya tapis optik pada perangkat EDFA maka noise figure yang muncul sangat kecil. Daya output yang besar

Daya output pada EDFA meningkat seiring dengan meningkatnya daya diode laser (optical pump). Kemudahan instalasi EDFA mudah diinstalasi karena EDFA juga berbentuk serat. 5. Transponder Sebuah transponder pada dasarnya adalah sebuah modul yang dapat mengkonversi sebuah panjang gelombang ke panjang gelombang lainnya yang dapat digunakan oleh sistem DWDM. Konfigurasi Sistem DWDM Menurut konfigurasinya, sistem DWDM dibagi menjadi 2: 1. Sistem DWDM satu arah (one way transmission), pada sistem ini dalam satu serat dapat terjadi beberapa transmisi dengan arah yang sama secara simultan. Seperti gambar berikut ini :

Gambar 11.a Konfigurasi Sistem DWDM Satu Arah

2. Sistem DWDM dua arah (two way transmission), dimana dalam sebuah serat terjadi dua transmisi dengan arah yang berlawanan secara simultan seperti ditunjukkan pada gambar dibawah ini. Dimana pada serat terjadi pengiriman informasi dari DWDM 1 ke DWDM 2 dengan panjang gelombang 1 dan pada saat yang gelombang 2. bersamaan ditransmisikan informasi dari DWDM2 ke DWDM 1 dengan panjang

Gambar 11.b Konfigurasi Sistem DWDM Dua Arah Kelebihan Teknologi DWDM Kelebihan teknologi DWDM adalah transparan terhadap berbagai trafik. Kanal informasi masing-masing panjang gelombang dapat digunakan untuk melewatkan trafik dengan format data dan laju bit yang berbeda. Ketransparanan sistem DWDM dan kemampuan add/drop akan memudahkan penyedia layanan untuk melakukan penambahan dan atau pemisahan trafik. Berkaitan dengan ketransparanan sistem DWDM dikenal ada dua

sistem antarmuka, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup, ditunjukkan oleh Gambar di bawah ini.

Gambar 8. Sistem Antarmuka DWDM Elemen jaringan DWDM sistem terbuka memungkinkan SONET/SDH, switch IP dan ATM disambungkan secara langsung pada jaringan DWDM. Sedangkan pada sistem tertutup, switch IP dan atau ATM tidak dapat secara langsung dihubungkan ke jaringan DWDM, namun memerlukan perantara SONET/SDH yang berasal dari vendor perangkat DWDM yang digunakan. Perbandingan teknologi serat optik konvensional dan teknologi DWDM adalah sebagai berikut: 1. Kapasitas serat optik yang dipakai lebih optimal (>32 kanal). DWDM dapat mengakomodir banyak cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda dalam sehelai serat optik, sedangkan teknologi serat optik

konvensional

hanya

dapat

mentransmisikan

satu

panjang gelombang dalam sehelai serat optik. Tabel 2 Spasi Lamda dan Spasi Frekuensi pada DWDM

2.

Instalasi kapasitas

jaringan jaringan

lebih pada

sederhana. teknologi

Penambahan serat optik

konvensional dilakukan dengan memasang kabel serat optik baru, sedangkan pada DWDM cukup dilakukan dengan penambahan beberapa panjang gelombang baru tanpa harus melakukan perubahan fisik jaringan. 3. Penggunaan beberapa optik yang penguat lebih efisien. sekaligus lebih serat DWDM dengan sedikit optik menggunakan penguat optik yang dapat menguatkan panjang gelombang pada interval penguatan yang lebih jauh, sehingga penguat digunakan dengan DWDM dibandingkan teknologi

konvensional. Penguat optik yang digunakan dalam teknologi DWDM adalah EDFA. EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier) merupakan serat optik dari bahan silica

(SiO2) dengan intinya (core) telah dikotori dengan bahan Erbium (Er3+), termasuk ke dalam golongan Rare-Earth Doped Fiber Amplifier. 4. Biaya pemasangan, pemeliharaan dan pengembangan lebih efisien. Hal ini akibat arsitektur jaringan DWDM lebih sederhana dibandingkan arsitektur jaringan serat optik konvensional. Namun, ada beberapa kekurangan DWDM yakni :
1. Untuk

kapasitas kanal yang sedikit biaya yang

dikeluarkan tidak efektif.


2. Meskipun telah dirancang sedemikian rupa, masih

ada potensi gangguan transmisi akibat sifat-sifat alami cahaya, seperti crosstalk, efek non linear, dispersi dan sebagainya.

BAB III KESIMPULAN Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:

Dense Wavelength Division Multipleksing (DWDM) merupakan suatu bentuk teknologi multipleks dalam transmisi data melalui jaringan optik jarak jauh antara satu titik terminasi (terminal) dengan titik terminasi lainnya.

DWDM terbagi dalam dua jenis yakni Long Haul DWDM dan Metro DWDM.

Ada dua tipe serat optik yang umum digunakan pada teknologi DWDM yaitu:
1) Non 2) Non

Dispersion Shifted Fiber (NDSF) Zero Dispersion Shifted Fiber (NZDSF)

Sumber cahaya yang digunakan DWDM berasal dari LED ataupun LASER.

Spasi

kanal

merupakan

jarak

minimum

antar

panjang

gelombang agar tidak terjadi interferensi. Spasi kanal DWDM umumnya berkisar antara 200, 100 dan 50 GHz atau setara dengan 0.4, 0.8 dan 1.6 nm. Elemen Jaringan DWDM, diantaranya: 1) Wavelength Multiplexer/Demultiplexer
2)

OADM (Optical Add/Drop Multiplexer) OA (Optical Amplifier)

3) OXC (Optical Cross Connect)


4)

5) Transponder

Penguat optikal EDFA merupakan penguat yang cocok

mendukung teknologi DWDM karena:


Penguatan EDFA sangat tinggi Bandwidth lebar Noise Figure EDFA sangat kecil Daya output yang besar Kemudahan instalasi Konfigurasi sistem DWDM dibagi menjadi sistem DWDM satu arah dan sistem DWDM dua arah. Kelebihan teknologi DWDM yaitu:

1) Kapasitas serat optik yang dipakai lebih optimal. 2) Instalasi jaringan lebih sederhana. 3) Penggunaan penguat lebih efisien 4) Transparan terhadap berbagai trafik.

Daftar Pustaka

http://www.kapsch.net/en/kcc/portfolio/transmission_solutions/op tical-networks/Pages/LongHaul-DWDM.aspx http://belajartelekomunikasi.blogspot.com/2009/06/dwdmsebuahpengantar.html http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php? view=article&catid=23%3Asistem-komunikasioptik&id=421%3Adense-wavelength-division-multiplexingdwdm&option=com_content&Itemid=15 http://www.kapsch.net/en/kcc/portfolio/transmission_solutions/op tical-networks/Pages/Metro-DWDM.aspx http://www.kapsch.net/en/kcc/portfolio/transmission_solutions/op tical-networks/Pages/LongHaul-DWDM.aspx http://www.eepis-its.edu/~huda/Dokumen/Optik/Kuliah7.ppt. Naemah Transparan.2007 Mubarakah.Implementasi Jaringan Optik