Anda di halaman 1dari 11

1

EFEK BLEACHING TERHADAP JARINGAN KERAS DAN JARINGAN LUNAK MULUT


Kurniati* *Bagian Ilmu Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi *Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Jln. Alumni no. 2 Kampus USU Medan 20155 Email: nia_fkg@ymail.com

Abstract The successful application of bleaching to teeth whitening is based on the maximum ability to penetrate into the structure of tooth discoloration (stain) and can survive for long in the tooth structure. Furthermore, through the oxidation reduction reaction to break down the stain molecules, to be simple molecules, so that the color of the teeth become whiter than before. But the chemical elements contained in the bleaching material can cause unwanted side effects on hard tissues and soft tissues of the mouth. key word: bleaching, bleaching agent, hard tissue and soft tissue of the mouth.

PENDAHULUAN Pada dewasa ini estetika merupakan suatu hal yang penting untuk menunjang penampilan seseorang. Oleh sebab itu dikembangkanlah suatu aplikasi di bidang kedokteran gigi untuk mengembalikan warna gigi yang mengalami perubahan warna akibat stain (noda) yang terdapat dalam struktur gigi ke warna gigi asli melalui proses bleaching. stain pada gigi dapat disebabkan oleh kondisi fisiologis diantaranya adalah tetracycline staining, flourosis, amelogenesis impefecta, reaksi kimia dari makanan, dan hereditary opalescent dentin. akan

tetapi tidak semua kondisi stain tersebut bisa diperbaiki dengan melalui bleaching. Bleaching merupakan proses pemutihan gigi atau penghilangan stain yang terdapat dalam struktur gigi (email dan dentin) melalui proses oksidasi reduksi secara kimia. Adapun proses bleaching tersebut sering menggunakan bahan kimia seperti hidrogen peroksida dan karbamid peroksida. Aplikasi bahan bleaching didasari atas kemampuan agen aktif bleaching untuk dapat meresap ke dalam struktur gigi menuju discoloration (stain) dan dapat bertahan dalam waktu yang lama di dalam struktur gigi. Selanjutnya melalui reaksi reduksi oksidasi dapat mengurai molekul stain menjadi molekul molekul sederhana. Karena adanya reaksi oksidasi reduksi pada bahan bleaching tersebut yang mempunyai reaksi persamaan pada proses pembakaran dan menghasilkan energi, oleh karena itu makalah ini bertujuan untuk membahas efek yang ditimbulkan pada bleaching terhadap jaringan keras dan jaringan lunak mulut.1

BAHAN BLEACHING Hidrogen Peroksida Hidrogen peroksida adalah suatu agen aktif bleaching yang mempunyai konsentrasi yang bervariasi mulai dari konsentrasi rendah 3% untuk pemutih dalam pasta gigi sampai konsentrasi 35% untuk produk bleaching office.1 hidrogen peroksida ini merupakan pengoksidasi kuat, yang biasa digunakan adalah larutan yang sudah distabilkan dengan kadar 30 sampai 50% (superoxol,

perhydrol).2 Peroksida dapat bedifusi ke dalam email dan dentin, kemudian akan terurai menjadi radikal-radikal bebas tidak stabil. Adapun reaksi penguraiannya: H2O2 H + HOO (radikaloksidasireaktif) yang akan mengganggu molekul-

molekul pigmen besar (chromophor) di dalam struktur gigi melalui reaksi oksidasi ataupun reduksi. Proses oksidasi reduksi mengubah struktur subtansi organik yang berinteraksi pada gigi sehingga menghasilkan perubahan warna. Serta aplikasi energi pada agen aktif bleaching dalam bentuk panas, cahaya tampak intensitas tinggi, laser, maupun bentuk energi lainnya. Tujuannya merupakan untuk mempercepat reaksi hidrogen peroksida di dalam struktur gigi.1 Pengguanaan larutan hidrogen peroksida ini harus berhati- hati karena larutan ini tidak stabil, mudah meledak, cepat kehilangan oksigen, dan dapat membakar jaringan yang berkontak dengannya.2 Penggunaan konsentrasi hidrogen peroksida yang dianjurkan oleh ADA (American Dental Association) adalah 3,5%.3

Karbamid Peroksida Karbamid peroksida Karbamid peroksia mempunyai rumus molekul CH2N2OH2O2 dan berat molekul 94,7 dan merupakan agen bleaching, anti septik dan desinfektan. Karbamid peroksida tidak berwarna, tidak berbau, tidak toksik dan berbentuk kristal putih yang dapat larut dalam alkohol, eter dan air, merupakan kombinasi urea dan hydrogen peroksida. Nama kimia karbamid peroksida yaitu karbamid urea, urea peroksida, perhydrol urea dan perhydelur.4 Mempunyai berbagai konsentrasi antara 3 dan 15%. Preparat komersial yang

terkenal mengandung kira-kira 10% karbamid peroksida dengan pH rata-rata 5 sampai 6,5. Biasanya juga mengandung gliserin atau propilen glikol, natrium stannat, asam fosfat atau asam sitrat, dan aroma (bahan penyegar). Beberapa preparat, ditambahakan Carbopol, suatu resin yang larut dalam air, untuk memperlama pelepasan peroksida aktif dan meningkatkan masa penyimpanannya. Dengan demikian memungkinkan oksigen bereaksi lebih lama dengan elemen yang menimbulkan pewarnaan. Karbamid peroksida 10% akan terurai menjadi urea, ammonia, karbondioksida, dan sekitar 3,5% hidrogen peroksida. Sistem karbamid peroksida digunakan pada pemutihan eksterna dan dikaitkan dengan berbagai derajat kerusakan gigi dan jaringan lunak di sekitarnya.2 Penggunaan konsentrasi karbamid peroksida yang dianjurkan oleh ADA (American Dental Association) untuk perwatan pemutihan gigi adalah 10%.3 Untuk meningkatkan pembentukan radikal perhidroksil, hydrogen peroksida di- buffer hingga pH mencapai 9,5-10,8. Dengan ini menghasilkan banyak radikal bebas yang akan bereaksi dengan ikatan tidak jenuh dan menyebabkan gangguan konjugasi elektron dan perubahan penyerapan energi pada molekul organik email, karena itu akan terbentuk molekul organik yang lebih kecil dengan warna yang lebih terang dan dengan demikian menghasilkan efek pemutihan yang lebih baik.4

MEKANISME BLEACHING Pada proses pemutihan gigi, hidrogen peroksida berdifusi melalui matriks email. Radikal bebas yang dihasilkan ini tidak mempunyai pasangan, bersifat

sangat tidak stabil, dapat menyerang hampir semua molekul organik untuk menstabilkan elektronnya dan menghasilkan radikal bebas lainnya. Sedangkan pada permukaan email gigi bahan tersebut dapat bereaksi dengan ikatan tak jenuh, sehingga menghasilkan konjugasi elektron serta perubahan penyerapan energi molekul organik serta terbentuk juga molekul sederhana yang kurang dipengaruhi cahaya. Hal ini dapat menjelaskan timbulnya reaksi pemutihan. Reaksi reduksi oksidasi pada proses pemutihan dikenal sebagai reaksi redoks. Bahan pemutih hydrogen peroksida akan menghasilkan HO2 (perhydroxil) yang merupakan radikal bebas kuat dan O sebagai radikal bebas lemah. Dalam bentuk cairan murni H2O2 merupakan asam lemah yang menghasilkan lebih banyak radikal bebas lemah yaitu O, sehingga untuk mendorong pembentukan HO2 maka hidrogen peroksida harus dibuat basa pada pH optimum 9,9-10,8 untuk meningkatkan efek pemutihan. Setelah terbentuk HO2 dalam jumlah yang besar maka radikal bebas ini akan bereaksi dengan ikatan tidak jenuh. Hal ini menyebabkan gangguan pada konjugasi elektron dan perubahan penyerapan energi pada molekul bahan organik email, selain itu terjadi perubahan berat molekul organik gigi yang memantulkan gelombang cahaya spesifik penyebab diskolorisasi pada bahan dengan berat molekul lebih rendah dan berkurangnya molekul yang merefleksikan cahaya, dengan demikian akan terbentuk molekul organik yang lebih kecil dengan warna yang lebih terang. Berbagai faktor yang perlu diperhitungkan seperti peningkatan suhu, tingginya konsentrasi bahan pemutih, dan lamanya berkontak dengan gigi akan mempengaruhi proses oksidasi dan menyebabkan tingkat perubahan warna lebih besar.4

EFEK BLEACHING TERHADAP JARINGAN KERAS MULUT Aplikasi bahan bleaching yang berpenetrasi ke dalam struktur email dan dentin akan menghasilkan radikal-radikal bebas melalui reaksi reduksi oksidasi. Radikal bebas ini akan terus bereaksi sampai staining terurai menjadi molekulmolekul sederhana untuk mengeliminasi discolorisasi sampai tercapai satu titik terbentuk molekul sederhana maksimum yang disebut saturation point (titik jenuh). Pada titik ini kerusakan struktur gigi dimulai, kehilangan email menjadi lebih cepat. Oleh karena itu bleaching harus segera dihentikan ketika titik jenuh dicapai untuk meminimalkan kerapuhan gigi (tooth brittleness) dan meningkatnya porositas. Bleaching optimum akan memberikan putih maksimum, akan tetapi bleaching yang berlebihan (over - bleaching) dapat merusak email.1 Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa bleaching dapat merusak akar gigi sehingga menambah sensitivitas gigi.1 Laporan klinis dan pemeriksaan secara histologis menunjukkan bahwa pemutihan secara interna biasanya merangsang resorpsi eksterna. Penyebabnya adalah bahan oksidator, terutama H2O2 30%. Tetapi, mekanisme mengenai kerusakan priodontium dan sementum belum dapat dijelaskan dengan lengkap tetapi mungkin karena iritasi kimia yang berdifusi dalam tubulus dentin melalui pertautan email-sementum. Bahan kimia yang

dikombinasikan dengan panas tampaknya menyebabkan nekrosis sementum, inflamasi ligament periodontium dan resorpsi akar.2 Hidrogen peroksida yang berdifusi ke dalam dentin tergantung dari konsentrasi agen bleaching dan lamanya berkontak dengan dentin. selain itu

penetrasi akan semakin dipercepat apabila ada mikroleakage pada restorasi. Beberapa penelitian melaporkan bahwa penetrasi agen bleaching ke dalam struktur gigi dapat mengubah sifat mekanik gigi. Hal ini di karenakan penetrasi peroksida ke dalam struktur gigi akan berinteraksi dengan molekul-molekul di dalam gigi sehingga akan mengubah struktur gigi yang menyebabkan berkurangnya daya tahan struktur. Konsentrasi tinggi agen aktif bleaching akan menyebabkan lebih banyak struktur email yang rusak sebagai akibat dari denaturasi dan oksidasi yang terjadi pada interprismatik email.1 Bahan bleaching mempunyai titik jenuh, dimana proses bleaching tidak efektif lagi, dan apabila diteruskan maka akan terjadi kerusakan pada struktur anorganik email, sehingga email akan menjadi rusak. Sifat fisik email yang keras mengandung bahan anorganik seperti kalsium, dengan lepasnya kalsium dari kristal hidroksi apatite maka kekerasan email akan menurun dan gigi akan lebih rentan terhadap karies. Penggunaan karbamid peroksida konsentrasi tinggi menyebabkan penurunan microhardness lebih besar dan cepat, karena jumlah oksidator yang dilepas banyak, pH yang rendah sehingga rasio jumlah bahan organik dan anorganik terganggu dan terjadi kerusakan pada email.4 Kerapuhan struktur bagian korona gigi, Juga dipengaruhi aplikasi panas pada metode pemutihan. Hal ini dikarenakan mengeringnya dentin dan email, sehingga gigi yang telah diputihkan lebih rawan terhadap fraktur.2 Bahan-bahan kimia yang terkandung pada material bleaching berpotensi untuk menyebabkan hipersensitif gigi. Hidrogen peroksida mengandung bahan pemutih aktif yang dapat penetrasi ke dalam struktur gigi dan terurai menjadi

oksigen (O2) dan air (H2O). Oksidasi oksigen pada enamel dan dentin menghasilkan efek pemutihan. Penetrasi peroksida melalui enamel dan dentin ke dalam pulpa selama pemutihan gigi telah di laporkan. Setelah lima sampai 15 menit aplikasi dengan gel pemutih, peroksida berpenetrasi ke pulpa yang kemudian mengiritasi saraf dan menghasilkan pulpitis reversible. Bleaching

merupakan proses oksidasi pigment organik, yang menimbulkan sensitivitas via dehidrasi. Potensi kandungan gel pemutih sebagai aksi stimulasi osmotik pada dentin telah dipelajari secara luas. Sementara carbopol yang merupakan subtansi glycerin juga mengandung gel pemutih yang dapat menyebabkan rasa sakit pada cairan dentin yang mengalir keluar. Karena merupakan anhydrous alami dan berpotensi untuk mendehidrasi gigi, sehingga glycerin merupakan agen aktif pemutihan yang dapat menyebabkan gigi sensitif.5

EFEK BLEACHING TERHADAP JARINGAN LUNAK MULUT Agen aktif yang terdapat di dalam bahan bleaching dapat menimbulkan kerusakan jaringan akibat berkontak dengan mukosa mulut dan dapat menyebabkan iritasi pada gingiva.1 Reaksi inflamasi pada jaringan lunak akibat penggunaan karbamid peroksida sebagai bahan pemutih dapat terjadi karena adanya reaksi redoks selama proses pemutihan, sehingga adanya radikal bebas oksigen dapat memecahkan membran sel epithel mukosa mulut beserta lapisan korneumnya. Pemecahan membran ini melalui proses oksidasi, pada keadaan kronis dapat menimbulkan peradangan pada gusi.4

H2O2 30% merupakan material yang tajam dan dapat menyebabkan gingival terbakar dan mengelupas. Jika menggunakan material yang keras ini, jaringan lunak harus dilapisi dengan pasta pelindung. Efek yang tidak diharapkan seperti rasa tidak enak, rasa terbakar pada jaringan mulut, dan sensitifitasnya gigi adalah hal yang paling sering dijumpai. biasanya ini hanya sementara dan menghilang setelah beberapa hari. harus diwaspadai tertelannya gel pemutih dalam jumlah cukup banyak. Dari penelitian pada hewan terungkap bahwa gel yang tertelan dalam jumlah besar bersifat toksik dan akan menimbulkan iritasi pada mukosa saluran cerna dan saluran pernapasan. Gel yang mengandung Carbopol, yang dimaksudkan untuk memperlambat kecepatan lepasnya oksigen dari peroksida, malah lebih toksik lagi.2 Iritasi gingiva selama pemutihan gigi disebabkan kontak yang terlalu lama dari gel peroksida dengan gingival.5 Iritasi jaringan pada kebanyakan kasus menghasilkan rasa sakit yang disebabkan oleh agen bleaching. kondisi ini biasanya bersifat sementara dan berhenti setelah perawatan.6 Efek bleaching pada pulpa dapat menimbulkan hipersensitif pulpa. Tetapi beberapa literatur melaporkan pulpa dapat memproteksi diri dari kerusakan akibat hidrogen peroksida yaitu melalui enzimatik. Sel pulpa menghasilkan

haemeoxygenase 1 yang merupakan enzim penting dalam pertahanan akibat kondisi tekanan oksidasi, khususnya ditemukan pada sel odontoblas dan endothelia.1 Hipersensitif pulpa dipengaruhi oleh: faktor pasien, lamanya kontak dengan bahan pemutih, konsentrasi bahan, komposisi bahan, pH dan tray yang digunakan.4

10

Hidrogen peroksida kemungkinan terdapat di dalam sel sel tubuh tetapi dalam konsentrasi sangat rendah sebagai hasil dari proses biologi normal yaitu dengan cara menembus membrane sel. Hidrogen peroksida menghasilkan radikal hidroksil (OH-) yang sangat reaktif dan dapat menyerang sebagian besar molekul molekul di dalam sel sel hidup. Meskipun demikian, tubuh memiliki enzimenzim yang dapat membatasi jumlah hidrogen peroksida dengan cara mengubahnya menjadi molekul air dan oksigen. Hidrogen peroksida dapat berinteraksi dengan DNA sehingga terjadi kerusakan pada DNA melalui reaksi oksidasi. Oksidasi DNA merupakan penyebab utama kematian sel dan mutasi pada semua organisme aerob. Pada manusia kerusakan DNA akibat reaksi oksidasi ini menjadi salah satu penyebab terjadinya kanker. Molekul aktif bleaching (hidrogen peroksida) mudah menembus membrane sel, kemudian diubah menjadi radikal-radikal hidroksil yang mampu menginduksi pemutusan untaian tunggal, rangkap, alkali labil, purin dan pirimidin. Sedangkan radikal oksigen bebas lainnya dari hidrogen peroksida juga dapat bereaksi dengan DNA sehingga menghasilkan lesi pada DNA yang dapat menyebabkan kerusakan DNA, mutasi, maupun karsinogenesis.1 Jadi, meskipun aplikasi bleaching mempunyai kontribusi besar dalam perawatan untuk memutihkan gigi, namun agen aktif dalam bahan bleaching mempunyai efek samping terhadap jaringan keras dan jaringan lunak mulut, karena dapat terurai menjadi radikal radikal bebas yang bersifat toksik pada jaringan tubuh. Oleh karena itu penggunaan bahan bleaching tidak boleh dilakukan dalam konsentrasi tinggi.

11

DAFTAR PUSTAKA
1. Jakfar S. Pengaruh agen aktif bleaching terhadap jaringan keras dan

lunak mulut serta restorasi kedokteran gigi. Cakradonya Dent J 2009; 2(1): 63-66.
2. Torabinejad M, Walton RE. Prinsip dan praktik ilmu endodonsia. 3th ed.

Jakarta: EGC, 2008: 458 470.


3. ADA Council on Scientific Affair. Tooth whitening/ bleaching: treatment

considerations for dentists and their patients. ADA 2009: 4.


4. Suprastiwi E. Penggunaan karbamid peroksida sebagai bahan pemutih

gigi. Indonesian Journal of Dentistry 2005; 12(3): 140-143.


5. Hewlett ER. Etiologi and management of whitening induced tooth

hypersensitivity. CDA Journal 2007; 35: 499-505.


6. ADA org. Statement on the safety and effectiveness of tooth. 2008.

http://www.ada.org/1902.aspx. (12 Maret 2011).