Anda di halaman 1dari 8

Lembar Pengesahan

Laporan Praktikum KALIBRASI ALAT


DISUSUN OLEH :

Nama NIM Jurusan Praktikum Kelompok

: HERI PRIMADONA : 0908103010013 : KIMIA : KIMIA ANALITIK 1 : 2 (Dua)

Tanggal Praktikum : 29 November 2010

Mengetahui, Asisten

Darussalam, 13 Desember 2010 Praktikan

(Rahmatun Misriana)

(HERI PRIMADONA)

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM, BANDA ACEH 2010

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan dengan judul Kalibrasi Alat dengan tujuan untuk mengetahui cara pengkalibrasian alat-alat gelas sehingga dapat diketahui ketelitian dari suatu pengukuran. Pada percobaan ini, pengkalibrasian yang dilakukan adalah pada alat gelas yaitu: buret 5 mL, 10 mL,20 mL , pipet 10 mL dan labu ukur 100 mL. Pada pengkalibrasian buret 5 mL, 10 mL,20 mL toleransi yang diizinkan adalah tabel 2. Pada pengkalibrasian pipet 10 mL, toleransi yang diizinkan adalah tabel 2, yaitu kelas B (Formakope Indonesia) yang digunakan untuk alat dengan ketepatan yang biasa. Pada pengkalibrasian labu ukur, toleransi yang diizinkan adalah table 1, yaitu kelas A (Inggris) yang digunakan untuk alat dengan ketepatan tinggi.

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG Untuk mengkalibrasi alat-alat gelas, umumnya air digunakan sebagai bahan pengkalibrasi volume karena kerapatan jenis air pada berbagai temperatur telah diketahui dengan tepat (dalam vakum). Pengkalibrasian alat pada temperatur terntentu perlu dilakukan agar ketelitian alat tersebut bisa diketahui secara pasti. Berbagai koreksi perlu dilakukan untuk menentukan volume air dari beratnya yang masih bias ditoleransi. Keridaktepatan dalam pengukuran bisa disebabkan oleh beberapa faktor : a. Perbedaan temperature pada percobaan di laboratorium dengan temperatur alat dikalibrasi pertama kali untuk menentukan skalanya. Hal ini karena adanya perbedaan muai air dan gelas yang berbeda. b. Rapat jenis air ditetapkan dalam keadaan vakum. c. Perbedaan rapat jenis air dengan rapat batu timbang menyebabkan perbedaan gaya teakan ke atas yang besarnya tergantung dari tekanan atmosfer dan kelembabannya. Alat berskala untuk analisis kuantitatif umumnya dibuat mematuhi batasbatas spesifikasi terutama yang menyangut ketepatan kalibrasi. Di ingris terdapat dua taraf peralatan yang ditandai dengan kelas A dan kelasB. Batas toleransi untuk alat-alat kelas A lebih berat dibandingkan dengan yang kelas B. Dan peralatan kelas A semacam ini digunakan untukdalam pekerjaan dengan kecermatan tinggi sedangkan yang kelas B digunakan untuk kegiatan rutin.

1.2 TUJUAN PERCOBAAN Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui cara pengkalibrasian alat-alat gelas sehingga dapat diketahui ketelitian dari suatu pengukuran.

BAB II DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

2.1 Data Hasil Pengamatan Jenis kalibrasi (volume) Pipet Labu ukur Buret 5 mL 10 mL 20 mL mLE mLE+mA mLU (gram) mLU+mLA (gram) mLe (gram) mLE+mA (gram)

(gram) (gram) 49,66 59,30

86,79

335,4 49,66 49,66 49,66 54,71 59,81 69,91

2.2 Pembahasan Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahanbahan acuan tersertifikasi. Sistem manajemen kualitas memerlukan sistem pengukuran yang efektif, termasuk di dalamnya kalibrasi formal, periodik dan terdokumentasi, untuk semua perangkat pengukuran. ISO 9000 dan ISO 17025 memerlukan sistem kalibrasi yang efektif. Kalibrasi diperlukan untuk:

Perangkat baru Suatu perangkat setiap waktu tertentu Suatu perangkat setiap waktu penggunaan tertentu (jam operasi)

Ketika suatu perangkat mengalami tumbukan atau getaran yang berpotensi mengubah kalibrasi Ketika hasil observasi dipertanyakan Kalibrasi, pada umumnya, merupakan proses untuk menyesuaikan

keluaran atau indikasi dari suatu perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran dari standar yang digunakan dalam akurasi tertentu. Contohnya, termometer dapat dikalibrasi sehingga kesalahan indikasi atau koreksi dapat ditentukan dan disesuaikan (melalui konstanta kalibrasi), sehingga termometer tersebut menunjukan temperatur yang sebenarnya dalam celcius pada titik-titik tertentu di skala. Pada percobaan ini, dilakukan kalibrasi terhadap alat gelas, yaitu buret 5 mL, 10 mL, 20 mL, pipet 10 mL, dan labu ukur 100 mL, peralatn gelas volumetrik kadang-kadang kalibrasi dengan membandingkannya dengan suatu bejana lain yang sebelumnya telah dikalibrasi secara langsung. Kalibrasi alat adalah kegiatan secara periodik yang dilaksanakan untuk menjamin ketelitian suatu alat atau instrumen yang dikatakan bagaimanapun sempurnanya. Peralatan yang telah dipakai, bagaimanapun sempurnanya apabila telah dipakai, maka setelah beberapa waktu perlu diraguka tentang penunjukkannya terutama perawatan yang digunakan terus-menerus secara intensif. Kalibrasi alat juga merupakan proses pembanding dan membetulkan keluaran suatu instrumen dengan nilai piawai. Kalibrasi juga suatu proses perbandingan nilai piawai keluaran peralatan yang hendak diuji dengan peralatan yang telah diketahui ketepatannya mengunakan nilai masukkan yang sama dibekalkan kepada kedua-dua peralatan tersebut. Dalam pembacaan nilai ukuran pada sebuah alat harus teliti, akurat dan tepat. Kesalahn indera penglihatan dalam membaca nilai, disebut dengan kesalahan paralaks. Sebaliknya, saat membaca nilai alat (misal, buret), sebaiknya posisi mata horizontal, agar dapat terhindar dari kesalah paralaks tersebut.

Pada percobaan ini suhu yang digunakan adalah suhu ruang yaitu 27C yang mana volume alat gelasnya yaitu 1.0043 mL. Pada percobaan ini memakai metode volumetri. Adapun toleransi yang diberikan untuk alat volumetri yang ditetapkan NBS (Amerika Serikat), BS class A (Inggris), untuk alat dengan ketelitian yang sangat tinggi dan BS class B (formakope Indonesa) untuk alat-alat yang digunakan dengan ketepatan biasa: 1. BURET 5 mL, 10 mL, 20 mL Pada percobaan ini, dengan suhu ruang 27C = 1.004 mL volume alat gelasnya, toleransi yang diizinkan adalah tabel 2 yaitu class B yang digunakan untuk alat dengan ketepatan yang biasa. 2. PIPET 10 mL Percobaan alat gelas ini, suhu dan volume alat gelasnya juga sama dengan percoban buret 10 mL, toleransi yang diizinkan adalah tabel 2 yaitu class B, yang digunakan untuk ketepatan yang biasa. 3. LABU UKUR 100 mL Pada percobaan alat gelas ini, suhu dan volume alat gelasnya juga sama dengan percobaan BURET dan PIPET. Toleransi yang diizinkan adalah tabel 1 yaitu class A, yang digunakan untuk alat dengan ketepatan tinggi. Pengkalibrasian sebaiknya dilakukan secara berulang-ulang, agar diperoleh data yang akurat. Standar kalibrasi adalah merupakan standar yang diperboleh untuk melakukan suatu pengukuran. Pengkalibrasian dilakukan untuk membandingkan nilai ukur dengan standar nasional atau internasional. Pengkalibrasian ini dilakukanuntuk mengetahui apakah alat-alat yang akan digunakan masih layak pakai atau tidak yaitu dengan mengetahui apakh alat-alat tersebut sesuai dengan toleransi yang telah ditetapkan.

BAB III KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut ;

1. Kalibrasi merupakan suatu proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya. 2. Air digunakan sebagai bahan pengkalibrasian pada umumnya, hal ini disebabkan karena kerapatan air pada berbagai suhu telah diketahui dengan tepat dalam keadaan vakum. 3. Toleransi yang diberikan untuk alat ukur volumetri yang ditetapkan NBS ada 2 yaitu : - Kelas A (inggris) untuk alat ukur dsengan ketelitian sangat tinggi - Kelas B (formakop indonesia) untuk alat-alat yang digunakan dengan ketepatan yang biasa. 4. Setiap alat ukur yang digunakan dilaboratorium memiliki tingkat ketelitian yang berbeda pada setiap suhu dan keadaan.

DAFTAR PUSTAKA
Haryadi, W, 1986, ILMU KIMIA ANALITIK DASAR, Gramedia, Jakarta.

Khopkar, S.M, 2002, KONSEP DASAR KIMIA ANALITIK, Universitas Indonesia, Jakarta. Suminar, 2001, KIMIA DASAR DAN PRINSIP TERAPAN MODERN, Terjemahan dari GENERAL CHEMISTRY PRINCIPLES AND MODERN APICATION, Oleh R.H. Petrucci, Erlangga, Jakarta.