Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Pengaruh Salinitas Terhadap Pertumbuhan Tanaman

Disusun oleh
Evan Febriansyah (09-021)

FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA 2011

I. Acara percobaan Pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan tanaman

II. Tujuan percobaan Untuk mengamati pengaruh kadar garam yang berbeda-beda terhadap penyerapan air dan pertumbuhan tanaman.

III. Dasar Teori Kadar garam yang tinggi pada tanah menyebabkan tergganggunya pertumbuhan, produktivitas tanaman dan fungsi-fungsi fisiologis tanaman secara normal, terutama pada jenis-jenis tanaman pertanian. Salinitas tanah menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang menghambat pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein, serta penambahan biomass tanaman. Tanaman yang mengalami stres garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung tetapi dalam bentuk pertumbuhan tanaman yang tertekan dan perubahan secara perlahan (Sipayung, 2003). Dalam FAO (2005) dijelaskan bahwa garam-garaman mempengaruhi pertumbuhan tanaman umumnya melalui: (a) keracunan yang disebabkan penyerapan unsur penyusun garam yang berlebihan, (b) penurunan penyerapan air dan (c) penurunan dalam penyerapan unsur-unsur hara yang penting bagi tanaman. Pengaruh salinitas tanah tergantung pada tingkatan pertumbuhan tanaman, biasanya pada tingkatan bibit sangat peka terhadap salinitas. Waskom (2003) menjelaskan bahwa salinitas tanah dapat menghambat perkecambahan benih, pertumbuhan yang tidak teratur pada tanaman pertanian seperti kacang-kacangan dan bawang. Viegas et a l,. (2003) dalam Da Silva et al, (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan tunas pada semai Leucaena leucocephala mengalami penurunan sebesar 60% dengan adanya penambahan salinitas pada media sekitar 100 mM NaCl. Adanya kadar garam yang tinggi pada tanah juga menyebabkan penurunan jumlah daun, pertumbuhan tinggi tanaman dan rasio

pertumbuhan panjang sel. Demikian pula dengan proses fotosintesis akan terganggu karena terjadi akumulasi garam pada jaringan mesophil dan meningkatnya konsentrasi CO2 antar sel (interseluler) yang dapat mengurangi pembukaan stomata (Robinson, 1999 dalam Da Silva et al, 2008). Pada tanaman semusim antara lain meningkatnya tanaman mati dan produksi hasil panen rendah serta banyaknya polong kacang tanah dan gabah yang hampa (Anonim, 2007).

IV. Alat dan bahan y y y y y y y V. Tanaman Zea mays tingkat semai Larutan NaCl Aquades Botol Penggaris Kapas Sterofoam

Cara kerja y y Larutan NaCl dibuat dengan kadar 0; 0,025; 0,05; 0,1; dan 0,2 M Larutan tersebut kemudian diisikan ke dalam botol yang tersedia masing-masing 150 mL y Tanaman P vulgaris diambil dari dalam pot lalu dibersihkan akarnya dari sisa tanah dengan menggunakan air. y Panjang batang di atas kotiledon diukur kemudian tanaman dimasukkan ke dalam botol hingga akarnya terendam. y Permukaan atas larutan ditandai, kemudian diamati setiap 2 hari sekali. Apabila larutan berkurang ditambah dengan aquades hingga permukaan larutan kembali sampai batas yang telah ditandai. Aquades yang ditambahkan dicatat volumenya, y Pengamatan dilakukan selama 10 hari

Keadaan morfologi tanaman dicatat pada tiap pengamatan.

VI. Hasil percobaan Konsentrasi Penambahan volume aquades larutan 0 0,021 0,05 0,1 0,2 0 2 1 1 2 2 3 4 3 6 5 4 5 4 4 19,7 19,5 20,5 20 18,5 Panjang awal Panjang akhir

Keterangan tambahan Hari ke 0 Hari ke 2 Hari ke 4 Hari ke 6 : Tidak ada perubanah morfologi tanaman : Tanaman pada konsentrasi 0,05 layu : Tanaman pada konsentrasi 0,025; 0,05; 0,1 layu :Tanaman pada konsentrasi 0,025 layu dan daun berwarna coklat. Tanaman pada konsentrasi 0,05 dan 0,1 layu Tanaman pada konsentrasi 0,2 layu dan ujung daun berwarna coklat Hari ke 8 : Semua Tanaman mati

VII. Pembahasan Dari percobaan yang dilakukan, terlihat bahwa tanaman yang diberikan larutan garam mengalami kelayuan dan masalah dalam penyerapan airnya. Dari data dapat dilihat bahwa terjadi ketidak teraturan jumlah penyerapan air, hal ini diduga akibat pengaruh salinitas dan upaya osmoregulasi yang

dilakukan tanaman guna menyesuaikan tekanan osmotiknya, dan pada akhirnya tanaman tersebut mati. Proses pengangkutan unsur-unsur hara tanaman dari dalam tanah akan terganggu dengan naiknya salinitas tanah. Manurut Salisbury and Ross (1995) bahwa masalah potensial lainnya bagi tanaman pada daerah tersebut adalah dalam memperoleh K+ yang cukup. Masalah ini terjadi karena ion natrium bersaing dalam pengambilan ion K+. Tingginya penyerapan Na+ akan menghambat penyerapan K+. Menurut Grattan and Grieve (1999)dalam Yildirim et al (2006), salinitas yang tinggi akan mengurangi ketersedian K+ dan Ca++dalam larutan tanah dan

menghambat proses transportasi dan mobilitas kedua unsur hara tersebut ke daerah pertumbuhan tanaman (growth region) sehingga akan mengurangi kualitas pertumbuhan baik organ vegetatif maupun reproduktif. Salinitas tanah yang tinggi ditunjukkan dengan kandungan ion Na+ dan Cl- tinggi akan meracuni tanaman dan meningkatkan pH tanah yang mengakibatkan berkurangnya ketersediaan unsur-unsur hara mikro (FAO, 2005). Demikian pula dengan hasil penelitian Yousfi et al (2007) bahwa salinitas menyebabkan penurunan secara drastis terhadap konsentrasi ion Fe di daun maupun akar pada tanaman gandum (barley). Penurunan tersebut disebabkan karena berkurangnya penyerapan Fe pada kondisi salinitas tinggi.

VIII. Kesimpulan dan saran y y Kadar garam yang tinggi akan mengganggu pertumbuhan tanaman Semakin tinggi kadar garam, maka akan semakin terlihat kerusakan pada tanaman tersebut.

Saran : Saran yang dapat diberikan adalah agar lebih teliti dalam melihat penambahan aquades.

IX. Daftar pustaka

Matondang Ikhsan, Dwiyono Kisroh, Yarni, Yenisbar. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Laboratorium Botani Fakultas Biologi Universitas Nasional. Jakarta. 2011.

http://forestryinformation.wordpress.com/2011/06/30/respon-tanamanterhadap-salinitas-tanah/

http://organisasi.org/faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan-danpertumbuhan-tumbuhan-tanaman-teori-biologi

Anda mungkin juga menyukai