Anda di halaman 1dari 40

PROBLEM BASED LEARNING

Ilmu Kedokteran Forensik Blok 30


Makalah Mandiri PBL 1

Zainoor Ain bt Jamil 10-2007-297


Kelompok D7 di bawah bimbingan Dr Handy

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

DAFTAR ISI
BAB 1 BAB 2 BAB 3 ISI PROSEDUR MEDIKOLEGAL ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN MEDIS 3.1 TANATOLOGI 3.2 IDENTIFIKASI FORENSIK PEMERIKSAAN TRAUMATOLOGI CARA DAN SEBAB KEMATIAN INTERPRATASI TEMUAN KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA MS 3 9 11

BAB 4 BAB 5 BAB 6 BAB 7

26 30 33 37 38

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

BAB I : PROSEDUR MEDIKOLEGAL


I. KEWAJIBAN DOKTER MEMBANTU PERADILAN Pasal 133 KUHAP 1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. 2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit

harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat 1.

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

Penjelasan Pasal 133 KUHAP 2) Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan1.

Pasal 179 KUHAP 1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang

memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenanr-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya1.

II. BENTUK BANTUAN DOKTER BAGI PERADILAN DAN MANFAATNYA

Pasal 183 KUHAP

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya1.

Pasal 184 KUHAP

1) Alat bukti yang sah adalah: Keterangan saksi


|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 4

Keterangan ahli Surat Pertunjuk Keterangan terdakwa

2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan1.

Pasal 186 KUHAP Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Pasal 180 KUHAP 1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan. 2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian

ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2)1

III.SANGSI BAGI PELANGGAR KEWAJIBAN DOKTER Pasal 216 KUHP 1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum.
3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya

pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya dapat ditambah sepertiga1. Pasal 222 KUHP Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah1. Pasal 224 KUHP Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undangundang ia harus melakukannnya: 1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan1.

Pasal 522 KUHP Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah. IV.RAHASIA JABATAN DAN PEMBUATAN SKA/ V et R Peraturan Pemerintah No 26 tahun 1960 tentang lafaz sumpah dokter Saya bersumpah/ berjanji bahwa: Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perkemanusiaan Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.dst. Peraturan Pemerintah no 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia Kedokteran. Pasal 1 PP No 10/1966 Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran1. Pasal 2 PP No 10/1966 Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang yang tersebut dalam pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada PP ini menentukan lain. Pasal 3 PP No 10/1966 Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah: a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan.
b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan,

pengobatan dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri kesehatan1.

Pasal 4 PP No 10/1966 Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia kedokteran yang tidak atau tidak dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112 KUHP, menteri kesehatan dapat melakukan tindakan administrative berdasarkan pasal UU tentang tenaga kesehatan. Pasal 5 PP No 10/1966

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh mereka yang disebut dalam pasal 3 huruf b, maka menteri kesehatan dapat mengambil tindakantindakan berdasarkan wewenang dan kebijaksanaannya. Pasal 322 KUHP 1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat

dituntut atas pengaduan orang itu1. Pasal 48 KUHP Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana.

V. BEDAH MAYAT KLINIS, ANATOMIS DAN TRANSPLANTASI Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia. Pasal 2 PP No 18/1981 Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut: a. Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat setelah penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat ditentukan dengan pasti; b. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau masyarakat sekitarnya.
c. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya terdekat, apabila dalam jangka waktu 2

x 24 jam tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal dunia dating ke rumah sakit1. Pasal 14 PP No 18/1981
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 8

Pengambilan alat atau jaringan tubuh manusia untuk keperluan transplantasi atau bank mata dari korban kecelakaan yang meninggal dunia, dilakukan dengan persetujuan tertulis keluarga yang terdekat. Pasal 17 PP No 18/1981 Dilarang memperjual belikan alat dan atau jaringan tubuh manusia. Pasal 18 PP No 18/1981 Dilarang mengirim dan menerima alat dan atau jaringan tubuh manusia dalam semua bentuk ke dan dari luar negeri. Pasal 19 PP No 18/1981 Larangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 dan pasal 18 tidak berlaku untuk keperluan penelitian ilmiah dan keperluan lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Pasal 70 UU Kesehatan (2) Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat1.

BAB II : ASPEK HUKUM


KEJAHATAN TERHADAP TUBUH DAN JIWA MANUSIA Pasal 89 KUHP Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan.
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 9

Pasal 90 KUHP Luka berat berarti: -jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut; - tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian; - kehilangan salah satu pancaindra; - mendapat cacat berat; - menderita sakit lumpuh; -terganggunya daya piker selama empat minggu lebih; -gugur atau matinya andungan seorang perempuan1. Pasal 338 KUHP Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 339 KUHP Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun1.

Pasal 340 KUHP Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun. Pasal 351 KUHP

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

10

1) Penganiyaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak 4500 rupiah. 2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun. 3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama7 tahun. 4) Dengan penganiyaan disamakan sengaja merusak kesehatan. 5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. Pasal 353 KUHP
(1) Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling

lama 4 tahun.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana

penjara paling lama tujuh tahun.


(3) Jika perbuatan mengakibatkan mati, dia dikenakan pidana penjara paling lama 9 tahun.

Pasal 354 KUHP


(1) Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan

penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.


(2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling

lama sepuluh tahun. Pasal 355 KUHP


(1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan

pidana penjara paling lama 12 tahun.


(2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling

lama 15tahun1.

BAB III : PEMERIKSAAN MEDIS


|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 11

3.1 PEMERIKSAAN MEDIS PADA BIDANG TANATOLOGI


Ilmu yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut adalah tanatologi. Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan logos ilmu. Tanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran Forensik yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatis (mati klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang otak)2. 1. Mati somatis (mati klinis) Terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan, yang menetap (irre-versible). Secara klinis tidak ditemukan refleksrefleks, EEG menda-tar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara nafas tidak terdengar pada auskultasi. 2. Mati suri (suspended animation apparent death) Adalah terhentinya ketiga sistim kehidupan di atas yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam. 3. Mati seluler (mati molekuler) Adalah kematian organ atau ja-ringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan. Pengetahuan ini penting dalam transplantasi organ. 4. Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskular masih berfungsi dengan bantuan alat2. Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut dapat timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung dan peredaran darah berhenti, pernapasan berhenti, refleks cahaya dan refleks kornea mata hilang,
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 12

kulit pucat dan relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas yang memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti. Tanda Pasti Kematian Dahulu kematian ditandai dengan tidak berfungsinya lagi jantung. Konsep baru sekarang ini mengenai kematian mencakup berhentinya fungsi pernafasan, jantung dan otak. Dimana saat kematian ditentukan berdasarkan saat otak berhenti berfungsi. Pada saat itulah jika diperiksa dengan elektro-ensefalo-grafi (EEG) diperoleh garis yang datar. Berdasarkan waktunya tanda kematian dibagi menjadi 3, yaitu3: 1. Tanda yang segera dikenali setelah kematian. Berhentinya sirkulasi darah. Berhentinya pernafasan. 2. Tanda-tanda kematian setelah beberapa saat kemudian: A. Perubahan temperatur tubuh (algor mortis) B. Lebam mayat (livor mortis) C. Kaku mayat (rigor mortis) A. Penurunan Temperatur Tubuh (algor Mortis) Suhu tubuh pada orang yang sudah meninggal perlahan-lahan akan sama dengan suhu lingkungannya karena mayat tersebut akan melepaskan panas dan suhunya menurun. Kecepatan penurunan suhu pada mayat bergantung kepada suhu lingkungan dan suhu mayat tu sendiri. Pada iklim yang dingin maka penurunan suhu mayat berlangsung cepat2,3. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Suhu Mayat 1. Usia. Penurunan suhu lebih cepat pada anak-anak dan orang tua dibandingkan orang dewasa. 2. Jenis kelamin. Wanita mengalami penurunan suhu tubuh yang lebih lambat dibandingkan pria karena jaringan lemaknya lebih banyak. 3. Lingkungan sekitar mayat. Jika mayat berada pada ruangan kecil tertutup tanpa ventilasi, kecepatan penurunan suhu mayat akan lebih lambat dibandingkan jika mayat berada pada tempat terbuka dengan ventilasi yang cukup. 4. Pakaian. Tergantung pakaian yang di pakai tebal atau nipis atau tidak berpakaian.
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 13

5. Bentuk tubuh. Mayat yang berbadan kurus akan mengalami penurunan suhu badan yang lebih cepat. 6. Posisi tubuh. Mayat dalam posisi terlentang mengalami penurunan suhu yang lebih cepat. B. Lebam Mayat (Livor Mortis) Lebam mayat terjadi akibat terkumpulnya darah pada jaringan kulit dan subkutan disertai pelebaran pembuluh kapiler pada bagian tubuh yang letaknya rendah atau bagian tubuh yang tergantung. Keadaan ini memberi gambaran berupa warna ungu kemerahan. Setelah seseorang meninggal, mayatnya menjadi suatu benda mati sehingga darah akan berkumpul sesuai dengan hukum gravitasi. Lebam mayat pada awalnya berupa barcak. Dalam waktu sekitar 6 jam, bercak ini semakin meluas yang pada akhirnya akan membuat warna kulit menjadi gelap. Pembekuan darah terjadi dalam waktu 6-10 jam setelah kematian. Lebam mayat ini bisa berubah baik ukuran maupun letaknya tergantung dari perubahan posisi mayat. Karena itu penting sekali untuk memastikan bahwa mayat belum disentuh oleh orang lain. Posisi mayat ini juga penting untuk menentukan apakah kematian disebabkan karena pembunuhan atau bunuh diri2,3. Ada 5 warna lebam mayat yang dapat kita gunakan untuk memperkirakan penyebab kematian : Merah kebiruan merupakan warna normal lebam Merah terang menandakan keracunan CO, keracunan CN atau suhu dingin Merah gelap menunjukkan asfiksia Biru menunjukkan keracunan nitrit Coklat menandakan keracunan aniline C. Kaku Mayat (Rigor Mortis) Perubahan otot yang terjadi setelah kematian bisa dibagi dalam 3 tahap : 1. Periode relaksasi primer (flaksiditas primer) Hal ini terjadi segera setelah kematian. Biasanya berlangsung selama 2-3 jam. Seluruh otot tubuh mengalami relaksasi,dan bisa digerakkan ke segala arah. Iritabilitas otot masih ada tetapi tonus otot menghilang. Pada kasus di mana mayat letaknya berbaring rahang bawah akan jatuh dan kelopak mata juga akan turun dan lemas. 2. Kaku Mayat

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

14

Kaku mayat akan terjadi setelah tahap relaksasi primer. Keadaan ini berlangsung setelah terjadinya kematian tingkat sel, dimana aktivitas listrik otot tidak ada lagi. Otot menjadi kaku. Fenomena kaku mayat ini pertama sekali terjadi pada otot-otot mata, bagian belakang leher, rahang bawah, wajah, bagian depan leher, dada, abdomen bagian atas dan terakhir pada otot tungkai. Akibat kaku mayat ini seluruh mayat menjadi kaku, otot memendek dan persendian pada mayat akan terlihat dalam posisi sedikit fleksi. Keadaan ini berlangsung selama 24 - 48 jam pada musim dingin dan 18 - 36 jam pada musim panas. Penyebabnya adalah otot tetap dalam keadaan hidrasi oleh karena adanya ATP. Jika tidak ada oksigen, maka ATP akan terurai dan akhirnya habis, sehingga menyebabkan penumpukan asam laktat dan penggabungan aktinomiosin (protein otot). 3. Periode Relaksasi Sekunder Otot menjadi relak (lemas) dan mudah digerakkan. Hal ini terjadi karena pemecahan protein, dan tidak mengalami reaksi secara fisik maupun kimia. Proses pembusukan juga mulai terjadi. Pada beberapa kasus, kaku mayat sangat cepat berlangsung sehingga sulit membedakan antara relaksasi primer dengan relaksasi sekunder2,3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kaku Mayat 1. Keadaan Lingkungan. Pada keadaan yang kering dan dingin, kaku mayat lebih lambat terjadi dan berlangsung lebih lama dibandingkan pada lingkungan yang panas dan lembab. Pada kasus di mana mayat dimasukkan ke dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung lebih lama. 2. Usia. Pada anak-anak dan orangtua, kaku mayat lebih cepat terjadi dan berlangsung tidak lama. Pada bayi prematur biasanya tidak ada kaku mayat. Kaku mayat baru tampat pada bayi yang lahir mati tetapi cukup usia (tidak prematur) 3. Cara kematian. Pada pasien dengan penyakit kronis, dan sangat kurus, kaku mayat cepat terjadi dan berlangsung tidak lama. Pada pasien yang mati mendadak, kaku mayat lambat terjadi dan berlangsung lebih lama. 4. Kondisi otot. Terjadi kaku mayat lebih lambat dan berlangsung lebih lama pada kasus di mana otot dalam keadaan sehat sebelum meninggal, dibandingkan jika sebelum meninggal keadaan otot sudah lemah. 3. Tanda-tanda kematian setelah selang waktu yang lama:
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 15

D. Proses pembusukan E. Saponifikasi atau adiposera F. Mumifikasi D. Proses Pembusukan Perubahan warna. Perubahan ini pertama kali tampat pada fossa iliaka kanan dan kiri berupa warna hijau kekuningan, disebabkan oleh perubahan hemoglobin menjadi sulfmethemoglobin. Perubahan warna ini juga tampak pada seluruh abdomen, bagian depan genitalia eksterna, dada, wajah dan leher. Dengan semakin berlalunya waktu maka warnanya menjadi semakin ungu. Jangka waktu mulai terjadinya perubahan warna ini adalah 6-12 jam pada musim panas dan 1-3 hari pada musin dingin. Perubahan warna tersebut juga diikuti dengan pembengkakan mayat. Otot sfingter mengalami relaksasi sehingga urin dan faeses keluar. Lidah juga terjulur. Bibir menebal, mulut membuka dan busa kemerahan bisa terlihat keluar dari rongga mulut. Mayat berbau tidak enak disebabkan oleh adanya gas pembusukan. Gas ini bisa terkumpul pada suatu rongga sehingga mayat menjadi tidak mirip dengan korban sewaktu masih hidup. Gas ini selanjutnya juga bisa membentuk lepuhan kulit2 Lepuhan Kulit (blister) Mulai tampak 36 jam setelah meninggal. Kulit ari dapat dengan cukup mudah dikelupas. Di mana akan tampak cairan berwarna kemerahan yang sedikit mengandung albumin Jika pembusukan terus berlangsung, maka bau busuk yang timbul akan menarik lalat untuk hinggap pada mayat. Lalat menempatkan telurnya pada mayat, di mana dalam waktu 824 jam telur akan menetas menghasilkan larva-yang sering disebut belatung. Dalam waktu 4-5 hari, belatung ini lalu menjadi pupa, dimana setelah 4-5 hari kemudian akan menjadi lalat dewasa. Pada tahap ini bagian dari tulang tengkorak mulai tampak. Rektum dan uterus juga tampak dan uterus gravid juga bisa mengeluarkan isinya Rambut dan kuku dengan mudah dapat dicabut. Bagian perut dan dada bisa pecah berhubung besarnya tekanan gas yang di kandungnya. Jika pembusukan terus berlangsung, maka jaringan jaringan menjadi lunak, rapuh dan berwarna kecoklatan3. Organ Tubuh Bagian Dalam

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

16

Organ tubuh bagian dalam juga mengalami perubahan. Bentuk perubahan sama seperti diatas, jaringan-jaringan menjadi berwarna kecoklatan. Ada yang cepat membusuk dan ada yang lambat. Jaringan yang cepat membusuk : Laring Trakea Otak terutama pada anak-anak Lambung Usus halus Hati Limpa Jantung Paru-paru Ginjal Prostat Uterus non gravid

Jaringan yang lambat membusuk :

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Pembusukan. a) Temperatur. Temperatur yang paling cocok untuk proses pembusukan adalah antara 700F sampai 1000F. Pembusukan akan melambat diatas temperatur 1000F dan dibawah 700F, dan berhenti dibawah 320 F atau diatas 2120F . b) c) d) Udara. Udara yang mempercepat pembusukan. Kecepatan pembusukan lebih lambat air dan dalam tanah dibandingkan di udara terbuka. Kelembaban. Keadaan lembab mempercepat proses pembusukan. Penyebab kematian. Bagian tubuh yang terluka biasanya lebih cepat membusuk. didalam

Beberapa jenis racun bisa memperlambat pembusukan, misalnya arsen, zinc (seng) dan golongan logam antimon. Mayat penderita yang meninggal karena penyakit kronis lebih cepat membusuk dibandingkan mayat orang sehat. E. Adiposera Fenomena ini terjadi pada mayat yang tidak mengalami proses pembusukan yang biasa. Melainkan mengalami pembentukan adiposera. Adiposera merupakan subtansi yang mirip
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 17

seperti lilin yang lunak, licin dan warnanya bervariasi mulai dari putih keruh sampai coklat tua. Adiposera mengandung asam lemak bebas, yang dibentuk melalui proses hidrolisa dan hidrogenasi setelah kematian. Adanya enzim bakteri dan air sangat penting untuk berlangsungnya proses tersebut. Dengan demikian, maka adiposera biasanya terbentuk pada mayat yang terbenam dalam air atau rawa-rawa. Lama pembentukan adiposera ini juga bervariasi, mulai dari 1 minggu sampai 10 minggu. Kepentingan medikolegal dari adiposere adalah dapat menunjukkan tempat kematian (kering, panas atau tempat basah)2. F. Mummifikasi Mayat mengalami pengawetan akibat proses pengeringan dan penyusutan bagian-bagian tubuh. Kulit menjadi kering, keras dan menempel pada tulang kerangka. Mayat menjadi lebih tahan dari pembusukan sehingga masih jelas menunjukkan ciri-ciri seseorang. Fenomena ini terjadi pada daerah yang panas dan lembab, di mana mayat dikuburkan tidak begitu dalam dan angin yang panas selalu bertiup sehingga mempercepat penguapan cairan tubuh. Lama terjadinya mummifikasi adalah antara 4 bulan sampai beberapa tahun. Kepentingan medikolegal dari mummfikasi adalah dapat menunjukkan tempat kematian (kering, panas atau tempat basah)2.

3.2 IDENTIFIKASI FORENSIK


Autopsi berasal dari kata auto = sendiri dan opsis= melihat. Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 18

interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian4. Bedasarkan tujuan, dikenal dua jenis autopsy yaitu Autopsi Klinik dan Autopsi Forensik/Medikolegal. Autopsi klinik dilakukan terhadap mayat seseorang yang menderita penyakit, dirawat di Rumah Sakit tetapi kemudian meninggal. Pemeriksaan ini mutlak memerlukan izin dari keluarga terdekat mayat. Autopsi forensik dilakukan terhadap mayat berdasarkan peraturan undang-undang dan diperlukan suatu Surat Permintaan Pemeriksaan/Pembuatan visum et repertum.dari pihak penyidik. Dalam autopsi forensik mutlak dilakukan pemeriksaan lengkap meliputi tubuh bagian luar dan pembukaan semua rongga tengkorak, dada dan perut/panggul. Pemeriksaan ini dilakukan dengan tujuan: a) Membantu dalam hal penetuan identitas mayat b) Menetukan sebab pasti kematian, cara kematian dan memperkirakan saat kematian. c) Mengumpulkan dan mengenali benda-benda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab serta identitas pelaku kejahatan. d) Membuat laporan tertulis dalam bentuk visum et repertum.
e)

Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu penentuan serta penuntutan terhadap orang yang bersalah5.

PEMERIKSAAN LUAR
Pemeriksaan harus dilakukan dengan cermat, meliputi segala sesuatu yang terlihat, tercium maupun teraba. Diperiksa semua baik benda yang menyertai mayat, pakaian, perhiasan, sepatu dan lain-lain juga terhadap tubuh mayat itu sendiri. Pemeriksaan harus mengikuti suatu sistematika yang telah ditentukan. Semua bagian yang diperiksa harus dilakukan dengan teliti dengan memperhatikan jenis/bahan, warna, kotoran, dan lain-lain. Langkah-langkah yang dilakukan pada pemeriksaan luar jenazah adalah seperti berikut: a) Label mayat
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 19

Terdapat dua label pada mayat, satu dari pihak kepolisian yang perlu dicatat selengkapnya isi dari label tersebut. Disamping itu dapat ditemukan label identifikasi dari Instalasi Kamar Jenazah Rumah Sakit yang harus tetap ada pada tubuh mayat.5

b) Tutup mayat c) Bungkus mayat Sekiranya mayat dibungkus dan diikit dengan tali, catatkan secara rinci sifat tali dan bungkus mayat. d) Pakaian Diperiksa pakaian dari bagian atas ke bagian bawah dan dari lapisan terluar sampai lapisan yang terdalam. Periksa saku pada pakaian dan catatkan temuan. e) Perhiasan f) Benda di samping mayat Seperti tas atau bungkusan

g) Tanda kematian (sangat penting untuk mencatat waktu dilakukan pemeriksaan terhadap tanda kematian ini) Lebam mayat : letak, distribusi, warna dan intensitas lebam Kaku mayat : derajat kekakuan pada sendi, spasme kadaverik Suhu tubuh mayat : diambil dengan thermometer rectal dan suhu ruangan turut dicatat Pembusukan : pertama sekali dilihat di daerah perut kanan bawah dengan perubahan warna kehijau-hijauan. Ditentukan derajat pembusukan. Lain-lain : perubahan tanatologi lain seperti mummifikasi atau adipocera.

h) Identifikasi umum
-

Dicatat jenis kelamin, bangsa/ras, umur, warna kulit, keadaan gizi, tinggi dan berat badan, keadaan zakar, adanya striae albicans pada dinding perut.
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 20

i) Identifikasi khusus -

Rajah/tattoo : dilakukan dokumentasi foto Jaringan parut Kapalan (callus) : dapat menentukan pekerjaan mayat semasa hidupnya Kelainan kuli Anomali dan cacat pada tubuh

j) Pemeriksaan rambut Dilakukan untuk membantu identifikasi. Sekiranya ditemukan rambut yang sifatnya berlainan dari rambut mayat, harus diambil, disimpan dan diberi label. k) Pemeriksaan mata Dilihat kelopak mata, selaput lendir kelopak mata, bola mata, selaput lendir bola mata, kornea, iris dan pupil. l) Pemeriksaan daun telinga dan hidung Lihat apakah ada kemungkinan trauma dan perdarahan

m) Pemeriksaan mulut dan rongga mulut Meliputi bibir, lidah, rongga mulut dan gigi geligi.

n) Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan Pada mayat laki-laki diperiksa apakah telah disirkumsisi, pada wanita diperiksa selaput dara dan komisura posterior. Lubang pelepasan diperiksa untuk melihat ada atau tidak kekerasan. o) Lain-lain Dilihat apakah ada tanda bendungan, ikterus, warna kebiru-biruan, edema/sembab, bekas pengobatan atau sebarang pengotoran. p) Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan/luka

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

21

Letak luka dengan menggunakan koordinat terhadap garis/titik anatomi terdekat Jenis luka : lecet, memar atau terbuka Arah luka : melintang, membujur atau miring Tepi luka : rata, teratur, atau tidak beraturan Sudut luka : runcing, membulat atau bentuk lain Dasar luka Sekitar luka : pengotoran atau tanda kekerasan lain Ukuran luka : pada luka terbuka dilakukan setelah luka dirapatkan Saluran luka Lain-lain : pola penumpukan kulit

q) Pemeriksaan terhadap patah tulang5

PEMBEDAHAN MAYAT
Terdapat empat teknik autopsi dasar yaitu teknik Virchow, teknik Rokistansky, teknik Letulle dan teknik Ghon. Teknik Virchow merupakan teknik tertua dan kurang baik untuk autopsi forensik karena hubungan anatomik antar organ dapat hilang. Teknik Rokistansky dilakukan dengan membuat irisan organ in situ kemudian baru dikeluarkan. Teknik Letulle mengeluarkan organ leher, dada, diafrgama dan perut sekaligus (en masse) dan merugikan karena memerlukan pembantu untuk dilakukan. Teknik Ghon mengangkat organ sebagai tiga kumpulan yaitu organ leher dan dada, organ pencernaan bersama hati dan limpa, serta organ urogenital4. Pemeriksaan dalam bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti insisi I, insisi Y dan insisi melalui lekukan suprasternal menuju simphisis pubis. Insisi I dimulai di bawah tulang rawan krikoid di garis tengah sampai prosesus xifoideus kemudian 2 jari paramedian kiri dari puat sampai simfisis, dengan demikian tidak perlu melingkari pusat. Insisi Y pula merupakan salah satu tehnik khusus otopsi. Pada pemeriksaan dalam, organ tubuh diambil satu persatu dengan hati-hati dan dicatat4:
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 22

a) Ukuran Pengukuran secara langsung adalah dengan menggunakan pita pengukur. Secara tidak langsung dilihat adanya penumpulan pada batas inferior organ. Organ hati yang mengeras juga menunjukkan adanya pembesaran. b) Bentuk c) Permukaan d) Konsistensi Diperkirakan dengan cara menekan jari ke organ tubuh tersebut.

e) Kohesi Merupakan kekuatan daya regang antar jaringan pada organ.

f) Potongan penampang melintang Dicatat warna dan struktur permukaan penampang organ yang dipotong. Pemeriksaan khusus juga bisa dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari dugaan penyebab kematian. Pemeriksaan khusus bisa dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari dugaan penyebab kematian. Insisi pada masing-masing bagian-bagian tubuh yaitu : a) Dada : Dilakukan seksi jantung dan paru-paru

b) Perut Dilihat esofagus, lambung, duodenum dan hati yang dikeluarkan sebagai satu unit Ginjal, ureter, rektum, dan kandung urine juga dilihat dan dikeluarkan sebagai satu unit. Pada perempuan kantung kemih dilepaskan dari uterus dan vagina. c) Leher : Lidah, laring, trakea, esofagus, palatum molle, faring dan tonsil dikeluarkan sebagai satu unit. Perhatikan obstruksi di saluran nafas, kelenjar gondok dan tonsil.
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 23

Pada kasus pencekikan tulang lidah harus dibersihkan dan diperiksa adanya patah tulang. d) Kepala : Pada trauma kepala perhatikan adanya edema, kontusio, laserasi serebri.

AUTOPSI PADA KASUS DENGAN KELAINAN PADA LEHER


Untuk melihat kelainan pada leher dengan baik, dipastikan agar daerah leher bersih dari kemungkinan genangan darah dengan diusahakan pembuluh darah leher dapat dialirkan ke tempat lain. Dengan mengalirkan darah dari pembuluh darah leher ke arah kepala dan dada, lapangan leher menjadi bersih sehingga kelainan berupa resapan darah yang kecil pun dapat dilihat. Setelah pemeriksaan leher selesai, alat leher diangkat dan diperiksa seperti autopsi biasa4.

AUTOPSI PADA KASUS KEMATIAN AKIBAT KEKERASAN


Pada kematian akibat kekerasan, pemeriksaan terhadap luka harus mengungkapkan hal-hal seperti: a) Penyebab luka Memeperhatikan morfologi luka yang sringkali member petunjuk tentang benda yang mengenai tubuh b) Arah kekerasan Luka lecet dan luka robek dapat menentukan arah kekerasan sehingga penting untuk rekonstruksi terjadinya perkara. Pada luka yang menembus kedalam tubuh, perlu ditentukan arah serta jalannya saluran luka dalam tubuh mayat. c) Cara terjadinya luka Dilihat apakah luka akibat dari pembunuhan, kecelakaan atau bunuh diri. Luka akibat pembunuhan biasanya tersebar di seluruh tubuh sama ada daerah terbuka atau daerah tertutup seperti leher, ketiak, lipat siku dan sebagainya. Seringkali juga
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 24

ditemukan luka tangkis pada korban pembunuhan. Pada kecelakaan luka lebih ditemukan di daerah yang terbuka disbanding daerah tertutup. Pada korban bunuh diri pula, luka menunjukkan sifat luka percobaan atau tentative wounds yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar. d) Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati Pada korban kekerasan harus dibuktikan bahwa kematian terjadi semata-mata akibat kekerasan yang menyebabkan luka. Harus juga dipastikan luka yang ditemukan adalah luka intravital yaitu yang terjadi sewaktu korban masih hidup. Tanda intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka seperti resapan darah, proses penyembuhan luka, sebukan sel radang dan lain-lain perlu diperhatikan4. Kematian akibat pembunuhan menggunakan kekerasan Pada kasus pembunuhan dengan menggunakan kekerasan tajam, luka harus dilukis dengan baik dan diperhatikan bentuk luka, tepi luka, sudut luka, keadaan sekitar luka dan lokasi luka. Dilihat juga kemungkinan terdapatnya luka tangkis di daerah ekstensor lengan bawah serta telapak tangan. Biasanya terdapat beberapa buah luka yang distribusinya tidak teratur pada kasus pembunuhan dengan kekerasan tajam. Pembunuhan dengan menggunakan kekerasan tumpul dapat menimbulkan luka berbentuk luka memar, luka lecet maupun luka robek. Perlu juga diperhatikan adanya atau luka tangkis. Pada pembunuhan dengan senjata api pula dapat ditemukan luka tembak masuk jarak dekat, sangat dekat atau luka tembak masuk jarak jauh dan luka tembak temple. Bunuh diri dengan kekerasan Seseorang yang bunuh diri dengan benda tajam seringkali ditemukan luka bunuh diri yang mengelompok pada tempat tertentu seperti pergelangan tangan, leher atau daerah prekordial. Luka-luka sering berupa beberapa buah luka percobaan dengan satu luka yang mematikan4,5.

AUTOPSI KASUS KEMATIAN AKIBAT ASFIKSIA MEKANIS

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

25

Asfiksia mekanik meliputi peristiwa pembekapan, penyumbatan, pencekikan, penjeratan dan gantung serta penekanan pada dinding dada. Pada pemeriksaan mayat sering ditemukan tanda kematian akibat asfiksi berupa lebam mayat yang gelap dan luas, perbendungan pada bola mata, busa halus pada lubang hidung, mulut dan saluran pernafasan, perbendungan pada alat-alat dalam serta bintik perdarahan Tardieu. Tanda-tanda asfiksi tidak akan ditemukan bila kematian terjadi melalui mekanisme non-asfiksi. Ciri khas bagi masingmasing peristiwa adalah seperti berikut4: a) Pembekapan Tanda kekerasan sekitar lubang hidung dan mulut terutama bagain muka yang menonjol. Dilihat juga tanda kekerasan pada bagian belakang bibir, daerah belakang kepala atau tengkuk. b) Penyumbatan Sering sekali benda asing masih terdapat dalam rongga mulut atau ditemukan sisa benda asing dan tanada bekas penekanan benda asing pada dinding rongga mulut. c) Pencekikan Kulit daerah leher menunjukkan tanda kekerasa yang ditimbulkan ujung jari atau kuku berupa luka memar atau lecet jenis tekan. Pada pembedahan ditemukan resapan darah bawha kulit daerah leher serta alat leher dan tulang lidah boleh patah unilateral. d) Penjeratan Jerat biasanya berjalan horisantal/mendatar dan letaknya rendah. Jerat

meninggalkan jejas jeratberupa luka lecet jenis tekan yang melingkari leher. Jerat pada kasus pembunuhan sering kali disimpul mati. e) Tergantung Jerat pada leher menunjukkan ciri khas berupa arah yang tidak mendatar tetapi membentuk sudut membuka ke arah bawah dan letak jerat lebih tinggi. Ditemukan resapan darah bawah kulit pada pembedahan sesuai letak jejas jerat pada kulit4,5.

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

26

BAB IV : PEMERIKSAAN TRAUMATOLOGI


Trauma atau kecelakaan merupakan hal yang biasa dijumpai dalam kasus forensik. Hasil dari trauma atau kecelakaan adalah luka, perdarahan dan atau skar atau hambatan dalam fungsi organ. Agen penyebab trauma diklasifikasikan dalam beberapa cara, antara lain kekuatan mekanik, aksi suhu, agen kimia, agen elektromagnet, asfiksia dan trauma emboli. Dalam prakteknya nanti seringkali terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh satu jenis penyebab, sehingga klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang menyebabkan trauma2. Luka akibat kekerasan tajam dapat disebabakan oleh benda-benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alat-alat seperti pisau, golok, keping kaca, pemecah es, kapak dan sebagainya. Terjadinya persentuhan dengan benda tajam akan berakibatkan luka yang membawa maksud putusnya atau rusaknya continuitas jaringan karena trauma akibat alat atau senjata yang bermata tajam dan atau berujung runcing. Ciri Luka Akibat Benda Tajam:

Tepi luka rata


|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 27

Sudut luka tajam Rambut ikut terpotong Tiada jembatan jaringan Tiada memar atau lecet di sekitarnya

Ciri-ciri luka akibat kasus bunuh diri, pembunuhan dan kekerasan akibat kekerasan benda tajam adalah seperti berikut: Pembunuhan Bunuh diri Sembarang Terpilih Banyak Banyak Terkena Tidak terkena Ada Tidak ada Tidak ada Ada Mungkin ada Tidak ada JADUAL 12 Kecelakaan Terpapar Tunggal/ banyak Terkena Tidak ada Tidak ada Mungkin ada

Lokasi luka Jumlah luka Pakaian Luka tangkis Luka percobaan Cedera sekunder

Luka akibat kekerasan terbagi kepada tiga yaitu luka iris atau sayat, luka tusuk dan luka bacok2.
Luka iris Luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit dengan kekuatan relatif ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit. Luka tusuk Luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada permukaan tubuh. Contohnya belati, bayonet, keris, clurit, kikir dan tanduk Ciri-ciri luka iris: o Pinggir luka rata o Sudut luka tajam o Rambut ikut terpotong o Jembatan jaringan o Biasanya mengenai kulit, otot, pembuluh darah, tidak sampai kerbau. Ciri-ciri luka tusuk (misalnya senjata pisau / bayonet): o Tepi luka rata o Dalam luka lebih besar dari panjang luka o Sudut luka tajam o Sisi tumpul pisau menyebabkan sudut luka kurang tajam Luka bacok Luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang cukup besar Contohnya pedang, clurit, kapak, baling-baling kapal Ciri-ciri luka bacok: o Luka biasanya besar o Pinggir luka rata o Sudut luka tajam o Hampir selalu menimbulkan kerusakan pada tulang, dapat memutuskan bagian tubuh yang terkena 28

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

tulang

o Sering ada memar atau echymosis disekitarnya Identifikasi Senjata pada luka tusuk: o Panjang luka: ukuran maksimal dari lebar senjata o Dalam luka: ukuran minimal dari panjang senjata o Sudut luka lancip dan yang lain tumpul maka penyebabnya adalah benda tajam bermata satu. o Kedua sudut lancip, luka akibat benda tajam bermata dua. DADA (Stabil): Untuk luka tusuk di perut tidak dapat diambil kesimpulan panjang senjatanya karena perut sangat elastis. Luka Tusuk pada BUNUH DIRI: o Lokalisasi pada daerah tubuh yang mudah dicapai tubuh korban (dada, perut) o Jumlah luka yang mematikan biasanya satu o Ditemukan Luka Tusuk Percobaan o Tidak ditemukan Luka Tangkisan o Bila pada daerah yang

bacokan o Kadang-kadang pada tepi luka terdapat memar, aberasi.

Luka Iris pada BUNUH DIRI: o Lokalisasi luka pada daerah tubuh yang dapat dicapai korban sendiri yaitu leher, pergelangan tangan, lekuk siku, lekuk lutut dan pelipatan paha o Ditemukan Luka Iris Percobaan o Tidak ditemukan Luka Tangkisan o Pakaian disingkirkan dahulu/tidak ikut

Cara kematian pada luka bacok: o Pembunuhan o Kecelakaan

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

29

robek Luka Iris pada PEMBUNUHAN : o Pembunuh seseorang dengan irisan adalah sukar, kecuali kalau fisik korban jauh lebih lemah dari pelaku atau korban dalam keadaan atau dibuat tidak berdaya. o Luka di sembarang tempat, juga pada daerah tubuh yang tidak mungkin dicapai tangan korban sendiri o Ditemukan luka tangkisan atau tanda perlawanan. o Pakaian ikut koyak akibat senjata tajam tersebut.

ada pakaian, maka pakaian disingkirkan lebih dahulu, sehingga tidak ikut terkoyak o Kadang-kadang tangan mengalami CADAVERIC SPASM Luka Tusuk pada PEMBUNUHAN: o Lokalisasi di sembarang tempat, juga di daerah tubuh yang tak mungkin dicapai tangan korban o Jumlah luka dapat satu/lebih o Didapatkan tanda perlawanan dari korban yang menyebabkan luka tangkisan o Pakaian ikut terkoyak

JADUAL 22

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

30

BAB V : CARA DAN SEBAB KEMATIAN


Penyebab kematian Dengan adanya perlukaan atau penyakit yang menimbulkan kekacauan fisik pada tubuh yang menghasilkan kematian pada seseorang. Berikut ini adalah penyebab kematian: luka tembak pada kepala, luka tusuk pada dada, adenokarsinoma pada paru-paru, dan aterosklerosis koronaria.2,3 Mekanisme kematian Merupakan kekacauan fisik yang dihasilkan oleh penyebab kematian yang menghasilkan kematian. Contoh dari mekanisme kematian dapat berupa perdarahan, septikemia, dan aritmia jantung. Ada yang dipikirkan adalah bahwa suatu keterangan tentang mekanime kematian dapat diperoleh dari beberapa penyebab kematian dan sebaliknya. Jadi, jika seseorang meninggal karena perdarahan masif, itu dapat dihasilkan dari luka tembak, luka tusuk, tumor ganas dari paru yang masuk ke pembuluh darah dan seterusnya. Kebalikannya adalah bahwa penyebab kematian, sebagai contoh, luka tembak pada abdomen, dapat menghasilkan banyak kemungkinan mekanisme kematian yang terjadi, contohnya perdarahan atau peritonitis. Cara kematian
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 31

Cara kematian secara umum dapat dikategorikan sebagai wajar, pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan, dan yang tidak dapat dijelaskan (pada mekanisme kematian yang dapat memiliki banyak penyebab dan penyebab yang memiliki banyak mekanisme, penyebab kematian dapat memiliki banyak cara). Seseorang dapat meninggal karena perdarahan masif (mekanisme kematian) dikarenakan luka tembak pada jantung (penyebab kematian), dengan cara kematian secara pembunuhan (seseorang menembaknya), bunuh diri (menembak dirinya sendiri), kecelakaan (senjata jatuh), atau tidak dapat dijelaskan (tidak dapat diketahui apa yang terjadi). Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang bersifat: 1. Mekanik

Kekerasan oleh benda tajam Kekerasan oleh benda tumpul Tembakan senjata api2 Suhu Listrik dan petir Perubahan tekanan udara Akustik Radiasi Asam atau basa kuat

2. Fisika

3. Kimia

Pada kematian akibat kekerasan, pemeriksaan terhadap luka harus dapat mengungkapkan berbagai hal tersebut di bawah ini 2. 1. Penyebab luka. Dengan memperhatikan morfologi luka, kekerasan penyebab luka dapat ditentukan. Pada kasus tertentu, gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk benda yang mengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk bulat panjang akan meninggalkannegative imprint oleh timbulnya marginal haemorrhage. Luka lecet jenis tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka. 2. Arah kekerasan. Pada luka lecet jenis geser dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal ini sangat
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 32

membantu pihak yang berwajib dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara. 3. Cara terjadinya luka. Yang dimaksudkan dengan cara terjadinya luka adalah apakah luka yang ditemukan terjadi sebagai akibat kecelakaan, pembunuhan atau bunuh diri. Luka-luka akibat kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Bagian tubuh yang biasanya terlindung jarang mendapat luka pada suatu kecelakaan. Daerah terlindung ini misalnya adalah daerah sisi depan leher, daerah lipat siku, dan sebagainya. Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh. Pada korban pembunuhan yang sempat mengadakan perlawanan, dapat ditemukan luka tangkis yang biasanya terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak tangan. Pada korban bunuh diri, luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan (tentative wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar. 4. Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati. Harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan oleh kekerasan yang menyebabkan luka. Untuk itu pertama-tama harus dapat dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar luka yang terjadi semasa korban masih hidup (luka intravital). Untuk ini, tanda intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka perlu mendapat perhatian. Tanda intravitalitas luka dapat bervariasi dari ditemukannya resapan darah, terdapatnya proses penyembuhan luka, sebukan sel radang, pemeriksaan histo-enzimatik, sampai pemeriksaan kadar histamin bebas dan serotonin jaringan2

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

33

BAB VI : INTERPRETASI TEMUAN


1. INTERPRETASI TEMUAN Interpretasi temuan meliputi aspek : a. Penjeratan (strangulation) Perjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali,ikat pinggang, rantai, stagen, kawat, kabel, kaos kaki dan sebagainya melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat sehingga saluran pernafasan tertutup. Berbeda dengan gantung diri yang biasanya ,merupakan suicide maka penjeratan adalah pembunuhan.2 Mekanisme kematian pada penjeratan adalah akibat asfiksia atau refleks vaso vagal.pada gantung diri,semua arteri vertebralis biasanya tetap paten,hal ini disebabkan oleh kerana kekuatan atau beban yang menekan pada penjeratan biasanya tidak besar. Jerat.Bila jerat masih ditemukan melingkari leher,maka jerat tersebut harus disimpan dengan baik sebab merupakan benda bukti dan dapat diserahkan kepada penyidik bersama dengan viseum et repetum
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 34

Terdapat 2 jenis jerat yaitu simpul hidup(melingkari jerat dapat diperbesar atau diperkecil) dan simpul mati (lingkar jerat tidak dapat diubah). Jejas jerat pada leher biasanya mendatar,melingkari leher dan terapat lebih rendah dair jejas jerat pada kasus gantung. Keadaan jejas jerat sangat bevariasi,Bila jerat lunak dan lebar seprti handuk atau selendang sutera,maka jejas mungkin tidak ditemukan dan pada otot leher sebelah dalam dapat atau tidak kaos kaki nylon akan meniggalkan jejeas dengan lebar tidak lebih dari 2-3 mm. Pola jejas dapat dilihat dengan menempelkan transparant scrotch tape pada daerah jejas di leher,kemudian ditempelkan pada kaca objek dan dilihat dengan mikroskop atau dengan sinar ultra violet. Bila jejas kasar seperti tali,maka bila tali bergesekkan pada saat korban melawan akan menyebabkan luka lecet di sekitar jejas jeratmyang nampak jelas berupa kulit yang mencekung berwarna coklat dengan perabaan kaku seperti kertas perkamen.Pada otot sebelah dalam tampak banyak resapan darah2,3. Cara kematian dapat berupa : 1. Bunuh diri Hal ini jarang menyilutkan diagnosis.Pengikatan dilakukan sendiri oleh korban dengan simpul hidup atau bahan hanya dililitkan seja,dengan jumlah lilitan lebih dari satu. 2. Pembunuhan Pengikatan biasanya dengan simpul nati dan sering trlihat bekas luka pada leher 3. Kecelakaan. Dapat terjadi pada orang yang sedang bekerja .

b. Gantung (hanging) Kasus gantung hampir sama dengan penjeratan.Perbedaan terdapat pda asal tenaga yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkaran jerat.
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 35

Pada penjeratan tenaga tersebut datang dari luar,sedangkan kasus gantung tenaga tersebut berasal dari berat badan korban sendiri,meskipun tidak perlu seluruh badan digunakan2. Mekanisme kematian: 1. Kerusakan pada batang otak dan medula spinalis.Hal ini terjadi akibat dislokasi atau fraktur vertebra ruas leher,mesialnya pada judicial hanging. 2. Asfiksia akibat terhambatnya aliran udara pernafasan 3. Iskemia otak akibat terhambatnya aliran arteri leher 4. Refleks vagal. Posisi korban pada kasus gantung diri: 1. Kedua kaki tidak menyentuh lantai 2. Duduk berlutut 3. Berbaring Diketahui terdapat beberapa jenis gantung diri: 1. Typical hanging,terjadi bila titik gantung terletak di atas darah oksiput dan tekanan pada erteri karotis paling besar 2. Atypical hanging,bila titik penggantungan terdapat di samping sehingga leher dalam posisi sangat miring yang akan menyebabkan hambatan pada arteri karotis dan arteri vertebralis.Saat arteri terhambat,korban segera tidak sedar. 3. Kasus dengan letak titik gantung di depan atau dagu. Bila jerat lebar dan lunak maka hambatan hanya terjadi pada saluran pernafasan dan pada aliran vena dari kepala ke leher sehingga akan tampak bendungan pada daerah sebelah atas ikatan.Darah tidak terkumpul di otak sedangkan pada kulit dan konjungtiva masih terdapat ptekie yang merupakan akibat terkumpulnya darah ekstra vaskular Jejas jerat relatif lebih tinggi pada leher dan tidak mendatar melainakn lebih meniggi di bagian simpul.Kulit mencengkung ke dlaam sesuai dengan bahan penjeratan,berwarna

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

36

coklat,perabaan kaku,dan akibat bergesekan dengan kulit leher maka pada tepi jejas daapt luka lecet. Kadang-kadng pada tepi jejas akan terdapat sedikit perdarahan,sedangkan pada jaringan bawah kulit dan otot sebelah dalam terdapat memar jaringan.Diperlukan pemeriksaan mikroskopik unuk melihat reaksi vital pada jaringan di bawah jejas untuk menentukan apakah jejas terjadi pada waktu orang masih hidup atau setelah meniggal2. Distribuasi lebam mayat pada kasus gantung mengarah ke bawah yaitu pada kaki,tangan dan genitalia eksterna bila korban tergantung cukup lama.Penis dapat nampak seolah mengalami ereksi akibat terkumpulnya darah,sedangkan semen keluar kerana relaksasi otot sfingter post mortal. Efek lanjutan penekasan saluran pernafasan.Bila korban masih hidup setelah penjertatan,sebagai akibat perbendungan,Maka perdarahan ptekie akan menetap selama beberapa hari.Sedngkan jejas jerat akan membengkak dan terbentuk kulit keras pada epidermis yang terkikis.Keadan ini akan menghilang 1-2 minggu. c. Luka

Benda yang dapat mengakibatkan luka seperti ini memiliki sisi tajam baik berupa garis maupun runcing yang bervariasi dari alat seperti pisau,golok dan sebaainua sehingga keping kaca,gelas,logam,sembilu bahkan tepi kertas atau rumput.2 Gambaran luka adalah tepi dan dinding luka yang rata,berbentuk garis,tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik Luka akibat benda tajam dapat berupa luka iris atau sayat,luka tusuk dan luka bacok.Pada luka tusuk,sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebabnya,apakah berupa pisau bermata satu atau bermata dua.Bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul,bererti benda penyebabnya adalah benda tajam bermata satu.Bila kedua sudut luka lancip,luka tersebut dapat diakibatkan oleh benda tajam bermata dua.Benda tajam bermata satu sapat menimbulkan luka tusuk dengan kedua luka lancip apabila hanya bagian ujung benda saja yang menyentuh kulit,sehingga sudut luka dibentuk oleh ujung dan sisi tajamnya2. Kulit di sekitar luka akibat kekerasan benda ajam biasanya tidak menunjukkan adanya luka lecet atau memar kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit.
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 37

Pada luka turuk,panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam penyebabnya,demikian pula panjang saluran luka biasanya tidak menunjukkan panjang benda tajam tersebut.Hal ini disebabkan oleh faktor elastisitas jaringan dan gerakan korban. Luka tangkis merupakan luka yang trjadi akibat perlawanan korban dan umumnya ditemukan pada telapak dan punggung tangan,jari tangan,punggung lengan bawah dan tungkai5. Pemeriksaan pada kain (baju)yang terkena pisau bertujuan melihat interaksi antara pidaukain tubuh,yaitu melihat letak kelainan,bentuk rokeban,adanya pastikel besi,serat kain dan pemeriksaan terhadap bercak darahnya. Luka percobaan khas ditemukan pada kasus bunuh diri yang menggunakan senjata tajam,sehubungan dengan kondisi kejiwaan korban.Luka percobaan dapar berupa luka sayt atau luka tusuk yang dilakukan berulang dan sejajar2.

BAB VIII: KESIMPULAN


Pada kasus kematian wajar, setelah melakukan pemeriksaan luar jenazah dokter umumnya tak perlu membuat kesimpulan pemeriksaan dalam bentuk tertulis. Dokter pemeriksa cukup membuat catatan mengenai kasus tersebut serta hasil pemeriksaannya secara garis besar dalam buku catatan kematian di Puskesmas.Kesimpulan penyebab kematian pada kasus ini diperkirakannya berdasarkan allo-anamnesis serta pemeriksaan luar jenazah, yang dicantumkan dalam formulir A. Pada kasus kematian tidak wajar, kesimpulan penyebab kematian yang mungkin dibuat oleh dokter pemeriksa adalah sebagai berikut:

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

38

Pada kasus dengan pemeriksaan luar saja: dokter harus menyatakan bahwa Penyebab kematian tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan bedah jenazah, sesuai dengan permintaan penyidik Pada kasus yang diotopsi tapi penyebab kematiannya tetap tidak dapat ditentukan: disini harus diakui bahwa penyebab kematian tidak dapat ditentukan dengan menyebutkan alasannya. Selain itu dokter boleh juga menyebutkan kemungkinan penyebab kematian berdasarkan analisis ilmiah menurut pengetahuan dan pengalamannya. Misal: Pada pemeriksaan terhadap kerangka ini ditemukan adanya patah tulang berupa lubang bulat pada dahi kanan dan belakang kepala kanan, yang berdasarkan gambaran patahannya merupakan luka tembak yang masuk dari dahi kanan, menembus rongga tengkorak dan keluar di belakang kepala kanan. Penyebab kematian tidak dapat ditentukan karena mayat hanya berupa kerangka saja. Akan tetapi, jika sekiranya pada kasus ini tidak ada kemungkiann penyebab kematian lainnya pada jaringan lunak dan bagian tubuh lainnya, maka dapat diperkirakan luka tembak pada kepala ini dapat menyebabkan kematian. Berbagai kesimpulan pada kasus-kasus kematian tidak wajar ini, hendaknya dituliskan secara detil pada bagian kesimpulan dari laporan obduksi dan disalin kembali untuk dijadikan bahan pembuatan Kesimpulan dari Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter.

Daftar pustaka

1. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Edisi kedua. Bagian Kedokteran Forensik FK Uni. Indonesia. Jakarta; 1994 2. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama.Bagian Kedokteran Forensik FK Uni. Indonesia. Jakarta:2001. 3. Tanda pasti kematian mayat..2002 (Online). [11 November 2011]. Available from URL: http://medicine.uii.ac.id/upload/23-SAP-blok-medikolegal-kedokteran-uii.pdf 4. Teknik autopsy forensic. Edisi keempat. Bagian Kedokteran Forensik FK Uni. Indonesia. Jakarta:2000.
|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297| 39

5. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta.2000:187-9.

|PBL 1|ILMUKEDOKTERANFORENSIK|10-2007-297|

40