Anda di halaman 1dari 7

Journal Reading

Cheiloscopy: Studi Sidik Bibir dalam Identifikasi Jenis Kelamin

Disusun oleh: Diah Ayu Saputri Diana Z Rahmah Freddy Ferdian Khusnia Fuadiyah Nurwandini Sesaria P G0007056 G0007057 G0007073 G0006105 G0007125

Rizka Dewi Paramitha G0007144 Sari Mustikaningrum Taufik Ali Zaen Tri Suci Ramadhani G0007154 G0007161 G0007166

PEMBIMBING : Adji Suwandono, dr, SH

KEPANITERAAN KLINIK LAB / SMF FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2011

Cheiloscopy: Studi Sidik Bibir dalam Identifikasi Jenis Kelamin Preeti Sharma, Susmita Saxena, Vanita Rathod Departemen Patologi dan Mikrobiologi Oral Fakultas Kesehatan Gigi Subharti, Marut, UP, India

Abstrak Identifikasi manusia adalah sebuah proses universal yang didasari berbagai prinsip ilmu pengetahuan, termasuk yang sangat berperan saat ini yaitu sidik jari. Teori keunikan adalah poin penting yang mendasari analisa sidik jari digunakan dalam persidangan. Begitu pula dengan sidik bibir yang berbeda pada setiap individu sehingga dipandang memiliki potensi untuk keperluan identifikasi. Dengan demikian, sidik bibir dapat menentukan kehadiran seseorang di tempat kejadian perkara. Kerutan dan alur-alur dari mukosa bibir atau disebut sulci labiorum membentuk suatu pola karakteristik yang disebut sidik bibir dan studi yang mempelajarinya disebut cheiloscopy. Studi ini melibatkan 20 orang wanita dan 20 orang pria. Bahan yang digunakan antara lain pemulas bibir, kertas, isolasi, kuas pemulas bibir, dan sebuah kaca pembesar. Studi ini menunjukkan sidik bibir setiap orang berbeda dan dapat digunakan dalam penentuan jenis kelamin seseorang.

Kata kunci: Cheiloscopy, sidik bibir, penentuan jenis kelamin

Pendahuluan Kewajiban profesional seorang ahli bedah gigi untuk kemanusiaan bukan hanya dalam pelayanan pemeriksaan, diagnosis, dan terapi masalah mulut dan orofacial, serta hubungan masalah mulut dengan penyakit sistemik, tetapi juga untuk pelayanan masyarakat lainnya dan dalam masalah hukum. Sidik jari, laporan postmortem, dan yang terbaru, sidik jari DNA, telah berhasil membantu identifikasi personal dalam ilmu forensik. Demikian halnya dengan sidik bibir, diharapkan dapat menjadi alat bantu identifikasi dan dapat menentukan kehadiran seseorang di tempat kejadian perkara. Kerutan dan alur-alur dari mukosa bibir, atau disebut sulci labiorum, membentuk suatu pola karakteristik yang disebut sidik bibir dan studi yang mempelajarinya disebut cheiloscopy. Pola ini berbeda pada setiap individu seperti halnya sidik jari. Antropolog pertama yang menjelaskan alur-alur pada bagian merah bibir manusia adalah Fischer. Penggunaan sidik bibir direkomendasikan pertama kali pada tahun 1932 oleh Edmond Locard (1877-1966), salah satu kriminolog terbaik Perancis. LeMoyne Snyder dalam bukunya Homicide Investigation yang ditulis tahun 1950, menyebutkan kemungkinan penggunaan sidik jari dalam identifikasi individu. Pada 12 Mei 1999, sebuah persidangan banding Illinois, di mana rakyat melawan Davis, No. 2-97-0725, menerima kesaksian kontroversial dari dua orang polisi negara yang ahli (seorang pemeriksa sidik jari dan seorang pemeriksa dokumen) bahwa: 1. Identifikasi sidik bibir secara umum dapat diterima dalam komunitas ilmu forensik sebagai alat identifikasi yang positif sesuai dengan literatur. 2. Meskipun jarang digunakan, metode identifikasi sidik bibir sangat mirip dengan perbandingan sidik jari dan merupakan bentuk perbandingan ilmiah yang dikenal dan dapat diterima. 3. Tidak ada perbedaan pendapat dalam komunitas ilmu forensik sehubungan dengan penggunaan metode tersebut maupun fakta bahwa sidik bibir membantu proses identifikasi. 4. FBI dan kepolisian Illinois berpendapat bahwa sidik bibir setiap individu berbeda seperti halnya sidik jari dan merupakan alat bantu positif untuk identifikasi.

Tujuan Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memastikan apakah sidik bibir memiliki potensi untuk penentuan jenis kelamin seseorang dari susunannya.

Bahan dan Metode Sampel penelitian menggunakan 40 mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Gigi Subharati, Meerut, terdiri dari 20 pria dan 20 wanita, berusia diantara 20 sampai 30 tahun (Gambar 1). Perlakuan diberikan kepada individu yang tidak memiliki lesi di bibir. Individu yang memiliki hipersensitivitas terhadap lipstick tidak diikutsertakan dalam penelitian ini. Lipstick berwarna gelap digunakan dalam sekali pulasan, dengan batas pinggir yang terang secara merata. Subjek diminta untuk mengusap kedua bibir agar lipstick yang telah dipulas menjadi rata. Setelah kurang lebih dua menit, bibir ditempelkan ke bagian yang lengket di secarik selotip yang nantinya akan direkatkan pada kertas putih. Ini menjadi rekam yang permanen. Jejak bibir akan diteliti melalui kaca pembesar. Jumlah garis, kerutan, panjang, percabangan, dan kombinasi dari jejak kedua bagian bibir dicatat. Cetakan bibir yang telah ada diberi kode, disimpan dan diberi nama serta jenis kelamin dari masing-masing individu. Saat cetakan bibir dianalisis, jenis kelamin tidak diberitahukan (Gambar 2-5). Dalam penelitian ini, kami menggunakan klasifikasi pola dari beberapa garis bibir yang dinyatakan oleh Tsuchihashi 1. Tipe I: Alur vertical yang jelas, berjalan di semua bagian bibir 2. Tipe II: Mirip dengan tipe I, tetapi tidak pada semua bagian bibir

Gambar 1: Bahan yang digunakan Gambar 2: Pemakaian lipstick Gambar 3: Meratakan lipstick Gambar 4: Penempelan bibir pada bagian lengket selotip Gambar 5: Menempelkan selotip pada kertas putih

Pada penetilitian ini, kami memakai klasifikasi berdasarkan garis bibir yang diperkenalkan oleh Tsuchihashi(5) 1. Tipe I : alur vertical yang terlihat jelas berjalan di sepanjang bibir 2. Tipe I : mirip dengan tipe I, tapi tidak sepenuhnya terdapat di sepanjang bibir 3. Tipe II : alur yang bercabang (bercabang seperti membentuk huruf Y) 4. Tipe III : pola silang, alur reticular

5. Tipe IV : tidak terklasifikasi Bagian tengah dari bibir bawah (selebar 10 mm) juga termasuk dalam area yang diteliti, seperti yang dipakai oleh Sivapathasundaram et al.(2) Karena bagian ini hampir selalu terlihat pada jejak apapun, dan penentuan polanya tergantung pada jumlah keunggulan sifat dari garis-garis pada area penelitian tersebut. Jenis kelamin masing-masing individu ditentukan oleh: 1. Tipe I, I dominan pada : perempuan 2. Tipe I dan II dominan pada : perempuan 3. Tipe III pada laki-laki 4. Tipe IV menunjukkan pola yang bervariasi pada laki-laki Data yang diperoleh diverifikasi dari kode data yang dikumpulkan pada awal penelitian.

Hasil Penelitian pola sidik bibir dari 20 laki-laki dan 20 perempuan menunjukkan hasil observasi sebagai berikut : 1. Tidak ada dua pola sidik bibir yang sama persis antara satu orang dengan orang yang lainnya, hal ini menunjukkan keunikan dari sidik bibir (gambar 6) 2. Tipe I, I banyak dijumpai pada wanita, sedangkan tipe IV sering dijumpai pada lakilaki 3. Berdasarkan penelitian terkini, 18 perempuan berhasil diidentifikasi sebagai perempuan, dan 17 laki-laki berhasil diidentifikasi sebagai laki-laki berdasarkan sidik bibir mereka (gambar 7).

Diskusi Sidik bibir sangat penting pada investigasi forensic dan identifikasi personal. Sidik bibir diusulkan sebagai salah satu alat bukti yang penting, analog dengan sidik jari. Sidik bibir biasanya terlewat dalam skenario tindak criminal, dan mampu mengarahkan secara langsung kepada suspek atau terduga. Belakangan ini, terdapat lipstick yang tidak menimbulkan bekas apapun ketika berkontak dengan permukaan gelas, baju, alatalat pemotong, atau puntung rokok. Karakteristik khusus lipstick jenis ini terletak pada sifatnya yang permanen, sehingga disebut sebagai sidik bibir persisten. Walaupun tidak nampak, cetakan bibir ini dapat dimunculkan menggunakan material seperti bubuk alumunium dan bubuk magnetik.(6,7)

Lipstick sangat dibutuhkan untuk membentuk sidik bibir. Tepi bibir memiliki glandula sebasea, dengan glandula sudorifera diantaranya. Sekresi minyak dan pelembab dari keduanya membentuk sidik bibir laten, yang analog dengan sidik jari.(8) walaupun garis dan kerutan (galur) tampak pada bibir atas maupun bibir bawah, mulai dari sudut mulut ke sudut mulut, tetapi hanya bagian tengah bibir yang dimasukkan dalam hitungan, karena bagian inilah yang kebanyakan tetap terlihat dengan jelas di kebanyakan kasus.(2) Pada masa lalu, para ilmuwan tertarik memulai penelitian dengan dasar pemikiran bahwa perbedaan gender dapat dilihat dari sidik bibir. Di masa lalu, beberapa peneliti telah bekerja pada cetakan bibir dengan ide untuk membuktikan bahwa perbedaan gender tidak ada. Menurut sebuah studi oleh Sonal-Nayak, tipe I dan tipe II adalah pola yang ditemukan dominan pada laki-laki. Dalam studi lain yang dilakukan oleh Vahanwala-Parekh, menunjukkan bahwa keempat kuadran memiliki jenis yang sama terutama terlihat pada subyek perempuan dan subjek laki-laki menunjukkan adanya pola yang berbeda dalam satu individu. Dalam studi ini, kita berlabel pola tertentu berdasarkan keunggulan numerik dari jenis garis ini, yaitu, vertikal, berpotongan, bercabang, atau retikuler. Jika lebih dari satu pola mendominasi, maka sebagai tipe yang tak dapat ditentukan. Dalam penelitian ini, tipe I dan tipe II adalah pola yang ditemukan dominan pada perempuan sedangkan tipe 4 adalah pola dominan pada laki-laki. Kami juga mengamati bahwa tidak ada cetakan bibir yang cocok satu sama lain.

Kesimpulan Jika jenis kelamin individu diketahui, mudah untuk membuat daftar singkat susunan tersangka dengan motif kejahatan. Penelitian ini mampu menyampaikan bahwa cetakan bibir terlihat berpotensi dalam penentuan jenis kelamin. Meskipun hasil yang diperoleh oleh studi ini tidak dapat membuktikan untuk menjadi metode sempurna, namun demikian tampaknya penelitian ini menjanjikan untuk satu langkah lebih dekat dengan kebenaran. Cetakan bibir ini memiliki potensi yang menjanjikan sebagai alat tambahan bersama dengan mode lainnya untuk mengenali jenis kelamin individu.

Referensi 1. Utsuno H, Kanoh T, Tadokoro O, Inoue K. Preliminary study of post mortem identification using lip prints. Forensic Sci Int 2005; 149 : 129-32. 2. Sivapathasundharam B, Prakash PA, Sivakumar G. Lipprints (cheiloscopy). Indian J Dent Res 2001; 12: 234-7. 3. 4. Synder LM. Textbook of homicide investigation. Identification of dead bodies. 1950. Lip Print Identification Anyone? (on people v. Davis III.). Tersedia dari : http://forensic-evidence.com/site/ID/ID00004_10.html. (diakses tanggal 10 November 2008). 5. Tsuchihashi Y. Studies on personal identification by means of lip print. Forensic Sci Int 1974; 3:233-48. 6. Castell A, Segu AM, Verd F. Luminous lip-prints as criminal evidence. Forensic Sci Int 2005; 155:185-7. 7. Segui MA, Feucht MM, Ponce AC, Pascual FAV. Persistent lipsticks and their prints: New hidden evidence at the crime scene. Forensic Sci Int 2000, 112:41-7. 8. Ball J. The current status of lip prints and their use for identification. J Forensic Odontostomatol 2002; 20:43-6. 9. Vahanwala S, Nayak CD, Pagare SS. Study of lip-prints as aid for sex determination. Medico-Legal Update 2005; 5:93-8. 10. Vahanwala SP, Parekh DK. Study of lip prints as an aid to forensic methodology. J Indian Dent Assoc 2000; 71:269-71.

Anda mungkin juga menyukai