Anda di halaman 1dari 9

Hakikat Belajar dan Pembelajaran

Ditulis pada 3 June 2010 BAB I HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN Kegiatan belajar dapat dihayati (dialami) oleh orang yang sedang belajar. Di samping itu, kegiatan belajar juga dapat diamati oleh orang lain. Kegiatan belajar yang berupa perilaku kompleks tersebut telah lama menjadi objek penelitian ilmuwan. Kompleksnya perilaku belajar tersebut menimbulkan berbagai teori belajar. Seorang pebelajar (siswa) harus menghayati apa yang dipelajarinya karena erat hubungannya dengan usaha pembelajaran, yang dilakukan oleh pembelajar (guru). Pada satu sisi, belajar dialami oleh pebelajar terkait dengan petumbuhan jasmani yang siap berkembang. Pada sisi lain, kegiatan belajar yang berupa perkembangan mental tersebut juga didorong oleh tindakan pendidikan atau pembelajaran. Dengan kata lain, belajar ada kaitannya dengan usaha atau rekayasa pembelajaran. Dari segi siswa, belajar yang dialaminya sesuai dengan pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental, akan menghasilkan hasil belajar sebagai dampak pengiring, selanjutnya, dampak pengiring tersebut akan menghasilkan program belajar sendiri sebagai perwujudan emansipasi siswa menuju kemandirian. Dari segi guru, kegiatan belajar siswa merupakan akibat dari tindak mendidik atau kegiatan mengajar. Proses belajar siswa tersebut sebagai dampak pengajaran. Skiner memandang perilaku belajar dari segi perilaku teramati. Oleh karena itu, ia mengemukakan pentingnya program pembelajaran. Gagne memandang kondisi internal belajar dan kondisi eksternal belajar yang bersifat interaktif. Oleh karena itu guru seyogianya mengatur acara pembelajaran yang sesuai dengan fase-fase belajar dan hasil belajar yang dikehendaki. Piaget berpendapat bahwa belajar sebagai perilaku berinteraksi antara individu dengan lingkungan sehingga terjadi di antaranya adalah fase operasi formal, di mana siswa telah dapat berpikir abstrak sebagai orang dewasa. Oleh karena itu ia menyarankan empat langkah acara pembelajaran, yang didalamnya terdapat kegiatan prediksi, eksperimen, dan eksplantasi. Demikian pula Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dalam pembelajaran. Prinsip itu adalah bahwa pembelajar memiliki kekuatan menjadi manusia, belajar hal bermakna, menjadikan begian yang bermakna bagi diri, bersikap terbuka, berpartisipasi secara bertanggung jawab, belajar mengalami secara berkesinambungan dan dengan penuh kesungguhan. Ia menyarankan agar dalam acara pembelajaran, siswa memperoleh kepercayaan diri untuk mengalami dan menemukan secara bertanggung jawab. Hal itu terjadi bila guru bertindak sebagai fasilitator. Bagi individu belajar yang terjadi pada individu merupakan perilaku kompleks, tindak interaksi antara pebelajar dan pembelajar yang bertujuan. Oleh karena berupa akibat interaksi, maka belajar dapat didinamiskan. Pendinamisasian belajar terjadi oleh pelaku belajar lingkungan

pebelajar. Dinamika pebelajar yang bersifat internal, terkait dengan peningkatan hierarki ranahranah konitif, afektif, maupun psikomotorik, kesemuanyan itu terkait dengan tujuan pembelajaran. Sedangkan dinamisasi dari luar dapat berasal dari guru atau pembelajar di lingkungannya. Usaha guru mendinamisasikan belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan siswa menghadapi bahan belajar, penciptaan suasana belajar yang menyenangkan, mengoptimalkan media sumber dan sumber belajar, dan memaksimalkan peran sebagai pembelajar, sehingga akan menghasilkan kualitas pembelajaran yang tinggi. BAB II PRINSIP-PRINSIP BELAJAR AN ASAS PEMBELAJARAN Banyak para ahli yang meneliti tentang gejala-gejala belajar yang kemudian mereka menemukan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar. Di antara prinsip-pinsip belajar yang penting berkenaan dengan (1) Perhatian dan motivasi belajar siswa. (2) keaktifan belajar, (3) keterlibatan dalam belajar, (4) pengulangan belajar, (5) tantangan semangat, (6) adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar. Perhatian dapat memperkuat kegiatan belajar, menggiatkan perilaku untuk mencapai sasaran belajar. Perhatian berhubungan dengan motivasi sebagai tenaga penggerak belajar. Motivasi belajar dapat bersifat eksternal dan internal, maupun intrinsik atau ekstrinsik. Kondisi perhatian dan motivasi pebelajar (internal, eksternal, intrinsik, ekstrinsik) tersebut mempengaruhi rekayasa acara pembelajaran siswa. Dewasa ini para ahli memandang bahwa siswa adalah seorang individu yang aktif. Oleh karena itu, peran guru bukan sebagai satu-satunya pembelajar, tetapi sekedar pembimbing, fasilitator dan pengarah. Pembelajaran tidak mengabaikan karateristik pebelajar dan prinsip-prinsip belajar. Oleh karena itu, dalam program pembelajaran guru perlu berpegang bahwa adalah primus motor dalam belajar. Dengan demikan guru dituntut memusatkan perhatian, mengelolah, menganalisis, dan mengoptimalkan hal-hal yang berkaitan dengan (1) perhatian dan motivasi belajar siswa, (2) keaktifan siswa, (3) optimalisasi kerterlibatan siswa, (4) melakukan pengulangan-pengulangan belajar, (5) pemberian tantangan agar siswa bertanggung jawab, (6) memberikan balikan dan penguat terhadap siswa, dan (7) mengelola proses sesuai dengan perbedaan individual siswa. BAB III MOTIVASI BELAJAR Pada diri si pebelajar terdapat kekuatan mental penggerak belajar. Perilaku belajar dilakukan oleh si pebelajar. Kekuatan mental yang berkeinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita itu disebut motivasi belajar. Komponen utama motivasi tersebut adalah kebutuhan, dorongan, dan tujuan si pebelajar. Motivasi belajar sangat penting dipahami oleh siswa maupun guru. Beberapa ahli menitikberatkan segi-segi tertentu dari motivasi. Maslow membedakan lima tingkat kebutuhan yang meliputi kebuthan-kebutuhan fisiologis, perasaan aman, kebutuhan sosial, penghargaan diri, dan aktualisasi diri. Mc Cleland mengemukakan tiga jenis kebutuhan dasar, seperti kebutuhan akan kekuasaan, berafiliasi, dan berprestasi.

Sedangkan Hull menunjukkan pentingnya kebutuhan organisme dalam perkembangan motivasi. Havighust menunjukkan bahwa kekuatan mental seharusnya sejalan dengan tugas-tugas perkembangan manusia pada tahap bayi. Bahkan menurut Monks kekuatan motivasi tersebut dapat terpelihara, diperkuat, dan dikembangkan dengan program pendidikan yang intensif. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motivasi primer dan motivasi sekunder. Adapun sifat motivasi dibedakan menjadi motivasi internal dan eksternal. Disamping itu ada ahli yang membedakan adanya motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Maslow dan Rogers misalnya, mengakui pentingnya motivasi intrinsik dan ekstrinsik bagi acara pembelajaran. Adanya pandangan beberapa ahli menekankan segi-segi tertentu pada motivasi tersebut justru mengisyaratkan guru bertindak taktis dan kreatif dalam mengelola motivasi belajar siswa. Motivasi belajar dihayati, dialami, dan merupakan kekuatan mental dalam belajar. Dari siswa, motivasi tersebut perlu dihidupkan terus untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan dijadikan dampak pengiring, yang selanjutnya menimbulkan program belajar sepanjang hayat, sebagai perwujudan emansipasi kemandirian tersebut terwujud dalam cita-cita atau aspirasi siswa. Kemampuan siswa, kondisi siswa, kemampuan siswa mengatasi kondisi lingkungan negatif, dan dinamika siswa dalam belajar. Dari sisi guru, motivasi belajar berada pada lingkup program dan tindak pembelajaran. Oleh karena itu guru berpeluang untuk meningkatkan, mengembangkan, dan memelihara motivasi belajar dengan optimalisasi (i) terapan prinsip belajar (ii) dinamisasi perilaku pribadi siswa seutuhnya, (iii) pemanfaatan pengalaman dan kemampuan siswa, (iv) aspirasi dan cita-cita, serta (v) tindakan pembelajaran sesuai rekayasa pedagogis. Dengan demikian, motivasi belajar pada siswa, yang harus diidentifikasi oleh guru, seyogianya dikelola dalam pembelajaran sehingga menghasilkan pembelajaran yang maksimal. BAB IV PENDEKATAN CBSA DAN PENDEKATAN KETERAMPILAN Pelaku utama belajar adalah siswa atau pebelajar. Dalam kegiatan pembelajaran, mengingat sifat interaksi dapat diketahui adanya dua pelaku, yaitu guru dan siswa, atau pembelajar dan pebelajar. Adanya dua pelaku tersebut menimbulkan salah mengerti bahwa pelaku utama adalah guru semata. Hal ini ditinggalkan dan diperbaiki dengan pendekatan CBSA. Dengan pendekatan CBSA berarti aturan pembelajaran mengoptimalisasikan pelibatan intelektual emosional-fisik siswa dalam pemerolehan pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan. Aturan pembelajaran CBSA tersebut bermaksud membina Masyarakat belajar yang berwawasan pendidikan masa seumur hidup. Dalam pembelajaran ditemukan adanya dua pelaku, guru berinteraksi dengan siswa, yang keduanya mencapai tujuan pembelajaran atau sasaran belajar dengan serupa. Kadar CBSA dalam interaksi tersebut berbeda-beda. Raka Jhoni mengemukakan bahwa pembelajaran yang ber CBSA baik berciri (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (2) guru bertindak sebagai pembimbing pengalaman belajar, (3) orientasi tujuan pada perkembangan kemampuan siswa secara utuh dan seimbang, (4) pengelolaan pembelajaran menekankan pada kreativitas siswa dan, (5) pelaksanaan penilaian tertuju pada kegiatan dan kemajuan siswa. Optimalisasi kadar CBSA tersebut dapat diprogram dalam desain instruksional (persiapan mengajar) guru.

Pembelajaran CBSA merupakan wujud kegiatan atau unjuk kerja guru. Hampir dapat dikatakan bahwa guru profesional diduga berkemampuan mengelola pembelajaran berkadar CBSA tinggi. Faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran berupa, (1) karakteristik tujuan, (2) karakteristik mata pelajaran/bidang studi, (3) karakteristik lingkungan/ setting pembelajaran, (4) karakteristik siswa, (5) karakteristik guru dan, (6) karakteristik bahan/alat pembelajaran. Dari keenam faktor tersebut dapat diketahui bahwa penentu utama pembelajaran ber CBSA adalah guru yang memahami kelima karakteristik faktor yang lain. Pembelajaran ber-CBSA tersebut dapat, dilakukan guru dengan pendekatan keterampilan proses (PKP) yaitu anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan dasar yang telah ada dalam diri siswa. Dengan PKP siswa akan (1) memperoleh pengertian yang tepat tentang hakikat pengetahuan, (2) memperoleh kesempatan bekerja dengan ilmu pengetahuan dan merasa senang, dan (3) memperoleh kesempatan belajar proses memperoleh dan memproduk ilmu pengetahuan. Dengan adanya kebaikan atau kelebihan pada PKP tersebut maka seyogianya calon guru belajar PKP secara keilmuan untuk dijadikan modal dasar menjadi guru yang profesional. BAB V PENDEKATAN PEMBELAJARAN Dimana saja dan kapan saja belajar dapat dilakukan. Ia tidak mengenal tempat khusus dan waktu yang khusus pula. Cepatnya informasi lewat radio, televisi, film, wisatawan, surat kabar, majalah, dapat mempermudah belajar. Meskipun informasi dengan mudah dapat diperoleh, tidak dengan sendirinya seseorang terdorong untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dari padanya. Guru profesional memerlukan pengetahuan dan keterampilan pendekatan pembelajaran agar mampu mengelola berbagai pesan sehingga siswa berkebiasaan belajar sepanjang hayat (Pembelajaran seumur hidup). Pendekatan dalam pembelajaran dapat berarti anutan pembelajaran yang berusaha meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dalam pengelolaan pesan sehingga tercapai sasaran belajar. Dalam belajar tentang pendekatan pembelajaran tersebut, orang dapat melihat (1) pengorganisasian siswa, (2) pembelajaran secara kelompok, (3) pembelajaran secara klasikal. Pada ketiga pengorganisasian siswa tersebut tujuan pengajaran, peran guru dan siswa, program pembelajaran, dan disiplin belajar berbeda-beda. Pada ketiga pengorganisasian siswa tersebut seyogianya digunakan untuk membelajarkan siswa yang menghadapi kecepatan informasi masa kini. Berkaitan dengan posisi guru, siswa dalam pengolahan pesan guru dapat menggunakan strategi ekspositori, strategi discovery dan strategi inkuiri. Strategi ekspositori masih berpusat pada guru; oleh karena itu seyogyanya dikurangi. Strategi discovery dan inkuiri terpusat pada siswa. Dalam kedua strategi ini siswa dirancang aktif belajar, sehingga ia dapat menemukan, bekerja secara ilmu pengetahuan, dan merasa senang. Pada tempatnya guru menggunakan strategi discovery dan inkuiri yang sesuai dengan pendekatan CBSA (Cara belajar siswa aktif).

Dalam pembelajaran pada pebelajar terjadi peningkatan kemampuan. Semula, ia memiliki kemampuan pra belajar, dalam proses belajar pada kegiatan belajar hal tertentu, ia meningkatkan tingkat atau memperbaiki tingkat ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Keputusan tentang perbaikan tingkat ranah tersebut didasarkan atas evaluasi guru dan unjuk kerja siswa dalam pemecahan masalah. Dari sisi guru, proses pemerolehan pengalaman siswa atau proses pengolahan pesan tersebut dapat dilakukan dengan cara deduktif dan induktif. Pengolahan pesan secara deduktif dimulai dari generalisasi atau suatu teori yang benar, pencarian data, dan uji kebenaran generalisasi atau teori tersebut. Pada pengolahan pesan secara induktif kegiatan bermula dari adanya fakta atau peristiwa khusus, penyusunan konsep berdasarkan fakta-fakta, kemudaia disusun generalisasi atas dasar konsep-konsep. Dalam usaha pembelajaran guru dapat menggunakan pengolahan pesan secara deduktif atau induktif tergantung pada karakteristik bidang studinya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pengolahan pesan secara deduktif dimulai dengan (1) guru mengemukakan generalisasi, (2) penjelasan berkenaan dengan konsep-konsep, dan (3) pencarian data yang dilakukan oleh siswa.
http://www.masbied.com/2010/06/03/hakikat-belajar-dan-pembelajaran/, tgl 1-1-2012, jam 10.21

Strategi Pembelajaran berdasarkan Pengolahan Pesan atau Materi Senin, 06 Desember 2010 Strategi pembelajaran berdasarkan cara pengolahan atau memproses pesan atau materi dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu strategi pembelajaran deduktif dan strategi pembelajaran induktif. 1. Strategi Pembelajaran Deduktif Dalam strategi pembelajaran deduktif pesan diolah mulai dari hal yang umum kepada hal yang khusus, dari hal abstrak kepada hal yang nyata, dari konsep-konsep yang astrak kepada contohcontoh yang konkrit, dari sebuah premis menuju ke kesimpulan yang logis. Langkah-langkah dalam strategi deduktif meliputi tiga tahap. Pertama, pengajar memilih pengetahuan untuk diajarkan. Kedua, pengajar memberi pengetahuan kepada peserta didik. Ketiga, pengajar memberikan contoh-contoh dan membuktikannya kepada peserta didik. Misalnya, bila diambil contoh untuk pengajaran tentang kalimat tunggal, maka pengajar memulai dengan definisi kalimat tunggal, contoh-contoh kalimat tunggal, dan dilanjutkan dengan penjelasan ciri-ciri kalimat tunggal. Teknik penyajian pelajaran yang paralel dengan straegi pembelajaran deduktif adalah teknik ceramah. 2. Strategi Pembelajaran Induktif Strategi pembelajaran induktif adalah pengolahan pesan yang dimulai dari hal-hal yang khusus, dari peristiw-peristiwa yang bersifat individual menuju generalisasi, dari pengalamanpengalaman empiris yang individual menuju kepada konsep yang bersifat umum. Menurut Kenneth B. Anderson ada beberapa langkah untuk menentukan strategi pembelajaran induksi.

Pertama, pengajar memilih bagian dari pengetahuan, aturan umum, prinsip, konsep, yang diajarkan. Kedua, pengajar menyajikan contoh-contoh spesifik untuk dijadikan bagian penyusunan hipotesis. Ketiga, bukti-bukti disajikan dengan maksud membenarkan atau menyangkal berbagai hipotesis tersebut. Keempat, menyimpulkan bukti dan contoh-contoh tersebut. Bila strategi pembelajaran induksi diterapkan untuk pengajaran kalimat tunggal seperti pada strategi pembelajaran deduktif di atas, maka pengajar terlebih dahulu memberikan contoh-contoh kalimat tunggal, kemudian dijelaskan ciri-ciri kalimat tunggal sehingga peserta didik dapat mendefinisikan sendiri tentang kalimat tunggal. Teknik penyajian yang paralel dengan teknik ini adalah teknik penemuan (discovery), teknik satuan pengajaran (unit teaching), teknik penyajian secara khasus, dan teknik nondirektif.
http://education-mantap.blogspot.com/2010/12/strategi-pembelajaran-berdasarkan.html, jam 10.21

Proses Pengolahan Pesan Pemerolehan pengalaman, peningkatan jenis ranah tiap siswa tidak sama. Hal itu disebabkan oleh proses pengolahan pesan. Ada dua jenis proses pengolahan pesan, yaitu secara deduktif dan induktif.

1. Pengolahan Pesan Secara Deduktif Pengolahan pesan secara deduktif dimulai dengan: (i) guru mengemukakan generalisasi, (ii) penjelasan berkenaan dengan kosep-konsep, dan (iii) pencarian data yang dilakukan oleh siswa. Pengumpulan data tersebut berguna untuk menguji kebenaran generaliasasi. Dalam kegiatan ini siswa juga mengaplikasikan konsep terhadap data tertentu.

2. Pengolahan Pesan Secara Induktif Pengolahan pesan secara induktif bermula dari: (i) fakta atau peristiwa khusus, (ii) penyusunan konsep berdasarkan fakta-fakta, (iii) penyusunan generalisasi berdasarkan konsepkonsep. Bila sudah ada teori yang benar pada umumnya dirumuskan hipotesis, (iv) terapan generalisasi pada data baru, atau uji hipootesis, kemudian (v) penarikan kesimpulan lanjut.
http://maslukmanwordspress.blogspot.com/2011/06/pendekatan-pembelajaran-pendekatan.html, jam 10.29

B. Pendekatan ditinjau dari segi pengolahan pesan Proses pengolahan pesan Ada 2 yaitu: 1. Pengolahan pesan secara deduktif Guru kelas satu smp di kota A menggajar pokok bahasan Faktor-Faktor Produksi dan Cara Memperbesar Produksi. Ia menjelasan bahwa factor produksi terdiri dai\ri factor produksi alam, tenaga, modal, dan organisasi. Ia menerangkan pengertian-pengertian yang berkenaan factorfaktor produksi tersebut. Sebagai ilustras, ia mengemukakan bahwa factor-faktor alam adalah prodaksi asli yang merupakan sumber pokok yang memenuhi kebutuhan, factor produksi alam tersebut terdiria dari tanah , kekayaan alam, dan tenaga alam. Kemudian ia memberi contoh tentang hal-hal yang tercakup dalam pengertian tertentu; sebagai ilustrasi, yang tergolong dalam kekayaan alam adalah hewan, tumbu-tumbuhan, barang tambang. Atas dasar pegertian tersebut guru mengajak siswa untuk mempelajari factor-faktor produksi di kabupaten A. Penyampaian pesan oleh guru dari suatu pernyataan generalisasi kemudian siswa membuktikan kebenaran generalisasi tersebut. Adapun langkah-langkah pengolahan pesan secara deduktif yaitu: a. Pendahuluan pembelajaran. b. Penyajian generalisasi konsep. c. Pengumpulan data yang mendukung generalisasi. d. Analisis dan data dan verifikasi generalisasi. e. Aplikasi generalisasi pada data yang terkumpul. f. Evaluasi tentang proses pengolahan pesan. contoh prilaku pemerolehan pegetahuan siswa tersebut tergolong pengolahan pesan secara deduktif. Secara umum priilaku pengolah pesan secara deduktif dapat dilukiskan dengan

langkah-langkah sebagai berikut: tahap satu : Pendahuluan pembelajaran tahap dua : Penyajian generalisasi dan konsep. Da;am hal ini guru mengemukakan rumusan generalisasi yang telah disiapkan, dan guru juaga menjelaskan konsep dengan contoh-contoh . siswa berperanan memahami generalisasi dan konsep tersebut. Tahap tiga : Pengumpulan data yang mendukung generalisasi. Guru meminta siswa mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dan menguji kesahan data. Tahap empat : Analisis data dan verifikasi generalisasi. Guru meminta siswa menganalisis data yang terkumpul, dan menguji kembali generalisasi. Bila perlu siswa dapat mengumpulkan data lagi agar verifikasi generalisasi lebih meyakinkan. Tahap lima : Aplikasi generalisasi pada data yang terkumpul. Tahap enam : Evaluasi tentang proses pengolahan pesan pemerolehan pengetahuan atau pengalaman tersebut. Pelaku evaluasi sebaiknya guru dan siswa secara bersama-sama. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pengolahan pesan secara dedukti dimulai dengan : 1. guru mengemukakan generalisasi 2. penjelasan berkenaan dengan konsep-konsep 3. pencarian data yang dilakuakan oleh siswa-siswa 2. Pengolahan pesan secara induktif Guru memberikan bimbingan dan memberikan contoh-contoh kemudian siswa berusaha menarik kesimpulan. Informasi tentang penerimaan dan penngeluaran orang tua siswa di kumpulkan oleh kelompok. Guru membimbing analisis tentang anggaran penerimaan dan pengeluaran rumah tangga kelompok orang tua dengan mengajukan pertanyaan bimbingan. Contoh perilaku pemerolehan pengetahuan tersebut tergolong pengolaha pesan secara induktif. Secara umum prilaku pengolahan pesan secara induktif dapat di lukiskan sebagai berikut : Tahap satu : pendahuluan pembelajaran Tahap dua : engumpulan data. Guru siswa mengumpulkan data sehubungan dengan topik yang dipelajari. Sebaiknya guru telah menyiapkan lembaran kerja. Dalam pembuatan lembaran kerja sebaiknya siswa juga diajak serta. Pekerjaan pengumpulan data dapat dilakukan beberapa tahap sesuai dengan masalah dengan dipelajari Tahap tiga : analisa data. Guru meminta siswa untuk mempelajari data, mengolong- golongkan, membandingkan, menguji kebenaran data, dan menyimpulkan sementara. Tahap empat : perumusan dan pengujian hipotesis. Hipotesis disusun berdasarkan teori yang ada atau prinsip yang benar. Data yang ditemukan dapat digunakan untuk uji hipotesis. Hipotesis dapat diterima atau di tolak. Bila ternyata benar, hipotesis diterima. Sebalikya, bila ternyata salah, hipotesis di tolak. Tahap lima : mengaplikasikan generalisasi. Pada tahap ini guru meminta siswa untuk menerapkan generalisasi pada data lain. Tahap enam : evaluasi hasil dan proses belajar. Guru memberi nilai pada proses pemerolehan, pengolahan, analisis, penarikan generalisasi, rumus generalisasi, dan uji hipotesis. Pengolahan pesan secara induktif bermula dari : a. Fakta atau peristiwa khusus b. Penyusunan konsep berdasarkan fakta-fakta c. Penyusunan generalisasi berdasarkan konsep-konsep. Bila sudah ada teori yang benar, pada umumnya di rimuskan hipotesis

d. Terapan generalisasi pada data baru, atau uji hipotesis, kemudian penarikkan kesimpulan lanjut. Adapun langkah-langkah pengolahan pesan secara induktif yaitu.: a. Pendahuluan pembelajaran b. Pengumpulan data. c. Analisis data. d. Perumusan dan pengujian hipotesis. e. Mengaplikasikan generalisasi. f. Evaluasi hasil belajar
http://ariesupriadi.wordpress.com/2011/11/03/pendekatan-pembeajaran/, jam 10.30