Anda di halaman 1dari 6

BIOTEKNOLOGI, SEX REVERSAL (diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran biologi)

Disusun oleh :

Cut Indah Lestari Aprilia XII-IPA

Sekolah Menengah Atas Negeri 35 Jakarta

BIOTEKNOLOGI
Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa ini, perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu terapan dan murni lain, seperti biokimia, komputer, biologi molekular, mikrobiologi, genetika, kimia, matematika, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa. Bioteknologi secara umum berarti meningkatkan kualitas suatu organisme melalui aplikasi teknologi. Aplikasi teknologi tersebut dapat memodifikasi fungsi biologis suatu organisme dengan menambahkan gen dari organisme lain atau merekayasa gen pada organisme tersebut. Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sebagai contoh, di bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti, maupun keju yang sudah dikenal sejak abad ke-19, pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas-varietas baru di bidang pertanian, serta pemuliaan dan reproduksi hewan. Di bidang medis, penerapan bioteknologi di masa lalu dibuktikan antara lain dengan penemuan vaksin, antibiotik, dan insulin walaupun masih dalam jumlah yang terbatas akibat proses fermentasi yang tidak sempurna. Perubahan signifikan terjadi setelah penemuan bioreaktor oleh Louis Pasteur. Dengan alat ini, produksi antibiotik maupun vaksin dapat dilakukan secara massal. Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di negara negara maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi semisal rekayasa genetika, kultur jaringan, DNA rekombinan, pengembangbiakan sel induk, kloning, dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh penyembuhan penyakit-penyakit genetik maupun kronis yang belum dapat disembuhkan, seperti kanker ataupun AIDS. Penelitian di bidang pengembangan sel induk juga memungkinkan para penderita stroke ataupun penyakit lain yang mengakibatkan kehilangan atau kerusakan pada jaringan tubuh dapat sembuh seperti sediakala. Di bidang pangan, dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika, kultur jaringan dan DNA rekombinan, dapat dihasilkan tanaman dengan sifat dan produk unggul karena mengandung zat gizi yang lebih jika dibandingkan tanaman biasa, serta juga lebih tahan terhadap

hama maupun tekanan lingkungan. Penerapan bioteknologi di masa ini juga dapat dijumpai pada pelestarian lingkungan hidup dari polusi. Sebagai contoh, pada penguraian minyak bumi yang tertumpah ke laut oleh bakteri, dan penguraian zat-zat yang bersifat toksik (racun) di sungai atau laut dengan menggunakan bakteri jenis baru. Kemajuan di bidang bioteknologi tak lepas dari berbagai kontroversi yang melingkupi perkembangan teknologinya. Sebagai contoh, teknologi kloning dan rekayasa genetika terhadap tanaman pangan mendapat kecaman dari bermacam-macam golongan.Perubahan sifat Biologis melalui rekayasa genetika tersebut menyebabkan "lahirnya organisme baru" produk bioteknologi dengan sifat - sifat yang menguntungkan bagi manusia. Dalam pembahasan ini saya akan membahas tentang bioteknologi rekayasa genetika, salah satunya yaitu sex reversal.

SEX REVERSAL (Mengubah Kelamin Ikan Hias)

Usaha budidaya ikan hias bisa dibilang tidak terpengaruh krisis moneter. Seberapa pun nilai tukar rupiah, tidak jadi masalah bagi para pembudidaya. Karena usaha ini tak begitu tergantung pada produk-produk impor, terutama untuk jenis ikan air tawar, yang hanya menggunakan pakan alami seperti cacing sutra atau jentik nyamuk. Yang masih menjadi persoalan, bagaimana melempar produknya. Dalam kaitan ini, pembudidaya harus jeli melihat pasar. Sejauh ini, pembeli lebih menyukai ikan hias jantan, apa pun jenisnya, sebab bentuk tubuh dan warnanya yang lebih menarik daripada betina. Tidak heran kalau harga ikan hias jantan lebih mahal daripada betina. Melihat selera pasar seperti itu, beberapa peneliti acapkali memikirkan usaha-usaha untuk memproduksi ikan hias jantan. Salah satu temuan terbaru yang dapat diterapkan melalui teknik pengubahan kelamin (sex reversal), yang bukan hanya bisa dilakukan pada ikan hias, tapi juga pada ikan konsumsi. Teknik ini dilakukan melalui perlakuan hormonal, sehingga bisa diperoleh lebih banyak ikan jantan daripada betina. Beberapa spesies ikan pernah mengalami uji hormonal seperti ini, dan berhasil dengan baik, antara lain ikan nila, tawes, grass crap, guppy, kongo tetra, maskoki, dan cupang.

Ikan cupang merupakan jenis ikan hias yang cukup digemari masyarakat luas. Cupang jantan memiliki warna yang sangat menarik. Sementara yang betina tidak menarik, dan harga jualnya rendah. Bahkan sering dijadikan pakan untuk ikan-ikan besar, seperti Arwana. Di kotakota besar, harga ikan cupang jantan dewasa bervariasi antara Rp 1.000 hingga Rp 5.000,00 per ekor. Bandingkan dengan ikan betina yang hanya Rp 50-Rp 100. Sehingga selisih harga yang sangat menyolok itu perlu disiasati dengan penerapan teknologi tersebut.

Sex Reversal Teknologi sex reversal merupakan teknik pengubahan kelamin dari betina menjadi jantan, atau sebaliknya, melalui pemberian hormon dan teknik perendaman. Kalau yang diberikan hormon androgen, ikan diarahkan untuk berkelamin jantan. Tetapi jika yang diberikan hormon estrogen, jenis kelamin diarahkan menjadi betina. Jadi, jika pembudidaya ingin menghasilkan ikan-ikan cupang jantan, maka proses sex reversal yang diterapkan di sini menggunakan hormon androgen. Hormon androgen yang digunakan adalah 17-a Metiltestosteron (C20H30O2). Hormon yang berwarna putih, dan berbentuk serbuk halus (powder), itu diproduksi Sigma Chemical Co., Ltd., AS, tetapi dapat dibeli di toko-toko bahan kimia, terutama kota-kota besar di Indonesia. Jumlah bahan yang dibutuhkan 20 mg/liter larutan perendam telur ikan. Tiap 300 butir telur ikan memerlukan 0,2 liter larutan. Cara membuat larutan perendaman yaitu melarutkan 10 mg hormon Metiltestosteron dalam 0,5 ml alkohol 70%, lalu diencerkan dengan aquades destilata sebanyak 495 ml.

Persiapan induk 1. Induk jantan dan betina dipelihara dalam akuarium berbeda, dengan diberi makan berupa larva Chironomus (cuk merah) atau kutu air.

2. Pilihlah induk jantan dan betina, yang telah matang (gonad) dan siap untuk dipijahkan.

3. Siapkan pula akuarium untuk pemijahan. Selanjutnya masukkan ikan jantan dan tanaman eceng gondok untuk tempat menempel sarang (busa).

4. Masukkan ikan betina ke dalam toples. Tempatkan ke dekat akuarium pemijahan yang telah berisi ikan jantan. Ini dimaksudkan untuk merangsang ikan jantan agar membuat sarang, sekaligus menghindari per-kelahian.

5. Setelah ikan jantan membuat sarang, tangkaplah ikan betina yang berada di dalam toples. Masukkan ke akuarium pemijahan untuk dipasangkan dengan jantan. Lalu tangkap kedua induk, dan biarkan telur beserta sarangnya tetap berada di dalam akuarium pemijahan, kemudian diaerasi.

6. Sekitar 10 jam setelah pemijahan, pisahkan telur dari sarang (busa), dengan cara menempatkan aerasi di bawahnya, sehingga telur terpisah dan tenggelam di dasar akuarium.

7. Setelah embrio mencapai stadium bintik mata (sekitar 10-30 jam; tergantung temperatur), lakukan perendaman dalam larutan hormon yang telah dibuat selama 24 jam sambil tetap diaerasi.

8. Pisahkan embrio dari larutan hormon. Kalau perendaman selesai, tetaskan di akuarium penetasan.

9. Burayak yang menetas dipelihara dan dibesarkan hingga siap dijual.

Keuntungan dan Kerugian Sex Reversal


Keuntungan: 1. Dengan teknologi ini dapat menghasilkan ikan-ikan cupang jantan secara massal. 2. Penerapan teknologi ini relatif mudah. 3. Biaya yang dibutuhkan tidak terlalu besar dibanding hasil yang bisa didapat. 4. Menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda dari hasil penjualan ikan jantan. 5. Teknologi ini juga digunakan untuk mendapatkan induk jantan super (YY), yang selanjutnya dapat menghasilkan anak ikan dengan jenis kelamin jantan semua. Kerugian: 1. Teknologi ini sangat bersifat spesifik, sehingga dalam penerapannya harus tepat, jenis dan dosis hormon, lama perendaman, serta waktu mulai perendaman. 2. Adanya pemberian dosis hormon yang kurang tidak akan mempengaruhi jenis kelamin ikan, sementara pada pemberian hormon yang berlebihan dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi dan atau ikan keturunan menjadi steril. 3. Ikan jantan yang dihasilkan melalui proses sex reversal tidak bagus bila dijadikan induk.