Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS BEDAH ORTHOPEDI SEORANG LAKI-LAKI 16 TAHUN DENGAN FRAKTUR CLAVICULA DEKSTRA 1/3 TENGAH TERTUTUP NON

KOMPLIKATA

Disusun oleh : Novi Praktika Wilianti G6A 009 116

Pembimbing : dr. Andry, Sp. OT BAGIAN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

2011

LAPORAN KASUS I. IDENTITAS PENDERITA Nama Jenis kelamin Umur Alamat Pekerjaan Agama Suku bangsa Status Masuk RSDK No. CM Bangsal : Tn. K A S : Laki-laki : 16 tahun : Batik Gayam RT 005 RW 002, Rejomulyo, Semarang : Pelajar : Islam : Jawa : Belum menikah : 14 Mei 2011 : 6618604 : A3

II. DAFTAR MASALAH No 1. Masalah Aktif Fraktur clavicula dekstra 1/3 tengah tertutup non komplikata Tanggal 23/05/11 No Masalah Pasif Tanggal

III. DATA DASAR A. DATA SUBYEKTIF ANAMNESIS Autoanamnesis dengan penderita (23 Mei 2011 pkl 15.00 WIB)

Keluhan Utama : Nyeri pada pundak kanan post KLL Riwayat Penyakit Sekarang : 1/2 jam sebelum masuk RS saat penderita sedang membonceng sepeda motor dengan kecepatan tinggi, sepeda motor yang ia naiki menabrak pembatas jalan. Penderita terlempar ke jalan, jatuh ke arah kanan. Penderita memakai helm, tetapi helm terlepas, pingsan (-), mual (-), muntah (-), sakit kepala (-), perdarahan (-). Penderita mengeluh nyeri pada pundak kanan. Nyeri bertambah jika digunakan untuk menggerakan lengan kanan. Kemudian penderita dibawa ke UGD RSDK. Riwayat Penyakit Dahulu : - Riwayat patah tulang sebelumnya disangkal. - Riwayat operasi sebelumnya disangkal. Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat Sosial Ekonomi : Penderita seorang pelajar STM kelas 2. Merupakan anak ke-2 dari 2 bersaudara. Ayah penderita seorang wiraswasta, ibu penderita bekerja sebagai pelayan di sebuah warung makan. Biaya pengobatan menggunakan SKTM. Kesan: sosial ekonomi kurang B. DATA OBYEKTIF PEMERIKSAAN FISIK ( tanggal 23 Mei 2011 pukul 15.30 WIB ) Keadaan Umum: Baik. Kesadaran Tanda Vital Kepala : Compos mentis, GCS E4M6V5 = 15 : Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 88 x/mnt : mesosefal, turgor dahi cukup RR : 20 x/mnt t : Afebris

Mata

: konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor 3 mm / 3 mm, reflek cahaya (+N/+N)

Telinga Hidung Mulut Tenggorok Leher Thorak

: discharge (-/-) : napas cuping (-), discharge (-/-) : bibir kering (-), sianosis (-) : T1-1, faring hiperemis (-) : simetris, trakea di tengah, pembesaran nnl (-/-) : tampak asimetri bahu & deformitas tulang clavicula dekstra Jantung : I : Ictus cordis tak tampak Pa: Ictus cordis teraba di SIC V 2 cm LMCS Pe: konfigurasi jantung dalam batas normal Au: Bunyi jantung I-II normal, bising (-), gallop (-) Paru : I : Simetris statis dinamis Pa: Stem fremitus kanan = kiri Pe: Sonor seluruh lapangan paru Au: Suara dasar vesikuler +N/+N, suara tambahan (-/-)

Abdomen

: I : datar Pa : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba Pe : timpani, pekak sisi (+) normal, pekak alih (-) Au: Bising usus (+) normal

Ekstremitas

: Sianosis Akral dingin Oedem Cap. Refill

superior -/-/-/<2 dtk/<2 dtk

inferior -/-/-/<2 dtk/<2 dtk

C. STATUS LOKALIS Regio hemithorak dekstra I : Tampak asimetri bahu, tampak deformitas tulang clavicula dekstra 1/3 tengah, berupa angulasi, pemendekan (+), jejas di regio clavicula dekstra (-), luka terbuka (-), oedem (-), hematom (-)

Pa : Teraba diskontinuitas tulang clavicula dekstra 1/3 tengah. Nyeri tekan (+). Motorik dan Sensorik daerah distal dalam batas normal. Gerakan : Terbatas karena nyeri. Gerakan pada articulatio glenohumeral: abduksi (+) terbatas karena nyeri, adduksi (+), endorotasi (+), eksorotasi (+), flexi (+), ekstensi (+). III. RESUME 1/2 jam sebelum masuk RS saat penderita sedang membonceng sepeda motor dengan kecepatan tinggi, sepeda motor yang ia naiki menabrak pembatas jalan. Penderita terlempar ke jalan, jatuh ke arah kanan. Penderita memakai helm, tetapi helm terlepas, pingsan (-), mual (-), muntah (-), sakit kepala (-), perdarahan (-). Penderita mengeluh nyeri pada pundak kanan. Nyeri bertambah jika digunakan untuk menggerakan lengan kanan. Kemudian penderita dibawa ke UGD RSDK. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum: Baik. Kesadaran Tanda Vital Kepala Mata Telinga Hidung Mulut Tenggorok Leher Thorak : Compos mentis, GCS E4M6V5 = 15 : Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 88 x/mnt : tak ada kelainan : tak ada kelainan : tak ada kelainan : tak ada kelainan : tak ada kelainan : tak ada kelainan : tak ada kelainan : tampak asimetri bahu & deformitas tulang clavicula dekstra Jantung : tak ada kelainan Paru : tak ada kelainan Abdomen Pelvis : tak ada kelainan : tak ada kelainan RR : 20 x/mnt t : Afebris

Ekstremitas

: Sianosis Akral dingin Oedem Cap. Refill

superior -/-/-/<2 dtk/<2 dtk

inferior -/-/-/<2 dtk/<2 dtk

STATUS LOKALIS Regio hemithorak dekstra I : Tampak asimetri bahu, tampak deformitas tulang clavicula dekstra 1/3 tengah, berupa angulasi, pemendekan (+), jejas di regio clavicula dekstra (-), luka terbuka (-), oedem (-), hematom (-) Pa : Teraba diskontinuitas tulang clavicula dekstra 1/3 tengah. Nyeri tekan (+). Motorik dan Sensorik daerah distal dalam batas normal. Gerakan : Terbatas karena nyeri. Gerakan pada articulatio glenohumeral: abduksi (+) terbatas karena nyeri, adduksi (+), endorotasi (+), eksorotasi (+), flexi (+), ekstensi (+). IV. DIAGNOSIS KLINIS Fraktur clavicula dekstra 1/3 tengah tertutup non komplikata V. PENATALAKSANAAN Ip Dx : S : O : X-foto thorax AP Ip Rx : Asam mefenamat 3x500 mg jika nyeri Imobilisasi regio clavicula dengan figure of eight menggunakan elastic bandage / sand bag dan arm sling Ip Mx: Keadaan Umum, tanda vital. Ip Ex: Memberitahu penderita bahwa tulang selangka penderita patah dan untuk mengetahui jenis patah dan garis patahnya diperlukan foto rontgen bagian dada.

Menjelaskan kepada penderita bahwa akan dilakukan operasi untuk memperbaiki tulang yang patah, sebelum operasi dilakukan penderita diberi sand bag dan arm sling untuk imobilisasi tulang yang patah (mengurangi gerakan, mengurangi nyeri, dan mengurangi cedera lain lebih lanjut). Menjelaskan kepada penderita komplikasi yang mungkin terjadi jika fraktur tidak dioperasi.

TINJAUAN PUSTAKA FRAKTUR Definisi Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari tulang, sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh darah, otot dan persarafan.1 Etiologi Fraktur dapat terjadi akibat trauma. Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba tiba dan berlebihan, yang dapat berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh dengan posisi miring, pemuntiran, atau penarikan.2 Bila terkena kekuatan langsung (trauma langsung) tulang dapat patah pada tempat yang terkena; jaringan lunak juga pasti rusak. Pemukulan (pukulan sementara) biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya; penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas. Trauma langsung misalnya benturan pada lengan bawah menyebabkan fraktur tulang radius dan ulna. Bila terkena kekuatan tak langsung (trauma tak langsung) tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu; kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada. Trauma tak langsung misalnya jatuh bertumpu pada tangan menyebabkan fraktur tulang clavicula atau radius distal. Kekuatan dapat berupa : 1. Pemuntiran (rotasi), yang menyebabkan fraktur spiral

2. Penekukan (trauma angulasi atau langsung) yang menyebabkan fraktur melintang 3. Penekukan dan Penekanan, yang mengakibatkan fraktur sebagian melintang tetapi disertai fragmen kupu kupu berbentuk segitiga yang terpisah 4. Kombinasi dari pemuntiran, penekukan dan penekanan yang menyebabkan fraktur obliq pendek 5. Penarikan dimana tendon atau ligamen benar benar menarik tulang sampai terpisah KLASIFIKASI FRAKTUR Klasifikasi fraktur secara umum dibagi menjadi :1,2 1. Terbuka/tertutup 1) Fraktur tertutup (closed): apabila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. 2) Fraktur terbuka (open/compound): apabila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka dibagi atas 3 derajat a. Derajat I: remuk Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan Kontaminasi minimal b. Derajat II: Luka > 1 cm Kerusakan jaringan lunak tidak luas, flap/avulsi Fraktur kominutif sedang Kontaminasi sedang c. Derajat III: Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskuler. Fraktur terbuka derajat III terbagi atas: Luka < 1 cm Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka

a) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulsi; atau fraktur segmental / sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya luka. b) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau terkontaminasi massif. c) 2. a. Luka pada pembuluh darah arteri/ saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat jaringan lunak. Komplit / tidak komplit Fraktur komplit: apabila garis patah yang melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti yang terlihat pada foto b. Fraktur tidak komplit : apabila garis patah tidak melalui seluruh Hairline fracture Greenstick fracture Buckle fracture 3. a. b. c. d. e. 4. a. b. c. 5. Jumlah garis patah Fraktur kominutif: garis patah lebih dari satu dan saling Fraktur segmental: garis patah lebih dari satu tetapi tidak saling Fraktur multiple: garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang Bergeser/tidak bergeser berhubungan berhubungan berlainan tempatnya Garis patahnya Transversal Oblique Spiral Kompresi Avulsi penampang tulang, seperti:

a. b.

Fraktur undisplaced: garis patah komplit tetapi kedua fragmen Fraktur displaced: terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur

tidak bergeser

Penyembuhan fraktur :3 1. Fase Hematom Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh darah yang robek. Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum & otot). Terjadi sekitar 1 2 x 24 jam. 2. Fase Peradangan : Pada saat fraktur ada fase penjendalan dan nekrotik di ujung atau sekitar fragmen fraktur, proses peradangan akut faktor eksudasi dan cairan yang kaya protein ini merangsang lekosit PMN dan Makrofag yang fungsinya fagositosis jendalan darah dan jaringan nekrotik 3. Fase Proliferasi : Akibat jendalan darah 1 2 hari terbentuk fibrin yang menempel pada ujung ujung fragmen fraktur, dimana fibrin ini berfungsi sebagai anyaman untuk perlekatan sel sel yang baru tumbuh sehingga terjadi neovaskularisasi dan terbentuk jaringan granulasi atau procallus yang semakin lama semakin memadat sehingga terjadi fibrocartilago callus yang bertambah banyak dan terbentuklah permanen callus yang tergantung banyak atau sedikitnya celah pada fraktur. Callus memberikan rigiditas pada fraktur. Jika terlihat massa callus pada X-ray berarti fraktur telah menyatu. Callus mulai terbentuk setelah 6-10 hari, dan terjadi sampai 3-10 minggu. 4. Fase Remodelling Permanen callus diserap dan diganti dengan jaringan tulang sedangkan sisanya direabsorbsi sesuai dengan bentuk dan anatomis semula. Diagnosis 1,2,4

Anamnesis : didapatkan riwayat trauma ataupun cedera dengan keluhan bagian dari lengan, tangan, tungkai, atau kaki tidak dapat digerakkan Pemeriksaan fisik : Pemeriksaan meliputi pemeriksaan generalis dan pemeriksaan lokalis. Pada pemeriksaan lokalis meliputi : - Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal: angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka - Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan - Movement : Krepitasi dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi di bagian distal cedera. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan dengan sinar x harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior posterior dan lateral, kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari satu tingkat karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar x pada pelvis dan tulang belakang. Penatalaksanaan 1,2 1. Terapi konservatif : - external protection only - Immobilisasi saja tanpa reposisi - Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips - Traksi 2. Terapi operatif ORIF (Open Reduction Internal Fixation) Indikasi ORIF :

- Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi - Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup - Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan - Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi - Excisional Arthroplasty Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi - Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis Dilakukan exsisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore Tindakan debridement dan posisi terbuka

Komplikasi : 1 a. Early : Lokal : - Vaskuler : compartement syndrome, Trauma vaskuler (perdarahan sampai dengan syok) - Neurologis : lesi medulla spinalis atau saraf perifer Sistemik : - emboli lemak - Crush syndrome - Emboli paru dan emboli lemak b. Late : - Malunion : Bila tulang sembuh dengan fungsi anatomis abnormal (angulasi, perpendekan, atau rotasi) dalam waktu yang normal - Delayed union : Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih dari normal - Nonunion : Fraktur yang tidak menyambung dalam 20 minggu - Kekakuan sendi/kontraktur FRAKTUR CLAVICULA5 Fraktur Clavikula secara mekanis dan anatomis diklasifikasikan menjadi 3 jenis. Sekitar 80% dari fraktur klavikula terjadi di sepertiga tengah (kelas A), 15%

melibatkan sepertiga lateral (kelas B), dan kurang dari 5% melibatkan proksimal sepertiga medial (kelas C).

Diagnosis Anamnesis adanya riwayat trauma yang adekuat, biasanya jatuh dengan posisi ekstremitas atas terentang, jatuh ke arah bahu, atau trauma langsung pada clavicula Pemeriksaan Fisik Tatalaksana Kelas A (fraktur sepertiga tengah) : imobilisasi fraktur midclavicular dengan Figure-of-Eight splint. Splint ini dipasang setelah dilakukan close-reduction dengan menarik bahu ke atas dan krepitasi edema deformitas hematom nyeri, terutama gerakan ekstremitas atas pembengkakan

belakang. Keuntungan Figure-of-eight adalah pasien masih dapat menggunakan kedua tangannya. Penyembuhan dapat terjadi selama 2 minggu untuk bayi dan 46 minggu untuk orang dewasa. Imobilisasi harus tetap dilakukan sampai hasil radiografi ulangan menunjukkan pembentukan kalus dan penyembuhan di garis fraktur.

Kelas B (fraktur sepertiga lateral) Tipe I (nondisplaced) dan tipe III ( articular surfaced involvement) diterapi secara simtomatik dengan es, analgetik, dan sling. Mobilisasi dini bahu sangat penting untuk mencegah artritis degeneratif dan mengurangi resiko adhesive capsulitis. Untuk tipe II (displaced) biasanya membutuhkan pembedahan karena memiliki insiden 30% terjadi nonunion. Kelas C (fraktur sepertiga medial) Terapi yang diberikan berupa analgetik dan sling. Untuk tipe displaced perlu dilakukan reduction.

DAFTAR PUSTAKA 1. Apley, Dalam Buku Ajar Ortopedi dan fraktur Sistem Apley, Edisi 7, Editor : Edi Nugroho 1999 2. Jong WD, Sjamsuhidajat R. Patah Tulang dan Dislokasi. Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 2. Jakarta: EGC; 2005. p. 840-74 3. Ruhyanudin F. Askep pada gangguan musculoskeletal [Online]. [cited 2011 Mei 23]. Available from : http://faqudin.staff.umm.ac.id 4. Rasjad Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. Bintang Lamumpatue : Ujung pandang,1998 :488-501 5. Amir Estephan, MD. Fracture, clavicle [Online]. 2009. [cited 2011 Mei 17]. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/824564-overview

FOTO PASIEN

X-FOTO TORAKS AP PASIEN