Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan laut yang berlimpah. Salah satunya Pantai Utara Jawa. Gelombang laut pantai utara pulau Jawa bisa mencapai 3 meter lebih. Kondisi ini berbahaya bagi pelayaran, nelayan tangkap dan abrasi pantai yang menimbulkan kerugian besar bagi petani tambak, pariwisata dan lain-lain. Hal ini harus dicegah dengan menghutankan mangrove, terutama sepanjang 250 km pantura mulai Tuban, Lamongan sampai Gresik dengan bentang hutan mangrove selebar 25 meter dari garis pantai saat surut terendah. Pantai landai yaitu pantai yang bentuknya hampir rata dengan permukaan laut. Laut di pantai landai biasanya sangat dangkal.Pantai landai dijumpai di pantai sebelah timur Pulau Sumatra,pantai sebelah utara Pulau Jawa, dan Pantai Selatan Kalimantan. Sedimen pantai adalah material sedimen yang diendapkan di pantai. Berdasarkan ukuran butirnya, sedimen pantai dapat berkisar dari sedimen berukuran butir lempung sampai gravel. Dalam praktikum hidropan ini kita manganalisa tentang kelandaian suatu pantai dan proses erosi dan sedimentasi yang terjadi di Pantai Teluk Awur, Jepara.

1.2 Tujuan Praktikum a. Untuk mengetahui kelandaian suatu pantai b. Untuk mengetahui terjadinya erosi atau sedimentasi pada suatu pantai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Pantai Utara Jawa Pada musim pancaroba, gelombang laut pantai utara pulau Jawa bisa mencapai 3 meter lebih. Kondisi ini berbahaya bagi pelayaran, nelayan tangkap dan abrasi pantai yang menimbulkan kerugian besar bagi petani tambak, pariwisata dan lain-lain. Hal ini harus dicegah dengan menghutankan mangrove, terutama sepanjang 250 km pantura mulai Tuban, Lamongan sampai Gresik dengan bentang hutan mangrove selebar 25 meter dari garis pantai saat surut terendah. 2.2 Klasifikasi Pantai Antara pantai yang satu dengan garis pantai yang lainnya mempunyai perbedaan. Perbedaan dari masing-masing jenis pantai tersebut umumnya disebabkan oleh kegiatan gelombang dan arus laut. Menurut Johnson, pantai dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu: 1. Pantai yang Tenggelam (Shoreline of submergence) Shoreline of submergence merupakan jenis pantai yang terjadi apabila permukaan air mencapai atau menggenangi permukaan daratan yang mengalami penenggelaman. Disebut pantai tenggelam karena permukaan air berada jauh di bawah permukaan air yang sekarang. Untuk mengetahui apakah laut mengalami

penenggelaman atau tidak dapat dilihat dari keadaan pantainya. Naik turunnya permukaan air laut selama periode glasial pada jaman pleistosin menyebabkan maju mundurnya permukaan air laut yang sangat besar. Selain itu, penenggelaman pantai juga bisa terjadi akibat penenggelaman daratan. Hal ini terjadi karena permukaan bumi pada daerah tertentu dapat mengalami pengangkatan atau penurunan yang juga dapat mempengaruhi keadaan permukaan air laut. Pengaruh ini sangat terlihat di daerah pantai dan pesisir. Pada bentang lahan yang disebabkan oleh proses geomorfologi, pantai yang tenggelam dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pantai yang berbeda sebagai akibat dari pengaruh gelombang dan arus laut. Jenis-jenis pantai tersebut antara lain: a. Lembah sungai yang tenggelam Pada umumnya lembah sungai yang tenggelam ini disebut estuarium, sedangkan pantainya disebut pantai ria. Lembah sungai ini dapat mengalami

penenggelaman yang disebabkan oleh pola aliran sungai serta komposisi dan struktur batuannya. b. Fjords atau lembah glasial yang tenggelam Fjords merupakan pantai curam yang berbentuk segitiga atau berbentuk corong. Fjords atau lembah glasial yang tenggelam ini terjadi akibat pengikisan es. Ciri khas dari bagian pantai yang tenggelam ini yaitu panjang, sempit, tebingnya terjal dan bertingkat-tingkat, lautnya dalam, dan kadang-kadang memiliki sisi yang landai. Pantai fjords ini terbentuk apabila daratan mengalami penurunan secara perlahan-lahan. Bentang lahan ini banyak terdapat di pantai laut di daerah lintang tinggi, dimana daerahnya mengalami pembekuan di musim dingin. Misalnya di Chili, Norwegia, Tanah Hijau, Alaska, dan sebagainya. c. Bentuk pengendapan sungai Bentuk pengendapan sungai dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: (1) Delta, yaitu endapan sungai di pantai yang berbentuk segitiga dan cembung ke arah laut; (2) Dataran banjir, yaitu sungai yang terdapat di kanan dan kiri sungai yang terjadi setelah sungai mengalami banjir; (3) Kipas alluvial, yaitu bentuk pengendapan sungai seperti segitiga, biasanya terdapat di daerah pedalaman, dan ukurannya lebih kecil bila dibandingkan dengan delta, serta sungainya tidak bercabang-cabang.

2. Pantai yang Terangkat (Shoreline of emergence) Pantai ini terjadi akibat adanya pengangkatan daratan atau adanya penurunan permukaan air laut. Pengangkatan pantai ini dapat diketahui dari gejala-gejala yang terdapat di lapangan dengan sifat yang khas, yaitu: 1. Terdapatnya bagian atau lubang dataran gelombang yang terangkat Di daerah ini banyak dijumpai teras-teras pantai (stacks), lengkungan tapak (arches), pantai terjal (cliffs), serta gua-gua pantai (caves). 2. Terdapatnya teras-teras gelombang Teras gelombang ini terbentuk pada saat permukaan air mencapai tempattempat di mana teras tersebut berada. Teras-teras ini merupakan batas permukaan air. 3. Terdapatnya gisik (beaches) Gisik yaitu tepian laut yang terdapat di atas permukaan air laut yang terjadi karena adanya pengangkatan dasar laut. 4. Terdapatnya laut terbuka Laut terbuka ini terjadi karena adanya dasar laut yang terangkat.

5. Garis pantai yang lurus (straight shoreline) Erosi gelombang dan pengendapannya pada laut dangkal cenderung menurunkan bentang lahan dan menyebabkan dasar laut dasar laut yang dangkal menjadi datar. Apabila dasar laut yang dangkal tersebut sekarang mengalami pengangkatan, maka garis pantai yang terbentuk akan kelihatan lurus.

3. Pantai yang Netral (Neutral shoreline) Jenis pantai ini terjadi di luar proses penenggelaman dan pengangkatan, misalnya pantai yang terjadi pada delta, plain hanyutan, terumbu karang, gunung api, gumuk-gumuk pasir, dan jenis pantai yang merupakan hasil dari sesar (patahan).

4. Pantai Majemuk (Compound shorelines) Jenis pantai ini terjadi sebagai gabungan dua atau lebih proses di atas. Berarti dalam suatu daerah bisa terjadi proses penenggelaman, pengangkatan, pengendapan, dan sebagainya. 2.3 Pantai landai Pantai merupakan wilayah pasang surut yang basah pada saat pasang dan kering pada saat surut. Menurut bentuknya pantai dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pantai landai dan pantai terjal. Pantai landai terletak didaerah daratan rendah sehingga masih terpengaruh proses abrasi, pengendapan, dan pasang surut air laut. Sedangkan pantai terjal adalah pantai yang memiliki topografi tinggi, kita hanya dapat melihat dari kejauhan di atas bukit atau pegunungan. Pantai terjal tidak terpengaruh adanya pengendapan dan pasang surut air laut, tetapi sangat terpengaruhi oleh abrasi. Pantai landai yaitu pantai yang bentuknya hampir rata dengan permukaan laut. Laut di pantai landai biasanya sangat dangkal.Pantai landai dijumpai di pantai sebelah timur Pulau Sumatra,pantai sebelah utara Pulau Jawa, dan Pantai Selatan Kalimantan. Bila tipe-tipe pantai di atas kita lihat dari sudut pandang proses yang bekerja membentuknya, maka pantai dapat dibedakan menjadi: 1. Pantai hasil proses erosi, yaitu pantai yang terbentuk terutama melalui proses erosi yang bekerja di pantai. Termasuk dalam kategori ini adalah pantai batu (rocky shore). 2. Pantai hasil proses sedimentasi, yaitu pantai yang terbentuk terutama kerena prose sedimentasi yang bekerja di pantai. Termasuk kategori ini adalah beach. Baik sandy beach maupun gravely beach.

3.

Pantai hasil aktifitas organisme, yaitu pantai yang terbentuk karena aktifitas organisme tumbuhan yang tumbuh di pantai. Termasuk kategori ini adalah pantai mangrove.

2.4 Sedimen Sedimen pantai adalah material sedimen yang diendapkan di pantai. Berdasarkan ukuran butirnya, sedimen pantai dapat berkisar dari sedimen berukuran butir lempung sampai gravel. Kemudian, berdasarkan pada tipe sedimennya, pantai dapat diklasifikasikan menjadi: 1. Pantai gravel, bila pantai tersusun oleh endapan sedimen berukuran gravel (diameter butir > 2 mm). 2. Pantai pasir, bila pantai tersusun oleh endapan sedimen berukuran pasir (0,5 2 mm). 3. Pantai lumpur, bila pantai tersusun oleh endapan lumpur (material berukuran lempung sampai lanau, diameter < 0,5 mm). Klasifikasi tipe-tipe pantai berdasarkan pada sedimen penyusunnya itu juga mencerminkan tingkat energi (gelombang dan atau arus) yang ada di lingkungan pantai tersebut. Pantai gravel mencerminkan pantai dengan energi tinggi, sedang pantai lumpur mencerminkan lingkungan berenergi rendah atau sangat rendah. Pantai pasir menggambarkan kondisi energi menengah. Di Pulau Jawa, pantai berenergi tinggi umumnya diojumpai di kawasan pantai selatan yang menghadap ke Samudera Hindia, sedang pantai bernergi rendah umumnya di kawasan pantai utara yang menghadap ke Laut Jawa. Pantai bisa dikategorikan berdasarkan beberapa hal seperti bentukan lahan (landform) atau material pembentuk sedimen.

BAB III MATERI DAN METODE

2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Hari Tanggal Pukul Tempat 2.3 Alat dan Bahan No. 1. Praktikum Nama Alat Sedimen Serokan Sampah Fungsi Untuk menangkap sedimen yang terbawa ombak Plastik kiloan Alat tulis Untuk wadah sedimen Untuk mencatat sedimen diperoleh yang : Sabtu : 10 Desember 2011 : 07.00 15.00 WIB : Pantai Teluk Awur, Jepara

2.

Kelandaian Selang air Pantai Roll Meter

Untuk mengukur kelandaian pantai Untuk mengukur jarak dari titik satu ketitik berikutnya

Palem Gelombang Alat tulis

Sebagai penanda tiap titik Untuk mencatat hasil pengukuran

2.4 Metode 2.4.1 Pengukuran Kemiringan Pantai a. Letakkan palem gelombang 1 pada perbatasan garis asang dan surut terendah b. Letakkan palem gelombang 2 pada garis pasang tertinggi dan sejajar dengan posisi palem gelombang 1 c. Ukur jarak antara kedua palem d. Letakkan ujung selang waterpass pada masing-masing palem e. Lihat posisi air pada selang, jika telah stabil ukur tinggi air pada masing-masing selang

2.4.2 Pengambilan Sampel Swash dan Backswash y Pengambilan Sampel Sedimen disini terdiri dari 2 macam yaitu swash dan backswash. Sedimen ini didapatkan dengan cara menangkap sedimen yang dibawa dan terbawa oleh air laut. Dengan menempatkan pengki (serokan sampah) menghadap kelaut kemudian menangkap sedimen yang dibawa air laut maka akan didapatkan swash. Sdangkan backswash didapatkan dengan cara menangkap sedimen dengan arah hadap sebaliknya yaitu mengahadap ke pantai. Dalam pengambilan sampel sedimen tersuspensi ini sangan dihindari tempat yang berkarang. Pengambilan sampel sedimen 10m dari bibir pantai dengan pengulangan 3 kali untuk setiap titik. Dan setiap pengambilan sampel membutuhkan waktu 5 menit. y Analisa Sedimen (Pengayakan) Prosedur Kerja : - Siapkan sedimen dari hasil Spliting yang akan diayak - Bersihkan Shieve shaker dan pastikan urutan ayakan sesuai dengan posisinya - Masukan sample sedimen pada Shieve shaker - Tutup kembali Shieve shaker dan pastikan sudah tertutup rapat - Nyalakan Shieve shaker, atur waktunya 10 menit, amplitudo 40 dan tekan tombol START - Timbang plastik yang digunakan untuk tempat sample dan beri label dengan tulisan diameter ukuran butir - Setelah pengayakan selesai masukkan sample yang tersaring ke dalam plastik sesuai dengan ukuran butir - Lakukan penimbangan dan masukkan ke dalam tabel
Ukuran Butir Berat Sedimen+Plastik Berat Plastik (gram) (gram) Berat Sedimen (gram)

No
1 2 3 4 5 6

(mm)

2 0.5 0.3 0.125 0.063 < 0.063

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Kemiringan Pantai


Stasiun 1 2 3 4 5 L 2.67 3.25 3.67 3.71 4.12 h1 161 140 158 128 124 h2 184 167 166 167 164 Slope I = (h2 - h1) / L 129.21 94.46 88.28 79.51 69.90

4.1.2 Transport Sedimen Backswash A= 40 T=10 menit Berat No Ukuran Butir (mm) 1 2 3 4 5 6 2 0.5 0.3 0.125 0.063 < 0.063 Sedimen+Plastik (gram) 1.32 8.43 36.49 21.16 1.77 4.71 0.97 Berat Plastik (gram) Berat Sedimen (gram) 0.35 7.48 35.52 20.19 0.8 3.74 68.08 m= 68.08 gram

Swash A= 40 T=10 menit Berat No Ukuran Butir (mm) 1 2 2 0.5 Sedimen+Plastik (gram) 0.99 21.6 Berat Plastik (gram) 0.97 Berat Sedimen (gram) 0.02 20.63 m= 64.42 gram

3 4 5 6

0.3 0.125 0.063 < 0.063

35.46 9.22 1.07 1.9

34.49 8.25 0.1 0.93 64.42

4.2 Pembahasan 4.2.1 Kemiringan Pantai Dari hasil pengolahan data di atas dapat dilihat tingkat kelandaian pantai Teluk Awur, Jepara dari kampus hingga ke asrama semakin tinggi. Hal ini ditunjukan dengan nilai slope dari stasiun 1 yang berjarak 40 m dari titik 0 sampai ke asrama semakin menurun. Nilai slope stasiun 1 sampai stasiun 5 berurutan 129,21, 94,46, 88,28, 79,51, dan 69,90. Pantai yang landai biasanya berada pada daratan rendah, sehingga masih terpengaruh proses abrasi, pengendapan, dan pasang surut air laut. 4.2.2 Transport Sedimen Backswah adalah gelombang balik setelah mencapai pantai, sedangkan swash adalah gelombang dating dari laut lepas menuju pantai. Backswsh maupun swash akan

membawa sedimen (sedimen tertransport bersama gelombang). Dalam praktikum ini kita mengambil data banyaknya sedimen yang terangkut oleh backhswash dan swash. Kita melakukan pengambilan data/sampel di pantai Teluk Awur , Jepara di belakan asrama Marine Station Universitas Diponegoro. Setelah pengambilan data/sampel lalu kita analisa dengan metode pemipetan. Dari hasil analisa metode pengayakan kita dapatkan berat sedimen setiap ukuran butir. Kita dapat mengetahui jumlah berat total sedimen yang dibawa backswash dan swash. Dapat dilihat dari hasil bahwa jumlah berat sedimen yang dibawa oleh backswah lebih banyak daripada yang dibawa oleh swash (Backswas = 68.08 gram, swash = 64.42 gram). Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pantai Teluk Awur, Jepara mengalami erosi.

BAB V KESIMPULAN

Dari praktikum dan analisa yang telah kita lakukan dapat disimpulkan bahwa: y Pantai Teluk Awur Jepara termasuk pantai yang landai terutama di belakang asrama. y Pantai Teluk Awur Jepara, belakanG kampus Marine Station mengalami erosi. Ini dibuktikan dari berat sedimen backswash lebih besar daripada swash. y Sedimen yang tertransport menuju ke laut lebih besar dari pada sedimen yang terbawa menuju pantai (erosi).

DAFTAR PUSTAKA

Modul Praktikum Sedimen. 2010 . Universitas Diponegoro. Semarang Umi Muawanah dan Agus Supangat. 1998. Pengantar Kimia dan Sedimen Dasar Laut. Badan Riset Kelautan dan Perikanan : Jakarta www. wikipedia.com (diakses pada tanggal 19 Desember 2011 pukul 19.05)