Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Pendahuluan Berdasarkan survei "Multi Center Study" di Asia Tenggara, Indonesia termasuk 4 negara dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi yaitu 4,6%, sedangkan 3 negara lainnya yakni Sri Lanka (8,8%), Myanmar (8,4%) dan India 6,3%). Angka prevalensi sebesar 4,6% tergolong cukup tinggi, sehingga dapat menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan pada tahun 2000 terdapat 250 juta penduduk dunia menderita gangguan pendengaran dan 75 juta - 140 juta diantaranya terdapat di Asia Tenggara. Berdasarkan Survei Kesehatan Indera Tahun 1993 - 1996 yang dilaksanakan di 8 Provinsi Indonesia menunjukkan prevalensi morbiditas telinga, hidung dan tenggorokan (THT). Angka prevalensi tersebut sebesar 38,6%, morbiditas telinga 18,5%, gangguan pendengaran 16,8% dan ketulian 0,4%. (1) Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesinmesin, alat-alat transportasi berat, dan lain sebagainya. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. Misalnya, bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan, maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan.(2) Sama halnya dengan akibat yang ditimbulkan pada masyarakat yang lokasi tempat tinggalnya berdekatan dengan sumber bising. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising, gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan, penurunan kemampuan kerja, bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. Industri yang terutama membawa risiko kehilangan pendengaran antara lain pertambangan, pembuatan terowongan, penggalian (peledakan, pengeboran), mesin-mesin berat ( pencetakan besi, proses penempaan, dll), pekerjaan mengemudikan mesin dengan mesin pembakaran yang kuat (pesawat terbang, truk, bajaj, kenderaan konstruksi, dll), pekerjaan mesin tekstil dan uji coba mesin-mesin jet. Pada umumnya gangguan pendengaran yang disebabkan bising timbul setelah bertahun-tahun pajanan. Kecepatan kemunduran tergantung pada tingkat bising, komponen impulsif dan lamanya pajanan, serta juga pada kepekaan individual yang sifat-sifatnya tetap tidak diketahui. (3)

Salah satu bising industri yang dianggap perlu untuk diteliti adalah bising pesawat terbang. Penelitian mengenai pengaruh bising pesawat terbang terhadap kemampuan pendengaran pekerja telah banyak dilakukan. Diantarannya yaitu penelitian yang dilakukan di London Inggris dimana peneliti membandingkan antara subjek dengan tingkat kebisingan pesawat terbang yang tinggi dengan tingkat kebisingan pesawat terbang yang rendah. Hasilnya adalah didapat kejadian gangguan pendengaran lebih tinggi pada subjek dengan tingkat kebisingan pesawat terbang yang tinggi. (4) Penelitian lainnya juga menunjukkan hal yang sama, dimana pada pekerja bandara lakilaki di Korea menunjukkan perbedaan yang significant pada kejadian hilangnya pendengaran (lebih dari 25 dB) antara subjek yang terpapar bising dengan yang tidak terpapar bising pesawat terbang (p< 0.5). Hampir 60,8 % dari pekerja yang terpapar bising tersebut tercatat sebagai pengguna HPDs (Hearing Protective Devices). (5) Mengingat besarnya masalah tersebut dan pentingnya kesehatan indera pendengaran sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia, maka diperlukan adanya perhatian yang lebih terhadap masalah kesehatan indera pendengaran khususnya tuli akibat pemajanan bising (TAB/NIHL). 1.2 Latar Belakang Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.
(6)

Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian

orang merupakan suara yang disenangi, namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. Bising yang didengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh.Kebisingan menyebabkan gangguan pendengaran yang mengakibatkan kesulitan dalam melaksanakan kehidupan normal, terutama dalam hal memahami pembicaraan. Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekwensi tinggi, lebih lama terpapar bising, kepekaan individu dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian.(7) Tanpa disadari banyak orang yang terpajan kebisingan pada tingkat yang berbahaya, seperti bising dari pesawat terbang, truk, bis, sepeda motor, alat musik, pemotong rumput dan alat-alat dapur. Pada anak-anak sering kali terpajan kebisingan di tempat-tempat pusat permainan. Tidak jarang remaja dan orang dewasa sering kali terpajan kebisingan di tempattempat ramai, seperti bioskop, bar, karaoke, dan tempat-tempat yang bernuansa night club. (8) 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Pendengaran 2.1.1. Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 3 cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.
(9)

Gambar 2.1 Anatomi Telinga Sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan terhadap liang telinga sementara procesus mastoideus terletak dibelakangnya. Saraf fasialis meninggalkan foramen stilomastoideus dan berjalam ke lateral menuju prosesus stilodeus di posteroinferior liang telinga, dan berjalan dibawah liang telinga untuk memasuki kelenjar parotis. (11)

2.1.2. Telinga Tengah 0 Telinga tengah adalah rongga berisi udara didalam tulang temporalis yang terbuka melalui tuba auditorius (eustachius) ke nasofaring dan melalui nasofaring keluar. Tuba biasanya tertutup, tetapi selama mengunyah, menelan, dan menguap saluran ini terbuka, sehingga tekanan dikedua sisi gendang telinga seimbang. (12)

Gambar 2.2. Membran timpani Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas luar yaitu membran timpani, batas depan yaitu tuba eustachius, batas bawah yaitu vena jugularis (bulbus jugularis), batas belakang yaitu aditus ad antrum, kanalis facialis pars vertikalis. Batas atas yaitu tegmen timpani (meningen/ otak), dan batas dalam berturut-turut dari atas kebawah yaitu kanalis semisirkularis horizontal, kanalis facialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan promomtorium. Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari luar ke dalam, yaitu maleus, inkus dan stapes. Tulang pendengaran di dalam telinga saling berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antar tulang-tulang pendengaran merupakan persendian. Pada pars flaksida terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini terdapat aditus ad antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid. (10) 4

Tuba eustahius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah. (11) 2.1.3. Telinga Dalam Labirin ( telinga dalam ) mengandung organ pendengaran dan keseimbangan, terletak pada pars petrosa os temporal. Labirin terdiri dari labirin bagian tulang dan labirin bagian membran. Labirin bagian tulang terdiri dari kanalis semisirkularis, vestibulum dan koklea. Labirin bagian membran terletak didalam labirin bagian tulang, dan terdiri dari kanalis semisirkularis, utrikulus, sakulus, sakus dan duktus endolimfatikus serta koklea. (13) Bagian vestibulum telinga dalam dibentuk oleh sakulus, utrikulus dan kanalis semisirkularis. Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut. Menutupi sel-sel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung kalsium dan dengan berat jenis yang lebih besar daripada endolimfe. Karena pengaruh gravitasi, maka gaya dari otolit akan membengkokkan silia sel-sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada reseptor.

Gambar 2.3 Vestibulum Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui suatu duktus sempit yang juga merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Makula utrikulus terletak pada bidang yang tegak lurus terhadap makula sakulus. Ketiga kanalis semisirkularis bermuara pada utrikulus. Masing-masing kanalis mempunyai suatu ujung yang melebar membentuk ampula dan mengandung sel-sel rambut krista. Sel-sel rambut menonjol pada suatu kupula gelatinosa. Gerakan endolimfe dalam kanalis semisirkularis akan menggerakkan kupula yang selanjutnya akan membengkokkan silia sel-sel rambut krista dan merangsang sel rambut reseptor.

Gambar 2.4 Anatomi Telinga Dalam Koklea melingkar seperti rumah siput dengan dua dan satu-setengah putaran. Aksis dari spiral tersebut dikenal sebagai modiolus, berisi berkas saraf dan suplai arteri dari arteri vertebralis. Serabut saraf kemudian berjalan menerobos suatu lamina tulang yaitu lamina spiralis oseus untuk mencapai sel-sel sensorik organ corti. Rongga koklea bertulang dibagi menjadi tiga bagian oleh duktus koklearis yang panjangnya 35 mm dan berisi endolimfe. Bagian atas adalah skala vestibuli, berisi perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh membrana Reissner yang tipis. Bagian bawah adalah skala timpani juga mengandung perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh lamina spiralis oseus dan membrana basilaris. Perilimfe pada kedua skala berhubungan pada apeks koklea spiralis tepat setelah ujung buntu duktus koklearis melalui suatu celah yang dkenal sebagai helikotrema. Membrana basilaris sempit pada basisnya (nada tinggi) dan melebar pada apeks (nada rendah). (11) Organ corti adalah organ reseptor yang membangkitkan impuls saraf sebagai respon terhadap getaran membrana basiler. Organ corti terletak pada permukaan serat basilar dan membrana basilar. Terdapat dua tipe sel rambut yang merupakan reseptor sensorik yang sebenarnya dalam organ corti yaitu baris tunggal sel rambut interna, berjumlah sekitar 3500 dan dengan diameter berukuran sekitar 12 mikrometer, dan tiga sampai empat baris rambut eksterna, berjumlah 12.000 dan mempunyai diameter hanya sekitar 8 mikrometer. Basis dan samping sel rambut bersinaps dengan jaringan akhir saraf koklearis. Sekitar 90 sampai 95 persen ujungujung ini berakhir di sel-sel rambut bagian dalam, yang memperkuat peran khusus sel ini untuk 6

mendeteksi suara. Serat-serat saraf dari ujung-ujung ini mengarah ke ganglion spiralis corti yang terletak didalam modiolus (pusat) koklea. (14) 2.2. Fisiologi Pendengaran Gelombang suara yang memasuki telinga melalui kanalis auditorius eksterna menggetarkan membran timpani. Getaran ini akan diteruskan oleh tulang-tulang pendengaran (maleus, incus, dan stapes) di rongga telinga tengah. Selanjutnya akan diterima oleh "oval window" dan diteruskan ke rongga koklea serta dikeluarkan lagi melalui "round window". Rongga koklea terbagi oleh dua sera menjadi tiga ruangan, yaitu skala vestibuli, skala tympani dan skala perilimfe dan endolimfe. Antara skala tympani dan skala medial terdapat membran basilaris, sel-sel rambut dan serabut afferen dan efferen nervus cochlearis. Getaran suara tadi akan menggerakkan membrana basilaris, dimana nada tinggi diterima di bagian basal dan nada rendah diterima di bagian apeks. Akibat gerakan membrana basilaris maka akan menggerakkan sel-sel rambut sensitif di dalam organ corti. (15) Organ corti kemudian merubah getaran mekanis di dalam telinga dalam menjadi impuls saraf. Impuls ini kemudian dihantar melalui akson atau cabang saraf sel-sel ganglion pada ganglion spiralis telinga dalam. Akson dari ganglion spiralis menyatu, membentuk nervus auditorius atau koklearis yang membawa impuls dari sel-sel di dalam organ corti telinga dalam ke otak untuk diinterpretasi. (16) 2.2.1. Pola Getaran Membran Basiler Untuk Frekuensi Suara Yang Berbeda

Gambar 2.5 Pola Getaran Membran Basiler Untuk Frekuensi Suara Yang Berbeda 7

Terdapat perbedaan pola tranmisi untuk gelombang suara dengan frekuensi suara yang berbeda. Setiap gelombang relatif lemah pada permulaan tetapi menjadi kuat ketika mencapai bagian membran basilar yang mempunyai keseimbangan resonansi frekuensi alami terhadap masing-masing frekuensi suara. Pada titik ini, membran basilar dapat bergetar ke belakang dan ke depan dengan mudahnya sehingga energi dalam gelombang dihamburkan. Akibatnya, gelombang berhenti pada titik ini dan gagal berjalan sepanjang membran basilar yang tersisa. Jadi gelombang suara frekuensi tinggi hanya berjalan singkat sepanjang membran basilar sebelum gelombang mencapai titik resonansinya dan menghilang. Gelombang suara frekuensi sedang berjalan sekitar setengah perjalanan dan kemudian menghilang. Dan akhirnya, gelombang suara frekuensi sangat rendah menjalani seluruh jarak sepanjang membran basilar. (14) 2.3. Mekanisme Pendengaran Sentral 2.3.1. Jalur Pendengaran Gambar 2.5 menggambarkan jaras pendengaran utama. Jaras ini menunjukkan bahwa serabut dari ganglion spiralis corti memasuki nukleus koklearis dorsalis dan ventralis yang terletak pada bagian atas medula. Pada titik ini, semua sinaps serabut dan neuron berjalan terutama ke sisi yang berlawanan dari batang otak dan berakhir di nukleus olivarius superior. Beberapa serat juga berjalan secara ipsilateral ke nukleus olivarius superior, jaras pendengaran kemudian berjalan ke atas melalui lemniskus lateral. Beberapa serat berakhir di nukleus lemniskus lateralis. Banyak yang memintas nukleus ini dan berjalan ke kolikulus inferior, tempat semua atau hampir semua serat ini berakhir. Dari sini, jaras berjalan ke nukleus medial thalamus, tempat semua serabut bersinaps. Dan akhirnya, jaras berlanjut melalui radiasio auditorius ke korteks auditorius, yang terutama terletak pada girus superior lobus temporalis.(14) 2.3.2 Aspek Klinis Jalur Pendengaran Kerusakan pada duktus koklearis atau nervus koklearis dapat mengakibatkan menurunya kemampuan atau hilangnya pendengaran pada telinga pada sisi yang sama. Suatu lesi yang mengenai satu lemniskus lateralis dapat menimbulkan penurunan kemampuan pendengaran (tuli parsial) secara bilateral, yang lebih berat akibatnya pada telinga kontralateral. (17)

Gambar 2.6 Jalur Pendengaran 2.4. Bising 2.4.1. Definisi Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup.
(18)

Kebisingan yaitu bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau


(19)

kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan menimbulkan gangguan pendengaran. (20) 9 atau semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja pada tingkat tertentu dapat

2.4.2. Baku Tingkat Kebisingan Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Baku tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas, NAB) peruntukan kawasan/lingkungan dapat dilihat pada tabel dibawah ini. (19) :
Peruntukan kawasan / lingkungan kegiatan Peruntukan Kawasan 1. Perumahan dan pemukiman 2. Perdagangan dan jasa 3. Perkantoran dan perdagangan 4. Ruang terbuka hijau 5. Industri 6. Pemerintahan dan fasilitas umum 7. Rekreasi 8. Khusus :- Bandar udara- Stasiun Kereta Api - Pelabuhan Laut- Cagar Budaya Lingkungan Kegiatan 1. Rumah Sakit atau sejenisnya 2. Sekolah dan sejenisnya 3. Tempat ibadah dan sejenisnya

Tingkat kebisingan (dB) 55 70 65 50 70 60 70 70 55 55 55

Tabel 2.1 Baku tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas, NAB) peruntukan kawasan/lingkungan 2.5. Tuli Akibat Bising 2.5.1. Definisi Tuli akibat bising (TAB) adalah tuli sensorineural yang terjadi akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dan dalam jangka waktu yang cukup lama. (21) 2.5.2. Faktor yang Mempengaruhi Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan kebisingan yaitu intensitas kebisingan, frekwensi kebisingan, lamanya waktu pemaparan bising, kerentanan individu, jenis kelamin, usia dan kelainan di telinga tengah. 2.5.3. Klasifikasi Secara umum efek kebisingan terhadap pendengaran dapat dibagi atas 2 kategori yaitu :
(5,14,15) (13, 21)

Tuli sensorineural dapat disebabkan oleh toksin (seperti

arsen dan quinine) dan antibiotika seperti streptomisin yang dapat merusak koklea. (15)

10

1. Noise Induced Temporary Threshold Shift ( TTS ) 2. Noise Induced Permanent Threshold Shift ( NIPTS ) NOISE INDUCED TEMPORARY THRESHOLD SHIFT ( NITTS ) Seseorang yang pertama sekali terpapar suara bising akan mengalami berbagai perubahan, yang mula-mula tampak adalah ambang pendengaran bertambah tinggi pada frekwensi tinggi. Pada gambaran audiometri tampak sebagai notch yang curam pada frekwensi 4000 Hz, yang disebut juga acoustic notch.
(15)

Pada tingkat awal terjadi pergeseran ambang pendengaran yang

bersifat sementara, yang disebut juga NITTS. Apabila beristirahat diluar lingkungan bising biasanya pendengaran dapat kembali normal. (15) NOISE INDUCED PERMANENT THRESHOLD SHIFT ( NIPTS ) Didalam praktek sehari-hari sering ditemukan kasus kehilangan pendengaran akibat suara bising, dan hal ini disebut dengan occupational hearing loss atau kehilangan pendengaran karena pekerjaan atau nama lainnya ketulian akibat bising industri. (15) Dikatakan bahwa untuk merubah NITTS menjadi NIPTS diperlukan waktu dilingkungan bising selama 10 15 tahun, tetapi hal ini bergantung juga kepada : (15) 1. tingkat suara bising 2. kepekaan seseorang terhadap suara bising NIPTS biasanya terjadi disekitar frekwensi 4000 Hz dan perlahan-lahan meningkat dan menyebar ke frekwensi sekitarnya. NIPTS mula-mula tanpa keluhan, tetapi apabila sudah menyebar sampai ke frekwensi yang lebih rendah ( 2000 dan 3000 Hz ) keluhan akan timbul. Pada mulanya seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengadakan pembicaraan di tempat yang ramai, tetapi bila sudah menyebar ke frekwensi yang lebih rendah maka akan timbul kesulitan untuk mendengar suara yang sangat lemah. Notch bermula pada frekwensi 3000 6000 Hz, dan setelah beberapa waktu gambaran audiogram menjadi datar pada frekwensi yang lebih tinggi. Kehilangan pendengaran pada frekwensi 4000 Hz akan terus bertambah dan menetap setelah 10 tahun dan kemudian perkembangannya menjadi lebih lambat. (15) 2.5.4. Patogenesis Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. Dengan bertambahnya 11 bekerja

intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal. Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi, sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak. (13) 2.5.5. Gambaran Klinis Tuli akibat bising dapat mempengaruhi diskriminasi dalam berbicara ( speech discrimination ) dan fungsi sosial. Gangguan pada frekwensi tinggi dapat menyebabkan kesulitan dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan. Bunyi dengan nada tinggi, seperti suara bayi menangis atau deringan telepon dapat tidak didengar sama sekali. Ketulian biasanya bilateral. Selain itu tinitus merupakan gejala yang sering dikeluhkan dan akhirnya dapat mengganggu ketajaman pendengaran dan konsentrasi. (8, 13) Secara umum gambaran ketulian pada tuli akibat bising ( noise induced hearing loss ) adalah bersifat sensorineural, hampir selalu bilateral, jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat ( profound hearing loss ). (13, 22) Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi adaptasi, peningkatan ambang dengar sementara (temporary threshold shift) dan peningkatan ambang dengar menetap ( permanent threshold shift). Reaksi adaptasi merupakan respons kelelahan akibat rangsangan oleh bunyi dengan intensitas 70 dB SPL atau kurang, keadaan ini merupakan fenomena fisiologis pada saraf telinga yang terpajan bising. Peningkatan ambang dengar sementara, merupakan keadaan terdapatnya peningkatan ambang dengar akibat pajanan bising dengan intensitas yang cukup tinggi. Pemulihan dapat terjadi dalam beberapa menit atau jam. Jarang terjadi pemulihan dalam satuan hari. Peningkatan ambang dengar menetap, merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan ambang dengar menetap akibat pajanan bising dengan intensitas sangat tinggi (explosif) atau berlangsung lama yang menyebabkan kerusakan pada berbagai struktur koklea, antara lain kerusakan organ Corti, sel-sel rambut, stria vaskularis, dan lainnya.(10,11) Derajat ketulian berkisar antara 40 s/d 75 dB. Apabila paparan bising dihentikan, tidak dijumpai lagi penurunan pendengaran yang signifikan, kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz, dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada 12

frekwensi 4000 Hz, dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10 15 tahun. Selain pengaruh terhadap pendengaran ( auditory ), bising yang berlebihan juga mempunyai pengaruh non auditory seperti pengaruh terhadap komunikasi wicara, gangguan konsentrasi, gangguan tidur sampai memicu stress akibat gangguan pendengaran yang terjadi. (10) 2.5.6. Diagnosis Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising, jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara, berbicara dengan suara menggumam, biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas, dan sering timbul tinitus. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini, kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan; untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. (5, 8, 13) Pada pemeriksaan fisik, tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. Pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga, trauma telinga karena agen fisik lainnya, gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. Selain itu pemeriksaan saraf
(6)

pusat perlu dilakukan untuk

menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. 2.5.7. Penatalaksanaan Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapt dipergunakan alat pelindung telinga terhadap bising, seperti sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff) dan pelindung kepala (helmet). Oleh karena itu akibat bising adalah tuli sensorineural yang bersifat menetap, bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan berkomunikasi dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemsangan alat bantu dengar/ ABD (hearing aid). Apabila pendengaran sudah sedemikian buruk, sehingga dengan memakai ABD pun tidak dapat berkomunikasi denga adekuat perlu dilakukan psikoterapiagar dapat menerima keadaannya. 13

Latihan pendengaran (auditory training) agar dapat menggunakan sisa pendengara dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota badan, serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Di samping itu, oleh karena pasien mendengar suaranya sendiri sangat lemah, rehabilitasi suara juga diperlukan agar dapat mengendalikan volume, tinggi rendah dan irama percakapan. Pada pasien yang telah mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan untuk pemasangan implan koklea (cochlear implant).
(10)

2.5.8. Prognosis Tuli akibat terpapar bising adalah tuli sensorineural koklea yang sifatnya menetap, dan tidak dapat diobati dengan obat maupun pembedahan.
(9)

Penggunaan alat bantu dengar hanya

sedikit manfaatnya bagi pasien, bahkan alat tersebut hanya memberikan rangsangan vibrotaktil dan bukannya perbaikan diskriminasi bicara pada pasien tersebut. Untuk sebagian pasien dianjurkan pemakaian implan koklearis. Implan koklearis dirancang untuk pasien-pasien dengan tuli sensorineural. (10) 2.6. Sound Level Meter ( SLM ) SLM adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan, yang terdiri dari mikrofon, amplifier, sirkuit attenuator dan beberapa alat lainnya. Alat ini mengukur kebisingan antara 30 130 dB dan dari frekwensi 20 20.000 Hz. SLM dibuat berdasarkan standar ANSI ( American National Standard Institute ) tahun 1977 dan dilengkapi dengan alat pengukur 3 macam frekwensi yaitu A, B dan C yang menentukan secara kasar frekwensi bising tersebut. Jaringan frekwensi A mendekati frekwensi karakteristik respon telinga untuk suara rendah yang kira-kira dibawah 55 dB . Jaringan frekwensi B dimaksudkan mendekati reaksi telinga untuk batas antara 55 85 dB. Sedangkan jaringan frekwensi C berhubungan dengan reaksi telinga untuk batas diatas 85 dB. (13) 2.7. Audiometri Audiometri adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui level pendengaran seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometer, maka derajat ketajaman pendengaran seseorang dapat dinilai. (23)

14

Alat yang dikenal sebagai audiometer, dikembangkan pada awal 1920-an, mencontoh rangkaian oktaf dari skala C seperti pada garputala. Intensitas nada dapat dipertahankan pada tingkat tertentu, tidak seperti garputala dimana intensitas nada segera berkurang setelah dibunyikan. Nada dapat pula diinterupsi sesuai kehendak, atau intensitas dapat dilemahkan pada interval tertentu dengan hambatan elektris, dengan demikian intensitas bunyi dapat dihitung. Hanya tinggal menambahkan satuan intensitas, suatu notasi decibel dan kontunuitas intensitas, dan lahirlah suatu era modern audiometri nada murni. (11)

Simbol audiometer

Normal

Tuli konduksi

Tuli akibat bising Gambar 2.7 Audiogram

Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran pasien pada stimulus nada murni. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada di atas. Grafiknya terdiri atas skala desibel. Suara dipresentasikan dengan earphone (air conduction) dan skull vibrator (Bone conduction). Bila terjadi air bone gap maka diindikasikan adanya CHL (Conduction hearing Loss). Turunnya nilai 15

ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL (Sensorineural Hearing Loss). (24) Pada pemeriksaan audiometri, pasien menggunakan headphone sesuai dengan telinga yang diperiksa (warna merah untuk telinga kanan dan biru untuk telinga kiri). Pemeriksaan dimulai pada frekwensi 1000 Hz, selanjutnya 2000 Hz, 4000 Hz & 8000 Hz. Kemudian dilanjutkan pemeriksaan pada 1000Hz dan menurun (500 Hz, 250 Hz, 125 Hz). Pada masingmasing frekuensi pemeriksaan ambang dengar dimulai dengan intensitas diatas perkiraan ambang dengarnya, selanjutnya diturunkan sampai pasien tidak mendengar stimulus bunyinya (tidak menunjuk jari). Ambang dengar pasien adalah intensitas terkecil yang dapat didengar oleh pasien. (25) Pemeriksaan audiometri dilakukan pada ruangan kedap suara atau jika tidak ada dapat digunakan ruangan yang sunyi. (26)

BAB III KESIMPULAN

16

1. Bising dengan frekwensi dan intensitas tertentu dapat menyebabkan ketulian yang berupa tuli saraf dan sifatnya permanen.
2. Pemeriksaan fisik dan pengujian audiometrik mutlak dibutuhkan untuk setiap pekerja

yang dilakukan sebelum mulai bekerja dan secara berkala selama bekerja dengan tujuan untuk mencegah terjadinya gangguan pendengaran akibat bising terutama bising industri. 3. Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli saraf koklea yang sifatnya menetap dan tidak dapat diobati secara medikamentosa ataupun pembedahan, maka yang terpenting dilakukan adalah pencegahan terjadinya ketulian.

17

Lampiran Hasil survey di beberapa tempat

18

Daftar Pustaka

1. Departemen Kesehatan Republk Indonesia. 2004. Indonesia Termasuk 4 Negara Di Asia Tenggara Dengan Prevalensi Ketulian 4,6%. Available from:

http://www.depkes.go.id/index.php? option=news&task=viewarticle&sid=700&Itemid=. 2. Novianto. Ronny. 2007. Audiometri di JIH. Available from: http://www.rs-

jih.com/jatel/index.php?option=com_content&task=view&id=94&Itemid=85. 3. Sari. Halinda. 2002. Program Perlindungan Pendengaran Pekerja Terhadap Kebisingan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Universitas Sumatera Utara. 4. Smith, Andrew. Stansfeld, Stephen. 1986. Aircraft Noise Exposure, Noise Sensitivity, and Everyday Errors. Available from: sagejournalsonline. 5. Hong OS, Chen SP, Conrad KM, 1998. Noise induced hearing loss among male airport workers in Korea. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9526275? ordinalpos=1&itool=EntrezSystem2.PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed _DiscoveryPanel.Pubmed_Discovery_RA&linkpos=1&log$=relatedarticles&logdbfr om=pubmed. 6. http://staff.undip.ac.id/env/semesterganjil/files/2009/08/Kepmen-LH-No.48-Tahun-1996Baku-Tingkat-Kebisingan.pdf. diunduh 28 November 2011 7. Fox MS. Industrial Noise Exposures and Hearing Loss. Dalam Bailenger JJ. Eds. Diseases of Nose, Throat and Ear. Philadephia: Lea Fabiger, 1989;13:1062-82

19

8. Holmes G, Singh BR. Theodore L, Handbook of Environmental Management and Technology. John Wiley & Sons inc. New York, 1993:415-426 9. Soetirto, I.,Hendarmin, H., Bashiruddin, J., 2007. Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher Edisi VI. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 10. Bashiruddin, J., Soetirto, I., 2006. Gangguan Pendengaran Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan, editor Soepardi, E, et al. Edisi VI. Balai Penerbitan FKUI, Jakarta. 11. Adams L, Goerge dkk. 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC 12. Ganong WF. 1983. Fisiologi Kedokteran (Review of Medical Physiology) Edisi 10. Jakarta: EGC 13. Yunita Andrina. 2003. Gangguan Pendengaran Akibat Bising. Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Umum Universitas Sumatera Utara. 14. Guyton. dkk. 19 . Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC 15. Japardi Iskandar. 2003. Nervus Vestibulocochlearis . Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Umum Universitas Sumatera Utara. 16. Eroschenko. P. 2003. Atlas Histologi di Fiore Edisi 9. Jakarta: EGC 17. Sukardi. Elias. 1985. Neuroanatomi Medika. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia 18. Susanto, Arif. 2006. Kebisingan Serta Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Dan Lingkungan. Available from: http://hseclubindonesia.wordpress.com/2011/11/28/kebisingan-sertapengaruhnya-terhadap-kesehatan-dan-lingkungan/. 19. KepMenLH No.48 Tahun 1996 20. KepMenNaker No.51 Tahun 1999

20

21. Soetjipto Damayanti. 2007. Gangguan Pendengaran Akibat Bising /GPAB. Available from: http://www.utmb.edu/otoref/Grnds/Hear-Loss-Noise-000110/Hear-Loss-Noise.htm. 22. Harger MR, Barbosa-Branco A. 2004. Effects on hearing due to the occupational noise exposure of marble industry workers in the Federal District, Brazil. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez. 23. Arifiani, Novi. 2004. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja. Subdepartemen Kedokteran Okupasi, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. 24. Henny Kartika. 2007. Audiometri Dasar. Available from:

http://hennykartika.wordpress.com/2011/11/28/audiometri-dasar/. 25. Sub. Dep.THT Komunitas. 2008. Cara Pengukuran dengan Audiometri. Available from: http://www.thtkomunitas.org. 26. Priyo. Dwi. Dkk. 1985. Diagnosis Kekurangan Pendengaran. Bagian THT Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RS. Dr. Kariadi, Semarang.

21