Anda di halaman 1dari 12

KONSEP EKOHIDROLOGI

Nama NIM

: Arif Ardwiantoro : M0409009

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2011.

PENDAHULUAN
Ekohidrologi adalah suatu konsep baru di dalam pemecahan masalah lingkungan yang didasarkan usulan bahwa pengembangan sumberdaya air yang berdaya dukung bergantung pada kemampuan untuk memelihara secara evolusioner proses sirkulasi air dan energi serta aliran energi yang sudah mapan dalam lingkup basin. Hal ini tergantung pada suatu pemahaman yang mendalam atas proses-proses yang terjadi secara keseluruhan, yang mempunyai sifat dua dimensi (Arif,2010). Dimensi yang pertama bersifat sementara: memutar bingkai waktu masa lalu, kondisi paleohidrologis saat ini dengan mempertimbangkan masa mendatang, skenario perubahan global. Dimensi yang kedua adalah keruangan: pemahaman peran dinamis biota perairan dan daratan dalam skala molekuler hingga skala basin. Kedua dimensi tersebut bertindak sebagai suatu sistem acuan untuk peningkatan kemampuan sangga ekosistem terhadap pengaruh manusia dengan penggunaan kekayaan ekosistem sebagai piranti mana-jemen. Pada gilirannya nanti, tergantung pada pengembangan, penyebaran, dan pelaksanaan prinsip dan pengetahuan yang interdisipliner; berdasar pada kemajuan ilmu lingkungan terkini. Konsep ekohidrologi didasarkan pada tiga prinsip, yaitu:
1. Pengintegrasian kerangka pemikiran daerah tangkapan dan biotanya ke dalam

organisme super (superorganism) Platonian secara utuh. Hal ini mencakup beberapa aspek: (i) SKALA siklus peredaran air pada skala meso di dalam suatu basin (perpaduan ekosistem daratan/perairan) menyediakan suatu wadah bagi kuantifikasi proses ekologis; (ii) DINAMIKA air dan temperatur telah menjadi daya penggerak untuk ekosistem daratan dan air tawar; dan (iii) HIRARKI FAKTOR selagi proses abiotik dominan (misalnya proses hidrologis), interaksi faktor biotik bolehjadi menjelma kembali pada saat kondisi dalam keadaan stabil dan dapat diprediksi (Zalewski and Naiman, 1985).
2. Target untuk memahami perubahan evolusioner yang tidak bisa dipungkiri oleh

organisme super yang resisten terhadap tekanan. Aspek ekohidrologi ini menyatakan pendekatan proaktif secara rasional terhadap manajemen sumberdaya air tawar yang berkelanjutan. Ini berasumsi bahwa tidaklah cukup melindungi ekosistem secara sederhana, tetapi dalam menghadapi peningkatan perubahan global yang diwujudkan dalam peningkatan populasi, konsumsi energi dan materi, serta

aspirasi manusia; dibutuhkan usaha untuk meningkatkan kapasitas ekosistem dalam menyerap dampak yang diakibatkan oleh manusia.
3. Metodologi; Pemanfaatan kekayaan ekosistem sebagai piranti manajemen dengan

penggunaan biota untuk mengontrol proses hidrologis dan sebaliknya dengan penggunaan ilmu hidrologi untuk mengatur biota. Potensi besar dari pengetahuan yang dihasilkan oleh rancangbangun ekologis yang berkembang secara dinamis, secara serius akan mempercepat implementasi konsep di atas (Anwar,2008).

ISI
A. Ekohidrologi Perkotaan (rural ecohydrology) dalam mengatasi penyediaan air

bersih di Perkotaan. Teknologi ekohidrologi sebagai solusi berbiaya rendah yang tepat untuk mengatasi krisis air bersih, terutama di perkotaan. Tempat penampungan air ini berfungsi untuk mengatur kuantitas air sehingga warga kota tidak perlu mengalami kebanjiran saat musim hujan atau kelangkaan air saat musim kemarau. Tempat penampungan air ini juga dapat menjaga kualitas air yang tercemar polusi. Hal ini karena tempat penampungan air tersebut menerapkan sistem ekohidrologi, yaitu sistem pengolahan air hujan atau limbah menjadi air bersih secara alam i(Arif,2010). Idenya adalah menyediakan ruang bagi air hujan di perkotaan. Jadi, air hujan dapat mengalir ke dataran rendah dan membentuk danau buatan. Tidak hanya itu, saat musim kemarau, danau buatan ini dapat menjadi sumber air dan menjaga level air tanah. Seperti di Belanda, pemerintah membeli lahan dari petani dan membuka bendungan sehingga air sungai dapat mengalir dan dengan metode ekohidrologi dapat mengolah air tersebut menjadi air bersih secara alami (Arif,2010). Ecohydrology Programme (EHP) perlu mendapat perhatian serius karena program ini berfokus pada pengetahuan yang lebih baik tentang hubungan timbal balik antara siklus hidrologi dan ekosistem yang bisa memberikan kontribusi terhadap pengelolaan biaya yang efektif dan ramah lingkungan. Tujuan EHP adalah untuk mengurai kesenjangan pengetahuan dalam penanganan masalah yang berkaitan dengan sistem air kritis (Arif,2010). LIPI membuat unit pengolahan air bersih dan layak minum dengan sistem water purification (pemurnian air) sehingga dapat menghasilkan air sesuai dengan kualitas yang

memenuhi standar Per-menkes N0.907 /2OO2 . Proses pemurnian dilanjutkan dengan ultrafiltrasi (UFI serta proses filtrasi reverse os-mosis (RO) guna menjamin tingkat kemurnian air yang lebih baik lagi (Arif,2010).
B. Fito teknologi untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan perkotaan.

Penyelesaian masalah pencemaran terdiri dari langkah pencegahan dan pengendalian. Langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat. Di lingkungan yang terdekat, misalnya dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, menggunakan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle) (Anwar,2008). Di bidang industri misalnya dengan mengurangi jumlah air yang dipakai, mengurangi jumlah limbah, dan mengurangi keberadaan zat kimia PBT (Persistent, Bioaccumulative, and Toxic), dan berangsur-angsur menggantinya dengan Green Chemistry. Green chemistry merupakan segala produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan zat berbahaya (Anwar,2008). Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan mengganti alat-alat rumah tangga, atau bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Pencegahan dapat pula dilakukan dengan kegiatan konservasi, penggunaan energi alternatif, penggunaan alat transportasi alternatif, dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) (Anwar,2008). Langkah pengendalian sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Pengendalian dapat berupa pembuatan standar baku mutu lingkungan, monitoring lingkungan dan penggunaan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan. Untuk permasalahan global seperti perubahan iklim, penipisan lapisan ozon, dan pemanasan global diperlukan kerjasama semua pihak antara satu negara dengan negara lain (Anwar,2008). Berdasarkan hasil pengalaman dari berbagai kegiatan studi dan pengamatan berbagai pilot plant , serta pengalaman dalam melakukan rekomendasi teknis teknologi PPA yang berupa IPAL, maka disimpulkan beberapa hal diantaranya: Berbagai upaya PPA telah dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan melalui pendekatan kelembagaan, hukum dan khusus Pusat Litbang SDA melalui pendekatan teknologi,Prinsip dasar pengendalian pencemaran air adalah melakukan reduksi kadar atau beban pencemaran sampai dengan tingkat baku mutu limbah cair (effluent standard) yang ditetapkan, atau diversifikasi kegiatan dengan

menggunakan peralatan yang menghasilkan limbah cair

sedikit, ataupun menggunakan

sistem industri bersih, mengurangi perluasan atau peningkatan sistem produksi industri, revitalisasi infrastruktur pengendalian pencemaran air yang telah ada, pengetatan sistem perizinan pembuangan limbah, Dalam rangka memenuhi baku mutu air (stream standard) dari sungai sebagai badan air penampung, perlu memperhatikan daya tampung beban pencemarannya pada ruas sungai tersebut dengan menyesuaikan titik pembuangan yang mempunyai kemampuan self purification yang tinggi atau relokasi titik buang sumber pencemarannya ataupun sumber pencemarnya terkait dengan sistem perijinan yang berlaku, Untuk menunjang pelaksanaan pengendalian pencemaran, perlu dilakukan penegakan hukum yang lebih tegas, peningkatan upaya konservasi kawasan, review penataan ruang kawasan ataupun peruntukan lokasi, dan sosial isasi program serta sistem pengawasannya,Balai Lingkungan Keairan merasa perlu melakukan pemutahiran kembali Buku Teknologi Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Air dengan menambahkan berbagai perbaikan sistem untuk beberapa teknologi proses pengolahan air limbah serta melengkapi dengan sistem PPA Ekoteknologi yang diharapkan merupakan teknologi PPA alternatif dengan biaya OP yang murah (Anwar,2008).

C. peningkatan kemampuan retensi air terkait lingkungannya banjir dan

kekeringan didaerah pasang surut air. Banjir adalah tergenangnya lahan pertanian selama periode genangan dengan kedalaman tertentu, sehingga menurunkan produksi pertanian. Sedangkan kekeringan adalah tidak terpenuhinya kebutuhan air mendukung proses produksi pertanian secara optimal, sehingga menurunkan produksi pertanian (Diwyanto,2009). Secara faktual faktor determinan penyebab banjir dan kekeringan adalah kondisi iklim ekstrim, terganggunya keseimbangan hidrologis, dan penggunaan lahan yang tidak sesuai peruntukannya. Besaran banjir dan kekeringan sangat ditentukan jumlah, intensitas faktor penyebab serta durasi terjadinya (Diwyanto,2009). Penyimpangan iklim akibat ENSO, IOD dan MJO menyebabkan produksi uap air dan awan di sebagian Indonesia bervariasi dari ekstrimitas tinggi ke rendah atau sebaliknya, sehingga menyebabkan penyimpangan iklim terhadap kondisi normalnya. Interaksi ketiga faktor tersebut sangat menentukan besaran faktor klimatologis yang terjadi (Diwyanto,2009).

Kekeringan dan banjir juga dipengaruhi faktor hidrologis yang diindikasikan dari perbedaan debit sungai maksimum dan minimum. Kerusakan hidrologis umumnya terjadi akibat degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) terutama bagian hulu yang lerengnya terjal dan mengalami alih fungsi lahan dari bervegetasi menjadi non vegetasi yang tidak meloloskan air (impermeable). Menurut data Departemen Kehutanan, dari 470 DAS di Indonesia, 62 DAS diantaranya kritis, sehingga seringkali mengalami banjir dan kekeringan. Sesuai dengan kesepakatan tiga menteri (Menteri PU, Kehutanan, dan Pertanian) tanggal 9 Mei 2007 di Bogor, maka dalam rangka penyelamatan sumber daya air, DAS-DAS kritis tersebut menjadi prioritas penanganan antar sektor (DAS kritis prioritas terlampir). Produksi sedimen yang tinggi akan mendangkalkan waduk, sungai dan saluran, sehingga menurunkan kinerja layanan irigasi. Laju kerusakan yang jauh lebih tinggi dibandingkan rehabilitasinya, menyebabkan masalah banjir dan kekeringan di wilayah hilir semakin besar (Diwyanto,2009). Secara sistematis langkah penanganan pengelolaan banjir dan kekeringan memuat dua strategi yaitu strategi umum dan dan strategi khusus. 1. Strategi Umum Masing masing daerah menyusun pola tanam yang lebih ditail berdasarkan masukan seluruh pemangku kepentingan dengan memperhitungkan prakiraan iklim, keandalan debit, jenis komoditas yang diusahakan, dan aspek lainnya. Selanjutnya pola tanam tersebut dievaluasi secara reguler 2 (dua) mingguan agar dapat disesuaikan network planningnya dan diketahui periode kritisnya. Untuk itu diperlukan data dan informasi peramalan iklim yang semakin akurat, penyuluh yang giat di lapangan, penyusunan pola tanam dan jenis komoditas yang ketat serta perilaku petani yang taat terhadap kesepakatan yang telah dibuat bersama, contoh network diagram planning optimalisasi lahan sawah teknis pada Lampiran (Diwyanto,2009). 2. Strategi Khusus Masing masing wilayah banjir dan atau kekeringan, kelompok tani/P3A beserta petugas Dinas pertanian dan Dinas Pengairan setempat harus melakukan work through di wilayah kerja masing masing sebelum tanam untuk melakukan pengecekan kembali kesiapan saluran dalam mendukung pelaksanaan pola tanam (Diwyanto,2009).

Membangun jaringan tingkat usaha tani dan atau jaringan tata air mikro di setiap lokasi untuk perbaiki efisiensi ketersediaan air. Untuk daerah yang mengalami banjir dan kekeringan introduksi tanaman yang tahan genangan dan atau kekurangan air perlu dilakukan sambil menunggu perbaikan DAS hulu dan perbaikan infrastruktur penanggulangan banjir dan kekeringan (Diwyanto,2009). Ditail langkah penanganan banjir dan kekeringan dapat dilakukan berdasarkan menu pilihan yang tersedia dengan menyesuaikan kondisi dan permasalahan yang dihadapi setempat. Pilihan menu jangka pendek, menengah dan panjang disajikan sebagai berikut: Jangka pendek 1) Klimatologis Peningkatan 2)Hidrologis Mencari sumber air alternatif atau membuat sumur, Rehabilitasi dan pemeliharaan Jaringan irigasi dan drainasePengembangan bangunan konservasi air, Pengembangan irigasi partisipatif;, Pemanfaatan pompa air, (pompanisasi) dengan energi angin, Pengembangan usahatani konservasi, reklamasi dan optimasi lahan. 3) Agronomis Pengaturan dan pengawalan pola tanam yang baik dengan jadual tanam yang ketat dan pemilihan komoditas yang tepat Khusus untuk kekeringan dapat memanfaatkan rawa lebak (terlampir peta potensi rawa lebak) Pengembangan SRI/PTT/varietas padi hemat air di lahan sawah untuk efisiensi penggunaan air. 4) Kelembagaan Peningkatan kemampuan dan kemandirian P3A/kelompok tani Pengembangan Sekolah Lapang (SL) pertanian yang merupakan integrasi SL iklim, SL pengendalian hama terpadu dan SL hemat air Sosialisasi, penyuluhan, diseminasi informasi dan teknologi Peningkatan kinerja posko & pokja iklim (pusat & daerah) Jangka Menengah 1) Klimatologis Meningkatkan kemampuan pengamatan perubahan iklim, Mengoptimalkan sosialisasi/desiminasi hasil prakiraan iklim, Evaluasi dan pembaharuan (up dating) peta,m wilayah rawan banjir dan kekeringan 2) Hidrologis kemampuan prakiraan iklim dan pengamatan perubahan iklim, Sosialisasi/diseminasi hasil prakiraan iklim, Pemetaan wilayah rawan banjir dan kekeringan.

Membangun jaringan drainase dan irigasi,Rehabilitasi dan pemeliharaan jaringan, drainase/irigasi, Pengembangan irigasi partisipatif;, Pengembangan bangunan konservasi air, Pengembangan pompanisasi, Konservasi das hulu, Pengembangan usahatani konservasi, Pengembangan reklamasi dan optimasi lahan, Gerakan nasional kemitraan penyelamatan air (gnkpa) Gerakan gemar menanam. 3) Agronomis Pengaturan dan pengawalan pola tanam yang baik dengan jadual tanam yang ketat serta pemilihan komoditas yang tepatKhusus untuk kekeringan dapat memanfaatkan rawa lebak dan pengembangan sri/ptt/varietas padi hemat air di lahan sawah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. 4) Kelembagaan Peningkatan kemampuan dan kemandirian P3A/kelompok tani, Pengembangan sekolah lapang (SL) pertanian yang merupakan integrasi SL iklim, SL pengendalian hama terpadu dan SL hemat air. Sosialisasi, penyuluhan, diseminasi informasi dan teknologi pengelolaan air. Pelatihan petugas lapangan lanjutan. Jangka Panjang 1) Klimatologis Meningkatkan kemampuan pengamatan perubahan iklim.,Pemanfaatan dana mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,Pembaharuan (up dating) database spasial dan analisa spasial peta, wilayah rawan banjir dan kekeringan, Sosialisasi/desiminasi hasil prakiraan iklim. 2) Hidrologis Pembangunan dan pemeliharaan jaringan drainase, Pembuangan kelebihan air melalui pompanisasi, Pengembangan bangunan konservasi air, Pengembangan irigasi partisipatif Konservasi das hulu, Pengembangan usahatani konservasi, Pengembangan reklamasi dan optimasi lahan, Gerakan nasional kemitraan penyelamatan air (GNKPA), Gerakan gemar menanam 3) Agronomis Pengaturan dan pengawalan pola tanam yang baik dengan jadual tanam yang ketat dan pemilihan komoditas yang tepat Khusus untuk kekeringan dapat memanfaatkan rawa lebak dan pengembangan sri/ptt/varietas padi hemat air di lahan sawah untuk efisiensi penggunaan air. 4) Kelembagaan

Peningkatan kemampuan dan kemandirian P3A/kelompok tani, Pengembangan sekolah lapang (SL) pertanian yang merupakan integrasi SL iklim, SL pengendalian hama terpadu dan SL hemat air, Sosialisasi, penyuluhan, diseminasi informasi dan teknologi pengelolaan air, Pelatihan petugas lapangan (Diwyanto,2009). D. Pengembangan daerah Riparian di badan sungai. Penyangga riparian berfungsi untuk menjaga kelestarian fungsi sungai dengan cara menahan atau menangkap tanah (lumpur) yang tererosi serta unsur-unsur hara dan bahan kimia termasuk pestisida yang terbawa., dari lahan di bagian kiri dan kanan sungai agar tidak sampai masuk ke sunPenyangga riparian juga menstabilkan tebing sungai. Pohonan yang ditanam di sepanjang sungai juga lebih mendinginkan air sungai yang menciptakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan berbagai jenis binatang air (Gunawan,2007). Menetapkan adanya garis sempadan sungai yang tujuannya adalah: (1) agar fungsi sungai termasuk danau dan waduk tidak terganggu oleh aktivitas yang berkembang di sekitarnya, (2) agar kegiatan pemanfaatan dan upaya peningkatan nilai manfaat sumber daya yang ada di sungai dapat memberikan hasil secara optimal sekaligus menjaga fungsi sungai, dan (3) agar daya rusak air terhadap sungai dan lingkungannya dapat dibatasi (Kepmen Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/1993, Pasal 3). Pada prinsipnya tujuan garis sempadan sungai sama dengan tujuan riparian. Adalah sangat sejalan jika garis sempadan sungai tersebut ditanami berbagai jenis vegetasi sehingga benar-benar menjadi jalur hijau (Gunawan,2007). Di berbagai negara bagian Amerika Serikat lebar strip riparian untuk Sungai Kelas I (sungai yang digunakan untuk air minum dan banyak ikan) lebar penyangga riparian adalah sekitar 75 kaki (24,6 m dibulatkan 25 meter) dengan kisaran antara 66 100 kaki, sedangkan untuk Sungai Kelas II (tidak untuk air minum dan tidak cukup banyak ikan) lebarnya adalah 5 kaki (1,6 m). Secara ideal, untuk sungai kelas I, strip riparian terdiri atas 4 sampai 5 baris pohonan ditanam berdekatan dan sejajar dengan sungai, kemudian satu atau dua baris semaksemak, dan selebar 20 24 kaki (6,5 8 m) rumput asli (Gunawan,2007).

E. Pengelolaan Danau Berbasis Ekohidrologi : Studi Kasus di Danau Limboto Danau Limboto yang terletak di Propinsi Gorontalo merupakan salah satu danau yang dianggap kritis di Indonesia disebabkan oleh masalah sedimentasi. Saat ini luas danau tinggal kurang dari 3000 ha dengan kedalaman rata-rata 2,5 m (Balitbangpedalda Gorontalo, 2006).

Laju sedimentasi yang mencapai 39.864,60 ton/tahun terkait dengan luas daerah tangkapan air danau yang mencapai 91.004 ha (BP DAS Bone-Bolango, 2004) serta 23 sungai yang mengalir masuk ke dalam danau. Sedimentasi dipacu oleh karakteristik curah hujan tinggi, struktur tanah muda serta kerusakan tata guna lahan di kawasan hulu danau (BP DAS BoneBolango, 2004). Dampak lanjutan dari permasalahan tersebut adalah terjadinya kerusakan habitat perairan danau yang mengakibatkan menurunnya keragaman hayati dan produktivitas perikanan. Saat ini seluruh komunitas tumbuhan tenggelam di D. Limboto telah menghilang, sementara setidaknya satu jenis ikan juga telah dilaporkan punah. Upaya penyelamatan lingkungan perairan danau perlu dilakukan, mencakup upaya pengendalian laju sedimentasi serta perbaikan lingkungan perairan danau sebagai sumber daya habitat berbagai biota perairan (Hidayatullah,2005). Perlu dilakukan upaya pemulihan kerusakan lingkungan perairan D. Limboto, khususnya masalah pendangkalan dan penyusutan luas genangan air danau yang berdampak luas terhadap ekosistem perairan danau secara keseluruhan. Beberapa alternatif upaya yang direkomendasikan adalah sebagai berikut: 1. Rehabilitasi daerah tangkap air D. Limboto; 2. Penetapan batas danau dan kawasan sempadan danau; 3. Pembangunan pintu air keluaran D. Limboto yang ramah lingkungan; 4. Pembangunan cek dam pengendali sedimentasi;
5. Pengembangan kawasan lahan basah buatan di sekitar aliran air masuk danau

(Hidayatullah,2005). Untuk optimasi pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya perairan D. Limboto juga perlu dikembangkan teknik-teknik manipulasi lingkungan yang dapat secara langsung diaplikasikan di lingkungan perairan danau tersebut, seperti perpanjangan garis pantai dan pengelolaan tumbuhan air untuk rumpon ikan (bibilo), namun implementasinya harus memperhatikan azas kehati-hatian secara ekologis. Pengembangan sistem informasi serta kegiatan monitoring dan evaluasi lingkungan perairan D. Limboto perlu dilakukan sebagai landasan penting dari upaya pengelolaan perairan danau secara berkelanjutan (Hidayatullah,2005).

PENUTUP
1. Ekohidrologi adalah suatu konsep baru di dalam pemecahan masalah lingkungan

yang didasarkan usulan bahwa pengembangan sumberdaya air yang berdaya dukung bergantung pada kemampuan untuk memelihara secara evolusioner proses sirkulasi air dan energi serta aliran energi yang sudah mapan dalam lingkup basin. 2. Konsep ekohidrologi didasarkan pada tiga prinsip, yaitu:
Pengintegrasian kerangka pemikiran daerah tangkapan dan biotanya ke dalam

organisme super (superorganism) Platonian secara utuh. Target untuk memahami perubahan evolusioner yang tidak bisa dipungkiri oleh organisme super yang resisten terhadap tekanan. Aspek ekohidrologi ini menyatakan pendekatan proaktif secara rasional terhadap manajemen sumberdaya air tawar yang berkelanjutan. Metodologi; Pemanfaatan kekayaan ekosistem sebagai piranti manajemen dengan penggunaan biota untuk mengontrol proses hidrologis dan sebaliknya dengan penggunaan ilmu hidrologi untuk mengatur biota.
3. Penerapan Ekohidrologi dalam mengatasi permasalahan global antara lain: Ekohidrologi Perkotaan (rural ecohydrology) dalam mengatasi penyediaan air

bersih di Perkotaan
Fito teknologi untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan diperkotaan. peningkatan kemampuan retensi air terkait lingkungannya banjir dan

kekeringan didaerah pasang surut air. Pengembangan daerah Riparian di badan sungai.
Pengelolaan Danau Berbasis Ekohidrologi : Studi Kasus di Danau Limboto

DAFTAR PUSTAKA

Anwar.2008. Fito teknologi untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan perkotaan .Jurnal Pencemaran Lingkungan. ISSBN. 138-146(4). Arif. A.A,2010. Ekohidrologi Perkotaan (rural ecohydrology) dalam mengatasi penyediaan air bersih di Perkotaan. Limnologi Perkotaan. Pustaka Jaya : Surabaya. Diwyanto,Kusuma dan Atien Priyanti. 2009. Pengelolaan Danau Berbasis Ekohidrologi : Studi Kasus di Danau Limboto. Pengembangan Inovasi Ekohidrologi 2(3), 2009: 208-228. Gunawan,2007. Pengembangan daerah Riparian di badan sungai dengan pengembangan konsep EkoHidrologi: ITB Press: Bandung. Hidayatullah, Gunawan, Kooswardhono Mudikdjo, dan Erliza, N. 2005. peningkatan kemampuan retensi air terkait lingkungannya banjir dan kekeringan didaerah pasang surut air.. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Perairan. Vol. 8, No.1, Maret 2005 : 124-136.