Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN DISKUSI DASAR MANAJEMEN: PERENCANAAN PROGRAM GIZI

Oleh, Kelompok 3 A Cahya Ayu Agustin (0906633975) Dewi Lestari Eka Setyani (0906634006) (0806340555)

Mison Maryanto R. (0906492915) Mutia Anggun S. Tiyani Rahmawati Yasashi I Evelyn (0906634233) (0906634422) (0906634441)

Tutor: Trini Sudiarti. Ir, M.Si Penanggung Jawab: Asih Setiarini, Ir, MSc

PROGRAM STUDI GIZI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK, 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang dalam kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Dalam makalah ini kami membahas skenario mengenai kabupaten Ara pada masalah status gizi penduduk pada kabupaten tersebut. Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman Dasar Manajemen yang lebih difokuskan pada Perencanaan Program Gizi dan meningkatkan kemampuan dalam menangani masalah gizi yang ada di masyarakat. Dalam proses pendalaman materi Dasar Manajemen (Perencanaan Program Gizi) ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran. Oleh karena itu, rasa terima kasih kami sampaikan kepada: y Ir. Asih Setiarini M.Sc, selaku dosen pengajar/penanggung jawab modul Dasar Manajemen (Perencanaan Program Gizi); y Ir. Trini Sudiarti, M.Si, selaku dosen pembimbing tutorial Dasar Manajemen (Perencanaan Program Gizi); y Rekan-rekan mahasiwa yang telah banyak memberikan masukan untuk makalah ini. y Orang tua kami atas dukungan materi dan moril yang diberikan kepada kami serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Depok, 22 September 2011

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengatar .................................................................................................. Daftar Isi ......................................................................................................... 1. Tujuan Pembelajaran .............................................................................. 2. Skenario ................................................................................................. 3. Identifikasi Masalah ............................................................................... 3.1. Data Subjektif .............................................................................. 3.2. Data Objektif ................................................................................ 3.3. Penentuan masalah ....................................................................... 4. Prioritas Masalah ................................................................................... 4.1. Metode Delbecg ........................................................................... 4.2. Metode Hanlon ............................................................................. 5. Pohon Masalah....................................................................................... 6. Tujuan Dan Seleksi Model Intervensi ..................................................... 6.1. Pohon Tujuan ............................................................................... 6.2. Penentuan Tujuan ......................................................................... 6.3. Alternatif Intervensi ..................................................................... 6.4. Seleksi Intervensi ......................................................................... 7. Project Planning Matrix (PPM)/Logical Framework (Logframe) ............ Daftar Pustaka .................................................................................................

1. Tujuan Pembelajaran 2. Skenario Kabupaten Ara Kabupaten Ara terdiri dari 15 kecamatan dan 196 desa, dengan lokasi wilayah memanjang dari utara ke selatan 180 km dan barat ke timur 90 km. Jalan utama adalah aspal dan jalan menuju desa-desa sebagian besar kerikil. Jumlah penduduk sekitar 185.000 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga 35.000 dan 15% jumlah penduduk adalah balita. Pengadaan pangan Keadaan geografi kabupaten terdiri dari daerah pegunungan dan pantai. Keadaan tanah sebagian tidak subur, sehingga banyak keluarga yang memenuhi kebutuhan pangannya dengan membeli. Tanaman yang tumbuh adalah padi, singkong, dan jagung. Beberapa buah seperti jambu monyet dan jeruk juga tumbuh tetapi untuk dijual ke luar daerah. Ikan dikonsumsi setiap hari dalam jumlah yang sangat sedikit terutama di daerah pegunungan. Mencari ikan adalah kegiatan penting selama musim hujan dan kemarau. Daging, telur, dan susu sangat jarang tersedia. Kacang-kacangan dan sayuran seringkali sulit untuk didapatkan, terutama pada musim kemarau. Pisang tersedia sepanjang tahun, padi merupakan makanan pokok yang sangat populer, tetapi pada musim kemarau harganya cenderung mahal dan kemudian diganti dengan jagung dan singkong. Iklim Musim hujan sangat pendek dan jumlah hari hujan dalam satu tahun kirakira hanya 90 hari, curah hujan per tahun sekitar 500-1500 mm per tahun. Sumber air Pada umumnya masyarakat memperoleh air dari sumur, yang biasanya melakukan pekerjaan ini adalah perempuan. Sanitasi Di daerah pantai, sampah biasanya dibuang di laut dan juga mereka punya kebiasaan buang air besar di laut. Menurut mereka air laut terlalu asin untuk mandi, sehingga mereka mandi dan mencuci menggunakan air dari sumur. Sementara itu di daerah pegunungan, mereka mendapatkan air dari mata air atau sungai dan buang air besar juga di sungai.

Kesehatan Perempuan Masalah kesehatan umumnya adalah lemah, pusing, batuk kronik, dan infeksi. 55% perempuan hamil menderita anemia. Ditemukan di hampir setiap kecamatan ibu yang meninggal karena melahirkan dan nifas sebanyak 2 orang tiap tahun. Pada ibu hamil kenaikan berat badan selama kehamilan hanya 6-8 kg. Anak-anak Masalah kesehatan umumnya adalah infeksi kulit, batuk, dan diare. Survei terhadap status gizi anak balita menunjukkan hasil 36% gizi kurang dan 12% gizi buruk. Angka kematian juga relatif tinggi, pada saat lahir 27%, 8-28 hari 20%, 111 bulan 29% dan 1-5 tahun 19%. Xeropthalmia juga merupakan problem di daerah ini. Kebiasaan makan Menyusui dalam waktu yang sangat lama sangat umum. Sekitar 95% bayi yang berusia kurang dari 1 tahun menyusui. Kira-kira 60% dari kelompok umur 19-24 bulan masih menyusui. Makanan tambahan berupa nasi halus atau pisang diberikan pada bayi berumur 1 bulan. Dari umur 1 tahun balita sudah diberikan seperti makanan orang dewasa. Pada umumnya mereka makan 2 kali sehari. Pada pagi hari mereka biasa mengonsumsi makanan sisa kemarin atau singkong. 50% penduduk tidak sarapan. Ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusui juga tidak banyak mengonsumsi makanan, rata-rata mereka mengonsumsi 1400-1700 kkal dan 45-50 gram protein. Ibu-ibu mempunyai pantangan makan ikan selama hamil atau menyusui. Pelayanan, organisasi sosial, dan tenaga kerja Di setiap desa tersedia sekolah dasar, namun demikian buta aksara masih tinggi, kira-kira 15% laki-laki dan 35% perempuan tidak pernah sekolah. Puskesmas tersedia di setiap kecamatan dan ada satu rumah sakit di ibukota kabupaten. Tidak semua desa mempunyai bidan di desa (BDD), hanya 50% desa yang memiliki BDD. Bagi desa yang tidak ada BDD akan dirangkap oleh bidan Puskesmas atau BDD terdekat. Posyandu tersedia di setiap desa, jumlah kader 3-5 orang/ posyandu. Dukun bayi masih terdapat di setiap desa dan umumnya mereka membantu persalinan. Masyarakat pada umumnya enggan

untuk berobat ke pelayanan kesehatan dan vaksinasi sebab mereka takut kalau panas. Sebagian besar aki-laki bekerja di sektor pertanian dan hampir semua dari mereka mempunyai tanah sendiri. Aktivitas lain yang penting adalah mencari ikan dan membuat garam pada musim kemarau. Beberapa pemuda pergi ke ibukota provinsi untuk mencari kerja. Sementara perempuan menyelesaikan tugasnya di rumah di samping itu mereka juga membantu di ladang untuk menanam, menyiangi, memanen, dan menggembala ternak.

3. Identifikasi Masalah 3.1. Data Subjektif y Kabupaten Ara terdiri dari 15 kecamatan dan 196 desa dengan lokasi wilayah yang memanjang dari utara ke selatan 210 km dan barat ke timur 89 km y Jalan utama berupa aspal dan jalan menuju desa-desa sebagian besar kerikil y y y y y Keadaan geografi pantai terdiri dari daerah pegunungan dan pantai Keadaan tanah sebagian tidak subur Banyak keluarga yang memenuhi kebutuhan pangan dengan membeli Produk lokal yang dijual ke luar daerah berupa jambu monyet dan jeruk Produk protein hewani sangat jarang tersedia dan kacang serta sayur sulit didapatkan, kecuali pisang yang tersedia setiap tahun y y Tanaman yang tumbuh adalah padi, jagung, singkong Padi harganya mahal pada musim kemarau sehingga diganti jagung dan singkong y Umumnya masyarakat mendapat air dari sumur yang biasanya dilakukan oleh wanita y y y y y Kebiasaan membuang air besar di laut dan sungai Kebiasaan membuang sampah di laut Masalah kesehatan umum pada anak adalah infeksi kulit, batuk, diare Menyusui dalam waktu lama Makanan tambahan berupa nasi halus atau pisang untuk bayi 1 bulan

Kebiasaan makanan 2 kali sehari, sarapan dengan makanan sisa kemarin atau singkong

y y y y y y y

Kebiasaan tidak sarapan 50% Konsumsi makanan ibu menyusui dan ibu hamil tidak adekuat Memiliki pantangan makan ikan selama hamil dan menyusui Dukun masih banyak dan membantu persalinan Masyarakat engggan berobat ke pelayanan kesehatan Masyarakat enggan vaksinasi karena takut panas Perempuan menyelesaikan tugas di rumah dan membantu di ladang untuk menanam, menyiangi, memanen dan menggembala ternak

3.2. Data Objektif y y y Dari 185.00 jiwa , 15% adalah balita Sebanyak 55% perempuan hamil menderita anemia Ibu yang meninggal karena melahirkan dan nifas sebanyak 2 orang per tahun y y y y y y y y y y Kenaikan BB selama hamil 6-8 kg Sebanyak 36% balita mengalami gizi kurang Sebanyak 12% balita mengalami gizi buruk Mortalitas saat lahir sebanyak 27% Mortalitas saat neonatal (8-28 hari) sebanyak 20% Mortalitas saat postnatal (1-11 bulan) sebanyak 29% Mortalitas usia balita (1-5 tahun) sebanyak 19% Bayi (< 1 tahun) menyusui sebanyak 95% Balita usia 19-24 bulan menyusui sebanyak 60% Konsumsi energi rata-rata ibu hamil dan ibu menyusui sebanyak 14001700 kkal dan konsumsi protein sebanyak 40-50 gr protein y y y Kasus buta aksara 15% laki-laki dan 35% perempuan Hanya 50% desa yang memiliki BDD Jumlah kader hanya 3-5 orang per posyandu

3.3. Penentuan masalah 1. Kondisi jalan di desa kurang baik

2. Jumlah dan jenis pangan terbatas 3. Musim kemarau yang lebih lama 4. Kebiasaan yang kurang baik dalam memelihara hygiene dan sanitasi 5. Status kesehatan wanita kurang baik 6. Status gizi dan kesehatan anak kurang baik 7. Pemberian MP-ASI terlalu dini 8. Asupan gizi bumil dan busui yang kurang 9. Pola makan masyarakat yang kurang baik 10. Kurangnya tenaga kerja kebidanan dan kader 11. Keengganan masyarakat berobat ke pelayanan kesehatan 12. Masyarakat percaya mitos 13. Keadaan tanah sebagian tidak subur 14. Kasus buta aksara tinggi 15. Ketidakseimbangan asupan energi dengan aktivitas fisik yang negative\

4. Prioritas Masalah 4.1. Metode Delbecg Kriteria 1 2 3 4 5 6 7 8 9 = Ada kecenderungan untuk meningkat. = Ada kecenderungan untuk berulang kembali. = Menyerang balita. = Menimbulkan akibat cacat. = Menurunkan produktivitas. = Mengenai daerah luas dan memiliki kecenderungan menyebar. = Menyebabkan penderitaan yang lama. = Menyebabkan penderitaan yang lama dan mengenai daerah luas. = Ada kecenderungan untuk sulit diatasi.

10 = Menimbulkan kematian.
Anggota Masalah 1 2 A B 3 5 4 5 5 5 6 6 8 7 3 8 Total Skor 18 56 Prioritas Masalah 15 1

7 7 10 10

C D E F G H I J K L M N O

7 5 5 8 3 5

8 3 5

9 3 5

5 9 10 3 2 8 5 6 7 9 5 7 5

9 4 3 7 7 7 8

7 9 6 9 7 9 5

50 41 47 54 34 43 42 46 47 38 39 45 36

3 10 4 2 14 8 9 6 5 12 11 7 13

7 8 10 10 5 7 4 7 5 5 8 5 3 4 9 8 3 4 5 8

10 6 8 9 5 5 5 7 5 6 7 6

10 10 9 5 5 5 6 8 9 5

5 5 5 7 5 5

Berdasarkan penialaian masing-masing anggota maka diperoleh hasil dari penentuan prioritas masalah yaitu sebagai berikut: Prioritas 1 : Jumlah dan jenis pangan terbatas Prioritas 2: Status gizi dan kesehatan anak kurang baik Prioritas 3 : Musim kemarau yang lama Prioritas 4 : Status kesehatan wanita yang kurang baik Prioritas 5 : Keengganan berobat ke pelayanan kesehatan

4.2. Metode Hanlon Metode ini memiliki tiga tujuan utama: 1. Memungkinkan para pengambil keputusan untuk mengidentifikasi faktorfaktor eksplisit yang harus diperhatikan dalam menentukan prioritas. 2. Untuk mengorganisasi faktor-faktor ke dalam kelompok yang memiliki bobot relatif satu sama lain. 3. Memungkinkan faktor-faktor agar kebutuhan dan dinilai secara individual. 1. Kelompok Kriteria A Komponen ini adalah salah satu yang faktornya memiliki angka yang kecil. Pilihan biasanya terbatas pada persentase dari populasi yang secara dapat dimodifikasi sesuai dengan

langsung terkena dampak dari masalah tersebut, yakni insiden, prevalensi, atau tingkat kematian dan angka. Ukuran/besarnya masalah juga dapat dipertimbangkan dari lebih dari satu cara. Baik keseluruhan populasi penduduk maupun populasi yang

berpotensi/berisiko dapat menjadi pertimbangan. Selain itu, penyakit penyakit dengan faktor risiko pada umumnya, yang mengarah pada solusi bersama/yang sama dapat dipertimbangkan secara bersama-sama. Misalnya, jika kanker yang berhubungan dengan tembakau dijadikan pertimbangan, maka kanker paru-paru, kerongkongan, dan kanker mulut dapat dianggap sebagai satu. Jika akan dibuat lebih banyak penyakit yang juga dipertimbangkan, penyakit cardiovascular mungkin juga dapat dipertimbangkan. Nilai maksimal dari komponen ini adalah 10. Keputusan untuk menentukan berapa ukuran/besarnya masalah biasanya merupakan konsensus kelompok.
Nilai 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 % Penduduk yang Terkena 91 - 100% 81 - 90% 71 - 80% 61 - 70% 51 - 60% 41 - 50% 31 - 40% 21 - 30% 11 - 20% 10 %

Masalah Gizi Kurang Gizi Buruk Tidak sarapan Kader kurang Buta Aksara

% Penduduk yang Terkena 36% 12% 50% 0,53% 24%

Masalah Gizi Kurang Gizi Buruk Tidak sarapan Kader kurang Buta Aksara

% Penduduk yang Terkena 4 2 5 1 3

Kelompok Kriteria B Kelompok harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin dan menentukan tingkat keseriusan dari masalah. Sekalipun demikian, angka dari faktor yang harus dijaga agar tetap pada nilai yang pantas. Kelompok harus berhati-hati untuk tidak membawa masalah ukuran atau dapat dicegahnya suatu masalah ke dalam diskusi, karena kedua hal tersebut sesuai untuk dipersamakan di tempat yang lain. Maksimum skor pada komponen ini adalah 20. Faktor-faktor harus dipertimbangkan bobotnya dan ditetapkan secara hati-hati. Dengan menggunakan nomor ini (20), keseriusan dianggap dua kali lebih pentingnya dengan ukuran/besarnya masalah. Faktor yang dapat digunakan adalah: 1. Urgensi: sifat alami dari kedaruratan masalah; tren insidensi, tingkat kematian, atau faktor risiko; kepentingan relatif terhadap masayarakat; akses terkini kepada pelayanan yang diperlukan. 2. Tingkat keganasan: tingkat daya tahan hidup, rata-rata usia kematian, kecacatan/disabilitas, angka kematian prematur relatif. 3. Kecenderungan gawat: untuk masyarakat (kota / daerah / Negara), dan untuk masing-masing individu. Masing-masing faktor harus mendapatkan bobot. Sebagai contoh, bila menggunakan lima faktor, bobot yang mungkin adalah 0-5 atau kombinasi manapun yang nilai maksimumnya sama dengan 20. Menentukan apa yang akan dipertimbangkan sebagai minimum dan maksimum dalam setiap faktor biasanya

akan menjadi sangat membantu. Hal ini akan membantu untuk menentukan batasbatas untuk menjaga beberapa perspektif dalam menetapkan sebuah nilai numerik.
Masalah Gizi Kurang Gizi Buruk Tidak sarapan Kader kurang Buta Aksara Keganasan 4 5 2 1 3 Tingkat Urgensi 5 5 4 4 3 Kecenderungan Gawat 4 5 3 3 3 Total 13 15 9 8 9 Ratarata 4.33 5 3 2.67 3

Keterangan: 1 = tidak ganas/urgen/gawat 2 = kurang ganas/urgen/gawat 3 = agak ganas/urgen/gawat 4 = ganas/urgen/gawat 5 = sangat ganas/urgen/gawat

Kelompok Kriteria C Komponen ini mungkin merupakan komponen formula yang paling subyektif. Terdapat sejumlah besar data yang tersedia dari penelitian-penelitian yang mendokumentasikan sejauh mana tingkat keberhasilan sebuah intervensi selama ini. Efektivitas penilaian, yang dibuat berdasarkan tingkat keberhasilan yang diketahui dari literatur, dikalikan dengan persen dari target populasi yang diharapkan dapat tercapai.
Masalah Anggota 1 0,75 0,5 1,25 2 0,75 0,75 1 3 0,75 0,5 1 4 1 1 0,75 5 1 1,5 0,75 6 1 0,75 1,25 7 0,75 0,5 1,25 Total Ratarata 0,85 0,78 1,03

Gizi Kurang Gizi Buruk Tidak sarapan


7,25 6 5,5

Kader kurang Buta Aksara


0,75 0,5 0,75 0,5 0,75 0,75 0,5 4,5 0,64 1,25 1,25 1,25 0,5 1,25 1 1,25 7,75 1,1

Kelompok Kriteria D P : Kesesuaian (Appropriateness) E : Secara ekonomi mudah (Economic Feasibility) A : Dapat diterima (Acceptability) R : Tersedianya sumber (Resources availability) L : Legalitas terjamin (Legality) Adapun beberapa intervensi yang bertujuan untuk menjamin

terselenggaranya program dengan baik yaitu sebagai berikut: y y Masalah gizi kurang: Peningkatan asupan gizi Masalah gizi buruk: Memberikan formula dan modifikasi makanan secara bertahap y Masalah Tidak sarapan: Melakukan penyuluhan akan pentingnya sarapan, Demo masak mengenai keterampilan mengolah bahan pangan. y Masalah kader yang kurang: Meminta ke stakeholder dan badan penyedia tenaga kerja y Masalah buta aksara: Mengadakan sekolah gratis dengan tenaga pengajar yang berkompeten.
Masalah Gizi Kurang Gizi Buruk Tidak sarapan Kader kurang Buta Aksara P 1 1 1 1 1 E 1 1 1 1 1 A 1 1 0 1 1 R 1 1 1 0 1 L 1 1 1 1 1 Hasil Perkalian 1 1 0 0 1

Setelah nilai kelompok kriteria A, B, C dan D didapat, maka nilai tersebut kemudian dimasukkan kedalam formula:

y y

Nilai Prioritas Dasar: (A x B) C Nilai Prioritas Total: (A x B) C x D

Hasil Akhir
Masalah Gizi Kurang Gizi Buruk Tidak sarapan Kader kurang Buta Aksara NPD 7,08 5,46 8,24 Nilai PEARL 1 1 0 NPT 7,08 5,46 0 Urutan Prioritas 1 2 -

4,03 3,84

0 1

0 3,84

5. Pohon Masalah

Pertumbuhan dan perkembangan tdk optimal

Angka kematian Balita tinggi

Status Kesehatan Balita rendah Gizi Buruk pada Balita Asupan mknan yang tidak adekuat Membaiknya Pola Asuh Ibu thdp Anak Tingginya keterpaparan penyakit

Ketersediaan pngan RT tdk cukup (jenis, jumlah, kualitas)

Higiene yang Buruk

Sanitasi Air yangg buruk

Ketersediaan pngn daerah tidak cukup

Daya Beli yang rendah

Keterampilan & pengetahuan mengadakan pangan rendah

Aktivitas fisik yang tinggi

Status Kesehatan wanita buruk

Kesadaran PHBS yang rendah

kesadaran membuang sampah pada tempatnya yg rendah

Pelayanan kesehatan yang rendah

Tanah yang tidak subur

Iklim yang tidak mendukung Pendapatan yang rendah

Tingginya kepercayaan trhdp mitos yg buruk

Jumlah dan kualitas fasilitas kesehatan yang sedikit

Jumlah dan kualitas fasilitas kebersihan yang sedikit

Pengetahuan yg kurang Rendahnya tenaga kesehatan Tingkat pndidikan yang rendah Ekonomi yang Rendah Jumlah SDM yang Sedikit

6.1. Pohon Tujuan

Meningkatkan tumbuh kembang balita

Menurunnya Angka kematian Balita

Meningkatnya Status Kesehatan Balita Membaiknya gizi pada Balita Adekuatnya asupan makanan Membaiknya Pola Asuh Ibu thdp Anak Rendahnya keterpaparan penyakit

Tercukupinya ketersediaan pngan RT (jenis, jumlah, kualitas)

Meningkatnya PHBS yang lebih baik

Membaiknya sanitasi air

Tercukupinya ketersediaan pangan daerah

Meningkat -nya daya beli

Meningkatnya keterampilan & pengetahuan mengadakan pangan

Terkontrolnya aktivitas orang tua

Membaiknya status kesehatan wanita

Meningkatnya kesadaran PHBS

Meningkat -nya kesuburan tanah

Termanfaa tkan-nya iklim yang ada

Meningkatny a kesadaran membuang sampah pada tempatnya

Meningkatnya pelayanan kesehatan

Meningkatnya pendapatan

Terlepasnya budaya yang tidak sesuai kesehatan

Meningkatnya jumlah dan kualitas fasilitas kesehatan

Meningkatnya jumlah dan kualitas fasilitas kebersihan

Meningkatnya pengetahuan
Meningkatnya tingkat pendidikan

Meningkatnya ekonomi

Bertambahnya jumlah SDM

Meningkatnya tenaga kesehatan

6.2. Penentuan Tujuan Tujuan Program / Tujuan Khusus Menurunkan angka kasus gizi buruk pada balita di kabupaten Ara dari 12% menjadi 11% dalam waktu 3tahun. 6.3. Alternatif Intervensi 1. Memasukan pendidikan gizi kedalam kurikulum sekolah 2. Mengajarkan dan menganjurkan sarapan pagi dan membawa bekal bagi yang bersekolah 3. Intersifikasi pertanian dengan menanam berbagai jenis tanaman dalam 1 lahan (tumpang sari) dan menanamnya sesuai musimnya 4. Mengadakan sistem irigasi pertanian 5. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam mengolah bahan pangan terutama selain beras dan jagung 6. Pemberian makanan tambahan atau makanan berformula dan modifikasi makanan yang dapat dikonsumsi balita 7. Pemberian bantuan hand tractor untuk pengolahan lahan dan bantuan modal untuk meningkatkan ekonomi pedesaan 8. Pemberian bantuan beras miskin 9. Meningkatkan kesadaran hidup bersih dan sehat 10. Membangun dan menjaga fasilitas MCK 11. Meningkatkan kualitas kader di desa atau regenerasi kader desa 12. Menigkatkan imunitas balita melalui peningkatan asupan gizi dan imunisasi 13. Mengoptimalkan kerja bidan desa 14. Memberikan program pelayanan konsultasi dan penyuluhan pada calon orangtua mengenai pendidikan dan pengasuhan anak yang tepat 15. Pembinaan rutin kader setiap 1 bulan sekal/ berkala 16. Mendaur ulang sampah menjadi kompos (caranya sederhana dan dengan petunjuk) 17. Pengolahan sampah dengan bioaktivator

18. Menggunakan sistem, pengumpulan dan pengangkutan sampah (dengan petunjuk) 19. Membangun sebuah pasar sentral yang besar sehingga bahan makanan dari daerah luar bisa ikut masuk dan beredar di kabupaten Ara. 20. Menarik investor luar daerah untuk mendirikan lapangan pekerjaan yang ramah lingkungan sehingga bisa menyerap penduduk setempat untuk menjadi karyawan dan memperbaiki perekonomian keluarga. 21. Untuk warga yang bertempat tinggal di daerah pantai, mengolah air laut menjadi garam dan kemudian dikonsumsi serta diperjualbelikan. (karena air lautnya asin banget tentu kadar garamnya tinngi trus musim kemarau dikabupaten Ara ini lama jadi sangat mudah dan menguntungkan untuk menghasilkan garam dengan tk. Natrium klorida yang tinggi). 22. Pemerintah mengalokasikan bantuan dana untuk pendirian Koperasi Simpan Pinjam yang nantinya dapat membantu perekonomian dan aspek pertanian serta kesehatan warga desa.

Berdasarkan hasil perhitungan seleksi intervensi, prioritas pertama adalah memberikan program pelayanan konsultasi dan penyuluhan pada calon orangtua mengenai pendidikan dan pengasuhan anak yang tepat. Prioritas kedua adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam mengolah bahan pangan terutama selain beras dan jagung. Prioritas ketiga adalah mendaur ulang sampah menjadi kompos.

6.3. Seleksi Intervensi

Indikator 1 Relevan Fisibel Efektif Mudah dalam pencapaian Efektif dana Mudah dalam evaluasi Berkelanjutan Dapat diterima TOTAL Rata-rata kel. PRIORITAS Nilai indicator: 1 = tidak sesuai 2 = kurang sesuai 3 = agak sesuai 4 = sesuai 5 = sangat sesuai 18 18 16 15 16 16 19 19 137 2 18 17 16 17 18 15 16 19 136 3 22 18 18 16 11 14 20 19 138 4 21 19 17 15 14 19 21 22 148 5 24 25 24 19 22 20 21 23 178 25.4 2 6 24 21 20 18 13 18 19 21 154 22 11 7 20 15 16 14 12 14 17 22 130 8 22 20 19 19 14 16 19 23 152 9 26 20 21 18 20 16 20 21 162 10 26 20 21 18 15 19 20 19 158

Intervensi 11 23 20 19 20 18 19 20 19 158 12 24 21 22 19 19 19 22 20 166 13 22 18 20 20 16 19 19 22 156 14 26 23 23 21 23 19 23 25 183 15 23 20 21 20 19 19 21 22 165 23.5 6 16 26 21 21 21 17 18 22 22 168 24 3 17 22 16 18 17 16 16 17 17 139 18 21 18 17 18 14 18 19 21 146 19 23 20 19 17 14 16 20 24 153 20 22 16 21 17 13 17 19 19 144 21 19 17 18 17 15 18 19 21 144 22 22 22 20 20 18 19 21 25 167

19.5 19.4 20 21

19.7 21.1 19 14

18.5 21.7 23.1 22.5 21 12 7 8

22.5 23.7 9 5

22.2 26.1 10 1

19.8 20.8 21.8 20.5 20.5 23.8 18 15 13 16 17 4

7. Project Planning Matrix (PPM)/Logical Framework (Logframe) Project Title : Pelayanan konsultasi dan penyuluhan kepada orang tua dan calon orang tua tentang pendidikan serta pengasuhan anak yang tepat Location Project Duration : Kabupaten Ara : 3 Tahun INDICATOR OF OBJECTIVE y Menurunnya AKB dari 19% menjadi 18% dalam waktu 3 tahun di Kab. Ara y Meningkatnya jumlah anak dengan status tumbuh kembang optimal sebesar 3% dalam waktu 3 tahun MEANS OF VERIFICATION y Survey Awal y Survey Akhir y Laporan di setiap Posyandu di Kab. Ara y Metode: Pemeriksaan Antropometri (BB, TB, Lingkar Kepala usia 1-3 tahun) y Survey Awal y Survey Akhir y Laporan di setiap Posyandu di Kab. Ara y Metode: Pemeriksaan Antropometri (BB, TB, Lingkar Kepala usia 1-3 thn) IMPORTAN ASSUMPTION

OBJECTIVE/OBJECT PURPOSE/RESULT OVERALL GOAL Meningkatnya Status Kesehatan Balita

- Bencana Alam berupa kekeringan - Wabah penyakit diare

PROJECT PURPOSE Membaiknya Gizi pada Balita

Menurunnya prevalensi gizi buruk pada Balita dari 12 % menjadi 11 % dalam waktu 3 tahun di Kab. Ara

- Bencana Alam berupa kekeringan - Wabah penyakit diare

RESULT y Tercapainya asupan makanan yang adekuat y Rendahnya keterpaparan penyakit

Meningkatnya asupan makanan bergizi yang ditandai dengan jumlah konsumsi kalori ratarata per hari 1250 kkal dengan frekuensi meningkat menjadi 5 kali sehari dan jenis makanan yang bervariasi

y Survey Awal y Survey Akhir y Metode: Pemeriksaan Antropometri (BB, TB, Lingkar Kepala usia 1-3 tahun) y Food Recall (2 x 24 jam)

- Bencana Alam berupa kekeringan - Wabah penyakit diare

ACTIVITIES y Persiapan a. Pengumpulan & pengolahan data b.Menghubungi LSM

c. Menghubungi perangkat desa & tokoh masyarakat

d.Pembentukan tim e. Penyusunan jadwal kerja dan lokasi f. Pembuatan anggaran g.Pengadaan alat dan mesin h.Pemilihan metode

a. Surveyer, ATK, dana, transportasi b. Surveyer, anggota LSM, Perencana, Media presentasi, tempat, ATK, dana, transportasi, konsumsi c. Perencana, perangkat desa, tokoh masyarakat, masyarakat, media presentasi, tempat, ATK, dana, transportasi, konsumsi d. Perencana, perangkat desa, LSM, ATK, tempat e. Perencana, perangkat desa, LSM, ATK, dana, konsumsi f. Idem g. Dana h. Perencana dan ATK

y Di setiap desa terbentuk tim penanggulangan Gizi Buruk y Terbentuk program kerja y Tersedianya anggaran, alat dan mesin

Masyarakat mengerti dan melaksanakan materi Meningkatnya jumlah balita yang status gizinya baik Tercapainya peningkatan status kesehatan balita

Bencana alam

y Pelaksanaan a. Sosialisasi b.Penyuluhan

a. SDM, ATK, dana,pengeras suara, transportasi, dll b. Tim penyuluh, media penyuluh, tempat, konsumsi, ATK

a. Terlaksananya program sosialisasi kepada masyarakat b. Terlaksanya penyuluhan kepada masyarakat dan tersampaikannya materi a. Mendapat data mengenai balita yang mengalami perubahan status gizi pasca penyuluhan

y Monitoring a. Pemeriksaan Kartu Menuju a. Alat pemeriksaan (timbangan, mikrotoa, pita Sehat (KMS) secara berkala meter), tenaga pemeriksa, ATK, Laporan dari Posyandu y Evaluasi a. Tenaga surveyor, ATK, a. Survey akhir transport, dana. (interview/kuesioner) b. Panitia lomba, peserta, dana, b.Lomba Balita sehat tempat, media lomba, konsumsi, ATK

c. Lomba cerdas-cermat orang c. idem tua dan calon orang tua

a. Tercapainya tujuan yaitu status gizi balita menjadi semakin baik b. Terlaksananya Lomba Balita Sehat yang menjadi gambaran perkembangan dan pertumbuhan balita c. Terlaksananya lomba cerdas cermat balita yang menjadi gambaran peningkatan pengetahuan mengenai pola asuh orang tua dan calon orang tua

Daftar Pustaka