Anda di halaman 1dari 3

MENINGITIS Meningitis adalah suatu reaksi peradangan yang mengenai sebagian atau seluruh selaput otak (meningen) yang

melapisi otak dan medulla spinalis, yang ditandai dengan adanya sel darah putih dalam cairan serebrospinal. MANIFESTASI KLINIS Keluhan pertama biasanya nyeri kepala. Raasa nyeri ini dapat menjalar ke tengkuk dan punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya otot otot ekstensor tengkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus, yaitu ten gkuk kaku dalam sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap hiperekstensi. Kesadaran menurun. Tanda Kernig dan Brudzinsky positif. KLASIFIKASI Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu meningitis serosa dan meningitis purulenta.

MENINGITIS BAKTERI Meningitis bakteri (purulenta) adalah meningitis yang bersifat akut dan menghasilkan eksudat berupa pus, serta bukan disebabkan oleh bakteri spesifik maupun virus. Penyebab meningitis bakteri menurut organisme penyebab dan umur: 1. neonatus (0 - <1 bulan): listeria, streptokokus grup B 2. bayi dan prasekolah (1 bln - <6 th): haemofilus influenza, meningokokus 3. anak sekolah (6 12 th): meningokokus, pneumokokus 4. dewasa muda (12 18 th): pneumokokus, meningokokus 5. dewasa(>18 th): pneumokokus, meningokokus, stafilokokus, streptokokus, listeria Patogenesis Bakteri menyebar secara hematogen sampai ke selaput otak, misalnya pada penyakit faringitis, tonsillitis, pneumonia, bronkopneumonia, endokarditis, dan lain lain. Penyebaran bakteri dapat pula secara perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan yang ada di dekat selaput otak, misalnya abses otak, otitis media, mastoiditis, trombosis sinus kavernosus, sinusitis, dan lain lain. Penyebaran bakteri bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan fraktur terbuka atau komplikasi bedah otak. Gejala klinis Meningitis bakteri basanya didahului oleh gejala gangguan alat pernafasan atas dan gastrointestinal. Dapat dibagi menjadi 3 gejala klinis: 1. Gejala infeksi akut berupa lesu, mudah terangsang, demam, muntah muntah, anoreksia, dan pada anak yang besar mengeluh nyeri kepala. 2. Gejala tekanan intracranial yang meninggi berupa muntah, nyeri kepala, merintih.

3. Gejala rangsang meningeal berupa kaku kuduk, malahan kadang terjadi rigiditas umum, kernig, brudzinsky I dan II. Cairan serebrospinal pada meningitis bakteri umumnya berwarna opalescent sampai keruh. Pada meningitis bakteri stadium dini dapat diperoleh cairan yang jernih. Reaksi None dan Pandy umumnya positif, sedang sebagian besar sel terdiri dari polimorfonuklear. Pada meningitis bakteri biasanya kadar protein dalam cairan serebrospinal meninggi, kadar gula menurun, kadar klorida kadang kadang merendah. Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan leukositosis yang tinggi dengan pergeseran ke kiri. Diagnosis Meningitis bakteri ditemukan atas dasar gejala klinis dan hasil pemeriksaan cairan serebrospinal yang didapatkan dengan pungsi lumbal. MENINGITIS TUBERKULOSA Ialah reaksi peradangan selaput otak akibat komplikasi bakteri TBC. Patogenesis Meningitis tuberkulosa umumnya terjadi akibat komplikasi penyebaran tuberkulosa primer, biasanya dari paru, yang melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang belakang yang kemudian pecah ke dalam rongga arakhnoid. Eksudat yang fibro-fibrinosa dan gelatinosa dapat menimbulkan penyumbatan pada sisterna basalis mengakibatkan hidrosefalus dan kelainan pada saraf otak. Kelainan pada pembuluh darah seperti arteritis dan phlebitis darah dapat menyebabkan infark otak, dan selanjutnya infark otak dapat menyebabkan perlunakan otak. Gejala klinis Gejala yang timbul terdiri dari 3 stadium: a. stadium II (Prodromal) tanpa demam / kelainan, tidak suka bermain, tidur terganggu, kemudian menjadi apatis, anoreksia, obstipasi dan muntah, pada anak besar dapat mengeluh sakit kepala. b. stadium II (Transisi) kejang, rangsang meningeal berupa kaku kuduk, kernig, brudzinsky, refleks tendon meninggi, ubun ubun cekung (pada bayi), kelumpuhan saraf berupa nistagmus dan strabismus. Bisa terjadi edema otak, sehingga timbul disorientasi, gelisah, suara melemah, penurunan kesadaran, tremor. c. stadium III (Terminal) berupa kelumpuhan, koma, pupil melebar dan tidak bereaksi, nadi dan nafas tidak teratur, kadang kadang cheyne stokes, hiperpireksia. Pada meningitis serosa TBC, cairan serebrospinal berwarna jernih/opalesen/kekuningan (xantokrom). Tekanan dan jumlah sel meninggi, terutama terdiri dari limfosit. Kadar protein meninggi, sedangkan kadar glukosa dan klorida menurun.

Meningitis Purulenta Pasien meningitis purulenta pada umumnya dalam kesadaran yang menurun yang seringkali disertai muntah dan atau diare. Oleh karenanya untuk menbina masukan yang baik pasien perlu langsung mendapat cairan intervena. Bilaanak masuk dalam status konvulsi diberikan diazepam 0.2 0.5 mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan, apabila kejang belum berhenti pemberian dia dapat diulang dengan dosis dan cara yang sama. Apabila kejang berhenti dilanjutkan dengan pemberian fenobartial dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB hari. Apabila dengan diazepam intravena 2 kali berturut-turut kejang belum berhenti dapat diberikan fenitonin dengan dosis 10-20 mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan dengan kecepatan dalam 1 menit jangan melebihi 50 mg atau 1 mg/kgBB/menit. Dosis selanjutnya 5 mg/kgBB/hari diberikan 1224 jam kemudian. Kortikosteroid: Pada penelitian terbukti bahwa steroid dapat mengurangi produksi mediator inflamasi seperti sitokin sehingga dapat mengurangi kecacatan neurologis seperti paresis dan tuli dan menurunkan mortalitas apabila diberikan pada pasien ringan dan sedang dan diberikan 15-20 menit sebelum pemberian antibiotik. Kortikosteroid yang menberikan hasil baik ialah deksametason dengan dosis 0,6 mg/kgBB/hari selama 4 hari. Penggunaan antibiotik: Penggunaan antibiotic terdiri dari 2 fase , yaitu fase pertama sebelum ada hasil biakan dan uji sensitivitas. Dosis ampisilin 200-300 mg/kgBB/hari dibagi dalam 6 dosis , kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis pada neonatus 50 mg/kgBB/hari. Pada bayi dan anak pengobatan diberikan selama 10-14 hari, dan pada neonatus selama 21 hari. Pengobatan fase kedua setelah ada hasil biakan dan uji sensitivitas disesuaikan dengan kuman penyebab dan obat yang serasi. Antibiotic yang dipergunakan utnuk meningitis purulenta ialah H influenzae; ampisilin, kloramfenikol, sentriakson, dan sefotaksim. S Pneumoniae; penisilin, kloramfenikol, sefuroksim, seftriakson, dan vankomisin. N meningitides; penisilin, seftriakson, dan amikasin. Staphylococcus; nafsilin, vankomisin, dan rifampisin. Neonatus; ampisilin, gentamisin, tobramisin, vankomisin, amikasin, kanamisin, seftriakson, sefotaksim, seftazidim, dan penisilin. Dosis antibiotic pada meningitis purulenta; ampisilin 200-300 mg/kgBB/hari (tunggal 400 mg), kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari, neonatus 50 mg /kgBB/hari (waspadai gray baby), sefuroksim 250 mg/kgBB/hari, sefotaksim 200 mgkgBB/hari (neonatus 0-7 hari 100 mgkgBB/hari), seftriakson 100 mg/kgBB/hari, seftazidim 150 mg/kgBB/hari (neonatus 60-90 mg/kgBB/hari, gentamisin neonatus 0-7 hari 5 mg/kgBB/hari, 7-28 hari 7,5 mg/kgBB/hari, amikasin 10-15 mg/kgBB/hari). Fungsi lumbal ulangan terjadi apabila keadaan klinis membaik dilakukan pada hari ke 10 pengobatan.