Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1. Teori Belajar Kognitif Belajar merupakan proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi, keterampilan dan sikap. Proses belajar dimulai sejak manusia masih bayi samapi akhir hayatnya. Kapasitas manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Kajian tentang kapasitas manusia untuk belajar, terutama tentang bagaimana proses belajar terjadi pada manusia mempunyai sejarah panjang dan telah menghasilkan beragam teori. Salah satu teori belajar yang terkenal adalah teori belajar kognitif. Prinsip teori psikologi kognitif adalah bahwa setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan dan pemahaman atas dirinya sendiri. Seseorang memiliki kepercayaan, ide-ide, dan prinsip yang dipilih untuk kepentingannya sendiri. Teori belajar kognitif ini sangat erat hubungannya dengan teori psikologi kognitif. Aspek kognitifnya mempersoalkan masalah bagaimana orang memperoleh pemahaman mengenai diri sendiri dan lingkungannya, dan bagaimana mereka berhubungan dengan lingkungan mereka dengan menggunakan kesadaranya, sedangkan aspek psikologisnya menekankan pada hubungan antara orang dengan lingkungan psikologisnya secara bersamaan dan saling berhubungan secara timbal balik. Dalam hal belajar, aspek psikologis ini memandang bahwa prose belajar yang terjadi pada sesorang tidak tampak dari luar dan sifatnya kompleks. Karena perilaku belajar seseorang tidak dipengaruhi oleh faktor dari luar (eksternal), melainkan dipengaruhi oleh car-cara bagaimana terjadinya proses informasi di dalam diri seseorang (faktor internal). Psikologi kognitif lebih menekankan arti pentingnya proses internal atau proses-proses mental manusia daripada tampak luarnya. Tingkah laku yang tampak tidak dapat diukur dan

diterangkan tanpa melibatkan proses menal, seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya. Sehubungan dengan belajar, teori kognitif memandang bahwa belajar merupakan proses internalyang tidak dapat diamati secara langsung. Adapun perubahan tingkah laku yang tampak sesungguhnya adalah refleksi dari perubahan interaksi persepsi dirinya terhadap sesuatu yang diamati dan dipikirkan. Model psikologi kognitif berpusat pada pikiran dan bekerjanya pikiran. Contoh model ini yang paling awal adalah strukturalisme dan proses pengolahan informasi merupakan contoh yang paling akhir. Model pemrosesan informasi telah menggantikan psikologi stimulus respon. Sampai saat ini peranan proses kognitif masih penting di bidang penelitian psikologi seperti psikologi perkembangan dan penelitian tentang motivasi. Hal ini didukung oleh faktor-faktor berikut. a. Terbatasnya penjelasan mengenai aktivitas manusia. b. Adanya penerimaan pandangan tentang individ usebagai manusia belajar yang aktif, sosial dan bersifat selalu ingin tahu. c. Adanya pandangan yang mengatakan bahwa tingkah laku merupakan interaksi orang dan situasi. Tujuan teori kognitif untuk membentuk hubungan yang teruji, yang teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada ruang kehidupan mereka secara spesifiksesuai dengan situasi psikologisnya. Untuk dapat memahami atau emprediksi suatu perilaku, kita harus memperhatikan orang tersebut dengan lingkungan psikologisnya sebagai pola dari fakta dan fungsi-fungsi yang saling membutuhkan. Teori kognitif dikembangkan terutama untuk membantu guru memahami muridnya. Ternyata, hal ini juga dapat membantu guru memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Menurut teori kognitif, belajar diartikan sebagai proses interaksional sesorang memperoleh pemahaman baru atau struktur kognitif dan mengubah hal-hal yang sama. Agar belajar menjadi efektif, guru harus memperhatikan dirinya sendiri dan orang lain. Jadi, psikologi kognitif dikembangkan dengan maksud membantu guru-guru

mampu

memahami

muridnya

seara

lebih

baik.

Psikologi

kognitif

mengembangkan sistem psikologi yang bermanfaat untuk berhubungan dengan anak-anak dan pemuda saat belajar. Teori kognitif dibentuk dengan tujuan mengkonstruksi prinsip-prinsip belajar secara ilmiah. Hasilnya berupa prosedur-prosedur yang dapat diterapkan pada situasi kelas untuk mendapatkan hasil yang sangat produktif. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana sesorang mencapai pemahaman atas dirnya dan lingkungannya lalu menafsirkan bahwa diri dan lingkungan psikologinya merupakan faktor-faktor yang kait-mengait. Teori ini dikembangkan berdasarkan tujuan yang melatarbelakangi perilaku, cita-cita, cara-cara, dan bagaimana sesoarang memahami diri dan lingkungannya dalam usaha untuk mencapai tujuan dirinya. Setiap pengertian yang diperoleh dari memahami diri sendiri dan lingkungannya disebut insight. Menurut teori ini, insight adalah pemahaman dasar yang dapat diaplikasikan pada bebrapa situasi yang sama atau hampir sama. Insight adalah pemahaman sesorang terhadap suatu situasi secara mendalam. Pemahamn sesoarang tidak sama dengan kesadaran atau kemampuannya untuk menjelaskan pemahamn tersebut secara verbal. Jadi, insight merupakan inti pemahaman. Sesorang dapat memperoleh insight walau hanya dari mengalami satu kasus. Bagaimana pun yang paling bernilai adalah insight yang berasl dari sejumlah kasus yang hampir bersamaan yang digeneralisasikan menjadi sebuah pemahaman. Dengan kata lain, pada mulanya pemahaman terhadap sesuatu terjadi dengan melihat hubungan antaar bagian-bagian yang terpisah, kemudian pada akhirnya timbul pemahaman tentang hubungan anatar komponen yang dilihat. Pemahaman seseorang sacara kolektif merupakan struktur kognitif dari aspek ruang kehidupannya. Struktur kognitif itu sendiri adalah persepsi dari aspek psikologis, fisik dan kehidupan sosial sesorang. Bila dikaitkan dengan siswa yang belajar maka struktur kognitif merupakan segala pengehtahuan yang diperoleh dari kegiatan belajar di masa lalu dan proses belajar pada dasarnya suatu upaya untuk mengaitkan pengetahuan baru ke

dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki siswa. Dari proses belajar ini diharapkan akan terbentuk struktur kognitif yang baru yang lebih lengkap. Sehubungan dengan pandangan tersebut, supaya belajar dapat lebih efektif, guru harus memperhatikannya secara lebih baik. Pada saat guru merancang program pembelajaran, kondisi siswa harus diperhatikan, begitu pula pada saat mengimplementasikan rancangan tersebut di dalam kelas, kondisi nyata kelas perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. Prinsip-prinsip merancang pengalaman belajar Proses pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila sebagai guru, Anda memiliki kemampuan dalam menciptakan suasan belajar siswa yang menyenangkan. Untuk itu Anda harus memiliki kemampuan berkomunikasi dalam menyampaikan bahan ajar secara terencana, sejalan dengan tujuan pemeblajaran dan rentang waktu yang tersedia. Contohnya agar siswa termotivasi belajar. Kesiapan Anda dalam penguasaan bidang keilmuan yang menjadi kewenangan Anda, merupakan modal dasar bagi terlaksananya proses pembelajaran yang baik. Sebagai guru profesional, Anda dituntut untuk memiliki persiapan dan penguasaan yang cukup memadai baik dalam bidang keilmuan, maupun dalam merancang program pembelajaran yang akan disajikan, termasuk di dalamnya prinsip-prinsip merancang pengalaman belajar. Prinsip-prinsip merancang pengalaman belajar siswa adalah sebagai berikut. a. Prinsip mengaktifkan siswa Belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses yang aktif yang melibatkan pancaindra atau fisik dan psikis kita. Agar siswa mengalami proses belajar, kita harus merancang pembelajaran agar siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Cara yang dapat dilakukan guru antara lain dengan menggunakan berbagai metode atau media pembelajaran yang tepat, yang dapat merangsang keterlibatan fisik dan psikis siswa. Misalnya, agar siswa mau mempelajari keadaan geografis di Jawa Barat, ajak siswa untuk membaca beberapa buku tentang kondisi

geografis Jawa Barat, atau putarkan video ata CD yang berisi informasi tentang keadaan alam Jawa Barat. Siswa yang tidak banyak bertanya ketika belajar, bukan berarti ia tidak aktif, sebab mungkin saja pendengaran, penglihatan, perasaan, pikiran dan unsur lainnya aktif belajar. Oleh karen itu, setiap kegiata belajar harus dirancang untuk meningkatkan kadar aktivitas pembelajaran. Berkenaan dengan belajar aktif, setiap individu harus melaksanakan sendiri aktivitas belajar karena belajar tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Oleh karena itu, John Dewey misalnya menyatakan belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan oleh dirinya sendiri, maka inisiatif belajar harus muncul dari dirinya. Dengan demikian, kesadaran untuk melakukan kegiatan belajar harus datang dari setiap individu, sebab belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain. Teori kognitif dari Gagne dan Berliner berkenaan dengan prinsip aktivitas belajar mengemukakan bahwa belajar menunjukkan kondisi jiwa yang aktif, di mana jiwa tidak sekedar menerima informasi/materi, akan tetapi mengolah dan melakukan transformasi. Berpijak dari teori ini maka seorangbguru harus mengupayakan dengan berbagai cara agar subjek belajar (siswa) dapat memiliki sejumlah aktivitas belajar seperti mencar, mengolah informasi, menganalisis, mengidentifikas, memcahkan, menyimpulkan dan melakuka ttransformasi belajar (transfer of learning) ke dalam kehidupan lain yang lebih luas. Upaya untuk mengaktifkan siswa perlu selalu Anda lakukan mengingat setiap individu memiliki potensi seperti rasa ingin tahu, kemampuan menganalisis, memcahkan masalah, melakukan sintesis dan aspek-aspek aktivitas lainnya. Untuk mengajak siswa berlatih menganalisis suatu masalah, berilah kesempatan pada siswa untuk melakukannya. Misalnya, ajak ssiswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang terjadinya kebakaran hutan di Sumatera. Diskusikanlah pandapat para siswa tersebut. Lalu, beri petunjuk apa yang harus siswa lakukan jika meraka menghadapi maslah tersebut.

b. Prinsip kesesuaian Kesesuaian antara guru dan siswa pada kenyataannya sangat mempengaruhi seorang siswa dalam mnyenangi suatu pelajaran. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar. Oleh karen itu, guru yang baik tentunya akan selalu berusaha menerapkan metode pembelajaran yang akan membuat siswa-siswanya senang dan beersemangat serta merasa mudah dalam mempelajri suatu mata pelajaran. Sebaliknya, siswa yang baik pun akan selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan gurunya, yang tentu saja sebaai manusia juga memiliki kekurangan dalam banyak hal, termasuk dalam kemampuan mengajar. Siswa yang baik tentu akan dapat memaklumi kekurangankekurangan yang ada pada gurunya, dan akan dapat melihat kelebihankelebihan gurunya sekaligus memanfaatkan kelebihan-kelebihan tersebut dalam proses belajar. Seorang siswa hendaknya tidak terlalu berharap untuk mendapatkan seorang guru yang benar-benar ideal sesuai dengan harapannya. Jika mau berpikir secara objektif, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, kita lebih sering berhadapan dengan pengajar yang tidak sesuai dengan harapan kita. Hal lain yang harus diperhatikan adalah jangan sampai seorang siswa mengabaikan sama sekalisuatu mata pelajaran karena tidak senang pada seorang guru atau pengajar. Sikap seperti ini hanya akan menambah kesulitan belajar yang dihadapi siswa. c. Prinsip memberikan kepuasan Guru sebagi perancang pembelajaran harus memikirkan dan berusaha agar apa yang dilakukannya akan memberikan kepuasan bagi siswanya. Pembelajaran yang dirancang diharapkan akan menjadi suatu kegiatan yang dapat memfasilitasi minat dan kebutuhan siswa. Sebagaimana yang dijelaskan Thorndike dalam Law of Learning

bahwa suatu ikatan stimulus dan respon akan terus berlanjut apabila individu yang belajar memperoleh damapak yang menyenangkan. Oleh sebab itu, sebagai guru Anda harus sering memberikan penguatan pada siswa. d. Prinsip pengalaman belajar yang sama menimbulkan hasil yang berbeda Belajar pada dasarnya bersifat individual, jadi tidak mungkin bahwa suatu kegiatan pemeblajaran yang dilakukan guru akan memberikan hasil belajar yang sama untuk setiap siswa. Yang penting di sini adalah bagaimana guru dapat memberikan pengalaman yang sama untuk setiap siswa, walaupun ada perbedaan hasil belajar di antara siswa. Pengalaman belajar harus disusun guru agar sesuai dengan kecepatan,kesungguhan dan keunggulan masing-masing siswa. e. Prinsip variasi pengalaman belajar Dalam merancang suatu pembelajaran, penting bagi guru untuk menyediakan berbagai variasi pengalaman belajar. Variasi ini dapat dilakukan dengan cara menyediakan pengalaman yang berbeda untuk setiap kegiatan pembelajaran, sesuai pada kerucut pengalaman dari Edgar Dale. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dam batasan masalah, maka penyusun mengangkat suatu masalah yang dapat dirumukan sebagai berikut: Perlunya mengetahui suatu strategi pembelajaran yang terkonstruksi oleh teori belajar kognitif, yang menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas diri dan lingkungannya dan dapat memberikan pengalaman belajar bagi siswa. C. Tujuan Penulisan Sesuai dengan rumusan masalah di atas, penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui suatu strategi pembelajaran yang terkonstruksi oleh teori belajar kognitif, yang menjelaskan bagaimana seseorang mencapai

pemahaman atas diri dan lingkungannya dan dapat memberikan pengalaman belajar bagi siswa. D. Manfaat Penulisan Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Dapat memberikan masukan bagi guru matematik dan mahasiswa pendidikan matematika sebagai salah satu alternatif strategi yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. 2. Sebagai kajian dalam menentukan kebijakan yang berorientasi peningkatan mutu pembelajran matematika.

BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Inkuiri Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar. Strategi pembelajaran inkuiri banyak dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif. Menurut aliran ini belajar pada hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dangan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal. Belajar lebih dari sekedar proses menghafal, tetapi bagaimana pengetahuan yang diperoleh bemakna untuk siswa melalui keterampilan berpikir. Teori belajar lain yang mendasari strategi pembelajaran inkuiri adalah teori belajar konstruktivistik. Teori belajar ini dikembangkan oleh Piaget. Menurut Piaget, pengetahuan itu akan bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa. Strategi pembelajaran inkuiri berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indra. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus-menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna manakala didasari oleh keingintahuan itu. Dalam rangka itulah strategi inkuiri dikembangkan. Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajarn inkuiri. Pertama, strategi pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara

10

maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sabagai again dari proses mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana meraka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal, namun sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bias menguasai materi pelajaran. Pada awalnya strategi pembelajaran inkuiri banyak diterapkan dalam ilmuilmu alam. Namun demikian, para ahli pendidikan ilmu sosial mengadopsi strategi inkuiri yang kemudian dinamakan inkuiri sosial. Hal ini didasarkan pada asumsi pentingnya pembelajaran IPS pada masyarakat yang semakin cepat berubah, seperti yang diungkapkan Robert A.Wilkins dalam Sanjaya (2006:205) yang menyatakan bahw dalam kehidupan masyarakat yang terus-menerus mengalami perubahan, pengajaan IPS harus menekankan kepada pengembangan berpikir. B. Prinsip-prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri Strategi pembelajaran inkuiri merupakan dtrategi ang menekankan kepada pengembangan intelektual anak. Perkembangan mental (intelektual) itu menurut Piaget dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu maturation, physical, experience, social experience, dan equilibration. Atas dasar keempat hal tersebut, maka dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri teradapat bebrapa prinsip yang harus

11

diperhatikan guru. 1. Berorientasi pada pengembangan intelektual. 2. Prinsip interaksi. 3. Prinsip bertanya. 4. Prinsip belajar untuk berpikir. 5. Prinsip keterbukaan. C. Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Inkuiri Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1. Orientasi Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau ikim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. 2. Merumuskan masalah Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Siswa didorang untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri. 3. Mengajukan hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. 4. Mengumpulkan data Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. 5. Menguji hipotesis Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. 6. Merumuskan kesimpulan

12

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. D. Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri 1. Keunggulan i. SPI adalah strategi pembelajran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna. ii. SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. iii. SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalamn. iv. Strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemapuan di atas rata-rata. Artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar. 2. Kelemahan i. Jika SPI digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa. ii. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur denag kebiasaan siswa dalam belajar. iii. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikan dengn waktu yang telah ditentukan. iv. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru. E. Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Inkuiri pada Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear

13

Dengan mengacu pada langkah-langkah pelaksanaan strategi pembelajaran inkuiri yang disebutkan, maka pelaksanaan strategi pembelajaran inkuiri pada pokok bahasan sistem persamaan linear adalah sebagai berikut. 1. Apersepsi Pada langkah ini, guru memberikan menjelaskan topik, tujuan dan hasil be lajar yang diharapkan pada pokok bahasan sistem persamaan linear. Guru memberikan contoh peristiwa sehari-hari yang berkaitan dengan sistem persamaan linear. Permasalahan yang dapat diberikan dapat berupa soal cerita. Contohnya adalah sebagai berikut. Toni membeli 2 buah roti dan 1 kaleng miuman seharga Rp. 7000,-. Ali membeli 4 buah roti dan 6 kaleng minuman seharga Rp. 26.000,-. Joko ingin membeli 1 buah roti dan 1 kaleng minuman. Berapa rupiahkah yang harus dibayar Joko ? 2. Perumusan masalah Siswa menentukan persoalan apa yang terdapat pada contoh peristiwa tersebut yang disampaikan oleh guru. Dari contoh di atas siswa menemukan suatu masalah, yaitu harga 1 buah roti dan 1 kaleng minuman. 3. Merumuskan hipotesis Siswa mencoba memecahkan masalah yang telah ditemukan dengan konsep matematika yang telah dipelajari. Diharapkan dengan mencoba menemukan sendiri pemecahan masalah, siswa dapat menemukan jawaban sementara atas permasalahan yang terdapat pada contoh peristiwa yang disampaikan oleh guru. 4. Pengumpulan data Siswa dan guru bersama-sama mengumpulkan berbagai pemecahan masalah yang dikemukakan siswa untuk kemudian diuji. 5. Menguji hipotesis Semua pemecahan masalah diuji untuk menentukan jawaban

14

mana yang dianggap benar. 6. Merumuskan kesimpulan Menentukan pemecahan masalah yang dianggap benar.

15

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN Berdasarkan pembahsan, maka dapat diatrik kesimpulan sebagi berikut. a. Belajar merupakan proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi, keterampilan dan sikap. Proses belajar dimulai sejak manusia masih bayi samapi akhir hayatnya. b. Prinsip teori psikologi kognitif adalah bahwa setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan dan pemahaman atas dirinya sendiri. c. Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. d. Langkah-langkah pelaksanaan strategi pembelajaran inkuir adalah: i. Orientasi ii. Merumuskan masalah iii. Mengumpulkan data iv. Menguji hipotesis v. Merumuskan kesimpulan vi. Mengajukan hipotesis B. SARAN Dari hasil pembahasan ynag telah disajikan, maka diharapkan 1. Mahasiswa sebagai calon guru memahami strategi pembelajaran inkuiri sehingga dapat menerapkannya kelak di dalam proses pembelajaran. 2. Guru dapat memberikan memberikan pengalaman belajar yang dapat merangsang siswa untuk dapat berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendir jawaban dari suatu permasalahan.

16

DAFTAR PUSTAKA
Hernawan, Asep Heri. 2003. Pengembangan Kuriulum dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka. Marno dan M. Idrsi. 2008. Strategi dan Metode Pengajaran. Jakarta: Ar-Ruzz Media. Rahaju, Endah Budi. 2008. Matematika Sekolah Menengah Pertama Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group. Winataputra, Udin S. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Universitas terbuka

17

Lampiran 1

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


Satuan Pendidikan : SMP Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu Pokok Bahasan : Matematika : VIII/II : 2 X 45 Menit : Sistem Persamaan Linear

Sub Pokok Bahasan : Sitem Persamaan Linear Dua Variabel A. Standar Kompetensi Memahami sistem persamaan linear dua variabel dan menggunakannya dalam pemecahan masalah B. Kompetensi Dasar Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dua variabel. C. Indikator Menentukan penyelesaian model matematika yang memuat SPLDV. D. Tujuan Pembelajaran Siswa dapat menentukan penyelesaian model matematika yang memuat SPLDV. E. Materi Pembelajaran 1. Apersepsi Ida dan Dani adalah dua kakak beradik. Saat ini umur Ida 8 tahun lebih tua daripada umur Dani. Hari ini Dani genap berusia 5 tahun. Berapakah umur Ida saat ini? Kita misalkan umur Ida adalah x, maka kita peroleh x  8 ! Umur Dani Hari ini berumur 5 tahun.

18

x 8 ! 5 x 88 ! 58 x 0 ! 58 x ! 13 Dengan demikian, hari ini Ida berumur 13 tahun. 2. Mater inti Diberikan permasalahan berupa soal cerita. Toni membeli 2 buah roti dan 1 kaleng miuman seharga Rp. 7000,-. Ali membeli 4 buah roti dan 6 kaleng minuman seharga Rp. 26.000,-. Joko ingin membeli 1 buah roti dan 1 kaleng minuman. Berapa rupiahkah yang harus dibayar Joko ? 2 4 +1 +6 = 7000(1) = 26000..(2)

Permasalahan tersebut dapat dipecahkan dengan cara campuran (eliminasi dan substitusi). Misal: x = jumlah roti y = jumlah minuman 



Substitusikan nilai y ke persamaan (1)

19

Jumlah roti dan minuman Joko = x + y = 3000 + 2000 = 5000 Jadi, Joko harus membayar Rp. 5000,-. F. Metode Pembelajaran 1. Tanya jawab digunakan saat melakukan tugas rutin pada awal pembelajaran, mengadakan apersepsi, dan menyimpulkan materi. 2. Pemberian tugas dilakukan pada saat melakukan tugas rutin pada awal pembelajaran, menyajikan materi pokok dan penerapan. 3. Ekspositori digunakan pada saat menjelaskan contoh soal. 4. Ceramah digunakan pada saat melakukan tugas rutin pada akhir pembelajaran. G. Sarana dan sumber 1. Sarana: LCD dan laptop. 2. Sumber: Rahaju, Endah Budi. 2008. Matematika Sekolah Menengah Pertama Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. H. Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu Pengorgan Kls Ind

No

Kegiatan Belajar Mengajar

Metode

1. Pendahuluan a. Guru melakukan tugas rutin pada awal 3 menit pembelajaran. b. Guru melakukan apersepsi. Kegiatan inti a. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok b. Setiap kelompok mencoba 10 menit Pt Pt memecahkan 23 menit 10 menit Crmh Pt

20

masalah yang disajikan guru. c. Guru bersama-sama siswa merumuskan 10 menit Tj kesimpulan dari berbagai pemecahan masalah yang didiskuiskan. 3. Penerapan Siswa diarahkan untuk mengerjakan soal-soal 30 menit latihan. 4. Penutup a. Guru menuntun siswa untuk meyimpulkan 3 menit materi pelajaran yang telah disampaikan. b.Guru melakukan tugas rutin pada akhir 1 menit Tj Eks Pt

pembelajaran. Keterangan: Pengorgan: Pengorganisasian Crmh: Ceramah Eks : Ekspositori Pt Ind Tj I. Evaluasi 1. Jenis evaluasi : lisan dan tertulis 2. Prosedur evaluasi 1. Penilaian dalam proses belajar 2. Penilaian pada akhir pembelajaran 3. Alat Evaluasi a. Soal: 1. Tentukan penyelesaian dari sistem persamaan linear berikut. x  y ! 3 x  3y ! 5 4 : Pemberian tugas : Individual : Tanya jawab Kls : Klasikal

21

2. Harga 6 ekor kambing dan 4 ekor sapi adalah Rp. 19.600.000,-. Harag 8 ekor kambing dan 3 ekor sapi adalahRp. 16.800.000,-. Berapa harga 1 ekor kambing dan harga 1 ekor sapi? Kunci jawaban No 1) Jawaban Skor 2 2 1 3

2 2 1 3 4 Jadi, himpunan penyelesaianya adalah {(2,1)}. Sub total 2) Misalkan: x = jumlah kambing y = jumlah sapi ...(1)  ...(2) 1 1 2 20 1

1 3 Substitusikan nilai x ke persamaan (1) 1 1

22

1 2 3 Jadi, harga kambing adalah Rp.840.000 dan harga sapi adalah Rp. 3.360.000,Sub total Total 3 20

Lampiran 2

23

SKENARIO PEMBELAJARAN 1. Pembuka a. Guru melakukan kegiatan rutin pada awal pembelajaran. b. Guru melakukan apersepsi. 2. Kegiatan Inti a. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. b. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. c. Guru menyampaikan suatu masalah sehari-hari yang berkaitan dengan pokok bahasan sistem persamaan linear. d. Siswa diberikan tugas secara berkelompok untuk memecahkan permasalahan yang disampaikan. e. Guru dan siswa membahas berbagai pemecahan masalah yang telah didiskusikan pada setiap kelompok. f. Guru menuntun siswa untuk menguji berbagai pemecahan masalah yang ditemukan siswa untuk menentukan pemecahan masalah yang tepat. g. Guru dan siswa merumuskan kesimpulan dari berbagai pemecahan masalah yang disampaikan. 3. Kegiatan Penutup a. Guru menuntun siswa menyimpulkan materi pelajaran yang telah disampaikan. b. Guru melakukan tugas rutin pada akhir pelajaran.