Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM

ANALISIS VEGETASI METODE KUADRAT

Oleh :
1. 2. 3. 4. 5. Desak Nyoman Tria S. Abdus Salam Junaedi Narulita Aldhini Alexander Kurniawan Sariyanto Putera Ira Nailas S. (081014010) (081014037) (081014049) (081014054) (081014097)

Dosen Pembimbing : 1. Dr. Bambang Irawan, MSc. 2. Drs. Trisnadi W.L.C. Putranti, Msi.

PROGRAM STUDI BIOLOGI DEPARTEMEN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA 2011

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Komunitas adalah kumpulan dari populasi-populasi dari berbagai jenis dalam suatu daerah. Populasi yang membentuk komunitas merupakan satu kesatuan yang utuh. Dalam mempelajari struktur dan komposisi suatu vegetasi digunakan pendekatan ke sifat dasar dari komunitas, yaitu keadaan individu-individu dalam membentuk populasinya. Dengan menganalisis keadaan individu-individu tersebut kita dapat menjabarkan karakteristik komunitas tumbuhan dengan baik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984; Sundarapandian dan Swamy, 2000). Secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yangtumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi lahan, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut. Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/dijumpai. Pada metode garis ini, sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001). 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara menentukan analisis vegetasi tersebut? 2. Berapa nilai penting dan indeks keanekaragaman/diversitas pada vegetasi tersebut? 3. Bagaimana kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi pada vegetasi tersebut? 1.3 Tujuan 1. Menjelaskan cara menentukan analisis vegetasi tersebut. 2. Mengetahui nilai penting dan indeks keanekaragaman/diversitas pada vegetasi tersebut. 3. Mengetahui kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi pada vegetasi tersebut.

1.4 Hipotesis Pada vegetasi tersebut, terdapat hubungan antara kekerapatan, kerimbunan, dan frekuensi pada vegetasi tersebut adalah sebagai berikut: Hipotesis kerja Jika semakin besar hubungan antara kerapatan dengan kerimbunan, kerimbunan dengan frekuensi, dan kerapatan dengan frekuensi pada vegetasi tersebut maka semakin besar pula nilai penting yang didapatkan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastis karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984; Sundarapandian dan Swamy, 2000). Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001). Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatif. Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994). Metode kuadrat, bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Surasana, 1990). Nilai penting merupakan suatu harga yang didapatkan dari penjumlahan nilai relatif dari sejumlah variabel yang telah diukur (kerapatan relatif, kerimbunan relatif, dan frekuensi relatif). Jika disususn dalam bentuk rumus maka akan diperoleh: Nilai Penting = Kr + Dr + Fr Harga relatif ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100% dalam tabel. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dan dua jenis tumbuhan yang memiliki harga nilai penting terbesar dapat digunakan untuk menentukan penamaan untuk vegetasi tersebut (Surasana, 1990). Keragaman spesies dapat diambil untuk menanadai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagai jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubungan ini dapat dinyatakan secara numerik sebagai indeks keragaman atau indeks nilai

penting. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil (Michael, 1994).

BAB III METODOLOGI


3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum ini dilakukan pada hari Jumat tanggal 25 November 2011 pukul 14.30 di sekitar wilayah Auditorium Kampus C Unair. 3.2 Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Tali rafia 3. Meteran 2. Kantong plastik hitam 4. Tongkat kayu/ranting kayu kecil 1.3 Cara kerja Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum ini antara lain tali rafia, kantong plastik hitam, meteran, dan tongkat kayu/ranting kayu kecil

Pembagian tugas kepada anggota kelompok

Melakukan pengukuran kuantitatif pada sampel yang meliputi panjang sisi kuadrat yang menggunakan meteran, lalu ditandai dengan meletakkan tali rafia sepanjang sisi-sisi yang diukur lalu ditancapkan dengan tongkat kayu/ranting kayu kecil. Setelah itu, dihitung jumlah spesies dan jumlah individu tiap spesies.

BAB IV DATA HASIL PENGAMATAN


4.1 Hasil Pengamatan 4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Plot keJenis tumbuhan A B C D E A B C D E A B C D A B C D E A B C D E F B C D E F G E G B E G Jumlah individu 300 541 1 15 1 39 116 11 121 4 56 50 14 3 25 425 35 1 2 1 49 18 19 3 2 223 1 7 51 4 1 5 5 39 22 7 Kerapatan 5 5 1 1 1 1 5 1 5 1 2 2 1 1 1 5 1 1 1 1 3 1 1 1 1 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kerimbunan 1 1 5 5 5 5 1 5 1 5 4 4 5 5 5 1 5 5 5 5 3 5 5 5 5 1 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

7 8

10

E B E G H I

53 1 37 1 9 6

2 1 1 1 1 1

4 5 5 5 5 5

4.2 Sample

Deskripsi Sampel Nama spesies

Deskripsi

Cyperus rotundus

Common reed (Graminae)

Praktikan tidak mengetahui jenis spesies tersebut

Portulaca oleracea L

Praktikan tidak mengetahui jenis spesies tersebut

Praktikan tidak mengetahui jenis spesies tersebut

Praktikan tidak mengetahui jenis spesies tersebut

Praktikan tidak mengetahui jenis spesies tersebut

Praktikan tidak mengetahui jenis spesies tersebut

BAB V ANALISIS DATA dan PEMBAHASAN


5.1 Analisis Data Untuk mengetahui nilai penting (NP= KpR+KbR+FR), maka dicari terlebih dahulu dengan menggunakan rumus-rumus sebagai berikut : Kerapatan absolut A = (5+1+2+1+1) : (0,510) = 2 Kerapatan absolut B = (5+5+2+5+3+5+1+1) : (0,510) = 5,4 Kerapatan absolut C = (1+1+2+1+1+1+1) : (0,510) = 1,6 Kerapatan absolut D = (1+5+1+1+1+1) : (0,510) = 2 Kerapatan absolut E = (1+1+1+1+1+1+1+2+1) : (0,510) = 2 Kerapatan absolut F = (1+1) : (0,510) = 0,4 Kerapatan absolut G = (1+1+1+1) : (0,510) = 0,8 Kerapatan absolut H = 1 : (0,510) = 0,5 Kerapatan absolut I = 1 : (0,510) = 0,5 Total kerapatan absolut = 2 + 5,4 + 1,6 + 2 + 2 + 0,4 + 0,8 + 0,5 + 0,5 = 15,2 Kerapatan relatif A = 2 /15,2 100% = 13,16% Kerapatan relatif B = 5,4/15,2 100% = 35,53% Kerapatan relatif C = 1,6/15,2 100% = 10,53% Kerapatan relatif D = 2/15,2 100% = 13,16% Kerapatan relatif E = 2/15,2 100% = 13,16% Kerapatan relatif F = 0,4/15,2 100% = 2,6% Kerapatan relatif G = 0,8/15,2 100% = 5,26% Kerapatan relatif H = 0,5/15,2 100% = 3,29% Kerapatan relatif I = 0,5/7,2 100% = 3,29% Total kerapatan relatif = 13,16% + 35,53% + 10,53% + 13,16% + 13,16% + 2,6% + 5,26% + 3,29% + 3,29% = 99,98% Kerimbunan absolut A = (1+5+4+5+5) : (0,510) = 4 Kerimbunan absolut B = (1+1+4+1+3+1+5+5) : (0,510) = 4,2 Kerimbunan absolut C = (5+5+5+5+5+5+5) : (0,510) = 7 Kerimbunan absolut D = (5+1+5+5+5+5) : (0,510) = 5,2 Kerimbunan absolut E = (5+5+5+5+5+5+5+4+5) : (0,510) = 8,8 Kerimbunan absolut F = 5 : (0,510) = 1 Kerimbunan absolut G = (5+5+5+5) : (0,510) = 4 Kerimbunan absolut H = 5 : (0,510) = 1 Kerimbunan absolut I = 5 : (0,510) = 1 Total kerimbunan absolut = 4 + 4,2 + 7 + 5,2 + 8,8 + 1 + 4 + 1 + 1 = 36,2 Kerimbunan relatif A = 4/36,2 100% = 11,05% Kerimbunan relatif B = 4,2/36,2 100% = 11,60% Kerimbunan relatif C = 7/36,2 100% = 19,34% Kerimbunan relatif D = 5,2/36,2 100% = 14,36%

Kerimbunan relatif E = 8,8/36,2 100% = 24,31% Kerimbunan relatif F = 1/36,2 100% = 2,76% Kerimbunan relatif G = 4/36,2 100% = 11,05% Kerimbunan relatif H = 1/36,2 100% = 2,76% Kerimbunan relatif I = 1/36,2 100% = 2,76% Total kerimbunan relatif = 11,05% + 11,60% + 19,34% + 14,36% + 24,31% + 2,76% + 11,05% + 2,76% + 2,76% = 99,99% Frekuensi absolut A = 5/10 Frekuensi absolut B = 8/10 Frekuensi absolut C = 6/10 Frekuensi absolut D = 6/10 Frekuensi absolut E = 9/10 Frekuensi absolut F = 2/10 Frekuensi absolut G = 4/10 Frekuensi absolut H = 1/10 Frekuensi absolut I = 1/10 Total frekuensi absolut = 5/10 + 8/10 + 6/10 + 6/10 + 9/10 + 2/10 + 4/10 + 1/10 + 1/10 = 42/10 Frekuensi relatif A = 5/42 100% = 11,90% Frekuensi relatif B = 8/42 100% = 19,05% Frekuensi relatif C = 6/42 100% = 14,28% Frekuensi realtif D = 6/42 100% = 14,28% Frekuensi relatif E = 9/42 100% = 21,43% Frekuensi relatif F = 2/42 100% = 4,76% Frekuensi relatif G = 4/42 100% = 9,52% Frekuensi relatif H = 1/42 100% = 2,38% Frekuensi relatif I = 1/42 100% = 2,38% Total frekuensi relatif = 11,90% + 19,05% + 14,28% + 14,28% + 21,43% + 4,76% + 9,52% + 2,38% + 2,38% = 99,97% Nilai Penting (NP) = Kr + Dr + Fr = = 99,98% + 99,99% + 99,97% = 299,94% Sehingga disusun menjadi tabel data analisis sebagai berikut : Kerapatan Kerimbunan Frekuensi Jenis Tumbuhan Kp KpR Kb KbR F FR A 2 13,16% 4 11,05% 5/10 11,90% B 5,4 35,53% 4,2 11,60% 8/10 19,04% C 1,6 10,53% 7 19,34% 6/10 14,28% D 2 13,16% 5,2 14,36% 6/10 14,28% E 2 13,16% 8,8 24,31% 9/10 21,43% F 0,4 2,6% 1 2,76% 2/10 4,76% G 0,8 5,26% 4 11,05% 4/10 9,52%

No. 1 2 3 4 5 6 7

NP 36,11% 66,17% 44,15% 41,8% 58,9% 10,12% 25,83%

8 9

H I Jumlah

0,5 0,5 15,2

3,29% 3,29% 99,98%

1 1 36,2

2,76% 2,76% 99,99%

1/10 1/10 42/10

2,38% 2,38% 99,97%

8,43% 8,43% 299,94%

Untuk mengetahui indeks diversitas vegetasi tersebut, dengan asumsi adalah semua spesies diwakili dan berupa sampel acak (probabilitas yang sama untuk terpilih dalam sampel) maka digunakan Indeks Shannon Weaver dengan rumus :

H' = - 7 pilnpi
dengan pi = proporsi spesies ke-i dan ln = logaritma alami Indeks Shannon Weaver (H') 0,309 0,296 0,115 0,188 0,197 0,017 0,031 0,022 0,017 1,192

Spesies A B C D E F G H I Jumlah

Jumlah spesies tiap plot 300+39+56+25+1= 421 541+116+50+425+49+223+39+1= 1444 1+11+14+35+18+1=80 15+121+3+1+19+7=166 1+4+2+3+51+5+22+53+37=178 2+4=6 1+5+7+1=14 9 6 2324

Proporsi (pi) 421/2324=0,181 1444/2324=0,621 80/2324=0,034 166/2324=0,071 178/2324=0,077 6/2324=0,003 14/2324=0,006 9/2324=0,004 6/2324=0,003 1

5.2 Pembahasan Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi atau masyarakat tumbuhan. Berbeda dengan inventaris hutan titik beratnya terletak pada komposisi jenis pohon. Dari segi floristis, ekologi untuk daerah yang homogen dapat digunakan random sampling, sedangkan untuk penelitian ekologi lebih tepat digunakan sistematika sampling, bahkan purposive sampling pun juga dibolehkan. Praktikum analisis vegetasi kali ini dilakukan di daerah rerumputan sekitar auditorium kampus C Universitas Airlangga. Analisis yang kami gunakan adalah analisis kuantitatif, sedangkan metode yang digunakan adalah metode kuadrat. Berdasarkan hasil analisis vegetasi data dengan metode kuadrat, didapatkan nilai kerapatan relatif, kerimbunan relatif dan frekuensi relatif 99,98%, 99,99%, dan 99,97% sehingga nilai maksimum dari nilai penting dicapai yaitu sebesar 299,94%. Hasil tersebut hampir mencapai nilai maksimum dari Nilai Penting adalah 300%. Hal ini disebabkan karena wilayahnya tidak homogen, ada beberapa wilayah yang subur (terdapat vegetasi), namun ada juga wilayah yang tidak terdapat vegetasi. Pada praktikum ini, nilai kerapatan ditentukan berdasarkan kelas kerapatan sebagai berikut :

Kelas Kerapatan 1. 2. 3. 4. 5

Keterangan Jarang sekali < 40 Jarang 40 Cukup rapat 60 Rapat 80 Rapat sekali 100

Untuk kerimbunan dalam praktikum ini didasarkan pada kelas kerimbunan dari Braunblanquet : Kelas Kerapatan Keterangan 1. 2. 3. 4. 5 >75% 75-50% 49-25% 24-10% <10%

Dan untuk fekuensi ditentukan berdasarkan kekerapan dari spesies yang diketemukan dari sejumlah kuadrat yang dibuat (Hariyanto dkk, 2008) Kemudian berdasarkan hasil perhitungan di atas, nilai indeks Shanon Weaver didapatkan sebesar 1,192. Hal ini dikarenakan indeks dipengaruhi oleh jumlah spesies dan kemerataan populasi mereka. Keanekaragaman meningkat seiring meningkat baik indeksnya. Keanekaragaman maksimal bila semua spesies sama-sama berlimpah. Ciri morfologi dari spesies A yaitu tangkainya berbentuk segitiga, tulang daunnya sejajar, daun berwarna hijau, tangkai panjang. Sedangkan ciri morfologi dari spesies B yaitu memiliki daun kecil dan panjang, daun berwarna hijau, memiliki cabang tangkai, dan di setiap percabangan terdapat daun. Spesies C memiliki ciri morfologi daunnya pipih berbentuk lonjong, daun berwarna hijau, Percabangan terletak di daerah ujung tangkai. Untuk ciri morfologi dari spesies D daun berwarna hijau, bentuk daunnya oval dengan ujung daun membulat telur, tumbuh secara menjalar. Ciri morfologi dari spesies E hampir sama dengan spesies B, hanya saja daging daun lebih tipis dan ukuran daunnya lebih kecil. Untuk spesies F, memiliki daun berwarna hijau dengan tepi daun yang bergelombang. Spesies G memiliki warna daun yang hijau, tulang daunnya sejajar, memiliki batang yang pendek. Spesies H memilki warna daun hijau muda, tulang daunnya sejajar. Dan morfologi dari spesies I ialah warna daun hijau, memiliki ujung daun meruncing.

Hipotesis kerja yang kami gunakan dalam laporan dapat diterima, hal ini dikarenakan hasil perhitungan baik dari nilai kerapatan, kerimbunan, frekuensi relatif dan nilai penting telah mencapai nilai maksimum.

BAB VI KESIMPULAN
1. Untuk menganalisis suatu vegetasi dapat menggunakan analisis kuantitatif dengan menggunakan metode kuadrat sehingga mudah diketahui kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang akan menghasilkan indeks yang sangat penting berupa Nilai Penting. 2. Nilai penting ialah nilai total (penjumlahan) dari kerapatan relatif, kerimbunan relatif, dan frekuensi relatif. Nilai penting pada praktikum ini adalah 299,94% mendekati nilai maksimum karena wilayahnya tidak homogen. Untuk nilai Indeks Shanon Weaver sebesar 1,192. 3. Jumlah kerapatan spesies pada praktikum ini adalah 7,2 dan kerapatan relatifnya adalah 99,98%. Jumlah kerimbunan spesies yang diamati pada praktikum ini ialah 17,1 dengan kerimbunan relatifnya 99,99%. Dan untuk frekensi absolut pada praktikum ini didapatkan sebesar 42/10 dengan frekuensi relatifnya adalah 99,97%. Hal ini menunjukkan pada vegetasi tersebut sangat rapat, sangat rimbun, dan frekuensi (pertemuan spesies pada tiap plot) juga sangat tinggi sehingga nilai penting yang didapatkan juga tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Hariyanto, S., B. Irawan dan T. Soedarti. 2008. Teori dan Praktik Ekologi. Surabaya : Airlangga University Press. Irwanto. 2007. Analisis Vegetasi untuk Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung Pulau Margesu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Yogyakarta : Bagian Ilmu Kehutanan, Departemen Kehutanan, Fakultas Kehutanan UGM. Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA: Malang. Setiadi, D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Lahan di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat. Bogor: Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB. Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB: Bandung. Anonim. 2008. Anveg, Metode Kuadrat. Diakses dari http://iqbalali.com/2008/02/27/anvegmetode-kuadrat/ pada tanggal 7 Desember 2011 15:30 Anonim. 2009. Analisis Vegetasi Metode Kuadrat. Diakses dari http://ibiologi08share.blogspot.com/2009/04/beberapa-metodologi-yang-umum-dan.html pada tanggal 7 Desember 2011 15:30 Anonim. 2009. http://deepseanews.com/2009/04/biodiversity-pt-1-richness-vs-evenness-or-whatkinds-of-beer-are-in-my-refrigerator/ diakses pada 8 Desember 2011 1:18 Anonim, 2009. http://mei-smart.blogspot.com/2009/10/analisis-vegetasi.html diakses pada 3 Desember 12:34. Pangrango Hamid, Huzaifah. 2009. http://zaifbio.wordpress.com/2009/01/30/deskripsi-dananalisis-vegetasi-floristika-dan-non-floristika/ diakses pada 3 Desember 23:07. Santoso, Bhima Wibawa. 2010. http://bhimashraf.blogspot.com/2010/03/laporan-analisisvegetasi.html diakses pada 5 Desember 2010 06:43.