5 Juli 2008

prosedur pasien masuk ICU
PROSEDUR PASIEN MASUK ICU 1.ICU dapat menerima pasien dari : ‡UGD ‡Instalasi Rawat Inap ( IRIN ) ‡Poliklinik ‡Kamar operasi ‡Rujukan dari luar 2.Indikasi masuk : Pasien-pasien gawat yang masih memungkinkan dapat diselamatkan ( Acute Critical Recoverable ) meliputi : a.Pasien yang memerlukan alat bantu : Pasien gagal nafas yang memerlukan alat bantu nafas ( ventilator ) i Pasien yang memerlukan pacu jantung b. Pasien yang kehidupannya terancam dan memerlukan pemantauan terus menerus serta terapi titrasi agar penyakit dapat diantisipasi, Misal : - Pasien infark miokard akut - Pasien hipertensi emergency - Pasien disritmia jantung maligna - Pasien yang memerlukan obat vasoaktif secara titrasi - Pasien kontusio serebri - Pasien gangguan pembuluh darah otak - Pasien pasca bedah dengan nilai aldrete < 7 - Pasien pasca resusitasi atau sedang dalam resusitasi - Pasien koma mendadak yang bukan mati batang otak - Pasien eklampsia 3. Prosedur pasien masuk a. Petugas di tempat asal pasien yang akan dimasukkan ke ICU memberitahu kepada petugas ICU ( lewat telepon ) antara lain : ‡ Telah disetujui oleh dokter penanggung jawab ICU ‡ Identitas pasien ‡ Diagnosa pasien / macam kegawatan b. Petugas dari tempat asal pasien, mengantar pasien ke ICU sesuai dengan prosedur mengantar pasien gawat yang benar c. Setelah pasien masuk ke ICU, petugas ICU merawat / mengatasi kegawatan sesuai dengan penatalaksanaan kegawatan dan segera memberi tahu kepada dokter ICU sesuai dengan bidangnya atau dokter jaga yang dilimpahi atau kepada kepala ICU d. Penatalaksanaan pasien selanjutnya berdasarkan instruksi tertulis dari dokter yang merawat semula yang dikoordinir oleh dokter ICU e. Kunjungan lanjutan ( follow up / visite ) dikerjakan setiap hari ( dianjurkan sebelum jam 09.00 ) dengan koordinasi dokter ICU dan tercatat di Rekam medik f. Apabila pasien sudah diperbolehkan keluar dari perawatan di ICU, oleh dokter ICU dikemabalikan ke ruang asal dengan sepengetahuan dokter yang merawat semula atau sesuai dengan permintaan pasien yang bersangkutan.

diperlukan dokter ICU yang memahami teknologi kedokteran. farmakologi dan kedokteran konvensional dengan kolaborasi erat bersama perawat terdidik dan terlatih untuk critical care. Klorida. minimal adalah : a. bencana atau komplikasi yang masih ada harapan hidupnya (reversible).4. Bambang Triyono. Natrium. Dalam mengelola pasien ICU. Pasien yang semula dirawat karena masalah bedah/trauma dapat berubah menjadi problem medik dan sebaliknya. Darah : Hb / Ht Lekosit LED Diff count Gula darah sewaktu Ureum / creatinin Kalium. 2. SEJARAH ICU . Pemeriksaan laboratorium awal. 140328209 Sunday. Magnesium atau kalsium Protein / enzym jantung b.MsiMed NIP. SpAn. Urine : produksi dan protein Ngawi. Juli 2008 Penanggung jawab ICU Dr. DEFINISI ICU ICU adalah ruang rawat di Rumah Sakit yang dilengkapi dengan staf dan peralatan khusus untuk merawat dan mengobati pasien yang terancam jiwa oleh kegagalan / disfungsi satu organ atau ganda akibat penyakit. 2009 KONSEP DASAR ICU 1. May 17. fisiologi.

tetapi ventilator hanya diberikan kurang dari 24 jam. Level I (di Rumah Sakit Daerah dengan tipe C dan D) Pada Rumah Sakit di daerah yang kecil. 2. Di ICU level I ini dilakukan observasi perawatan ketat dengan monitor EKG. Resusitasi segera dapat dikerjakan. LEVEL ICU 1. . patologi dan radiologi. punya dokter residen yang selalu siap di tempat dan mempunyai hubungan dengan fasilitas fisioterapi. 3. perhatian terhadap ICU di Indonesia semakin besar (ICU pertama kali adalah RSCM Jakarta). Pada tahun 1970. ICU mulai menjadi spesialis tersendiri. ICU modern berkembang dengan mencakup penanganan respirasi dan jantung menunjang ffal organ dan penanganan jantung koroner mulai tahun 1960. Level III ICU Level III biasanya pada Ruamh Sakit tipe A yang memiliki semua aspek yang dibutuhkan ICU agar dapat memenuhi peran sebagai Rumah Sakit rujukan. terutama dengan adanya penelitian tentang proses patofisiologi. Bentuk fasilitas lengkap untuk menunjang kehidupan (misalnya dialisis). 3. hasil pengobatan pasien kritis dan program pelatihan ICU. ICU lebih tepat disebut sebagai unit ketergantungan tinggi (High Dependency). Level II ICU level II mampu melakukan ventilasi jangka lama.ICU mulai muncul dari ruang pulih sadar paska bedah pada tahun 1950. monitor invasif (monitor tekanan intrakranial) dan pemeriksaan canggih (CT Scan) tidak perlu harus selalu ada. baik untuk dokter maupun perawatnya. Dalam beberapa tahun terakhir.

ICU trauma/bedah 3. ICU pediatrik 5. Alasan utama untuk hal ini adalah segi ekonomis dan operasional dengan menghindari duplikasi peralatan dan pelayanan dibandingkan pemisahan antara ICU Medik dan Bedah.Personil di ICU level III meliputi intensivist dengan trainee. 5. Jumlah ini tergantung pada peran dan tipe ICU. profesional kesehatan lain. dengan pemisahan untuk CCU (Jantung). TIPE. kamar bedah. staf ilmiah dan sekretariat yang baik. dan akses ke laboratorium dan radiologi. ICU Medik 2. yaitu mengelola pasien yang sakit kritis sampai yang terancam jiwanya. Transportasi dari semua aspek tersebut harus lancar. baik untuk alat maupun untuk tempat tidur. ICU respiratorik Semua jenis ICU tersebut mempunyai tujuan yang sama. FUNGSI ICU Dari segi fungsinya. . Lokasi ICU sebaiknya di wilayah penanggulangan gawat darurat (Critical Care Area). ICU di Indonesia umumnya berbentuk ICU umum. jadi ICU harus berdekatan dengan Unit Gawat Darurat. 4. Pemeriksaan canggih tersedia dengan dukungan spesialis dari semua disiplin ilmu. ICU umum 4. perawat spesialis. ICU neonatus 6. ICU dapat dibagi menjadi : 1. UKURAN DAN LOKASI ICU Jumlah Bed ICU di Rumah Sakit idealnya adalah 1-4 % dari kapasitas bed Rumah Sakit. Unit dialisis dan neonatal ICU.

telepon dan komputer. Barang bersih dan kotor harus terpisah. PERALATAN Jumlah dan tingkat peralatan tergantung pada peran da tipe ICU. catatan medik. untuk kamar isolasi perlu ruangan yang lebih luas. 6. Perbandingan ruang terbuka dengan kamar isolasi tergantung pada jenis rumah sakit. 4 penghisap dan 16 sumber listrik dengan lampu penerangan. Ruang Pasien Setiap pasien membutuhkan wilayah tempat tidur seluas 18. 4. Tempat Cuci Tangan Tempat cuci tangan harus cukup memudahkan dokter dan perawat untuk mencapainya setiap sebelum dan sesudah bersentuhan dengan pasien (bla memungkinkan 1 tempat tidur mempunyai 1 wastafel) 5. sedangkan di ICU level III minimal 4 saluran. Fasilitas Bed Untuk ICU level III. Di pusat siaga. 2 udara tekan. Gudang dan Tempat Penunjang Gudang meliputi 25 ± 30 % dari luas ruangan pasien dan pusat siaga petugas. Peralatan tersebut dapat menempel di dinding atau menggantung di plafon. ICU level I dan II peralatannya akan lebih sederhana dibandingkan dengan ICU level III. 2.5 m2. obat-obatan yang diperlukan. Monitor dan Emergency Troli Monitor dan emergency troli harus mendapat tempat yang cukup. 3. Misalnya Monitor samping bed di ICU pada level I dan II cukup 2 saluran. . sebaiknya ditempatkan sentral monitor.1. setiap bed dilengkapi dengan 3 colokan oksigen.

dengan mengacu pada data laboratorium atau monitor bed side 2.7. terutama dalam keadaan mendesak. insulin dan obat lain dapat dilakukan berdasarkan data klinis dan laboratorium. Terkadang muncul kontroversi etik dalam legalitas moral di ICU. antara lain : 1. dan hubungan dengan kolega harus dilaksanakan secara cermat. tetapi harus segera diikuti dengan konsultasi tertulis. fisioterapis dan pengawas ruangan. PROSEDUR MASUK ICU Pasien yang masuk ICU dikirim oleh dokter disiplin lain di luar Icu setelah berkomsultasi dengan doketr ICU. Perawan perawat di ICU dapat diperluas daam menangani pasien-pasien ICU. ETIK DI ICU Etik dalam penanganan pasien riset. Menghadapi kasus hipotensi dapat melakukan Challenge test 4. perawat. PERSONIL Tenaga dokter. 8. analgesik. tetapi dapat juga didahului secara lisan (misalnya lewat telepon). Dalam proses sapih ventilator dapat menyesuaikan frekuensi nafas atau tekanan. 9. 3. Keadaan yang mengancam jiwa akan menjadi tanggungjawab dokter pengirim. paramedik lain dan tenaga non medik tergantung pada level ICU dan kebutuhan masing-masing ICU. misalnya tentang euthanasia. Etik di ICU perlu pertimbangan berbeda dengan etik di pelayanan kesehatan atau bangsal lain. Aspek lain pada fungsi perawat di ICU adalah perawat dapat bertindak dalam segi administrasi. . Konsultasi sifatnya tertulis. Dalam pengobatan sedatif.

pemantauan dan pengobatan intensif. Selama pengobatan di ICU. masih ada indikasi sosial yang memungkinkan seorang pasien dengan kekritisan dapat dirawat di ICU. kecuali transportasi pasien masih perlu bantuan khusus dapat dibantu oleh pihak ICU. Selain adanya indikasi medik tersebut. KRITERIA KELUAR DARI ICU Pasien tidak perlu lagi berada di ICU apabila : 1. misalnya gas gangren. KONTRAINDIKASI MASUK ICU Yang mutlak tidak boleh masuk ICU adalah pasien dengan penyakit yang sangat menular. 12. 11. maka dimungkinkan untuk konsultasi dengan berbagai spesialis di luar dokter pengirim atau dokter ICU bertindak sebagai koordinatornya. 10. Terhadap pasien atau keluarga pasien wajib diberikan penjelasan tentang perlunya masuk ICU dengan segala konsekuensinya dengan menandatangani informed concern.Transportasi ke ICU masih menjadi tanggungjawab dokter pengirim. Meninggal dunia . INDIKASI MASUK ICU Pasien yang masuk ICU adalah pasien yang dalam keadaan terancam jiwanya sewaktu-waktu karena kegagalan atau disfungsi satu atau multple organ atau sistem dan masih ada kemungkinan dapat disembuhkan kembali melalui perawatan. Pada prinsipnya pasien yang masuk ICU tidak boleh ada yang mempunyai riwayat penyakit menular.

tanpa defek atau cacat 15. antara lain : 1. 13. Tidak ada kegawatan yang menganca jiwa sehingga dirawat di ruang biasa atau dapat pulang 3. karena pasien ICU mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap perawat dan dokter. Untuk kasus seperti ini keluarga atau pasien harus menandatangani surat keluar ICU atas permintaan sendiri. Untuk meminimalkan reaksi negatif dari pasien ICU dapat dilakukan beberapa hal. 14. Keluarga dapat diijinkan bertemu pasien untuk memberikan dukungan moral . Atas permintaan keluarga atau pasien. ketidakberdayaan. REAKSI PASIEN DAN KELUARGA PASIEN ICU Reaksi pasien di ICU antara lain kecemasan. TUJUAN AKHIR PENGOBATAN ICU Hasil yang paling baik dari pengobatan di ICU adalah keberhasilan dalam mengembalikan pasien pada aktifitas kehidupan sehari-hari seperti keadaan sebelum pasien sakit. Memberikan sedasi atau analgesi bila perlu 3. Perubahan yang terjadi harus dianalisa secara cermat untuk mendapat tindakan yang cepat dan tepat. PERLAKUAN TERHADAP PASIEN ICU Pasien di ruang ICU berbeda dengan pasien di ruang rawat inap biasa. Memberikan penjelasan setiap akan melakukan tindakan 2. Di ICU. disorientasi dan kesulitan komunikasi. pasien kritis atau kehilangan kesadaran atau mengalami kelumpuhan sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam diri pasien hanya dapat diketahui melalui monitoring yang baik dan teratur.2.

anggota gerak. Pendekatan Pasien ICU 1. gas darah. PENGELOLAAN PASIEN ICU 1. gastro intestinal.4. antara lain cemas sampai dengan insomnia. hematologi. Anamnesis Seringkali pasien sebelum masuk ICU sudah mendapat tindakan pengobatan sebelum diagnosis definitif ditegakkan. 4. sistem pernafasan. Kajian hasil pemeriksaan Meliputi biokimia. Serah Terima Pasien Untuk mengetahui riwayat tindakan pengobatan sebelumnya dan sebagai bentuk aspek legal. monitoring TTV. penilaian neurologis. ginjal dan cairan. kardiovaskuler. . foto thorax. Penjelasan tentang kondisi terkini pasien 3. antara lain : 1. Dapat dibuatkan selebaran / pamflet tentang ICU 2. Keluarga pasien dapat diikutkan pada konferensi klinik bersama semua staf dan perawat 16. Pemeriksaan Fisik Meliputi pemeriksaan fisik secara umum. haematologi dan posisi pasien. 2. Untuk meminimalkan reaksi negatif keluarga pasien dapat dilakukan beberapa hal. Keluarga pasien juga dapat mengalami hal serupa dengan pasien. 3. Diberikan alat bantu semaksimal mungkin. CT scan. efek pengobatan.

Identifikasi masalah dan strategi penanggulangannya 6. Nutrisi Utamakan pemberian nutrisi enteral 1.5. 7. Cairan : Dehidrasi 6. Sistem pernafasan 4. Riwayat pemakaian obat 4. Sistem sirkulasi 5. Jalan nafas dan kepala 3. ABC 2. obat-obatan. Cadangan fisiologis terbatas 2. Anggota gerak 3. Pemeriksaan Fisik Walaupun keadaan stabil. Riwayat perokok. Monitoring rutin 4. Intubasi dan Pengelolaan Trakhea 5. 5. alkoholisme. pasien tetap harus dilakukan pemeriksaan fisik : 1. Informasi kepada keluarga 2. Sistem gastrointestinal 6. Usia Lanjut 1. Peningkatan penyakit penyerta 3. Interaksi obat pada usia lanjut . Perdarahan Gastrointestinal Stress ulcer dapat merupakan kompensasi dari penyakit akut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful