Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS II

PSIKOTIK AKUT DAN SEMENTARA PADA REMAJA

Presentan Moderator Tanggal Tempat

: : : :

Untung Sentosa Tatang Muchtar S. dr. SpKJ(K) 2 Desember 2009 Ruang Sidang Bagian Psikiatri RS Dr. Hasan Sadikin Bandung

BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN RS Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG 2009

LAPORAN KASUS RAWAT INAP RUANG GANGGUAN PSIKIATRI RUMAH SAKIT DR. HASAN SADIKIN BANDUNG A. IDENTITAS PENDERITA Pasien AR, seorang laki-laki berusia 17 tahun, anak ke 2 dari 2 bersaudara, suku Sunda, beragama Islam, bekerja, pendidikan tidak tamat SMA, belum menikah, masuk perawatan RGP RS. Hasan Sadikin sejak tanggal Nopember 2009

B. KELUHAN UTAMA Bicara Kacau, mengamuk & telanjang

Anamnesa diperoleh dari heteroanamnesis dengan Tn. N (Paman kandung, 35th) & Ny. T (ibu kandung, usia 45 tahun) pada tanggal 11 Nopember 2009. Hubungan dekat, kebenaran anamnesa dapat dipercaya

C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG 1 bulan Sebelum masuk RS pasien pergi ke Bekasi untuk bekerja di cafe batagor, bekerja sebagai pelayan. Pasien sering ditegur oleh pemilik caf karena malas bekerja, sering melamun. 2 minggu SMRS, pasien pulang ke bandung, tampak gelisah dan menyampaikan kepada keluarganya kalau dirinya tidak betah di bekasi. Pasien tampak mondar-mandir, sulit tidur, bicara tidak nyambung, makan biasa. 2 hari kemudian pasien ditelpon oleh pemilik cafe, pasien disuruh kembali ke Bekasi. Pasien pergi ke Bekasi bersama temannya. 4 hari SMRS, Pasien datang dari kota bekasi tempat dia bekerja, datang sendiri, kemudian pasien menangis. Pasien tampak bicara kacau, mengatakan dirinya sudah mati, nabi adam, suka menjawab dialog yang ada pada siaran TV. 1 hari SMRS, Dini hari pasien naik ke atas atap tanpa pakaian lalu azan. Pasien kemudian mengamuk memecahkan kaca dan eternit. Pasien memukul pamannya dengan terlebih dulu bersalaman (meminta maaf). Hal ini juga dilakukan pada ayahnya. Ketika pasien ditanya mengapa memukul, pasien menjawab pengen aja. Kemudian Pasien dibawa ke RS.

D. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Tidak mempunyai riwayat penyakit gangguan jiwa.

E. RIWAYAT MEDIS DAN PSIKIATRI LAIN 1. Gangguan Mental atau Emosi Tidak ditemukan Gangguan Mental atau Emosi 2. Gangguan Psikosomatis Tidak ditemukan adanya gangguan psikosomatis. 3. Kondisi Medik Riwayat penyakit fisik, pasien pernah minum alkohol karena disuruh temannya, namum tidak menjadi kebiasaan. Penyalahgunaan zat dan obat-obatan terlarang tidak ada. 4. Gangguan Neurologi Riwayat trauma kepala, sakit kepala hebat, kejang, kesulitan bicara, kelemahan anggota tubuh dan kehilangan kesadaran tidak ada.

F. RIWAYAT KELUARGA o Struktur keluarga yang tinggal serumah saat pasien berusia 10 tahun No 1 2 3 4 Nama Tn. W Ny. T R AR L/P L P P L Usian 47 thn 38 thn 12 thn 10 thn Hubungan Ayah kandung Ibu kandung Kakak kandung Pasien Sifat Pendiam, penyabar Pemarah, dominan Penyayang, ceria Pendiam, penyabar

o Struktur keluarga yang tinggal serumah saat ini No. 1. 2. 3. Nama Ny. T N AR L/P P P L Usian 45 thn 19 thn 17 thn Hubungan Ibu kandung Kakak kandung Pasien Sifat Pemarah, dominan Ceria Pendiam, pemalu

Pasien dibesarkan dalam sosiokultural budaya Sunda. Ayah bekerja adalah salah seorang karyawan PT DI yang di-PHK pada tahun 1999, ketika pasien berusia 6 tahun,

sampai saat ini ayah tidak mempunyai pekerjaan tetap. Ayah memiliki sifat pendiam, penyabar dan penyayang. Ibu lebih dominan, ibu pasien penderita asma yang memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan ketika pengobatan asma sehingga ibu pasien tidak mau memakan obat. Karena sesak napas Ibu pasien sering tidur dalam posisi duduk. Ibu pasien sering marah kepada pasien hanya karena masalah yang kecil. Tidak terdapat hubungan darah antara ayah dan ibu. Hubungan pasien dengan saudara sudaranya kurang dekat. Pasien lebih dekat dengan sepupunya. 2 orang adik ibu pasien memiliki riwayat gangguan jiwa (depresi), 1 orang sering pergi tanpa diketahui tempat tujuannya. Ayah pasien pernah mengalami gangguan jiwa setelah di-PHK, hanya rawat jalan 2 minggu dan pulih kembali.

GENOGRAM

III

II

Laki-laki :

Perempuan : :

Pasien :

G. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI 1. Riwayat prenatal, kehamilan dan kelahiran Pasien dikandung selama 9 bulan, lahir dengan vakum karena ibu mendapat serangan asma, berat badan lahir normal, tidak ada kelainan fisik pada saat lahir. Kehamilan pasien belum direncanakan, orang-tua menggunakan KB kondom, namun demikian kehamilan tersebut dapat diterima ayah & ibunya. Hubungan ayah dan ibu selama kehamilan cukup harmonis.

2. Masa kanak-kanak awal ( sampai usia 3 tahun) a. Kebiasaan makan, minum dan tidur Pasien mendapat ASI hingga usia 2 tahun. Pasien mulai mendapat makanan padat sejak usia kira-kira 6 bulan, tidak ada kesulitan dalam pemberian makanan. b. Perkembangan awal Kesehatan pasien cukup baik dan jarang sakit. Pertumbuhan dan perkembangan sesuai anak sebaya. Pasien dapat berbicara dan berjalan pada usia kira-kira 12 bulan. c. Toilet training Pasien mendapat toilet training dari ibunya tanpa paksaan. d. Gejala-gejala gangguan perilaku Tidak ditemukan e. Kepribadian dan temperamen Pasien adalah anak yang pendiam, jika minta tambahan makanan setelah diberi makanan malah dibuang. 3. Masa kanak-kanak pertengahan (usia 3-11 tahun) Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya Namun, ada saat usia 6 tahun, 11 tahun yang lalu, Ayah di PHK dan sejak itu ayah pasien tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hubungan lebih dekat dengan ibunya. Pada usia 11 tahun pasien beserta keluarga pindah ke rumah kakeknya, sementara ayah lebih sering di rumah yang lama. Pasien mulai masuk SD usia 7 tahun. Prestasi kurang karena pasien masih suka bermain di dalam kelas. 4. Masa kanak-kanak akhir (pubertas hingga remaja) Pada usia 13 tahun, orang-tua bercerai, pasien tampak tidak mempermasalahkan hal tersebut. 3 bulan kemudian kakek pasien meninggal-dunia. Sejak itu, jika sendirian, pasien sering tampak melamun dan menangis serta susah tidur. Pada usia 14 tahun, ayah pasien menikah lagi dengan wanita lain. Pasien sebenarnya keberatan ayahnya menikah lagi namun ketika pasien telah bertemu dengan ayahnya pasien tidak dapat mengucapkan keberatan tersebut. a. Hubungan dengan teman sebaya Pasien dikenal sebagai orang yang pendiam dan pemalu.

b. Riwayat pendidikan Pasien dapat menyelesaikan SMP dengan prestasi baik (masuk 10 besar) dan setelah tamat SMP pasien mendaftar SMK (kimia) namun tidak diterima karena buta warna parsial. Pasien masuk ke SMA swasta, namun dikeluarkan karena sering tidak masuk sekolah. Ketika ditanya paman, pasien menyebutkan tidak mau ke sekolah karena di sekolah pasien dipaksa minum alkohol. Kemudian pasien masuk ke SMA swasta yang lain, namun hanya bertahan 3 bulan, pasien tidak masuk sekolah lagi dengan alasan yang sama. c. Perkembangan kognitif dan motorik Sesuai dengan anak seusianya, menurut ibunya pasien termasuk anak yang cerdas. d. Masalah emosi dan fisik masa remaja Pasien sangat tertutup, pendiam, pemalu dan tidak pernah membuat masalah. Apabila mempunyai masalah pasien cenderung diam. Sering mengungkapkan keraguan akan kelanjutan pendidikannya. e. Riwayat psikoseksual i. Ketertarikan awal pada lawan jenis, dan perilaku seksual tidak diketahui.

ii. Pasien mengetahui masalah seksual tidak diketahui. iii. Kegiatan seksual tidak diketahui f. Latar belakang agama Penderita rajin sholat lima waktu. g. Riwayat pekerjaan 1 bulan SMRS pasien bekerja di cafe batagor milik tetangga di kota bekasi. h. Aktifitas sosial Pasien suka menonton TV sampai larut malam & susah tidur, pasien suka main playstation, yang merupakan usaha di rumah pasien. Siang hari pasien suka bermain di mesjid. Aktifitas di mesjid tidak diketahui. i. Seksualitas dewasa Pasien belum pernah menikah. Aktivitas seksual tidak diketahui. j. Riwayat militer Penderita tidak memiliki pengalaman militer, tidak pernah berurusan dengan polisi dan pengadilan.

H. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL I. Hari ke 6, 11 Nopember 2009 A. Gambaran Umum 1. Penampilan Pasien dijumpai di ruang perawatan psikiatri dalam keadaan tenang. Pasien berpenampilan sesuai usianya. Kondisi fisik terlihat sehat, berperawakan sedang, status gizi cukup, kulit sawo matang, cara berpakaian cukup rapi, kebersihan diri baik. 2. Perilaku terhadap pemeriksa Pasien menjawab pertanyaan dari pemeriksa dan melihat pemeriksa 3. Karakteristik bicara : spontan 4. Tingkah laku dan aktivitas psikomotor : normoaktif B. Mood dan Afek 1. Mood 2. Afek C. Persepsi 1. Ilusi 2. Halusinasi : tidak ada : suara beberapa orang berbicara, namun tidak tahu siapa & apa yang dibicarakan. D. Pikiran 1. Bentuk pikiran 2. Jalan Pikiran 2. Isi pikiran E. Sensori dan Kognisi 1. Kesadaran 2. Orientasi tempat-waktu-orang : komposmentis : baik : autistik : Assosiasi longgar : waham kebesaran, thougth broadcasting (+) : biasa, irriabel : terbatas,

3. Memori immediate, recent dan past : baik 4. Konsentrasi dan perhatian 5. Membaca dan menulis 6. Berpikir abstrak 7. Informasi dan intelegensi : mudah beralih : baik : baik : baik

F. Penilaian G. Wawasan terhadap penyakit

: baik : partial

I. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT A. Pemeriksaan fisik Keadaan umum Kesadaran Gizi Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu Kulit Kepala Mata : tenang : kompos mentis : cukup : 120/80 mmhg : 80x/menit : 16 x/menit : afebris : turgor baik : tidak ada deformitas : konjungtiva tidak anemis, sklera tak ikterik, pupil bulat isokor, refleks cahaya +/+ Leher Toraks Jantung Pulmo Abdomen Hepar Lien Ekstremitas : JVP tidak meningkat, KGB tidak teraba : bentuk dan pergerakan simetris : bunyi jantung murni, regular, mur-mur (-) : sonor, VBS kanan = kiri : datar, bising usus (+) : tidak teraba : tidak teraba : tidak ada kelainan

B. Pemeriksaan psikologik : tidak dilakukan C. Pemeriksaan penunjang : y Pemeriksaan laboratorium ( tanggal 11 Nopember 2009) Haemoglobin : 14,3 Leukosit Trombosit Hematokrit : 11.000 g/dL /mm3 SGOT SGPT Ureum : 43 U/L

: 17 U/L : 20 mg/dL

: 279.000 /mm3 : 42 %

Kreatinin : 1,00 mg/dL

Glukosa Drh sewaktu

: 101

mg/dL

J. RINGKASAN PENEMUAN A. Gambaran Umum 1. Penampilan : Tenang 2. Perilaku terhadap pemeriksa : Ada, adequat 3. Karakteristik bicara : spontan 4. Tingkah laku dan aktivitas psikomotor : normoaktif B. Mood dan Afek 1. Mood 2. Afek C. Persepsi 1. Ilusi 2. Halusinasi D. Pikiran 1. Bentuk pikiran 2. Jalan Pikiran 2. Isi pikiran E. Sensori dan Kognisi 1. Kesadaran 2. Orientasi tempat-waktu-orang : komposmentis : baik : autistik : Assosiasi longgar : waham kebesaran, thougth broadcasting (+) : tidak ada : (+). : biasa, irriabel : terbatas,

3. Memori immediate, recent dan past : baik 4. Konsentrasi dan perhatian 5. Membaca dan menulis 6. Berpikir abstrak 7. Informasi dan intelegensi F. Penilaian G. Wawasan terhadap penyakit H. Pemeriksaan fisik : dalam batas nomal I. Pemeriksaan laboratorium dalam batas nomal : mudah beralih : baik : baik : baik : cukup : partial

K. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL Aksis I : - F23 Psikotik akut & Sementara DD/ : - Skizofrenia Hebrefrenik Aksis II : tidak ada diagnosis

Aksis III : tidak ada diagnosis Aksis IV : masalah Keluarga & Ekonomi, Aksis V : GAF scale 1 thn SMRS 80 71 GAF scale Saat Masuk RS 50 - 41 L. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : dubia ad malam

M. PENATALAKSAAN 1. Farmakologi : Resperidone Chlorpromazine 2. Psikoterapi suportif individu 3. Konseling keluarga N. FORMULASI PSIKODINAMIKA(1) Faktor genetis (baik dari pihak ibu dan juga ayahnya), kelahirannya yang belum direncanakan, serta ayahnya yang sering meninggalkannya karena tinggal di tempat yang terpisah dan akhirnya berpisah karena perceraian menjadikan tn AR tumbuh & berkembang dengan sifat pendiam dan memendamkan masalahnya sendiri. Perceraian dan meninggalnya sang kakek sebagai pengganti peran ayah serta kurang dukungan dari ibu yang selalu kesusahan akibat asma yang dideritanya (ibunya tidak mau minum obat) menyebabkan ia tidak mampu mengatasi masalahnya & cenderung menghindari masalah (lari dari masalah) serta timbul ketidak-yakinan akan masa depan yang lebih baik. Kondisi ini menyebabkan ia tidak meneruskan sekolahnya, baik akibat dari buta warna parsial yang dialaminya maupun masalah yang berkaitan dengan teman sebaya di sekolah menengah atas-nya. Ketidak-mampuan mengatasi masalah ini menyebabkan ia menjadi melamun ketika bekerja karena ada seorang homoseksual yang mendekatinya. Akibatnya Pasien sering dimarahi. Ketika kembali ke rumah pasien-pun dimarahi 2 x 2 mg 0 0 50 mg

10

oleh ibunya, sehingga pasien merasa tidak se-orangpun yang memahami dan mau menerimanya yang menyebabkan pasien jatuh ke dalam psikosis. Peningkatan motivasi dan kepercayaan diri serta kemampuan mengatasi masalah merupakan salah satu tujuan dari psikoterapi.

O. PEMBAHASAN Pada hari ke sembilan atau hari ke 13 sejak fase akut, pada pasien ini terdapat perbaikan yang nyata. Hal ini makin menguatkan diagnosa psikotik akut & sementara, terlebih lagi adanya gangguan tidur pada masa prodromalnya. Gangguan tidur pada 3 hari sebelum serangan merupakan pembeda yang nyata antara psikotik akut & sementara dengan psikosis lain. (2) Sebanyak 23,1 % penderita psikotik akut & sementara benar-benar pulih, tidak kambuh lagi, 30,8 % mengalami serangan ulang psikotik akut dan sementara (relaps), sisanya (48,9 %) mengalami serangan Affective disorder, skizoafektif dan skizofrenia.(3,) Penelitian lain menyimpulkan 42 % psikotik akut dan sementara tidak mengalami relaps, sisanya relaps dengan perincian : 12% tanpa rawat inap, 19 % 1 kali rawat inap, 12 % 2 kali rawat inap dan 14 % lebih dari 3 kali rawat inap.(4) Pada pasien skizofrenia yang sebelumnya mengalami psikotik akut dan sementara, maka psikotik akut sementara tersebut merupakan proses prodromal, episode psikotik akut sementara merupakan bentuk episode skizofrenia yang gagal berkembang menjadi bentuk yang lengkap. (2) Penderita ini hanya memiliki 2 dari 9 indikator prognosis yang baik,(5) yaitu Sudden onset of symptoms, dan Short duration of symptoms, selebihnya justru ke arah pronosis yang buruk yaitu : Premorbid adjustment yang kurang baik, adanya tanda-tanda premorbid schizoid traits, affek yang datar dan riwayat 3 orang anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa, maka penderita ini mempunyai kemungkinan besar untuk mengalami serangan ulang psikotik akut sementara atau bahkan menderita skizofrenia. Oleh karena itu, permasalahan pada pasien in adalah bagaimana mencegah terjadinya relaps atau berkembang menjadi skizofrenia. Pada psikotik akut dan sementara harus dihindari pemberian farmakoterapi untuk jangka panjang. Jika seorang pasien memerlukan pengobatan jangka panjang maka diagnosis ini perlu dikaji-ulang.(5) Belum ada penelitian yang mengkaji berapa lama pemberian farmakoterapi pada psikotik akut dan sementara ini.(6) Psikoterapi supportif dan konseling keluarga merupakan bagian penting pemulihan pasien ini dengan fokus pada peningkatan semangat dan kepercayaan

11

diri serta kemampuan mengatasi masalahnya. Keterlibatan keluarga dalam penanganan sangat menentukan keberhasilan pemulihan.(5) Perceraian & kondisi ibu pasien yang tidak cukup baik, maka perlu dipertimbangkan pasien tinggal bersama keluarga lain yang lebih dapat terlibat dalam pemulihan pasien. P. KESIMPULAN 1. Diagnosis pasien AR adalah Psikotik Akut dan Sementara, namun tetap

mempertimbangkan skizofrenia jika di kemudian hari pasien ini menderita skizofrenia dan saat ini merupakan periode predormal dari skizofrenia tersebut. 2. Dukungan dan partisipasi keluarga sangat menentukan pemulihan dan pencegahan timbulnya relaps, oleh karena itu perlu dipertimbangkan pasien untuk tinggal bersama keluarga yang dapat hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA : 1. Gabbard GO. Psychodynamic Psychiatry in Clinical Practice. 3rd ed. American Psychiatric Press. 2000. 2. SUDA K, HAYASHI N, and HIRAGA M, Predicting features of later development of schizophrenia among patients with acute and transient psychotic disorder, Psychiatry and Clinical Neurosciences (2005), 59 , 146150. 3. Marneros A, Pillmann F, Haring A, Balzuweit S, Blink R, Features of acute and transient psychotic disorders, Eur Arch Psychiatry Clin Neurosci (2003) 253 : 167174. 4. Jger M, Hintermayr M, Bottlender R, Strauss A, Mller HJ, Course and outcome of firstadmitted patients with acute and transient psychotic disorders (ICD-10:F23) Focus on relapses and social adjustment, Eur Arch Psychiatry Clin Neurosci (2003) 253 : 209215 5. Sadock BJ and Sadock VA. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, Lippincott Williams & Wilkins 10th Edition 2007. 6. Fujii D and Ahmed I, The Spectrum of Psychotic Disorders Neurobiology, Etiology, and Pathogenesis, Cambridge University Press 2007.

12

Pemeriksaan Keadaan umum Kesadaran Roman muka Kontak/Rap Orientasi Pikiran

Hari ke 1 (11-11-2009) gelisah komposmentis hostile ada/cukup adekuat baik autistik, (merasa di surga) assosiasi longgar, waham : bdd, thought broadcasting, idea of referrence,

Hari ke 3 ( 13-11-2009) Tenang, terfiksasi komposmentis terbatas ada/tidak adekuat baik autistik, assosiasi longgar, thought broadcasting, idea of referrence waham : kebesaran (lebih pinter dari habibie) mudah beralih Suara orang bicara

Hari ke 9 (20-11-2009) Tenang komposmentis Biasa ada/ adekuat baik realistik, koheren, waham : disangkal, tought broadcasting disangkal

Hari ke 13 (24-11-2009) Tenang komposmentis Biasa ada/ adekuat baik realistik, koheren, waham : -

Perhatian Persepsi y Ilusi y Halusinasi Emosi y Mood y Afek Tingkah laku/Bicara Dekorum IOI Terapi

mudah beralih Suara orang bicara

cukup disangkal

baik -

iritabel inappropiate hiperaktif kadang irrelevan buruk buruk Risperidone 2x2mg THF 1mg-0-1mg cpz 0-50-50mg

iritabel inappropiate normoaktif spontan kurang buruk Risperidone 2x2mg THF 1mg-0-1mg cpz 0-50-50mg lodomer 5mg 1 x 1 Diazepam 1mg (bila gelisah)

biasa appropriate normoaktif spontan baik partial Risperidone 2x2mg cpz 0-0-50mg THF stop

biasa appropriate normoaktif spontan baik baik Resperidone 2x1mg CPZ stop

13

Cuplikan Autoanamnesis Hari ke 8, 13 Nopember 2009 T : Bagaimana dah baikan J : Iya T : Bisa Tidur ? J : bisa dok, kapan saya bisa pulang dok ? T : nanti kalo dah nyeritain masalah dengan lancar J : ya udah, mau cerita tentang apa? A kan dah bilang, a tu sakit karena kurang tidur dan suka melamun, T : kenapa bisa kurang tidur ? J : ya itu mah ngak bisa diceritain. Sekarang hari rabu kan, tanggal 18 nopember 2009 T : iya, arif pinter J : ah itu mah biasa aja.. jangan dilebih-lebihin T : jadi kenapa ndak bisa tidur ? A sering ngelamunin apa J : kenapa sih nanya-nanyain a mulu? Knapa ndak ganti topik aja ? dokter ada masalah apa? Udah lama kerja di sini? T : lho kok malah nanyain masalah saya, kan, yang mau kita bantu A, J : ini RS Hasan sadikin ya ? T : iya J : Hasan sadikin itu nama rumah sakit ato nama dokter sih? T : Hasan sadikin itu nama doker, yang mimpin rumahsakit ini, setelah beliau meninggal namanya dipake untuk rumah sakit ini J : ooo T : A ada dengar suara-suara tapi ndak ada orangnya J : iya, suara ngobrol, T : siapa yang ngobrol, J : ndak jelas kayak ini T : siang atau malam ? J : malem kalau sudah sepi. T : A, waktu di bekasi A ada masalah apa ?

14

J : udah ah, yang dulu-dulu ngak usah diinget-inget lagi, yang penting sekarang dan ke depannya gimana.. sebenarnya a sakit apa sih ? sakit jiwa gitu ? T : makanya a ceritain dulu, a ngadepin apa aja, ada maslah apa, dari situ kan kita bisa tau dan kita bisa bantu J : yah, dulu kan a belum dewasa, sekarang juga belum dewasa sih ha ha ha, sekarang sih a dah bisa mengontrol gerakan sendiri, kalo dulu tuh, a lari-lari tapi ndak capek-capek, ngak taujuga kenapa, A ngak kenal capek gitu, A tu takut di-homoin, ada teman arif di bekasi yang bilang suka sama A, A takut, A bilang aja a punya pacar biar dia ngak ngangguin a, tapi tetap aja dia sering nyamperin A ke tempat kerja A, A jadi ndak fokus kerja, A jadi ngelamun. T : A bisa ndak masukin pikiran A ke orang lain J : iya dok waktu kemarin-kemarin, sekarang ngak lagi T: nti kalo sudah keluar A mau ngapain ? J: A mau belajar, A mau ngelanjutin sekolah, A kan pinter, A bisa ngalahin Habibie, T: kalo habibi bisa buat pesawat, kalo A? J: arif bisa nguasai semua bidang

15