Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

Sejak krisis minyak pada tahun 1970-an perubahan dari minyak menjadi batubara sebagai alternatif pemakaian bahan bakar, telah berkembang dengan cepat dalam industri semen yang mengkonsumsi energi relatif tinggi. Pemilihan batubara sangat penting untuk pemanfaatannya dalam industri semen karena kualitas batubara (fisik kimia) yang sangat tergantung pada sumber pemasok, akan mempengaruhi kualitas semen dam operasi pabrik. Industri semen merupakan industri yang dalam prosesnya mengkonsumsi energi relatif tinggi. Pada tahun 1970-an, harga minyak yang tinggi hampir menjadi penghalang dalam industri semen. Sehubungan dengan hal tersebut, banyak negara pada saat ini memakai batubara sebagai sumber bahan bakar alternatif. Dalam pembakaran klinker, bahan bakar tidak hanya berfungsi untuk menghasilkan temperatur yang tinggi tetapi juga mempengaruhi proses pembakaran itu sendiri yaitu pada produk pembakaranya. Umumnya bahan bakar yang digunakan adalah minyak,batubara, gas alam atau campuran ketiganya. Karena harga minyak dan gas alam semakin naik, banyak industri yang memakai batubara sebagai sumber alternatif. Jika digunakan batubara sebagai bahan bakar, akan dihasilkan abu batubara yang masuk kedalam komposisi klinker dan kualitas batubara sebagai bahan bakar bisa berfluktuasi sehingga dapat mempengaruhi kualitas klinker.

BAB II PEMBAHASAN II.1 Penyiapan Batubara Dan Sistem Pengumpan Kedalam Kiln Penyiapan batubara dan sistem pengumpan kedalam kiln terdiri dari preparasi, penggerusan, dan sistem pembakaran preparasi batubara dalam industri semen meliputi penyimpanan, blending, pengeringan dan penggerusan. Dalam kasus dimana laju konsumsi batubara tinggi dan abtubara yang digunakan berasal dari berbagai pemasok yang berbeda untuk memperoleh batubara yang secara fisik dan kimia relatif seragam sehingga dapat diperoleh kondisi operasi yang baik dalm kiln.
a. Penyimpanan dan Blending

Sesudah di bongkar di suatu pabrik, batubara disimpan di suatu gudang penyimpanan. Jika batubara disimpan untuk waktu yang lama, volatile matter makin lama makin banyak yang terlepas. Hal ini akan menyulitkan pada saat psoses penyalaan. Jika batubara terekspos pada udara luar, terjadi juga oksidasi dan ini menyebabkan terjadinya pembakaran spontan (self-ignition). Oleh karena itu, dalam kasus penyimpanan yang lama khususnya batubara dengan kadar volatile matter yang tinggi batubara harus disimpan dalam bentuk lapisan tipis sehingga panas yang disebabkan oleh oksidasi dapat segera dihilangkan. Batubara denga nilai kalor yang bervariasi, paling tidak dikehendaki. Karena memberikan perubahan-perubahan yang fundamental pada bentuk nyala api, karakteristik perpindahan panas, dan laju masukkan. Konsekuensinya, produktivitas menjadi lebih rendah dan konsumsi panas meningkat dengan tidak terpenihinya kualitas klinker. Oleh karenanya prehomogenisasi batubara di tempat proses preblending perlu dilakukan, khususnya pada kasus dimana kualitas batubara menunjukkan fluktuasi yang besar dalam penyediaannya. Aturan FIFO perlu dilaksanakan disini untuk mencegah batubara yang berlebihan.

b. Penggerusan dan Pembakaran

Batubara yang akan dibakar harus berukuran halus (bubuk), oleh karena itu setiap sistem pembakaran dilengkapi dengan peralatan penggerusan. Ada dua jenis mesin penggerus yang umum digunakan yaitu tube ball mills dan roller mills, keduanya mempunyai keuntungan yang berbeda. Ball mills lebih sederhana, fleksibel dan lebih aman dibandingkan dengan roller mills. Roller mills mengkonsumsi energi lebih rendah, perlu investasi kapital rendah tetapi mempunyai laju keausan lebih tinggi. Keuntungan terpenting kedua alat gerus tersebut adalah dimungkinkannya penggunaan udara panas terhadap batubara yang dibawa secara pneumatic dan dalam keadaan kering. Dengan demikian dapat didesain sistem pengeringan dan penggerusan dengan menggunakan gas bunag yang lebih dingin atau gas-gas buang dari kiln sebagai sumber panas. Berbagai sistem gabungan penggerusan dan pembakaran telah dikembangkan. Terdapat tiga sistem penggerusan pembakaran batubara standar, yaitu : Sistem Pembakaran Langsung (direct firing system) Sistem pembakaran Tak Langsung (indirect firing system) Sistem pembakaran Semi-Langsung (semi-direct firing system)

Sistem Pembakaran Langsung Dalam sistem pembakaran langsung, semua batubara yang dihasilkan di grinding mill langsung diumpankan kedalam tanur putar (kiln) bersama udara pengeringnya tanpa melalui intermediate storage bin. Kipas sistem mill akan menarik udara panas (temperatur tidak melebihi 3500C) dari mill dan mengeluarkannya bersama-sama sebagai udara primer.

Sistem Pembakaran Tidak Langsung

Sistem pembakaran tidak langsung dikarakteristikkan oleh adanya storage bin antara mill dan kiln. Batubara hasil penggerusan diumpankan ke cyclone sehingga terjadi proses klasifikasi, underflow berupa batubara halus disimpan di intermediate storage bin
3

sementara overflow umumnya berupa aliran gas. Selanjutnya aliran gas dibagi dua, disirkulasikan ke mil yang lain masuk ke penangkap debu untuk seterusnya dilepas ke udara luar. Batubara halus dari bin dengan bantuan blower ditiupkan ke burner untuk dibakar.

Sistem Pembakaran Semi Langsung

Dalam sistem pembakaran semi langsung, udara pembakaran diperoleh dari sistem sirkulasi udara dalam sirkuit penggerusan. Tidak ada udara yang dilepas ke atmosfir sehingga menghemat biaya kapital sseharusnya untuk peralatan pembersihan gas.

II.2 Pengaruh Sifat-Sifat Batubara Pada Pembuatan Semen

Sifat-sifat batubara mempunyai pengaruh besar pada pembuatan semen yaitu pengaruh pada kimia semen, penggerusan batubara, pada sistem pembakaran operasi kiln dan sebagainya. a. Nilai Kalor Nilai kalor menyatakan energi yang diperoleh dari pembakaran batubara dan menentukan berat batubara yang harus ditangani oleh sistem. Batubara denga nilai kalor yang tinggi lebih disenangi karena akan mengamankan biaya peralatan dan biaya kapital
5

operasi. Batubara dengan nilai kalor tinggi akan menurunkan konsumsi panas spesifik untuk pembakaran klinker. b. Abu batubara Residu yang tertinggal setelah pembakaran batubara secara sempurna disebut abu dan umumnya terdiri dari Al2O3 15-20%, SiO2 25-40%, Fe2O 20-45% dan CaO 1-5%. Selama reaksi clinkering dalam kiln, abu batubara bergabung denagn campuran baahan baku yang diumpankan ke kiln dan mengubah kandungan komponen-komponen klinker. Kenaikkan kadar abu menyebabkan menurunnya karakteristik pembakaran, dan dibutuhkan penggerusan batubara yang lebih halus agar dihasilkan pembakaran yang baik. Jika temperatur leleh abu rendah, karakteristik pembuatan klinker menjadi lebih baik dan reaksi dengan bahan bakar dalam pembuatan semen yang diinginkan adalah lebih rendah dari 13500C. c. Volatile Matter dan Kehalusan Bila pembakaran batubara pulverized terjadi, pertama-tama volatile matter bereaksi dengan udara. Penyalaan batubra dengan kadar volatile matter yang tinggi berlangsung dengan mudah dan kondisi pembakaran bisa berlangsung stabil tanpa perlu batubara berukuran sangat halus yang berlebih. Pada batubara dengan kadar volatile matter rendah, penyalaan seringkali sulit dan dihasilkan nyala api yang panjang sehingga perpindahan panas di dalam kiln berlangsung dengan baik. Kadar volatile matter batubara yang digunakan dalam industri semen umumnya sekitar 26-30%. Apabila kita membakar batubara dengan free grate, maka panjang nyala yang dihasilkan, tergantung besarnya kandungan volatile matter nya. Batubara dengan kadar volatile matter yang tinggi, akan menghasilkan nyala yang panjang diatas grate fire dan batubara dengan kadar volatile matter yang rendah, akan menghasilkan nyala yang pendek. Oleh karenanya antrasit biasa disebut dengan short flaming coal dan bitumine sebagai long flaming coal. Akan tetapi batubara akan menghasilkan hasil yang berbeda bila dibakar dalam bentuk batubara halus didalam tanur putar. Long flaming coal bila dibakar dalam tanur putar sebagai batubara halus akan terurai dengan segera dan volatile matter yang menguap akan terbakar dengan cepat. Sedangkan partikel coke yang sudah tersegregasi akan mempunyai luas permukaan yang sangat besar sehingga serbuk batubara dapat
6

terbakar secara cepat. Hal ini yang menyebabkan long flaming coal didalam tanur putar akan terbakar hanya dalam daerah yang pendek dari tanur atau dengan kata lain akan menghasilkan nyala pendek. Short flaming coal mengandung sedikit volatile matter, bila dibakar dalam tanur putar sebagai batubara halus akan terurai secara lambat, sehingga akan terbakar dalam jarak yang lebih panjang. Dengan demikian, batubara yang disebut short flaming coal bila dibakar sebagai batubara halus didalam tanur putar, akan menghasilkan nyala yang panjang. Operasi pembakaran dalam tanur putar membutuhkan pembakaran dengan suhu nyala yang sangat tinggi, karena proses klinkerisasi memerlukan suhu material sekitar 1450 0C. disamping itu suhu nyala yang lebih tinggi akan menghasilkan heat transfer yang lebih besar. Kedua hal ini sangat berpengaruh dalam hal efektifitas dan efesiensi operasi pembakaran dalam tanur putar. Walaupun antrasit memiliki nilai kalor yang tinggi, penggunaannya sebagai bahan bakar dalam tanur putar kurang disukai, karena antrasit menghasilkan nyala yang lebih panjang dengan suhu yang relative lebih rendah. Demikian juga lignit, yang disamping mempunyai kandungan volatile matter yang tinggi dan heating value rendah, tidak disukai karena akan menghasilkan suhu nyala yang lebih rendah. Bitumine adalah jenis batubara yang lebih disukai pemakaiannya sebagai bahan bakar dalam tanur putar, karena mempunyai kandungan volatile matter yang cukup, tetapi nilai kalornya relative tinggi. Oleh karena itu bitumine dapat menghasilkan suhu nyala yang lebih tinggi. Akan tetapi bitumine yang berkandungan abu lebih besar (akibat adanya impurities yang biasanya dari clay dan sebagainya) atau berkandungan air yang tinggi juga tidak disukai, karena hal-hal tersebut akan menurunkan suhu nyala disamping membutuhkan juga excess air yang lebih besar. Hal ini akan mengakibatkan rendahnya efektifitas dan efisiensi operasi pembakaran dalam tanur putar.

d.

Kadar Air Kadar air tidak hanya berpengaruh pada Grindability tetapi juga pada kapasitas sistem pengeringan. Air bisa berupa inherent moisture maupun surface moisture. Batubara dengan kadar air tinggi di atas 15% tidak cukup dikeringkan dalam sirkuit penggerusan konvensional sehingga diperlukan pengeringan terpisah. Dengan kadar air di bawah 15% sirkuit penggerusan mampu menghasilkan batubara halus dengan kadar 17

1,5% air dengan menggunakan udara dari pendingin klinker dan gas buang kiln sebagai sumber panas. Kadar air mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kapasitas mill. Umumnya jika kadar air naik 1-3% kapasitas tube ball mill akan menurun sekitar 4550% dan bersamaan dengan itu konsumsi energi spesifik naik sekitar 10% untuk ukuran partikel yang sama.

e.

HGI (Hardgrove Gidability Indeks) Harga HGI yang tinggi menyatakan kemampuan penggerusan batubara yang baik. Umumnya nilai HGI naik sekitar 10, keluaran mill spesifik naik sekitar 15-20%.

f.

Kadar Sulfur dan Logam-Logam Alkali Sulfur bereaksi dengan logam-logam alkali dan oksigen dalam zona pembakaran menghasilkan alkali sulfat dalam fase gas. Alkali-sulfat mengkondensasi pada bahan baku dalam preheater dan dikembalikan ke kiln. Jika bahan baku dan batubara mengandung jumlah sulfur dan alkali secara teoritik seimbang. Jika perbandingan sulfur terhadap alkali tidak seimbang disebabkan jumlah sulfur di dalam batubara berlebihan sulfur akan bereaksi dengan kalsium oksida membentuk kalsium sulfat yang seringkali potasium-sulfat yang mengkondensasi sebagai liquid pada temperatur yang lebih rendah dibandingkan alkali sulfat. Kondensat ini membantu pembentukan materi yang lengket (sticky material) yang sangat membahayakan operasi kiln sehingga menurunkan kualitas semen yang dihasilkan.

II.3 Operasi Pemakaian Batubara Pada Tanur Putar Dalam pemakaian batubara sebagai bahan bakar dalam operasi tanur putar, terdapat beberapa hal yang spesifik yang perlu diperhatikan yaitu :
a. Pemakaian Udara Primer

Udara primer berperan antara lain sebagai :


- Sarana transportasi untuk injeksi batubara ke dalam tanur putar 8

- Suatu alat pengendali nyala

Dengan demikian udara primer yang temperaturnya rendah ini, maka udara pembakaran yang terdiri dari primary air dan secondary air, akan mempunyai temperature campuran relative rendah. Oleh karena itu sebenarnya secara ekonomis pemakaian udara primer ini kurang menguntungkan. Di dalam operasi pemakaian batubara, pemakaian udara primer ini dapat berkisar antara 15-20% dari kebutuhan udara pembakaran.

b. Pemakaian Excess Air Yang Besar

Berdasarkan teori kinetika reaksi, bahan bakar gas dan cair lebih reaktif dengan oksigen, dibandingkan oksigen dengan batubara. Hal ini mudah dimengerti karena pembakaran batubara akan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
-

Perpindahan panas dari burning zone ke partikel batubara secara konveksi dan

radiasi
-

Perpindahan panas melalui lapisan abu yang bersifat isolator menuju front

oksidasi secara konduksi


-

Reaksi kimia antara C, S, H2 dengan H2, CO, H2O dan SO2 CO2, SO2, CO dan H2 berdifusi dari front oksidasi ke bagian luar partikel

batubara
-

Abu pembungkus sekeliling partikel batubara terdekomposisi secara termis

dan mekanis

Oleh karena itu untuk mencapai kesempurnaan pembakaran yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar diperlukan excess air yang relative besar. Dengan pemakaian udara yang lebih besar ini, maka akan dihadapkan pada permasalahan :
-

Kerugian panas karena terserap oleh kelebihan udara tersebut


9

Transfer panas antara udara dan material di dalam kiln kurang sempurna,

karena waktu tinggal udara panas yang relative rendah

c. Stabilitas Umpan

Karena batubara merupakan bahan bakar dalam bentuk powder (bubukan) maka sangat sulit diperoleh kondisi pengumpanan yang benar-benar stabil ke dalam kiln. Ketidakstabilan umpan ini berarti ketidakstabilan panas didalam kiln, akan mengakibatkan ketidakstabilan coating sebagai pelindung batu tahan api. Dengan demikian akan mengakibatkan umur batu yang relative pendek.

d. Impurities dalam Batubara

Bila proses pencucian batubara tidak baik, maka akan ditemui impurities (misal clay). Dengan adanya impurities ini, tentunya akan mengacaukan jumlah umpan panas ke dalam tanur putar.

II.4 Persyaratan Mutu Batubara Dalam Industri Semen Pada dasarnya semua jenis batubara dapat dipakai sebagai bahan bakar dalam tanur putar. Dapat disimpulkan bahwa persyaratan mutu batubara yang dibutuhkan oleh industry semen unit operasi dengan efektifitas yang cukup tinggi yaitu :
Nilai bakar net cukup tinggi, yaitu > 6.000 cal/gr Volatile matter medium, maksimum 36-42% Total moisture, maksimum 12% Kadar abu maksimum 6% Kadar sulphur maksimum 0,8% Kadar alkali dalam abu, maksimum 2% Ukuran batubara (raw coal) 10

Diatas saringan 100 mm = 0% 00 mm 50 mm = 70% 50 25 mm = 25% 25 15 mm = 15% Lolos 15 mm = 0%

Variasi kualitas diatas tidak lebih dari 10%

Batubara dengan kualitas yang tidak memenuhi persyaratan diatas akan menghasilkan produktifitas yang lebih rendah, persyaratan-persyaratan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
-

Nilai bakar net minimal 6.000 cal/gr, Volatile matter medium, maksimum 36-42%, Kadar abu maksimum 8%, dimaksudkan agar pemakaian batubara tersebut dalam tanur putar, dapat menghasilkan target-target yang diharapkan pada operasi pembakaran.

Total moisture maksimal 12% dan kadar abu maksimal 6% serta ukuran batubara sesuai ukuran, dimaksudkan agar tidak menyulitkan pada operasi handling.

Kadar sulphur maksimal 0,8% dan kadar alkali pada abu maksimal 2% dimaksudkan agar tidak terjadi gangguan pada operasi tanur putar dan tidak terjadi penurunan kualitas semen.

Ukuran batubara dan volatile matter juga dimaksudkan agar tidak terjadi kebakaran selama pengumpanan, makin banyak mengandung butiranbutiran halus, maka tumpukan batubara akan mudah terbakar.

Variasi kualitas 10% dari nilai-nilai yang dicantumkan dimaksudkan agar persyaratan untuk mencapai operasi pembakaran yang stabil dapat terpenuhi.

11

II.5 Pencemaran Lingkungan Untuk mencapai kesempurnaan pembakaran batubara, diperlukan excess air yang relative banyak, sayangnya bahwa dengan excess air yang lebih tinggi mengakibatkan temperature di dalam kiln akan lebih rendah. Oleh karena itu dalam kenyataan praktek sering ditemukan bahwa proses reaksi pembakaran belum berlangsung sempurna, meskipun gas telah keluar dari suspension preheater. Hal ini ditunjukan dengan adanya kandungan CO dari gas tersebut. Bahkan tidak terjadi, terutama pada saat heating up, atau adanya fluktuasi umpan batubara yang cukup besar, gas keluar cerobong pun masih berwarna hitam. Hal ini menunjukan bukan hanya CO saja yang terkandung dalam gas tersebut, melainkan batubara yang belum terbakar. Apabila kandungan gas CO dari gas menuju electro precipator sebagai alat penangkap debu lebih besar dari 0,6%, maka untuk menghindari peledakan, alat penangkap debu ini akan off sehingga dengan demikian tidak ada penangkapan debu, yang berarti sekitar 7% dari umpan raw meal akan terbang bersama-sama gas yang keluar cerobong, yang tentunya menimbulkan masalah-masalah antara lain :
-

Pencemaran udara, baik debu maupun gas CO Kerugian karena hilangnya material

Proses reaksi pembakaran batubara ini akan berkelanjutan hingga diseluruh saluran gas panas, mengakibatkan temperature gas tersebut bias sangat tinggi. Dalam kondisi seperti ini tidak jarang mengakibatkan kerusakan impeller dari fan yang dilalui atau kerusakan expansion joint dari ducting atau terhadap ducting itu sendiri.

Resiko-resiko pencemaran lingkungan, kehilangan material dan kerusakan peralatan ini dapat dikurangi atau dihindari antara lain dengan cara :
-

Mengusahakan kesempurnaan pembakaran di burning zone dalam kiln dengan

memahami kinetika proses pembakaran.


-

Perencanaan system kiln dan injeksi batubara yang baik.

12

Hal tersebut diatas akan merupakan sumber pencemaran lingkungan melalui gas buang, disamping itu sumber pencemaran lain terjadi selama penyimpanan dan selama operasi eksploitasi dan preparasi batubara, juga terjadi kebocoran-kebocoran yang menimbulkan pencemaran lingkungan.

BAB III KESIMPULAN

Pada industri semen batubara tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan temperatur yang tinggi tetapi juga pempengaruh produk semen tersebut. Pemasokan batubara dengan kualitas yang berubah-ubah akan mempengaruhi kualitas produk semen yang dihasilkan olehkarena itu sebelum diumpankan kedalam kilen batubara harus melewati beberapa proses terlebih dahulu. Sistem pengumpanan batubara pada kilen terbagi menjadi 3 macam:
13

1. Sistem langsung 2. Sistem semi langsung 3. Sistem tidak langsung.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat penggunaan batubara dalam operasi putar, antara lain : 1. Pemakaain udara primer
2. Pemakaian Excess Air Yang Besar 3. Kandungan Air Dalam Batubara 4. Stabilitas Umpan 5. Impurities dalam Batubara

tanur

14