Anda di halaman 1dari 5

Laporan Praktikum Genetika Dasar Hukum Mendel I

I. PENDAHULUAN 1.1 Dasar Teori Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum Mendel I dikaji dari persilangan monohibrid. (Syamsuri, 2004:101) Hukum Mandel I berlaku pada gametogenesis F1. F1 itu memiliki genotif heterozigot. Baik pada bunga betina maupun benang sari, terbentuk 2 macam gamet. Maka kalau terjadi penyerbukan sendiri (F1 x F1) terdapat 4 macam perkawinan. (Wildan Yatim, 1996:76). Pada galur murni akan menampilkan sifat-sifat dominan (alel AA) maupun sifat resesif (aa) dari suatu karakter tertentu. Bila disilangkan, F1 akan mempunyai kedua macam alel (Aa) tetapi menampakkan sifat dominan (apabila dominant lengkap). Sedangkan individu heterozigot (F1) menghasilkan gamet-gamet, setengahnya mempunyai alele dominant A dan setengahnya mempunyai alele resesif a. Dengan rekomendasi antara gamet-gamet secara rambang populasi F2 menampilkan sifat-sifat dominant dan resesif dengan nisbah yang diramalkan. Nisbah fenotif yaitu 3 dominan (AA atau Aa) : 1 resesif (aa). Nisbah geneotif yaitu 1 dominan lengkap (AA) : 2 hibrida (Aa) : 1 resesif lengkap (aa). (L. V. Crowder, 1997:33) Sifat yang muncul pada F1 disebut sebagai sifat dominant (menang), sedangkan yang tidak muncul disebut sifat yang resesif (kalah). Oleh Mendel, huruf yang dominant homozigot diberi symbol dengan huruf pertama dari sifat dominan, dengan menggunakan huruf kapital yang ditulis dua kali. Sifat resesif diberi symbol dengan huruf kecil dari sifat dominant itu tadi. Symbol ditulis dua kali atau sepasang karena kromosom selalu berpasang. Setiap gen pada kromosom yang satu memiliki pasangan pada kromosom homolognya. (Istamar Syamsuri, 2004) 1.2 Tujuan Pratikum Mencari angka-angka perbandingan sesuai dengan Hukum Mendel. Menemukan nisbah teoritis sama atau mendekati nisbah pengamatan. Memahami pengertian dominan, resesif, genotif, fenotif. II. BAHAN DAN METODE PRATIKUM Bahan yang digunakan dalam pratikum: 1. Model gen (kancing genetic) warna merah sebanyak 15 pasang. 2. Model gen (kancing genetic) warna putih sebanyak 15 pasang. Alat yang digunakan: 1. Dua buah stoples

Cara kerja: 1. Mengambil model gen merah dan putih, masing-masing 15 pasang atau 30 biji (15 jantan dan 15 betina). 2. Menyisisihkan 1 pasang model gen merah dan gen putih dalam keadaan berpasangan. Ini dimisalkan individu merah dan individu putih.

3. Membuka pasangan gen diatas (langkah 2), ini memisalkan pemisahan gen pada pembentukan gamet, baik oleh individu merah dan individu putih. 4. Menggabungkan model gen jantan merah dan model gen betina putih dan sebaliknya. Ini menggambarkan hasil silangan atau F1, keturunan individu merah dan individu putih. 5. Memisahkan kembali model gen merah dan model gen putih. Hal ini menggambarkan pemisahan gen pada pembentukan gamet F1. 6. Selanjutnya memasukkan semua model gen jantan baik merah maupun putih ke dalam stoples jantan dan model gen betina baik merah maupun putih ke dalam stoples betina. 7. Dengan tanpa melihat dan sambil mengaduk/mencampur gen-gen tersebut ambillah secara acak dari masing-masing stoples, kemudian memasangkan. 8. Melakukan secara terus menerus pengambilan model gen sampai habis dan mencatat setiap pasang gen yang terambil ke dalam label pencatatan. 9. Bisa juga dengan mengembalikan model gen yang terambil (langkah 8) ke dalam stoples masing-masing untuk selanjutnya mendapat kesempatan terambil kembali. Melakukan percobaan serupa untuk pengambilan 20x, 40x, dan 60x.

III. HASIL PENGAMATAN Tabel 1. Pencatatan untuk pengambilan 20x No Pasangan Tabulasi ijiran Jumlah 1 Merah-Merah 5 2 Merah-Putih 10 3 Putih-Putih 5 Tabel 2. Pencatatan untuk pengambilan 40x No Pasangan Tabulasi ijiran Jumlah 1 Merah-Merah 11 2 Merah-Putih 20 3 Putih-Putih 9 Tabel 3. Pencatatan untuk pengambilan 60x No Pasangan Tabulasi ijiran Jumlah 1 Merah-Merah 14 2 Merah-Putih 33 3 Putih-Putih 13 Tabel 4. Perbandingan/ nisbah fenotif pengamatan/observasi (O) dan nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 20x. Fenotif Pengamatan (Observasi = O) Harapan (Expected) Deviasi (O-E) Merah 15 x 20 = 15 0 Putih 5 x 20 = 5 0 Total 20 20 0

Tabel 5. Perbandingan/ nisbah fenotif pengamatan/observasi (O) dan nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 40x. Fenotif Pengamatan (Observasi = O) Harapan (Expected) Deviasi (O-E) Merah 31 x 40 = 30 -1 Putih 9 x 40 = 10 1 Total 40 40 0 Tabel 6. Perbandingan/ nisbah fenotif pengamatan/observasi (O) dan nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 60x. Fenotif Pengamatan (Observasi = O) Harapan (Expected) Deviasi (O-E) Merah 47 x 60 = 45 2 Putih 13 x 60 = 15 -2 Total 60 60 0

IV. PEMBAHASAN Dalam percobaan hukum Mendel I, dilakukan persilangan monohibrid yaitu warna biji. Warna biji merah (MM) bersifat dominan yang disimbolkan dengan kancing genetic warna merah, dan warna biji putih (mm) bersifat resesif disimbolkan dengan kancing genetic warna putih. Persilangan antara kancing merah (MM) dengan kancing putih (mm) diperoleh F1 yang 100% berwarna marah (Mm). Karena kancing merah bersifat dominant. Jika F1 disilangkan dengan sesamanya (F1), maka diperoleh tiga macam fenotipe yaitu merah-merah, merah-putih, dan putih-putih. Dengan genotif untuk merah (MM), merah-putih (Mm), dan putih-putih (mm). Menurut hukum Mendel I, perbandingan fenotipe untuk persilangan monohibrid pada F2 adalah 3:1. Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, untuk pengambilan 20x diperoleh data, yaitu untuk warna merah-merah sebanyak 7 kali, warna merah-putih sebanyak 10 kali, dan warna putih-putih sebanyak 3 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 7:10:3 yang mendekati angka ratio 1:2:1. Dengan deviasi 2 untuk merah, -2 untuk putih. Deviasi menyatakan besarnya penyimpangan hasil pengamatan terhadap besarnya harapan. Untuk pengambilan 40x diperoleh data, yaitu untuk warna merah-merah sebanyak 12 kali, warna merah-putih sebanyak 17 kali, dan warna putih-putih sebanyak 11 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 7:10:3 yang mendekati angka ratio 1:2:1. Dengan deviasi -1 untuk merah, dan 1 untuk putih.

Untuk pengambilan 60x diperoleh data, yaitu untuk warna merah-merah sebanyak 18 kali, warna merah-putih sebanyak 25 kali, dan warna putih-putih sebanyak 17 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 18:25:17 yang mendekati angka ratio 1:2:1. Dengan deviasi -2 untuk merah,dan 2 untuk putih. Kalau nilai deviasi mendekati angka 1 maka data yang diharap makin bagus, dan pernyataan fenotif tentang karakter yang diselidiki mendekati sempurna. Tapi kalau perbangdingan o/e makin menjauhi angka 1, data itu buruk, dan pernyataan fenotif tentang karakter yang diselidiki berarti dipengaruhi oleh faktor lain. Dari hasil percobaan yang dilakukan, didapat perbandingan fenotif yaitu1:2:1 (1MM:2Mm:1mm). Kancing bergenotif MM dan Mm katanya berfenotif sama, yaitu merah. Karakter m untuk putih karena resesif, ditutupi oleh M yang menumbuhkan karakter merah. Jadi karakter merah dominant. Dengan demikian terbukti bahwa untuk persilangan monohibrid diperoleh perbandingan fenotipe 3:1. P : MM x mm (merah) (putih) Gamet : M m F1 : Mm (merah) F1 x F1 : Mm x Mm Gamet : M, m M, m F2 : MM Mm Mm mm (merah) (merah) (merah) (putih)

V. KESIMPULAN Deviasi menyatakan besarnya penyimpangan hasil pengamatan terhadap besarnya harapan. Deviasi mendekati angka 1 maka data yang diharap makin bagus, dan pernyataan fenotif tentang karakter yang diselidiki mendekati sempurna. Pada pengambilan 40x devisinya 1. Gen merah bersifat dominant terhadap gen putih, sehingga gen putih tertutupi oleh gen merah karena gen putih bersifat resesif. Pada F1 menghasilkan semuanya (100%) merah. Sedangkan pada F2, persilangan antara F1xF1 maka diperoleh tiga macam fenotipe yaitu merah-merah, merah-putih, dan putih-putih. Dengan genotif untuk merah (MM), merah-putih (Mm), dan putih-putih (mm). dengan perdandingan fenotif 1:2:1. Perbandingan fenotipe untuk persilangan monohibrid pada F2 adalah 3:1. Karena gen merah dominant.

Pertanyaan: 2. Berapa macam pasangan genotif yang anda peroleh? Jawaban: Ada tiga macam, yaitu merah-merah (MM), merah-putih (Mm), dan putih-putih (mm) 3. Berapa perbandingannya?

Jawaban: 1:2:1 Yaitu 1 MM : 2 Mm : 1 mm 4. Jika model gen merah dominan, berapa perbandingan fenotif yang anda peroleh? Jawaban: 3 dominan (MM atau Mm) : 1 resesif (mm) atau 3 merah : 1 putih 5. Apa yang dapat Anda simpulkan dari percobaan Model ini? Jawaban: Percobaan ini menghasilkan genotif yaitu merah-merah, merah-putih dan putih-putih. Dan perbandingan fenotifnya yaitu MM, Mm, mm (1:2:1) untuk F2. sedangkan pada F1 menghasilkan semuanya (100%) merah. Dapat disimpulkan bahwa gen merah dominant, dan gen putih resesif. Perbandingan fenotipe untuk persilangan monohibrid pada F2 adalah 3:1. Karena gen merah dominant.

VI. DAFTAR PUSTAKA Crowder, L. V. 1997. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Suryati, Dotti. 2007. Penuntun Pratikum Genetika Dasar. Bengkulu: Lab. Agronomi Universitas Bengkulu. Syamsuri, Istamar, dkk. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga. Welsh, James R.. 1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Jakarta: Erlangga. Yatim, Wildan. 1996. Genetika. Bandung: TARSITO.