Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

Foto kepala atau skull rontgen biasanya dilakukan pada pasien post trauma, perdarahan lewat telinga, benjolan di kepala, sakit kepala yang menetap, sakit telinga, dan diduga ada metastase tumor. Foto kepala jarang dilakukan pada pasien dengan penyakit susunan syaraf pusat kecuali terdapat bukti jelas adanya suatu kelainan saraf cranialis atau bukti klinis adanya peningkatan tekanan intracranial. Sebelum melakukan foto kepala, perlu dilakukan pemeriksaan klinis yang teliti terlebih dahulu. Karena akan membantu memperoleh foto yang benar dan menghubungkan antara kelainan klinis dan kelainan radiologis. Foto kepala itu sulit untuk diinterpretasikan secara radiologis, biarkan foto sinar-x membantu, tetapi jangan MENGGANTIKAN keputusan klinis.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Indikasi Foto Kepala 1. Trauma Trauma kepala yang berat pada orang dewasa, terutama bila disertai dengan hilangnya kesadaran untuk waktu yang lama atau bila secara klinis jelas adanya fraktur depresi.  Trauma ringan : Bila penderita tidak kehilangan kesadaran dan hanya pingsan sebentar, dan bila pemeriksaan klinis normal.  Trauma pada anak anak : Biasanya mudah untuk mendeteksi adanya fraktur depresi pada anak anak dengan pemeriksaan klinis dan foto kepala dibutuhkan untuk menunjukkan luasnya cedera dan pengobatan yang diperlukan. Trauma kepala yang ringan dengan pemeriksaan klinis yang normal BUKAN merupakan indikasi untuk foto sinarX karena tidak akan mengubah cara pengobatan. Foto kepala pada anak-anak setelah trauma kebanyakan tidak membantu. Observasi klinis secara cermat jauh lebih penting.

2.

Perdarahan lewat telinga Atau bocornya cairan cerebrospinal lewat telinga atau hidung setelah trauma hampir selalu berarti ada fraktur pada basis cranii. Hal ini amat sulit dikenali pada foto sinar-X. Foto lateral yang dibuat dengan penderita berbaring terlentang bisa menunjukkan adanya darah di dalam sinus sphenoidalis atau udara didalam kepala.

3.

Benjolan atau lekukan pada kepala Foto sinar-X akan membantu diagnosa asalkan benjolan itu tidak berubah tempat pada pemeriksaan klinis, dan tidak mobile. Bila benjolan itu lunak, foto pada daerah itu akan membantu untuk mengesampingkan adanya defek cranium dibawahnya (infeksi, tumor, dll).

4.

Sakit kepala yang menetap Foto kepala jarang memberikan informasi yang berguna KECUALI bila terdapat juga tanda-tanda klinis, misal kelainan neurologis, peningkatan tekanan intrakranial, atau kebutaan. Bila penderita diketahui menderita tumor maligna di bagian tubuh yang lain, foto kepala lateral akan membantu menunjukkan adanya metastase ke kepala.

5.

Sakit telinga Pemeriksaan klinis lebih baik daripada foto sinar-X kecuali bila anda ahli atau membuat juga foto mastoid. Foto rutin kepala jarang memberi manfaat bila dicurigai ada mastoiditis.

6.

Metastase atau penyakit umum seperti Paget Disease Foto kepala lateral akan membantu menegakkan diagnosa. Proyeksi tambahan yang lain biasanya tidak berguna.

2.2. Posisi Foto Kepala 1. Postero-anterior (occipito-frontal). Tujuannya melihat detail-detail tulang frontal, struktur cranium disebelah depan dan pyramid os petrossus. Foto ini diambil pada posisi kepala menghadap kaset, bidang midsagital kepala tegak lurus pada film. Posisi ini didapat dengan

meletakkan hidung dan dahi diatas meja sedemikian rupa sehingga garis orbito-meatal (yang menghubungkan kantus lateralis mata dengan batas superior kanalis auditorius eksterna) tegak lurus terhadap film. Sudut sinar rontgen adalah 15 derajat kraniokaudal dengan titik keluarnya nasion.

2.

Lateral. Tujuannya untuk melihat detail-detail tulang kepala, dasar kepala, dan struktur tulang muka. Foto lateral kepala dilakukan dengan sentrasi diluar kantus mata, sehingga dinding posterior dan dasar sinus maksila berhimpit satu sama lain.

3.

Towne (semi-axial / grasheys position) Tujuannya melihat detail tulang occipital dan foramen magnum, dorsum sellae, os petrosus, kanalis auditorius internus, eminentia arkuata, antrum mastoideum, processus mastoideus dan mastoid sellulae. Memungkinkan perbandingan piramida os petrosus dan mastoid pada gambar yang sama. Posisi towne diambil dengan berbagai variasi sudut angulasi antara 30-60 derajat ke arah garis orbitomeatal. Sentrasi dari depan kira-kira 8 cm di atas glabela dari foto polos kepala dalam bidang midsagital.

4.

Vertiko-submental atau Submentoverteks(basal) Tujuannya untuk melihat detail dari basis cranii. Posisi submentoverteks diambil dengan meletakkan film pada verteks, kepala pasien menengadah sehingga garis infraorbita meatal sejajar dengan film. Sentrasi tegak lurus kaset dalam bidang midsagital melalui sella tursika ke arah verteks. Banyak variasi-variasi sudut sentrasi pada posisi submentoverteks, agar supaya mendapatkan gambaran yang baik pada beberapa bagian basis cranii, khususnya sinus frontalis dan dinding posterior sinus maksilaris.

5.

Waters Tujuannya untuk melihat gambaran sinus paranasal. Posisi ini paling sering digunakan. Pada foto waters, secara ideal piramid tulang petrosum diproyeksikan pada dasar sinus maksilaris. Hal ini didapatkan dengan menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Bidang yang melalui kantus medial mata dan tragus membentuk sudut lebih kurang 37 derajat dengan film. Foto waters umumnya dilakukan pada keadaan mulut tertutup. Pada posisi mulut terbuka akan dapat menilai daerah dinding posterior sinus sphenoid dengan baik.

6.

Rhese atau Oblique Dapat mengevaluasi bagian posterior sinus etmoid, kalis optikus, dan lantai dasar orbita sisi lain.

2.3. Sistematika Membaca Foto Kepala 1. 2. Perhatikan tabula interna, eksterna dan diploe bentuk kepala. Pelajari garis-garis impresia, canal-canal dan sutura, misalnya : a. Arachnoidal impression b. Sutura c. Sinus venosus d. Pleksus venosus dalam diploe e. Sebelum umur 16 tahun maka impresion digitae adalah normal f. Bila ada penipisan atau penebalan calvaria, bandingkan dengan yang normal. 3. Daerah yang ada kalsifikasi, misalnya : a. Glandula pinealis b. Pleksus choroideus c. Basal ganglia

d. Duramater e. CA deposit dalam arteri serebralis 4. Sella tursica a. Harus diukur dan dilihat bentuknya b. Prosesus clinoideus anterior dan posterior serta dorsum sella diperiksa untuk melihat adanya erosi. c. Normal bila lebarnya 4 16 mm dengan rata-rata 10,5 mm. Dalamnya 4 12 mm dengan rata-rata 8 mm. d. Perhatikan basis sella tursica untuk melihat adanya gambaran double contour atau erosi. 5. 6. 7. Pelajari orbita, sphenoid ridge, petrous ridge tulang temporal. Soft tissue. Pada anak-anak perhatikan lebar dari sutura dan besarnya fontanel.

2.4. Kelainan Radiologis Foto Kepala 1. Microcephali  Kelainan congenital  Disebabkan pertumbuhan otak yang kurang  Kepala kecil diseluruh diameter  Dahi datar dan lantai sedang occipitale prominent  Tulang kepala kadang-kadang dense dan tebal  Sutura dan fontanela dapat normal tetapi pada beberapa kasus kecil dan menutup sebelum waktunya.

2.

Hydrocephalus : kenaikan jumlah cairan cerebrospinal dalam ventrikel dari otak atau ruang subarachinoid disekitar otak. Ada 2 macam : 1) Congenital 2) Acquired : Disebabkan obstruksi aliran cerebrospinal dan ventrikel ke ruang subarachnoid atau resorbsi kurang.

Tanda- tanda Hydrocephalus : y Pada anak-anak : Kepala besar tidak sesuai dengan pertumbuhan tulang muka. Sutura membuka Tulang kepala sendiri jadi tipis dan fontanel menonjol. Fossa posterior menonjol ke belakang dan bawah sedang fossa anterior menonjol ke depan. y Pada anak-anak yang sudah agak besar : Tendensi pembesaran kepala kurang Gyri tertambah dan menekan pada tulang kepala, ini terlihat jelas pada tulang frontal dan basis dari fossa medial. Sella turcica dangkal.

3.

Cranio stenosis a. Kelainan kepala ini disebabkan oleh karena sutura yang menutup sebelum waktunya. b. Causa belum diketahui tetapi rupanya dengan kelainan skeletal lainnya, misalnya : Adanya syndactyli dan kelainan-kelainan congenital dari organ tubuh lainnya. c. Sebagai akibat dari pertumbuhan otak yang lebih besar daripada skull maka tabula interna menjadi tipis dan lekuk-lekuk menjadi bertambah. d. Macam-macam kelainan :  Scapocephall : Sutura sagital menutup terlalu dini dan juga sutura yang berhubungan dari os temporale kepala menjadi panjang dan lebar menjadi berkurang.  Turricephall : Yang paling sering terdapat, sutura transversa menutup terlalu dini, kepala berbentuk seperti tower, lekuklekuk bertambah.

 Plogiocephall : Premature ossifikasi dari hanya separo dari sutura, atau sutura dari separo kepala hingga yang tidak terkena akan tumbuh berlebihan.

4.

Kelainan di kepala yang dapat menyebabkan keluhan sakit kepala yang khronis, cari penyebabnya sbb : A. Apakah ada tanda-tanda tekanan intrakranial yang meninggi a. b. Lebar atau dalamnya lebih besar dari normal (sella turcica) Impresio digitate : i. Gyri selalu membuat pulsasi, bila tekanan naik maka pulsasi akan naik dan mengakibatkan erosi pada tabula interna. ii. Gambaran impresio digitate ini normal pada bayi dan anak serta orang dibawah 16 tahun. c. Sutura melebar (sebelum mengadakan fusi) : tidak terlihat pada umur < 14 tahun. d. Osteoporosis yang diffuse dari calvaria atau kadang-kadang local osteoporosis. Oleh karena banyak causa penyakit sistemik yang menyebabkan osteoporosis dari skull maka tanda ini tidak dapat berdiri sendiri, misalnya : i. ii. iii. e. Kelainan phosphor dan Ca Blood dyscrasia Kelainan metabolisme endokrin

Ada pemindahan calcificasi yang normal, misalnya : i. ii. iii. iv. v. vi. Glandula pinealis Pleksus choroideus Falx cerebri Tentorium cerebelli Ligament petro clinoid Dinding sinus longitudinal superior dan duramater

vii. f.

Arachnoidal granulation

Deposit calcium yang abnormal disebabkan oleh : i. y Non neoplastic : Congenital dan neonatal Tuberous sclerosis Infantile hemiplegia

Penyakit parasit Toxoplasmoses Toruloses Cystecorcoses Echinococcus Trichinoses

Proses Inflamasi Tuberculous meningitis Encephalitis Brain abses Tuberculoma

Vascular Arterio sclerosis Angioma Aneurisma Subdural haematom Cerebral haematom

y y

Parathyroid insufficiency X ray injury

ii. Neoplastic : y y y Gillomas Meningiomas Congenital tumor

Choroid plexus papilloma

B. Kelainan pada sinus paranasalis C. Kelainan pada mastoid D. Kelainan di daerah pharynx, misalnya : a. Ca Nasopharinx b. Adenoid yang membesar E. Kelainan gigi dan sekitarnya, misalnya : a. b. c. d. e. Abses gigi M3 miring Osteomyelitis mandibula Tumor adamantinoma Cysta di mandibula