Anda di halaman 1dari 8

Prosiding Konferensi Nasional Pascasarjana Teknik Sipil (KNPTS) 2011, 20 Desember 2011, ISBN xxx-xxx-xxxxx-x-x

PENGEMBANGAN MODEL ASSESSMENT GREEN CONSTRUCTION PADA PROSES KONSTRUKSI UNTUK PROYEK KONSTRUKSI DI INDONESIA
Wulfram I. Ervianto1, Biemo W. Soemardi2, Muhamad Abduh3 dan Suryamanto4
1

Kandidat Doktor Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Email: wulframervianto@yahoo.com 2 Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Email:b_soemardi@si.itb.ac.id 3 Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Email:abduh@si.itb.ac.id 4 Staf Pengajar Program Studi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, Email: titus@ar.itb.ac.id

ABSTRAK
Fakta bahwa pembangunan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan berupa penurunan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh meningkatnya volume limbah yang dihasilkan oleh aktivitas konstruksi. Penyebab utamanya adalah cara pembuangan limbah ke lingkungan tidak menggunakan cara-cara yang ramah lingkungan. Berdasarkan hasil riset di berbagai dunia diperoleh data bahwa lebih dari 50% seluruh limbah yang dihasilkan berasal dari aktivitas konstruksi. Meningkatnya jumlah limbah konstruksi tersebut berasal dari sebuah proses konstruksi. Jika limbah yang dihasilkan saja sangat besar, maka secara analogi eksploitasi sumberdaya alam yang digunakan tentu volumenya lebih besar. Oleh karena itu, dibutuhkan pengelolaan yang tepat untuk mengatasi menurunnya ketersediaan sumberdaya alam yang diakibatkan oleh eksploitasi yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, dibutuhkan proses konstruksi yang bertanggung jawab agar limbah yang dihasilkan seminimal mungkin. Dalam lingkup nasional Indonesia, telah dikembangkan konsep sustainable construction yang dinyatakan dalam Agenda Konstruksi Indonesia 2030 dengan agenda penghematan bahan dan pengurangan limbah. Berkaitan dengan kedua hal tersebut diatas, tentu tidak terlepas dari aspek daya dukung lingkungan sebagai sumber pengambilan bahan dan pembuangan limbah. Oleh karena itu, proses konstruksi yang dilakukan harus ramah lingkungan (green). Terlepas dari desakan internasional, Indonesia seharusnya tidak terfokus hanya untuk menurunkan konsentrasi CO2 saja, namun tetap melanjutkan aktivitas industri termasuk industri konstruksinya dengan cara-cara yang memperhatikan lingkungan guna menyediakan ruang untuk hidup layak bagi generasi mendatang. Tujuan umum dalam penelitian ini adalah mengembangkan konsep green construction pada bangunan gedung di Indonesia. Pengembangan konsep ini didasarkan pada kepentingan lingkungan tinjauan dari pihak developer, masyarakat, dan kontraktor. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan model assessment green construction pada bangunan gedung di Indonesia. Pengembangan model assessment ini didahului dengan mengidentifikasi faktor green pada proses konstruksi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dan informasi berupa kuisioner yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat diolah secara kuantitatif. Hasil yang diharapkan adalah sebuah framework model assessment untuk green construction. Kata kunci: Faktor green construction; Proses konstruksi; Bangunan gedung.

1.

LATAR BELAKANG

Fenomena global warming yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca menjadi topik yang banyak dibahas dalam berbagai forum ilmiah. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Walton dkk., sebagaimana dikutip Arief dkk. (1998) bahwa isu lingkungan yang semula kurang diperhatikan dalam

pengelolaan proyek konstruksi, saat ini menjadi isu utama dalam berbagai pertemuan ilmiah. Salah satu indikator bahwa bumi tengah mengalami perubahan adalah tingginya konsentrasi karbondioksida (CO2) di udara yang bersifat menghalangi pelepasan panas dari bumi. Konsentrasi CO2 di udara dari waktu ke waktu cenderung mengalami peningkatan terlebih setelah terjadi revolusi industri (Salim 2010). Kwanda (2003) mengemukakan, konsumsi energi yang besar dengan pertumbuhan 2% per tahun sampai tahun 2020 akan menghasilkan emisi global CO2 dan gas rumah kaca lainnya naik menjadi dua kali lipat pada tahun 1965-1998 yang berdampak pada perubahan iklim dunia. Salim (2010) menyatakan, bila cara-cara pembangunan tetap dilakukan seperti biasanya tanpa perubahan, maka pada tahun 2050 diperkirakan konsentrasi CO2 akan mencapai 500 part per million (ppm) atau menjadi dua kali lipat konsentrasinya bila dibandingkan dengan sebelum revolusi industry. Para ahli sedunia sepakat menetapkan konsentrasi CO2 sebesar 450-550 ppm (Salim, 2010). Secara global, Indonesia berada di urutan ke lima dalam menghasilkan emisi gas rumah kaca atau sekitar 4,63% (World Resources Institute, 2005). Isu perubahan iklim dan fenomena pemanasan global di Indonesia mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi ke-13 tentang Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang diselenggarakan di Bali pada bulan Desember 2007, Indonesia sepakat untuk menurunkan konsentrasi CO2 di udara sebesar 26% sampai dengan 41% di akhir tahun 2020 dan disepakati tentang peta jalur hijau dengan pola pembangunan abad ke-21 yang berkadar rendah karbon. Tentunya kesepakatan tersebut hanya dapat terwujud apabila semua sektor industri termasuk industri konstruksi mempunyai perhatian dan komitmen yang sama terhadap masalah lingkungan. Terlepas dari desakan internasional, Indonesia seharusnya tidak terfokus hanya untuk menurunkan konsentrasi CO2 saja, namun tetap melanjutkan aktivitas industri termasuk industri konstruksinya dengan caracara yang memperhatikan lingkungan guna menyediakan ruang untuk hidup layak bagi generasi mendatang. Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor yang cukup berperan dalam pembangunan ekonomi nasional Indonesia. Besarnya nilai produksi sektor konstruksi/nilai konstruksi yang telah diselesaikan dalam tahun 2009 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2008. Peningkatan untuk jenis pekerjaan bangunan sipil diperkirakan sebesar Rp. 46,6 triliun atau 42,0% dari total nilai konstruksi sedangkan pekerjaan konstruksi bangunan gedung sebesar 36,1% dan sisanya 21,9% adalah pekerjaan khusus (Statistik Konstruksi Indonesia, 2009). Suratman (2010) melaporkan penelitian yang dilakukan oleh Abidin & Jaapar tahun 2007 bahwa sektor konstruksi berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, namun menimbulkan dampak negatif yang sangat besar terhadap lingkungan. Adanya kecenderungan peningkatan nilai konstruksi maka berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan yang berakibat pada penurunan kualitas lingkungan. Peningkatan nilai konstruksi dikarenakan terjadi peningkatan kebutuhan infrastruktur yang disebabkan oleh jumlah penduduk yang bertambah (overpopulation) dan migrasi penduduk. Syal dkk. (2006) menyatakan bahwa meningkatnya aktivitas konstruksi secara besar-besaran bertujuan untuk mengakomodasi terjadinya migrasi penduduk dari pedesaan ke perkotaan, besarnya diperkirakan mencapai 60% pada tahun 2030. Rogers (2007) menyatakan bahwa kota besar dapat membuat penduduk lebih tertarik pergi dan bekerja di kota. Choesin dkk. (2004) menyatakan bahwa untuk negara yang sedang berkembang penyebab terjadinya kerusakan lingkungan adalah masalah overpopulation. Untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan yang lebih parah maka dibutuhkan panduan dalam menentukan arah pembangunan. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang dan sedang membangun, telah memiliki cetak biru bagi sektor konstruksi sebagai grand design dan grand strategy yang disebut dengan Konstruksi Indonesia 2030. Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa konstruksi Indonesia mesti berorientasi untuk tidak menyumbangkan terhadap kerusakan lingkungan namun justru menjadi pelopor perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan seluruh habitat persada Indonesia, yang didiami oleh manusia dan seluruh makluk lainnya secara bersimbiosis mutualisme (LPJKN, 2007).

Salah satu agenda yang diusulkan adalah melakukan promosi sustainable construction untuk penghematan bahan dan pengurangan limbah (bahan sisa) serta kemudahan pemeliharaan bangunan pasca konstruksi (LPJKN, 2007). Kedua hal tersebut diatas berkaitan erat dengan daya dukung lingkungan. Daya dukung lingkungan hidup menurut Undang-Undang No 23 Tahun 1997, adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Khanna (1999), mengelompokkan daya dukung lingkungan hidup menjadi dua komponen, yaitu: (a) kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan (b) kapasitas tampung limbah (assimilative capacity). Kedua hal tersebut diatas sejalan dengan konsep sustainable construction yaitu penghematan bahan dan pengurangan limbah. Goeritno (2011) mengatakan bahwa pembangunan berkelanjutan di Indonesia sudah berjalan, meskipun hingga saat ini sustainable construction belum terlihat secara signifikan. Dalam Draft Agenda 21 Konstruksi Berkelanjutan Indonesia sebagai rujukan pengembangan Agenda Konstruksi Indonesia 2030, terdapat tiga pengelompokan agenda berdasarkan kurun waktunya, yaitu: jangka pendek (2011-2017) yang berisi tentang agenda yang harus segera dilakukan untuk penciptaan kondisi lingkungan, jangka menengah (2011-2024) berisi tentang agenda yang bertujuan untuk melaksanakan implementasi sustainable construction termasuk dampaknya, dan jangka panjang (2011-2030) berisi tentang agenda yang bertujuan menciptakan paradigma baru dalam implementasi sustainable construction. Aspek pertama dalam sustainable construction adalah penghematan bahan yang digunakan dalam pembangunan. Frick dan Suskiyanto (2007) menyatakan bahwa penggunaan sumberdaya tak terbarukan, proses pengolahan bahan mentah menjadi bahan siap pakai, eksploitasi dari konsumsi yang berlebihan, dan masalah transportasi adalah kontributor dampak lingkungan. Widjanarko (2009) menyatakan bahwa secara global, sektor konstruksi mengkonsumsi 50% sumber daya alam, 40% energi, dan 16% air. Mengingat besarnya konsumsi sumberdaya alam dalam aktivitas konstruksi maka diperlukan perencanaan yang baik dalam pengelolaan penggunaannya agar keberlanjutannya tetap diperhatikan. Aspek kedua dalam sustainable construction adalah pengurangan limbah. Craven dkk. (1994) menyatakan bahwa kegiatan konstruksi menghasilkan limbah sebesar kurang lebih 20-30% dari keseluruhan limbah di Australia. Rogoff dan Williams (1994) menyatakan bahwa 29% limbah padat di Amerika Serikat berasal dari limbah konstruksi. Ferguson dkk. (1995) menyatakan lebih dari 50% dari seluruh limbah di United Kingdom berasal dari limbah konstruksi. Anink (1996) menyebutkan bahwa sektor konstruksi yang terdiri dari tahap ekstraksi material, pengangkutan material ke lokasi proyek konstruksi, proses konstruksi, operasional gedung, pemeliharaan gedung sampai tahap pembongkaran gedung mengkonsumsi 50% dari seluruh pengambilan material alam dan mengeluarkan limbah sebesar 50% dari seluruh limbah. Poon (1997) mencatat bahwa sebagian besar limbah padat berasal dari limbah konstruksi, dalam studinya ditemukan bahwa puing konstruksi dari pembongkaran merupakan porsi terbesar dari seluruh limbah padat di Hongkong. Cotton dkk. (1999) menyatakan bahwa limbah padat konstruksi yang tidak terbuang dapat mengganggu kesehatan. Oladiran (2008) menuliskan bahwa salah satu penyebab timbulnya limbah konstruksi adalah penggunaan sumberdaya alam melebihi dari apa yang diperlukan untuk proses konstruksi. Limbah yang dihasilkan oleh aktivitas konstruksi seperti tersebut diatas dapat menurunkan kualitas lingkungan, seperti yang dinyatakan oleh Hendrickson dan Horvath (2000) bahwa konstruksi berpengaruh secara signifikan terhadap lingkungan, oleh karena itu sudah seharusnya dilakukan minimasi pengaruhnya terhadap lingkungan. Sedangkan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan seperti yang dinyatakan oleh Christini dkk. (2004) bahwa implementasi manajemen lingkungan yang didasarkan pada komitmen dan tujuan yang jelas merupakan faktor kunci untuk mencapai keberhasilan dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan yang bersumber dari kegiatan konstruksi. Conseil International du Batiment, (1994) menyatakan bahwa tujuan sustainable construction adalah menciptakan bangunan berdasarkan disain yang memperhatikan ekologi, menggunakan sumberdaya alam secara efisien, dan ramah lingkungan selama operasional bangunan. Du Plessis (2002) menyatakan bahwa bagian dari sustainable construction adalah green construction yang merupakan proses holistik yang bertujuan untuk mengembalikan dan menjaga keseimbangan antara

lingkungan alami dan buatan. United State Environmental Protection Agency (2010) mendefinisikan green construction merupakan praktik membangun dengan menerapkan proses yang memperhatikan lingkungan dan efisiensi sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan dari tapak untuk perencanaan, konstruksi, operasi, pemeliharaan, renovasi, dan dekonstruksi. Bynum (1999) menyatakan bahwa untuk merencanakan green construction tidak hanya mengganti sebagian komponen bangunan dengan material lokal tetapi seluruh bangunan. Green construction menurut Glavinich (2008) adalah perencanaan dan pengelolaan proyek konstruksi agar supaya pengaruh proses konstruksi terhadap lingkungan seminimal mungkin. Kontraktor harus berperan proaktif peduli terhadap lingkungan, selalu meningkatkan efisiensi dalam proses konstruksi, konservasi energi, efisiensi pemanfaatan air, dan sumberdaya lainnya selama masa konstruksi serta minimasi dan mengelola limbah konstruksi secara baik. Glavinich (2008) menyatakan bahwa konsep green construction mencakup hal-hal sebagai berikut: perencanaan dan penjadwalan proyek konstruksi, konservasi material, tepat guna lahan, manajemen limbah konstruksi, penyimpanan dan perlindungan material, kesehatan lingkungan kerja, menciptakan lingkungan kerja yang ramah lingkungan, pemilihan dan operasional peralatan konstruksi, dokumentasi. Kibert (2008) menyatakan bahwa konsep green construction mencakup hal-hal sebagai berikut: rencana perlindungan lokasi pekerjaan, program kesehatan dan keselamatan kerja, pengelolaan limbah pembangunan atau bongkaran, pelatihan bagi subkontraktor, reduksi jejak ekologis proses konstruksi, penanganan dan instalasi material, kualitas udara. Konsep green secara umum dapat diartikan sebagai pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan green construction didefinisikan sebagai berikut: Suatu perencanaan dan pelaksanaan proses konstruksi yang didasarkan pada dokumen kontrak untuk meminimalkan dampak negatif proses konstruksi terhadap lingkungan agar terjadi keseimbangan antara kemampuan lingkungan dan kebutuhan hidup manusia untuk generasi sekarang dan mendatang Pada lingkup lokal, upaya penerapan green construction sudah dilakukan, antara lain oleh kontraktor nasional P.T. Pembangunan Perumahan (PP). Instrumen yang digunakan untuk menilai green construction disebut dengan Green Contractor Assessment Sheet yang mencakup hal-hal sebagai berikut: (a) tepat guna lahan, (b) efisiensi dan konservasi energi, (c) konservasi air, (d) manajemen lingkungan proyek konstruksi, (e) sumber dan siklus material, (f) kesehatan dan kenyamanan di dalam lokasi proyek konstruksi. Untuk lingkup nasional, perangkat penilaian bangunan hijau di Indonesia untuk gedung baru digunakan Sistem Rating GREENSHIP Versi 1.0. Bila dikaji lebih lanjut, proporsi penilaian yang didasarkan item penilaian lebih dominan terjadi pada tahap perencanaan (62,2%) dan tahap pengoperasian (33,3%) bila dibandingkan dengan proses konstruksi (4,5%).

2.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan kesepakatan Indonesia dalam konferensi Tingkat Tinggi ke-13 tentang Perubahan Iklim PBB yang diselenggarakan di Bali pada bulan Desember 2007 tentang peta jalur hijau dengan pola pembangunan abad ke-21 yang berkadar rendah karbon dengan cara menurunkan konsentrasi CO2 di udara sebesar 26% sampai dengan 41% di akhir tahun 2020, sekaligus mengurangi kemiskinan, menghapus ketimpangan pendapatan, dan meningkatkan kesejahteraan sosial (Salim, 2010). Untuk mendukung kesepakatan dalam konferensi tersebut diatas, sektor konstruksi memiliki peran cukup signifikan dalam menurunkan emisi CO2. Peran sektor konstruksi dalam pembangunan ekonomi nasional ditunjukan oleh besarnya konstribusi sektor konstruksi terhadap pertumbuhan sektor usaha lainnya. Hampir di setiap negara, baik yang sedang berkembang maupun yang telah maju, perkembangan sektor konstruksi akan mendukung terciptanya sarana prasarana sosial dan ekonomi yang lebih baik sehingga dapat memacu pertumbuhan sektor ekonomi lainnya. Sektor industri pengolahan, sektor pertambangan non migas adalah sektor-sektor yang merupakan penyedia bahan baku konstruksi berupa produk industri

antara lain semen, besi, baja dan bahan galian lain seperti pasir, kapur, batu. Sedangkan sektor usaha lainnya, seperti pertanian, perdagangan, pertambangan migas dan sektor jasa merupakan pengguna dari produk sektor konstruksi. Dalam dokumen Konstruksi Indonesia 2030 dinyatakan bahwa konstruksi Indonesia mesti berorientasi untuk tidak menyumbangkan terhadap kerusakan lingkungan namun justru menjadi pelopor perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan. Salah satu agenda dalam Konstruksi Indonesia adalah melakukan promosi sustainable construction untuk penghematan bahan dan pengurangan limbah (bahan sisa) serta kemudahan pemeliharaan bangunan pasca konstruksi (LPJKN, 2007). Pada kenyataannya konstruksi menghasilkan limbah dan emisi yang cukup besar, oleh karena itu diperlukan cara-cara yang lebih bijak dalam mengelola sektor konstruksi. Li, X., dkk. (2009) menyatakan bahwa proses konstruksi menimbulkan dampak terhadap lingkungan relatif lebih kecil namun lebih intens jika dibandingkan dengan tahap operasional dari sebuah bangunan. Dengan meningkatnya jumlah proyek konstruksi dari tahun ke tahun, secara akumulasi pengaruh proses konstruksi terhadap lingkungan, kesehatan pekerja konstruksi, dan penduduk yang tinggal di sekitar lokasi pekerjaan dapat menimbulkan permasalahan yang serius. Sistem rating GREENSHIP versi 1,0 untuk gedung baru, menyatakan prosentase komposisi item penilaian pada tahap disain-konstruksi-operasi bangunan adalah 62,2%, 4,4%, dan 33,3%. Komposisi dalam sistem rating ini lebih didominasi oleh tahap disain dan operasi bangunan, sedangkan prosentase pada tahap konstruksi diakomodasi 4,4%, yaitu dalam Building Environment Management (BEM-2) tentang polusi dari aktivitas konstruksi. Tidak berimbangnya komposisi tersebut membuka peluang untuk dilakukan kajian yang komprehensif khususnya pada tahap konstruksi agar diperoleh hasil optimal pada bangunan gedung baru. Proyek konstruksi merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai unsur yang terkait mulai dari proses disain, pengadaan, konstruksi, operasi dan perawatan, dan dekonstruksi dengan penggunaan berbagai jenis sumberdaya. Sistem inilah yang harus dikelola untuk mencapai prinsipprinsip dalam sustainable construction. Green construction sebagai bagian dari sustainable construction tentunya akan berdampak terhadap operasional bangunan maupun proses disain berupa umpan balik yang bersumber dari pengalaman konstruksi. Tantangan yang dihadapi adalah: (a) dapatkah konsep green construction dikembangkan seperti sistem rating GREENSHIP yang telah dikembangkan oleh GBCI untuk menilai green building. (b) bagi pelaku industri konstruksi: bagaimana memulai sebuah proses konstruksi yang dinyatakan green dan implementasinya dalam aktivitas konstruksi. Di sisi lain, tantangan dalam implementasi green construction adalah kesiapan pelaku konstruksi dalam memahami dan mendukung prinsipprinsip green construction yang menjadi aspek penting untuk menilai green construction di Indonesia.

3.

SIGNIFIKANSI PENELITIAN

Belum adanya panduan yang dapat digunakan oleh pelaku industri jasa konstruksi untuk mencapai green construction merupakan hambatan untuk mencapai sustainable construction di Indonesia. Dengan adanya model assessment green construction mungkinkah sustainable construction akan lebih mudah untuk di capai? Sasaran dalam penelitian ini adalah pengembangan metode assessment konsep green construction di Indonesia. Tujuan umum dalam penelitian ini adalah mengembangkan konsep green construction pada bangunan gedung di Indonesia, didasarkan pada kepentingan berbagai pihak yaitu developer, masyarakat, dan lingkungan. Tujuan khususnya adalah mengembangkan model assessment pada bangunan gedung di Indonesia. Dengan adanya model assessment ini diharapkan akan bermanfaat sebagai masukan bagi organisasi penilai green building di Indonesia, khususnya dalam mengembangkan metode assessment pada tahap proses konstruksi. Manfaat lainnya adalah sebagai bahan pertimbangan bagi regulator dalam merumuskan berbagai kebijakan tentang konstruksi berkelanjutan.

4.

PENDEKATAN PENELITIAN

Ruang lingkup dalam penelitian ini mencakup aktivitas konstruksi dalam pembangunan proyek konstruksi berupa gedung baru. Definisi gedung baru adalah suatu bangunan yang didirikan di atas suatu lahan kosong atau bangunan lama yang dibongkar dengan peruntukan sebagai fungsi perkantoran, pertokoan, rumah sakit, hotel, dan apartemen. Penyusunan instrumen penelitian didasarkan pada life cycle assessment sesuai dengan yang disampaikan oleh Kubba (2010), yaitu dimulai dari pengambilan bahan baku sampai dengan bangunan siap untuk dioperasikan. Kerangka penelitian dikembangkan berdasarkan kebutuhan manusia (bangunan gedung) dan kepentingan lingkungan. Sebagai mediator, kontraktor dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia namun tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup. Selanjutnya disusun instrumen pengumpulan data dengan konten untuk kepentingan lingkungan. Responden dalam penelitian ini adalah kontraktor yang berperan sebagai mediator dalam memenuhi kebutuhan manusia berupa bangunan, organisasi/pakar/pemerhati lingkungan sebagai representasi aspek lingkungan dan masyarakat sebagai representasi dari aspek sosial yang secara langsung merasakan dampak negatif akibat proses konstruksi. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan dalam green construction mengikuti kerangka penelitian model assessment green construction (gambar 1), sedangkan metodologi penelitian dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 1. Kerangka penelitian model assessment green construction

Gambar 2. Metodologi penelitian

Metoda assessment (Kuantitatif)

5.

TAHAP PENELITIAN

Tahapan penelitian diawali dengan melakukan rancangan penelitian, yang berisi tentang kajian literatur yang dapat bersumber dari jurnal, buku referensi, sistem rating, dan berbagai sumber informasi lain yang berkaitan dengan green construction baik di tingkat lokal maupun global. Hasil kajian awal ini diharapkan dapat diperoleh konsep green construction, selanjutnya digunakan sebagai referensi untuk merancang alat pengumpul data (kuisioner). Hal penting dalam pembuatan dan penyusunan kuisioner adalah perlunya mempertimbangkan kesesuaian antara kuisioner dengan cara pengolahan data yang akan digunakan. Harapan dari keluaran pengolahan data adalah dapat merepresentasikan dan menjawab tujuan penelitian. Tahap selanjutnya adalah melakukan pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner untuk memperoleh data yang bersifat kuantitatif, sedangkan data yang bersifat kualitatif dapat diperoleh melalui wawancara langsung dengan sumber data. Pengolahan kedua jenis data tersebut diatas dapat dilakukan menggunakan metoda yang telah ditetapkan dan kemudian dilakukan interpretasi data. Tahap terakhir adalah pengambilan kesimpulan untuk menjawab tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Anink, D., dkk. 1996: The Handbook of Sustainable Building: Ecological Choice of Materials in Construction and Renovation, James and James Science Publisher, London. Arif, M, Egbu, C, Haleem, A, Ebohon, J, & Khalfan, M 2009 Green construction in India: gaining a deeper understanding, Journal of Architectural Engineering, hh. 10-13.Badan Standarisasi Nasional, 2008 Bynum, R.T. & Rubino D.L., 1999, Handbook of Slternative Materials in Residential Construction, Mc Graw-Hill, New York. Chen, Z., Li, H., & Wong, C. T. C. 2000, Environmental management systems of urban construction project in China, Journal Construction Management., vol. 126, no. 4, hh. 320-324. Choesin, D, Taufikurahman, & Esyanti, R 2004, Pengetahuan Lingkungan, Penerbit ITB, Bandung Christini, G., Fetsko, M., & Hendrickson, C., 2004, Environmental management system and ISO 14001 Certification for Construction Firms Journal of Construction Engineering and Management., hh 330336. Conseil International Du Batiment, 1994 Cotton, A., Snel, M., and Ali, M. 1999,The Chalenges Ahead Solid Waste Management In The Next Millenium, Waterlines, 17 (3), hh. 2-5. Craven, E. J., Okraglik, H. M., and Eilenberg, I.M. 1994,Construction waste and a new design methodology,Sustainable construction: Proc., 1st Conf. of CIB TG 16, C.J. Kilbert, ed., 89-98. Damman, S 2004,Environmental Indicator For Building A Search For Common Language Ph.D thesis, Danish Building and Urban Research Harsholm. Du Plessis, Chrisna, Edit., 2002, Agenda 21 for Sustainable Construction in Developing Countries, Capture Press. Ferguson, J., Kermode, N., Nash, C.L., Sketch, W. A. J., and Huxford, R., P. 1995,Managing And Minimizing Construction Waste-A Practical Guide, Institution of civil engineers, London. Frick, H & Suskiyanto B, 2007, Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Glavinich, T. E. 2008, Contractors Guide to Green Building Construction, John Wiley. Goeritno, 2011, Draft Agenda 21 Konstruksi Berkelanjutan Indonesia, Prosiding seminar BP Konstruksi, Kementrian Pekerjaan Umum, Jakarta Green Building Council Indonesia, 2010, GREENSHIP, Jakarta Haselbach, L. 2008, The Engineering Guide to LEED-New Construction Sustainable Construction for Engineer, Mc Graw Hill USA Hendrickson, C dan Horvath, A 2000,Resource use and environmental emissions of U.S. construction sectors, Journal Construction Engineering Management., 126 (1), hh. 38-44. Kamil, I. M 2010, Analisis Dampak Lingkungan dan Keselamatan, lembaran kuliah pada topik SI 6142, Institut Teknologi Bandung, Gedung FTSL Bandung, 22 Oktober.

Kibert, C. 2008, Sustainable Construction, John Wiley & Sons, Canada. Kwanda T 2003,Pembangunan permukiman yang berkelanjutan untuk mengurangi polusi udara, Dimensi Teknik Arsitektur, vol. 31, no.1,hh. 20-27. Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional 2007, Konstruksi Indonesia 2030 untuk kenyamanan Lingkungan Terbangun, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional, Jakarta. Li, X., Zhu, Y., dan Zhang, Z., 2010. An LCA-Based Environment Impact Assessment Model For Contruction Processess, Building and Environment, Vol.45, hh 765-775. Motete,L., Mbachu, J., and Nkado, R., 2003,Investigation into material wastages on building sites, in CIDB 1st Post graduates Conference, Port Elizabeth, South Africa. Oladiran J.A. 2009,Innovative waste management through the use of waste management plans on construction projects in Nigeria Journal Architectural Engineering and Design Management., vol. 5, hh. 165-176 Oladiran, o. J., 2008,Lean in Nigerian construction: State barriers, strategies and Go-to-Gemba approach, in Proceeding of the IGLC-16, Menchester, UK, 16-18 July, 287-297. Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., Green Construction Assessment Sheet, Jakarta Poon, C.S. 1997,Management and recycling of demolition waste in Hong Kong Waste Manage., 38 (4), hh. 561-572. Rogoff, M., and Williams, J. F. 1994.Approaches To Implementing Solid Waste Recycling Facilities, Noyes, Park Ridge, N. Salim, E 2010, Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi, Gramedia, Jakarta She, L.,Y., Tam, W.,Y., Tam, C.,M., and Drew, D., 2004,Mapping approach for examining waste management on construction sites, Journal of Construction Engineering and Management, August, hh. 472-481. Statistik Konstruksi Indonesia, 2009 Suratman, 2010,Pengaruh Penerapan Green Construction Terhadap Kinerja Biaya Proyek di lingkungan PT. PP (Persero) Tbk., tesis Magister, Universitas Indonesia. Trend Konstruksi, Edisi Desember, 2010 Undang-undang No. 23 Tahun 1997, Tentang: Pengelolaan Lingkungan Hidup

United State Environmental Protection Agency, 2010


Widjanarko, A 2009, Bangunan dan Konstruksi Hijau, dokumen dipresentasikan di Seminar Nasional Teknik Sipil V-2009, Surabaya, 11 Pebruari. World Resources Institute, 2005