Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

Hemoroid merupakan penyakit daerah anus yang cukup banyak ditemukan pada praktek dokter sehari-hari. Di RSCM selama 2 tahun (Januari 1993 s.d Desember 1994) dari 414 kali pemeriksaan kolonoskopi didapatkan 108 (26,09%) kasus hemoroid. Hemoroid memiliki sinonim piles, wasir, ambeien atau southern pole disease dalam istilah di masyarakat umum. Keluhan penyakit ini antara lain buang air besar sakit dan sulit, dubur terasa panas, serta adanya benjolan di dubur, perdarahan melalui dubur dan lain-lain. Sejak dulu hemoroid hanya diobati oleh dukun- dukun wasir dan dokter bedah, akan tetapi akhir- akhir ini karena kasusnya makin banyak semua dokter diperbolehkan menangani hemoroid. hemoroid memiliki factor resiko cukup banyak antara lain kurang mobilisasi, lebih banyak tidur, konstipasi, cara buang air besar yang tidak benra, kurang minum air, kurang makanan berserat (sayur dan buah), factor genetic/ keturunan, kehamilan, penyakit yang meningkatkan tekanan intraabdomen (tumor abdomen, tumor usus) dan sirosis hati. Penatalaksanaan hemoroid dibagi atas penatalaksanaan secara medic dan secara bedah tergantung pada derajatnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hemoroid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang berasal dari pleksus hemorrhoidalis. Dibawah atau di luar linea dentate pelebaran vena yang berada di bawah kulit (subkutan) disebut hemoroid eksterna. Sedangkan di atas adau di dalam linea dentate, pelebaran vena yang di bawah mukosa (submukosa) disebut hemoroid interna. Biasanya struktur anatomis anal canal masih normal.

2.2 Patogenesis Hemoroid muncul karena dilatasi, pembengkakan atau inflamasi vena hemoroidalis yang disebabkan oleh factor-faktor resiko / pencetus.

Faktor resiko hemoroid antara lain factor mengedan pada saat buang air besar yang sulit, pola buang air besar yang salah (lebih banyak memakai jamban duduk, terlalu lama duduk di jamban, merokok), peningkatan tekanan intra abdomen karena tumor (tumor usus, tumor abdomen), kehamilan, usia tua, konstipasi kronik, diare kronik atau diare akut yang berlebihan, hubungan seks peranal, kurang minum air, kurang makan makanan berserat (sayur dan buah), kurang olahraga/ imobilisasi.

2.3 Klasifikasi dan Derajat hemoroid dapat diklasifikasikan atas hemoroid eksterna dan interna. Hemoroid interna dibagi berdasarkan gambaran klinis atas:
1. Derajat 1: Bila terjadi pembesaran hemoroid yang tidak prolaps ke luar kanal anus. Hanya dapat dilihat dengan anorektoskop 2. Derajat 2: Pembesaran hemoroid yang prolaps dan menghilang atau masuk sendiri ke dalam anus secara spontan 3. Derajat 3: Pembesaran hemoroid yang prolaps dapat masuk lagi ke dalam anus dengan bantuan dorongan jari 4. Derajat 4: Prolapas hemoroid yang permanen. rentan dan cendrung untuk mengalami thrombosis dan infark

Secara anoskopi hemoroid dapat dibagi atas hemoroidd eksterna dan hemoroid interna. Untuk melihat resiko perdarahan hemoroid dapat dideteksi oleh adanya stigmata perdarahan berupa bekuan darah yang masih menempel, erosi, kemerahan di atas hemoroid. secara anoskopik hemoroid interna juga dapat dibagi atas 4 derajat hemoroid.

2.4 Diagnosis Diagnosis hemoroid ditegakkan berdasarkan anamnsesis, keluhan klinis dari hemoroid berdasarkan klasifikasi hemoroid dan pemeriksaan anoskopi/ kolonoskopi. Karena hemoroid dapat disebabkan adanya tumor di dalam abdomen atau usus proksimal, agar lebih teliti sebaiknya selain memastikan diagnosis hemoroid, dipastikan juga apakah di usus halus atau di kolon ada kelainan misalnya tumor atau colitis. Untuk memastikan kelainan di usus halus diperlukan pemeriksaan rontgen

usus halus atau enteroskopi. Sedangkan untuk memastikan kelainan di kolon diperlukan pemeriksaan rontgen barium enema atau kolonoskopi total.

2.5 Penatalaksanaan Penatalaksanaan hemoroid terdiri dari penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan bedah. Penatalaksanaan medis terdiri dari nonfarmakologis, farmakologis, dan tindakan minimal invasive. 2.5.1 Penatalaksanaan medis nonfarmakologis penatalaksanaan ini berupa perbbaikan pola hidup, perbaikan pola makan dan minum, serta perbaikan pola/ cara defekasi. Perbaikan pola defekasi merupakan pengobatan yang selalu harus ada dalam setiap bentuk dan derajat hemoroid. Perbaikan pola defekasi disebut sebagai Bowel Management Program (BMP) yang terdiri dari diet, cairan, serat tambahan, pelican feses, dan perubahan perilaku buang air besar. Untuk memperbaiki defekasi dianjurkan menggunakan posisi jongkok sewaktu defekasi. pada posisi jongkok ternyata sudut anorektal menjadi lurus kebawah sehingga hanya diperlukan usaha yang lebih ringan untuk mendorong tinja ke bawah atau ke luar rectum. Mengedan dan konstipasi akan meningkatkan tekanan vena hemoroid, dan akan memperparah timbulnya hemoroid, dengan posisi jongkok ini tidak diperlukan mengedan lebih banyak. Bersamaan dengan program BMP ini, biasanya juga dilakukan tindakan kebersihan local dengan cara merendam anus ke dalam air selama 10- 15 menit, 2-4 kali sehari. dengan perendaman ini maka eksudat atau sisa tinja yang lengket dapat dibersihkan. Eksudat atau sisa tinja yang lengket dapat menimbulkan iritasi dan rasa gatal bila dibiarkan. Pasien diusahakan tidak banyak duduk atau tidur, banyak bergerak dan banyak jalan. Dengan banyak bergerak pola defekasi menjadi membaik. Pasien diharuskann banyak minum 30-40 ml/kgBB/hari untuk melembekkan tinja. Pasien harus banyak makan serat antara lain buah-buahan, sayur-sayuran, sereal dan suplementasi serat komersial bila kurang serat dalam makanannya.

2.5.2 Penatalaksanaan medis farmakologi

Obat-obat farmakologis hemoroid dapat dibagi atas empat, yaitu obat yang memperbaiki defekasi, obat yang meredakan keluhan subjektif, obat yang menghentikan perdarahan dan obat yang menekan atau mencegah timbulnya keluhan dan gejala.
1. obat yang memperbaiki defekasi: Ada dua obat yang diikutkan dalam BMP yaitu suplemen serat (fiber supplement) dan pelincir tinja (stool softener). suplemen serat komersial yang banyak dipakai antara lain psyllium atau isphagula Husk yang berasala dari kulit biji Plantago ovate yang dikeringkan dan digiling menjadi bubuk. Dalam saluran cerna bubuk ini agak menyerap airdan bersifat sebagai bulk lasxative, yang bekerja membesarkan volume tinja dan meningkatkan peristalsis. Efek samping antara lain kentut, kembung dan konstipasi, alergi, sakit perut dan lain-lain. Untuk mencegah konstipasi atau obstruksi saluran cerna dianjurkan minum air yang banyak. Obat kedua yaitu obat laksan atau pencahar antara lain natrium dioktil sulfosuksinat. Natrium dioctylsulfosuccinat bekerja sebagai anionic surfactant, merangsang sekresi mukosa usus halus dan meningkatkan penetrasi cairan ke dalam tinja. Dosis 300 mg/ hari

2. Obat simptomatik: Pengobatan simptomatik bertujuan menghilangkan atau mengurangi keluhan rasa gatal, nyeri atau karena kerusakan kulit di daerah anus. Obat pengurang keluhan sering kali dicampur pelumas (lubrikan), vasokonstriktor dan antiseptic lemah. Untuk menghilangkan nyeri, tersedia sediaan yang mengandunganestesi local. Bukti yang meyakinkan anestesi local tersebut belum ada. Sediaan yang mengandung penenang dalam bentuk ointment atau suppositoria. Bila perlu dapat digunakan sediaan yang mengandung kortikosteroid untuk mengurangi radang daerah hemoroid atau anus. Sedian berbentuk suppositoria digunakan untuk hemoroid interna, sedangkan sediaan ointment/ krim digunakan untuk hemoroid eksterna 3. Obat menghentikan perdarahan: Perdarahan menandakan adanya luka pada dinding anus atau pecahnya vena hemoroid yang dindingnya tipis. Szent- Gyorgy memberikan citrus bioflavanoids yang berasal dari jeruk lemon dan paprika pada pasien hemoroid berdarah, ternyata dapat memperbaiki permeabilitas dinding pembuluh darah. Bioflavanoids yang berasala dari jeruk lemon antara lain diosmin, heperidin, rutin, naringin, tangeretin, diosmetin, neohesperidin, quercetin. Yang digunakan untuk

pengobatan hemoroid yaitu campuran diosmin (90%) dan hespiridin (10%) dalam bentuk micronized, dengan nama dagang Ardium atau Daflon . Bukti- bukti yang mendukung penggunaan bioflavanoids untuk menghentikan perdarahan hemoroid antara lain penelitian Ho dkk (1995) meneliti efek daflon 500 mg 3 x perhari dalam mencegah perdarahan sekunder setelah hemoroidektomi pada 288 pasien hemoroid dengan prolaps menetap. Pada kelompok daflon perdarahan lebih sedikit dibandingkan kelompok placebo. Ho dkk (2000) melakukan penelitian daflon pada hemoroid yang diobati dengan ligasi rubber band selama 3 bulan. Pada kelompok daflon didapatkan perdarahan ulang yang lebih sedikit dibandingkan control. 4. Obat penyembuh dan pencegah serangan hemoroid: Caspite (1994) melakukan uji klinik pada 100 pasien hemoroid akut yang membandingkan ardium dan placebo, dengan rancangan tersamar ganda dan teracak. Ardium 500 mg dan placebo diberikan placebo tiga kali 2 tablet selama 4 hari, lalu 2 kali 2 tablet selama 3 hari. Perbaikan menyeluruh keluhan dan gejala terjadi pada kedua kelompok pengobatan. Tetapi perbaikan lebih nyata pada kelompok Ardium 500mg (p<0,001). Ardium 500 mg memberikan perbaikan yang nyata terhadap gejala inflamasi, kongesti, edema dan prolaps. Disimpulkan pada penelitian ini bahwa pengobatan dengan Ardium 500 mg menghasilkan penyembuhan keluhan dan gejala yang lebih cepat pada hemoroid akut bila dibandingkan placebo. Tanoponsathorn dan Vajrabukka (1992) melakukan uji klinik terkontrol, acak dan tersamar ganda yang membandingkan daflon dengan placebo pada pasien hemoroid interna, akut, derajat 1 dan 2, dan semua pasien mendatap suplemen serat. Jumlah setiap kelompok 50 orang. Daflon atau placebo diberikan tiga kali sehari 4 tablet selama 4 hari pertama, kemudian dua kali 2 tablet selama 10 hari. Hasil penelitian yaitu pada hari ke empat, daflon memberikan perbaikan gejala objektif yang bermakna secara statistic (p<0,01), tetapi tidak bermakna dalam memberikan perbaikan keluhan subjektif. Pada hari ke empatbelas pengobatan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam perbaikan gejala objektif dan keluhan subjektif. Tidak ditemukan efek samping daflon dalam penelitian ini. Godeberge (1994) melakukan uji klinik terkontrol, acak dan tersamar ganda yang membandingkan Ardium 500 dengan placebo pada pasien hemoroid akut dan kronik. Masing kelompok terdiri atass 60 orang, dan maasing subjek menerima ardium dan

placebo 2 kali 2 tablet selama 2 bulan. Pasien diperiksa pada hari pertama, dan 2 bulan kemudian. Hasil penelitian yaitu terjadi penurunan serangan hemoroid yang bermakna secara statistic pada kelompok daflon dibandingkan placebo. Pada kelompok daflon 40% pasien mendapat satu kali serangan hemoroid selama 2 bulan pengobatan, dengan lama serangan 2,6 1,1 hari. Sedangkan pada kelompok placebo angka serangan placebo itu adalah 70% dan lama serangan adalah 4,6 1,6 hari. Skor keseluruhan menurun dari 6,6 ke 1,1 pada kelompok ardium dari 6,1 ke 4,0 pada kelompok placebo(p<0,01) pada akhir pengobatan. Skor keseluruhan gejala, masing- masing turun dari 4,9 dan 4,5 ke o,9 dan 2,9 (p<0,01). Tidak ada efek yang nyata dengan ardium. Rani AA dkk dalam penelitiannya melakukan studi pemberian micronized flavanoidn( Diosmin + Hesperidin) 2 tablet perhari selama 8 minggu pada pasien hemoroid kronik. Dalam penelitian ini didapatkan hasil penurunan derajat hemoroid pada akhir pengobatan disbanding sebelum pengobatan secara bermakna. Perdarahan juga makin berkurang pada akhir pengobatan disbanding awal pengobatan. 2.5.3 Penatalaksanaan Minimal Invasif: Penatalaksanaan hemoroid ini dilakukan bila pengobatan non farmakologis, farmakologis tidak berhasil. Penatalaksanaan ini antara lain tindakan skleroterapi hemoroid, ligasi hemoroid, pengobatan hemoroid dengan terapi laser. Penulis dkk pada tahun 1993-1995 di RSCM dalam penelitiannya melakukan skleroterapi pada 18 pasien hemoroid menggunakan obat aethoxylsclerol 11,2 %, anoskop logam dan jarum spinal no. 26 dan spuit 1 cc. Tiap hemoroid interna disuntik masing-masing 0,5 1 ml aethoxylsclerol didapatkan pengecilan derajat hemoroid pada minggu 4 sampai dengan 5 setelah skleroterapi 3-5 kali. Komplikasi yang didapatkan yaitu sakit pada anus waktu buang air besar dan ulkus.

2.6 Pencegahan Yang paling baik dalam mencegah hemoroid yaitu mempertahankan tinja tetap lunak sehingga mudah ke luar, dimana hal ini menurunkan tekanan dan pengedanan dan mengosongkan perut sesegera mungkin setelah perasan hendak ke belakang timbul. Latihan olahraga seperti berjalan dan peningkatan konsumsi serat diet juga membantu mengurangi konstipasi dan mengedan.

Sumber: Anonim. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1 Ed. IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI