Anda di halaman 1dari 5

I.

PENDAHULUAN
A. Latar belakang Kelenjar hipofisa atau kelenjar pituitari katak diambil melalui hiposektomi, yaitu dengan cara membedah pada bagian rahang katak dengan menggunakan gunting, dan mengangkat kelenjar hipofisanya. Tanpa adanya hormon FSH (Folikel Stimulating Hormon) akan menghambat proses pertumbuhan folikel, sehingga ovulasi dapat berlangsung secara lambat. Sedangakan tanpa hormon LH (Luteinizing Hormon) menghambat gerakan terjadinya proses ovulasi pada katak. Berdasarkan paragraf di atas maka, dengan diadakannya praktikum ini, sangat membantu kita untuk mengetahui hubungan kelenjar pituitary dan ovulasi serta bagaimana cara menginduksi ovulasi katak sehingga menghasilkan banyak telur. B. Tujuan Adapun tujuan dalam praktikum ini, yaitu untuk memperoleh telur dan proses pembuahan pada saat yang diinginkan dalam jumlahyang banyak.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Ovulasi adalah suatu proses terlepasnya sel telur (ovum) dari ovarium sebagai akibatnya folikel yang telah masak. Ovulasi pada katak terjadi setelah oosit melepaskan polar bodi pertama, dinding theka eksterna dan dan folikel sel dari folikel pecah (Adnan, 2010). Menurut Anonim (2010), bahwa hormon-hormon yang mempengaruhi ovulasi diantaranya : 1. GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone). GnRH dihasilkan di Hypothalamus yang akan mempengaruhi anterior pituitary untuk menghasilkan hormon FSH (Folicle Stimulating Hormone) dan LH (Luitenizing Hormone). 2. FSH (Folicle stimulating Hormone). Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior ,sebagai respon terhadap GnRH. 3. LH (Luitenizing Hormone). Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. 4. Estrogen, estrogen diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara primer , dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. 5. Progesteron diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di kelenjar adrenal dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta. Spermatogenesis berlangsung di dalam gonad jantan (testis), tepatnya di dalam tubulus seminiferus. Di dalam tubulus seminiferus, sel-sel germa tertanam di dalam sel-sel sertoli sesuai dengan tahap perkembangannya. Sel sertoli menghasilkan endrogen binding protei (ABP) yang penting untuk mengikat testosteron. Sekresi ABP oleh sel sertoli diatur oleh hormon follicel stimulating hormon (FSH) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis (Adnan, 2008). Hipofisa atau kelenjar pituitari adalah sebuah kelenjar endokrin yang menghasilkan sejumlah hormon dengan fungsi dalam mengatur metabolisme, pertumbuhan dan reproduksi. Ahli endokrinologi menyebut hipofisa sebagai master gland atau pusat dari endokrinologi, karena dapat mengatur ritme dari aktivitas kelenjar endokrin lainnya (Pagarra, 2010).

III. METODE PRAKTIKUM


A. Waktu dan tempat Hari/Tanggal : Jumat Waktu : Pukul 09 - 11.00 WITA Tempat : Lab. Biologi Lt. III Barat FMIPA UNM Makassar

B. Alat dan bahan a. Alat 1) Papan seksi 2) Alat seksi 3) Cawan petri 4) Alat suntik 5) Toples 6) Mortal 7) pestle b. Bahan 1) Katak betina dewasa 2) Katak jantan dewasa 3) Alkohol 70% 4) Kapas 5) NaCl fisiologis 0,9% 6) Kertas kuarto 7) Kloroform C. Prosuder kerja a. Mengangkat kelenjar pituituari 1) Memasukkan gunting di sudut rahang katak jantan, memotong dibelakang mata secara primordial, kemudian melewati kepala hingga daerah oksipital dan akhirnya ke rahang yang lain sehingga mengangkat kepala. 2) Mengembalikkan tengkoraknya dan mencari bentangan yang luas yang dibentuk oleh tulang-tulang di dasar kranium, kelenjar pituituari terletak tepat dibelakang optik kisma. 3) Memasukkan gunting kecil yang tajam ke dalam rongga otak, dan memotong tulang kearah anterior melalui dasar kranium, menghindari luka pada jaringan otak, dengan menggunakan pinset kecil, membalik dasar kranium dan mencari kelenjar pituitarinya. 4) Menempatkan kelenjar pituitary ke dalam cawan Petri, yang berisi NaCl 0,5 ml, kemudian mengerusnya hingga terbentuk suspensi. secukupnya. b. Penyuntikan. 1) Memegang katak betina dengan kuat pada bagian kakinya, melakukan injeksi pada rongga perut posteriolateral. Menghindari luka pada vena kulit, vena abdomen ventral dan rongga vital lainnya. 2) Menempatkan katak betina yang telah terinjeksi di dalam kolam yang berisi air sampai menutupi bagian permukaan katak. c. Proses stripping 1) Melakukan stripping dengan pelan pelan, dengan membengkokkan kearah depan pelvis, kemudian dilakukan penekanan dari depan ke belakang perut. 2) Menghindari kerusakan telur dan pendarahan, jika telur muncul dengan sangat mudah dan dalam jumlah yang besar, maka telur-telur itu sudah siap diinseminasi.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil pengamatan

Keterangan: a) Membius katak jantan dewasa dengan kapas yang telah diberi kloroform. b) Meletakkan katak di atas papan bedah. c) Membedah katak pada bagian kepala dan memotong kepala katak tersebut. d) Mengangkat kelenjar pituitarinya. e) Menggerus kelenjar pituitari tersebut dengan menggunakan mortal dan pestle kemudian menambahkan sedikit NaCl fisiologis. f) Memasukkan ekstrak pituitari kedalam alat suntik. g) Menyuntikkan ekstrak pituitar ke bagian rongga perut bagian atas agak ke kanan ataupun ke kiri yang diperkirakan posisinya tepat pada ovarium katak. h) Setelah 24 jam kemudian melakukan stripping untuk membuktikan berhasil tidaknya praktikum. B. Pembahasan Kelenjar pituitari yang terdapat di daerah otak sangat sulit terrlihat sehingga pada proses pengangkatan kelenjar tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak terjadi pendarahan atau salah pengangkatan antara otak dan kelenjar pituitari. Apabila

terjadi pendarahan maka potensi kerja hormon yang terkandung dalam kelenjar pituitari akan terpengaruhi misalnya potensinya menurun sehingga dapat kegagalan pada hasilnya nanti. Hasil praktikum kali ini mengalami kegagalan karena katak bertina dewasa yang telah di suntik dengan ekstrak pituitari tidak menghasilkan telur yang banyak pada waktu yang ditentukan yaitu 24 jam dari pemberian ekstrak. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kegagalan tersebut antara lain: a) Kesalahan dalam pengangkatan dan pengambilan kelenjar pituitary b) Kelenjar pituitary bercampur dengan NaCl fisiologis sehingga tidak dalam kondisi yang baik (rusak). c) Kemungkinan saat penyuntikan kelenjar pituitary mengenai organ dalam seperti usus, bukan ovum. d) Katak yang dijadikan objek induksi belum dewasa dan belum matang seks. e) Katak yang akan dijadikan objek induksi mengalami stress, sehingga dapat mengganggu proses ovulasi. f) Suhu yang kurang mendukung dalam kolam (suhu ideal 23-25 C). V. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil maka dapat disimpulkan bahwa hasil percobaan dinyatakan gagal karena telur yang diinginkan dalam jumlah banyak tidak terjadi (tidak ada) dan faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan yaitu suhu kurang ideal, kesalahan penyuntikan, kesalahan pengangkatan dan pengambilan kelenjar pituitary, objek induksi belum dewasa, mengalami stress, kelenjar pituitary bercapur NaCl fisiologis sehingga kondisinya rusak. B. Saran 1. Untuk praktikan agar lebih teliti dalam mengukur panjang ekor ikan agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan laporan. 2. Untuk asisten agar lebih baik lagi dalam membimbing dan memberikan informasi mengenai kegiatan yang dipraktikumkan. 3. Untuk laboran agar menyediakan bahan yang bagus.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2008. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM. Adnan. 2010. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM. Anonim. 2011. Ovulasi. Sumber http://www.wikipedia-indonesia/org.com. Diakses pada 3 Januari 2011. Pagarra, Halifah dan Adnan. 2010. Struktur Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.