Anda di halaman 1dari 2

Rizky Yoga Pratama 130 06 004

Alkilasi
Pada proses yang umum dilakukan di pengilangan minyak, isobutana di alkilasi menggunakan alkena alkena yang memilik MR rendah (biasanya campuran dari propilena dan butilena) dan menggunakan katalis yang bersifat asam kuat, antara asam sulfat (H2SO4 ) atau asam fluorida (HF). Pada pengilangan minyak proses tersebut biasa disebut unit alkilasi asam sulfat (SAAU) atau unit alkilasi fluorida (HFAU). Katalis tersebut memprotonasi alkena (campuran propilena dan butilena) untuk memproduksi karbokation ang reaktif, yaitu isobutana teralkilasi. Reaksi tersebut terjadi pada temperatur menengah (0 dan 30oC) pada reaksi 2 fasa. Sangatlah penting untuk menjaga kadar isobutan terhadap alkena tetap tinggi. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah reaksi samping yang menghasilkan produk dengan nilai oktan rendah. Kedua fasa tersebut dipisahkan secara spontan, sehingga fasa asam tersebut tercampur secara cepat dengan fasa hidrokarbon untuk menghasilkan luas permukaan kontak yang cukup. Produk yang dihasilkan disebut zat turunan alkil dan terkandung dalam campuran yang mengandung oktana yang tinggi, ikatan cabang dari hidrokarbon jenis parafin ( kebanyakan isopentana dan isooktana). Zat turunan alkil adalah perpaduan didalam bensin pada umumnya karena zat ini memiliki sifat anti-knocking dan terbakar secara bersih. Zat turunan alkil juga merupakan komponen utama didalam avgas (bahan bakar pesawat). Bilangan oktan dari zat turunan alkil bergantung dari alkana turunan yang digunakan dan pada kondisi operasi tertentu. Sebagai contoh, isooktana yang diperoleh dari pencampuran butilena dengan isobutena akan memiliki bilangan oktan sebesar 100. Pada umumnya minyak mentah hanya memiliki kandungan 10 sampai 40 persen unsur hidrokarbon, oleh karena itu pengilangan menggunakan proses FCC untuk mengkonversi hidrokarbon dengan MR yang tinggi menjadi hidrokarbon yang lebih rendah MR-nya dan menjadi zat yang mudah menguap, yanng setelah itu dikonversi lagi menjadi cairan kembali. Proses alkilasi mengubah alkena dan molekul iso-parafin dengan MR rendah menjadi iso-parafin dengan MR yang lebih besar dan memiliki nilai oktan yang tinggi pula. Penggabungan antara perengkahan, polimerisasi, dan alkilasi akan memberikan hasil pada perolehan bensin hingga 70 persen dari minyak mentah awal. Proses yang lebih lanjut, seperti sklikisasi dari parafin dan dehidrogenasi dari naftena membentuk hidrokarbon aromatik di dalam pembaruan secara katalitik (catalytic reformer), juga telah dikembangkan untuk meningkatkan nilai oktan dari bensin. Pengilangan yang moderen dapat memproduksi banyak jenis bahan bakar dengan spesifik performa dengan satu jenis umpan mentah. Pada seluruh rentang proses pengilangan, alkilasi sangatlah penting karena dapat meningkatkan perolehan bensin dengan bilangan oktan tinggi. Tetapi, tidak semua pengilangan memiliki pabrik alkilasi.

Rizky Yoga Pratama 130 06 004 Pengilangan memeriksa apakah akan ada peningkatan yang siknifikan apabila pada pengilangan tersebut dipasang unit alkilasi. Hal ini disebabkan karena unit alkilasi sangatlah kompleks, dengan skala ekonomi. Produk alternatif dari pengilangan alkilasi dapaet berupa LPG, pencampuran dari laju C-4 secara langsung kedalam bensin dan bahan baku untuk pabrik zat kimia. Ketersediaan dari katalis yang cocok juga merupakan faktor pentinga untuk menentukan apakah perlu didirikan pabrik alkilasi. Jika asam sulfat yang digunakan, volume yang dignifikan sangat diperlukan. Jalur masuk yang cocok dengan pabrik juga dibutuhkan untuk memasok asam yang masih segar dan pembuangan asam yang telah dipakai. Jika pabrik asam sulfat dibangun untuk mendukung unit alkilasi, konstruksi harus memiliki dampak yang siknifikan terhadap persyaratanpersyaratan dasar untuk modal dan biaya operasi. Secara alternatif sangatlah mungkin untuk memasang proses WSA (Wet Sulfuric Acid) untuk meregenasi asam yang telah jenuh. Tidak ada pengeringan dari gas. Ini berarti tidak akan ada kehilangan asam, tidak ada material bersifat asam yang terbuang dan tidak ada panas yang hilang pada proses pemanasan kembali gas. Kondensasi yang selektif pada kondensor WSA menjamin asam yang teregenasi akan memiliki adar 98% w/w bahkan dengan gas proses yang lembab. Sangatlah mungkin untuk menggabungkan regenerasi asam yang terpakai dengan pembuangan asam sulfat dengan menggunakan asam sulfat sebagai bahan bakar. Katalis kedua yang biasa digunakan dalam proses alkilasi ini adalah asam fluorida. Laju konsumsi HF pada pabrik alkilasi jauh lebih rendah dibandingkan bila menggunakan asam sulfat. Pabrik yang menggunakan HF dapat memproses campuran bahan baku dengan rentang yang lebar dan dicampur dengan propilena dan butilena. Pabrik dengan HF juga memproduksi zat turunan alkil dengan nilai oktan yang lebih baik daripada pabrik dengan asam sulfat. Tetapi, karena sifat yang berbahaya dari material, HF digunakan pada lokasi tertentu dan transportasinya harus dilakukan secara ketat. Alkilasi dengan menggunakan HF memiliki 2 cara yaitu dengan cara phillips dan UOP. Berikut ini ditampilkan contoh proses dengan kedua cara tersebut.