Anda di halaman 1dari 7

Konflik Rwanda OPINI | 23 December 2010 | 19:54 327 Menarik 1 1 dari 1 Kompasianer menilai

A. Review Film Dengan setting di tahun 1994, di Kigali-Rwanda, film Hotel Rwanda

menggambarkan situasi disana, dimulai dari beberapa saat sebelum pecahnya konflik sampai sebelum konflik tersebut berhasil di selesaikan oleh pemerintah ataupun pasukan perdamaian internasional. Film ini menceritakan tentang konflik yang terjadi antara suku Hutu dan suku Tutsi. Paul Rusesabagina merupakan seorang hutu yang bekerja sebagai manajer hotel bintang empat, Des Mille Collines. Awalnya Paul tidak ingin terlibat terlalu dalam dengan konflik suku yang ada, ia tidak bergabung dengan kelompok Interhamwe, tapi juga tidak bersikap melawan jika ada warga hutu yang melakukan tindak kekerasan kepada suku tutsi. Pada saat itu presiden Habyarimana masih mengusahakan perdamaian antara kedua suku yang berseteru. Namun proses perdamaian terhenti karena Presiden ditembak ketika berada di pesawat oleh pasukan pemberontak Tutsi (menurut salah satu siaran radio di Kigali). Karena terprofokator berita tersebut, Interhamwe mulai bergerak untuk membasmi suku Tutsi yang ada di Rwanda. Beberapa saat setelah insiden tersebut, Interhamwe memblokade arus keluar-masuk Rwanda, dan mereka mulai menangkap dan membunuhi warga Tutsi. Ketika hal tersebut terjadi, suku Tutsi yang tempat tinggalnya berdekatan dengan Paul, bersembunyi disana untuk menghindari serangan dari pasukan Hutu. Dari saat itulah Ia mulai berjuang untuk melindungi suku Tutsi (karena Istrinya, Tatsiana adalah suku Tutsi termasuk keluarga si Istri). Ia membawa para pengungsi ini ke

Hotel yang ia kelola dengan penuh perjuangan berusaha menawarkan apapun (uang yang ia miliki) kepada tentara Hutu untuk menyelamatkan keluarga dan tetangganya. Ketika itu di Rwanda masih terdapat pasukan perdamaian PBB, turis-turis asing, dan dua orang reporter asing. Namun tidak lama kemudian, PBB, AS, Perancis, Italia, Inggris, dan Belgia menarik pasukannya bersamaan dengan pengevakuasian warganya masing-masing dari negara tersebut. Sehingga hanya terdapat 450 personil yang berada di Rwanda, dan hanya kurang dari lima orang yang menjaga Des Mille Collines. Pada satu hari, Interhamwe mengetahui bahwa hotel tersebut menampung para penggungsi Tutsi. Mulai dari saat itu, Paul menyuap tentara yang ada dengan uang, barang-barang berharga, dan beer atau wine. Satu orang Tutsi biasanya di hargai dengan harga 10.000 franc. Lama kelamaan ia kehabisan persediaan uang suapan, dan disaat yang bersamaan tentara interhamwe datang untuk mengeksekusi semua Tutsi disana. Pada saat itulah Paul langsung menghubungi pemilik hotel tempat ia bekerja yang berada di Belgia. Kemudian ia meminta tolong pemilik hotel untuk berbicara dengan kedutaan Perancis karena Perancis adalah negara pensuplai senjata pada pejuang Hutu. Hal tersebut ternyata berhasil menghentikan penggerebekan yang dilakukan oleh Interhamwe. Setiap harinya Paul berusaha agar para penggungsi ini dapat tetap hidup. Ia dan beberapa penggungsi Tutsi lainnya terus mencoba pertolongan dengan cara mengirimkan fax kepada siapapun kenalan mereka yang berada di luar. Beberapa hari kemudian, seorang pemimpin pasukan perdamaian memberikan kabar bahwa sebagian orang dari penghuni hotel tersebut sudah diberikan izin untuk menggungsi ke beberapa negara di Eropa dan Afrika.

Usaha penyelamatan diri yang pertama ini gagal. Karena di tengah jalan truk yang berisi penggungsi tersebut dihadang oleh para Interhamwe. Kegagalan tesebut langsung disiarkan oleh radio Kigali, yang akhirnya semakin mempropaganda masyarakat Hutu untuk tidak melindungi masyarakat Tutsi. Beberapa hari kemudian, dilakukanlah misi penyelamatan kedua, dan berhasil. Walaupun sempat terjadi baku tembak antara Interhamwe dengan Kelompok Pemberontak Tutsi, ketika truk penggungsi hampir mendekati perbatasan. Analisis Konflik Pengertian konflik menurut M. Nicholson ialah interaksi antara paling tidak dua individu atau kelompok yang memiliki tujuan berbeda. Menurut Mial Hugh, konflik adalah suatu situasi di mana terjadi persaingan untuk memenuhi tujuan yang tidak selaras dari kelompok-kelompok yang berbeda. Sedangkan menurut Veeger, konflik ialah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan yang berhubungan dengan status atau kekuasaan dimana pihak-pihak yang berselisih tidak hanya bermaksud untuk memperebutkan hal-hal yang ada diatas, tetapi juga untuk memojokkan, merugikan, atau menghancurkan lawan mereka. Menurut Simon Fisher terdapat enam teori penyebab konflik; Teori Hubungan Masyarakat, Teori Negosiasi Prinsip, Teori Kebutuhan Manusia, Teori Identitas, Teori Kesalahpahaman Antarbudaya, dan Teori Transformasi Konflik. Namun hanya tiga teori konflik yang paling tepat digunakan untuk membahas konflik yang terjadi di Rwanda; 1. Teori Negosiasi Prinsip

Teori ini menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan terjadi perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik. 2. Teori Identitas Teori ini berasumsi bahwa konflik disebabkan karena identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan. 3. Teori Transformasi Konflik Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi. Rwanda adalah sebuah negara kecil yang padat dan kurang makmur yang berada di Afrika Tengah. Negara ini dihuni oleh 3 suku; hutu (90%), tutsi (9%), dan twa (1%). Bila dilihat dari sejarahnya, konflik antara suku mayoritas, hutu dan suku minoritas, berawal ketika Belgia menguasai wilayah ini. Awalnya kedua suku ini hidup dengan damai, namun kemudian Belgia mengkelaskan antara suku mayoritas dengan suku minoritas. Suku tutsi berada dikelas teratas, karena bila dilihat dari segi fisik, warna kulit tutsi berwarna lebih cerah dari hutu, dan bentuk hidung tutsi juga relative lebih kecil bila dibandingkan tutsi, sehingga Belgia mengatakan bahwa suku tutsi masih mempunyai hubungan relatifitas yang lebih dekat.dengan bangsa Eropa. Kemudian Belgia mulai mendiskriminasi antara dua suku tersebut. Posisiposisi tinggi di pemerintahan diberikan kepada suku tutsi, suku tutsi juga diperlakukan dengan lebih baik oleh Belgia.

Namun setelah Rwanda memperoleh kemerdekaannya, kekuasaan atas kontrol pemerintahan malah diberikan semuanya oleh suku hutu. Sehingga memberikan kesempatan kepada suku hutu untuk membalaskan diskriminasi sikap yang terjadi di masa lalu. Efek dari tindakan balas dendam suku hutu ini mengakibatkan terbentuknya kelompok pemberontak tutsi. Akhirnya puncak dari perseteruan kedua suku ini terjadi di tahun 1994, selama 100 hari, dimulai dari awal Juni sampai pertengahan Oktober. Pembantaian suku ini diduga telah memakan korban sekitar 800.000 - 1 juta jiwa suku tutsi. Namun bukan berarti para pemberontak suku tutsi tidak memberikan perlawanan sama sekali, mereka juga menyerang suku hutu, namun jumlah korbannya tidak sebanyak suku tutsi. Meningkatnya ekskalasi kekerasan di Rwanda pertama kali dimulai setelah tanggal 6 April 1994. disebabkan oleh terbunuhnya presiden Juvenal Habyarimana ketika ia sedang berada di pesawat terbang, setelah menghadiri pertemuan di Tanzania. Peristiwa tersebut di duga sebagai aksi protes terhadap presiden yang berencana untuk melakukan persatuan etnis di Rwanda, sesuai dengan piagam Arusha Accord yang di tandatangani tahun 1993. Kedua, kuatnya propaganda yang dilakukan oleh penyiar radio setempat, di Kigali, yang terus menerus menyerukan untuk menghabisi semua suku tutsi. Ketiga, munculnya kelompok-kelompok bersenjata dari dua kubu;

Interhamwe (hutu) dan Kelompok Pemberontak Tutsi. Interhamwe curiga kelompok pemberontak Tutsi ingin merebut kembali penguasaan di Rwanda. Selain itu mereka ingin membalas dendam atas pendiskriminasian atas suku mereka yang terjadi pada masa kolonialisme.

Sedangkan Kelompok Pemberontak Tutsi (atau sering kali disebut oleh suku Hutu dengan nama Inyenzi/ kecoa) merupakan kelompok bentukan para tahanan pengasingan Tutsi yang dibentuk akhir tahun 1960an. Serangan pertama yang dilakukan oleh kelompok ini terjadi pada tahun 1963. serangan berasal dari Zaeire, Uganda, Burundi, dan Tanzania. Keempat, hubungan kerjasama perdagangan senjata yang baik antara Perancis kepada Interhamwe dan dukungan penuh dari Belgia kepada suku Hutu untuk menjalankan pemerintahan. Kelima, penarikan pasukan perdamaian yang dilakukan oleh tentara Amerika Serikat, Inggris, dan PBB (Kofi Annan), dari yang tadinya berjumlah 2500 personil menjadi 450 personil. Kurangnya perhatian dari dunia internasional terhadap kejadian ini karena negara ini tidak memiliki kepentingan strategis di- mata internasional. Potensi konflik disetiap masyarakat selalu ada, khususnya di masyarakat yang bersifat heterogen, baik itu dari segi etnis (suku bangsa), sosioekonomi, maupun agama. Setiap perbedaan dalam negara menyimpan adanya potensi konflik. Bagi negara yang menganut sistem demokratis, keanekaragaman merupakan hal yang dianggap sangat wajar. Disitulah pentingnya peran partai politik, sehingga dapat menekan potensi terjadinya konflik seminim mungkin. Tetapi hal ini menjadi sulit untuk diaplikasikan oleh Rwanda karena model pemerintah yang ditetapkan oleh Presiden Habyarimana bersifat diktator dan semakin memperbesar gaps antara dua suku yang berseteru. Aliansi yang timbul di dalam Konflik Rwanda adalah Perancis yang

mensuplai senjata ke Hutu, peran PBB

Soal:

implementasian

hukum

internasional

dan

siapa

yg

menimplementasikan hkm tsb? Hkm apa yang berlaku dlm konflik? Isu lain yg diangkat selain HAM? Ada unsure terorismenya ga?