Anda di halaman 1dari 5

SISTEM FOTOGRAFI 5.

1 Pendahuluan Fotografi Aerial, seperti kita ketahui pada bab 1, menunjukan bentuk modern paling pertama ditemukan pada sistem pengindraan jauh. Terlepas dari fakta bahwa banyak teknik pengindraan jauh yang lebih baru bermunculan sejak Fotografi Aerial pertama ditemukan pada tahun 1858, fotografi aerial masih menemukan banyak aplikasi yang penting, dan terdapat banyak buku yang mungkin membahas hal ini lebih detail dari dalam bab ini. Pembaca yang tertarik mengacu pada bab 2 sampai 5 dari Avery dan Berlin (1992). Fotografi Aerial sangat familiar dan dimengerti dengan baik, dan merupakan titik yang baik untuk memulai pembahasan mengenai sitem pencitraan. Secara khusus, fotografi aerial memberikan kesempatan yang mudah untuk memperkenalkan beberapa konsep pencitraan yang akan berguna dalam membahas sistem yang kurang familiar pada bab lainya, Fotografi merespon bagian tampak dan inframerah-dekat dari spektrum elektromagnetik. Pada konteks pengindraan jauh hal ini merupakan sebuah teknik pasif, dalam mendeteksi radiasi yang keluar (sinar matahari dan langit yang dipantulkan), dan sebuah teknik pencitraan, dalam hal ini bentuknya merupakan representasi dua dimensi dari radiansi area target. Pada bab ini, kita harus memikirkan bentuk, fungsi, dan kemampuan dari film fotografi, khususnya kegunaanya dalam mendapatkan informasi kuantitatif tentang objek geometri. Bab ini kemudian membahas efek propagasi atmosfer, dan ditutup dengan menggambarkan karakteristik beberapa instrumen nyata dan memberikan penjelasan singkat dari aplikasi teknik ini. 5.2 Film Fotografi Gambar 5.1 menunjukan skema bentuk film fotografi monokrom (hitam-putih). Sebuah emulsi yang mengandung kristal halida perak (bromide, clorida, atau iodide) diadakan dalam suspensi pada lapisan transparan gelatin, didukung di atas basis polister. Lapisan gelatin biasanya memiliki tebal 10 m, dan Kristal, atau butiran-butiran, dari halide perak biasanya memiliki ukuran 0,1 sampai 5 m.

Gambar 5.1. Diagram skematik yang menunjukan bentuk film pankromatik.

Seperti yang akan kita lihat pada bab ini dan selanjutnya, prinsip fundamental terlibat dalam mendeteksi radiasi elektromagnetik untuk mengamati perubahan energi pada elektron. Pada kasus film fotografi, interaksi yang mengambil tempat merupakan elektron yang ditransfer dari ion halide menuju ion perak, meninggalkan sebuah atom perak dan sebuah atom halogen. Sebagai contoh, pada kasus Kristal bromide, reaksinya dapat ditulis dengan: Ag+Brhf

Ag + Br

Dimana hf menunjukan absorpsi foton. Normalnya, reaksi ini dapat mengembalikan kebentuknya semula secara spontan, tetapi jika beberapa atom perak diproduksi sangat dekat antara yang satu dengan lainnya, kumpulan atom akan stabil, dan seperti diketahui sebagai sebuah pusat pengembangan. Sebuah film dimana beberapa butiran halide yang mengandung pusat pengembangan dikatakan berisi pencitraan laten. Setelah eksposur terhadap cahaya, sehingga penciptaan citra laten, film dikembangkan dengan memperlakukan eksposur dengan bahan kimia pereduksi (developer). Hal ini dipilih dengan hati-hati sehingga mampu mereduksi ion Ag+ menjadi atom Ag hanya pada presensi dari pusat pengembangan, yang bertindak sebagai nucleus untuk Kristal perak yang tumbuh. Sisa ion Ag+ tidak diubah oleh aksi pereduksi, dan selanjutnya hanyut. Hasil akhir proses ini adalah area film yang terkena cahaya yang dikonversi menjadi perak padat, yang buram, dan bagian yang tersisa dari film adalah transparan. Hal ini disebut dengan negative, karena jika hal ini dilihat dengan melewatkan cahaya pada negative,area yang menerima cahaya sepanjang tahap eksposur akan muncul gelap, dan mereka tak akan memunculkan cahaya.

Kita dapat lihat dari deskripsi singkat dari teori ini (teori Gurney-Mott) dari proses fotografi yang bahwa paparan cahaya yang cukup untuk menyebabkan beberapa atom perak yang akan dibentuk menjadi butiran halide akan mengikuti keseluruh butiran, mungkin mengandung 1010 ion, untuk perak. Proses deteksi fotografi sehingga melewatti penguatan kira-kira 109. Akun lengkap dari teori Gurney-Mott yang disampaikan oleh Omar (1975).

5.2.1 Tipe Film 5.2.1.1 Film Hitam-Putih Film hitam-putih merupakan tipe film yang paling sederhana, dan masih digunakan secara luas. Reaksi fotokimia pada proses fotografi dibahas pada bagian 5.2. Karen ketergantungan terhadap oksidasi ion halide, energi yang diperlukan untuk proses ini akan mengendalikan panjang gelombang maksimum (energi foton minimum) untuk setiap film yang dapat merespon. Untuk ion halide pada keadaan kristalin, panjang gelombang maksimum ini terletak pada rentang 0,4 - 0,5 m, jadi film fotografi hanya akan merespon radiasi biru, violet, dan ultraviolet (faktanya untuk panjang gelombang yang lebih pendek, seperti sinar-X. Itu adalah keburaman optic kaca dan material film itu sendiri yang mencegah panjang gelombang lebih pendek ini dari penyebab masalah). Sesungguhnya, rentang kesensitifan diperpanjang dengan menggunakan pewarna sensitif. Pankromatik (contohnya semua warna) film hitam-putih normalnya memiliki batas sesitifitas atas 0,70 0,72 m. Batas bawah dalam praktek ditetapkan oleh keburaman lensa kaca yang digunakan pada sistem, sekitar 0,35 m, lensa quartz dapat digunakan untuk memberikan pemisahan pada 0,30 m. Gambar 3.2 mengilustrasikan spectral kesensitifan dari pankromatik film hitam-putih. 5.2.1.2 Fiml Inframerah Rentang kesensitifan film pankromatik dapat diperluas lebih jauh pada daerah inframerah dengan menggunakan pewarna kesensitifan yang sesua, agar mendapatkan panjang gelombang pemisahatas sekitar 0,9 m. Spektral kesensitifan pada film juga diilustrasikan pada gambar 5.2, dari sana dapat dilihat kesensitifan menuju panjang gelombang tampak yang tak seragam, dengan puncak kesensitifan untuk cahaya biru dan kesensitifan cukup rendah untuk kuning dan

hijau. Dal praktik, bagaimanapun, fil semacam ini sering digunakan pada konjungsi dengan filter yang mengeliminasi panjang gelombang di bawah 0,7 m, sehingga memberikan respon seragam antara 0,7 dan 0,9 m. Prosedur ini sering disebut dengan fotografi inframerah sesungguhnya. 5.2.1.3 Film Warna Mata manusia dapat membedakan warna abu-abu, tetapi 20.000 warna dan nuansa warna. Sehingga, jauh lebih banyak informasi dapat disimpulkan dari pencitraan warna daripada dari pencitraan hitam-putih, bahkan jika cara melakukanya hanya dengan pemeriksaan visual.

Gambar 5.2 Tipikal spectral kesensitifan dari pankromatik film (a) hitam-putih (b) inframerah, sebagai sebuah fungsi panjang gelombang .

Film warna dibentuk dengan tiga lapisan emulsi bukan hanya satu. Dengan penggabungan pewarna yang sesuai, lapisan paling atas dibuat sensitive terhadap cahaya biru titik tengah untuk cahaya biru dan hijau, dan lapisan paling bawah untuk cahaya merah dan biru.. Filter kuning (filter yang menghilangkan cahaya biru) disisipkan antara lapisan atas dan tengah, untuk mencegah cahaya biru dari paparan ketiga lapisan. Proses mengembangkan film warna adalah salah satu hal yang rumit; lapisan filter kuning harus menghilangkan (dengan memutihkan) dan pewarna berwarna harus dibentuk dalam daerak diaktifasi dari lapisan tiga emulsi. Dua tipe utama film warna yaitu: normal (negative) film dan pembalikan (positif) film.pada film normal, wilayah teraktifasi pada bagian atas, bentuk lapisan tengah dan bawah pewarna yang secara berurutan, kuning, magenta dan biru muda pada transmisi. Hasilnya adalah bahwa ketika film dikembangkan dilihat pada cahaya yang ditransmisikan warna dibalik, sehingga warna hitam itu digantikan oleh putih, merah untuk biru muda, dan lainya. Pada film pembalik, pewarna yang sama digunakan tetapi pemrosesan (yang lebih rumit) memastikan

bahwa pewarna terbentuk dalam bagian takteraktifasi dari lapisan, bukan bagian teraktifasi. Film pembalik umumnya digunakan untuk fotografi aerial daripada film negative normal. Kedua proses diilustrasikan pada gambar 5.3 dan gambar 5.4 menunjukan tipikal spectral kesensitifan dari tiga lapisan emulsi. 5.2.1.4 False-Colour Infrared Film Film False-Colour Infrared (FCIR) memiliki bentuk yang sama dengan warna film inframerah. Ketiga lapisan emulsi sesitif pada daerah dekat inframerah (0,7 0,9 m), cahaya hijau dan merah,dan filter kuning ditempatkan didepan seluruh lapisan. Setelah pencahayaan dan pengembangan untuk memproduksi transparan positif, bagian dari

Gambar 5.3 (a) Normal (negative) film warna, (b) pembalikan (positif) film warna. Diagram kiri menunjukan film sebelum pencahayaan, area yang ditebalkan mengindikasikan daerah teraktifasi dari lapisan emulsi. Diagram kanan menunjukan daerah pewarna kuning, magenta dan biru muda yang dibentuk setelah pengembangan. Symbol warna W = putih, R = merah, G = hijau, B = biru, C = biru muda, M = magenta, Y = kuning, 0 = tak ada cahaya = hitam. (lihat bagian plat untuk versi warna dari gambar 5.3)