Anda di halaman 1dari 14

PENGELOLAAN TANAH GAMBUT/ORGANOSOL (HISTOSOL)

Dari 162.335 juta hektar luas daratan Indonesia, 124.044 juta hektar berupa lahan kering, dan 38.291 juta hektar berupa lahan basah yang terdiri dari tanah rawa pasang surut, rawa bukan pasang surut, dan tanah bergambut (Departemen Pertanian RI, 1983). Menurut Leiwakabessy (1983) dan Notohadiprawiro (1986), sebaran Histosol di Indonesia meliputi wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua, dengan tipe iklim A. Kata gambut berasal dari nama suatu desa di dekat Banjarmasin Kalimantan Selatan, dimana sebagian besar tanahnya terdiri dari tanah-tanah organik. Kunci Taksonomi Tanah yang disederhanakan untuk Histosol adalah tanah-tanah yang memiliki: kandungan bahan organik 20 % dan total ketebalan 40 cm. Ordo Histosol terdiri dari empat subordo, 16 great group, dan 60 subgrup. Klasifikasi tanah Histosol dari tingkat subordo sampai subgrup dapat dilihat pada Tabel XIII.B.1. Tabel XIII.B.1. Klasifikasi Histosol dari subordo sampai subgroup
No. 1 I Subordo 2 Folist (Histosol yg dijenuhi air < 30 hari kumulatif selama tahun-tahun normal (dan tidak didrainase scr buatan. 3 1 2 3 4 II Fibrist (1. ketebalan bahan fibrik lebih tebal dari jenis bahan tanah organik lain; juga: a. pada bagian organik dari tier bagian bawah, jika tidak ada lapisan kontinyu setebal 40 cm yang batas atasnya di dalam tier bagian bawah; atau b. pada ketebalan kombinasi dari bagian organik dan tier bagian bawah, jika ada lapisan kontinyu setebal 40 cm yang batas atasnya di dalam tier bagian bawah; 1 Great group 4 Cryofolist (Folist dengan suhu tanah kriik) Torrifolist (Folist dengan kelembaban aridik atau torik) Ustifolist (Folist dg lembab ustik) Udifolist (Folist lain) Cryofibrist (Fibrist dengan rejim suhu kriik) 5 a b a b a b a b a b c d e f 2 Sphagnofibrist (Fibrist lain dengan Sphagnum fibrik sebesar dari volume, baik pada kedalaman 90 cm dari permukaan tanah maupun ke suatu kontak densik, litik, paralitik, fragmen batuan, atau bahan tanah a b c d Subgrup 6 Lithic Cryofolist: Cryofolist dengan kontak litik didalam 50 cm dari permukaan tanah Typic Cryofolist: Cryofolist yang lain. Lithic: Torrifolist dengan kontak litik di dalam 50 cm dari permukaan tanah. Typic: Torrifolist yang lain. Lithic: Ustifolist dengan kontak litik di dalam 50 cm dari permukaan tanah. Typic: Ustifolist yang lain. Lithic: Udifolist dengan kontak litik di dalam 50 cm dari permukaan tanah. Typic: Udifolist yang lain. Hydric: Cryofibrist yang memiliki suatu lapisan air pada bagian kontrolnya, di bawah tier permukaan. Lithic: Cryofibrist dengan kontak litik di dalam bagian kontrolnya. Terric: Cryofibrist dengan suatu lapisan mineral setebal 30 cm dengan batas atasnya di dalam bagian control, di bawah tier permukaan. Fluvaquentic: Cryofibrist yang memiliki, di dalam bahan organik, baik 1 lapisan mineral setebal 5 cm atau 2 lapisan mineral dengan sembarang ketebalan pada bagian kontrol, di bawah tier permukaan. Sphagnic: Cryofibrist dimana dari volume serat pada tier permukaan yang diperoleh dari sphagnum) Typic: Cryofibrist lainnya. Hydric: Sphagnofibrist yang memiliki lapisan air pada bagian kontrolnya, di bawah tier permukaan. Lithic: Sphagnofibrist dengan kontak litik di dalam bagian kontrol. Limnic: Sphagnofibrist dengan 1 lapisan limnik dengan total ketebalan 5 cm pada bagian kontrol. Terric: Sphagnofibrist dengan suatu lapisan mineral setebal 30 cm dengan batas atasnya di dalam bagian kontrol, di bawah tier permukaan.

mineral lainnya jika kedalaman < 90 cm. e

Fluvaquentic: Sphagnofibrist yang memiliki, di dalam bahan organik, baik 1 lapisan mineral setebal 5 cm atau 2 lapisan mineral dengan sembarang ketebalan pada bagian kontrol, di bawah tier permukaan. Hemic: Sphagnofibrist dengan1 lapisan dari bahan hemik dan saprik dengan total ketebalan 25 cm pada bagian control, di bawah tier permukaan. Typic: Sphagnofibrist lainnya.

3 dan 2. Tidak ada lapisan sulfuric yang batasnya pada 50 cm dari permukaan tanah; 3. Tidak ada bahan sulfidik di dalam 1 m dari muka tanah.

Haplofibrist (Fibrist lainnya)

g a b c d e

f g III Saprist (Ketebalan bahan tanah saprik lebih tebal dari bahan tanah 2 organik lainnya, juga: 1. Pada bagian tier bawah permukaan jika tidak terdapat lapisan mineral yang kontinyu setebal 40 cm yang batas atasnya di dalam teir bawah permukan; atau 2. Pada ketebalan kombinasi dari bagian-bagian organk dr tier permukaan dan bawah permukaan jika terdapat lapisan mineral yang kontinyu setebal 40 cm yang batas atasnya di dalam tier bawah permukaan) 1 Sulfosaprist (Saprist dengan horison sulfurik yang batas atas-nya di dlm 50cm dari permukaan) 4 Sulfisaprist (Saprist lain dgn bahan sulfidik di dalam 100 cm dari permukaan) Cryosaprist (Saprist lain dgn rejim suhu kriik) a

Hydric: Haplofibrist yang memiliki lapisan air pada bagian kontrolnya, di bawah tier permukaan. Lithic: Haplofibrist dengan kontak litik di dalam bagian kontrol. Limnic: Haplofibrist dengan 1 lapisan limnik dengan total ketebalan 5cm pada bagian kontrol. Terric: Haplofibrist dengan suatu lapisan mineral setebal 30 cm dengan batas atasnya di dalam bagian kontrol, di bawah tier permukaan. Fluvaquentic: Haplofibrist yang memiliki, di dalam bahan organik, baik 1 lapisan mineral setebal 5 cm atau 2 lapisan mineral dengan sembarang ketebalan pada bagian kontrol, di bawah tier permukaan. Hemic: Haplofibrist dengan 1 lapisan dari bahan hemik dan saprik dengan total ketebalan 25 cm pada bagian control, dibawah tier permukaan. Typic: Haplofibrist lainnya. Typic: Semua Sulfosaprist (untuk sementara).

1 III

3 2

5 a

6 Terric: Sulfisaprist dengan suatu lapisan mineral setebal 30 cm dengan batas atasnya di dalam bagian kontrol, di bawah tier permukaan. Typic: Sulfosaprist lainnya. Lithic: Cryosaprist dengan kontak litik di dalam bagian kontrol. Terric: Cryosaprist dengan suatu lapisan mineral setebal30cm dengan batas atasnya di dalam bagian kontrol,dibawah tier permukaan Fluvaquentic: Cryosaprist yang memiliki, di dalam bahan organik, baik 1 lapisan mineral setebal 5 cm atau 2 lapisan mineral dengan sembarang ketebalan pada bagian kontrol, di bawah tier permukaan. Typic: Cryosaprist lainnya. Lithic: Haplosaprist dengan kontak litik di dalam bagian kontrol. Limnic: Haplosaprist dengan 1 lapisan limnik dengan total ketebalan 5 cm pada bagian kontrol. Halic Terric: Haplosaprist dengan: (1) sepanjang lapisan 30 cm yang batasnya atasnya di dalam bagian control, daya hantar listrik 30 dS (1:1 tanah:air) selama 6 bulan pada tahun-tahun normal; dan (2) suatu lapisan setebal30cm yang batas atasnya di dalam bagian kontrol,dibawah tier permukaan. Halic: Haplosaprist dengan: sepanjang lapisan 30 cm di dalam bagian kontrol, daya hantar listrik 30 dS (1:1 tanah:air) selama 6 bulan pada tahun-tahun normal. Terric: Haplosaprist dengan suatu lapisan mineral setebal30cm dengan batas atasnya di dalam bagian kontrol,dibawah tier permukaan. Fluvaquentic: Haplosaprist yang memiliki, di dalam bahan organik, baik 1 lapisan mineral setebal 5 cm atau 2 lapisan mineral dengan sembarang ketebalan

b a b c

Haplosaprist (Saprist lainnya)

d a b c

d e f

g h a

IV

Hemist (Histosol lainnya)

Hydric: Cryohemist yang memiliki lapisan air pada bagian kontrolnya,dibawah tier permukaan. b Lithic: Cryohemist dengan kontak litik di dalam bagian kontrol. c Terric: Cryohemist dengan suatu lapisan mineral setebal 30 cm dengan batas atasnya di dalam bagian kontrol, di bawah tier permukaan. 1 2 3 4 5 6 IV Hemist (lanjutan) 4 Cryohemist (lanjutan) d Fluvaquentic: Cryohemist yang memiliki, di dalam bahan organik, baik 1 lapisan mineral setebal 5 cm atau 2 lapisan mineral dengan sembarang ketebalan pada bagian kontrol, di bawah tier permukaan. e Typic: Cryohemist lainnya. 5 Haplohemist (Hemist a Hydric: Haplohemist yang memiliki lapisan air pada bagian lainnya) kontrolnya, di bawah tier permukaan. b Lithic: Haplohemist dengan kontak litik di dalam bagian kontrol. c Limnic: Haplohemist dengan 1 lapisan limnik dengan total ketebalan 5 cm pada bagian kontrol. d Terric: Haplohemist dengan suatu lapisan mineral setebal 30 cm dengan batas atasnya di dalam bagian kontrol, di bawah tier permukaan. e Fluvaquentic: Haplohemist yang memiliki, di dalam bahan organik, baik 1 lapisan mineral setebal 5 cm atau 2 lapisan mineral dengan sembarang ketebalan pada bagian kontrol, di bawah tier permukaan. f Fibric: Haplohemist dengan 1 lapisan bahan fibrik dengan total ketebalan 25 cm pada bagian kontrol, di bawah tier permukaan. g Sapric: Haplohemist dengan 1 lapisan bahan saprik dengan total ketebalan 25 cm, di bawah tier permukaan. h Typic: Haplohemist lainnya. Sumber: Diolah dan disusun oleh Penulis berdasarkan Soil Survey Staff (2006)

Sulfohemist (Hemist dengan horison sulfurik yang batas atas-nya di dlm 50cm dari permukaan) Sulfihemist (Hemist lain dgn bahan sulfidik di dalam 100 cm dari permukaan) Luvihemist (Hemist lain dgn horison setebal 2 cm dimana bahan humiluvik menyusun dari volume) Cryohemist (Hemist lain dgn rejim suhu kriik)

pada bagian kontrol, di bawah tier permukaan. Hemic: Haplosaprist dengan 1 lapisan dari bahan hemik dan saprik dengan total ketebalan 25 cm pada bagian control, dibawah tier permukaan. Typic: Haplosaprist lainnya. Typic: Semua Sulfohemist (untuk sementara).

a b a

Terric: Sulfihemist dengan suatu lapisan mineral setebal 30 cm dengan batas atasnya di dalam bagian kontrol, di bawah tier permukaan. Typic: Sulfihemist lainnya. Typic: Semua Luvihemist (untuk sementara).

1. Sifat-sifat Tanah Gambut Tropika Luas total gambut di Asia Tenggara sekitar 20 juta ha (2/3 dari total gambut tropika dan subtropika), 88 % di antaranya berada di Indonesia. Datanya seperti yang terlihat di bawah ini (Driessen, 1978): 1 2 3 4 5 6 7 Thailand Vietnam Semenanjung Malaysia Sarawak, Sabah, dan Brunei Kalimantan Papua Dan lainnya Jumlah 200.000 ha 1.500.000 ha 800.000 ha 1.650.000 ha 6.265.000 ha 570.000 ha 1.500.000 ha 22.185.000 ha

Di Indonesia, menurut

(Soil Survey Staff, 2006) tergolong kepada Haplofibrist dan Sulfihemist, dan menurut FAO (1974) termasuk ke dalam Dystric Histosol. Tanah-tanah ini berasosiasi dengan tanah mineral, yaitu Thionic Fluvisol (Sulfaquent/Sulfaquept), Dystric Fluvisol (Sulfic Fluvaquent) kebanyakan berupa tanah sulfat masam, dan biasanya terbentuk di zona transisi aluvial marin dan rawa gambut. Menurut Soil Survey Staff (2006) tingkat dekomposisi tanah gambut/Histosol dengan bahan fibrik (Fibrist) mempunyai kandungan bahan organik kasar (fiber) (volume) tidak lolos saringan 100 mesh. Sedangkan Histosol dengan bahan hemik (Hemist) dengan kandungan bahan organik kasar (fiber) 1/6 (volume). Menurut FAO (1974) Dystric Histosol adalah: Histosol yang kurang subur, mempunyai kejenuhan basa rendah (KB NH4OAc < 50 %) dan pH tanah < 5.0, kesuburan tanahnya miskin bersifat oligotropik (kandungan mineral rendah, terutama Ca) sampai mesotropik (pH 5.0 5.5, relatif kaya basa). Tanah ini terdapat pada relief datar sampai agak cekung, berupa akumulasi bahan organik dan sisa-sisa tanaman. Sebagian besar tergenang air hujan, terutama di daerah kubah (dome), berupa tanah kurus (ombrogenous peat bog). Vegetasinya berupa hutan rawa dengan berbagai macam tanaman. Kriteria untuk klasifikasi tingkat kesuburan dari tanah gambut dapat dilihat dari Tabel XIII.B.2. Tabel XIII.B.2. Kriteria Fleischer untuk klasifikasi tingkat kesuburan Gambut N K2O P2O5 CaO Kesuburan (dalam % bahan kering) Eutropik 2.5 0.10 0.25 4.00 Mesotropik 2.0 0.10 0.20 1.00 Oligotropik 0.8 0.03 0.05 0.25
Sumber: Driessen dan Soepraptohardjo (1974)

Abu 10 5 2

Histosol dengan bahan saprik (Saprist) dengan bahan kasar (fiber) < 1/6, dan yang bersifat eutropik (bahan mineral tinggi, pH netral alkalin) jarang terdapat di Indonesia. Terdapat di daerah pantai Papua dan sedikit di Kalimantan, di dekat daerah pantai sehingga pengaruh air laut cukup besar dan kejenuhan basa tinggi. Di daerah Papua dan pulau Aru berasosiasi dengan Gleyic Solonchak, dengan vegetasi bakau dan lain-lain. Makin ke dalam dari pantai salinitas berkurang, vegetasi berubah ditumbuhi nipah, sagu, pandan, dan lain-lain. Sifatsifatnya kesuburan tanah lebih tinggi, asalkan salinitasnya tidak terlalu tinggi, pH > 5.5, umumnya tanah ini tidak mempunyai horison sulfurik. Susunan kimia gambut ombrogen (terbentuk karena pengaruh curah hujan yang airnya tergenang) yang tersebar hampir seperlima pulau Sumatera, Kalimantan dan pantai Selatan Papua, dan gambut hutan payau dapat dilihat pada Tabel XIII.B.3.
Tabel XIII.B.3.Susunan kimia Gambut Ombrogen dan Gambut Hutan Payau Lokasi Bahan Bahan Kadar % berat bahan kering

organik Di antara MartapuraBanjarmasin Panggalian (Riau) Pontianak Daerah Kahayan 82.39 Daerah Barito 91.70 Daerah Kapuas 80.11 Sumber: Darmawijaya (1992)

abu 3.10 3.00 1.27 15.97 5.86 15.36

N 1.81 1.06 1.17 5.26 5.65 1.95

P2O5 0.083 0.040 0.030 0.247 0.133 0.240

K2O 0.127 0.210 0.110 0.136 0.096 0.129

CaO 0.074 0.328 0.345 0.104 0.136 0.256

Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa-rawa pasang surut maupun di daerah rawarawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut. Pembentukan gambut pantai dimulai dengan akumulasi bahan organik di daerah belakang tanggul sungai (levee: tanggul alami dengan karakteristik aliran dataran banjir), yaitu di daerah back swamp (areal berawa depresi di dataran aluvial biasanya terdapat di samping levee yang dikelilingi air) (Gambar XIII.B.1). flood plain (dataran banjir) terrace backswamp levee backswamp terrace . .. .. riverbed ... ... .. ............. . silt sand clay alluvium with gravel Gambar XIII.B.1. Profil tipikal dataran banjir (Desaunettes, 1977) Pada waktu gambut belum tebal akar-akar tanaman masih dapat mengambil unsur hara dari tanah mineral di bawahnya yang cukup subur serta masih selalu mendapat tambahan unsur hara dari luapan air sungai, sehingga vegetasi yang tumbuh juga kaya akan unsur hara. Bila vegetasi ini membusuk maka akan terbentuklah tanah gambut yang subur (gambut topogen). Dalam perkembangan selanjutnya gambut ini menjadi semakin tebal sehingga akar tanaman tidak mampu lagi mencapai tanah mineral di bawahnya, sedangkan luapan air sungai tidak dapat lagi menggenangi permukaan tanah ini. Karena itu sumber hara utama adalah air hujan sehingga vegetasi yang tumbuh kurang baik dan bila membusuk akan menjadi tanah gambut yang tidak subur (gambut ombrogen). Secara umum pH tanah gambut di Indonesia berkisar dari 3 5 dan biasanya menurun dengan kedalaman. Ada kecenderungan bahwa pH tanah gambut pantai lebih tinggi daripada gambut pedalaman. Sifat kimia gambut topogen dapat dilihat pada Tabel XIII.B.4. Tabel XIII.B.4. Susunan kimia Gambut Topogen Lokasi Bantardawa (Tasik) Rawa Lakbok pH Abu N (%) 17. 0 17.9 P2O5 (%) 0.19 K2O (%) 0.10 Na2O (%) CaO (%) C/N 2.51 25. 4

-Lapisan atas -Lapisan bawah Pangandaran Rawamangun (Banten) -Lapisan atas -Lapisan bawah Barabai (Kaltim)
Sumber: Darmawijaya (1992)

6. 3 5. 8 -

45. 1 37. 4 15. 8 48. 4 41. 4 16. 5

1.60 2.39

0.46 0.36 0.18

0.22 0.13 0.04

1.92 0.19 -

2.34 3.56

23. 6 -

4. 0 4. 2 -

2.46

0.32 0.34 0.11

0.16 0.13 0.11

1.53 2.20 3.36

19. 3

Di daerah pedalaman, semenjak semula tidak mendapatkan tambahan unsur hara dari luapan air sungai sehingga sumber unsur hara utama bagi vegetasi yang tumbuh di atasnya adalah tanah mineral di bawahnya dan air hujan. Bila tanah mineral di bawahnya cukup subur (misalnya liat), maka akan terbentuklah tanah-tanah gambut yang cukup subur; tetapi bila tanah mineral di bawahnya miskin unsur hara (misalnya pasir kuarsa seperti yang terdapat di daerah Palangkaraya, Kalimantan tengah) maka gambut miskinlah yang akan terbentuk. Apabila gambut sudah cukup tebal sehingga akar tidak dapat lagi mencapai tanah mineral di bawahnya, maka air hujan yang miskin unsur hara menjadi satu-satunya sumber makanan tanaman, akibatnya gambut miskinlah yang akan terbentuk tidak peduli akan sifat tanah di bawahnya. Walaupun demikian tidak semua gambut dalam adalah jelek untuk tanaman pangan. Tanah gambut di daerah Lunang Sumatera Barat tebalnya 2.0 2.5 m, tetapi padi dan tanaman pangan lainnya dapat tumbuh dengan baik. Hal ini karena sifat-sifat gambutnya dipengaruhi oleh air yang banyak mengandung unsur hara berasal dari daerah volkanik di sekitarnya. 2. Peluang Pengembangan Lahan Gambut Menurut Hardjowigeno (1996) pengembangan lahan gambut untuk pertanian di Indonesia merupakan suatu peluang yang baik didasarkan pada: 1. Areal yang Luas Lahan gambut di Indonesia yang luasnya 27 juta hektar termasuk terluas ke empat di dunia. Bila 40 50 % dari luas tersebut dapat dikembangkan untuk pertanian (termasuk perkebunan) maka akan memberi tambahan produksi yang sangat besar baik dalam bidang pangan maupun hasil perkebunan yang merupakan bahan ekspor non-migas. Di samping itu akan memberi kesempatan kerja yang bagi masyarakat.

2. Bentuk Topografi yang Datar Tanah gambut terletak di daerah rawa-rawa sehingga bentuk topografinya relatif datar. Lahan yang datar akan memudahkan pengelolaan, dan erosi hampir tidak ditemukan. 3. Hak Penguasaan Tanah Sebagian besar lahan gambut masih berupa hutan yang dikuasai oleh Negara, walaupun sebagian mungkin sudah dibebani Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Karena itu hutan gambut yang tidak dicadangkan sebagai hutan lindung, relatif lebih mudah proses pembebasannya. 4. Kandungan Bahan Organik Tanah gambut sebagian besar terdiri dari sisa-sisa tanaman yang bila melapuk akan menjadi humus dan memberikan sifat fisik tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Kecuali itu pelapukan bahan organik juga akan menambah ketersediaan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. 5. Daya Menahan Air Tanah gambut mempunyai daya menahan air yang sangat tinggi. Dalam keadaan jenuh, kadar air tanah gambut dapat mencapai 450 3000 % dari bobot keringnya (Soil Survey Staff, 1975). Karena itu lahan gambut merupakan tempat penampungan air yang efisien. Pengaturan permukaan air tanah yang baik dapat mempertahankan kelembaban tanah, yang selanjutnya akan memperkecil resiko kebakaran yang bila terjadi akan sulit mengatasinya. 6. Kemajuan Ilmu dan Teknologi Pengalaman pembukaan dan pengelolaan gambut semenjak Pelita I telah banyak memberi sumbangan pengetahuan tentang sifat gambut. Kemajuan ilmu dan teknologi dalam pengelolaan lahan gambut tersebut akan sangat membantu dalam usaha pengembangan lahan gambut untuk pertanian di masa mendatang. 3. Kendala dalam Pengelolaan Tanah Gambut 1. Keragaman Sifat Tanah Gambut Sifat tanah gambut sangat beragam, dari yang sangat subur hingga sangat miskin. Karena itu keberhasilan pengembangan lahan gambut di suatu tempat bukan suatu jaminan bahwa pengembangan gambut di tempat lain juga akan berhasil. Untuk itu suatu program survai dan pemetaan tanah yang benar mutlak diperlukan sebelum pembukaan lahan gambut baru dilaksanakan. Kegiatan ini akan menghasilkan peta tanah dan peta kesesuaian lahan yang dapat menunjukkan daerah-daerah yang dapat dibuka untuk pertanian, dan daerah-daerah mana yang harus digunakan untuk keperluan lain. Penurunan Permukaan Tanah

2.

Tanah gambut pada keadaan alami di rawa-rawa menahan air sangat banyak, tetapi setelah didrainase sedikit demi sedikit akan melepaskan air yang ditahannya, sehingga terjadilah penyusutan gambut (subsidance). Penyusutan ini akan berjalan terusmenerus, baik akibat kehilangan air maupun proses dekomposisi bahan organik secara kimia maupun biologi. Kalau usaha-usaha untuk menghambat laju penyusutan tersebut tidak dilakukan, maka lapisan gambut makin lama makin habis. Apabila lapisan tanah mineral di bawah gambut adalah pasir kuarsa, atau tanah dengan lapisan sulfat masam maka produktivitas lahan akan menurun sangat drastis. Apabila lapisan tanah mineral di bawah gambut tidak termasuk ke dua jenis bahan tersebut, maka dari segi sifat tanah tidak terlalu bermasalah, tetapi dari segi pengelolaan air masih diperlukan usaha-usaha lain akibat turunnya permukaan tanah tersebut.

3.

Kering Irreversible Kekeringan tanah gambut yang berlebihan akibat pembuatan saluran drainase yang terlalu dalam, dapat mengakibatkan tanah gambut kering irreversible (tak balik), sehingga gambut tidak mampu lagi menyerap air. Keadaan demikian sudah pasti menyebabkan produktivitas gambut sangat menurun dan gambut menjadi sangat rawan terhadap kebakaran. Perbaikan Drainase Tanah gambut untuk dapat digunakan bagi usaha pertanian harus dilakukan perbaikan drainase dengan membuat saluran-saluran. Dalam pembuatan saluran tersebut harus diusahakan agar konservasi gambut tetap terjamin dan terjadinya kering tak balik dapat dihindarkan. Tanah organik yang belum didrainasekan (masih berupa rawa-rawa gambut) oleh Pons (1960) disebut mempunyai profil A00G. Dalam proses pedogenesis selanjutnya maka terbentuklah horison C dan A1 dari horison G. Setelah pembuatan drainase udara dapat masuk ke dalam tanah organik, sehingga memungkinkan kegiatan mikroorganisme, dan terjadilah proses pematangan (ripening) yang dapat dibedakan menjadi: a) Pematangan Fisik: Terutama mengakibatkan penyusutan volume tanah. Banyaknya penyusutan tergantung dari sifat-sifat sisa tanaman, banyaknya bagian mineral tanah dan tingginya muka air tanah. Proses ini disebabkan oleh dehidrasi karena perbaikan drainase, evapotranspirasi, dan penyerapan oleh akar-akar tanaman. Karena hilangnya air maka volume gambut menyusut, sehingga tanah menjadi padat, dan lebih mudah dikerjakan. Gejala penyusutan tanah gambut (subsidence) terutama adalah akibat

4.

proses ini. Bila dehidratasi terlalu kuat maka pematangan fisik dapat menyebabkan tanah menjadi kering tak balik/irreversible (tidak dapat menyerap air kembali) b) Pematangan Kimia (disintegrasi): Dekomposisi kimia bahan organik meliputi dekomposisi sebagian atau dekomposisi lengkap dari bahan organik menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana, yang kemudian bersatu kembali membentuk bahan organik baru yang sangat resisten (humus). Karena kejenuhan air berkurang maka udara dapat masuk ke dalam poripori tanah sehingga mulailah proses kimia dan biologi. Dari proses ini maka terbentuklah horison C (disintegrasi peat) yang terdiri dari humus, bahan organik halus (dengan mikroskop masih dapat dilihat struktur tanaman), dan dapat dibedakan dengan horison G dibawahnya yang terdiri dari bahan organik yang berubah tetapi telah mengalami penyusutan dan berwarna coklat kemerahan.
c) Pematangan Biologi (moulding):

Proses ini meliputi penghalusan bahan-bahan kasar dan mencampur-adukan yang dilakukan oleh organisme hidup. Terjadi setelah proses disintegrasi atau juga kadangkadang pada waktu integrasi. Dalam proses ini struktur asli tanaman hampir seluruhnya dihancurkan dan terbentuklah horison A1 (moulded layer). Bila bagianbagian yang belum dihancurkan jumlahnya < 15 % disebut prominent organik A1. 5. Daya Dukung Tanah yang Rendah Tanah gambut mempunyai bobot isi (bulk density) yang sangat rendah, sehingga kekuatan menahan beban fisik sangat rendah. Pembuatan jalan atau bangunanbangunan permanen di atasnya memerlukan teknologi yang lebih mahal dibandingkan dengan tanah-tanah mineral. Untuk tanaman tahunan bertajuk berat, perakaran kurang kuat menjangkar tanah sehingga mudah roboh atau tumbuh miring. Sifat Kimia Tanah yang Kurang Baik Di samping ada gambut yang cukup subur (eutrop), banyak juga gambut yang kurus bahkan sangat kurus (oligotrop) yang sifat-sifat kimia tanahnya tidak menunjang pertumbuhan tanaman dengan baik. Sifat-sifat tersebut antara lain adalah reaksi tanah yang sangat masam, kejenuhan basa yang sangat rendah, sedangkan kapasitas kation sangat tinggi, unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan lain-lain) dan unsur mikro (Cu, Zn, dan lain-lain) yang rendah. Telah banyak dilakukan usaha penanggulangannya melalui pemupukan baik unsur-unsur makro maupun mikro, pengapuran, pencampuran dengan tanah mineral, pencampuran dengan abu volkan, dan sebagainya, tetapi hasil-hasil yang dicapai masih belum optimal. Tingkat efisiensi penggunaan abu volkan, kapur, tanah mineral masih perlu ditingkatkan mengingat sumber bahan-bahan tersebut cukup jauh dari lokasi lahan gambut sedangkan bahan yang dibutuhkan sangat banyak. Bahan Beracun

6.

7.

Tanah gambut yang tanah dasarnya berupa endapan laut, banyak mengandung pirit (FeS2) yang sering disebut cat clay. Dalam keadaan jenuh air senyawa ini tidak mempunyai efek yang jelek terhadap pertumbuhan tanaman, tetapi bila kering FeS2 akan teroksidasi menjadi sulfat yang sangat masam (pH dapat mencapai 3.0 atau kurang) sehingga dapat mematikan pertumbuhan tanaman. Pengaturan tata air agar lapisan pirit tetap tergenang air perlu dilakukan. 8. Gulma dan Hama/Penyakit Tanaman Rumput-rumputan akan tumbuh dengan cepat di tanah gambut karena merupakan media yang cocok untuk pertumbuhannya, sehingga menjadi tumbuhan pengganggu utama bagi tanaman yang diusahakan. Kecuali itu hama/penyakit tanaman seperti tikus, babi hutan, wereng coklat, dan lain-lain merupakan organisme pengganggu tanaman lain yang perlu diwaspadai. Konsep pengendalian hama terpadu dapat memberikan dasar kebijakan pengendalian tanaman pengganggu secara aman. Kendala Agronomi Di samping usaha peningkatan produktivitas lahan gambut melalui peningkatan kesuburan tanah telah dilakukan pula upaya menemukan varietas tanaman yang mampu berproduksi tinggi dan terhadap sifat-sifat lahan gambut yang ada di Indonesia serta tahan terhadap hama penyakit. Walaupun telah ditemukan beberapa varietas tanaman yang cukup unggul untuk daerah gambut, upaya untuk lebih baik masih diperlukan. Air Bersih Tanah gambut mempunyai air tanah dengan kandungan asam organik yang tinggi dan bersifat sangat masam. Penggunaan air tersebut secara terus-menerus untuk keperluan rumah tangga akan mengganggu kesehatan manusia. Departemen Transmigrasi dalam menentukan daerah sebagai layak huni, di samping kesesuaian lahan untuk pertanian dan faktor kesehatan lingkungan, maka tersedianya air bersih terutama dalam musim kemarau, juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Kendala Sosial Ekonomi Sumberdaya manusia merupakan issue utama dalam menentukan keberhasilan pengembangan lahan gambut untuk pertanian. Pengetahuan yang sangat minim terhadap pengelolaan lahan gambut bagi petani yang biasa bekerja di lahan kering,modal dan tenaga kerja yang kurang, mutu dan jumlah prasarana serta kegiatan pemasaran merupakan kendala sosial ekonomi utama bagi pengembangan usaha tani intensif di lahan gambut.

9.

10.

11.

4. Penggunaan Histosol untuk Pertanian

Produksi tanaman pangan pada Histosol masih sangat rendah di bawah rata-rata produksi Nasional. 1) Tanaman padi Pada fase vegetatif pertumbuhan tanaman padi cukup, dan fase generatif pertumbuhan jelek. Gabah yang keluar banyak yang hampa, hal ini berarti terjadi sterilitas yang tinggi. Penambahan dan pemberian pupuk N, P, K tidak berpengaruh. 2) Tanaman palawija Tanaman jagung merupakan tanaman palawija yang dapat dikategorikan berproduksi agak tinggi. Hal ini mungkin disebabkan tanaman jagung yang ditanam pada musim kemarau dimana kandungan air tanah agak berkurang. Di samping itu tanaman jagung merupakan tanaman strong evaporation dari tanaman golongan C4, sehingga Histosol yang mengandung air yang tinggi dapat diatasi dalam batas-batas kejenuhan tertentu (tidak tergenang). Tanaman kacang-kacangan juga menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang cukup baik dan malahan menunjukkan pertumbuhan yang berlebihan. Tetapi produksi atau bijinya berkualitas rendah (gepeng dan tidak berisi). Hal ini diduga disebabkan oleh kekurangan unsur hara mikro atau unsur hara makro lainnya seperti Ca. Nisbah grain/straw tanaman kacang-kacangan < 1 (nisbah G/S < 1). Produksi ubi-ubian juga masih rendah dan kualitasnya juga rendah. 3) Tanaman sayur-sayuran Beberapa sayuran seperti bayam, buncis, kacang panjang, dan lain-lain merupakan tanaman yang diharapakan tumbuh subur pada tanah gambut. Produksi sayuran cukup tinggi dan masalah yang dihadapi untuk tanaman sayuran adalah suhu yang tinggi. Suhu yang tinggi melampaui batas maksimum pertumbuhan, menghambat pertumbuhan vegetatif. Seperti diketahui tanaman sayuran menghasilkan bahan-bahan vegetatif/ biomassa (vegetative yield), sehingga dengan demikian suhu mempengaruhi kualitas dan kuantitas tanaman sayuran sebagai tanaman hortikultura. Menurut Soepardi (1983) bahwa Histosol dengan bulk density yang kecil, memungkinkan untuk pertumbuhan tanaman sayuran yang baik, jika faktor air tidak menjadi faktor penghambat pertumbuhan.

4) Tanaman tahunan Tanaman tahunan yang banyak ditanam di daerah gambut adalah kelapa dan tanaman buah-buahan. Kelapa menunjukkan pertumbuhan yang baik pada awal pertumbuhan, kemudian menunjukkan gejala kematian pada umur produktif. Tanaman buah-buahan seperti durian, rambutan, dan jambu menunjukkan pertumbuhan yang baik dengan

produksi yang juga cukup tinggi. Pada saat sekarang akan dikembangkan kelapa sawit dan karet yang mempunyai prospek yang sangat baik di daerah gambut. 5. Pengelolaan Tanah Gambut 1. Pembuatan saluran draianase

Dalam mengusahakan tanah gambut untuk pertanian, yang harus diatur adalah letak muka air tanah atau tinggi air tanah (water stand). Menurut Setiono (1986), permukaan air tanah untuk tanah organik adalah sekitar 40 60 cm dari atas permukaan tanah ke bawah. Tanah gambut mempunyai sifat memegang air yang tinggi baik atas dasar volume maupun berat isi. Kebanyakan air tertahan dalam pori-pori kasar (air gravitasi) atau dalam pori-pori halus, sehingga tidak tersedia dan tidak dapat dipergunakan untuk melarutkan zat-zat hara yang diperlukan tanaman. Dengan demikian hara yang ada pada lapisan gambut menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Sifat menahan air yang tinggi menyebabkan tanah gambut akan mengkerut bila kering dan yang tinggal adalah sisa-sisa tanaman atau bahan-bahan vegetasi, yang mudah terbakar. Mantel air terletak pada pasir semu yang tidak akan basah kembali bila diberi air (Hardjowigeno, 1985). Penggunaan tanah gambut untuk pertanian harus dilakukan perbaikan drainase. Pembuatan saluran drainase dimaksudkan untuk memperlancar proses oksidasi, humifikasi, menaikkan pH tanah dan mengatur tinggi rendahnya air tanah.
2.

Usaha pembakaran dan pemadatan

Usaha pembakaran dapat menguntungkan dan memperbaiki tanah gambut, apabila di bagian bawah mempunyai struktur yang baik. Abu bakaran di lapisan atas akan mengendap ke bagian bawah dan meninggikan pH. Bahaya pembakaran juga akan timbul bila dilakukan dan dapat merugikan bagi kegiatan pertanian: a. Reaksi tanah gambut yang kaya akan kapur menjadi alkalis dan gambut yang tipis akan kehilangan bahan organik yang menyebabkan tanah bawah naik ke permukaan. b. Lapisan bahan organik di bagian atas umumnya lebih subur, dan bila dibakar lapisan yang kaya bahan organik tersebut akan habis dalam waktu singkat. Permukaan gambut karena dibakar, akan merendah atau menipis dan lebih padat, akibatnya akan sukar melepaskan air.
c.

Pembakaran pada hakekatnya adalah pengelolaan struktur tanah gambut, karena pencangkulan tidak diperlukan. Tanah gambut yang bersifat porous dan terbuka, oleh karena itu pengolahan tanah kadang-kadang tidak diperlukan kecuali bila mengandung liat dan debu. Karena bersifat porous dan terbuka, maka tanah gambut pada

umumnya memerlukan pemadatan. Makin lama gambut diusahakan makin padat (Soepardi, 1983). 3. Sistem Surjan

Dalam sistem surjan yang harus diperhatikan dalah tingkat kematangan gambut. Pada tanah yang kurang matang, sistem surjan tidak menguntungkan. Galengan yang dibentuk akan terdiri dari bahan gambut yang berkayu atau serasah mentah dan apabila panas akan kering. Pada bagian surjan (bagian yang digali), lapisan gambut akan jenuh air dan masam. Tanaman yang diusahakan dengan sistem surjan kurang baik pertumbuhannya. Tanah gambut pada ekosistem pasang surut tipe A, dapat diusahakan sistem surjan, karena adanya tarikan pasang surut air laut, dapat menurunkan dengan cepat kemasaman tanah, dan pertukaran dan pelapukan juga dapat dipercepat, asalkan kandungan NaCl masih dalam batas toleransi. 4. Usaha penggunaan pupuk

Pada hakekatnya di dalam gambut kaya unsur hara tanaman, namun unsur hara tersebut tidak seluruhnya dapat digunakan oleh tanaman yang tumbuh di atasnya. Karena tekanan kemasaman tanah dengan segala akibatnya, maka unsur hara menjadi kurang tersedia (unavailable). Belum didapat satu cara yang tepat untuk menetapkan banyaknya unsur hara yang dapat diserap oleh akar tanaman pada Histosol. Pada umumnya Histosol miskin unsur hara makro khususnya P2O5 dan K2O dalam arti tersedia bagi tanaman. Demikian juga unsur mikro sangat miskin di dalam Histosol. Di samping miskin, juga terjadi khelat terhadap unsur mikro oleh bahan organik. 5. Pengapuran

Usaha untuk menaikkan pH adalah dengan pengapuran di samping pembuatan drainase. Dalam penggunaan kapur, yang perlu diperhatikan adalah tingkat humifikasi (kematangan). Makin tinggi tingkat kematangannya, makin sedikit jumlah kapur yang diperlukan. Di samping unsur makro, tanaman juga memerlukan unsur-unsur lain yang disebut unsur mikro. Meskipun jumlah yang diperlukan dalam jumlah sedikit, tetapi sangat berperan dalam kelangsungan hidup tanaman seperti Mg, S, Fe, Mn, Bo, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co. Kekurangan unsur mikro dapat menimbulkan gejala penyakit pada tanaman serealia, yaitu penyakit yang dinamakan penyakit pembukaan tanah atau bubak, yang gejalanya mirip seperti diserang hama mentek, dengan kehampaan bulir yang tinggi terutama karena kekurangan unsur Cu (dari terusi CuSO4 50 100 kg/ha). Ternyata timbul pula persoalan lain yang dinamakan grey speck disease yang gejalanya berupa bintik-bintik nekrose pada daun yang kadang-kadang dapat merugikan. Penyakit ini timbul karena kekurangan unsur Mn, sehingga untuk menghindarinya dapat ditambahkan MnSO4 pada saat

penaburan bibit, atau dengan pemupukan N yang mengandung SO4, seperti pupuk ZA (ammonium sulfat).