Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS FRAKTUR IMPRESI TEMPOROPARIETAL SINISTRA DAN INTRASEREBRAL HEMORAGIC SINISTRA

Oleh: Fahmi anshori H1A 006 015

Pembimbing: dr. Bambang Priyanto, Sp.BS

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN / SMF BEDAH RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

2011

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Laporan kasus

:Fraktur Impresi Temporoparietal Sinistra Dan Intraserebral Hemoragic Sinistra

Nama Mahasiswa NIM Fakultas

: Fahmi Anshori : H1A006013 : Kedokteran UNRAM

Laporan kasus ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik Madya pada Bagian/ SMF Bedah Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat/ Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

Mataram, 09 Desember 2011 Dosen Pembimbing

Dr. Bambang Priyanto Sp.BS

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
a. Nama b. Jenis Kelamin c. Umur d. Alamat e. Pekerjaan f. Tanggal MRS

: an. alma : perempuan : 6 tahun : babakan : Pelajar : 3 oktober 2011

g. Tanggal pemeriksaan : 7 Oktober 2011 h. RM

: 25-61-33

1. Anamnesa Keluhan Utama : nyeri kepala : Os datang dengan keluhan nyeri kepala setelah

Riwayat Penyakit Sekarang

terkena lemparan batu. Nyeri kepala dirasakan berkurang bila os berbaring dan bertambah bila os duduk atau berdiri. Setelah di rujuk ke RSUP NTB. Setelah kejadian itu pasien diketahui sempat pingsan 1 jam dan tidak ingat kejadian, perdarahan aktif keluar dari luka di kepalanya dibawa ke puskesmas, dijahit dan diperbolehkan pulang. Karena perdarahan masih aktif penderita dibawa kembali ke puskesmas dan dirujuk ke RSU kota Mataram, dan dirujuk ke RSUP NTB dan penderita muntah-muntah. Muntah berisi cairan dan makanan, darah disangkal. Tidak ada demam maupun kejang setelah kejadian. Baru keesokan harinya pasien dirujuk di RSUP NTB. MOI : pasien terkena lemparan batu langsung mengenai kepalanya. 4

Riwayat Penyakit Dahulu

:. Riwayat trauma kepala sebelumnya disangkal

oleh keluarga pasien. Bila os terluka biasanya luka cepat menyembuh. Riwayat penyakit asma (-), riwayat penyakit jantung bawaan (-), riwayat alergi (-) Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat penyakit tekanan darah tinggi (-),

epilepsi (-), perdarahan yang sulit sembuh (-).

2. Pemeriksaan Fisik I. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran GCS Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu : sedang : gelisah : E4V4M6 : 110/70 mmHg : 110x/menit, irama teratur, kuat angkat : 27x/menit : 36,8C

II. Pemeriksaan Fisik Umum a. Kepala


- Kepala

- Tampak vulnus appertum pada regio frontoparietal sinistra dengan

ukuran 3x1 cm, serpihan tulang (-), cairan CSS (-), parenkim otak (-) luka kotor dengan perdarahan aktif, pada palpasi didapatkan cekungan di daerah luka, deformitas (-).

- Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks pupil +/+,

isokor, bentuk regular, Brill hematom -/-, edema palpebra superior -/- Hidung - Telinga b. Leher

: deformitas (-), rhinorrhea (-) : otorrhea -/-, : jejas (-), pembesaran KGB (-), kaku kuduk (-) :

c. Thoraks

- inspeksi : pergerakan dinding dada kanan dan kiri simetris, iktus kordis

tampak,
- palpasi

: pergerakan dinding dada kanan dan kiri simetris, nyeri tekan (-),

krepitasi (-), iktus kordis teraba pada ICS V linea midklavikula sinistra
- perkusi

: sonor pada kedua lapang paru batas jantung: kanan : ICS IV-V linea parasternalis dextra kiri : ICS V linea midklavikularis sinistra

atas : ICS II bawah : ICS V


- auskultasi : Cor S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo suara napas vesikuler +/+, rhonki +/-, wheezing -/d. Abdomen :
- inspeksi : distensi (-), massa (-), hematom (-), - auskultasi : bising usus (+) normal, bising aorta (-) - palpasi

: supel, defans muskuler (-), nyeri tekan (-), massa (-), hepar dan

lien tidak teraba, pemeriksaan bimanual ginjal tidak teraba


- perkusi

: timpani

e. Ekstremitas - edema (-) - akral hangat (+)


- pergerakan (+), deformitas (-), a.radialis teraba kuat angkat, A.dorsalis

pedis teraba kuat angkat. f. status neurologis nervus I : normal nervus II : normal visus ODS 6/60 bed side
1. refleks pupil : isokor ODS 5/5 mm, bentuk reguler 2. persepsi warna : ischihara test : normal 3. lapang pandang : test konfrontasi : normal

Nervus III, IV, VI : normal Nervus III levator palpebra : normal

Nervus V
i. Sensibilitas : NV1 : normal

NV2 : normal NV3 : normal ii. refleks kornea : +


iii.

Motorik : palpasi mukulus temporalis : normal Palpasi muskulus buccinator : normal

Nervus VII : motorik : m.frontalis m.orbikularis okuli m.orbikularis oris istrahat mimik normal normal normal normal normal normal

Sensorik : pengecap 2/3 lidah bagian depan : normal Nervus VIII : pendengaran : normal Fungsi vestibularis : sde
- Nervus XI : memalingkan leher dengan/tanpa tekanan : normal

Mengangkat bahu dengan/tanpa tekanan : normal


- Nervus IX/X : (glossopharingeus/vagus)

Posisi arkus faring (istirahat/mengeluarkan suara) : normal di tengah

o o o o

Refleks menelan/muntah : positif Refleks pengecap 1/3 bagian belakang :sde Suara : positif Takikardi/bradikardi : negatif

- Nervus XII
o

Deviasi lidah : saat istirahat (-), saat menjulur (-) Atrofi : (-) Tremor : (-) Fasciculasi : (-) Disartria (+)

o o o
o

- Leher : kaku kuduk (-), kernig sign (-) Refleks fisiologis


o o o

Biseps : + /+ Triseps : + /+ KPR : + /+

o APR : +/+

Rerfleks patologis
o

Babinksy : -/-

o Chaddok : -/o o o

Oppenheim : +/Scaefer : +/Gordon : +/Inferior Sinistra Normal 5 Normal Normal Dextra Normal 4 Normal Normal Sinistra Normal 5 Normal Normal

Motorik

Superior Dextra

Pergerakan Kekuatan otot Tonus otot Bentuk otot

Normal 4 Normal Normal

Sensorik Raba halus : + normal Propioseptif : + normal Diskriminasi : + normal Pemeriksaan fungsi luhur
o Reaksi emosi : terganggu o Intelegensia : baik o Fungsi bicara : baik o Fungsi psikomotorik : baik o Fungsi psikosensorik : baik

B. Resume Pasien perempuan umur 6 tahun alamat babakan datang dengan keluhan nyeri kepala, nyeri kepala muncul paska terkena lemparan batu, pasien juga mengeluhkan keluar darah dari luka trauma dan cukup banyak. Mual muntah paska trauma juga dikeluhkan pasien sebanyak 4 kali dan disertai tidak sadarkan diri paska trauma sekitar 1 jam. Pasien juga mengalami amnesia retrograd. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan vulnus appertum dengan ukuran 3x1 cm regio frontoparietal sinistra dengan perdarahan aktif paska trauma. Dari pemeriksaan fisik didapatkan GCS E4V4M6. Nervus I-XII dalam batas normal. Refleks fisiologis kanan (+) meningkat dan refleks patologis kanan (+), dari pemeriksaan motorik didapatkan hemiparese dekstra, fungsi bicara didapatkan afasia motorik parsial. Sensorik pasien dalam batas normal

10

C. Diagnosis COS Vulnus appertum regio frontoparietal sinistra D. Diagnosis Banding -

Fraktur depresi Epidural hematom Subdural hematom Subarachnoid hemorrhage Intracerebral hemorrhage Higroma subdural

E. Planning 1. Diagnostik - Foto Rntgen kepala - CT-scan kepala - Pemeriksaan darah lengkap 2. Terapi
- menurunkan tekanan intrakranial: manitol 0,5-1 g/kgBB bolus dan rumatan

0,25 gr/kgBB
- cairan: RL 20 tpm - antibiotik : ceftriaxon 100 mg/kgBB

11

- neuroprotektor : piracetam 80 mg/kgBB/hari - Kutoin 10-20 mg/kgBB/

- Operatif : craniotomy

3. Monitoring - keluhan, vital sign, status neurologis, dan luka post KLL F. Prognosis Dubia ad bonam

G. Hasil CT-scan kepala

12

TINJAUAN PUSTAKA

PERDARAHAN INTRASEREBRAL & FRAKTUR IMPRESI

A. Definisi intraserebral atau intraparenkim hematoma adalah area perdarahan yang homogen dan konfluen yang terdapat di dalam parenkim otak (sadewo dkk, 2011). Fraktur impresi adalah fraktur dengan penekanan ke rongga dalam otak yang diakibatkan oleh adanya kontak bentur pada kepala (satyanegara, 2010).

B. etiologi intraserebral hematoma bukan disebabkan oleh benturan antara parenkim otak dengan tulang tengkorak, tetapi disebabkan oleh gaya akselerasi dan deselerasi

13

akibat trauma yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang terletak lebih dalam, yaitu di parenkim otak atau pembuluh darah kortikal dan subkortikal fraktur impresi tulang kepala terjadi akibat benturan dengan tenaga besar yang langsung mengenai tulang kepala pada area yang kecil. Fenomena kontak bentur di sini lebih terfokus dan lebih padat serta melebihi kapasitas elastisitas tulang tengkorak (satyanegara, 2010).

Anatomi 1. Kulit kepala Kulit kepala terdiri atas lima lapisan, yaitu:
a. Kulit (Skin) b. Jaringan ikat penyambung (Connective tissue) c. Galea aponeurotika (Aponeurosis) d. Jaringan ikat longgar (Loose areolar tissue)

e. Pericranium 2. Cranium Cranium merupakan tulang penyusun kepala. Terdapat dua bagian cranium, yaitu neurocranium dan viscerocranium. Neurocranium terdiri atas calvaria dan basis cranii. Bagian eksternal basis cranii terdiri atas arcus alveolaris os maxilla, processus palatina os maxilla, os palatum, os sphenoidalis, vomer, temporal, dan os occipital. Bagian internal basis cranii terdiri atas tiga fossa cranial, yaitu fossa anterior, fossa media, dan fossa posterior. Fossa anterior terdiri atas os frontalis pada bagian anterior dan lateral, os ethmoidalis pada bagian tengah, dan os sphenoidalis pada bagian posterior. Bagian terbesar pada fossa anterior dibentuk oleh orbital plates os frontalis, yang menyokong lobus frontal cerebri dan membentuk atap orbita. Fossa media terdiri atas sella tursica yang terletak

14

pada permukaan atas corpus os sphenoidalis. Fossa posterior merupakan fossa cranii yang terbesar dan terdalam. Di dalamnya terdapat cerebellum, pons, dan medulla oblongata. Fossa posterior sebagian besar terdiri atas os occipital dan sebagian kecil dibentuk oleh os sphenoidalis dan os temporalis. Pada fossa posterior terdapat lekukan yang dilalui oleh sinus sigmoid dan sinus transversus. Pada bagian tengah fossa posterior terdapat foramen magnum (Moore, 2002). 3. Meningen Otak diliputi oleh tiga membran atau meninges, yaitu dura mater, arachnoidea mater, dan pia mater. Paling luar, dura mater, mempunyai sifat yang tebal dan kuat sehingga berfungsi untuk melindungi jaringan saraf yang ada di bawahnya. Secara konvensional, dura mater digambarkan terdiri dari dua lapis, yaitu lapisan endosteal dan lapisan meningeal. Lapisan tersebut bersatu dengan erat, kecuali pada garis-garis tertentu, tempat berpisah untuk membentuk sinus venosus. Lapisan endosteal merupakan periosteum yang menutupi permukaan dalam tengkorak. Lapisan endosteal melekat paling kuat pada tulang-tulang di atas basis cranii. Lapisan meningeal adalah lapisan dura mater yang sebenarnya, merupakan membran fibrosa yang kuat dan padat yang meliputi otak (Snell, 2006). Arachnoidea mater merupakan membran impermeabel yang lebih tipis dan meliputi otak secara longitudinal. Arachnoidea mater dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial yaitu ruang subdural yang terisi oleh selapis cairan. Ruangan di antara arachnoidea dan pia mater yaitu spatium subarachnoideum diisi oleh cairan serebrospinalis. Pia mater merupakan suatu membran vaskular yang melekat dengan erat serta menyokong otak (Snell, 2006). 4. Batang otak Batang otak dibentuk oleh medulla oblongata, pons, dan mesencephalon serta menempati fossa cranii posterior di dalam tengkorak. Batang otak mempunyai tiga fungsi utama, yaitu sebagai penyalur tractus ascendens dan descendens yang menghubungkan medulla spinalis dengan berbagai pusat yang 15

lebih tinggi, pusat refleks penting yang mengatur control sistem respirasi dan kardiovaskular serta berhubungan dengan kendali tingkat kesadaran, dan mengandung nuclei saraf cranial III sampai XII (Snell, 2006). 5. Cerebellum Cerebellum terletak di fossa cranii posterior dan di bagian superior ditutupi oleh tentorium cerebelli. Cerebellum merupakan bagian terbesar rhombencephalon dan terletak di posterior ventriculus quadratus, pons, dan medulla oblongata. Cerebellum menerima informasi aferen yang berkaitan dengan gerakan volunter dari cortex cerebri dan dari otot, tendon, dan sendi. Cerebellum juga menerima informasi keseimbangan dari nervus vestibularis dan mungkin juga informasi penglihatan dari tractus tectocerebellaris (Snell, 2006).

Gambar 2. Susunan struktur kepala

C. Patofisiologi Patogenesis dari perdarahan intraserebral belum diketahui secara jelas tetapi diduga disebabkan oleh deformasi dan pecahnya pembuluh darah intrinsik (tunggal atau multipel) pada waktu cedera terjadi. Kerusakan dari beberapa pembuluh darah kecil

16

menyebabkan penggabungan dari banyak perdarahan yang kecil-kecil. Hematoma yang besar berperan menjadi lesi desak ruang dan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial dan menghasilkan herniasi transtentorial. (relily and bullock, 2005) Perdarahan intraserebral dapat berdiri sendiri atau sebagai bagian dari komplek perdarahan intradural. Perdarahan intraserebral yang terisolasi lebih sering muncul pada orang tua. Mekanisme perkembangan dari traumatik perdarahan intraserebral adalah sama dengan perdarahan spontan intraserebral dimana arteri atau arteriol pecah oleh kekuatan hantaman atau ruptur secara spontan, menyebabkan darah di bawah tekanan arteri keluar ke parenkim otak. Perdarahan berhenti ketika tekanan jaringan sekitar bekuan darah mencapai tekanan yang sama dengan tekanan arteri yang pecah. Bekuan darah dapat tetap berada didalam parenkim otak atau keluar ke dalam ventrikel, daerah subdural atau area subarakhnoid. Terdapat Cincin dari daerah iskemia sekitar hematoma, dimana akan menjadi daerah penumbra yang dimana secara fungsional tidak berfungsi tetapi potensial sebagai jaringan yang dapat diperbaiki (relily and bullock, 2005) Cedera kepala primer mencakup : fraktur tulang, cedera fokal dan cedera otak difusa yang dimana masing-masing memiliki mekanisme etiologis dan patofisiologi yang unik. Fraktur tulang kepala dapat disertai atau tanpa kerusakan otak, namun biasanya jejas ini bukan penyebab utama timbulnya kecacatan neurologis. Cedera otak pada umumnya merupakan akibat trauma langsung pada vaskular atau saraf, atau sebagai akibat langsung dari adanya defek massa. Cedera fokal merupakan akibat kerusakan setempat yang biasanya didapatkan pada kira-kira setengah dari kasus cedera kepala berat. Kelainan ini mencakup kontusi kortikal, hematoma subdural, epidural dan intraserebral yang secara makroskopis tampak dengan mata telanjang sebagai suatu kerusakan yang berbatas tegas. Cedera otak difusa secara prinsip berbeda dengan cedera fokal, dimana keadaan ini berkaitan dengan disfungsi otak yang luas, serta biasanya tidak tampak secara makroskopis. Mengingat kebanyakan melibatkan akson-akson, maka cedera ini juga dikenal dengan nama cedera aksonal difusa. (satyanegara, 2010)

17

Hematoma intraserebral traumatika yang besar jarang dijumpai. Mengingat bahwa keadaan ini kerap berkaitan dengan kontusi kortikal yang luas, maka kebanyakan tampak sebagai suatu kontusi yang melibatkan disrupsi pembuluh darah yang lebih luas dan lebih dalam. Hematoma yang lebih kecil biasanya tidak berhubungan dengan kontusi, dan mungkin lebih banyak disebabkan oleh kumpulan gelombang hantaman yang ditimbulkan oleh benturan atau cedera jaringan bagian dalam akibat akselerasi (satyanegara, 2010) Kerusakan otak sekunder paling sering disebabkan oleh hipoksia dan hipotensi, hipoksia dapat timbul akibat dari adanya aspirasi, obstruksi jalan nafas, atau cedera thoraks yang bersamaan dengan cedera kepala. Hipotensi pada penderita cedera kepala biasanya hanya sementara yaitu sesaat setelah kontusi atau merupakan tahap akhir dari kegagalan meduler yang berkaitan dengan herniasi serebral. Jarang sekali akibat cedera kepalanya sendiri atau dengan kata lain adanya syok pada penderita cedera kepala perlu diperiksa dengan cermat untuk mencari perdarahan diluar kepala. Edema otak traumatika merupakan keadaan dan gejala patologis, radiologis maupun gambaran intraoperatif yang sering dijumpai pada penderita cedera kepala, dimana keadaan ini mempunyai peranan yang sangat bermakna pada kejadian pergeseran otak (brain shift) dan peningkatan tekanan intrakranial. Edema serebral yang mencapai maksimal pada hari ketiga pasca cedera dapat menimbulkan suatu defek massa yang bermakna (satyanegara, 2010) Fraktur impresi pada tulang kepala dapat menyebabkan penekanan atau laserasi pada duramater dan jaringan otak (sadewo dkk, 2011). D. Gejala Gejala klinis yang ditimbulkan oleh ICH antara lain penurunan kesadaran, derajat penurunan kesadaran dipengaruhi oleh mekanisme dari energi trauma yang dialami. Sedangkan gejala klinis dari cedera kepala difusa sebagai lanjutan dari perdarahan intraserebral adalah sangat bervariasi bergantung pada luas cedera dan lokasi. Yang paling ringan bisa berupa gangguan saraf kranial, kelumpuhan anggota gerak, gangguan otonom, gejala peningkatan tekanan intrakranial hingga penderita jatuh kondisi koma (sadewo dkk, 2011).

18

E. Pemeriksaan penunjang 1. Foto polos tengkorak (skull X-ray) Mengingat hanya sedikit informasi yang didapat dari pemeriksaan ini yang dapat mengubah alternatif pengobatan yang diberikan pada penderita cedera kepala, maka pemeriksaan ini sudah mulai ditinggalkan dan digantikan dengan pemeriksaan yang lebih canggih seperti CT-scan dan MRI. Informasi yang bisa kita dapatkan dari pemeriksaan ini adalah Fraktur tulang kepala, diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai lokasi dan tipe fraktur, baik bentuk linear, stelata atau depresi

Adanya benda asing Pneumocephalus Brain shift, kalau kebetulan ada kalsifikasi kelenjar pineal

2. CT-scan Pemeriksaan ini merupakan metode diagnostik standar terpilih gold standard untuk kasus cedera kepala mengingat selain prosedur ini tidak invasif juga memiliki kehandalan yang tinggi, dalam hal ini dapat diperoleh informasi yang lebih jelas tentang lokasi dan adanya perdarahan intrakranial, edema, udara, benda asing intrakranial, serta pergeseran struktur dalam otak (satyanegara, 2010) Pada CT-scan dengan perdarahan akut maka akan terlihat suatu area dengan peningkatan atenuasi atau hiperdens (putih) dengan dikelilingi daerah hipodens (gelap) yang edema. Ketika bekuan darah muncul seiring waktu, edema meningkat lebih banyak dalam 4 hari dan bekuan darah menjadi area isodens dalam beberapa minggu. Batas cairan dalam hematoma mengindikasikan koagulapati dan pencairan dari bekuan darah, atau terkait pencairan jaringan serebral yang ekstensif dan sebagai prognosis yang buruk (relily and bullock, 2005).

19

Impresi fraktur dianggap bermakna apabila tabula eksterna segmen yang impresi (misalnya kontusio serebri atau intraserebral hematoma) masuk dibawah tabula interna segmen tulang yang sehat (> 1 diploe) (sadewo dkk, 2011). Indikasi operasi pada fraktur impresi adalah apabila fraktur impresi lebih dari 1 diploe atau terdapat lesi intrakranial dibawah segmen yang impresi (misalnya kontusio serebri atau intraserebral hematoma) atau terdapat defisit neurologis yang sesuai dengan daerah yang impresi (sadewo dkk, 2011).

F. Terapi 1. Terapi konservatif Pengobatan yang lazim diberikan pada cedera kepala adalah obat-obatan golongan dexamethason (dengan dosis awal 10 mg kemudian dilanjutkan 4 mg setiap 6 jam), mannitol 20% yang bertujuan untuk mengatasi edema serebri. tetapi kedua jenis obat tersebut hingga saat ini masih kontroversial pendapat mana yang terbaik untuk dipilih. Dan juga diberikan obat-obatan anti kejang seperti fenitoin yang dimana dianjurkan diberikan sebagai terapi profilaksis sedini mungkin (dalam 24 jam pertama) untuk mencegah timbulnya fokus epiletogenik, untuk penggunaan jangka panjang dapat dilanjutkan dengan karbamazepin (satyanegara, 2010). Pada fraktur impresi terbuka, tindakan pertama yang harus dilakukan oleh dokter di ruang gawat darurat adalah segera membersihkan dan mencuci dengan cairan NaCl 0,9% steril kemudian dilakukan penjahitan luka jika penemuan kasus dilakukan dengan golden period. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko infeksi karena terdapat hubungan dunia luar dengan ruang intrakranial. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang dan segera dikonsulkan ke rumah sakit yang memiliki pelayanan bedah saraf (sadewo dkk, 2010)

20

2.

Terapi operatif Kriteria paling sederhana yang dipakai sebagai indikasi tindakan operatif adalah adanya lesi massa intrakranial dengan pergeseran garis tengah 5 mm. Kasus kasus dengan lesi massa intrakranial yang mempunyai indikasi operasi, berkaitan dengan predileksi lokasi khususnya di lobus frontal bagian inferior dan lobus, biasanya insisi kulit, biasanya insisi kulit yang kerap dilakukan dalam tindakan kraniotomi adalah berbentuk tanda tanya. Bila ada penurunan kesadaran/perburukan klinis yang progresif, perlu dilakukan tindakan operasi dekompresi berupa kraniektomi untuk mengurangi tekanan batang otak dan kemungkinan terjadinya herniasi tentorial (satyanegara, 2010). Tindakan operasi pada cedera kepala terbuka agak berbeda dengan cedera kepala tertutup. Pada cedera kepala terbuka yang menjadi tujuan adalah debridemant jaringan otak nekrotik, mengangkat fragmen tulang atau korpus alienum, menghentikan perdarahan, evakuasi hematoma dan penutupan duramater dan kulit yang kedap air. Pembukaan kranial disini cenderung terbatas : berupa insisi linear huruf S atau flap berbentuk U dan dilanjutkan dengan kraniektomi atau kraniotomi kecil (satyanegara, 2010)

21

DAFTAR PUSTAKA

Moore K.L., Agur A.M.R. 2002. Essential Clinical Anatomy. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Reilly, Peter L And Bullock, Ross. 2005. Head Injury-Pathophysiology And Management. Oxford University Press : New-York Sadewo dkk. 2011. Sinopsis Ilmu Bedah Saraf. Penerbit FKUI : Jakarta Satynegara. 2010. Ilmu Bedah Saraf Edisi IV. PT Gramedia : Jakarta.

22