Anda di halaman 1dari 10

JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL.7, NO.

2, 2006: 74-83

PENERAPAN PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING MODEL GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA KELAS III SLTPN 8 JEMBER TENTANG VOLUME TABUNG
Hobri dan Susanto* Abstrak: Penelitian tindakan ini bertujuan untuk menggambarkan prestasi, kegiatan dan respon dari siswa kelas 3 SMP 8 Jember terhadap Tabung Volume dengan mengguna kan kelompok model investigasi dari Cooperative Learning. Data diperoleh dari 4 siswa dengan menggunakan kwesioner, tes, ceklis dan catatan lapangan dan dianalisis menggunakan Miles-Huberman yang terdiri dari reduksi, presentasi dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) model investigasi kelompok CL dapat meningkatkan pemahaman siswa; 2) ada 7 langkah model investigasi kelompok CL; 3) kerjasama dan respons siswa terhadap investigasi kelompok positif. Abstract: This action research aims at describing the achievement, activity and response of the 3rd year students of SMP 8 Jember toward Tabung Volume using group investigation model of Cooperative Learning. The data were obtained from 4 students using questionnaire, test, checklist and field notes and were analyzed employing MilesHuberman analysis comprising data reduction, presentation and verification. The results show that 1) group investigation model of CL can increase students understanding; 2) there are 7 steps of group investigation model of CL; 3) students cooperation and response to Group Investigation are positive. Keywords: cooperative learning, group investigation, and mathematics understanding Pembelajaran geometri pada saat ini lebih cenderung berorientasi pada guru dan mengonstruk geometri, sehingga kurang menumbuhkembangkan kemampuan berpikir anak (Sunardi, 2001: 1). Begitu pula materi volume tabung seringkali diajarkan dengan menggunakan pembelajaran yang konvensional, yaitu guru menerangkan rumus volume tabung dan kemudian siswa diharapkan menghafal rumus tersebut untuk dapat mengerja kan kuis yang diberikan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara awal dengan guru SLTP Negeri 8 Jember, diperoleh bahwa tingkat pemahaman siswa tentang volume tabung masih rendah. Hal itu dapat dilihat pula pada hasil tes yang masih dibawah standar, kemudian ternyata pembelajaran yang dilaksanakan masih didominasi pleh pembelajaran yang beracuan pada pandangan behavioristik, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan masih konvensional. Guru-guru matematika di SLTPN 8 Jember menyatakan bahwa jika dilaku kan pembelajaran yang terpusat pada siswa, target kurikulum tidak dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Salah satu alasannya adalah karena memerlukan waktu yang relatif lama, padahal kurikulum harus diselesaikan.
* Dosen Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Jember. 74

Hobri & Susanto, Penerapan Pendekatan Cooperative..

Selain itu, pemilihan materi volume tabung merupakan salah satu sub pokok bahasan dalam matematika yang relatif mudah dan dapat dijelaskan dengan benda konkret yaitu tabung buatan yang diisi dengan air atau kacang ijo, sehingga dapat memberikan pengalaman baru pada siswa untuk mengonstruksi sendiri konsepnya dan mungkin juga menyenangkan. Tentu bukan hal yang mudah untuk merealisasikan agar siswa menemukan dan mengonstruksi sendiri pengukuran volume tabung melalui pengalamannya, yang kemudian menyimpulkannya dalam rumus umum. Namun jika tidak dilakukan sama sekali, tidak akan ada perubahan dalam praktek pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan perkembangan kognitif dan kreativitas siswa. Dengan demikian diperlukan suatu usaha untuk mencari, menetapkan dan mengembangkan strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi siswa. Salah satu metode dalam paradigma kontsruktivis adalah belajar kooperatif. Belajar kooperatif adalah kegiatan yang berlangsung dalam lingkungan belajar berbentuk kelompok kecil, sehingga siswa dapat saling berbagi ide dan bekerja secara kolaboratif untuk menyelesaikan tugas akademik (Davidson & Kroll, 1991:262). Belajar kooperatif sesuai dengan paradigma bahwa disamping sebagai makhluk individual, manusia juga adalah makhluk sosial yaitu makhluk yang tidak bisa berdiri sendiri, namun selalu membutuhkan kerja sama dengan orang lain. Jelasnya belajar kooperatif tidak hanya bertujuan memahamkan siswa terhadap materi yang akan dipelajari namun lebih menekankan pada melatih siswa untuk mempunyai kemampuan sosial, yaitu kemampuan untuk saling bekerjasama, saling memahami, saling berbagi informasi, saling membantu antar teman kelompok, dan bertanggung jawab terhadap sesama teman kelompok untuk mencapai tujuan umum kelompok. Di dalam belajar kooperatif tidak hanya dituntut keberhasilan individu namun juga keberhasilan kelompok. Dari pemikiran itulah dalam belajar kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang bersifat heterogen dari segi gender, etnis, dan kemampuan akademik untuk saling membantu satu sama lain dalam mencapai tujuan bersama (Slavin, 1995:2). Sampai saat ini banyak metode belajar kooperatif yang dapat digunakan. Beberapa metode belajar kooperatif yang diteliti secara ekstensif adalah Student Team Learning (STL), Student Team-Achivement Division (STAD), Team-Games-Tournament (TGT), Team Accelerated Intruction (TAI), Jigsaw, Cooperative Integrated Reading dan Composition (CIRC), Group Investigation (GI), Learning Together (LT), Complex Instruction (CI), dan Structured Dyadic Method (SDM). Khusus untuk Model Group Investigation, menurut Ibrahim (2000:23), mungkin merupakan model belajar kooperatif yang paling kompleks dan jarang diterapkan, termasuk dalam pembelajaran matematika. Investigasi Kelompok dikembangkan oleh Sholomo dan Sharon di Universitas Tel Aviv (Slavin, 1995:11). Investigasi Kelompok adalah strategi belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok secara heterogen dilihat dari kemampuan dan latar belakang, baik dari segi jenis kelamin, suku, dan agama, untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik (Eggen & Kauchak, 1998:305). Sedangkan menurut Sharan dan Sharan (1992) (dalam Slavin, 1995:11) Investigasi Kelompok merupakan suatu perencanaan pengorganisasian kelas secara umum dimana siswa bekerja dalam kelompok kecil menggunakan inkuiri kooperatif, diskusi kelompok, dan perencanaan kooperatif dan proyek. Dalam metode ini, guru membentuk kelompok siswa yang terdiri dari dua sampai enam anak. Langkah selanjutnya adalah membagi tugas-tugas menjadi tugas individu yang berbeda, dan melakukan kegiatan yang diperlukan untuk mempersiap
75

JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL.7, NO.2, 2006: 74-83

kan laporan kelompok. Masing-masing kelompok kemudian mempresentasikan penemuannya di depan kelas. Walaupun agak sulit dilakukan, cooperative learning model group investigation ini perlu diterapkan.

Metode
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan. Pelaksanaan penelitian (mengajar) dilakukan oleh guru bidang studi, sedangkan 2 anggota penelitian lainnya bertindak sebagai pengamat (observer). Lokasi penelitian di SLTPN 8 Jember. Data yang diraih adalah: (1) hasil kerja yang meliputi kelompok dan individual, (2) pemahaman dan respon siswa yang diperoleh dengan wawancara dan angket, (3) aktivitas siswa, diperoleh dengan ceklist pengamatan, dan (4) catatan lapangan. Subjek penelitian ditentukan 4 orang yang mewakili siswa dari kelompok pandai, sedang dan kelompok rendah. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles-Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan verifikasi data. Adapun tahap-tahap penelitiannya adalah: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi. Dalam penelitian ini, dilaksanakan 2 siklus. Analisis data mengacu pada ketercapaian indikator aktivitas guru dan siswa, respons siswa terhadap pembelajaan serta hasil belajar siswa.

Hasil dan Pembahasan


Tindakan I Kegiatan yang dilakukan pada tindakan I meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Masing-masing kegiatan dapat dijelaskan sebagai berikut. Perencanaan Pada kegiatan ini, yang dilakukan peneliti adalah: (1) Menyiapkan rencana pembelajaran, lembar observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan, dan angket siswa. (2) Menyiap kan daftar nama anggota kelompok. (3) Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS). Pelaksanaan Tindakan I Pembelajaran pada tindakan I adalah pelaksanaan model Investigasi Kelompok untuk menemukan volume tabung. Materi disajikan oleh anggota peneliti 2 (guru matematika), sedangkan peneliti 1 dan peneliti 2 bertindak sebagai pengamat. Pembelajaran dimulai dengan menempatkan siswa pada posisi masing-masing berdasarkan kelompoknya. Pembelajaran dibagi dalam tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir. Pada tahap awal, peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa tentang pentingnya materi, membangkitkan pengetahuan awal siswa, menjelaskan tugas siswa dan tugas kelompok, dan menjelaskan tanggung jawab kelompok. Tahap awal diakhiri dengan pembagian lembar kerja siswa kepada masing-masing kelompok. Tahap awal membutuhkan waktu sekitar 10 menit sesuai yang direncanakan. Tahap inti terdiri dari dua kegiatan, yaitu investigasi dan diskusi. Sebelum melaksanakan investigasi, tiap-tiap kelompok diminta untuk memahami lembar kerja siswa (LKS). Pada kegiatan investigasi, tiap-tiap kelompok bekerja dengan bantuan LKS. Tiap-tiap kelompok berusaha menemukan volume tabung secara induktif dengan cara mengisi LKS. Pada saat investigasi, semua kelompok berusaha menemukan volume

76

Hobri & Susanto, Penerapan Pendekatan Cooperative..

tabung. Semua anggota kelompok secara aktif mengisi LKS yang akan menuntun untuk menemukan rumus volume tabung. Peran peneliti saat investigasi adalah sebagai fasilitator dan mediator. Peneliti mengelilingi setiap kelompok melihat kemajuan hasil investigasi mereka. Jika ada kelompok yang mengalami kesulitan, peneliti memberikan bimbingan dengan cara mengajukan pertanyaan yang dapat membantu arah kerja kelompok. Peneliti berusaha mengaktifkan kerja sama dalam kelompok. Peneliti mengajukan perintah Jangan bekerja sendiri-sendiri, cobalah untuk bekerja sama atau Agar pekerjaan cepat selesai, kalian harus bekerja sama. Pelaksanaan investigasi berlangsung selama 35 menit sesuai waktu yang direncanakan. Pada kegiatan diskusi, setiap kelompok secara bergiliran melaporkan hasil investigasi. Diskusi dimulai dari kelompok I dan berurutan sampai dengan kelompok V. Pada saat diskusi, wakil suatu kelompok membacakan penemuan kelompoknya sesuai dengan LKS yang telah mereka isi, sedangkan kelompok yang lain menanggapi laporan kelompok pelapor. Pelaksanaan diskusi berlangsung dengan baik dan hangat. Pada pelaksanaan diskusi, terjadi diskusi antar kelompok dalam memberikan pertanyaan dan tanggapan terhadap laporan kelompok yang lain. Pelaksanaan diskusi berlangsung selama 55 menit. Waktu ini lebih 20 menit dari yang direncanakan. Hal ini disebabkan karena kesimpulan yang dibuat dalam LKS yang dilaporkan agak panjang. Penyajian laporan yang paling bagus dan sempat mendapat aplaus dari pengamat dan siswa yang lain dilakukan oleh R (wakil dari kelompok I). Peneliti dan pengamat juga merasa kagum dengan cara R menjelaskan penemuan kelompoknya. R menerangkan seolah-olah dia seorang guru. Berdasarkan konfirmasi dengan guru matematika, ternyata R adalah siswa terpandai di kelas IIIA. Pada tahap akhir pembelajaran, peneliti memuji pelaksanaan investigasi dan pelaksanaan diskusi. Selain itu, peneliti juga mendorong siswa untuk membuat kesimpulan dari hasil investigasi dan diskusi dengan melakukan tanya jawab. Sebagai akhir pembelajaran peneliti mengingatkan kembali bahwa untuk pertemuan berikutnya, pembelajaran akan berlangsung dengan cara yang sama. Hasil Observasi Pada pengamatan nampak bahwa kegiatan pembelajaran berlangsung sangat menyenangkan bagi siswa. Siswa sangat senang bekerja dalam kelompok. Mereka sangat aktif bekerja dalam kelompok masing-masing dan aktif dalam melakukan diskusi. Hasil observasi 2 pengamat terhadap pelaksanaan pembelajaran juga menunjukkan bahwa pembelajaran berlangsung dengan baik. Hasil observasi sangat memuaskan karena setiap indikator memperoleh skor maksimal, yaitu 5. Analisis data hasil observasi dilakukan dengan menghitung prosentase. Skor yang diperoleh tiap-tiap indikator dijumlahkan dan hasilnya disebut jumlah skor. Selanjutnya dihitung persentase nilai rata-rata dengan cara membagi jumlah skor dengan skor maksimal yang dikalikan 100%, yaitu: Persentase Nilai Rata-rata (NR) =

Skor yang dicapai x 100%. Kriteria taraf keberhasilan tindakan ditentukan sebagai Jumlah Skor Ideal
berikut. 90% NR 100% : Sangat Baik
77

JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL.7, NO.2, 2006: 74-83

80% NR < 90% : Baik 70% NR < 80% : Cukup 60% NR < 70% : Kurang 0% NR < 60% : Sangat Kurang Hasil observasi 2 pengamat terhadap kegiatan peneliti (guru) dan kegiatan siswa dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. Tabel 2. Skor Kegiatan Peneliti berdasarkankan Hasil Pengamatan Indikator Pengamat Pengamat 1 2 5 5 Menyampaikan tujuan pembelajaran 5 5 Menentukan materi dan pentingnya materi 5 5 Membangkitkan pengetahuan awal siswa 5 5 Membentuk kelompok 5 5 Menjelaskan tugas siswa dan kelompok 5 5 Menjelaskan tanggung jawab kelompok 5 5 Memotivasi siswa. 5 5 Menyediakan sarana dan prasarana yang 5 5 dibutuhkan Melakukan aktivitas keseharian. Meminta siswa memahami LKS 5 5 Menyuruh kelompok melakukan investigasi 5 5 5 5 Membantu siswa bekerja secara kooperatif Membantu kelompok menyelesaikan tugas 5 5 Meminta siswa menyiapkan laporan kelompok 5 5 Mengatur giliran kelompok 5 5 Mengatur giliran penanggap 5 5 Membantu kelancaran diskusi 5 5 Merespon pembelajaran 5 5 Melakukan evaluasi 5 5 Melakukan aktivitas keseharian 5 5

Tahap Awal

Inti

Akhir

Berdasarkan data observasi kedua pengamat pada Tabel 2, jumlah skor yang diperoleh adalah 100 dan skor ideal 100. Dengan demikian, persentase nilai rata-rata adalah 100%. Berarti taraf keberhasilan kegiatan peneliti berdasarkan observasi kedua pengamat termasuk dalam kategori sangat baik. Berdasarkan data observasi kedua pengamat pada Tabel 3, jumlah skor yang diperoleh adalah 100 dan skor maksimal 100. Dengan demikian, persentase nilai rata-rata adalah 100%. Berarti taraf keberhasilan kegiatan siswa berdasarkan observasi kedua pengamat termasuk dalam kategori sangat baik. Berdasarkan hasil analisis data observasi terhadap kegiatan guru dan siswa, dapat disimpulkan bahwa kegiatan guru dalam mengajar dan kegiatan siswa dalam belajar sangat baik dan sesuai dengan yang direncanakan.

78

Hobri & Susanto, Penerapan Pendekatan Cooperative..

Tahap Awal

Inti

Akhir

Tabel 3. Skor Kegiatan Siswa berdasarkankan Hasil Pengamatan Indikator Pengamat Pengamat 1 2 Memperhatikan tujuan 5 5 Menyimak penjelasan materi 5 5 Keterlibatan dalam pembangkitan pengetahu 5 5 an awal 5 5 Keterlibatan dalam pembentukan kelompok 5 5 Memahami tugas 5 5 Melakukan aktivitas keseharian 5 5 Memahami LKS 5 5 Keterlibatan dalam melakukan investigasi 5 5 Keterlibatan menyelesaikan tugas kelompok 5 5 Aktivitas siswa berkemampuan tinggi 5 5 Aktivitas siswa berkemampuan sedang 5 5 Aktivitas siswa berkemampuan rendah 5 5 Aktivitas siswa dari segi etnis 5 5 Aktivitas siswa dari segi gender 5 5 Memanfaatkan media yang ada 5 5 Menyiapkan laporan 5 5 Melaporkan hasil investigasi 5 5 Menanggapi laporan 5 5 Saling menghargai antarindividu 5 5 Bekerja secara kooperatif 5 5 Kefektivan proses dalam kelompok Menanggapi evaluasi 5 5

Hasil Wawancara Wawancara dilakukan untuk mengetahui kerja sama siswa dalam kelompok, respon siswa terhadap pembelajaran, dan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Dengan demikian pertanyaan dalam pedoman wawancara terdiri dari tiga bagian, yaitu kerja sama, respon, dan pemahaman. Wawancara hanya dilakukan pada subjek penelitian setelah pembelajaran berlangsung. Untuk kriteria kerja sama, hasil wawancara menunjukkan bahwa semua subjek merasa senang bekerja sama dalam kelompok. Keempat subjek yaitu A, S, M, dan K menyatakan bahwa belajar kelompok lebih mereka sukai daripada belajar secara individual. Dalam bekerja sama, siswa tidak membedakan masalah etnis, kemampuan, dan jenis kelamin. Semua subjek beralasan bahwa dalam bekerja sama tidak boleh membeda kan etnis, kemampuan, dan jenis kelamin. Hal ini dilakukan agar dapat memupuk rasa persaudaraan, keakraban, saling menghormati, dan pekerjaan kelompok dapat diselesai kan dengan cepat. Semua subjek juga beralasan bahwa mereka tidak mau ada teman yang tersinggung dalam kelompok karena dibeda-bedakan. A menambahkan bahwa dalam kelompoknya mereka saling berbagi tugas. Kerja sama tidak hanya dengan satu etnis dengan alasan bahwa jika hanya dengan satu etnis, cenderung akan digunakan bahasa daerah. Jadi, kerja sama dilakukan dengan semua etnis untuk dapat saling menghargai pendapat.
79

JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL.7, NO.2, 2006: 74-83

Keempat subjek menyatakan bahwa sebaiknya pembelajaran volume tabung tetap dilakukan dengan model Investigasi Kelompok. A dan K menyatakan bahwa pembelajaran materi lain sebaiknya juga dilakukan dengan model Grup Investigasi. Menurut A, dengan model Grup Investigasi, belajar lebih cepat daripada secara individual, S dan M hanya menyatakan bahwa model Grup Investigasi sebaiknya dipertahankan atau tetap dilakukan. Ketika keempat subjek diminta untuk menjelaskan hasil kerja kelompoknya, mereka dapat menjelaskan dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memahami apa yang telah dilakukan. Subjek tidak hanya sekedar menyerahkan pekerjaan kelompok pada teman yang pintar. Mereka memahami hasil pekerjaan kelompok karena dikerjakan secara bersama-sama. Semua anggota kelompok mempunyai andil untuk menyelesaikan tugas kelompok. Subjek A menyatakan bahwa anggota kelompok yang belum mengerti dapat meminta bantuan teman sekelompok dan harus mempertahankan hasil kerja kelompok ketika diminta guru untuk menjelaskan di papan tulis. Hasil Angket Respons Siswa Hasil respons siswa terhadap pelaksanaan tindakan I dapat dilihat pada Tabel 4. Adapun skor masing-masing pernyataan yaitu untuk pernyataan yang bersifat positif, STS diberi skor 1, TS diberi skor 2, S diberi skor 3, dan SS diberi skor 4 dan Untuk Pernyataan yang bersifat negatif, STS diberi skor 4, TS diberi skor 3, S diberi skor 2, dan SS diberi skor 1. Analisis data angket dilakukan untuk tiap-tiap indikator. Skor total yang diperoleh masing-masing indikator dibagi banyak siswa. Hasil perhitungan ini disebut frekuensi atau kualitas respons. Untuk menentukan respons siswa digunakan kriteria berikut. 3 skor rata-rata 4 : sangat positif 2 skor rata-rata < 3 : positif 1 skor rata-rata < 2 : negatif 0 skor rata-rata < 1 : sangat negatif. Dari hasil analisis terhadap angket dapat disimpulkan bahwa siswa sangat senang belajar dalam kelompok dan sangat menyukai kerja sama dalam belajar. Semua siswa menyatakan bahwa mereka bekerja sama dengan siswa lain meskipun berbeda dari segi etnis, kemampuan, dan jenis kelamin. Siswa menyatakan bahwa mereka lebih suka belajar kooperatif dan menginginkan bahwa pembelajaran materi lain juga dilakukan secara kooperatif. Siswa juga menyatakan bahwa dengan belajar kooperatif mereka lebih mudah memahami materi.

80

Hobri & Susanto, Penerapan Pendekatan Cooperative..

Tabel 4. Kualitas Respons Siswa terhadap Tindakan I No Sifat STS TS S SS Jumlah Pernyataan Pernyataan 36 30 6 0 0 Positif 1 36 27 9 0 0 Positif 2 36 21 15 0 0 Positif 3 36 0 0 14 22 Negatif 4 36 17 19 0 0 Positif 5 36 0 0 14 22 Negatif 6 36 0 0 22 0 Negatif 7 36 26 10 0 0 Positif 8 36 21 15 0 0 Positif 9 36 27 9 0 0 Positif 10 36 27 9 0 0 Positif 11 36 14 22 0 0 Positif 12 36 26 10 0 0 Positif 13 36 21 15 0 0 Positif 14 36 19 17 0 0 Positif 15 36 0 0 11 25 Negatif 16 Keterangan: STS = Sangat Tidak Setuju S = Setuju TS = Tidak Setuju SS = Sangat Setuju Refleksi Refleksi dilakukan untuk menentukan apakah tindakan I harus diulangi atau sudah berhasil. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama pembelajaran berlangsung, semua kelompok dapat menemukan volume tabung. Jadi, kriteria keberhasilan tindakan I yaitu siswa menemukan rumus volume tabung dan menerapkannya sudah tercapai. Data pengamatan dua orang pengamat terhadap peneliti (guru) dan siswa selama pembelajaran berlangsung menunjukkan bahwa semua indikator memperoleh penilaian tertinggi, yaitu 5. Hal ini menunjukkan bahwa semua indikator sangat baik. Dengan demikian, kegiatan guru dan siswa dalam pembelajaran mencapai kriteria keberhasilan 100% dengan predikat sangat baik. Berdasarkan hasil wawancara terhadap subjek penelitian, diperoleh bahwa kerja sama siswa dalam kelompok juga sangat baik, respons siswa terhadap pembelajaran positif dengan tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang juga sangat baik. Keempat subjek dapat menjelaskan hasil kerja kelompok mereka dengan benar. Keberhasilan tindakan I dapat dilihat dari hasil angket terhadap semua siswa. Seluruh siswa menyatakan bahwa mereka sangat senang dan suka dengan metode belajar secara kooperatif. Dalam bekerja sama mereka tidak membeda-bedakan segi suku, tingkat kemampuan, dan jenis kelamin. Seluruh siswa menyatakan bahwa belajar secara kooperatif lebih mereka sukai daripada belajar secara individual. Selain itu, seluruh siswa menyatakan bahwa dengan belajar kooperatif model Investigasi Kelompok, mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran. Berdasarkan beberapa analisis data yang telah diuraikan di atas, maka diperoleh suatu kesimpulan bahwa pembelajaran tindakan I telah mencapai kriteria keberhasilan, baik segi proses dan segi hasil. Dengan demikian diputuskan bahwa tindakan I tidak perlu
81

JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL.7, NO.2, 2006: 74-83

diulang. Namun demikian, perlu dilakukan persiapan yang lebih baik diwaktu yang akan datang agar waktu yang dibutuhkan untuk diskusi tidak melebihi waktu sebagaimana yang telah direncanakan.

Simpulan dan Saran


Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat dijelaskan beberapa hal berikut: (1) Belajar kooperatif model Investigasi Kelompok dapat meningkatkan pemahaman siswa pada pembelajaran menentukan volume tabung. (2) elajar kooperatif model Investigasi Kelompok terdiri dari 7 kegiatan yaitu (a) pendahuluan, (b) pembentukan kelompok, (c) pelaksanaan investigasi, (d) penyiapan laporan, (e) penyajian laporan, (f) membuat kesimpulan, dan (g) penutup. Secara garis besar, ketujuh kegiatan tersebut dapat dibedakan ke dalam 3 tahap, yaitu (a) tahap awal, (b) tahap inti, dan (c) tahap akhir. Tahap awal memuat kegiatan pendahuluan dan pembentukan kelompok. Tahap inti memuat kegiatan pelaksanaan investigasi, penyiapan laporan, dan penyajian laporan. Tahap akhir meliputi kegiatan membuat kesimpulan dan penutup. (3) sama siswa dalam Investigasi Kelompok berlangsung sangat baik ditinjau dari segi suku, jenis kelamin, dan tingkat kemampuan. (4) Respons siswa terhadap model Investigasi Kelompok sangat positif. Semua siswa menyatakan senang belajar kooperatif model Investigasi Kelompok dan lebih mudah memahami materi pembelajaran. (5) Penggunaan LKS sangat membantu siswa dalam melaksanakan investigasi. Meskipun demikian, LKS perlu dibuat secara cermat dan hati-hati. LKS yang terlalu menuntun arah kerja siswa dapat mematikan kreativitas siswa. LKS yang baik adalah LKS yang memungkinkan siswa bekerja sesuai kreativitas mereka. Saran-saran Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran yang perlu disampaikan kepada pihak sekolah, guru, pemerhati pendidikan dan peneliti lain. (1) Pihak sekolah (kepala sekolah) disarankan untuk menyediakan fasilitas berupa ruang khusus untuk pelaksanaan strategi belajar kooperatif model Investigasi Kelompok dan menganjurkan penerapan belajar kooperatif model Investigasi Kelompok terutama kepada guru matematika. (2) Pihak guru dan pemerhati pendidikan disarankan untuk menjadikan penerapan belajar kooperatif model Investigasi Kelompok sebagai suatu referensi dalam pembelajaran. (3) Pihak guru matematika disarankan untuk menerapkan belajar kooperatif model Investigasi Kelompok dalam pembelajaran matematika terutama pada materi yang menekankan investigasi pada suatu topik untuk menemukan konsep atau prinsip. (4) Pihak guru yang menerapkan belajar kooperatif model Investigasi Kelompok disarankan untuk melakukan pengaturan waktu yang tepat dalam pelaksanaan diskusi. (5) Pihak peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian penerapan belajar kooperatif model Investigasi Kelompok pada materi lain yang menekankan investigasi untuk menemukan suatu konsep atau prinsip.

Daftar Acuan
Davidson, N & Kroll, D.L. 1991. An Overview of Research ON Cooperative Learning Related to Mathematics. Journal for Research in Mathematics Education. 22(5):362-365.
82

Hobri & Susanto, Penerapan Pendekatan Cooperative..

Eggen, P.D & Kauchak, P.P.. 1998. Strategies forTeacher: Teaching Content and Thinking Skill. Boston: Alyn & Bacon. Ibrahim, M. dkk.. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa University Press. Johnson, D.W. & Johnson, R.T.. 1994. Learning Together and Alone: Cooperative, Competitive, and Individualistic Learning, Fourth Edition. Massachusets: Allyn & Bacon. Lince R., Sukahar H., Budayasa I.K. 2001. Efektifitas Model Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Struktural. Buletin Pendidikan Matematika, 3 (2):67-136. Ambon: FKIP Universitas Pattimura. Nur, M., Wikandari, P.R. & Sugiarto, B.. 1999. Teori Belajar. Surabaya: Unesa University Press. Ratumanan, T.G.. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press. Setyosari, P. 1997. Model Belajar Konstruktivistik. Jurnal Sumber Belajar, Tahun 4, Nopember 1997: 50-58. Slavin, R.E.. 1995. Cooperative Learning, second edition. Massachusets: Allyn & Bacon. Sutawidjaja, A. 2002. Konstruktivisme Konsep dan Implikasinya pada Pembelajaran Matematika. Jurnal Matematika atau Pembelajarannya. VIII (Edisi Khusus): 355-359. Sunardi. 2001. Pembelajaran Geometri dengan Pendekatan Realistik. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistik Mathematics Education (RME) di Jurusan Matematika FMIPA UNESA. Surabaya, 24 Februari.

83