Anda di halaman 1dari 5

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PRILAKU KEKERASAN

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PRILAKU KEKERASAN I. LATAR BELAKANG Umumnya klien dengan Perilaku Kekerasan dibawa dengan paksa ke Rumah sakit Jiwa. Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan pengawalan oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku Kekerasan seperti memukul anggota keluarga/orang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga. Penanganan oleh keluarga belum memadai, keluarga seharusnya mendapat pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien (manajemen perilaku kekerasan). II. PENGERTIAN Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995). Sedangkan menurut Depkes RI, Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan penyakit jiwa, Jilid III Edisi I, hlm 52 tahun 1996 : Marah adalah pengalaman emosi yang kuat dari individu dimana hasil/tujuan yang harus dicapai terhambat. Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal. Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan konstruktif pada waktu terjadi akan melegakan individu dan membantu orang lain untuk mengerti perasaan yang sebenarnya. Untuk itu perawat harus pula mengetahui tentang respons kemarahan sesorang dan fungsi positif marah.

III. METODE TAK A. TAK Stimulasi Kognitif / Persepsi dilatih mempersepsikan stimulus, yang disediakan atau yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif. a. Stimulasi Sensoris Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensori klien, kemudian diobservasi reaksi sensori klien terhadap stimulus yang disediakan berupa ekspresi perasaan secar non-verbal. b. TAK Orientasi Realitas Klien diorientasikan kepada kenyataan yang ada disekitarnya (diri sendiri, orang lain disekelilingnya, orang yang dekat dengan klien, dan lingkunan yang mempunyai hubungan dengan klien). Demikian pula dengan orientasi waktu saat ini, waktu yang lalu dan rencana kedepan, aktivitas dapat berupa orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar dan semua kondisi nyata. c. TAK Sosialisasi Merupakan suatu upaya untuk memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial. Tujuan umum dari terapi ini ialah klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap. Sosialisasi dapat juga dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa. Aktifitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok

B. METODE : 1. Dinamika kelompok 2. Diskusi Tanya dan jawab. 3. Bermain peran dan stimulasi. IV. TUJUAN : Terapi Aktifitas Kelompok : Diharapkan dapat membantu klien dengan kasus tindak kekerasan untuk mempunyai suatu respon yang lebih adaptif dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Tujuan UmumZ Klien dapat mengungkapkan keinginan dan permintaan tanpa memaksa.i Klien dapat mengungkapkan penolakan dan rasa sakit hati tanpa kemarahan.i Tujuan khusus :Z Klien mampu memperkenalkan dirii Klien dapat membina hubungan saling percaya.i Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang positif yang dimiliki.i Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.i Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.i Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.i Indikasi klien adalah klien dengan hubungan social : Tindak kekerasani Klien tindak kekerasan yang telah mulai melakukan interaksi interpersonali

V. KRITERIA PESERTA Persyaratan: Klien yang tidak terlalu gelisah. klien yang bisa kooperatif dan tidak mengganggu berlangsungnya Terapi Aktifitas Kelompok Klien tindak kekerasan yang sudah sampai tahap mampu berinteraksi dalam kelompok kecil Klien tenang dan kooperatif Kondisi fisik dalam keadaan baik Mau mengikuti kegiatan terapi aktivitas Klien yang dapat memegang alat tulis Klien yang panca inderanya masih memungkinkan VI. WAKTU PELAKSANAAN Hari / Tanggal : Kamis, 31 Desember 2009. Waktu : Pukul 13.15 WIB s.d selesai Tempat : Ruang Aula Prody Keperawatan Langsa. VII. NAMA PESERTA DAN RUANGAN Jumlah dan Nama Pasien 1. Tn. A 2. Tn. B 3. Tn. C 4. Tn. D 5. Tn. E Cadangan : 1. Tn. F 2. Tn.G

VIII. MEDIA DAN ALAT: Papan tulis/ whiteboard dan alat tulis. Buku satatan dan pulpen. Jadwal kegiatan klien. IX. SUSUNAN PELAKSANAAN : Kegiatan berlangsung satu season : 60 menit Pembukaan dan perkenalan Diawali dengan doa Penjelasan aturan kegiatan Proses kegiatan Shering perasaan Yang bertugas dalam TAK kali ini disesuaikan dengan petugas setiap Sesi yang telah disepakati. Sebagai berikut: a. Leader : Maimun b. Co. Leader : Iskandar c. Fasilitator 1 : Nurul fajri d. Fasilitator 2 : Nurkamara e. Fasilitator 3 : Nirmala putri f. Fasilitator 4 : Marliah g. Fasilitator 5 : Marhammah h. Fasilitator 6 : Nanda aulia rahman i. Observer : Indrasyah Putra

X. URAIAN TUGAS PELAKSANA Peran Leader : Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan jalan menciptakan situasi dan suasana yang memungkinkan klien termotivasi untuk mengekspresikan perasaannya Auxilery Ego, sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau mendominasi Koordinator, Mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian tujuan dengan cara memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan Peran co Leader : Membuka acara. Mendampingi Leader. Mengambil alih posisi leader jika leader bloking. Menyerahkan kembali posisi kepada leader. Menutup acara diskusi. Peran Observer : Mengidentifikasi isue penting dalam proses Mengidentifikasi strategi yang digunakan Leader Mengamati dan mencatat : 1. Jumlah anggota yang hadir 2. Siapa yang terlambat 3. Daftar hadir 4. Siapa yang memberi pendapat atau ide 5. Topik diskusi Mencatat modifikasi strategi untuk kelompok pada sesion atau kelompok yang akan datang

Memprediksi respon anggota kelompok pada sesion berikutnya Peran Fasilitator Mempertahankan kehadiran peserta Mempertahankan dan meningkatkan motivasi peserta Mencegah gangguan atau hambatan terhadap kelompok baik dari luar maupun dari dalam kelompok XI. MEKANISME KEGIATAN: 1. Persiapan Mengingatkan kontrak pada klien yang telah mengikuti sesi 4. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan 2. Orientasi a. Salam tarapeutik Salam dari terapis kepada klien. Terapis dank lien memakai papan nama. b. Evaluasi / validasi Menanyakan perasaan klien saat ini. Menanyakan apakah ada penyebab kekerasan, tanda, dan gejala marah, serta prilaku kekerasan. Tanyakan apakah kegiatan fisik untuk mencegah prilaku kekerasan sudah dilakukan. c. Kontrak Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu cara social untuk mencegah prilaku kekerasan. Menjelaskan aturan main berikut: Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada terapis. Lama kegiatan 45 menit. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. 3. Tahap kerja Mendiskusikan dengan klien cara berbicara jika ingin meminta sesuatu dari orang lain. Menuliskan cara-cara yang disampaikan klien. Terapis mendemonstrasikan cara meminta sesuatu tanpa paksaan, yaitu saya perlu/ ingin/ minta,yang akan saya gunakan untuk Memilh 2 orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada point c. Ulangi sampai semua klien mencoba. Memberikan pujian pada peran serta klien. Terapis mndemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan rasa sakit hati pada orang lain, yaitu saya tidak dapat melakukan. Atau saya kesal dikatakan .seperti. Memilh 2 orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada point di atas. Ulangi sampai semua klien mencoba. Memberikan pujian pada peran serta klien. 4. Tahap terminasi a. Evaluasi 1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah TAK. 2. Menanyakan jumlah cara pencegahan prilaku kekerasan yang telah dipelajari. 3. Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar. b. Tindak lanjut 1. Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan interaksi social yang asetif, jika stimulus penyebab prilaku kekrasan terjadi. 2. Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dan interaksi social yang asetif secara teratur. 3. Memasukkan interaksi social yang asetif pada jadwal harian kegiatan klien.

c. Kontrak yang akan datang 1. Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu kegiatan ibadah. 2. Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya. XII. EVALUASI DAN DOKUMENTASI Evaluasi Evalusi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi prilaku kekerasan sesi 3, kemampuan klien yang diharapkan adalah mencegah prilaku kekerasn secara social. Formulir evaluasi sebagai berikut.

Lembar Evalusi Kemampuan Pasien Sesi 5: TAK Stimulasi persepsi: halusinasi Kemampuan patuh minum obat untuk mencegah halusinasi No Nama klien Menyebutkan lima benar cara minum obat Menyebutkan keuntungan minum obat Menyebutkan akibat tidak patuh minum obat 1 Tn. A 2 Tn. B 3 Tn. C 4 Tn. D 5 Tn. E 6 Tn. F 7 Tn. G 8 9 10 Petunjuk: 1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien. 2. Untuk tiap klien beri penilaian akan kemampuan mempraktekkan pencegahan prilaku kekerasan secara social, meminta tanpa paksa, menolak dengan baik, mengunkapkan kekesalan dengan baik, beri tanda jika klien mampu atau tidak. Dokumentasi Mendokumentasikan kemampuan yang dimilki klien saat TAK pada catata proses keperawatan tiap klien, contoh : klien mengikuti sesi 3, TAK stimulasi persepsi prilaku kekerasan. Klien mampu memperagakan cara meminta tanpa paksa, menolak dengan baik dan mengungkapkan kekerasan. Anjurkan klien mempraktikan di ruang rawat (buat jadwal).

Anda mungkin juga menyukai