Anda di halaman 1dari 7

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI JAKARTA NAMA : Eka Rahayu, Wedayanti F.

Harianto, Givendra Saragih Mata Kuliah : Teologi Kontekstual Dosen : Dr.Raja Oloan Tumanggor

MODEL PRAKSIS
Sebelumnya kita telah membahas model translasi dan model antropologi. Model translasi memberi penekanan kepada identitas Kristen di dalam sebuah konteks tertentu dan berusaha memelihara kesinambungan dengan tradisi. Model antropologi memberi penekanan pada identitas orang Kristen di dalam sebuah konteks tertentu dan berusaha membangun cara mereka sendiri dalam merumuskan imannya. Model praksis yang kita akan bahas saat ini memberi penekanan kepada identitas orang Kristen di dalam sebuah konteks tertentu yang berhubungan dengan perubahan sosial. Model praksis ini adalah cara berteologi yang dianggap lebih baru yang sering disamakan dengan Teologi Pembebasan dan juga sudah mulai digunakan di dalam Teologi Praktika (ketika Bevans menulis buku ini?). Model ini adalah suatu cara berteologi yang secara intensif dibentuk oleh pengetahuan. Hal ini dapat dilihat terlebih melalui aksi yang bersifat reflektif. Model ini juga menyangkut pengenalan akan makna dan pemberian sumbangsih bagi perubahan sosial. Dengan demikian, model ini tidak mendapatkan inspirasi dari teks-teks klasik atau pedoman tingkah laku klasik, tetapi dari realitas-realitas masa kini dan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Model praksis ini dapat dilihat contohnya dalam tradisi Kristen seperti dalam tradisi para nabi yang tidak hanya menekankan pada kata-kata, tetapi juga pada tindakan (bdk. Yesaya, Amos), ajaran di dalam Perjanjian Baru tentang perlunya menjadi orang yang tidak hanya menjadi pendengar tetapi juga menjadi pelaku firman (bdk. Yak 1:22), serta kaitan erat antara tingkah laku etis dan pemikiran teologis seperti yang dikemukakan oleh Justo Gonzales tentang Irenius dari Lyon, karena teologinya terlahir dari praktik pastoralnya sebagai seorang uskup dan pastor, maka perhatian menyangkut praksis memiliki akar dalam karya Irenius dari Lyon.

2 GARIS BESAR MODEL PRAKSIS Terminologi


Kita sering salah menggunakan kata praksis sebagai alternatif dari kata praktik atau aksi. Praksis sebenarnya merupakan sebuah istilah teknis yang akarnya dapat kita temukan dalam Marxisme, dalam mazhab Frankfurt, dan dalam filsafat pendidikan Paulo Freire. Secara umum, praksis menunjuk kepada sebuah cara berpikir. Secara khusus, praksis menunjuk kepada sebuah metode atau model teologi. Untuk memahami gagasan tentang praksis, kita perlu mengetahui dua momen modernitas. Momen pertama modernitas ditandai dengan pemikiran Descartes dan Kant. Momen ini memperkenalkan ide tentang rasionalitas dan tanggung jawab subyektif. Revolusi pemikiran pada momen ini terletak pada pemalingan kepada subyek. Tidak ada satu pun yang bisa disebut iman yang sejati atau moralitas yang benar kalau bukan menjadi milik kita sendiri; dan dengan demikian otoritas dari luar, pada prinsipnya, tidak memiliki dasar yang kokoh, dan penilaian individual bukan melulu sebuah hak melainkan kewajiban. Setelah terjadinya revolusi pemikiran tersebut, teologi dianggap tidak bisa hanya menggunakan otoritas tertentu supaya dapat menjadi sesuatu yang diyakini oleh dunia. Dengan demikian yang penting bagi kelangsungan teologi bukanlah melanjutkan kebiasaannya mengutip teks-teks, entah dari Kitab Suci, dari ajaran gereja, atau dari teolog terkenal. Yang menjadi penting adalah menemukan apa yang sesungguhnya dipercayai gereja, mengapa gereja memercayainya dan apakah kepercayaan itu masih diperlukan. Lalu pada tahap selanjutnya teologi berupaya menelusuri makna dari apa yang harus dipercayai itu. Momen kedua ditandai dengan munculnya Karl Marx. Karl Marx menyatakan bahwa rasionalitas atau pengetahuan intelektual tidaklah cukup untuk membentuk pengetahuan yang sejati. Bahkan pengetahuan yang diperoleh secara pribadi, walaupun jauh lebih baik daripada sekadar percaya otoritas seseorang, tidaklah memadai. Yang terbaik menurut Marx adalah ketika nalar kita disertai dengan dan ditantang oleh tindakan kita, yaitu ketika kita tidak hanya menjadi obyek proses sejarah, tetapi menjadi subyek dari proses sejarah. Hal ini mungkin dapat disimpulkan menggunakan kalimat yang merupakan kritik Marx terhadap Feurbach: para filsuf hanya menafsir dunia dalam rupa-rupa cara; pada persoalannya ialah mengubah dunia. Dengan cara

3
berpikir seperti ini, teologi menjadi lebih dari sekadar berpikir dengan jelas dan bermakna. Teologi menjadi sebuah cara untuk merumuskan iman seseorang yang muncul melalui komitmen-komitmennya sebagai orang Kristen terhadap sebuah cara tertentu dalam melakukan aksi serta sebuah cara untuk menentukan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan di masa depan dengan lebih bijaksana dan lebih sarat pengabdian. Orang-orang Amerika Latin menggunakan pemahaman teologi semacam ini, di mana teologi mengalami pemenuhan bukan melalui pemikiran yang benar (ortho-doxy) saja, tetapi terutama melalui tindakan yang benar (ortho-praxy). Dalam hubungannya dengan teologi kontekstual, model ini berarti merupakan sebuah cara berteologi yang dilakukan bukan melulu dengan menyediakan ungkapan-ungkapan yang relevan bagi iman Kristen, melainkan terutama oleh komitmen kepada tindakan Kristen. Lebih dari itu, teologi juga dipahami sebagai produk dari dialog berkesinambungan dari kedua hal tersebut. Cara kerja model ini terletak pada keyakinan bahwa kebenaran terdapat di dalam tataran sejarah, bukan dalam dunia ide-ide. Ciri model ini, mengacu kepada penggunaannya oleh Paolo Freire, terletak pada praksis yang merupakan aksi dengan refleksi. Freire mengadakan refleksi atas aksi dan mengadakan aksi atas refleksi keduanya berputar menjadi satu. Model ini sering disebut dengan model pembebasan karena model ini dikembangkan dengan baik oleh para teolog pembebasan. Selain itu sering disebut demikian karena teolog pembebasan memang menekankan aksi Kristen sebagai salah satu komponen utama teologi mereka. Walaupun demikian, Bevans memilih tetap menyebut model ini sebagai model praksis karena dua alasan. Pertama, model seperti ini tidak harus mengangkat tema-tema tentang pembebasan karena model ini juga dapat diterapkan pada sebuah konteks sosial yang di dalamnya ketidakadilan struktural tidak merajalela. Kedua, istilah praksis menjadi sesuatu yang khas dalam model ini karena model ini berfokus pada metode tertentu, bukan pada tema tertentu. Dalam Teologi Pembebasan, dampak yang revolusioner justru berasal dari metode refleksi kritis atas praksis.

Asumsi-asumsi Model Praksis


Asumsi kunci dari model ini ialah tingkatan pengetahuan tertinggi dicapai melalui tindakan secara benar dan bertanggungjawab. Kalau teologi secara tradisional dapat dijelaskan sebagai proses iman mencari pemahaman (faith

4
seeking understanding), teologi dengan model praksis ini dapat dijelaskan sebagai proses iman mencari tindakan yang benar (faith seeking intelligent action). Para praktisi teologi dengan model ini pertama-tama bertindak dan kemudian membuat refleksi atas tindakan tersebut sebagai cara untuk mengembangkan suatu teologi yang benar-benar relevan untuk sebuah konteks tertentu. Teologi seperti ini tidak disusun dalam bentuk yang konkret, permanen dan dicetak, tetapi dalam arti sebuah aktivitas, sebuah proses, sebuah cara hidup. Berbeda dengan kedua model sebelumnya, model praksis tidak selalu melihat kebudayaan sebagai kumpulan nilai manusia dan cara bertingkah laku, tetapi lebih kepada apa yang ada dibalik itu semua. Kebudayaan yang dimaksud lebih dari kebiasaan-kebiasan tradisional, nilai-nilai dan ungkapan bahasa. Sistem-sistem politik dan ekonomi adalah juga bagian dari kebudayaan. Karena kebudayaan merupakan sebuah produk manusia, maka seorang teolog praksis melihat eksistensi kultural sebagai sesuatu yang secara mendasar bersifat baik. Namun konteks itu dapat dinodai, dan membutuhkan penyembuhan. Salah satu asumsi kunci dalam model praksis adalah gagasan mengenai pewahyuan Allah. Kalau model terminologi melihat pewahyuan itu berupa pewartaan yang bersifat tidak berubah, dan model antropologi melihat pewahyuan sebagai perjumpaan seseorang atau komunitas dengan kehadiran Yang Ilahi, maka model praksis memandang pewahyuan sebagai kehadiran Allah di dalam sejarah, dalam kehidupan setiap hari, dalam struktur-struktur sosial dan ekonomi, dan dalam pengalaman kaum miskin yang tertindas. Kehadiran Allah juga menjadi suatu undangan yang mengajak manusia beriman untuk menemukan Allah dan bekerja sama dengan-Nya dalam karya Allah yang menyembuhkan, mendamaikan dan membebaskan.

Gambar model praksis:

Para teolog praksis menandaskan bahwa aksi dalam komitmen merupakan hal pertama, namun sebenarnya kita dapat memulai dari mana saja. Namun idealnya aksi dalam komitmen merupakan langkah pertama. Setelah tahap pertama, kita masuk ke tahap kedua, yaitu terbentuknya sebuah teori berdasarkan (1) analisis atas aksi kita dan konteks di mana kita melakukan aksi dan berdasarkan (2) pembacaan kembali Kitab Suci dan tradisi Kristen. Kemudian langkah ketiga dilakukan setelah kita menemukan sebuah teori yang didasarkan pada aksi nyata dan refleksi kritis, yaitu aksi yang diperbarui, yang berdasarkan Kitab Suci dan lebih berdasarkan dalam realitas kontekstual. Langkah ketiga ini merupakan langkah pertama untuk lingkaran berikutnya, sebuah lingkaran yang kini telah berbentuk spiral. Perubahan yang terjadi atau dihasilkan tanpa henti dalam realitasnya mewajibkan perubahan yang berkesinambungan dalam penafsiran kita akan Kitab Suci dan ajaran gereja. Model praksis ini berkelanjutan dan tidak ada akhirnya.

Tinjauan Atas Model Praksis


Kekuatan utama model praksis ialah metode serta epistomologi yang mendasarinya. Sebagai suatu metode teologi, model praksis harus dikaitkan atau dihubungkan dengan sebuah konteks khusus. Model praksis memberi ruang yang luas bagi pengungkapan-pengungkapan personal maupun komunal, pengungkapan budaya atas iman, dan pengungkapan iman dari perspektif lokasi sosial. Model praksis mengangkat sesuatu yang nyata dengan melihat situasi dan konteks dalam suatu tempat, ini karena dilihat bahwa teologi bukan suatu produk yang diterapkan dan diberlakukan untuk segala waktu dan tempat, melainkan sebagai suatu pemahaman tentang pergumulan dan kehadiran Allah di dalam situasi-situasi yang sangat khusus. Model praksis pun menawarkan

6
pembenahan kepada suatu teologi yang terlalu umum dan berlagak mau berlaku secara universal.

CONTOH-CONTOH MODEL PRAKSIS


Pada dasarnya sulit untuk menggambarkan contoh yang tepat dan asli dari model ini, satu contoh model ini adalah menyangkut salah seorang teolog pembebasan Leonardo Boff. Boff menyadari betapa penting praksis dalam pergumulan teologis, namun dia tidak secara gamblang menggunakan metode praksis dalam karyanya. Namun Boff, dalam sebuah karya tulisnya membuat refleksi atas pengalaman konkret menyangkut jemaat-jemaat di gereja. Gereja tersebut menjalankan tugas gereja dan menciptakan eklesiologi. Boff merupakan teolog yang menggunakan model ini namun tidak memakainya sepanjang waktu.

Douglas John Hall


Douglas Hall adalah seorang pendeta Gereja Persekutuan Kanada dan mahaguru emeritus bidang teologi Kristen di universitas McGill di Montreal. Model praksis adalah model yang sangat ampuh dan merupakan cara terbaru dalam berteologi kontekstual karena model ini memberi penekanan kepada identitas orang kristen di dalam sebuah konteks perubahan sosial di sebuah tempat. Di dalam sebuah tulisan bukunya ia berupaya memaparkan sebuah teologi yang bersifat pribumi menyangkut pengalaman Amerika utara sebagai masyarakat teknologis yang paling riil sampai saat ini, yaitu dengan menggunakan sebuah jalan menuju teologi yaitu konstruksi atas satu teologi praktis, yang bisa menjadi sarat makna hanya apabila ia diwujudkan dan dileburkan ke dalam berbagai struktur serta program nyata gereja. Atau dengan kata lain teologi-teologi yang bersangkutan baru menjadi riil hanya apabila ia dipraktekkan dalam kehidupan kristiani oleh sebuah gereja yang mampu memiliki sikap terhadap segala yang ada. Hal ini tentunya berkaitan dengan upaya pengembangan teologi dari suatu negara, seperti dalam buku ini dicontohkan mengenai teologi Amerika yang berasal dari Eropa tentunya membutuhkan suatu pengkontekstualisasian. Dalam hal ini, Amerika Utara perlu mengembangkan teologinya sendiri dan dimulai dengan merefleksikan beberapa praktik aktual yang dibuat dalam kekristenan Kanada dan Amerika Serikat. Model berteologi semacam ini sangat berbeda dari pola berteologi secara konvensional. Sebuah contoh dalam hal kepelayanan, praksis berarti bahwa

7
refleksi kita atas makna teologi kepelayanan mengandaikan bukan penarikan diri dari praktik pelayanan itu melainkan refleksi kritis atas praktik historis. Praktik pelayanan atau yang merupakan sebuah tradisi kepelayanan dilihat Hall sebagai hal yang secara khusus patut direfleksikan dalam sebuah bingkai praksis oleh para teolog Amerika Utara. Karena, menurut Hall, hal ini bukan sekadar mengembangkan sebuah teologi kepelayanan dan kemudian menerapkannya pada konteks Amerika Utara melainkan sebaliknya para teolog perlu untuk merefleksikan ihwal kepengurusan itu sebagaimana ia dipraktikan dalam terang tafsir ulang kitab suci dan tradisi gereja untuk selanjutnya memunculkan sebuah teologi kontekstual yang sepadan.

Virgina Fabella, Teolog Feminis di Asia


Dalam tulisan ini, Bevans menjadikan Virginia Fabella dari Filipina menjadi salah satu contoh dari teolog feminis Asia yang menggunakan model praksis. Fabella menyunting beberapa buku, di antaranya: With Passion and Compassion, Inheriting Our Mothers Gardens: Feminist Theology in Third World Perspective, dan We Dare to Dream: Doing Theology as Asian Women. Bevans menyatakan bahwa buku-buku yang disunting oleh Fabella itu berisi beberapa contoh model praksis dan juga memperlihatkan bagaimana model praksis ini bekerja dalam konteks yang tidak bertalian secara langsung dengan tindakan pembebasan yang sering menjadi muara dari model praksis. Fabella dalam tulisannya berjudul Christology from an Asian Womans Perspectivemenyatakan bahwa kristologi tidak akan memiliki relevansinya di Asia bila kita tidak memberi perhatian khusus kepada pengalaman kaum perempuan, kepada pembebasan para perempuan Asia dari situasi penindasan, pelecehan dan dominasi laki-laki dalam kebudayaan-kebudayaan Asia yang sangat partriarkat. Fabella mengambil posisi kesetiakawanan terhadap kaum miskin Asia, dan khususnya dengan kaum miskin perempuan Asia.