Anda di halaman 1dari 31

DAFTAR PUSTAKA Halaman judul ................................................................................................................. i Kata Pengantar ................................................................................................................ ii Daftar Isi ......................................................................................................................... iii BAB I. PENDAHULUAN .....................................................................................................

3 A. Latar Belakang ..................................................................................................... 3 B. Tujuan ................................................................................................................ 4 1. Tujuan Umum ............................................................................................... 4 2. Tujuan Khusus ............................................................................................... 4 BAB II. TINJAUAN TEORITIS .............................................................................................. 5 A. B. C. D. E. F. G. Definisi Bronkhitis Kronis .................................................................................... 5 Etiologi ................................................................................................................ 5 Patofisiologi ........................................................................................................ 6 Manifistasi Klinis ................................................................................................. 7 Komplikasi .......................................................................................................... 7 Penatalaksanaan ................................................................................................. 8 Pemeriksaan Penunjang ...................................................................................... 9

BAB III. TINJAUAN TEORITIS ASKEP BRONKHITIS KRONIS A. B. C. D. E. Pengkajian ....................................................................................................................... 10 Perumusan Diagnosa ....................................................................................................... 15 Intervensi ........................................................................................................................ 17 Implementasi .................................................................................................................. 23 Evaluasi ........................................................................................................................... 24

BAB IV. PENUTUP A. Kesimpulan ..................................................................................................................... 28 B. Saran ............................................................................................................................... 28 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................ 29

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Askep Bronkhitis Kronis yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini memuat tentang Bronkhitis Kronis yang berisikan tentang, Definisi, Etiologi, Patofisiologi, Manifiestasi Klinis, Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen KMB yang telah membimbing penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Pekanbaru, 21 Desember 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Paru-paru merupakan alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembunggelembung. Di sinilah tempat terjadinya pertukaran gas, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Bronkus merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra thorakalis IV dan V. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek daripada bronkus kiri, terdiri dari 6 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri terdiri dari 9 12 cincin dan mempunyai 2 cabang. Cabang bronkus yang lebih kecil dinamakan bronkiolus, disini terdapat cincin dan terdapat gelembung paru yang disebut alveolli. Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ), sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien, dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ). Dinegara barat, kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1,3% diantara populasi. Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik.

B. Tujuan

1.

Tujuan umum Agar mahasiswa/ mahasiswi dapat mengetahui tentang Asuhan Keperawatan pada penyakit Bronkhitis Kronis.

2. Tujuan Khusus Mahasiswa dapat menyebutkan pengertian, penyebab, patofisiologi, manisfiestasi klinis, penatalaksanaan medis dan perawat, pemeriksaan penunjang, serta ASKEP pada Bronkhitis Kronis.

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Bronkhitis adalah hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis berulang-ulang minimal selama 3 bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain (Perawatan Medikal Bedah 2, 1998, hal : 490). Bronkitis kronis didefinisikan sebagai adanya batuk produktif yang berlangsung 3 bulan dalam satu tahun selama 2 tahun berturut-turut. (Bruner & Suddarth, 2002). Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari luar bronchus maupun dari bronchus itu sendiri, merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus trakeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut. B. Etiologi Terdapat tiga jenis penyebab bronkhitis , yaitu: a. Infeksi: Staphylococcus (stafilokokus), Streptococcus (streptokokus), Pneumococcus (pneumokokus), Haemophilus influenzae b. Alergi c. Rangsangan lingkungan, misal: asap pabrik, asap mobil, asap rokok, dll. Bronkhitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik pada beberapa alat tubuh, yaitu: a. Penyakit jantung menahun, yang disebabkan oleh kelainan patologik pada katup maupun miokardia. Kongesti menahun pada dinding bronkhus melemahkan daya tahan sehingga infeksi bakteri mudah terjadi

b. Infeksi sinus paranasalis dan rongga mulut, area infeksi merupakan cumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronkhus. c. Dilatasi bronkhus (bronkInektasi), menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronkhus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. d. Rokok dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronkhus sehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.

C. Patofisiologi Dokter akan mendiagnosis bronkhitis kronis jika pasien mengalami batuk atau mengalami produksi sputum selama kurang lebih tiga bulan dalam satu tahun atau paling sedikit dalam dua tahun berturut-turut. Serangan bronkhitis disebabkan karena tubuh terpapar agen infeksi maupun non infeksi (terutama rokok). Iritan (zat yang menyebabkan iritasi) akan menyebabkan timbulnya respons inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi, kongesti, edema mukosa, dan bronkospasme. Tidak seperti emfisema, bronkhitis lebih memengaruhi jalan napas kecil dan besar dibandingkan alveoli. Dalam keadaan bronkhitis, aliran udara masih memungkinkan tidak mengalami hambatan. Pasien dengan bronkhitis kronis akan mengalami: a. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronkhus besar sehingga meningkatkan produksi mukus. b. Mukus lebih kental c. Kerusakan fungsi siliari yang dapat menunjukkan mekanisme pembersihan mukus. Bronkhitis kronis mula-mula hanya memengaruhi bronkhus besar, namun lambat laun akan memengaruhi seluruh saluran napas. Mukus yang kental dan pembesaran bronkhus akan mengobstruksi jalan napas terutama selama ekspirasi. Jalan napas selanjutnya mengalami kolaps dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolus, hipoksia, dan acidosis. Pasien mengalami kekurangan 02, iaringan dan ratio ventilasi perfusi abnormal timbul, di mana terjadi penurunan PO2 Kerusakan ventilasi juga dapat

meningkatkan nilai PCO,sehingga pasien terlihat sianosis. Sebagai kompensasi dari hipoksemia, maka terjadi polisitemia (produksi eritrosit berlebihan).

D. Tanda dan Gejala Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit, lokasi kelainannya, dan ada tidaknya komplikasi lanjut. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum, adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat, dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan. Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala : Keluhan-keluhan: 1.Batuk Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis, jumlah seputum bervariasi, umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid, sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen, dapat memberikan bau yang tidak sedap. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob, akan menimbulkan sputum sangat berbau, pada kasus yang sudah berat, misalnya pada saccular type bronchitis, sputum jumlahnya banyak sekali, puruen, dan apabila ditampung beberapa lama, tampak terpisah menjadi 3 bagian 1. Lapisan teratas agak keruh 2. Lapisan tengah jernih, terdiri atas saliva ( ludah ) 3. Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ). 2.Haemaptoe Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis, kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah ( pecah ) dan timbul perdarahan. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan ( streaks of blood ) sampai perdarahan yang cukup banyak ( massif ) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat

hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis ( daerah berasal dari peredaran darah sistemik ) Pada dry bronchitis ( bronchitis kering ), haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru, drainasenya baik, sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk., pasien tanpa batuk atau batukya minimal. Pada tuberculosis paru, bronchitis ( sekunder ) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe. C. Sesak nafas ( dispnue ) Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ), yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ), akibat adanya obstruksi bronkus. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya. d. Demam berulang Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik, sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru, sehingga sering timbul demam (demam berulang) e. Kelainan fisis Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis, jari tubuh, manifestasi klinis komplikasi bronchitis. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tanda-tanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat, dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus.

E. Penatalaksanaan Pengobatan utama ditujukan untuk mencegah, mengontrol infeksi, dan meningkatkan drainase bronkhial menjadi jernih. Pengobatan yang diberikan adalah sebagai berikut: a. Antimicrobial b. Postural drainase c. Bronchodilator d. Aerosolized Nebulizer e. Surgical Intervention

F. Pemeriksaan Diagnostik y Pemeriksaan radiologis Tubular shadow atau traun lines terlihat bayangan garis yang paralel, keluar dari hilus menuju apeks paru. bayangan tersebut adalah bayangan bronchus yang menebal. Corak paru bertambah y Analisa gas darah - Pa O2 : rendah (normal 80 100 mmHg) - Pa CO2 : tinggi (normal 36 44 mmHg). - Saturasi hemoglobin menurun. - Eritropoesis bertambah.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN


3.1 Pengkajian a. Identitas Nama : Umur : usia 45-65 thn Kelamin : pada penelitian ditemukan kebanyakan pada laki-laki Pendidikan : Pekerjaan : Alamat : Penanggung : b. Keluhan Utama : Batuk c. Riwayat Penyakit Sekarang : batuk disertai dengan produksi sputum, sering terjadi pada pagi hari dan dalam jangka waktu yang lama d. Riwayat Penyakit Dahulu :pada pengkajian riwayat penyakit dahulu ditemukan adanya batuk yang berlangsung lama (3 bulan atau lebih) e. Riwayat Penyakit Keluarga : penelitian terakhir didapatkan bahwa anak dari orang tua perokok dapat menderita penyakit pernapasan lebih sering dan lebih berat serta prevalensi terhadap gangguan pernapasan kronik lebih tinggi. Selain itu, klien yang tidak merokok tetapi

10

tinggal dengan perokok (perokok pasif) mengalami peningkatan kadar karbon monoksida darah. Dari

keterangan tersebut untuk penyakit familial dalam hal ini bronchitis kronik berkaitan dengan polusi udara rumah, dan bukan penyakit yang diturunkan 3.2. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan Umum : lemah, sianosis Kesadaran : composmetis TD : 90/60 mmHg ND : 100 x/mnt RR : 22 x/mnt TB : 170 cm BB : 50 kg b. Sistem Kardiovaskuler : y Irama Jantunng : reguler y Nyeri Dada : tidak ada y peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat. y Distensi vena leher. y Bunyi jantung redup. c. Sistem Pernapasan : y Pola Napas : tidak teratur y Jenis : Dispnea y Batuk (+) y Suara Nafas tambahan : Ronchi, Wheezing ( akibat obstruksi bronkus) y Haemaptoe
11

y Sputum (+) y Sianosis y Terdapat penggunaan otot bantu pernapasan y Barrel chest d. Sistem Muskuloskeletal dan Intergumen : y Kelemahan umum/kehilangan massa otot. y Edema y Akral hangat e. Sistem Genetourinaria : y BAK : 4x/hari y Urine output : 700cc/hr y Warna : kuning f. Sistem Pencernaan : y Mual/muntah. y Nafsu makan buruk/anoreksia y Ketidakmampuan untuk makan y Penurunan berat badan g. Sistem Neurosensori : y Gelisah, insomnia. h. Sistem Pengindraan : y Panciuman terganggu akibat adanya secret y Pada system pengindraan yang lainya tidak ada gangguan i. Sistem Endokrin :

12

3.3 Pemeriksaan Penunjang y Analisa gas darah - Pa O2 : rendah (normal 80 100 mmHg) - Pa CO2 : tinggi (normal 36 44 mmHg). - Saturasi hemoglobin menurun. - Eritropoesis bertambah
3.4 analisa data

Pengelompokan Data

Etiologi

Masalah kep

Ds:

pasien

mengatakan

Reaksi alergen dan anti bodi

hidungnya tersumbat Do: Suara Nafas tambahan : Ronchi, akibat bronkus) Sputum (+) (histamine,brodikinin,anafi latoxin) Wheezing ( substance

Ketidakefektifan bersihan jalan napas

Release vasactive

obstruksi

Permeabilitas kapiler

Kontraksi otot polos Edema mukosa

Hipersekresi mukus

13

Obstruksi saluran nafas Hipoventilasi

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

Ds

pasien

mengatakan

Pencetus serangan Alergen,emosi/stress

Gangguan pertukaran gas

sesak napas Do : - Pola Napas tidak teratur - Dispnea - Edema - Terdapat penggunaan otot bantu pernapasan Konstriksi otot polos - Sianosis - Pa O2 : rendah (normal 80 100 mmHg) - Pa CO2 : tinggi (normal 36 44 mmHg). - Saturasi hemoglobin menurun. - Eritropoesis bertambah.
14

Reaksi alergen dan anti bodi Release vasactive substance

(histamine,brodikinin,anafilatoxin)

Bronchospasme

Obstruksi saluran nafas Gangguan Pertukaran Gas

Do

: pasien mengatakan tidak nafsu makan

Reaksi alergen dan anti bodi Release vasactive substance

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

Ds : - Mual/muntah. - Nafsu makan buruk/anoreksia - Ketidakmampuan untuk makan Sekresi mucus - Penurunan berat badan Produksi Sputum Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

(histamine,brodikinin,a nafilatoxin)

3.5 Diagnosa Keperawatan 1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi sekret 2. Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi-ventilasi 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnea, anoreksia, mual muntah

15

3.6 Indikator Table Noc: Ketidakefektifan bersihan jalan napas Ketidakefektifan bersihan jalan napas klien dapat adekuat dalam waktuX24 Jam
INDIKATOR Suara Nafas (vesicular) Secret (-) RR: 16-24x/menit

3
 

3.5 Diagnosa Keperawatan 1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi sekret 2. Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi-ventilasi 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnea, anoreksia, mual muntah 3.6 Indikator Table Noc: Ketidakefektifan bersihan jalan napas Ketidakefektifan bersihan jalan napas klien dapat adekuat dalam waktuX24 Jam
INDIKATOR pCO3 (36-44 mmHg) pO2 (80-100 mmHg) Sianosis Hemoglobin   

3


Table Noc : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan klien adekuat dalam waktu .X 24 jam
16

INDIKATOR Makan (3x sehari) Minum (8 gelas/hari) Mual BB ideal

4


 

3.7 Intervensi No Diagnosa Keperawatan Intervensi

Tujuan dan Kriteria Hasil

Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi sekret

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24

Pengkajian 1. Auskultasi bunyi nafas 2. Kaji/pantau frekuensi

jam pernafasan.

ketidakefektifan jalan 3. Observasi karakteristik batuk nafas teratasi bersihan KH : HE Suara 4. nafas(vesicular ): nilai 3 - Secret (-):nilai informasikan pasien bahwa dan kepada keluarga merokok

merupakan kegiatan yang dilarang didalam ruang


17

3 RR: 16-

perawatan 5. intruksikan kepada pasien tentang batuk dan teknik napas dalam untuk keluarnya

24x/menit:nilai 4

memudahkan sekresi Kolaborasi 6. Berikan

obat

sesuai

indikasi : bronkodilator, Xantin, Kromolin, Steroid oral/IV dan inhalasi,

antimikrobial, analgesik 7.Berikan humidifikasi

tambahan(nebulizer) Aktivitas Lain 8. Pertahankan polusi

lingkungan minimum

Gangguan pertukaran gas behubungan dengan ketidakseimbangan perfusi-ventilasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan

Pengkajian 1. Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan.

selama 3x24 jam 2. Auskultasi bunyi nafas gangguan pertukaran gas 3. Awasi tanda vital dan irama jantung dan Awasi
18

teratasi KH : - pCO3 (3) - pO2 (3) - sianosis (3) HE

GDA

4. Ajarkan pasien pernafasan diafragmatik pernafasan bibir dan

- Hemoglobin (3) 5. Jelaskan kepada pasien dan keluarga alasan pemberian oksigen dan tindakan lainnya. Kolaborasi 6. Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA 7. Berikan obat yang

diresepkan(misalnya:natr ium bikaronat) Aktivitas Lain 8 Jelaskan kepada pasien sebelum pelaksanaan prosedur,untuk menurunkan ansietas dan meningkatkan kendali. 9. Lakukan hygiene
19

memulai

rasa

mulut secara teratur.

Perubahan nutrisi Setelah kurang dari dilakukan kebutuhan Berhubungan tindakan keperawatan

Pengkajian 1. Tentukan motivasi pasien untuk mengubah

kebiasaan makan. dengan hilangnya selama 4x24 jam nafsu makan 2. Kaji kebiasaan perubahan nutrisi dari kurang kebutuhan diet,masuakan Catat derajat saat ini kesulitan berat

teratasi KH :

makan.Evaluasi

badan dan ukuran tubuh. HE - Makan (3x/hr) 3. Ajarkan pasien/keluarga (4) tentang makanan yang Minum gls/hr) (4) - Mual (4) - BB ideal (2) (8 bergizi dan tidak mahal. 4. Ajarkan metode untuk perencanaan makan. Aktivitas Kolaboratif 5. Konsul ahli gizi/nutrisi pendukung memberikan yang dicerna,secara seimbang,misalnya nutrisi tambahan tim untuk

makanan mudah nutrisi

oral/selang,nutrisi parenteral total agar

20

asupan yang kalori yang adekuat dipertahankan. 6. Berikan oksigen tambahan selama indikasi. Aktivitas lain 7. Hindari penghasil makanan gas dan makan sesuai dapat

minuman karbonat 8. Timbang berat badan sesuai indikasi

21

D. Implementasi TGL/JAM No Diagnosa 08.00 08.15 1 Implementasi Mengauskultasi bunyi nafas Memberikan obat sesuai indikasi : Paraf

bronkodilator, Xantin, Kromolin, Steroid oral/IV analgesic 08.30 08.45 Mengkaji/pantau frekuensi pernafasan. Mengobservasi karakteristik batuk Memberikan humidifikasi 09.00 09.15 tambahan(nebulizer) Mempertahankan minimum Tgl/jam 09.20 No Diagnosa 2 Mengkaji pernafasan. 09.30 mengawasi tanda vital dan irama jantung dan Awasi GDA 09.45 10.00 Mengauskultasi bunyi nafas Menjelaskan kepada pasien dan keluarga alasan pemberian oksigen dan tindakan lainnya. 10.10 Memberikan obat yang Implementasi frekuensi, kedalaman Paraf polusi lingkungan dan inhalasi, antimikrobial,

diresepkan(misalnya:natrium bikaronat) 10.20 Melakuka hygiene mulut secara teratur.

22

10.35

Mengajar pasien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir

10.40

Memberikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA

09.10

Menjelaskan memulai

kepada pelaksanaan

pasien

sebelum

prosedur,untuk

menurunkan ansietas dan meningkatkan rasa kendali. Tgl/jam 10.45 3 No Diagnosa Menentukan Implementasi motivasi pasien untuk Paraf

mengubah kebiasaan makan. 11.00 Mengajarkan pasien/keluarga tentang

makanan yang bergizi dan tidak mahal. 12.00 Konsultasi ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk memberikan makanan yang mudah dicerna,secara nutrisi nutrisi seimbang,misalnya oral/selang,nutrisi

tambahan

parenteral total agar asupan yang kalori yang adekuatapat dipertahankan. 12.15 Menghindarkan makanan penghasil gas dan minuman karbonat 10.47 Mengkaji kebiasaan diet,masuakan saat ini.Catat derajat kesulitan makan.Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh. 13.00 Mengajarkan metode untuk perencanaan makan. 13.15 Menimbang berat badan sesuai indikasi

23

E. Evaluasi Masalah Keperawatan yang timbul Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan 08.00 O: Suara Nafas Ronchi 12.00 Secret (+) RR: 25x/mnt A:Ketidakefektifan bersihan jalan napas P:Intervensi 1,2,5,6,7 dilanjutkan I : 1. Auskultasi bunyi nafas : Ronchi (2) 2. Kaji/pantau frekuensi pernafasan: RR : 25x/mnt (2) 3. intruksikan kepada pasien tentang batuk dan teknik napas dalam untuk sekresi 4. Berikan obat sesuai indikasi : bronkodilator, Xantin, Kromolin, Steroid oral/IV dan inhalasi, memudahkan keluarnya 07.30 S: pasien mengatakan hidungnya masih tersumbat Tgl/jam Catatan Perkembangan Paraf

produksi sekret

antimikrobial, analgesic 5. Berikan tambahan(nebulizer) humidifikasi

24

E : Suara napas : Ronchi RR : 25x/mnt Pasien dapat mendemonstrasikan cara batuk efektif dan napas dalam R : ketidakefektifan bersihan jalan napas belum teratasi, intervensi dilanjutkan Masalah Keperawatan yang timbul Gangguan pertukaran 07.30 gas b.d 08.00 12.00 O: pCO3 46 mmHg pO2 : 75 mmHg Sianosis (+) A: Gangguan pertukaran gas P:Intervensi 2,3,6 dilanjutkan I : 1. Auskultasi bunyi nafas : wheezing 2. Awasi tanda vital dan irama jantung dan Awasi GDA 3. Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA E : Suara Napas : Wheezing S: pasien masih merasakan sesak napas Tgl/jam Catatan Perkembangan Paraf

ketidakseimbangan perfusi-ventilasi

25

pCO3 : 45 mmHg pO2 : 76 mmHg Sianosis (+) R : gangguan pertukaran gas belum teratasi, intervensi dilanjutkan Masalah Keperawatan yang timbul Perubahan kurang kebutuhan berhubungan dengan dispnea, anoreksia, nutrisi 07.30 dari 08.00 O: mual, muntah (+) 12.30 BB : 50kg Makan (1x/hr) Minum (4x/hr) A: Perubahan nutrisi kurang dari S: pasien mengatakan masih tidak nafsu makan Tgl/jam Catatan Perkembangan Paraf

mual muntah.

kebutuhan P:Intervensi 2,3,5,8 dilanjutkan I : 1. Kaji kebiasaan diet,masuakan saat ini Catat derajat kesulitan

makan.Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh. 2. Ajarkan pasien/keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal.
26

3. Konsul ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk memberikan makanan yang mudah dicerna,secara nutrisi seimbang,misalnya nutrisi tambahan oral/selang,nutrisi parenteral total agar asupan yang kalori yang

adekuat dapat dipertahankan. 8. Timbang berat badan sesuai indikasi E : makan (2x/hr) Minum (6x/hr) Mual, muntah (+) BB : 50 kg Keluarga dapat menjelaskan kembali tentang macam-macam makanan yang bergizi dan tidak mahal R : perubahan nutrisi kurang dari

kebutuhan belum teratasi, intervensi dilanjutkan

27

BAB IV PENUTUP

a. Kesimpulan
Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien, dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ). Terdapat tiga jenis penyebab bronkhitis , yaitu: a. Infeksi: Staphylococcus (stafilokokus), Streptococcus (streptokokus), Pneumococcus (pneumokokus), Haemophilus influenzae b. Alergi c. Rangsangan lingkungan, misal: asap pabrik, asap mobil, asap rokok, dll.

b. Saran Dari makalah ini maka dapat di ambil saran bahwa upaya pencegahan bronchitis kronis adalah hindari merokok, hindari polusi udara, debu, berbagai bahan kimia industry.

28

DAFTAR PUSTAKA

y y y y

PDT Ilmu Penyakit Paru FK Unair, RSU Dr. Soetomo, edisi 3, 2005. Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Dalam, Lawrence M, Tierney, Jr, MD et all, 2002. Bronchitis, Jazeela Fayyaz, DO, eMedicine Specialties Pulmonology, 2009 http// www. Google.com

29

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BRONKHITIS KRONIS

OLEH :
SANTA KRISTIANI SISKA RINA SRI WAHYULI UNI JAYA WENY ARNELA YANTI SARTIKA YULIANA YULI AISA WIWIT LESPITA SARI ZAMZUHUR

AKADEMI KEPERAWATAN
30

DHARMA HUSADA PEKANBARU

31