Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Perdarahan pada kehamilan trimester ketiga pada umumnya merupakan perdarahan yang berat, dan jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat bisa mendatangkan syok dan kematian. Salah satu penyebabnya adalah plasenta previa. Plasenta previa selain menimbulkan penyulit pada ibu, dapat juga menimbulkan penyulit pada janin, yaitu asfiksia sampai kematian janin dalam rahim. Oleh sebab itu perlulah keadaan ini diantisipasi seawal-awalnya selagi perdarahan belum sampai ketahap yang membahayakan ibu dan janinnya. Chalik, 1997 . Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang, sekitar 25 50% kematian tersebut disebabkan oleh hal yang berkaitan dengan kehamilan. Tahun 1999 WHO (World Health Organization) memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil dan bersalin. Dimana 15% dari seluruh wanita hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta dapat mengancam jiwanya dan janin yang dilahirkannya. (Saifuddin dkk, 2002). Angka kematian ibu dan perinatal merupakan ukuran penting dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dalam suatu negara. Angka kematian ibu di Indonesia masih tergolong tinggi yaitu 390 per 100.000 persalinan hidup. Jika perkiraan persalinan di Indonesia sebesar 5.000.000 orang, maka akan terdapat sekitar 19.500 20.000 kematian ibu tiap tahunnya yang terjadi setiap 26 27 menit sekali. Dimana sekitar 3 10% disebabkan oleh kasus komplikasi obstetrik, seperti kasus berat pendarahan anterpartum (karena plasenta previa atau karena solusio plasenta), pendarahan postpartum, kepala janin dan ruang

1 KEPERAWATAN MATERNITAS

panggul yang tak seimbang, ruptura uteri serta malpresentasi letak janin. (Manuaba, 1998). Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta dan tidak terlampau sulit untuk menentukannya adalah plasenta previa. Plasenta previa ditemukan kira-kira dengan frekuensi 0,3 0,6% dari seluruh persalinan. Di Negara-negara berkembang berkisar antara 1 2,4%, sedangkan di RS. Cipto Mangunkusumo terjadi 37 kasus plasenta previa antara 4781 persalinan (Winkjosastro, 2005). Angka kematian ibu di Provinsi Lampung pada tahun 2006 tercatat 134 kasus per 100.000 kelahiran hidup dengan komplikasi obstetri, sedangkan di Kota Metro tercatat 8 orang per 2.768 kelahiran hidup, dimana penyebab kematian tersebut adalah perdarahan ante partum yaitu plasenta previa perdarahan post partum, KET dan infeksi. Angka kematian ini sangat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya pada tahun 2005 yaitu 2 orang per 2801 kelahiran hidup (Profil Depkes Lampung, 2006). Banyaknya faktor yang menyebabkan meningkatnya kejadian plasenta previa disebabkan oleh faktor umur penderita, faktor paritas karena pada paritas yang tinggi kejadian paritas makin besar yang mana disebabkan oleh endometrium yang belum sempat tumbuh, faktor endometrium di fundus belum siap menerima implantasi, endometrium, vaskularisasi yang kurang pada desidua, riwayat obstetri. Hal tersebut jika dibiarkan begitu saja akan mengakibatkan terjadinya komplikasi baik pada ibu maupun pada janinnya (Manuaba, 1998). Berdasarkan hasil pra survey didapatkan angka kejadian plasenta previa dari bulan Januari Desember 2007 di Rumah Sakit A. Yani Metro sebanyak 65 (7,89%) kasus dari 842 persalinan dengan persentase tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu sebanyak 12 orang yaitu 16,22 %. Angka kejadian plasenta previa cenderung mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2006 yaitu

2 KEPERAWATAN MATERNITAS

sebanyak 61 kasus dari 601 persalinan. (Rekam Medik, RSU A. Yani Metro, 2007). Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya plasenta previa maka peneliti hanya meneliti faktor paritas dan usia ibu, dengan pelayanan yang baik akan dapat menurunkan kejadian plasenta previa dan komplikasi obstetri dari uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan Antara Paritas dan Usia Ibu dengan Plasenta Previa di RSUD A. Yani Metro Tahun 2007.

1.2

Tujuan Umum dan Khusus

1.2.1

Tujuan Umum Agar Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami apa itu Plasenta Previa.

1.2.2

Tujuan Khusus Agar mahasiswa dapat memahami : 1. Pengertian Plasenta Previa 2. Etiologi 3. Gejala 4. Klasifikasi 5. Fungsi Plasenta 6. Patofisiologi 7. Komplikasi 8. Gambaran Kinik 9. Diagnosis 10. Risiko Bahaya 11. Penatalaksanaan 12. Asuhan Keperawatan Pada Ibu dengan Plasenta Previa
3

KEPERAWATAN MATERNITAS

1.3

Sistematika Penulisan KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan Umum dan khusus 1.3 Sistematika penulisan BAB II PLASENTA PREVIA 2.1 Pengertian Plasenta Previa 2.2 Etiologi 2.3 Gejala 2.4 Klasifikasi 2.5 Fungsi Plasenta 2.6 Patofisiologi 2.7 Komplikasi 2.8 Gambaran Kinik 2.9 Diagnosis 2.10 Risiko Bahaya 2.11 Penatalaksanaan 2.12 Asuhan Keperawatan Pada Ibu dengan Plasenta Previa BAB III PENUTUP 3.1Kesimpulan 3.2Saran DAFTAR PUSTAKA

4 KEPERAWATAN MATERNITAS

BAB II PLASENTA PREVIA

2.1

Anatomi Plasenta Plasenta (bahasa Jawa: ari-ari) adalah jaringan yang terbentuk di dalam rahim selama kehamilan. Plasenta berfungsi membawa makanan dan oksigen dari ibu ke janin dan membuang produk limbah dan karbon dioksida dari janin ke ibu melalui tali pusat. Plasenta biasanya terbentuk di sepanjang bagian atas rahim. Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram. Tali pusat berhubungan dengan Plasenta biasanya di tengah (insersio sentralis). Bila hubungan agak pinggir (insersio lateralis). Dan bila di pinggir Plasenta (insersio marginalis), kadangkadang tali pusat berada di luar Plasenta dan hubungan dengan Plasenta melalui janin, jika demikian disebut (insersio velmentosa). Umumnya Plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 10 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri. Meskipun ruang amnion membesar sehingga amnion tertekan ke arah korion, amnion hanya menempel saja. Umumnya di depan atau di belakang dinding uterus agak ke atas ke arah fundus uteri, plasenta sebenarnya berasal dari sebagian dari janin, di tempattempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat suatu ruang vena untuk menampu Fungsi plasenta ialah mengusahakan janin tumbuh dengan baik untuk pertumbuhan adanya zat penyalur, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu kejanin dan pembuangan CO2. ng darah yang berasal ruang interviller di atas (marginalis).

5 KEPERAWATAN MATERNITAS

2.2

Fungsi Plasenta

    

Sebagai alat yang memberi makanan pada janin. Sebagai alat yang mengeluarkan bekas metabolisme. Sebagai alat yang memberi zat asam dan mengeluarkan CO2. Sebagai alat pembentuk hormon. Sebagai alat penyalur berbagai antibodi ke janin.

2.3

Pengertian Plasenta Previa Plasenta Previa adalah sebuah komplikasi kehamilan,dimana letak/posisi plasenta berada dibawah rahim yang menutupi sebagian atau keseluruhan dari jalan lahir. Ditandai dengan adanya pendarahan dan apabila menutup jalan lahir, tidak bisa melahirkan normal. Pada kehamilan sebelum 20 minggu, ada kemungkinan posisi plasenta akan berubah.

2.4

Etiologi

Mengapa Plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus tidak selalu dapat diterangkan, bahwasanya vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atrofi pada dosidua akibat persalinan yang lampau dan dapat menyebabkan plasenta previa tidak selalu benar, karena tidak nyata dengan jelas bahwa plasenta previa didapati untuk sebagian besar pada penderita dengan paritas fungsi, memang dapat dimengerti bahwa apabila aliran darah ke plasenta tidak cukup atau diperlukan lebih banyak seperti pada kehamilan kembar. Plasenta yang letaknya normal sekalipun akan meluaskan permukaannya, sehingga mendekati atau menutupi sama sekali pembukaan jalan lahir. (Wiknjosostro, 2005).

6 KEPERAWATAN MATERNITAS

Penyebab plasenta previa tidak diketahui, tetapi risikonya meningkat pada wanita yang:   Memiliki sel telur yang melekat sangat rendah di dalam rahim. Memiliki masalah lapisan rahim (endometrium) seperti fibroid atau kondisi lain.  Memiliki parut di dinding uterus dari kehamilan sebelumnya (plasenta previa sebelumnya, kuret, operasi rahim, bedah caesar atau aborsi).  Kehamilan ganda (kembar). Kemungkinan plasenta previa dua kali lipat pada kehamilan ini.  Pernah beberapa kali hamil sebelumnya. Kemungkinan mengembangkan previa placenta meningkat menjadi 5% pada wanita yang pernah hamil 6 kali atau lebih.   Merokok atau menggunakan kokain. Berusia di atas usia 30 tahun. Risiko pengembangan plasenta previa adalah 3 kali lebih besar pada wanita di atas 30 tahun dibandingkan pada wanita di bawah 20 tahun.  Memiliki plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.

Faktor-Faktor Etiologi a. Umur dan paritas  Pada primigravida umur >35 tahun lebih sering dibandingkan umur < 25 tahun.  Pada multipara lebih sering

b. Endometrium hipoplastis: kawin dan hamil umur muda. c. Endometrium bercacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, curettage, dan manual placenta. d. Corpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi. e. Adanya tumor; mioma uteri, polip endometrium. f. Kadang-kadang pada malnutrisi.

7 KEPERAWATAN MATERNITAS

2.5

Gejala Gejala plasenta previa yang paling umum adalah perdarahan vagina yang berwarna merah muda, terutama pada trimester ketiga kehamilan. Perdarahan sedikit dan sesekali mungkin terjadi selama trimester pertama dan kedua. Pendarahan biasanya tidak disertai rasa sakit, walaupun kram rahim mungkin terjadi pada beberapa wanita. Sebagian wanita tidak mengalami perdarahan sama sekali. Perdarahan dapat terjadi bila plasenta terlepas dari dinding rahim. Pada trimester ketiga dinding rahim menjadi lebih tipis dan meregang untuk mengakomodasi janin. Plasenta yang melekat sangat rendah pada dinding rahim yang kian menipis dapat dan meregang dapat terlepas dari dinding rahim, yang menyebabkan perdarahan. Persalinan mungkin harus dipercepat melalui operasi caesar bila jumlah perdarahan banyak dan umur janin sudah mencukupi.

2.6

Klasifikasi  Plasenta Previa Totalis, apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan Plasenta. Pada posisi ini, jelas tidak mungkin bayi dilahirkan per-vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat.  Plasenta Previa Parsialis, apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan Plasenta. Pada posisi inipun risiko perdarahan masih besar, dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui per-vaginam.  Plasenta Previa Marginalis, apabila pinggir Plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan. Bisa dilahirkan per-vaginam tetapi risiko

perdarahan tetap besar.  Plasenta Letak Rendah, Plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir. Posisi plasenta beberapa mm atau cm dari tepi jalan lahir. Risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil, dan bisa dilahirkan pervaginam dengan aman, asal hat-hati.

8 KEPERAWATAN MATERNITAS

2.7

Patofisiologi Pendarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 10 minggu saat segmen bawah uterus membentuk dari mulai melebar serta menipis, umumnya terjadi pada trismester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan servik menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Pendarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal. (Mansjoer, 2002).

2.8

Komplikasi Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahan plasentitis, dan endometritis pasca persalinan. Pada janin biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasi seperti Asfiksi berat. ( Mansjoer, 2002).

9 KEPERAWATAN MATERNITAS

Menurut Prof.Dr.Sarwono Prawirohardjo.SpOG,1997,Jakarta. 1. 2. 3. Prolaps tali pusat. Prolaps plasenta. Plasenta melekat, sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan. 4. 5. 6. 7. Robekan-robekan jalan lahir karena tindakan. Perdarahan post portum. Infeksi karena perdarahan yang banyak. Bayi premature atau lahir mati.

2.9

Gambaran Kinik Pendarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu banyak dari pada sebelumnya, apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam. Sejak kehamilan 20 minggu segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat dari dinding uterus. Pada saat ini dimulai terjadi perdarahan darah berwarna merah segar. Sumber perdarahan ialah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak sebagai serabut otot uterus untuk menghentikan perdarahan kala III dengan plasenta yang letaknya normal makin rendah letak plasenta makin dini perdarahan terjadi, oleh karena itu perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai. ( Wiknjosostro, 1999 : 368 ).

10 KEPERAWATAN MATERNITAS

2.10

Diagnosis Sebagian besar kasus plasenta previa teridentifikasi dengan USG rutin selama kehamilan. USG dapat menunjukkan lokasi plasenta dan berapa banyak yang menutupi leher rahim. Meskipun USG mungkin menunjukkan plasenta terletak rendah di awal kehamilan, sebagian besar plasenta bergerak ke atas dan menjauhi leher rahim ketika rahim mengembang. Hal ini disebut migrasi plasenta, yang biasa terjadi pada diagnosis plasenta previa sampai dengan minggu ke-20 kehamilan. Anamnesis.Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri terutama pada multigravida, banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis, melainkan dari pada pemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan Luar. Bagian bawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul presentasi kepala, biasanya kepala masih terapung di atas pintu atas panggul mengelak ke samping dan sukar didorong ke dalam pintu atas panggul. Pemeriksaan In Spekulo. Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan cervik dan vagina. Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum adanya plasenta previa harus dicurigai. Penentuan Letak Plasenta Tidak Langsung. Penentuan letak plasenta secara tidak langsung dapat dilakukan radiografi, radioisotope, dan

ultrasonagrafi. Ultrasonagrafi penentuan letak plasenta dengan cara ini ternyata sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya dan tidak menimbulkan rasa nyeri. (Wiknjosostro, 2005). Pemeriksaan Ultrasonografi. Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium bila jarak tepi 5 cm disebut plasenta letak rendah.

11 KEPERAWATAN MATERNITAS

2.11

Risiko Bahaya Risiko terbesar plasenta previa adalah perdarahan. Semakin banyak plasenta yang menutupi serviks, semakin besar risiko perdarahan. Syok dan kematian ibu dapat terjadi jika perdarahan berlebihan. Risiko lainnya adalah sebagai berikut:      Memperlambat pertumbuhan janin akibat suplai darah tidak mencukupi. Kelahiran prematur. Kelahiran cacat. Infeksi dan pembentukan bekuan darah. Anemia janin.

2.12

Penatalaksanaan

A.

Penanganan Ekspektif Kriteria : o Umur kehamilan kurang dari 37 minggu. o Perdarahan sedikit. o Belum ada tanda-tanda persalinan. o Keadaan umum baik, kadar Hb 8 gr% atau lebih. Rencana Penanganan : 1. Istirahat baring mutlak. 2. Infus D 5% dan elektrolit 3. Spasmolitik. tokolitik, plasentotrofik, roboransia. 4. Periksa Hb, HCT, COT, golongan darah. 5. Pemeriksaan USG. 6. Awasi perdarahan terus-menerus, tekanan darah, nadi dan denyut jantung janin. 7. Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan

pasien ditunggu sampai kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara aktif.

12 KEPERAWATAN MATERNITAS

B.

Penanganan Aktif Kriteria Umur kehamilan >/ = 37 minggu, BB janin >/ = 2500 gram. Perdarahan banyak 500 cc atau lebih. Ada tanda-tanda persalinan. Keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis Hb < 8 gr%. Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus

pervaginum, dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi, infuse transfuse darah terpasang. Indikasi Seksio Sesarea : 1. Plasenta previa totalis. 2. Plasenta previa pada primigravida. 3. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang 4. Anak berharga dan fetal distres 5. Plasenta previa lateralis jika : Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak. Sebagian besar OUI ditutupi plasenta. Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior). 6. Profause bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat.

C.

Partus per vaginam Dilakukan pada plasenta previa marginalis atau lateralis pada multipara dan anak sudah meninggal atau prematur. 1. Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4-5 cm), ketuban dipecah (amniotomi) jika hid lemah, diberikan oksitosin drips. 2. Bila perdarahan masih terus berlangsung, dilakukan SC.

13 KEPERAWATAN MATERNITAS

3. Tindakan versi Braxton-Hicks dengan pemberat untuk menghentikan perdarahan (kompresi atau tamponade bokong dan kepala janin terhadap plasenta) hanya dilakukan pada keadaan darurat, anak masih kecil atau sudah mati, dan tidak ada fasilitas untuk melakukan operasi.

14 KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN PLASENTA PREVIA

A. PENGKAJIAN Data Subjektif A. Data umum Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya. B. Keluhan utama Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu. C. Riwayat kesehatan yang lalu D. Riwayat kehamilan - Haid terakhir - Keluhan - Imunisasi E. Riwayat keluarga - Riwayat penyakit ringan - Penyakit berat Keadaan psikososial - Dukungan keluarga - Pandangan terhadap kehamilan F. Riwayat persalinan G. Riwayat menstruasi - Haid pertama - Sirkulasi haid - Lamanya haid - Banyaknya darah haid - Nyeri - Haid terakhir

15 KEPERAWATAN MATERNITAS

H. Riwayat Perkawinan - Status perkawinan - Kawin pertama - Lama kawin

Data Objektif Pemeriksaan Fisik 1. Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil. a. Rambut dan kulit - Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra. - Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. - Laju pertumbuhan rambut berkurang. b. Wajah - Mata : pucat, anemis - Hudung - Gigi dan mulut c. Leher d. Buah dada / payudara - Peningkatan pigmentasi areola putting susu - Bertambahnya ukuran dan noduler e. Jantung dan paru - Volume darah meningkat - Peningkatan frekuensi nadi - Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal. - Terjadi hiperventilasi selama kehamilan. - Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas. - Diafragma meningga. - Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.

16 KEPERAWATAN MATERNITAS

f. Abdomen Palpasi abdomen : - Menentukan letak janin - Menentukan tinggi fundus uteri g. Vagina - Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan (tanda Chandwick) - Hipertropi epithelium h. System musculoskeletal - Persendian tulang pinggul yang mengendur - Gaya berjalan yang canggung - Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2. Khusus - Tinggi fundus uteri - Posisi dan persentasi janin - Panggul dan janin lahir - Denyut jantung janin 3. Pemeriksaan penunjang - Pemeriksaan inspekulo - Pemeriksaan radio isotopic - Ultrasonografi - Pemeriksaan dalam

B.

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko kekurangan cairan sehubungan dengan adanya perdarahan. 2. Resiko terjadi distress janin sehubungan dengan kelainan letak placenta. 3. Potensial terjadi shock hipovolemik sehubungan dengan adanya perdarahan. 4. Ganguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene sehubungan dengan aktivitas yang terbatas.

17 KEPERAWATAN MATERNITAS

5. Gangguan psikologis cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kehamilan yang bermasalah.

C.

RENCANA KEPERAWATAN Dx 1: Resiko kekurangan cairan sehubungan dengan adanya perdarahan. a. Kaji tentang banyaknya pengeluaran caiaran (perdarahan). b. Observasi tanda-tanda vital. c. Observasi tanda-tanda kekurangan cairan dan monitor perdarahan. d. Pantau kadar elektrolit darah. e. Periksa golongan darah untuk antisipasi transfusi. f. Jelaskan pada klien untuk mempertahankan cairan yang masuk dengan banyak minum. g. Kolaborasi dengan dokter sehubungan dengan letak placenta. Dx 2: Resiko terjadi distress janin sehubungan dengan kelainan letak placenta. a. Observasi tanda-tanda vital. b. Monitor perdarahan dan status janin. c. Pertahankan hidrasi. d. Pertahankan tirah baring. e. Persiapkan untuk section caesaria . Dx 3: Potensial terjadi shock hipovolemik sehubungan dengan adanya perdarahan. a. Observasi tanda-tanda terjadinya shock hipolemik. b. Kaji tentang banyaknya pengeluaran cairan (perdarahan). c. Observasi tanda-tanda vital. d. Observasi tanda-tanda kekurangan cairan dan monitor perdarahan. e. Pantau kadar elektrolit darah. f. Periksa golongan darah untuk antisipasi transfusi. g. Jelaskan pada klien untuk mempertahankan cairan yang masuk dengan banyak minum.

18 KEPERAWATAN MATERNITAS

Dx 4: Ganguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene sehubungan dengan aktivitas yang terbatas. a. Berikan penjelasan tentang pentingnya personal hygiene b. Berikan motivasi untuk tetap menjaga personal hygiene tanpa

melakukan aktivitas yang berlebihan c. Beri sarana penunjang atau mandikan klien bila klien masih harus bedrest. Dx 5: Gangguan psikologis cemas sehubungan dengan kurangnya

pengetahuan tentang kehamilan yang bermasalah.. a. Beri dukungan dan pendidikan untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan pemahaman dan kerja sama dengan tetap

memberikan informasi tentang status janin, mendengar dengan penuh perhatian, mempertahankan kontak mata dan berkomunikasi dengan tenang, hangat dan empati yang tepat. b. Pertahankan hubungan saling percaya dengan komunikasi

terbuka. Hubungan rasa saling percaya terjalin antara perawat dan klien akan membuat klien mudah mengungkapkan

perasaannya dan mau bekerja sama. c. Jelaskan tentang proses perawatan dan prognosa penyakit secara bertahap. Dengan mengerti tentang proses perawatan dan prognosa penyakit akan memberikan rasa tenang. d. Identifikasi koping yang konstruksi dan kuatkan. Dengan identifikasi dan alternatif koping akan membantu klien dalam menyelesaikan masalahnya. e. Lakukan kunjungan secara teratur untuk memberikan support system. Dengan support system akan membuat klien merasa optimis tentang kesembuhannya.

19 KEPERAWATAN MATERNITAS

D.

EVALUASI 1. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat, serta terapi mulai diberikan. 2. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman.

20 KEPERAWATAN MATERNITAS

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan

Implantasi plasenta normalnya terletak di bagian fundus (bagian puncak atas atau rahim. Bisa agak ke kiri atau ke kanan sedikit, tetapi tidak sampai meluas ke bagian bawah apalagi menutupi jalan lahir. Patahan jalan lahir ini adalah ostium uteri internum, sedangkan dari luar dari arahvagina disebut ostium uteri eksternum. Perdarahan pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya. Perdarahan pada kehamilan muda disebut keguguran atau abortus, sedangkan pada kehamilan tua disebut perdarahan antepartum. Plasenta

previa merupakan salah satu penyebab utama perdarahan antepartum pada trimester ketiga.

3.2

Saran

Setelah membaca makalah ini semoga pembaca memahami isi makalah yang telah disusun meskipun kami menyadari makalah ini kurang dari sempurna. Oleh karena itu kami berharap pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang dapat membantu menyempurnakan makalah yang selanjutnya. Demikian saran yang dapat kami sampaikan sebagai penyusun pembuatan makalah yang berjudul Pengkajian dan Asuhan Keperawatan Pada Ibu dengan Plasenta Previa, semoga makalah ini dapat bermanfaat guna menambah pengetahuan dan pembelajaran bagi pembaca khususnya bagi penyusun.

21 KEPERAWATAN MATERNITAS

DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer, 2001, Kapita Selekta Kedokteran , edisi ketiga . Media Aesculapius FKUI . Jakarta.

Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse, 2001, Rencana Perawatan Maternal/Bayi, edisi kedua. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

Winda, 2007. Asuhan Kebidanan Kepada Ibu Hamil dengan Plasenta Letak Rendah. Politeknik Departemen Kesehatan Tanjung Karang. Prodi Kebidanan Metro.

22 KEPERAWATAN MATERNITAS