Anda di halaman 1dari 48

BLOK 30 EMERGENCY MEDICINE II PROBLEM BASED LEARNING MAKALAH KELOMPOK A1

TUTOR : dr.Steven Anggota kelompok : Adiartha Tannika 10.2008.043 Daniel Untoro 10.2008.003 Feggy Ekatama Anggela 10.2008.073 Irwan Santoso 10.2008.103 Tiffani Rina Estefan Rihulay 10.2008.140 Sandra Dewitha Que 10.2008.167 Endaka Perdana Putera Munthe 10.2008.218 Nur Fatini bt Chok 10.2008.245 Nur Ruhaizi bt Shamsuddin 10.2008.273 Tuty Alwiyah Bt Fuad Salim 10.2008.304

Kata pengantar Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Problem Based Learning Blok 30 (Emergency Medicine II) yang berjudul : Luka tembak . Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada tutor yang selalu ikut mendampingi kami yaitu dr.steven dan pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang banyak membantu dalam penghasilan makalah ini sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini diharapkan dapat membantu pemahaman pembaca dalam hal berkaitan luka tembak. Makalah ini membicarakan dari aspek forensic iaitu aspek hokum dan medikolegal,pemeriksaan medis,intepretasi temuan,serta Visum et repertum (VeR). Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.Semoga makalah ini dapat memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.Akhir kata kami mengucapkan banyak terima kasih.

SKENARIO
Anda bekerja di sebuah rumah sakit pemerintah tipe C di daerah. Suatu hari polisi mengirimkan seorang mayat laki-laki muda. Polisi menyatakan bahwa laki-laki tersebut adalah seorang penjahat kelas kakap yang tertembak petugas ketika akan ditangkap dan mencoba melawan petugas. Dikatakannya bahwa laki-laki tersebut akan menyerang polisi dengan celurit. Setelah polisi meninggalkan anda, datang serombongan orang. Diantaranya terdapat seorang wanita yang menangis terisak-isak. Ia menyatakan bahwa suaminya (mayat) bukanlah penjahat, ia seorang karyawan yang cukup sukses. Ia juga menyatakan bahwa tadi pagi suaminya masih pergi ke kantor dengan cara seperti biasa. Ia meminta kepada dokter agar melakukan pemeriksaan dengan cermat dan tidak memihak kepada polisi, dan memohon agar dokter dapat membuktikan bahwa suaminya bukan orang yang bersalah.

LANGKAH 1 : ISTILAH YANG TIDAK DIKETAHUI


Tiada

LANGKAH 2 : IDENTIFIKASI MASALAH 1. Seorang mayat laki-laki muda dengan luka dengan tertembak ketika akan ditangkap
dan mencoba melawan petugas

LANGKAH 3 : ANALISA MASALAH

Aspek hukum dan prosedur medikolegal

Visum et Repertum

Seorang mayat laki-laki muda dengan luka tertembak ketika akan ditangkap dan mencoba melawan petugas.

Pemeriksaan medis

Interpretasi temuan

LANGKAH 4 :HIPOTESIS 1. Seorang mayat laki-laki muda dengan luka tertembak ketika akan ditangkap dan
mencoba melawan petugas diduga meninggal karena perdarahan massif akibat luka tembak jarak dekat pada jantung.

ASPEK HUKUM
PERKAP NO. 8 TAHUN 2009 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan: 1. Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat Polri adalah alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.1 2. Tindakan Kepolisian adalah upaya paksa dan/atau tindakan lain yang dilakukan secara bertanggung jawab menurut hukum yang berlaku untuk mencegah, menghambat, atau menghentikan tindakan pelaku kejahatan yang mengancam keselamatan, atau

membahayakan jiwa raga, harta benda atau kehormatan kesusilaan, guna mewujudkan tertib dan tegaknya hukum serta terbinanya ketenteraman masyarakat. 3. Penggunaan Kekuatan adalah segala penggunaan/pengerahan daya, potensi atau kemampuan anggota Polri dalam rangka melaksanakan tindakan kepolisian. 4. Mempertahankan diri dan/atau masyarakat adalah tindakan yang diambil oleh anggota Polri untuk melindungi diri sendiri atau masyarakat, atau harta benda atau kehormatan kesusilaan dari bahaya yang mengancam secara langsung. 5. Tindakan pasif adalah tindakan seseorang atau sekelompok orang yang tidak mencoba menyerang, tetapi tindakan mereka mengganggu atau dapat mengganggu ketertiban masyarakat atau keselamatan masyarakat, dan tidak mengindahkan perintah anggota Polri untuk menghentikan perilaku tersebut. 6. Tindakan aktif adalah tindakan seseorang atau sekelompok orang untuk melepaskan diri atau melarikan diri dari anggota Polri tanpa menunjukkan upaya menyerang anggota Polri. 7. Tindakan agresif adalah tindakan seseorang atau sekelompok orang untuk menyerang anggota Polri, masyarakat, harta benda atau kehormatan kesusilaan.

Pasal 2 (1) Tujuan Peraturan ini adalah untuk memberi pedoman bagi anggota Polri dalam pelaksanaan tindakan kepolisian yang memerlukan penggunaan kekuatan, sehingga terhindar dari penggunaan kekuatan yang berlebihan atau tidak dapat dipertanggungjawabkan.1 (2) Tujuan penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian adalah: a. mencegah, menghambat, atau menghentikan tindakan pelaku kejahatan atau tersangka yang sedang berupaya atau sedang melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum; b. mencegah pelaku kejahatan atau tersangka melarikan diri atau melakukan tindakan yang membahayakan anggota Polri atau masyarakat; c. melindungi diri atau masyarakat dari ancaman perbuatan atau perbuatan pelaku kejahatan atau tersangka yang dapat menimbulkan luka parah atau mematikan; atau d. melindungi kehormatan kesusilaan atau harta benda diri sendiri atau masyarakat dari serangan yang melawan hak dan/atau mengancam jiwa manusia.1 Pasal 3 Prinsip-prinsip penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian meliputi: a. legalitas, yang berarti bahwa semua tindakan kepolisian harus sesuai dengan hukum yang berlaku; b. nesesitas, yang berarti bahwa penggunaan kekuatan dapat dilakukan bila memang diperlukan dan tidak dapat dihindarkan berdasarkan situasi yang dihadapi; c. proporsionalitas, yang berarti bahwa penggunaan kekuatan harus dilaksanakan secara seimbang antara ancaman yang dihadapi dan tingkat kekuatan atau respon anggota Polri, sehingga tidak menimbulkan kerugian/korban/penderitaan yang berlebihan; d. kewajiban umum, yang berarti bahwa anggota Polri diberi kewenangan untuk bertindak atau tidak bertindak menurut penilaian sendiri, untuk menjaga, memelihara ketertiban dan menjamin keselamatan umum; e. preventif, yang berarti bahwa tindakan kepolisian mengutamakan pencegahan;

f. masuk akal (reasonable), yang berarti bahwa tindakan kepolisian diambil dengan mempertimbangkan secara logis situasi dan kondisi dari ancaman atau perlawanan pelaku kejahatan terhadap petugas atau bahayanya terhadap masyarakat.1 Pasal 4 Ruang lingkup peraturan ini meliputi: a. penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian yang dilakukan oleh anggota Polri sebagai individu atau individu dalam ikatan kelompok; b. tahapan dan pelatihan penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian; c. perlindungan dan bantuan hukum serta pertanggungjawaban berkaitan dengan penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian; d. pengawasan dan pengendalian penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian; e. tembakan peringatan.1 BAB II PENGGUNAAN KEKUATAN Bagian Kesatu - Tahapan Pasal 5 (1) Tahapan penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian terdiri dari: a. tahap 1 : kekuatan yang memiliki dampak deterrent/pencegahan; b. tahap 2 : perintah lisan; c. tahap 3 : kendali tangan kosong lunak; d. tahap 4 : kendali tangan kosong keras; e. tahap 5 : kendali senjata tumpul, senjata kimia antara lain gas air mata, semprotan cabe atau alat lain sesuai standar Polri; f. tahap 6 : kendali dengan menggunakan senjata api atau alat lain yang menghentikan tindakan atau perilaku pelaku kejahatan atau tersangka yang dapat menyebabkan luka parah atau kematian anggota Polri atau anggota masyarakat.

(2) Anggota Polri harus memilih tahapan penggunaan kekuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai tingkatan bahaya ancaman dari pelaku kejahatan atau tersangka dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.1 Bagian Kedua - Pelaksanaan Pasal 6 Tahapan penggunaan kekuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a dan huruf b dilaksanakan dengan kehadiran anggota Polri yang dapat diketahui dari: a. seragam atau rompi atau jaket yang bertuliskan POLISI yang dikenakan oleh anggota Polri; b. kendaraan dengan tanda Polri; c. lencana kewenangan Polisi; atau d. pemberitahuan lisan dengan meneriakkan kata POLISI. Pasal 7 (1) Pada setiap tahapan penggunaan kekuatan yang dilakukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dapat diikuti dengan komunikasi lisan/ucapan dengan cara membujuk, memperingatkan dan memerintahkan untuk menghentikan tindakan pelaku kejahatan atau tersangka.1 (2) Setiap tingkatan bahaya ancaman terhadap anggota Polri atau masyarakat dihadapi dengan tahapan penggunaan kekuatan sebagai berikut: a. tindakan pasif dihadapi dengan kendali tangan kosong lunak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf c; b. tindakan aktif dihadapi dengan kendali tangan kosong keras sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf d; c. tindakan agresif dihadapi dengan kendali senjata tumpul, senjata kimia antara lain gas air mata atau semprotan cabe, atau alat lain sesuai standar Polri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf e; d. tindakan agresif yang bersifat segera yang dilakukan oleh pelaku kejahatan atau tersangka yang dapat menyebabkan luka parah atau kematian atau membahayakan kehormatan kesusilaan anggota Polri atau masyarakat atau menimbulkan bahaya
8

terhadap keselamatan umum, seperti: membakar stasiun pompa bensin, meledakkan gardu listrik, meledakkan gudang senjata/amunisi, atau menghancurkan objek vital, dapat dihadapi dengan kendali senjata api atau alat lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf f.1 Pasal 8 (1) Penggunaan kekuatan dengan kendali senjata api atau alat lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf d dilakukan ketika: a. tindakan pelaku kejahatan atau tersangka dapat secara segera menimbulkan luka parah atau kematian bagi anggota Polri atau masyarakat; b. anggota Polri tidak memiliki alternatif lain yang beralasan dan masuk akal untuk menghentikan tindakan/perbuatan pelaku kejahatan atau tersangka tersebut; c. anggota Polri sedang mencegah larinya pelaku kejahatan atau tersangka yang merupakan ancaman segera terhadap jiwa anggota Polri atau masyarakat.1 (2) Penggunaan kekuatan dengan senjata api atau alat lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan upaya terakhir untuk menghentikan tindakan pelaku kejahatan atau tersangka. (3) Untuk menghentikan tindakan pelaku kejahatan atau tersangka yang merupakan ancaman segera terhadap jiwa anggota Polri atau masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilakukan penggunaan kendali senjata api dengan atau tanpa harus diawali peringatan atau perintah lisan.1 Pasal 9 Penggunaan senjata api dari dan ke arah kendaraan yang bergerak atau kendaraan yang melarikan diri diperbolehkan, dengan kehati-hatian yang tinggi dan tidak menimbulkan resiko baik terhadap diri anggota Polri itu sendiri maupun masyarakat.1 Pasal 10 Dalam hal penggunaan senjata api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf d, Pasal 8 dan Pasal 9, anggota Polri harus memiliki kualifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.

BAB IV PERLINDUNGAN DAN BANTUAN HUKUM SERTA PERTANGGUNGJAWABAN Pasal 12 (1) Anggota Polri yang menggunakan kekuatan dalam pelaksanaan tindakan kepolisian sesuai dengan prosedur yang berlaku berhak mendapatkan perlindungan dan bantuan hukum oleh Polri sesuai dengan peraturan perundang-undangan.1 (2) Hak anggota Polri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh institusi Polri. Pasal 13 (1) Setiap individu anggota Polri wajib bertanggung jawab atas pelaksanaan penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian yang dilakukannya.1 (2) Dalam hal pelaksanaan penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian yang didasarkan pada perintah atasan/pimpinan, anggota Polri yang menerima perintah tersebut dibenarkan untuk tidak melaksanakan perintah, bila perintah atasan/pimpinan

bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. (3) Penolakan pelaksanaan perintah atasan/pimpinan untuk menggunakan kekuatan dalam tindakan kepolisian sebagaimana dimaksud pada
1

ayat

(2),

harus

dapat

dipertanggungjawabkan dengan alasan yang masuk akal.

(4) Atasan/pimpinan yang memberi perintah kepada anggota Polri untuk melaksanakan penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian, harus turut bertanggung jawab atas resiko/akibat yang terjadi sepanjang tindakan anggota tersebut tidak menyimpang dari perintah atau arahan yang diberikan. (5) Pertanggungjawaban atas resiko yang terjadi akibat keputusan yang diambil oleh anggota Polri ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan/penyidikan terhadap peristiwa yang terjadi oleh Tim Investigasi.1 (6) Tim Investigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dibentuk sesuai ketentuan yang berlaku.

10

KEJAHATAN TERHADAP TUBUH DAN JIWA MANUSIA Pasal 338 KUHP Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. 2

Pasal 339 KUHP Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun. 2

Pasal 340 KUHP Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun.2

Pasal 351 KUHP 1) Penganiyaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak 4500 rupiah. 2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun. 3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama7 tahun. 4) Dengan penganiyaan disamakan sengaja merusak kesehatan. 5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

11

Pasal 353 KUHP (1) Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (3) Jika perbuatan mengakibatkan mati, dia dikenakan pidana penjara paling lama 9 tahun.

Pasal 354 KUHP (1) Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.2 (2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama sepuluh tahun.

Pasal 355 KUHP (1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.2 (2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama 15tahun. 2

PROSEDUR MEDIKOLEGAL
KEWAJIBAN DOKTER MEMBANTU PERADILAN Pasal 133 KUHAP 2 1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
12

2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. Pasal 179 KUHAP 2 1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. 2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenanr-benarnya menurut

pengetahuan dalam bidang keahliannya.

BENTUK BANTUAN DOKTER BAGI PERADILAN DAN MANFAATNYA Pasal 183 KUHAP Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya. Pasal 184 KUHAP 1) Alat bukti yang sah adalah: Keterangan saksi Keterangan ahli Surat Pertunjuk Keterangan terdakwa

2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan1.

13

Pasal 186 KUHAP Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Pasal 180 KUHAP 1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan. 2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang. 3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2). 2

SANGSI BAGI PELANGGAR KEWAJIBAN DOKTER Pasal 216 KUHP 1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.2 2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undangundang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum. 3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya dapat ditambah sepertiga.

14

Pasal 222 KUHP Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.2

Pasal 224 KUHP Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia harus melakukannnya: 1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan. 2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.

Pasal 522 KUHP Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

RAHASIA JABATAN DAN PEMBUATAN SKA/ V et R Peraturan Pemerintah No 26 tahun 1960 tentang lafaz sumpah dokter Saya bersumpah/ berjanji bahwa: Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perkemanusiaan Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.
15

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.dst.

Peraturan Pemerintah no 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia Kedokteran. Pasal 1 PP No 10/1966 Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orangorang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran.2 Pasal 2 PP No 10/1966 Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang yang tersebut dalam pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada PP ini menentukan lain.

Pasal 3 PP No 10/1966 Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah: a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan. b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan, pengobatan dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri kesehatan1. Pasal 4 PP No 10/1966 Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia kedokteran yang tidak atau tidak dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112 KUHP, menteri kesehatan dapat melakukan tindakan administrative berdasarkan pasal UU tentang tenaga kesehatan.2 Pasal 5 PP No 10/1966 Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh mereka yang disebut dalam pasal 3 huruf b, maka menteri kesehatan dapat mengambil tindakan-tindakan berdasarkan wewenang dan kebijaksanaannya.
16

Pasal 322 KUHP 1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah. 2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu. Pasal 48 KUHP Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana.2

BEDAH MAYAT KLINIS, ANATOMIS DAN TRANSPLANTASI 2 Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia. Pasal 2 PP No 18/1981 Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut: a. Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat setelah penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat ditentukan dengan pasti; b. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau masyarakat sekitarnya. c. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya terdekat, apabila dalam jangka waktu 2 x 24 jam tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal dunia dating ke rumah sakit.

17

PEMERIKSAAN MEDIS
Traumatologi Forensik Di dalam dunia kriminal, senjata api yang biasa dipergunakan adalah senjata genggam beralur, sedangkan senjata api dengan laras panjang dan senjata yang biasa dipakai untuk olahraga berburu yang larasnya tidak beralur jarang dipakai untuk maksud kriminal. Senjata genggam yang banyak dipergunakan untuk maksud kriminal dapat dibagi dalam dua kelompok, dimana dasar pembagian berikut adalah arah perputaran alur yang terdapat dalam laras senjata yaitu senjata api dengan alur ke kiri yang dikenal dengan senjata api tipe COLT dan senjata api dengan alur ke kanan yang dikenal dengan senjata api tipe Smith & Wesson (tipe SW).3 Jenis senjata api yang digunakan dapat diketahui dari anak peluru yang terdapat pada tubuh korban, yaitu adanya goresan dan alur yang memutar kearah kanan atau kiri bila dilihat dari bagian basis anak peluru.

Arti Klinis Luka Tembak Dalam praktek banyak terdapat hal tentang luka tembak masuk pada tubuh manusia. Seperti kita ketahui kulit terdiri dari lapisan epidermis, dermis dan subkutis. Jika dilihat dari elastisitasnya, epidermis kurang elastis bila dibandingkan dengan dermis. Bila sebutir peluru menembus tubuh, maka cacat pada epidermis lebih luas dari pada dermis. Diameter luka pada epidermis kurang lebih sama dengan diameter anak peluru, sedangkan diameter luka pada dermis lebih kecil. Keadaan tersebut dikenal sebagai kelim memar (contusio ring).4

18

Klasifikasi Senjata Api Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil peledakan mesiu, dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya. Proyektil yang dilepaskan dari suatu tembakan dapat tunggal, dapat pula tunggal berurutan secara otomatis maupun dalam jumlah tertentu bersama sama. Senjata api dapat dikelompokan menjadi: Berdasarkan Panjang Laras: Laras pendek.3 y Revolver, Mempunyai metal drum (tempat penyimpanan 6 peluru) yang berputar (revolve) setiap kali trigger ditarik dan menempatkan peluru baru pada posisi siap untuk di tembakkan. y Pistol, peluru disimpan dalam sebuah silinder yang diputar dengan menarik picunya. y Anak peluru untuk senjata api berlaras pendek jenis revolver umumnya terbuat dari timah hitam yang kadang berselaput plastic, sedangkan anak peluru untuk senjata berlaras pendek jenis pistol terbuat dari timah hitam sebagai inti yang dibalut dengan tembaga, kuningan, atau nikel sebagai nikel.3

Gambar 1. Senjata api laras pendek Laras panjang3 Senjata ini berkekuatan tinggi dengan daya tembak sampai 3000 m, mempergunakan peluru yang lebih panjang. Dibagi menjadi dua yaitu: y Senapan tabur : Senapan tabur dirancang untuk dapat memuntahkan butir-butir tabur ganda lewat larasnya, sedangkan senapan dirancang untuk memuntahkan peluru tunggal lewat larasnya, moncong senapan halus dan tidak terdapat rifling. y Senapan untuk menyerang: Senapan ini mengisi pelurunya sendiri, mampu

melakukan tembakan otomatis sepenuhnya, mempunyai kapasitas magasin yang besar

19

dan dilengkapi ruang ledak untuk peluru senapan dengan kekuatan sedang (peluru dengan kekuatan sedang antara peluru senapan standard dan peluru pistol).4 y Anak peluru untuk senjata berlaras panjang umumnya terbuat dari timah hitam sebagai inti yang dibalut dengan tembaga, kuningan, atau nikel sebagai mantel.

Gambar 2 : Senjata api laras panjang Berdasarkan Alur Laras 1. Laras beralur (Rifled bore) Agar anak peluru dapat berjalan stabil dalam lintasannya, permukaan dalam laras dibuat beralur spiral dengan diameter yang sedikit lebih kecil dari diameter anak peluru, sehingga anak peluru yang didorong oleh ledakan mesiu, saat melalui laras, dipaksa bergerak maju sambil berputar sesuai porosnya, dan ini akan memperoleh gaya sentripetal sehingga anak peluru tetap dalam posisi ujung depannya di depan dalam lintasannya setelah lepas laras menuju sasaran. Alur laras ini dibagi menjadi dua yaitu, arah putaran ke kiri (COLT) dan arah putaran ke kanan (Smith and Wesson).3,4

Gambar 3. Senjata api beralur 2. Laras tak beralur atau laras licin (Smooth bore) Senjata api jenis ini dapat melontarkan anak peluru dalam jumlah banyak pada satu kali tembakan. Contohnya adalah shot gun.4,5

3. Mekanisme luka tembak Pada luka tembak terjadi efek perlambatan yang disebabkan pada trauma mekanik seperti pukulan, tusukan, atau tendangan, hal ini terjadi akibat adanya transfer energi dari luar menuju jaringan. Kerusakan yang terjadi pada jaringan tergantung pada absorpsi energi
20

kinetiknya, yang juga akan menghamburkan panas, suara serta gangguan mekanik yang lainya.4 Energi kinetik ini akan mengakibatkan daya dorong peluru ke suatu jaringan sehingga terjadi laserasi, kerusakan sekunder terjadi bila terdapat ruptur pembuluh darah atau struktur lainnya dan terjadi luka yang sedikit lebih besar dari diameter peluru. Jika kecepatan melebihi kecepatan udara, lintasan dari peluru yang menembus jaringan akan terjadi gelombang tekanan yang mengkompresi jika terjadi pada jaringan seperti otak, hati ataupun otot akan mengakibatkan kerusakan dengan adanya zona-zona disekitar luka.4 Dengan adanya lesatan peluru dengan kecepatan tinggi akan membentuk rongga disebabkan gerakan sentrifugal pada peluru sampai keluar dari jaringan dan diameter rongga ini lebih besar dari diameter peluru, dan rongga ini akan mengecil sesaat setelah peluru berhenti, dengan ukuran luka tetap sama. Organ dengan konsistensi yang padat tingkat kerusakan lebih tinggi daripada organ berongga. Efek luka juga berhubungan dengan gaya gravitasi. Pada pemeriksaan harus dipikirkan adanya kerusakan sekunder seperti infark atau infeksi.4,5

Gambar 4. Mekanisme luka tembak Klasifikasi Luka Tembak Pada klasifikasi luka tembak yang diperlukan adalah jarak tembak atau jarak antara moncong senjata dengan targetnya yaitu tubuh korban. Berdasarkan ciri-ciri yang khas pada setiap tembakan yang dilepaskan dari berbagai jarak, maka perkiraan jarak tembak dapat diketahui, dengan demikian dapat dibuat klasifikasinya. Klasifikasi yang dimaksud antara lain :3 Luka Tembak Masuk 1. Luka tembak masuk tempel (contact wounds) y Terjadi bila moncong senjata ditekan pada tubuh korban dan ditembakkan. Bila tekanan pada tubuh erat disebut hard contact, sedangkan yang tidak erat disebut soft contact. y Umumnya luka berbentuk bundar yang dikelilingi kelim lecet yang sama lebarnya pada setiap bagian.

21

y Di sekeliling luka tampak daerah yang bewarna merah atau merah coklat, yang menggambarkan bentuk dari moncong senjata, ini disebut jejas laras. y Rambut dan kulit di sekitar luka dapat hangus terbakar. y Saluran luka akan bewarna hitam yang disebabkan oleh butir-butir mesiu, jelaga dan minyak pelumas. y Tepi luka dapat bewarna merah, oleh karena terbentuknya COHb. y Bentuk luka tembak tempel sangat dipengaruhi oleh keadaan / densitas jaringan yang berada di bawahnya, dengan demikian dapat dibedakan : - Luka tembak tempel di daerah dahi - Luka tembak tempel di daerah pelipis - Luka tembak tempel di daerah perut y Luka tembak tempel di daerah dahi mempunyai ciri : - Luka berbentuk bintang: Bentuk bintang tersebut disebabkan oleh tenaga tembakan yang diteruskan ke segala arah, fragmen-fragmen tulang yang terbentuk turut terdorong keluar dan menimbulkan robekan-robekan baru yang dimulai dari pinggir luka dan menyebar secara radier. - Terdapat jejak laras y Luka tembak tempel di daerah pelipis mempunyai ciri : - Luka berbentuk bundar - Terdapat jejas laras y Luka tembak tempel di daerah perut mempunyai ciri : - Luka berbentuk bundar - Kemungkinan besar tidak terdapat jejas laras

Gambar 5. Luka tembak tempel

22

2. Luka tembak masuk jarak dekat (close range wounds) Pengertian jarak dekat bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh korban sekitar 50 cm (24 inci) sampai 15 cm. Ciri dari luka tembak ini adalah: 3,4 a. Luka berbentuk bundar atau oval tergantung sudut masuknya peluru, dengan di sekitarnya terdapat bintik-bintik hitam (kelim tato) dan atau jelaga (kelim jelaga). b. Di sekitar luka dapat ditemukan daerah yang bewarna merah atau hangus terbakar. c. Bila terdapat kelim tato, berarti jarak antara moncong senjata dengan korban sekitar 60 cm (50-60 cm), yaitu untuk senjata genggam. d. Bila terdapat pula kelim jelaga, jaraknya sekitar 30 cm (25-30 cm). e. Bila terdapat juga kelim api, maka jarak antara moncong senjata dengan korban sekitar 15 cm. 3. Luka tembak masuk jarak jauh (long range wound)3 Luka tembak jarak jauh adalah luka tembak dimana jarak antara moncong senjata dengan korban diatas 50 cm, atau diluar jarak tempuh atau jangkauan butir-butir mesiu. a. Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh korban di luar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau terbakar sebagian. b. Luka berbentuk bundar atau oval dengan disertai adanya kelim lecet. c. Bila senjata sering dirawat (diberi minyak) maka pada kelim lecet dapat dilihat pengotoran bewarna hitam berminyak, jadi ada kelim kesat atau kelim lemak.

Gambar 7. Luka Tembak Jarak Jauh

23

Luka Tembak Keluar Jika peluru yang ditembakan dari senjata api mengenai tubuh korban dan kekuatannya masih cukup untuk menembus dan keluar pada bagian tubuh lainnya, maka luka tembak dimana peluru meninggalkan tubuh itu disebut luka tembak keluar. Bilamana peluru yang masuk ke dalam tubuh korban tidak terbentur pada tulang, maka saluran luka yang terbentuk yang menghubungkan luka tembak masuk dan luka tembak keluar dapat menunjukkan arah datangnya peluru yang dapat disesuaikan dengan arah tembakan. Luka tembak keluar mempunyai ciri khusus yang sekaligus sebagai perbedaan pokok dengan luka tembak masuk. Ciri tersebut adalah tidak adanya kelim lecet pada luka tembak keluar, dengan tidak adanya kelim lecet, kelim-kelim lainnya juga tentu tidak ditemukan.3 Ciri lain dari luka tembak keluar yang dapat dikatakan agak khas, oleh karena hampir semua luka tembak keluar memiliki ciri ini, adalah luka tembak keluar pada umumnya lebih besar dari luka tembak masuk.3

Gambar 8. Luka tembak keluar Adapun faktor faktor yang menyebabkan luka tembak keluar lebih besar dari luka tembak masuk adalah :3 y Perubahan luas peluru, oleh karena terjadi deformitas sewaktu peluru berada dalam tubuh dan membentur tulang. y Peluru sewaktu berada dalam tubuh mengalami perubahan gerak, misalnya karena terbentur bagian tubuh yang keras, peluru bergerak berputar dari ujung ke ujung (end to end), keadaan ini disebut tumbling. y Pergerakan peluru yang lurus menjadi tidak beraturan, disebut yawing. y Peluru pecah menjadi beberapa fragmen. Fragmen-fragmen ini menyebabkan luka tembak keluar menjadi lebih besar. y Bila peluru mengenai tulang dan fragmen tulang tersebut turut terbawa keluar, maka fragmen tulang tersebut akan membuat robekan tambahan sehingga akan memperbesar luka tembak keluarnya.

24

y Pada beberapa keadaan luka tembak keluar lebih kecil dari luka tembak masuk, hal ini disebabkan :1 y Kecepatan atau velocity peluru sewaktu akan menembus keluar berkurang, sehingga kerusakannya (lubang luka tembak keluar) akan lebih kecil, perlu diketahui bahwa kemampuan peluru untuk dapat menimbulkan kerusakan berhubungan langsung dengan ukuran peluru dan velocity. y Adanya benda menahan atau menekan kulit pada daerah dimana peluru akan keluar yang berarti menghambat kecepatan peluru, luka tembak keluar akan lebih kecil bila dibandingkan dengan luka tembak masuk. Beberapa variasi luka tembak keluar y Luka tembak keluar sebagian (partial exit wound), hal ini dimungkinkan oleh karena tenaga peluru tersebut hampir habis atau ada penghalang yang menekan pada tempat dimana peluru akan keluar, dengan demikian luka dapat hanya berbentuk celah dan tidak jarang peluru tampak menonjol sedikit pada celah tersebut. y Jumlah luka tembak keluar lebih banyak dari jumlah peluru yang ditembakkan, ini dimungkinkan karena : - Peluru pecah dan masing-masing pecahan membuat sendiri luka tembak keluar. - Peluru menyebabkan ada tulang yang patah dan tulang tersebut terdorong keluar pada tempat yang berbeda dengan tempat keluarnya peluru. - Dua peluru masuk ke dalam tubuh melalui satu luka tembak masuk (tandem bullet injury), dan di dalam tubuh ke dua peluru tersebut berpisah dan keluar melalui tempat yang berbeda.

Efek Luka Tembak Pada saat seseorang melepaskan tembakan dan kebetulan mengenai sasaran yaitu tubuh korban, maka pada tubuh korban tersebut akan didapatkan perubahan yang diakibatkan oleh berbagai unsur atau komponen yang keluar dari laras senjata api tersebut.3 Adapun komponen atau unsur-unsur yang keluar pada setiap penembakan adalah:4 y anak peluru y butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar y asap atau jelaga y api y partikel logam
25

Bila senjata yang dipergunakan sering diberi minyak pelumas, maka minyak yang melekat pada anak peluru dapat terbawa dan melekat pada luka. Bila penembakan dilakukan dengan posisi moncong senjata menempel dengan erat pada tubuh korban, maka akan terdapat jejas laras. Selain itu bila senjata yang dipakai termasuk senjata yang tidak beralur (smooth bore), maka komponen yang keluar adalah anak peluru dalam satu kesatuan atau tersebar dalam bentuk pellet, tutup dari peluru itu sendiri juga dapat menimbulkan kelainan dalam bentuk luka.1,4 Komponen atau unsur-unsur yang keluar pada setiap peristiwa penembakan akan menimbulkan kelainan pada tubuh korban sebagai berikut:3,4

Akibat anak peluru (bullet effect): luka terbuka. Luka terbuka yang terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: y Besar dan bentuk anak peluru y Balistik (kecepatan, energy kinetic, stabilitas anak peluru) y Kerapuhan anak peluru y Kepadatan jaringan sasaran y Vulnerabilitas jaringan sasaran Peluru yang mempunyai kecepatan tinggi (high velocity), akan menimbulkan luka yang relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan peluru yang kecepatannya lebih rendah (low velocity). Kerusakan jaringan tubuh akan lebih berat bila peluru mengenai bagian tubuh yang densitasnya lebih besar. Pada organ tubuh yang berongga seperti jantung dan kandung kencing, bila terkena tembakan dan kedua organ tersebut sedang terisi penuh (jantung dalam fase diastole), maka kerusakan yang terjadi akan lebih hebat bila dibandingkan dengan jantung dalam fase sistole dan kandung kencing yang kosong; hal tersebut disebabkan karena adanya penyebaran tekanan hidrostatik ke seluruh bagian. Mekanisme terbentuknya luka dan kelim lecet akibat anak peluru: a) Pada saat peluru mengenai kulit, kulit akan teregang b) Bila kekuatan anak peluru lebih besar dari kulit maka akan terjadi robekan c) Oleh karena terjadi gerakan rotasi dari peluru (pada senjata yang beralur atau rifle bore), terjadi gesekan antara badan peluru dengan tepi robekan sehingga terjadi kelim lecet (abrasion ring)

26

d) Oleh karena tenaga penetrasi peluru dan gerakan rotasi akan diteruskan ke segala arah, maka sewaktu anak peluru berada dan melintas dalam tubuh akan terbentuk lubang yang lebih besar dari diameter peluru e) Bila peluru telah meninggalkan tubuh atau keluar, lubang atau robekan yang terjadi akan mengecil kembali, hal ini dimungkinkan oleh adanya elastisitas dari jaringan f) Bila peluru masuk ke dalam tubuh secara tegak lurus maka kelim lecet yang terbentuk akan sama lebarnya pada setiap arah g) Peluru yang masuk secara membentuk sudut atau serong akan dapat diketahui dari bentuk kelim lecet h) Kelim lecet paling lebar merupakan petunjuk bahwa peluru masuk dari arah tersebut i) Pada senjata yang dirawat baik, maka pada klim lecet akan dijumpai pewarnaan kehitaman akibat minyak pelumas, hal ini disebut kelim kesat atau kelim lemak (grease ring/ grease mark) j) Bila peluru masuk pada daerah di mana densitasnya rendah, maka bentuk luka yang terjadi adalah bentuk bundar, bila jaringan di bawahnya mempunyai densitas besar seperti tulang, maka sebagian tenaga dari peluru disertai pula dengan gas yang terbentuk akan memantul dan mengangkat kulit di atasnya, sehingga robekan yang tejadi menjadi tidak beraturan atau berbentuk bintang k) Perkiraan diameter anak peluru merupakan penjumlahan antara diameter lubang luka ditambah dengan lebar kelim lecet yang tegak lurus dengan arah masuknya peluru l) Peluru yang hanya menyerempet tubuh korban akan menimbulkan robekan dangkal, disebut bullet slap atau bullet graze m) Bila peluru menyebabkan luka terbuka dimana luka tembak masuk bersatu dengan luka tembak keluar, luka yang terbentuk disebut gutter wound

Akibat butir-butir mesiu (gunpowder effect): tattoo, stipling a. Butir butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar akan masuk ke dalam kulit b. Daerah di mana butir-butir mesiu tersebut masuk akan tampak berbintik-bintik hitam dan bercampur dengan perdarahan c. Oleh karena penetrasi butir mesiu tadi cukup dalam, maka bintik-bintik hitam tersebut tidak dapat dihapus dengan kain dari luar
27

d. Jangkauan butir-butir mesiu untuk senjata genggam berkisar sekitar 60 cm e. Black powder adalah butir mesiu yang komposisinya terdiri dari nitrit, tiosianat, tiosulfat, kalium karbonat, kalium sulfat, kalium sulfida, sedangkan smoke less powder terdiri dari nitrit dan selulosa nitrat yang dicampur dengan karbon dan gravid

Akibat asap (smoke effect): jelaga a. Oleh karena setiap proses pembakaran itu tidak sempurna, maka terbentuk asap atau jelaga b. Jelaga yang berasal dari black powder komposisinya CO2 (50%) nitrogen 35%, CO 10%, hydrogen sulfide 3%, hydrogen 2 % serta sedikit oksigen dan methane c. Smoke less powder akan menghasilkan asap yang jauh lebih sedikit d. Jangkauan jelaga untuk senjata genggam berkisar sekitar 30 cm e. Oleh karena jelaga itu ringan, jelaga hanya menempel pada permukaan kulit, sehingga bila dihapus akan menghilang.

Akibat api (flame effect): luka bakar a. Terbakarnya butir-butir mesiu akan menghasilkan api serta gas panas yang akan mengakibatkan kulit akan tampak hangus terbakar (scorching, charring) b. Jika tembakan terjadi pada daerah yang berambut, maka rambut akan terbakar c. Jarak tempuh api serta gas panas untuk senjata genggam sekitar 15 cm, sedangkan untuk senjata yang kalibernya lebih kecil, jaraknya sekitar 7,5 cm

Akibat partikel logam (metal effect): fouling a. Oleh karena diameter peluru lebih besar dari diameter laras, maka sewaktu peluru bergulir pada laras yang beralur akan terjadi pelepasan partikel logam sebagai akibat pergesekan tersebut b. Partikel atau fragmen logam tersebut akan menimbulkan luka lecet atau luka terbuka dangkal yang kecil-kecil pada tubuh korban c. Partikel tersebut dapat masuk ke dalam kulit atau tertahan pada pakaian korban.

28

Akibat moncong senjata (muzzle effect): jejas laras a. Jejas laras dapat terjadi pada luka tembak tempel, baik luka tembak tempel yang erat (hard contact) maupun yang hanya sebagian menempel (soft contact) b. Jejas laras dapat terjadi bila moncong senjata ditempelkan pada bagian tubuh, dimana di bawahnya ada bagian yang keras (tulang) c. Jejas laras terjadi oleh karena adanya tenaga yang terpantul oleh tulang dan mengangkat kulit sehingga terjadi benturan yang cukup kuat antara kulit dan moncong senjata d. Jejas laras dapat pula terjadi jika si penembak memukulkan moncong senjatanya dengan cukup keras pada tubuh korban, akan tetapi hal ini jarang terjadi e. Pada hard contact, jejas laras tampak jelas mengelilingi lubang luka, sedangkan pada soft contact, jejas laras sebetulnya luka lecet tekan tersebut akan tampak sebagian sebagai garis lengkung f. Bila pada hard contact tidak akan dijumpai kelim jelaga atau kelim tato, oleh karena tertutup rapat oleh laras senjata, maka pada soft contact jelaga dan butir mesiu ada yang keluar melalui celah antara moncong senjata dan kulit, sehingga terdapat adanya kelim jelaga dan kelim tato. Pengaruh pakaian pada luka tembak masuk 5 Jika tembakan mengenai tubuh korban yang ditutup pakaian, dan pakaiannya cukup tebal, maka dapat terjadi: y Asap, butir-butir mesiu dan api dapat tertahan pakaian y Fragmen atau partikel logam dapat tertahan oleh pakaian y Serat-serat pakaian dapat terbawa oleh peluru dan masuk ke dalam lubang luka tembak Deskripsi Luka Tembak Kepentingan medikolegal deskripsi yang adekuat dari luka senjata api bergantung pada besarnya potensi seorang korban meninggal. Jika korban masih hidup, deskripsi singkat dan tidak terlalu detail. Dokter mempunyai tanggung jawab yang utama untuk memberikan penatalaksanaan gawat darurat. Membersihkan luka, membuka dan mengeksplorasi, debridement dan menutupnya, kemudian membalut adalah bagian penting dari merawat pasien bagi dokter. Penggambaran luka secara detail akan dilakukan nanti, setelah semua kondisi gawat darurat dapat disingkirkan. Oleh karena singkatnya waktu yang dimiliki untuk

29

mempelajari medikolegal, seringkali dokter merasa tidak mempunyai kewajiban untuk mendeskripskan luka secara detail. Deskripsi luka yang minimal untuk pasien hidup terdiri dari : Lokasi luka, ukuran dan bentuk defek, lingkaran abrasi, lipatan kulit yang utuh dan robek, bubuk hitam sisa tembakan (jika ada), tato (jika ada), dan bagian yang ditembus/dilewati.4 Penatalaksanaan luka, termasuk debridement, penjahitan, pengguntingan rambut, pembalutan, drainase, dan operasi perluasan luka. Pada korban mati, tidak ada tuntutan dalam mengatasi gawat darurat. Meskipun demikian, tubuhnya dapat saja sudah mengalami perubahan akibat penanganan gawat darurat dari pihak lain. Sebagai tambahan, tubuh bisa berubah akibat perlakuan orang-orang yang mempersiapkan tubuhnya untuk dikirimkan kepada pihak yang bertanggung jawab untuk menerimanya. Di lain pihak, tubuh mungkin sudah dibersihkan, bahkan sudah disiapkan untuk penguburan, luka sudah ditutup dengan lilin atau material lain. Penting untuk mengetahui siapa dan apa yang telah dikerjakannya terhadap tubuh korban, untuk mengetahui gambaran luka. a. Jarak Tembakan Efek gas, bubuk mesiu, dan anak peluru terhadap target dapat digunakan dalam keilmuan forensik untuk memperkirakan jarak target dari tembakan dilepaskan. Perkiraan tersebut memiliki kepentingan sebagai berikut : untuk membuktikan atau menyangkal tuntutan; untuk menyatakan atau menyingkirkan kemungkinan bunuh diri; membantu menilai ciri alami luka akibat kecelakaan. Meski kisaran jarak tembak tidak dapat dinilai dengan ketajaman absolut, luka tembak dapat diklasifikasikan sebagai luka tembak jarak dekat, sedang, dan jauh. 4 b. Arah Tembakan Luka tembak yang tepat akan membentuk lubang yang sirkuler serta perubahan warna pada kulit, jika sudut penembakan olique akan mengakibatkan luka tembak berbentuk ellips, panjang luka dihubungkan dengan pengurangan sudut tembak. Senapan akan memproduksi lebih sedikit kotoran, kecuali jika jarak dekat. Petunjuk ini berguna untuk pembanding dengan shotgun. Luka tembak yang disebabkan shotgun dengan sudut olique akan membentuk luka seperti anak tangga. Jaringan juga berperan serta dalam perubahan gambaran luka karena adanya kontraksi otot.

30

Cara Pengukuran Jarak Tembak Dalam Visum Et Repertum Bila pada korban terdapat luka tembak masuk dan tampak jelas adanya jejas laras, kelim api, kelim jelaga atau kelim tato, maka perkiraan penentuan jarak tembak tidak sulit. Kesulitan timbul bila tidak ada kelim-kelim tersebut selain kelim lecet.3 Bila terdapat kelim jelaga, berarti korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 30 cm, kelim tato berarti korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 60 cm dan seterusnya. Sedangkan kelim api menunjukan bahwa korban ditembak dari jarak yang sangat dekat sekali, yaitu maksimal 15 cm.

Pemeriksaan Khusus Pada Luka Tembak Masuk Pada beberapa keadaan, pemeriksaan terhadap luka tembak masuk, sering dipersulit oleh adanya pengotoran oleh darah, sehingga pemeriksaan tidak dapat dilakukan dengan baik.1 Untuk menghadapi penyulit pada pemeriksaan tersebut dapat dilakukan prosedur sebagai berikut:1 y y Luka tembak dibersihkan dengan hydrogen-peroxide 3% Setelah 2-3 menit luka tersebut dicuci dengan air, untuk membersihkan busa yang terjadi dan membersihkan darah. y Dengan pemberian hydrogen-peroxide tadi, luka tembak akan bersih dan tampak jelas, sehingga deskripsi luka dapat dilakukan dengan akurat. y Selain secara makroskopik, dapat juga dengan pemeriksaan khusus: pemeriksaan mikroskopik, pemeriksaan kimiawi, dan pemeriksaan radiologik.

a. Pemeriksaan Mikroskopik Perubahan yang tampak diakibatkan oleh dua faktor, yaitu: trauma mekanik dan termis, pada luka tembak tempel dan luka tembak jarak dekat perubahan mikroskopis yang terjadi adalah:5 - Kompresi epitel, disekitar luka tampak epitel yang normal dan yang mengalami kompresi, elongasi, dan menjadi pipihnya sel-sel epidermal serta elongasi dari inti sel - Distorsi dari sel epidermis di tepi luka yang dapat bercampur dengan butir-butir mesiu - Epitel mengalami nekrosis koagulatif, epitel sembab, vakuolisasi sel-sel basal - Akibat panas, jaringan kolagen menyatu dengan pewarnaan HE, akan lebih banyak mengambil warna biru (basophilic staining) - Tampak perdarahan yang masih baru dalam epidermis (kelainan ini paling dominan, dan adanya butir-butir mesiu)

31

- Sel-sel pada dermis intinya mengerut, vakuolisasi dan piknotik - Butir-butir mesiu tampak sebagai benda tidak beraturan, berwarna hitam atau hitam kecoklatan - Pada luka tembak tempel hard contact, permukaan kulit sekitar luka tidak terdapat butir-butir mesiu atau hanya sedikit sekali; butir-butir mesiu akan tampak banyak pada lapisan bawahnya, khususnys di sepanjang tepi saluran luka - Pada luka tembak tempel soft contact, butir-butir mesiu terdapat pada kulit dan jaringan di bawah kulit - Pada luka tembak jarak dekat, butir-butir mesiu terutama terdapat pada permukaan kulit, hanya sedikit yang ada pada lapisan-lapisan kulit.

b. Pemeriksaan Kimiawi5 - Pada black gun powder dapat ditemukan kalium, karbon, nitrit, nitrat, sulfas, sulfat, karbonat, tiosianat dan tiosulfat - Pada smokeless gun powder dapat ditemukan nitrit, dan selulosa-nitrat - Pada senjata api yang modern, ditemukan timah, barium, antimony, dan merkuri - Unsur-unsur kimia yang berasal dari laras senjata dan dari peluru sendiri dapat ditemukan timah, antimon, nikel, tembaga, bismuth, perak, dan thalium - Pemeriksaan atas unsur-unsur tersebut dapat dilakukan terhadap pakaian, di dalam atau di sekitar luka - Pada pelaku penembakan, unsur-unsur tersebut dapat dideteksi pada tangan yang menggenggam senjata

c. Pemeriksaan dengan Sinar-X Pemeriksaan radiologik ini umumnya untuk memudahkan dalam mengetahui letak peluru dalam tubuh korban. - Pada tandem bullet injury dapat ditemukan dua peluru walaupun luka tembak masuknya hanya satu. - Bila pada tubuh korban tampak banyak pellet tersebar, maka dapat dipastikan bahwa korban ditembak dengan senjata jenis shotgun, yang tidak beralur, dimana dalam satu peluru terdiri dari berpuluh pellet.

32

- Bila pada tubuh korban tampak satu peluru, maka korban ditembak oleh senjata api jenis rifled. - Pada keadaan dimana tubuh korban telah membusuk lanjut atau telah rusak, sehingga pemeriksaan sulit, maka dengan pemeriksaan radiologik ini akan dengan mudah menentukan kasusnya, yaitu dengan ditemukannya anak peluru pada foto rontgen

d. Pemeriksaan baju pada korban luka tembak Pemeriksaan korban luka tembak tidak lengkap tanpa pemeriksaan defek baju yang dibuat oleh peluru. Pada tempat yang sesuai dengan luka tembak masuk5 - Serat-serat pakaian akan terdorong ke dalam. - Bila ditembakan dari jarak dekat atau jarak sangat dekat, dapat terlihat pengotoran bewarna hitam yang disebabkan oleh butir-butir mesiu yang tidak terbakar dan akibat jelaga yang menempel pada pakaian. - Bila senjata dirawat dengan baik maka di tepi dan di bagian pakaian yang robek terdapat pengotoran oleh minyak pelumas yang berwarna kehitaman. Pada tempat yang sesuai dengan luka tembak keluar5 - Serat-serat pakaian akan terdorong keluar. - Di pinggir atau di sekitar robekan mungkin didapatkan pengotoran oleh darah, atau jaringan tubuh korban yang hancur dan terbawa keluar. Seperti otak atau serpihan tulang. - Tepi lubang pada pakaian tampak terangkat, hal ini menunjukkan bahwa peluru keluar melalui lubang tersebut.

33

B. Pemeriksaan Luar y Terdapat label mayat pada ibu jari kaki kanan berwarna merah muda, dengan materai lak merah serta cap dari kantor kepolisian. Mayat terbungkus kantung mayat berbahan plastic berwarna kuning,tidak ada corak, dan tidak kotor. Mayat berpakaian sebagai berikut: Mayat berpakaian kemeja lengan panjang berbahan katun berwarna putih polos merk Crocodile berukuran L. Terdapat bercak darah yang luas pada bagian dada sebelah kiri. Pada daerah dada sebelah kiri, 23cm di bawah bahu dan 7cm di kiri garis pertengahan tubuh depan dan 128cmdari tumit terdapat luka tembak dengan diameter 9,5mm. Mayat mengenakan celana panjang bahan berwarna hitam polos dengan dua buah saku pada bagian belakang dan satu buah saku masing-masing pada sisi kanan dan kiri yang berukuran nomor 32. Pada saku bagian belakang sisi kanan terdapat dompet berisi kartu tanda penduduk, kartu anjungan tunai mandiri, kartu kredit, surat izin mengemudi dan sejumlah uang Rp. 500.000. Celana dalam berbahan kaos berwarna putih polos bermerk Zara berukuran L. Kaos kaki berbahan katun berwarna hitam polos bermerk Zara. Sepatu kulit berwarna hitam polos bermerk Andrew berukuran empat puluh satu.

Pada jari manis tangan kiri mayat terdapat cincin emas dan pergelangan tangan kiri terdapat jam bermerk Swizz Army.

y y

Ditemukan senjata tajam berupa celurit milik mayat. Identifikasi umum: Mayat adalah seorang laki-laki berkebangsaan Indonesia, berumur 30 tahun. Kulit berwarna sawo matang, gizi baik, tinggi 175cm, berat badan 66kg. Mayat sudah disunat.

34

Tanda-Tanda Kematian y Lebam Mayat Biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya makin bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu ini, lebam mayat masih menghilang (memucat) pada penekanan dan dapat bisa berpindah jika posisi mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan pada 6 jam pertama setelah mati klinis.6 Pada kasus ini, lebam mayat terdapat pada bagian punggung berwarna merah kebiruan, hilang pada penekanan.

Kaku Mayat Kaku mayat buktikan dengan memeriksa persendian, kaku mayat mulai tampak kira-

kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) kearah dalam (sentripetal).6 Cadaveric spasm merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal.6 Pada kasus ini tidak ditemukan kaku mayat dan cadaveric spasm karena diduga kematian terjadi kurang dari 2 jam. y Penurunan Suhu Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban udara, bentuk tubuh, posisi tubuh, pakaian. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada suhu keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang kurus, posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, pada umumnya orang tua serta anak kecil.5 Pada kasus ini, mayat berumur 30 tahun, dengan berat badan ideal, menggunakan kemeja bahan katun, celana bahan katun berwarna hitam, suhu lingkungan sekitar rata-rata 30oC, dan aktivitas yang diperkirakan meningkat akibat perlawanan yang dilakukan mengakibatkan suhu mayat menjadi cepat menurun. Dari hasil pemeriksaan didapatkan suhu mayat 37oC.

35

Identifikasi Khusus Ditemukan tattoo pada lengan atas kanan, 5cm di kanan bahu terdapat tattoo bertuliskan I LOVE MUM berwarna hitam.

Pemeriksaan Rambut Tidak terdapat rambut kepala (botak). Alis berwarna hitam tumbuh lebat dengan panjang 4 cm. Bulu mata berwarna hitam, tumbuh lurus, dan panjang 1cm.

Pemeriksaan Mata Kedua kelopak mata tertutup. Tidak ada bintik perdarahan di selaput lendir mata. Selaput bening mata berwarna jernih. Tirai mata berwarna hitam. Teleng mata bundar dengan garis tengah 5 mm.

Pemeriksaan Daun Telinga dan Hidung Hidung berbentuk biasa. Kedua daun telinga berbentuk biasa. Tidak ada cairan yang keluar dari lubang telinga dan hidung.

Pemeriksaan Terhadap Mulut dan Rongga Mulut Mulut tertutup, kedua bibir tipis, berwarna merah muda, berbentuk M. Gigi geligi lengkap. Tidak ada tanda kekerasan. Tidak ada cairan keluar dari rongga mulut.

Pemeriksaan Alat Kelamin dan Lubang Pelepasan Tidak ditemukan kelainan pada alat kelamin dan lubang dubur.

Pemeriksaan Terhadap Tanda-tanda Kekerasan atau Luka Letak Luka : Pada dada sebelah kiri bawah 20 cm dibawah bahu, 7 cm di kiri garis pertengahan depan, dan 128 cm dari tumit. Jenis Luka : luka tembak.

Bentuk Luka : agak bulat. Arah Luka Tepi Luka Sudut Luka Dasar Luka : arah luka dari depan. : berbentuk tidak rata. : merupakan luka terbuka dengan sudut tumpul. : dasar luka nya adalah tulang iga ke 4, dengan patahan ke dalam.

Sekitar Luka : pada kelim lecet ditemukan adanya pengotoran hitam berminyak. Ukuran Luka : garis tengah 9 mm. Saluran Luka : lubang lukam, kelim lecet, kelim tattoo, dan kelim jelaga. y Pemeriksaan Terhadap Patah Tulang
36

Patah tulang tampak pada tulang iga ke 4 sebelah kiri, dengan patahan mengarah ke dalam.

A. Pemeriksaan Dalam Jaringan lemak bawah kulit, daerah dada normal dan perut berwarna kuning kecoklatan, tebal di daerah dada 6mm, sedangkan di daerah perut 11cm. Sekat rongga dada sebelah kanan setinggi sela iga ke empat dan kiri setinggi sela iga ke5.7 Pada iga ke-4 kiri, 6cm dari garis pertengahan depan terdapat lubang masuk bulat atau oval dengan tepi yang tajam, terdapat pecahan tulang pada ujung permukaan lubang keluar dan iga terdorong ke dalam bersama dengan peluru. Berbentuk dengan diameter sepanjang 1cm. Iga lain serta tulang dada lain tidak menunjukkan kelainan. Jaringan bawah kulit daerah leher dan otot leher tidak menunjukan kelainan. Kandung tampak 3 jari diantara kedua tepi paru. Pada kandung jantung sebelah kiri terdapat luka tembakan. Dalam kandung jantung terdapat darah sebanyak 2L. Rongga dada sebelah kiri terdapat darah dan bekuan darah sebanyak 2,5L.7 Dinding rongga perut tampak licin berwarna kelabu mengkilat. Dalam rongga perut tidak terdapat darah maupun cairan. Tirai usus tampak menutupi sebagaian besar usus. Lidah berwarna kelabu, perabaan lemas, tidak terdapat bekas tergigit maupun resapan darah. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukan kelaianan. Kelenjar gondok berwarna coklat merah, tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukan kelainan, berat 20gram. Batang tenggorok dan cabangnya kosong, selaput lendir berwarna putih dan tidak menunjukan kelainan.7 Kerongkongan kosong, selaput lendir berwarna putih. Paru kanan terdiri darai 3 baga, berwarna kelabu pucat perabaan seperti karet busa, penampangnya tidak tampak kelainan dan irisan keluar sedikit darah. Paru kiri terdiri dari dua baga, berwarna kelabu dan perabaan seperti karet busa, dan penampangnya tidak tampak kelainan. Berat paru kanan dan kiri adalah 400gram. Jantung tampak sebesar tinju kanan mayat. Selaput luar jantung tampak licin, tampak bintik perdarahan.7 Pada dinding depan serambi jantung kanan, 1cm sebelah kanan sekat jantung terdapat luka tembak dengan diameter 1cm.

37

Katup jantung tidak menunjukkan kelainan. Lingkaran serambi bilik kanan 11cm sedangkan yang kiri 9,5cm. Lingkaran katup nadi paru sepanjang 6m. Tebal otot bilik jantung kanan dan kiri 4mm. Tidak tersumbat dan dinding tidak menebal. Sekat jantung tidak menunjukkan kelainan. Berat jantung 300gram.7

Hati berwarna coklat, permukaan rata, tepinya tajam dan perabaan kenyal padat. Penampang hati berwarna merah coklat dan gambaran hati tampak jelas. Berat hati 1200gram.

Kandung empedu berisi cairan coklat hijau, selaput lendir berwarna hijau seperti beludru. Saluran empedu tidak terdapat penyumbatan.

Limpa berwarna ungu kelabu, permukaan keriput dan perabaan lemak. Penampangnya berwarna merah hitam dengan gambaran limpa jelas. Berta limpa 110gram.

Kelenjar liur perut berwarna putih kekuningan, permukaan menunjukkan belah-belah dan penampanganya tidak menunjukkan kelaianan. Berat kelenjar liur perut 85gram.7

Lambung berisi makanan yang setengah teremah terdiri dari nasi dan sayur. Selaput lendir berwarna putih dan menujukkan lipatan yang biasa, tidak terdapat kelainan. Usus dua belas jari, usus halus dan usus besar tidak menunjukkan kelainan.

Anak ginjal kanan dan kiri terbentuk bulan sabit. Gambaran kulit dan sumsum jelas tidak menunjukkan kelainan. Berat anak ginjal kanan dan kiri delapan gram. Ginjal kanan dan kiri bersimpai lemak tipis, tampak rata dan licin, tampak coklat dan mudah dilepaskan. Berat ginjal kanan dan kiri sembilan puluh gram. Penampang ginjal menunjukkan gambar yang jelas, piala ginjal dan saluran kemih tidak terdapat kelainan.

Kandung kencing berisi cairan berwarna kekuningan dan selaput lendir berwarna putih dan tidak tampak kelainan.

Kulit kepala bagiam dalam bersih, kecuali pada daerah dahi kiri menunjukkan resapan darah berukuran 3cm. Tulang tengkorak utuh. Selaput keras otak tidak menunjukkan kelainan. Tidak terdapat perdarahan diatas maupun di bawah selaput keras otak. Permukaan otak besar menunjukkan gambaran lekuk otak yang biasa, tidak terdapat perdarahan. Penampang otak besar tidak menunjukkan kelainan. Otak kecil dan batang otak tidak menunjukkan perdarahan baik pada permukaan maupun penampang.

Selanjutnya dapat ditentukan saluran luka pada dada sebelah kiri yang berjalan dari kiri depan ke belakang agak ke kanan, menembus kulit, jaringan bawah kulit, otot dada kiri,

38

iga kelima kiri, rongga dada kiri, kandung jantung dan bilik jantung sebelah kiri. Panjang saluran luka 12cm.

INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN Pada mayat laki-laki berumur 25 tahun ini, ditemukan luka tembak pada dada kiri, mengenai jantung dan tulang iga ke-4 patah. Penyebab: luka tembak pada jantung. Mekanisme: peluru yang tertembak pada dada kiri merusak organ jantung dan terjadi pendarahan yang berpotensi terjadinya syok hipovolemik, yaitu kondisi yang ditandai dengan terganggu suplai oksigen ke organ-organ vital. Lalu terjadi termasuk hipoksia yang disebabkan oleh pneumotoraks, cedera bencana ke jantung dan pembuluh darah yang lebih besar, dan kerusakan pada otak atau sistem saraf pusat. Kematian: tidak wajar. Saat kematian: ditemukannya lebam mayat yang belum menetap dan belum terbentuknya kaku mayat memungkinkan kematian mayat tersebut terjadi kurang dari 2jam sebelum dilakukan pemeriksaan.6

ASPEK BALISTIK Analisa balistik adalah analisa terhadap dampak penggunaan senjata api yang dihubungkan dengan jenis senjata api, peluru yang digunakan dan jarak penembakan.8 1. Setiap jenis peluru memiliki ciri khusus ketika mengenai objek sasaran tembakan. 2. Jenis peluru merupakan proses identifikasi terhadap jenis senjata yang digunakan dan bisa diprediksikan siapa pengguna senjata tersebut. 3. Luka atau akibat dari senjata api berhubungan dengan jarak penembakan dan jenis peluru serta jenis senjata api. Pada kasus ini senjata yang digunakan oleh polisi untuk menembak si tersangka/korban adalah senjata api Revolver tipe Colt 32 kaliber 9 mm. Sebagian besar senjata api ini memiliki 5 atau 6 alur pilin ke kanan. Pada colt alur pilinnnya adalah ke kiri.6

39

Senjata api Revolver merupakan senjata api dengan laras yang beralur (Rifled bore). Agar anak peluru dapat berjalan stabil dalam lintasannya, permukaan dalam laras dibuat beralur spiral dengan diameter yang sedikit lebih kecil dari diameter anak peluru, sehingga anak peluru yang didorong oleh ledakan mesiu, saat melalui laras, dipaksa bergerak maju sambil berputar sesuai porosnya, dan ini akan memperoleh gaya sentripetal sehingga anak peluru tetap dalam posisi ujung depannya di depan dalam lintasannya setelah lepas laras menuju sasaran. Alur laras ini dibagi menjadi dua yaitu, arah putaran ke kiri (COLT) dan arah putaran ke kanan (Smith and Wesson).6,8

Gambar 2.Alur senjata api Amunisi modern terdiri dari:8

Gambar 3. Gambar peluru

1. Proyektil peluru, yang ditembakkan dengan kecepatan tinggi. 2. Selongsong, yang menjadi wadah proyektil peluru dan mesiu. 3. Propelan, misalnya mesiu. 4. Rim, bagian bawah dari selongsong. 5. Primer, yang menyulut mesiu guna meledakkan atau menembakkan proyektil peluru. Normalnya, suatu peluru saat ditembakkan akan mengikuti suatu lengkung arah atau jalur tertentu. Namun, semakin cepat peluru melesat maka semakin lurus arah dan jalur peluru tersebut. Disipasi energi adalah bagaimana energi kinetis peluru yang disalurkan ke tubuh dari suatu kekuatan yang menahannya. Pada kasus proyektil velositas medium dan tinggi, disipasi energi dipengaruhi oleh Drag (hambatan), Profile (profil) dan Cavitation (kavitasi). Drag Faktor-faktor yang memperlambat suatu peluru, termasuk tahanan angin, hambatan oleh jaringan, dll. Profile Titik tumbuk peluru merupakan profil dari peluru tersebut. Semakin besar ukuran titik tumbuk semakin besar energi yang disalurkan.
40

Cavitation Sering disebut sebagi perluasan alur masuk peluru. Merupakan lubang di jaringan tubuh yang dihasilkan oleh energi kinetis peluru. Lubang ini lebih besar daripada lubang masuk peluru. Karenanya, luka yang dihasilkan lebih besar dari diameter peluru tersebut. Kadang kala, karena energi kinetis peluru sedemikian besar, peluru dapat menembus jaringan di sebaliknya. Oleh karena itu selalu kaji adanya lubang keluar peluru (exit wound).

41

Visum et Repertum
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat. Telp: 021- 5694-2061. 11510

Nomor

:7891 -SK.II/1234/2-90

Jakarta, 3 Januari 2012

Lampiran: Satu sampul tersegel Perihal : Hasil pemeriksaan pembedahan atas jenazah Tn. Anton

PROJUSTITIA Visum Et Repertum Yang bertanda tangan dibawah ini, Budi, dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari kepolisian Resort Polisi Jakarta Barat No.Pol.:B/123/VR/III/10 Serse tertanggal 3 januari 2012 , maka pada tanggal tiga januari dua ribu dua belas, pukul dua belas lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia Bagian Barat, bertempat di ruang bedah jenazah Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah :

Nama:Anton Jenis Kelamin: Laki-laki Umur: 30 tahun Kebangsaan: Indonesia Agama: Islam Pekerjaan: Karyawan swasta Alamat: Jalan kebayoran lama no 27

Mayat telah diidentifikasikan dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai lak merah, terikat pada ibu jari kaki kanan

42

Hasil pemeriksaan

I.

Pemeriksaan Luar

1. Mayat terbungkus plastik warna kuning dengan retsleting. 2. Mayat berpakaian sebagai berikut: a. Kemeja lengan panjang bermerek ZARA, berwarna putih berbahan katun, terdapat bercak darah yang luas di bagian dada kiri. b. Celana panjang berwarna hitam bahan katun bermerek ZARA, dengan dompet di saku belakang berisikan KTP, SIM, STNK, kartu ATM, kartu kredit. c. Celana dalam berwarna putih berbahan katun, merek GT man. 3. Pada jari manis tangan kanan terdapat cincin emas. 4. Kaku mayat belum muncul. Lebam mayat terdapat pada bagian punggung, berwarna merah kebiruan, tidak hilang pada penekanan. 5. Mayat adalah seorang laki laki bangsa Indonesia, umur 30 tahun, kulit berwarna sawo matang, gizi cukup, panjang badan seratus tujuh puluh lima sentimeter dan berat enam puluh enam kilogram dan zakar telah disunat. 6. Pada lengan atas kanan bagian lima sentimeter di kanan bahu terdapat tato dengan tulisan I LOVE MUM, berwarna hitam. 7. Rambut botak, bulu mata hitam, alis hitam lebat. 8. Kedua mata tertutup, selaput bening mata jernih, pupil dengan diameter 4 mm, iris coklat, selaput kelopak mata kanan dan kiri berwarna merah muda, tidak tampak perdarahan maupun pelebaran pembuluh darah. 9. Hidung berbentuk biasa, kedua telinga berbentuk biasa. 10. Mulut terbuka 5 mm. Kedua bibir tampak tebal. Gigi geligi lengkap, tidak ada tambalan. 11. Lubang hidung, telinga mulut dan lubang tubuh lainnya tidak mengeluarkan cairan atau darah. 12. Alat kelamin berbentuk biasa dan lubang dubur berbentuk biasa tidak menunjukan kelainan. 13. Pada tubuh terdapat luka pada derah dada sebelah kiri dua puluh tiga sentimeter di kiri garis pertengahan badan depan dan seratus dua puluh delapan sentimeter dari tumit terdapat luka tembak di tulang iga 4.
43

II.

Pemeriksaan dalam (bedah jenazah)

14. Patah tulang iga ke 4 (retak). 15. Jaringan lemak bawah kulit daerah dada dan perut berwarna kuning kecoklatan tebal di daerah dada lima milimeter sedangkan di daerah perut sebelas sentimeter. Otot otot berwarna coklat cukup tebal. 16. Sekat rongga badan sebelah kanan setinggi sela iga ke 4 dan yang kiri setinggi sela iga ke 5. 17. Pada iga ke 4 kiri, 8 cm, dari garis pertengahan depan terdapat luka tembus berdiameter 2 sentimeter. Tulang iga ke 4 retak dan tulang dada lain tidak menunjukan kelainan. 18. Jaringan bawah kulit daerah leher dan otot leher tidak menunjukan kelainan. 19. Kandung jantung tampak tiga jari diantara kedua tepi paru. Pada kandung jantung sebelah kiri depan terdapat luka menembus melintang sepanjang tiga sentimeter. Dalam kandung jantung terdapat darah sebanyak seratus sentimeter kubik. Rongga dada sebelah kiri terdapat darah dan bekuan darah sebanyak dua ratus limapuluh sentimeter kubik. Paru kanan dan kiri cukup mengembang. 20. Dinding rongga perut tampak licin berwarna kelabu mengkilat. Dalam rongga perut tidak terdapat darah maupun cairan. Tirai usus tampak menutupi sebagian besar usus. 21. Lidah berwarna kelabu, perabaan lemas, tidak terdapat bekas tergigit maupun resapan darah. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukkan kelainan. Kelenjar gondok berwarna coklat merah, tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukkan kelainan, berat dua puluh gram. 22. Batang tenggorok dan cabangnnya kosong, berwarna putih dan tidak menunjukan kelainan. 23. Kerongkongan kosong, selaput lendir berwarna putih. 24. Paru kanan terdiri dari 3 baga, berwarna kelabu dan perabaan seperti karet busa, penampangnya tidak tampak kelainan dan irisan tidak keluar darah. Pada paru kiri terdapat dari 2 baga, berwarna kelabu dan perabaan seperti karet busa, penampangnya tidak tampak kelainan dan irisan tidak keluar darah. Berat paru kiri empat ratus gram dan berat paru kanan empat ratus gram. 25. Jantung tampak sebesar tinju kanan mayat. Selaput luar jantung tampak licin, terdapat bintik perdarahan. Pada dinding depan serambi jantung kanan 1 cm
44

sebelah kanan sekat jantung terdapat luka tembak dengan diameter 9 mm sepanjang 5 cm. Katup jantung tidak menunjukkan kelainan. Lingkaran serambi bilik kanan 11 cm sedangkan yang kiri 9,5 cm. Lingkaran katup nadi paru sepanjang 6 cm.tebal otot bilik jantung kanan 4mm dan yang kiri 12mm. Otot puting cukup tebal. Pembuluh nadi jantung tidak tersumbat dan dinding tidak menebal.sekat jantung tidak menunjukkan kelainan. Berat jantung 300gram. 26. Hati warna coklat permukaan rata, tepi tumpul, perabaan kenyal padat. Penampang hati merah coklat dan gambaran hati jelas. Berat hati 1100 gram. 27. Kandung empedu berisi cairan hijau,selaput lendir berwarna hijau seperti beludru. Saluran tidak ada penyumbatan. 28. Limpa berwarna ungu kelabu. Permukaan keriput dan perabaan lembek. Penampang berwarna merah hitam dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa seratus gram. 29. Kelenjar liur perut berwarna putih kuning, permukaan belah belah penampangnya tidak menunjukkan kelainan. Berat 80 gram. 30. Lambung kosong. Selaput lendir berwarna putih dan lipatan normal. Usus 12 jam, usus halus, usus besar normal. 31. Anak ginjal kanan berbentuk trapesium dan kiri berbentuk trapesium. Gambaran kulit dan sumsum tidak menunjukkan kelainan. Berat anak ginjal kanan delapan gram dan yang kiri delapan gram. 32. Ginjal kanan dan kiri berimpai lemak tipis simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata dan licin berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal kanan 80 gram dan yang kiri 90 gram. Penampang ginjal menunjukkan gambaran yang jelas, piala ginjal dan saluran kemih tidak menunjukkan kelainan. 33. Kandung kencing berisi cairan berwarna kekuningan dan berwarna putih, tidak menunjukkan kelainan. 34. Kulit kepala bagian dalam bersih. Tulang tengkorak utuh selaput keras otak tidak menunjukkan kelainan. Tidak terdapat perdarahan di atas maupun di bawah selaput keras otak. Permukaan otak besar menunjukkan gambaran lekuk otak yang biasa, tidak terdapat perdarahan baik pada permukaan maupun penampangnya. 35. Selanjutnya dapat ditentukan saluran luka pada dada kiri (luka 13.b) yang berjalan dari kiri ke depan ke belakangan agak keras menembus kulit, jaringan bawah kulit, otot dada kiri, iga keempat kiri, rongga dada kiri, kandung jantung dan bilik jantung sebelah kiri, panjang saluran luka 5 cm.
45

KESIMPULAN

Telah dilakukan pemeriksaan luar dan dalam terhadap mayat seorang laki-laki dewasa berumur sekitar tiga puluh tahun, bangsa Indonesia, warna kulit sawo matang, gizi cukup, panjang badan seratus tujuh puluh lima sentimeter. Kematian orang tersebut disebabkan oleh luka terbuka pada dada kiri akibat tembakan jarak dekat. Luka tembak tersebut menembus dinding dada kiri dan mengenai jantung serta menyebabkan terjadinya perdarahan dalam rongga dada dan kandung jantung. Luka pada dada kiri menunjukkan ciri-ciri yang sesuai dengan peluru dari tembakan pistol revolver. Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaik-baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHP.

Dokter yang memeriksa,

Dr. Budi NIP 102008003

46

Kesimpulan
1. Hipotesis diterima . Seorang mayat laki-laki muda dengan luka tertembak ketika akan ditangkap dan mencoba melawan petugas diduga meninggal karena perdarahan massif akibat luka tembak jarak dekat pada jantung.

47

Daftar Pustaka
1. Kepolisian Negara Republik Indonesia. Peraturan-peraturan POLRI. 2 Desember 2010. Diunduh dari http://www.polri.go.id/atr/ppol/pages/10. 3 Januari 2012. 2. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Edisi kedua. Bagian Kedokteran Forensik FK Uni. Indonesia. Jakarta; 1994 3. Anonim. Forensic Pathology [online]. [cited 2011 Februari 20]. .

http://library.med.utah.edu/WebPath/FORHTML/FOR039.html health/publications/newborn_resus_citation/index.html. 4. Hueske E. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks, Practice and Resource. 2006. 5. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997; p.131-168. 6. Widiatmaka W. Budiyanto A. Sudiono S, dkk. Ilmu kedokteran forensik. Edisi I, cetakan ke-2. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UI. 1997. 7. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UI. Teknik Autopsi Forensik. Cetakan ke-4. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UI. 2000. 8. Aspek Balistik. Diunduh dari www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/luka%20tembak.pdf. 3 Januari 2012.

48