Anda di halaman 1dari 6

PEMERINTAH PROVISIONAL Revolusi Februari 1917 telah mengakhiri kekuasaan monarki Rusia, memutuskan kekuasaan garis keturunan dinasti

Rumanov, dan memberikan dasaran bagi kehidupan yang lebih demokratis sesuai tuntutan zaman di awal abad XX. Hal-hal penting yang menyebabkan terjadinya revolusi tersebut adalah krisis yang terjadi baik di kalangan atas maupun masyarakat kelas bawah. Pengumuman tentang pemberhentian sekitar 30 ribu pekerja di Petrograd pada tanggal 22 Februari telah mengakibatkan reaksi yang begitu keras di kalangan para pekerja di mana pada tanggal 23 sampai 25 Februari terjadi pemogokan besar-besaran di seluruh kota tersebut. Sehari kemudian para tentara yang sedianya ditugaskan untuk menghentikan pemogokan tersebut justru beralih memihak para demonstran. Sekitar sepekan setelah peristiwa itu, tepatnya tanggal 2 Maret 1917, Tsar Nikolai II mengundurkan diri dari tahta Imperium Rusia dan untuk mengisi kekosongan kekuasaan dibentuklah organ kekuasaan yang dikenal dengan Pemerintahan Sementara ( Vremennoye Pravitelstvo). Setelah kejatuhan tsar, kekuasaan berada dalam tarik-menarik dua kekuatan besar, yaitu Pemerintahan sementara di satu sisi, dengan Dewan Pekerja dan Prajurit Petrograd di sisi lain. Soviet Petrograd terbentuk dari kristalisasi kekuatan kiri revolusioner yang masih menginginkan bergulirnya revolusi, karenanya mereka tidak mengakui eksistensi Pemerintahan Sementara. Hal ini mengakibatkan terjadinya kekuasaan ganda dalam masa transisi tersebut. Tanggal 3-4 Juni 1917 Petrograd kembali diguncang aksi demokrasi yang dilakukan oleh para tentara, pelaut dan pekerja, yang mengakhiri adanya kekuasaan ganda tersebut. Pada 24 Juni kembali dibentuk pemerintahan koalisi kedua yang dipimpin oleh Aleksandr Kerensky. Setelah monarki jatuh, Rusia dipimpin oleh dua kekuatan, yang satu sama lain saling bertentangan. Pertama adalah para politisi dari berbagai partai di Duma yang membentuk Pemerintahan Sementara, yang terdiri dari Kadet, Menshevik, dan Sosialis Revolusioner (SR). di sisi lain adalah para pekerja Petrograd yang bersama-sama dengan prajurit membentuk Soviet Petrograd, atau Dewan Pekerja dan militer Petrograd. Walaupun Pemerintah Sementara lebih memiliki legitimasi, namun secara riil kekuasaan dipegang oleh Soviet Petrograd. Selain memiliki dukungan luas di kalangan rakyat, Soviet Petrograd juga memiliki kekuatan senjata, hal yang tidak mungkin dimiliki oleh pemerintah sementara.

Rencana revolusi oktober telah dirancang oleh Lenin dua bulan sebelumnya. Dengan bertolak dari prinsip-prinsip Marx, Lenin memanfaatkan momentum perubahan yang terjadi di masyarakat akibat krisis pemerintahan. Pada tanggal 10 Oktober 1917 komite sentral RSDRP (B) mengeluarkan sebuah resolusi tentang pemberontakan bersenjata. Namun hal ini ditentang oleh tokoh-tokoh komunis seperti Lev Kamenev dan Grigory Zinoviov. Namun suara mereka dapat dikalahkan oleh Lenin yang mengatakan pentingnya pengambilan kekuasaan dengan kekuatan bersenjata. Dua hari kemudian dibentuk komite militer revolusi yang secara resmi diketuai oleh Pavel Lazimir. Walaupun kenyataannya organisasi ini dibawah kendali Lev Trostsky. Revolusi meliputi beberapa peristiwa penting, antara lain kudeta Petrograd dan Sidang Soviet seluruh Rusia II. Pada Kudeta Petrograd, tanggal 25 Oktober 1917 diumumkan tentang pemindahan kekuasaan dari Pemerintahan Sementara ke Komite Militer Revolusioner pimpinan Pavel Lazimir. Diumumkan pula tuntutan rakyat yang berisi pembentukan perdamaian yang demokratis, penghapusan kepemilikan tanah oleh para tuan tanah, pengenalan kontrol pekerja atas produksi, dan pembentukan pemerintahan Soviet. Sedangkan dalam sidang Soviet seluruh Rusia II yang berlangsung selama 3 hari (25-27 Oktober 1917), dibentuk pemerintahan Soviet yang dikenal dengan Soviet Komisaris Rakyat (SNK) yang diketuai oleh V.I. Lenin (kepala negara). Sidang tersebut juga membentuk Komite Sentral Eksekutif seluruh Rusia (VTsIK) yang diketuai oleh Lev Kamenev (kepala pemerintahan). Selain itu, sidang ini juga mengeluarkan 2 dekrit penting menyangkut kebijakan domestik dan internasional, yaitu dekrit tentang tanah (Zemlya) dan Dekrit tentang perdamaian (Mir).

RSFSR Dalam revolusi pertama Rusia, kaum Bolshevik terlibat dalam berbagai upaya penggulingan kekuasaan kekaisaran Rusia, baik secara legal maupun illegal. Mereka turut aktif dalam pemberontakan bersenjata, dan menyuarakan program-programnya dalam perwakilan Soviet Pekerja dan organisasi-organisasi serikat pekerja yang berada di seluruh negeri. Ketika revolusi pertama menemui kegagalan, kaum Bolshevik menekankan perlunya dipersiapkan

revolusi baru dan pengerahan seluruh gerakan revolusioner baik yang legal maupun ilegal dalam persiapan tersebut. Bila revolusi Februari merupakan kemenangan kaum borjuis, maka revolusi Oktober 1917 adalah kemenangan kaum Bolshevik, yang kemudian dikenal dengan sebutan revolusi proletar. Lenin menyebutnya sebagai kemenangan kekuasaan Soviet. Setelah meraih kemenangan di Petrograd dengan merebutnya dari Pemerintahan Sementara yang diisi oleh kelompok Menshevik, kaum Bolshevik memperluas revolusi ke seluruh pelosok negeri. Proses revolusi di daerah-daerah berlangsung dengan 2 cara, yaitu cara damai dan dengan kekerasan. Perlawanan dilakukan oleh pasukan Yungker (pasukan elit negara) dan unit-unit kekuatan militer serta anggota Duma kota Moskow. Hanya pada tanggal 3 November 1917 saja korban yang jatuh dari pihak pemberontak mencapai 1.000 orang, dimana pertempuran berlangsung selama seminggu. Dalam sidang III Dewan Pekerja, Militer dan petani di Petrograd pertengahan Januari 1918, kaum Bolshevik meresmikan berdirinya Republik Soviet Rusia yang telah diproklamirkan pada sidang sebelumnya (sidang II) pada tanggal 7 November 1917 dan mengubah namanya menjadi RSFSR (Republik Soviet Sosialis Federasi Rusia). Setelah meraih kekuasaan dan membentuk pemerintahan RSFSR, Bolshevik menyusun berbagai kebijakan, baik politik maupun ekonomi untuk memperbaiki keadaan akibat revolusi dan perang.

USSR / Uni Soviet Setelah perang saudara, atas dukungan kekuatan tentara Merah, terbentuklah 6 republik (Soviet) yang berdaulat secara formal di wilayah bekas Imperium Rusia, yaitu Rusia (RSFSR), Ukraina, Belorusia, Azerbaijan, Armenia dan Georgia. Keenam Negara tesebut merdeka pada tahun-tahun yang bersamaan dalam masa perang saudara. Jika Rusia (RSFSR) terbentuk pada tahun 1918, Ukraina telah terbentuk pada Desember 1917. Belorusia baru terbentuk pada Januari

1919, Azebaijan pada April 1920, Armenia pada November 1920 dan Georgia pada Februari 1921. Pada tahun 1918 di Republik Soviet Rusia (RSFSR) sendiri telah terbentuk struktur territorial negara, dimana suku-suku yang tinggal di sekitar tanah Rus diberi kedudukan dalam 2 tingkatan dan status yang berbeda. Status republik diberikan kepada teritori suku-bangsa seperti Bashkiria ASSR, Tatarstan ASSR, Dagestan ASSR dan lain-lain. Sedangkan status yang lebih rendah yakni Oblast Otonom (AO) diberikan kepada wilayah Kalmykia, Chuvasia Mariiskaya dan lain-lain. Menjelang terbentuknya Uni Soviet (USSR) pada tahun 1922, Rusia (RSFSR) terdiri dari 20 daerah republik-kesukuan. Lenin mendukung terbentuknya Uni Republik Sosialis Soviet (Uni Soviet) berdasarkan bentuk federasi, persamaan dan sukarela. Ini didukung dalam Plenum Oktober Komite Sentral partai pada tahun 1922. Sedangkan Stalin melihat ide pembentukan Uni Soviet pada Otonomisasi, dimana republik-republik baru itu masuk ke dalam struktur SRFSR. Namun kemudian usul Lenin lebih diterima. Deklarasi tentang pembentukan Uni Soviet (USSR) yang terdiri dari RSFSR (Rusia), USSR (Ukraina), BSSR (Belarus), ZSSR (Zakaukasus, yaitu Georgia, Armenia dan Azerbaijan) diresmikan pada sidang I seluruh Soviet tanggal 30 Desember 1922, dan merupakan hari lahirnya Soyuz Sovietskih Sotsialisticheskih Respublik / SSSR atau Uni Soviet-Soviet Republik Sosialis atau dipendekkan menjadi Uni Soviet. Komite sentral (TsIK) merupakan lembaga tertinggi Negara yang bekerja pada masa antar-sidang. Untuk pertama kalinya dipilih ketua Komite Sentral, yaitu : M.I. Kalinin (dari RSFSR), G.I. Petrovsky (Ukraina SSR), A.G. Chervyakov (Belarus SSR) dan N.N. Narimanov (Zakavkasia SSR). Sedangkan sebagai ketua Dewan Menteri Uni terpilih V.I. Lenin yang saat itu sedang sakit. Sebagai dasar Negara disahkan Konstitusi Uni Soviet pada sidang II seluruh Soviet bulan Januari 1924. Konstitusi ini bersifat sementara dan berlaku hingga 1936, dimana telah disusun konstitusi yang baru. Konstitusi 1924 menyebutkan kedaulatan republik-republik dan hak formal untuk melepaskan diri dari Uni Soviet. Kalilin terpilih sebagai ketua Komite Sentral, sedangkan A.I. Rizhkov menggantikan Lenin. Komite sentral dipisah menjadi 2 kamar : Dewan Uni dan Dewan Kebangsaan. Beberapa tahun sejak kelahirannya, Uni Soviet yang mengusung semboyan Proletar Seluruh Negara Bergabunglah! mengalami perkembangan pesat. Pada tahun 1924 telah

bergabung Uzbekistan dan Turkmenistan. Lalu disusul Tadjikistan (1929), Kirgizia dan Kazakhstan (1936). Negara-negara Baltik seperti, Lituania, Estonia dan Latvia bergabung pada tahun 1940.

RUSIA FEDERATION Revolusi yang terjadi di akhir dekade abad XX telah membawa kehancuran Uni Soviet yang telah dibangun selama lebih kurang tujuh dasawarsa. Uni soviet secara resmi berakhir pada tanggal 25 Desember 1991 ketika Presidan Uni Soviet Mikhail Gorbacev mengumumkan pengunduran diri menyusul kemelut politik sebagai kelanjutan kudeta yang gagal pada pertengahan bulan Agustus 1991. Berbagai atribut Soviet yang selama tujuh dasawarsa menempel berusaha dilepaskan dan diganti dengan atribut baru, yang sebagian besar merupakan revitalisasi atribut-atribut lama praBolshevik. Secara resmi kemerdekaan Rusia diproklamirkan pada tanggal 12 Juni 1990 dalam

sidang I majelis Perwakilan Rakyat Soviet Rusia, disaat masih berdirinya Uni Soviet. Lembaga legislatif itupun kemudian diubah namanya menjadi Duma Negara. Rusia pasca Uni Soviet tengah dibangun menjadi sebuah Rusia Baru yang demokratis. Rusia memang telah memilih satu jalan baru, menyusul disintegrasi Uni Soviet. Sebuah Negara dengan sistem ekonomi pasar bebas sedang dibangun dalam masa transisional. Berbagai langkah politik baik nasional maupun internasional telah dilakukan untuk menegaskan sosok Rusia Baru yang telah menggantikan Rusia Soviet yang bercirikan komunisme dan sistem ekonomi sosialis yang terpusat (ekonomi komando). Rusia pasca Uni Soviet adalah sebuah Negara yang berbentuk federasi yang dipimpin oleh seorang presiden. Boris Nikolayevich Yeltsin dipilih sebagai presiden pertama Rusia. Sebagai sebuah Negara federasi, Negara ini terdiri dari konstituen sebanyak 89 subjek Federasi. Subjek federasi tersebut terdiri dari, 22 Republik, 47 Oblast (propinsi),1 Oblast Otonom, 6 Kray (setingkat Propinsi), 2 kota Federal, yakni Moskow dan St. Petersburg, serta 10 Okrug Otonom. Tanggal 12 Desember 1993 disahkan Konstitusi Federasi Rusia yang mendeklarasikan Rusia sebagai Negara hukum yang berbentuk federasi dengan sistem pemerintahan presidensiil. Konstitusi menekankan prinsip pemisahan kekuasaan Yudikatif, Eksekutif dan legislatif, yang masing-masing berdiri sendiri. Kekuasaan pemerintahan dalam lingkup Negara dipegang oleh Presiden, Dewan Federasi, Pemerintah (Pravitelstvo) dan Kehakiman. Sedangkan dalam lingkup subjek Federasi Rusia (di republik-republik, Kray (daerah), Oblast dan Oblast otonom) adalah oleh organ-organ kekuasaan setempat.