Anda di halaman 1dari 6

1.

Pengertian TB Paru TB Paru adalah infeksi saluran nafas yang disebabkan oleh mycobacterium tuburcolosis yang biasanya di tularkan melalui droplet, orang ke orang, dan mengkolonisasi bronkiolus atau alveolus. (Elizabeth J. Corwin, 2000 : 414). TB Paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobactorium tuburcolosis dengan gejala yang sangat bervariasi. (Kapita Selekta, 2001 : 472). TB Paru adalah penyakit infeksi paru yang disebabkan oleh mycobactorium tuburcolosis. (Sylvia A. Price, 1996 : 754). Dari ketiga pengertian diatas penulis mengambil kesimpulan bahwa TB Paru adalah suatu penyakit menular sebagai akibat mycobacterium tuburcolosis. 2. Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan Peran sistem pernafasan adalah untuk mengelola pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara udara dan darah. Paru-paru terletak pada rongga dada dengan dasarnya menghadap ke tengah rongga dada. Pada bagian tengah terdapat hilus dan mediastinum depan terdapat jantung. Paruparu dibungkus oleh pleura. Pleura dibagi menjadi dua bagian yaitu viserale dan parientale. Paru-paru merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut yang terdiri dari gelembung gas/alveoli. Gelembung alveoli terdiri dari sel-sel epitel dan ondotel. Pada lapisan ini terjadi pertukaran O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah dan jaringan. Setiap paru-paru mempunyai aspek dan basis. Pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe masuk ke hilus dan membentuk akar paru-paru. Paru-paru kanan lebih besar dari pada paru-paru kiri. Paru kanan dibagi menjadi tiga lobus oleh fisura interkostalis dan paru kiri dibagi menjadi dua lobus. Lobus tersebut dibagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkhusnya. Paru kanan terdiri dari sepuluh segmen dan paru kiri terdiri dari sembilan segmen. (Sylvia A. Price, 1998 : 648) Ada tiga proses dalam respirasi yaitu ventilasi, perfusi dan difusi. Ventilasi yaitu keluar masuknya udara melalui trakhea brankheal sehingga oksigen sampai ke alveoli dan karbon dioksida dibuang, perfusi adalah O2 dan CO2 yang keuar masuk aliran darah terinfeksinya paru oleh

dalam kapiler paru/jaringan. Difusi adalah pertukaran O2 dan CO2 antara alveolus dan kapiler paru. Medula oblongata mengatur tekanan CO2 tekanan O2 dan keasaman daerah arterior, sedangkan pons bertanggung jawab memelihara ritme pernafasan (Sylvia A. Price, 1998 : 648) Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pernafasan

Sumber : Grant Metode Anatomi 3. Patofisiologi

Setelah bakteri tuberculosis masuk ke dalam paru-paru akan timbul reaksi protein yang menyebabkan terjadinya nekrosis jaringan, sedangkan lemaknya menyebabkan sifat tahan asam yang berakibat terjadinya tuberkel. Penularan mycrobacterium tuberculosis ini biasanya melalui saluran pernafasan sehingga fokus primer tuberculosis terdapat pada paru-paru sebagai bagian dari saluran pernafasan, dalam aliran darah secara langsung atau melalui kelenjar getah bening. Komplikasi TB Paru berupa penyebaran milier dan meningitis tuberculosis yang dapat terjadi dalam tiga bulan, pleuritis dan bronkogen dalam enam bulan dan tuberculosis tulang 1-5 tahun setelah terbentuknya komplek primer. 4. Penyebab TB Paru Tuberkolosis paru disebabkan oleh Mycobacterium Tubercolosis yang berbentuk kuman batang tahan asam yang biasanya ditularkan melalui inhalsi percikan ludah (droplet) orang ke orang, mengkolonisasi bronkhiolus/alveolus. (Elizabeth J. Corwin, 2000 : 414) 5. Tanda dan Gejala TB Paru a. Keluhan : Yang dirasakan penderita tuberculosis dapat bermacam-macam atau malah tidak tampak keluhan sama sekali. Tanda dan gejalanya adalah : 1) Demam Biasanya subfebris menyerupai demam influensa kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40-410 C. demam ini hilang timbul, sehingga penderita merasa tidak pernah terbebas dari serangan influensa.

2) Batuk Gejala paling sering ditemukan batuk terjadi karena iritasi pada bronkus. Batuk-batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar, sifat batuk dimulai dari batuk kering (Non-produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah.

3) Sesak nafas Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak nafas karena sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut. 4) Nyeri dada Gejala ini agak jarang ditemukan, nyeri dada timbul bila influensa radang sudah sampai pleura sehingga menumbulkan pleuritis. 5) Malaise Penyakit tuberculosis bersifat radang yang menahun, gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia, badan makin kurus (berat badan turun) sakit kepala, panas dingin, nyeri otot dan keringat malam. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur. a. Pemeriksaan fisik Kelainan jasmani yang mungkin didapat antara lain : 1) Tanda tanda adanya infiltrat atau konsolidasi, terdapat premitus (getaran dada) mengeras, perkusi redup, suara nafas bronchial dengan atau tanpa ronchi. 2) Tanda-tanda penarikan paru, diafragma, mediastinum atau pleura dada asimetris.

a. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan darah tepi umumnya memperlihatkan adanya : 1) Anemia terutama penyakit berjalan menahun. 2) Leukositosis ringan dengan predominasi limfosit. 3) LED meningkat terutama pada fase akut. a. Pemeriksaan Radiologi Karakteristik radiologi yang menunjang diagnosis antara lain : 1) Bayangan lesi radiologi yang terletak lapangan atas paru. 2) Bayangan yang berawan atau bercak. 3) Kelainan yang bilateral. 4) Bayangan menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu. 5) Bayangan milier a. Pemeriksaan Sputum (Dahak)

Ditemukan kuman mycobacterium tuberculosis dari dahak penderita b. Uji Tuberkulin c. Uji tuberkulin positif terutama pada anak, sedang pada orang dewasa kurang bernilai. 2. Klasifikasi TB Paru a. TB paru 1) BTA mikroskopis langsung (+) atau biakan (+), kelainan foto toraks menyokong TB, dan gejala klinis sesuai TB. 2) BTA mikroskopis langsung atau biakan (-), tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal anti TB (initial therapy) pasien golongan ini memerlukan pengobatan yang adekuat. a. TB Paru tersangka Diagnosis pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan BTA didapat (paling lambat 3 bulan). Pasien dengan BTA mikroskopis langsung (-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau pemeriksaan belum lengkap, tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB Paru. Pengobatan dengan anti TB sudah dapat dimulai. b. Bekas TB (tidak sakit) Ada riwayat TB pada pasien di masa lalu dengan atau tanpa pengobatan atau gambaran rontgen normal atau abnormal tetapi stabil pada foto serial dan septum BTA (-). Kelompok ini tidak perlu diobati. (Kapita Selekta, 2001 : 473) 2. Komplikasi TB Paru Penyakit Tuberculosis Paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi. Komplikasi dibaginatas komplikasi dini dan komplikasi lanjut. a. Komplikasi dini 1) Pleuritis 2) Efusi fleura 3) Laringitis a. Komplikasi lanjut 1) Karsinoma paru 2) Sindrom gagal nafas dewasa

3) Kerusakan parenkin berat. (FKUI, 2001 ; 829) 2. Penatalaksanaan TB Paru a. Obat anti TB (OAT) OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga. Tujuan pemberian OAT antara lain 1) Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan bakterisid. 2) Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi. 3) Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologis. Maka pengobatan TB dapat dilakukan melalui dua fase yaitu : 1) fase awal intensif, dengan kegiatan bakterisid untuk memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat. 2) Fase lanjutan, melalui kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek atau kegiatan bakteriostotik pada pengobatan konvensional. OAT yang bisa digunakan antara lain isoniazid (INH), rifamisin (R), pirazinamid (Z) dan streptomisin (S) yang bersifat bakterisid dan etambutol (E) yang bersifat bakteriostatis. Penilaian keberhasilan pengobatan didasarkan pada hasil pemeriksaan bakteriologi, radiologi dan klinis. Kesembuhan TB Paru yang baik akan memperlihatkan sputum BTA (-), adanya perbaikan radiologi dan menghilangnya gejala.