Anda di halaman 1dari 8

Antropologi politik Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya,

perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Antropologi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata. Objek dari antropologi adalah manusia di dalam masyarakat suku bangsa, kebudayaan dan prilakunya. Ilmu pengetahuan antropologi memiliki tujuan untuk mempelajari manusia dalam bermasyarakat suku bangsa, berperilaku dan berkebudayaan untuk membangun masyarakat itu sendiri. Dalam bidang teori antropologi, memberikan penjelasan dalam menunjukkan perbedaaan struktur sosial serta pola-pola kebudayaan yang berbeda-beda pada tiap-tiap masyarakat. Antropologi Politik membahas pendekatan antropologi terhadap gejala-gejala politik dalam kehidupan manusia. Pembahasan meliputi teori-teori mengenai perwujudan politik dalam kehidupan manusia serta sistem politik pada masyarakat sederhana dan modern. Selain itu juga membahas pendekatan antropologi terhadap gejala-gejala politik dalam kehidupan manusia, termasuk yang tidak terkategori sebagai gejala-gejala politik yang berkaitan dengan lembaga-lembaga politik formal/pemerintah dalam masyarakat modern. Dengan demikian, cakupan pembahasan meliputi pula berbagai gejala politik dan organisasi sosial dalam komuniti-komuniti masyarakat perdesaan/non-masyarakat kompleks. Kaitan antara Ilmu Antropologi dengan ilmu politik yaitu ilmu antropologi memberikan pengertianpengertian dan teori-teori tentang kedudukan serta peranan satuan-satuan sosial budaya yang lebih kecil dan sederhana. Mula-mula Antropologi lebih banyak memusatkan perhatian pada kehidupan masyarakat dan kebudayaan di desa-desa dan dipedalaman. Antropologi telah pula berpengaruh dalam bidang metodologi penelitian ilmu politik. salah satu pengaruh yang amat berguna dan terkenal serta kini sering dipakai dalam ilmu politik ialah metode peserta pengamat. penelitian semacam ini memksa sarjana ilmu politik untuk meniliti gejala-gejala kehidupan sosial dari dalam masyarakat yang menjadi obyek penelitiannya.

BAB IX

ANTROPOLOGI POLITIK

Berkembangnya sesudah tahun 1940, ditandai dengan terbitnya buku African Political System dari M. Fortos dan E.E. Evan Pitchard. Redcliffe Brown, penulis kata pengantar dalam buku tersebut menganggap bahwa: organisasi politik adalah organisasi yang melaksanakan aktifitas sosial yang menyangkut penjagaan keteraturan dan stabilitas masyarakat dalam suatu wilayah tertentu, dengan menggunakan kekuasaan dan kalau perlu kekerasan secara absah .

Berdasarkan definisi tersebut, topik-topik yang termasuk dalam antropologi politik meliputi:

1.

masalah-masalah hukum adat

2.

organisasi kenegaraan

3.

organisasi perang

4.

organisasi kepemimpinan

5.

pemerintahan

6.

kekuasaan

Ahli antropologi akan membatasi diri pada masalah-masalah:

a.

organisasi kenegaraan

tentang evolusi terjadinya organisasi negara

b.

organisasi perang, tentang sebab timbulnya perang dan akibat timbulnya perangnya.

c.

Organisasi kepemimpinan, pemerintahan, kekuasaan

I. ORGANISASI KENEGARAAN

Ahli antropologi politik mempelajari bidang masalah evolusi terjadinya organisasi negara.

R.H. LOWIE

Suatu negara selalu merupakan masyarakat besar, yang menggabungkan berbagai masyarakat kecil menjadi satu, biasanya dengan kekerasan (penaklukan) & kemampuan berorganisasi tinggi.

N.H. FRIED

Mula-mula manusia hidup dalam masyarakat-masyarakat kecil yang didasarkan atas hubungan merata (egilitarian) antara para warganya. Dengan perkembangan sistem pembagian kerja yang lebih terperinci dalam masyarakat.

Timbulnya masyarakat bertingkat (range societies);

Penilaian atas fungsi dan pemanfaatan dari berbagai macam pekerjaan dalam masyarakat. Masyarakat bertingkat ini diatur oleh sistem kekerabatan. Dari masyarakat bertingkat ini berubah menjadi masyarakat berlapis.

Masyarakat berlapis (stratifield societies); Masyarakat ini jumlah serta ragam dan ciri-ciri penduduknya lebih luas. Karena luas maka masyarakat berlapis tidak dapat diatur lagi oleh sistem kekerabatan sehingga membutuhkan sistem organisasi lain seperti: adat istiadat, sopan santun, upacara, simbolik (berdasarkan penilaian terhadap fungsi dan pemanfaatan yang berbeda). Dari masyarakat berlapis muncul masyarakat berorganisasi negara.

Masyarakat berorganisasi negara;

FRIED: suatu masyarakat dimana kekuasaan untuk mengawasi hubungan antar warga negaranya diatur oleh pranata-pranata yang mengatasi sistem kekerabatan/komuniti kecil. Pranata-pranata yang menyangkut organisasi kekuasaan adalah sistem hukum, birokrasi, pemerintahan dan angkatan bersenjata.

R. COHEN

Dalam karangan The Political System (1970)

Masyarakat manusia mula-mula terdiri dari kelompok-kelompok berburu kecil yang berbeda-beda tergantung dari keadaan lingkungan ekologinya, terutama topografi, iklim, flora dan fauna, khususnya jenis-jenis, sifat-sifat binatang yang diburu.

Pada mulanya kekuasaan berdasarkan senioritas, namun terus berkembang (timbulnya gejala eksogami-berkaitan jumlah keseimbangan wanita-pria) sehingga ada pranata yang berfungsi menangani masalah yang menyangkut hubungan antar kelompok.

E. SERVICE

Memusatkan perhatian pada masalah evolusi pemerintahan yang di definisikan sebagai suatu sistem birokrasi yang berfungsi untuk mengatur suatu masyarakat berdasarkan hak kekuasaan yang absah. Birokrasi disini maksudnya adalah sistem pengaturan oleh serangkaian kesatuan pengatur yang disusun bertingkat.

II. ORGANISASI PERANG

F. OTTERBEIN

Konsep perang: perkelahian bersenjata antar kesatuan politik yang menduduki wilayah tertentu.

Delapan sebab timbulnya perang:

1.

rasa agresi sebagai naluri

2.

rasa agresi karena frustasi

3.

perang sebagai pengaruh difusi

4.

perang dan ekologi (lingkungan alam)

5. tujuan yang hanya dapat dicapai dengan kekerasan atau perang itu sendiri (mencari budak, wanita, harta, wilayah)

6. struktur kebutuhan satuan patrilokal, kecenderungan pria dalam masyaraka akan kekerasan dan perang

7.

kesiapsiagaan militer

8. perang dan evolusi kebudayaan. Perang merupakan unsur dalam salah satu tingkat evolusi manusia

III. ORGANISASI KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DAN KEKUASAAN

Ilmu antropologi politik membatasi perhatiannya pada masalah-masalah didalam masyarakat kecil, masyarakat pesesaan atau masyarakat negara kuno dan tradisional.

Didalamnya termasuk tentang:

a. susunan pemeintahan desa

b. penggantian pimpinan desa

c. perebutan kekuasaan antar golongan sosial politik dalam masyarakat desa

d. proses pemilihan kepemimpinan desa

e. asas-asas demokrasi dalam masyarakat pedesaan

Pendekatan yang dilakukan oleh ahli antropologi politik adalah mementingkan aspek kebudayaan dan metode observasi.

Proses perpolitikan Indonesia mengalami suatu keadaan yang cukup dinamis. Dinamika politik begitu cepat berubah seiring dengan adanya kejadian kejadian yang membuat para praktisi politik bahkan masyarakat memanas. Hal ini diakibatkan oleh adanya arus media yang secara terang terangan membuka informasi kepada masyarakat mengenai jalannya perpolitikan di Indonesia.

Berbagai peristiwa beberapa waktu lalu seperti kebijakan pemerintah terkait bank Century menjadi suatu dinamika politik yang cukup menyita perhatian. Kebijakan mengenai Bailout Bank Century kontak menuai pro dan kontra. Ada kalangan yang menganggap bahwa bailout tersebut tepat namun banyak kalangan yang justru menganggap proses bailout Century salah dan ada unsure korupsi di dalamnya. Pihak pihak yang kontra dengan bailout Century sangat banyak dan bahkan menuntuk masalah ini diselesaikan dengan meminta pihak pihak yang terkait atas kebijakan bailout Century untuk bertanggungjawab. Namun proses yang diinginkan ternyata belum berjalan dengan apa yang dikehendaki masyarakat. dari hal itu beberapa elemen masyarakat dan mahasiswa melakukan demonstrasi menuntuk kasus century diselesaikan dan pihak yang bertanggungjawab diadili.

Demonstrasi dilakukan sebagai sebuah tindakan untuk menyampaikan aspirasi dan dilakukan oleh kerumunan massa yang cukup besar serta biasanya dilakukan dengan orasi. Peristiwa demonstrasi yang dilakukan elemen mahasiswa ternyata tidak hanya sekedar menyuarakan aspirasi melalui orasi saja, namun para demonstaran juga melakukan tindakan tindakan yang menyita perhatian antara lain membawa foto pejabat dengan diberi tanduk di kepala dan taring di mulutnya. Selain itu yang cukup menarik lagi adalah hadirnya sesosok kerbau yang dibawa para demonstran yang diberi tulisan Si BuYa . Hal ini bahkan menjadi suatu kontroversi yang berbuntuk panjang.

Dari hal itu, menjadi sesuatu hal yang menarik bila fenomena fenomena politik tersebut dikaji dalam perspektif antropologi politik. Dimana nantinya bisa dilihat dari perspektif sosial budaya yang ada dalam masyarakat kita.

PERILAKU POLITIK DEMONSTRAN Demonstrasi merupakan salah satu bentuk dari perilaku politik yang dilakukan oleh suatu masyarakat, kelompok sosial, atau individu yang dilakukan untuk menyuarakan aspirasi, pendapat, dan ssebagainya. Demonstarasi biasanya dilakukan apabila terjadi suatu kebijakan yang tidak sesuai atau menuntut keadilan dan lain sebagainya dan dilakukan oleh sejumlah massa yang cukup banyak.

Dinamika politik dalam beberapa waktu lalu boleh dikatakan cukup panas dimana pada beberapa waktu yang lalu diraikan dengan pro kontra mengenai kebijakan Bailout Century. Kasus Century menjadi perhatian banyak pihak karena banyak yang menganggap ini sebagai ulangan dari kasus BLBI yang merugikan banyak uang Negara. Seperti kasus BLBI, kasus Century ini banyak pihak mengindikasikan banyak sekali kecurangan, serta ketidakberesan di dalamnya. Dari hal itu banyak tuntutan agar kasus Bank Century segera diselesaikan dan pihak pihak yang terkait dengan kebijakan tersebut harus bertanggung jawab. Kasus Bank Century ini kontan, membuat seluruh elemen masyarakat mengamati dan tercurahkan perhatian ke masalah tersebut. Karena kasus tersebut terkait dengan kebijakan pemerintah yang berarti bila memang benar ada kecurangan maka akan berdampak pada keberlanjutan pemerintahan SBY Boediono.

Seiring dengan proses pengungkapan yang dilakukan oleh DPR dengan Pansusnya, yang mengindikasikan memang ada kesalahan dalam bailout Century, maka banyak elemen bangsa seperti mahasiswa, LSM, dan masyarakat melakukan tuntutan agar kasus ini diselesaikan. Berbagai demonstrasi dilakukan oleh mahasiswa untuk menuntuk pihak pihak terkait untuk bertanggung jawab. Berbagai orasi dilakukan oleh demonstran, selain itu aksi teatrikal juga dilakukan para demonstran untuk menyaurakat tuntutannya.

Demonstrasi yang dilakukan oleh para demonstran tidak hanya orasi dan aksi teatrikal namun juga mambawa foto foto baik itu Boediono maupun Sri Mulyani yang diberi tanduk dibagian kepala serta taring di bagian mulutnya. Selain itu demonstrasi yang dilakukan oleh demonstran juga terjadi kontroversi yaitu munculnya kerbau SiBuYa dlam aksi demonstrasi. Kontroversi demo kerbau 'SiBuYa' ini bermula pada demo menyambut hari ke-100 pemerintahan SBY-Boediono, 28 Januari 2010 lalu. Kerbau yang ikut berdemo itu dimake-up sedemikian rupa. Badan yang hitam diberi tulisan 'Si BuaYa' sebagai inisial namanya. Di bagian bokongnya ditempeli gambar kartun pria berpeci mirip Presiden SBY, dengan tulisan turun! Kerbau tersebut berjalan bersama dua orang pendemo yang berdandan serba putih, dengan memakai celana pendek.

PERILAKU DEMONSTRAN DALAM KAJIAN ANTROPOLOGI POLITIK Membahas pendekatan antropologi terhadap gejala-gejala politik dalam kehidupan manusia. Pembahasan meliputi teori-teori mengenai perwujudan politik dalam kehidupan manusia serta sistem politik pada masyarakat sederhana dan modern. Selain itu juga membahas pendekatan antropologi terhadap gejala-gejala politik dalam kehidupan manusia, termasuk yang tidak terkategori sebagai gejala-gejala politik yang berkaitan dengan lembaga-lembaga politik formal/pemerintah dalam masyarakat modern. Dengan demikian, cakupan pembahasan meliputi pula berbagai gejala politik dan organisasi sosial dalam komuniti-komuniti masyarakat perdesaan/non-masyarakat kompleks. Dalam hal perilaku demonstran, dimana demonstran menggunakan hal hal yang unik adalah bagian dari gejala gejala politik yang terjadi.

Dalam kajian antropologi politik, apa yang dilakukan oleh apara demonstran adalah merupakan bentuk politik simbolisme. Dimana para demonstran menggunakan simbol simbol tertentu sebagai bentuk ungkapan politik yang ingin diutarakan. Dan symbol symbol ini menggunakan gambaran

dari realitas yang dirasakan para demonstran. Symbol symbol tersebut juga menjadi bentuk protes terhadap pihak pihak yang menjadi sasaran demonstrasi.

Dalam demonstrasi kasus Century, para demonstran menggunakan symbol gambar atau foto Sri Mulyani dan Boediono yang diberi tanduk dikepala dan diberi taring di mulutnya. Hal ini menjadi bentuk simbolisme yang ingin diungkapkan oleh demonstran. Bentuk gambar yang diberi tanduk dan diberi tarik diidentikan dengan drakula. Dalam hal ini para demonstran menggunakan symbol tersebut untuk mengatakan bahwa Sri Mulyani dan Boediono sebagai drakula yang suka menghisap darah dan darah tersebut diibaratkan sebagai rakyat. Sehingga demonstran menganggap kedua tokoh itu sebagai manusia penghisap darah rakyat serta penghisap uang rakyat. Karena dianggap telah melakukan tindakan yang salah dengan melakukan bailout Bank Century yang memakan uang sebesar 7 triliun.

Kemudian dalam kasus mengenai munculnya kerbau SiBuYa dalam aksi demonstrasi, dimana SiBuYa ikut berdemo itu dimake-up sedemikian rupa. Badan yang hitam diberi tulisan 'Si BuaYa' sebagai inisial namanya. Di bagian bokongnya ditempeli gambar kartun pria berpeci mirip Presiden SBY, dengan tulisan turun! . Penggunaan symbol kerbau dalam demnstrasi ini dalam kajian antropologi memang bermacam-macam makna. Dimana dalam kebudayaan Minang serta Toraja, kerbau di identikan dengan symbol kekayaan dan prestise, namun dalam budaya jawa, kerbau manjasi symbol kebodohan atau dungu. Dalam kaitannya dengan gejala politik pada saat itu, secara kontekstual memang makna kedua yang diambil yaitu dari sisi budaya jawa bahwa kerbau merupakan symbol kebodohan/dungu. Kemudian nama SiBuaYa menjadi symbol singkatan SBY dimana hurup S, B, dan Y menggunakan huruf capital sehingga jelas hal ini menyimbolkan tulisan SBY yang notabene merupakan singkatan dari Susilo Bambang Yudoyono. Sehingga pesan yang ingin disampaikan oleh demonstran dengan kerbau SiBuYa adalah bahwa demonstran menganggap SBY sebagai orang yang bodoh karena tidak bisa menyelesaikan secara tuntas kasus century, dan juga tidak bersedia memecat Sri Mulyani dan Boediono. Sehingga demonstran menginginkan SBY turun dari jabatan presiden yang disimbolkan dengan tulisan turun pada bagian kerbau. Perilaku politik seperti itu menjadi warna dalam perpolitikan di Indonesia. Namun interpretasi yang dilakukan memang harus lebih cermat dan tidak gegabah sehingga tetap mengedeankan azaz keindonesiaan.

KESIMPULAN Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pola perilaku politik demonstran pada saat melakukan demonstrasi mengandung makna yang sebenarnaya ingin disuarakan. Fenomena itu boleh dikatakan menjadi sebuah terobosan dalam upaya demonstrasi. Dan menjadi sebuah pesan yang lebih mengena dari pada hanya sekedar berorasi yang terkadang kurang diperhatikan.