Anda di halaman 1dari 123

RISALAH AL QUSYAIRIYAH

Taubat
Allah SWT berfirman, Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An Nur 31). Sahabat Anas bin Malik berkata, saya pernah mendengar RasuluLlah SAW bersabda, seseorang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak punya dosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, pasti dosa tidak akan membahayakannya. Kemudian beliau membaca ayat: InnaLlaaha yuhibbuttawwabiina wayuhibbul mutathohhiriin yang artinya, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang suci. (QS. Al Baqarah 222) Tiba tiba seorang sahabat bertanya, Yaa RasuluLlah, apa tanda taubat ? Oleh beliau SAW dijawab, Menyesal. Anas bin Malik juga pernah meriwayatkan, bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah melebihi seorang pemuda yang bertaubat. Taubat adalah awal tempat pendakian orang-orang yang mendaki dan maqam pertama bagi sufi pemula. Hakikat taubat menurut arti bahasa adalah kembali. Kata taba berarti kembali, maka taubat maknanya juga kembali. Artinya kembali dari sesuatu yang dicela dalam syariat menuju kepada yang dipuji dalam syariat. Dalam suatu kesempatan

2 | Risalah Al Qusyairi

Nabi SAW menjelaskan, An-nadmu Taubat yang artinya, penyesalan adalah taubat. Orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip ahli sunnah mengatakan, agar taubat diterima diharuskan memenuhi tiga syarat utama yaitu menyesali atas pelanggaran-pelanggaran yang pernah dijalaninya, meninggalkan jalan licin / kesesatan pada saat melakukan taubat, dan berketetapan hati untuk tidak mengulangi pelanggaran pelanggaran serupa. Hadust yang menyebutkan penyesalan adalah taubat, merupaakn konsep globalnya, demikian menurut para sufi. Sebagaimana sabda Beliau SAW tentang haji, bahwa : Al-Hajju arafah Haji adalah Arafah. Proses pertama yang mengawali taubat adalah keterjagaan hati dari keterlelapan lupa dan kemampuan salik (orang yang berusaha menuju Hadirat Allah) melihat sesuatu pada dirinya yang pada hakekatnya yang merupakan bagian dari keadaannya yang buruk. Proses awal yang mengantarkan pada tahapan ini tidak lepas dari peran taufik. Dengan taufik Allah, salik dapat mendengarkan suara hati nuraninya tentang larangan-larangan Al-Haqq yang dilanggarnya. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dipesankan Allah dalam hadist RasuluLlah SAW, Inna fil jasadi lamudhghotan idza sholuhat sholuha jamiiul jasadi, faidzaa fasadad fasada jamiiul badani. Alaa wahiyal qalbu yang artinya sesungguhnya di dalam tubu terdapat segumpal daging jika ia baik, maka akan baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak, maka akan rusaklah seluruh jasad. Ingatlah dia adalah hati. Jika dengan hatinya, seseorang melihat keburukan-keburukan perilakunya dan melihat kenyataan kenyataan negatif di dalamnya, maka dalam sanubarinya timbul kehendak untuk taubat, tekad untuk melepaskan diri dari semua perilaku buruk, dan Al-Haq (Allah) akan menyongsongnya dengan siraman cahaya keteguhan, tarikan dalam rengkuhan pengembalian, dan penyiapan pada sebab-sebab yang mengantarkannya para merealisasi taubat. Dalam realisasi ini, yang pertama-tama adalah hijrah atau meninggalkan kawan-kawan yang buruk. Karena kalau tidak, mereka akan membawanya pada penolakan tujuan taubat serta mengacaukan konsentrasi dan tekadnya. Upaya demikian ini tidak akan sempurna kecuali menatapi secara terus menerus musyahadah (kesaksian dan pengakuan) atas dosa-dosanya yang membuat kecintaannya untuk bertaubat terus bertambah dan motivasi motivasinya mampu mendesak untuk lebih menyempurnakan tekad taubatnya dalam bentuk penguatan rasa takut dan harap. Ketika hali ini terjadi, keruwetan-keruwetan keburukan perilaku yang telah menggumpal di dinding-dinding sanubarinya mulai mencair dan
3 | Risalah Al Qusyairi

memuai, sikapnya secara tegas menunjukkan pengambilan jarak dari larangan-larangan agama, dan kecenderungan mengikuti hawa nafsu dengan keras dikekangnya. Akhirnya, semua jalan yang mengantarkannya pad kesesatan ditinggalkan, tekad untuk tidak kembali pada dosa-dosa serupa di masa yang akan datang lebih diteguhkan, kemudian waktupun berjalan mengikuti dorongan perwujudan taubat itu. Sesungguhnya realisasi taubat yang sesuai dengan tekadnya adalah penetapan diri pada jalan yang tepat, dan jika upaya taubat sesekali mengalami kemunduran maka hal seperti inipun jumlahnya banyak. Karena itu tidak perlu berputus asa, dan justru peningkatan kualitas taubat harus diperkuat. Allah Taala berfirman, Likulli ajalin kitaab (QS. Ar-Rad 38). yang artinya sesungguhnya setiap ajal mempunyai ketetapan. Abu Sulaiman Ad-Darani memngisahkan pengalaman spiritualnya, Saya berkali-kali datang ke majlis Qashi (seorang ulama sufi). Pada kali pertama nasihat-nasihatnya membekas di hati saya. Namun ketika saya beranjak pulang, tidak satupun nasihatnya yang masih membekas. Esoknya saya datang lagi dan mendengarkan ceramah-ceramahnya. Aku cukup terpengaruh dengan wejangan-wejangannya hingga bertahan sampai di tengah perjalanan pulang, setelah itu hilang. Pada kali ke tiga , fatwanya sngat berpengaruh dan sangat menawan hati saya hingga saya sampai di rumah. Sesampainya di rumah saya langsung menghancurkan alat-alat yang menyebabkan penyimpanganpenyimpangan perilaku, kemudian saya bersiteguh menetapi jalan lurus. Kisah ini akhirnya saya sampaikan kepada Yahya bin Muadz dan olehnya dikatakan, seekor biring kecil telah menangkap segerombolan burung karaki (bangau). Beliau memaksudkan burung kecil pada Qashi, dan burung karaki pada Abu Sulaiman Ad-Daaraani. Dlam tema yang hampir serupa, Abu Hafs Al-Haddad berserita, Suatu kali saya berhasil meninggalkan perbuatan demikian, lalu mengulanginya lagi, kemudian meninggalkannya lagi, dan setelah itu saya tidak mengulanginya lagi. Diceritakan bahwa Abu Amr bin Najid dalam permulaan sufinya diawali dari kehadirannya di majlis Abu Utsman. Nasihat-nasihat yang diterimanya sangat membekas di hatinya sehingga ia bertobat. Akan tetapi sebelumnya ia pernah mendapatkan cobaan penyakit demam. Penyakit ini sampai membuatnya menderita sehingga ia lari dari majelis Abu Utsman. Setiap kali melihatnya, segera ia menyingkir dan memperlambat kehadirannya di majlis. Suatu hari Abu Utsman bermaksud menyambut kedatangannya, namun Abu Amr berusaha menghindari dan melewati jalan lain yang tidak biasa dilalui orang. Abu Utsman rupanya tahu, kemudian ia mengikutinya dari belakang hingga bertemu.
4 | Risalah Al Qusyairi

Wahai anakku, katanya. kamu tidak dapat mengawani orang yang mencintaimu kecuali terpelihara. Sesungguhnya yang memberimu manfaat dalam keadaanmu yang demikian adalah Abu Utsman. Kemudian Abu Amr bin Najid bertobat dan kembali pada kehendaknya semula serta berjalan di dalamnya. Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi berkata, Saya pernah mendengar Tuan Guru Abu Ali Ad-Daqaaq semoga Allah merahmatinya, bercerita Seseorang murid bertobat, kemudian ia menderita penyakit demam. Suatu waktu ia mencoba berpikir untuk berhenti. Jika tetap bertobat, maka apa hikmahnya ? begitu pikirnya. Tiba-tiba suara gaib menasehatinya, hai fulan, jika kamu taat kepadaku maka aku pasti menghargaimu. Kemudian kamu meninggalkanku yang membuatku tidak mengurusimu, dan jika kamu kembali lagi kepadaku, pasti aku menerimamu lagi. Lalu pemuda itu kembali lagi pada kehendaknya semula (untuk bertobat) dengan mantap dan berhasil melaluinya dengan baik. Jika salik / (orang yang belajar menuju ke hadirat Allah) meninggalkan sehgala kemaksiyatan, maka gumpalan-gumpalan nafsu yang mendorong untuk selalu bermaksiyat akan terlepas dari hatinya. Dan kemudian hatinya berketatan untuk tidak kembali kepada kemaksiyatan-kemaksiyatan sejenisnya, maka penyesalan yang sesungguhnya mulai menjernihkan hatinya. Dia menjadi manusia yang senantiasa menyesali atas apa yang pernah diperbuatnya. Sepak terjangnya, perilakunya, dan keadaan-keadaan dirinya mencerminkan rasa sesal, galau dan sedih. Maka dengan demikian, dia telah benarbenar menjalani taubat yang sempurna. Mujahadahnya benar. Kesungguhannya untuk menjadi orang baik benar-benar dapat dipercaya. Jika sudah mencapai tingkat demikian, maka sikap pergaulannya dengan manusia akan digantikannya dengan sikap uzlah. Dia akan menjadi orang yang senang menyendiri, menjauhi pergaulan yang tidak membawa kebaikan, memisahkan diri dari pergaulanpergaulan bersama orang-orang yang berperilaku buruk. Waktu siang dan malamnya dipakai untuk bersedih, meratapi kesalahankesalahannya, dan menjadikan hatinya bersungguh-sungguh untuk bertobat kepada Allah. Air mata penyesalannya akan terus mengalir menggenangi dan membasahi luka hatinya, menghapus jejak-jejak dosa yang ditinggalkannya, dan mengobati jiwa nya yang duka. Hal ini diketahui dengan kekusutan hatinya ada ditandai dengan kelemahan fisiknya. Mukanya sayu. Tubuhnya lemah tanpa gairah. Keadaannya sangat kurus. Seleranya akan kenikmatan dunia menurun. Hatinya tidak tertarik kepada apapun selain kepada Allah. Dan yang
5 | Risalah Al Qusyairi

demikian itu terus berlangsung menyelimuti hatinya sampai mendapatkan keridhaan Allah dan orang-orang yang dimusuhinya. Dia akan memasrahkan dirinya kepada orang yang dianiaya untuk memperoleh keridhaannya. Dia tidak akan keluar dari tekadnya sebelum benar-benar mendapatkan maafnya. Sesungguhnya tobat yang berkaitan dengan pelanggaran dosa atas hak manusia mengharuskan salik orang yang belajar mendekatkan diri kepada Allah melalui seorang Syaikh- untuk meminta keridhaan orang yang pernah dianiayannya sebelum meminta keridhaan Allah. Jika tangannya mampu mengembalikan hak-haknya , maka salik wajib mengembalikannya, atau meminat kemurahan haitnya supaya menghalalkan dan membebaskan dirinya dari tuntutan kewajiban membayar tagihan hak. Jika kedua-duanya tidak dapat diperoleh, maka hatinya harus tetap berkeyakinan, bersikukuh dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk keluar dari belenggu tuntutan tagihan hak-hak orang yang pernah dianiayanya, dengan disertai harapan dan penghadiran diri untuk kembali kepada Allah dengan curahan doa yang sungguh-sungguh untuk dirinya dan untuk orang yang pernah dianiayanya. Syaikh Abul Qasim al Qusyairi berkata, Saya pernah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq ra. Berkata, Tobat ada tiga bagian, pertama tobat (kembali), kedua inabah (berulang-ulang kembali), ketiga aubah (pulang). Tobat bersifat permulaan, sedangkan aubah adalah akhir perjalanan. Dan inabah tengah-tengahnya. Setiap orang yang tobat karena takut siksaan, maka dia adalah pelaku tobat. Orang tobat karena mengharapkan pahala adalah pelaku tobat yang mencapai tingkatan inabah. Sedangkan orang tobat yang termotivasi oleh sikap hati-hati dan ketelitian hatinya bukan karena mengharapkan pahala atau takut pada siksa Allah, maka ia adalah pemilik aubah. Dikatakan pula bahwa tobat adalah sifat orang-orang mukmin. Allah berfirman : Watuubuu ilaLlaahi jamiia ayyuhal Mukminuuna laallakum tuflihuun yang artinya, Dan bertaubatlah kamu sekallian kepada Allah wahai orang-orangyang beriman agar engkau semua menjadi orang-orang yang beruntung. (QS. An Nuur 31) Sedangkan inabah merupakan sifat para Wali Allah atau orang-orang yang dekat dengan Allah sebagaimana yang difirmankanNya : Man khosyiyaRrohmaana bil ghoibi wa jaa-a biqolbim muniib yang artinya (Yaitu) orang-orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemuranh sedang Dia tidak kelihatan, dan dia datang dengan hati yang taubat. (QS. Qaf 33)
6 | Risalah Al Qusyairi

Adapun Aubah adalah sifat para Nabi dan Rasul . Nimal Abdu Innahul Awwaab yang artinya, Dialah (Nabi Ayyub as.) adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Ia amat taat kepaad Tuhannya. (QS. Shad 44) Saya Imam Al Qusyairi ra- pernah mendengar Imam Al-Junaid berkata, Tobat ada tiga makna, penyesalan kedua, tekad untuk meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Taala, ketiga berusaha memenuhi hakhak orang yang pernah dianiaya. Sahal bin Abdullah mengatakan, Tobat adalah penundaan (tidak mengulur waktu dalam bertobat). meninggalkan

Imam Al-Junaid pernah ditanya seseorang tentang tobat lalu dijawab, Hendaknya kamu melupakan dosamu. Oleh Abu Nashr As-Siraj , dua pernyataan di atas dikomentari. Menurutnya bahwa Sahal dengan pernyataannya menunjukkan beberapa keadaan orang-orang yang hendak bertobat yang sesekali terhalangi proses tobatnya. Sedangkan Al-Junaid memaksudkan pada tobat orang-orang yang sungguh-sungguh, yaitu ahli hakikat. Mereka ini ketika bertobat tidak lagi mengingat dosa-dosanya karena kehadiran keagungan Tuhan dan keberlangsungan dzikirnya kepadaNya yang senantiasa mendominasi hatinya. Dzunun Al Mishri pernah ditanya tentang tobat kemudian di jawab, Tobat orang awam dikarenakan dosa, sedang tobat orang khusus disebabkan karena lupa. Ucapan yang demikian dopertegas oleh AnNuuri dengan pernyataannya bahwa tobat adalah proses pelaksanaan tobat dari segala sesuatu selain Allah. Abdullah At-Tamimi mengatakan, Ada yang membedakan antara orang yang tobat dari kesalahan, bertobat darin kelupaan, dan bertobat dari memandang kebaikan yang diperbuatnya.

7 | Risalah Al Qusyairi

Mujahadah
Allah berfirman, Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa wa innaLlaaha lamaal Muhsiniin. Yang artinya, dan orangorang yang berjuang di jalan Kami niscaya akan Kami tunjukkan jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang baik. (QS. AlAnkabut 69) Dari Abu Said Al-Khudri diceritakan bahwa ia berkata, RasuluLlah SAW pernah ditanya tentang seutamanya jihad, maka dijawab, Kalimatu haqqin inda sulthaani jaair. Yang artinya, kalimat yang adil yang disampaikan kepada penguasa yang lalim. Tanpa terasa kedua mata Abu said mengeluarkan air mata. Syaikh Abul Qasim Al-Qusyaairi berkata, Saya pernah mendengar UstadzAbu Ali Addaqaaq berkata,Barang siapa menghiasi lahiriahnya dengan mujahadah, maka Allah akan memperbaiki bathiniahnya dengan musyahadah. Ketahuilah bahwa seseoang yang dalam awal perjalanannya tidak mengalami mujahadah maka dia tiak akan mendapatkan lilin yang meneangi jalannya. Abu Utsman Al-Maghribi berkata, barang siapa mengira bahwa sesuatu hanya dapat dibukakan atau disingkapkan untuknya hanya melalui jalan ini atau hanya dengan keteguhan menjalani mujahadah, maka dia adalah orang yang salah. Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Ustadz Abu Ali Addaqaaq semoga Allah merahmatinya berkata,Barang siapa dalampermulaannya tidak pernah berdiri, maka pada akhirnya dia tidak akan pernah duduk. Beliau juga pernah mengatakan bahwa gerak membawa barokah atau gerak adalah barokah itu sendiri. Gerak lahir menurut beliau mengharuskan timbulnya barokah rahasia. Wahai para pemuda, pesan Assirri, bersungguh-sungguhlah kalian sebelum batas akhir kemampuan yang membuat kalian lemah dan kurang sebagaimana kelemahan dan kekurangan fisik kalian. Saat iti para pemuda tidak mampu mengawani Assirri dalam menjalankan ibadah. Menurut Hasan Al-Qazzaz menerangkan bahwa masalah ini mujahadah,, dibangaun atas tiga hal, -hendaknya tidak makan kecuali

8 | Risalah Al Qusyairi

benar-benar membutuhkan / lapar, -tidak tidur kecuali bnar-benar mengantuk, -dan tidak berbicara kecuali benar-benar terdesak (mengharuskan). Syaikh Al-Qusyairi berkata, Saya pernah mendengar Ibrahim bin Adham berkata, Seseorang tidak akan mendapatkan derajat orang-orang salih hingga mampu mengatasi enam rintangan, 1. menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesulitan. 2. menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan. 3. mentup pintu istirahat dan membuka pinti perjuangan. 4. menutup pintu tidur dan membuka pintu terjaga. 5. mentup pintu kekayaan dan membuka pintu kefakiran. 6. menutup pintu angan-angan dan membuka pintu persiapan menjelang kematian. Barang siapa yang nafsunya memuliakan dirinya, maka agama dan reputasinya akan menghinakannya. Demikian kata Abu Amir bin Najid. Syaikh Al-Qusyairi RA berkata, Saya pernah mendengar Abu Ali ArRudzabaar mengatakan, Jika seorang sufi setelah lima hari tidak mendapatkan makanan berkata, saya lapar, maka giringlah dia ke pasar dan suruhlah ia bekerja. Ketahuilah bahwa dasar daripada mujahadah adalah menyapih hawa nafsu dari kebiasaannya, dan membawanya pada penentangan hawa nafsu di seluruh waktu. Nafsu mempunyai dua sifat yang mampu mencegah kebenaran. 1. ketekunannya menuruti syahwat. Dan ke-2, mencegah ketaatan. Jika nafsu ketika mengendarai keinginannya tidak dapat dikendalikan, maka wajib dikekang dengan kekang taqwa. Jika ia dapat berhenti dengan menepati perintah2 agama, maka dia wajib digiring pada penentangan hawa nafsu. Ketika dalam kondisi marah dia berontak, maka wajib diteliti, dikendalikan,dan diarahkan pada keadaannya yang tenang. Tak ada kondisi yang akibatnya lebih bagus daripada kemarahan, yang kekuasaannya dipecahkan dngan akhlak yang baik, dan apinya dipadamkan dengan kelembutan perilaku. Jika nafsu menganggap halal suatu ketololan sehingga segala sesuatu menjadi sempit kecuali dengan penampakan perangai perangai baik dan lebih mempercantiknya ketika orang lain melihat atau menelitinya /riya maka keadaan yang demikian ini harus dipecahkan dan dilepaskan dengan siksaan kehinaan. Yaitu dengan cara mengingatkan kerendahan derajad nafsu, kehinaan aslinya dan kekotoran perbuatannya. Mujahadah orang awam terdapat pada pemenuhan amalan wajib. Mujahadah orang khusus terdapat pada pembersihan ahwal / keadaan. Oleh karena itu menahan lapar dan terjaga adalah sesuatu yang mudah lagi ringan. Sedangkan mengobati akhlak dan menjauhkannya dari kebusukannya adalah sesuatu yang sangat sulit.

9 | Risalah Al Qusyairi

Diantara penutup penutup penyakit nafsu adalah kecondongannya pada kemampuan merasakan manisnya pujian. Jika seseorang menghirup seteguk pujian maak dia akan memikul penduduk langit dan bumi pada bulu matanya. Adapun tanda-tandanya apabila ia terputus dari minuman/pujian tersebut maka keadaannya akan kembali kepada kemalasan dan kelemahan. Seorang wanita yang sudah ditanya tentang keadaannya lalu dijawab, Ketika saya masih muda, kutemukan pada diriku keaktifan dan giat beribadah. Dan sekarang tidak aku temukan lagi. Ketiak usia berubah, yang demikian itu hilang dariku. Syaikh Al Qusyary berkata, saya pernah mendengar Dzunun Al-Mishri berkata, Allah tidak akan memuliakan seseorang dengan suatu kemuliaan, yang lebih mulia daripada menunjukkannya pada kehinaan nafsunya. Dan tidak menghinakan seseorang yang lebih hina daripada Ia (SWT)menutupi kehinaan nafsunya dari pandangannya. Ibrahim Al-Khawas menuturkan bahwa ia tidak takut akan sesuatu kecuali takut pada sikap yang menuruti hawa nafsu. Akan tetapi Muhammad bin Fudhail berpendapat bahwa kesenangan atau kesenggangan adalah merupakan pembebasan dari syahwat dan kesenangan nafsu. Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Syaikh Abu Ali ArRudzabari mengatakan, penyakit hati menyusup ke dalam akhlak melalui tiga jalan, 1. penyakit watak, 2. kebiiasaan yang dilaksanakan terus menerus, 3. kerusakan pergaulan. Adapun penyakit watak adalah memakan barang yang haram, sedang yang dimaksud melakukan kebiasaan adalah memandang dan merasakan nikmat dengan barang haram dan kerusakan pergaulan adalah ketika syahwat dalam nafsu bangkit, maka nafsu pasti mengikutinya. An-Nashr Abadzi berkata, nafsumu adalah penjaramu. Maka apabila kamu dapat keluar dari padanya, maka kamu pasti akan tinggal di tempat yang enak dan kekal. Nafsu semuanya adalah gelap kaa Abu Jafar, dan lampunya adalah rahasia / sirr nya. Cahaya nafsu adalah taufiq. Barang siapa dalam rahasianya tidak di dampingi dengan taufiq Tuhannya maka dia dalam kegelapan di segala sisinya. -Yang dimaksud rahasianya adalah rahasia antara dirinya dengan Allah SWT. -Rahasia adalah tempat keikhlasan seorang hamba

10 | Risalah Al Qusyairi

-dengan keikhlasan hamba akan mengetahui bahwa segala yang terjadi bukan karena kekuatan dirinya melainkan pertolongan Allah semata. -kemudian dengan taufiqNya mampu menjaga diri dari keburukan nafsunya. Seseorang yang tidak mendapat taufiq maka ilmunya tidak akan bermanfaat pada dirinya dengan Tuhannya, karena ilmunya tidak akan menghindarkannya dari perbuatan yang buruk dan tidak pula menyebabkan keridhaan Tuhannya. Abu Utsman berkata, seseorang tidak akan tahu aibnya sendiri selama ia menganggap baik diri sendiri. Abu Hafs menyatakan ,Tidak ada kerusakan yang lebih cepat daripada kerusakan orang yang tidak mengetahui aib dirinya, padahal maksiyat adalah kurir kekufuran. Abu Sulaiman berkata, Saya tidak pernah menganggap baik ibadah saya, saya cukup hanya berbuat saja. Dzunun Al-Mishri, kerusakan pada makhluk melalui enam perkara : 1. lemahnya niat beramal untuk akhirat 2. badan yang dijadikan jaminan untuk nafsunya 3. panjang angan-angan yang menguasai dirinya padahal ajal sangatlah dekat 4. lebih mengutamakan keridhaan makhluk daripada keridhaan Allah. 5. mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan sunah Nabi SAW 6. menjadikan tergelincirnya lidah digunakan sebagai argumen untuk membela diridi sisi lain mengubur sebagian besar perilakunya yang tidak baik.

11 | Risalah Al Qusyairi

Khalwat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Bahwa RasuluLlah SAWW bersabda, sesungguhnya sebaik-baik penghidupan manusia adalah orang yang mampu memegang kerasnya (kendali kuda) di jalan Allah. Jika mendengar hal yang mengejutkan dan menakutkan, ia tetap berada si atas punggungnya dengan pilihan mati atau terbunuh, atau orang yang mendapatkan harta rampasan perang yang bertempat tinggal di atas gunung atau di dasar jurang yang senantiasa menerjakan salat, memberikan zakat, dan beribadah kepada Tuhan sampai kematian menjemputnya, yang tidak dimiliki orang lain kecuali tetap dalam kebaikan. Khalwat adalah merupakan sifat orang sufi. Sedangkan uzlah adalah merupakan bagian dari tanda bahwa seseorang telah bersambung dengan Allah Taala. Seharusnya bagi murid pemula (yaitu orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah) agar uzlah (mengasingkan diri

12 | Risalah Al Qusyairi

dari bentuk-bentuk eksistensial kemudian di akhir perjalanannya melakukan khalwah (mneyepi) sehingga ifat lemah lembut akan dapat tercapai. Hakikat khalwah adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan Al-Haq yaitu Allah Subhanahu Wataala. Ahl demikian dikarenakan khalwah merupakan perjalanan ruhani dari nafsu menuju hati, dan hati menuju ruh dan daru ruh menuju alam rahasia /sirr dan dari alam rahasia menuju Dzat Maha pemberi segalanya. Hamba yang melakukan uzlah haruslah diniatkan karena Allah Taala dengan maksud dan niatan menjaga keselamatan orang lain dari perangai buruknya. Dan janganlah bermaksud menjaga keselamatan dirinya dari keburukan orang lain. Karena pernyataan yang pertama adalah wujud dari sikap rendah ahti /tawadhu sedangkan pernyataan yang kedua adalah menunjukkan sifat sombong yang ada pada dirinya. Sebagian pendeta ditanya, Apakah engkau seorang pendeta ? maka dia menjawab, Tidak saya hanyalah sebagai penjaga anjing. Jiwaku serupa dengan anjing yang dapat melukai orang lain, karena itu saya harus keluar dari mereka supaya mereka selamat. Pada suatu saat ada seorang bertemu dengan orang saleh yang sedang mengumpulkan pakaiannya. Lelaki itu bertanya Mengapakah engkau kumpulkan pakaianmu. Apakah pakaianku itu najis ? maka orang tua yang saleh etrsebut menjawab, tidak, tetapi pakaiankulah yang najis dan aku kumpulkan agar tidak menajiskan pakaianmu. Sebagian dari tatacara uzlah adalah untuk memperoleh ilmu yang dibenarkan oleh akidah tauhid. Selain itu untuk memperoleh ilmu syariat atas dasar kewajiban sehingga bentuk perintahnya menjadi pondasi yang kuat-untuk dilaksanakan. Esensi uzlah adalah menghindarkan diri ari perbuatan tercela. Sedangkan hakikatnya adalah menggantikan sifat yang tercela untuk di isi denagn sifat yang terpuji, bukan untuk menjauhkan diri dari tempat tinggalnya / tanah arinya. Ditanyakan, Siapak orang yang marifat itu ? dijawab ,mereka adalah orang yang selalu berada di tepi jauh, yakni dia selalu bersama orang lain sedangkan hatinya jauh dari mereka. Asyaikh Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Berpakaianlah sebagaimana orang berpakaian, makanlah sebagaimana orang makan,

13 | Risalah Al Qusyairi

dan menyendirilah dengan bersembunyi. Beliau juga mengatakan, Suatu hari seseorang datang kepadaku dan bertanya, Saya datang kepadamu dari perjalanan yang sangat jauh ?. lalu aku jawab cerita ini dengan bukan dengan arti jaarak perjalanan yang terputus dan perjalanan yang melelahkan. Renggagkan jiwamu dengan satu langkah, maka tujuanmu akan tercapai. Diriwayatkan dari Abu Yazid Al Busthami, RA, beliau berkata, Saya pernah bermimpi bertemu Tuhan, kemudian saya bertanya, Bagaimana caranya agar aku isa bertemu denganNya ? Dan Ia menjawab, Pisahkan jiwamu dan bersegeralah datang. Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, Barang siapa ingin meninggalkan masyarakat, selayaknya ia meninggalkan semua ingatan kecuali ingat kepada Tuhan, meninggalkan semua keinginan kecuali mencari ridha Tuhan, dan meninggalkan semua tuntutan hawa nafsu. Jika tidak demikian maka apa yang dikerjakan akan menimbulkan fitnah dan cobaan. Menurut suatu pendapat, khalwat adalah pekerjaan yang paling dicintai untuk mendorong rasa rindu. Muhammad bin Hamid berkata, Seseorang bertamu kepada Abu Bakar Al;-Waraq, ketika akan pulang ia meminta kepada Muhammad agar meberi wasiyat kepada dirinya. Abu Bakar Al-Waraq menjawab, Engkau telah mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat karena engkau selalu menyendiri dan meninggalkan pergaulan masyarakat. Kejelekan dari keduanya terletak pada pencampur adukan dan pembauran. Abu Muhammad Al-Jariri ditanya tentang uzlah, dia menjawab, Uslah adalah masuk ke tempat yang sempit, menjaga rahasia agar tidak terjadi gesek menggesek dan meninggalan keinginan hawa nafsu sehingga hatimu terkait dengan kebenaran. Ada yang berpendapat, urgensi uzlah adalah menghasilkan kemuliaan. Menurut Sahal, khalwat tidak dpat dibenarkan kecuali dengan meninggalkan yang haram. Dan meninggalkan barang yang halal juga tidak dibenarkan kecuali dengan melaksanakan hak Allah Taala.
14 | Risalah Al Qusyairi

Dzunun AL-Mishri berkata, Saya tidak pernah melihat sesuatu yang dapat menimbulkan sikap ikhlas kecuali kekasihmu adalah khalwat, makananmu adalah lapar, dan pembicaraanmu adalah lapar. Apabila engkau meninggal dunia, engkau selalu bersambung kepada Allah. Dzunun al-Mishri juga ppernah berkata,Orang tidak akan terhalang dari makhluk hanya karena khalwat sebagaimana orang tidak orang tidak akan terhalang dari mereka karena mendekatkan diri kepada mereka. Menurut Al-Junaid, Susahnya uzlah lebih mudah dari pada siklus kehidupan bermasyarakat. Menurut makhul As-Syami, Jika kehidupan bermasyarakat memperoleh kebaikan, maka uzlahpun juga memberikan keselamatan. Sedangkan menurut Yahya bin Muadz, Menggabungkan keduanya merupakan cara yang terbaik bagi orang yang mencari kebenaran. Syaikh Abu Ali berkata dengan mengutip apa yang disampaikan Imam As-syibli, Manusia akan bengkrut dan bangkrut . Seseorang bertanya kepadanya, Apa tanda-tanda orang yang bangkrut wahai Abu Bakar ?. beliau menjawab, Tamda orang yang bangkrut adalah orang yang menyakiti orang lain. Yahya bin Abu Katsir berpendapat, Barang siapa yang bergaul dengan orang lain, maka ia akan didekati. Barang siapa yang mendekati orang lain maka ia akan dilihat. Said bin Harits telah berkata, Saya pernah mengunjungi Malik bin Masud di kufah. Dia menyendiri di rumahnya. Setelah itu kutanyakan sesuatu kepadanya, Apakah engkau tidak kesepian menyendiri di temapt ini ? Dia menjawab, Saya tidak pernah melihat seseorang kesepian jika dia bersama sama Allah. Al Junaid berkata, Barang siapa yang hendak menyerahkan agamanya dab menentramkan tubuh dan hatinya, hendaknya ia menjauhkan diri dari orang lain. Masa sekarang adalah masa kesepian. Oleh karena itu, orang yang memiliki akal sehat, tentu akan menyendiri. Al-Junaid telah mendengar Abu Bakar Ar-Razi berkata, Abu Yaqub As-Susi berkata bahwa seseorang tidak akan mampu menyendiri kecuali hanya orangorang yang kuat. Oleh karena itu orang seperti kita bermasyarakat tentu lebih baik dan lebiih bermanfaat. Abul Abbas Ad-Danaghani

15 | Risalah Al Qusyairi

berkata, Imam Syibli berwasiyat kepadaku, menyendirilah dan hapus namamu dan menghadaplah ke dinding sampai engkau mati. Ada seorang laki-laki datang kepada Syuaib bin Harb, beliau bertanya , Apa yang menyebabkan engkau datang kepadaku ?. dia menjawab, Agar saya dapat selalu bersamamu. Kemudain Syuaib berkata, Wahai saudara, ibadah tidak akan bermanfaat jika berbaur dengan syirik. Barang siapa yang tidak mencintai Allah, maka ia tidak akan menjumpai sesuatu yang dicintainya. Sebagian ulama ditanya, Apakah yang membuatmu heran / ujub ?. Dia menjawab, Keindahan yang dapat mendorong persahabatan. Oleh akrena itu aku selalu takut menyerahkan diriku kepada Allah Taala akan menjadi rusak. Ulama yang lain juga pernah ditanya, Apakah di sana ada orang yang mencintaimu ?. Dia menjawab, Ya, dia selalau merentangkan kekuasaannya di dalam kiatbnya dan meletakkannya di atas batu. Dalam konteks seperti ini ada syair : Kitab-kitabMu ada di sekelilingku Oleh karena itu jangan kau pisahkan dari tempat tidurku Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan orang Yang saya sendiri adalah yang menyembunyikannya Seorang lelaki bertanya kepada Dzunun Al Mishri, Kapan saya boleh uzlah ?. Beliau menjawab, Jka engkau telah mampu mengasingkan dirimu sendiri. Ibnu Mubatrak telah ditanya, Apa obat hati ? Dia menjawab, Meminimalkan pergaulan dengan masyarakat. Menurut suatu pendapat jika Allah hendak memindahkan seseorang dari kemaksiyatan yang hina menuju kemuliaan taat, Allah Taala pasti mencintai dia dengan menyendiri, mencukupi dia dengan menerima, dan memperlihatkan dia segala cacat yang tertanam di dlm jiwanya. Apabila hal tersebut telah diberikan, maka kebaikan dunia danakhirat pasti akan diberikan kepadanya.

16 | Risalah Al Qusyairi

17 | Risalah Al Qusyairi

Taqwa
Allah Taala berfirman , sesungguhnya yang paling mulia dari kamu sekalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. QS. Al-Hujarat 13 Abu Said al-Khudri berkata, Seorang laki-laki datang kepada RasuluLlah SAW seraya meminta nasihat, Wahai Nabi Allah, wasiatilah diriku . Beliau menjawab, Wajib atasmu bertaqwa kepada Allah karena sesungguhnya taqwa merupakan kumpulan semua kebaikan. Wajib atasmu untuk berjuang karena berjuang adalah ibadah/rahbaniyah orang islam. Dan wajib atasmu untuk selalu ingt kepada Allah karena mengingat Dia adalah cahaya bagimu. Seseorang telah bertanya kepada RasuluLlah SAW, Wahai Nabi Allah, siapa keluarga Muhammad ?. Beliau menjawab, Orang yang bertaqwa kepada Allah Taala, takwa merupakan kumpulan perbuatan baik, sedangkan esensinya selalu taat kepada Allah agar terhindar dari siksaanNya. Ada suatu ungkapan, Si fulan bertaqwa dengan perisainya. Oleh karena itu pondasi taqwa haris menghindari perbuatan syirik, maksiyat, dan perbuatan tercela. Selain itu juga menghindarkan diri dari perbuatan syubhat, perbuatan yang tidak berfaidah. Al Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, setiap klasifikasi pembagian terdapat satu bab dalam pembahasan. Untuk menafsirkan firman Allah Taala, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa.(QS. Ali Imran. 102) hal itu untuk ditaati bukan untuk di ingkari, supaya untuk di ingat bukan untuk dilupakan, dan supayandisyukuri bukan untuk dikufuri. Sahal bin Abdullah berpendapat, tak ada seseorangpun yang dapat menolong kecuali Alla, tak ada argumrntasi yang benar kecuali RasuluLlah, tak satupun dari modal persiapan kecuali taqwa dan tak satupun amal kebaikan kecuali sabar. Menurut Al-Kattani, dunia diciptakan agar manusia menerima cobaan dan akhirat diciptakan agar manusia bertaqwa. Al Jariri berkata, Barang siapa yang membrikan keputusan antara manusia dan Allah Taala tanpa dasar taqwa dan pendekatan diri kepada Allah, maka dia tidak akan sampai kepadaNya. Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud dengan taqwa adalah seoang hamba yang tidak takut kepada apapun kecuali hanya kepada Allah . sahal berkata, Barang siapa yang menginginkan agar taqwanya benar,

18 | Risalah Al Qusyairi

maka ia harus meninggalkan semua perbuatan dosa. Nashr Abadzi berkata, Barang siapa yang selalu bertaqwa, maka dia tidak merasa keberatan meninggalkan dunia sebagaimana firman Allah Taala, dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik agi orang yang bertaqwa apakah mereka tidak memikirkannya.QS. Al-Anam 32 Sebagian ulama berkata, Barang siapa yang mampu mewujudkan taqwa, maka hatinya akan dikmudahkan oleh Allah untuk berpaling dari kemewahan dunia. Menurut Abu Bakar Muhammad Ar-Rudzabari yang dimaksud taqwa adalah meninggalkan sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah Taala. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud orang yang taqwa adalah orang ang tidak mengotori jiwa bathin dengan interaksi sosial. Dalam kondisi yang demikian maka orang tersebut akan mengadakan kontak dengan Allah dan dapat berkomunikasi denganNya. Ibnu Atha berkata, taqwa terbagi menjadi dua yaitu taqwa lahir dan taqwa bathin. Taqwa lahir adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang, sedangkan taqwa bathin adalah niat dan ikhlash. Syair dari Dzunun Al-Mishri: Tak ada kehidupan yang sejati Kecuali dengan kekuatan hati mereka Yang selalu merindukan taqwa dan menyukai dzikir Ketenangan telah merasuk ke dalam bathin yang yakin Dan yang baik Sebagaimana bayi yang masih menetek Telah masuk ke dalam pangkuan Seorang laki-laki yang bertaqwa dapat dijadikan standar apabila memenuhi tiga hal. Pertama tawakal yang baik dalam hal yang tidak mungkin diperoleh. Kedua, ridha yang baik dalam hal yang telah diperoleh. Ketiga, sabar yang baik dalam hal yang telah lewat. Sedang menurut Thalq bin Habib, yang dimaksud taqwa adalah perilaku ta;at kepada Allah di atas cahayanya. Diriwayatkan dari Hafs, ia berkata,Taqwa harus ditanamkan dalam perbuatan yang halal lagi murni, bukan pada yang lain. Abul Husain Al-Zunjani berkata, barang siapa yang memiliki modal taqwa, maka berbagai ungkapan sifat jelek akan tertolak. Al Washiti mengatakan, Yang diamksud taqwa adalah orang yang selalu memelihara ketaqwaannya. Orang yang taqwa dapat diperumpamakan seperti Ibnu Sirin. Ketika ia membeli 40 takar minyak samin, seseorang mengeluarkan tikus dari timbangan tersebut. Inbu Sirin bertanya, dari timbangan mana engkau keluarkan tikus tersebut ? pemuda itu menjawab akutidak tahu. Setelah itu Ibnu Sirin menuangkan semua minyak ke tanah. Dalam cerita lain Abu Yazid
19 | Risalah Al Qusyairi

pernah membeli minyak parfum di kota Hamdzan dan mendapatkan kelabihan. Ketika ia pulang ke kota Bustam, dia melihat dua semut di dalam parfum tersebut. Setelah itu ia kembali ke kota Hamdzan dan meletakkan dua semut itu ke tempat penjual. Diceritakan bahwa Abu Hanifah tidak pernah duduk di bawah bayangan pohon orang yang mempunyai hutang kepadanya, berdasarkan hadits RasuluLlah SAW, Kullu Qardhin jirra nafan fahuwa riba yang artinya tiap-tiap hutang yang mendapatkan keuntungan adalah riba. Diceritakan Abu Yazid telah mencuci pakaiannya di tanah lapang. Dia bersama temannya seraya berkata kepada Abu Yazid, Pakaian ini kita jemur di atas dinding pohon anggur . Abu Yazid menjawab, janganlah engkau meletakkan pasak di atas dinding orang lain. Temannya bertanya, apakah ahrus kita jemur di atas pohon rerumputan ?. Dia menjawab, Tidak karena rerumputan itu adalah makanan hewan, maka kita tidak boleh menutupinya, Setelah itu Abu Yazid menghadapkan punggungnya ke arah matahari, sedangkan pakaian yang sebelah kanan sudah kering, maka ia membalikkannya hingga pakaian sebelah kiri juga kering.

20 | Risalah Al Qusyairi

Wara
Abu Dzar Al-ghifari berkata, RasuluLlah SAW bersabda, Min husnil islaamil mari tarkuhu maa laa yaniih yang artinya, Sebagian dari kesempurnaan iman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berarti. Yang dimaksud wara adalah meninggalkan hal-hal yang subhat. Menurut komentar Ibrahim bin Adham yang dimaksud wara adalah meniggalkan hal-hal yang subhat dan yang tidak pasti (tidak dikehendaki) yakni meniggalkan hal-hal yang tidak berfaedah. Abu Bakar Ash-Shidiq RA. berkata, Kita telah meninggalkan 70 persoalan yang berkaitan dengan hal yang halal karena takut terkait dengan persoalan yang haram. Nabi SAW pernah menasehati Abu Hurairah RA. Kun Waraam takun abadanNaas yang artinya jadilah kamu orang yang waling wara niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli beribadah diantara manusia. As-Sary berkata, ada empat ahli wara di masa mereka, yaitu Hudzaifah Al-Mashri, Yusuf bin Asbath, Ibrahim bin Adham, dan Sulaiman Al-Khawwas. Mereka mempunyai pandangan yang sama tentang wara . Ketika mereka mendapatkan persoalan yang sulit, mereka mampu meminimalkan. Asy-Syibli berkata, wara merupakan upaya untuk menghindarkan diri dari berbagai hal yang tidak berkaitan dengan Allah SWT. Diceritakan oleh Ishaq bin Khalaf, Perak dalam ilmu logika lebih hebat dari pada emas dan perak, sedang zuhud dalam ilmu kepemimpinan lebih hebat daripada keduanya. Oleh karena itu engkau dapat mengalahkan keduanya dalam mencari kepemimpinan. Menurut Abu Sulaiman AD-Daarani, wara adalah permulaan dari zuhud, sedangkan qanaah adalah akhir dari keridhaan. Sedangkan menurut
21 | Risalah Al Qusyairi

Abu Utsman, pahala wara adalah takut terhadap hisab. Menurut Yahya bin Muadz, wara akan terhenti di atas ilmu tanpa ada perubahan. Diriwayatkan pada suatu hari AbduLlah bin Marwa mengalami kebangkrutan. Dia berada di dalam sumur yang sangat kotor. Setelah itu dia menyewanya sehingga dia dapat keluar. AbduLlah bin Marwan ditanya tentang hal ini , maka dia menjawab, Di atas sumur terdapat asma Allah Taala. Yahya bin Muadz berkata, wara terbagi menjadi dua, pertama wara lahir. yaitu semua gerak aktivitas yang hanya tertuju kepada Allah SWT. Kedua, warabathin, yaitu hati yang tidak dimasuki sesuatu kecuali hanya mengingat Allah Taala. Yahya bin Muadz berkata, Barang siapa yang belum menikmati lezatnya wara , maka dia belum pernah menikmati pemberian Allah Taala. Ada suatu ungkapan, Barang siapa yang pandangan keagamaannya baik dan bagus, maka derajadnya akan ditinggikan oleh Allah Taala di hari kiamat. Yunus bin Ubaid berpendapat, yang di maksud wara adalah menghindarkan diri dari segala bentuk syubhat dan memelihara diri dari segala bentuk arah pandangan. Sufyan AtsTsauri berkata, Saya tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mudah daripada wara, kecuali meninggalkan hal yang keruh di dalam hati. Syaikh Maruf Al-Kharqi juga berkomentar, jagalah mulutmu dari pujian sebagai mana engkau menjaga mulutmu dari perilaku tercela. Bisyir bin Harits berkata, Perbuatan yang paling utama ada tiga, Pertama dermawan dalam keadaan tidak mempunyai sesuatu kecuali hanya sedikit. Kedua wara dalam keadaan khalwah, ke tiga berkata benar di hadapan orang yang takut kepada Allah Taala dan meninggalkan harap kerelaannya. Dalam suatu cerita, saudara perempuan Bisyir Al Hafi datang kepada Ahmad bin Hambal seraya bertanya, Suatu saat kami menarik tempat kami yang tinggi dan datar, kemudian ada cahaya obor yang mengikuti kami dan cahaya itu jatuh di hadapan kami, apakah boleh kami menarik cahaya obor itu ?. Siapa engkau ?tanya Ahmad balik bertanya. Saudara perempuan Bisyir Al-Hafi Setelah itu Ahmad bin Hambal menangis dan berkata, Barang siapa yang memberikan perlindungan (penginapan di waktu malam ) maka dia adalah orang yang wara. Oleh karenanya, sinar obor itu jangan kau tarik. Ali Al-Aththar menceritakan, Suatu hari saya melewati jalan kota Bashrah. Tiba-tiba di sana ada beberapa orang tua yang sedang duduk dan beberapa orang anak yang sedang bermain. Saya bertanya,
22 | Risalah Al Qusyairi

Apakah kamu semua tidak malu terhadap beberapa orang tua itu ? Salah seorang dari mereka menjawab, Beberapa orang tua itu tidak memiliki sifat wara . Setelah itu saya menceritakan kepada mereka, tentang kehebatan anak-anak itu. Ada satu ungkapan, Malik bin Dinar tinggal di Bashrah selama empat puluh tahun, dia tidak pernah makan kurma, baik yang kering maupun yang basah sampai dia wafat. Ketika musim panen telah selesai, dia berkata, Wahai penduduk Bashrah, inilah perutku yang belum pernah merasakan kekurangan dan kelebihan. Ibrahim bin Adham pernah ditanya, apakah engkau tidak pernah minum air zam-zam ? Dia menjawab, Seandainya ada timba pastilah saya minum. Harits al-Muhasibi pernah mengulurkan tangannya untuk mengambil sesuatu makanan yang subat, tiba-tiba ujung jarinya berkeringat sehingga dia tahu bahwa makanan tersebut tidak halal. Diceritakan bahwa Bisyir Al-Hafi pernah diundang dalam suatu acara. Makanan telah diletakkan di hadapannya. Ketika dia mengulurkan tangannya, ternyata tangan tersebut tidak mengulur. Sampai dia kerjakan tiga kali. Peristiwa itu diketahui oleh seorang laki-laki . Sesungguhnya tangan Bisyir tidak dapat diulurkan pada makanan yang syubhat. Oleh karenanya pengundang tersebut tidak layak mengundang Syaikh ini, kata lelaki itu. Sahal bin AbdulLah pernah ditanya tentang hal yang halal dan murni, beliau menjawab, Barang yang dipergunakan bukan untuk bermaksiyat kepada Allah. Beliau juga mengatakan, Yang dimaksud hal yang murni halal adalah barang yang dipergunakan bukan untuk melupakan Allah Taala. Hasan Al Bashri mengunjungi kota makkah beliau melihat salah seorang putera Ali bin Abi Thalib RA menyandarkan punggungnya ke kabah sambil menganjurkan kebaikan kepada orang banyak. Hasan Al Bashri berhenti dan bertanya, Kebesaran agama itu apa ?. Wara. Penyakit agama itu apa? Tamak. Hasan Al Bashri kagum kepadanya sampai dia berkata, Berat timbangan satu biji wara yang murni lebih baik dari pada timbangan puasa seribu puasa dan shalat. Abu Hurairah berkata, Orang-orang yang selalu beribadah kepadan Allah Taala akan dikumpulkan dengan orang-orang yang wara dan zuhud kelak di hari kiamat. Sahal bin AbduLlah berkata, Orang yang

23 | Risalah Al Qusyairi

tidak pernah bergaul dengan orang yang wara ibarat orang yang makan kepala gajah, tetapi ia tidak pernah kenyang. Dalam suatu cerita, Umar bin Abdul Aziz menerima minyak misik dari rampasdan perang, sementara beliau sedang memegang racun yang terkandung di dalamnya. Setelah mengamati sejenak, beliau berujar, Dari minyak misik ini harumnya dapat diambil manfaat. Tetapi saya tidak menyukai harumnya itu kecuali terhadap orang islam. Abu Utsman Al-Mariri pernah ditanya tentang wara, beliau bercerita, Abu Shahih Hamdun, seorang penatu, berada di samping temannya yang sedang sekarat dan akhirnya meninggal dunia. setelah itu Abu Shahih meniup lampu (mematikannya) dan kemudian beliau ditanya tentang hal tersebut, maka beliau menjawab, Sampai sekarang minyak yang dipergunakan untuk menyalakan lampu masih ada, dan mulai sekarang minyak tersebut adalah milik ahli warisnya. Oleh karena itu carilah minyak yang lain. Seseorang berkata berkata dengan suara halus sambil menangis. Saya telah berbuat dosa selama empat puluh tahun. Suatu hari saudaraku berkunjung kepadaku, setelah itu aku membeli ikan panggang untuknya. Ketika dia selesai makan, saya mengambilkan sedikit tanah liat dari dinding tetangga sehingga dia dapat membersihkan tangannya, namun sdmpai saat ini saya belum meminta maaf kapadanya. Seorang laki-laki pernah menulis di papan rumah sewaan. Diah hendak menghapus tulisan itu dengan debu dinding rumah. Di dalam hatinya terlintas bahwa rumah itu adalah rumah sewaan yang sebelumnya tidak pernah terlintas (terbayangkan untuk hal ini), sehingga pada akhirnya tulisan itu dihapusnya. Setelah itu ia mendengar suara hati Orang yang menganggap remem apa yang menimpanya sehingga ia menghapus tulisan itu. Dia akan di hisab lama kelak di hari kiyamat. Ahmad bin Hambal mengadaikan bejana terbuat dari tembaga kepada tukang sayur di mekkah. ketika hendak menebusnya, penjual sayur itu mengeluarkan dua buah bejana seraya berkata, Salah satunya dapat kau ambil. Saya merasa sulit untuk memilih bejanaku, oleh karena itu bejana dan dirham sekarang menjadi milikmu. Kata Imam Ahmad bin Hambal. Ini adalah bejanamu, saya ingin memberikan upah / imbalan kepadamu. kata penjual sayur. Saya tidak mau mengambilnyaJawab beliau seraya meninggalkan bejana itu karena takut dosa.

24 | Risalah Al Qusyairi

diriwayatkan bahwa Ibnu Mubarak meninggalkan hewan tunggangannya yang haganya mahal dan mengerjakan shalat dhuhur. hewan tunggangan itu kemudian berkeliaran di daerah pertanian kerajaan, setelah itu beliau meninggalkan hewan tunggangan tersebut dan dibiarkan begitu saja. Ada yang berpendapat, Ibnu Mubarak pulang dari marwa, menuju syam untuk mengembalikan pena yang dipinjam, tetapi ia tidak mengembalikan kepada pemiliknya. Nakhai pernah menyewa hewan tunggangan kemudian cambuknya terjatuh dari aaapegangan tangan. Setelah itu ia turun untuk mengambil cambuk tersebut. Seseorang berkata kepadanya Seandainya hewan tunggangan itu kembali ke tempat terjatuhnya cambuk , pati akan saya ambil. Nakhai menjawab, hewan yang saya sewa memang harus saya perlakukan seperti ini, bukan seperti itu . Abu Bakar AD-Daqaq berkatas, Saya telah mengunjungi daerah padang pasir bani Israel selama 15 hari. Ketika melawati sebuah jalan, saya dihadang oleh tentara untuk diberi minum sehingga hatiku kuat kembali selama tiga puluh tahun. Dalam cerita lain Rabiaah Adawiyah menjahit pakaiannya yang telah robrk di bawah pantulan lampu milik raja. hatinya sesaat terperangkap sehingga teringat sesuatu. Secara reflek beliau merobek bajunya sehingga dia mampu menemukan jati dirinya. Sufyan Ats-Tsauri pernah bermimpi terbang bersama malaikat di surga. Dia ditanya oleh malaikat, dengan apa akmu memperoleh ini ?. Dengan sifat wara Hasan bin Sinan berhenti di depan teman-temannya seraya bertanya, Apa yang paling hebat menurut kamu sekalian ?. Wara. Tidak satupun yang lebih ringan daripada wara Bagaimana mungkin ? Mereka malah balik bertanya. Saya belum pernah minum air sungai kamu seklian dengan puas selama 40 tahun . Hasan bin Abi Sinan memang belum pernah tidur terlentang, bwlum pernah makan samin, dan belum pernah minum air dingin. SZuatu saat dia bermimpi meninggal dunia. Dalam kondisi demikian dia ditanya oleh seseorang Apa yang telah Allah berikan kepadamu ? Beliau menjawab, Kebaikan . Hanya saja saya terhalang masuk surga karena sebatang jarum yang pernah saya pinjam tetapi belum saya kembalikan. Abdul Wahid bin Zaid mempunyai seorang pelayan yang melayani selama dua tahun dan mengabdi (beribadah)selama 40 tahun . Pada
25 | Risalah Al Qusyairi

awalnya ia diperintah mengabdi sebagai tukang takar, ketika ia meninggal dunia ABdul Wahid bermimpi bertemu dengannya. Apa yang telah Allah berkkan kepadamu ? Tanya Abdul Wahid Kebaikan. Hanya saja saya terhalang masuk surga dan saya telah dikeluarkan dari perangkap 40 karung debu. Nabi Isa pernah melewati kuburan. Salah satu dari orang yang telah meninggal memanggilnya. Setelah itu Allah menghidupkan orang itu , Nabi Isa bertanya, Siapa engkau ?. Saya adalah tukang pikul kayu yang selalu memberikan kemudahan untuk kepentingan orang lain . Suatu hari saya memindahkan kayu milik orang dan yang rusak saya pecahkan.. Setelah saya meninggal dunia saya dituntut untuk mengembalikan. Kata si mayat dengan nada sedih. Abu Said Al-Kharras membahas tentang wara Suatu saat dia bertemu dengan Abbas Al-Muhtadi dan bertanya, Apakah engnkau tidak merasa malu duduk di bawah atap Abu Dawaniq, minum dari kolam anggur, dan berdagang dengan uang palsu, sedangkan engkau membahas tentang wara.

Zuhud
26 | Risalah Al Qusyairi

Nabi Muhammad SAW bersabda, Idzaa ra-aitumurrajula qad uutiya zuhdan fiddunya wamunthiqan faqtaribuu minhu fa-innahuu yulaqqanul hikmah Yang artinya, Jikamu kamu sekalian melihat seseorang yang dianugerahi zuhud terhadap dunia, dan berbicara benar, maka dekatilah dia, sesungguhnya dia adalah orang yang mengajarkan kebijaksanaan. Seorang Maha guru berkata, Ulama berbeda pendapat tentang zuhud, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan (hal, perbuatan, barang) yang haram karena yang halal diperbolehkan Allah SWT. Apabila Allah Taala memberikan suatu kenikatan kepada seorang hamba lantas ia bersyukur kepadaNya maka Allah akan membalasnya dengan setimpal. Diantara mereka ada juga yang berpendapat, meninggalkan yang haram adalah wajib dan meninggalkann yang halal adalah keutamaan. Orang yang meminimalkan harta dan selalu beribadah disebut orang yang sabar terhadap dirinya sendiri., rela terhadapn apa yang ditetapkan Allah SWT, menerima apa yang diberikan Allah, dan lapang dada terhadap apa yang telah ditentukan Allah SWT. Allah telah memberikan gambaran tentang zuhud kepada manusia dengan firmanNya ,Qul mataauddunya qaliil wal aakhiratu limanittaqaa yang artinya, Katakan sesungguhnya kenikmatan dunia adalah sebentar, dan akhirat lebih baik bagi orang ang bertaqwa. Selain itu terdapat beberapa ayat lain yang mencela kehidupan dunia dan menganjurkan hidup zuhud. Sebagian yang lain berpendapat, Apabila seseorang menafkahkan hartanya, selaliu sabar danmeninggalkan apaa yang dilarang oleh syarak, alangkah lebih sempurnanya jika ia zuhud terhadap hal yang halal. Menurut ulama yang lain, selayaknya bagi hamba jangan memilih meninggalkan hal yang halal karena terpaksa, jangan mencari hal yang tidak ada faedahnya dari sesuatu yang tidak dibutuhkan, dan hendaklah menerima pembagian rizki yang telah ada. Apabila Allah SWT memberikan rizki yang halal maka hendaklah bersyukur. apabila Allah memberi harta yang hanya sekedar cukup, maka hendaknya janygan memaksa diri mencari harta yang tidak berfaedah. Oleh karena itu sabar lebih baik bagi orang yang fakir, sedangkan syukur lebig tepat bagi orang yang memiliki harta yang halal.

27 | Risalah Al Qusyairi

Menurut Sufyan Ats-Tsauri, yang dimaksud zuhud adalah memperkecil cita-cita bukan memakan sesuatu yang keras dan bukan pula memakai pakaian mantel yang kusut. Menurut As-Sirri, Allah Taala menghilangkan kenikmatan dunia, melarangnya dan mengeluarkannya dari para kekasihnya. Allah Taala tidak rela jika mereka menikmati dunia. Menurut yang lain, kata-kata zuhud dikutip adri firman Allah Taala yang berbunyi, liakilaa ta-suu alaa maa faataakum walaa tafrachuu bimaa aataakum yang artinya, (kami jelaskann yang demikian itu agar mereka tidak berduka terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Orang yang zuhud tidak akan bangga dengan kenikmatan dunia, dan tidak akan mengeluh dengan kehilangan dunia. Sedangkan menurut pendapat Abu Utsman, yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan kenikmatan dunia dan tidak mempedulikan orang yang dapat menikmatinya. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Zuhud merupakan sikap anti kemewahan dunia, tidak berkeinginan membangun pondok/ribath, dan masjid. Menurut Yahya bin Muazd, zuhud membawa implikasi mendermakan harta benda, sedangkan cinta membawa implikasi mendermakan diri sendiri. Menurut Ibnu Jala, yang dimaksud zuhud adalah memandang dunia hanya pergeseran bentuk yang tidak mempunyai arti dalam pandangan. Oleh karenanya ia akan mudah sirna. Ibnu Khafif berpendapat, tanda-tanda zuhud adalah merasa senang meninggalkan harta benda, sedangkan yang dimaksud zuhud adalah hati merasa terhibur meninggalkan berbagai bentuk kehidupan dan menghindarkan diri dari harta benda. Sedangkan menurut pendapat yang lain yang dimaksud zuhud adalah jiwa merasa tenang meninggalkan kehidupan dunia tanpa keterpaksaan. Nashr Abadzi berkata, Yang dimaksudn orang zuhud adalah orang yang terisolir dalam kehidupan dunia. Sedangkan yang dimaksud orang marifat adalah orang yang terisolir dalam kehidupan akhirat. Menurut satu pendapat barang siapa yang zuhudnya benar, maka dia akan menjadi orang yang rendah hati di dunia ini. Oleh karean itu dapat dikatakan, seandainya songkok yang jatuh dari langit, maka ia tidak akan jatuh kecuali di atas orang yang menginginkannya. Menurut AlJunaid, zuhud adalah hati yang terhindar dari hal-hal yang negative. Ulama salaf berbeda pendapat tentang arti zuhud. Menurut Sufyan AtsTsauri, Ahmad bin Hambal, Isa bin Yunus, dan ulama yang lain, arti zuhud adalah memperkecil cita-cita. Dalam pengertian ini terkandung beberpa indikasi zuhud, beberapa sebab yang muncul , dan
28 | Risalah Al Qusyairi

beberapaarti yang telah ditetapkan.menurut Abdullah ibn Mubarak, zuhud adalah percaya kepada Allah SWT disertai sikap cinta terehadap kefakiran. Syaqiq Al-Balkhi dan Yusuf bin Asbath sependapat dengan pandangan tersebut yang juga mengandung beberapa indikasi zuhud. Oleh karena itu seorang hamba tidak mampu mengerjakan zuhud kecuali ia percaya kepada Allah SWT. Menurut Abdul Wahid bin Zaid arti zuhud adalah meninggalkan dinar dan dirham. Sedangkan menurut Abu Sulaiman Ad-Darani, arti zuhud adalah meninggalkan aktifitas yang mengakibatkan jauh dari Allah SWT. Al-Junaid ditanya tentang zuhud oleh Riwaim, beliau menjawab, Memperkecil kehidupan dunia dan menghilangkan berbagai pengaruh yang ada di dalam hati . Menurut as-Sary, kehidupan yang zuhud tidak akan menjadi baik jika yang bersangkutan masih menyibukkan diri. Demikian juga orang yang marifat. Al-Junaid juga pernah ditanya tentang zuhud maka beliau menjawab, Melepaskan tangan dari harta benda dan melepaskan hati dari kesenangan hawa nafsu. Asy-Syibli pernah ditanya tentang zuhud, beliau menjawab, Meninggalkan segala bentuk kehidupan dunia untuk beribadah kepada Allah. Menurut Yahya bin Muadz, orang tidak akan sampai kepada hakikat zuhud kecuali dengan tiga hal. Pertama, perbuatan tanpa ketergantungan. Kedua ucapan tanpa keinginan hawa nafsu. Ketiga, kemuliaan tanpa kekuasaan. Menurut Abu Hafs, zuhud tidak akan terealisir kecuali dalam hal yang halal. Demikian juga haln yang halal tidak akan terealisir kecuali dengan zuhud. Abu Utsman berpendapat, Allah SWT akan memberikan sesuatu kepada orang zuhud melebihi apa yang dikehendaki, memberikan kepada orang yang cinta Allah SWT selain apa yang ia kehendaki, dan memberikan kepada orang yang konsisten beribadah sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Menurut Yayha bin Muadz, oranag yang zuhud akanmembuat cuka dan biji saei sebagai obat, sedangkan orang yang marifat akan membuat minyak misik dan ambar sebagai parfum. Sedangkan menurut Hasan AL-Bashri, arti zuhud adalah benci terhadap orang yangmenyukai harta kekayaan dan apa-apa yang dimilikinya. Sebagian ulama ditanya, Apakah zuhud itu?. Meninggalkan sesuatu yang dimiliki orang lain. Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Dszunun Al-Mishri,Kapan saya harus Zuhud ? Ketika engkau sudah mampu mengasingkan dirimu.

29 | Risalah Al Qusyairi

Muhammad bin Fadhal berkata, Mengutamakan zuhud ketika dalam keadaan kaya dan mengutamakan fitnah / cobaan ketika dalam keadaan fakir. Allah SWT berfirman,Wayutsiruuna alaa anfusihim walau kaana bihim khashaashah yang artinya, Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka, meskipun mereka sangat butuh (apa yang mereka berikan). Al-Kattani berkata, Berbagai persoalan yang tidak pernah diperselisihkan oleh ulama kufah, Madinah, Irak, dan Syam adalah zuhud, kemurahan jiwa / hati, dan memberikan ansihat kepada orang lain, yakni tidak satupun dari ulama yang berpendapat bahwa berbagai persoalan tersebut merupakan perilaku yang tidak terpuji. Yahay bin Muadz ditanya oleh seseorang, Kapan saya dapat memasuki pesanggrahan tawakal, memakai selendang zuhud, dan duduk bersama-sama orang yang zuhud ?. Beliau menjawab, Apabila engkau telah mampu melatih jiwamu, secara samar-samar dalam batas-batas yang seandainya Allah SWT tidak memberikan rizki kepadamu selama tiga hari jiwamu tidak akan menjadi lemah. Apabila engkau tidak sampai pada kedudukan ini, maka dudukmu di permadani orang-orang yang zuhud adalah sia-sia, sehingga engkau mengalami kecacatan. Bisyr Al-Hafi berpendapat, zuhud ibarat benda milik yang tidak memperoleh tempat kecuali di hati yang suuci. Muhammad bin Asyats Al-Bikindi berkata, Barang siapa yang membahas zuhud dan memberikan peringatan tetapi dia mencintai harta mereka, maka cintanya terhadap akhirat akan dihilangkan oleh Allah SWT dari hatinya. Menurut suatu pendapat, apabila seorang hamba Allah SWT meninggalkan kehidupan duniawi, maka Allah SWT mengutus malaikat agar dia diberi hikmah di dalam hatinya. Sebagian ulama pernah ditanya, Untuk apa zuhud ? Beliau menjawab, Untuk kepentingan diriku. Menurut Ahmad bin Hanbal, zuhud terbagi menjadi tiga, pertama meninggalkan hal yang haram, ini zuhud orang yang awam. Kedua, meninggalkan hal yang halal, ini zuhud orang yang istimewa. Ketiga, meninggalkan segala hal yang menyibukkan sehingga jauh dari Allah SWT. Ini zuhud orang yang marifat. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, sebagaimana ulama pernah ditanya, kenapa engkau zuhud ? Dia menjawab, kkarena apabila saya

30 | Risalah Al Qusyairi

meninggalkan hal-hal yang banyak , maka kecintaanku akan hal-hal yang sedikit akan menjadi hilang. Yahya bin Muadz berkata, Dunia bagaikan pengantin perempuan. Barang siapa yang menginginkannya, bersikap lemah lembutlah kepada tukang sisir rambutnya. Orang yang zuhud akan menghitamkan muka pengantin, mencukur rambutnya, dan membakar pakaiannya. Sedangkan orang yang marifat akan selalu sibuk mengingat Allah SWT tanpa menoleh kepadanya. As-Sariy berkata, Saya telah membiasakan diri terhadap-hal-hal yang berkaitan dengan zuhud. Segala sesuatu yang kuinginkan telah ku peroleh kecuali meninggalkan orang banyak. Oleh karena itu saya belum sampai dan belum memperolehnya. Menurut satu pendapat, orang yang zuhud tidak akan keluar kecuali pada dirinya sendiri, karena mereka tidak menginginkan kenikmatan yang fana, tetapi menginginkann kenikmatan yang abadi / akhirat. Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud zuhud adalah mempertahankan darah orang-orang yang zuhud dan menumpahkan darah 0rang-0rang yang marifat. Sedangkan menurut Hatim Al-Asham yang dimaksud orang yang hendak zuhud adalah orang yang mampu menyerbu /menyerang hawa nafsunya sendiri sebelum kecerdikan/akal pikirannya timbul. Fudhail bin Iyadh berkata, Allah SWT menjadikan segala kejelekan di dalam satu rumah dan menjadikan cinta kepada kehidupan dunia sebagai kuncinya. Allah SWT menjadikan segala kebaikan dalam satu rumah dan menjadikan zuhud sebagai kuncinya.

31 | Risalah Al Qusyairi

Diam Dari Abu Hurairah RA diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Man kaana yuminu biLlaahi wal yaumil aakhir falaa yudzii jaarahu, waman kaana yuminu biLlaahi wal yaumil aakhir falyukrim dhaifahu, waman kaana yuminu biLlaahi wal yaumi aakhir fal yaqul khairan au liyashmuht. HR. Abu Hurairah Yang artinya, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknyan ia berkata baik atau diam. Uqbah bin Amir menceritakan, saya bertanya kepada RasuluLlah SAW Apakah keselamatan itu?, Beliau menjawab, Ikhfadh alaika lisaanaka, wal yasaka baitaka, wabki alaa khathii-atika, yang artinya, Jagalah lisan engkau, perluaslah rumahmu , dan menangislah akan dosa-dosamu. Diam adalah pondasi keselamatan dan merupakan sikap penyesalan terhadap berbagai celaan. Oleh karena itu kewajiban diam ditetapkan oleh syara, perintah dan larangan. Sedangkan diam pada saat-saat tertentu adalah sifat pemimpin, sebagaimana ungkapan bahwa berbicara pada tempatnya termasuk perilaku yang baik. Saya (Imam Al-Qusyairi) telah mendengar ustadz Abu Ali Ad-Daqaaq berkata, Barang siapa yang mendiamkan kebenaran, maka ia ibarat setan yang bisu. Sikap diam sambil memperhatikan, merupakan bagian dari perilaku orang-orang yang baik. Allah SWT berfirman, Wa idzaa qurial Quraanu fastamiuu lahuu wa anshituu laallakum turhamuun QS. Al-Araaf 204. Yang artinya apabila dibacakan AlQuran maka maka hendaklah didengarkan dan diperhatikan agar kamu sekalian mendapat rahmat. Allah SWT dalam ayat yang lain berfirman, yang mengabarkan kepada jin atas kehadian RasuluLlah SAW, Falamma chadharuuhu fa
32 | Risalah Al Qusyairi

anshituu QS. Al Achqaaf 29. yang artinya, Tatkala mereka hadir, mereka berkata kepada sesamanya, diamlah (perhatikanlah). Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman, Wakhasyaatil aswaathu liRrahmaani walaa tasmau illa hamsaa QS. Thaha 108 yang artinya, Sunyi senyaplah suara karena takut kepada Yang Maha Pengasih sehingga tiada engkau dengar kecuali suara halus. Menyimpan mulut di depan orang yang diam merupakan sikap yang baik untuk menghindari kebohongan, umpatan dan kekejaman raja. Dalam pengertian ini seorang penyair menggambarkan, Saya berpikir apa yang saya ucapkan Jika telah berpisah Saya tetapkan ungkapan sanggahan Dengan sungguh-sungguh Saya melupakan Jika kita bertemu Dan saya akan berkata ketika mengadakan diplomasi Dalam syair yang lain juga diungkapkan Bagimu hendaknya menahan ucapan Sehingga ketika engkau mampu menguatkan orang yang bertemu denganmu Sehingga engkau dapat melupakannya Demikian juga dalam syair yang lain Saya telah mendengar ungkapan Yang dapat menghiasi pemuda Diam lebih baik Bagi orang yang memperhatikan Menyimpan ucapan membawa implikasi kematian dianggap melaksanakan cinta kasih jika bersikap diam diam terbagi menjadi dua, yaitu diam secara lahir dan diam secara bathin. Orang yang bertawakal hatinya selalu diam dengan meninggalkan bernagai tuntutan ekonomi. Sedangkan orang yang bermarifat hatinya akan selalu diam (tenang) dengan mempertemukan ketetapan hukum melaui sikap yang baik. Oleh karena itu perbuatan yang baik adalah yang dapat dipercaya, sedangkan ketetapan yang baik adalah hal yang dapat diterima.
33 | Risalah Al Qusyairi

Terkadang yang menyebabkan diam adalah heran. Apabila pengetahuan tentang sifat yang mengejutkan telah muncul, maka ungkapan yang mengandung pelajaran akan menjadi tumpul, tak ada keterangan dan pemikiran. Oleh karena itu tempat-tempat pertemuan akan menjadi sirna , tidak ada ilmu dan perasaan. Allah SWT berfirman, Yauma yajmauLlaahurrusula fayaquulu maadzaa ujibtum, qaaluu laa ilma lanaaQS. Al Maaidah 109 yang artinya, (Ingtalah) di hari waktu Allah mengumpulkan para Rasul, kemudian Allah bertanya, Apa jawaban kaummu terhadap seruanmu? Para Rasul menjawab, Tidak ada pengetahuan bagi maki tentang itu. Jika mereka mengetahui apa yang terkandung di dalam pembicaraan merupakan hal-hal yang negative, dan merupakan bagian dari hawa nafsu, memperlihatkan sifat-sifat terpuji, suka membedakan berbagai kesulitan dengan sikap yang baik, dan mengetahui berbagai hal negative lainnya, maka mereka mempunyai sifat yang sama dengan orang-orang yang terlatih. Sifat ini merupakan bagian dari kekuatan pondasi mereka untuk menghindarkan diri dan menyantuni orang lain. Dalam suatu cerita, Dawud At-ThaaI ketika hendak memasuki rumahnya, dia berbalik (bermaksud) mengadiri tempat pengajian yang disampaikan oleh Abu Hanifah karena dia seorang muridnya. Ketika dirinya telah kuat dan mampu melaksanakan perilaku tersebut selama satu tahun, dia lebih senang duduk di rumahnya dan mengutamakan uzlah. Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Bisyir bin Harits menatakan, Jika bicaramu membuatmu kagum maka diamlah. Jika diammu membuatmu kagum maka bicaralah. Menurut Sahal bin Abdullah, tidak dibenarkan seseorang diam sehingga dia berkhalwat. Dan tidak dibenarkan seseorang bertobat sehingga dia diam. Abu Bakar Al-Farisi berkata, Barang siapa yang tidak membiasakan diri diam, maka segalaurusannya akan sia-sia meskipun dia adalah orang yang diam. Diam tidak hanya terbatas pada mulut tetapi juga pada hati dan seluruh anggota tubuh. Sebagian ulama berkata, Barang siapa yang tidak mampu menahan diam maka bicaranya akan sia-sia. Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Mimsyad AdDinawari berkata, Ahli hikmah akan mewariskan ilmu hikmahnya dengan diam dan akal pikiran. Abu Bakar AL-Farisi pernah ditanya tentang diamnya hati, dia menjawab, Meninggalkan kesibukan masa yang telah lampau dan masa yang akan datang. Menurutnya, jika seseorang yang pembicaraannya ditentukan dan dia harus berbicara, maka hendaknya dia membatasi diam.

34 | Risalah Al Qusyairi

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal RA dia berkata, Berbicaralah denga orang lain seminimal mungkin dan berbicaralah dengan Tuhanmu sebanyak mungkin, agar hatimu dapat melihat Tuhan. Dzunun pernah ditanya oleh seseorang, Siapa orang yang paling mampu menjaga diri ? Orang yang betul-betul menjaga mulutnya. Jawabnya Menurut Ali bin Bakar, Allah SWT menjadikan segala sesuatu dua pintu dan menjadikan mulut empat pintu. Dua bibir mempunyai dua daun pintu, dan beberapa gigi juga mempunya dua daun pintu Menurut suatu riwayat, Abu Bakar As-Shiddiq meletakkkan batu kecil di dalam mulut beliau agar bicaranya dapat diminimalkan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Hamzah Al-Baghdadi adalah orang yang bicaranya baik. Suatu saat hatif berkata kepadanya, Engkau telah berbicara dengan baik tetapi diam tentu lebih baik. Setelah itu dia tidak pernah berbicara sampai dia meninggal dunia. Imam Asy-Syibli apabila menyampaikan materi kajiannya, tak seorangpun yang hadir akan bertanya. Beliau berkata dengan mengutip firman Allah SWT Wawaqaal qaulu alaihim bimaa dhalamuu, fahum laa yanthiquun QS. An-Naml 85 yang artinya Perkataan (janji Allah) kepada mereka telah tiba karena mereka aniaya. Sedangkan mereka tidak dapat bercakap-cakap. Diam terkadang juga terjadi bagi orang yang berbicara karena diantara kaum ada orang yang lebih baik bicaranya. Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Ibnu Samak berkata, Antara Syah AL-Karmani dan Yahya bin Muadz terdapat ikatan persahabatan. Syah tiadak pernah menghadiri suatu majlis pengajian. Suatu saat ketika Syah ditanya tentang itu, Syah menjawab, Yang benar seperti ini. Mereka kemudian selalu mendeakti Syah hingga suatu saat dia mau menghadiri pengajian dan duduk di sebelah pinggir (tepi) yang tidak diketahui oleh Yahya bin Muadz. Ketika Yahya hendak berbicara (menyampaikan materi pengajian), dia diam sejenak, setalah itu Yahya bertanya, Siapa diantara kamu sekalian yang bicaranya lebih baik dan lebih menggetarkan dari pada aku?. Syah menjawab, Saya tegaskan kepada kamu sekalian yang benar adalah ketidak hadiranku di temapt pengajian ini, Daim kadang terjadi pada orang yang sedang berpidato karena terkandung suatu pengertian bagi orang-orang yang hadir, yakni orang yang tidak suka mendengarkannya. Oleh karena itu Allah SWT akan

35 | Risalah Al Qusyairi

melindungi materi pidatonya sehingga akan memberikan gairah dan kesenangan bagi orang yang tidak menyukai. Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Suatu saat saya tidak bisa menghadiri pengajian di Murwa karena ada halangan. Untuk pulang ke Nisabur, saya merasa berat karena sudah menempuh separuh perjalanan. Ketika tidur saya bermimpi bertemu dengan seseorang. Dia berkata kepadaku, jangan bersikeras keluar dari kota ini karena sekelompok jin sangat ingin mendengarkan pidatomu dan mereka telah hadir di temapt pengajianmu. Oleh karena itu alangkah baiknya jika engkau menyampaikan materi pengajian. Sebagian ahli hikmah telah berkata, Manusia diciptakan Allah SWT dengan mempunyai satu mulut, dau mata dan dua telinga agar dia dapat mendengar dan melihat lebih banyak dari apa yang dia katakana. Ibrahim bin Adham pernah diundang. Ketika dia sedang duduk, orang-orang yang hadir mengumpat. Dia berkata dengan bahasa ironi, Disamping kita terdapat orang yang memakan daging sesudah makan roti. Sedangkan kamu sekalian memulai dengan makan daging. Dia mengutip firman Allah Ayuhibbu ahadukum ayyakula lahma akhiihi maitan fakarihtumuuhu QS. Al-Hujarat 12 yang artinya, Apakah diantara kamu sekalian suka makan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentu kamu akan benci memakannya.. Menurut ahli hikmah, diam adalah mulut orang yang bijaksana. Menurut sebagian yang lain, belajar diam sama halnya dengan belajar bicara. Belajar bicara akan memberikan petunjuk, dan belajar diam akan menjaganya. Menurut suatu pendapat, keselamatan mulut adalah diam. Sebagian lain juga berpendapat, perumpamaan mulut adalah seperti hewan buas, apabila tidak diikat, ia akan menganiaya. Abu Hafs pernah ditanya, Bagi seorang wali, keadaan apa yang lebih utama? Dia menjawab, Seandainya orang yang berbicara mengetahui resiko pembicaraan, dia pasti akan diam. Dan seandainya dia mengetahui resiko diam, dia pasti akan terus menerus memohon kepada Allah SWT agar dipanjankan umurnya seperti Nabi Nuh AS sehingga dia dapat berkata, agar dia mendapat petunjuk menuju kebaikan. Menurut satu pendapat, puasa orang awam dengan mulut, puasa orang marifat dengan hati. Dan puasa orang yang cinta kepada Allah dengan ketinggian rahasia akal pikiran.

36 | Risalah Al Qusyairi

Sebagian ulama berkata, Saya mengekang mulutku selama 30 tahun sehingga tak pernah mendengar sesuatu kecuali yang keluar dari hatiku. Setelah itu saya mengekang hatiku selama 30 tahun sehingga aku tidak pernah mendengar sesuatu selain yang keluar dari mulutku. Menurut ungkapan sebagian ulama yang lain, seandaninya mulutmu tidak dapat berbicara, engkau tak akan lepas dari ucapan hati. Seandainya engkau menjadi orang yang buruk, engkau tidak akan lepas dari ucapan diri sendiri. Dan seandainya engkau berusaha secara optimal, jiwamu (ruh) mu tidak akan berbicara denganmu karena ia menyimpan rahasia yang tersembunyi. Menurut suatu pendapat, orang yang bodoh adalah kunci kematian. Menurut yang lain, orang yang cinta kepada Allah SWT, jika tidak berbicara dia akan kuat. Fudhail bin Iyadh berkata, Barang siapa yang bicaranya lebih banyak dari pada perbuatannya, maka inti bicaranya adalah sedikit kecuali ucapan yang dibutuhkan. Takut Allah SWT berfirman, Yaduuns Rabbahum Khaufan wathaman yang artinya, Mereka berdoa kepada TUhannya karena takut dan loba. Abu Hurairah berkata, Bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Tidak akan masuk neraka orang yang menagis karena takut kepada Allah Taala, sebelum ada air susu yang masuk pada teteknya. Dan tidaklah berkumpul debu-debu dalam perang membela agama di jalan Allah dengan asap api neraka jahanam di tempat sampah seorang hamba. Anas berkata bahwa RasduluLlah SAW bersabda, Seandainya engkau mengetahui apa-apa yang aku ketahui niscaya sedikit tertawa engkau, dan banyak menangis. Menurut pendapatku (Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairy) takut mempunyai arti yang berhubungan dengan masa yang akan datang. Karena orang akan takut menghalalkan yang makruh dan meninggalkan hal yang sunat. Hal ini tidak begitu penting kecuali membawa dampak positif di masa yang akan datang. Jika pada saat sekarang hal itu muncul, maka pengertian takut tidak terkait. Sedangkan pengertian takut kepada Allah Taala adalah tekut kepada siksaanNya baik di dunia maupun di akhirat. Allah Taala mewajibkan kepada hambaNya agar takut kepadaNya, sebagai mana firmanNya, wakhaafuuNy in kuntum muminun yang artinya, dan takutlah akmu semua kepadaKu jika kamu orang-orang yang beriman.

37 | Risalah Al Qusyairi

Allah Taala juga berfirman, fa iyyaaYa farhabuun yang artinya, Maka kepadaKulah seharusnya mereka merasa takut. Disamping itu Allah Taala memuji orang mumin Karenna ketakutannya sebagai mana dirmanNya,yakhaafuuna Rabbahum min fawqihim yang artinya, mereka itu (malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka. Saya (Syaikh Al-Qusyairy RA) telah mendengar Ustadz Abu Aly AdDaqaq berkata, Takut mempunyai beberapa tingkatan, yaitu khauf, khasyah, dan haibah, khauf merupakan bagian dari syarat-syarat iman dan hokum-hukumnya sebagaimana firmanNya, WakhaafuuNy in kunutm muminiin Khasyah merupakan bagian dari syarat-syarat ilmu sebagaimana firmanNya Innamaa yakhsyaLlaaha min ibaadihiil ulamaayang artinya, sesungguhnya yang paling takut kepada Allah Taala di antara hambanya adalah ulama. Sedangkan haibah merupakan bagian dari syarat-syarat marifat sebagaimana firman Allah Taala, WayuchadhirukumuLlaahu nafsahyang artinya, Allah SWT memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Saya (Imam Al-Qusyairy) mendengar Abu Hafsh berkata, Takut adalah cambuk Allah SWT yang dipergunakan untuk meluruskan orangorang yang lari dari pintuNya. Abdul Qasim Al-Hakim berpendapat, khauf mempunyai dua bentuk yaitu rahbah dan khasyah. Yang dimaksud orang yang rahbah adalah orang yang berlindung kepada Allah SWT. Ada yang berpendapat, kata rahiba dan haraba boleh diungkapkan karena keduanya mempunyai arti satu seperti kata jadzuba dan jaladza. Sebagai contoh apabila dia lari , maka dia dapat di tarik dalam pengertian hawanafsunya. Seperti pendeta yang mengikuti hawa nafsunya. Oleh karena itu apabila mereka ditarik oleh kendali ilmu dan mereka melaksanakan / menggerakkan kebenaran syariat, maka pengertian tersebut disebut khasyah. Abu Hafs berkata, Takut itu seperti lampu hati yang dapat ,menunjukkan kebaikan dan keburukan. Utstadz Abu Aly Ad-Daqaq berkata, Yang dimaksud takut adalah keadaan diri yang tidak menginginkan sebuah harapan dan keterlambatan. Abu Umar AdDimasyqy berkata, yang dimaksud takut adalah orang yang lebih takut kepada dirinya sendiri dari pada takut kepada setan.

38 | Risalah Al Qusyairi

Menurut Ibnu Al-jalla, Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang aman dari berbagai hal yang menakutkan. Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang takut adalah bukan orang yang menaangis dan mengusap kedua matanya, tetapi yang meninggalkan sesuatu karena takut disiksa. Ibnu Iyadh telah ditanya oleh seseorang, Mengapa saya tidak pernah melihat oarng yang takut kepada Allah SWT ? Dia menjawab,Jika engkau takut kepada Allah SWT maka engkau akan melihat orang yang takut kepadaNya. Karena tidak ada orang yang dapat melihat orang yang takut kepada Allah SWT kecuali orang yang takut kepadanya. Sama halnya perempuan yang kehilangan anaknya akan melihat perempuan lain yang juga kehilangan anaknya. Yahya bin Muadz berpendapat, keturunan Adam yang miskin seandainya takut kepada api neraka sebagaimana ia takut kepada kefakiran, maka dia akan masuk surga. Menurut Syah Al-Karmani, indikasi orang yang takut kepada Allah SWT adalah orang yang selalu susah . sedangkan menurut Abdul Qasim AL-Hakim, orang yang takut akan sesuatu maka ia akan lari darinya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah SWT maka ia akan lari kepadaNya. Dzunun telah ditanya, Kapan bagi seorang hamba menemukan jalan takut kepada Allah SWT ? Dia menjawab, Apabila ia menempatkan dirinya pada posisi sakit maka ia akan menjauhkan diri dari segala hal karena sakitnya terus bertambah. Menurut Muadz bin Jabbal, hati dan ketampanan wajah orang mumin tidak akan tenteram dan tenang sebelum ia mampu meninggalkan titian neraka jahanam di belakangnya. Sedangkan menurut Bisyr Al-Hafy, takut kepada Allah SWT bagaikan harta milik yang tidak mempunyai tempat kecuali di hati orang bertaqwa. Abu Utsman Al-Hariri mengatakan, Cacatnya orang yang takut terletak pada ketakutannya. Al-Washity juga mengatakan, Takut merupakan penghalang antara Allah SWT dan hambaNya. Pernyataan ini mengandung kemusykilan, artinya orang yang takut kepada Allah SWT akan mengetahui waktu yang ke dua. bentuk-bentuk waktu tidak akan diketahui untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu kebaikan orang-orang yang baik merupakan keburukan bagi orang-orang yang dekat kepada Allah SWT. Saya (Syaikh Al-Imam Al-Qusyairi) pernah mendengar Ahmad AtsTsauri mengatakan, Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang lari dari Tuhan menuju Tuhan. Sebagaimana ulama berpendapat, indikasi takut adalah bingung dengan cara yang samar. Al-Junaid pernah ditanya tentang takut lalu beliau emnjawab, Jatuhnya siksaan melalui sa,uran nafas.

39 | Risalah Al Qusyairi

Abu Sulaiman Ad-Daarani menyatakan, Takut tidak akan mampu menceraikan hati kecuali keruntuhan. Abu Utsman juga berkata bahwa kebenaran takut adalah meninggalkan perbuatan dosa baik lahir maupun bathin. Menurut Dzunun Al-Mishri, Manusia akan tetap di tengah jalan selagi ia takut. apabila ia tidak takut kepada Allah SWT maka ia akan sesat. Sedangkan menurut Hatim Al-Asham, tiap sesuatu mempunyai hiasan. Hiasan ibadah adalah takut , sedangkan indikasi takut adalah memperkecil keinginan. Suatu saat seorang laki-laki bertanya kepada Bisyr Al-Hafi , Saya pernah memperlihatkan takut mati. Dan Bisyr menjawab, Datang kepada Allah SWT sangat penting. Syaikh Abul Qasil Al-Qusyairy berkata, Saya telah mendengar Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Saya pernah mendatangi Imam ABu Bakar bin Faruk. Ketika saya melihatnya, kedua matanya bercucuran air mata. Kukatakan kepadanya bahwa Allah akan emnyelamatkan dan menyembuhkanmu. Ia menjawab, Engkau tidak akan pernah melihatku takut mati, tetapi saya takut dibalik mati itu. Diriwayatkan dari Aisyah RA mengatakan, Pernah kutanyakan kepada RasuluLlah SAW tentang ayat yang berbunyi, Walladziina yutuuna maa uutuu waquluubuhum wajilah yang artinya.Dan orangorang yang memberikan sesuatu yang telah diberikan, sedangkan hati mereka takut karena mereka akan kembali kepada Tuhannya. Apakah mereka orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang-orang yang minum khamr dan orang-orang yang mencuri ? Beliau menjawab, Tidak, tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa , salat dan bersedekah. Mereka takut amalnya tidak diterima oleh Allah SWT. Hal ini yang dimaksud dalam ayat, ulaaikalladziina yusaariuuna fil khairaati wahum lahaa saabiquun yang artinya, Mereka adalahorang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan dan mereka termasuk orang yang menang. Menurut AbduLlah bin Mubarak, takut tidak akan pernah bangkit sehingga ia tertanam di dalam hati dengan konsistensi pendekatan , baik secara samar maupun terang-terangan. Sedangkan menurut Ibrahim bin Syaiban , apabila takut tertanam di dalam hati , maka segala keinginan hawa nafsu dan cinta dunia akan terbakar dan tertolak. Menurut satu pendapat, takut merupakan kekuatan ilmu sesuai dengan perjalanan hukum . Sedangkan pendapat lain mengatakan, takut merupakan gerak hati karena keagungan Tuhan.

40 | Risalah Al Qusyairi

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata,Hati jangan sampai terkalahkan kecuali dengan takut. Apabila harapan dapat mengalahkan hati, maka ia akan rusak. Selanjutnya ia berkata, Apabila sikap takut telah ditanamkan, maka (derajat) mereka akan terangkat, dan apabila rasa takut di sia-siakan, maka (derajat) mereka akan jatuh. Al Wasithi mengatakan, bahwa takut dan harapan adalah dua pengikat diri (jiwa) sehingga tidak terjebak dalam kebodohan. Ia juga mengatakan, apabila kebenaran telah tertanam di dalam hati, maka sikah berharap dan takut tidak akan muncul kembali. Sedangkan menurut Ustadz Asy-Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq ..hal itu nampak terjadi kemusykilan. Apabila demensi kebenaran telah berpengaruh, maka ia akan memperoleh ketinggian rahasia hati. Kebahagiaan tidak aakn diperoleh hanya dengan mengikat dua peristiwa. Sikap takut dan harap merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang berpengaruh melalui hukum kemanusiaan. Husain bin Manshur mengatakan bahwa barang siapa yang tekut dan berharap kepada selain Allah SWT, maka segala pintu akan ditutup. Allah SWT menguasai dan memberikan rintangan dengan tuju puluh penghalang, minimal ia bersikap skeptis. Hal yang menyebabkan takut adalah karena mereka berpikir tentang siksaan Allah SWTdan keadaan dirinya khawatir berubah. Allah SWT berfirman, Wabadaa lahum minaLlaahi maa lam yakuunuu yahtasibuun QS. An Nuur 47.yanh artinya, Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah SWT yang belum pernah mereka pikirkan. Allah SWT juga berfirman, Qul hal nunabbiukum bil akhsariina amaalaa. Alladziina dhalla sayuhum fil hayaatiddunyaa. Wahum yahsabuuna annahum yuhshinuuna suna yang artinya, Katakanlah, maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang perbuatannya merugi, yaitu orang-orang yang tersesat perjalanannya di dunia sedangkan mereka menduga bahwa mereka mengerjakan perbuatan yang baik. Banyak sekali orang yang diberikan kenikmatan, keadaannya menjadi berbalik dan perbuatan jahatnya menjadi ketetapan. Oleh karena itu sikap senang hati dan takut perlu ditanamkan. Syair dari Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq : Engkau telah berperasangka baik terhadap hari-hari, Jika keadaannya membeik Dan engkau tidak takut Terhadap apa yang ditakdirkannya Waktu-waktu malam telah menyelamatkanmu
41 | Risalah Al Qusyairi

Tetapi engkau telah menipunya Dan ketika keheningan malam tiba Kekeruhan mulai terjadi Saya / Imam Al Qusyairi mendengar Manshur bin Khalf Al-Maghribi berkata, Dua orang laki-laki saling berteman dalam suatu kajian tentang masalah iradah dalam jangka waktu yang relatif pendek (dua tahun). Salah satu dari mereka pergi dan meningalkan temannya. Setrlah itu tak pernah terdengar kabarnya. Suatu saat teman yang lain bertempur di medan perang dan membunuh tentara Rum (roma). Ketika seorang-laki-laki keluar dengan kepala tertutup adn senjata di tangan menuntut agar semua keluar ke medan perang, maka keluarlah salah seorang dari para pahlawansehingga dia terbunuh, kemudian yang ke tiga keluar juga dan kemudian terbunuh. Dalam kondisi seperti itu, seorang sufi keluar dan agak berjauhan. Orang Rum itu memandang wajahnya dan ternyata orang yang dipandang adalah adalah temannya di waktu belajar tentang masalah iradah dan ibadah selama dua tahun. Orang sufi itiu bertanya, Apa engkau sering membaca Al-Quran ? Tentara Romawi itu menjawab, Saya tidak ingat satu hurufpun dari AlQuran. Orang sufi berkata, Hal itu jangan kau kerjakan dan kembalilah. Tentara Romawi menjawab, hal itu tidak akan saya lakukan. Sekarang saya mempunyai kedudukan dan kekayaan. Oleh karena itu hendaklah engkau pergi. Jika tidak engkau akan saya bunuh seperti mereka. Orang sufi berkata, Ketahuilah engkau telah membunuh tiga orang Islam. Engkau tidak akan menjadin hina karena pulang, oleh akrena itu pulanglah engkau dan saya akan menangguhkan. Orang laki-laki itu kemudian pulang di ikuti orang sufi tersebut. Dalam kondisi demikian orang sufi tersebut dapat menikam dan membunuhnya. Setelah pertempuran, orang sufi tersebut terbunuh di hadapan orang-orang nasrani. Menurut satu pendapat, apabila terjadin sesuatu yang nampak di hadapan iblis, maka malaikat Jibril dan Mikail akan menangis dalam jangka waktu yang lebih lama. Allah SWT menegur mmereka, Mengapa kalian berdua menangis ? Mereka menjawab, Yaa Tuhan kami tidak mampu menjaga tipu daya Mu. Allah SWT memberikan perintah, Jadilah kalian seperti ini, jangan kalian berusaha menjaga (mengamankan) tipu dayaKu. Diriwayatkan dari Sariy As-Saqathi yang berkaata, Suatu saat pasti saya melihat hidungku yang berada di dalam mulutku. Saya takut hidungku akan menjadi hitam ketika saya melihat siksaan. Abu Hafs berkata, Selama empat puluh tahun aku berkeyakinan, Allah SWT akan melihatku dengan penuh kebencian, sedangkan perbuatanku akan menunjukkan hal itu.

42 | Risalah Al Qusyairi

Hatim Al-Asham berkata, Janganlah bersikap sombong karena memperoleh tempat yang baik. Tidak ada tempat yang lebih baik melebihi surga. Oleh karena itu wajar bagi Nabi Adam AS berjumpa dengan sesuatu yang pernah ia jumpai. Jangan sombong karena banyaknya ibadah, sebab iblis setelah lama beribadah ternyata mendapati sesuatu yang ia dapati. Jangan sombong karena banyaknya ilmu, sebab Balam yang selalu mengagungkan nama Allah Yang Maha Agung ternyata ia mati kafir. Jangan sombong akrena dapat melihat orang-orang yang baik, karena tak seorangpun lebih hebat dari Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak pernah mengambi keuntungan jika berjumpa dengan sanak famili musuh-musuhnya. Suatu hari Ibnu Mubarrak berjumpa dengan teman-temannya, ia berkata, Di tengah malam saya memberanikan diri menghadap Allah SWT dengan memohon agar dimasukkan ke dalam surga. Ada yang berpendapat, Nabi Isa AS keluar bersama seorang Bani Israil yang saleh. Dalam perjalaan mereka diikuti oleh seorang yang selalu berbuat dosa dan terkenal fasik. Dia duduk bersandar dengan posisi yang berjauhan dari mereka dengan berdoa kepada Allah SWT, Yaa Allah ampunilah saya. Disamping itu orang saleh tersebut juga berdoa, Yaa Allah kelak di hari kiyamat janganlah engkau kumpulkan aku dengan orang yang fasik tersebut. Setelah itu Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Isa AS, Aku telah mendengarkan doa keduanya. Dzun Nun AL Mishri berkata, telah aku tanyakan kepada Ulaim, Kenapa engkau disebut orang gila ?Dia menjawab, apabila saya dipenjara begitu lama, maka saya menjadi gila karena takut berpisah. Dalam engertian yang seperti ini, ahli syair berkata Seandainya di depanku ada batu besar Pasti akan saya buka Namun bagaimana orang lain Akan mampu memikul tanah liat Sebagian ulama berkata, Saya tidak pernah melihat seorang lakilaki yang sangat mengharapkan umat dan takut terhadap dirinya sendiri kecuali Ibnu Sirrin. Menurut suatu ungkapan, Sufyan Ats-Tsauri dalam keadaan sakit menyindir seorang dokter yang sedang memeriksanya dengan ungkapan, Inilah seorang laki-laki yang tidak takut penyakit limpa hatinya. Dokter itu mendekat dan meraba lehernya seraya berkata, Saya tidak tahu bahwa diri Abu Hanifah sama dengan diri Sufyan Ats-Tsauri . Imam Syibli pernah ditanya, Kenapa matahari menjadi kuning ketika terbenam?. Maka dijawab , Karena ia meninggalkan tempatnya
43 | Risalah Al Qusyairi

yang sempurna, sehingga ia menjadi kuning karena takut pada tempatnya. Demikian pula orang mukmin apabila akan meninggal dunia, warnya menjadi kuning karena takut pada tempatnya. Oleh akrena itu apabila matahari akan terbit ia akan terbit dengar sinar terang benderang. Demikian pula orang mukmin apabila dibangkitkan dari kubur, ia akan bangkit dengan wajah yang bersinar. Jawabnya. Diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, beliau berkata, Saya memohon kepada Tuhan agar dibukakan pintu dengan siakp takut sehingga ia dapat terbuka. Demikian pula aku takut dengan kekuatan akalku. Oleh karena itu saya juga memohon, Yaa Tuhan berilah saya kemampuan berdasarkan apa yang telah saya kuasai sehingga diriku menjadi tenang. Menentang Nafsu Allah SWT berfirman, Adapun orang-orang yang takut dengan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah menjadi tempat tinggalnya. (An-Naaziaat 4041). Diceritakan dari Jabir bin AbdiLlah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, Saya peringatkan umatku terhadap sesuatu yang saya takuti, yaitu mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu akan menjauhkan diri dari kebenaran sedangkan panjang angan-angan akan melupakan akhirat. Kemudian katakanlah, sesungguhnya mencegah hawa nafsu adalah fondasi ibadah. Salah seorang dari para guru sufi pernah ditanya tentang Islam maka beliau menjawab, Menyembelih nafsu dengan pedang yang mampu mencegahnya. Oleh karena itu katakanlah, orang yang memperlihatkan bekas (pengaruh) hawa nafsunya, maka cahaya kelembutan akan sirna dari hatinya. Menurut Dzunun Al Mishri, kunci ibadah adalah berfikir, tanda-tanda cobaan / ujian adalah mencegah hawa dan nafsu, sedangkan mencegah keduanya harus meninggalkan keinginan keduanya. Manurut Ibnu Atha Nafsu akan didaki di atas buruknya budi pekerti, dan seorang hamba diperintah agar terus menerus berbudi pekerti yang baik. Oleh karena itu nafsu akan berjalan di medan penentangan kebaikan karena kelobaannya dan seorang hamba akan menolak keburukan tuntutannya dengan sungguh-sungguh. Barang siapa melepas tali kekangnya (yaitu hawa nafsu) maka ia akan menjadi temannya dalam membuat kerusakan. Sedangkan menurut Al-Junaid, nafsu amarah akan selalu memerintah berbuat jahat, mendorong pada perbuatan merusak yang dipancing oleh musuh-musuh, mengiuti keinginan nafsu, dan penghiasan diri dengan sifat-sifat buruk.

44 | Risalah Al Qusyairi

Abu Hafs mengatakan, Barang siapa yang tidak mempedulikan nafsunya sepanjang masa, tidak mencegahnya dalam segala hal, dan tidak menariknya dari segala hal yang dibenci, maka dia adalah orang yang tertipu. Barang siapa yang menganggap baik, maka ia akan dirusak. Bagaimana mungkin orang yang berakal sehat rela terhadap hawa nafsunya. Karim bin Karim bin Karim bin karim Yusuf bin yaqub bin Ibrahim AL Khalil mengomentari dengan menggunakan firman Allah,Dan aku tiada melepaskan hawanafsuku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mememrintahkan kepada keburukan. (QS. Yusuf : 53) Al-Junaid menceritakan bahwa pada suatu malam ia sedang terjaga dan mengambil bunga warna merah. Dia belum pernah mendapatkan kenikmatan yang sekarang sedang diprolehnya. Dia ingin tidur tetapi tidak bisa. Kemudian ia membuka pintu dan keluar. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang terbungkus dalam selimut yang terbuang di tengah jalan. Ketika mengetahuinya, laki-laki itu mengangkat kepalanya kemudian berteriak memanggil, Wahai Abu Qasim datanglah kepada saya sejenak. Wahai tuan, tanpa ada perjanjian . Tentu saya bertanya tentang penggerak hati yang hatimu ingin bergerak (datang) kepadaku. Itu telah terjadi, lantas apa kepentinganmu ? Kapan penyakit nafsu menjadi obat ? Apabila engkau mampu mencegah keinginan nafsumu, maka penyakitnya menjadi obat. Setelah itu ia menghadapkan dirinya pada nafsunya. Dia mencoba berkonsentrasi sebelum akhirnya mengatakan, Wahai nafsu, dengarkanlah ! Saya telah menjawabmu dengan jawaban ini sebanyak tujuh kali, kemudian saya menolakmu kecuali engkau mau mendengarkan jawaban dari Junaid. Saya telah mendengarkannya. Untuk itu pergilah dariku . saya tidak mau tahu dan tidak mau memberimu posisi. Menurut Abu Bakar At-Thamatsani, kenikmatan yang terbesar adalah kemampuan diri untuk menghindar dari keinginan nafsu. Ia akan menjadi penghalang yang paling kuat antara diri hamba dengan Allah. Menurut Sahal bin AbduLlah, orang yang tidak dapat beribadah kepada Tuhan seperti orang yang tidak mampu mencegah nafsu dan dorongannya. Ibnu Atha pernah ditanya tentang sesuatu yang paling mendekati kemarahan Allah. Dia menjawab, memperhatikan nafsu dan hal ihwalnya. Lebih hebat dari itu mengetahui tujuan dari aktivitasnya (nafsu). Ibrahim Al-Khawas mengatakan, Saya berada di Gunung Lukam. Ketika itu saya melihat sebuah delima. Saya sangat menginginkannya. Saya mendekat dan mengambilnya sebuah. Saya belah dan saya makan, tetapi rasanya masam. Kemudian saya berlalu dan meninggalkan delima itu. Setelah itu saya melihat seorang laki-laki terlempar dengan
45 | Risalah Al Qusyairi

membawa rebana. Saya mengucapkan salam kepadanya, kemudian dia menjawab, Waalaikum salam yaa Ibrahim. Bagaimana engkau mengetahui namaku ? Orang yang oleh Allah telah diberikan pengetahuan marifat maka tidak ada sedikitpun yang samar / tersembunyi baginya. Saya selalu melihat keadaanmu selalu bersama Allah. Bagaimana seandainya saya menanyakan penyakit yang melarang dan menjagamu agar terhindar dari beberapa tuduhan . Saya selalu melihat keadaanmu selalu bersama Allah. Bagaimana seandainya saya menanyakan penyakit yang menjagamu agar terhindar dari keinginan terhadap buah delima. Sesungguhnya sakit sengatan delima akan ditemukan oleh orang di akhirat. Sedangkan sakit sengatan beberapa tuduhan akan ditemukan oleh orang di dunia. Setelah itu saya (Ibrahim Al-Khawash) berlalu dan meninggalkannya. Diriwayatkan dari Ibrahim bin Syaiban. Dia mengatakan, Saya tidak pernah tidur di bawah atap dan tidak pula di suatu tempat yang terkunci selama empat puluh tahun. Beberapa waktu lalu perutku terasa kenyang dengan memakan kacang adas. Setelah itu saya tidak pernah memakannya. Selang beberapa waktu saya tinggal di Syam. Wadah yang berisi kacang adas berada di hadapanku dan saya ambil kemudian saya makan. Setelah itu saya keluar. Saya melihat lampulampu bergantungan. Di alamnya menyerupai bentuk model. Saya menduga hal itu adalah cuka. Seseorang bertanya kepadaku, Apa yang kamu lihat di dalam bentuk model khamar ini ?. Saya menjawab, Ini adalah bagian dari kewajibanku. Lantas saya masuk ke kedai keledai. Saya menginginkan barang antik itu. Dia menduga bahwa keinginanku karena ada perintah dari Raja. Ketika tahu, dia membawaku ke hadapan Ibnu Thulun. Dia memberikan perintah agar memukulku dengan dua ratus kayu dan menjebloskan diriku ke penjara selama satu masa. Suatu saat Abu AbdiLlah Al-Maghribi, guruku berkunjung ke kota itu dan menolongku. Ketika ia memandangku, ia bertanya, Apa yang engkau peroleh ? Saya menjawab, Kenyang memakan kacang adas dan duaratus pukulan kayu. Dia mengatakan kepadaku, Engkau masih beruntung tidak mendapatkan siksaan di akhirat. Sariy mengatakan, Selama tigapuluh atau empatpuluh tahun nafsuku menuntut agar memakan manisan pohon anggur tetapi asya tidak memakannya. Saya (Syaikh Abul Qasim) telah mendengar Abul Abas All Baghdadi mengatakan, Saya telah mendengar kakekku mengatakan, penyakit seorang hamba adalah rela terhadap nafsu dan yang terkandung di dalamnya. Isham bin Yusuf Al-Balkhi memberi sesuatu kepada Hatim AL-Asham. Dia lantas menciumnya. Mengapa barang itu kau cium ? Jika saya mengambilnya, maka saya adalah hina dan ia (barang itu) adalah mulia. Apabila saya tolak, maka saya adalah mulia dan ia adalah

46 | Risalah Al Qusyairi

hina. Oleh karena itu kemuliaannya akan sirnya di atas kemuliaanku, dan kehinaannya akan sirna di atas kehinaanku. Sebagian ulama perenah ditanya, Saya hendak melaksanakan ibadah haji sendirian. Dia menjawab, Pertama hatimu harus kau sendirikan dari kelupaan, dirimu dari permainan, mulutmu dari kesia-siaan, kemudian tempuhlah apa yang engkau kehendaki. Abu Sulaiman AdDarani mengatakan, Barang siapa yang berbuat baik di waktu malam, maka ia akan dicukupi di waktu siang. Barang siapa yang berbuat baik di waktu siang, maka dia akan dicukupi di waktu malam. Barang siapa meninggalkan syahwat, maka ia akan dicukupi biaya hidupnya. Allah akan memuliakan orang yang menyiksa hatinya dengan meninggalkan syahwat karena mengharapkan pahala. Allah Taalamenurunkan wahyu kepada Nabi Dawud AS, Wahai Dawud, peringatilah teman-temanmu agar menghindarkan diri dari syahwat. Hati yang selalu berhubungan dengan syahwat dalam memperoleh kesenangan dunia maka akal pikiraqnnya akan terhalang. Seorang laki-laki duduk di atas udara di tanya, Dengan apa engkau memperoleh ini ? Saya meninggalkan keinginan dunia. Oleh karena itu udara tunduk kepadaku. Dalam suatu riwayat diceritakan, seandainya ditampakkan kepada seorang mukmin seribu syahwat, pasti dia akan mengeluarkannya dengan perasaan takut /khauf. Ada yang mengatakan, Jika pemimpin engkau dudukkan dalam kekuasaan hawa nafsu, maka dia akan membawamu kepada kelaliman. Yusuf bin Atsbat mengatakan, Tidak ada yang mampu menghilangkan syahwat dari hait kecuali takut yang dibingungkan dan rindu yang digoncangkan. Ibrahim AL Khawas mengatakan, barang siapa yang meninggalkan syahwat, tetapi dia tidak menemukan pengganti di dalam hati, maka dia adalah bohong. Jafar bin Nashr mengatakan, Al-Junaid pernah memberikan satu dirham kepadaku dania mengatakan, Belikanlah buah tin waziri untukku. Saya lantas membelikannya. Ketika dia berbuka, ia mengambil satu dan meletakkannya ke dalam mulutnya, kemudian ia memuntahkan seraya menangis. Bawalah buah tin ini. Apa yang dia perintahkan maka saya laksanakan. Pada waktu ia mengatakan, Hatif memanggilku dan mengatakan : Apakah engkau tidak malu terhadap syahwat yang telah engkau tinggalkan, lantas engkau akan kembali kepadanya. Dengki atau Hasud Allah SWT berfirman, Katakanlah wahai Muhammad, saya berlindung kepada Tuhan yang mengatur makhluk dari kejahatan makhlukNya. Dari kejahatan orang yang dengki ketika dia melahirkan kedengkiannya(Qs Al Falaq 1-5)

47 | Risalah Al Qusyairi

Dalam surat ini disampaikan agar manusia berlindung kepadaNya dengan mengingat dengki. AbduLlah bin Masud mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAWW bersabda, Ada tiga hal yang menjadi dasar (pangkal) setiap kesalahan maka jagalah dan hindarilah. Pertama hindarilah olehmu sombong karena kesombongann ini telah membawa iblis tidak mau sujud kepada Nabi Adam AS. Kedua, hindarilah olehmu sifat tamak, karena tamak ini telah menjadikan Adam AS memakan pohon khuldi . ketiga, takutlah kamu akan sifat dengki karena kedua anak Adam salah satunya telah membunuh yang lain yang disebabkan oleh dengki. Menurut sebagian ulama bahwa orang yang selalu dengki adalah orang yang selalu ingkar karena tidak rela kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan. Menurut yang lain, orang yang dengki tidak akan dapat dihitamkan (dihilangkan). Menurut sebagian ulama, kata dengki dikutip dari firman Allah Taala, Katakanlah sesungguhnya yang diharamkan oleh Tuhanmu hanya segala yang keji, baik yang lahir maupun yang bathin(QS Al Araf: 33) Menurut pendapat yang lain bahwa yang dimaksud yang bathin dalam ayat ini adalah dengki. Dalam sebagian kitab dijelaskan bahwa orang yang dengki orang yang membenci kenikmatan. Menurut satu pendapat, bekas (pengaruh) dengki akan nampak sebelum nampaknya permusuhan. Al-AshmuI mengatakan, Saya melihat orang Arab yang mencapai umur 120 tahun. Saya berkata, alangkah panjangnya umurmu. Dia menjawab, Saya tidak pernah dengki sampai saya diberikan umur sekian. Ibnu Mubarak pernah mengatakan, Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan hati seorang pemimpin seperti hati orang yang dengki. (Artinya orang yang dengki tidak akan pernah menjadi pemimpin orang lain) Di dalam sebagian hadis dijelaskan, di langit yang ke lima terdapat malaikat. Perbuatan setiap orang akan melewatinya. Malaikat itu bersinar seperti sinarya matahari. Dia mengatakan, Berhentilah, saya adalaah malaikat yang menjaga perbuatan dengki. Oleh karena itu pukulkanlah kepada pemiliknya karena dia adalah orang yang dengki. Muawiyah bin Abu Sufyan mengatakan, Saya akan merelakan setiap orang kecuali orang yang dengki. Dia tidak akan rela sebelum kenikmatan orang lain hilang. Menurut satu pendapat, orang dengki adalah orang yang lalim dan perampas. Dia tidak akan tinggal diam dan tidak akan membiarkan. Umar bin Abdul Azis mengatakan, Saya tidak pernah melihat orang yang lalai lebih dari pada apa yang dialami oleh orang yang dengki

48 | Risalah Al Qusyairi

karena dia tertimpa kesusahan yang mendalam dan kehilangan jati dirinya secara berutrut turut. Menurut sebagian Ulama, sebagian tanda sifat dengki adalah menipu apabila berada di hadapan orang lain, dan mengumpatnya apabila sudah pergi, dan mencaci maki apabila musibah tidak menimpa. Menurut Muawiyah bin Abu Sufyan, menghindari dengki dan membunuh sebelum di dengki bukan termasuk bagian dari sifat dengki. Manurut yang lain, Allah Taala menurunkan wahyu kepada Nabi Sulaiman bin Dawud AS, Aku berwasiyat kepadamu mengenahi tujuh hal. Diantaranya, jangan mengumpat hamba-hambaku yang saleh dan jangan mendengkinya. Dia mengatakan, Ya Tuhan, Engkaulah Dzat yang memberi kecukupan kepadaku. Manurut satu ungkapan, Nabi Musa As pernah melihat seorang laki-laki berada di singgasana kerajaan. Nabi Musa AS merasa senang dan bertanya kepada seseorang, Apa yang dilakukan orang itu ? Orang itu tidak pernah dengki kepada orang lain sehingga ia diberi keistimewaan oleh Allah Taala. Jawabnya. Menurut sebagian ulama, orang yang dengki adalah orang yang apabila melihat orang lain mendapatkan kenikmatan, maka dia merasa bingung. Apabila orang lain me dapatkan kesengsaraan, dia mencaci maki. Menurut satu pendapat, orang yang dengki adalah orang yang tidak senang kepada orang lain yang tidak berdosa dan kikir terhadap sesuatu yang tidak dimiliki. Oleh karena itu terdapat ungkapan, jangan mengharap cinta kasih kepada orang yang mendengkimu. Dia tidak akan menmerima uluran baikmu . Menurut sebagian ulama yang lain, Apabila allah SWT hendak menguasakan seseorang kepada musuh yang tidak akan kasihan kepadanya, pasti Alah SWT menguasakan kepadanya orang yang dengki, sebagimana syair Engkau telah memberikan kecukupan Kepada orang dari satu kejadian Kecuali permusuhan orang Yang dimusuhi orang yang dengki Setiap permusuhan Diharapkan kematiannya Kecuali permusuhan orang Yang dimusuhi orang lain Apabila Allah hendak meluaskan keutamaan Dia pasti menyebarkannya Yang mulut orang yang dengki Telah memberikan ketentuan
49 | Risalah Al Qusyairi

Ibnu Muadz mengatakan Katakan kepada orang yang dengki Jika engkau ingin menghilangkan celaan Wahai orang yang menganiaya Seakan-akan ia orang yang dianiaya Mengumpat Allah SWT berfirman, Dan janganlah sebagian diantara kamu mengumpat yang lain, senagkah salah seorang diantara kamu sekalian memakan daging saudaranya yang telah mati (bangkai) ? Maka tentu kamu sekalian tidak menyukainya. (QS. Al Hujarat 12). Dari Abu Hurairah RA diceritakan, Seorang laki-laki berdiri bersama RasuluLlah SAW yang sebelumnya dia duduk. Sebagian kaum mengatakan, Alangkah lemahnya si fulan. Setelah itu RasuluLlah SAW berkata, Engkau telah memakan saudaramu dan engkau telah mengumpatnya. Allah Taala menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS, Barang siapa meninggal dunia dan bertobat dari umpatan, maka dia adalah orang yang terakhir masuk surga. Barang siapa meninggal dunia dan selalu mengumpat maka dia adalah orang yang pertama masuk neraka. Auf mengatakan, Saya bertemu dengan Ibnu Sirrin kemudian saya mengumpat Hajjaj. Seketika itu Ibnu Sirrin mengatakan, Sesungguhnya Allah Taala adalah Dzat yang Maha Bijaksana dan Maha Adil. Apabila engkau bertemu dengan Allah Swt di hari kiyamat, maka dosa yang paling kecil akan menjadi lebih besar daripada dosa yang paling besar yang engkau timpakan kepada Hajjaj. Menurut satu cerita, Ibrahim bin Adham pernah diundang dan ia menghadirinya. Mereka yang hadir menyebut yang tidak hadir. Mereka mengatakan, Orang yang tidak hadir itu adalah Tsuqail . Ibrahim mengtakan, Inilah diriku yang telah membuatku demikian. Apabila saya menghadiri suatu tempat, orang-orang akan mengumpat. Setelah itu dia keluar dan tidak mau makan selama tiga hari. Menurut satu pendapat, perumpamaan orang yang mengumpat adalah seperti orang yang meluruskan senjata manjanik (alat pelempar yang diberi peluru panah api). Kebaikannya ia lempar ke arah timur dan barat. Dia mengumpat orang khurasan, Hijas, dan turki. Kebaikannya ia pisah kemudian dia luruskan sehingga tidak ada sedikitpun yang tersisa di pangkuannya. Manurut yang lain, catatan buku perbuatan seorang

50 | Risalah Al Qusyairi

hamba akan didatangkan di hari kiyamat. Dia tidak melihat kebaikannya, seraya berkata, Di mana salatku, puasaku, dan taatku. Dijawab, Semua perbuatan baikmu telah hilang karena engkau mengumpat orang lain. Sedangkan yang lain berpendapat, barang siapa diumpat orang lain maka Allah Taala akan mengampuni separuh dosa-dosanya. Sufyan bin Husain duduk di hadapan Iyas bin Muawiyah lantas ia mengumpat seseorang. Apakah engkau berperang melawan orang turki atau romawi ?tanya Iyas. Tidak. Jawab Sufyan. Orang-orang Turki dan Romawi telah selamat darimu. Jawab Iyas kemudian. Menurut satu pendapat, catatan buku perbuatan seseorang akan diberikan. Dia akan melihat kebaikan yang belum pernah ia kerjakan. Setelah itu ia diberitahu, ini adalah perbuatan baikmu karena engkau telah diumpat oleh orang lain sedangkan engkau tidak merasa. Sufyan Ats-Tsauri pernah ditanya tentang sabda RasuluLlah SAW InnaLlaha Yabghadu ahlal baitillahmiyyiin Sesungguhnya Allah membenci ahli rumah yang suka makan daging. Dia menjawab, Orang-orang yang mengumpat orang lain adalah orang-orang yang makan daging mereka. Persoalan umpatan pernah diutarakan di hadapan AbduLlah bin Mubarak, dia mengatakakn, Seandainya saya disuruh mengumpat seseorang maka pasti saya akan mengumpat kedua orang tuaku karena mereka lebih berhak kepada kebaikanku. Menurut Yahya bin Muadz, orang mukmin mempunyai bagian darimu dalam tiga hal. Pertama jika engkau tidak memberikan pertolongan, maka jangan memberikan bahaya. Kedua, jika engkau tidak merahasiakan, maka janganlah mengumpat. Ketiga, jika engkau tidak memuji, maka jangan mencela. Hasan Al-Bashri pernah diberi kabar bahwa fulan telah mengumpatnya. Maka setelah itu Hasan mengirimkan kue yang tertutup kepadanya. Hasan mengatakan kepadanya, Telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau menghadiahkan kebaikan kepadaku . oleh karena itu saya memberikan imbalan kepadamu. Dari Anas bin Malik diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Man Alqa Jilbaabal hayaa an wajhihi falaa ghibata lah. Barang siapa yang tidak mempermalukan orang lain dari wajahnya maka dia tidak termasuk orang yang mengumpat.

51 | Risalah Al Qusyairi

Al Junaid mengatakan, Saya duduk di masjid Syuniziyah menunggu jenasah yang akan disalatkan. Demikian pula orang-orang Baghdad, tetapi mereka duduk berdasarkan kedudukan mereka. Setelah itu saya melihat orang fakir yang tampak bekas-bekas ibadahnya. Dia mengemis kepada orang lain. Saya bergumam dalam hati, seandainya orang fakir itu berhias diri, tentu ia akan lebih tampan. Setelah itu aku pulang ke rumah. Pada waktu malam di hadapanku terdengar suara wirid berupa tangisan, salat dan lain-lainnya. Wirid itu dapat menundukkan semua wiridku . ketika itu saya dalam keadaan diantara bangun dan duduk akan tetapi sangat mengantuk sehingga saya tertidur. Dalam tidurku aku melihat si orang fakir tadi dipanggul oleh beberapa orang dan diletakkan di atas singgasana yang luas. Mereka mengatakan kepadaku, Makanlah dagingnya karena engkau telah mengumpatnya. Saya teringat akan peristiwa itu. Saya mengatakan, Engkau tidak termasuk orang yang direlakan dengan sesamanya. Oleh karena itu pergilah dan mintalah maaf kepadanya. Saya sangat kebingunan. Suatu saat saya dapat melihatnya di suatu tempat yang apabila air mengalir ia dapat memperoleh daun-daun yang telah dari pohon ketika disiram. Setelah itu saya menmgucapkan salam kepadanya. Dia bertanya kepadaku, Apakah engkau masih membiasakan diri mengumpat ? Saya menjawab, Tidak. Dia mengatakan, Mudah-mudahan Allah SAW mengampuni kita. Abu Jafar mengatakan, Di hadapan kami terdapat seorang pemuda dari penduduk Balkh. Dia selalu berijtihad dan beribadah. Hanya saja dia selalu mengumpat orang lain. Dia mengatakan, Si Fulan seperti ini dan itu. Suatu hari aku melihatnya. Dia keluar dari samping para waria yang berjumlah seratus. Pekerjaannya sebagai tukang cuci. Saya bertanya, Apa kabarmu ?. dia menjawab, Ada kejadian yang menimpaku. Setelah itu saya mengatakan, Saya pernah mendapatkan cobaan karena meremehkan waria. Oleh karena itu saya melayani mereka . sekarang semua peristiwa itu telah berlalu. Untuk itu berdoalah kepada Allah SWT agar memberikan rahmat kepadaku. Qonaah Allah SWT berfirman,Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia beriman, niscaya kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik.(QS.An-Nahl 98) Kebanyakan ahli tafsir mengatakan, kehidupan yang baik di dunia adalah qanaah. Dari Jabir bin Abdullah. Dia mengatakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Qanaah adalah harta simpanan yang tidak akan pernah habis.

52 | Risalah Al Qusyairi

Abu Hurairah RA. Menyampaikan sabda RasuluLlah SAW yang Menyatakan : Jadilah orang yang wara maka engkau akan menjadi orang paling ahli ibadah. Jadilah orang qanaah maka engkau akan menjadi orang yang paling ahli bersyukur. Cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi orang mukmin yang paling baik. Berbuatlah baik kepada tetanggamu, maka engkau akan menjadi orang Islam yang baik. Sedikitkan tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati. Menurut suatu pendapat, orang-orang fakir diibaratkan orangorang yang telah meninggal dunia, kecuali orang-orang yang telah dihidupkan oleh Allah SAWdengan kemuliaan qanaah. Menurut Bisyir Al-Hafi, qanaah ibarat raja yang tidak mau bertempat tinggal kecuali di hati orang mukmin. Menurut Abu Sulaiman Ad-Daraani qanaah karena ridha kedudukannya sama dengan wara karena zuhud. Qanaah adalah permulaan ridha sedangkan permulaan wara adalah zuhud. Menurut pendapat yang lain, qanaah adalah sikap tenang karena tidak ada sesuatu yang dibiasakan. Abu Bakar Al-Maraghi mengatakan, Orang yang berakal sehat adalah orang yang mengatur dunia dengan sikap qanaah. Dan memperlambat diri, mengatur urusan akhirat dengan siakp loba dan mempercepat, mengatur urusan agama dengan ilmu dan ijtihad. Menurut AbdiLlah ibn Khafif qanaah adalah meninggalkan angan-angan terhadap sesuatu yang tidak ada dan menganggap cukup dengan sesuatu yang ada. Yang dimaksud firman Allah SWT yang menyatakan bahwa Dia akan memberikan rizki kepada meraka dengan rizki yang baik (QS.ALHaj 58). Yang dimaksud ayat ini adalah qanaah. Menurut Muhammad bin Ali At-Tirmidzi, yang dimaksud qanaah adalah jiwa yang rela tehadap pembagian irzki yang telah ditentukan. Menurut satu pendapat, qanaah adalah menganggap cukup dengan sesuatu yang ada dan itdak berkeinginan terhadap sesuatu yang tidak ada hasilnya. Wahab mengatakan, kekayaan dan kemuliaan akan berkeliling mencari teman. Apabila mereka telah menemukan qanaah, maka mereka akan menetap. Menurut pendapat yang lain, baang siapa yang qanaahnya gemuk, maka ia akan mencari makanan yang ada lemaknya. Barang siapa yang mengembalikan diri sendiri kepada Allah (qanaah) maka dalam segala halnia akan diberi rizki. Dalam suatu cerita dijelaskan bahwa Abu Hazib berjalan bertamu di rumah qashab (seorang penjagal dengan membawa daging yang gemuk. Qashhab mengatakan, ambilah wahai Abu Hazm karena dagng ini gemuk. Saya tidak membawa uang. Jawab Abu Hazib Diriku lebih tahu daripada kamu. Kata qashab. Sebagian ualama pernah ditanya, Siapa orang yang paling qanaah ? kemudian dijawab, orang yang selalu memberikan
53 | Risalah Al Qusyairi

pertolongan, meskipun kekayaannya sedikit. Di dalam kitab zabur diungkapkan bahwa orang yang qanaah adalah orang yang kaya meskipun serba kelaparan. Menurut saut pendapat, Allah SWT meletakkan lima hal ke dalam lima tempat. Pertama, kemuliaan dalam taat. Kedua, kehinaan dalam maksiyat. Ke tiga, kehebatan dalam melaksanakan shalat malam. Keempat, kebijaksanaan dalam hati yang kosong. Kelima, kekayaan dalam qanaah. Ibrahim Al-Maratsani mengatakan, Balaslah lobamu dengan qanaah sebagaimana engkau membalas musuhmu dengan qishash. Dzunun Al-Mishri mengatakan, Barang siapa menerima ketenangan dari ahsil pekerjaan maka ia telah memberikan kenikmatan kepada semua orang. Muhammad AL-Kattani njuga mengatakan, Barang siapa yang menjual loba dengan qanaah maka ia akan memperoleh kemuliaan dan harga diri. Sebagian ulama mengatakan, Barang siapa yang kedua matanya memandang kekayaan orang lain, maka ia akan selalu berduka cita. Oleh karena itu para ulama berkata : Sebaik-baiknya pemuda Adalah orang yang telah memperole apa-apa Dari hari ke hari. Dia adalah orang yang kaya Karena memperoleh kemuliaan dan kelaparan Yang dimaksud firman Allah Taala Sesungguhnya orang-orang yang beik berada di syurga Naim (QS. Al-Infithar 13), artinya adalah qanaah di dunia. Sedangkan yang dimaksud dengan ayat Sesungguhnya orang orang yang jahat berada di neraka jahanam (QS. Al-Infithar 14), artinya adalah loba di dunia. Menurut satu pendapat, yang dimaksud dengan firman Allah Tahukan kamu apakah kesulitan itu, ialah memerdekakan budak (QS. Al-Balad 12-13) Artinya memerdekakan budak dari rendahnya loba. Menurut sebagian yang lain, yang dimaksud firman Allah Taala Allah hanya menghendaki agar menghilangkan kotoran (dosa) dari kamu sekalian wahai ahlul bayt (QS. AL-Ahzab 33) Artinya adalah kikir dan loba. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud firman Allah Berilah diriku ini kerajaan yang tak pantas bagi orang setelahku. (QS. Shad 35), yaitu kedudukan qanaah sehingga saya tidak mendapatkan kesulitan dan selalu rela terhadap keputusan-Mu. Sedangkan menurut sebagian ulama yang lain, yang dimaksud firman Allah Taala Saya (Sulaiman) pasti akan menyikasanya dengan siksaan yag pedih (QS. An-Naml 21), maksudnya adalah saya pasti akan menmghilangkan qanaah darinya dan mengujinya dengan loba. Artinya saya akan memohon kepada Allah SAW agar mengabulkan permohonan saya itu. Abu Yazid Al-Bustami pernah ditanya, Sebab apa engkau meperoleh kemuliaan setinggi ini ?
54 | Risalah Al Qusyairi

Beliau menjawab, Saya mengumpulkan seb-sebab kehidupan dunia, kemudian saya lepaskan dengan tali qanaah. Saya letakkan dalam meriam kebenaran, dan saya lemparkan ke dalam sungai keputus asaan, sehingga hati saya menjadi tenang. Muhammad bin Farhan berada di Samura. Dia mengatakan bahwa ia telah mendengar Khali Abdul Wahab mengatakan, Saya duduk di samping Junaid pada suatu musim. Di sekelilingnya terdapat rombongan orang ajam dan orang-orang tua. Di antara mereka ada seseorang membewa lima ratus dinar dan meletakkannya di hadapan Al-Junaid. bagi-baikanlah dinar-dinar itu kepada orang-orang yang fakir. Kata pemilik uang terseburt. Apakah engkau memiliki yang lain ? tanya Al-Junaid. Ya saya masih memiliki beberapa dinar yang lain. Apakah engkau hendak memiliki selain barang itu ? Ya Kalau begitu ambilah kembali dinar itu karena engkau tentu lebih butuh daripada kami. Tetapi dia (orang yang hendak bersedekah) tidak mau menerimanya. Tawwakal Allah SWT berfirman, Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah maka Allah akan mencukupinya. (QS. At-Thalaq 3). Allah SWT juga berfirman, Hanya kepada Allah hendaklah orangorang yang beriman mneyerahkan diri. (QS. Ali Imran 160). Di dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman, Hanya kepada Allah hendaklah kamu sekalian menyerahkan diri jika kamu sekalian adalah orang orang yang beriman. Dari AbduLlah bin Masud diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Diperlihatkan kepada saya berbagaia umat yang berkumpul. Kemudian saya melihat umatku memenuhi lembah dan gunung. Mereka jumlahnya banyak dan kehebatannya mengagumkan saya. Setelah itu saya ditanya, Apakah engkau rela ?. Saya menjawab ya. Bersama mereka terdapat 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Mereka tidak menipu, mereka tidak menghambur-hamburkan harta, dan mereka tidak mencuri. Kepada Tuhannya mereka menyerahkan diri. Ukasyah bin muhsin Al-Asadi kemudian berdiri seraya berkata, Wahai RasuluLlah, berdoalah kepada Allah SWT agar saya dijadikan diantara mereka. Yaa Allah jadikanlah Ukasyah termasuk diantara mereka. Doa RasuluLlah. Yang lainnya juga berdiri seraya mengatakan, Berdoalah kepada Allah agar saya juga dijadikan diantara mereka. Ukasyah telah mendahuluimu. Jawab RasuluLlah.

55 | Risalah Al Qusyairi

Abu Ali Muhammad Ar-Rudzabaari mengatakan bahwa saya peranah meminta sesuatu kepada Umar bin Sinan. Berceritalah kepadaku tentang Sahal bin AbdulLah, Pintaku. Sahal telah mengatakan bahwa tanda orang yang bertawakal ada tiga, yaitu tidak meminta, tidak menolak, dan tidak memakan. Abu Musa Ad-Dubaili mengatakan tentang abu Yazid Al-Bustami yang pernah dimintai keterangan tentang tawakal. apa tawakal itu ? Menurutmu sendiri apa ? Seandainya ada hewan yang galak dan ular berbisa berada di sebelah kanan dan kiri kakimu, engkau tidak akan berubah. Ya, jawabanmu mendekati benar. Jelas Abu Yazid. Hanya saja seandainya ahli surga diberikan kenikmatan di dalam surga dan ahli neraka disiksa di dalam neraka lantas engkau membedakan antara keduanya, maka engkau tidak termasuk kelompok orang bertawakal. Menurut Sahal bin AbduLlah , permulaan tempat dalam penyerahan diri kepada Allah adalah seorang hamba harus berada di hadapan Allah SWT seperti orang meninggal dunia yang berada di hadapan orang yan memandikannya. Dia dapat membolak balik sekehendak hatinya. Tidak ada gerakan dan tidak ada pengaturan. Menurut Hamdun Al-Qashar yang dimaksud tawakal adalah berpegang teguh kepada Allah SWT. Seorang laki-laki bertanya kepada Hatim Al-Asham, Dari mana engkau makan ?. Dia menjawab dengan mengutip firman Allah, Kepunyaan Allah perbendaharaan langit dan bumi tetapi orang-orang munafik tidak mengerti. (QS. Al-Munafikuun 7). Perlu diketahui bahwa tempat tawakal adalah berada di dalam hati. Gerakan yang dilakukan dengan anggota lahir tidak meniadakan tawakal yang dilakukan dengan anggota hati. Terlebih lagi seorang hamba yang menyatakan bahwa ketentuan hidup adalah semata-mata dari Allah SWT. Apabila ada sesuatu yang sulit, maka itu karena ketentuanNya. Apabila sesuatu itu relevan, maka itu karena kemudahanNya. Anas bin Malik mengatakan, seorang laki-laki datang keada RasuluLlah SAW dengan membawa unta, dia bertanya, Yaa RasuluLlah apakah unta ini saya tinggalkan dan saya bertawakal ?. Beliau menjawab, Ikatlah dan bertawakalah. Menurut Ibrahim Al-Khawash, barang siapa yang tawakalnya benar terhadap dirinya sendiri, maka tawakalnya juga benar terhadap orang lain. Bisyr Al-hafi mengatakan, Salah seorang ulama mengatakan, Saya bertawakal kepada Allah SWT sedangkan orang lain berbohong kepadaNya. Seandainya ia bertawakal kepada Allah SWT, maka pasti ia rela terhadap apa ytang dikerjakan (dikehendaki) oleh Allah SWT.

56 | Risalah Al Qusyairi

Yahya bin Muadz pernah ditanya, Kapan seorang laki-laki dianggap tawakal ?. Apabila ia rela kepada Allah SWT. Ibrahim AL-Khawas mengatakan, Suatu hari saya berjalan di daerah padang pasir. Tiba-tiba ada suara menanggilku. Saya menoleh ke belakang, ternyata ada seorang arab dusun berjalan seraya mengatakan, Ya Ibrahim, tawakal itu ada di hadapan kami. Oleh karena itu tinggalah bersama kami sehingga tawakalmu menjadi benar. Apakah engkau tidak tahu bahwa engkau sangat berharap ingin memasuki kota yang terdapat berbagai makanaan dan mengantarkanmu kepada pemukiman. Potonglah harapan untuk tinggal di kota itu dan bertawakalah. Ibnu Atha pernah ditanya tentang hakikat tawakal. Dia menjawab, Keragu-raguan tidak akan muncul dalam dirimu yang menyebabkan engkau sangat susah. Oleh karena itu engkau selalu memperoleh hakikat ketenangan menuju pada kebenaran yang engkau tempuh. Menurut Ibnu Nashr As-Siraj Arth-Thuusi bahwa syarat tawakal sebagaimana yang diungkapkan oleh Asbu Thurab An-Naskhsyabi adalah melepaskan anggota tubuh dalam penghambaan, mengantungkan hati dengan ketuhanan, dan bersikap merasa cukup. Apabila dia diberikan sesuatu maka ia bersyukur. Apabila tidak, maka ia bersabar. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud tawakal adalah meninggalkan hal-hal yang diatur oleh nafsu dan melepaskan diri dari daya upaya dan kekuatan. Seorang hamba kana selalu memperkuat tawakalnya apabila megerti bahwa Allah SWT selalu mengetahui dan melihat segala sesuatu. Abu Jafar bin Farj mengatakan, Saya pernah melihat seorang laki-laki yang mengetahui unta Aisyah karena ia sangat cerdik. Ia dipukul dengan cambuk. Saya bertaya kepadanya , Dalam keadaan bagaiamana sakitnya pukulan lebih mudah diketahui ?. Dia menjawab, Apabla kita dipukul karena dia, maka tentu dia mengetahuinya. Husin bin Manshur pernah bertanya kepada Ibrahim Al-Khawash, Apa yang pernah egkau kerjakan dalam perjalanan dan meninggalkan padang pasir ? Saya bertawakal dengan memperbaiki diriku sendiri. Husin bin Manshur mengatakan, Apakah engkau telah melenyapkan umurmu di dalam umur bathinmu ? Manurut Abu Nashr As-Siraj, Ath-Thuusi yang dimaksud tawakal sebagaimana yang diungkapkan oleh Abu Bakar Ad-Daqaq adalah menolak kehidupan pada masa sekarang dan menghilangkan cita-cita pada masa yang akan datang. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sahal bin AbdulLah bahwa yang dimaksud tawakal adalah melepaskan segala apa yag dikehendaki dengan menyandarkan diri kepada Allah SWT. Menurut Abu Yaqub Ishaq An-Nahr Jauzi, yang dimaksud tawakal adalah menyerahkan diri kepada Allah SWT, dengan
57 | Risalah Al Qusyairi

sebenarnya sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim pada saat Allah SWT berfirman, kepada Malaikat Jibril; AS Ibrahim telah berpisah (bercerai) denganmu. Dirinya telah hilang bersama Allah SWT oleh karena itu tidak ada yang mengetahui orang yang bersama Allah kecuali Allah SWT. Dzunun Al-Mishri pernah ditanya oleh sesorang, Apa yang dimaksud dengan tawakal. ? Dijawab, Melepaskan hal-hal yang bersifat dipertuan dan meninggalkan berbagai sebab. Berilah saya tambahan penjelasan. Mempertemukan diri dengan hal-hal yang bersifat ibadah dan mengeluarkannya dari hal-hal yang bersifat rububiyah. Hamdun Al-Qashar juga pernah ditanya tentang tawakal, dia menjawab, Apabila engkau mempunyai sepuluh ribu dirham, maka engkau berkewajiban menanggung hutang yang jika engkau meninggal dunia, engkau tidak akan aman dari hutang yang menjadi tanggunganmu. Apabila engkau mempunyai hutang 10 dirham,dan masih belum membayar, maka engkau jangan berputus asa dan memohonlah kepada Allah SWT agar segera terlunasi. Begitu juga AbduLlah Al- Quraisyi pernah ditanya oleh seseorang tentang tawakal, dia menjawab, Selalu berhubungan dengan Allah SWT dalam segala hal. Orang itu mengatakan, berilah diriku tambahan penjelasan. Dia menjawab, Meninggalkan segala sebab yang akan menimbulkan sebab lain, sehingga Dzat Yang Maha Pengatur dapat meluruskannya. Menurut Ahmad bin Isa Al-Kharaz, yang dimaksud tawakal adalah gelisah tanpa tenang dan tenang tanpa gelisah. Menurut yang lain, yang dimaksud tawakal adalah keseimbangan, baik ketika mendapatkan rejeki yang banyak maupun sedikit. Menurut Ahmad bin Masruk, yang dimaksud tawakal adalah tunduk dalam melaksanakan keputusan dan hukum. Menurut Abu Utsman Said Al-Hairi yang dimaksud tawakal adalah merasa cukup terhadap apa yang diberikan Allah SWT dengan berpegang teguh kepada-Nya. Sedangkan menurut Husain bin Manshur yang dimaksud orang yang benar-benar tawakal adalah orang yang tidak makan di suatu tempat yang sebenarnya dia lebih berhak. Umar bin Sinan mengatakn, Ibrahim Al-Khawas ketika lewat bertemu kami, kami mengatakan, ceritakanlah kepada kami sesuatu yang mengagumkan sebagaimana yag engkau lihat di dalam perjalananmu. Dia mengatakan, Saya bertemu Nabi Khidir AS dia bertanya kepadaku tentang pergaulan dengan orang lain. Saya takut ketawakalanku akan menjadi rusak dengan ketenanganku. Oleh karena itu saya berpisah dengannya. Dalam cerita yang lain disebutkan, Sahal bin AbduLlah pernah ditanya tentang tawakal, dia menjawab, Hati yang hidup dan selalu bersama Allah SWT tanpa ketergantungan. Saya (Syaikh Al Qusyairi) telah mendengar Ustadz Abu Ali AdDaqaq mengatakan., penyerahan diri kepada Allah SWT memiliki tiga
58 | Risalah Al Qusyairi

tingkat, yaitu tawakal, taslim, dan tafwidh. Orang yang bertawakal adalah orang yang merasa tenang dengan janji Allah SWT. Orang yang taslim adalah orang yang merasa cukup dengan ilmu-Nya. Sedangkan orang yang tafwidh adalah orang yang rela dengan hukum-Nya. Oleh karena itu tawakal adalah permulaan, taslim adalah pertengahan, dan tafwidh adalah akhir. Ustadz Abu Ali juga pernah ditanya tentang tawakal dan beliau menjawab, makan tanpa loba. Yahya bin Muadz mengatakan, Pakaian bulu domba ibarat kedai, pembicaraan tentang zuhud ibarat perusahaan (pekerjaan), kedatangan khalifah ibarat sesuatu yang nampak. Semua saling bergantung. dalam suatu cerita, seorang laki-laki datang kepada As-Syibli. Dai mengeluh karena terlalu banyak keluarga. Syibli megatakan, pulanglah ke rumahmu,. Barang siapa yang rizkinya tidak diserahkan kepada Allah SWT, maka singkirkanlah dia darimu. Sahal bin AbduLlah mengatakan, Barang siapa mencela gerakan ibadah, maka ia mencela sunah. Barang siapa mencela tawakal, maka ia mencela iman. Ibrahim Al-Khawas mengatakan, Suatu hari saya berada di jalan Makkah. Saya melihat orang yag kasar. Apakah engkau jin atau manusia ? tanyaku. Saya adalah jin Engkau hendak ke mana ? Saya hendak ke Makkah. Apa engkau tidak membawa bekal ? Ya saya bepergian bersama orang yang tawakal. Apakah tawakal itu ? Berpegang teguh kepada Allah SWT. Ubrahim Al-Khawash selali mempertajam tawakalnya. Dia membawa jarum, benang, wadah air kecil, dan potongan kain. Dia ditanya, Wahai Abu Ishaq, kenapa engkau membawa ini, sedangkan engkau tidak membawa apa-apa. Dia menjawab, Ini merupakan perumpamaan tawakal yang tidak akan rusak karena Allah SWT memberikan bagian kepada kita. Orang fakir hanya membawa satu pakaian. Terkadang pakaian itu robek. Apabilaia tidak membawa jarum dan benang, maka auratnya akan kelihatan dan shalatnya akan batal. Apabila ia tidak membawa wadah air kecil, maka bersucinya akan batal. Apabila engkau melihat orang fakir tanpa membawa wadah air kecil , jarum dan benang, maka perhatikanlah ketika ia shalat. Syaikh AL-Qusyairy berkata, Saya pernah mendengar Syaikh Abu ALi Ad-Daqaq berkata, tawakal adalah sifat orang mukmin, taslim adalah isfat para wali, dan tafwidh adalah sifat orang-orang yang bersatu dengan Allah SWT. Demikian juga , tawakal adalah sifat orang awam, taslim adalah sifat orang khawash, dan tafwidh adalah sifat orang khawashl khawas. Oleh karena itu dia mengatakan, tawakal
59 | Risalah Al Qusyairi

adalah sifat para Nabi, Taslim adalah sifat Nabi Ibrahim, dan tafwidh adalah sifat Nabi Muhammad SAW. Abu Jafar Al- Hadad mengatakan, Saya pernah tinggal / hidup kurang lebih selama sepuluh tahun. Saya selalu bertawakal, bekerja di pasar setiap hari. Mengambil upah dan tidak pernah masuk WC umum. Selain itu saya selalu berkumpul orang-orang fakir di daerah Syuniziyah dan selalu memperhatikan keadaanku. Hasan bin Abi Sinan mengatakan, Saya telah melaksanakan empat kali haji dengan jalan kaki dan selalu bertawakal. Suatu saat kakiku tertusuk duri. Saya ingat bahwa diriiku dimaksudkan untuk bertawakal. Duri itu kemudian saya cabut dan saya masukkan ke dalam tanah kemudian saya berjalan seperti semula. Abu Hamzah juga pernah mengatakan, Saya merasa malu kepada Allah SWT memasuki daerah padang pasir dalam keadaan kenyang. Saya mempercayakan diriku bertawakal agar perjalananku tidak membawa bekal kenyang yang sedang saya persiapkan. Hamdun Al-Qashar pernah ditanya tentang tawakal, dia menjawab, Tawakal memiliki kedudukan/derajad tinggi yang belum pernah saya capai. Bagaimana tawakal akan dibicarakan oleh orang yang keadaan imannya belum sempurna ? Menurut sebagian ulama, orang yang bertawakal adalah ibarat anak kecil yang tidak megerti apa-apa. Dia hanya tinggal di tetek (susu) ibunya. Demikian juga orang yang bertawakal. Dia tidak akan medapatkan petunjuk kecuali kembali kepada Allah SWT. Sebagian ulama mengatakan, Saya pernah berada di daerah padang pasir. Kafilah telah datang. Saya melihat seseorang di depanku. Saya dengan segera menuju ke arah orang itu. Tiab-tiba ada seorang perempuan membawa tongkat. Dia berjalan dengan sangat memprihatinkan. Saya menduga dia adalah buta. Saya masukkan tanganku ke dalam saku dan saya mengeluarkan 20 dirham seraya mengatakan, Ambilah dan tinggalah di sini sampai kafilah itu datang, kemudian sewalah kafilah itu. Nanti malam datanglah kepadaku agar saya mengatur (menyelesaikan urusanmu). Dia mengatakan dengan menggunakan isyarat tanganya, seperti ini keadaannya di udara. Ternyata di telapak tangannya terdapat beberapa dinar. Dia mengatakan lagi, Engkau mengambil beberapa dirham dari saku, sedang saya mengambil beberapa dinar dari Yang Maha Samar (Allah SWT). Abu Slaiman Ad-Daraani pernah melihat seorang laki-laki di Makkah. Dia tidak memperoleh apa-apa kecuali setengah air zamzam. Kemudian hari telah berlalu, suatu hari Abu Sulaiman bertanya kepadanya, Apakah engkau tahu bagaimmana seandainya zamzam itu berubah apa yang engkau minum?.Orang laki-laki itu berdiri dan menghadapkan kepalanya. Dia menjawab, Mudah-mudahan Allah SWT memberikan balasan kebaikan kepadamu yang telah memberikan

60 | Risalah Al Qusyairi

petunjuk kepadaku. Sesungguhnya saya adalah orang yang mneyembah zamzam selama tiga hari dan itu telah berlalu. Ibrahim Al-Khawash berkisah, di pertengahan jalan di Syam saya melihat seorang pemuda yang baik budi pekertinya. Dia bertanya kepada saya, Apakah kamu mempunyai teman ? Saya sedang lapar jawab saya. Jika engkau lapar, saya sangat lapar katanya. Selama tiga hari kami bersama-sama, setelah itu kami mendapatkan jalan keluar. Mari kita pergi. Ajak saya. Saya tidak ingin mengambil jalan tengah. Wahai pemuda berhati-hatilah. Wahai Ibrahim jangan sombong, sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Yang Maha melihat . apa hakmu dan dimana tawakalmu . Kemudian ia melanjutkan, Saya memperkecil tawakal untuk menghilangkan berbagai kesulitan yang menimpamu. Janganlah kau cela dirimu sendiri, kecuali kepada orang yang serba berkecukupan. Menurt satu pendapat, yang di maksud tawakal adalah menghilangkan keragu-raguan dan menyerahkan diri kepada Allah SWT. Dalam satu cerita disebutkan, sekelompok orang datang kepada Syaikh Junaid, mereka bertanya, Di mana kami harus mencari rizki ? Asalkan engkau tahu di manapun engkau boleh mencari rizki kami memohon kepada Allah SWT mengenai hal itu. Jiak kalian mengetahui bahwa Allah SWT melupakanmu maka ingatlah kepadaNya. kami akan masuk rumah dan bertawakal. Cobaan itu adalah kebimbangan Bagaimana dengan daya upaya ? Daya upaya harus ditinggalkan. Jawab Syaikh Junaid. Abu Sulaiman Ad-Daraani mengatakan kepada Ahmad bin Abul Hawari, Wahai Ahmad, jalan munuju akhirat adalah banyak. Gurumu adalah orang yang mengetahui beberapa jalan itu kecuali tawakal. Oleh karena itu saya tidak pernah mencium baunya. Menurut satu pendapat, yang dmaksud tawakal adalah menurut terhadap apa-apa yang telah diautur oleh Allah SWT dan menghindarkan diri dari apa-apa ang diatur oleh manusia. Menurut yang lain, yang dimaksud tawakal adalah hati yang sunyi dari pemikiran tentang hal-hal yang bertentangan dalam mencari rizki. Harist Al-Muhasibi pernah ditanya tentang tawakal, Apakah tawakal itu akan diikuti oleh loba ? Dia menjawab, tawakal akan diikuti oleh beberapa pikiran melalui jalan karakter, tidak dirusak oleh sesuatu , dan sangat kuat untuk tidak menggantungkan diri kepada orang lain. Menurut satu cerita dituturkan bahwa Ahmad An-Nuri dalam keadaan lapar di padang pasir. Dia dipanggil oleh suatu suara, Mana
61 | Risalah Al Qusyairi

yang paling engkau sukai antara sebab dan cukup dan cukup itu sendiri ? Dia menjawab, Cukup, tidak ada yang melebihi darinya. Setelah itu dia tidak makan selama tuju belas hari. Abu Ali Ar-Rudzabaari pernah mengatakan, Apabila setelah lima hari tidak makan, orang fakir mengatakan, saya lapar, maka bawalah ia ke pasar dan suruhlah ia bekerja. Menurut sautu ungkapan, Abu Thurab An-Nakhsyabi pernah melihat orang sufi yang mengulurkan tangannya pada buah semangka untuk dimakan setelah tiga hari ia belum mendapatkan makanan. Abu Thurab mengatakan kepadanya,predikat tawasul tidak layak kau sandang, untuk itu pergilah ke pasar (untuk bekerja) Abu Yaqub Al-Atha Al Bashri bercerita : Pernah suatu kali saya datang ke tanah haram selama 10 hari. Saya dalam keadaan lemah, sedangkan nafsuku berbisik kepadaku. Setelah itu saya keluar ke padang pasir dengan maksud agar memperoleh sesuatu yang dapat menghilangkan kelamahanku. Di sana saya melihat buah saljanah yang terbuang, kemudian saya ambil. Hatiku sangat berduka cita, seakanakan ada orang yang mengatakan kepadaku, Engkau datang selama sepuluh hari yang pada akhirnya hanyan mendapatkan bagian buah saljana itu. Buah itu saya lemparkan dan saya masuk ke masjid kemudian saya duduk. Ternyata di masjid saya duduk berdampingan dengan seorang laki-laki non arab, dia duduk di sampingku dan meletakkan laci. Ini untukmu Katanya. Bagaimana engkau memberikan keistimewaan kepadaku ? Kami berada di tengah laut selama sepuluh hari. Saya berada di atas kapal yang hampir tenggelam. Setiap hari dari kelompok kami bernadzar, apabila Allah SWT menyelamatkan kami semua, maka kami akan memeberikan sedekah. Sedangkan saya bernadzar apabila Allah SWT menyelamatkan diriku maka saya akan memberikan sedekah dengan benda ini kepada orang yang pertama saya jumpai dari orangorang yang berdampingan, dan engkau adalah orang pertama yang saya jumpai. Bukalah. Pintaku kepadanya. Dia lantas membukanya, di dalamnya terdapat kaak yang terpupuk, buah badam yang terkupas, dan gula manis yang penuh. Setelah itu saya genggam, saya pegang dengan tangan kanan dan satu genggam saya pegang dengan tangan kiri. Berikanlah sisa ini kepada putera-puteramu sebagai hadiah dariku untuk mereka. Kataku kemudian. Setelah itu saya bergumam pada diri sendiri, Rezekimu datang dengan mudah kepadamu sejak sepuluh hari yang engkau sendiri mencari di padang pasir. Abu Bakar Ar-Razi mengatakan bahwa dia berada di samping Mimsyad Ad-Dinawari.setelah itu pembicaraan tentang hutang digulirkan oleh Mimsyad. Dia mengatakan,Saya mempunyai hutang
62 | Risalah Al Qusyairi

sehingga hatiku merasa tidak tenang. Suatu saat saya bermimpi seakan-akan ada yang mengatakan Wahai orang yang kikir, engkau telah mengambil hak kami sejumlah ini, engkau mengambil dan kami memberi. Engkau masih belum membayarnya, baik kepada penjual sayur, penjagal maupun kepada orang lain. Diriwayatkan dari Banan Al-Hammal dia berkata : Saya berada di tengah jalan Makah. Saya datang dari Mesir dengan memabwa bekal. Seorang perempuan datang kepadaku seraya mengatakan, Wahai Banan, engkau adalah tukang pikul yang sedang memikul bekal di atas punggungmu. Engkau menduga bahwa Allah SWT tidak akan memberikan rizki kepadamu. Saya telah membuang bekalku dan saya tidak makan, meskipun saya memperoleh makanan sampai tiga kali. Setelah itu saya menemukan gelang kaki di tengah jalan. Saya bergumam pada diri sendiri, Gelang ini akan saya bawa sehingga pemiliknya datang kepadaku. Apabila ia memberikan hadiah kepadaku, akan saya tolak. Tiba tiba saya berjumpa dengan perempuan itu lagi. Engkau adalah pedagang, engkau telah mengatakan Sehingga pemiliknya datang. Untuk itu barang ini akan saya ambil, Setelah berkata, ia melemparkan beberapa dirham seraya mengatakan, Pergunakanlah, engkau dapat memanfaatkan dirham itu menuju tempat yang dekat dari Makkah. Dalam irwayat lain disebutkan bahwa Banan Al-Hammal membutuhkan seorang pelayan perempuan yang dapat melayaninya. Dia menyebarkan informasi kepada saudara-saudaranya. Mereka berkumpul dan bersepakat menetapkan harga. Mereka mengatakan bahwa suatu saat sekelompok orang akan datang dan kami akan membelinya apabila cocok. Ketika sekelompok orang itu datang, mereka sepakat untuk membeli satu pelayan perempuan. Perempuan ini cocok. Guamam mereka. Berapa harga perempuan ini ? Tanya mereka kepada pemiliknya. Pelayan perempuan ini tidak untuk dijual. Mereka akhirnya mendesak untuk menjual perempuan itu. Pelayan perempuan ini untuk Banan. Jawab seseorang yang membawa perempuan itu. Perempuan ini adalah hadiah dari seorang perempuan dari Samarqand. Oleh karenanya pelayan perempuan ini saya bawa untuk diberikan kepada orang yang dimaksud dan hal itu perlu saya ceritakan. Lanjutnya. Hasan Al-Khayyat bercerita : saya berada di samping Bisyir AlHafi. Suatu saat sekelompok orang datang kepadanya. Mereka memberi salam kepadanya. Dari mana kalian ? tanya Bisyir Kami dari Syam. Kami datang ke sini untuk memberikan salam kepada tuan kemudian melaksanakan ibadah haji. Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni kalian.
63 | Risalah Al Qusyairi

Bisakah tuan keluar melaksanakan ibadah haji bersama kami ? pinta mereka. Boleh, dengan tifga syarat, yaitu kita tidak boleh membawa sesuatu, kita tidak boleh meminta sesuatu kepada orang lain, dan apabila ada orang yang memberikan sesuatu kepada kita, kita tidak boleh menerimanya. Apabila kita tidak membawa sesuatu, maka kita akan tetap baik. Apabila kita tidak meminta, maka kita pun akan tetap baik. Akan tetapi apabila kita tidak mau menerima pemberian orang lain, tentu kuta tidak akan mampu. Jawab mereka Kita harus bertawakal di atas bekal haji. Jawab Bisyir. Kemudian ia menoleh kepada Hasan Al-Khayyat seraya mengatakan, Wahai Hasan, orang fakir terbagi menjadi tiga, Pertama orang fakir yang tidak meminta. Apabila diberi ia tidak akan menerimanya. Orang fakir ini termasuk golongan ruhaniawan. Kedua, orang fakir yang tidak meminta, apabila diberi ia akan menerimanya. Orang fakir ini akan diberikan beberapa kenikmatan dan ketenangan dihadapan Tuhan. Ketiga, orang fakir yang meminta, apabila diberi ia akan menerimanya sekedar cukup, orang fakir ini tebusannya adalah sedekah. Hubaib Al-Ajami pernah ditanya Kenapa engkau meninggalkan dagangan ? Saya telah menemukan penjamin seperti orang kepercayaan, jawabnya. Menurut satu cerita, ada seorang laki-laki di perjalanan. Ia membawa roti. Dia mengatakan, Jika saya makan maka saya akan mati. Setelah itu Allah SWT menyerahkan urusan itu kepada malaikat. Allah SWT berfirman kepadanya, Apabila orang itu makan, maka berilah ia rizki. Apabila ia tidak makan, maka jangan kau berikan dia rizki yang lain. Makanan itu masih tetap utuh disamping orang tersebut sampai ia meninggal dunia. Menurut satu pendapat, barang siapa yang terlibat di medan tafwidh (penyerahan diri secara total di atas tawakal), maka apa yang dimaksudkan akan tercapai sebagaimana pengantin perempuan yang dibawa kepada suaminya. Perbedaan antara tadhyi (membinasakan diri atau sikap pasrah yang dapat menyebabkan binasa) dengan tafwidh (penyerahan diri kepada Allah SWT) terletak pada kualitas iman dan keyakinan dalam pemasrahan diri kepada Allah SWT. Tadhyi di hadapan Allah SWT sangat tercela. Sedangkan tafwidh di hadapan-Nya sangat terpuji. Menurut AbduLlah bin Mubarak, barang siapa yang mengambil uang haram, maka dia bukan orang yang tawakal. Abu Said Al-kharraz mengatakan, saya pernah satu kali masuk di padang pasir tanpa membawa bekal. Di sana saya mendapatkan kesulitan. Setelah itu, saya melihat marhalah (tanda jarak perjalanan) dari tempat yang jauh. Saya merasa bahagia karena sudah hampir sampai. Kemudian saya berfikir bahwa diri ini menempati satu tempat yang membutuhkan orang lain. Saya tidak berani menempuh marhalah itu kecuali membawa bekal. Dalam keadaan seperti itu saya terpaksa
64 | Risalah Al Qusyairi

menggali lobang di atas pasir. Di dalam lobang itu saya dapat melindungi tubuhku sampai pada dadaku. Di tengah malam penduduk mendengar suara keras Wahai penduduk marhalah sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Penolong yang telah menahan dirinya di atas pasir ini. Oleh karenanya temuilah dia. Setelah itu sekelompok orang datang kepadaku. Mereka mengeluarkan diriku dan membawaku ke sebuah desa. Abu Hamzah Al-Kharrasani mengatakan bahwa dalam satu tahun ada dua orang lewat di atas sumur. Salah satunya mengatakan kepada yang lain, ke sinilah, kita harus menutup sumur ini agar tidak ada orang yang terjatuh. Mereka lalu datang dengan memabwa kayu dan tumpukan debu serta menutup atas (atap) sumur tersebut. Abu Hamzah Al-Kharrasani ingin memanggil, tetapi tidak jadi melakukannya. Lantas ia mengatakan kepada diri sendiri, Saya hanya ingin memanggil Dzat Yang lebih dekat dari pada kedua orang tersebut. Selang beberapa waktu, ada sesuatu yang datang dan membuka atas (atap) sumur tersebut serta mendekatkan kakinya, seakan-akan ia mengatakan dengan suara menggerutu, menggantunglah kepadaku. Ia tahu bahwa suara itu keluar darinya. Setelah itu ia menggantungkan kepadanya sehingga ia dapat keluar. Ternyata sesuatu itu adalah hewan yang buas. Kemudian hewan itu pergi. Tiba-tiba ada suara mengatakan kepada Abu Hamzah, apakah seperti ini tidak lebih baik. Kami telah menyelamatkan dirimu dari kebinasaan dengan kebinasaan. Setelah itu Abu Hamzah berjalan sambil mendendangkan syair : Kutampakkan kepada-Mu rasa takut yang telah ku sembunyikan. Hatiku menampakkan sesuatu yang diucapkan oleh mataku. Rasa maluku telah melarangku dari-Mu untuk menyembunyikan keinginan. Dan Engkau memberikan pemahaman dengan terungkapnya sesuatu. Engkau telah mempermudah urusanku lantas Engkau tumpahkan kedua orang yang menyaksikan kesamaranku. Oleh karena itu. Kelemah lembutan akan diperoleh dengan kelemah lembutan. Engkau telah memperlihatkan diriku sesuatu yang samar. Seakan-akan Engkau memberikan kabar kepadaku Dengan sesuatu yang samar. Bahwa Engkau berada dalam kebahagiaan. Saya dapat melihat-Mu dariku. Karena kehebatanku takut kepada-Mu. Engkau menggembirakan diriku Dengan lemah lembut dan cinta kasih. Kau hidupkan orang yang cinta. Sedangkan Engkau mencintai kematian. Alangkah herannya hakikat kehidupan. Yang terpaut dengan kematian.
65 | Risalah Al Qusyairi

Hudzaifah Al-Marasyi pernah ditanya ketika sedang melayani dan berguru kepada Ibrahim bin Adham. Apa yang paling mengagumkan yang pernah engkau lihat ? Dia menjawab bahwa beberapa hari yang lalu kami berada di jalan Makkah dan kami tidak menemukan makanan. Kami memasuki Kuffah dan tinggal di Masjid Khurrab. Setelah itu Ibrahim bin Adham melihatku seraya mengatakan Ya Hudzaifah, saya melihatmu nampak lapar. Itu hanya pandangan guru. Ambilkan pena dan kertas untukku. Hidzaifah pergi kemudian kembali seraya menyerahkan pena dan kertas kepada Ibrahim yang langsung ditulisnya dengan kalimat, BismiLlahiRrahmaaniRrahiim, Engkaulah Dzat yang dituju dalam segala hal dan Engkaulah Dzat yang dijadikan petunjuk dalam setiap arti. Kemudian tulisan disambung dengan beberapa syair : Saya adalah orang yang memuji. Saya adalah orang yang bersyukur Saya adalah orang yang ingat. Saya adalah orang yang lapar. Saya adalah orang yang kehilangan. Saya adalah orang yang talanjang. Terhadap yang enam itu (syair di atas) Saya menjamin separuhnya. Jadilah Engkau Yang menjamin separuhnya lagi. Wahai Dzat Pencipta. Memuji kepada selain-Mu. Adalah jilatan api neraka. Yang telah Kau panaskan. Selamatkanlah orang yang selalu menyembah-Mu. Dari masuk neraka. Neraka di sampingku. Seperti sebuah pertanyaan. Apakah Engkau tahu Bahwa Engkau tidak memaksaku masuk neraka. Setelah itu Ibrahim memberikan ruqah (semacam bungkusan berisi uang logam atau papan tulis) kepada Hudzaifah. Dia mengatakan, Keluarlah, hatimu jangan kau gantungkan kepada selain Allah SWT. Dan berikanlah ini kepada orang yang pertama yang engkau jumpai. Hudzaifah merasa bahagia atas peristiwa tersebut. Orang pertama yang ia jumpai adalah orang yang berada di atas keledai. Ia berikan ruqah itu kepadanya. Orang itu mengambilnya lantas menangis. Ia bertanya kepada Hudzaifah, Apa yang sedang dikerjakan oleh pemilik ruqah ini Dia berada di Masjid Fulani.
66 | Risalah Al Qusyairi

Orang itu memberikan kantong kepada Hudzaifah yang berisi enam ratus dinar. Setelah itu Hudzaifah berjumpa dengan laki-laki lain dan bertanya, Siapapemilik keledai ini ? tanya Hudzaifah Orang nasrani. Jawabnya. Lantas Hudzaifah mendatangi Ibrahim bin Adham. Ia menceritakan kejadian tersebut. Ibrahim lalu berpesan, Jangan kau sentuh keledai itu. Sebentar lagi orangnya akan datang. Selang beberapa waktu orang nasrani itu datang sambil menundukkan kepalanya. Ia menghadap Ibrahim lalu duduk bersimpuh di hadapannya dan menyatakan keislamannya. Syukur Allah SWT berfirman, Jika kamu sekalian bersyukur, maka Aku (Allah) akan memberikan tambahan nikmat kepada kamu sekalian. Dari Yahya bin Yala dari Abu Khubab dari Atha diceritakan bahwa ia bertemu Aisyah RA bersama Ubaid bin Umair, lalu mengatakan, Berikanlah kami berita tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari RasuluLlah SAW yang pernah engkau lihat. Aisyah menangis lantas menjawab, Keadaan RasuluLlah yang mana yang tidak mengagumkan ? di waktu malam Beliau datang kepadaku. Beliau masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan dengan kulitnya. Beliau mengatakan, Wahahai putri Abu Bakar, tinggalkanlah diriku, saya sedang beribadah kepada Tuhanku. Saya ingin lebih dekat denganmu. Pintaku. Wanita agung ini lantas minta izin untuk mengambil gerabah air. Beliau berwudhu dan menuangkan air begitu banyak. Setelah itu RasuluLlah SAW berdiri dan mengerjakan shalat. Beliau menangis sehingga air matanya bercucuran sampai ke dadanya. Beliau ruku, sujud, dan mengangkat kepala dan masih dalam keadaan menangis. Beliau selalu seperti itu sampai Bilal datang, kemudian menyerukan azan untuk mengerjakan shalat. Aku bertanya kepada RasuluLlah SAW, Ya RasuluLlah SAW, apa yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang ? Beliau menjawab, Apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur. Kenapa saya tidak berbuat yang demikian, sedangkan Allah SWT menurunkan kepadaku ayat : Inna fii khalqissamaawaatisesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, perbedaan siang dan malam , kapal yang berlayar di lautan (membawa) barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air tersebut bumi yang telah mati, berkeliaran di atasnya tiap-tiap yang melata, angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat bagi orang yang berfikir. (QS Al-Baqarah 164).
67 | Risalah Al Qusyairi

Atas pandangan ini dapat ditarik pengertian bahwa Allah SWT selalu bersyukur, artinya Allah SWT akan membalas hamba-Nya yang bersyukur. Pembalasan ini dinamakan syukur sebagaimana firman Allah SWT : Dan pembalasan orang yang berbuat jahat adalah kejahatan yang setimpal. (QS. Asy-Syura 40) Menurut satu pendapat, bersyukurnya Allah SWT adalah memberikan pahala atas perbuatan pelakunya sebagaimana ungkapan bahwa hewan yang bersyukur adalah hewan yang gemuk karena selalu diberi makan. Hal ini dapat dikatakan bahwasanya hakikat syukur adalah memuji yang memberikan kenikmatan dengan mengingat kebaikannya. Bersyukurnya hamba kepada Allah SWT adalah memujiNya dengan mengingat kebaikan-Nya. Sedangkan syukurnya Allah SWT kepada hambanya bearti Allah SWT memuji kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah taat kepada Allah SWT sedangkann perbuatan baik Allah SWT terhadap hambanya adalah memberikan kenikmatan dengan memberikan pertolongan sebagai tanda syukur. Hakikat syukur bagi hamba adalah ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan. Syukur terbagi menjadi tiga, Pertama syukur dengan lisan. Yakni mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sikap merendahkan diri. Kedua, syukur dengan badan, yakni bersikap selalu sepakat dan melayani (mengabdi) kepada Allah SWT dengan konsisten menjaga keagungan-Nya. Syukur lisan adalah syukurnya orang berilmu, ini dapat direalisasikan dengan bentuk ucapan. Syukur dengan badan adalah syukurnya ahli ibadah. Ini dapat direalisasikan dengan bentuuk perbuatan. Syukur dengan hati adalah syukurnya orang ahli marifat. Ini dapat direalisasikan dengan semua hal ihwal hanya untuk Allah secara konsisten. Menurut Abu Bakar Al-Waraq, yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan pemberian dan menjaga kehormatan. Menurut Hamdun Al-Qashar yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan dirinya meskipun tidak diundang. Menurut Al-Junaid, yang dimaksud syukur adalah sebab, karena dia mencari dirinya yang telah memperoleh kelebihan. Dia selalu menghadap Allah SWT karena memperoleh bagian dirinya. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur adalah mengetahui kelemahan syukur itu sendiri. Ada yang berpendapat, bahwa syukur di atas syukur adalah lebih sempurna dari syukur itu sendiri. Artinya kita harus memperhatikan syukur karena merasa telah mendapatkan pertolongan dari Allah SWT berupa kenikmatan. Kita bersyukur di atas syukur dan bersyukur di atas syukurnya syukur sampai kepada sesuatu yang tidak ada puncaknya. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah menyandarkan berbagai kenikmatan kepada Allah SWT dengan sikap merendah diri.
68 | Risalah Al Qusyairi

Menurut Al-Junaid yang dimaksud syukur adalah tidak menganggap dirinya sendiri sebagai pemilik kenikmatan. Sedangkan menurut Ruwaim, yang dimaksud syukur adalah melepaskan kemampuan, merasa semua itu adalah pemberian Allah bukan atas usahanya sendiri. Menurut satu pendapat, yang dimaksud syakir orang yang bersyukur adalah orang yang mensyukuri sesuatu yang ada. Sedangkan yang dimaksud syakur (orang yang ahli bersyukur) adalah orang yang ahli mensyukuri sesuatu yang tidak ada. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, sedangkan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penolakan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adlah orang yang mensyukuri pencegahan. Menurut sebagian yang lain lagi, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, dan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri cobaan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri kemurahan, sedang yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penangguhan. Al-Junaid berkata, saya bermain di depan Syaikh Sarry AsSaqathi ketika aku berumur tujuh tahun. Di hadapannya terdapat sekelompok orang yang sedang membicarakan syukur. Dia mengatakan kepadaku, Wahai anak kecil, apa itu syukur ? Saya menjawab, Tidak mempergunakan nikmat untuk bermaksiyat kepada Allah SWT. Beliau mengatakan, Lisanmu hampir saja mendapatkan bagian dari Allah SWT. Kemudian Al-Junaid berkata, saya selalu menangis apabila mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Sariy. Menurut As-Syibly, yang dimaksud syukur adalah memperhatikan Dzat yang memberikan kenikmatan, bukan kepada kenikmatan-Nya. Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur adalah mengatur sesuatu yang telah ada mencari sesuatu yang belum ada. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur orang awam adalah orang yang bersyukur kepada yang memberikan makanan dan pakain. Sedangkan yang dimaksud syukurnya orang khawash adalah orang yang bersyukur kepada sesuatu yang terlintas di dalam hati. Menurut satu ungkapan, Nabi Dawud AS pernah mengatakan, Yaa Tuhan, bagaimana saya bersyukur kepada-Mu sedangkan syukurku kepada-Mu adalah nimat darimu. Maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya :Dawud sekarang Engkau telah bersyukur kepada-Ku. Demikian juga yang terjadi pada Nabi Musa AS ketika bermunajat kepada Allah, Yaa Allah Engkau telah menciptakan Nabi Adam dengan kekuasaan-Mu dan berbuat demikiandemikian. Bagaimana tentang syukurku ? Allah SWT berfirman, Adam mengetahui hal-hal itu dariKu. Oleh karena itu kemarifatannya merupakan syukur kepada-Ku. Menurut satu cerita, seorang laki-laki memasuki rumah Sahal bin AbduLlah. Dia mengadukan sesuatu kepadanya, Sesungguhnya seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mengambil barang
69 | Risalah Al Qusyairi

daganganku. Setelah itu pencuri mengatakan, Bersyukurlah kepada Allah SWT. Seandainya ada pencuri memasuki hatimu, sedang ia adalah setan kemudian ia merusak tauhidmu, apa yang harus kau kerjakan ? Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur kedua mata adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita lihat. Sedangkan yang dimaksud syukurnya kedua telinga adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita dengar. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah merasa senang dengan pemberian yang belum pernah didapatkan. Al-Junaid mengatakan, Syaikh Sariy apabila hendak menolongku dia bertanya kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, Wahai Abul Qasim, apa syukur itu ? Jangan meminta pertolongan agar mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT . Dari mana hal itu kau peroleh ? Dari tempat-tempat pengajianmu Menurut satu pendapat, Hasan bin Ali pernah metapkan syukur sebagai rukun. Dia juga pernah mengatakan, Ya Tuhan Engkau telah memberikan kenikmatan kepadaku, tetapi Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang bersyukur. Engkau telah memeberikan cobaan kepadaku, namun Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang sabar. Engkau tidak pernah menghilangkan kenikmatan hanya disebabkan tidak adanya syukur dan Engkau tidak pernah menimpakan kesusahan disebabkan tidak adanya sabar. Ya Tuhan tiada Dzat Yang Maha Mulia kecuali kemuliaan-Mu. Sebagian ulama mengatakan, apabila engkau perpendek tanganmu untuk menghindari balasan, maka panjangkanlah lisanmu dengan bersyukur. Menurut satu pendapat, ada empat perbuatan yang tidak menghasilkan buah. Pertama, orang tuli yang berbicara. Kedua, orang yang memberikan kenikmatan kepada orang yang tidak pernah bersyukur. Tiga, orang yang menanam biji-bijian di tanah yang keras. Ke empat, orang yang menyalakan lampu di tengah sinar matahari. Ketika Nabi Idris AS diberi ampunan, Beliau bertanya tentag kehidupan. Beliau kemudian balik ditanya oleh malaikat, Untuk apa?. Untuk mensyukurinya, karena sebelumnya saya tidak pernah berbuat untuk mendapatkan ampunan. Setelah itu Malaikat menurunkan sayapnya dan membawa Nabi Idris AS ke langit. Dalam cerita yang lain dijelaskan salah seorang dari para Nabi menemukan batu kecil yang mengeluarkan air begitu banyak. Dia sangat mengaguminya. Maka kemudian Allah SWT memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara. Saya pernah mendengar Allah SWT berfirman, Takutlah kepada api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan. (QS. Al-baqarah 24).
70 | Risalah Al Qusyairi

Saya (batu) menangis karena takut kepada Allah SWT. Kata sang batu. Nabi tersebut kemudian mendoakan agar Allah SWT menyelamatkan batu itu. Setelah itu Allah SWT menurunkan wahyu kepada sang Nabi, Aku telah menyelamatkan batu itu dari api neraka. Sang Nabi kemudian pergi. Dan setelah kembali dia melihat air masih memancar dari batu tersebut, karenanya sang Nabi merasa heran. Allah SWT kembali memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara. Maka Nabi lantas bertanya, Mengapa engkau masih menangis ? Allah SWT telah mengampuniku. Jawab sang batu. Nabi itu kemudian berkata seraya pergi, Yang pertama ia menangis karena berduka cita dan takut, sedangkan yang kedua ia menangis karena bersyukur dan bahagia. Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang mensyukuri kelebihan adalah orang yang mendapatkan kenikmatan. Allah SWT berfirman, Jika kamu bersyukur maka Aku Allah akan memberikan tambahan kepada kamu sekalian. (QS Ibrahim 7). Sedangkan yang dimaksud orang yang bersabar adalah orang yang mendapatkan cobaan. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Anfal 46). Sekelompok orang datang kepada Umar bin Abdul Aziz. Diantara mereka terdapat seorang pemuda yang sedang berpidato. Umar bin Abdul Aziz berkata, Hindarilah kesombongan. Dijawab, Seandainya urusan ini dikaitkan dengan umur, maka tentu diantara orang-orang Islam terdapat orang yang lebih berhak memegang jabatan khalifah, Jawab sang pemuda. Bicaralah. Kami bukan utusan raghbah (para pecinta) dan bukan pula termasuk rahbah (orang-orang yang takut kepada Allah). Yang dimaksud raghbah adalah orang-orang yang mendapatkan keutamaan, sedang yang dimaksud rahbah adalah orang yang mendapatkan keadilan. Siapa kalian sebenarnya? . Tanya khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kami adalah utusan syukur. Kami datang ke sini untuk bersyukur dan berpaling. Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS Kasihanilah hamba-hamba-Ku yang mendapatkan cobaan dan keselamatan. Bagaimana halnya dengan orang-orang yang selamat ? Tanya Musa AS. karena sedikitnya mereka bersyukur terhadap keselamatan yang telah Kuberikan .Jawab Allah. Menurut pendapat yang lain, memuji ditujukan kepada jiwa, sedangkan syukur ditujukan kepada kenikmatan panca indera. Menurut
71 | Risalah Al Qusyairi

sebagian ulama, memuji adalah permulaan dan bersyukur adalah tebusan. Dalam hadits sahih disebutkan bahwasanya permulaan orang yang dipanggil ke surga adalah orang-orang yang memuji Allah SWT dalam segala hal. Menurut sebagian yang lain memuji Allah SWT ditujukan kepada sesuatu yang diberikan, sedangkan syukur ditujukan kepada sesuatu yang dikerjakan. Syukur

Allah SWT berfirman, Jika kamu sekalian bersyukur, maka Aku (Allah) akan memberikan tambahan nikmat kepada kamu sekalian. Dari Yahya bin Yala dari Abu Khubab dari Atha diceritakan bahwa ia bertemu Aisyah RA bersama Ubaid bin Umair, lalu mengatakan, Berikanlah kami berita tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari RasuluLlah SAW yang pernah engkau lihat. Aisyah menangis lantas menjawab, Keadaan RasuluLlah yang mana yang tidak mengagumkan ? di waktu malam Beliau datang kepadaku. Beliau masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan dengan kulitnya. Beliau mengatakan, Wahahai putri Abu Bakar, tinggalkanlah diriku, saya sedang beribadah kepada Tuhanku. Saya ingin lebih dekat denganmu. Pintaku. Wanita agung ini lantas minta izin untuk mengambil gerabah air. Beliau berwudhu dan menuangkan air begitu banyak. Setelah itu RasuluLlah SAW berdiri dan mengerjakan shalat. Beliau menangis sehingga air matanya bercucuran sampai ke dadanya. Beliau ruku, sujud, dan mengangkat kepala dan masih dalam keadaan menangis. Beliau selalu seperti itu sampai Bilal datang, kemudian menyerukan azan untuk mengerjakan shalat. Aku bertanya kepada RasuluLlah SAW, Ya RasuluLlah SAW, apa yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang ? Beliau menjawab, Apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur. Kenapa saya tidak berbuat yang demikian, sedangkan Allah SWT menurunkan kepadaku ayat : Inna fii khalqissamaawaatisesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, perbedaan siang dan malam , kapal yang berlayar di lautan (membawa) barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air tersebut bumi yang telah mati, berkeliaran di atasnya tiap-tiap yang melata, angin

72 | Risalah Al Qusyairi

yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat bagi orang yang berfikir. (QS Al-Baqarah 164). Atas pandangan ini dapat ditarik pengertian bahwa Allah SWT selalu bersyukur, artinya Allah SWT akan membalas hamba-Nya yang bersyukur. Pembalasan ini dinamakan syukur sebagaimana firman Allah SWT : Dan pembalasan orang yang berbuat jahat adalah kejahatan yang setimpal. (QS. Asy-Syura 40) Menurut satu pendapat, bersyukurnya Allah SWT adalah memberikan pahala atas perbuatan pelakunya sebagaimana ungkapan bahwa hewan yang bersyukur adalah hewan yang gemuk karena selalu diberi makan. Hal ini dapat dikatakan bahwasanya hakikat syukur adalah memuji yang memberikan kenikmatan dengan mengingat kebaikannya. Bersyukurnya hamba kepada Allah SWT adalah memuji-Nya dengan mengingat kebaikan-Nya. Sedangkan syukurnya Allah SWT kepada hambanya bearti Allah SWT memuji kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah taat kepada Allah SWT sedangkann perbuatan baik Allah SWT terhadap hambanya adalah memberikan kenikmatan dengan memberikan pertolongan sebagai tanda syukur. Hakikat syukur bagi hamba adalah ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan. Syukur terbagi menjadi tiga, Pertama syukur dengan lisan. Yakni mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sikap merendahkan diri. Kedua, syukur dengan badan, yakni bersikap selalu sepakat dan melayani (mengabdi) kepada Allah SWT dengan konsisten menjaga keagungan-Nya. Syukur lisan adalah syukurnya orang berilmu, ini dapat direalisasikan dengan bentuk ucapan. Syukur dengan badan adalah syukurnya ahli ibadah. Ini dapat direalisasikan dengan bentuuk perbuatan. Syukur dengan hati adalah syukurnya orang ahli marifat. Ini dapat direalisasikan dengan semua hal ihwal hanya untuk Allah secara konsisten. Menurut Abu Bakar Al-Waraq, yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan pemberian dan menjaga kehormatan. Menurut Hamdun Al-Qashar yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan dirinya meskipun tidak diundang. Menurut Al-Junaid, yang dimaksud syukur adalah sebab, karena dia mencari dirinya yang telah memperoleh kelebihan. Dia selalu menghadap Allah SWT karena memperoleh bagian dirinya. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur adalah mengetahui kelemahan syukur itu sendiri. Ada yang berpendapat, bahwa syukur di atas syukur adalah lebih sempurna dari syukur itu sendiri. Artinya kita harus memperhatikan syukur karena merasa telah mendapatkan pertolongan dari Allah SWT berupa kenikmatan. Kita bersyukur di atas syukur dan bersyukur di atas syukurnya syukur sampai kepada sesuatu yang tidak ada puncaknya. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah menyandarkan
73 | Risalah Al Qusyairi

berbagai kenikmatan kepada Allah SWT dengan sikap merendah diri. Menurut Al-Junaid yang dimaksud syukur adalah tidak menganggap dirinya sendiri sebagai pemilik kenikmatan. Sedangkan menurut Ruwaim, yang dimaksud syukur adalah melepaskan kemampuan, merasa semua itu adalah pemberian Allah bukan atas usahanya sendiri. Menurut satu pendapat, yang dimaksud syakir orang yang bersyukur adalah orang yang mensyukuri sesuatu yang ada. Sedangkan yang dimaksud syakur (orang yang ahli bersyukur) adalah orang yang ahli mensyukuri sesuatu yang tidak ada. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, sedangkan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penolakan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adlah orang yang mensyukuri pencegahan. Menurut sebagian yang lain lagi, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, dan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri cobaan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri kemurahan, sedang yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penangguhan. Al-Junaid berkata, saya bermain di depan Syaikh Sarry As-Saqathi ketika aku berumur tujuh tahun. Di hadapannya terdapat sekelompok orang yang sedang membicarakan syukur. Dia mengatakan kepadaku, Wahai anak kecil, apa itu syukur ? Saya menjawab, Tidak mempergunakan nikmat untuk bermaksiyat kepada Allah SWT. Beliau mengatakan, Lisanmu hampir saja mendapatkan bagian dari Allah SWT. Kemudian Al-Junaid berkata, saya selalu menangis apabila mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Sariy. Menurut As-Syibly, yang dimaksud syukur adalah memperhatikan Dzat yang memberikan kenikmatan, bukan kepada kenikmatan-Nya. Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur adalah mengatur sesuatu yang telah ada mencari sesuatu yang belum ada. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur orang awam adalah orang yang bersyukur kepada yang memberikan makanan dan pakain. Sedangkan yang dimaksud syukurnya orang khawash adalah orang yang bersyukur kepada sesuatu yang terlintas di dalam hati. Menurut satu ungkapan, Nabi Dawud AS pernah mengatakan, Yaa Tuhan, bagaimana saya bersyukur kepada-Mu sedangkan syukurku kepada-Mu adalah nimat darimu. Maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya :Dawud sekarang Engkau telah bersyukur kepada-Ku. Demikian juga yang terjadi pada Nabi Musa AS ketika bermunajat kepada Allah, Yaa Allah Engkau telah menciptakan Nabi Adam dengan kekuasaan-Mu dan berbuat demikiandemikian. Bagaimana tentang syukurku ? Allah SWT berfirman, Adam mengetahui hal-hal itu dariKu. Oleh karena itu kemarifatannya merupakan syukur kepada-Ku. Menurut satu cerita, seorang laki-laki memasuki rumah Sahal bin AbduLlah. Dia mengadukan sesuatu kepadanya, Sesungguhnya seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mengambil barang
74 | Risalah Al Qusyairi

daganganku. Setelah itu pencuri mengatakan, Bersyukurlah kepada Allah SWT. Seandainya ada pencuri memasuki hatimu, sedang ia adalah setan kemudian ia merusak tauhidmu, apa yang harus kau kerjakan ? Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur kedua mata adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita lihat. Sedangkan yang dimaksud syukurnya kedua telinga adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita dengar. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah merasa senang dengan pemberian yang belum pernah didapatkan. Al-Junaid mengatakan, Syaikh Sariy apabila hendak menolongku dia bertanya kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, Wahai Abul Qasim, apa syukur itu ? Jangan meminta pertolongan agar mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT . Dari mana hal itu kau peroleh ? Dari tempat-tempat pengajianmu Menurut satu pendapat, Hasan bin Ali pernah metapkan syukur sebagai rukun. Dia juga pernah mengatakan, Ya Tuhan Engkau telah memberikan kenikmatan kepadaku, tetapi Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang bersyukur. Engkau telah memeberikan cobaan kepadaku, namun Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang sabar. Engkau tidak pernah menghilangkan kenikmatan hanya disebabkan tidak adanya syukur dan Engkau tidak pernah menimpakan kesusahan disebabkan tidak adanya sabar. Ya Tuhan tiada Dzat Yang Maha Mulia kecuali kemuliaan-Mu. Sebagian ulama mengatakan, apabila engkau perpendek tanganmu untuk menghindari balasan, maka panjangkanlah lisanmu dengan bersyukur. Menurut satu pendapat, ada empat perbuatan yang tidak menghasilkan buah. Pertama, orang tuli yang berbicara. Kedua, orang yang memberikan kenikmatan kepada orang yang tidak pernah bersyukur. Tiga, orang yang menanam biji-bijian di tanah yang keras. Ke empat, orang yang menyalakan lampu di tengah sinar matahari. Ketika Nabi Idris AS diberi ampunan, Beliau bertanya tentag kehidupan. Beliau kemudian balik ditanya oleh malaikat, Untuk apa?. Untuk mensyukurinya, karena sebelumnya saya tidak pernah berbuat untuk mendapatkan ampunan. Setelah itu Malaikat menurunkan sayapnya dan membawa Nabi Idris AS ke langit. Dalam cerita yang lain dijelaskan salah seorang dari para Nabi menemukan batu kecil yang mengeluarkan air begitu banyak. Dia sangat mengaguminya. Maka kemudian Allah SWT memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara. Saya pernah mendengar Allah SWT berfirman, Takutlah kepada api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan. (QS. Albaqarah 24).
75 | Risalah Al Qusyairi

Saya (batu) menangis karena takut kepada Allah SWT. Kata sang batu. Nabi tersebut kemudian mendoakan agar Allah SWT menyelamatkan batu itu. Setelah itu Allah SWT menurunkan wahyu kepada sang Nabi, Aku telah menyelamatkan batu itu dari api neraka. Sang Nabi kemudian pergi. Dan setelah kembali dia melihat air masih memancar dari batu tersebut, karenanya sang Nabi merasa heran. Allah SWT kembali memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara. Maka Nabi lantas bertanya, Mengapa engkau masih menangis ? Allah SWT telah mengampuniku. Jawab sang batu. Nabi itu kemudian berkata seraya pergi, Yang pertama ia menangis karena berduka cita dan takut, sedangkan yang kedua ia menangis karena bersyukur dan bahagia. Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang mensyukuri kelebihan adalah orang yang mendapatkan kenikmatan. Allah SWT berfirman, Jika kamu bersyukur maka Aku Allah akan memberikan tambahan kepada kamu sekalian. (QS Ibrahim 7). Sedangkan yang dimaksud orang yang bersabar adalah orang yang mendapatkan cobaan. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Anfal 46). Sekelompok orang datang kepada Umar bin Abdul Aziz. Diantara mereka terdapat seorang pemuda yang sedang berpidato. Umar bin Abdul Aziz berkata, Hindarilah kesombongan. Dijawab, Seandainya urusan ini dikaitkan dengan umur, maka tentu diantara orang-orang Islam terdapat orang yang lebih berhak memegang jabatan khalifah, Jawab sang pemuda. Bicaralah. Kami bukan utusan raghbah (para pecinta) dan bukan pula termasuk rahbah (orang-orang yang takut kepada Allah). Yang dimaksud raghbah adalah orang-orang yang mendapatkan keutamaan, sedang yang dimaksud rahbah adalah orang yang mendapatkan keadilan. Siapa kalian sebenarnya? . Tanya khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kami adalah utusan syukur. Kami datang ke sini untuk bersyukur dan berpaling. Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS Kasihanilah hamba-hamba-Ku yang mendapatkan cobaan dan keselamatan. Bagaimana halnya dengan orang-orang yang selamat ? Tanya Musa AS. karena sedikitnya mereka bersyukur terhadap keselamatan yang telah Kuberikan .Jawab Allah. Menurut pendapat yang lain, memuji ditujukan kepada jiwa, sedangkan syukur ditujukan kepada kenikmatan panca indera. Menurut sebagian

76 | Risalah Al Qusyairi

ulama, memuji adalah permulaan dan bersyukur adalah tebusan. Dalam hadits sahih disebutkan bahwasanya permulaan orang yang dipanggil ke surga adalah orang-orang yang memuji Allah SWT dalam segala hal. Menurut sebagian yang lain memuji Allah SWT ditujukan kepada sesuatu yang diberikan, sedangkan syukur ditujukan kepada sesuatu yang dikerjakan.

Yakin Orang-orang yang beriman kepada (kitab) yang diturunkan kepada Engkau (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelmum Engkau, sedang mereka yakin akan adanya hari akhir. (QS Al-Baqarah 4). Dari AbduLlah bin Masud diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, Engkau tentu tidak akan rela kepada seseorang sebab kemurkaan Allah kepada mereka. Dan tiadalah engkau memuji seseorang atas keutamaan Allah Taala yang diberikan kepada mereka. Dan engkau tidak akan mencela seseorang atas apa yang tidak diberikan Allah kepadamu. Karena sesungguhnya rizki Allah Taala, kelobaan orang yang loba tidak akan dapat menghalanginya darimu, dan kebencian orang yang benci tidak akan mampu menolaknya. Karena sesungguhnya Allah Taala dengan sifat adil-Nya menjadikan kebahagiaan dan kesenangan dalam kerelaan dan keyakinan, dan menjadikan kesusahan dan dukacita dalam keraguan dan kemurkaan. Ahmad bin Ashim Al-Anthaki mengatakan, Sesungguhnya sesedikit apapun yakin apabila sudah sampai ke lubuk hati maka hati akan penuh dengan cahaya, keragu-raguan akan hilang, hati akan penuh dengan syukur, dan bertambah takut kepada Allah. Diriwayatkan dari Abu Jafar Al-Hadad yang mengatakan bahwa Abu Thurab An-Nakhsyaby pernah melihatku ketika aku sedang duduk di tengah padang pasir dekat kolam ikan, sedangkan saya selama 16 hari belum makan dan minum. Bagaimana posisimu saat ini ? Tanya Abu Thurab kepadaku. Saya sedang diantara ilmu dan yakin. Saya sedang menungu sesuatu yang dapat mengalahkan sehingga saya dapat bersamanya, yakni apabila ilmu yang menang maka saya akan minum, dan apabila yakin

77 | Risalah Al Qusyairi

yang

menang akan

maka tetap

saya seperti

akan itu.

pergi. Katanya.

Keadaanmu

Menurut Abu Utsman Al-Hirri, yang dimaksud yakin adalah sedikitnya cita-cita bagi masa yang akan datang. Menurut Sahal bin AbduLlah, yakin merupakan tambahan iman dan realitas kebenaran. Dia juga berpendapat, yakin merupakan cabang dari ima, bukan pembenaran. Sedangkan menurut sebagian ulama, yakin adalah ilmu yang tersimpan di dalam hati. Ungkapan ini memberikan petunjuk kepada hal-hal yang tidak perlu diusahakan. Sahal bin AbduLlah mengatakan, permulaan yakin adalah terbukanya tabir rahasia. Oleh karena itu sebagian ulama salaf mengatakan, apabila tabir penutup telah terbuka, maka keyakinan akan bertambah, pertolongan Allah akan didapatkan, musyahadah akan dapat dioptimalkan. Menurut Abu AbdiLlah bin Khafif yang dimaksud yakin adalah nampaknya berbagai rahasia melalui penerapan hukum-hukum yang implisit. Menurut Abu Bakar bin Thahir, ilmu selalu bertentangan dengan keragu-raguan sedangkan yakin tidak mendatangkan keragu raguan. Dia memberikan sinyalemen tentang hal itu pada ilmu kasbi (yang diusahakan) dan hal-hal yang berlaku untuk sesuatu yang badhii (riil). Oleh karena itu ilmu yang dimiliki oleh orang dalam permulaan merupakan urusan ilmu kasbi (yang diusahakan) sedangkan yang akhir merupakan urusan badhii. Muhammad bin Husain mengatakan, Sebagian ulama menyebutkan permulaan tempat (maqam) adalah marifat, kemudian yakin, pembenaran, ikhlas, persaksian, kemudian taat. Iman adalah nama yang mencakup keseluruhan. Ini dapat dijadikan indikasi bahwa permulaan wajib adalah marifat kepada Allah SWT. Marifat tidak aakn terealisir kecuali mendahulukan syarat-syaratnya. Ini dapat disebut pandangan yang benar. Apabila argumrntasi dapat teraplikasi dan keterangan dapat terealisir, maka pandangan yang benar akan menjadi optimal sejalan dengan aplikasi cahaya dan realisasi analisa seperti orang yang tidak membutuhkan analisa argumentasi. Inilah yang disebut keadaan yakin. Membenarkan Allah SWT terhadap apa apa yang telah diinformasikan adalah mendengarkannya untuk memenuhi ajakan terhadap apa yang telah disampaikan melalui perbuatan di masa yang akan datang, karena pembenaran akan terwujud dalam bentukbentuk yang bersifat informatif. Ikhlas selalu terkait dengan hal-hal

78 | Risalah Al Qusyairi

yang diikuti pelaksanaan perintah. Memenuhi ajakan dapat direalisasikan dengan persaksian yang baik. Pelaksanaan taat dapat dioptimalkan dengan tauhid (menyatu) dengan apa-apa yang diperintah dan menghindari apa-apa yang dilarang. Pengertian ini dapat dijadikan indikasi oleh Imam Abu Bakar Furak sebagaimana ungkapannya, dzikir lisan merupakan kelebihan yang akan memenuhi hati. Menurut Sahal bin AbduLlah, diharamkan bagi hati mencela semerbak baunya hati karena ketenangan di dalam hati tidak tidak akan tertuju kepada Allah SWT. Menurut Dzunun Al-Mishri, yakin akan mendorong pendeknya angan-angan dan cita-cita, cita-cita yang pendek akan mendorong zuhud, zuhud akan memberikan hikmah, dan hikmah akan memberikan pandangan kritis yang membawa akibat yang baik. Dia juga berpendapat ada tuga bentuk dari tanda-tanda yakin. Pertama, sedikit pergaulan dalam bermasyarakat. Kedua, meninggalkan pujian dalam pemberian. Ketiga, tidak mencela orang lain apabila mendapatkan rintangan. Juga terdapat tiga bentuk dari tanda yakinnya yakin. Pertama, memandang Allah SWT dalam segala sesuatu. Kedua, kembali kepada Allah SWT dalam segala urusan. Ketiga, meminta pertolongan kepada Allah SWT dalam segala hal. Menurut Al-Junaid RA yang dimaksud yakin adalah ilmu yang stabil dan tidak berbolak-balik, tidak berpindah-pindah dan tidak nerunah-ubah di dalam hati. Sedangkan menurut Ibnu atha, atas kadar kedekatan mereka kepada taqwa, maka mereka akan menemukan yakin sebagaimana yang telah mereka temukan. Pondasi takwa adalah meninggalkan larangan, berarti meninggalkan hawa nafsumaka mereka akan sampai kepada yakin. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud yakin adalah mikasyafah (rahasia terbukanya tabir). Mukasyafah terbagi menjadi tiga. Pertama mukasyafah terhadap hal-hal yang baik. Kedua, mukasyafah dengan menampakkan kemampuan. Ketiga, mukasyafah hati dengan esensi keimanan. Perku diketahui bahwa mukasyafah dalam pembahasan ulamamerupakan pelajaran yang dapat merealisasikan sesuatu dalam hati dengan mengatur ingatan tanpa menimbulkan keragu-raguan. Terkadang mereka hendak bermukasyafah dengan hal-hal yang dekat yang dapat terlihat diantara keadaan jaga dan tidur. Akan tetapi kebanyakan diantara mereka meredaksionalkan hal itu dengan tidur.

79 | Risalah Al Qusyairi

Syaikh Imam Al-Qusyairi mendengar dari Al-Imam Abu Bakar bin Furak yang mengatakan, bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Utsman AlMaghribi, Apa yang ingin engkau katakan. Saya telah melihat pribadi-pribadi orang demikian....demikian.... jawab Abu Utsman. Apakah engkau melihat dengan muayyanah (penglihatan mata secara alngsung) atau mukasyafah (penglihatan mata hati) ?. Dengan mukasyafah. jawabnya

Menurut Amir bin Qais, seandainya tertutupnya rahasia telah terbuka, maka keyakinan akan menjadi bertambah. Menurut satu pendapat, yang dimaksud yakin adalah melihat benada yang nyata dengan kekuatan iman. Sedangkan pendapat lain menyebutkan, ayng dimaksud yakin adalah hilangnya segala hal yang bertentangan di dalam hati. Menurut Al-Junaid yang dimaksud yakin adalah hilangnya keraguraguan di hadapan Allah SWT. Saya (syaikh Al-Qusyairi) telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mnegungkapkan sabda Nabi Muhammad SAW tentang Nabi Isa bin Maryam AS, Apabila Nabi Isa bertambah yakin, niscaya ia akan mampu berjalan di udara. Beliau memberi petunjuk tentang hal itu terhadap keadaan Nabi Muhammad SAW sendiri yang telah mampu berjalan di malam miraj . di dalam kitab lathifal-Miraj dijelaskan, Saya melihat Buraq sedang menunggu lantas saya berangkat. Syaikh Sary As-Saqathi perbah ditanya tentang yakin, beliau menjawab, yang dimaksud yakin adalah ketenangan dirimu ketika mengelilingi jalur-jalur yang ada di dalam dadamu untuk meyakinkan bahwa gerakanmu di dalam dada tidak akan memberikan pertolongan dan tidak akan pula dapat menolak apa yang telah ditetapkan. Menurut Sahal bin AbduLlah, hati yang hadlir di hadapan Allah SWT lebih utama daripada yakin karena hadir ibarat tempat perlindungan sedangkan yakin ibarat pemikiran. Seakan-akan yakin dijadikan sarana untuk memulai hadlir , sedangkan hadlir merupakan kontinuitas yang abadi. Demikian juga seakan-akan hasil dari yakin diperbolehkan lepas dari hadlir dan dapat mentransfer kebolehan hadlir tanpa yakin. Oleh
80 | Risalah Al Qusyairi

karena itu Imam Nawawi mengatakan, yakin adalah musyahadah, yakni di dalam musyahadah terdapat yakin yang tidak menimbulkan keragu-raguan, kareana ia akakn disaksikan oleh orang yang tidak mempercayai tempat perlindungannya. Sedangkan menurut Abu Bakar Al-Waraq, yakin diibaratkan raja yang ada di dalam hati. Dengan yakin iman akan menjadi sempurna, dan Allah SWT akan diketahui, dan dengan akal Allah SWT akan dimengerti. Menurut Al-Junaid, para pemimpin berjalan di atas air dengan yakin, sedangkan orang yang meninggal dunia karena kehausan lebih utama keyakinannya daripada mereka. Ibrahim Al-Khawas bercerita, Saya bertemu seseorang pemuda di padang Tih, seakan-akan ia tampak seperti sebatang perak. Engkau Hendak hendak ke mana ke wahai pemuda ? tanyaku. Makkah.

Apakah engkau berjalan tanpa membawa bekal, kendaraan dan nafkah ?. Dia menjawab, Wahai orang yang lemah keyakinan, Dzat Yang mampu menjaga langit dan bumi, apakah Dia tidak akan mampu mengantarkan diriku ke Makkah tanpa ketergantungan ?. Ketika saya memasuki Makkah tiba-tiba saya berada di tempat tawaf, dan pemuda itu bersyair : Wahai Wahai Jangan Kecuali Dzat mataku jiwa kau Yang yang kematianku terkelupas yang selamanya. berdukacita seseorang. dan Mulia.

mencintai Maha Agung

Ketiak dia melihat diriku, dia mengatakan kepadaku, apakah engkau selalu lemah keyakinan ?

81 | Risalah Al Qusyairi

Menurut Ishaq an-Nahr Jauri, apabila seorang hamba telah menyempurnakan hakikat yakin, maka cobaan akan menjadi kenikmatan dan kemudahan akan menjadi musibah. Menurut Abu Bakar Muhammad Al-Waraq, yakin terbagi menjadi tiga, Pertama yakin kepada kabar (yaitu ilmu yang dihasilkan dari khabar para Nabi SAW tentang sesuatu yang ghaib dari kesaksiannya berupa surga, neraka dan berbagai keadaan di hari kiyamat). Kedua yakin kepada petunjuk atau bukti (yaitu ilmu atau keyakinan yang dihasilkan dengan pemikiran yang berdasarkan dalil tentang kejadian alam, dan semuanya itu menunjukkan kebaruannya, kesempurnaan-Nya, kesempurnaan sifatsifat-Nya, ketiga yakin kepada persaksian (ilmu). Abu Thurab An-Nakhsyabi mengataakn, Saya pernah emlihat seorang pemuda di padang pasir yang berjalan tanpa membawa bekal. Saya bergumam, apabila pemuda itu tidak mempunyai keyakinan, maka ia akan meninggal dunia. Lantas saya bertanya, Wahai pemuda, apakah di tempat seperti ini engkau tidak membawa bekal ?. Dia menjawab, Wahai orang tua, angkatlah kepalamu apakah engkau emlihat selain Allah SWT ? Saya mengatakan, pergilah sekehendakmu.

Abu Said Ahmad Al-Kharaz mengatakan, yang dimaksud ilmu adalah sesuatu yang dapat memberikan pekerjaan kepadamu, sedangkan yang dimaksud yakin adalah sesuatu yang dapat mengantarkan dirimu (pada apa yang engkau harapkan). Ibrahim AL-Khawas mengatakan, Saya mencari penghidupan untuk mendapatkan makanan yang halal. Lantas saya berburu ikan. Suatu hari saya terjatuh ke dalam jala yang di dalamnya terdapat ikan. Ikan itu saya keluarkan dan jalanya saya lemparkan ke dalam air. Setelah itu saya terjatuh lagi ke dalam jala yang di dalamnya terdapat ikan yang lain. Ikan itu lantas saya lemparkan. Kejadian itu berulang-ulang sehingga ada suara ghaib mengatkan kepadaku, Engkau tidak akan menemukan penghidupan kecuali engkau datang kepada orang yang ingat kepada kami lantas engkau bunuh mereka. Setelah itu saya pecahkan kayu (alat untuk berburu) dan aku tinggalkan binatang buruan

82 | Risalah Al Qusyairi

Sabar Allah SWT berfirman, Washbir, mawaa shabruka illa biLlaah yang artinya, Sabarlah engkau yaa Muhammad, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah. (An-Nahl 27). Dari Aisyah RA, diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Inna shabra inda shadmatil uula. Sesungguhnya sabar yang sempurna itu pada pukulan yang pertama. Dari sahabat Anas bin Malik diriwayatkan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Sabar yang paling sempurna adalah pada pukulan (ketika menghadapi cobaan) yang pertama. Sabar itu terbagi menjadi dua, yaitu sabar yang berkaitan dengan usaha hamba dan sabar yang tidak berkaitan dengan usaha hamba. Sabar yang berkaitan dengan usaha hamba terbagi menjadi dua, yaitu sabar terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan sabar terhadap apa yang dilarangNya. Sedang sabar yang tidak berkaitaan dengan usaha adalah sabar terhadap penderitaan yang terkait dengan hukum karena mendapatkan kesulitan. Al- Junaid mengatakan, Perjalanan dari duniia menuju akhirat adalah mudah dan menyenangkan bagi orang yang beriman. Putusnya hubungan makhluk di sisi Allah SWT adalah berat. Perjalanan dari diri sendiri menuju kepada Allah SWT adalah berat. Dan sabar kepada Allah SWT tentunya akan lebih berat. Beliau ditanya tentang sabar lalu menjawab, Menelan kepahitan tanpa bermasam muka. Menurut Ali bin Abi Thalib, sabar merupakan bagian dari iman sebagaimana kepala merupakan bagian dari tubuh. Menurut Abul Qasim, yang dimaksud firman Allah SWT,Sabarlah engkau (yaa Muhammad) adalah pondasi ibadah. Sedangkan firman Allah SWT,tiada kesabaranmu kecuali dengan pertolongan Allah. Adalah ubudiyah (penghambaan). Barang siapa yang naik dari satu derajat ke derajat yang lain karena pertolongan Allah maka dia pindah dari derajat kaidah menuju derajat ubudiyah. RasuluLlah SAW bersabda, BiKa ahya wa biKa amuut . dengan pertolongan-Mu aku hidup, dan dengan pertolongan-Mu aku mati. Abu Sulaiman pernah ditanya tentang sabar, dia menjawab, Demi Allah kami tidak bersabar terhadap apa yang kami cintai, maka bagaimana kami bersabar terhadap apa yang kami benci ? Menurut Dzunun Al-Mishri, yang dimaksud sabar adalah menjauhi halhal yang bertentangan, bersikap tenang ketika menelan pahitnya cobaan dan menampakkan sikap kaya dengan menyembunyikan

83 | Risalah Al Qusyairi

kefakiran di medan kehidupan. Menurut Ibnu Atha, yang dimaksud sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap berperilaku yang baik. Menurut satu pendapat, yang dimaksud sabar adalah orang yang sangat sabar yaitu orang yang mengembalikan pada dirinya terhadap sesuatu yang dibenci ketika menghadapi serangan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap bersikap baik dalam pergaulan sebagaimana ketika dalam keadaan sehat (selamat). Allah SWT berfirman, Dan akan Kami balas orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari pada apa yang mereka usahakan. (An-Nahl 96). Menurut Amr bin Utsman, yang dimaksud sabar adalah tetap bersama Allah SWT dan menerima cobaan-Nya dengan lapang dada dan senang hati. Menurut Ibrahim Al-Khawash yang dimaksud sabar adalah tetap konsisten dengan hukum-hukum al-Quran dan As-Sunah. Menurut Yahya kesabaran orang-orang yang cinta kepada Allah SWT lebih kuat daripada kesabaran orang-orang yang zuhud Syair : Sabar akan menghiasi dengan keindahan Di seluruh tanah air Sabar tidak akan terhiasi dengan keindahan Kecuali hanya bila tertuju pada-Mu Menurut Ruwaim, yang dimaksud sabar adalah meninggalkan keluhan. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud sabar adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT. Syair : Saya akan bersabar agar Engkau rela Saya lenyapkan rasa keluh kesah Agar Engkau juga rela Saya merasa cukup Apabila sabarku Telah melenyapkan diriku. Menurut abduLlah bin Khafif sabar terbagi menjadi tiga yaitu orang yang menerima sabar, orang yang sabar, orang yang sangat sabar. Menurut Ali bin Abi Thalib, sabar ibarat binatang kendaraan yang tidak pernah jatuh tersungkur. Ali bin AbdiLlah Al-Bashri mengatakan bahwa seorang laki-laki berhenti di depan As-Syibli seraya bertanya, Sabar yang bagaimana yang lebih kuat atas orang-orang yang sabar?
84 | Risalah Al Qusyairi

Sabar di dalam Allah SWT. Bukan. Sabar untuk Allah SWT Bukan. Jadi sabar yang bagaimana As-Sybli balik bertanya. Sabar menghindarkan diri dari Allah SWT. Setelah itu As-Syibli berteriak yang menyebabkan ruh-nya hampir saja lenyap. Menurut Abu Muhammad Ahmad Al-Jariri yang dimaksud sabar adalah tidak memisahkan antara kenikmatan dan ujian dengan pemikiran yang tenang, sedangkan yang dimaksud penerimaan sabar adalah tenang menghadapi cobaan dengan mendapatkan beratnya ujian. Sebagian ulama mengatakan : saya bersabar tetapi saya belum mengetahui keinginan-Mu atas sabarku saya sembunyikan dari-mu apa-apa yang terkait denganku dari tempat sabar karena hati nuraniku takut mengeluh pada kerinduanku terhadap air mataku secara rahasia sehingga ia tetap mengalir, dan sayapun tidak mengetahui. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Yang dimaksud firman Allah SWT, Ishbiruu washabiruu warabithuu, Sabarlah, dan sabarkanlah, dan berjagalah kamu sekalian. (Ali Imran 200). Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud ayat ini adalah sabarlah dengan diri kamu sekalian untuk taat kepada Allah SWT, sabarlah dengan hati kalian untuk menerima cobaan-Nya, dan sabarlah dengan tabir rahasia hati kalian untuk rindu kepada-Nya. Sedangkan menurut sebagian ulama yang lain yang dimaksud ayat itu adalah sabarlah kalian karena Allah SWT, sabarlah kalian dengan-Nya, dan bersabarlah kalian bersama-Nya. Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud AS, Ber budi pekertilah dengan budi pekerti-Ku, sesungguhnya sebagian dari budi pekerti-Ku adalah sangat sabar. Dalam ungkapan lain disebutkan, telanlah kesabaran. Apabila Allah SWT mematikanmu maka Dia akan mematikanmu dengan mati syahid. Apabila Allah SWT menghidupkanmu maka Dia akan menghidupkanmu dengan kemuliaan.
85 | Risalah Al Qusyairi

Menurut sebagian ulama, sabar karena Allah SWT adalah suatu kelelahan, sabar dengan Allah SWT adalah ketetapan, sabar di hadapan Allah SWT adalah cobaan, sabar bersama Allah SWT adalah pemenuhan, dan sabar menghindar dari Allah SWT adalah kehanyutan. Syair : Sabar menghindarkan diri dari-Mu Akan mengabkibatkan tercela Sedangkan sabar dalam segala hal Akibatnya terpuji Bagaimana sabar dari orang yang tinggal di sampingku Dengan menempati yang kanan dari pada yang sebelah kiri Apabila orang yang bersendau gurau Dengan segala sesuatu Maka saya telah melihat kecintaan Yang bersendau gurau dengan orang lain Menurut sebagian yang lain, sabar mencari adalah tanda keberhasilan, sedangkan sabar menerima ujian adalah tanda kebahagiaan. Menurut yang lain, yang dimaksud menyabarkan diri adalah sabar di atas sabar sehingga dapat mencakup sabar di dalam sabar dan melemahkan sabar dari sabar sebagaimana diungkapkan dalam syair : Orang yang sabar di Akan dimintai Oleh orang yang Sehingga orang Menyebutnya dengan sebutan sabar pertolongan sangat sabar yang cinta sabarnya sabar dalam

Menurut satu cerita, Asy-Syibli dicegat ditengah perjalanan di daerah Maratsani. Sekelompok orang datang kepadanya. Siapa kalian. Tanya Asy-Syibli. Para kekasihmu yang sedang beraziarah kepadamu. Kemudian beliau melemparkan batu kepada mereka sehingga mereka lari. Beliau mengatakan kepada mereka, Wahai orang-orang pembohong, jika kalian para kekasihku, maka tentu engkau akan sabar menerima cobaanku. Di dalam sebagian hadits disebutkan, Dengan penjagaan Mata-Ku (Allah), orang-orang yang sabar sebenarnya tidak bersabar untukku. Allah SWT berfirman, Bersabarlah engkau kepada hukum Tuhanmu, sesungguhnya engkau dalam penjagaan Kami. (At-Thuur 48).
86 | Risalah Al Qusyairi

Sebagian ulama mengatakan, saya berada di Makkah, saya melihat orang fakir mengelilingi BaituLlah. Dia mengeluarkan Ruqah (semacam azimat atau bungkusan yang berisi tulisan) dari dalam sakunya. Dia melihat ruqah itu lalu pergi. Esok hari ia berperilaku seperti itu, beberapa hari saya memperhatikannya. Dia selalu mengerjakan hal itu setiap hari untuk kepentingannya sendiri. Suatu hari ia berkeliling dan melihat ruqahnya. Sedikit demi sedikit ia menjauh lantas terjatuh dan meninggal dunia. Ruqah itu kemudian saya keluarkan dari dalam sakunya. Ternyata di dalam ruqah itu berisikan firman Allah SWT,Bersabarlah engkau terhadap hukum Tuhanmu sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami. (At-Thuur 48). Sebagian ulama lain mengatakan, saya memasuki negara India. Saya melihat seorang laki-laki menggunakan satu mata. Orang-orang memberikan nama kepadanya si Fulan yang sangat sabar. Saya bertanya kepada mereka tentang keadaannya, lantas dijawab bahwa ketika dia menginjak awal remaja, saat teman-temannya hendak bepergian dia keluar dari tempat tinggalnya. Salah satu dari kedua matanya melelehkan air mata, sedang mata yang satunya tidak menangis. Dia mengatakan kepada mata satunya yang tidak melelehkan air mata, Kenapa engkau tidak melelehkan air mata atas perpisahan temanku? Saya tentu akan mengharapkanmu untuk melihati dunia. Dia memejamkan matanya selama dua tahun tanpa pernah membukanya. Menurut satu pendapat, yang dimaksud firman Allah SWT, Bersabarlah engkau dengan sabar yang baik. (Al-Maarij 5) adalah sabar yang benar sehingga orang yang tertimpa musibah di tengah-tengah masyarakat tidak dapat diketahui. Umar bin Khatab pernah mengatakan, seandainya sabar dan syukur diibaratkan dua ekor unta, maka saya tidak peduli mana diantara keduanya yang akan saya naiki. Dalam satu ungkapan, Ibnu Syibrimah apabila mendapat cobaan dia mengatakan, Sekarang berawan, besok ia akan hilang. Di dalam hadits pernah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang Iman beliau menjawab, As-shabru wassamaahah. Sabar dan toleransi. Syaikh Sary pernah ditanya tentang sabar. Ketika beliau hendak menjawab, kaki beliau dihinggapi kalajengking yang menyengat berulang-ulang. Beliau tetap diam dan tak bergerak. Beliau ditanya, mengapa kalajengking itu tidak kau jauhkan dari kakimu ?. beliau menjawab, Saya malu kepada Allah SWT membicarakan sabar sementara saya belum bisa bersabar.
87 | Risalah Al Qusyairi

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang-orang fakir yang bersabar adalah tamu-tamu Allah SWT di hari kiyamat. Dalam suatu cerita Allah SWT menurunkan wahyu kepada sebagian NabiNya,Cobaan-Ku telah Aku turunkan kepada sebagian hamba-Ku kemudian ia berdoa kepada-Ku, tetapi Aku tidak mengabulkannya. Kemudian ia mengeluh kapada-Ku. Aku berfirman kepada-Nya, wahai hamba-Ku, bagaimana Aku dapat mengasihimu dengan suatu pemberian sehingga Aku akan mengasihimu. Arti firman Allah SWT, Dan Aku jadikan mereka pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka mau bersabar. Ayat itu, kata Ibnu Uyainah, adalah ketika mereka menghendaki suatu pemimpin dalam suatu urusan, maka Kami jadikan ia (orang yang sabar) sebagai pemimpinnya. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan, yang dimaksud pembatasan sabar adalah tidak merintangi takdir. Apabila menampakkan cobaan tanpa mengeluh atau mengadu, maka bukan berarti hal itu menikadakan sabar. Allah SWT berfirman tentang kisah Nabi Ayub AS, Sungguh Kami mendapati Ayub sebagai orang yang sabar, Dia adalah sebaik-baik hamba. (Shad 44). Ayat ini ditopang oleh ifrman-Nya, yang lain seperti perkataan Nabi Ayub AS,Kemelaratan telah menimpa diriku (Al-Anbiya 83). Dari ungkapan ini dapat ditafsirkan bahwa maksudnya adalah,Kemelaratan telah menimpa diriku agar Engkau memberikan kesenangan kepada orang-orang yang lemah. Menurut sbagian ulama, ayat yang berbunyi, sungguh Kami mendapati Ayub sebagai orang yang sabar. Bukan dengan kata seorang yang sangat sabar karena semua kondisi Ayub tidak dapat disamakan dengan sabar. Sebaliknya semua kondisinya telah berubah menjadi nimatnya musibah. Sehingga dalam kondisi nimat maka tidak dapat diklasifikasikan sebagai orang yang sangat sabar . Oleh karena itu Allah SWT tidak berfirman sebagai orang yang sangat sabar. Uastadz Abu Ali Ad-Daqaaq berkata, Hakikat sabar adalah menghindarkan diri dari cobaan dan menerima apa yang telah menimpanya seperti Nabi Ayub AS beliau tetap mengatakan di akhir cobaannya, Kemelaratan telah menimpa diriku, sedang Engkau lebih pengasih dari segala yang pengasih (Al-Anbiya 83). Dia menjaga etika berbicara dengan mengatakan Engkau lebih pengasih dari segala yang pengasih tidak mengatakan, Kasihanilah aku. Perlu diketahui bahwa sabar itu tebagi menjadi dua, yaitu kesabaran orang yang beribadah, dan kesabaran orang yang cinta. Sebaik-baik sabar orang yang beribadah adalah terjaga. Dan sebaik baik kesabaran
88 | Risalah Al Qusyairi

orang yang cinta adalah tertinggal. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Nabi Yaqub telah mengoptimalkan perjanjian sabar dengan dirinya sendiri dengan mengatakan, Asshabrun jamiil Namun ketika tidak mendapatkannya, beliau mengatakan, Aduh alangkah duka citaku mengenang yusuf. Al Muroqobah Allah SWT berfirman, Wa kaanaLlaahu alaa kulli syaiin raqiibaa. Dan sesungguhnya Allah SWT Maha mengawasi atas segala sesuatu. Malaikat Jibril AS datang menemui RasuluLlah SAW dalam bentuk rupa seorang laki-laki. Yaa Muhammad, apa itu iman. Tanya Jibril. Percaya kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, dan takdir baik dan buruknya, dan hari akhir. Engkau benar. Para sahabat yang menyaksikan keadaan tersebut merasa heran, bagaimana mungkin orang yang bertanya ia sendiri yang membenarkannya. Bukankah ia datang untuk bertanya, tetapi mengapa terkesan menggurui RasuluLlah SAW. Di tengah keheran para sahabat, lelaki itu kembali bertanya, Berilah aku penjelasan tentang islam. RasuluLlah SAW menjawab, Bersyahadat, Menegakkan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan hajji ke BaituLlah. Benar Engkau, berilah aku penjelasan tentang ihsan. RasuluLlah ASW menjawab, Beribadah kepada Allah SWT seakan-akan engkau melihat-Nya. Aapabila engkau tidak dapat melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu. Engkau benar. Jawab Jibril kemudian pergi. Ungkapan sabda RasuluLlah SAW Jika engkau tidak dapat melihat Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu. Adalah merupakan isyarat tentang muraqabah (pengawasan). Muraqabah adalah ilmu hamba untuk melihat Allah SWT. Sedangkan yang konsisten terhadap ilmu itu adalah yang mengawasi (menjaga atau merasa bahwa dirinya selalu diawasi sehingga membentuk sikap yang selalu awas terhadap hukum-hukum Allah SWT. Ini adalah dasar dari segala kebajikan. Orang tidak akan sampai pada tingkatan ini kecuali setelah menyelesaikan pengawasan (penjagaan-terhadap dirinya sendiri). Apabila seseorang mengawasi dirinya sendiri terhadap apa-apa yang telah lampau, memperbaiki keadaannya di masa sekarang, maka ia akan selalu berada di jalan yang benar, mengadakan perhubungan dengan Allah SWT secara baik sambil menjaga hati, memelihara nafs agar selalu berhubungan dengan-Nya, memeliharanya dalam segala hal, maka ia akan mengetahui bahwa Allah SWT adalah

89 | Risalah Al Qusyairi

Dzat Maha Pengawas dan Dzat Yang Maha Dekat dengan dirinya. Allah SWT mengetahui keadaannya, melihat perbuatannya, dan mendengar ucapannya. Barang siapa yang melupakan semua itu maka ia akan terlepas dari taraf permulaan keterhubungan dengan-Nya. Lalu bagaimana tentang hakikat Dekat / Al qurb. Ahmad Al Jariri mengatakan, barang siapa yang tidak memperkuat taqwa dan pengawasan antara dirinya dan Allah SWT, maka ia tidak akan sampai kepada mukasyafah (terbukanya tabir rahasia) dan musyahadah (persaksian dengan-Nya). Al-Kisah, ada seorang raja yang memiliki budak yang sering menghadap kepadanya jika dibandingkan dengan budak-budak yang lain. Kebanyakan mereka tidak semahal dan seistimewa budak yang satu ini. Mereka mengungkapkan hal itu kepada raja, maka rajapun kemudian menjelaskan kepada mereka tentang keutamaan budak itu dalam hal pelayanan-nya kepada raja jika dibandingkan dengan budak yang lain. Pada suatu hari budak itu berada di atas kendaraan kuda bersamasama dengan raja, melewati sebuah gunung yang dipenuhi salju. Sang raja melihat salju-salju itu dan kemudian menundukkan kepalanya. Seketika itu pula sang budak memacu kudanya menuju ke arah salju yang dilihat raja. Orang-orang tidak mengerti mengapa budak itu tibatiba pergi ke arah salju. Sang budak terus saja memacu kudanya mendaki gunung yang penuh salju hingga ketika sampai di puncak ia mengambil salju itu dan dibawanya untuk diberikan kepada raja. Sang raja berkata kepadanya, Apa yang membuatmu tahu bahwa saya menghendaki salju ? Dia menjawab, Karena tuan melihat salju itu. Tak lama kemudian pandangan raja menerawang seraya mengatakan, Dia aku berikan keistimewaan karena telah memuliakan diriku dan selalu hadir dalam diriku. Tiap-tiap orang memiliki kesibukan sendirisendiri sedangkan kesibukannya adalah selalu menjaga pandangan/lirikanku dan keadaanku. Sebagian ulama mengatakan, barang siapa yang menjaga Allah SWT di dalam hatinya maka Allah SWT akan menjaga seluruh anggota badannya. Abul Husain bin Hindun pernah ditanya, Kapan penggembala dapat menghalau kambingnya dengan tongkat pemeliharaan agar terhindar dari perangkap kebinasaan ?. Dia menjawab, Jika ia mengerti bahwa di hadapannya terdapat Dzat Yang Maha Mengawasi. Menurut satu cerita, Ibnu Umar RA berada di dalam perjalanan. Dia melihat seorang budak yang sedang menggembala seekor kambing. Bisakah engkau menjualnya seekor kepadaku ? tanya Ibnu Umar dengan maksud untuk menguji. Kambing itu bukan milik saya. Jawabnya Katakan saja kepada pemiliknya bahwa serigala telah memakannya. Budak itu menjawab,Lalu di mana Allah SWT ?

90 | Risalah Al Qusyairi

Ibnu Umar diam untuk beberapa saat. Dai merenungkan kata-kata penggembala itu. Kemudian ia mendesah sambil mengatakan, Budak itu mengatakan di mana Allah SWT. Al-Junaid mengatakan bahwa barang siapa yang dapat merealisasikan pengawasan (muraqabag), maka dia akan takut kehilangan bagian dair Tuhannya, bukan takut kepada orang lain. Seorang guru sufi memiliki seorang murid yang diistimewakan. Guru itu sering datang kepadanya dari pada datang kepada murid-murid yang lain. Mereka bertanya kepada gurunya tentang hal itu , maka sang gurupun menjawab, Akan saya jelaskan persoalan ini kepada kalian. Selang beberapa lama, guru itu memanggil murid-muridnya. Masingmasing dari mereka diberi seekor burung sambil berpesan, Sembelihlah burung ini di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun. Mereka semua kemudian pergi dan tak lama kemudian kembali dengan membawa burung yang telah disembelih di tangan mereka masing-masing. Akan tetapi salah seorang dari mereka datang dengan membawa burung yang masih hidup. Mengapa burung itu tidak kamu sembelih ? Murid itu menjawab Guru memerintahkan saya untuk menyembelih burung di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun. Saya telah berusaha ke berbagai tempat akan tetapi tidak menemukan satu tempatpun yang tidak dilihat oleh Allah SWT. Guru itu tersenyum. Dia berkata kepada murid yang lain, Karena inilah saya mengistimewakannya dengan selalu datang kepadanya. Menurut Dzunun al-Mishri yang dimaksud hubungan pengawasan adalah mementingkan sesuatu yang telah dipentingkan oleh Allah SWT, mengagungkan sesuatu yang telah diagungkan oleh Allah SWT, dan mengecilkan sesuatu yang telah dikecilkan-Nya. Menurut Ibrahim AnNashr Abadzi : Raja (Harap) akan menggerakkan kepada ketaatan, khauf (takut) akan menjauhkan dari maksiyat, dan muraqabah (pengawasan) akan mengantarkan kepada jalan hakikat. Jafar bin Nashr pernah ditanya tentang pengawasan maka ia menjawab, Menjaga hati untuk memandang Allah SWT dalam setiap gerakan. Ahmad Al-Jariri mengatakan, Urusan kita terbagi menjadi dua, yaitu konsistensi diri dalam pengawasan terhadap Allah SWT dan tertanamnya ilmu secara lahiriyah . sedang menurut AbduLlah AlMurtaisy mengatakan bahwa yang dimaksud pengawasan adalah memelihara hati dengan memperhatikan Allah SWT dalam setiap langkah dan perkataan. Ibnu Athapernah ditanya, apa yang paling utama dari taat ? dia menjawab, Mengawasi Allah SWT sepanjang masa. Ibrahim Al-khawas mengatakan, Pemeliharaan akan menyebabkan pengawasan, sedang pengawasan akan menyebabakan kemurnian rahasia maupun terangterangan karena Allah SWT. Menurut Abu Utsman Al-Maghribi, Konsistensi diri manusia yang paling utama adalah meneliti , mengawasi dan mensiasati perbuatannya dengan ilmu.
91 | Risalah Al Qusyairi

Abu Utsman mengatakan, Abu Hafs mewasiyatkan kepadaku, Apabila kamu duduk bersama orang lain , jadilah penasihat kepada hatimu dan dirimu, serta janganlah kamu tertipu oleh perkumpulan mereka. Mereka mengawasi lahirmu, sedang Allah SWT mengawasi bathinmu. Abu Said Al-Kharraz mengatakan, Salah seorang dari guruku telah mengatakan kepadaku, tetaplah memelihara dan mengawasi hatimu. Dia mengatakan, Suatu hari saya berjalan di tengah padang pasir. Tiba-tiba di belakangku terdengar suara desingan. Suara itu sangat menakutkan. Saya hendak menoleh tetapi saya tahan. Setelah itu saya melihat sesuatu menyentuh punggungku lantas ia pergi. Sambil saya menjaga hati saya menoleh, ternyata saya berhadapan dengan hewan yang sangat besar. Al-Wasithi berkata, Seutama-utama taat adalah menjaga waktu. Dia tidak meniti-niti hambanya diluar batasnya, demikian pula tidak meniti selain kepada Tuhannya, dan tidak bersahabat selain dengan waktunya. Ridho Takutlah pada manisnya taat karena ia akan dapat menjadi racun yang membunuh Ridha ( ) Allah SWT berfirman : 119 Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada-Nya. Itulah kemenangan yang besar. Dari Jabir diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Pada suatu hari ahli surga berada di suatu tempat. Tiba-tiba ada cahaya memancar di atas pintu surga. Mereka mengangkat kepala. Allah SWT telah memuliakan mereka seraya berfirman : Wahai ahli surga memohonlah kepada-Ku. Mereka mengatakan, Kami memohon keridhaan-Mu. Allah SWT berfirman, : Keridhaan-Ku adalah Aku menghalalkan tempat tinggal untuk kalian dan kemuliaan-Ku selalu bersama kalian. Pada saat ini memohonlah kepada-Ku. Mereka mengatakan, kami memohon tambahan. Kemudian mereka diberi hewan kendaraan yang terdiri dari yaqut berwarna merah. Tali pengikatnya terbuat dari zamrud berwarna hijau dan merah. Mereka mendatangi hewan kendaraan itu yang sedang meletakkan telapak kakinya . Demikian pula Allah SWT memberikan pohon-pohon yang berbuah yang berdampingan dengan para bidadari. Mereka mengatakan Kami perempuan-perempuan yang

92 | Risalah Al Qusyairi

nikmat dan yang tidak menyengsarakan. Kami wanita yang kekal yang tidak akan mati, dan kami sebagai isteri-isteri orang beriman dan sangat mulia. Setelah itu Allah SWT memberikan bukit pasir yang terdiri dari minyak misik putih yang semerbak baunya sampai ke surga Adn. Para Malaikat mengatakan, Yaa Tuhan ,orang-orang telah datang. Allah SWT berfirman : Selamat datang wahai orang-orang baik dan taat. Kemudian hijab (tirai) terbuka. Mereka memandang Allah SWT. Mereka bersenang senang dengan cahaya Tuhannya, sehingga sebagian mereka tidak dapat melihat sebagian yang lain. Allah SWT berfirman : kembalikanlah mereka wahai malaikat ke gedung-gedung tempat tinggal mereka dengan membawa hadiah. Merekapun lantas kembali dan sebagian mereka dapat lagi melihat sebagian yang lain. Itulah yang dimaksud firman Allah SWT : Sebagian Rezeki datang dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih Ulama Irak dan Khurasan berbeda pendapat tentang ridha, apakah ridha itu termasuk keadaan ( ) atau tempat / maqam (Kedudukan). Menurut Ulama Khurasan, ridha termasuk bagian dari maqam yaitu puncak dari tawakal. Artinya ridha dapat ditafsiri sebagai sesuatu yang dapat menghantarkan hamba kepada Allah SWT karena usaha-usahanya. Sedangkan menurut ulama Irak, ridha termasuk bagian dari sesuatu yang turun dan bersemayam di hati sebagaimana keadaan yang lain. Menyatukan dua pendapat tadi sangatlah baik dan mungkin yaitu bahwa permulaan ridha dapat diusahakan oleh hamba dan ini merupakan bagian dari tempat ( ,) sedangkan puncaknya yang merupakan bagian dari keadaan ( ,)maka itu tidak dapat diusahakan. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq menyatakan, Tidak dapat disebut ridha jika seseorang belum pernah mendapatkan cobaan. Namun dapat disebut ridha jika dia tidak menentang hukum dan keputusan Allah SWT. Perlu diketahui bahwa kewajiban hamba adalah ridha terhadap keputusan yang telah diperintahkan untuk ridha kepadanya. Karena segala sesuatu tanpa keputusan akan menjadi boleh. Kewajiban hamba adalah ridha terhadap keputusan seperti ridha terhadap kemaksiyatan dan fitnah ujian orang-orang Islam. Menurut guru sufi, ridha ibarat pintu Allah SWT yang besar. Orang yang memuliakan ridha maka dia akan dipertemukan dengan kecintaan yang penuh dan dimuliakan dengan pendekatan yang paling tinggi. Menurut Abdul Wahid bin Zaid, ridha diibaratkan pintu Allah SWT yang besar dan merupakan surga dunia. Seorang hamba hampir tidak meridhai Allah SWT kecuali Dia meridhaknnya. Allah SWT berfirman :

93 | Risalah Al Qusyairi

Allah ridha kepada mereka dan merakapun ridha kepada-Nya. Syaikh Abul Qasim Alqusyairi meriwayatkan bahwa Syaikh Abu Ali AdDaqaq bercerita tentang seorang murid yang bertaya kepada gurunya, Apakah seorang hamba dapat mengetahui bahwa Allah SWT ridha kepadanya ? Tidak. Bagaimana dia akan mengetahui hal itu sedangkan ridha itu merupakan hal yang ghaib. Dia mengetahui hal itu. Bantah si murid. Bagaimana mungkin ? Jika hatiku ridha kepada Allah SWT maka berarti saya tahu bahwa Dia ridha kepadaku. Engkau benar wahai anakku. Dalam sebuah cerita disebutkan bahwa nabi Musa AS pernah mengatakan, Yaa Tuhanku tunjukkanlah kepadaku perbuatan yang apabila saya kerjakan Engkau ridha kepadaku. Allah SWT berfirman : Engkau tidak akan mampu mengerjakan hal itu. Nabi Musa AS kemudian merebahkan diri dan bersujud serta berdoa. Setelah itu Allah SWT menurunkan wahyu :Wahai Putera Imran, Aku akan ridha apabila engkau ridha terhadap keputusan-Ku. Menurut AbduRrahman Ad-daraani, apabila hamba meninggalkan syahwat maka dia adalah orang yang ridha. Menurut Ibrahim An-Nash Abadzi Barang siapa yang ingin sampai ke tempat ridha maka kerjakanlah apa-apa yang telah dijadikan oleh Allah SWT ridha. Menurut AbduLlah bin Khafif ridha terbagi menjadi dua yaitu ridha dengan-Nya dan ridha kepada-Nya. Yang dimaksud ridha dengan-Nya adalah memikirkan dan merenungkan-Nya. Sedangkan ridha kepada-Nya adalah melaksanakan apa-apa yang telah diputuskan. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Jalan orang menuju Allah SWT lebih panjang yakni jalan latihan, sedangkan jalan orang yang waspada lebih dekat akan tetapi lebih sulit yakni mengerjakan dengan ridha dan ridha dengan keputusan. Menurut Ruwaim, yang dimaksud ridha adalah jika seandainya Allah SWT menjadikan neraka jahanam di sebelah kanannya maka dia tidak akan memohon agar neraka jahanam dipindah ke sebelah kirinya. Menurut Abu Bakan bin Thahir yang dimaksud ridha adalah menghilangkan kebencian di dalam hati, sehingga tidak sedikitpun yang tertinggal di dalam hatinya kecuali kebahagiaan dan kesenangan. Menurut Muhammad Al-Wasithi Ridha harus dikerjakan berdasarkan kemampuan. Ridha tidak dapat dipaksakan untuk dikerjakan karena akan menjadi penghalang dengan tidak mendapatkan kenikmatan dan tidak dapat melihat hakikat sesuatu yang dipandang.

94 | Risalah Al Qusyairi

Perlu diketahui bahwa pernyataan Al-Washiti adalah sesuatu yang besar yang di dalamnya terkandung pernyataan untuk memutuskan orangorang secara samar. Oleh karena itu tenang dalam menghadapi berbagai keadaan di hadapan mereka merupakan penghalang dari berbagai perubahan keadaan yang lain. Barang siapa yang menikmati ridha dan menemukan bau harumnya maka ia akan terhalang dengan keadaannya sendiri yang mengakibatkan jauh dari Allah SWT. Al Washithi juga menegaskan, Takutlah pada manisnya taat karena ia akan dapat menjadi racun yang membunuh. Menurut Abu AbdiLlah bin Khafif yang dimaksud ridha adalah tenangnya hati menerima hukum-hukum Allah SWT dan ia bersepakat dengan segala sesuatu yang Allah SWT ridha dan memilihnya sebagai pegangan. Rabiah Al-Adawiyah pernah ditanya, Kapan seseorang disebut sebagai orang yang ridha ?. Dia menjawab, Apabila dia senang ketika mendapatkan musibah sebagaimana dia senang ketika mendapatkan kenikmatan. Menurut suatu cerita, As-Syibli pernah berkata kepada Al-Junaid Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Kemudian Al-Junaid mengatakan, Ucapanmu itu adalah ucapan orang yang sempit hati. Orang yang sempit hatinya akan meninggalkan ridha karena ada keputusan. Stelah itu Asy-Syibli diam. Abu Sulaiman berpendapat bahwa yang dimaksud ridha adalah jangan memohon kepada Allah SWT untuk mendapatkan surga dan jangan pula memohon perlindungan-Nya agar terhindar dari neraka. Menurut Dzun-Nun tanda-tanda ridha ada tiga, 1. meninggalkan ikhtiyar sebelum keputusan, 2. menghilangkan kepahitan sebelum keputusan, 3. cinta apabila mendapatkan cobaan. Pernah ditanyakan kepada Husain bin Ali RA bahwa Abu Dzar mengatakan , Fakir lebih aku cintai daripada sehat. Husain mengatakan, Mudah-Mudahan Allah SWT memberikan rahmat kepada Abu Dzar. Adapun saya maka aku tegaskan barang siapa bersungguhsungguh di atas kebaikan dengan memilih Allah SWT maka dia tidak akan menerima sesuatu selain apa yang telah diputuskan-Nya. Fudhail bin Iyadh pernah mengatakan kepada Bisyir, Ridha lebih utama daripada zuhud di dunia karena orang yang ridha tidak mengharapkan sesuatu atas kedudukannya. Abu Utsman pernah ditanya tentang sabda Nabi Muhammad SAW, Saya memohon kepada-Mu keridhaan setelah keputusan. Dia menjawab, ridha sebelum keputusan adalah ridha yang sebenarnya. Abu sulaiman mengatakan, Saya berharap mampu mengetahui ujung dari ridha. Seandainya Allah SWT memasukkan diriku ke dalam neraka, maka saya akan tetap ridha. Menurut Abu Umar Ad-Dimsyaqi yang dimaksud ridha adalah menghilangkan keluh kesah dimana saja hukum berlaku. Menurut Al95 | Risalah Al Qusyairi

Junaid yang dimaksud ridha adalah menghilangkan ikhtiyar (usaha/pilihan). Menurut Ibnu Atha yang dimaksud ridha adalah melihatnya hati kepada lamanya pilihan Allah SWT bagi hamba dengan meninggalkan kemarahan. Sedangkan menurut Ruwaim, yang dimaksud ridha adalah menerima hukum dengan senang hati. Menurut Harits Al-Muhasibi, yang dimaksud ridha adalah tenangnya hati di bawah tempat-tempat berlakunya hukum. Menurut An-Nuuri yang dimaksud ridha adalah senangnya hati karena menerima pahitnya keputusan. Al-Jauzi mengatakan, Barang siapa ridha tanpa batas maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya di luar batas. Sedangkan Abu Turab An-Nakhsyabi mengatakan, Siapapun tidak akan pernah mendapatkan ridha jika di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari dunia. Diriwayatkan dari Al-Abbas bin Abdul Munthalib, bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Akan merasakan lezatnya iman orang yang ridha terhadap Allah SWT sebagai Tuhannya. Diceritakan bahwa Umar bin Al-Khatab menulis surat kepada Abu Musa Al-Asyary, ....bahwa kebaikan terletak pada keridhaan. Maka jikalau engkau mampu jadilah orang-orang yang ridha, jika tidak mampu jadilah orang yang sabar. Dalam sebuah cerita disebutkan bahwa Uthbah bin Ghulam biasa menghabiskan malam-malamnya hingga pagi dengan berucap, jika Engkau menghukumku maka aku akan tetap mencintai-Mu dan jika Engkau mengasihiku maka akupun tetap mencintai-Mu. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Mabusia ibarat tembikar ia tidak memiliki pikiran menentang hukum Allah SWT. Beliau juga berkata, seorang lelaki marah kepada budaknya. Budak itu meminta tolong kepada orang lain agar tuannya memberi maaf. Budak itu menangis sampai penolong itu bertanya Kenapa engkau menangis padahal tuanmu telah memaafkanmu ? Maka tuannya menjawab, Dia hanya meminta keridhaanku bukan yang lain. Ubudiyah

SWT berfirman : Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang keyakinan padamu (mati)-AlHijr 99

96 | Risalah Al Qusyairi

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri dari Abu Hurairah RA bahwa SAW bersabda : Yang artinya : Tujuh orang yang akan diberi naungan oleh SWT pada hari tiada naungan melainkan naungan-Nya. 1. Imam yang adil. 2. Pemuda yang gemar melakukan ibadah kepada SWT. 3. Seorang yang hatinya selalu bergantung (berhubungan) dengan masjid apabila keluar sampai dia kembali. 4. dua orang yang saling mencintai karena SWT, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya. 5. Seorang yang berzikir kepada sendirian maka kedua matanya berlinang air mata. 6. Seorang lelaki yang diajak seorang wanita yang cantik jelita dan ia menjawab, Sesungguhnya aku takut kepada Tuhan semesta alam. 7. Seseorang yang bersedekah dengan suatu pemberian secara tersembunyi, hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi mengatakan, saya telah mendengar ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Ubudiyah lebih sempurna daripada ibadah. Tingkatan dasarnya adalah ibadah kemudian ubudiyah, dan yang tertinggi adalah ubudah. Ibadah dimiliki oleh orang awam (umum). Ubudiyah dimiliki oleh orang khawas. Ubudah dimiliki oleh orang khwas al-khawas. Beliau juga mengatakan, Ibadah dimiliki oleh orang yang memiliki ilmu yakin. Ubudiyah dimiliki oleh orang yang mempunyai ainul yakin. Dan ubudah dimiliki oleh orang yang mempunyai haqul yakin. Beliau juga mengatakan, ibadah dimiliki oleh orang yang mujahadah (bersungguh-sungguh). Ubudiyah dimiliki oleh orang yang Mukabadah (Yang terbebani dengan beratnya cobaan), Ubudah dimiliki oleh orang yang musyahadah (menyaksikan Tuhan). Barang siapa yang tidak merendahkan dirinya maka dia adalah pemilik ibadah. Barang siapa yang tidak kikir pada hatinya maka dia adalah pemilik ubudiyah. Sedangkan barang siapa yang tidak kikir pada ruhnya maka ia adalah pemilik ubudah. Satu pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud ubudiyah adalah menegakkan ketaatan secara bersungguh-sungguh dengan pengagungan, memandang apa yang datang dari dirimu dengan
97 | Risalah Al Qusyairi

pandangan merendahkan, dan menyaksikan sesuatu yang dihasilkan dari perjalanan hidupmu sebagai ketetapan .Menurut pendapat yang lain yang dimaksud ubudiyah adalah meninggalkan ikhtiyar terhadap sesuatu yang riil sebagai suatu ketetapan. Sebagian ulama berpendapat yang dimaksud ubudiyah adalah menolak daya upaya dan kekuatan dan mengakui sesuatu yang telah diberikan dan diatur oleh SWT berupa umur yang panjang dan anugerah. Menurut sebagian yang lain yang dimaksud ubudiyah adalah melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang. Abu AbduLlah Muhammad bin Khafif pernah ditanya Kapan ubudiyah dianggap sah. Dia menajwab, Apabila dia telah melimpahkan semua urusan kepada Tuhannya dan bersabar atas cobaan-Nya. Menurut Sahal. Ibadah seseorang tidak dianggap sah sampai ia tidak mengeluh dalam empat hal : Lapar, telanjang (tidak memiliki sandang), fakir dan hina. Menurut satu pendapat yang dimaksud ubudiyah adalah menyerahkan segala urusan kepada SWT dan menanggung semua urusannya. Menurut satu pendapat lagi, tanda-tanda ubudiyah adalah menghindarkan pengaturan dan menyaksikan ketetapan. Dzunun Al-Mishri mengatakan, Yang dimaksud ubudiyah adalah menjadi hamba yang selalu berada di dalam segala hal sebagaimana Tuhan yang selalu berada dalam segala hal. . Ahmad Al-Jariri mengatakan, Penghamba kenikmatan sangat banyak jumlahnya dan penghamba Dzat Pemberi nimat sangat kuat eksistensinya. Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi berkata, Saya telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Engkaiu adalah budak yang engkau sendiri berada di dalam perbudakannya dan tawanannya. Apabila engkau berada di dalam tawanan dirimu , meka engkau adalah budak duniamu. SAW bersabda : Alangkah celaka budak dirham, celaka budak rumah, celaka budak pakaian. Ismail bin Najid mengatakan, Jangan mencintai seseorang yang mengerjakan Ubudiyah sehingga ia dapat menyaksikan perbuatannya memperoleh karunia dan menyaksikan keadaannnya memperoleh tuntutan. AbduLlah bin Manazil mengatakan.Hamba adalah orang yang tidak menuntut pelayanan atas dirinya karena jika demikian maka dia telah menjatuhkan batasan Ubudiyah dan meninggalkan tatakrama. Sahal bin AbduLlah mengatakan Tidak layak bagi hamba beribadah hingga tidak dapat melihat pengaruh kemiskinan dalam ketiadaan, dan melihat pengaruh kekayaan dalam keberadaan. Menurut satu ungkapan, Ubudiyah adalah menyaksikan Tuhan.

98 | Risalah Al Qusyairi

Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi berkata saya telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Saya telah mendengar Ibrahim An-Nash Abadzi berkata,Nilai orang yang menyembah tergantung dari yang disembah, sebagai mana kemuliaaan orang yang makrifat tergantung yang dimakrifati. Menurut Abu Hafs, Ubudiyah adalah hiasan hamba. Barang siapa yang meninggalkannya maka ia tidak akan mendapatkan hiasan. Menurut An-Nabaji, dasar ibadah memiliki tiga bentuk : 1. tidak menolak hukum hukum SWT. 2. Tidak merendahkan sesauatu. 3. tidak meminta kepada orang lain karena kebutuhan. 1. 2. 3. 4. Menurut Ibnu Atha Ubudiyah memiliki empat bentuk, memenuhi janji menjaga batasan-batasan hukum ridha terhadap sesuatu yang ada sabar terhadap sesuatu yang tidak ada Amru bin Utsman Al Makki menuturkan kisahnya, Saya tidak pernah melihat seorang penyembah di kebanyakan tempat yang saya temuai di Makkah Al-Mukarramah, tidak juga seorang pun yang datang kepada kami pada musim-musim haji atau yang lain, yang sungguh-sungguh beribadah. Tidak pula dijumpai perilaku ibadah yang berketetapan dan terus menerus menjalankan ibadah dengan keberanian menanggung hal-hal yang sulit. Saya juga tida melihat seorangpun yang benar-benar mengagungkan perintah SWT, tidak pula hamba yang berani mempersempit dirinya dan memperluas orang lain. Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi berkata, Guru saya Syaikh Abu Ali AdDaqaq berkata, tidak ada sesuatu yang lebih mulia daripada Ubudiyah dan tidak ada nama yang lebih sempurna bagi orang mukmin selain nama yang diakitkan dengan fungsi ubudiyah / penghambaan. Oleh karena itu SWT mensifati Nabi terkasihnya Muhammad SAW pada malam miraj dengan panggilan : Maha Suci Dzat yang telah memperjalankan hamba-Nya dari Masjidil Haram sampai Masjidil Aqsha. Dan firma yang lain : Maka diwahyukan kepada hamba-Nya apa apa yang diwahyukan Sehingga seandainya ada gelar yang lebih mulia daripada sifat kehambaan tentulah Dia telah memberikannya untuk beliau. Dalam konteks inilah disyairkan :

99 | Risalah Al Qusyairi

Wahai Amru, membalaskan tumpahnya darahku demi Zahra-ku Penglihatan dan pendengaran tahu semua ini Jangan panggil diriku kecuali dengan Wahai hamba Zahra Sesungguhnya nama termulia panggilan itu bagiku Sebagian ahli sufi mengatakan, Hanya ada dua yang penting, senang dengan sesuatu yang lekat pada dirinya dan percaya pada kemampuan gerak. Jika dua perkara ini terlepas dari anda maka anda benar-benar telah membuktikan fungsi ubudiyah. Waspadalah kalian pada lezatnya pemberian sesungguhnya kelezatan ini menjadi tutup bagi orang-orang yang berhati jernih. Demikian kata Muhammad Al-Wasithi. Abu Ali al-Jurjani mengatakan, Ridha adalah ruang ubudiyah. Sabar adalah pintunya, sedagnkan sikap pasrah adalah rumahnya. Karena itu suara ubudiyah berada di pintu, kekosongan diri berada di dalam ruangan, dan istirahat terletak di dalam rumah. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Sebagaimana Rububiyah (sifat ketuhanan) merupakan sifat Al-Haq yang tidak pernah berubah, maka ubudiyah sebagai sifat hamba tidak boleh terpisah selamanya. Syair : Jika kalian meminta kepada-Ku Katakan inilah saya hamba-Nya Sekalipun mereka yang meminta Mengatakan inilah Engkau Tuhanku. Ibrahim An-Nashr Abadzi mengatakan, Ibadah menuntut kelapangan, sedangkan permohonan maaf yang disebabkan kekurangannya adalah lebih dekat pada permintaan ganti dan balasan. Ubudiyah menggugurkan penglihatan hamba atas ketersingkapan intuisi pada yang Disembah. Menurut al-Junaid, Ubudiyah adalah sikap meninggalkan kesibukan,dan penyibukan diri dengan hal yang merupakan pangkal dari kekosongan (fana). Iradah Sesungguhnya iradah adalah kepedihan hati karena jeratan cinta kepada

100 | Risalah Al Qusyairi

SWT berfirman : Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan petang hari, sedangkan mereka menghendaki keridaanNya (Al-Anam 52). Dari Anas bin Malik diceritakan bahwa Nabi SAW bersabda, : : , Jika menghendaki kebaikan seorang hamba maka dia dipekerjakan (dengan kebaikan itu). Seorang sahabat bertanya, Bagaimana ia dipekerjakan-Nya Ya ? Nabi menajwab, Diberi pemahaman untuk beramal kebajikan sebelum mati. Iradah (kehendak) adalah awal perjalanan para salik yang sebenarnya merupakan nama bagi tahapan / maqam pertama pendakian para salik untuk menuju ke hadirat .Sifat ini dinamakan iradah karena iradah merupakan awal segala urusan. Barang siapa tidak memiliki kehendak terhadap sesuatu maka tidaklah mungkin ia melakukannya. Segala persoalan yang berkenaan dengan langkah awal perjalanan para salik dalam meniti jalan menuju dinamakan iradah. Kedudukannya sama dengan mukadimah dalam segala urusan yang berkaitan dengan tujuan. Murid harus memiliki iradah sebagai belahan kesatuan langkahlangkahnya sebagaimana seorang alim diharuskan memiliki ilmu sebagai belahan kealimannya. Murid dalam pengertian ahli sufi bukanlah perwujudan kehendak milik murid sendiri karena orang yang belum bisa memurnikan dirnya sendiri dari eksistensi kehendak dirinya maka belumlah dinamakan murid. Banyak orang yang memberikan arti iradah, masing-masing mengungkapkannya sebatas apa yang tersirat di dalam hatinya. Sementara para sufi mengatakan bahwa iradah adalah meninggalkan apa yang telah menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan manusia pada umumnya adalah terpaku kepada hukum penapakan pada tempattempat yang membuat dirinya lupa, percaya pada ajakan syahwat dan cenderung mengikuti apa yang dibisikkan oleh harapan atau anganangan. Sedangkan seorang murid harus terlepas dari identitas ini. Semuanya tidak boleh melekat pada dirinya. Kemampuan salik keluar dari kenyataan-kenyataan (semu) iradahnya, menjadi bukti atas kebenaran iradah-Nya. Keadaan semacam inilah yang dinamakan iradah yaitu keluarnya salik dari hukum kebiasaan. Dengan demikian keberhasilan meninggalkan kebiasaan merupakan tanda-tanda iradah, adapun hakikatnya adalah manifestasi kebangkitan hati dalam pencarian Al-Haq. Karena itu dikatakan, Sesungguhnya iradah adalah kepedihan hati karena jeratan cinta kepada yang mampu menghinakan setiap keharuan.
101 | Risalah Al Qusyairi

Diceritakan dari seorang guru sufi, Suatu hari saya sendirian berada di sebuah pedusunan yang sunyi. Tiba-tiba dada saya terasa sempit yang mendorong lidah saya mengucapkan,Wahai manusia, bicaralah kepada saya, wahai jin bicaralah kepada saya. Tiba-tiba sebuah suara tanpa bentuk menyahut, Apa yang kamu kehendaki ? Saya menjawab, yang saya kehendaki. Dai kembali bertanya, Kapan kamu menghendaki ? Kisah ini mengandung pelajaran tentang makna iradah. Orang tersebut mengatakan, Bicaralah kepada saya. Menunjukkan sebagai orang yang berkehendak (murid) pada .Orang yang berkehendak (murid) selalu tidak tenang dan lemas sepanjang malam dan siang. Dia dalam lahiriyahnya dihiasi dengan berbagai mujahadah dan di dalam bathiniyahnya disifati dengan penahanan berbagai bentuk beban kesulitan. Dia senantiasa menjauhkan diri dari tempat tidur, selalu siaga, siap memikul berbagai kesulitan dan menanggung berbagai kepayahan, mengobati akhlak, membiasakan diri dengan hal-hal yang berat, merangkul obyek-obyek yang menakutkan dan memisahkan diri dengan berbagai bentuk eksistensi atau simbol-simbol keperanan. Sebagaimana tersebut di dalam sebuah syair : Kemudian malam saya putus Dalam berbagai kenikmatannya Tidak ada singa yang saya takuti Tidak pun serigala Rinduku mengalahkan saya Lalu saya melipat rahasia saya Dan orang yang punya kerinduan Memang selalu dikalahkan Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq pernah mengatakan, bahwa yang dimaksud iradah adalah pedihnya kerinduan di dalam hati, sengatan yang menimpa hati, cinta yang menyala-nyala dan membakar nurani, kecemasan yang menggedor dinding-dinding bathin, api cahaya yang membakar kubah hati. Beliau juga mengatakan, Saya di dalam permulaan kerinduan, dalam keadaan terbakar di tungku perapian iradah. Kemudian saya membisikkan ke dalam hati saya, Duhai perasaan hati, alangkah pedihnya ! Apa arti iradah itu ? Yusuf bin Husin mengatakan, Antara Abu Sulaiman Ad-Daraani dan Ahmad bin Abi Al-Hiwari terikat tali perjanjian. Ahmad tidak bisa membantah setiap perintah yang diberikan Abu Sulaiman. Suatu hari ia mendatangi Abu Sulaiman yang sedang memberi fatwa di majlisnya, kemudian melapor, Sesungguhnya bunga api telah berpijar, menyala dan membakar, maka apa yang engkau perintahkan ? Abu Sulaiman diam dan tidak menjawab. Ahmad mengulanginya hingga dua kali atau tiga kali dan akhirnya mengatakan, Abu Sulaiman pergi
102 | Risalah Al Qusyairi

lalu duduk di dalamnya. (seakan-akannya sempit dan Abu Sulaiman lupa tentang Ahmad, kemudian ingat lagi dan mengatakan, Lihatlah Ahmad, sesungguhnya dia berada di dalam jilatan cahaya. Dia mampu menguasai dirinya dengan tidak hendak menentang perintah saya. Kemudian mereka melihatnya, dan tiba-tiba Ahmad dalam pembakaran cahaya yang tidak selembar rambutpun terbakar. Dikatakan bahwa diantara sifat-sifat murid adalah cinta amalan-amalan sunah, ikhlas dalam memberikan nasihat asih, sopan, dan senang dengan kesenidrian, sabar di dalam memikul segala kekerasan hukum, mengutamakan perintah, malu terhadap suatu pandangan, pelimpahan tenaga dan anugerah pada apa yang diperjuangkannya dengan penuh kecintaan, menyongsong segala sebab yang bisa mengantarkannya kepada-Nya, puas terhadap segala bentuk kelemahan, dan ketiadaan pengakuan hati akan ketersampaian diri kepada Tuhan. Abu Bakar Muhammad Al-Waraq berkata, Penyakit murid ada tiga macam, kawin, catatan wicara, dan lembaran-lembaran. bagaimana mungkin tuan meninggalkan catatan wicara. Tanya seseorang. Ia menjawaab, sebab akan menjadi penghalangku dari perolehan iradah. Hatim Al-Asham mengatakan, Jika saya melihat seorang murid yang menghendaki selain yang dia (Hatim) kehendaki, maka ketahuilah bahwa ia telah menampakkan kerendahan. Diantara hukum bagi murid ada tia hal : tidurnya karena bersangatan mengantuk, makannya karena sangat butuh, dan ucapannya karena sangat terpaksa. Demikian nasihat Muhammad Al-Kattani Jika menghendaki murid kebaikan, maka Dia akan memposisikannya dalam sikap sufi dan mencegahnya dari pergaulan para qari. Demikian fatwa Al-Junaid. Pada suatu hari Abu Ali Ad-Daqaq memberikan wejangan kepada para santri dan mengatakan Akhir iradah akan mengarahkan isyarat pada sehingga menjumpai-Nya bersama isyarat. Apa yang dimuat dalam iradah ? Beliau menjawab, Engkau menjumpai dengan tanpa isyarat. Pada kesempatan lain Syaikh Abu Ali mengatakan, Seorang murid tidak akan menjadi murid hingga orang disebelah kirinya (malaikat pencatat kejahatan) tidak menulisnya selama 20 tahun.

103 | Risalah Al Qusyairi

Karena itu Abu Utsman Al-Hirri menasihatkan, bahwa jika seorang murid mendengarkan sesuatu dari ilmu-ilmu suatu kelompok masyarakat (ahli hikmah/syaikh), lalu mengamalkannya, maka yang demikian itu dalam hatinya akan menjadi suatu hikmah sampai akhir usianya, dan selama itu dia bisa mengambil manfaatnya. Seandainya ia berbicara dengan ilmu tersebut maka orang yang medengarkannya pasti juga akan memperoleh manfaat. Dan barang siapa mendengarkan ilmu dari mereka lalu tidak mengamalkanya, maka hikayat yang diperoleh dan dijaganya akan masih tetap terjaga tetapi kemudian hilang terlupakan. Barang siapa iradahnya tidak sehat, maka perjalanan hari tidak akan menambahnya selain kemunduran. Awal maqam murid adalah munculnya iradah Al-Haq menggugurkan iradahnya sendiri. Demikian kata AL-Wasithi. dengan

Hal yang memperberatkan murid adalah mempergauli musuh dengan baik. Kata Yahya bin Muadz. Jika saya melihat murid sibuk dengan hal-hal yang ringan, dispensasi dan usaha mencari nafkah, maka tidak ada sesuatu yang mendatanginya. Demikain kata Yusuf bin Husain. Dalam suatu kesempatan Imam Al-Junaid ditanya tentang masalah iradah dan murid. Apa yang dapat dimiliki para murid dengan perjalaan hikayat / manakib (orang orang saleh) ? Beliau menjawab, hikayat / manakib adalah tentara-tentara yang dengannya dapat memperkuat hati seorang mukmin. Apa dalam hal ini Tuhan punya saksi ? Ya, yaitu firman yang berbunyi : Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu (Hud 120) Lebih jauh Al-Junaid mengatakan, Murid yang benar adalah yang tidak butuh ilmu para ulama. Seorang murid pada hakikatnya adalah orang yang dikehendaki karena jika tidak dikehendaki ( sehingga ia memiliki iradah), maka ia bukan menjadi seorang murid / salik. Sedangkan murad adalah murid karena jika menghendaki seseorang untuk menjadi murid dengan kekhususan, maka Dia akan memberi pemahaman akan makna iradah. Akan tetapi para sufi membedakan antara murid dan murad. Murid bagi mereka adalah seorang pemula sedangkan murad adalah pamungkas. Murid ditegakkan dengan mata kepayahan dan dilemparkan dalam kawah kesulitan-kesulitan sedangkan murad dicukupkan dengan perintah yang
104 | Risalah Al Qusyairi

tidak memiliki kesulitan. Murid adalah orang yang aktif dan muncul sebagai subyek sedangkan murad adalah orang yang diisi oleh , diberi faedah, dan dengannya dia disenangkan. sunatuLlah akan bersama para perambah jalan menuju memiliki bentuk yang berbeda-beda. Masing-masing memiiiki tingkatan hukum yang tidak sama. Kebanyakan mereka memiliki anugerah dengan disertai syarat mujahadah, kemudian mencapai maqam kedekatan dengan setelah mengalami berbagai kesulitan dari tahun ke tahun dalam kurun waktu yang tidak pendek. Sedangkan sebagian yang lain disingkapkan (terbuka) bathinnya sejak permulaan usia dengan keagungan maknaNya kemudian mencapai maqam kewalian yang tidak dapat dicapai oleh kelompok ahli riyadhah atau mujahadah. Golongan ahli riyadhah pada umumnya dalam pencapaian maqam kewalian akan dilemparkan oleh kedalam penggemblengan mujahadah. Penggemblengan ini terjadi setelah mereka memperoleh kesadaran hakikat. Tujuannya supaya mereka memperoleh apa-apa yang terkandung dalam hukum riyadhah. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq juga berkata, murid adalah orang yang menanggung sedang murad adalah orang yang ditanggung. Beliau juga pernah mejelaskan bahwa nabi Musa AS adalah seorang nabi yang menduduki jabatan seorang murid. Karena itu di dalam doanya dia mengatakan, Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku (Thaha 25) Sedangkan nabi kita Muhammad SAW adalah seorang murad sehingga firman yang diwahyukan berbunyi demikian : , , , Tidakkah telah Kami lapangkan dadamu, dan Kami hilangkan bebanmu yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan penyebutanmu (Alam Nasyrah 1-4) Demikian pula ketika Musa mengatakan, : Tuhan , tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku sehingga aku dapat melihatMu. Tuhan menjawab, Kamu sekali-kali tidak dapat melihat-Ku Juga ketika SWT berfirman kepada Nabi Muhammad SAW, Tidakkah kamu melihat Tuhanmu bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang (Al-Furqan 45) Kedua konteks di atas menunjukkan bahwa Nabi Musa AS berada pada maqam murid sedang nabi kita Muhammad SAW di maqam murad.
105 | Risalah Al Qusyairi

Menurut syaikh Abu Ali Ad-Daqaq maksud ayat Apakah kamu tidak melihat Tuhanmu dan potongan berikutnya Bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang adalah merupakan penutupan kisah dan pembagusan keadaan. Imam Al-Junaid pernah ditanya tentang makna murid lalu dijawab, murid adalah orang yang dikuasai oleh siasat ilmu, sedangkan murad adalah yang dikuasai oleh pemeliharaan dari Al-Haq secara langsung. Murid berjalan sedangkan murad terbang. Maka kapan para pejalan dapat menyusul mereka yang terbang. Dikisahkan bahwa Dzunun pernah mengirimkan seorang utusan untuk menjumpai Abu Yazid Al Bustami. Dia berpesan, Katakan kepadanya, sampai kapan tidur dan istirahat , sementara kafilah telah berlalu. Setelah utusan tersebut sampai dan telah mengatakan pesan dari Dzunun, maka Syaikh Abu Yazid berkata, Katakan kepada saudaraku Dzunun, orang alaki-laki adalah orang yang tidur sepanjang malam dan memasuki waktu subuh telah sampai di tempat sebelum kafilah sampai. Betapa Indahnya, ini adalah ucapan yang keadaan kami belum bisa mencapainya. Sambut Dzunun Istiqamah

106 | Risalah Al Qusyairi

SWT berfirman: SWT berfirman : 30 ) ) 03( ) Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami adalah Kemudian mereka meneguhkan (pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata)," Janganlah kamu Merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan (mendapatkan) surga yang telah dijanjikan kepada kamu. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami adalah kemudian mereka meneguhkan (pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan (mendapatkan) surga yang telah dijanjikan kepada kamu. (QS: Fushilat 30). (QS : Fushilat 30). Dari Tsauban dari Nabi SAW diceritakan Bahwa beliau bersabda: Dari Tsauban dari Nabi SAW diceritakan bahwa beliau bersabda :

, , , , "Istiqamahlah kamu dan janganlah sekali-kali menghitunghitung (amal) mu. Istiqamahlah kamu dan janganlah sekali-kali menghitung-hitung (amal)mu. Ketahuilah Bahwa Amalan Sebaik-baik agamamu adalah shalat. Ketahuilah bahwa sebaik-baik amalan agamamu adalah shalat. Dan tidak ada yang mampu menjaga wudhu selain orang mukmin " Dan tidak ada yang mampu menjaga wudhu selain orang mukmin

107 | Risalah Al Qusyairi

Suatu Istiqamah adalah derajat yang dengannya akan terwujud kesempurnaan dan kelengkapan perkara Kebajikan. Istiqamah adalah suatu derajat yang dengannya akan terwujud kesempurnaan dan kelengkapan perkara kebajikan. Istiqamah dengan berbagai kebaikan dan koordinasi Sistematika kebaikan menjadi ada. Dengan istiqamah berbagai kebaikan dan koordinasi sistematika kebaikan menjadi ada. Orang yang tidak bisa Menjalankan Istiqamah di dalam ibadahnya, maka usahanya menjadi sirna dan perjuangannya dihitung gagal. berfirman: Orang yang tidak bisa menjalankan istiqamah di dalam ibadahnya, maka usahanya menjadi sirna dan perjuangannya dihitung gagal. berfirman : "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang-benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi tercerai berai". Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang-benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi tercerai berai.

108 | Risalah Al Qusyairi

Barang siapa tidak Istiqamah dalam menetapi sifat baiknya, maka ia tidak bisa memperbaiki dan meningkat dari satu Maqam ke Maqam berikutnya serta tidak bisa mempertegas kepastian perilakunya mengarah kepada kebaikan. Barang siapa tidak istiqamah dalam menetapi sifat baiknya, maka ia tidak bisa memperbaiki dan meningkat dari satu maqam ke maqam berikutnya serta tidak bisa mempertegas perilakunya mengarah kepada kepastian kebaikan. Istiqamah Merupakan syarat utama bagi pemula dalam menjalani perjalanan sufi. Istiqamah merupakan syarat utama bagi pemula dalam menjalani perjalanan sufi. Sebagaimana keharusan orang yang makrifatuLlah untuk tetap beristiqamah dalam etika pengetrapan berbagai tahapan tahapan akhir pengarungan sufi. Sebagaimana keharusan orang yang makrifatuLlah untuk tetap beristiqamah dalam pengetrapan berbagai etika pengarungan tahapan tahapan akhir sufi. Maka diantara tanda-tanda bagi sufi pemula Istiqamah adalah ketiadaan perubahan pelaksanaan ibadahnya, meski hanya sekejap. Maka diantara tanda-tanda istiqamah bagi sufi pemula adalah ketiadaan perubahan pelaksanaan ibadahnya, meski hanya sekejap. Sedangkan tanda-tanda dari Istiqamah sufi yang berada di tengahtengah perjalanan sufinya adalah keharusan dia untuk tidak menyelai tahapan-tahapan dari satu perjalanan sufinya Maqam ke Maqam berikutnya atau pemberhentian dengan istirahat. Sedangkan tanda-tanda istiqamah dari sufi yang berada di tengah-tengah perjalanan sufinya adalah keharusan dia untuk tidak menyelai tahapan-tahapan perjalanan sufinya dari satu maqam ke maqam berikutnya dengan pemberhentian atau istirahat. Adapun bagi sufi pamungkas, diantara tanda-tandanya adalah ketiadaan intervensi ketertutupan (hijab atau tabir yang menghalangi pemunculan kepada kemakrifatannya ) dalam keberlangsungan ma'rifatuLlah. Adapun bagi sufi pamungkas, diantara tanda-tandanya adalah ketiadaan intervensi ketertutupan (hijab atau pemunculan tabir yang menghalangi kemakrifatannya kepada ) dalam keberlangsungan ma'rifatuLlah.

109 | Risalah Al Qusyairi

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, "Istiqamah Putaran memiliki tiga Tingkatan. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, Istiqamah memiliki tiga putaran tingkatan. Pertama adalah Penegakan, kemudian berdiri, dan akhirnya Istiqamah (kontinyu). Taqwim / Penegakan Merupakan proses latihan nafsu. Iqamah / berdiri Merupakan pendidikan hati. Pertama adalah penegakan, kemudian berdiri, dan akhirnya istiqamah (kontinyu). Taqwim / penegakan merupakan proses latihan nafsu. Iqamah / berdiri merupakan pendidikan hati. Dan Pendekatan Istiqamah adalah rahasia-rahasia. Dan istiqamah adalah pendekatan rahasia-rahasia. Dalam hal ini kaitannya dengan ayat, "Kemudian mereka ber Istiqamah" Abu Bakar As-shidiq mengartikan, "mereka tidak syirik". Dalam hal ini kaitannya dengan ayat, kemudian mereka ber istiqamah Abu Bakar As-Shidiq mengartikan, mereka tidak syirik. Sementara Umar RA menafsiri Sebagai orang yang pergi ke sana ke mari seperti serigala yang Berjalan berputar-putar dalam keadaan miring. Pernyataan Abu Bakar RA mengandung makna Memperhatikan kejelian dalam dasar-dasar tauhid, Sedangkan Umar RA Pernyataan menyiratkan makna pelepasan tuntutan Penafsiran dan konsistensi dalam menetapi syarat perjanjian. Sementara Umar RA menafsiri sebagai orang yang pergi ke sana ke mari seperti serigala yang berjalan berputar-putar dalam keadaan miring. Pernyataan Abu Bakar RA mengandung makna kejelian dalam memperhatikan dasar-dasar tauhid, sedangkan pernyataan Umar RA menyiratkan makna pelepasan tuntutan penafsiran dan konsistensi dalam menetapi syarat perjanjian. Ibnu Atha 'mengatakan, "Istiqamahlah kalian penyatuan dalam kesendirian hati dengan ".Ibnu Atha' mengatakan, Istiqamahlah kalian dalam penyatuan kesendirian hati dengan .

110 | Risalah Al Qusyairi

Abu Ali Al-Jauzajani RA berkata, "jadilah Pelaku Istiqamah dan jangan Menuntut Karamah. Abu Ali Al-Jauzajani RA berkata, jadilah pelaku istiqamah dan jangan menuntut karamah. Dirimu selalu bergerak dalam pencarian Karamah, Sedangkan Tuhanmu menuntutmu untuk tetap dalam Istiqamah ". Dirimu selalu bergerak dalam pencarian karamah, sedangkan Tuhanmu menuntutmu untuk tetap dalam istiqamah. "Suatu hara Saya Lihat Nabi SAW dalam mimpi", cerita Ali AsSyabawi, "lalu saya bertanya kepada beliau," Bahwa Tuan Diceritakan dari Tuan pernah berkata, " 'Surah Hud menjadikan rambutku beruban. Suatu hara saya melihat Nabi SAW dalam mimpi, cerita Ali As-Syabawi, lalu saya bertanya kepada beliau, Diceritakan dari Tuan bahwa Tuan pernah berkata, 'Surah Hud menjadikan rambutku beruban. Apa yang membuat Tuan rambut beruban? Apa yang membuat rambut Tuan beruban ? apakah kisah-kisah para Nabi atau kerusakan umat? ". apakah kisah-kisah para Nabi atau kerusakan umat ?. Kemudian Beliau menjawab, "Bukan itu akan tetapi firman-Nya yang berbunyi: kemudian Beliau menjawab, Bukan itu akan tetapi firman-Nya yang berbunyi : Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar Sebagaimana diperintahkan kepadamu. Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu . (QS Hud 112) (QS Hud 112)

111 | Risalah Al Qusyairi

Bahwa dikatakan tidak ada yang kuat menjalani Istiqamah kecuali orang-orang yang Berjiwa Besar Menuntut Istiqamah karena pengeluaran diri dari apa-apa yang dijanjikan dan pemisahan dari legitimasi (Pengakuan atau stempel) dan adat. Dikatakan bahwa tidak ada yang kuat menjalani istiqamah kecuali orang-orang yang berjiwa besar karena istiqamah menuntut pengeluaran diri dari apa-apa yang dijanjikan dan pemisahan dari legitimasi (pengakuan atau stempel) dan adat. Berdiri tegak di hadapan memang harus didasarkan pada hakikat kebenaran. Berdiri tegak di hadapan memang harus didasarkan pada hakikat kebenaran . karena itu Nabi SAWW bersabda: karena itu Nabi SAWW bersabda : "Istiqamahlah kalian dan jangan sekali-kali menghitung-hitung (amal bagusmu) Istiqamahlah kalian dan jangan sekalikali menghitung-hitung (amal bagusmu) Istiqamah adalah sifat akhlak sempurna, tanpa Istiqamah akhlak akan menjadi buruk ". Istiqamah adalah sifat akhlak sempurna, tanpa istiqamah akhlak akan menjadi buruk. Kata Muhammad Al Wasithi. Kata Muhammad Al Wasithi. "Istiqamah adalah pada waktu anda penyaksian Bersamaan dengan pelaksanaannya". Istiqamah adalah penyaksian anda pada waktu bersamaan dengan pelaksanaannya. Nasihat Dalf As-Syibli. Nasihat Dalf As-Syibli. Bahwa dikatakan Istiqamah dalam kata-kata adalah dengan Meninggalkan ghaibah (Berbisik membicarakan kejelekan orang lain). Dikatakan bahwa istiqamah dalam kata-kata adalah dengan meninggalkan ghaibah (berbisik membicarakan kejelekan orang lain). Meninggalkan dengan perbuatan dalam bid'ah, intensivikasi dalam perilaku peniadaan dengan penangguhan, dan dalam peniadaan Ahwal dengan jilbab. Dalam perbuatan dengan meninggalkan bid'ah, dalam intensivikasi perilaku dengan peniadaan penangguhan, dan dalam ahwal dengan peniadaan hijab.

112 | Risalah Al Qusyairi

Imam Abu Bakar Muhammad bin Husain bin Furak mengatakan, "Istiqamah adalah dosa dosa dalam penuntutan. Imam Abu Bakar Muhammad bin Husain bin Furak mengatakan, sin dalam istiqamah adalah sin penuntutan. Artinya para sufi Pelaku pelurusan Meminta sikap pada Al-Haq dengan didasarkan pada nilai-nilai tauhid, kemudian mereka mempunyai kekuasaan atau kekuatan menjaga janjinya dan BatasanBatasan hukumnya ". Artinya para pelaku sufi meminta pelurusan sikap pada Al-Haq dengan didasarkan pada nilai-nilai tauhid, kemudian mereka menepati janjinya dan menjaga batasan-batasan hukumnya. Ketahuilah Bahwa keabadian Istiqamah mengharuskan Karamah. SWT berfirman: Ketahuilah bahwa istiqamah mengharuskan keabadian karamah. SWT berfirman : "Dan Jika mereka tetap Berjalan mulus (Istiqamah) di atas jalan itu (agama Islam), tentu Kami akan benar-benar memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak). (Al Jin 16) Dan jika mereka tetap berjalan mulus (istiqamah) di atas jalan itu (agama Islam), tentu Kami akan benar-benar memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak). ( Al Jin 16) tidak mengatakan "saqaiNaahum" yang bermakna Kami memberi minum kepada mereka, akan tetapi mengatakan, "Asqainaahum" yang bermakna Kami benar-benar memberi minum kepada mereka. tidak mengatakan saqaiNaahum yang bermakna Kami memberi minum kepada mereka, akan tetapi mengatakan , Asqainaahum yang bermakna Kami benar-benar memberi minum kepada mereka. Arti ini mengandung makna keabadian. Arti ini mengandung makna keabadian.

113 | Risalah Al Qusyairi

Al-Junaid bercerita: Saya pernah Bertemu seorang pemuda di bawah pohon besar di daerah pedalaman. Al-Junaid bercerita : Saya pernah bertemu seorang pemuda di bawah pohon besar di daerah pedalaman. Pemuda Ini merupakan salah seorang sufi murid yang sedang menjalani laku bathin. Pemuda ini merupakan salah seorang murid sufi yang sedang menjalani laku bathin. Dia sedang duduk di bawah pohon Suatu besar. Dia sedang duduk di bawah suatu pohon besar. "Apa yang membuatmu duduk di sini?" Tanya saya. Apa yang membuatmu duduk di sini ? tanya saya. "Mencari hal yang hilang". Mencari hal yang hilang. jawabnya jawabnya Sayapun berlalu meninggalkannya. Sayapun berlalu meninggalkannya. Ketika pulang dari haji, saya mendapatkan pemuda tadi berpindah tempat duduk di dekat pohon besar. Ketika pulang dari haji, saya mendapatkan pemuda tadi berpindah tempat duduk di dekat pohon besar. "Apa yang membuatmu pindah dan duduk di sini?" Apa yang membuatmu pindah dan duduk di sini ? "Saya Menemukan apa yang saya cari ternyata ada di tempat ini. Saya menemukan apa yang saya cari ternyata ada di tempat ini. Karena itu saya pindah dan menetapinya ". Karena itu saya pindah dan menetapinya. Al-Junayd heran dan bergumam, "Saya tidak tahu, mana yang lebih mulia. Al-Junaid heran dan bergumam, Saya tidak tahu, mana yang lebih mulia. Apakah tetapnya (Istiqamah) karena pencarian sesuatu hal yang hilang atau tetapnya pada Suatu tempat yang di dalamnya diperoleh apa yang dikehendakinya ". Apakah tetapnya (istiqamah) karena pencarian sesuatu hal yang hilang atau tetapnya pada suatu tempat yang di dalamnya diperoleh apa yang dikehendakinya. Ikhlas

114 | Risalah Al Qusyairi

SWT berfirman : Iungatlah bagi Allah agama yang murni (Az-Zumar 3) Dari sahabat Anas bin Malik bahwa RasuluLlah bersabda : : , , Tiga perkara yang tidak bisa dikhianati hati seorang muslim, yaitu keikhlasan amal karena Allah SWT, saling menasihati dalam penguasaan masalah, dan tetapnya jamaah umat Islam. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Ikhlash adalah penunggalan Al-Haqq dalam mengarahkan semua orientasi ketaatan. Dia dengan ketaatannya dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata, tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditujukan untuk makhluk, tidak untuk mencari pujian manusia atau makna-makna lain selain pendekatan diri kepada Allah SWT. Bisa juga dikatakan bahwa ikhlas merupakan penjernihan perbuatan dari campuran semua makhluk atau pemeliharaan sikap dari pengaruh-pengaruh pribadi. RasuluLlah SAW pernah ditanya tentang makna ikhlas lalu dijawab : : Saya bertanya kepada Jibril AS tentang ihklas, apakah itu ? kemudian dia berkata, Saya bertanya Tuhan tentang ikhlas apakkah itu ?, dan Tuhanpun menjawab, Ikhlas adalah Rahsia dari beberapa rahasia-Ku yang Aku titipkan pada hati orang yang Aku cintai diantara hambahamba-Ku. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ikhlas adalah keterpeliharaan diri dari keikut campuran semua makhluk. Shidiq (kebenaran) adalah kebersihan diri dari penampakan-penampakan diri. Orang yang ikhlas tidak memiliki riya dan orang yang sidiq tidak akan kagum pada dirinya sendiri. Dzunun Al-Mishri berkata, Ikhlas tidak akan sempurna kecuali dengan sabar dan kebenaran di dalam ikhlas. Shidiq tidak akan sempurna kecuali dengan ikhlas dan terus menerus di dalam ikhlas. Abu Yaqub As-Susi berkata, Kapan saja seseorang masih memandang ikhlas dalam keikhlasannya, maka keikhlasannya membutuhkan keikhlasan. Dzunun Al-Mishri berkata, Ada tiga alamat yang menunjukkan keikhlasan seseorang, yaitu keitadaan perbedaan antara pujian dan celaan, lupa memandang perbuatannya di dalam amal perbuatannya
115 | Risalah Al Qusyairi

sendiri, dan lupa menuntut pahala atas amal perbuatannya di kampung akhirat. Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, ikhlas adalah ketiadaan bagian atas suatu hal bagi dirinya. Ini adalah ikhlas orang kebanyakan. Adapun ikhlas orang khusus adalah apa yang terjatuh atau terlimpah pada mereka, bukan bersama mereka. Karena itu dari mereka muncul ketaatan dan diri mereka terpisah dari ketaatan itu sendiri. Mererka tidak memandang dan menghitung ketaatan yang terlimpahkan keada diri mereka. Demikian ini merupakan kelompok orang khusus. Abu Bakar Ad Daqaq berkata, Kekurangan setiap orang yang ikhlas dalam keikhlasannya adalah kebiasaan melihat keikhlasannya. Jika Allah menghendaki memurnikan keikhlasan seseorang, maka Dia menggugurkan penglihatan keikhlasannya pada keikhlasannya, sehingga dia menjaid orang yang diikhlaskan atau dimurnikan, bukan orang yang ikhlas atau berusaha mensucikan diri. Sahal bin AbduLlah mengatakan, Tidak ada yang mengetahui orang yang riya selain orang yang ikhlas. Abu Said mengatakan, Riya orang-orang yang ahli marifat lebih utama daripada ikhlas para murid. Dzunun Al Mishri mengatakah, Ikhlas adalah apa yang terpelihara daripada permusuhan yang merusak. Abu Utsman Al-Hirri mengatakan, Ikhlas adalah pelupaan penglihatan makhluk dengan keabadian memandang Sang Maha Pencipta. Khudzaifah Al-Marisi berkata, Ikhlas adalah penyamaan perbuatan-perbuatan hamba pada segi lahir maupun bathin. Dikatakan juga bahwasanya ikhlas adalah apa yang dikehendaki Al-Haqq dan yang dimaksudkan tujuan shiddiq (kebenaran). Terkadang juga ikhlas diartikan sebagai kepura-puraan tidak tahu daripada melihat berbagai amal perbuatan. As-Sirry As-Saqaty mengatakan,Barang siapa menghiasi dirinya untuk manusia dengan sesuatu yang tidak ada pada manusia, maka dia gugur dari pandangan Allah. Al-Fudhail bin Iyadh mengatakan,Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan berbuat amal kenbajikan karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah pembebasan Allah pada anda dan keduanya. Al-Junaid mengatakan, Ikhas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya. Tidak ada malaikat yang mengetahui dan mencatatnya. Tidak ada syetan yang mengetahui dan merusaknya, dan tidak ada hawanafsu yang mengetahui lalu mencondongkannya. Ruwaim mengatakan, Keikhlasan suatu perbuatan adalah ketiadaan kehendak bagi pemiliknya untuk mendapatkan ganti / pahala dari dua

116 | Risalah Al Qusyairi

alam (dunia dan akhirat) dan ketiadaaan permintaan bagian dari dua malaikat (penjaga neraka dan surga). Ditanyakan kepada Sahal bin AbduLlah, Hal apa yang paling berat bagi manusia ? Ikhlas. Karena di dalamnya tidak ada tuntutan bagian bagi pelakunya. Jawabnya. Sebagian ahli sufi juga ditanya tentang hal yang sama lalu dijawab, Hendaknya engkau tidak mempersaksikan amalmu selain kepada selain Allah SWT. Seorang sufi bercerita : Saya pernah masuk ke urmah Sahal bin AbduLlah pada hari jumat sebelum salat dilaksanakan. Saya lihat di rumahnya ada seekor ular yang menmbuat saya mengedepankan seseorang dan mengakhirkan yang lain. Tiba-tiba Sahal berkata,Masuklah, seseorang tidak takan mencapai hakikat iman sementara di permukaan bumi masih ada yang ditakutkan. Apakah kamu hendak salat Jumnat ? Tanya dia kemudian. Saya lantas berkata bahwa diantara kami dan masjid terdapat jarak sejauh perjalanan kaki sehari semalam. Saya menempuh jarak perjalanan itu dan tidak ada jarak lagi selain tinggal sedikit sehingga saya melihat masjid lalu saya masuk dan salat jumat di dalamnya. Kemudian saya keluar dari masjid tiba-tiba Sahal berkata, Orang-orang yang mengucapkan Laa Ilaaha IllaLlah sangat banyak, akan tetapi yang ikhlas sangat sedikit. Makhul berkata, Tidaklah seorang hamba selama 40 hari mampu berbuat ikhlas melainkan sumber-sumber hikmah akan keluar dari hatinya melalui lidahnya. Yusuf bin Husain berkata, Paling mulia sesuatu di dunia adalah ikhlas. Betapa berat asaya berjuang menggugurkan riya dari hati saya tetapi seakan-akan riya masih tumbuh dengan warna yang lain. Abu Sulaiman Ad-daraani berkata, Jika seorang hamba ikhlas, maka rasa waswas dan riya akan terputus darnya. Malu

117 | Risalah Al Qusyairi

berfirman : Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya melihat segala perbuatannya (Al-Alaq 14) SAWW bersabda : Malu itu sebagian dari iman. Suatu hari SAWW memberi pelajaran kepada para sahabat : Malulah kalian pada dengan sebenar-benar malu. Para sahabat menjawab, Sesungguhnya kami telah merasa malu wahai Nabi Alloh. Kami bersyukur dapat berbuat demikian. Beliau bersabda, Bukan demikian ! akan tetapi orang yang malu pada yang sebenarnya adalah orang yang menjaga kepalanya dan apa yang terekam di dalamnya, menjaga perut dan apa yang dihimpunnya, dan ingatlah kalian pada kematian dan bahayanya. Barang siapa menghendaki kampung akhirat maka tinggalkanlah perhiasan dunia. Barang siapa mampu mengerjakan demikian, maka sungguh dia telah malu kepada dengan sebenar-benar malu. Sebagian orang bijak mengatakan, Malulah kalian dengan rasa malu yang sesungguhnya di majlis orang-orang yang memiliki rasa malu. Ibnu Atha mengatakan, Ilmu terbesar adalah rasa segan dan malu. Jika segan dan malu telah hilang, maka tida ada kebaikan yang tersisa di dalamnya.

118 | Risalah Al Qusyairi

Dzun Nun Al-Mishri mengatakan, Rasa malu adalah adanya rasa segan di dalam hati bersamaan dengan keterlepasan segala sesuatu yang telah lewat dari dirimu menuju ke hadirat Tuhanmu. Dikatakan, Cinta adalah berbicara, rasa malu adalah diam membisu, dan rasa takut adalah kegelisahan. Abu Utsman mengatakan, Orang yang berbicara dengan suasana hati yang diliputi rasa malu, tetapi apa yang dibicarakannya tidak di dalam suasana rasa malu karena maka dia adalah orang yang menipu. Hasan Al-Hadad bertamu ke rumah AbduLlah bin Manazil. Dari mana kamu, Tanya tuan rumah. Dari majlis Abul Qasim Al-Mudzakir. Tentang apa dia berbicara ?. Tentang malu. Sungguh mengherankan orang yang tidak punya rasa malu kepada bagaimana dia bisa berbicara masalah malu ? As-Sirri As-Saqathi bekata, Sesunggunya rasa malu dan jinak memasuki hati. Jika di dalamnya keduanya menemukan zuhud dan wara maka keduanya akan turun. Jika tidak, maka keduanya akan pergi. Ahmad Al-Jariri mengatakan, Sebagian manusia pada kurun pertama bekerja sama dengan agama dalam hal-hal di antara mereka hingga agama menjadi tipis. Kemudian pada kurun kedua bekerja sama dengan pemenuhan janji hingga pemenuhan itu sendiri itu hilang. Kemudian pada kurun ketiga bekerjasama dengan keperwiraan hingga keperwiraan itu sendiri hilang. Kemudian pada kurun keempat bekerja sama dengan rasa malu hingga rasa malu itu hilang. Dan akhirnya jadilah api yang bekerja sama dengan kesenangan dan ketakutan. Dikatakan dalam firman-Nya :

119 | Risalah Al Qusyairi

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya (Yusuf 20) Sesungguhnya burhan atau tanda kebesaran Tuhan (bukti) melemparkan pakaian pada wajah berhala di sisi rumah. Yusuf AS berkata, Apa yang sedang kamu kerjakan ? Burhan tadi menjawab, Saya malu pada . Yusuf AS pun menimpalinya, Saya lebih utama daripada kamu untuk malu kepada . Di dalam firman-Nya disebutkan, Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan kemalu-maluan (Al-Qashas 25) Ayat ini ditafsiri dengan mengartikan sesungguhnya wanita itu malu kepada Musa AS karena berani memintanya untuk datang bertamu ke rumahnya. Dia malu pada kemungkinan tidak bersedianya Musa AS atas undanganya. Sifat pengundang yang malu ini merupakan cermin dari sifat malu yang mulia. Abu Sulaiman Ad-Darani menuturkan bahwa berfirman, Hai HambaKu sesungguhnya engkau tidak malu kepada-Ku padahal Aku telah menjadikan manusia lupa pada aib-aibmu, menjadikan bumi lupa pada dosa-dosamu, menghapus keteledoranmu dari kitab catatan induk dan tidak akan mendebat hasil hitungan (catatan amalmu) pada hari kiyamat. Diceritakan ada seorang lelaki mengerjakan shalat di luar masjid, lalu ditanyakan kepadanya, Mengapa kamu tidak masuk saja dan mengerjakan shalat di dalamnya ? Dia menjawab, Saya malu kepada untuk masuk ke dalam rumah-Nya sementara saya sering bermaksiyat kepada-Nya. Dikatakan diantara tanda-tanda orang yang punya rasa malu adalah tidak melihat tempat yang dipandang memalukan.

120 | Risalah Al Qusyairi

Sekelompok ulama sufi bercerita, Kami di waktu malam pernah melakukan perjalanan jauh dan melewati berbagai tempat yang menjadi sarang harimau. Tiba-tiba di tempat itu kami menemukan seorang laki-laki yang sedang tidur sementara kudanya dibiarkan merumput di samping kepalanya. Kami mencoba menggerakkan tubuhnya dan iapun terbangun. Tidakkah kamu takut tidur di tempat yang menakutkan. Ini adalah tempat sarang harimau. Kata kami mencoba mengingatkannya. Namun lelaki itu tidak menampakkan ketakutan sama sekali di raut wajahnya. Dia mengangkat kepalanya lalu mengatakan, Saya malu kepada untuk takut pada selain-Nya. Dia kembali meletakkan kepalanya dan tertidur. memberi wahyu kepada Nabi Isa AS, Nasihatilah dirimu, jika telah menasehati dirimu maka nasihatilah manusia. Jika tidak malulah kamu kepada-Ku untuk memberi nasihat kepada manusia. Dikatakan, malu memiliki beberapa bentuk. Malu karena satu pelanggaran sebagaimana Adam AS ketika ditanyakan kepadanya Apakah kamu akan lari dari Kami ? lalu dijawab, Tidak bahkan malu kepada-Mu. Malu karena kekurangan sebagaimana yang dikatakan para malaikat, Maha Suci Engkau tidaklah kami dapat menyembah-Mu sebenarbenar penyembahan. Malu karena pengagungan sebagaimana malaikat Israfil AS ketika mengenakan sayapnyan karena malu kapada . Malu karena kemuliaan sebagaimana SAWW yang malu pada umatnya yang hendak meminta mereka keluar (dari acara undangan perjamuan akan tetapi beliau malu mengatakan, maka berfirman : Dan janganlah kalian terlalu asyik memperpanjang percakapan (Al-Ahzab 53).

121 | Risalah Al Qusyairi

Malu karena hubungan kerabat sebagaimana Imam Ali RA ketika ditanya Miqdad bin Aswad tentang masalah madzi sampai dia menanyakannya kepada SAWW, dia malu karena mengingat kedudukan Fatimah RA sebagai puteri SAWW yang menjadi isterinya. Malu karena perendahan sebagaimana Nabi Musa AS yang mengatakan, Sesungguhnya saya butuh sedikit dunia yang membuat saya malu untuk meminta kepada-Mu wahai Tuhan. pun menimpalinya, Mintalah kepada-Ku hingga adonanmu tergarami dan kambingmu diberi makan. Malu karena penganugerahan. Malu semacam ini merupakan sifat malu milik Tuhan yang terjadi ketika Dia menyodorkan buku catatan kepada hamba setelah dia selesai melewati shiratal mustaqim menuju surga. Tuhan memberikan buku catatan itu dalam keadaan tertutup rapat seraya mengatakan, Enkau telah melakukan .engkau telah melakukan. Saya sungguh malu untuk menampakkan catatan itu kepadamu. Pergi, dan saya benar-benar telah mengampunimu. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan bahwa Yahya bin Muadz mengatakan, Maha Suci Dzat yang hamba-Nya berbuat dosa namun Dia malu kepadanya. Fudhail bin Iyadh mengatakan, Ada lima tanda kesengsaraan yaitu hati yang keras, mata yang beku, sedikit malu, cinta dunia, dan panjang angan-angan. Dalam sebagian kitab disebutkan, tidak ada seorang hambapun yang mencapai separuh hak-Ku. Dia berdoa kepada-Ku dan Saya malu menolaknya. Di bermaksiyat kepada-Ku tetapi tidak malu kepada-Ku. Yahya bin Muadz mengatakan, Barang siapa malu kepada dalam keadaan taat, maka akan malu kepadanya ketika dia melakukan dosa. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, Ketahuilah sesungguhnya malu mengharuskan pencarian.. dikatakan pula, malu adalah pengerutan hati untuk pengagungan Tuhan. Dikatakan, jika seseorang duduk untuk memberikan peringatan kepada manusia, maka dua malaikat memangggilnya seraya berkata, Nasihatilah dirimu dengan apa-apa yang kamu nasihatkan kepada kawanmu. Jiak tidak, maka malulah kepada Tuhanmu Yang selalu melihatmu.
122 | Risalah Al Qusyairi

Al-Junaid ditanya tentang malu, lalu dijawab, Memandang buruk dan kurang terhadap perbuatan baikmu. Diantara dua perbuatan itu akan lahir suatu kondisi yang dinamakan malu Muhammad Al Washiti berkata, Tidak akan merasakan kelezatan malu seseorang yang merobek ketentuan hukum atau melanggar janji. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, Malu adalah meninggalkan pengakuan di hadapan .Abu Bakar Al-Warraq berkata, Terkadang saya shalat dua rekaat karena lalu berpaling dari keduanya. Kondisi saya dalam posisi sebagai orang yang berpaling dari pencurian semacam ini merupakan bentuk rasa malu.

123 | Risalah Al Qusyairi