Anda di halaman 1dari 3

GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Definisi Gangguan pendengaran akibat bising adalah gangguan pendengaran yang disebabkan akibat

terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Gangguan pendengaran akibat bising bersifat sebagai tuli sensorineural koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga. Bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Secara audiologik bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekuensi. Bising dengan intensitas berlebih dapat merusak organ-organ pendengaran. Penyebab Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpajan bising, antara lain menjadi tuli akibat terpajan bising, antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekuensi tinggi, lebih lama terpapar bising, mendapat pengobatan yang bersifat racun terhadap telinga (obat ototoksik) seperti streptomisin, kanamisin, garamisin (golongan aminoglikosida), kina, asetosal, dan lain-lain. Gejala Kurang pendengaran disertai tinitus (berdenging di telinga) atau tidak. Pada keadaan berat dapat disertai keluhan sukar menagkap percakapan dengan kekerasan biasa dan bila sudah lebih berat percakapan yang keras pun susah dimengerti. Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi adaptasi, peningkatan ambang dengar sementara (temporary treshold shift) dan peningkatan ambang dengar menetap ( permanent treshold shift) . 1. Reaksi adaptasi adalah respon kelelahan akibat rangsangan oleh bunyi dengan intensitas 70 dB SPL (sound pressure level) atau kurang. Keadaan ini merupakan fenomena fisiologis pada saraf telinga yang terpajan bising.
adaptation is the response of fatigue due to stimulation by sound with intensity 70 dBSPL (sound pressure level) or less. This situation is a physiological phenomenon innoises-exposed auditory nerve 2. Peningkatan ambang dengar sementara, merupakan keadaan terdapatnya peningkatan

ambang dengar akibat pajanan bising dengan intensitas yang cukup tinggi. Pemulihan dapat terjadi dalam satuan hari. 3. Peningkatan ambang dengar menetap, merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan ambang dengar menetap akibat pajanan bising dengan intensitas sangat tinggi berlangsung singkat (eksplosif) atau berlangsung lama yang menyebabkan kerusakan pada berbagai struktur koklea, antara lain kerusakan organ corti, sel-sel rambut, stria vaskularis dll. Pengaruh bising pada pekerja, secara umum dibedakan menjadi dua macam, yaitu : 1. Pengaruh auditorial berupa tuli akibat bising dan umumnya terjadi dalam lingkungan kerja dengan tignkat kebisingan yang tinggi. 2. Pengaruh non auditorial dapat bermacam macam misalny gangguan komunikasi, gelisah, rasa tidak nyaman, gangguan tidur, peningkatan tekanan darah dan lain sebagainya. Patologi

Bising dengan intensitas tertentu menimbulkan kerusakan pada telinga dalam. Lesinya sangat bervariasi dari disosiasi organ corti, ruptur membran, perubahan stereosillia dan organel subselluler. Bising juga menimbulkan efek pada sel ganglion, saraf, membran tektoria, pembuluh darah dan stria vasularis. Stimulasi dengan intensitas bunyi sedang mengakibatkan perubahan ringan pada sillia dan hensens body, sedangkan stimulasi dengan intensitas yang keras dengan waktu pajanan yang lebih lama akan mengakibatkan kerusakan pada struktur sel rambut lain seperti mitokondria, granula lisosom, lisis sel dan robekam di membran reissner. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, riwayat pekerjaan, pemeriksaan fisik dan otoskopi serta pemeriksaan penunjang seperti audiometri. Anamnesis pernah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya lima tahun atau lebih. Pada pemeriksaan otoskopik tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan audiologi, tes penala didapatkan hasil tes rinne positif, webber lateralisasi ke telinga pendengaran yang lebih baik dan schwabach memendek. Kesan jenis ketulianya tuli sensorineural. Pemeriksaan lain seperti pemeriksaan audiologi khusus yaitu tes SISI (short increment sensitivity index), ABLB (alternate binaural loudness balance), audimetry bekessy, audiometri tutur (speech audiometry), hasil menunjukkan ada fenomena rekrutmen (recruitment) yang patognomonik untuk tuli sensorineural koklea. Rekrutmen adalah suatu fenomena pada tuli sensorineural koklea, dimana telinga yang tuli menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan intensitas bunyi yang kecil pada frekuensi tertentu setelah terlampaui ambang dengarnya. Orang yang menderita tuli sensorineural koklea sangat terganggu oleh bising latar belakang (background noise), sehingga bila orang tersebut berkomunikasi di tempat yang ramai akan mendapat kesulitan mendengar dan mengerti pembicaraan. Keadaan ini disebut sebagai cocktail party deafness. Penatalaksanaan Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga terhadap bising, seperti sumbat telinga (earplug), tutup telinga (ear muff) dan pelindung kepala (helmet). Tuli akbat bising merupakan tuli sensorineural koklea yang bersifat menetap (irreversibel), bila gangguan pendengaran sudah mengganggu komunikasi dapat dicoba dengan pemasangan alat bantu dengar (ABD/Hearing Aid). Apabila dengan bantuan ABD masih susah untuk berkomunikasi maka diperlukan psikoterapi agar dapat menerima keadaanya. Latihan pendengaran (auditory training) agar dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Selain itu oleh karena pasien mendengar suaranya sendiri sangat lemahl, rehabilitasi suara juga diperlukan agar dapat mengendalikan volume, tinggi rendah dan irama percakapan. Pada pasien yang telah mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Prognosis

Akibat jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli seonsorineural koklea yang sifatnya menetap, dan tidak dapat diobati dengan obat maupun pembedahan, maka prognosisnya kurang baik. Oleh karena itu pencegahan sangat dibutuhkan. Pencegahan Meredam sumber bunyi agar manusia tidak terpapar langsung dengan intensitas tinggi. Para pekerja pabrik yang menimbulkan kebisingan di wajibkan menggunakan alat pelindung bising seperti sumbat telinga, tutup telinga danpelindung kepala. Selain alat pelindung telinga terhadap bising dapat juga diikuti ketentuan pekerja di lingkungan bising yang berintensitas lebih dari 85dB tanpa menimbulkan ketulian, misalnya dengan menggunakan tabel di bawah ini. Melakukan identifikasi sumber bising melalui survey kebisingan di tempat kerja ( walk through survey), melakukan analisis kebisingan dengan mengukur kebisingan menggunakan sound level meter (SLM, atau octave band analyzer), melakukan kontrol kebisingan dengan berbagai cara peredaman berbagai bising, melakukan tes audiometri secara berkala pada pekerja yang beresiko. Menerapkan sistem komunikasi, informasi, dan edukasi serta menerapkan penggunaan APD (alat pelindung diri) secara ketat dan melakukan pencatatan dan pelaporan data.