Anda di halaman 1dari 12

UJI KOEFISIEN FENOL

I.

Tujuan Pratikum 1. Pengujiaan koefisien fenol dari povidon iod 2. Memahami dan dapat melakukan uji koefisien fenol

II.

Tinjauan Pustaka Untuk desinfektan, hasil analisis kimiawi saja tidak cukup memberikan informasi bagi efektifitas daya desinfeksinya. Untuk itu perlu ditunjang dengan hasil-hasil penetapan secara mikrobiologis. Menurut sejarahnya penetapan bakteriologis desinfektan dimulai oleh Koch tahun 1881 dengan mengimpregnasi benang sutera dengan spora Bacillus anthracis kemudian dicelup kedalam larutan kimia ( desinfektan ) selama berbagai waktu tertentu. Setelah dipapar dengan larutan desinfektan benang suter tadi dicuci dengan air, kemudian diinokulasikan kepada medium Nutrien Gelatin atau kepada binatang untuk mengetahui daya hidup mikroba dari mikroba uji tadi. Konsentrasi desinfektan / germisida yang efektif

diprosedur diatas dianggap efektif

pula untuk penggunaan

sebenarnya. Delephin ( 1907 ) dan peneliti lain mengadopsi cara benang sutera tadi dengan mengukur aktifitas germisida dari bahan-

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 1

bahan kimia terhadap bakteri yang tidak membentuk spora. Cara benang sutera tadi punya kelemahan yaitu : 1. Benang-benang sutera yang telah dicelup desinfektan,

meskipun dicuci, cendrung membawa sejumlah desinfektan kedalam media. 2. Miroba uji cendrung terlindungi terhadap aktivitas dari bahan kimia/desinfektan oleh lapisan film dari bahan organic yang terbawa dari media biakan dimana bakterinya semula ditumbuhkan. Rideal dan Walker ( 1903 ) berpendapat perlu adanya standar zat kimia dan method yang tepat untuk membandingkan dan mengevaluasi desinfektan. Mereka menggunakan bahan kimia murni sebagai standar, yaitu fenol. Selanjutnya mereka menetapkan pula spesifikasi standar untuk media, mikroba uji dan menggunakan jarum ose untuk transfer biakan mikrobiologi. Meskipun metoda Rideal dan Walker telah mengalami revisi dan modifikasi beberapa kali dalam kurun waktu 80 tahunan ( 1903- 1987 ) ini, tetapi konsep dasarnya tetap mengunakan fenol sebagi pembanding, sehingga dinamakan metoda Koefisien Fenol. Metoda ini merupakan cara pengenceran dalam tabung unrtuk menentukan pengenceran tertinggi ( konsentrasi terendah ) dari bahan kimia/desinfektan yang mematikan mikroba dalam suatu seri interval waktu tertentu, pada kondisi tertentu. Hasilnya

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 2

dibandingkan terhadap aktivitas yang diberikan oleh fenol sebagai pembanding. Mikroba Uji Salmonella thypi Staphylococcus aureus Pseudomanas aeruginosa Pembanding : Fenol Digunakan fenol USP yang mempunyai titik beku pada 40C atau diatasnya. Dibuat larutan stok 5 %, disimpan dalam botol tertutup terbuat dari gelas amber, ditempat dingin, terlindungi dari cahaya. Fenol dibakukan dengan larutan Kalium atau Natrium bromat. Cara Penetapan Dibuat l;arutan stok dari desinfektan yang akan diperikasa kofisien fenolnya, yaitun larutan dengan konsentrasi 1 %. Dari l;arutan stok dibuat pengenceran-pengenceran. Dari l;arutan stok fenol 5 % dibuat pengenceran 1 ; 90 dan 1: 100. Hasil pengenceran fenol dan desinfektan dimasukkan sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi, kemudian semua tabung ditempatkan diatas penangas air ( dicelup ) yang bersuhu 20C dan biarkan 5 menit. Kedalam masingmasing tabung yang berisi enceran desinfektan dan fenol dimasukkan biakan mikroba uji. Dibiarkan kontak selama 5 menit, kemudian dilakukan tranrsfer pertama dengan jalan menginokulasikan 1 jarum

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 3

ose dari tabung desinfektan kedalam tabung perbenihan yang berisi Nutriem Broth ( 5 10 ml ). Selanjutnya dilakukan transfer kedua setelah periode kontak 10 menit, dan kemudian transfer ketiga setelah periode kontak 15 menit. Tabung-tabung hasil inokulasi pada 37C selama 48 jam. Pada akhir periode inkubasi hasilnya diamati ( dilihat dan dicatat ada tidaknya pertumbuhan ). Perhitungan koefisien fenol Koefisien fenol adalah pengenceran tertinggi desinfektan yang dapat mematikan mikroba uji dalam waktu 10 menit, tetapi tidak dapat mematikan dalam 5 menit. Dinyatakan dalam angka numeric yang diperoleh dengan membagi angka numeric

pengenceran tertinggi dari desinfektan , dengan pengenceran tertinggi fenol yang memberi hasil yang sama terhadap mikroba uji. Contoh : Bakteri uji : Salmonella typhi Desinfektan X 5 10 menit menit 0 0 + 0 + 0 + + + + Fenol + + 0 +

Pengenceran 1 : 300 1 : 325 1 : 350 1 : 375 1 : 400 1 : 90 1 : 100

15 menit 0 0 0 0 + 0 +

Maka koefisien fenol dari desinfektan X =

= 3.89 = 3.9

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 4

Untuk membuat larutan desinfektan yang akan digunakan dalam praktek, dapat dipakai pedoman umum, yaitu : Koefisien fenol x 20 Menyatakan jumlah bagian air yang digunakan untuk melarutkan satu bagian desinfektan guna menghasilkan larutan desinfektan yang efektif. III. Prosedur Kerja Bahan dan alat: 1. Biakan Salmonella typhi 2. Medium Nutrien Broth 3. 24 tabung reaksi terisi dengan 10 ml Nutrient broth 4. 10 tabung reaksi steril 5. Aquadest steril 6. Pipet steril 1 ml 7. Pipet steril 10 ml 8. Larutan 5 % Fenol 9. Kapas, incubator, oven, jarum ose, , timbangan analitik. Persiapan 5 tabung reaksi steril berturut- turut diberi tanda Fenol 1: 70, Fenol 1: 80, Fenol 1: 90, Fenol 1: 100, Fenol 1: 110. 5 tabung reaksi steril berturut- turut diberi tanda PV I 1 : 250, PV I 1 : 300, PV I 1 : 350, PV I 1 : 400, PV I 1 : 450,

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 5

Menyiapakan suspense bakteri dengan kerapatan 1000 sel / ml. Bakteri yang digunakan dalah yang diremajakan..

Kedalam masing masing tabung tersebut diatas ditambahkan aqua dest steril dalam jumlah-jumlah tercantum dalam daftar dibawah ini. Setelah itu dengan pipet steril lainnya dicampur larutan dibawah ini juga. Enceran Fenol

Enceran Air suling ( ml ) Fenol 1 : 20 ( 5 % ) ( ml ) Fenol 1: 70 5 2 Fenol 1: 80 6 2 Fenol 1: 90 7 2 Fenol 1: 100 8 2 Fenol 1: 110 9 2 Masing-masing campuran diambil 5 ml Enceran Povidon Iod Fenol 1 : 20 ( 5 % ) ( ml ) PV I 1 : 250 3 2 PV I 1 : 300 4 2 PV I 1 : 350 5 2 PV I 1 : 400 6 2 PV I 1 : 450 7 2 Masing-masing campuran diambil 5 ml 1. 5 tabung reaksi yang berisi Nutrient broth berturut turut diberi tanda : fenol 1 : 70, 5 menit ------------- fenol 1 : 110, 5 menit 1. 5 tabung reaksi yang berisi Nutrient broth berturut turut diberi tanda : fenol 1 : 70, 10 menit ------------- fenol 1 : 110, 10 menit
Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002 Page 6

Enceran

Air suling ( ml )

1. 5 tabung reaksi yang berisi Nutrient broth berturut turut diberi tanda : PV I 1 : 250 , 5 menit ------------- PV I 1 : 450, 5 menit

1. 5 tabung reaksi yang berisi Nutrient broth berturut turut diberi tanda : PV I 1 : 250 , 10 menit ------------- PV I 1 : 450, 10 menit

Cara mengerjakan: a. Ambil 0.5 ml suspense bakteri tersebut masukkan kemasingmasing tabung reaksi yang berisi pengenceran larutan fenol dan povidon iod b. Tepat 5 menit setelah tabung dengan tandafenol 1 : 110 diisi dengan suspense bakteri , maka 1 mata ose dari cairan tersebut dimasukkan kedalam tabung terisi medium Nutrien Broth yang telah diberi tanda fenol 1 : 110, 5 menit . c. Lakukanlah penanaman dengan cara yang sama pada tabung tabung lain yang terisi medium Nutrien Broth dan telah diberi tanda fenol 1 : 100, 5 menit dan seterusnya. d. Tepat 10 menit setelah tabung dengan tanda fenol 1 : 110, diisi enceran fenol, maka pekerjaan seperti tersebut diatas dilakukan dengan tabung Nutrien Broth dan diberi tanda fenol 1 : 110, 10 menit , fenol 1 : 100, 10 menit dan seterusnya. e. Pada tabung-tabung dengan Povidon Iod dilakukan pekerjaan yang sama seperti dengan tabung-tabung Fenol.

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 7

f. Setelah selesai maka tabung-tabung terisi dengan Nutrien Broth diinkubasi pada suhu 37 C. Catatlah setelah 48 jam, dalam tabung mana ada pertumbuhan bakteri ( + ) dan didalam tabung mana keadaan tetap steril ( 0 ) IV. Hasil dan Pengamatan Fenol 5 menit 0 + + + + Povidon Iod + + + + 0

Enceran Fenol 1: 70 Fenol 1: 80 Fenol 1: 90 Fenol 1: 100 Fenol 1: 110 PV I 1 : 250 PV I 1 : 300 PV I 1 : 350 PV I 1 : 400 PV I 1 : 450

10 menit 0 + + + + + + 0 0 0

Maka koefisien fenol dari obat kumur = V. Pembahasan

= 6.43

Dari pratikum penentuan koefisien fenol dari larutan obat kumur yang mengandung desinfektan Povidon Iod 1 % diperoleh nilai koefisien fenolnya = 6.43. Dari data table hasil pratikum diatas dapat dilihat bahwa larutan fenol dapat mematikan mikroba dalam waktu 10 menit adalah larutan fenol 1: 70, seharusnya ada larutan fenol lain dengan penenceran tertinggi ( konsentrasi rendah ) yang dapat mematikan mikroba, hal ini barangkali disebabkan karena pada saat mengencerkan larutan induk

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 8

fenol tidak larut sempurna, sehingga pada larutan serinya konsentrasi fenolnya berkurang dari yang seharusnya. Sedangkan pada larutan desinfektan sampel dapat dilhat bahwa larutan PV I 1 : 450 dapat mematikan mikroba setelah 10 menit. Berdasarkan data diatas praktikan sudah bias menghitung nilai koefisien fenol dari larutan obat kumur. VI. Kesimpulan Koefisien fenol larutan obat kumur adalah 6.43 dan praktikan sudah paham dan mengerti akan cara kerja uji koefisien fenol ini.

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 9

VII.

Daftar Pustaka

Tim Mikrobiologi.2011.Mata Kuliah Mikrobiologi Penutun Pratikum. Padang: STIFI Yayasan Perintis Pratikum Mikrobilogi.Padang:

Rangkuti,Dorlan.dkk.1994.Penuntun SMAKPA

Atmawidjaja,Sudana.1988.Analisis Mikrobiologi, Obat, Makanan Dan Lingkungan.Bandung: ITB

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 10

LAPORAN PRATIKUM MIKROBIOLGI UJI KOEFISIEN FENOL

DISUSUN OLEH : FIVI YUNIANTI ( BP : 1004002 ) SHERLY RAMADHANI ( BP : 1004030 ) RECI SRIMARDESI ( BP : 1004034 )

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA YAYASAN PERINTIS PADANG 2011

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 11

Laporan Mikrobilogi,created by Fivi Yunianti,1004002

Page 12