Anda di halaman 1dari 19

Desain Gaya Arsitektur Bangunan yang Tanggap Terhadap Lingkungan Beriklim Tropis

Fath Trinugrohoadiwijaya Abstraksi Perubahan suhu yang saat in terjadi secara global mengakibatkan perubahan pola hidup manusia termasuk pula di bidang arsitektur perancangan, berkembang pesatnya material bangunan memiliki kecenderungan semakin hari semakin tidak ramah terhadap lingkungan. Pola kehidupan manusia mulai berubah dengan sendirinya, begitupula dengan gaya berarsitektur masyarakat saat ini, di Negara seperti Indonesia ini, iklim merupakan salah satu hal yang paling harus dipertimbangkan untuk melaksanakan sesuatu, dalam pemilihan bahan bangunan tentu saja iklim sangat berpengaruh. Berbeda dengan Negara-negara Eropa yang merupakan negara tidak beriklim tropis, perbedaan sangat signifikan terjadi manakala penerapan gaya bangunan berlainan iklim diterapkan pada sebuah negara yang berlawanan iklimnya. Indonesia beriklim tropis yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi, hujan terjadi di negara ini bisa sangat lebatnya dengan angin yang kencang. Berbeda dengan negara Eropa yang merupakan negara beriklim sub tropis meiliki curah hujan yang cukup kecil, dalam hal gaya arsitektur negara-negara ini memiliki pandangan tersendiri untuk menyesuaikan dengan iklim mereka, maka munculah aliran-aliran arsitektur dengan gaya mereka, dengan pengaruh negara Eropa yang sangat kuat terhadap negara lainnya maka teori-teori tentang arsitektur cara barat tersebar dengan mudah. Negara Tropis seperti di Indonesia sebagian besar masyarakatnya adalah orang-orang yang paham akan teknologi dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru, dalam hal ini adalah gaya arsitektur. Banyaknya literatur dari barat tidak mengindikasikan gaya arsitektur mereka beberapa sangat tidak cocok jika diterapkan di kawasan tropis. Maka yang terjadi adalah banyak bangunan-bangunan di negara tropis justru bangunan yang sebenarnya paling layak jika di bangun di kawasan sub tropis, akibatnya adalah penyesuaian-penyesuaian banyak dilakukan pada bangunan tersebut. Hendaknya dalam mewujudkan arsitektur yang maju harus dipertimbangkan iklim yang paling utama, bila ditelaah lebih dalam, bangunan tradisional Indonesia adalah bangunan yang paling cocok di kawasan tropis ini, selain hemat energi, bahan bangunannya tidak merusak lingkungan dan tidak menimbulkan efek yang merugikan bagi kawasan sekitarnya dalam kata lain sebagai bangunan yang ramah terhadap lingkungan, jika ini diterapkan pada skala yang lebih besar maka akan terwujud kawasan yang ramah lingkungan. Kata kunci: Tropis, Sub Tropis, Gaya Arsitektur, Ramah lingkungan

Pembahasan Dewasa ini bangunan tradisional Indonesia mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri, beragam gaya arsitektur mewabah di bumi Indonesia, dan semua adalah asli produk dari bangsa Barat. Istilah global architecture destroyed the regional environment merupakan salahsatu hal yang patut dicermati, masyarakat bangsa-bangsa timur saat ini lebih condong dengan arsitektur barat yang pada hakekatnya malah menghancurkan khasanah arsitektur timur yang unik dan berasal dari tempat-tempat aslinya. Hal yang paling penting untuk dijadikan parameter kebutuhan desain arsitektur adalah iklim, cuaca atau keadaan suhu disuatu tempat. Secara global adalah iklim di wilayah dunia bagian timur adalah tropis, tropis meliputi beberapa bagian bumi, meliputi sabuk yang lebar di sekitar pertengahan bumi, luasnya kira-kira 23,50 tingkat kearah kedua kutup dari katulistiwa dan berisi hampir 40% total permukaan daratan bumi, dengan curah hujan yang relatif tinggi, suhu udara yang cukup tinggi, pada siang hari mampu mencapai 350 C yang harus ditoleransi oleh masyarakat tropis, banyaknya hujan yang sering terjadi pada kawasan tropis memiliki tingkat kelebatan yang tinggi. Dari segi positif keadaan ini adalah tropis memiliki hutan-hutan yang lebat, pohon-pohon mudah untuk tumbuh, sehingga tercipta keseimbangan antara cuaca yang ekstrim dengan pengendalinya yaitu pepohonan. Masyarakat tradisional kawasan timur sudah sejak lama mengakomodasikan alam ini, belajar dari alam lalu menyesuaikan dengan alam untuk dapat beradaptasi dengan baik, namun keadaan mulai berubah manakala dominasi barat mengalami penguatan dalam segala hal, pada bidang arsitektur dimulai pada abad ke-20 arsitektur telah menjadi sekedar fungsional, rasionalisme, standarisasi dan ekonomi, kesemuanya ini adalah kehidupan yang dibuat-buat yang membosankan. Maka muncul penerapan-penerapan desain baru yang bukan sekedar hal-hal diatas, kreatifitas, gaya hidup, dan perubahan pola pikir masyarakat mempengaruhi apresiasi desain arsitektur. Hegemoni barat mengakar kuat sejak dahulu mengakibatkan masyarakat timur mulai tercuci otaknya dengan adanya teori-teori negara barat, idiom bahwa negara barat adalah negara yang maju (walaupun kenyataannya memang demikian) mengakibatkan masyarakat negara timur menjadikan negara barat sebagai acuan dalam segala bidang. Dalam ranah arsitektur begitu kentara dengan pemakaian teori-teori barat untuk literatur desain, disebutkan sebagai teori-teori yang pakem namun jika diaplikasikan di kawasan ini dibutuhkan beberapa penyesuaian. Banyak faktor yang mengakibatkan masyarakat tropis memilih teori-teori, langgamlanggam arsitektur barat, diantaranya adalah faktor ekonomi, walaupun bukan sebagai faktor utama, faktor ekonomi memberikan dampak yang cukup signifikan, saat ini banyaknya masyarakat dengan ekonomi berlebih menjadikan prestise sebagai kiblatnya, dalam bidang arsitektur di Indonesia khususnya ukuran keberhasilan seseorang adalah memiliki rumah yang mewah, megah, dan mengikuti gaya arsitektur barat yang sedang tenar. Jika disinkronkan dengan bidang arsitektur biasanya masyarakat ini lebih memilih desain bangunannya yang tidak ada duanya di kawasan tersebut dan disesuaikan dengan trend terbaru pada waktu itu, atau dengan desain-desain karya luar negeri, tidak memikirkan faktor iklim, lingkungan atau keseragaman kawasan, mereka lebih cenderung memperlihatkan perbedaan secara ekstrim. Faktor lainnya yang berpengaruh adalah pola pikir masyarakat yang cenderung

mentasbihkan negara barat sebagai pusat dari segala-galanya. Perkembangan jaman yang begitu pesat, perkembangan teknologi yang kian meningkat menjadikan hidup semakin dipermudah dengan teknologi, segalanya saat ini menjadi serba instan, mudah diakses, dan tidak perlu membebani pikiran. Dalam bidang arsitektur pola pemikiran ini berlaku, dengan munculnya desain-desain dengan gaya arsitektur yang beragam, kesemuanya itu menindaklanjuti paradigma pemikiran manusia yang semakin maju dan berkembang.

Sebuah rumah dengan gaya arsitektur mediterania yang disesuaikan dengan iklim tropis Pemilihan gaya arsitektur yang dipengaruhi oleh gaya arsitektur barat sering diaplikasikan pada perumahan di kawasan tropis, sekedar untuk mengejar keuntungan ekonomi saja atau mengapresiasi keinginan masyarakat modern. Konsekuensinya adalah dengan penambahan-penambahan bahan guna mengantisipasi kekurangsesuaian gaya arsitektur barat pada iklim tropis.

Dari gambar diatas mengindikasikan bahwa perlu penyesuaian terhadap bangunanbangunan dengan desain yang kurang akrab dengan kondisi iklim tropis. Permasalahan yang didapat adalah jatuhnya air hujan yang berlimpah sehingga mengakibatkan teras rumah menjadi tergenang, terjadi rembesan-rembesan air pada sekitar jendela dan pintu

depan. Seharusnya dalam menentukan pemilihan gaya bangunan perlu diperhatikan beberapa aspek yang penting, beberapa kriteria tersebut adalah: - kondisi klimat yang terdapat pada wilayah tersebut, dengan memperhatikan: suhu maksimum, minimum dan rata-rata. Curah hujan. Radiasi matahari. Arah dan kecepatan angin. Pemahaman seperti ini memang seharunya diberikan oleh arsitek untuk meyakinkan klien bahwa penyesuaian gaya arsitektur pada iklim nantinya sangat perlu, akan berkaitan dengan daya tahan bangunan, kenyamanan penghuni, dan kesatuan lingkungan serta dampak ekologi yang akan timbul. Salah satu aplikasi bangunan yang diharapkan sesuai dengan lingkungan dengan iklim tropis adalah Menara Mesiniaga Malaysia, dengan konsep arsitektur bioklimatik, mengetengahkan bangunan dengan green building.

Menara Mesiniaga dengan konsep arsitektur bioklimatik

Salahsatu hal yang dipikirkan pada bangunan ini adalah memanfaatkan energi matahari sehingga hemat pada beberapa komponen bangunan. Iklim tropis memiliki cahaya matahari yang menerangi sepanjang 12jam, sehingga pemanfaatannya dapat berguna untuk bangunan, tentunya dengan beberapa teknik penggunaan, seperti penggunaaan sun shading untuk mengatur seberapa banyak pancahayaan yang masuk. Selain itu diterapkan pula pengolahan lansekap, berupa taman berbentuk spiral yang melilit dari bawah sampai atas bangunan. Lansekap vertikal ini berfungsi sebagai pendingin evaporatif supaya didapat kenyamanan termal (lingkungan disekitar bangunan menjadi tidak terlalu panas), pengaplikasian vegetasi pada strategi lansekap ini disamping menyediakan pembayangan terhadap area-area bagian dalam dan dinding bagian diluar, juga akan meminimalkan pemantulan panas dan sinar matahari. Selain itu lansekap vertikal dapat meningkatkan iklim mikro pada bangunan dan dapat menyerap polusi karbondioksida dan monoksida pada bangunan. Jika penerapan-penerapan ini diaplikasikan pada bangunan-bangunan tropis maka diharapkan menjadi bangunan-bangunan yang tanggap terhadap lingkungan, sesua dengan ikim tropis dan tidak merugikan bangunan atau lingkungan disekitarnya. Dibutuhkan pemahaman akan gaya berarsitektur baik secara mikro tentang bangunan maupun secara global tentang lingkungan yang harus menjadi pertimbangan. Kesimpulan Seringkali seseorang terpancang dengan modernitas pemikiran gaya arsitektur yang berkembang pada saat ini, hal ini didukung dengan pengetahuan instan tentang arsitektur yang mulai marak di dapat pada buku-buku arsitektur, seharusnya pemikiran arsitektur harus diimbangi dengan seorang arsitek yang menerangkan akan kelebihan dan kekeurangan bahan konsumsi instan tersebut. Diharapkan pada masa selanjutnya adalah pemahaman akan arsitektur lebih baik bila disesuaikan dengan kondisi kehidupan di kawasan ini, baik dilihat dari faktor iklim, atau faktor-faktor yang lainnya. Arsitektur hijau adalah mendesain untuk menyatukan apa yang akan kita bangun (yaitu semua yang akan kita buat seperti gedung, jalan, mobil, pendingin, mainan, makanan, dll) dengan lingkungan alami di sekitarnya secara terpadu dan berkelanjutan.

(Ken Yeang, Betterbricks Interview) Referensi Hakim, R, 2003, Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap Prinsip-prinsip dan aplikasi desain, Bumi Aksara, Jakarta. Nugroho, F, 2005, Low Energy Office, Tugas Seminar Studi Kelompok Semester VII, Mahasiswa Strata Satu UNDIP (tidak dipublikasikan). Wright, F, 1939, Between Principle and Form, Yeang, K, 1996, The Skycraper, Bioclimatically Consider, Singapore. Yeang, K, 1987, Tropical Urban Regionalism, A Mimar Book, Singapore.

Mengolah Bangunan Tropis Tinggal di negara tropis harusnya membuat kita semua sadar arti penting merancang bangunan yang sesuai iklim. Artinya, iklim setempat dapat diolah semaksimal mungkin sehingga bermanfaat bagi kehidupan kita. Salah satunya dengan menerapkan metode konstruksi yang alami dan bersahaja, seperti rumah tinggal karya arsitek Tan Tjiang Ay ini.
MENGOLAH LAHAN

Berapa pun ukuran lahan Anda, usahakan 60% total lahan diperuntukkan bagi ruang terbuka hijau. Buatlah taman atapa atau green wall (bila taman horizontal tak memungkinkan). Penghijauan berlapis sebagai buffer akan meredam hawa panas jika menggunakan dinding kaca atau dinding solid. Upayakan merancang bangunan dengan taman yang mengelilingi bangunan. Apabila luas lahan mencukupi, tanami pohon-pohon besar dan kombinasikan dengan tumbuhan tropis atau yang berkarakter rimbun. Beragam tumbuhan tropis yang kanopinya berfungsi sebagai stabilator kelandaian tanah, menyaring cahaya matahari dan menjadi paru-paru tambahan untuk memberikan oksigen bagi kesehatan paru-paru. Manfaatkan dinding teras di samping atau di belakang rumah untuk air aliran terjun. Bila menggunakan lantai semen, beton, atau paving block, selingi dengan tanah berumput. Atau gunakan paving block yang bisa dimasukkan tanah dan rumput agar memudahkan penyerapan air hujan. Penempatan kolam dekat dengan bukaan seperti jendela, pintu, atau dinding terbuka agar energi air yang menenangkan dapat menyerap panas di dalam ruang.

MENGOLAH BANGUNAN Aplikasikan dinding semen acian atau dinding kamprot tanpa cat untuk meminimalkan biaya bahan pada fasad bangunan. Rancang teras rumah dengan overstek lebar dengan kemiringan atap yang disesuaikan jatuhnya air hujan ke rumput atau penampungan air untuk meminimalkan tampias. Untuk mengefektifkan biaya bahan dan konstruksi, rancanglah jendela dan pintu dalam ukuran, dan model. Gunakan bahan kusen yang sama. Lindungi pintu masuk ke dalam bangunan dengan kanopi lebar.
MENGOLAH RUANG TIDUR

Usahakan kamar tidur mendapatkan sirkulasi udara cukup. Tempatkan jendela atau pintu mengarah ke ruang terbuka hijau. Untuk kamar tidur, cukuplah dengan merancang tinggi plafon standar, asalkan banyak terdapat bukaan. Kamar tidur seyogianya hanya untuk tidur. Maka, rancanglah kamar secara efisien dengan ukuran secukupnya. Sisa lahan dapat dimanfaatkan untuk penghijauan.
MENGOLAH RUANG KELUARGA

Tempatkan ruang keluarga pada area void dengan ketinggian plafon di atas 3 m, maksimalkan penggunaan lantai mezanin. Jangan lupa untuk merancang banyak bukaan di area inti ini. Gunakan furniture dan perangkat interior yang fungsional saja, agar ruang tetap terlihat lapang. Pastikan furniture tidak menutupi atau menghalangi bukaan.
MENGOLAH RUANG MAKAN

Letakkan ruang makan dekat dengan bukaan agar mendapatkan cahaya matahari dan udara segar.
Penulis: Yuli Andyono (Kontributor - Jakarta)

[Dari femina 20 / 2010]

Design Desain Bangunan Pada Rumah Tropis


Tuesday, 22 September 2009 03:01 admin

Building Design Design In Tropical House

Prinsip desain bangunan yang diterapkan pada rumah tropis dapat menciptakan sistem udara alami yang ideal. Building design principles applied to the tropical house can create a natural air system ideal. Ada 3 prinsip desain yang saling mendukung terciptanya sistem pengudaraan alami pada rumah tropis, yakni penerapan model atap bertingkat, bukaan yang tepat (seperti letak jendela, lubang ventilasi, dan klerestori), dan ruang-ruang ber-void. Simak bagaimana prinsipprinsip tropis saling bekerja sama. There are 3 design principles of mutual support in creating natural pengudaraan system in the tropical house, the roof of the application of multilevel models, appropriate openings (such as location of windows, vents, and klerestori), and the spaces were void. Consider how the principles of mutual tropical "work together". Memakai Sopi-sopi / Wearing Sopi-gin Rumah desain modern tropis terdiri dari 3 lantai; lantai 2 dan 3 berupa mezanin (sebagian lantai di bagian depan dihilangkan). Setiap lantai mezanin diberi atap sehingga bentuk atapnya bertingkat. Model

bangunan rumah seperti tropis bertujuan memudahkan dibuatnya bukaan untuk mengalirkan udara. Setiap atap panjangnya dilebihkan untuk menghindari tampias karena adanya bukaan-bukaan. Modern design tropical house consists of 3 floors; 2nd and 3rd floors of mezanin (some floors at the front omitted). Each floor roof so mezanin given rise roof forms. Model building such as a tropical house aims to facilitate the opening made to flow the air. Each roof length to avoid dilebihkan due tampias openings. Struktur desain bangunan utama atap bertingkat tropis menggunakan dinding sopi-sopi beton. Sebenarnya kuda-kuda atap kayu atau baja juga bisa digunakan, namun sopi-sopi dipilih karena plafon interior dirancang mengikuti kemiringan atap. Penggunaan sopi-sopi diharapkan dapat memberikan kesan bersih dan luas. Structure design of the roof-storey main building with a wall of tropical gin-gin concrete. Actually, the horses of wood or steel roof can also be used, but the gin-gin chosen for the interior ceiling is designed to follow the slope of the roof. The use of gin-gin is expected to give the impression of clean and spacious. Karena ada klerestori (jendela dekat atap), maka perlu ada balok melintang tambahan untuk menopangnya. Desain atap lainnya adalah atap tambahan atau teritisan berupa struktur balok konsol, misalnya pada balkon atau jendela di lantai bawah. Because there klerestori (windows near the roof), it is necessary to have an additional beam to sustain it. Another roof design is the additional roof or eaves of the block structure consoles, such as on balconies or windows in the basement. Meletakkan Lubang Ventilasi / Ventilation holes placed Prinsip mengalirkan udara di bangunan rumah adalah adanya ventilasi silang yang dapat dicapai dengan meletakkan bukaan-bukaan yang saling berseberangan dan berbeda ukuran. Cara tersebut dapat menciptakan perbedaan tekanan sehingga udara bisa mengalir (prinsip terjadinya angin). The principle of air flow in home building is a cross ventilation can be achieved by placing openings opposite each other and different sizes. The way it can make a difference so that the air pressure can flow (the principle of the wind).

Pergerakan udara pada desain rumah tropis agar bisa mengalir secara horizontal maupun vertikal. Aliran horizontal pada desain rumah tropis terjadi karena adanya jendela dan lubang-lubang ventilasi yang letaknya saling berseberangan di dua sisi dinding. Selain itu, ada pula klerestori, yaitu jendela yang terletak di bagian atas dinding yang menempel tepat di bawah atap. Setiap lantai memiliki bukaan, semuanya dinaungi oleh teritisan atap agar tidak tampias. The movement of air in the tropical house design in order to flow horizontally and vertically. Horizontal flow in the tropical house design is due to the windows and ventilation holes are located opposite each other on the two sides of the wall. In addition, there is also klerestori, the window located at the top of the wall attached just below the roof. Each floor has openings, all shaded by the roof eaves to avoid tampias. Membuka Sebagian Lantai / Opening Some Floor Perlu ada void untuk mengalirkan udara secara vertikal. Void dapat terbentuk karena sebagian lantai di lantai 2 dan 3 dibiarkan terbuka (lantai mezanin). Perpaduan void dan klerestori bisa membuat udara panas yang masuk ke dalam ruang dapat terangkat ke atas (melalui void) dan keluar melalui klerestori (seperti proses aliran udara pada cerobong) sehingga udara di dalam jadi lebih dingin. Need a void for air flow vertically. Voids can be formed as part of the floor on the floor 2 and 3 left open (mezanin floor). The combination klerestori void and can make the hot air into the space can be lifted up (by void) and exit through klerestori (such as the air flow in the chimney) so the air inside a cooler. Selain untuk mengalirkan udara, void berguna untuk memasukkan cahaya alami yang diteruskan sampai ke lantai bawah. Efek dari hilangnya sebagian lantai tropis juga menciptakan suasana yang luas dan terbuka. Untuk Arsitektur Rumah / Bangun Rumah ? Visit Us http://arsitekturrumah.com In addition to the air flow, voids useful to incorporate natural light transmitted to the floor below. The effect of the loss of the floor also creates a tropical atmosphere and wide open. To Architecture Houses / Build Houses? Visit Us http://arsitekturrumah.com Last Updated ( Saturday, 27 February 2010 22:37 )Bangunan Iklim Tropis

Arsitektur Beriklim BIO Beberapa arsitek dunia percaya bahwa bangunan yang responsif terhadap iklim adalah bangunan yang berhasil. Hal ini terdapat di rumah tinggal Riadi Rizal Basjrah yang benar-benar dinikmati oleh anggota keluarganya. Julukan arsitektur beriklim bio telah populer pada tahun 50'an dan mengingatkan kita pada proyek-proyek dari Frank Lloyd Wright. Biasanya arsitektur yang menganut prinsip demikian ditandai pemakaian banyak materi kayu, teras-teras atau balkon yang memberikan bayangan pada bangunan. Di samping itu bangunan ini banyak memiliki unsur penyejuk melalui pengudaraan alami. Riadi Rizal Basjrah seorang insinyur pertanian alumni IPB, termasuk orang yang kreatif dan memiliki minat yang besar terhadap dunia arsitektur. Kecintaannya terhadap keindahan bangunan serta aspek-aspek fungsional yang mengikutinya, diimplementasikannya pada bangunan rumahnya. Hal ini dipelajarinya secara otodidak. Pada akhirnya, ia mencapai apa yang selama ini diidamidamkannya yaitu mampu mengembangkan ide dan mewujudkan desainnya secara konseptual. Hasilnya adalah sebuah hunian yang secara khusus mendapat perhatian maksimal dalam proses pembangunannya. Program ruang-ruang, fungsi setiap ruang dan pemakaian bahan bangunan yang tepat mampu beradaptasi terhadap iklim tropis. Karya ini merupakan representasi karya arsitektur yang berarsitektur dan beriklim bio di negara tropis seperti Indonesia ini. Konsep bangunan rumah ini bisa digolongkan cukup baik secara ekologis dan harmonis terhadap lingkungannya sehingga mampu mengurangi biaya konsumsi energi yang sekaligus memberi keuntungan pada pemiliknya. Sejumlah uji coba dilakukan oleh Riadi Rizal Basjrah dan tim perancang dengan

mengkaji potensi bangunan, iklim dan lingkungan tempat bangunan ini berada, serta pengolahan bahan dari alam untuk ditingkatkan kegunaannya. Hal tersebut terlihat pada teknik inovatif pembentuk setiap unsur pendukung bangunan seperti daun pintu yang dilapisi oleh kayu kelapa anyaman dekoratif. Ukuran daun pintu lebih besar dari ukuran standar yang dimaksudkan untuk keleluasaan bagi penghuni bangunan. Hal lain yang menarik dari rumah ini adalah komposisi letak ruang yang tampil manis dan harmoni sesuai dengan karakter pemiliknya. Oleh Riadi, sedapat mungkin semua ruangan digunakan secara efektif, mulai dari ruangan duduk tamu, ruangan keluarga, kamar-kamar tidur, ruangan musik, ruangan bermain anak, teras, ruangan makan, dapur bersih, dapur kotor, halaman rumah, ruang bawah tangga bahkan garasi. Dengan demikian kita melihat ukuran ruangan tamu cukup mungil dan efisien dengan diisi hanya dengan satu sofa dan satu meja kopi. Ruangan tamu ini memiliki "wewenang" ruang karena berada pada level yang lebih rendah dari ruangan lain di dalam rumah. Pemisahan ruang ini dengan ruang lainnya menggunakan undakan 5 anak tangga yang menuju ruangan duduk keluarga. Ruangan duduk merupakan yang paling lapang karena keinginan Riadi untuk memberikan tempat yang cukup untuk menampung seluruh keluarga besar bila berkumpul. Sisi kiri ruangan memiliki bukaan berupa pintu-pintu dan jendela yang mengarah ke halaman belakang. Bukaan tersebut saling menyilang dengan bukaan yang dikondiskan pada ruangan musik di depan ruangan duduk keluarga. Pada awalnya, ruangan musik ini merupakan teras yang menghubungkan balkon di depan rumah dan halaman belakang. Dengan alasan tertentu teras ini diubah menjadi ruangan musik semiterbuka yang sangat nyaman. Satu bagian bidang dindingnya dilapisi kaca cermin, sehingga refleksinya tampak ke seluruh ruangan utama di dalam rumah yang memberi efek lebih lega pada ruangan. Antara ruangan musik dan ruangan duduk keluarga dipisahkan oleh dinding pembatas solid ditengah ruang. Dinding ini sekaligus dipakai sebagai latar belakang televisi. Kedua sisi yang tidak dibatasi dinding, dipasang partisi berupa pintu sorong yang dilapisi bilah-bilah kayu yang dikombinasikan dengan kaca cermin. Maka, ketika pintu sorong ini ditarik

keluar, terciptalah dinding partisi yang cantik dan bergaya. Ruangan makan yang terletak di samping ruangan duduk keluarga juga tidak luput dari perhatian tim perancang. Ruangan ini menyatu dengan ruangan keluarga dan terhubung pula dengan ruangan duduk tamu dengan undakan. Ketika ada acara berkumpul bersama, pemilik rumah dapat menyediakan ruangan yang memadai. Disamping itu ruangan-ruangan lain di dalam rumah tampil harmonis satu sama lain serta fungsional. Memang Riadi ingin agar setiap penghuni dapat memakai ruang-ruang yang sudah diciptakan tersebut. Setiap jalur antarruang dibuat sirkulasi sehingga hampir semua ruang terhubung langsung sesuai dengan irama aktivitas penghuni sehari-hari. Inilah yang disebut rumah beriklim bio, yang dibangun Riadi sebuah rumah tinggal yang sehat, nyaman, aman dan indah untuk keluarganya. Keterangan Gambar: Gb.1 Desain bangunan yang cukup kental unsur tropisnya. Pengaturan rumah tanpa pagar, mampu memperlihatkan ciri-ciri ketimuran seperti bentuk atap, gubahan dinding, bukaan dan level bangunan yang ditinggikan, semuanya merupakan sistem beradaptasi terhadap iklim. Gb.2 Tangga menuju pintu masuk utama. Teras pintu masuk hanya berbentuk persegi dinaungi kanopi. Gb.3 Ruangan makan yang terlihat dari halaman belakang. Teknik penempatan cahaya buatan dan furnitur pelengkapnya terlihat serasi. Gb.4 Bekas teras yang dijadikan ruangan musik. Sistem ventilasi silang ini sangat menguntungkan untuk memberikan keleluasaan udara bergerak keluar masuk. Gb.5 Detail bukaan ke arah halaman belakang. Gb.6 Ruangan duduk di lantai atas yang dilengkapi kursi lengan dan meja sisi bergaya etnik dan antik. Gb.7 Hubungan ruangan makan dengan ruangan lain seperti ruangan duduk tamu yang berada lebih rendah.

Gb.8 Dinding-dinding pembatas panel kayu tampil berupa pintu geser/sorong atau balokbalok vertikal pada tangga. Gb.9 Bagian dari konstruksi tangga, kombinasi bahan kayu dan besi tempa. Gb.10 Bidang dinding di ruangan duduk difungsikan untuk lemari penyimpan yang dilapis anyaman kayu kelapa. Gb.11 Undakan dari ruangan duduk tamu menuju ruangan duduk keluarga. Gb.12 Ruangan duduk keluarga yang menampakkan dinding pembatas. Kedua sisinya dibuat pintu geser berupa panel bilahbilah kayu vertikal yang membuka ke arah ruangan musik. Gb.13 Bukaan ke halaman belakang bangunan dari sisi ruangan makan. Gb.14 Ruangan tamu yang mungil dibatasi oleh dinding yang berbatasan dengan ruangan makan dan jalur servis.

Rumah Modern Tropis, Bangunan Mengagumkan Suasana Menyejukkan


Lantai dasar lebih tinggi dari jalan. Ini yang menciptakan bangunan tampak megah. Ruangan dibuat lebar dan banyak bukaan. Desain inilah yang membuat ruang jadi sejuk. Bangunan ini terdiri atas tiga lantai, lantai dasar berada 5m diatas permukaan jalan. Ada tangga sebagai selasar untuk menuju pintu utama. Ketinggian ini yang menciptakan bangunan berkesan megah.

Pemilik nya sengaja menaikkan lantai dasar menjadi seolah-olah menggantung. Padahal letak lantai dasar itu memang di lantai dua. Area dibawah nya dimanfaatkan sebagai area servis dan home theater.

Agar tampilan rumah ini tidak kaku, pemilik nya mengolah bagian depan selasar menggunakan kisi-kisi dan vegetasi, berupa terasering tanaman dan bambu. Selasar beratap datar yang menempel pada bangunan. Itu yang membuat suasana menjadi asri dan teduh.

Coba kita masuk ke lantai dasar, ruangan nya mirip hall persegi panjang. Di sisi kiri ada ruang keluarga yang berjendela besar menghadap halaman depan. Pada bagian tengah dan pojok terdapat ruang makan, yang menyatu dengan pantry. Di kanan terdapat tangga berkonstruksi beton, railing terbuat dari staninless steel dan kaca. Tangga menjadi terang dengan adanya skylight. Melalui tangga tadi, kita dapat menuju ke lantai atas. Bagian muka diisi ruang fitnes berdinding kaca pada bagian yang menghadap tangga. Ruangan lapang dan bermandikan cahaya, disitu juga terdapat kamar tidur utama dan dua kamar anak, yang letak nya berseberangan. Diantara kamar anak ada kamar mandi, yang juga sebagai akses antar kamar anak yang bersebelahan itu. Ruang-ruang itu dilengkapi furnitur custom made dan beli jadi. Furnitur cuctom made, antara lain ranjang, lemari pakaian , meja kerja, dan meja belajar, serta kitchen set.
RDV Arsitek melayani : Design Interior Rumah Engineer Design Architect Design Project Manager Home & Property Design Furniture Apartement, kami memberikan solsi terbaik dalam : Membangun dan Merenovasi Rumah tinggal Desain Arsitektur, Gambar Kerja, Gambar 3D, Animasi Rencana Anggaran RAB & Konsultasi Pengawasan bangunan Tel. + 62 711 3272856 HP. + 62 817 538810 http://www.rdvarsitek.com admin@rdvarsitek.com

Tata Bangunan Written by Administrator Wednesday, 25 February 2009 03:54


Bangunan pada kampus Kwala Bekala menerapkan konsep bangunan ekologis di daerah tropis. Pertimbangan penghematan energi dan repon terhadap konteks iklim dan lingkungan menjadi dasar diterapkannya konsep ini. Konsep dasar bangunan ekologis adalah bangunan dengan ciri sebagai berikut:

Bangunan yang dapat mengakomodasi fungsi dengan baik dengan memperhatikan kekhasan aktivitas manusia pemakaiannya serta potensi lingkungan sekitarnya dalam membentuk citra bngunan Memanfaatkan sumber daya alam terbaru yang terdapat di sekitar kawasan perencanaan untuk sistem bangunan, baik yang berkaitan dengan material bangunan maupun untuk utilitas bangunan (sumber energi, penyediaan air). Sistem bangunan bentuk yang mudah sehingga dapat dikerjakan dan dipelihara oleh tenaga kerja setempat. Bangunan yang sehat, artinya yang tidak memberi dampak negatif bagi kesehatan manusia dalam proses, pengoperasian/purna huni, maupun saat pembongkaran. Di dalambya juga termasuk lokasi yang sehat, bahan yang sehat, bentuk yang sehat, bahan yang sehat, bentuk yang sehat dan suasana yang sehat.

Dasar Analisis Untuk Sistem Bangunan Alamiah: Secara geografis kawasan ini berada di antara 31750 LU dan 98, 3656 BT dengan ketinggian 550 meter di atas permukaan laut. Dengan demikian kawasan termasuk dalam kategori iklim tropis lembab dengan karakter hujan tropis yang dominan. Tujuan perancangan yang penting adalah menciptakan ruang yang nyaman bagi aktifitas manusia. Kenyamanan fisik tersebut banyak dipengaruhi oleh kondisi iklim setempat. Iklim bukanlah sesuatu yang harus dilawan, tetapi merupakan keistimewaan kawasan yang menjadi bagian integratif dari perancangan bangunan. Caranya, bangunan didesain agar dapat bersahabat dengan iklim. Analisis kenyamanan bangunan dalam kerja sama dengan iklim dilakukan melalui kajian sistem bangunan alamiah, yaitu meminimalkan penggunaan peralatan mekanis, antara lain: 1. Pengkondisian udara panas secara alamiah 2. Perlindungan terhadap panas matahari, curah hujan dan kelembaban secara alamiah 3. Pencahayaan alamiah 4. Perlindungan terhadap debu dan kebisingan secara alamiah Bangunan dan Kesehatan: Bangunan yang sehat jauh dari bayangan kita tentang sebuah bangunan yang intelegent di mana terdapat berbagai perlatan elektronik dan bahan-bahan sistesis. Bangunan yang sehat akan meletakkan kesehatan dan ekologi sebagai prioritas utama kemudian menyusul gaya-gaya arsitektur. Bangunan yang cocok untuk dihuni manusia adalah bangunan yang mengekspresikan empati dan keberlanjutan dengan alam, untuk itu kita perlu mengindentifikasi kawasan perencanaan, mengeksploitasi masalah dan potensinya, untuk kemudian merencanakan alternatif pemecahan yang sesuai. Bangunan yang sehat memberikan kesempatan penghuninya untuk tumbuh dan berkembang dengan sehat secara fisik, emosi, mental dan spiritual.

Masalah: Intensitas panas matahari yang tinggi menyebabkan suhu udara tinggi, mengganggu kenyamanan termal, Intensitas cahaya matahari yang tinggi dapat menyebabkan kesilauan yang mengganggu kenyamanan visual, dsb. Potensi: Intensitas cahaya matahari dapat dimanfaatkan sebagai sumber pencahayaan alami pada siang hari untuk menghemat pemakaian energi listrik. Panas matahari yang cukup tinggi merupakan sumber energi yang tidak terbatas yang dapat dimanfaatkan untuk operasional bangunan. Curah hujan tinggi memungkinkan tumbuh suburnya tanaman yang dapat diintegrasikan dalam pernacangan bangunan. Kehidupan agraris d kwasan perencanaan serta potensi sumber daya alamnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber material utama untuk bangunan. Arahan Perencanaan Bangunan Ekologis: Perlindungan terhadap panas matahari Pemanfaatan matahari utnuk pencahayaan alamiah siang hari Pemanfataan angin untuk pengkondisian udara alamiah Antisipasi terhadap curah hujan/kelembaban Material Bangunan Ekologis: Inventarisasi dan seleksi material yang terdapat di sekitar kawasan perencanaan Pembudidayaan/pengolahan material potensial untuk pergantian bahan bangunan Pengawetan material Bangunan dan Kesehatan Citra Visual Bangunan: Citra dasar bangunan adalah arsitektur tropis dengan ciri utama elemen pembayang dan peneduh sinar matahri di keseluruhan fasd Di setiap zona citra arsitektur tropis diterjemahkan dalam sub tema yang berbeda Zona jalan masuk utama yang lebih banyak didominasi oleh fungsi perkantoran bercitra wibawa, kepercayaan dan massa kokoh dan berat. Zona akademik memberikan citra arsitektur tropis modern. Bangunan akademik maksimal berlantai 3. Laboratorium terpadu Bangunan utama pada zona hutan pendidikan (arboretum)

Bangunan pondok peristirahatan menerapkan konsep arsitektur ekologi ekologi paling murni. Orientasi Bangunan: Pergerakan matahari Pembentukan streetscape Kemudahan akses Konteks tapak/topografi Fungsi Landmark Elemen Pelindung Fasade Bangunan: Untuk menghasilkan bangunan yang hemat energi, setiap fasad bangunan harus diberi pelindung agar mengurangi bagian bangunan yang terpapar sinar matahari secara langsung. Penghitungan lebar minimal pelindung fasad didasarkan kepada solar chart. Penghitungan sudut jauh matahari mempertimbangkan titik ekstrem ketika matahari paling condong ke arah utara. Dll Modul Bangunan: Perencanaan modul bangunan terutama diterapkan pada bangunan di zona akademik Modul bangunan didasarkan pada: modul ruang, perbandingan panjang dan lebar serta perbandingan panjang dan lebar bangunan untuk ventilasi silang dan grid dtruktur. Modul struktur 8 x 8 Modul massa bangunan : 16 x 40 Pengembangan Unit Bangunan: Pengembangan unit bangunan sesuai dengan modul yang ditetapkan, dengan bentuk massa sesuai dengan bangunan yang ada dalam zona Modul satu massa bangunan akademik terdiri dari dua massa bangunan tipis memanjang dengan inner court berkanopi di tengahnya. Untuk bangunan akademik, pengembangan unit bangunan dengan meneruskan tidak hanya modul bangunan, tetapi ruang terbuka antar bangunan sebagai cluster yang tidak terpisah. Pengembangan vertikal tidak melebihi jumlah lantai maksimal yang diizinkan, yaitu 3 lantai,

kecuali bangunan tertentu berfungsi landmark.

Last Updated on Saturday, 21 March 2009 05:48

Anda mungkin juga menyukai