SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB NET DEATH RATE TINGGI DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD BANGIL

.........

Oleh :

INDRYA AYU NURFANY NIM. 100730351

UNIVERSITAS AIRLANGGA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT SURABAYA 2009

i

SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB NET DEATH RATE TINGGI DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD BANGIL

.........

Oleh :

INDRYA AYU NURFANY

UNIVERSITAS AIRLANGGA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT SURABAYA 2009

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

Oleh :

INDRYA AYU NURFANY NIM. 100730351

Surabaya, Agustus 2009 Mengetahui, Ketua Departemen, Menyetujui, Pembimbing,

Dr.Thinni Nurul Rochmah, Dra.Ec., M.Kes NIP. 196502111991032002

Prof. Dr. Stefanus Supriyanto, dr., M.S NIP. 194509161978021001

iii

PENGESAHAN

Dipertahankan di Depan Tim Penguji Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga dan diterima untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) pada tanggal 13 Agustus 2009

Mengesahkan Universitas Airlangga Fakultas Kesehatan Masyarakat

Dekan,

Prof. Dr. J. Mukono, dr., M.S., M.PH NIP. 194706171978021001

1. 2. 3.

Tim Penguji: Sudarmaji, S.KM., M.Kes Prof. Dr. Stefanus Supriyanto, dr., M.S Dyah Kusuma Triwardani, S.T., M.Kes

ii

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan barokah-Nya yang tiada henti kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NET DEATH RATE TINGGI DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD BANGIL KABUPATEN PASURUAN”, sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar S.KM. NDR yang merupakan indikator mutu pelayanan rawat inap Rumah Sakit. Semakin tinggi NDR maka mutu pelayanan semakin buruk. Selama tiga tahun terakhir dari tahun 2006-2008 rata-rata 52/‰ jauh dari standar Depkes yaitu 25/‰. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor yang menyebabkan NDR tinggi di ruang rawat inap interne dan menyusun rekomendaasi bagi pihak managemen RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan. Dengan terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan arahan yang diberikan kepada penulis. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. Stefanus Supriyanto, dr., M.S selaku dosen pembimbing. Selanjutnya ucapan terima kasih juga disampaikan kepada: 1. Prof. Dr. J. Mukono, dr., M.S., M.PH selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya. 2. Dr. Thinni Nurul Rochmah, Dra.Ec., M.Kes selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. 3. Direktur RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan dan karyawan yang telah membantu memberikan informasi pada saat penelitian. 4. Ibu dan Papa (Alm) tercinta atas doa, kasih sayang, pendidikan, dan pengetahuan sebagai bekal hidupku. 5. Mama dan Papa (Alm) mertuaku atas doa dan dukungannya. 6. Suamiku Gerry Dadag Athura dan anakku Mohammad Azza Kamal Mubarak terima kasih atas doa dan dukungannya selama ini. 7. Adikku Putri dan kakakku Wawan terima kasih atas doa dan dukungannya. 8. Dr. Azizah atasanku di Rekam Medis RSUD Bangil, terima kasih atas ijin dan dukungannya. 9. Teman-temanku satu kantor (Bu Titik, Bu Maizuna, Mbak Tutik, Pak Mulyadi, Pak Roni, Pak Ismail, Pak Suwaji, Zaki, Noval) terima kasih atas dukungannya. 10. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas semua bantuan dan dorongan yang telah diberikan kepada penulis dan semoga skripsi ini berguna baik bagi penulis sendiri maupun semua pihak yang membacanya.

Surabaya, Agustus 2009

iv

ABSTRACT

One indicator of hospital quality is the net death rate of incidence of death in patients ≥ 48 hours after being treated in hospital. Genesis NDR at room inpatient hospital interne Bangil high enough - average year 2006 - 2008 by 52 ‰. The aim of this study was to investigated factors that influence the occurrence of NDR. This research was observational research with cross sectional approach. This research instrument took sample of 176, ie large sample of existing inpatient room interne in April 2009. Quantitative research data prepared by the method of univariate, bivariate and multivariate logistic regression analysis with the test. The result of this research showed that the highest percentage incidence of NDR on the factors: 1) patient factors, age between 45-64 years of 43.8%, male gender - men 55%, primary school education level of 79.2%. Type of chronic disease by 100%, the severity of weight equal to 100%. 2) Service factor, speed of diagnosis and measures less than 1 day at 100%, accuracy of diagnosis of 91.7%. 3) Supervision conducted 1 X / day. 4) The evaluation is rarely done either specialists or medical committee. Based on the research, it is concluded that factors - factors that have an influence on the incidence of NDR is the education level, type and accuracy of disease diagnosis. So the suggestion of this research is IEC to the community, improve service quality, add support enforcement diagnostic tool and take advantage of intensive care room.

Keywords: NDR, Quality Performance, Room Inpatient Interne

v

Kesimpulan dari penelitian ini adalah faktor – faktor yang mempunyai pengaruh terhadap kejadian NDR adalah tingkat pendidikan semakin. Jenis penyakit kronis sebesar 100%. 2)Faktor Pelayanan.7%. Instrumen penelitian ini mengambil sampel sebesar 176. yaitu besar sample yang ada diruang rawat inap interne pada bulan April 2009. 4)Evaluasi jarang dilakukan baik dokter spesialis maupun komite medik. Maka saran atas penelitian ini adalah KIE kepada masyarakat. usia antara 45 – 64 tahun sebesar 43. menambah alat penunjang penegak diagnostik serta memanfaatkan ruang perawatan intensive. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil persentase terbesar kejadian NDR ada pada faktor : 1)Faktor pasien. Kata kunci : NDR. jenis kelamin laki – laki sebesar 55%. data penelitian diolah secara kuantitatif dengan metode univariate. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan crossectional.2%. meningkatkan kualitas pelayanan.ABSTRAK Salah satu indikator mutu rumah sakit adalah net death rate yaitu kejadian kematian pasien ≥ 48 jam setelah dirawat di rumah sakit. kecepatan diagnosis dan tindakan < 1 hari sebesar 100%. Kinerja Mutu. tingkat pendidikan SD sebesar 79. jenis penyakit dan ketepatan diagnosis. Kejadian NDR di ruang rawat inap interne RSUD bangil cukup tinggi rata – rata tahun 2006 – 2008 sebesar 52‰. 3)Supervisi dilakukan 1 X/hari.8%. Ruang Rawat Inap Interne vi . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi terjadinya NDR. tingkat keparahan berat sebesar 100%. bivariate dan multivariate dengan uji analisa regresi logistik. ketepatan diagnosis sebesar 91.

2 Tujuan Khusus 2.3 Rumusan Masalah 1.1.1 Pengertian Rumah Sakit 3.1.1 Faktor Sumber Daya Manusia 1.4 Faktor Pasien 1.1 Tujuan 2.1 Tujuan Umum 2.4 Batasan Masalah BAB II TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 2.2.2 Faktor Metode 1.1.1 Latar Belakang 1.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERSETUJUAN KATA PENGANTAR ABSTRACT ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN BAB I PENDAHULUAN 1.1.2.2 Macam Rumah Sakit i ii iii iv v vi vii xi xii xiii xiv 1 1 5 6 7 7 8 8 9 9 10 10 10 10 10 12 12 12 13 x .3 Faktor Fasilitas 1.2 Kajian Masalah 1.2 Manfaat Penelitian BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.5 Faktor Proses Pelayanan 1.2.1 Konsep Rumah Sakit 3.2.2.

1 Pengertian Mutu 3.3 Tingkat Pendidikan 3.2 Jenis Kelamin 3.6 Variabel Penelitian 5.8 Teknik Analisis 18 18 19 19 20 21 23 23 24 24 24 25 25 25 25 26 27 31 33 33 33 33 33 33 34 34 34 35 36 37 39 x .1 Sampel 5.3.2 Pengukuran Mutu 3.2 Poplasi Penelitian 5.4 Cara Pengambilan Sampel 5.6 Jenis Penyakit 3.3 Net Death Rate 3.3.3 Indikator Mutu 3.5 Keadaan Umum 3. Besar Sampel.3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian 5.10 Evaluasi BAB IV KERANGKA KONSEPTUAL BAB V METODE PENELITIAN 5.1.2.5 Kerangka Operasional 5.3 Cara Penentuan Sampel 5.2.3.7 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel 5.9 Supervisi 3.2 Besar Sampel 5.1 Usia 3.4.8 Response Time 3.3.2.7 Tingkat Keparahan Penyakit 3.4.3 Konsep Perawatan Tugas dan Fungsi Rumah Sakit 3.4 Tingkat Ekonomi 3.4.3 Sampel. Cara Penentuan Sampel dan Cara Pengambilan Sampel 5.1 Jenis dan Rancang Bangun Penelitian 5.4 Karakterisktik Pasien 3.2 Mutu Pelayanan 3.4.

3.3 Supervisi 7.2.1 Keadaan Umum 6.2 Karakteristik Pasien 6.1.2 Ketepatan Diagnosis 7.2 Jenis Kelamin 6.1.2.1 Hasil Penelitian 6.3 Kondisi Pasien Waktu Masuk Rumah Sakit 6.1 Kecepatan Diagnosis dan Tindakan 6.3 Tingkat Keparahan 6.1.3 Tingkat Pendidikan 6.2 Ketepatan Diagnosis 6.2 Jenis Kelamin 7.7 Isu Strategis BAB VII PEMBAHASAN 7.2.1 Kecepatan Diagnosis dan Tindakan 7.2.1 Usia 7.1 Usia 6.BAB VI HASIL 6.1.4.5 Keadaan Umum 7.2.2.3.5 Supervisi 6.1.6 Jenis Penyakit 7.1.4.2 Faktor Proses Pelayanan 7.4 Evaluasi 42 42 43 43 44 45 45 46 46 47 48 48 49 49 50 50 53 54 54 54 54 55 56 56 57 57 58 58 59 60 60 x .6 Evaluasi 6.4 Response Time 6.2 Jenis Penyakit 6.7 Tingkat Keparahan 7.4 Tingkat Ekonomi 6.3.1.3 Tingkat pendidikan 7.4 Tingkat Ekonomi 7.1 Faktor Pasien 7.

2 Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 61 61 61 x .BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan 8.

10 49 6.2008 Distribusi GDR pada RRI RSUD Bangil Tahun 2006 .1 Dis Dist 6.1 6.1 1.DAFTAR TABEL Nomor 1.5 Judul Tabel Gambaran Tingkat Pemanfaatan RSUD Bangil Tahun 2006 .3 5.6 Distribusi 6.8 47 47 48 6.7 6.2008 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel Penelitian Distribusi Tenaga Yang Ada Di Ruang Interne RSUD Bangil Tahun 2009 Distribusi Kelompok Usia terhadap Kategori Pasien Keluar di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Jenis Kelamin Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Pendidikan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Tingkat Ekonomi Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Keadaan Umum Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Kelompok Usia Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Tingkat Keparahan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Kecepatan Diagnosis Dan Tindakan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Ketepatan Diagnosis Dokter Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Distribusi Supervisi Dokter Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Hasil Uji Regresi Logistik Berganda Halaman 2 3 4 37 43 44 44 45 46 6.2 Distribusi 6.4 6.12 51 xi .2008 Distribusi NDR pada RRI RSUD Bangil Tahun 2006 .9 49 6.2 1.11 50 6.3 Distribusi 6.

1 4.DAFTAR GAMBAR Nomor 1.5 Judul Gambar Kajian Masalah Kerangka Konseptual Kerangka Operasional Halaman 5 31 35 xii .1 5.

Judul Lampiran Crosstabs Logistic Regression Halaman xiii .DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1. 2.

DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN Daftar Arti Lambang > < ≥ ≤ / % ‰ = Lebih Dari = Kurang dari = Lebih Sama Dengan Dari = Kurang Sama Dengan Dari = Atau = Sampai dengan = Persentase = Permil Daftar Singkatan RSUD TT BOR AvLOS TOI BTO NDR GDR UGD Depkes RI RRI SOP SDM PP WHO RPK SD = Rumah Sakit Umum Daerah = Tempat Tidur = Bad Occupancy Rate = Avarage Length of Stay = Turn Over Interval = Bet Turn Over = Net Death Rate = Gross Death Rate = Unit Gawat Darurat = Departemen Kesehatan = Republik Indonesia = Ruang Rawat Inap = Standard Operating Procedure = Sumber Daya Manusia = Peraturan Pemerintah = World Health Organization = Rencana Pelaksanaan Kegiatan = Sekolah Dasar xiv .

Untuk mengetahui gambaran tingkat pemanfaatan RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 1. dokter praktek. 1 .7 Ha ke tempat yang baru seluas 7 Ha. dan tahun 2009 bertambah menjadi 176 tempat tidur.BAB I PENDAHULUAN 1. Dari sebelum kepindahan poliklinik berjumlah 12 spesialis setelah kepindahan menjadi 15 spesialis. fasilitas dan jenis pelayanan pun ditambah secara bertahap diantaranya adalah poliklinik dan jumlah tempat tidur.1 Latar Belakang Rumah Sakit Umum Daerah Bangil (selanjutnya disingkat RSUD Bangil) sebagai rumah sakit type C. Pada awal tahun 2008 tepatnya bulan April – Mei 2008 RSUD Bangil berpindah lokasi dari Kecamatan Bangil ke Kecamatan Raci yang masih satu wilayah Kabupaten Pasuruan. Proses kepindahan dilaksanakan secara bertahap dimulai dari pelayanan rawat jalan dan terakhir rawat inap serta instalasi gizi. Dari tempat yang lama seluas 1. setelah kepindahan menjadi 160 tempat tidur. Jumlah tempat tidur yang sebelum kepindahan sebanyak 124 tempat tidur. melayani 12 spesialis dan umum serta sebagai rumah sakit rujukan bagi puskesmas.1. Bersamaan dengan kepindahan ke lokasi yang lebih luas. tenaga kesehatan lain maupun rumah sakit swasta di wilayah Kabupaten Pasuruan dan sekitarnya.

9 TOI 2.36 60 .8 1. Gross death rate atau jumlah total kematian per 1000 penderita keluar rumah sakit belum dapat menggambarkan mutu pelayanan di rumah sakit.9 1 . Tahapan yang pertama adalah menambah jumlah kunjugan dan meningkatkan mutu pelayanan.43 %.80 % 3.1.93 % hal ini dikarenakan penambahan tempat tidur dari sebelumnya 124 buah menjadi 160 buah. Disamping meningkatkan fasilitas dan pelayanan RSUD Bangil juga berupaya meningkatkan status rumah sakit dari tipe C menjadi tipe B non pendidikan.2 Tabel 1. tren kunjungan rawat jalan naik dari tahun 2006 sampai tahun 2008. Gambaran Tingkat Pemanfaatan RSUD Bangil Tahun 2006 .3 BTO 58.9 3.9 63.86 AvLOS 3.29 67.3 Hari 63.9 6 . guna mencapai status tersebut RSUD Bangil harus melalui beberapa tahapan.50 Kali 23 24 25/‰ 45/‰ 69 72 30918 30575 54327 55416 8018 8871 - 2006 TT 124 Jumlah Pasien Rawat Inap 7273 BOR 62. namun pada tahun 2007 ke tahun 2008 cenderung menurun sebesar 0. Demikian juga dengan tren BOR naik dari tahun 2006 ke tahun 2007 sebesar 5.2008 Item Tahun Standar Depkes RI 2007 2008 124 124 7879 7937 68. namun tingginya angka GDR akan berdampak terhadap penilaian negatif / . Ada beberapa indikator mutu pelayanan rumah sakit diantaranya adalah dengan melihat angka kematian yaitu Gross Death rate(GDR) dan Net Death Rate(NDR).8 40 .1 dapat dilihat bahwa tingkat pemanfaatan rumah sakit masih dalam batas efisien.6 NDR 29 GDR 81 Jumlah Hari Perawatan 28452 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan 48400 Jumlah Kunjungan UGD 9699 Sumber : Rekam Medis RSUD Bangil tahun 2008 Dari tabel 1.9 Hari 1.

Tabel 1. Untuk melihat gambaran mutu pelayanan rawat inap rumah sakit umum daerah bangil dapat dilihat pada tabel 1. Distribusi angka GDR pada tiap ruang yang ada di RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 1.2008 Ruang Ruang Interne Ruang Anak Ruang Paru Ruang Bedah Ruang Obsgyn PAVILIUN Perinatologi Total GDR (‰) 2007 144 30 141 33 2 49 63 69 Rata – rata (‰) 143 34 126 26 3 59 81 72 2006 144 41 106 34 4 60 95 74 2008 142 32 130 10 2 68 86 72 Sumber : Rekam Medis RSUD Bangil tahun 2008 Dari tabel 1.2. Sedangkan ruang anak.3 Brand Image masyarakat terhadap rumah sakit. bedah dan obsgyn masih dalam batas ideal.2 dapat dilihat bahwa GDR rata – rata di ruangan masih tinggi. Distribusi GDR pada RRI RSUD Bangil Tahun 2006 .3 berikut. Peringkat tertinggi ada pada ruang interne yaitu sebesar 143/‰. Gambaran sesungguhya tentang mutu pelayanan rumah sakit dapat dilihat melalui angka kejadian Net Death Rate (NDR). Meningkatnya Nilai NDR pada sebuah rumah sakit merupakan sebuah indikasi telah terjadi penurunan kinerja yang berakibat menurunnya kualitas atau mutu pelayanan di rumah sakit tersebut. . peringkat ketiga dan keempat ada pada ruang perinatologi dan ruang paviliun yaitu sebesar 81/‰ dan 59/‰. kemudian diperingkat kedua ada pada ruang paru yaitu sebesar 126/‰.2.

2008 Ruang Ruang Interne Ruang Anak Ruang Paru Ruang Bedah Ruang Obsgyn PAVILIUN Perinatologi Total NDR (‰) 2007 54 8 54 1 0.3. Dari angka kejadian NDR tersebut maka masalah yang akan diangkat adalah rendahnya mutu pelayanan di ruang rawat inap interne yang ditunjukkan dengan NDR yang tinggi rerata 52/‰ dari tahun 2006 sampai 2008.5 23 17 25 2006 55 16 51 10 0 23 16 27 2008 46 9 61 4 1 29 19 24 Sumber : Rekam Medis RSUD Bangil tahun 2008 Dari tabel 1.4 Tabel 1.4 16 15 23 Rata – rata (‰) 52 11 55 5 0. sedangkan NDR untuk ruang rawat inap lain masih dalam batas ideal. Distribusi NDR pada RRI RSUD Bangil Tahun 2006 . .3 dapat dilihat bahwa NDR tertinggi ada pada ruang rawat inap paru sebesar 55/‰ urutan kedua adalah ruang rawat inap interne yaitu sebesar 52/‰.

SOP 2. Jenis Penyaki c. Keadaan Umum b. Kerjasama tim 2. Tingkat ekonomi 2. Usia b. Jumlah SDM 2. Faktor finansial 1. Beban kerja II. Pengalaman kerja 3. Rekam Medis III. Response time: a. Supervisi 4. Tingkat Pendidikan d. Evaluasi NDR yang tinggi rerata 52/‰ diruang interne pada tahun 2006 . Tingkat Keparahan 3. Kondisi pasien waktu masuk rumah sakit : a. Kepercayaan terhadap pelayanan Proses Pelayanan 1.5 1. Peralatan penunjang penegak diagnosis IV. Faktor Fasilitas RS 1. Jenis Kelamin c. Kecepatan diagnosis dan tindakan b. maka kajian masalahnya adalah sebagai berikut : I. Ketepatan diagnosis c. Penilaian tentang mutu pelayanan 5. Pelatihan 5. Ketepatan tindakan 3. Persepsi tentang pelayanan 4.2 Kajian Masalah Dari masalah penelian rendahnya mutu pelayanan di ruang rawat inap interne yang ditunjukkan dengan NDR rata-rata 52/‰ pada ruang interne dari tahun 2006 sampai 2008.1 Kajian Masalah . Faktor Metode 1. Gaji 2.2008 Gambar 1. Fasilitas ruang perawatan 2. Komitmen petugas 6. Kompensasi Faktor Pasien : 1. Faktor SDM 1. Karakteristik Pasien a. Pendidikan 4. Peralatan medis 3.

2. Kemampuan petugas akan sangat berpengaruh terhadap proses pelayanan baik kecepatan pelayanan (response time). ketepatan keperawatan dan terapi yang berdampak pada NDR . pelatihan yang diikuti mempunyai kaitan dengan bagaimana kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien dan kelanjutannya akan berpengaruh terhadap NDR di ruang rawat inap interne dan ruang paru. ketepatan diagnosis. Juran. Kemampuan petugas yang mencakup pengalaman. Anggiat (2001) menyatakan bahwa technical skill. maka dibutuhkan komitmen yang tinggi antar anggota tim. 1997) bahwa proses perbaikan kualitas memerlukan keseimbangan antara proses dan peningkatan atau perbaikan sumber daya manusia. dan managerial skill semakin baik maka akan terjadi peningkatan kualitas proses pelayanan. Seperti dikemukakan oleh Deming.6 1. ketepatan diagnosis. Sedangkan komitmen seorang terhadap kualitas layanan adalah usaha yang secara terus menerus dilakukan oleh seseorang untuk memberikan layanan melampaui standar kualitas layanan yang ditentukan oleh organisasi atau pesaing (Kadir. Komitmen yang tinggi akan mempengaruhi proses pelayanan yang diberikan seperti response time. Crosby (dalam Gaspers. Untuk menurunkan NDR atau meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. ketepatan perawatan dan terapi. pendidikan. yang pada akhirnya akan berdampak terhadap penurunan ketidak puasan pelanggan.1 Faktor Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi tingginya NDR di ruang rawat inap interne dan ruang paru. human skill. 2001).

1. peralatan yang canggih dan mutahir berpengaruh terhadap kelancaran proses pelayanan kesehatan.2 Faktor Metode Faktor metode yang terdiri dari SOP.2. Yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kualitas pelayanan dan NDR di ruang interne dan paru. 1. rekam medis dan audit mortality berpengaruh terhadap NDR.2. Rekam Medis merupakan bukti tertulis tindakan. oleh karena itu rekam medis harus diisi dengan lengkap. Dengan adanya SOP rumah sakit dapat menjamin perawatan atau tindakan yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga pada akhirnya NDR dapat diturunkan. pengobatan dan perawatan yang diberikan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya kepada pasien. Rekam Medis juga berfungsi sebagai alat komunikasi antar pemberi pelayanan kesehatan kepada pasien. Sedangkan beban kerja dari para petugas di rumah sakit akan mempengaruhi proses pelayanan yang diberikan kepada pasien. Kelengkapan pengisian rekam medis sangat berpengaruh terhadap kesinambungan pelayanan diberikan kepada pasien.3 Faktor Fasilitas Fasilitas baik ruang maupun peralatan medis berpengaruh langsung terhadap proses pelayanan yang diberikan kepada pasien. Ruang perawatan yang dapat diakses secara mudah. . Standard Operating Procedure sangat dibutuhkan dalam meningkatkan mutu pelayanan di ruang interne dan paru.7 pada ruang interne.

maka akan berakibat terganggunya proses pelayanan yang diberikan kepada pasien.4 Faktor Pasien Kararakteristik pasien sedikit banyak berpengaruh terhadap net death rate. Keadaan pasien pada waktu masuk rumah sakit juga berpengaruh terhadap penanganan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. perawat dan tenaga kesehatan lain diperlukan untuk keberlangsungan terapi dan perawatan yang diberikan kepada pasien. Ketepatan diagnosis dokter mempengaruhi ketepatan tindakan . Sehingga performa rumah sakit dapat dinilai dari sini.5 Faktor Proses Pelayanan Kerjasama tim antara dokter. semakin lama response time semakin buruk mutu pelayanan yang berikan.2. 1. 1.2. Semakin parah kondisi pasien maka penanganannya juga semakin sulit. tingkat ekonomi mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan serta pemilihan sarana pelayanan kesehatan. Response time merupakan ketanggapan petugas terhadap keluhan pasien dan kecepatan pelayanan yang diberikan setelah pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Semakin sulit penanganan suatu penyakit maka risiko kematianpun semakin besar. Dampak selanjutnya adalah tingginya NDR tidak dapat ditanggulangi. seperti usia dan jenis kelamin berpengaruh terhadap kerentanan seseorang terhadap penyakit tertentu. tingkat pendidikan.8 Dan pada akhirnya akan meningkatkan mutu pelayanan dan menurunkan angka NDR. Apabila salah satu unsur dari tim tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik.

kondisi pasien waktu masuk rumah sakit. tingkat keparahan) diruang interne RSUD Bangil ? 2. Rumusan Masalah Berdasarkan masalah di atas.4 Batasan Masalah Masalah penelitian difokuskan pada faktor pasien dan proses pelayanan yang bisa mengakibatkan tinggi rendahnya Net Death Rate di ruang interne dan RSUD Bangil. jenis kelamin. tingkat pendidikan. supervisi dan evaluasi) dan terhadap tinggi rendahnya Net Death Rate diruang interne RSUD Bangil ? 1. tingkat ekonomi. keadaan umum. jenis kelamin. Bagaimana pengaruh faktor pasien (usia. jenis penyakit. ketepatan diagnosis. Bagaimana faktor proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis dan tindakan. . jenis penyakit. maka rumusan masalahnya dapat disusun sebagai berikut : 1. tingkat pendidikan.3. tingkat keparahan) dan proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis dan tindakan. 1.9 yang diberikan kepada pasien dan pada akhirnya mempengaruhi terjadinya Net Death Rate. supervisi dan evaluasi) diruang interne RSUD Bangil ? 3. ketepatan diagnosis. tingkat ekonomi. Bagaimana faktor pasien (usia. kondisi pasien waktu masuk rumah sakit. keadaan umum.

jenis kelamin.3 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. kecepatan tindakan. tingkat pendidikan. keadaan umum.2 Tujuan Khusus 1. ketepatan diagnosis. jenis kelamin. supervisi dan evaluasi) di ruang interne RSUD Bangil. Bagi Rumah Sakit Mengetahui pengaruh faktor pasien (usia.1 Tujuan Umum Menganalisis faktor yang mempengaruhi terjadinya Net Death Rate dalam upaya peningkatan pelayanan kepada pasien pada ruang rawat inap interne RSUD Bangil.1. kondisi pasien waktu masuk rumah sakit.1. jenis kelamin. kondisi pasien waktu masuk 10 . tingkat pendidikan. Menganalisis pengaruh faktor pasien (usia. jenis penyakit. tingkat keparahan di ruang interne RSUD Bangil. tingkat ekonomi. tingkat ekonomi.1 Tujuan 2. 2. supervisi dan evaluasi) terhadap tinggi rendahnya Net Death Rate. 3. 2. Menganalisis faktor pasien (usia. jenis penyakit. keadaan umum. ketepatan diagnosis. tingkat keparahan) dan proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis dan tindakan. tingkat ekonomi.BAB II TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 2. tingkat pendidikan. Menganalisis faktor proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis. 2. kondisi pasien waktu masuk rumah sakit.

. 3. keparahan) dan proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis dan tindakan. ketepatan diagnosis. supervisi dan eveluasi) terhadap tinggi rendahnya Net Death Rate. jenis penyakit. Hasil analisis dapat dipakai sebagai pertimbangan untuk meningkatkan mutu pelayanan. Bagi peneliti lain sebagai bahan referensi untuk dikembangkan menjadi penelitian yang lebih mendalam. 2. keadaan umum. Bagi penulis dapat menerapkan ilmu pengetahuan terutama bagaimana faktor pasien dan proses pelayanan dapat mempengaruhi Net Death Rate.11 rumah sakit.

dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik modern. 41 Tahun 2007) b.1 Konsep Rumah Sakit 3. Rumah Sakit adalah suatu organisasi yang kompleks. dan gawat darurat yang dikategorikan ke dalam rumah sakit umum daerah dan rumah sakit khusus daerah. menggunakan gabungan alat ilmiah khusus dan rumit.1 Pengertian Rumah Sakit Pengertian Rumah Sakit menurut berbagai macam sumber. . Rumah Sakit juga sebagai pusat latihan tenaga kesehatan. pencegahan maupun perawatan penderita termasuk keluarga dan lingkungan.12 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3. Menurut WHO 1957 Rumah Sakit adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari orang kedokteran dan sosial budaya yang berfungsi untuk memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh. untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik. beberapa diantaranya : a. Rumah Sakit Daerah adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap. (PP No. rawat jalan. baik pengobatan.1. c. yang semuanya terikat bersamasama dalam maksud yang sama.

misalnya Rumah Sakit Dr.Soetomo di Surabaya.1.13 3. Departemen Pertambangan serta Departemen Perhubungan juga mengelola rumah sakit sendiri. Rumah Sakit Pemerintah Rumah Sakit Pemerintah yang dimaksudkan di sini dapat dibedakan atas tiga macam yakni: a. Cipto Mangunkusumo di Jakarta dan Rumah Sakit Dr. Beberapa pengecualian memang dibenarkan asal saja tidak bertentangan dengan kebijakan pokok bidang kesehatn yang telah dirumuskan. yang harus dipakai sebagai landasan dalam melaksanakan setiap upaya kesehatan. . rumah sakit di Indonesia dapat di bedakan atas bebrapa macam. Peranan Departemen Kesehatan di sini adalah merumuskan kebijakana pokok bidang kesehatan saja. Pemerintah Pusat Pada dasarnya ada dua macam pemerintah pusat yang dimaksudkan di sini yakni: Departemen Kesehatan Beberapa rumah sakit langsung dikelola oleh Departemen Kesehatan. Jika ingin ditinjau dari pemiliknya.2 Macam Rumah Sakit Sesuai dengan peranturan perundang-undangan yang berlaku. Departemen lain Beberapa Departemen lain seperti Departemen Pertahanan dan Keamanan. maka rumah sakit di Indonesia dapat dibedakan atas dua macam yakni: 1.

rumah sakit umum daerah kelas B. dan c. Rumah sakit merupakan lembaga teknis daerah yang dipimpin oleh direktur rumah sakit. Besaran organisasi dan perumpunan perangkat daerah untuk rumah sakit adalah sebagai berikut : (1) Rumah sakit umum daerah kelas A terdiri dari paling banyak 4 (empat) wakil direktur dan masing-masing wakil direktur terdiri dari paling banyak 3 (tiga) bagian/bidang dan masing-masing bidang membawahkan kelompok jabatan fungsional atau terdiri dari 2 (dua) seksi. Pemerintah Daerah Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. dan b. (3) Rumah sakit khusus daerah terdiri dari 2 (dua) kelas yaitu: a. rumah sakit umum daerah kelas A. rumah sakit umum daerah kelas C. b. (2) Rumah sakit umum daerah terdiri dari 3 (tiga) kelas: a. rumah sakit khusus daerah kelas A. (2) Pada wakil direktur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang membidangi administrasi umum terdiri dari paling banyak 4 (empat) bagian dan bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian. rumah sakit khusus daerah kelas B.14 b. . 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah : (1) Rumah sakit dapat berbentuk rumah sakit umum daerah dan rumah sakit khusus daerah.

2.23 tahun 1992. dan masing-masing wakil direktur terdiri dari paling banyak 3 (tiga) bagian/bidang. rumah sakit swasta . dan masing-masing bidang membawahkan kelompok jabatan fungsional atau terdiri dari 2 (dua) seksi.15 (3) Rumah sakit umum daerah kelas B terdiri dari paling banyak 3 (tiga) wakil direktur. Rumah Sakit Swasta Kecuali itu sesuai dengan Undang-undang Kesehatan No. beberapa rumah sakit yang ada di Indonesia juga dikelola oleh pihak swasta. masing-masing bagian terdiri dari 2 (dua) subbagian. (4) Rumah sakit umum daerah kelas C terdiri dari 1 (satu) bagian dan paling banyak 3 (tiga) bidang. (5) Rumah sakit khusus daerah kelas A terdiri dari 2 (dua) wakil direktur. masing-masing bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian dan masing-masing bidang membawahkan kelompok jabatan fungsional atau terdiri dari paling banyak 2 (dua) seksi. Jika ditinjau dari perkembangan yang dialami kini. (6) Rumah sakit khusus daerah kelas B terdiri dari 1 (satu) subbagian tata usaha dan paling banyak 3 (tiga) seksi. bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian dan masing-masing bidang membawahkan kelompok jabatan fungsional atau terdiri dari paling banyak 2 (dua) seksi. Undang-undang pokok kesehatan dan juga sistem Kesehatan Nasional memang mengakui adanya peranan pihak swasta. masing-masing wakil direktur terdiri dari paling banyak 3 (tiga) bagian/bidang.

Rumah sakit pendidikan yang tidak termasuk kelas A juga diklasifikasikan sebagai rumah sakit kelasB.16 di Indonesia tampak telah berkembang dengan pesat. Rumah Sakit kelas A Rumah Sakit kelas A adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis luas.2006) Jika ditinjau dari kemampuan yang dimiliki. . Sebagai akibat telah dibenarkannya pemilik modal bergerak dalam bidang perumahsakitan. Walaupun yang terakhir ini kehendak untuk mempertahankan fungsi sosial rumah sakit tetap ditemukan.yakni dengan mewajibkan rumah sakit swasta tersebut menyediakan sekurang-kurangnya 20% dari tempat tidurnya untuk masyarakat golongan tidak mampu (Azwar. 2. Oleh Pemerintah. rumah sakit di Indonesia dibedakan atas lima macam yakni: 1. rumah sakit kelas A ini telah ditetapkan sebagai tempat pelayanan rujukan tertinggi (Top Referral Hospital) atau disebut pula sebagai rumah sakit pusat. Rumah Sakit kelas B Rumah Sakit kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis luas dan subspesialis terbatas. menyebabkan mulai banyak ditemui rumah sakit swasta yang telah dikelola secara komersial serta yang berorientasi mencari keuntungan (Profit Hospital). Direncanakan rumah sakit kelas B didirikan di setiap Ibukota Propinsi (Provincial Hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari rumah sakit Kabupaten.

Rumah Sakit kelas D Rumah Sakit kelas D adalah rumah sakit yang bersifat transisi karena pada suatu saat akan ditingkatkan menjadi rumah sakit kelas C. rumah sakit kusta. pelayanan bedah. . Misalnya rumah sakit jiwa. rumah sakit ibu dan anak. Rumah Sakit kelas C Rumah Sakit kelas C adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis terbatas. Pada saat ini banyak sekali rumah sakit kelas E yang telah ditemukan. 4. rumah sakit kanker. pelayanan kesehatan anak serta pelayanan kebidanan dan kandungan. dan lain sebagainya yang seperti ini (Azwar. rumah s sakit paru. Direncanakan rumah sakit kelas C ini akan didirikan di setiap Ibukota Kabupaten (Regency Hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari puskesmas.17 3. Sama halnya dengan rumah sakit kelas D juga menampung pelayanan rujukan yang berasal dari puskesmas. 5. Pada saat ini ada empat macam pelayanan spesialis ini yang disediakan yakni pelayanan penyakit dalam. Pada saat ini kemampuan rumah sakit kelas D hanyalah memberikan pelayanan kedokteran umum dan kedokteran gigi. rumah sakit jantung. Rumah Sakit kelas E Rumah Sakit kelas E adalah rumah sakit khusus (Special Hospital) yang menyelenggarakan hanya satu macam pelayanan kedokteran saja. 2006).

3 Konsep Perawatan Tugas dan Fungsi Rumah Sakit Adanya pendapat lama bahwa Rumah Sakit tidak lebih berfungsi sebagai tempat perawatan atau pmondokan orang sakit. Usaha yang dilakukan tersebut meliputi usaha preventif. dan perlengkapan.1 Pengertian Mutu Pengertian mutu pelayanan kesehatan bersifat multi–dimensional Azrul Anwar 2006. Mutu pelayanan rumah sakit mencakup mutu pada semua komponen pelayanan di antaranya mutu sarana.2. dan Home Care service yang dibantu dengan rawat jalan di Rumah Sakit. Dalam peraturan Men Kes RI No 195 b / MEN KES / PER / II / 1998 disebutkan bahwa tugas Rumah Sakit adalah malaksanakan pelayanan kesehatan dengan mengutakan kegiatan penyembuhan penderitan dan pemulihan keadaan cacat badan dan jiwa yang dilaksanakan secara terpadu dengan upaya peningkatan ( promotif ) dan pencegahan ( preventif ) serta melaksanakan upaya rujukan. fasilitas.1. 1998).2 Mutu Pelayanan 3.18 3. mutu petugas dan mutu proses layanan itu sendiri. promotif. Penilaian (ambulantory service) dan rawat di rumah ( Home . sehingga dicetuskan tiga konsep perawatan di Rumah Sakit ( Medical Care ) yaitu : rawat tinggal atau rawat inap ( inpantient service ) rawat jalan Care ) (Prajitno. 3. Dalam perkembangan selanjutnya disadari bahwa Rumah Sakit merupakan upaya kesehatan yang mahal. maka mulailah berkembang usaha-usaha untuk menghindari sejauh mungkin perawatan atau pemondokan di Rumah Sakit kecuali untuk penyakit berat.

respek dan tanggap terhadap kebutuhannya.2 Pengukuran Mutu Menurut Parasuratman 1991 yang dikutip oleh Muhammad Yusuf 2003 kualitas atau mutu pelayanan dapat diukur dengan membandingkan persepsi antara pelayanan yang diharapkan dengan pelayanan yang diterima dan di rasakn oleh konsumen. mutu dapat berarti efisiensi dan kewajiban penyelenggaraan pelayanan (Wijono. Sebaliknya jika kualitas pelayanan yang di terima lebih rendah dari pada yang di harapkan maka kualitas pelayanan yang diterima buruk. mutu berarti suatu emphaty. dari sudut pandang pasien dan masyarakat. 2003) Mutu pelayanan secara langsung akan mempengaruhi penderita untuk memilih pelayanan kesehatan yang diinginkan. Dengan demikian kualitas pelayanan tergantung dari kemampuan penyedia . Mutu dari sudut pandang petugas kesehatan adalah pelayanan yang sesuai dengan pengetahuan dan ketrampilan yang maju.19 terhadap mutu pelayanan rumah sakit dilihat dari beberapa sudut pandang. Mengingat aspek mutu dalam pelayanan di rumah sakit begitu kompleks karena berkaitan dengan semua komponen dalam pelayanan. diberikan dengan cara yang ramah waktu mereka berkunjung. peralatan yang baik dan memenuhi standar yang baik (state of the art) sedangkan dari sudut pandang manajer dan pemilik rumah sakit. pelayanan harus sesuai dengan kebutuhannya. Jika kualitas pelayanan yang diterima sesuai harapan pelanggan maka kualitas pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas yang istimewa.2. 3.

peralatan. 2007) adalah : 1. kebutuhan.2. waktu tunggu. 1984 dalam Pohan.3 Indikator Mutu Menurut Supriyanto 2005 indikator kualitas atau mutu jasa dapat di evaluasi ke dalam lima dimensi mutu yaitu : 1. Tangibles (kasat mata) untuk mengukur penampilan fisik. dapat di pertanggung jawabkan dan jasa yang disampaikan tepat sesuai dengan yang dijanjikan. keinginan dan harapan pasien.20 pelayanan jasa dalam memenuhi harapan pelanggan secara efisien dan konsisten 3. Reliability (keandalan). adalah kemampuan untuk menyediakan pelayanan dengan cepat dan mau membantu pasien 3. produk atau jasa dapat di andalkan. Ketepatan Waktu Termasuk akses. Responsiveness (daya tanggap). dapat dipercaya. Emphaty (empati) adalah kesediaan pemberi jasa untukmendengarkan dan adanya perhatian akan keluhan . Assurance (jaminan) dalam penyampaian produk atau jasa disertai dengan rasa hormat. Maxwell. karyawan serta sarana komunikasi Kerangka pikir lain yang dikembangkan dalam lingkungan layanan kesehatan yang berasal dari kalangan industri dan sumber lain (Juran. 5. dan waktu tindakan . 2. sopan. selain itu proses penyampaian dapat juga menimbulkan rasa percaya dan yakin akan jaminan sembuh. 1988. 4.

Lingkungan Termasuk gedung. kapan. mengapa. teknologi. Informasi Penjelasan dari jawaban apa.21 2. Hubungan antarmanusia Kedalam ini termasuk rasa hormat. kebersihan. dan siapa. bagaimana. perilaku dan empati 5. mutu dan efisiensi pelayanan rumah sakit. sopan santun. keamanan 3. Definisi mengenai Net Death Rate (NDR) adalah angka kematian > 48 jam setelah pasien dirawat per seribu pasien yang keluar Rumah Sakit ( hidup + mati). kenyamanan.3 Net Death Rate Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan. Terdapat banyak sekali indikator yang dipakai untuk menilai suatu rumah sakit. 3. ketrampilan dan pengalaman. 4. taman. diperlukan berbagai indikator Selain ltu agar informasi yang ada dapat bermakna harus ada nilai parameter yang akan dipakai sebagai nilai banding antar fakta dengan standar yang diinginkan. salah satunya adalah Net Death Rate (NDR). Kompetensi teknis Termasuk pengetahuan kedokteran dan keperawatan. hal ini bisa digambarkan dalam ramus sebagai berikut: NDR : Jumlah pasien mati > 48 jam dirawat X 100 Jumlah pasien keiuar (hidup dan mati) . keparipurnaan dan keberhasilan pengobatan.

Sedangkan pasien yang meninggal < 48 jam setelah dirawat.22 Nilai NDR yang dianggap masih dapat ditolerir adalah kurang dari 25 per 1000 penderita keluar rumah sakit (hidup maupun mati). Tingginya Net Death Rate (NDR) sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang antara lain oleh karena adanya beberapa kesenjangan yang timbul yang mengakibatkan kegagalan penyampaian jasa yang bermutu Menurut Zeithaml. Oleh karena itu untuk menilai mutu pelayanan di rumah sakit. karena jika dibandingkan dengan yang meninggal > 48 setelah dirawat. sehingga keadaan tim menyebabkan terjadinya gangguan pada proses pelayanan kepada pelanggan. lebih memberikan gambaran upaya rumah sakit di dalam menyelamatkan jiwa pasien. Indikator ini lebih bermakna di dalam penilaian mutu pelayanan rumah sakit. kerja sama tim kurang terpadu. indikator angka kematian yang dipakai adalah angka kematian > 48 jam setelah dirawat (NDR) (Depkes RI. maka suatu proses perawatan kepada pasien akan sangat terganggu. Parasuraman dan Berry (1990) dalam bukunya menyebutkan kesenjangan antara spesifikasi kualitas jasa (spesifikasi kualitas pelayanan) dan penyampaian jasa {service delivery) disebut kesenjangan penampilan jasa pelayanan (The service performance Gap) yang mempunyai beberapa indikator kunci yaitu antara lain : proses supervisi dan evaluasi tidak berjalan secara benar. sangat dipengaruhi oleh kondisi penyakit yang diderita pasien pada waktu masuk rumah sakit. 2003). Keadaan ini tidak bisa dibiarkan oleh karena sangat berpengaruh terhadap perfomance rumah sakit yang pada akhirnya dapat menggambarkan . Jika keadaan tersebut di atas terjadi di dalam sebuah rumah sakit.

Faktor yang tidak langsung adalah faktor sosio-ekonomi dan budaya.4. persepsi terhadap provider). melalui faktor karakteristik individu dan faktor psikologis 3. jenis kelamin).1 Usia Dari hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2007. Kebutuhan individu untuk memanfaatkan layanan kesehatan dipengaruhi secara langsung oleh variabel psikologis (selera. Adanya “unmet” merupakan masalah yang harus diselesaikan. jadi dari kesimpulan diatas bahwa .23 mutu pelayanan yang rendah di rumah sakit tersebut.4 Karakteristik Pasien Ada dua perspektif untuk melihat faktor yang mempengaruhi seseorang mencari pelayanan kesehatan. karakteristik individu (umur. 3. Hal ini bisa diihat dari pola penyebab kematian kasar didominasi penyakit degeneratif dengan menempati rangking 3 besar. Tren kematian ini kemungkinan besar terkait dengan pola penyakit yang mengalami transisi epidemiologis. dan yang paling signifikan terjadi pada umur diatas 65 tahun. Perspektif pertama dari masyarakat itu sendiri dan perspektif kedua dari pemberi jasa layanan. Dari dua perspektif ini ada dua kemungkinan bahwa apa yang diinginkan dan diharapkan dari kedua perpektif yaitu mereka “met” atau “unmet”. tren kematian kasar menurut kelompok umur dari tahun 1995-2007 menunjukan peningkatan resiko kematian pada usia diatas 45 tahun. Faktor ini berpengaruh pada penggunaan layanan kesehatan. persepsi sehat sakit. harapan.

Pola penyakit antara laki–laki dan perempuanpun berbeda sepeti pada penyakit yang hanya diderita laki-laki seperti BPH. Carcinoma Mamma dan lain – lain. Dimana pendidikan yang lebih tinggi akan lebih banyak memberikan banyak informasi sehingga lebih memperhatikan kesehatannya. Seseorang kurang memanfatkan pelayanan yang ada mungkin karena tidak cukup mempunyai uang untuk . 3.3 Tingkat pendidikan Menurut Notoatmodjo (2003).4 Tingkat ekonomi Menurut Notoatmojo 2003 bahwa tingkat penghasilan dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan maupun pencegahan sangat berhubungan.24 distribusi angka kematian akan semakin meningkat atau berbanding lurus dengan bertambahnya umur.4. 3.2 Jenis Kelamin Beberapa penelitian menunjukan bahwa perempuan mempunyai respon imun yang lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat maka akan semakin besar memanfaatkan pelayanan kesehatan. kelompok maupun masyarakat.4. 3. Hal ini berkaitan dengan semakin meningkatnya pengetahuan dan kesadaran mereka terhadap masalah kesehatan. Pendidikan merupakan upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu.4. sedangkan pada perempuan misalnya Myoma Uteri. Carcinoma Prostat.

membayar transport dan sebagainya. Sedangkan Kronis adalah mengenai penyakit dan gangguan dengan serangan awal yang lambat dan berlangsung lama. Sikap analitis kritis dibutuhkan mulai dari pasien masuk sampai akhir pasien keluar.8 Response time Yang dirnaksud dengan Response time.5 Keadaan umum Keadaan umum pasien merupakan tanda – tanda yang nampak secara keseluruhan pada diri pasien. Menurut Sunarto (2007) penguasaan ilmu klinis merupakan hal mutlak dibutuhkan seorang dokter agar setiap langkah yang diambil dilakukan secara kritis dan dipikirkan arah pencarian data selanjutnya. 3. Tingkat keparahan suatu penyakit berbeda – beda menurut ketentuan yang berlaku. berat. sedang.6 Jenis Penyakit Jenis Penyakit disini dibagi menjadi dua yaitu akut dan kronis menurut kamus kedokteran Dorland pengertian dari akut adalah keadaan mendadak dalam serangan dan condong berlangsung dalam waktu relatif pendek. Sehingga banyak kasus yang terjadi pasien yang datang sudah dalam keadaan parah. 3. Dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik saja banyak diagnosis yang ditegakkan seratus persen mendekati benar. 3. 3. palpasi dan auskultasi. adalah kecepatan suatu .7 Tingkat Keparahan Penyakit Menurut Kalangi (1994) tingkat keparahan penyakit dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu : ringan.25 membeli obat. Dokter biasa melihat keadaan umum melalui inspeksi.

Keadaan tersebut diatas bisa terjadi oleh karena adanya persepsi yang bcrbeda antara manajer dan bawahan. misal dalam satu jam berapa pasien yang dilayani di rumah sakit. 3. Dalam teori lain pengertian supervisi adalah adalah salah satu upaya pengarahan dengan pemberian petunjuk dan saran setelah menemukan alasan dan keluhan pelaksana dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.9 Supervisi Di dalam banyak organisasi yang bergerak dalam jasa pelayanan maka performance dan pegawai yang kontak langsung dengan customer biasanya diukur dari jumlah unit yang menghasilkan suatu produk layanan.26 institusi (rumah sakit) dalam memberikan respons atas pcrmintaan jasa dan pasien. sistem informasi. sehingga layanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar yang ada. terbatasnya faktor SDM (Human Resources). Juga merupakan upaya pembinaan dan pengarahan untuk meningkatkan gairah dan prestasi kerja. yakni mencatat waktu pelayanan mulai saat pasien datang hingga masuk ke ruang pemeriksaan. Kesenjangan yang timbul antara spesifikasi jasa pelayanan dan penyampaian jasa layanan mengakibatkan terjadinya keadaan yang disebut Inappropriate Supervisory Control Systems (mekanisme supervisi dan evaiuasi terganggu) (Parasuraman et all. sehingga dapat diketahui seberapa jauh penampilan rumah sakit dalam hal ini petugas kesehatan di ruang interne dan paru dalam merespons kebutuhan pasien dalam Pengukuran penelitian ini dilakukan dengan mengggunakan observation list. Kinerja kecepatan pelayanan dapat diukur. . 1990). metode dan fasilitas yang tersedia bisa menjadi permicu terjadinya keadaan ini.

Evaluasi dimaksudkan untuk mendapatkan relevan informasi guna pengambilan keputusan. Evaluasi dilaksanakan karena adanya dorongan atau keinginan untuk mengukur pencapaian hasil kerja atau kegiatan pelaksanaan program terhadap tujuan yang telah ditetapkan. terhadap pelaksanaan Kegiatan (RPK) 2) Mengkaji keberhasilan pelaksanaan RPK. Macam Evaluasi Secara umum evaluasi dapat dibedakan atas dua jenis.10 Evaluasi Evaluasi atau kegiatan penilaian adalah merupakan bagian integral dari fungsi manajemen didasarkan pada sistem informasi manajemen. 3) Mengidentifikasi masalah dalam pelaksanaan RPK 4) Memberi bimbingan penyelesaian masalah. Menurut Supriyanto dan Damayanti (2005) bahwa evaluasi adalah prosedur penilaian pelaksanaan kerja dan hasil kerja secara menyeluruh dengan cara sistematik dengan membandingkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan guna pengambilan keputusan. Rencana Pelaksanaan .27 Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi adalah : 1) Proses pengamatan. a. 3. Tujuan supervisi adalah : 1) Peningkatan dan pemantapan pengelolaan sumberdaya 2) Peningkatan dan pemantapan pengelolaan program. yaitu evaluasi formative dan summative. 3) Peningkatan dan pemantapan pengelolaan peran serta masyarakat.

Karena itu output program berupa outcome dan dampak sangat diperlukan.28 1) Evaluasi formative Evaluasi yang dilakukan pada tahap pelaksanaan program dengan tujuan untuk mengubah atau memperbaiki program. bulan bahkan tahun. Evaluasi ini dilakukan untuk memperbaiki program yang sedang berjalan dan didasarkan atas kegiatan sehari-hari. Manfaat evaluasi formative terutama untuk memberikan umpan balik kepada manajer program tentang kemajuan hasil yang dicapai beserta hambatan-hambatan yang dihadapi. 2) Evaluasi summative Evaluasi yang dilakukan untuk melihat hasil keseluruhan dari suatu program yang telah selesai dilaksanakan. atau waktu relatif pendek. Jadi evaluasi summative dilakukan pada akhir program atau sekurang-kurangnya 5 tahun setelah program dijalankan untuk jenis hasil program yang berupa dampak. b. guna menilai keberhasilan program. minggu. Hasil evaluasi dapat memberikan jawaban atas pertanyaan : apakah tujuan program dapat tercapai atau tidak dengan alasan mengapa demikian. Evaluasi ini dilakukan pada akhir kegiatan atau beberapa kurun waktu setelah program. Tujuan evaluasi Pada dasarnya evaluasi dilakukan dengan tujuan sebagai berikut : . Evaluasi formative sering disebut sebagai evaluasi proses atau monitoring.

Kriteria Evaluasi Kriteria yang dianjurkan WHO dalam evaluasi adalah : 1) Relevansi Rasionalisasi program dengan kebijaksanaan umum yang dikaitkan kebijaksanaan sosial dan ekonomi serta kesesuaian kebutuhan atau prioritas kebijaksanaan kesehatan untuk masyarakat. sumber daya dan manajemen (resources) saat ini serta dimasa-masa mendatang 3) Memperbaiki pelaksanaan dan perencanaan kembali suatu program. Evaluasi kecukupan lebih banyak berkaitan dengan keluaran (hasil) terhadap kebutuhan atau sasaran seharusnya atau masalah . Adequacy juga berhubungan dengan sampai seberapa besar masalah telah dapat diatasi melalui program kegiatan yang dilaksanakan. baik lokal maupun global. 2) Sebagai alat untuk memperbaiki alokasi sumber dana. Relevansi merupakan tingkat keterkaitan tujuan maupun hasil atau keluaran program layanan dengan kebutuhan masyarakat di lingkungannya.29 1) Sebagai alat untuk memperbaiki kebijaksanaan pelaksanaan program dan perencanaan program yang akan datang. 2) Adequacy (kecukupan atau coverage) Kecukupan menunjukkan berapa besar perhatian telah diberikan dalam program kegiatan untuk mengatasi masalah. c. Kecukupan menunjukkan tingkat ketercapaian persyaratan ambang yang diperlukan untuk penyelenggaraan suatu program untuk mengatasi masalah yang sebenarnya di masyarakat.

30 kesehatan yang harus ditanggulangi. Adequacy dibedakan atas : adequacy of effort dan adequacy of performance. Jumlah kegiatan yang dilaksanakan Adequacy of effort = Jumlah kegiatan yang direncanakan x 100% Adequacy of performance = Pencapaian hasil kegiatan x 100% Sasaran .

Jumlah SDM 2. Beban kerja II. Jenis Kelamin c. Karakteristik Pasien a. Ketepatan diagnosis c. Faktor Metode 1.31 BAB IV KERANGKA KONSEPTUAL 4. Faktor Fasilitas RS 1. Gaji 2. Persepsi tentang pelayanan 4. Fasilitas ruang perawatan 2. Kecepatan diagnosis dan tindakan b. Faktor SDM 1. Evaluasi : : : : Diteliti Tidak diteliti Gambar 4. Faktor finansial 1. Penilaian tentang mutu pelayanan Keterangan : 5. Tingkat Pendidikan d. SOP 2. Pengalaman kerja 3. Response time : a. Ketepatan tindakan NDR tinggi 2. Tingkat Keparahan 3. Tingkat ekonomi 2. Pendidikan 4.1 Kerangka Konseptual 31 . Rekam Medis III. Peralatan penunjang penegak diagnosis IV. Keadaan Umum b. Komitmen petugas 6. Kompensasi Faktor Pasien 1. Usia b. Peralatan medis 3. Supervisi 3.1 Kerangka Konseptual I. Kondisi pasien waktu masuk rumah sakit : a. Kepercayaan terhadap pelayanan Proses Pelayanan 1. Pelatihan 5. Jenis Penyakit c.

Dari variabel input akan mempengaruhi variabel proses pelayanan (kecepatan diagnosa dan tindakan. evaluasi). Variabel yang termasuk input penelitian meliputi faktor pasien yaitu karakteristik pasien (usia. proses dan output. jenis penyakit. ketepatan diagnosis.32 Kerangka konseptual penelitian menggambarkan input. jenis kelamin. tingkat keparahan). tingkat ekonomi) dan keadaan waktu masuk rumah sakit (keadaan umum. Kesemua variabel tersebut digambarkan sebagai faktor yang diduga mempengaruhi tingginya angka kematian bersih atau NDR di RSUD Bangil. . supervisi. pendidikan.

2 Populasi Penelitian Populasi penelitian ini adalah rekam medis pasien yang keluar rumah sakit dalam keadaan hidup dan meninggal ≥ 24 jam dari ruang rawat inap interne serta petugas yang bekerja di ruang rawat inap interne RSUD Bangil baik medis maupun paramedis. Cara Penentuan Sampel Dan Cara Pengambilan Sampel 5. 5.3. 5. Besar Sampel. Sedangkan menurut waktu penelitian menggunakan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan pada saat tertentu.1 Jenis dan Rancang Bangun penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan yang obyektif.2 Besar Sampel Besar sampel rekam medis adalah 178 diperoleh dari jumlah pasien yang keluar rumah sakit dalam keadaan hidup dan meninggal ≥ 24 jam pada 33 .3.3 Sampel. serta petugas yang bekerja di ruang rawat inap interne RSUD Bangil baik medis maupun paramedis.1 Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah rekam medis pasien yang keluar rumah sakit dalam keadaan hidup dan meninggal ≥ 24 jam dari ruang rawat inap interne pada bulan April 2009. 5.BAB V METODE PENELITIAN 5.

3.3 Cara Penentuan Sampel Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara Accidental Sampling yaitu pengambilan sampel dari populasi yang dilakukan dengan mengambil kasus / responden yang kebetulan ada / tersedia (Notoatmojo.3. Sedangkan untuk data primer sampel diperoleh dari responden/petugas medis dan paramedis yang ada di ruang rawat inap interne RSUD Bangil.34 bulan April 2009. 5.4 Cara Pengambilan Sampel Untuk data sekunder sampel diambil dari berkas rekam medis pasien rawat inap interne pada bulan April 2009 yang sudah dikembalikan di unit rekam medis. 5. 2005) 5. .4 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian berada di ruang rawat inap interne RSUD Bangil dan dilaksanakan pada bulan Juni 2008. serta petugas yang bekerja di ruang rawat inap interne RSUD Bangil baik medis maupun paramedis sebesar 27 responden.

jenis kelamin. Response time: a) Kecepatan diagnosis dan tindakan b) Ketepatan diagnosis 2.1 Kerangka Operasional Penelitian Langkah I. Supervisi 3. Kondisi pasien waktu masuk rumah sakit : a.5 Kerangka Operasional Langkah I Langkah II Langkah III Mengidentifikasi faktor Pasien. Karakteristik Pasien : a) Usia b) Jenis Kelamin c) Tingkat Pendidikan d) Tingkat Ekonomi 2. ketepatan diagnosis. Keadaan Umum b. meliputi : 1. Tingkat Keparahan Mengukur Proses Pelayanan. supervisi dan evaluasi) melalui observasi dan checklist.35 5. jenis penyakit. tingkat ekonomi) dan kondisi waktu masuk rumah sakit (keadaan umum. meliputi : 1. Evaluasi Analisis Hasil Analisis Kesenjangan Gambar 5. Jenis Penyakit c. yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi data sekunder faktor pasien meliputi karakteristik pasien (usia. Kemudian mengumpulkan data primer dari responden yaitu petugas yang ada di ruang interne RSUD Bangil . tingkat keparahan) proses pelayanan (kecepatan diagnosis dan tindakan. tingkat pendidikan.

Karakteristik Pasien : a) Usia b) Jenis Kelamin c) Tingkat Pendidikan d) Tingkat ekonomi b. Faktor Pasien a. Response time: a) Kecepatan diagnosis dan tindakan b) Ketepatan diagnosis b. Kondisi pasien waktu masuk rumah sakit : a) Keadaan Umum b) Jenis Penyakit c) Tingkat Keparahan 2. kondisi pasien waktu masuk rumah sakit. Langkah II. Langkah III. Proses Pelayanan a. jenis kelamin. Supervisi .36 baik medis maupun paramedis melalui wawancara terstruktur. keadaan umum. menganalisis hasil penelitian yang dilakukan di ruang rawat inap interne RSUD Bangil. tingkat ekonomi. Menganalisis pengaruh faktor pasien (usia. jenis penyakit. keparahan) dan proses pelayanan (respon time kecepatan diagnosis dan tindakan ketepatan diagnosis) dan terhadap tinggi rendahnya Net Death Rate ? 5.6 Variabel Penelitian 1. tingkat pendidikan.

Sangat Lemah Nominal 5. 1. 45 th – 64 th d.1 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel Penelitian No . Asuransi c. 25 th – 44 th c. Jenis kelamin Observasi Rekam Medis Nominal 3. Kronis Dikelompokkan menjadi : a. Jaminan kesehatan Dikelompokkan menjadi : a. Jenis penyakit Jenis penyakit pasien akut atau kronis Keadaan umum pasien waktu masuk rumah sakit Observasi Rekam Medis Observasi Rekam Medis Nominal 6. ≤ SD b. Tingkat Ekonomi Observasi Rekam Medis Dikelompokkan menjadi : a. Tingkat pendidik an Observasi Rekam Medis Dikelompokkan menjadi : a. Evaluasi 5. > SD Nominal 4.Perempuan Skala Data Ordinal Usia Pasien 2. 15 th – 24 th b. Keadaan umum Ordinal .37 c. ≥ 65 th Dikelompokkan menjadi : a. Akut b. Bayar sendiri b. Cukup b. Lemah c. Variabel Definisi Oprasional Lama hidup pasien saat dilakukan pengambilan data.7 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel Tabel 5. Laki-laki b. Jenis kelamin pasien berdasarkan perbedaan keadaan fisik dan biologis atau organ kelamin Jenjang sekolah formal terakhir yang ditempuh oleh pasien berdasarkan ijazah Kemampuan pasien dalam membayar biaya rumah sakit Cara Pengukura n Observasi Rekam Medis Hasil Pengukuran Dikelompokkan menjadi : a.

perawatan dan terapi yang telah dilakukan dengan melihat jumlah berapa kali dokter spesialis visitasi. Tingkat Keparah an 8. 1 x/ hari c. Ordinal 11. Tidak tepat Dikelompokkan Menjadi : a. 1 x/ bulan c. Ringan b. < 1 x/ bulan Ordinal . Keparahan penyakit berdasarkan keadaan pasien pada waktu masuk rumah sakit Kecepata Waktu yang n dibutuhkan diagnosis dokter untuk dan diagnosis dan tindakan melakukan tindakan sesuai dengan diagnosis Ketepata Ketepatan n diagnosis kerja diagnosis dengan diagnosis akhir Supervisi Supervisi oleh dokter spesialis adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis dalam upaya pengecekan kembali kegiatan diagnosis. < 1 x/ hari Nominal 10. > 1 x/ bulan b. > 1 x/ hari b. Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh komite medis dalam upaya melakukan evaluasi terhadap Observasi Rekam Medis Dikelompokkan menjadi : a. Observasi Rekam Medis Observasi dan wawancara Dikelompokkan Menjadi : a. Sedang c.38 7. Berat Ordinal Observasi Rekam Medis Dikelompokkan menjadi : a. Evaluasi Observasi dan wawancara Dikelompokkan Menjadi : a. > 1 hari Ordinal 9. Tepat b. < 1 hari b.

3. ini berarti semua kuesioner harus diteliti satu persatu tentang kelengkapan pengisian dan kejelasan penelitiannya jika terdapat jawaban yang tidak jelas penulisannya atau ada butir pertanyaan yang tidak terisi. dimana penelitian mengklasifikasikan jawaban menurut kriteria tertentu. Setelah proses tersebut dilakukan maka data akan diolah dengan menggunakan beberapa uji statistik yang dibagi menjadi uji statistik : 1. Tabulating Data yang sudah dikoding dilakukan tabulasi atau memasukkan ke dalam tabel dengan bagian kolom adalah aspek yang akan diteliti sedangkan bagian baris adalah responden atau sampel.8 Teknik Analisis Data yang sudah diperoleh kemudian dilakukan beberapa proses yaitu: 1. pengumpulan data yang bersangkutan diminta untuk memperjelas atau melengkapinya. 2. Klasifikasi pada umumnya ditandai dengan kode tertentu yang biasanya berupa angka. Deskriptif Statistik deskriptif adalah statistik yang bertujuan untuk .39 kejadian NDR di ruang interne 5. Editing Editing adalah memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan. Coding Coding adalah tahap kedua setelah editing.

ukuran tendensi sentral dan ukuran penyebaran data. 2. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan tujuan dan jenis skala data yang digunakan adalah : a. Uji Chi square Uji statistik yang bertujuan untuk melihat perbedaan proporsi antara dua variabel (bivariat) pada data berskala ordinal dan nominal. Frekuensi Menampilkan data berdasarkan jumlah sampel atau responden yang digunakan b. Inferensial Statistik inferensial adalah uji statistik yang bertujuan untuk menguji hipotesis. Oleh karena jenis data yang ada pada penelitian ini berskala nominal maka statistik deskriptif yang digunakan adalah : a.40 menampilkan data berdasarkan pada nilai frekuensi. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah 0.05 maka tidak ada perbedaan . Kreteria pembacaan uji statistik chi square : 1) Jika signifikansi lebih dari 0. persentase. Tabulasi silang Tabulasi silang adalah menyajikan data hasil penelitian berdasarkan jumlah dan persentase antara dua atau lebih aspek atau variabel yang akan diteliti.05. Persentase Menampilkan data berdasarkan jumlah sampel pada kelompok tertentu dibandingkan jumlah sampel secara keseluruhan c.

Sebelum dilakukan uji regresi logistik ganda. . maka analisis yang digunakan adalah regresi logistik ganda dengan alpha 0.41 proporsi antara dua kelompok variabel 2) Jika signifikansi kurang dari atau sama dengan 0.05.25. setiap variabel bebas dilakukan uji regresi logistik sederhana dengan alpha < 0.05 maka ada perbedaan proporsi antara dua kelompok variabel b. Hasil analisis regresi logistik sederhana yang p < 0.25 dimasukan sebagai kandidat regresi logistik ganda. yang variabel dependen terdiri dari dua kategori dan variabel independennya lebih dari satu. Uji Logistic regression Berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus tentang faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu pelayanan di ruang rawat inap interne yang ditunjukkan dengan NDR yang tinggi rerata 52/‰ dari tahun 2006 sampai 2008 di RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan. untuk mengetahui variabel yang masuk variabel kandidat.

6. kelas 3 dan isolasi serta memiliki total tempat tidur 80 buah. 42 . 14 pelayanan rawat jalan. Perubahan status tersebut diresmikan pada tahun 1981. Kondisi ini membuat Pemerintah Kabupaten Pasuruan mengambil kebijakan untuk merubah Puskesmas perawatan yang mempunyai 77 tempat tidur untuk menjadi RSUD Bangil.1. pelayanan rawat inap dengan 176 tempat tidur. Fasilitas pelayanan yang dimiliki RSUD Bangil adalah 14 pelayanan spesialis .1 Gambaran Umum RSUD Bangil Cikal bakal lahirnya RSUD Bangil adalah berawal dari Puskesmas. pelayanan penunjang serta ruang intensive care yang belum dimanfaatkan. Ruang intensive yang belum dimanfaatkan dikarenakan masih kekurangan jumlah dan tenaga ahli untuk ditempatkan di ruang tersebut. pada tahun 1993 berdasarkan SK Menkes No.1 Gambaran Umum Ruang Rawat Inap Interne RSUD Bangil Ruang rawat inap interne merupakan bagian dari pelayanan rawat inap yang ada di RSUD Bangil. kemudian pada tahun 1985 berubah status menjadi RSUD tipe D.BAB VI HASIL PENELITIAN 6. yang seiring dengan perkembangannya mengalami kesulitan menampung pasien yang semakin hari semakin banyak. pelayanan gawat darurat 24 jam. Ruang interne memiliki tiga kelas perawatan yaitu kelas 2. 20/MENKES/SK/II/1993 type rumah sakit berubah menjadi tipe C.

sedangkan untuk tenaga perawat dan administrasi seluruhnya bekerja secara penuh waktu.1 bahwa tenaga dokter spesialis seluruhnya bekerja paruh waktu. perawat dan tenaga administrasi.1 Distribusi Tenaga Yang Ada Di Ruang Interne RSUD Bangil Tahun 2009 Jenis Tenaga Dokter spesialis : Penyakit dalam Saraf THT Kulit Perawat : S1 D3 SPK Tenaga administrasi Jumlah 2 Orang 2 Orang 1 Orang 1 Orang 3 Orang 17 Orang 1 Orang 1 Orang Keterangan Purna waktu Purna waktu Purna waktu Purna waktu Purna waktu Purna waktu Purna waktu Purna waktu Sumber : Bagian Kepegawaian RSUD Bangil Berdasarkan tabel 6. interne .1 Usia Identifikasi umur pasien terhadap ketegori pasien keluar di ruang RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6. jenis kelamin.2 Karakteristik Pasien Karakteristik pasien yang diteliti adalah usia. tingkat ekonomi. 6. 6.2. tingkat pendidikan.2 berikut.43 Petugas atau tenaga kesehatan yang ada di ruang rawat inap interne terdiri dari dokter spesialis. Sebagai penjelasannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 6.

Sedangkan pada kematian yang lebih dari 48 jam kelompok pasien terbesar terdapat pada usia 45 – 64 tahun yaitu sebesar 45.0 Total n 98 80 178 % 55 45 100 Jenis Kelamin Laki .0 100.8 29 7 18.8 20.5 14 58.0 Total n 19 45 78 36 178 % 10.5% dan terendah pada kelompok usia 15 -24 tahun.2 154 24 100. Tabel 6.7 4.2 Jenis Kelamin Identifikasi jenis kelamin pasien terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.laki Perempuan Total Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 .0 24 100.3 70 45.7 25.8 67 11 43.2 40 5 26.44 Tabel 6.8%.0 20.2 100 Kelompok Usia 15 – 24 Tahun 25 – 44 Tahun 45 – 64 Tahun ≥ 65 Tahun Total Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok pasien usia 45 – 64 tahun yaitu sebesar 43.5 10 41.8 29.3 berikut.2.3 43. 6.5 45.2 Distribusi Kelompok Usia Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam n % n % 18 1 11.486. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0.7 154 100.3 Distribusi Jenis Kelamin Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam n % n % 84 54.

Tabel 6.3 %.146.2.7 100 24 100.3 Tingkat Pendidikan Identifikasi tingkat pendidikan terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6. 6.8 20 83. Sebagian besar kematian > 48 jam sebesar 58.3 31.5 berikut.729. Sedangkan kematian terbesar terdapat pada kelompok pasien dengan pendidikan ≤ SD yaitu sebesar 83.0 Total n 126 52 178 % 71 29 100 Pendidikan ≤ SD > SD Total N 106 48 154 Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok pasien dengan pendidikan ≤ SD sebesar 71%.4 Tingkat Ekonomi Identifikasi tingkat ekonomi terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6. Dari ChiSquare Tests diperoleh hasil P = 0. 6.2.4 berikut.4 Distribusi Pendidikan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam % N % 68. Dari ChiSquare Tests diperoleh hasil P = 0.3%.45 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok pasien lakilaki sebesar 55%.2 4 16. .

0 Total n 90 78 10 178 % 51 44 6 100 Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok dengan tingkat ekonomi bayar sendiri sebesar 51%.8 66 9 154 42.0 4. Sedangkan kematian yang lebih dari 48 jam terbesar terdapat pada kelompok pasien dengan tingkat ekonomi jaminan kesehatan yaitu sebesar 50%. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0. Didalam rekam medis pasien dibaca bagaimana keadaan umum pasien.5 Distribusi Tingkat Ekonomi Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Tingkat Ekonomi Bayar Sendiri Jaminan Kesehatan Askes Total Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam n % N % 79 51.3. 6.3 11 45. jenis penyakit dan tingkat keparahan.791. 6.8 100. .1 Keadaan Umum Identifikasi keadaan umum pasien terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.6 berikut.2 100.0 12 1 24 50.9 5.46 Tabel 6.3 Kondisi Pasien Waktu Masuk Rumah Sakit Kondisi pasien pada waktu masuk ke rumah sakit diidentifikasi dengan mengobservasi rekam medis pasien.

490. 6.47 Tabel 6.4 5 20.8 101 65.2 Jenis Penyakit Identifikasi jenis penyakit pasien terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6. Sedangakan kematian yang .0 Total n 175 3 178 % 98 2 100 Keadaan Umum Lemah & sangat lemah Cukup Total Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok pasien dengan keadaan umum lemah dan sangat lemah yaitu sebesar 98%.7 berikut. Tabel 6.9 100 24 0 24 100.7 Distribusi Kelompok Usia Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam N % N % 53 34.0 Total n 58 120 178 % 33 67 100 Jenis Penyakit Akut Kronis Total Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok pasien dengan jenis penyakit kronis yaitu sebesar 67%.6 19 79.3.1 1. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0.2 154 100 24 100.0 0. Persentase kematian > 48 jam dengan keadaan umum lemah dan sangat lemah mencapai 100%.6 Distribusi Keadaan Umum Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam n % N % 151 3 154 98.0 100.

8 berikut.3 1 4.8 Distribusi Tingkat Keparahan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang interne RSUD Bangil April 2009 Tingkat Keparahan Ringan Sedang Berat Total Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam n % n % 0 0. Sedangakan kematian yang lebih dari 48 jam terdapat pada kelompok dengan tingkat keparahan berat 91.000.7 22 91.6 76. .3 Tingkat Keparahan Identifikasi tingkat keparahan pasien terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.2 18 11. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0.3.0 1 4. 6.4 Response Time Variabel yang yang diteliti adalah proses pelayanan di ruang rawat inap interne RSUD Bangil.6 154 100 24 100 Total n 1 137 40 178 % 0.9 22.6%.2 136 88. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0.187. Tabel 6.9%. ketepatan diagnosis.48 lebih dari 48 jam terbesar terdapat pada kelompok dengan jenis penyakit kronis yaitu sebesar 79.5 100 Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok dengan tingkat keparahan sedang yaitu sebesar 76. 6. Proses pelayanan tersebut adalah kecepatan diagnosis dan tindakan.2%.

9 berikut. Dari Chi-Square Tests tidak dianalis karena bernilai konstan. 6.4.3 23 95.2 154 100 24 100 Ketepatan Diagnosis Tepat Tidak Tepat Total Total n 139 39 178 % 78 22 100 Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 .4.8 38 24.9 Distribusi Kecepatan Diagnosis Dan Tindakan Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kecepatan Diagnosis dan Tindakan < 1 hari Total Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam N % n % 154 100 24 100.1 Kecepatan diagnosis dan tindakan Identifikasi kecepatan diagnosis dan tindakan dokter terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6.10 berikut. Tabel 6.10 Distribusi Ketepatan Diagnosis Dokter Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam N % n % 116 75.7 1 4.0 Total N 178 178 % 100 100 Sumber : data sekunder (diolah) hasil survey Juni 2009 Dari data diatas diperoleh hasil 100% yaitu kecepatan diagnosis dan tindakan dilakukan < 1hari.2 Ketepatan Diagnosis Identifikasi ketepatan diagnosa dokter terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6.49 6.0 154 100 24 100.

6. Dari Chi-Square Tests diperoleh hasil P = 0.5 Supervisi Identifikasi supervisi dokter terhadap ketegori pasien keluar di ruang interne RSUD Bangil dapat dilihat pada tabel 6. Sedangakan kematian yang lebih dari 48 jam terbesar terdapat pada kelompok dengan ketepatan diagnosis tepat yaitu sebesar 95. Tabel 6.50 Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok dengan ketepatan diagnosis tepat yaitu sebesar 78%.0 154 100 24 100.024. 6. evaluasi jarang dilakukan dan apabila ada kegiatan evaluasi maka tidak di khususkan membahas tentang angka kematian melainkan tentang kejadian atau kasus yang terjadi saat itu. Variabel yang . Uji tersebut ber fungsi sebagai screening sebelum dilakukan uji regresi logistik berganda.11 berikut. Jika signifikan nilai < 0. Dari Chi-Square Tests tidak dapat dianalisis karena bernilai konstan.25 maka variabel tersebut masuk pada uji regresi logistik berganda (multivariat).0 Total N 178 178 % 100 100 Supervisi 1 x/ hari Total Sumber : data primer (diolah) hasil survey Juni 2009 Dari data diatas diperoleh hasil 100% atau supervisi dilakukan 1x/hari.8%.11 Distribusi Supervisi Dokter Terhadap Kategori Pasien Keluar Di Ruang Interne RSUD Bangil April 2009 Kategori Pasien Keluar Hidup Mati > 48 jam N % n % 154 100 24 100.6 Evaluasi Menurut hasil wawancara dengan komite medis. Setelah dianalisis dengan Chi-Square Tests maka uji selanjutnya adalah uji regresi logistik sederhana.

dan Ketepatan Diagnosis kategori (tidak tepat).037 RR 0.05 adalah Tingkat Keparahan tanpa kategori. a.842 Sumber : data primer (diolah) hasil survey Juni 2009 Intepretasi dari table 6. jenis penyakit kategori jenis penyakit (kronis). tingkat keparahan tanpa kategori dan kategori tingkat keparahan sedang.929 0. Variabel jenis penyakit kategori (kronis) berpengaruh signifikan terhadap kejadian Net .00 0.781 -5.400 -2.049 0. tingkat pendidikan kategori tingkat pendidikan ≤ SD.27E+49 0.000 0.080 0.14E+46 1.005 U 2.005 0.000 0. ketepatan diagnosis kategori (tidak tepat).525 -2.64 CI L 0.51 masuk uji logistik berganda adalah variabel usia kategori usia (15 – 24 th). Tabel 6.747 P 0.12 adalah dari hasil uji diatas yang bernilai signifikan 0. Hipotesis Hasil pengujian multivariate menunjukkan tingkat keparahan (tanpa kategori) berpengaruh signifikan terhadap kejadian Net death rate. Oleh karena tidak berpengaruh secara kategori maka nilai RR tidak berpengaruh. Jenis Penyakit kategori (kronis).12 Hasil Uji Regresi Logistik Berganda Variabel Tingkat keparahan tanpa kategori Tingkat Keparahan kategori (Sedang) Tingkat Keparahan kategori (Berat) Jenis Penyakit kategori (Kronis) Ketepatan diagnosis (Tidak tepat) B -11. namun pada kategori tingkat keparahan sedang dan berat tidak bernilai signifikan. Berikut adalah hasil uji regresi logistik berganda.986 0.000 0.007 0.845 0.

525 mempunyai arti bahwa peluang terjadinya kematian ≥ 48 jam lebih besar dari jenis penyakit akut. b. .080 mempunyai arti pada kondisi jenis penyakit akut memiliki kemungkinan lebih besar tidak terjadi kematian ≥ 48 jam dan ketepatan diagnosis kategori (tidak tepat) bernilai 0.781 dan tingkat keparahan kategori (berat) yang berniali koefisien – 5. Demikian juga dengan ketepatan diagnosis kategori (tidak tepat) berpengaruh terhadap kejadian net death rate diruang rawat inap interne RSUD Bangil.52 Death Rate. Variable jenis penyakit kategori (kronis) yang bernilai koefisien – 2. Variable ketepatan diagnosis kategori (tidak tepat) bernilai koefisien 2. Resiko Relatif Resiko relatif pada penelitian ini yang bermakna adalah pada variabel jenis penyakit kategori (kronis) bernilai 0.400 berarti peluang terjadinya kematian ≥ 48 jam semakin besar daripada tingkat keparahan ringan.64 mempunyai arti pada kondisi ketepatan diagnosis (tepat) memiliki kemungkinan lebih besar tidak terjadi kematian ≥ 48 jam. Koefisien Regresi Logistik Variabel tingkat keparahan kategori (sedang) yang bernilai koefisien 11.747 mempunyai arti bahwa peluang terjadinya kematian ≥ 48 jam lebih besar dari diagnosis dokter yang tepat. c.

. 3. Jenis Penyakit yang mempengaruhi terjadinya net death rate adalah penyakit kronis.7 Isu Strategis Dari hasil penelitian diperoleh isu strategis sebagai berikut : 1. Tingkat keparahan penyakit sedang dan berat mempengaruhi terjadinya net death rate 2. Ketepatan Diagnosis antara diagnosis kerja dengan diagnosis akhir masih terjadinya net death rate.53 6.

517 yang berarti tidak bahwa ada pengaruh antara usia dengan terjadinya Net Death Rate. Dari hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2007. tren kematian kasar menurut kelompok umur dari tahun 1995-2007 menunjukan peningkatan resiko kematian pada usia diatas 45 tahun. Baik pada kelompok hidup maupun mati ≥ 48 jam. Proporsi kematian > 48 jam terbanyak pada sampel berjenis kelamin 54 .1 Faktor Pasien 7.2 Jenis Kelamin Dari hasil penelitian sebagian besar sampel berjenis kelamin lakilaki. Dari uji regresi logistik yang dilakukan diperoleh hasil P = 0.1. dan yang paling signifikan terjadi pada umur diatas 65 tahun.1. Namun perbedaan proporsi antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan tidak banyak kesenjangan yaitu : laki-laki 55% dan perempuan 45 %. Tren kematian ini kemungkinan besar terkait dengan pola penyakit yang mengalami transisi epidemiologis. jadi dari kesimpulan diatas bahwa distribusi angka kematian akan semakin meningkat atau berbanding lurus dengan bertambahnya umur.BAB VII PEMBAHASAN 7.1 Usia Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar kelompok sampel adalah kelompok usia 45-65 tahun. Hal ini bisa diihat dari pola penyebab kematian kasar didominasi penyakit degeneratif dengan menempati rangking 3 besar. 7.

. Akademi/Diploma 0. SD/MI 21. Hasil ini sebanding dengan hasil survei BPS Kabupaten Pasuruan tahun 2006 penduduk Kabupaten Pasuruan bahwa tingkat pendidikan masyarakat masih tergolong rendah. Sedangkan kematian terbesar terdapat pada kelompok pasien dengan pendidikan ≤ SD yaitu sebesar 83.22%. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat maka akan semakin besar memanfaatkan pelayanan kesehatan.18%. 7.3 Tingkat Pendidikan Dari hasil penelitian sebagian besar responen berpendidikan ≤ SD sebesar yaitu sebesar 71%.155.729 yang berarti tidak ada pengaruh antara jenis kelamin dengan kejadian Net Death Rate. Dari uji logisticRegression diperoleh hasil sebesar P = 0. Pendidikan merupakan upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu.26% dan terbagi menjadi tidak/belum tamat SD 39. kelompok maupun masyarakat.3 %. Dari analisa regresi logistik diperoleh P = 0.55 laki-laki yaitu sebesar 14 sampel dari 24 sampel. Dimana pendidikan yang lebih tinggi akan lebih banyak memberikan banyak informasi sehingga lebih memperhatikan kesehatannya. selain itu rendahnya tingkat ekonomi masyarakat juga merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya pendidikan masyarakat. sehingga tidak ada pengaruh antara tingkat pendidikan dengan kejadian net death rate. SLTA/MA 3.34%.31% dan Sarjana 0.56%. SLTP/MTs 5. Rendahnya tingkat pendidikan responden dikarenakan rendahnya kesadaran masyarakat untuk menuntut ilmu. Yang berpendidikan mencapai 69.1. Menurut Notoatmodjo (2003).21%.

membayar transport dan sebagainya.792.56 Hal ini berkaitan dengan semakin meningkatnya pengetahuan dan kesadaran mereka terhadap masalah kesehatan.1. kelompok tersebut terdiri atas bayar sendiri. Menurut Sunarto (2007) penguasaan ilmu . Keadaan umum pasien merupakan tanda – tanda yang nampak secara keseluruhan pada diri pasien. 7. Dokter biasa melihat keadaan umum melalui inspeksi. Dari analisa logistik regresi diperoleh hasil P : 0.5 Keadaan umum Dari hasil penelitian keadaan umum pasien terbanyak adalah dalam keadaan lemah dan sangat lemah yaitu sebesar 98 %.800. 7.4 Tingkat Ekonomi Tingkat ekonomi sampel penelitian dikelompokkan menurut cara pembayaran ke rumah sakit. Dari hasil peneliatian diperoleh hasil sebagian sampel adalah pasien dengan membayar sendiri sebesar 51 %.1. jaminan kesehatan dan asuransi. Sehingga banyak kasus yang terjadi pasien yang datang sudah dalam keadaan parah. palpasi dan auskultasi. Dari analisa logistik regresi diperoleh hasil P : 0. Menurut Notoatmojo 1997 bahwa tingkat penghasilan dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan maupun pencegahan sangat berhubungan. Seseorang kurang memanfatkan pelayanan yang ada mungkin karena tidak cukup mempunyai uang untuk membeli obat. sehingga dinilai tidak ada beda atau tidak ada pengaruh keadaan umum pasien dengan kejadian net death rate. diikuti urutan berikutnya yaitu jaminan kesehatan sebesar 44 % serta urutan terakhir adalah asuransi sebesar 6%. sehingga dinilai tidak ada beda atau tidak ada pengaruh tingkat pendidikan dengan kejadian net death rate.

Penyakit yang menduduki tingkat pertama penyebab kematian tahun 2007 dan 2008 adalah penyakit Stoke. Menurut hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2007 tren kematian ini kemungkinan besar terkait dengan pola penyakit yang mengalami transisi epidemiologis. dimana nilai ini signifikan atau ada pengaruh antara tingkat keparahan dengan kejadian net death rate.1. Hasil . Hal ini bisa diihat dari pola penyebab kematian kasar didominasi penyakit degeneratif dengan menempati rangking 3 besar.≥ 48 jam terbanyak pada kategori tingkat keparah (berat) sebanyak 91.57 klinis merupakan hal mutlak dibutuhkan seorang dokter agar setiap langkah yang diambil dilakukan secara kritis dan dipikirkan arah pencarian data selanjutnya. Sikap analitis kritis dibutuhkan mulai dari pasien masuk sampai akhir pasien keluar.00.6 %. Hal ini sejalan dengan kejadian angka kematian di RSUD bangil.1.9%. dimana stroke adalah penyakit kronis. Dari hasil analisis logistik regresi diperoleh P = 0. Dan dari analisis logistik regeresi diperoleh P : 0. Dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik saja banyak diagnosis yang ditegakkan seratus persen mendekati benar. 7. Dari hasil penelitian penyakit kronis mencapai 79 % dari total sampel. 7.7 Tingkat Keparahan Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa sampel terbanyak ada pada tingkat keparahan (sedang) sebanyak 76.6 Jenis Penyakit Jenis penyakit disini dibagi menjadi akut dan kronis.000 sehingga bernilai signifikan atau ada pengaruh antara jenis penyakit dengan kejadian net death rate.

namun pada kategori tingkat keparahan sedang dan berat tidak bernilai signifikan. selain itu proses penyampaian dapat juga menimbulkan rasa percaya dan yakin akan jaminan sembuh. 7. Oleh karena tidak berpengaruh secara kategori maka nilai Resiko Relatif tidak berpengaruh.58 pengujian multivariat menunjukkan tingkat keparahan (tanpa kategori) berpengaruh signifikan terhadap kejadian Net death rate.2 Faktor Proses Pelayanan 7.1 Kecepatan Diagnosis dan Tindakan Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa kecepatan diagnosis dan tindakan bernilai konstan atau hasil penelitian diperoleh bahwa kecepatan diagnosis dan tindakan dilakukan < 1 hari. adalah kemampuan untuk menyediakan pelayanan dengan cepat dan mau membantu pasien 3. berat. Assurance (jaminan) dalam penyampaian produk atau jasa disertai dengan rasa hormat. Menurut Kalangi (1994) tingkat keparahan penyakit dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu : ringan. Emphaty (empati) adalah kesediaan pemberi jasa untuk mendengarkan dan adanya perhatian akan keluhan . produk atau jasa dapat di andalkan. dapat dipercaya. . Responsiveness (daya tanggap). Reliability (keandalan). kebutuhan. keinginan dan harapan pasien.2. sopan. Menurut Supriyanto (2005) indikator kualitas atau mutu jasa dapat di evaluasi ke dalam lima dimensi mutu yaitu : 1. 2. sedang. 4. dapat di pertanggung jawabkan dan jasa yang disampaikan tepat sesuai dengan yang dijanjikan.

.2. Dari hasil analisis logistik regresi diperoleh P = 0.52. Sedangakan kematian ≥ 48 jam terbesar terdapat pada kelompok dengan ketepatan diagnosis tepat yaitu sebesar 95. 7.8%. 2007) ketepatan diagnosis merupakan salah satu ciri pelayanan yang bermutu. Ketepatan Waktu Termasuk akses. dan waktu tindakan. bagaimana. 1984 dalam Pohan. kapan.59 5. Informasi Penjelasan dari jawaban apa. waktu tunggu.2 Ketepatan diagnosis Didapatkan bahwa sebagian besar sampel adalah kelompok dengan ketepatan diagnosis tepat yaitu sebesar 78%. 3. 4. sopan santun. karyawan serta sarana komunikasi Kecepatan diagnosis dan tindakan masuk dalam dimensi responsiveness. dan siapa. ketrampilan dan pengalaman. Kompetensi teknis Termasuk pengetahuan kedokteran dan keperawatan. Menurut (Juran. teknologi. Tangibles (kasat mata) untuk mengukur penampilan fisik. 2. peralatan. mengapa. Hubungan antarmanusia Kedalam ini termasuk rasa hormat. Maxwell. 1988. perilaku dan empati. Ciri lain dari pelayanan yang bermutu adalah : 1. dimana nilai ini signifikan atau ada pengaruh antara ketepatan diagnosis dengan kejadian net death rate. keparipurnaan dan keberhasilan pengobatan. Jadi dapat dikatakan bahwa dimensi ketanggapan (responsiveness) rumah sakit khususnya ruang rawat inap interne RSUD Bangil sudah diimplementasikan dengan baik.

60 5. Apabila evaluasi tidak dilakukan bagaimana mengetahui pelaksanaan dari perencanaan yang telah dilakukan dan bagaimana dapat mengetahui apabila ada penyimpangan antara perencanaan dan pelaksaan.4 Evaluasi Dari hasil penelitian diperoleh evaluasi jarang dilakukan oleh dokter spesialis dan komite medik. terhadap pelaksanaan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK). mengkaji keberhasilan pelaksanaan RPK.3 Supervisi Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa supervisi oleh dokter spesialis dilakukan 1 kali perhari sebesar 100%. . Lingkungan Termasuk gedung. mengidentifikasi masalah dalam pelaksanaan RPK. kebersihan. kenyamanan. Dalam hal ini supervisi atau visitasi oleh dokter spesialis sudah diintepretasikan dengan baik. Hal ini bertentangan dengan Supriyanto dan Damayanti (2005) bahwa evaluasi adalah prosedur penilaian pelaksanaan kerja dan hasil kerja secara menyeluruh dengan cara sistematik dengan membandingkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan guna pengambilan keputusan. yang perlu diperhatikan dalam supervisi adalah proses pengamatan. memberi bimbingan penyelesaian masalah. keamanan. 7. taman. 7.

Meningkatkan kegiatan KIE guna pencegahan penyakit dan menurunkan kejadian NDR. untuk kategori sedang dan berat memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kejadian net death rate dari pada tingkat keparahan ringan. pasien dengan jenis penyakit kronis memiliki resiko lebih tinggi dari pada jenis penyakit akut. Faktor Proses Pelayanan Ketepatan dokter dalam mendiagnosis penyakit mempengaruhi kejadian net death rate. Faktor Pasien : a. 61 . 8. menganjurkan kepada masyarakat untuk tidak terlambat datang ke rumah sakit apabila menderita sakit. Tingkat Keparahan penyakit. pembahasan serta kesimpulan maka dapat kami kemukakan beberapa saran sebagai berikut: 1.BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8. 2. Jenis penyakit.1 Kesimpulan Berdasarkan dari hasil penelitian serta pembahasan. b.2 Saran Mengacu pada hasil penelitian. dapat diambil kesimpulan bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya net death rate di ruang rawat inap interne RSUD Bangil adalah : 1.

4. Meningkatkan kualitas dan kemampuan diagnosis penyakit dengan penambahan alat penunjang diagnostik dan pelatihan. Melaksanakan kegiatan evaluasi secara rutin guna menurunkan kejadian net death rate. Segera memanfaatkan ruang intensive care yang sudah ada untuk pasien yang memerlukan perawatan intensive. 3.62 2. .

2008.depkes.com (sitasi 30 juni 2009) . S. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Airlangga Supriyanto dan Damayanti. Universitas Airlangga Gaspersz. L.datastatistik-indonesia. 2007. Surabaya : Airlangga University Press Trisnantoro.id/data%20intranet/Sharing%20Folder/DITJEN %20YANMEDIK/seri%201/Bab%203. A. Universitas Airlangga Azwar. 2002. Manajemen Kualitas Dalam Industri Jasa: Jakarta PT Gramedia Pustaka Utama.htm (sitasi 27 Nopember 2007) Fariani. Dasar Epidemiologi. Aloysius. 2002. Strategi Pemasaran Jasa Pelayanan Kesehatan. Aspek Strategis Manajemen Rumah Sakit. Jakarta: Penerbit Andi. ________. Jakarta : EGC Sunarto. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. 2005. Soekidjo.C. A. Jakrata:Binapura aksara. Surabaya : Fakultas Kesehatan Masyarakat. Departemen Kesehatan RI. Kegiatan Pelayanan. 2005. Jakarta : EGC Supriyanto. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan. http://www. 2002. 2005.S. Upaya Penurunan Net Death Rate Berdasarkan Analisis Manajemen di Ruang Neonatus RSUD Dr. Surabaya : Fakultas Kesehatan Masyarakat. Vincent. http://bankdata. Imbalo S.DAFTAR PUSTAKA Aripin. Tesis. R. 2004. Jakarta: Rineka Cipta. Perencanaan dan Evaluasi. Pohan. Diagnosa Klinis Awal. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro. 1999.go. edisi 2005. 2009. 2005. Notoatmodjo. dan Hidajah.Surabaya Bagian AKM Fakultas Kesehatan Masayarakat.

0% 178 178.0% 36 36. 2 cells (25.7% 5.1% 67 11 67.0 100.6 94.486 .4 2.440a 2.0 24.9 80.1 4.56.3% 40 5 38.0 100.5% 13.0%) have expected count less than 5.5 10.9% 11.6% 19. (2-sided) .64 tahun > = 65 tahun Total Count Expected Count % within Usia Count Expected Count % within Usia Count Expected Count % within Usia Count Expected Count % within Usia Count Expected Count % within Usia Chi-Square Tests Asymp.9 6. .0 100.24 tahun 25 .0 86. The minimum expected count is 2.4% 154 24 154.5% Total 19 19.368 178 df 3 3 1 a.0% Usia 15 .124 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 2.44 tahun 45 .625 2. Sig.9% 14.0% 78 78.0 100.5 85.1% 29 7 31.Crosstabs Usia * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 18 1 16.1 88.0% 45 45.0 100.453 .

452 a. Computed only for a 2x2 table b.0% Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Total Count Expected Count % within Jenis kelamin Count Expected Count % within Jenis kelamin Count Expected Count % within Jenis kelamin Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value . 0 cells (.0 86.0 100. Sig.121 df 1 1 1 Asymp.8 13.899 .7% 14.827 . (2-sided) Exact Sig.Jenis kelamin * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 84 14 84.5% 12.0 100.5% 13.8 87.120 178 1 .729 .0% 178 178. .79.016 .0 24.2 10.728 Exact Sig.0% 80 80. The minimum expected count is 10.5% 154 24 154.2 85. (1-sided) .3% 70 10 69.5% Total 98 98. (2-sided) .0 100.120b .729 .0%) have expected count less than 5.

065 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 6.6 81.407 178 df 3 3 1 a.059 .5%) have expected count less than 5.9% 18.0 100.5% 13.6% 3.1 3.8 95.Pendidikan * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 11 1 10.0 100.2 2.5% Total 12 12.3% 95 21 100. . (2-sided) .4% 154 24 154.2% 4.268a 7.0% Pendidikan Tidak sekolah SD SMP SMA Total Count Expected Count % within Pendidikan Count Expected Count % within Pendidikan Count Expected Count % within Pendidikan Count Expected Count % within Pendidikan Count Expected Count % within Pendidikan Chi-Square Tests Asymp.0 86.9 96. 3 cells (37.4 15.8% 28 1 25.62.0% 178 178. Sig.6 91.7% 8.0 24.436 3.0 100.1% 20 1 18.0% 21 21.0 100.0% 116 116. The minimum expected count is 1.4 1.0 100.099 .0% 29 29.

8% 12.0% 178 178.6% 15.0 100.0% 10 10. (2-sided) .774 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value .4% 9 1 8.0 86.5 10.35.468a .7 1. The minimum expected count is 1. Sig. .2% 66 12 67.1 87.7%) have expected count less than 5.3 90.Jenis pasien * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 79 11 77.0% Jenis pasien Bayar sendiri Jaminan kesehatan Askes Total Count Expected Count % within Jenis pasien Count Expected Count % within Jenis pasien Count Expected Count % within Jenis pasien Count Expected Count % within Jenis pasien Chi-Square Tests Asymp.5 84.5% Total 90 90.791 . 1 cells (16.0 100.9 12.0% 78 78.0 100.0 100.0 24.0% 10.790 .5% 13.0% 154 24 154.472 .082 178 df 2 2 1 a.

0 100.0% 140 140.0%) have expected count less than 5.1 18.0 24.000 Exact Sig. Sig.013 .487 178 1 .0% 116 24 121.1% 154 24 154.132 12.12. Computed only for a 2x2 table b. (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 7.0 100.9 82.006 . (2-sided) Exact Sig.5% 13.0% . 0 cells (.5% Total 38 38.0 86.1 100. The minimum expected count is 5.9% 17.529b 6.003 7. (2-sided) .507 df 1 1 1 .0% Jenis penyakit Akut Kronis Total Count Expected Count % within Jenis penyakit Count Expected Count % within Jenis penyakit Count Expected Count % within Jenis penyakit Chi-Square Tests Asymp.0% 178 178.9 5.0 100.002 a. .Jenis penyakit * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 38 0 32.006 .

0% 18 36.0% Chi-Square Tests Asymp.0 86.994 83. (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 89.000 . (2-sided) Exact Sig.5% .0% 42 42.Tingkat keparahan * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 136 0 117.66.7 18.7 57.0% 24 5.321 178 1 .0 13. The minimum expected count is 5.000 . 0 cells (.3 100.5% Tingkat keparahan Parah Sangat parah Total Count Expected Count % within Tingkat keparahan Count Expected Count % within Tingkat keparahan Count Expected Count % within Tingkat keparahan Total 136 136.1% 24 24. .0%) have expected count less than 5. Computed only for a 2x2 table b. (2-sided) .000 a.000 Exact Sig.000 .0 100.0 100. Sig.000 89.0 100.0% 178 178.826b 84.3 42.9% 154 154.423 df 1 1 1 .

0% .8 83.0% 4 4.934 178 df 3 3 1 a.5% Total 96 96.4% 5 0 4.6% 16.0 100.7 100.0% 50.54.0 86.6% 10.0% 178 178.4% 61 12 63.0 100.5% 13.0% Cara masuk Datang sendiri Kiriman PKM Kiriman RS Swasta Kiriman dokter/bidan praktek Total Count Expected Count % within Cara masuk Count Expected Count % within Cara masuk Count Expected Count % within Cara masuk Count Expected Count % within Cara masuk Count Expected Count % within Cara masuk Chi-Square Tests Asymp.119 .0 24.0 100.844 2.5 50.672a 5.2 9.5 . 4 cells (50.0 100.3 .0% 154 24 154. .0% 2 2 3.083 . The minimum expected count is .9 89.0% 73 73.0%) have expected count less than 5. Sig.087 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 6.0% 5 5.0 100. (2-sided) .1 12.Cara masuk * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 86 10 83.

Kondisi masuk rumah sakit * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 0 5 4.0 100.326a 21. Sig.40.0% 24 24.0 100.0 86. The minimum expected count is . 4 cells (66. (2-sided) .5% Total 5 5.000 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 33.0% 154 154.0% Kondisi masuk rumah sakit Sangat lemah Lemah Cukup Total Count Expected Count % within Kondisi masuk rumah sakit Count Expected Count % within Kondisi masuk rumah sakit Count Expected Count % within Kondisi masuk rumah sakit Count Expected Count % within Kondisi masuk rumah sakit Chi-Square Tests Asymp.1 88.0 100.7%) have expected count less than 5. .000 .0% 19 22.0 13.8% 3 2.6 100.4 .7 .9 11.2% 0 .5% 100.0 100.723 23.0% 178 178.3 .910 178 df 2 2 1 a.0% 3 3.0% 170 170.000 .0% 151 147.

0 100.6% 154 24 154.4% 28.0 24.0 100.5 63.030 .066 .5% Kesadaran CM Koma Apatis Total Count Expected Count % within Kesadaran Count Expected Count % within Kesadaran Count Expected Count % within Kesadaran Count Expected Count % within Kesadaran Total 160 160.9 71.5 1. 2 cells (33.3% 7 4 9. The minimum expected count is .5% 13.0% 178 178.4 21.Kesadaran * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 142 18 138. .6% 36.4% 5 2 6.0% Chi-Square Tests Asymp.0 100.0% 11 11.987a 5.0% 7 7. Sig.023 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 6.6 88.0 86.0 100. (2-sided) .8% 11.3%) have expected count less than 5.147 178 df 2 2 1 a.443 5.94.1 .

0% Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square N of Valid Cases . No statistics are computed because Kecepatan diagnosa is a constant.0 13.0% 178 178.0 100.a 178 a.0 100.0 24.5% 24 24. .5% 154 154.0 86.5% 13.Kecepatan diagnosa * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 154 24 154.5% Kecepatan diagnosa <= 24 jam Total Count Expected Count % within Kecepatan diagnosa Count Expected Count % within Kecepatan diagnosa Total 178 178.0 86.

254b 1. (2-sided) Exact Sig. 1 cells (25. The minimum expected count is 4.220 .7 94.241 178 1 .6% 15.668 df 1 1 1 . Sig. .102 Exact Sig.0 100.7 19.72.3 84. Computed only for a 2x2 table b.0% 178 178.3% 5.7% 154 24 154. (2-sided) .3 4.4% 33 2 30.0% Chi-Square Tests Asymp.5% Diagnosa Tepat Tidak tepat Total Count Expected Count % within Diagnosa Count Expected Count % within Diagnosa Count Expected Count % within Diagnosa Total 143 143.0 100.134 .172 2.0% 35 35.0%) have expected count less than 5.Diagnosa * Kategori keluar pasien Crosstab Kategori keluar pasien Hidup dan mati < 48 jam Mati > 48 jam 121 22 123.0 24.133 .105 a.501 2.5% 13.0 100. (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 2.0 86.

If weight is in effect. see classification table for the total number of cases.219 Wald 71.E.156 .0 100.0 .0 86.0 .0 100.5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a. .0 . Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Paramete r coding (1) 1. Constant is included in the model.000 Exp(B) .b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.0 a.500 Variables in the Equation Step 0 Constant B -1.000 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Frequency 98 80 Block 0: Beginning Block Classification Tablea. b.000 .Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100. .750 df 1 Sig. The cut value is .859 S.

132 df 1 1 Sig. . .121 .167 .666 Cox & Snell R Square . .120 df 1 1 Sig.728 . .488 2.I.5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.001 Nagelkerke R Square .120 .729 Step 0 Variables Overall Statistics GENDER(1) Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square .120 33.729 .729 . .for EX P(B) Lower Upper .500 Variables in the Equation 95.0% C.788 Step a 1 GENDER(1) Constant B . The cut value is .338 Wald .143 a.Variables not in the Equation Score .E.728 .0 .728 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 140.445 .121 .0 86. Variable(s) entered on step 1: GENDER.000 Exp(B) 1.946 S.001 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.154 -1.121 df 1 1 1 Sig.

000 . Constant is included in the model.0 .0 a.000 .500 . The cut value is .000 1.000 .000 .Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100.5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.000 Pendidikan Tidak sekolah SD SMP SMA Frequency 12 116 21 29 (3) . Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Parameter coding (1) (2) 1.000 . b.0 100. If weight is in effect.0 100.000 1.000 . see classification table for the total number of cases.0 .0 86.000 .000 Block 0: Beginning Block Classification Tablea.0 .000 .

436 7.552 6.075 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.750 df 1 Sig.094 1.268 . The cut value is .156 Variables not in the Equation Score 6.500 .059 .436 7.059 .E.059 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 133.Variables in the Equation Step 0 Constant B -1.014 .293 6. .5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.0 86. .000 Exp(B) . .859 S.268 df 3 1 1 1 3 Sig.099 .436 df 3 3 3 Sig. .589 .0 .219 Wald 71.351 Cox & Snell R Square .213 .099 Step 0 Variables PDDK PDDK(1) PDDK(2) PDDK(3) Overall Statistics Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 7.041 Nagelkerke R Square .

823 .I.155 .816 .522 .E.368 48.083 44.458 1.934 1.410 3. Variable(s) entered on step 1: PDDK.001 Exp(B) 2.336 -3.036 a.0% C. .444 1.241 .545 6. 1.038 .189 1.054 10.797 .Variables in the Equation 95.400 .721 df 3 1 1 1 1 Sig. .074 23.081 .018 Wald 5.332 S.737 B Step a 1 PDDK PDDK(1) PDDK(2) PDDK(3) Constant .146 .046 1.for EXP(B) Lower Upper .

0 86. Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Parameter coding (1) (2) 1.000 Jenis pasien Bayar sendiri Jaminan kesehatan Askes Frequency 90 78 10 Block 0: Beginning Block Classification Tablea.Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100.b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. If weight is in effect. see classification table for the total number of cases.0 100. The cut value is .000 .0 .0 .000 .0 .0 a.0 100.000 1.500 .5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a. Constant is included in the model.000 . b.000 .

315 Cox & Snell R Square . The cut value is .197 S.000 Exp(B) .750 df 1 Sig.468 df 2 1 1 2 Sig.791 .I.111 a.790 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 140.054 Wald .500 Variables in the Equation 95.E.102 1.219 Wald 71.792 .472 .636 . .654 .037 Exp(B) 1.618 .468 .465 .248 .868 14.226 .859 S.791 Step 0 Variables JENIS2 JENIS2(1) JENIS2(2) Overall Statistics Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square .0 86.430 . 1.5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.492 -2.003 Nagelkerke R Square .790 .472 df 2 2 2 Sig.201 4.838 .345 df 2 1 1 1 Sig.253 1.145 . .0 .042 .E. .472 . .for EX P(B) Lower Upper .0% C. Variable(s) entered on step 1: JENIS2.512 .005 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. .790 .190 10.127 B Step a 1 JENIS2 JENIS2(1) JENIS2(2) Constant .100 1.Variables in the Equation Step 0 Constant B -1. .156 Variables not in the Equation Score .

see classification table for the total number of cases.156 .500 Variables in the Equation Step 0 Constant B -1. .Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100.0 100.750 df 1 Sig.0 .0 a.E.0 .b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Paramete r coding (1) 1. b.0 86. The cut value is .000 Jenis penyakit Akut Kronis Frequency 38 140 Block 0: Beginning Block Classification Tablea.0 100.000 Exp(B) .0 .859 S. .5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a. If weight is in effect. Constant is included in the model.219 Wald 71.000 .

068 Nagelkerke R Square .0% C. .000 . Step a 1 PENYAKIT(1) Constant B -19.000 Exp(B) .280 Cox & Snell R Square .I. 6520.000 .000 49.006 Step 0 Variables Overall Statistics PENYAKIT(1) Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 12.0 .224 Wald .E.Variables not in the Equation Score 7.363 df 1 1 Sig. .124 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.507 df 1 1 1 Sig.576 S.530 df 1 1 Sig.530 7. . .000 .006 .507 12.000 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 128.207 a.000 .998 .627 -1. The cut value is .161 .5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a. Variable(s) entered on step 1: PENYAKIT.507 12.500 Variables in the Equation 95.0 86.for EXP(B) Lower Upper .

0 100. The cut value is . If weight is in effect.0 . .0 . Constant is included in the model.0 100.E.0 .859 S.000 .0 86.0 a.500 Variables in the Equation Step 0 Constant B -1.156 .b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. b. see classification table for the total number of cases.750 df 1 Sig.Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100.000 Tingkat keparahan Parah Sangat parah Frequency 136 42 Block 0: Beginning Block Classification Tablea.5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.219 Wald 71. . Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Paramete r coding (1) 1.000 Exp(B) .

for EX P(B) Lower Upper . . .000 .000 .333 a.312 Wald .0% C. .000 Step 0 Variables Overall Statistics PARAH(1) Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 83.374 Nagelkerke R Square .3 100. Step a 1 PARAH(1) Constant B -21.000 1.Variables not in the Equation Score 89.000 .685 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 136 18 0 24 Percentage Correct 88. 3446.826 89.519 .E. .000 .000 .000 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 57.423 83.9 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.851 df 1 1 Sig.288 S. The cut value is .826 df 1 1 Sig.423 83. Variable(s) entered on step 1: PARAH.491 .364 Cox & Snell R Square .0 89.423 df 1 1 1 Sig.I.500 Variables in the Equation 95.995 .356 Exp(B) .

750 df 1 Sig.5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a. The cut value is . .0 .859 S.0 100.156 Block 1: Method = Enter . . Constant is included in the model.000 Exp(B) .0 a.E.219 Wald 71. b. If weight is in effect.0 100.b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. The category variable Kecepatan diagnosa is constant for all selected cases.0 86.Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a b N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100.500 Variables in the Equation Step 0 Constant B -1. it will be removed from the analysis.0 .0 . see classification table for the total number of cases. b. Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Block 0: Beginning Block Classification Tablea. Since a constant was requested in the model.

000 Exp(B) . .0 .Model Summary -2 Log likelihood 140.0 86.219 Wald 71. .787 Cox & Snell R Square .000 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.500 Variables in the Equation Step 1 Constant B -1.5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a. The cut value is .156 .750 df 1 Sig.859 S.000 Nagelkerke R Square .E.

Logistic Regression

Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases
a

N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178

Unselected Cases Total

Percent 100,0 ,0 100,0 ,0 100,0

a. If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.

Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1

Categorical Variables Codings Paramete r coding (1) 1,000 ,000

Diagnosa

Tepat Tidak tepat

Frequency 143 35

Block 0: Beginning Block

Classification Tablea,b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100,0 ,0 86,5

Step 0

Observed Kematian Overall Percentage

< 48 jam > 48 jam

a. Constant is included in the model. b. The cut value is ,500

Variables in the Equation

Step 0

Constant

B -1,859

S.E. ,219

Wald 71,750

df 1

Sig. ,000

Exp(B) ,156

Variables not in the Equation Score 2,254 2,254 df 1 1 Sig. ,133 ,133

Step 0

Variables Overall Statistics

DIAGNOSA(1)

Block 1: Method = Enter

Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 2,668 2,668 2,668 df 1 1 1 Sig. ,102 ,102 ,102

Step 1

Step Block Model

Model Summary -2 Log likelihood 138,119 Cox & Snell R Square ,015 Nagelkerke R Square ,027
Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100,0 ,0 86,5

Step 1

Step 1

Observed Kematian Overall Percentage

< 48 jam > 48 jam

a. The cut value is ,500
Variables in the Equation 95,0% C.I.for EXP(B) Lower Upper ,671 13,416

Step a 1

DIAGNOSA(1) Constant

B 1,099 -2,803

S.E. ,764 ,728

Wald 2,067 14,820

df 1 1

Sig. ,151 ,000

Exp(B) 3,000 ,061

a. Variable(s) entered on step 1: DIAGNOSA.

Logistic Regression

Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases
a

N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178

Unselected Cases Total

Percent 100,0 ,0 100,0 ,0 100,0

a. If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.

Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1

Categorical Variables Codings Parameter coding (1) (2) 1,000 ,000 ,000 1,000 ,000 ,000 ,000 ,000

Usia

15 - 24 tahun 25 - 44 tahun 45 - 64 tahun > = 65 tahun

Frequency 19 45 78 36

(3) ,000 ,000 1,000 ,000

Block 0: Beginning Block

Classification Tablea,b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100,0 ,0 86,5

Step 0

Observed Kematian Overall Percentage

< 48 jam > 48 jam

a. Constant is included in the model. b. The cut value is ,500

831 .E.0 .625 df 3 3 3 Sig.453 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 138.859 S.027 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100. The cut value is .500 . . .0 86.162 Cox & Snell R Square .000 Exp(B) .440 df 3 1 1 1 3 Sig.486 Step 0 Variables USIA USIA(1) USIA(2) USIA(3) Overall Statistics Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 2.290 .156 Variables not in the Equation Score 2.267 .625 2.232 .440 1.046 2.453 .5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.750 df 1 Sig.625 2. .486 .590 .453 .Variables in the Equation Step 0 Constant B -1. .219 Wald 71.015 Nagelkerke R Square .

for EXP(B) Lower Upper .I.300 .240 2.028 1.930 B Step a 1 USIA USIA(1) USIA(2) USIA(3) Constant -1.421 S.658 -.795 1.026 .525 11.469 .634 .750 1.421 Wald 2.241 a.680 .280 1.532 .Variables in the Equation 95.518 .076 .230 .385 -1.392 df 3 1 1 1 1 Sig.149 .516 .0% C.110 . Variable(s) entered on step 1: USIA.469 -. .E.001 Exp(B) . .186 . 1.

If weight is in effect.0 a.000 .0 100.000 1.0 100. Constant is included in the model.0 86.000 Pendidikan Diagnosa Tidak sekolah SD SMP SMA Tepat Tidak tepat Frequency 12 116 21 29 143 35 (3) .000 . The cut value is .0 .000 1.0 .000 Block 0: Beginning Block Classification Tablea.000 1.0 . see classification table for the total number of cases.500 .000 . b.000 .b Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.000 .000 .Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases a N Included in Analysis Missing Cases Total 178 0 178 0 178 Unselected Cases Total Percent 100.000 .000 . Dependent Variable Encoding Original Value < 48 jam > 48 jam Internal Value 0 1 Categorical Variables Codings Parameter coding (1) (2) 1.000 .5 Step 0 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.

000 Exp(B) .268 .417 10.133 .067 Step 0 Variables PDDK PDDK(1) PDDK(2) PDDK(3) DIAGNOSA(1) Overall Statistics Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square 10.219 Wald 71.500 . .417 df 4 4 4 Sig.034 .213 .0 86.156 Variables not in the Equation Score 6.254 8. . The cut value is .034 .293 6.0 .014 .750 df 1 Sig.104 Classification Tablea Predicted Kematian < 48 jam > 48 jam 154 0 24 0 Percentage Correct 100.859 S. .589 .370 Cox & Snell R Square .099 .5 Step 1 Step 1 Observed Kematian Overall Percentage < 48 jam > 48 jam a.Variables in the Equation Step 0 Constant B -1. .768 df 3 1 1 1 1 4 Sig.552 2.417 10.057 Nagelkerke R Square .094 1.E.034 Step 1 Step Block Model Model Summary -2 Log likelihood 130.

784 .302 12.463 1. DIAGNOSA.084 .812 .986 .for EXP(B) Lower Upper .317 S.013 a.139 .404 6.122 1.262 14.273 47.I. .246 3.236 Wald 5.023 2.549 . 1.000 Exp(B) 2.Variables in the Equation 95.636 B Step a 1 PDDK PDDK(1) PDDK(2) PDDK(3) DIAGNOSA(1) Constant .877 1.0% C.225 .129 .711 42.360 2.073 . .879 .447 .220 1.171 -4.049 1.772 1.495 .137 . Variable(s) entered on step 1: PDDK.807 21.191 df 3 1 1 1 1 1 Sig.E.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful