Anda di halaman 1dari 39

REFERAT

Kanker Rongga Mulut dan Oropharing

Pembimbing : Dr. Swasono R, Sp.THT KL, M.Kes

Disusun oleh: Anatasyalia (030.07.016)

Kepaniteraan Klinik THT RSPAU Dr. Esnawan Periode 21 November 2011 23 Desember 2011 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
1

KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan bimbingan-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas referat ini. Terimakasih saya ucapkan kepada dokter pembimbing yang membimbing kami Dr. Swasono R, Sp.THT-KL, M.Kes dan teman-teman sejawat Kepaniteraan Ilmu Penyakit Telinga hidung dan tenggorok serta orang tua saya yang telah membantu dan memberi dorongan dalam penyelesaian tugas referat ini. Referat ini berjudul Kanker Rongga Mulut Dan Oropharing dan merupakan prasyarat dalam menyelesaikan Kepaniteraan Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok di RSPAU dr. Esnawan Antariksa Halim Jakarta. Semoga referat ini bermanfaat serta dapat membantu sebagai bahan informasi bagi rekan-rekan yang membutuhkan dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Jakarta, 11 Desember 2011

Anatasyalia

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.i DAFTAR ISI..ii BAB I BAB II Pendahuluan....1 Anatomi.................................................................................................................2 2.1. Rongga Mulut...2 2.2. oropharing.3 BAB III Isi.5 3.1. Definisi.5 3.2. Patologi5 3.3. Faktor resiko6 3.4. Epidemiologi8 3.5. Patofisiologi..8 3.6. Gejala klinis9 3.7. Pemeriksaan....12 3.8. Stadium...16 3.9. Penatalaksanaan..21 3.10. Prognosis..33 BAB IV Kesimpulan34

DAFTAR PUSTAKA35

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Masalah keganasan dibidang kepala dan leher telah menjadi perhatian para ahli, dua jenis kanker yang paling umum dibidang kepala dan leher adalah kanker rongga mulut dan kanker orofaring. Rongga mulut dan orofaring, bersama dengan bagian lain dari kepala dan leher, memberikan kontribusi pada kemampuan untuk mengunyah, menelan, bernapas, dan berbicara.1,2 Rongga mulut termasuk bibir, mukosa bukal , gingival, dua pertiga bagian depan lidah, dasar mulut di bawah lidah, palatum durum, dan trigonum retromolar1. Orofaring dimulai dimana rongga mulut berhenti. Ini termasuk pallatum mole, dinidng faring posterior, tonsil dan pangkal lidah.1 Kanker dimulai ketika sel-sel menjadi abnormal dan berkembang biak tanpa kendali atau perintah. Sel-sel ini membentuk suatu pertumbuhan jaringan, yang disebut tumor. Suatu tumor dapat jinak atau ganas. Sel-sel kanker dapat menyerang jaringan di dekatnya dan menyebar ke bagian lain dari tubuh secara perkontuinitatum, aliran darah dan sistem limfatik tubuh.3 Kanker mulut dan oropharyngeal adalah salah satu jenis utama kanker di daerah kepala dan leher, pengelompokan yang disebut kanker kepala dan leher. Meskipun kanker mulut dan kanker orofaringeal yang umumnya digabungkan dengan menggunakan satu kalimat, penting untuk mengidentifikasi lokasi kanker dimulai karena ada perbedaan perlakuan antara dua lokasi. Lebih dari 90% dari kanker mulut dan oropharyngeal adalah karsinoma sel skuamosa, yang berarti mulai di sel epitel skuamosa pada lapisan mulut dan tenggorokan.3,4 Walaupun ada perkembangan dalam mendiagnosa dan terapi, keabnormalan dan kematian yang diakibatkan kanker mulut masih tinggi dan sudah lama merupakan masalah didunia. Beberapa alasan yang dikemukakan untuk ini adalah terutama karena kurangnya deteksi dini dan identifikasi pada kelompok resiko tinggi, serta kegagalan untuk mengontrol lesi primer dan metastase nodus limf servikal.3,4 Pada umumnya, untuk mendeteksi dini proses keganasan dalam mulut dapat dilakukan dengan melalui anamnese, pemeriksaan klinis dan diperkuat oleh pemeriksaan tambahan untuk menunjang diagnosis.3 BAB II ANATOMI
5

Rongga mulut dan orofaring,merupakan bagian lain dari kepala dan leher, memberikan kontribusi pada kemampuan untuk mengunyah, menelan, bernapas, dan berbicara.1 2.1.1 Rongga mulut

dikutip dari: http://www.google.co.id/imgres? imgurl=http://learningjust4u.files.wordpress.com/2011/10/mouth-anatomy.jpg Gambar 1. Aantomi rongga mulut Rongga mulut termasuk bibir, mukosa bukal ,gingiva, dua pertiga bagian depan lidah, dasar mulut di bawah lidah, palatum durum , dan trigonum retromolar (daerah kecil di belakang gigi molar3).1 Bibir terutama disusun oleh sebgian besar otor orbikularis oris yang dipersarafi oleh saraf fasialis. Vermilion berawarna merah karena ditutupi oleh lapisan tipis epitel sel skuamosa. Ruangan diantara mukosa pipi bagian dalam dan gigi adalah vestibulum oris. Muara duktus kelenjar parotis menghadap gigi molar kedua atas.1 Gigi ditunjang oleh Krista alveolar mandibula dibagian bawah dan Krista alveolar maksila dibagian atas. 1 Palatum dibentuk oleh tulang dari palatum durum dibagian depan dan sebagian besar dari otot palatum mole dibagian belakang. Palatum mole dapat berubungan dengan faring bagian nasal dari rongga mulut dan orofaring. Ketidakmampuan palatum mole menutup mengakibatkan kesulitan bicara dan menelan. Dasar mulut diantara lidah dan gigi terdapat kelenjar sublingual dan bagian dari kelenjar submandibula. Muara duktus mandibularis terletak didepan tepi frenulum lidah. 1
6

2.2. Orofaring

Dikutip dari: http://www.google.co.id/imgres? q=oral+and+oropharyngeal+anatomi&hl=id&sa=X&biw=1280&bih Gambar 2. Anatomi oropharing Orofaring dimulai dari rongga mulut berakhir. Bagian ini termasuk palatum mole, dinding faring posterior, tonsil, dan pangkal lidah. Bagian depan melalui isthmus faucium berhubungan dengan rongga mulut. 1,2 Batas-batas oropharing Dinding anterior Dinding lateral Dinding superior Dinding inferior : pangkal lidah dan vallecula epiglottis : tonsil palatina, fossa tonsiler : uvula dan pallatum molle : epiglottis

Terdiri dari posterior faring, tonsil palatina, fossa tonsilaris, arcus faring, uvula, tonsil lingual, dan pangkal lidah1,2 a. Dinding posterior faring, penting karena ikut terlibat pada radang akut atau radang kronik faring, abses retrofaring, serta gangguan otot-otot di bagian tersebut. b. Fossa tonsilaris, berisi jaringan ikat jarang dan biasanya merupakan tempat nanah memecah ke luar bila terjadi abses. c. Tonsil, adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dan ditunjang kriptus di dalamnya. Ada 3 macam tonsil, yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil
7

palatina, dan tonsil lingual, yang ketiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Epitel yang melapisi tonsil adalah epitel skuamosa yang juga meliputi kriptus. Di dalam kriptus biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yang terlepas, bakteri, dan sisa makanan.

BAB III ISI 3.1. Definisi Kanker mulut dan oropharyngeal adalah salah satu jenis utama kanker di daerah kepala dan leher, pengelompokan yang disebut kanker kepala dan leher. Meskipun kanker mulut dan kanker orofaringeal yang umumnya digabungkan dengan menggunakan satu kalimat, penting
8

untuk mengidentifikasi lokasi kanker dimulai karena ada perbedaan perlakuan antara dua lokasi.3,4 3.2. Patologi1 Karsinoma sel skuamosa timbul sebagai lesi ulseratif dengan ujung yang nekrotik, biasanya diseskelilingi oleh reaksi radang. Jika tumor tetap sebagai lesi ulseratif, seringkali dikelilingi daerah leukoplakia jenis pra-maligna. Pada awalnya tumor menyebar sepanjang permukaan mukosa, akhirnya meluas ke dalam jaringan lunak dibawahnya. Adenokarsinoma terjadi pada kelenjar liur mayor maupun minor yang terletak pada batas mukosa atau segera pada daerah submukosa. Klasifikasi tumor-tumor kelenjar liur yang biasa terjadi termasuk : 1. Karsinoma sel asini 2. Karsinoma adenoid kisitik 3. Adenokarsinoma 4. Karsinoma mukoepidermoid 5. Karsinoma yang timbul dalam adenoma pleomorfik 6. Tumor campur ganas Dapar bermetastasis secara perkontuinitatum, limfogen dan hematogen. Bertentangan dengan kanker sel skuamosa, yang biasanya ulseratif, adenokarsinoma umumnya submukosa dengan gambaran massa yang licin, keras, bulat yang mengalami ulserasi hanya pada akhir perjalanan penyakit atau setelah biopsi. Tampaknya tidak ada hubungan dengan penggunaan tembakau dan alkohol. Sebenarnya adenokarsinoma dpat terjadi pada berbagai tempat dimana karsinoma sel skuamosa terjadi, tetapi adenokarsinoma lebih sering terjadi pada kelenjar liur mayor, pertemuan pallatum molle dan pallatum durum, atau dalam sinun paranasal atau bagian lidah yang dapat bergerak aktif

Limfoma ganas dapat terjadi sebagai keganasan primer di kepala dan leher. Limfoma baiasanya diklasifikasikan hodgkin dan non-hodgkin. Kategorasi limfoma hodgkin dan nonhodgkin lebih kompleks dan tergantung pada sifat imunologik dan morfologik. 3.3. Faktor resiko Pada umumnya penyebab dari suatu keganasan tidak dapat diketahui dengan pasti penyebabnya. Namun ada beberapa penilitian mengemukakan faktor-faktor yang dapat meningkatkan terjadinya keganasan pada rongga mulut dan oropharyng.1,2,3,4
1. Merokok dan mengunyah tembakau

Resiko terajdinya keganasan terkait dengan berapa lama dan berapa banyak kontak dengan selaput lendir mukosa mulut. Asap tembakau dari rokok, cerutu, atau pipa dapat menyebabkan kanker dimana saja di mulut atau tenggorokan, serta dapat menyebabkan kanker dari laring (pita suara), paru-paru, kerongkongan, ginjal, kandung kemih, dan organ lainnya. Merokok menngunakan pipa adalah risiko sangat signifikan untuk kanker di daerah bibir yang menyentuh batang pipa. Mengunyah tembakau resiko tinggi terkait dengan kanker pipi, gusi, dan permukaan bagian dalam bibir. 1,2,3,4
2. Minum alkohol

Resiko keganasan rongga mulut dan oropharyng meningkat pada perokok dan minum alkohol. 1,2,3,4
3. Infeksi Human Pappiloma Virus

Kebanyakan jenis HPV menyebabkan kutil pada berbagai bagian tubuh, tetapi beberapa tipe HPV (seperti HPV16) terkait dengan tertentu kanker, termasuk kanker serviks dan kanker oral dan orofaringeal. Infeksi HPV menyebar terutama melalui kontak seksual (oral seks). Infeksi HPV sering ditemukan pada kanker orofaring (terutama tonsil) dan jarang pada kanker rongga mulut. Kanker mulut dan orofaringeal berkaitan dengan infeksi HPV cenderung mengenai pada usia lebih muda dan cenderung perokok dan peminum alkohol. Infeksi HPV dari mulut dan tenggorokan tidak memiliki gejala,

10

dan hanya persentase yang sangat kecil menyebabkan kanker oropharyng tanpa disertai dengan faktor resiko yang lainnya. 3,4,5,9
4. Terpapar sinar Ultraviolet (UV)

Sinar matahari adalah sumber utama dari sinar UV bagi kebanyakan orang. Kanker bibir lebih umum pada orang yang memiliki pekerjaan di luar ruangan kontak yang terlalu lama sinar matahari. 3,4
5. Diet rendah gizi

Beberapa studi telah menemukan bahwa diet rendah buah-buahan dan sayuran adalah terkait dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut dan orofaring.3,4
6. Sistim imun yang lemah

Kanker rongga mulut dan oropharyngeal yang lebih umum pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat disebabkan oleh penyakit sudah ada sejak lahir, acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), dan obat-obatan tertentu (seperti yang diberikan setelah transplantasi organ). 3,4
7. Jenis kelamin

Kanker oropharyngeal sekitar dua kali lebih umum pada pria daripada wanita. ini mungkin karena laki-laki lebih cendenrung untuk menggunakan tembakau dan alkohol. dan dalam beberapa waktu terakhir ini infeksi HPV terkait kanker oropharing terjadi pada pria muda. 1,2,3,4

8. Usia

Kanker orofaring biasanya terjadi dalam kurun waktu yang lama untuk berkembang menjadi suatu keganasan, sehingga tidak umum pada orang muda.

11

Kebanyakan pertama kali diketahui adanya kanker pada usia lebih dari 55. Terkait dengan infeksi HPV cenderung menyerang pada usia yang lebih muda. 1,2,3,4 3.4. Epidemiologi Di Amerika Serikat diperkirakan tahun ini 39.400 orang dewasa (27.710 pria dan 11.690 wanita) didiagnosis dengan kanker mulut atau orofaringeal. Diperkirakan bahwa angka kematiannya 7.900 (5.460 laki-laki dan 2.440 perempuan) dari penyakit ini.3 Tingkat kanker mulut dan orofaringeal lebih tinggi dua kali pada laki-laki dari perempuan. Kanker rongga mulut sebagai kanker yang paling umum di antara pria, mungkin karena faktor resiko pada laki-laki lebih tinggi.3 Jenis yang paling umum untuk kanker pada rongga mulut adalah: lidah sekitar 25% kasus; tonsil 10% sampai 15%, bibir 10% sampai 15%; kelenjar ludah minor 10% untuk 15%, dan sisanya terjadi pada gusi dan dasar mulut.3 3.5. Patosifiologi Banyak teori yang mengemukakan mengenai terjadinya suatu penyakit keganasan pada rongga oropharyng. Beberapa faktor risiko, seperti tembakau atau penggunaan alkohol berat, dapat menyebabkan kerusakan DNA sel-sel yang melapisi bagian dalam mulut dan tenggorokan. DNA adalah suatu bahan kimia didalam setiap sel tubuh yang akan membentuk gen, menunjukkan bahwa sel-sel didalam tubuh berfungsi dengan baik. Beberapa gen memiliki instruksi untuk mengontrol ketika sel-sel tumbuh dan membelah. Gen yang menstimulasikan pembelahan sel disebut onkogen. Gen yang memperlambat pembelahan sel atau menyebabkan sel mati pada waktu yang tepat disebut gen supresor tumor. Ketika tembakau dan alkohol merusak sel-sel yang melapisi mulut dan tenggorokan, sel-sel harus tumbuh lebih cepat untuk memperbaiki kerusakan ini. Dalam hal ini ada kesempatan gen membuat kesalahan saat menyalin DNA sehingga menjadi sel kanker. Banyak bahan kimia yang ditemukan didalam tembakau yang dapat merusak DNA secara langsung.4 Alkohol tidak dapat dipastikan dapat merusak DNA secara langsung, namun diyakini bahwa alkohol membantu banyak bahan kimia lebih mudah masuk ke dalam sel dan merusak DNA. Kombinasi tembakau dan alkohol menyebabkan kerusakan DNA lebih besar dibanding
12

tembakau saja. Kerusakan ini dapat menyebabkan onkogen dan gen supresor tumor mengalami kerusakan, terjadi perubahan DNA yang mengaktifkan onkogen atau menonaktifkan gen supresor tumor. Sel abnormal terus dihasilkan, membentuk tumor.4 Dengan adanya kerusakan tambahan yaitu, infeksi Human Pappiloma Virus, menyebabkan sel membuat 2 protein, sebagai E6 dan E7. Protein ini membunuh beberapa gen yang menjaga pertumbuhan sel agar tetap terkendali, sehingga pertumbuhan sel menjadi tidak terkendali dan menjadi kanker. HPV DNA ditemukan didalam sel-sel tumor, terutama pada sel pasien non-perokok yang minum sedikit alkohol atau tidak konusmsi alkohol. Diperkirakan HPV menjadi penyebab kemungkinan kanker.4 Beberapa orang mewarisi mutasi DNA dari orang tua sehingga meningkatkan risiko untuk berkembangkan menjadi kanker tertentu. Namun, hal ini tidak sepenuhnya diyakini terjadi pada kanker rongga mulut dan kanker oropharing. Beberapa dari kanker dapat dikaitkan dengan yang lain, seperti faktor resiko yang belum dapat diketahui dengan pasti ataupun tidak adanya faktor eksternal penyebab mungkin saja terjadi karena mutasi DNA secara acak di dalam sel.4 3.6. Gejala Klinis Kemungkinan tanda-tanda dan gejala kanker ini dapat mencakup: 4

Rasa gatal di mulut (gejala yang paling umum) Nyeri pada mulut (juga sangat umum) Benjolan atau penebalan di mukosa pipi Terdapat bercak (patch) yang putih atau merah pada gusi, lidah, tonsil, atau lapisan mulut

Sakit tenggorokan atau perasaan bahwa ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan

Kesulitan mengunyah atau menelan Kesulitan menggerakkan rahang atau lidah


13

Mati rasa dari daerah lidah atau mulut lainnya Pembengkakan rahang yang menyebabkan perasaan tidak nyaman Gigi terasa longgar atau sakit di sekitar gigi atau rahang Suara serak Terdapat sebuah benjolan atau massa di leher Bau mulut yang menetap Berat badan menurun.

3.6.1. Kanker pada lidah Hampir 80% kanker lidah terletak pada 2/3 anterior lidah (umumnya pada tepi lateral dan bawah lidah) dan 20% pada posterior lidah. Gejala tergantung pada lokasi kanker tersebut. Bila terletak pada bagian 2/3 anterior lidah, keluhan utamanya adalah timbulnya suatu massa yang seringkali terasa tidak sakit. Bila timbul pada 1/3 posterior, kanker tersebut selalu tidak diketahui oleh penderita dan rasa sakit yang dialami biasanya dihubungkan dengan rasa sakit tenggorokan.2 Pada stadium awal, secara klinis kanker lidah dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, dapat berupa bercak leukoplakia, penebalan, perkembangan eksofitik atau endofitik bentuk ulkus. Tetapi sebagian besar dalam bentuk ulkus. Tanda yang paling penting adalah terdapat indurasi yang didapat pada pinggiran ulkus.7 3.6.2.Kanker dasar mulut Kanker pada dasar mulut biasanya dihubungkan dengan penggunaan alkohol dan tembakau. Pada stadium awal mungkin tidak menimbulkan gejala. Bila lesi berkembang menimbulkan keluhan adanya gumpalan dalam mulut atau perasaan tidak nyaman. Pada stadium yang sudah lanjut akan mengalami kesulitan dan nyeri waktu menelan dan timbul yang disebut hot potato voice pada waktu berbicara dan pada waktu yang sama menghindari menelan secret yang terkumpul.2 Secara klinis yang paling sering dijumpai adalah lesi berupa ulserasi dengan tepi yang timbul dan mengeras yang terletak dekat frenulum lingual. Bentuk yang lain adalah penebalan

14

mukosa yang kemerah-merahan, nodul yang tidak sakit atau dapat berasal dari leukoplakia. Pada kanker tahap lanjut dapat terjadi pertumbuhan eksofitik atau infiltratif.2 3.6.3. Kanker pada mukosa pipi Di negara yang sedang berkembang, kanker pada mukosa pipi dihubungkan dengan kebiasaan mengunyah campuran pinang, daun sirih, kapur dan tembakau yang berkontak dengan mukosa pipi kiri dan kanan selama beberapa jam.7 Pada awalnya lesi tidak menimbulkan simptom, terlihat sebagai suatu daerah eritematus, ulserasi yang kecil, daerah merah dengan indurasi dan kadang-kadang dihubungkan dengan leukoplakia tipe nodular.7 3.6.4. Kanker pada gingiva Kanker pada gingiva umumnya berasal dari daerah dimana susur tembakau ditempatkan pada orang-orang yang memiliki kebiasaan ini. Daerah yang terlibat biasanya lebih sering pada gingiva mandibula daripada gingiva maksila7. Lesi awal terlihat sebagai granuloma yang kecil atau sebagai nodul. Lesi yang lebih lanjut berupa pertumbuhan eksofitik atau pertumbuhan infiltratif yang lebih dalam. Pertumbuhan eksofitik seperti bunga kol, mudah berdarah. Pertumbuhan infiltratif biasanya tumbuh invasif pada tulang mandibula dan menimbulkan desdruktif.7 3.6.5. Kanker pada palatum Pada daerah yang masyarakatnya mempunyai kebiasaan menghisap rokok. Kanker pada palatum merupakan kanker rongga mulut yang umum terjadi dari semua kanker mulut. Perubahan yang terjadi pada mukosa mulut yang dihubungkan dengan menghisap rokok adalah adanya ulserasi, erosi, daerah nodul dan bercak. Jika lesi terus berkembang mungkin akan mengisi seluruh palatum. Kanker pada palatum dapat menyebabkan perforasi palatum dan meluas sampai ke rongga hidung.7 3.6.6. Kanker daerah tonsila Daerah ini meluas dari trigonum retromolar termasuk arkus tonsila posterior dan anterior demikian juga dengan fosa tonsilanya sendiri. Tumor yang meluas ke inferior ke dasar lidah dan ke superior pada pallatum mole. Teraba lesi-lesi kecil dengan palpasi.1

15

3.7. Pemeriksaan 3.7.1. Pemeriksaan fisik Dua komponen kunci pemeriksaan rongga mulut dan oropharing yaitu inspeksi dan palpasi dari kedua struktur eksternal dan internal rongga mulut.6 Pemeriksaan menyeluruh dilakukan mencakup pemeriksaan kepala, wajah, dan leher mencari perubahan warna kulit, bengkak, dan simetris atau tidak.3,4,6 Palpasi pemeriksaan luar kepala secara menyeluruh, termasuk otot temporal, sendi temporomandibular, otot masseter, dan tulang mandibula. Selanjutnya, meraba leher, termasuk kelenjar parotis dan submandibula, nodul kelenjar getah bening, dan otot-otot leher. 6 Pemeriksaan internal dilakukan dengan sangat hati-hati untuk melihat setiap daerah yang bervariasi dari warna merah muda normal yang sehat mukosa. Karsinoma skuamosa hampir mengenai hamper semua sel rongga mulut dan orofaring didahului oleh perubahan yang mudah terlihat di mukosa rongga mulut yang paling sering bermanifestasi sebagai merah atau putih patches. Terdiri dari beberapa tahapan pemeriksaan:6

Dikutip dari : http://www.jaapa.com/oral-cancer-how-to-find-this-hidden-killer-in-2minutes/article/130902/


16

Gambar 3 : pemeriksaan rongga mulut


a. Menarik superior bibir atas, dan memeriksa mukosa dan gingiva. b. Memanipulasi bibir dengan ibu jari dan indeks jari, merasakan untuk setiap lesi

submukosa
c. Memeriksa mukosa bukal dan posterior gingiva satu sisi dimulai dari commissure bibir

lateral dan kemudian superior.


d. Menarik kembali bibir bawah dan memeriksa mukosa, ruang depan, dan anterior gingiva e. Selanjutnya, memeriksa seluruh pallatum f. Tekan lidah dengan spatula lidah saat pasien mengatakan "aaaa g. Meminta pasien untuk mengankat lidah ke atap mulut dan memeriksa permukaan ventral

lidah dan dasar mulut (Manuver ini mengangkat langit-langit lunak dan memungkinkan pandangan yang lebih baik dari tonsil wilayah)
h. Pemeriksaan terkahir menarik lidah keluar dari mulut dan tahan dengan kasa steril dan

memeriksa batas lateral lidah. Palpasi rongga mulut juga penting. sSmua permukaan dari mukosa bukal, dasar mulut, dan lidah harus teraba. Palpasi tepat adalah dicapai menggunakan bimanual teknik. Pemeriksaan fisik lengkap dilakukan didaerah kepala dan leher untuk mengetahui daerah yang abnormal. Pemeriksaan ini mencakup kelenjar limf dileher, untuk mencari tanda-tanda keganasan yang sudah metastase ke kelenjar limf sekitar. Karena orofaring adalah jauh di dalam leher dan beberapa bagian tidak mudah dilihat sehingga diperlukan alat kusus untuk pemeriksaan4. Laringoskopi tidak langsung Pemeriksaan ini menggunakan cermin diletakkan di bagian belakang mulut untuk melihat keadaan dinding belakang faring serta kelenjar limf, uvula, arcus faring serta gerakannya, tonsil, pita suara, mukosa pipi, gusi, dan gigi geligi.3
17

3.7.2. Pemeriksaan penunjang Laringoskopi langsung Pemeriksaan ini dengan cara memasukkan serat optik fleksibel (disebut endoskop, pipa, tipis fleksibel dengan cahaya dan lensa terpasang untuk melihat) melalui mulut atau hidung untuk memeriksa kepala dan daerah leher. Kadang-kadang, endoskopi yang kaku (tabung berongga dengan lensa cahaya) ditempatkan ke bagian belakang mulut untuk melihat bagian belakang tenggorokan lebih terinci. Pemeriksaan ini memiliki nama yang berbeda tergantung pada area tubuh yang diperiksa, seperti laringoskopi (laring), pharyngoscopy (faring), atau nasopharyngoscopy (nasofaring).3,4 Untuk membuat pasien lebih nyaman, pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan semprotan anestesi untuk mematikan rasa daerah itu. Jika jaringan terlihat mencurigakan, akan dilakukan biopsi dan dilakukan di ruang operasi di rumah sakit dengan menggunakan anestesi umum. 3,4 Biopsi Biopsi adalah pengangkatan sejumlah kecil jaringan untuk pemeriksaan dibawah mikroskop. Dengan biopsi dapat membuat diagnosis pasti. Jenis biopsi dilakukan tergantung pada lokasi dari kanker. Aspirasi jarum biopsi, sel-sel ditarik menggunakan jarum tipis yang dimasukkan langsung ke tumor. Sel-sel diperiksa di bawah mikroskop sel-sel kanker.4 Biopsi sikat oral Suatu teknik baru sederhana untuk mendeteksi kanker mulut dengan menggunakan sikat kecil untuk mengumpulkan sampel sel dari daerah yang mencurigakan. Spesimen tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk analisis. Prosedur sikat oral biopsi mudah dan dapat dilakukan di tempat praktek dengan nyeri sedikit atau tidak ada. Jika kanker ditemukan menggunakan metode ini, dianjurkan melakukan biopsy untuk mengkonfirmasi hasil.4 X-ray Tes pencitraan menggunakan x-ray, medan magnet, atau zat radioaktif untuk membuat gambar bagian dalam tubuh. Tes pencitraan ini tidak digunakan untuk mendiagnosa rongga
18

mulut atau kanker oropharyngeal, tetapi dilakukan untuk beberapa alasan baik sebelum dan setelah diagnosis kanker, termasuk: 4

Untuk membantu mencari tumor jika ada yang dicurigai Untuk mengetahui seberapa jauh kanker mungkin telah menyebar Untuk membantu menentukan apakah pengobatan telah efektif Untuk mencari tanda-tanda kemungkinan kekambuhan kanker setelah pengobatan

Pemeriksaan barium Pemeriksaan ini umumnya digunakan untuk melihat orofaring dan fungsi menelan. Pertama pasien diminta untuk menelan barium, sehingga dapat terlihat setiap perubahan dalam struktur rongga mulut dan tenggorokan dan melihat apakah cairan lewat dengan mudah ke perut. X-ray kemudian digunakan dan dimodifikasi, atau videofluoroscopy, digunakan untuk menilai fungsi menelan.4 Panorex Disebut juga panorama, x-ray untuk melihat dari rahang atas dan bawah mendeteksi kerusakan tulang akibat penyebaran kanker, atau untuk mengevaluasi gigi sebelum terapi radiasi atau kemoterapi.4 Computed tomography scan CT scan menciptakan gambar tiga dimensi bagian dalam tubuh dengan mesin x-ray. Sebuah komputer kemudian menggabungkan gambar-gambar menjadi tampilan, rinci crosssectional yang menunjukkan kelainan apapun atau tumor. Dapat digunaka media kontras (pewarna khusus) disuntikkan ke pembuluh darah pasien untuk memberikan detail yang lebih baik. CT scan dapat membantu untuk memutuskan apakah kanker bisa diangkat dengan operasi dan menentukan apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di leher atau tulang rahang bawah. 3 Magnetic Resonance Imaging (MRI) MRI menggunakan medan magnet, bukan x-ray, untuk menghasilkan gambar rinci dari tubuh, terutama gambar jaringan lunak, seperti tonsil dan pangkal lidah. Sebuah media kontras dapat disuntikkan ke pembuluh darah pasien untuk menciptakan gambaran yang lebih jelas. 3, USG

19

USG menggunakan gelombang suara untuk menciptakan gambar dari organ internal. Tes ini dapat mendeteksi penyebaran kanker ke kelenjar limf di leher.3 Tomografi emisi positron scan Sebuah PET scan adalah cara untuk membuat gambar organ dan jaringan dalam tubuh. Sejumlah kecil zat radioaktif disuntikkan ke tubuh. Zat ini diserap terutama oleh organ dan jaringan yang menggunakan energi. Karena kanker cenderung untuk menggunakan energi secara aktif, menyerap lebih dari zat radioaktif. Scanner kemudian mendeteksi zat ini untuk menghasilkan gambar bagian dalam tubuh yang menyerap radioaktif terbanyak sebagai sel kanker4. 3.8.Stadium Sebuah sietem yang menggambarkan seberapa jauh penyebaran suatu tumor. Sistem yang paling umum digunakan untuk menggambarkan tingkat kanker rongga mulut dan kanker oropharyngeal adalah sistem TNM dari American Joint Committee on Cancer (AJCC) 4, TNM untuk menjelaskan 3 informasi:

T menunjukkan ukuran dari tumor primer dan jika ada jaringan rongga mulut atau orofaring yang telah menyebar(metastasis). N menunjukkan penyebaran ke kelenjar limf terdekat M menunjukkan kanker telah menyebar (metastasis) ke organ lain dari tubuh.

Angka atau huruf muncul setelah T, N, dan M untuk memberikan informasi tentang masingmasing faktor:

Angka 0 sampai 4 menunjukkan tingkat keparahan. Huruf X berarti "tidak dapat dinilai" karena informasi ini tidak tersedia.

T kategori untuk kanker bibir, rongga mulut, dan orofaring


TX : Tumor primer tidak dapat dinilai, informasi tidak diketahui. Tis: Karsinoma in situ. Ini berarti kanker tersebut masih dalam epitel (lapisan atas sel yang melapisi rongga mulut dan orofaring) dan belum berkembang menjadi lapisan yang lebih dalam.
20

T0: Tidak ada bukti tumor primer T1: Tumor 2 cm (sekitar inci) atau lebih kecil T2: Tumor lebih besar dari 2 cm, tetapi lebih kecil dari 4 cm (sekitar 1 inci) T3: Tumor lebih besar dari 4 cm T4a: Tumor tumbuh ke dalam struktur di dekatnya, menyerang organ disekitarnya. Untuk kanker rongga mulut: tumor tumbuh ke dalam struktur terdekat, seperti tulan rahang atau wajah, otot, lebih dalam mengenai lidah, kulit wajah, atau sinus maksilaris. Untuk kanker bibir: tumor tumbuh ke dalam tulang di dekatnya, saraf alveolaris inferior, dasar mulut, atau kulit dagu atau hidung. Untuk kanker oropharyngeal: tumor tumbuh ke dalam laring (pita suara), lidah, otot, atau tulang seperti pterygoideus medial, palatum durum, atau rahang.

T4b: Tumor telah berkembang melalui struktur terdekat dan ke daerah yang lebih dalam atau tengkorak (untuk kanker). Untuk kanker oropharyngeal: tumor tumbuh ke dalam otot yang disebut otot pterygoideus lateral. . Untuk kanker oropharyngeal: tumor tumbuh ke dalam nasofaring. setiap rongga mulut atau kanker orofaringeal). Tumor mengelilingi arteri karotid internal (untuk setiap rongga mulut atau orofaringeal jaringan. Tumor tumbuh ke dalam tulang lainnya, seperti dasar pterygoideus dan / atau dasar

Kategori N
NX: kelenjar getah bening terdekat tidak dapat dinilai, informasi tidak diketahui N0: Kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya N1: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di salah satu sisi yang sama dari

kepala atau leher sebagai primer tumor; kelenjar getah bening tidak lebih dari 3 cm.
N2 mencakup 3 subkelompok: 21

N2a: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di salah satu sisi yang sama

sebagai tumor primer ; kelenjar getah bening lebih besar dari 3 cm tapi tidak lebih besar dari 6 cm (sekitar 2 inci)
N2b: Kanker telah menyebar ke 2 atau lebih kelenjar getah bening pada sisi yang

sama dengan tumor primer, tetapi tidak ada yang lebih besar dari 6 cm
N2c: Kanker telah menyebar ke satu atau lebih kelenjar getah bening pada kedua sisi

leher atau di sisi yang berlawanan dengan tumor primer, tetapi tidak ada yang lebih besar dari 6 cm
N3: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening yang lebih besar dari 6 cm

M kategori
M0: Tidak menyebar jauh M1: kanker telah menyebar ke tempat yang jauh di luar wilayah kepala dan leher

(misalnya, paru-paru)

3.8.1. Stadium pengelompokkan3,4 Dokter menetapkan stadium kanker dengan menggabungkan klasifikasi T, N, dan M. Tahap 0: Menjelaskan karsinoma di situ (Tis), dengan tidak menyebar ke kelenjar getah bening (N0) atau metastasis jauh (M0).

Stadium I: Menjelaskan tumor kecil (T1), dengan tidak menyebar ke kelenjar getah bening (N0) dan tidak ada metastasis jauh (M0).

22

Stadium II: Menjelaskan tumor yang lebih kecil dari 4 cm (T2), dan belum menyebar ke kelenjar getah bening (N0) atau ke bagian tubuh yang jauh (M0).

Stadium III: Menjelaskan semua tumor lebih besar (T3), dengan tidak menyebar ke kelenjar getah bening (N0) atau metastasis (M0), serta tumor yang lebih kecil (T1, T2) yang telah menyebar ke kelenjar getah bening regional (N1), tetapi tidak memiliki tanda metastasis (M0).

Stadium IVA: Menjelaskan setiap tumor invasif (T4a) dengan baik tanpa keterlibatan kelenjar getah bening (N0) atau hanya menyebar ke nodul tunggal, yang sama-sisi getah bening (N1), tetapi tidak ada metastasis (M0). Hal ini juga digunakan untuk setiap tumor (T apapun) dengan keterlibatan nodul lebih signifikan (N2), tetapi tidak ada metastasis (M0).

23

Stadium IVB: Menjelaskan setiap tumor (T apapun) dengan keterlibatan nodal yang luas (N3), tetapi tidak ada metastasis (M0).

Stadium IVC: Menunjukkan ada bukti penyebaran jauh (ada T, setiap N, M1).

3.8.2.Grade tumor berdasarkan pemeriksaan histologi4 Pemeriksaan ini bertujuan menggambarkan tumor primer dengan grade, yang ditentukan dengan menggunakan mikroskop untuk memeriksa jaringan dari tumor (disebut pemeriksaan histologis). Membandingkan jaringan tumor dengan jaringan normal, dan grade menggambarkan seberapa dekat sel-sel kanker menyerupai jaringan normal di bawah mikroskop. Jaringan normal mengandung berbagai jenis sel dikelompokkan bersama-sama, yang disebut differensiasi sel. Jaringan dari tumor biasanya memiliki sel-sel yang terlihat lebih mirip satu sama lain (disebut diferensiasi buruk). Umumnya, semakin terdiferensiasi jaringan, semakin baik prognosisnya. Grade tumor dijelaskan menggunakan huruf "G" dan nomor. GX G1 G2 G3 dan G4 : kelas tidak dapat dievaluasi. : Sel-sel terlihat lebih seperti jaringan normal (baik dibedakan). : Sel-sel yang hanya cukup dibedakan. : Sel-sel tidak menyerupai jaringan normal (diferensiasi buruk).

24

Berulang

: kanker berulang adalah kanker yang datang kembali setelah perawatan.Jika ada kekambuhan, kanker mungkin perlu diklasifikasikan menggunakan sistem tersebut.

3.9. Penatalaksanaan3,4, Pilihan pengobatan utama untuk orang dengan kanker oropharyngeal adalah:
-

Bedah Radiasi Kemoterapi Target Terapi Rencana tindakan ini dapat digunakan sendiri atau kombinasi, tergantung pada stadium

dan lokasi tumor. Secara umum, operasi adalah pengobatan pertama untuk kanker rongga mulut dan oropharing , dan mungkin diikuti oleh radiasi atau kemoterapi dan radiasi gabungan. Kanker orofaringeal biasanya kombinasi kemoterapi dan radiasi. 3.9.1 Pembedahan Beberapa jenis operasi dapat digunakan untuk mengobati kanker rongga mulut dan orofaringeal. Tergantung di mana kanker tersebut dan stadium, operasi yang berbeda dapat digunakan untuk mengangkat kanker. Setelah pembedahan untuk mengangkat kanker, bedah rekonstruksi dapat digunakan untuk membantu memulihkan penampilan dan fungsi dari daerah yang terkena kanker.4 Prosedur bedah yang paling umum untuk kanker mulut dan oropharyngeal meliputi:
a. Tumor primer operasi.

Tumor dan daerah sekitarnya jaringan yang diangkat untuk mengurangi kemungkinan bahwa kanker masih ada yang tertinggal. b. Glossectomy Adalah pengangkatan sebagian atau seluruh lidah. c. Mandibulectomy Jika tumor telah mengenai tulang rahang, tetapi tidak menyebar ke dalam tulang, maka sebagian atau seluruh tulang rawan diangkat. Jika pada pemeriksaan rahang pada sinar-x ditemukan pada tulang, maka seluruh tulang rahang diangkat. d. Maxillectomy

25

Sebuah operasi yang mengangkat sebagian atau seluruh dari palatum durum, yang merupakan tulang atap mulut. Prostheses (perangkat buatan), atau lebih baru, penggunaan flap jaringan lunak dengan dan tanpa tulang dapat dipasang untuk menggantikan. e. Diseksi leher Kanker rongga mulut dan orofaring sering menyebar ke kelenjar limf di leher, dan mungkin diperlukan untuk mengangkat beberapa atau semua kelenjar limf dalam prosedur bedah.
f. Laryngectomi

Adalah pengangkatan sebgaian atau sleuruhnya dari laring dan pita suara namun tindakan ini jarang diperlukan untuk pengobatan kanker mulut atau orofaringeal. Laring sangat penting untuk menelan karena melindungi jalan napas dari makanan dan cairan masuk trakea atau batang tenggorokan dan mencapai paru-paru, yang dapat menyebabkan pneumonia. Dapat dilakukan pada tumor besar lidah atau orofaring. g. Trakeostomi Jika kanker menghalangi tenggorokan atau terlalu besar sehingga mengahalangi jalan nafas diperlukan tindakan yang disebut trakeostomi dibuat di leher. Trakeostomi dapat bersifat sementara atau permanen. Efek samping pembedahan4 Semua operasi membawa risiko, termasuk pembekuan darah, infeksi, komplikasi dari anestesi, dan pneumonia. Risiko ini umumnya rendah tetapi lebih tinggi pada operasi yang rumit. Jika operasi tidak terlalu rumit, efek samping mungkin hanya rasa sakit sesudahnya, yang dapat diobati dengan obat-obatan jika diperlukan. Pembedahan untuk kanker yang besar atau sulit dijangkau mungkin sangat rumit, efek samping dapat berupa infeksi, gangguan luka, masalah dengan makan dan berbicara, atau kematian sangat jarang terjadi selama atau segera setelah prosedur. Operasi juga dapat berbekas terutama operasi tulang wajah atau rahang. 3.9.2. Terapi radiasi Terapi radiasi menggunakan energi tinggi sinar-x atau partikel untuk menghancurkan sel-sel kanker atau lambat tingkat pertumbuhan. Terapi radiasi dapat digunakan dalam beberapa situasi untuk oral dan kanker orofaringeal:3

Dapat digunakan sebagai pengobatan utama untuk kanker kecil.

26

Pasien dengan kanker lebih besar mungkin perlu kedua operasi dan terapi radiasi atau Kombinasi terapi radiasi dan kemoterapi. Setelah operasi, terapi radiasi dapat digunakan, baik sendiri atau dengan kemoterapi, sebagai tambahan (adjuvant) pengobatan untuk mencoba membunuh setiap deposit kecil kanker yang tidak mungkin telah diangkat selama operasi. Ini dikenal sebagai terapi radiasi adjuvan.

Radiasi dapat digunakan (bersama dengan kemoterapi) untuk mencoba untuk mengecilkan beberapa yang lebih besar kanker sebelum operasi. Hal ini disebut terapi neoadjuvant. Dalam beberapa kasusu terapi radiasi digunakan pada operasi yang tidak radikal dan diharapkan untuk membunuh jaringan yang tidak dioperasi.

Terapi radiasi juga dapat digunakan untuk meredakan gejala kanker seperti nyeri, perdarahan, kesulitan menelan, dan masalah yang disebabkan oleh metastase tulang.

Ada beberapa terapi radiasi3


a. Terapi radiasi sinar eksternal

Cara yang paling umum untuk memberikan radiasi kanker adalah fokus sinar radiasi dari luar mesin ke tubuh. Ini dikenal sebagai radiasi sinar eksternal terapi. Untuk mengurangi risiko efek samping harus hati-hati mengetahui dosis tepat yang dibutuhkan dan mencapai target dengan hati-hati dan seakurat mungkin. Sebelum memulai tindakan perawatan, dilakukan pengukuran berhati-hati untuk menentukan sudut yang tepat untuk menyinari target orgat radiasi dan dosis radiasi yang tepat. Terapi radiasi adalah seperti mendapatkan sinar-x, tetapi radiasi yang kuat. Prosedur terapi tersebut tidak menyakitkan. Setiap kali tindakan hanya berlangsung beberapa menit. Perawatan biasanya diberikan 5 hari seminggu selama 6 sampai 7 minggu. Jadwal lain untuk dosis radiasi telah dipelajari dalam uji klinis.
27

Hyperfractionation mengacu memberikan dosis total radiasi dalam jumlah yang besar besar (misalnya, 2 dosis per hari yang lebih kecil daripada 1dosis per hari yang lebih besar). Fraksinasi dipercepat berarti bahwa perlakuan radiasi selesai lebih cepat (misalnya, 6 minggu bukan 7 minggu). Jadwal fraksinasi dipercepat dapat mengurangi resiko kanker datang kembali di organ primer atau dekat organ tersebut dan dapat menigkatkan kualitas hidup. Kekurangannya adalah bahwa perawatan yang diberikan memiliki efek samping yang lebih berat.
b. Terapi radiasi konformal tiga dimensi (3D-CRT).

Menggunakan hasil tes imaging seperti MRI dan program komputer khusus untuk secara tepat mengetahui lokasi kanker. Radiasi sinar tersebut kemudian dibentuk dan ditujukan pada tumor dari beberapa arah, yang membuatnya kurang merusak jaringan normal. Secara teori, dengan memberikan radiasi yang lebih akurat, sehingga dapat mengurangi kerusakan radiasi pada jaringan normal dibeberapa daerah (seperti saraf, pembuluh darah, dan organ lainnya) dan mungkin dapat mengobati kanker dengan lebih meningkatkan dosis radiasi untuk tumor itu sendiri. Studi jangka panjang hasilnya masih diperlukan untuk mengkonfirmasi ini.
c. Terapi intensitas radiasi termodulasi (IMRT)

Adalah bentuk lanjutan dari terapi 3D-CRT. Terapi ini menggunakan mesin komputer-driven yang benar-benar bergerak di sekitar pasien seperti memberikan radiasi. Bertujuan mengenai jaringan di tumor dari beberapa sudut, intensitas (kekuatan) dari mesin dapat disesuaikan untuk meminimalkan dosis mencapai jaringan normal yang paling sensitif. Hal ini memungkinkan untuk memberikan dosis yang lebih tinggi ke daerah kanker.
d. Brachytherapy

Cara lain untuk memberikan radiasi adalah dengan menempatkan bahanbahan radioaktif langsung ke dalam atau dekat kanker. Metode ini disebut radiasi internal, radiasi interstisial, atau brachytherapy. Perjalanan radiasi hanya berjarak sangat pendek, yang membatasi dampaknya pada jaringan normal terdekat. Brachytherapy tidak sering digunakan

28

untuk mengobati kanker rongga mulut atau kanker oropharyngeal karena adanya radiasi eksternal, seperti IMRT. Berbagai jenis brachytherapy dapat digunakan. Dalam satu bentuk, kateter berongga (tabung tipis) ditempatkan ke dalam atau sekitar tumor selama pembedahan dan yang ditempat tersisa untuk beberapa hari sementara pasien tetap di rumah sakit. Bahan radioaktif tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung untuk waktu yang singkat setiap hari, mengeluarkan radioaktivitas tingkat rendah untuk beberapa minggu. Efek samping terapi radiasi3 Radiasi dari daerah mulut dan tenggorokan dapat menyebabkan beberapa efek samping jangka pendek termasuk:
-

Kulit seperti terbakar sinar matahari di kepala dan leher yang perlahan menghilang Serak Kehilangan indra pengecap Kemerahan dan nyeri pada mulut dan tenggorokan Kadang-kadang luka terbuka berkembang di mulut dan tenggorokan, sehingga sulit untuk makan dan minum selama pengobatan. Radioterapi juga dapat menyebabkan efek samping jangka panjang atau permanen:

Kerusakan kelenjar ludah Kerusakan permanen pada kelenjar ludah dapat menyebabkan mulut kering. Hal ini dapat menyebabkan masalah makan dan menelan. Kurangnya air liur juga dapat menyebabkan kerusakan gigi (gigi berlubang). Biasanya diperlukan perawatan ke dokter gigi dan menjaga kebersihan mulut. Pengobatan fluoride juga dapat membantu sebelum di radioterapi. Teknik seperti IMRT dapat membantu mengurangi efek samping ini.

Kerusakan pada tulang rahang Yang ang dikenal sebagai osteoradionecrosis rahang, dapat menyebabkan efek samping yang serius akibat pengobatan radiasi. Lebih umum terjadi setelah infeksi gigi, ekstraksi, atau trauma, dan sulit diobati. Gejala utama adalah nyeri pada rahang.

29

Dalam beberapa kasus dapat menyebabkan tulang rahang retak dan jika berat diperlukan terapi pembedahan untuk menagtasinya.
-

Kerusakan pada kelenjar pituitary atau tiroid Jika kelenjar hipofisis atau tiroid terkena radiasi, produksi hormon dapat menurunkan dari waktu ke waktu. Hal ini dapat menyebabkan masalah dengan metabolisme yang mungkin perlu dikoreksi dengan obat. Radiasi Efek samping ini biasanya akan lebih parah pada orang yang mendapatkan kemoterapi pada saat yang sama. Untuk mengurangi efek samping tersebut diperlukan perawatan sebelum di radiasi ataupun kemoterapi.

3.9.3. Kemoterapi Adalah pengobatan dengan menggunakan obat anti kanker yang diberikan ke dalam vena atau secara oral. Obat ini memasuki aliran darah dan dapat mencapai sel kanker dan yang telah menyebar ke organ alin. Dapat digunakan dalam situasi yang berbeda:3

Kemoterapi (biasanya dikombinasikan dengan terapi radiasi) dapat digunakan sebagai pengganti operasi sebagai pengobatan utama untuk beberapa jenis kanker. Kemoterapi (dikombinasikan dengan terapi radiasi) dapat diberikan setelah operasi untuk mencoba membunuh deposit sel kanker yang mungkin masih ada. Ini dikenal sebagai ajuvan kemoterapi.

Kemoterapi dapat digunakan (kadang-kadang dengan radiasi) untuk mencoba untuk mengecilkan beberapa jenis kanker yang lebih besar sebelum operasi. Ini disebut neoadjuvant atau kemoterapi induksi. Dalam beberapa kasus ini memungkinkan untuk menggunakan operasi kurang radikal dan menghapus jaringan yang masih tersisa. Hal ini dapat menyebabkan efek samping yang lebih sedikit serius dari operasi.

Kemoterapi (dengan atau tanpa radiasi) dapat digunakan untuk mengobati kanker yang terlalu besar atau telah menyebar terlalu jauh untuk dihapus dengan operasi. Tujuannya adalah untuk memperlambat pertumbuhan kanker selama mungkin dan untuk membantu meringankan gejala kanker. Obat kemo yang paling sering digunakan untuk kanker rongga mulut dan orofaring adalah:10
30

Cisplatin 5-fluorouracil (5-FU) Carboplatin Paclitaxel Docetaxel Methotrexate Ifosfamid Bleomycin

Sebuah obat kemoterapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan obat lain. Seringkali menggabungkan obat dapat membantu mengecilkan tumor yang lebih baik, tapi akan menyebabkan efek samping yang lebih banyak. Yang paling umum digunakan kombinasi cisplatin dan 5-FU. Kombinasi ini lebih efektif daripada hanya menggunakan satu macam obat pada kanker rongga mulut dan orofaring. Hasil yang lebih baik dengan menambahkan docetaxel. Kemoterapi diberikan dengan beberapa siklus dengan masing-masing periode isitirahat untuk memungkinkan tubuhpulih kembali. Setiap siklus kemoterapi biasanya berlangsung selama beberapa minggu. Kemoterapi sering diberikan bersamaan dengan radiasi (dikenal sebagai kemoradiasi).10 Cisplatin biasanya merupakan obat kemoterapi disukai ketika diberikan bersama dengan radiasi. Beberapa kasus memilih untuk memberikan radiasi dan kemoterapi sebelum operasi. Namun, efek samping dapat parah. Pada operasi yang tidak radikal diberikan kemoterapi bersamaan dengan radiasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik daripada radiasi saja. Tapi pendekatan gabungan sulit bagi orang yang berada dalam kesehatan yang buruk untuk mentoleransinya.10 Efek samping kemoterapi Kemoterapi adalah obat yang menyerang sel-sel yang membelah dengan cepat. Tetapi, sel lain didalam tubuh, seperti yang di sumsum tulang, lapisan mulut dan usus, dan folikel rambut juga terpengaruh. Hal ini dapat menyebabkan efek samping. Efek samping dari kemoterapi tergantung pada jenis, dosis, dan berapa lama obat diberikan. 10 Efek samping dapat termasuk:
-

Rambut rontok Mulut luka


31

Kehilangan nafsu makan Mual dan muntah Diare Peningkatan infeksi (karena jumlah rendah sel darah putih berkurang) Mudah memar atau pendarahan (karena jumlah platelet darah rendah) Kelelahan (karena rendahnya jumlah sel darah merah.

Seiring dengan risiko di atas, beberapa efek samping yang terlihat lebih sering dengan kemoterapi obat-obatan tertentu. Sebagai contoh, 5-FU sering menyebabkan diare. Cisplatin dapat menyebabkan kerusakan saraf(disebut neuropati), menyebabkan gangguan pendengaran serta mati rasa dan kesemutan di tangan dan kaki. Hal ini sering kembali normal setelah pengobatan dihentikan, tetapi dapat bertahan lama bahkan permanen. Meskipun efek samping yang paling meningkatkan setelah pengobatan dihentikan, beberapa dapat bertahan lama atau bahkan permanen. 3,10 Ada cara untuk mencegah atau mengobati efek samping dari kemoterapi, misalnya, obat untuk mencegah atau mengobati mual dan muntah.10 3.9.4. Targeted terapi Penelitian terbaru mengenai perubahan didalam sel yang menyebabkan kanker, mengembangkan obat baru yang secara khusus menargetkan perubahan ini. Target obat kerja yang berbeda dari obat kemoterapi standar dan efek samping yang rendah. Cetuximab adalah antibodi monoklonal (buatan manusia versi kekebalan sistem protein) yang menargetkan reseptor faktor pertumbuhan epidermal (EGFR), sebuah protein pada permukaan sel-sel tertentu yang menyebabkan sel tumbuh dan membelah. Sel-sel kanker rongga mulut dan orofaringeal sering memiliki jumlah EGFR lebih dari normal. Dengan memblokir EGFR, cetuximab dapat memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel. Cetuximab dapat dikombinasikan dengan terapi radiasi untuk beberapa jenis kanker tahap awal3 Untuk kanker yang lebih parah, mungkin dikombinasikan dengan obat kemoterapi standar seperti cisplatin, atau dapat digunakan tunggal. Cetuximab diberikan dengan infus ke dalam vena (IV), biasanya sekali seminggu.3 Efek samping jarang namun serius dari cetuximab adalah reaksi alergi selama infus pertama, yang dapat menyebabkan masalah dengan pernapasan dan tekanan darah rendah, dapat
32

dicegah dengan pemberian obat sebelumnya. Ada juga masalah kulit seperti jerawat, ruam pada wajah dan dada selama pengobatan, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi. Efek samping lain mungkin termasuk sakit kepala, kelelahan, demam, dan diare.3 3.9.5. Terapi berdasarkan stadium Jenis pengobatan tergantung pada lokasi tumor dan seberapa jauh kanker telah menyebar:3 Stadium 0 (karsinoma in situ) Meskipun kanker pada tahap ini belum menjadi invasif (mulai tumbuh menjadi lapisan yang lebih dalam jaringan), namun dapat menjadi invasive jika tidak diobati. Pengobatan umum adalah untuk menghapus lapisan atas jaringan bersama dengan margin yang kecil dari jaringan normal. Ini dikenal sebagai bedah pengupasan atau reseksi. Karsinoma in situ yang terus datang kembali setelah reseksi mungkin memerlukan terapi radiasi.3 Stadium I dan II Kebanyakan pasien dengan stadium I atau II rongga mulut dan kanker oropharyngeal dapat berhasil diobati dengan pembedahan atau terapi radiasi. Kedua pendekatan bekerja sama dengan baik untuk mengobati kanker. Pilihan pengobatan dipengaruhi oleh efek samping yang diharapkan.3 Bibir: Kanker bibir umumnya diobati dengan operasi, termasuk operasi. Operasi yang luas dan kombinasi terapi radiasi dapat digunakan jika tumor ternyata lebih besar. Jika diperlukan, khusus bedah rekonstruksi dapat membantu memperbaiki cacat pada bibir. Radiasi sendiri juga dapat digunakan sebagai pengobatan pertama. Hal ini biasanya sinar eksternal radiasi, kadang-kadang bersama dengan brachytherapy. Pembedahan mungkin digunakan jika radiasi tidak sepenuhnya menghentikan sel tumor. Jika tumor besar, kelenjar limfe di leher dapat ikut diangkat. 3 Dasar mulut: Lebih sering dilakukan operasi karena radiasi dapat menyebabkan kerusakan tulang. Jika kanker tidak muncul setelah operasi, radiasi dapat ditambahkan. Kanker ini mudah menyebar ke kelenjar getah bening leher. Bedah (leher ) diseksi mungkin disarankan untuk mengehentikan sel ini. Biasanya, kelenjar limf dari sisi leher terdekat tumor ikut diangkat bersama sel tumor. Tetapi jika tumor luas, maka kelenjar limfe pada kedua sisi leher perlu diangkat.3
33

Lidah: Operasi lebih disukai untuk tumor kecil dan radiasi untuk yang lebih besar, terutama jika pengangkatan tumor dapat mengganggu pembicaraan atau menelan. Jika operasi tidak bisa mengangkat semua kanker, radiasi dapat ditambahkan. Untuk tumor yang lebih besar, penghapusan leher kelenjar limfe kemungkinan akan direkomendasikan.3 Mukosa bukal (pipi): Kanker ini biasanya dirawat dengan operasi. Radiasi dapat menjadi pilihan lain. Jika operasi yang digunakan, radiasi dapat ditambahkan. Jika tumor besar, kelenjar limfe leher diangkat juga.3 Gusi bawah: Kanker di gusi bawah biasanya dirawat dengan operasi, yang mungkin termasuk mengangkat bagian dari (tulang rahang) mandibula. Radiasi bisa ditambahkan jika semua sel kanker tidak dapat diangkat. Radiasi dapat digunakan sebagai pengobatan utama, tapi itu membawa risiko kerusakan pada tulang rahang. Pembedahan untuk mengangkat kelenjar limfe leher sering disarankan. 3 Gusi atas dan pallatum durum: Kanker di gusi bagian atas dan langit-langit (bagian depan atap mulut) juga biasanya dilakukan operasi. Radiasi dapat ditambahkan jika diperlukan. Kelenjar limf dileher juga dapat diangkat.3 Pangkal lidah: Radiasi umumnya disukai karena operasi akan menyebabkan masalah dengan berbicara dan menelan, meskipun operasi digunakan dalam beberapa kasus. Para kelenjar limfe di leher umumnya perlu diperlakukan juga.3 Pallatum molle: Dengan operai dapat mengganggu bicara dan menelan, sehingga radiasi merupakan pilhan. Radiasi juga dapat diberikan disekitar kepala dan leher. Jika operasi digunakan sebagai perawatan pertama, maka kelenjar limfe disekitar leher juga diangkat.3 Tonsil: Operasi dan radiasi (mungkin dikombinasikan dengan kemoterapi) dalam mengobati kanker tonsil. Jika kanker perlu diobati dengan operasi, biasanya memberikan pengobatan radias

34

terlebih dahulu. Operasi masih merupakan pilihan jika radiasi tidak membuang semua kanker. Kelenjar limfe dileher dapat diperlakukan dengan cara yang sama - pembedahan atau radiasi.3 Stadium III dan IV Kanker rongga mulut dan oropharyngeal umumnya memerlukan kombinasi pembedahan dan radiasi, radiasi dan kemoterapi (atau cetuximab), atau kombinasi dari ketiganya.Pilihan pengobatan dipengaruhi lokasi kanker, berapa banyak telah menyebar, efek samping, dan kondisi kesehatan pasien saat ini.3 Pembedahan biasanya mencakup diseksi leher karena risiko tinggi kanker menyebar ke kelenjar limfe. Terapi penyinaran seringkali diperlukan setelah operasi, terutama jika tumor telah menyebar ke kelenjar limfe. Kadang-kadang kemoterapi diberikan juga, terutama jika kanker telah mengkhawatirkan. Jumlah jaringan yang dibuang selama pembedahan tergantung pada tingkat kanker, dan metode rekonstruksi tergantung luka saat pembedahan. Tumor primer yang terlalu besar harus diangkat dengan operasi sering dikombinasikan dengan radiasi, baik sendiri atau dengan kemoterapi (atau cetuximab).3 Pemberian kemoterapi sebagai pengobatan pertama sebelum operasi dapat mengecilkan tumor sehingga operasi dapat dilakukan. dilakukan. Kanker yang telah menyebar ke bagian lain dari tubuh biasanya diobati dengan kemoterapi, sering bersama dengan cetuximab. Pengobatan lain seperti radiasi juga dapat digunakan untuk membantu meringankan gejala dari kanker.3 Kanker rongga mulut dan orofaringeal berulang Kanker timbul kembali setelah pengobatan, hal itu disebut kanker berulang. Rekurensi dapat lokal (di atau dekat tempat yang sama itu dimulai) atau jauh (menyebar ke tulang atau organ seperti paru-paru). Pilihan pengobatan untuk kanker berulang tergantung pada lokasi dan ukuran kanker, perawatan apa yang telah digunakan, dan kondisi kesehatan. Jika kanker datang kembali di daerah yang sama dan terapi radiasi digunakan sebagai yang pertama pengobatan, maka operasi sebagai pilihan pengobatan berikutnya.3 Biasanya, terapi radiasi sinar eksternal tidak dapat diulang dalam waktu yang sama kecuali dalam kasus tertentu. Namun, brachytherapy sering dapat digunakan untuk mengendalikan kanker jika telah kembali di tempat yang sama. Jika operasi digunakan pertama, terapi radiasi, kemoterapi, atau kombinasi dapat dipertimbangkan.3

35

Jika kanker datang kembali di daerah yang jauh, kemoterapi (dan / atau cetuximab) pilihan untuk pengobatan berikutnya. Hal ini dapat mengecilkan atau memperlambat pertumbuhan beberapa jenis kanker untuk sementara dan membantu meringankan gejala, tetapi kanker ini sangat sulit untuk menyembuhkan.3

3.10. Prognosis Tingkat ketahanan hidup untuk kanker mulut dan oropharyngeal sangat bervariasi tergantung pada lokasi tumor primer, faktor risiko, dan tingkat penyakit. 61 % setelah didiagnosa kanker ringga mulut dan oropharing kelangsungan hidup secara keseluruhan adalah lima tahun (persentase orang yang bertahan hidup setidaknya lima tahun setelah kanker terdeteksi, termasuk mereka yang meninggal akibat penyakit lain) dan 61 % setelah didiagnosa kanker rongga mulut dan oropharing dapat bertahan hiudo 10 tahun.3

36

BAB IV KESIMPULAN Keganasan dibidang kepala dan leher secara keseluruhan meningkat, dua jenis kanker yang paling umum dibidang kepala dan leher adalah kanker rongga mulut (mulut dan lidah) dan kanker orofaring (bagian tengah tenggorokan, tonsil). Banyak faktor yang meningkatkan angka insiden keganasan ini. Yang peting diperhatikan adalah meningkatnya insiden merokok baik pada laki-laki maupun wanita, sehingga meningkatkan insiden kanker rongga mulut dan oropharingeal. Untuk mendiagnosa diperlukan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang secara lengkap sehingga dapat dideteksi ini jenis, stadium dan dapat ditentukan rencana penatalaksaan terhadap keganasan tersebut.

37

DAFTAR PUSTAKA 1. Highler A B, Boies Buku Ajar Penyakit THT. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997. Edisi 6. Hal 264-71, 322, 429-52. 2. Soepardi E A, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti R D. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2007. Edisi 6. Hal 4-6, 191-3. 3. American Society of Clinical Oncology (ASCO), Oral and Oropharyngeal Cancer. diunduh http://www.cancer.net/patient/Cancer+Types/Oral+and+Oropharyngeal+Cancer. December 07, 2011. 4. American Cancer Society, Oral Cavity and Oropharingeal Cancer. Diunduh dari : http://www.cancer.org/Cancer/OralCavityandOropharyngealCancer/index. Desember 07, 2011. 5. Carol M, Stewart. Journal Watch :Oral Cancer and Human Papillomavirus (HPV). Diunduh dari : http://www.faetc.org/PDF/Newsletter/Newsletter-Volume102009/HIVCareLink-Vol10-Issue-3-February-17.pdf. December 08, 2011. 6. Rizzolo D, Hanifin C, Thomas A. Chiodo. Oral cancer: How to find this hidden killer in 2 minutes. Dikutip dari : http://www.jaapa.com/oral-cancer-how-to-find-this-hidden-killerin-2-minutes/article/130902/. December 08, 2011. 7. Hasibuan S. Prosedur Deteksi Dini Dan Diagnosis Kanker Rongga Mulut. Diunduh dari : dari

38

http://pdf.kq5.org/PROSEDUR-DETEKSI-DINI-DAN-DIAGNOSIS-KANKERRONGA-MULUT.html. December 08,2011. 8. Robert I. Haddad, M.D., and Dong M. Shin, M.D. Recent Advances in Head and Neck Cancer. Diunduh dari : http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMra0707975 December 09,2011. 9. Kian A , Harris J, Wheeler R, Weber R, David I, Rosenthal. At all. http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMoa0912217 December 09,2011. 10. Stewart JS,Preiss JH, Weyngaert V D, Bottomley A, Vermorken JK, at all. Head and Neck GroupShort-term health-related quality of life and symptom control with docetaxel, cisplatin, 5-fluorouracil and cisplatin (TPF). Diunduh dari : http://www.nature.com/bjc/journal/v103/n8/full/6605860a.html December 09,2011. Human Papillomavirus and Survival of Patients with Oropharyngeal Cancer. Diunduh dari :

39