“MANGALEAN MANGAN”
Pendahuluan
Beragaman aktivitas budaya dan ritual-ritual adat-istiadat berkembang di wilayah
Nusantara. Dengan keberagaman tersebut, mencirikhaskan suatu karya dan tradisi bangsa
yang patut dihargai dan dipertahankan sebagai unsur-unsur budaya yang baik. Fenomena-
fenomena budaya dan sosial kemasyarakatan yang terjadi memiliki makna dan maksud yang
sangat mendalam baik itu dalam unsur filosofis, teologis-tradisional (pemahaman tentang
Tuhan dalam konteks budaya setempat), sosiologis-antropologis (pemahaman manusia
sebagai dirinya juga dalam korelasinya dengan lingkungan sekitarnya).
Budaya Batak adalah salah satu kebudayaan Nusantara yang sangat kaya akan
berbagai nilai-nilai dan ritual kebudayaannya sehingga menampilkan suatu struktur
kebudayaan yang sangat rapi dan memiliki makna yang sangat mendalam. Salah satu
fenomena yang tertangkap layar dari kebudayaan Batak adalah sebuah ritual adat yang
dikhususkan untuk pemberian makanan atau sesajian kepada leluhur atau orang-orang yang
sudah meninggal. Ritual ini tidaklah semata-mata ritual belaka tanpa makna. Setiap aktivitas
dan kegiatan budaya yang dilakukan selalu menampilkan sisi yang sangat mendalam yang
bisa dijadikan sebagai pandangan hidup dalam masyarakat.
Isi
“Mangalean mangan” adalah istilah yang tepat untuk diartikan sebagai persembahan
seajian kepada leluhur yang telah meninggal dalam budaya Batak. Memberikan
sesajian kehidupan orang Batak adalah satu hal penting untuk dilakukan. Bukan
sekedar sebuah aktivitas budaya belaka tetapi selalu menampilkan nilai budaya yang
lebih tinggi dalam kehidupan manusia.
Istilah-istilah yang sama dalam kebudayaan lain
Dalam budaya Dayak pada umumnya kegiatan yang sama ini diistilahkan dengan
nama “Tolak-bala”. Tidak persis berbeda dari cara budaya Batak, karena sama-sama
menjelaskan sebuah pemaknaan terdalam dari sebuah aktivitas budaya yang
berkembang dalam masyarakat.
Dalam budaya Manggarai Flores, istilah ini sering disebut “Teing hang”. Acara ini
adalah sebuah ritual pemberian sesajian kepada nenek moyang atau leluhur yang
sudah meninggal.
Pada umumnya acara “mangalean mangan” atau “Tolak-bala” atau “teing hang”
dilakukan ketika sebuah keluarga balik ke kampung asalnya setelah hidup cukup lama
di daerah luar. Waktu yang lain juga sering terjadi pada tahun baru juga sebuah
ungkapan syukur atas tercapainya sesuatu dalam keluarga, syukur sekolah, kerja, dan
sebagainya.
Hal ini dilakukan demi sebuah nilai yang luhur yang mau diungkapkan dan dihayati.
Sebagaimana di awal tadi saya menjelaskan bahwa bukan sekedar ritus belaka. Maka,
ritual ini bertujuan sebagai ungkapan syukur atas sebuah hasil yang didapatkan atau
sesuatu yang baik yang telah terjadi dalam keluarga tersebut. Karena diyakini mereka
juga berperan penting di dalamnya. Tujuan lain juga bahwa karena diyakini leluhur
itu memiliki pengaruh maka dengan sesajian itu beriringan juga permohonan demi
suatu hal yang mau dicapai.
Unsur filosofis dari ritual “mangalean mangan”
Unsur filosofis selalu mengarah kepada nilai-nilai kebijaksanaan dari sesuatu yang
terjadi yang kemudian dijalani sebagi prinsip hidup yang baik sehingga hal demikian
harus tetap dijaga dan dilestari. Mangalean mangan dalam arti filosofis menurut kami
adalah sebagai suatu cara untuk meminta arahan dan petunjuk dari mereka (leluhur
yang sudah meninggal). Meminta petunjuk dan arahan didasarkan pada sebuah
keyakinan rasional bahwa ada sebuah Unsur Tertinggi dari kenyataan dunia ini yang
mengatur dan memimpin dan menjadikannya. Diyakini juga bahwa leluhur yang telah
meninggal mendapat kesempatan untuk bersama dengan Ada Yang Tertinggi itu.
Karena merasa dekat dengan unsur tertinggi itu, perantaraan para leluhur lebih
diyakini memiliki nilai dan pengaruh yang cukup besar.
Unsur teologis-antropologis
Hal ini bermaksud sebagai sebuah doa yang dipanjatkan pada Yang Mahakuasa yang
memberikan kehidupan dan bagian yang penting di dunia ini.
Unsur sosiologis antropologis
Penutup