Anda di halaman 1dari 108

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH


2.1. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan Rencana yang disusun sebagai penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah. Visi Kabupaten Bandung 2005-2010 adalah Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja melalui Akselerasi Pembangunan Partisipatif yang Berbasis Religius, Kultural dan

Berwawasan Lingkungan dengan Berorientasi pada Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa, dirumuskan kedalam 8 (delapan) misi sebagai pedoman pelaksanaan bagi pemerintah daerah sebagai berikut : 1) Mewujudkan pemerintahan yang baik; 2) Memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman, tertib, tenteram dan dinamis; 3) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia; 4) Meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat; 5) Memantapkan kesalehan sosial berlandaskan iman dan taqwa; 6) Menggali dan menumbuhkembangkan budaya Sunda; 7) Memelihara keseimbangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan; 8) Meningkatkan kinerja pembangunan desa. Berkaitan dengan pencapaian Visi dan Misi di atas, terdapat beberapa pertimbangan untuk menentukan kriteria dalam memilih program-program pada RKPD 2009 dengan berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bandung 2006-2010. Pertimbangan tersebut antara lain : Perubahan Lokasi program dan kegiatan. Program dan kegiatan yang berlokasi di Bandung Barat dipisahkan dan tidak lagi termasuk dalam rencana sebagai akibat dari pemekaran Kabupaten Bandung. Perubahan tersebut memberikan ekses pada perubahan evaluasi, rencana serta pengalokasian pada mekanisme penyusunan RKPD 2009 sesuai

dengan revisi RPJMD 2006-2010 dalam hal ini bertumpu pada sisa rentang RPJMD yaitu 2009-2010. Prioritas penerima manfaat program dan kegiatan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 1

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Sebagai konsekuensi perubahan serta tuntutan isu strategis yang ada adalah kebijakan penempatan Program dan kegiatan yang kurang bermanfaat langsung bagi masyarakat prioritasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. Pelaksanaan program/kegiatan harus berorientasi pada pemecahan isue kebijakan prioritas yang tercantum pada RPJMD

2.2. Evaluasi status dan kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan Daerah Keberhasilan pelaksanaan pembangunan bergantung kepada perencanaan, terutama dalam memperhitungkan hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan sebelumnya. Berdasarkan hasil evaluasi, pada rentang waktu tertentu dapat dilakukan pengkajian serta analisis kecenderungan yang dapat mengindikasikan permasalahan yang mempengaruhinya sekaligus prediksi serta intervensi yang harus dilakukan melalui kebijakan. Evaluasi terhadap pencapaian pembangunan dapat dilihat melalui status dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan berdasarkan indikatorindikator makro pembangunan daerah dan penyelenggaraan urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan antara lain untuk : Mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai terhadap target kinerja yang diharapkan menurut RPJMD, target pembangunan nasional (RPJM Nasional) maupun sektoral (Renstra K/L) Mengetahui kendala dan tingkat pemanfaatan potensi yang ada Menentukan langkah-langkah atau kebijakan yang diperlukan

Sebagaimana yang tercantum dalam RPJMD. Berikut akan diuraikan pencapaian IPM beserta komponen-komponennya (pendidikan, kesehatan, dll). Pencapaian tersebut akan dibandingkan dengan target yang ingin dicapai oleh Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat.

2.2.1 Kependudukan Salah satu indikator makro yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja pelasksanaan pembangunan adalah dengan menggunakan indikator jumlah penduduk sebagai dasar penentuan indikator lainnya terkait pemenuhan kesejahteraan penduduk. Jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2007 mencapai lk. 3.038.082 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) sebesar 3,2% (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil). Dengan LPP tersebut,
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 2

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

percepatan penambahan penduduk Kabupaten Bandung termasuk tinggi dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang berkisar di angka 2%. Gambaran pertumbuhan penduduk Kabupaten Bandung dapat dilihat pada Gambar 2.1. Dari diagram tersebut dapat dilihat bahwa sebelum pemekaran Kabupaten Bandung Barat (KBB), jumlah penduduk setiap tahunnya bertambah sekitar 100.000, dan hal ini tidak berubah setelah KBB memisahkan diri. Artinya bahwa pertambahan jumlah penduduk yang tinggi ada di kabupaten induk

Gambar 2.1 Diagram Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Bandung Tahun 2003 2007

5 4 3 2 1 0
2003 (45 kec) 2053 1964 4017 2004 (45 kec) 2087 2058 4145 2005 (45 kec) 2165 2109 4274 2006 (45 kec) 2224 2175 4399 2006 (30 kec) 1482 1462 2944 2007 (30 kec) 1533 1505 3038

Laki-Laki Perempuan Jumlah (ribu)

Catatan : Jumlah 45 kecamatan sebelum pemekaran wilayah Kabupaten, jumlah 30 Kecamatan setelah pemkaran wilayah Kabupaten.

Meskipun demikian, pemekaran tersebut menyebabkan meningkatnya angka IPM Kabupaten Bandung, artinya banyak penduduk miskin dan berpendidikan rendah berdomisili di KBB. Berikut gambaran LPP Kabupaten Bandung dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat:

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 3

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Gambar 2.2 Diagram Perbandingan Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Bandung dengan Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 2006
3,50% 3,00%

3,19% 2,64%

3,10%

3,20% 2,97%

2,50%

2,10%
2,00% 1,50% 1,00% 0,50% 0,00% 2003-2004 2004-2005

1,94%

0,00%
2005-2006 2005-2006 (30 kec)

LPP Kab. Bandung

LPP Prov Jawa Barat

Pertumbuhan penduduk yang tinggi tersebut cukup beralasan mengingat posisi geografis Kabupaten Bandung sebagai salah satu daerah penyangga Ibukota Provinsi. Banyak tenaga kerja di Kota Bandung yang memilih bertempat tinggal di Wilayah Kabupaten Bandung mengingat semakin mahalnya harga lahan atau perumahan di Kota Bandung. Hal ini terjadi terutama di wilayahwilayah yang berbatasan dengan Kota Bandung seperti Kecamatan Cileunyi, Kecamatan Margahayu, Kecamatan Bojongsoang, dan Kecamatan Baleendah serta Kecamatan Cimenyan dan Kecamatan Cilengkrang. Kondisi geografis tersebut sebetulnya bisa menjadi potensi yang menguntungkan bagi Kabupaten Bandung, khususnya perekonomian untuk sektor industri dan perdagangan serta jasa. Namun hal tersebut harus ditunjang oleh SDM yang memadai, sehingga peluang kerja tidak direbut oleh penduduk dari luar Kabupaten Bandung. Dengan posisi strategis serta kekayaan alam yang cukup beragam, Kabupaten Bandung berpotensi besar menjadi kabupaten termaju, berpulang pada bagaimana potensi dan peluang tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal. Permasalahan terbesar terletak pada kesiapan sumber daya manusia yang dimiliki Kabupaten Bandung dalam menjawab tantangan tersebut. Bila pertumbuhaan serta perkembangan kualitasnya lambat atau cenderung di bawah kabupaten lain, pada akhirnya penduduk Kabupaten Bandung akan menjadi penonton roda pembangunan yang digerakkan oleh para pendatang.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 4

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Jawaban dari permasalahan tersebut adalah strategi pembangunan yang berorientasi pada penyiapan kualitas SDM untuk menjawab tantangan kebutuhan lapangan kerja, sehingga kualitas kesejahteraan masyarakat bisa meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Peningkatan kualitas SDM tersebut perlu memperhatikan pemerataan, terutama daerah-daerah yang tertinggal/terpencil, sehingga daerah-daerah tersebut tidak tertinggal terlalu jauh dibandingkan dengan daerah perkotaan. Fokus pembangunan yang masih berpusat pada daerah-daerah yang cepat pertumbuhan ekonominya,

mengakibatkan daerah-daerah yang relatif tertinggal menjadi kurang mendapat perhatian dan menjadi prioritas. Karena ada pemikiran, hasil pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada daerah tertentu suatu saat diharapkan akan memberi efek tetesan ke bawah pada daerah-daerah periferal tersebut, yang pada akhirnya diharapkan berdampak kuat pada upaya pemberantasan kemiskinan (Denis A. Rondinelli dan Shahir G. Cheema : 1983).

2.2.2 Pencapaian IPM Perkembangan pembangunan SDM di Kabupaten Bandung dapat kita lihat melalui pertumbuhan gambaran nilai IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di bawah ini:

Gambar 2.3 Nilai IPM serta Target Capaian Pertumbuhan IPM Kab. Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 72 71
69.42 70.48 70.96 70.11 69.16 68.29 71.53

70 69 68 67 66
Target IPM Nilai IPM

68.52

2004 68.29 68.52

2005 69.42 69.16

2006 70.48 70.11

2007 71.53 70.96

Sumber : - IPM Kabupaten Bandung 2007 - RPJMD Kabupaten Bandung 2004

Pada Gambar di atas terlihat selama periode 4 (empat) tahun terakhir, pencapaian angka IPM Kabupaten Bandung dari tahun ke tahun terlihat relatif
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 5

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

cukup baik. Capaian angka IPM Kabupaten Bandung pada tahun 2004 mencapai 68,52, selanjutnya meningkat menjadi 69,16 pada tahun 2005, menjadi 70,11 pada tahun 2006, dan 70,96 (71,88 setelah pemekaran) pada tahun 2007.
Gambar 2.4 Nilai IPM serta Laju Pertumbuhan IPM Kab. Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 73 72 71 70 69 68 67 66
0.85 0.95 0.64 1.02
68.52 69.16 70.96 70.11

2004 (20032004) 1.02 68.52

2005 (20042005) 0.64 69.16

2006 (20052006) 0.95 70.11

2007 (20062007) 0.85 70.96

Laju Pertum buhan Nilai IPM

Sumber : - IPM Kabupaten Bandung 2007 - RPJMD Kabupaten Bandung 2004

Gambar 2.5 Nilai AMH serta Target Capaian AMH Kab. Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 99.5 99 98.5 98 97.5 97 96.5
Nilai AMH Target AMH 2004 98.2 97.4 2005 98.65 98.20 2006 98.70 98.60 2007 98.71 98.90 97.4 98.2 98.60 98.20 98.65 98.70 98.71 98.90

Sumber : - IPM Kabupaten Bandung 2007 - RPJMD Kabupaten Bandung 2004

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 6

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Gambar 2.6 Nilai RLS serta Target Capaian RLS Kab. Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 8.60 8.40 8.20 8.00 7.80 7.60 7.40 7.20
Nilai RLS Target RLS 2004 8.03 7.68 2005 8.26 7.93 2006 8.39 8.17 2007 8.53 8.40 7.68 7.93 8.03 8.17 8.26 8.39 8.53 8.40

Sumber : - IPM Kabupaten Bandung 2007 - RPJMD Kabupaten Bandung 2004

Dari grafik juga dapat dilihat bahwa target pencapaian dipengaruhi secara positif oleh nilai RLS dan AMH secara signifikan, sebaliknya pengaruh negatif oleh nilai AHH.

Gambar 2.7 Indeks AHH serta Target Capaian AHH Kab. Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007

73 72 71 70 69 68 67 66
Index AHH Target AHH 68.09 68.72 68.58 69.97 69.75 70.93

72.13

70.56

2004 68.09 68.58

2005 68.72 69.75

2006 69.97 70.93

2007 70.56 72.13

Sumber : - IPM Kabupaten Bandung 2007 - RPJMD Kabupaten Bandung 2004

Gambar 2.8 Nilai PPP serta Tahun 2009 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Target Capaian PPP Kab. Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 555 550 545
539.88 545.06

Bab II Hal. 7

550.42 549.17

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Sumber :

IPM Kabupaten Bandung 2007 RPJMD Kabupaten Bandung 2004

Namun hal tersebut belum berarti bahwa kemajuan pembangunan manusia Kabupaten Bandung sudah cukup membanggakan. Jika dibandingkan dengan target yang akan dicapainya menurut Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2004 target capaian IPM seharusnya 69.8, pada tahun 2005 menjadi 71,00, tahun 2006 menjadi 72.2, dan menjadi 73.3 pada tahun 2007. Oleh karena itu, target pencapaian IPM hendaknya memperhitungkan pencapaian IPM tahuntahun sebelumnya.
Gambar 2.9 Nilai IPM Kab. Bandung (45 Kecamatan) serta Target Capaian Pertumbuhan IPM menurut Prov. Jabar Tahun 2004-2007 73.3 74 73 72 71 70 69 68 67 66
Target IPM Nilai IPM 68.52 2004 69.8 68.52 69.16 70.11 69.8 70.96 71 72.2

2005 71 69.16

2006 72.2 70.11

2007 73.3 70.96

Sumber :

IPM Kabupaten Bandung 2007 Proyeksi IPM Kab/Kota Se Jawa Barat 2010

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 8

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Gambar 2.10 Indeks AHH Kab. Bandung (45 Kecamatan) serta Target Capaian Indeks Kesehatan menurut Prov. Jawa Barat Tahun 2004-2007 70.56 71
69.97

70 69 68 67 66
Index AHH Target IK
Sumber :

68.5

68.9 69.7 68.72 69.3

68.09

2004 68.09 68.5

2005 68.72 68.9

2006 69.97 69.3

2007 70.56 69.7

IPM Kabupaten Bandung 2007 Proyeksi IPM Kab/Kota Se Jawa Barat 2010

Gambar 2.11 Indeks Pendidikan Kab. Bandung (45 Kecamatan) serta Target Capaian Indeks Pendidikan menurut Prov. Jawa Barat Tahun 2004-2007 90 88.2 88 86
83.8 85.3 86.8

84 82 80
Indeks Pendidikan Target IP 83.3 84.12

84.44

84.76

2004 83.3 83.8

2005 84.12 85.3

2006 84.44 86.8

2007 84.76 88.2

Sumber :

IPM Kabupaten Bandung 2007 Proyeksi IPM Kab/Kota Se Jawa Barat 2010

Dari grafik juga dapat dilihat bahwa target pencapaian dipengaruhi secara positif oleh nilai AHH yang telah melampaui target capaian AHH Provinsi Jawa Barat, sebaliknya nilai RLS dan AMH masih jauh dibawah target capaian RLS dan AMH Provinsi Jawa Barat.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 9

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Gambar 2.12 Indeks Daya Beli Kab. Bandung (45 Kecamatan) serta Target Capaian Indeks Daya Beli Menurut Prov. Jawa Barat Tahun 2004-2007 70 65 60
57.58 63.3 64.1 64.6 65.2

55
54.15 54.65 2005 54.65 64.1 2006 55.91 64.6

55.91

50
Indeks Daya Beli Target IDB

2004 54.15 63.3

2007 57.58 65.2

Sumber :

IPM Kabupaten Bandung 2007 Proyeksi IPM Kab/Kota Se Jawa Barat 2010

Sebagai gambaran terperinci terkait dengan indikator pencapaian kinerja pembangunan daerah Kabupaten Bandung dapat dilihat pada Tabel. 2.1, Tabel. 2.1 menunjukkan hasil evaluasi status dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan daerah Kabupaten Bandung dari tahun 2006 sampai tahun 2007.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 10

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Tabel 2.1 Evaluasi Status dan Kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan Kabupaten Bandung Tahun 2006 2007

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

Urusan Pendidikan

a. b. c.

AMH RLS APM : a. SD b. SLTP c. SLTA d. PT

98,70% 8,39 91,01 63,27 35,91 5,24

98,71% 8,53 90,96 66,02 34,73 6,62

98,75% 8,58 90,29 66,32 35,72 7,6

IPM Kab. Bandung 2007

d.

APK : a. SD b. SLTP c. SLTA d. PT 125,9 80,25 45,79 7,78 101,99 84,27 46,72 8,88 101,48 86,46 48,63 10,36

e.

Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah - Jumlah SD/sederajat

2.174

1.492

2.136

1.562

KBDA 2007 Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Suseda Tahun 2006 dan 2007

- Jumlah penduduk usia SD (7-12 th) - Rasio SD/sederajat terhadap jumlah penduduk usia SD

457.168 0,1875

310.722 1 : 208

596.247 0,215277778

397.630 0,215277778

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 11

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

- Jumlah SMP/sederajat

311

223

349

f.

- Jumlah penduduk usia SMP/sederajat (13-15 th) - Rasio SMP/sederajat terhadap jumlah penduduk SMP/sederajat Rasio guru terhadap murid - Jumlah guru SD/sederajat

107.088 1 : 344 1:14 16.527

75.400 1 : 338

274.540

188.544

Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Suseda Tahun 2006 dan 2007

1:33 11.161 13.893 Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007)

- Jumlah murid SD/sederajat

457.168

310.722

418.597

- Rasio guru SD/sederajat terhadap murid SD/sederajat

1:28

1 : 28

1:33

- Jumlah guru SMP/sederajat

8.733

6.349

7.745

- Jumlah murid SMP/sederajat

107.088

75.400

147.277

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 12

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

- Rasio guru SMP/sederajat terhadap murid SMP /sederajat

1 : 12

1 : 12

1 : 20

Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) IPM Kab. Bandung 2007 IPM Kab. Bandung 2007

Urusan Kesehatan

a. b. c. d.

AKB AHH Persentase Balita Gizi Buruk Rasio posyandu per satuan balita - Jumlah posyandu - Jumlah Balita Rasio Puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk - Jumlah Puskesmas, Poliklinik, Pustu - Jumlah Penduduk Rasio rumah sakit per satuan penduduk - Jumlah rumah sakit - Jumlah penduduk

40,18 / 1000 66,98 Th 0,89% 0,111111111 5.687 404.888 1 : 18.563 237 4.399.482 1 : 879.896 5 4.399.482 1 : 29.928 147 4.399.482 1 : 11.608 379

39,52 / 1000 67,33 Th 0,86%

39,17 / 1000 67,90 Th 0,80% 3.809

e.

265.891 1 : 18.631 158 2.943.828 1 : 588.765 5 2.943.828 1 : 29.146 101 2.943.828 1 : 11.870 248

Buku KBDA tahun 2007

Buku KBDA tahun 2007 dan olahan Buku KBDA tahun 2007 dan olahan

f.

Buku KBDA tahun 2007 dan olahan

g.

Rasio dokter per satuan penduduk - Jumlah dokter - Jumlah penduduk Rasio tenaga medis per satuan penduduk - Jumlah tenaga medis

Buku KBDA tahun 2007 dan olahan

h.

Buku KBDA tahun 2007 dan olahan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 13

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

- Jumlah penduduk

4.399.482

2.943.828

Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Anak

a.

Persentase Jumlah Tenaga Kerja Dibawah Umur - Jumlah tenaga kerja < 10 th - Jumlah tenaga kerja/bekerja Persentase Jumlah Perempuan di Lembaga Pemerintahan Partisipasi perempuan di lembaga swasta Rasio KDRT Angka partisipasi angkatan kerja (TPAK) Angka sengketa pengusaha pekerja per tahun Tingkat pengangguran terbuka Jumlah arus penumpang angkutan umum Rasio izin trayek : Jumlah trayek berizin Jumlah total trayek 51,79%

0,31 3.362 1.085.153 49,74

0,74 8.938 1.204.621 51,81%

b. c. d. 4 Urusan Ketenagakerjaan a. b. c. a. b.

55,45%

56,98%

IPM Kab. Bandung 2007

14,64 %

Perhubungan

87

c. d. e. 6 Lingkungan Hidup a. b.

Jumlah uji kir angkutan Jumlah halte Jumlah terminal Persentase penanganan sampah Persentase penduduk berakses air minum 55,56 16 15,40% 54,51 12 buah

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 14

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

c.

Persentase luas pemukiman yang tertata

Sarana dan Prasarana Umum

a. b. c.

Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio jaringan irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk : - Jumlah Mesjid - Jumlah Gereja - Jumlah Pura - Jumlah Wihara - Jumlah penduduk beragama Islam - Jumlah penduduk beragama Kriten - Jumlah penduduk beragama Hindu - Jumlah penduduk beragama Budha - Rasio Mesjid - Rasio Gereja - Rasio Pura - Rasio Wihara 10.775 7 0 1 9.630 11 0 1 KBDA Tahun 2006 & 2007

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 15

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

d. e. f. g. h. 7 Pertanahan -

Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Rasio tempat pembuagan sampah per satuan penduduk Rasio rumah layak huni Rasio permukiman layak huni Persentase luas lahan bersertifikat Persentase jumlah koperasi aktif Jumlah UKM non BPR/LKM UKM Jumlah BPR/LKM 76,78% 4.456 3.907 77,32% 3.931 4.606 5.375 25,09%

Koperasi dan Usaha Kecil menengah

a b c

46,20% 4.279

Data Diskoperindag Tahun 2006 & 2007 Data Diskoperindag Tahun 2006 & 2007

Penanaman Modal

a b c

Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nasional Investasi berskala 5.527.481.796.613 91.357

138

92 78.421

5.570.292.360.956 -

97

Data BPMP Tahun 2006 dan 2007 Data BPMP Tahun 2006 dan 2007

Rasio daya serap tenaga kerja

79.415

Data BPMP Tahun 2006 dan 2007

10

Pemberdayaan masyarakat dan desa

a.

b.

Rata-rata jumlah kelompok binaan lembagapemberdayaan masyarakat (LPM Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 16

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

c.

Jumlah LPM

11

Pertanian

a.

Pertumbuhan PDRB (ADH pertanian

dan kontribusi Konstan) sektor 1.506 kelompok 501 kelompok 786 kelompok 200 kelompok 19 kelompok kredit usaha sumberdaya 7 Kelompok LUEP (Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan)

LPE : PDRB: 7.57 936 Kelompok 277 Kelompok 505 Kelompok 146 Kelompok 8 Kelompok

0.20

LPE : PDRB: 7.40 1.532 kelompok 527 kelompok 786 kelompok 200 kelompok 19 kelompok 17 Kelompok LUEP 931 Kelompok 272 Kelompok 505 Kelompok 146 Kelompok 8 Kelompok

2.51

PDRB Tahun 2007

b.

Kualitas SDM pertanian di perdesaan (jumlah kelompok tani) - Kelas pemula - Kelas lanjut - Kelas madya - Kelas utama Akses terhadap pertanian dan permodalan

Distanhutbun

6 Kelompok LUEP

15 Kelompok LUEP

BKPPP

Tingkat hasil Produksi Pertanian Unggulan -Kedele -Kacang Tanah -Kacang Hijau -Cabe besar -Bawang merah -Kentang -Kubis -Tomat Tingkat ketahanan kelompok Miskin pangan 1,15 Ton 3,495 Ton 55 Ton 290,473 Kwt 24,498 Kwt 2.315.310 Kwt 2.818.610 Kwt 858,784 Kwt 13 Ton 1,871 Ton 4 Ton 146,231 Kwt 18,922 Kwt 2.263.066 Kwt 2.573.169 Kwt 644,786 Kwt 921 Ton 3,222 Ton 68 Ton 350965 Kwt 317390 Kwt 2559430 Kwt 1788837 Kwt 1122080 Kwt 13 Ton 2,183 Ton 3 Ton 223111 Kwt 313434 Kwt 2505802 Kwt 1659678 Kwt 902676 Kwt

Distanhutbun

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 17

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

Tingkat produksi bahan pangan protein hewani dan hasil ternak dan ikan - Produksi daging (kg) - Produksi telur (kg) - Produksi susu (kg) Angka konsumsi RT per kapita - Konsumsi daging (Kg/kap/thn) - Konsumsi telur (Kg/kap/thn) - Konsumsi susu (Kg/kap/thn) Tingkat Produksi padi dan Beras Tingkat sarana hasil Produksi pertanian 8,38 2,21 8,93 8,41 2,39 6,83 8,94 1,50 9,02 8,98 1,62 6,9 Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan 42.389.822 11.670.964 112.626.373 32.526.924 8.860.533 52.573.069 47.215.226 8.253.429 114.239.588 37.558.487 5.853.768 55.034.482 Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 18

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

Cakupan lahan beririgasi

Sub DAS:Cimeta, Ciminyak, Cimahi, Cidadap,Cijanggel, Cipamokolan, Citepus, Cikeruh '-SubDAS Citarik: 7.252.213 Ha '-SubDAS Cirasea: 6.600.072 Ha '-Sub DAS Cisangkuy 9.961.715 Ha '-Sub DAS Ciwidey 4.428 Ha '-Cikapundung Daerah

-SubDAS Citarik: 7.252.213 Ha '-SubDAS Cirasea: 6.600.072 Ha '-Sub DAS Cisangkuy 9.961.715 Ha '-Sub DAS Ciwidey 4.428 Ha '-Cikapundung

Sub DAS:Cimeta, Ciminyak, Cimahi, Cidadap,Cijanggel, Cipamokolan, Citepus, Cikeruh '-SubDAS Citarik: 7.252.213 Ha '-SubDAS Cirasea: 6.600.072 Ha '-Sub DAS Cisangkuy 9.961.715 Ha '-Sub DAS Ciwidey 4.428 Ha '-Cikapundung

-SubDAS Citarik: 7.252.213 Ha '-SubDAS Cirasea: 6.600.072 Ha '-Sub DAS Cisangkuy 9.961.715 Ha '-Sub DAS Ciwidey 4.428 Ha '-Cikapundung

DSDAPE

Kualitas pengelolaan Aliran Sungai

-Lingkungan, Tegakan,Tata olah tanah, Pelestarian sumber-sumber mata air

DSDAPE

Cakupan sistem penyuluhan Tingkat penggunaan tepat guna teknologi

nilai tambah hasil pertanian, peternakan dan perikanan tingkat infrastruktur perdesaan 12 Energi dan Sumberdaya Mineral Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor listrik, gas ( dan Air bersih ) Ketersediaan regulasi untuk pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan Ketersediaan sistem pengawasan dan penertiban kegiatan rakyat yang berpotensi merusak 'LPE:5.04 ADH:1.78 LPE:6.74 ADH:1.77 PDRB Tahun 2007

Perda No.8 Th.2003 tentang Pengelolaan Usaha Pertambangan PerBup No.18 Th.2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Th.2003.

Umum No.8

DSDAPE

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 19

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

lingkungan Cakupan pelayanan kelistrikan 12 9 116 468 KK Desa Kec, tiang, 3 2 14 94 KK Desa Kec tiang 26 14 158 1.045 KK Desa Kec tiang 14 10 76 542 KK Desa Desa tiang DSDAPE

Ketersediaan Pembangkit Listrik

PLTA: '-Kec.Cipeundeuy (Cirata) '-Kec.Cililin ( Saguling) '-Kec.Cimaung (Cikalong) '-Kec. Pangalengan (Kamojang dan Pulosari). PLTP: '-Kec.Pangalengan (Wayang Windu) '-Kec.Ibun (Kamojang)

PLTA: '-Kec.Cimaung (Cikalong) '-Kec. Pangalengan (Kamojang dan Pulosari). PLTP: '-Kec.Pangalengan (Wayang Windu) '-Kec.Ibun (Kamojang)

PLTA: '-Kec.Cipeundeuy (Cirata) '-Kec.Cililin ( Saguling) '-Kec.Cimaung (Cikalong) '-Kec. Pangalengan (Kamojang dan Pulosari). PLTP: '-Kec.Pangalengan (Wayang Windu) '-Kec.Ibun (Kamojang)

PLTA: '-Kec.Cimaung (Cikalong) '-Kec. Pangalengan (Kamojang dan Pulosari). PLTP: '-Kec.Pangalengan (Wayang Windu) '-Kec.Ibun (Kamojang)

DSDAPE

Perijinan: -Jumlah ijin -Luas ijin -Jenis bahan galian

DSDAPE 62 373,3005 Ha 7 jenis (Andesit, Tanah urug, Trass,Pasir, Marmer,Kapur, 19 81,9386 Ha 4 jenis (Andesit, Tanah urug, Trass,Pasir) 63 384,4605 Ha 7 jenis (Andesit, Tanah urug, Trass,Pasir, Marmer,Kapur, 19 81,9386 Ha 4 jenis (Andesit, Tanah urug, Trass,Pasir)

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 20

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

kuarsa)

kuarsa)

13

Kelautan dan Perikanan

a. b.

Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perikanan Tingkat Perkembangan budidaya perikanan - Produksi benih ikan - Produksi ikan konsumsi 967.680,125 ribu ekor 25.873,39 ton 771,81 ton

LPE:1.22 ADH:0.22

LPE:4.23 ADH:0.22

Buku PDRB Tahun 2007 Disnnakan

861.095,32 ribu ekor 7.094,79 ton 247,56 ton

878.763,83 ribu ekor 7.099,33 ton 61,98 ton Disnnakan

c. d. e.

Tingkat perkembangan perikanan tangkap Ketersediaan sistem penyuluhan perikanan Tingkat pengelolaan perikanan - Produksi olahan ikan - RTP Pengolahan produksi

Disnnakan 5.600 ton 807 orang 729 orang 760 orang

f. g.

Tingkat pemasaran perikanan

produksi

Tingkat perkembangan kawasanan budidaya air tawar

h.

Tingkat ilegal fishing

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 21

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

14

Perdagangan

a b

Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perdagangan Ketersediaan program perlindungan konsumen

5,74 dan 12,61 23 Kecamatan (Cikancung, Cimenyan, Cipatat, Cipongkor, Cilengkrang, Gununghalu, Ibun, Soreang, Lembang, Cikalongwetan, Cicalengka, Ciparay, Majalaya, Rancaekek, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Cililin, Padalarang, Pangalengan, Banjaran, Margahayu, Katapang, Baleendah) 3.719.198.765,14 $ 29 Perusahaan 21 Kecamatan dan 23 Kecamatan 16 Kecamatan

9,89 dan 12,84 23 Kecamatan (Cikancung, Cimenyan, Cipatat, Cipongkor, Cilengkrang, Gununghalu, Ibun, Soreang, Lembang, Cikalongwetan, Cicalengka, Ciparay, Majalaya, Rancaekek, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Cililin, Padalarang, Pangalengan, Banjaran, Margahayu, Katapang, Baleendah) 1.160.761.409,25 $ 32 Perusahaan 21 Kecamatan dan 23 Kecamatan 16 Kecamatan

PDRB Tahun 2007(ADH berlaku) Laporan Tahunan Diskoperindag Tahun 2006 dan 2007

c d e f g

Jumlah kerjasama perdagangan internasional/regional Tingkat pertumbuhan nilai ekspor Tingkat pertumbuhan nilai impor Tingkat efisiensi dan efektivitas pelayanan ekspor-impor Tingkat pertumbuhan realisasi omzet perdagangan per tahun

23 Perusahaan 16 Kecamatan dan 18 Kecamatan

26 Perusahaan 16 Kecamatan dan 18 Kecamatan

Data Diskoperindag Tahun 2006 & 2007 Data Diskoperindag Tahun 2006 & 2007

15

Perindustrian

a b

Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perindustrian Tingkat kapasitas iptek sistem produksi

LPE: ADH: 60.74

6.55

LPE: ADH: 60.49

5.90

PDRB Tahun 2007

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 22

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

Tingkat penerapan standardisasi produk industri Laju pertumbuhan industri kecil dan menengah Tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri Volume ekspor produk industri dalam total ekspor daerah Ketersediaan kebijakan pengelolaan sentra-sentra industri potensial Tingkat perkembangan areal transmigrasi Jumlah transmigran yang berhasil dimukimkan Akses tranmigran kepada pelayanan pendidikan dan kesehatan Ketersediaan program penyuluhan bagi transmigrasi lokal/regional 18.323 42.673.232,73 166 161 20.782 169.318.123,48

d e f g

2 Kecamatan ( Baleendah dan Soreang) 73 dan 42 16.718

Data Diskoperindag Tahun 2007 Data Diskoperindag Tahun 2006 & 2007 KBDA Tahun 2007

16

Ketransmigrasian

17

Pekerjaan Umum

Pemeliharaan rutin Peningkatan Jalan Pemeliharaan Periodik Pembebasan lahan utk Jalan Pembangunan Infrastruktur bangunan pelengkap jalan

246,7 km 233,6 km 50,7 km 900 m 10 lokasi

232,8 km 233,6 km 7,3 km 5 km 75 lokasi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 23

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

18

Perumahan

Luas Pemukiman kawasan kumbuh Luas wilayah Jumlah rumah tangga Keluarga yang tinggal di daerah kumbuh

1.266.986 ha 3.074 km2 936.834 kk 1.974 kk

300.965 ha 1.787 km2 615.900 kk 884 kk

19

Penataan Ruang

Penggunaan lahan (existing) -Kawasan lindung -Kawasan budidaya -Kawasan lainnya Tingkat kelengkapan rencana tata ruang Tingkat pemamfaatan rencana tata ruang sebagai acuan koordinasi dan sinkronisasi pembangunan antar sektor dan antar sub wilayah Tingkat pengendalian pemamfaatan ruang Jumlah konflik pemamfaatan ruang antar stakeholder setempat , instansi pemerintah , maupun antar kewenangan tingkatan pemerintahan.

60.117,92 ha 115.966,400 ha 708.118 ha

20

Perencanaan Pembangunan a. Tingkat ketersediaan dan validitas informasi perencanaan pembangunan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 24

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

b. c. d. e. f. g. h.

Jumlah kerjasama pembangunan antar daerah Tingkat disparitas pembangunan antar sub wilayah Tingkat kelengkapan rencana wilayah cepat tumbuh Tingkat penanganan perencanaan wilayah tertinggal Tingkat penanganan wilayah strategis Tingkat penanganan wilayah cepat tumbuh Tingkat penanganan perkembangan pusat-pusat kegiatan wilayah Tingkat kesesuaian antara perencanaan pusat kegatan dengan perkembangan aktual Tingkat penerapan perencanaan partisipatif Tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan daerah Tingkat kapasitas kelembagaan perencanaan pembangunan daerah Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan daerah Tingkat implementasi dokumen perencanaan daerah Kualitas pelaksanaan Musrenbang

i.

j. k. l.

m. n. o.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 25

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

21

Kependudukan dan Catatan Sipil

a.

Rasio penduduk ber KTP per satuan penduduk - Jumlah penduduk ber-KTP

9:10 395764

9:10 441200 DINAS SOSIAL, KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL, Tahun 2007

- Jumlah penduduk wajib ber-KTP b. Rasio bayi berakte kelahiran - Jumlah bayi lahir berakte kelahiran - Jumlah total bayi lahir

416030

466111

Rasio pasangan berakte nikah 22 Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera a. b. Rata-rata jumlah anak per keluarga Rasio akseptor KB Jumlah akseptor KB 1 -2 anak 7:10 631,457 7 : 10 421,029 1 -2 anak 8:10 435145 Buku KBDA Tahun 2006 dan 2007 (Data Tahun 2005 dan 2006) BKBD Kab. Bandung tahun 2007

Jumlah penduduk usia subur Persentase akseptor KB (%) 23 Sosial Bimbingan sosial dan keterampilan bagi keluarga miskin 140 kk

865,324 72,97%

597,249 70,49 % 150 kk

553761 78,58

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 26

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

24

Kebudayaan

25

Pemuda dan Olah Raga

Jumlah organisasi pemuda Jumlah organisasi olah raga Jumlah kegiatan kepemudaan Jumlah kegiatan olah raga

61 32 620 35

61 35 732 35

26

Kesatuan Bangsa dan Politik

27

Otonomi daerah , pemerintahan umum , administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaiaan dan persandian

28

Ketahanan Pangan

Cakupan bantuan beras subsidi pada keluarga miskin

98.580 RTM (Rumah Tangga Miskin)

59.578 RTM

274.064 RTM

184.024 RTM

BPS/BKPPP

Tingkat hasil Produksi Pertanian Unggulan -Padi sawah -Padi Gogo -Jagung -Ubi Kayu -Ubi Jalar 591,73 Ton 28,82 Ton 66,402 Ton 190,073 Ton 34,104 Ton 394,391 Ton 10,934 Ton 41694 Ton 108,169 Ton 22,477 Ton 579,455 Ton 28,305 Ton 57,115 Ton 182,353 Ton 22,972 Ton 385,735 Ton 11,923 Ton 23,866 Ton 107,766 Ton 16,869 Ton

Distanhutbun

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 27

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

29

Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM)

Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK Jumlah LSM

30

Statistik

Tingkat ketersediaan data / informasi dan statistik daerah.

Tingkat Penggunaan teknologi informasi untuk statistik daerah

Tingkat validitas dan kemutakhiran data dan informasi daerah Tingkat kemudahan akses informasi 31 Kearsipan Tingkat kelengkapan administrasi kearsipan Tingkat penetapan teknologi informasi dalam daministrasi kearsipan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 28

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

Tingkat penetapan teknologi informasi dalam pengelolaan pelestarian dokumen/ arsip daerah Tingkat pelayanan informasi kearsipan daerah Tingkat keterbukaan informasi kearsipan daerah bagi masyarakat.

32

Komunikasi dan informatika

a. b. c. d. e.

Jumlah jaringan komunikasi (provider) Jumlah wartel/warnet terhadap penduduk Jumlah intranet SIMDA Jumlah surat kabar nasional/lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal - Niaga/broadcasting - Radio kumunitas (terdaftar di KPID) - Radio publik lokal

140

150

Dinas Perhubungan Kab. Bandung 2007

128

128

4 16 1

4 16 1

33

Perpustakaan

Jumlah perpustakaan

165 buah

225 buah

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 29

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

Jumlah pengunjung perpustakaan pertahun 34 Kehutanan Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor kehutanan Laju pertumbuhan luas hutan produksi laju pertumbuhan luas hutan tanaman industri Laju Deforestasi

11.222 org 13,27 dan 0,03 0% 48,80% 9,50%

19.486 org 10,84 dan 0,03 -8% 10,60% -4,50% Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Buku PDRB 2006, 2007 (ah berlaku)

Nilai tambah hasil hutan kayu Nilai tambah hasil hutan non kayu Cakupan sistim pengelolaan hutan yang berkelanjutan Cakupan penetapan kawasan hutan dalam tata ruang

35

Pariwisata

a b

Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor pariwisata Tingkat perkembangan kontribusi sektor pariwisata dalam PDRB

LPE: ADH: 0.03

6.25

LPE: ADH: 0.03

8.98

PDRB Tahun 2007

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 30

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

Tingkat perkembangan obyek pariwisata

jumlah

78

45

78

49

Data potensi Pariwisata Tahun 2006 dan 2007

Tingkat perkembangan wisatawan

jumlah

2.463.366

3.340.875

Data potensi Pariwisata Tahun 2006 dan 2007

Tingkat perkembangan kerjasama/kemitraan pemasaran pariwisata

10

20

Data potensi Pariwisata Tahun 2006 dan 2007

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 31

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

2.3 Evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan RKPD 2007 Perencanaan pembangunan harus didasarkan pada permasalahan dan kebutuhan suatu daerah. Permasalahan diperoleh dari hasil evaluasi

pelaksanaan program/kegiatan pembangunan yang dilaksanakan pada tahuntahun sebelumnya. Evaluasi menyangkut realisasi capaian target kinerja kegiatan dan realisasi target capaian kinerja program tahun lalu terhadap RPJMD. Program/kegiatan yang tidak memenuhi target merupakan indikasi untuk dijadikan isu yang strategis sebagai prioritas pelaksanaan pembangunan dengan memperhatikan permasalahannya. Evaluasi tersebut antara lain mencakup Realisasi program/kegiatan yang tidak memenuhi target kinerja keluaran yang diharapkan, Faktor-faktor penyebab tidak tercapainya target kinerja keluaran program/kegiatan, implikasi yang timbul terhadap target capaian program RPJMD serta Kebijakan/tindakan perencanaan dan penganggaran yang perlu diambil untuk mengatasi faktor-faktor penyebab tersebut. Berikut uraian hasil evaluasi terhadap pelaksanaan program dan kegiatan RKPD 2007 yang diuraikan berdasarkan urusan;

A. Urusan Pendidikan Permasalahan : a) Permasalahan pembangunan gedung sekolah pada umumnya karena pada saat pemilihan lokasi tidak memasukan aspek perencanaan tata ruang serta aspek legalitas, hal ini tidak saja terjadi pada permasalahan pengadaan lahan untuk sekolah saja melainkan juga pada kegiatan lainnya yang berkaitan dengan ketidak sesuaian terhadap rencana tata ruang wilayah. b) Program lebih dominan pada aspek pembangunan fisik sehingga tidak terlalu memperhatikan mutu dan kualitas pendidikan, pemerataan serta upaya peningkatan minat baca masyarakat. c) Masyarakat masih kurang memberikan perhatian terhadap pendidikan anak usia dini yaitu umur 0-6 tahun, kecenderungan yang terjadi adalah anak disekolahkan langsung pada jenjang pendidikan sekolah dasar. d) Kualitas pendidikan masyarakat masih relatif rendah, hal tersebut misalnya dapat dilihat dari jumlah penduduk usia 15 tahun s/d 44 tahun yang buta huruf tahun 2007 mencapai 1.465 orang (1,3%), salah satu penyebabnya adanya keterbatasan dan kemampuan ekonomi

masyarakat mengakibatkan anak usia sekolah tidak dapat bersekolah


Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 32

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

atau tidak dapat melanjutkan pendidikan. Faktor lain yang berpengaruh terhadap kualitas pendidikan adalah belum idealnya rasio siswa terhadap guru, rasio siswa terhadap daya tampung sekolah dan rasio guru terhadap sekolah, selain itu kurangnya tenaga pendidik yang

sesuai dengan kompetensinya sebagaimana tertuang dalam Undangundang Nomor 14 Tahun 2006 Tentang Guru dan Dosen beserta turunannya. e) Pendidikan non formal masih dianggap sebagai pendidikan yang di nomor duakan oleh masyarakat. f) Persoalan tentang persepsi dalam pembangunan pendidikan bahwa fokus perhatian masyarakat dan pemerintah dalam menyusun

perencanaan pembangunan pendidikan, lebih memperhatikan pada bangunan fisik persekolahan. Kurangnya upaya kreatif dari setiap satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memperhatikan core competence agama, budaya, dan lingkungan. Selain itu tanggung jawab perusahaan/dunia usaha (Corporate Sosial Responsibility) masih sangat kurang terhadap pembangunan pendidikan. g) Terbatasnya sumber daya manusia di bidang ilmu perpustakaan serta informasi dan teknologi serta belum optimalnya penyelenggaraan pengelolaan perpustakaan tingkat desa/kelurahan, SKPD, sekolah dan pontren. h) Permasalahan pemerataan dan peningkatan kesempatan memperoleh pendidikan : Masih rendahnya APK/APM/AM pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan, termasuk sebarannya yang masih bervariasi di antara masing-masing wilayah kecamatan; Sehingga pencapaian target wajar dikdas 9 tahun, yang keadaannya tidak sama. Ada kecamatan yang hampir mencapai 100% , tetapi ada pula kecamatan yang kurang dari 70%. Masih belum difahaminya tentang perlunya layanan pendidikan bagi ALB/ABK baik bagi anak karena ketunaan, kenakalan, maupun yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (Gifted dan Talented), baik yang bersifat intelektual maupun jenis kemampuan lainnya misalnya linguistik, musikal, spasial, logikal-matematikal, kinestetik, intrapersonal, dan interpersonal.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 33

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

i) Permasalahan Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan : Pendidikan Formal : Masih rendahnya mutu hasil pendidikan pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan; Masih lemahnya kemampuan manjerial para pengelola kelembaagaan satuan

pendidikan pada setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan; Pendidikan Nonformal : Eksistensi PNF masih dianggap belum mendapat perhatian yang profesional dari pemerintah maupun masyarakat dalam sistem pembangunan daerah, baik berkenaan dengan peraturan perundangan maupun dukungan anggaran; Pendidikan Informal : Masyarakat belum begitu memahami tentang eksistensi pendidikan informal yang telah dijamin oleh undangundang, sehingga layanan pendidikan informal masih dianggap tidak penting bagi pendidikan anak.

j) Permasalahan Tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik : Elemen-elemen manajemen penopang pelaksanaan berdasarkan kebijakan UU.No.32/2004 otonomi belum

pemerintahan

memberikan keleluasaan penuh dalam manajemen pembangunan pendidikan di Kabupaten Bandung. Struktur Organasasi dan Tata Kerja (SOTK) setiap SKPD masih berubah-ubah, kurang berorientasi pada tugas, fungsi dan tujuan. Sehingga otoritas dan kewenangan dalam melaksanakan pembinaan pendidikan pun sering tumpang tindih, baik di lingkungan instansi horizontal (beberapa SKPD seperti Bidang Kesejahteraan Rakyat, Dinas Pendidikan, Dinas Tenaga Kerja, Badan Diklat, serta SKPD lainnya yang menyelenggarakan satuan pendidikan), maupun dengan instansi vertikal (Departemen teknis seperti halnya Departemen Agama dan departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan). Masih lemahnya sistem pengawasan mutu pendidikan; Sistem pengawasan yang dilakukan cenderung bersifat administratif,

temporer, dan kurang berkelanjutan, bahkan lebih bersifat mencaricari kesalahan. Sehingga membuat ketidaknyamanan dalam

melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dalam pendidikan; Masih lemahnya sistem evaluasi pendidikan, baik evaluasi hasil belajar maupun evaluasi program, sehingga sering diintervensi oleh
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 34

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Kebijakan UAN yang merugikan peserta didik merupakan bukti masih adanya

ketidakpercayaan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah dalam penyelenggaraan evaluasi pendidikan. Masih lemahnya sistem pelaporan dan pertanggungjawaban dalam pelaksanaan pendidikan, baik yang berkenaan dengan bidang

garapan, prosedur yang harus ditempuh, dan waktu pelaksanaan oleh setiap pengelola pendidikan pada setiap jalur, jenis dan jenjang kelembagaan pendidikan; Masih lemahnya mekanisme sistem pendataan dan jaringan informasi pendidikan yang kurang terintegrasi secara terpadu, dan banyak versinya, ada versi pemerintah pusat, ada versi pemerintah provinsi, dan ada versi pemerintah kabupaten, ada data versi Dinas Pendidikan, versi Dinas Kependudukan, versi Dinas Tenaga Kerja, dan versi Badan Perencana Daerah (Bapeda). Di samping itu, akses masyarakat dan pemerintah untuk mendapatkan data yang akurat sangat sulit didapat. Sehingga kurang setiap kebijakan tentang

pembangunan sebenarnya. -

pendidikan

menyentuh

permasalahan

Lemahnya sistem kemitraan antara lembaga satuan pendidikan dengan stakeholders pendidikan sehingga menghambat

pelaksanaan pendidikan; Masih lemahnya inovasi dalam pembangunan pendidikan, baik yang menyangkut bidang garapan dan proses pengelolaan, maupun yang berkenaan dengan konteks penyelenggaraan pendidikan;

Langkah yang ditempuh : a) Langkah yang ditempuh terkait permasalahan penyediaan lahan dalam pembangunan sekolah adalah menunggu ditetapkannya perda RTRW 2007-2027 sehingga pelaksanaan pembangunan sekolah sesuai dengan RTRW serta peninjauan aspek legalitas lahan sekolah. b) Peningkatan dan perluasan kapasitas daya tampung bagi pendidikan anak Usia dini, penuntasan percepatan WAJARDIKDAS 9 tahun dan pendidikan menengah pada setiap jenis kelembagaan satuan program pendidikan, melalui :

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 35

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Peningkatan jumlah UGB/ RKB dan sarana perlengkapan pada sekolah-sekolah, PKBM/ SKB dan Pesantren penyelenggara satuan pendidikan dasar.

Perintisan dan mengembangkan jumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) atau satuan program pendidikan menengah terpadu berbasis keunggulan.

Pembangunan UGB/ RKB dan sarana perlengkapan pendidikan menengah menengah). formal dan nonformal (penyelenggara pendidikan

c) Peningkatan jumlah kelompok sasaran program keaksaraan fungsional sampai kepelosok pedesaan, peningkatan jumlah sarana peralatan dan sumber belajar dan peningkatan jumlah tutor/pelatih fasilitator dan tenaga lapangan DIKMAS pada program keaksaraan fungsional. d) Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing melalui penguatan, pendalaman, perluasan dan pengembangan seluruh komponen dan bidang garapan kelembagaan satuan program pendidikan, sehingga memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, serta memiliki relevansi dengan tuntutan kebutuhan masyarakat melalui : Penerapan kurikulum pada setiap satuan program PAUD berbasis iman dan taqwa, budi pekerti, lingkungan hidup dan kebangsaan. Modernisasi mutu alat peraga edukatif ( APE ) dan saran proses belajar/ bermain PAUD. Peningkatan kualifikasi, kompetensi dan kapasitas kemampuan ketenagaan PAUD yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Pendalaman muatan kurikulum pendidikan dasar berbasis religius, budi pekerti, kecakapan hidup dan kewirausahaan, seni budaya dan keolahragaan, tekhnologi dasar, lingkungan hidup serta kebangsaan. Peningkatan kualifikasi, kompetensi guru/ tutor/ Pamong belajar, laboran, pustakawan dan tenaga administrasi pada satuan program pendidikan dasar. Penerapan tekhnologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam proses pembelajaran pendidikan dasar. Peningkatan kapasitas dan relevansi muatan kurikulum sekolah menengah kejuruan atau satuan program pendidikan menengah terpadu.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 36

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

e) Penyediaan dana beasiswa bagi anak tidak mampu agar bisa mendapatkan pendidikan dasar dan anak berprestasi untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. f) Dalam upaya mengoptimalkan pelayanan perpustakaan yaitu : Perpustakaan keliling, diadakan kegiatan pengadaan barang/jasa yaitu penambahan Mobil Unit Pelayanan Keliling (MUPK) sebanyak 3 unit serta bantuan motor pintar dari S-IKIB Jakarta 1 buah. Pengadaan koleksi bahan pustaka melalui APBD Kabupaten Bandung dan bantuan dari pusat (block grant dan S-IKIB) Penambahan sarana dan prasarana perpustakaan di tingkat desa/kelurahan. g) Pengembangan pendidikan kesetaraan (Paket A, B dan C) h) Perencanaan program pendidikan mengacu pada standar Nasional dan masterplan pendidikan, peningkatan kualitas pengajar serta evaluasi terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan. Untuk tahun 2009 hal yang perlu dilakukan sesuai dengan masterplan pendididikan 2008 2025 Penuntasan rehabilitasi gedung pada SD/MI dan SMP/MTs yang daya tampungnya rendah dan pengembangan RKB/UGB/USB pada SD/MI dan SMP/MTs yang daya tampungnya tinggi. Mengembangkan kelas-kelas jauh untuk tingkat SMP/MTs pada setiap SD/MI. Mengembangkan SD-SMP/MI-MTs satu atap. Mengembangkan SMP/MTs terbuka pada setiap kecamatan. Memberikan subsidi pembiayaan PSB kepada sekolah-sekolah pada setiap jenjang, jalur dan jenis pendidikan; Membentuk, membina, memfasilitasi komunitas-komunitas

masyarakat peduli wajib belajar; Mengembangkan layanan pendidikan kesetaraan (Paket A dan B) untuk anak usia wajib belajar pada lokasi di mana anak itu bekerja; Pemberian beasiswa secara berkelanjutan, bagi peserta didik yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan negeri maupun swasta. Mengembangkan jejaring kemitraan dengan pusat-pusat kominitas masyarakat untuk sosialisasi, komunikasi layanan pendidikan bagi ALB/ABK;
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 37

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Pengadaan

dan

pendistribusian

buku-buku

dan

alat

peraga

pendidikan yang merata untuk memenuhi kebutuhan guru dan murid dalam melaksanakan KBM Fasilitasi dan pendampingan peningkatan kemampuan bagi guru yang kurang sesuai dengan latar belakang pendidikan dengan memberikan sertifikasi sebagai bukti pengakuan resmi atas

pelaksanaan tugasnya; Pengangkatan, pendistribusian yang merata tentang kebutuhan

tenaga administrasi/tata usaha/penjaga sekolah untuk SD/MI dan SMP/MTs. Pemberian tambahan hadiah/bonus atau insentif yang layak bagi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, tenaga administrasi, dan tenaga kependidikan lainnya yang telah berprestasi, baik dalam melaksanakan tugas pokoknya, maupun tugas-tugas kependidikan lainnya; Fasilitasi dan pendampingan kepada guru dalam mengikuti uji peningkatan kompetensi dan sertifikasi; Memberikan kemudahan kepada komunitas masyarakat untuk mendirikan sekolah-sekolah kejuruan yang berbasis potensi

unggulan lokal, regional, nasional, maupun internasional yang sesuai dengan potensi dan pengembangan wilayah; Memberikan beasiswa/hadiah atau bentuk reward lainnya kepada murid-murid, guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan atau sekolah-sekolah yang berprestasi dalam bidang pendidikan yang menjadi unggulan, termasuk olah raga, kesenian, dan iptek untuk meneruskan dan meningkatkan prestasinya melalui pendidikan lanjutan ke jenjang yang lebih tinggi. Pengembangan forum-forum ajang pengujian daya nalar, apresiasi, keterampilan, karya dan kreativitas dan inovasi murid, guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah; Fasilitasi dan pendampingan bagi guru, kepala sekolah & pengawas sekolah dalam pengembangan kurikulum KTSP berbasis potensi unggulan, baik melalui pelatihan-pelatihan maupun pengembangan pendidikan lanjutan ke jenjang yang lebih tinggi; Penyusunan prosedur operasional standar yang dapat dijadikan panduan bagi para kepala sekolah dan pengurus komite/dewan
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 38

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

sekolah, tata usaha sekolah, dan pengawas sekolah dalam melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sesuai dengan karakteristik lembaga satuan pendidikan yang dikelolannya; Fasilitasi dan pendampingan bagi para kepala sekolah dan pengurus komite/dewan sekolah, tata usaha sekolah, dan pengawas sekolah, dalam melaksanakan MBS dan KTSP yang sesuai dengan

karakteristik lembaga satuan pendidikan yang dikelolannya; Mengembangkan jaringan kerjasama dengan perguruan tinggi, lembaga pemerintah, swasta dan komunitas pendidikan lainnya dalam mengoptimalkan pelaksanaan MBS dan KTSP; Perumusan, pengkajian, penetapan standarisasi pelaksanaan

program pelayanan pendidikan pada PKBM; Pengembangan jaringan informasi dan kemitraan, meliputi kegiatan pemeliharaan jaringan yang telah terbina, mencari pola jaringan kemitraan yang efektif dan efesien, mengembangkan jaringan informasi dan kemitraan dengan pengelola PKBM dan unsur lainnya; Perumusan kurikulum pendidikan keaksaraan yang berbasis

kompetensi dan potensi wilayah serta bidang kehidupan warga belajar yang diminatinya; Pengadaan sarana dan prasarana alat peraga edukatif yang memenuhi standar mutu yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pembelajaran PNF Mengembangkan lembaga-lembaga perpustakaan dan taman

bacaan masyarakat yang dekat dengan pusat-pusat komunitas masyarakat pedesaan; Membina kemampuan manajerial kelembagaan perpustakaan dan taman bacaan masyarakat di pedesaan; Pengadaan masyarakat Memberikan fasilitasi/kemudahan, biaya pendidikan bagi tutor, TLD, kepala PKBM, penilik dikmas, tenaga administrasi, dan tenaga kependidikan PNF lainnya untuk mengikuti program pendidikan lanjutan yang relevan dengan tugas pokoknya; kelengkapan perpustakaan dan taman bacaan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 39

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Membentuk jaringan informasi kelembagaan pendidikan informal yang mewadahi dan memfasilitasi persoalan-persoalan yang

dihadapi penyelenggaraan pendidikan informal; Sosialisasi dan komunikasi publik Rencana Induk Pendidikan (Master Plan) untuk 5-20 ke depan, sebagai rujukan bagi SKPD dan lembaga satuan pendidikan dalam menyusun rencana-rencana strategis berdasarkan bidang garapan pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya; Penguatan kapasitas manajemen melalui sertifikasi diklat reguler, studi lanjutan, bekerjasama dengan Perguruan Tinggi atau Lembaga Diklat yang relevan dengan tugas pokoknya sebagai pengelola lembaga pendidikan. Menyediakan advokasi dan bantuan konsultasi terhadap

pemahaman dalam pelaksanaan peraturan perundang-undangan, serta perlindungan hukum dalam penyelenggaraan pendidikan; Perumusan standarisasi komponen dan aktivitas biaya pendidikan untuk setiap jalur, jenjang dan jenis kelembagaan pendidikan yang menjadi tanggung jawab Pemda. Pemetaan biaya (budget mapping allocation) satuan pendidikan (modal/operasional, langsung/tidak langsung, personel/bukan

personel, untuk menentukan besaran alokasi dalam membiayai pendidikan untuk setiap satuan pendidikan; Merintis model Pendidikan Dasar Terpadu dengan mengkaji kemungkinan SD-SMP satu atap dengan menghapuskan SD 6 tahun diganti dengan Pendidikan Dasar (PD) 9 tahun, dan fusi SMP dan SMA menjadi SMU/SMK atau Sekolah Menengah (SM).

B. Urusan Kesehatan Permasalahan : a) Masih tingginya Angka Kematian Ibu Melahirkan dan Bayi Baru Lahir b) Masih kurangnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat terutama masyarakat miskin. c) Kurangnya sarana, prasarana dan tenaga kesehatan yang berkualitas. d) Beberapa jenis obat tidak ada/tidak diproduksi dalam kegiatan pengadaan obat-obatan Rumah Sakit,.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 40

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

e) Kurang akuratnya data Gakin sehingga pelayanan Askeskin bagi masyarakat tidak mencapai target. f) Masih terbatasnya rasio tenaga medis serta tenaga paramedis dengan cakupan wilayah pelayanan. g) Pada beberapa lokasi pelayanan kesehatan (Puskesmas dan Pustu) belum didukung dengan aksesibilitas jalan yang memadai. h) Belum semua desa memiliki bidan desa. i) Masih terbatasnya data dan informasi yang akurat mengenai kondisi kesehatan di wilayah Kabupaten Bandung. j) Masih tingginya kejadian Penyakit dan rendahnya penanganan (Diare, ISPA, DBD, TBC, HIV, Kusta dll) k) Masih rendahnya tingkat imunisasi pada anak. l) Masih tingginya kasus gizi buruk dan gizi kurang. m) Masih kurangnya sosialisasi tentang kesehatan dan gizi pada

masyarakat n) Masih banyaknya produk-produk makanan/minuman yang

menggunakan bahan berbahaya (termasuk juga penggunaan pestisida pada tanaman) serta tanpa izin (termasuk juga Depot air isi ulang) o) Masih rendahnya rasio syarat kesehatan lingkungan (rumah, air bersih, kakus, sampah dan air limbah). p) Belum adanya standar teknis penanganan permasalahan penyakit dan kesehatan pasca bencana. q) Masalah perilaku sebagai faktor resiko kesehatan. r) Belum adanya Bank Data dan jaringan sistem informasi anatar Puskesmas/UPTD dan Dinas Kesehatan. s) Masih rendahnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan rujukan. t) Makin tingginya biaya pelayanan kesehatan dan peningkatan

kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan.

Langkah yang ditempuh : a) Optimalisasi pembinaan, penyuluhan dan sosialisasi tentang Kesehatan, gizi dan penyakit terutama melalui pemberdayaan masyarakat secara terpadu (misal Pemberdayaan masyarakat dalam bidang KIA melalui Desa Siaga)

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 41

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

b) Standarisasi pelayanan kesehatan melalaui penerapan SOP (Standard Operational Procedure) c) Pengembangan sistem jaminan pelayanan kesehatan masyarakat miskin. d) Penerapan sistem tarif retribusi progresif dimana masyarakat mampu dapat melakukan sharing terhadap masyarakat miskin dalam

pembiayaan kesehatan e) Perlunya Pengimplementasian Jaminan Pelayanan Kesehatan

Masyarakat (JPKM). f) Penanggulangan penyakit dengan pencegahan dan pemberantasan penyakit, penyediaan obat dalam kuantitas dan kualitas baik, revitalisasi sistem pengamatan penyakit, pemberdayaan masyarakat serta

kerajsama lintas sektoral. g) Peningkatan sarana, prasarana serta tenaga kesehatan sesuai standar. h) Obat yang tidak ada/tidak diproduksi lagi, dihilangkan dari daftar kebutuhan obat untuk pelayanan, kemudian diganti dengan obat lain yang sejenis. i) Pemutakhiran data Keluarga Miskin yang berhak mendapat Askeskin. j) Penyebaran tenaga bidan bagi desa-desa yang belum memiliki bidan desa. k) Peningkatan aksesibilitas menuju Puskesmas dan Pustu. l) Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat, antara lain melalui peningkatan kualitas SDM di bidang kesehatan. m) Penerapan insentif dan disinsentif yang jelas bagi tenaga medis dan paramedis serta tenaga lain di bidang kesehatan. n) Pengawasan (audit) dan pembinaan kepada produsen

makanan/minuman dan kepada masyarakat terkait keamanan dan kesehatan pengolahan makanan dan minuman. o) Peningkatan sistem informasi bidang kesehatan serta penyusunan Nilai Standar Pelayanan Minimal. p) Membina kemitraan bidan dan paraji. q) Penyuluhan pada kelompok masyarakat tentang bahan berbahaya dalam makanan. r) Pembinaan kegiatan UKS di tingkat SD dan Sekolah Lanjutan. s) Pelaksanaan kegiatan penjaringan kesehatan bagi murid sekolah.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 42

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

t) Pembentukan sistem / jaringan informasi kejadian bencana dan KLB penyakit

C. Urusan Pekerjaan Umum Permasalahan : a) Masih terbatasnya data teknis kondisi infrastruktur(jalan, jembatan, irigasi, drainase,dan lain-lain) yang ada saat ini, sehingga mengurangi kualitas perencanaan. b) Belum adanya besaran/ukuran indikator tingkat pelayanan jalan yang disepakati untuk mengukur tingkat pelayanan pemerintah dalam

kebinamargaan, sehingga target capaian pelayanan Kebinamargaan belum berdasarkan acuan yang legal dan valid. c) Pemerintah masih sulit mengimbangi perkembangan kebutuhan jalan sesuai dengan perkembangan wilayah di Kabupaten Bandung, sehingga ratio panjang jalan dibandingkan dengan bebannya sangat rendah. d) Terlalu luasnya rentang pengendalian dan pengawasan pemerintah terhadap objek kegiatan intervensi peningkatan kualitas jalan, sehingga kualitas kegiatannya kurang optimal. e) Beberapa ruas jalan kabupaten tidak dilengkapi dengan bangunan pelengkap jalan, sehingga umur jalan tidak sesuai dengan umur teknisnya. f) Permasalahan kegiatan pembebasan lahan pada pembangunan jalan serta jembatan pada umumnya antara lain; tingginya spekulasi tanah pada saat pembebasan lahan serta kurangnya sosialisasi kepada pihak/stakeholder terkait (pemilik lahan) menyebabkan kurang/rendahnya partisipasi masyarakat. g) Diperlukan Sumberdaya Manusia yang sesuai dengan bidang dan tugasnya, agar mudah berkomunikasi dalam pelaksanaan tugas h) Belum seimbangnya rasio anggaran dengan beban tugas yang harus dilaksanakan i) Masih kurangnya usaha/fasilitasi pemberdayaan masyarakat dalam upaya pemeliharaan baik secara Swadaya terhadap hasil kegiatan fisik baik berupa jalan, jembatan maupun jaringan Irigasi. j) Belum maksimalnya unsur pengawasan dan pembinaan teknis aparatur dinas dalam melaksanakan kegiatan di lapangan.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 43

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

k) Masih terbatasnya upaya pemeliharaan jalan, antara lain masih banyak kendaraan yang tonasenya melebihi kapasitas jalan.

Langkah yang ditempuh : a) Langkah yang perlu ditempuh terkait permasalahan pembebasan lahan adalah dibangunnya pola pendekatan kepada masyarakat melalui tokoh dan pola partisipasi masyarakat. b) Penerapan sistem insentif dan disinsentif terhadap stakeholder yang

berpartisipasi dan yang tidak dalam pemeliharaan dan pembangunan infrstruktur, baik mencakup unsur pemerintah sendiri, masyarakat maupun kalangan swasta/dunia usaha. c) Perekrutan SDM dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan yang sesuai dengan pengembangan wawasan melalui Diklat Teknis maupun Fungsional. d) Pengupayaan maksimal mengenai rasio anggaran agar sesuai dengan beban tugas atau volume pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan menggunakan Skala Prioritas. e) Diperlukan konsistensi mulai dari perencanaan, pelaksanaan serta pengendalian kegiatan. f) Perlunya upaya peningkatan Fasilitasi pemberdayaan masyarakat melalui program kerja bakti secara kontinyu dalam pemeliharaan infrastruktur

yang dapat dilakukan oleh masyarakat. g) Perlunya peningkatan sistem informasi bidang pekerjaan umum. h) Perlunya pengendalian yang terpadu terhadap pemeliharaan jalan, antara lain penggunaan jalan disesuaikan dengan kapasitas jalan melalui revitalisasi jembatan timbang yang terkontrol dengan baik.

D. Urusan Perumahan Rakyat Permasalahan : a) Menurunnya kualitas lingkungan, sarana dan prasarana permukiman perkotaan dan perdesaan. b) Masih lemahnya kebijakan dan strategi di bidang perumahan rakyat serta kurangnya pengendalian perkembangan permukiman. c) Kurangnya sosialisasi lingkungan sehat perumahan.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 44

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

d) Kurangnya

regulasi pembangunan

perumahan

masyarakat kurang

mampu (menengah ke bawah) e) Belum optimalnya sistem drainase perumahan/permukiman sehingga banyak menyebabkan genangan/banjir serta mengakibatkan

berkurangnya umur infrastruktur yang telah dibangun. f) Belum optimalnya penyediaan prasarana air bersih dan sanitasi lingkungan. g) Belum optimalnya fasilitas pengelolaan lingkungan, antara lain Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Terpadu di wilayah perkotaan untuk mengurangi tingkat pencemaran terhadap badan air penerima akibat limbah domestik. h) Masih banyaknya fasilitas sosial/fasilitas umum perumahan belum diserahkan kepada pemerintah oleh para pengembang. i) Belum terintegrasinya sistem infrastruktur antar kawasan-kawasan perumahan sehingga menyebabkan beban infrastruktur makin tinggi karena perumahan-perumahan yang ada lebih banyak memanfaatkan infrastruktur utama yang ada, antara lain sistem infrastruktur masingmasing kawasan perumahan masih berskala lokal/ belum lintas perumahan. Antara lain bisa dilihat bahwa interkoneksi jalan antar perumahan banyak yang terputus, sistem drainase masih parsial, ketersediaan fasos dan fasum masih berskala lokal. j) Masih terbatasnya data dan peta mengenai kawasan-kawasan

permukiman kumuh. k) Meningkatnya kebutuhan terhadap lahan perumahan di Kabupaten bandung akibat perkembangan yang pesat di Kota Bandung.

Langkah yang ditempuh : a) Melaksanakan penyuluhan dan Sosialisasi yang berkesinambungan ke seluruh stakeholder terkait dengan program pengembangan perumahan. b) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia aparatur melalui pembinaan rutin maupun Diklat dan kualitas sumber daya manusia melalui sosialisasi peraturan di bidang permukiman dan tata wilayah. c) Pemberdayaan masyarakat melalui program kerja bakti secara kontinyu dalam pemeliharaan infrastruktur yang dapat dilakukan oleh masyarakat terutama pedesaan terutama saluran drainase.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 45

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

d) Peningkatan pengawasan dan pengendalian pengembangan perumahan, penerapan sistem insentif dan disinsentif serta penerapan sanksi bagi pengembang yang belum menyediakan dan menyerahkan fasilitas sosial/fasilitas umum kepada pemerintah. e) Perlunya optimalisasi sumber-sumber air bersih dan pengembangan jaringan perpipaan air bersih di wilayah perkotaan. f) Mengoptimalkan manajemen pengelolaan fasilitas lingkungan, antara lain manajmen Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Terpadu di wilayah perkotaan. g) Penyusunan rencana induk pengembangan perumahan dan permukiman daerah sebagai upaya perencanaan dan pengendalian pengembangan perumahan terorganisir di wilayah perkotaan dan permukiman tidak terorganisir di wilayah pedesaan. h) Penyusunan masterplan drainase perkotaan sebagai upaya pengendalian banjir di wilayah perkotaan. i) Mensinergiskan program pengembangan perumahan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam pengembangan perumahan. j) Peningkatan peran dan fungsi Tim Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan Daerah (TKP4D). k) Perlunya pendataan dan pemetaan kawasan-kawasan permukiman kumuh l) Perlunya sistem insentif bagi pembangunan perumahan vertikal

(Rusunawa, Rusunami)

E. Urusan Penataan Ruang Permasalahan : a) Belum seluruh lahan wilayah di Kabupaten Bandung dipetakan dalam skala yang memadai sehingga (peta dasar belum mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bandung). b) Belum lengkapnya data dan peta tematik untuk pendukung perwujudan Rencana Tata Ruang Wilayah. c) Belum optimalnya peran stakeholder untuk mendukung penataan ruang yang efisien dan efektif, meliputi perencanaan ruang, pemanfaatan ruang maupun pengendalian ruang.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 46

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

d) Belum tersedianya Rencana Terperinci atau Detail Tata Ruang Kota yang mengatur secara detail ruang dan zonasi di sebagian besar wilayah perkotaan. e) Kurangnya sosialisasi peraturan yang terkait dengan rencana tata ruang serta pengendaliannya. f) Belum optimalnya tim koordinasi penataan ruang daerah dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian tata ruang. g) Belum tersedianya sistem informasi tata ruang daerah sebagai perangkat sosialisasi perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang.

Langkah yang ditempuh : a) Pemetaan secara sistematis mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bandung dan pendataan secara berkala kondisi tata ruang eksisting. b) Penyusunan NSPM (Norma Standar Pedoman dan Manual) di Bidang Tata Ruang. c) Peningkatan kesadaran, pemahaman serta pemberdayaan

masyarakat/stakeholder dalam penataan ruang. d) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia aparatur yang mengelola perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian tata ruang melalui pembinaan rutin maupun diklat. e) Penyediaan peraturan ruang dan zonasi dalam Rencana Terperinci atau Detail Tata Ruang setiap wilayah perkotaan. f) Peningkatan pengawasan dan pengendalian ruang, penerapan sistem insentif dan disinsentif serta penerapan sanksi bagi pelanggar tata ruang.

F. Urusan Perhubungan Permasalahan : a) Kabupaten Bandung masih belum memiliki terminal yang memadai, sehingga prasarana yang berfungsi sebagai penyambung moda

transportasi tersebut saat ini kurang bekerja optimal. Implikasi dari ketiadaan prasarana yang memadai tersebut terjadi kemacetan di setiap lokasi terminal di Kabupaten Bandung. b) Pola terminal dan pasar yang bersatu juga menjadi kendala setiap titik terminal, sehingga di beberapa lokasi lokasi pasar terkadang menjadi terminal liar.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 47

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

c) Disamping terminal, kebutuhan sarana transportasi belum ditata ulang, sehingga media untuk menghubungkan suatu titik ke titik tujuan lain kurang bekerja optimal. Beberapa trayek kendaraan umum yang tersedia saat ini terlihat kosong akibat tumpang tindihnya trayek pada ruas jalan yang sama. d) Masih terbatasnya jumlah ruas jalan penghubung dari wilayah satu ke wilayah lain (terutama daerah permukiman) juga menjadi salah satu hambatan dalam mengatasi kemacetan, sehingga rekayasa lalu lintas untuk mengatasi kemacetan di beberapa ruas jalan kurang begitu optimal. e) Masih banyaknya fasilitas prasarana perhubungan yang belum dimiliki Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, sebagaimana diketahui bahwa hampir semua terminal di Wilayah Kabupaten Bandung adalah milik Desa, sehingga Pemerintah Daerah wajib membayar sewa untuk pelayanan terminal yang mempengaruhi APBD. f) Adanya institusi-institusi lain yang turut terlibat dalam pelaksanaan pemungutan Pendapatan dari Sektor Perhubungan sehingga

menyebabkan target pendapatan yang telah ditetapkan sulit terealisasi dengan baik. g) Masih kurangnya sosialisasi berdisplin lalu lintas serta sanksi bagi pelanggar lalu lintas kepada masyarakat h) Tingkat pertumbuhan kendaraan terutama kendaraan bermotor roda dua yang jauh lebih tinggi dibanding dengan tingkat pertumbuhan sarana prasarana jalan, menyebabkan kapasitas jalan yang tersedia sudah tidak mampu menampung volume lalu lintas yang semakin meningkat. Hal ini menjadi penyebab utama kepadatan lalu lintas yang bermuara pada kemacetan lalu lintas. i) Masih banyak daerah di wilayah Kabupaten Bandung terlayani oleh Angkutan Umum. j) Belum adanya manajemen perparkiran yang belum

Langkah yang ditempuh : a) Membangun kembali/merelokasi terminal-terminal yang ada sehingga tercapai ratio beban kendaraan dengan luasan terminal yang ideal,. Perlu juga diperhatikan perkiraan pertumbuhan daerah yang akan dilayani

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 48

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

sehingga umur efektif terminal bisa lebih lama, dengan demikian jangka waktu terhadap penataan kembali terminal akan lebih lama. b) Mengingat tipologi terminal dan pasar yang selalu berdekatan, penataan ruang terminal-pasar perlu dikaji sedemikian rupa sehingga terminal tidak menjadi pasar dadakan, dan pasar tidak menjadi terminal liar. c) Penataan ulang kendaraan umum dan trayeknya perlu segera dilakukan untuk menghindari penumpukan jumlah kendaraan umum di satu ruas jalan yang akan berakibat pada gejolak sosial dan ekonomi. Perlu segera dipikirkan untuk menggunakan kendaraan umum yang bermuatan lebih banyak, untuk itu diperlukan kajian yang baik dan dukungan keberanian politis untuk melakukannya. d) Sementara menunggu penambahan ruas jalan, perlu dilakukan rekayasa arus lalu-lintas yang lebih efektif, sehingga titik-titik kemacetan dibeberapa titik bisa teratasi. e) Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung perlu memiliki semua fasilitas prasarana perhubungan yang ada di wilayah Kabupaten Bandung. f) Perlu adanya penertiban institusi institusi lain yang turut terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan pendapatan dari sektor perhubungan. g) Perlu adanya koordinasi dengan pihak berwenang dalam hal ini pihak POLRI guna mengamankan fasilitas fasilitas perhubungan yang telah terbangun. h) Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung perlu melakukan peningkatan kapasitas jalan. Serta diperlukan pelaksanaan manajemen dan rekayasa lalu lintas yang tepat sesuai dengan kondisi, situasi dan kebutuhan yang ada di lapangan i) Peningkatan petugas Pengamanan Lalu Lintas rutin terutama pada daerah-daerah rawan kemacetan. Serta melakukan sosialisali dan penyuluhan terhadap masyarakat tentang ketertiban lalu lintas j) Melakukan pendataan dan studi pelayanan dan operasional angkutan penumpang umum serta menyusun masterplan transportasi di wilayah Kab. Bandung, yang pada akhirnya diharapkan dapat menjadi kerangka acuan dalam pengembangan pelayanan, operasional dan pengendalian angkutan umum di wilayah Kabupaten Bandung. k) Pembenahan sarana dan prasarana lalu lintas (terminal, rambu serta peralatan pendukungnya)

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 49

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

G. Urusan Lingkungan Hidup Permasalahan : a) Masih kurangnya kualitas dan kuantitas Sumberdaya Manusia (SDM) dalam pengelolaan lingkungan hidup. b) Kurangnya sosialisasi dalam pengelolaan limbah (padat, cair dan gas) dan pengelolaan lingkungan.. c) Masih rendahnya peran serta stakeholder dalam pengelolaan lingkungan (dunia usaha, pemerintah serta masyarakat). d) Masih tingginya pelanggaran terhadap sempadan sungai. e) Masih rendahnya perlindungan terhadap sumber mata air. f) Masih cukup tingginya tingkat pencemaran lingkungan baik air, udara maupun limbah padat dan B3. g) Masih luasnya lahan kritis yang perlu direhabilitasi. h) Masih terbatasnya alternatif lokasi TPA (adanya pembatasan waktu operasional TPA Babakan). i) Masih terbatasnya upaya pelestarian lingkungan dan pemulihan

lingkungan. j) Masih lemahnya upaya pengendalian di bidang lingkungan k) Permasalahan persampahan sesuai dengan masterplan persampahan sebagai berikut - Kapasitas pengelolaan sampah : Yang menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung adalah tingginya beban pengelolaan yang tidak diimbangi dengan kemampuan dalam aspek operasional dari Dinas Kebersihan yang menjadi pelaksana teknis pengelolaan. a. Tingginya Beban Pelayanan. Beban pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten dikategorikan tinggi disebabkan karena 2 faktor utama yaitu : besarnya jumlah penduduk dan luasnya wilayah administrasi, sehingga pelayanan saat ini terkesan tidak terfokus. b. Rendahnya Kualitas dan Tingkat Pelayanan Tingkat pelayanan Dinas Kebersihan dilihat dari jumlah penduduk yang mampu dilayani oleh sistem eksisting, baru mencapai 20,8 %. Demikian halnya dari Tingkat Keterangkutan sampah ke TPSA, baru mencapai 20,8 %. Kualitas operasional yang masih rendah terlihat dari tingkat kebersihan di seluruh TPS yang ada, masih jauh dari
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 50

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

kondisi bersih. Disamping itu, tingkat kebersihan di permukiman, sarana kota, badan air dan fasilitas lainnya, menujukkan rendahnya kualitas pelayanan yang ada. - Kemampuan persampahan Kelembagaan merupakan : Lembaga atau instansi seluruh pengelola kegiatan

motor

penggerak

pengelolaan sampah dari sumber sampai ke TPA. Kondisi kebersihan suatu kota atau wilayah merupakan output dari rangkaian pekerjaan manajemen pengelolaan persampahan yang keberhasilannya

dipengaruhi oleh banyak faktor. Kapasitas dan kewenangan instansi pengelola persampahan menjadi sangat penting karena besarnya tanggung jawab yang harus dipikul dalam menjalankan roda

pengelolaan yang biasanya tidak sederhana bahkan cenderung cukup rumit sejalan dengan makin tingginya dan kompleknya aktifitas kota. Saat ini Dinas Kebersihan di Kabupaten Bandung sesungguhnya mengemban dua fungsi yaitu sebagai regulator dan operator.

Penggabungan kedua fungsi ini mengakibatkan tidak berjalannya fungsi pengawasan. Kehadiran Badan Perencana Daerah dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung ini akan menjadi sebuah peluang untuk peningkatan kinerja Dinas Kebersihan. Fungsi yang tepat untuk diemban oleh Bapeda adalah fungsi regulator, sehingga Dinas Kebersihan dapat menjalankan fungsi operator dengan lebih efektif. Ketimpangan fungsi tersebut juga tidak didukung dengan SDM yang memadai baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Kemampuan SDM intern Dinas

Kebersihan dalam 2 tahun mendatang selayaknya harus mendapat perhatian besar. - Kemampuan Pembiayaan ; Saat ini alokasi APBD untuk pengelolaan persampahan di Kabupaten Bandungbaru 0,8%. Hal ini menunjukkan perhatian Eksekutif kota dan Legislatif perlu di tingkatkan. Pemikiran bahwa pengelolaan sampah ala kadarnya sudah harus segera ditinggalkan. Dan segera disadari bahwa untuk menjadikan kota bersih memerlukan biaya tinggi. Demikian halnya, dengan efektifitas retribusi yang masih sangat rendah baik dari segi kuantitas maupun kualitas mekanisme penarikannya, menyebabkan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung semata hanya menjadi beban APBD. - Peran Serta Masyarakat :

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 51

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

a. Potensi masyarakat belum dikembangkan. Sudah sejak lama sesungguhnya masyarakat telah mampu melakukan sebagian sistem pengelolaan sampah baik secara individual maupun skala lingkungan terutama di lingkungan permukiman. Hal ini diperkuat dengan ketentuan yang digariskan dalam Peraturan Daerah, sehingga sudah selayaknya kemampuan masyarakat ini akan menjadi potensi yang dapat dikembangkan. b. Rendahnya investasi Dunia Usaha Di Kabupaten Bandung saat ini minat sektor swasta bisa dikatakan mulai ada, walau masih dalam tahap studi kelayakan. Namun implementasinya masih belum ada. Hal ini perlu diantisipasi dengan adanya pengaturan dan penetapan wilayah garapan yang akan diserahkan pada swasta. - Lemahnya Penegakan dan Penaatan Hukum : Secara umum, peraturan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung sudah cukup lengkap dari kehadiran perangkatnya, akan tetapi kesempurnaan materi peraturan memerlukan penyempurnaan.

Langkah yang ditempuh : a) Perlu adanya upaya peningkatan kesadaran, pengetahuan dan

keterampilan dalam pengelolaan lingkungan hidup baik aparatur maupun masyarakat/swasta. b) Pengadaan lokasi untuk TPSA lengkap dengan persyaratan sanitary landfill c) Penambahan sarana prasarana kebersihan. d) Pembangunan infrastruktur TPA serta pengendalian dan penutupan sampah di TPA. e) Perlu adanya upaya-upaya pencegahan dan pengendalian dampak maupun pencemaran lingkungan. f) Diperlukan adanya upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah. g) Langkah yang harus ditempuh terkait masalah persampahan sesuai dengan masterplan eprsampahan antara lain: Desentralisasi Pengelolaan Sampah di Tingkat Kecamatan Implementasi 3R dari hulu ke hilir Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Pengembangan Sarana Prasarana Pengelolaan Sampah Terpadu Penguatan Pembiayaan Pengelolaan Sampah
Bab II Hal. 52

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Re-fungsionalisasi Lembaga Dinas Kebersihan, dengan fungsi utama sebagai operator

Penataan Hukum dan Peraturan Pengelolaan Sampah

H. Urusan Kependudukan Dan Catatan Sipil Permasalahan : a) Belum optimalnya koordinasi serta belum terlaksananya pengelolaan Administrasi Kependudukan dengan tingkat Kecamatan maupun ke tingkat Departemen Dalam Negeri (Program SIAK) b) Sosialisasi Administrasi Kependudukan belum dapat dilaksanakan secara langsung kepada masyarakat c) Adanya ketidaksinkroanan dianatara peraturan yang ada terkait

pengenaan retribusi penggantian biaya cetak (gratis atau tidak) dalam pelaksanaan administrasi penduduk dan pencatatan sipil khususnya pada penerbitan akta catatan sipil. d) Masih sedikitnya penduduk yang memiliki akta kelahiran (20%) serta belum terlayaninya masyarakat keluarga miskin dalam pembuatan Akta Catatan Sipil.

Langkah yang ditempuh : a) Pemanfaatan sarana secara optimal yang ada baik pada tingkat Kabupaten maupun tingkat Kecamatan diarahkan kepada pelaksanaan SIAK secara bertahap b) Pemanfaatan kegiatan tingkat Kabupaten (Pameran, TMM dll) untuk pelayanan di tempat serta sosialisasi kepada petugas di tingkat Kecamatan untuk disosialisasikan kepada masyarakat. c) Peningkatan pelayanan administrasi kependudukan kepada masyarakat. d) Revisi terhadap peraturan daerah yang tidak konsisiten terkait retribusi penggantian biaya cetak administrasi penduduk dan akta pencatatan sipil. e) Peningkatan pelayanan publik bidang kependudukan secara aktif (jemput bola) terhadap akta-akta catatan sipil di wilayah Kabupaten Bandung dan melalui Penyelenggaraan Pameran Pembangunan.

I. Urusan Pemberdayaan Perempuan Permasalahan :

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 53

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

a) Masih banyak terjadi kasus tracfficking yang tidak teridentifikasi dan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dihindari pernikahan yang tidak dikehendaki (pernikahan dini). b) Belum ada lembaga serta program secara terpadu yang khusus menangani permasalahan perempuan. c) Masih kurangnya program pemberdayaan perempuan terutama

masyarakat miskin.

Langkah yang ditempuh : a. Melakukan pembinaan dan pelatihan secara intensif agar tidak terjadi kasus trafficking ataupun pernikahan dini sehingga tidak terjadi tindak kekerasan dalam keluarga. b. Penuysunan program dan pembentukan kelembagaan yang berkaitan dengan perlindungan dan pemberdayaan perempuan.

J. Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Permasalahan : a) Rendahnya pemahaman pria/suami tentang KB-KR serta belum tertibnya pengendalian drop out peserta KB terutama Akseptor Pil dan Suntik b) Masih mahalnya biaya pelayanan KB sehingga masih rendahnya partisipasi keluarga miskin ber KB c) Terbatasnya sarana dan prasarana pelayanan KB (IUD Kit, Obgynbed, Obat Side Efek) d) Data Base Keluarga Miskin tidak optimal e) Kurangnya bantuan dana Operasional Institusi Pos KB desa f) Kurangnya bantuan Modal bagi Kelompok UPPKS g) Kurangnya sosialisasi yang efektif terhadap kepala desa dan masyarakat tentang Tribina dan pendataan keluarga h) Masih kurang optimalnya sosialisasi kesehatan reproduksi kepada remaja. i) Kurangnya partisipasi pria dalam program KB (sebagai akseptor) j) Masih adanya tindak kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak

Langkah yang ditempuh :

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 54

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

a) Mengadakan sosialisasi tentang KB-KR kepada peserta KB terutama kepada para suami/pria b) Pengadaan IUD Kit, Obginbed, Obat side efek c) Pengadaan sarana dan prasarana tenaga entry data keluarga miskin d) Peningkatan pelayanan KIE, KB dan Alkon bagi masyarakat terutama keluarga Miskin. e) Mingkatkan bantuan operasional bagi institus Pos KB Desa f) Meningkatkan bantuan dana bergulir kepada kelompok-kelompok UPPK k) Mengadakan pelatihan tentang Tribuna.dan pendataan keluarga melalui pemberdayaan masyarakat desa l) Optimalisasi sistem informasi pendataan keluarga sejahtera dan KB terpadu. m) Peningkatan kapasitas dan jaringan kelembagan pemberdayaan

perempuan dan anak

K. Urusan Sosial Permasalahan : a) Pengumpulan dan pengolahan data PMKS dan PSKS mengalami keterlambatan dan pengumpulan data dari pihak PSM dan Kecamatan karena masalah koordinasi ke tingkat desa memerlukan dana dan mobilitas b) Rencana alokasi anggaran yang telah ditetapkan dalam RASK untuk mencapai target kinerja sering mengalami efisiensi pada pertengahan tahun anggaran sehingga mengurangi volume anggaran. c) Koordinasi antar stakeholder dalam pembangunan bidang kesejahteraan sosial belum sinergis dan terpadu d) Tidak adanya tenaga pendamping sosial yang dapat memantau lebih dekat perkembangan usaha kelompok e) Masih kurangnya kualitas dan kuantitas SDM bidang sosial f) Program dan kegiatan pembangunan bidang kesejahteraan sosial belum diketahui dan dipahami oleh masyarakat terutama stakeholder wilayah setempat sehingga masukan program dan kegiatan bidang kesejahteraan sosial dalam kegiatan Musrenbang masih terbatas. g) Pelaksanaan program dan kegiatan bidang sosial belum terlaksana secara efektif dan terpadu

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 55

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

h) Meningkatnya eskalasi permasalahan sosial akibat kenaikan BBM dan tingginya masyarakat miskin. i) Kurang optimalnya penanganan masalah kesejahteraan sosial sebagai akibat perubahan struktur penduduk dan perilaku masyarakat sebagai dampak mobilitas penduduk yang tidak terkendali. j) Sosialisasi dan need assesment belum dilaksanakan secara maksimal sehingga menghambat kepada penentuan kebutuhan dan bantuan.

Langkah yang ditempuh : a) Meningkatkan koordinasi dalam pengumpulan data dan informasi PMKS, PSKS dan sasaran lainnya dari pihak terkait b) Mengajukan alokasi anggaran sesuai target kinerja yang akan dicapai, terutama dalam peningkatan SDM petugas melalui bimbingan dan latihan yang lebih intensif c) Meningkatkan koordinasi antar stakeholder dalam pembangunan bidang kesejahteraan sosial d) Memaksimalkan potensi Pekerja Sosial Masyarakat, Pengurus Karang Taruna, Organisasi Kewanitaan dan Organisasi Sosial/Yayasan melalui berbagai pembinaan motivasi instensif agar dapat menanggulangi permasalahan kesejahteraan sosial e) Fasilitasi program pemberdayaan masyarakat penanggulangan masalah sosial terutama lewat ulama serta tokoh masyarakat. f) Melakukan sosialisasi pola-pola pembangunan bidang kesejahteraan sosial terhadap aparat desa di daerah sehingga dapat mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan di bidang kesejahteraan sosial.

L. Urusan Tenaga Kerja Permasalahan : a) Masih rendahnya partisipasi angkatan kerja (TPAK) dan angka pengangguran masih tinggi. b) Masih tingginya angkatan kerja berpendidikan rendah dan di bawah kualifikasi kerjanya. c) Kurangnya harmonisnya hubungan industrial serta kesefahaman terkait aspek teknis (kegiatan pekerjaan) dan non teknis (upah, kesejahteraan, kesehatan dan lain-lain)

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 56

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

d) Banyak Perusahaan yang tidak mentaati aturan tentang pembayaran UMK serta jaminan bagi tenaga kerja e) Masih kurangnya sosialisasi dan pelatihan tenaga kerja siap pakai. f) Belum optimalnya pelatihan untuk tenaga kerja industri kecil. g) Masih kurangnya pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan pengangguran dan tenaga kerja berbasis wilayah. h) Masih tingginya angka kecelakaan kerja.

Langkah yang ditempuh : a) Peningkatan kesempatan kerja dan pemberdayaan penganggur dengan Program Gerakan tanggulangi angkatan kerja Gertak dan

pengembangan sektor informal dan usaha mandiri terutama melalui partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. b) Peningkatan pembinaan yang meliputi penyuluhan, pengawasan dan pemindahan terhadap perusahaan-perusahaan atas pelanggaran

ketentuan danjaminan ketenagakerjaan serta fasilitasi penyelesaian prosedur pemberian perlindungan hukum dam jaminan sosial untuk tenaga kerja. c) Peningkatan kemampuan/kualitas, produktivitas dan keterampilan tenaga kerja melalui bimbingan teknis pengelola LLS serta pelatihan dalam berbagai bidang. d) Peningkatan program monitoring dan evaluasi ketenagakerjaan. e) Optimalisasi program transmigrasi lokal

M. Urusan Kepemudaan dan Olahraga Permasalahan : a. semakin mahalnya pembinaan dan pengembangan olah raga berprestasi b. kurangnya sponsor dalam mendukung program olahraga dankepemudaan c. kurangnya even2 olahraga dalam rangka menggali potensi olahraga dan kepemudaan d. Semakin kurangnya pemberdayaan pemuda berpartisipasi dalam

pembangunan. e. Belum terpantaunya dan terevaluasinya pembangunan sarana dan prasarana olahraga. f. Belum terbinanya masyarakat penggerak dan pelopor keolahragaan. g. Belum teridentifikasinya bakat dan potensi pelajar dalam olahraga.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 57

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

h. Rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan dikalangan pemuda. i. Rendahnya nilai religius dikalangan pemuda.

Langkah yang ditempuh : a. Peningkatan penjaringan bibit olahragawan berprestasi melalui jalur sekolah dan pendidikan formal dan nonformal. b. Peningkatan peran pemuda berpartisipasi dalam pembangunan terutama terkait dengan kebencanaan (taruna siap siaga). c. Mendorong pengembangan minat dan bakat generasi muda dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya dan olah raga. d. Peningkatan pemahaman pemuda terhadap akibat NAPZA. e. Pelatihan peningkatan kemampuan pemuda dan membina kemitraan dengan dunia usaha. f. Pencarian atlet berbakat melalui PORKAB. g. Peningkatan sarana dan prasarana olahraga di Kabupaten Bandung. h. Pembinaan kewirausahaan dalam industri olahraga.

N. Urusan Penanaman Modal Permasalahan : a. Belum optimalnya laju pertumbuhan investasi sektor swasta yang disebabkan antara lain karena belum adanya regulasi sesuai standar serta masih panjangnya proses perijinan. b. Belum efektifnya pelayanan perijinan satu pintu yang disebabkan belum selesainya penyusunan payung hukum yang mengatur perijinan dan penyederhanaan perijinan. c. Belum optimalnya koordinasi antar SKPD untuk penyediaan data dan penyepakatan jenis-jenis investasi yang akan ditawarkan kepada investor. d. Belum adanya kebijakan yang berkaitan dengan pemberian insentif bagi investor.

Langkah yang ditempuh : a. Penyempurnaan produk-produk hukum yang terkait dengan penanaman modal, kemudahan berinvestasi dan pemberian insentif bagi investor. b. Pemutakhiran data perijinan serta otomatisasi proses perijinan yang menghasilkam proses perijinan yang efektif dan efisien.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 58

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

c. Sosialisasi dan promosi pelayanan perijinan dan penanaman modal melalui berbagai media. d. Peningkatan koordinasi antar SKPD dalam upaya pemenuhan data yang dibutuhkan investor dan jenis investasi yang akan ditawarkan.

O. Urusan Koperasi dan UKM Permasalahan : a. Belum optimalnya peran dan fungsi koperasi dalam mengembangkan potensi ekonomi masyarakat yang ditandai dengan bertambahnya jumlah koperasi yang tidak aktif dan menurunnya jumlah anggota koperasi. b. Belum tersedianya sistem dan pola pengelolaan UKM yang terintegrasi dengan berbagai sektor. c. Belum optimalnya pembinaan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang disebabkan belum tersedianya data perkembangan UKM yang akurat. d. Belum optimalnya pemanfaatan dana-dana CSR yang berasal dari perusahaan terkait pengembangan UKM. e. Masih sulitnya UKM memperoleh akses ke lembaga permodalan perbankan dan terbatasnya pangsa pasar . f. Belum tersedianya mekanisme yang mengatur penyaluran kredit mikro bagi kelompok UKM yang baru berkembang.

Langkah yang ditempuh : a. Penyediaan data dan informasi perkembangan UKM serta analisis data untuk perencanaan pengembangan UKM. b. Penciptaan manajemen dan pola pemberdayaan UKM terintegrasi dengan berbagai sektor dari hulu ke hilir dalam usaha peningkatan perekonomian daerah. c. Penyusunan mekanisme penyaluran dan penyediaan kredit mikro yang berasal dari dana APBD dengan syarat-syarat yang ringan. d. Fasilitasi dan kemitraan yang mempertemukan UKM dengan lembaga keuangan, dana CSR dan pasar. e. Peningkatan kemampuan/profesionalisme koperasi, usaha kecil dan menengah melalui melalui pelatihan serta magang. f. Peningkatan koordinasi program pengembangan Koperasi dan UKM antar SKPD yang berbasis wilayah.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 59

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

P. Urusan Komunikasi dan Informatika Permasalahan : a. Masih terbatasnya sumber daya profesional pengelola urusan komunikasi dan telekomunikasi. b. Belum efektif dan efisiennnya pemanfaatan teknologi informasi dan telekomunikasi dalam pengelolaan dan distribusi data antar satuan kerja terhubung dalam simpul e - government. c. Masih kurangnya pengendalian dan pengawasan terhadap pemanfaatan sistem telekomunikasi (termasuk BTS) dan teknologi informasi.

Langkah yang ditempuh : a. Peningkatan efektifitas dan efesiensi pengelolaan sistem informasi dan komunikasi melalui pihak ketiga b. Peningkatan pengeloalan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam jaringan basisdata menuju e-government melalui perubahan kebiasaan menuju pola sistemik. c. Penyusunan perda terkait pengendalian dan pengawasan terhadap pemanfaatan sistem telekomunikasi dan teknologi informasi.

Q. Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Permasalahan : a. masih adanya konflik horizontal antar masyarakat b. Masih adanya penyakit masyarakat (Miras, premanisme, prostitusi, pencurian dan perjudian) c. Masih adanya aliran sesat d. Masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui dan memahami tentang Perda / Produk hukum lainnya (sehingga masih banyaknya pelanggaran terhadap Perda) e. Masih adanya daerah rawan bencana alam (banjir dan longsor)

Langkah yang ditempuh : a. Penertiban secara berkala b. Pembinaan secara efektif kepada masyarakat oleh pemerintah, ulama serta tokoh masyarakat

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 60

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

c. Peningkatan kemampuan anggota linmas desa (Linas init 20 orang/desa) dan pemberian bantuan dana operasional untuk setiap bulan bagi anggota linmas desa. d. Melaksanakan koordinasi kerjasama dengan unsur keamanan

(Polres/Polsek dan Kodim/Koramil). e. Peningkatan kemampuan teknis keterampilan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. f. Mengadakan pertemuan ulama umaro tokoh masyarakat dan tokoh agama. g. Melaksanakan penyuluhan kepada siswa /siswi tentang bahaya narkoba dan HIV. h. Peningkatan kewaspadaan dini terhadap gangguan trantib termasuk bencana alam. i. Penyuluhan/Sosialisasi kesadaran hukum, perda-perda dan produk hukum lainnya.

R. Urusan Pemerintahan Umum Permasalahan : a. Kurangnya komitmen stakeholder dalam pemanfaatan dokumen

perencanaan sebagai acuan penyusunan program b. Belum optimalnya proses monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan unit kerja dengan mekanisme perencanaan dan pengawasan c. Kurangnya aparat yang memadai/sesuai standar dalam melakukan pemeriksaan, pengawasan dan pengendalian. d. Masih kurangnya SDM, kinerja dan disiplin aparatur.

Langkah yang ditempuh : a. Meningkatkan sinergitas dan koordinasi yang dinamis antar SKPD serta stakeholder terkait. b. Peningkatan kualitas SDM dan efektiftas kerja. c. Mengadakan dan mengirimkan peserta diklat, tugas belajar serta izin belajar. d. Dilakukannya pakta integritas bagi aparat Kabupaten Bandung. e. Peningkatan pembinaan terhadap aparat diantaranya sembahyang dzuhur berjamaah, kultum/siraman rohani, senam bersama setiap hari Jumat.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 61

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

S. Urusan Pemberdayaan Masyarakat Desa Permasalahan : a. Belum adanya peraturan Bupati/Keputusan Bupati tentang petunjuk pelaksanaan urusan Pemerintah Kabupaten Bandung yang

pengaturannya diserahkan kepada desa sebagai tindak lanjut Perda Nomor 10 tahun 2007 tentang urusan Pemerintahan Kabupaten yang pengaturannya diserahkan kepada desa di lingkungan Pmerintah Kabupaten Bandung. b. Masih lemahnya pengawasan serta pengendalian dalam

penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat desa. c. Belum adanya regulasi/aturan yang jelas pelimpahan kewenangan kepada pemerintah desa. d. Belum tersedianya mekanisme evaluasi dan monitoring yang efektif terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa. e. Masih kurangnya produk hukum di desa (Perdes, Peraturan/Keputusan Kepala Desa). f. Umumnya di desa belum mempunyai RPJM Desa dan belum tertibnya pelaksanaan APBD (Desa). g. Masih kurang aktifnya/kurang optimalnya kinerja kelembagaan

masyarakat desa. h. SDM Kelembagaan Pemerintah Desa dan Kelembagaan Masyarakat masih perlu ditingkatkan.

Langkah yang ditempuh : a. Peningkatan pengendalian dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa b. Peningkatan program-program swadaya dan swakelola masyarakat desa melalui fasilitasi pemberdayaan. c. Peningaktan kemampuan perangkat desa dan aparat kelembagaan masyarakat desa dalam bidang pelaksanaan pemerintahan desa,

kemasyarakatan dan pembangunan. d. Fasilitasi/pembinaan terhadap desa dan kelembagaan kemasyarakatan desa tentang Penyusunan produk hukum (Perdes/Produk hukum lainnya), peningkatan kemampuan administrasi, pengelolaan administrasi

keuangan, kemampuan teknis lainnya.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 62

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

e. Mengadakan diklat bagi kepala desa/BPD, aparat desa dan aparat kelembagaan desa

T. Urusan Kebudayaan Permasalahan : a. Lunturnya nilai luhur adat istiadat serta norma yang disebabkan kurangnya apresiasi terhadap pentingnya pola hidup, prilaku dan cara pandang menurut adat (sunda) yang harmonis dengan alam tatar sunda Langkah yang ditempuh : a. Menghidupkan kajian budaya melalui pendidikan, keterampilan/seni dan olahraga. b. Memberikan kesempatan kepada masyarakat dalam melakukan apresiasi terhadap seni sunda melalui event (termasuk hari bersejarah), kajian (termasuk pengenalan situs budaya) dan pertemuan. c. Meningkatkan upaya penggalian seni, budaya serta adat istiadat dalam pelaksanaan tata pemerintahan dan peraturan perundangan / perda.

U. Urusan Kearsipan Permasalahan : a. Kurang optimanya pemanfaatan lembaga kearsipan selain kurangnya sumber daya manusia yang sesuai standar untuk memahami teknologi informasi dan komunikasi. b. Belum mempunyai depo arsip yang refresentatif di tingkat Kabupaten.

Langkah yang ditempuh : a. Peningkatan peran yang jelas lembaga kearsipan dalam sistem egovernment yang telah terintegrasi. b. Mengadakan, mengirimkan pelatihan tentang kearsipan bagi para petugas arisp di setiap SKPD c. Mengadakan pembinaan kepada petugas arsip pada setiap

SKPD\Pembangunan depo arsip dan penunjang lainnya seperti CD/VCD

V. Urusan Perpustakaan Permasalahan :


Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 63

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

a. Masih rendahnya minat baca masyarakat b. Terbatasnya sarana dan prsarana perpustakaan serta SDM

Langkah yang ditempuh : a. Pengembangan perpusatakaan keliling roda empat dan dua b. Pengembangan perpusatakaan desa dan kecamatan.

W. Urusan Statistik Permasalahan : a. Kurangnya koordinasi antar stakeholder dalam penyediaan data, terutama karena sulitnya penghimpunan data b. Belum seragamnya penentuan model data

Langkah yang ditempuh : a. Peningkatan koordinasi secara berkala dalam pengelolaan data b. Pembangunan Infrastruktur Data Daerah dimana disepakatinya model dan bentuk data sesuai standar yang berlaku, pengelolaan data, pemeliharaan data serta pengintegrasian data.

X. Urusan Pertanian dan Kehutanan Permasalahan : a. Belum optimalnya koordinasi antar SKPD yang berbasis kewilayahan terkait dengan pengembangan pertanian. b. Terjadinya alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi permukiman dan industri. c. Belum optimalnya peran dan fungsi kelembagaan petani d. Belum optimalnya peran penyuluh lapangan e. Belum optimalnya produktivitas, mutu dan efisiensi usaha tani yang disebabkan karena sempitnya kepemilikan lahan dan lemahnya

permodalan untuk usaha tani. f. Adanya kelangkaan pupuk yang disebabkan adanya gangguan dalam distribusi sarana produksi pertanian. g. Masih tingginya tingkat kehilangan hasil produksi akibat penanganan pasca panen yang tidak tepat. h. Tingginya tingkat kerusakan jaringan irigasi dan menurunnya debit air untuk keperluan irigasi.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 64

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

i.

Musim kemarau yang panjang menyebabkan kekeringan terutama pada pertanian lahan sawah dan berkurangnya lahan usaha perikanan.

j.

Belum optimalnya penanganan kesehatan hewan yang disebabkan kurangnya SDM teknis kesehatan hewan

k. Masih tingginya tingkat kematian ikan yang disebabkan menurunnya kualitas perairan, fluktuasi cuaca dan tingginya ancaman penyakit ikan menular. l. Mewabahnya penyakit ternak menular seperti flu burung dan brucellosis pada sapi perah. m. Masih kurangnya mekanisme pengontrolan terhadap kualitas ternak yang telah dipotong di pasaran dan tingginya peredaran daging illegal. n. Masih terdapatnya lahan kritis seluas 7.275 ha yang tersebar di 115 desa 24 kecamatan. o. Belum adanya peta lahan kritis yang akurat. p. Belum optimalnya koordinasi antar stakeholder terkait dalam pelaksanaan gerakan rehabilitasi hutan.

Langkah yang ditempuh : a. Meningkatkan koordinasi antar SKPD berbasis wilayah dalam rangka pengembangan pertanian. b. Penyusunan regulasi untuk menghambat laju alih fungsi lahan pertanian. c. Revitalisasi kelembagaan kelompok tani dan gabungan kelompok tani. d. Revitalisasi kelembagaan penyuluh pertanian dan peningkatan kapasitas penyuluh. e. Meningkatkan akses petani/kelompok tani ke lembaga keuangan agar dapat memperoleh permodalan dengan syarat ringan. f. Menyusun mekanisme penyaluran kredit mikro yang didanai dari APBD yang diperuntukkan bagi permodalan sektor pertanian. g. Peningkatan koordinasi dengan SKPD terkait untuk mengamankan jalur distribusi pupuk dan mencari alternatif pupuk organik untuk mengurangi ketergantungan kepada pupuk kimia. h. Penerapan teknologi tepat guna untuk mengurangi kehilangan hasil dan untuk mengendalikan hama dan penyakit secara terpadu yang ramah lingkungan. i. Rehabilitasi jaringan irigasi, fasilitasi penyediaan mesin pompa air dan mengamankan sumber-sumber air yang digunakan untuk irigasi.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 65

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

j.

Penyediaan sarana operasional pelayanan kesehatan hewan.

k. Peningkatan kemampuan peternak mengenai produksi pengendalian dan antisipasi penyebaran penyakit ternak serta penanganan pasca panen. l. Peningkatan kerjasama petani dengan pengusaha dalam memasarkan produk pertanian atau menampung hasil pertanian. m. Peningkatan mekanisme kontrol terhadap produk pertanian lokal maupun regional melalui sweeping dan operasi pasar. n. Pemetaan lahan kritis berbasis spasial sebagai dasar pelaksanaan program rehabilitasi lahan kritis. o. Peningkatan koordinasi dengan stakeholder dan peningkatan pelibatan masyarakat dalam program rehabilitasi lahan kritis.

Y Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral Permasalahan : a. Belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam yang dapat dijadikan sumber energi alternatif. b. Masih tingginya ketergantungan kepada PLN dalam hal penyediaan jaringan listrik. c. Masih terdapatnya kegiatan usaha pemanfaatan potensi pertambangan dan energi yang tidak berwawasan lingkungan. d. Lemahnya pengawasan dan pengendalian terhadap eksploitasi sumber daya alam termasuk air. e. Kurangnya pemberdayaan masyarakat sekitar dalam pengelolaan

eksploitasi sumberdaya mineral dan energi

Langkah yang ditempuh : a. Pengkajian potensi sumber daya alam wilayah yang dapat dijadikan energi alternatif. b. Peningkatan fungsi pengendalian dan pengawasan terhadap kegiatankegiatan pemanfaatan Sumber daya mineral. c. Inventarisasi data dan peta potensi Sumber daya mineral dan energi. d. Peningkatan kerjasama dan koordinasi dengan pihak-pihak perusahaan untuk memanfaatkan CSR (Corporate Sosial Responsibility). e. Penyusunan Perda pengelolaan sumber daya mineral dan energi.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 66

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Z. Urusan Pariwisata Permasalahan : a. Belum optimalnya kerjasama Pemda dan pihak lain (Perhutani, PTP dan lain-lain) sebagai pemilik obyek-obyek wisata. b. Belum memadainya infrastruktur jalan menuju kawasan wisata bagian selatan yang masih merupakan kewenangan propinsi. c. Belum tertatanya beberapa obyek wisata potensial yang masih

merupakan kewenangan desa. d. Belum optimalnya koordinasi SKPD terkait dalam upaya pengembangan obyek wisata. e. Kurang optimalnya implementasi masterplan pariwisata. f. Kurangnya penggalian potensi wisata setelah pemekaran Kabupaten Bandung

Langkah yang ditempuh : a. Peningkatan kerjasama dan koordinasi dengan pihak lain dalam upaya pengembangan obyek wisata. b. Peningkatan koordinasi dengan pihak Pemerintah Propinsi dalam rangka meningkatkan aksesbilitas dan penyediaan infrastruktur menuju obyek wisata. c. Implementasi program-program sesuai yang diamanatkan dalam Perda tentang RIPPDA. d. Peningkatan koordinasi antara SKPD dalam upaya menyediakan fasilitas penunjang pariwisata.

AA. Urusan Industri Permasalahan : a. Belum optimalnya upaya pembinaan Industri Kecil Menengah (IKM) yang disebabkan belum tersedianya data dasar perkembangan industri kecil dan menengah. b. Masih rendahnya daya saing produk IKM yang disebabkan permodalan yang terbatas dan rendahnya inovasi produk. c. Belum optimalnya pemanfaatan dana-dana CSR yang berasal dari perusahaan terkait pengembangan IKM.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 67

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

d. Belum optimalnya aksesibilitas produk IKM ke potensi-potensi pasar yang ada. e. Belum optimalnya koordinasi program antar SKPD yang terkait

pengembangan industri. f. Belum tersedianya regulasi yang efektif terkait kebijakan pengembangan industri yang terintegrasi dengan sistem infrastruktur lainnya.

Langkah yang ditempuh : a. Penyediaan data dan informasi perkembangan IKM serta analisis data untuk perencanaan pengembangan IKM. b. Penyusunan mekanisme penyaluran dan penyediaan kredit mikro yang berasal dari dana APBD dengan syarat-syarat yang ringan. c. Fasilitasi dan kemitraan yang mempertemukan IKM dengan lembaga keuangan, dana CSR dan pasar. d. Peningkatan koordinasi program pengembangan IKM antar SKPD yang berbasis wilayah. e. Penyusunan regulasi yang mengatur pengembangan IKM mulai dari hulu sampai hilir.

BB. Urusan Perdagangan Permasalahan : a. Belum adanya regulasi dalam penanganan dan pengelolaan tradisional dan modern. b. Belum optimalnya upaya pengawasan terhadap distribusi barang-barang strategis. c. Belum optimalnya penataan pasar yang ditandai dengan keberadaan sarana dan prasarana pasar yang tidak memadai. d. Belum optimalnya penataan pedagang kaki lima e. Belum optimalnya upaya perlindungan konsumen yang ditandai masih adanya produk yang tidak aman dan tidak layak jual di pasaran. f. Masih kurangnya informasi pasar dan sarana promosi yang dapat membantu pemasaran produk-produk yang dihasilkan masyarakat pasar

(industri kecil, produk pertanian, peternakan dan lain-lain).

Langkah yang ditempuh :

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 68

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

a. Penyusunan regulasi dan pengaturan keberadaan pasar tradisional dan modern. b. Peningkatan kerjasama dengan aparat penegak hukum dalam rangka pengawasan distribusi barang-barang strategis. c. Peningkatan kerjasama dengan swasta dan Pemerintah Propinsi serta Pusat terkait revitalisasi pasar tradisional. d. Penataan pasar yang dikaitkan dengan upaya penertiban dan

penempatan pedagang kali lima. e. Peningkatan kerjasama dengan swasta serta pemerintah daerah lainnya terkait pemasaran produk. f. Meningkatkan upaya perlindungan konsumen melalui kemitraan dengan lembaga perlindungan konsumen.

2.4 Isu Strategis dan Masalah mendesak 2.4.1 Kondisi Sosial 2.4.1.1 Pendidikan Jika dilihat berdasarkan komponennya, peningkatan IPM Kabupaten Bandung disumbang oleh indeks pendidikan yang semakin baik, dari 82,03 persen pada tahun 2003 menjadi 83,33 pada tahun 2004, dan 84,12 persen pada tahun 2005, 84,20 persen pada tahun 2006 serta 84,90 persen tahun 2007. Indeks pendidikan ini merupakan agregat dari AMH (Angka Melek Huruf) dan Tingkat Partisipasi pendidikan murid (APK, APM, APS). Indikator-indikator tersebut menunjukan seberapa besar anak usia menurut tingkat pendidikan tertentu berada dalam lingkup pendidikan dan penyerapan pendidikan formal terhadap penduduk usia sekolah. Persentase penduduk dewasa (usia 15 tahun keatas) yang melek huruf di Kabupaten Bandung meningkat dari 98,23 persen pada tahun 2004 menjadi 98,65 persen di tahun 2005, 98,70 persen pada tahun 2006 dan 98,75 pada tahun 2007. Demikian pula rata-rata lama sekolah meningkat dari 8,03 tahun pada tahun 2004, menjadi 8,26 tahun pada tahun 2005, 8,39 tahun pada tahun 2006 dan 8,58 pada tahun 2007. (Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Bandung Tahun 2007) Namun demikian jika melihat target yang harus dicapai Bandung Kabupaten

berdasarkan proyeksi indikator makro yang dikeluarkan oleh BPS


Bab II Hal. 69

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Kabupaten Bandung Tahun 2006 maka capaian indikator RLS dan AMH pada tahun 2010 adalah 9,03 dan 99,50, artinya dalam kurun waktu 4 tahun harus mengejar point RLS sebesar 0,45 dan AMH sebesar 0,75. Kondisi tersebut di atas merupakan tantangan yang cukup berat.

Tabel 2.2 APK Menurut Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Bandung Tahun 2005 2007
Jenjang Pendidikan
(2) SD SLTP SLTA PT

2005 Lakilaki
(3) 104,90 82,43 50,07 9,10

2006 Total
(5) 105,11 80,51 47,06 8,63

2007 Total
(8) 125,91 80,25 45,79 7,78

No

Perempuan
(4) 105,35 77,55 42,85 5,25

Lakilaki
(6) 129,90 75,90 43,43 9,10

Perempuan
(7) 121,73 85,18 48,47 6,54

Lakilaki
(9) 99,96 87,88 46,35 12,06

Perempuan
(10) 103,07 85,06 51,31 8,75

Total
(11) 101,48 86,46 48,63 10,36

(1) 1 2 3 4

Sumber : BPS Kabupaten Bandung, IPM 2005-2007

Angka Partisipasi Murni (APM) adalah indikator yang menunjukan proporsi penduduk yang usianya sesuai dengan usia sekolah yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan. APM SD di Kabupaten Bandung pada tahun 2007 sebesar 90,29 persen, artinya lebih dari 90 persen penduduk usia sekolah SD bersekolah tepat waktu, sesuai dengan usia sekolah dan jenjang pendidikannya.

Tabel 2.3 APM Menurut Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Bandung Tahun 2005 2007
2005 Lakilaki
(3) 93,30 67,48 41,42 7,12

No

Jenjang Pendidikan
(2) SD SLTP SLTA PT

2006 Total
(5) 93,37 66,28 38,02 6,30

2007 Total
(8) 91,01 63,27 35,91 5,24

Perempuan
(4) 93,43 65,07 33,36 5,53

Lakilaki
(6) 93,38 62,56 33,82 5,49

Perempuan
(7) 88,54 64,07 38,28 5,01

Lakilaki
(9) 89,42 66,55 35,52 8,78

Perempuan
(10) 91,21 66,08 35,96 6,49

Total
(11) 90,29 66,32 35,72 7,6

(1) 1 2 3 4

Sumber: BPS Kabupaten Bandung, IPM 2005-2007

Pendidikan yang sedang diikuti digambarkan secara umum oleh Angka Partisipasi Sekolah (APS). Pada diagram berikut memperlihatkan bahwa APS
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 70

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

penduduk laki-laki relatif lebih baik dibandingkan APS penduduk perempuan pada semua kelompok umur pendidikan. Gambar 2.13 Diagram APS Menurut Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Bandung Tahun 2007
100 90 80 70 60 APS 50 40 30 20 10 0
Laki-Laki Perempuan Laki-laki + Perempuan SD 96,67 98,7 97,66 SLTP 79,73 83,63 81,69 SLTA 42,41 41,21 41,86 PT 10,82 7,19 8,96

Jika dilihat dari APM dan APK tahun 2007 yang ada tersebut yaitu APM SD/MI sebesar 90,29%, APM SMP/MTs sebesar 66,32%, APM SMA/MAK sebesar 35,72%, pencapaian AMH sebesar 98,75%, APK SD/MI sebesar 101,48%, SMP/MTs sebesar 86,46% dan SMA/SMK/MAK sebesar 48,63% dan karena Kabupaten Bandung ditargetkan pada tahun 2008 secara Nasional termasuk harus tuntas madya (dicirikan dengan APM antara 86 s.d 90% dan APK mencapai angka 98%), maka Kabupaten Bandung harus mengejar point standar tersebut dalam kurun waktu yang tersisa tinggal 2 tahun berjalan. Jenis pendidikan yang mempunyai peluang paling besar adalah sekolah kejuruan. Oleh karena itu berbagai upaya terus dilakukan, seperti

pengembangan SMK (pembukaan program keahlian baru) atau mendirikan SMK baru dengan harapan rasio SMA dan SMK menjadi 40 berbanding 60, membentuk kerjasama Tri Partied sehingga pada gilirannya lulusan SMK bukan hanya mampu merebut pasar tenaga kerja tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja. Pada saat ini rasio SMA dan SMK di Kabupaten Bandung posisinya masih 3 berbanding 1. Jadi masih membutuhkan upaya yang lebih keras lagi untuk mencapai rasio yang diharapkan. Dalam rangka menunjang fungsi pendidikan melalui pendidikan anak usia dini, di Kabupaten Bandung hanya terdapat 1 (satu) TK Pembina, idealnya di tiap Kecamatan terdapat 1 TK Pembina, dari jumlah TK sebanyak 288 dan RA
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 71

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

sebanyak 217 yang tersebar sampai Kecamatan dan Desa ternyata peran swasta sangat dominan ditandai dengan banyak berdirinya TK/RA yang dimiliki oleh masyarakat. Namun disisi lain perhatian Pemerintah terhadap Program Anak Usia Dini masih kurang, ditandai dengan minimnya anggaran bagi program pengembangan PAUD dibandingkan dengan jenjang di atasnya, baik terhadap kelompok usia 5 6 tahun (sasaran TK/RA), kelompok usia 2 4 tahun

(sasaran kelompok bermain) serta usia 0-2 tahun sasaran Tempat Penitipan Anak (TPA) padahal kelompok-kelompok umur tadi memiliki peran yang sangat penting dalam mengawal pertumbuhan otak anak, para ahli menyebutnya Golden Age (usia emas) . Pemerataan dan perluasan akses pendidikan di Kabupaten Bandung diarahkan pada penuntasan wajar dikdas 9 tahun sebagai prioritas sampai tahun 2008 yang diawali dengan perintisan dan penuntasan wajar 12 tahun. Penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun menjadi prioritas, mengingat program ini secara nasional telah menetapkan target sebagaimana diatur dalam Intruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional percepatan penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun dan pemberantasan buta aksara. Pemerintah Kabupaten Bandung menyadari bahwa pendidikan sebagai proses pemanusiaan niscaya tidak bisa direduksi sebagai kegiatan belajar mengajar yang hanya berlangsung disekolah sebagai pendidikan formal tapi juga harus dikembangkan keberlangsungannya melalui jalur pendidikan non formal dan pendidikan informal. Dalam penyelenggaraan pendidikan non formal, dukungan Pemerintah Kabupaten Bandung dilaksanakan melalui penyelenggaraan Pendidikan Luar Sekolah, pembinaan generasi muda, pembinaan olah raga masyarakat serta pendidikan anak usia dini (kelompok bermain, tempat penitipan anak). Pendidikan Luar Sekolah dilaksanakan melalui penyelenggaraan kejar Paket A, Paket B dan Paket C, Kursus-kursus, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, lomba-lomba, program pendidikan life skill, Keaksaraan fungsional serta mendorong kegiatan kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan juga kegiatan Sanggar. Berkaitan dengan misi ketiga Pemerintah Kabupaten Bandung yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia dan misi kelima adalah

meningkatkan kesalehan sosial berlandaskan iman dan taqwa, maka misi ini menuntut pembangunan pendidikan yang memfokuskan program pada

pendidikan budi pekerti, pendidikan yang menggabungkan antara qolbu, akal


Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 72

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

dan jasadiah. Tidak hanya pendidikan yang sekedar menstransfer ilmu tapi juga membangun manusia yang memiliki karakter sehingga mutu lulusannya mampu menjadi tenaga kerja yang siap pakai, produktif, cerdas, berdaya saing serta memiliki iman dan taqwa. Terjadinya dekadensi moral atau penurunan budi pekerti (akhlakul karimah) di kalangan anak-anak dan kelompok pemuda sebaya, ditandai dengan maraknya penyalahgunaan narkoba, meningkatnya kriminalitas di kalangan remaja serta meningkatnya jumlah anak jalanan dan anak terlantar, dapat berpengaruh terhadap menurunnya kualitas pendidikan dengan meningkatnya angka putus sekolah maupun angka mengulang. Menurut data dari Dinas Sosial Kabupaten Bandung tercatat korban narkoba sebanyak 367 orang, anak nakal sebanyak 169 orang, anak terlantar sebanyak 660 orang, serta wanita tuna susila 250 orang. Hal ini dapat dimengerti bahwa pendidikan budi pekerti dipendidikan formal dalam aplikasinya masih bersifat kognitif belum kepada apektif (perilaku) dan praktik, sementara pendidikan non formal dan informal sebagai salah satu wahana untuk membina moral atau akhlak anak-anak dan remaja baik dirumah, di Mesjid/Pondok Pesantren maupun di tempat-tempat lainnya masih terbatas. Berkaitan dengan akuntabilitas dan pencitraan publik, tuntutan

masyarakat dewasa ini serba membutuhkan data dan informasi yang cepat, akurat, serta trasnparan. Menyikapi pengembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terkesan seporadis, parsial, dan pragmatis, pemerintah Kabupaten Bandung telah melakukan terobosan seperti menyusun standarisasi pengembangan telematika, pengintegrasian pengelolaan SIM di Dinas

Pendidikan dan Kantor PDE yang dapat mengakses SIM ke setiap satuan, jenjang dan jenis pendidikan di seluruh wilayah Kabupaten Bandung, namun dalam pelaksanaannya belum berjalan secara optimal. Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Menengah

menekankan pada 3 pilar (tantangan utama) untuk mewujudkan suatu kondisi yang diharapkan 5 tahun kedepan yaitu : a) Pemerataan dan Perluasan akses Pendidikan b) Peningkatan mutu, Relevansi dan Daya saing c) Tata kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik Selain indikator generik yang dijadikan tolak ukur keberhasilan

pembangunan pendidikan seperti APK, APM, Angka Mengulang, Angka Putus Sekolah dan lain-lain, dalam upaya pencapaian visi Kabupaten Bandung
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 73

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

(relegius,

kultural

dan

berwawasan

lingkungan)

dipandang

perlu

mengembangkan indikator-indikator baru diluar yang telah ada yang merupakan representasi ciri dari visi dan misi tersebut.

2.4.1.2 Kesehatan Di samping pendidikan, kualitas Sumber Daya Manusia juga tergambar dari derajat kesehatan masyarakat yang tercermin dari Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Kasar (AKK), status gizi, dan Angka Harapan Hidup. Angka harapan hidup di kabupaten Bandung terus meningkat dari 65,4 tahun pada tahun 2003, menjadi 65,85 tahun pada tahun 2004, selanjutnya 66,23 tahun pada tahun 2005, 66,98 tahun pada tahun 2006 dan 67,26 tahun pada 2007. Kecenderungan angka kematian bayi di Kabupaten Bandung selama beberapa dekade terakhir terus mengalami penurunan, seiring dengan terus membaiknya derajat kesehatan yang ditunjukkan dengan meningkatnya angka harapan hidup penduduk. Pada tahun 2003, AKB di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 47,74 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2004 turun menjadi 46,37 per 1000 kelahiran hidup, pada tahun 2005 berkurang menjadi 43,50 per 1000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2006 turun lagi menjadi 40,18 per 1000 kelahiran hidup sedangkan pada tahun 2007 semakin menurun menjadi 39,17 per 1000 kelahiran hidup. AKB dipengaruhi oleh faktor antara lain gizi ibu hamil, penolong pertama kelahiran bayi, gizi, imunisasi ibu, dan ANC (Antenatal Care). Menurut data Suseda 2007, pada tahun 2006 sebanyak 7,65% kelahiran bayi ditolong oleh Dokter, 44,8% oleh Bidan, 0,5% oleh tenaga medis lainnya, 46,1% oleh Dukun dan 0,93% ditolong oleh famili/lainnya. Angka pertolongan yang tinggi oleh dukun banyak dijumpai antara lain di Kecamatan Ciparay (77,17%) dan Pangalengan (63,51%). Air Susu Ibu (ASI) merupakan zat yang sempurna untuk pertumbuhan bayi dan mempercepat perkembangan berat badan. Air susu ibu (ASI) sangat penting bagi perkembangan dan kesehatan balita. Lamanya balita disusui

secara tidak langsung berpengaruh pada faktor kesehatan. Dari seluruh balita di Kabupaten Bandung pada tahun 2007, sebanyak 261 ribu balita atau 94,81 persen pernah diberi ASI. Dari jumlah tersebut hanya sekitar 40,5 persen yang disusui oleh ibunya selama 2 tahun atau lebih, sedangkan yang disusui selama

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 74

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

satu sampai kurang dari dua tahun sebesar 41,0 persen, dan sisanya disusui kurang dari satu tahun (18,5 persen). Tabel 2.4. Persentase Lamanya Balita disusui Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Bandung Tahun 2007
Indikator (1) Laki-laki (2) Perempuan Jumlah (3) (4)

1. Jumlah Balita 2. Balita yang Disusui 3. % disusui > 24 bulan 4. % disusui 12-23 bulan 5. % disusui < 12 bulan

141.643 94,46 39,49 38,66 21,85

134.397 95,18 41,45 41,64 16,91

276.040 94,81 40,45 40,11 19,44

Sumber: BPS Kab. Bandung , Hasil Suseda 2007

Berdasarkan hasil data Suseda 2007, ternyata tidak ditemukan perlakuan yang berbeda dalam hal menyusui balita di masyarakat Kabupaten Bandung. Persentase balita laki-laki yang disusui lebih dari 2 tahun mencapai 39,49 persen relatif tidak jauh berbeda dengan yang dialami balita perempuan yang mencapai 41,45 persen. Kondisi tersebut menunjukkan telah bertumbuh kembangnya kesadaran para orang tua tentang pentingnya membangun kebersamaan dalam membesarkan anak-anak, tanpa adanya perlakuan berbeda dalam pemenuhan kebutuhan gizinya atau ASI. Jumlah tempat layanan kesehatan yang ada di Kabupaten Bandung masih kurang dibandingkan dengan jumlah penduduk. Pada tahun 2006 jumlah Puskesmas 56 TTP dan 5 DTP, jumlah Pustu 67, Pusling 26 serta polindes 63. Rasio Puskesmas terhadap penduduk pada tahun 2006 adalah 1 : 48.260 artinya setiap 1 Puskesmas melayani 48.260 penduduk. Angka tersebut lebih dari rasio ideal, karena menurut rasio idealnya setiap Puskesmas melayani 30.000 penduduk. Jika dilihat jumlah Pustu per 100.000 penduduk maka setiap penduduk dilayani oleh 2 3 Pustu. Rata-rata rasio Pustu terhadap Puskesmas adalah 1,1 artinya setiap Puskesmas di Kabupaten Bandung rata-rata mempunyai 1 sampai 2 Pustu. Sementara rasio Puskel terhadap Puskesmas adalah 0,4 artinya belum semua Puskesmas mempunyai Puskel sebagai kendaraan operasionalnya. Polindes (Pondok Bersalin Desa) berada di tingkat desa dan Posyandu di tingkat RW, namun tidak seluruh Desa dan RW memiliki prasarana kesehatan dasar tersebut. Kedua prasarana kesehatan dasar tersebut sebenarnya masuk
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 75

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

ke dalam program UKBM (Usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat), yaitu seluruh kegiatan non teknis kesehatan diutamakan lebih berorientasi kepada usaha masyarakat setempat. Pada umumnya pelayanan baik Polindes maupun Posyandu lebih dikhususkan untuk pelayanan kesehatan ibu dan anak. (KIA). Polindes yang ada tersebut yang tersebar di beberapa desa di wilayah Kabupaten Bandung. Sementara untuk lokasi Posyandu pada umumnya tidak tidak memiliki tempat tetap, namun menumpang di kantor RW atau Rumah Ketua RW. Posyandu tersebut dibagi ke dalam 4 strata yaitu Pratama, Madya, Purnama, dan Mandiri, di mana seluruhya berjumlah 5.840 buah. Pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan anak baik di Polindes maupun di Posyandu keberadaannya sangat membantu dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak karena dapat menurunkan jumlah kematian ibu dan anak. Apabila ditinjau dari kondisi bangunan seluruh prasarana kesehatan dasar tersebut di atas, khususnya Puskesmas, Pustu dan Polindes bervariasi mulai dari rusak berat sampai dengan rusak ringan. Namun setiap tahun anggaran selalu dilakukan perbaikan/rehabilitasi seusai dengan kemampuan dana yang tersedia. Adapun kondisi Puskesmas pada tahun 2007 sebagai berikut : rusak berat sebanyak 10 unit, rusak sedang sebanyak 25 unit dan rusak ringan sebanyak 17 unit sedangkan yang kondisinya baik sebanyak 40 unit. Demikian pula Pustu dan Polindes masih terdapat kondisi bangunan yang mengalami rusak, baik berat, sedang maupun ringan, namun rincian jumlahnya masih dalam survey. Tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan meliputi berbagai jenis, yaitu tenaga medis (dokter dan dokter gigi), tenaga keperawatan (perawat dan bidan), tenaga kefarmasian (apoteker, analisis farmasi dan asisten apoteker), tenaga gizi, tenaga kesehatan masyarakat, dan tenaga kesehatan lainnya. Adapun tenaga kesehatan yang ada di Kabupaten Bandung, meliputi tenaga medis sebanyak 349 dengan rasio 1 : 8.705 orang per penduduk, tersebar di 92 Puskesmas sebanyak 167 orang, di kantor Dinas Kesehatan sebanyak 39 orang, di sarana kesehatan lainnya 1 orang serta tersebar di rumah sakit baik pemerintah maupun swasta yang ada di Kabupaten Bandung sebanyak 142 orang. Untuk tenaga keperawatan seluruhnya berjumlah 1.444 dengan rasio 1 : 2.103 orang per penduduk yang terdiri dari 830 orang perawat dan dan 614 orang bidan, masing-masing tersebar di Kantor Dinas Kesehatan sebanyak 7 orang perawat dan 9 orang bidan, di Puskesmas sebanyak 344 orang perawat
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 76

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

dan 570 orang bidan serta di Rumah Sakit sebanyak 479 orang perawat dan 35 orang bidan. Semetara untuk tenaga farmasi sebanyak 86 orang dan tenaga gizi sebanyak 85 orang. Kedua jenis tenaga kesehatan tersebut untuk tenaga farmasi tersebar di Kantor Dinas Kesehatan sebanyak 6 orang, di Puskesmas sebanyak 42 orang dan di Rumah Sakit sebanyak 38 orang, sedangkan untuk tenaga gizi tersebar di Kantor Dinas Kesehatan sebanyak 3 orang, di Puskesmas sebanyak 59 orang dan di Rumah Sakit sebanyak 23 orang. Khusus tenaga kesehatan masyarakat (sanitarian) di Puskesmas adalah kualifikasi D-1 dan D-3 sebanyak 63 orang serta hanya 15 orang dengan kualifikasi S-1. Untuk meningkatkan kinerja Puskesmas sehubungan dengan masih tingginya penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan, paling tidak harus ada 1 orang sanitarian di setiap Puskesmas. Berdasarkan jumlah tenaga kesehatan di atas, khususnya untuk lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung masih perlu meningkatkan jumlah tenaga kesehatan tersebut. Dari hasil analisis kebutuhan pegawai yang dilakukan oleh Dinas tersebut, di antaranya masih membutuhkan dokter umum sebanyak 117 orang, dokter gigi sebanyak 51 orang, bidan sebanyak 137 orang, perawat sebanyak 63 orang, perawat gigi sebanyak 33 orang, analisis kesehatan/pranata laboratorium sebanyak 84 orang, sanitarian sebanyak 24 orang, ahli gizi sebanyak 27 orang, dan asisten apoteker sebanyak 67 orang. Prasarana Kesehatan rujukan di Kabupaten Bandung baik pemerintah maupun swasta seluruhnya berjumlah 7 buah, yaitu RSD Soreang, RSD Majalaya, RS Pasir Junghun, RS Bina Sehat, RS Al-Ihsan, serta RSU AMC Hospital. Untuk RS Pemerintah, khusunya RSD Soreang direncanakan akan dilakukan relokasi dikarenakan RS tesebut berada di pusat keramaian Kota Soreang. Proses relokasi RSD Soreang tersebut pada saat ini masih dalam taraf studi kelayakan. Sementara untuk RSD Majalaya masih perlu untuk

meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan rujukan kepada masyarakat. Sejalan dengan peningkatkan pelayanan kesehatan rujukan bagi

masyarakat khususnya bagi masyarakat yang berdomisili di wilayah perbatasan maka akan dibangun RSD Cicalengka. Rencana pembangunan RSD tersebut selain disebabkan oleh banyaknya kasus penyakit yang sudah tidak bisa ditangani lagi oleh Puskesmas setempat dan cukup jauhnya jarak ke rumah sakit terdekat, juga terutama dalam rangka meningkatkan IPM di bidang kesehatan. Rencana pembangunan RSD Cicalengka yang berlokasi Desa Tenjolaya
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 77

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Kecamatan Cicalengka sampai saat ini sudah dalam tahap persiapan pembangunan. Untuk selanjutnya apabila sudah terbangun dengan sendirinya akan membutuhkan sarana dan prasarana penunjang Rumah Sakit tersebut, antara lain tenaga kesehatan dan non kesehatan, alat kesehatan, serta obatabatan. Rencana kebutuhan pegawai baik di RSD Cicalengka khususnya untuk tenaga kesehatan, Rumah Sakit tersebut di antaranya membutuhkan dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu kedokteran sebanyak 7 orang, dokter umum sebanyak 14 orang, dokter gigi sebanyak 1 orang, Psikolog sebanyak 1 orang, Perawat sebanyak 115 orang, Perawat gigi sebanyak 2 orang, dan bidan 3 orang.

2.4.1.3 Tenaga Kerja dan Kondisi Sosial Lainnya Salah satu indikator yang biasa dipakai dalam melihat atau

menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat adalah laju pertumbuhan angkatan kerja yang terserap di lapangan pekerjaan. Masalah ketenagakerjaan secara langsung berkaitan dengan masalah kemiskinan. Implikasi logisnya jelas bahwa upaya pengentasan kemiskinan antara lain harus ditempuh melalui upaya penyelesaian masalah ketenagakerjaan, yaitu penyediaan lapangan kerja/usaha dan peningkatan produktifitas tenaga kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kabupaten Bandung mencapai 56,98 persen. Jika dilihat berdasarkan perspektif jender, TPAK perempuan di kabupaten Bandung telah mencapai 36,52 persen sedangkan TPAK laki-laki yang mencapai lebih dari 77,35 persen. Hal ini menunjukan bahwa penopang kebutuhan hidup keluarga di Kabupaten Bandung didominasi oleh penduduk laki-laki yang bekerja . Penyediaan lapangan pekerjaan berkait erat dengan pengurangan angka pengangguran. Menurut data Suseda 2005, tingkat pengangguran terbuka Kabupaten Bandung mencapai 14,47 persen, sedikit mengalami kenaikan menjadi 14,73 persen pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 menurun menjadi 9,5 persen dari jumlah penduduk, menurunnya tingkat pengangguran adalah sebagai akibat pemekaran Kabupaten Bandung menajadi Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Bandung Barat. Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bandung, penyerapan lapangan pekerjaan di Kabupaten Bandung periode tahun 2005-2007 mengalami sedikit pergeseran, sektor pertanian turun dari tahun 2005 sebesar 26,25 persen menjadi 25,86 persen, pada tahun 2006 dan 25,02 persen
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 78

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

pada tahun 2007 dan sektor industri turun dari 27,00 persen pada tahun 2005 menjadi 26,42 persen pada tahun 2006 dan tahun 2007 menjadi 23,56, perdagangan mengalami penurunan dari 18,92 persen (2005), 19,06 persen (2006) turun menjadi 18,54 (2007), bergeser terutama ke sektor Jasa, sektor jasa naik dari 10,57 (2005), 10,76(2006) menjadi 21,19 persen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.6 : Tabel 2.5 Persentase Lapangan Pekerjaan Penduduk Umur 10 Tahun Ke Atas Tahun 2005-2007
Lapangan Pekerjaan Angkatan Kerja yang Bekerja Pertanian Industri Perdagangan Jasa Lainnya Angkatan Kerja Menganggur
Sumber : Suseda Kab. Bandung 2005-2007 Masih Memperhitungkan 45 Kecamatan

2005

2006

2007

26,25 27,00 18,92 10,57 17,26 14,97

25,86 26,42 19,06 10,76 17,90 14,73

25,02 23,56 18,54 21,19 11,69 14,64

Seiring dengan arus globalisasi, terutama penetrasi budaya melalui media massa dan gaya hidup, meskipun jumlah masjid, kelompok-kelompok pengajian (majlis taklim), jumlah yang mengikuti shalat jumat terus bertambah, namun berbagai penyakit masyarakat juga tidak kalah cepat perkembangannya, baik kuantitas, kualitas, dan ragamnya. Pecandu dan penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif yang tercatat pada tahun 2006 sebanyak 70 kasus. Jumlah tindak pidana yang dilaporkan pada tahun 2006 sebanyak 1.261 kasus (Kabupaten Bandung dalam angka 2007). Dari pemberitaan media massa, makin banyaknya kasus-kasus pelanggaran/penyimpangan moral menunjukkan nilai-nilai moral dan agama semakin luntur, masyarakat semakin permisif. Di sisi lain, resistensi terhadap pemeluk agama lain relatif masih cukup tinggi. Toleransi dan kerukunan hidup beragama belum sepenuhnya tercipta. Hal ini tercermin dari kesulitan pemeluk agama tertentu untuk mendirikan tempat ibadahnya. Sampai tahun 2006, di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 5.825 buah mesjid, 8.210 buah langgar, 3.010 buah mushola, 31 buah gereja, 1 buah pura/klenteng, dan 3 buah vihara. Sedangkan Berdasarkan data BPS (Kabupaten Bandung Dalam Angka Tahun 2007), di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 3.603 buah mesjid, 2.193 buah langgar, 3.971 buah mushola, 31 buah gereja, 1 buah pura/klenteng, dan 3 buah vihara.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 79

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Ketertinggalan Bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain di antaranya disebabkan oleh rendahnya etos kerja dan disiplin. Ketidakdisiplinan antara lain tercermin dari kesemrawutan lalu lintas, berkeliarannya pelajar dan PNS di tempat-tempat perbelanjaan pada jam kerja, dan sebagainya. Rendahnya produktivitas juga salah satunya berkaitan dengan rendahnya etos kerja dan disiplin.Etos kerja dan disiplin juga dipengaruhi oleh faktor budaya. Namun demikian, banyak juga nilai-nilai budaya sunda yang tinggi dan relevan dalam kehidupan sekarang.

2.4.2 Kondisi Ekonomi Daerah Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki struktur

masyarakat agraris. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan lahan yang digunakan untuk pertanian dan jumlah penduduk yang bermatapencaharian di sektor pertanian. Dari total luas 176.238,66 ha, kegiatan pertanian menggunakan lahan sebesar 54,95%, disusul kawasan lindung 33,98%, perumahan 8,11%, industri 0,69%. Dari sisi produksi, Kabupaten Bandung merupakan salah satu pemasok utama komoditi beras dan sayuran dataran tinggi bagi daerah perkotaan seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi dan pasar-pasar di Kota Bandung. Untuk komoditas beras, sampai saat ini Kabupaten Bandung memasok kurang lebih 50-70 ton per hari ke Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta. Komoditas sayuran dataran tinggi sekitar 50% produksinya dijual ke pasar Jakarta dan sekitarnya, sekitar 25% dijual ke pasar Kota Bandung dan sisanya ke pasar lokal. Komoditas lainnya yaitu produksi teh baik yang berasal dari perkebunan negara, perkebunan besar swasta dan perkebunan rakyat merupakan komoditas yang sebagian besar diekspor. Potensi lainnya yang dimiliki adalah potensi peternakan dengan jenis antara lain sapi perah, sapi potong, domba dan unggas. Sampai saat ini, untuk jenis komoditi sapi perah, Kabupaten Bandung memberikan kontribusi yang cukup tinggi dalam memenui kebutuhan susu segar nasional maupun Jawa Barat. Peluang pasar dalam negeri masih sangat terbuka, secara nasional susu produk dalam negeri baru memenuhi sekitar 30% dari kebutuhan 4,5 juta liter susu/hari. Produksi susu di Kabupaten Bandung pada tahun 2007 tercatat sebesar 114.239.588 kg yang mengalami peningkatan jika dibandingkan produksi tahun 2006 sebesar 112.626.373 kg. Saat ini, produksi susu dari Kabupaten Bandung
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 80

dan

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

memberikan kontribusi sebesar 43% terhadap total produksi susu di Jawa Barat. Dari sisi efisiensi, usaha persusuan relatif masih rendah dengan skala pemilikan sekitar 1-3 ekor per peternak dengan produktivitas sapi perah saat ini baru

mencapai 10,8 12 liter per ekor per hari. Dengan tingkatan produktivitas tersebut, di Kabupaten Bandung saat ini belum mampu berkompetisi dengan produksi susu dunia dengan rata-rata liter/ekor/hari. Komoditi lain yang juga potensial dikembangkan adalah sapi potong. Saat ini kebutuhan daging Kabupaten Bandung dan Kota Bandung sebagian besar dipenuhi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menyebabkan beban angkut menjadi lebih mahal. Hal ini tentunya menjadi suatu peluang bila Kabupaten Bandung mampu menyediakan sapi potong bagi konsumen di Kabupaten Bandung dan sekitarnya. Di lain pihak, bibit bakalan sapi potong yang berasal dari pedet jantan sapi perah di Kabupaten Bandung lebih banyak dijual ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan kondisi tersebut, konsumsi daging di Kabupaten Bandung pada tahun 2007 baru mencapai 8,98 kg/kapita/tahun dari target 10,1 kg/kapita/tahun. Potensi lainnya adalah perikanan yang terdiri dari pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan di kawasan segitiga emas budidaya ikan. Selain itu, berkembang pula usaha pengolahan ikan yang tersebar di hampir seluruh wilayah Kabupaten Bandung. Pada tahun 2007, tercatat produksi ikan sebesar 84.316,68 ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp. 787,8 milyar. Dari potensi pembenihan, dari luas areal 256, 18 ha dapat dihasilkan benih ikan sebanyak 1.057.126 ribu ekor dengan nilai ekonomi produksi sebesar Rp.10,1 milyar. Potensi lain yang dimiliki adalah sektor industri yang terdiri dari industri rumah tangga, kecil, menengah dan besar. Berdasarkan data dari Dinas Indag Kabupaten Bandung, pada tahun 2006 terdapat industri rumah tangga sebanyak 139 unit, industri kecil 55 unit, industri menengah 56 unit dan industri besar 53 unit. Apabila dilihat dari penyerapan tenaga kerja, industri kecil ternyata mampu menyediakan lapangan kerja terbesar yaitu sebesar 58,14%. Gambar berikut menunjukkan penyerapan tenaga kerja dari masing-masing jenis industri. Gambar 2.14 produksi susu ideal sekitar 25 35

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 81

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Persentase Penyerapan Tenaga Kerja

industri rumah tangga 18%

industri besar 18%

industri menengah 5% industri kecil 59%

industri besar

industri menengah

industri kecil

industri rumah tangga

Berdasarkan pengelompokan kategori industri kecil, pola spesifik yang sangat menonjol di Kabupaten Bandung adalah kelompok industri lokal dan industri sentra. Kelompok industri lokal umumnya merupakan usaha kerajinan rumah tangga yang dikerjakan oleh anggota rumah tangga dan lebih merupakan aktivitas sambilan atau musiman dengan berpangkal tolak pada kultur tani. Kegiatan ini lebih merupakan manifestasi dari tradisi setempat dan membantu kegiatan utama yaitu kegiatan pertanian. Jenis yang diusahakan antara lain anyaman bambu, anyaman mendong, kripik singkong, kripik pisang, gula aren dan lain-lain. Ciri utama industri lokal adalah kelompok jenis industri yang

menggantungkan kelangsungan hidupnya kepada pasar setempat yang terbatas serta relatif tersebar dari segi lokasinya. Skala usaha umumnya sangat kecil dan mencerminkan suatu pola pengusahaan yang bersifat subsisten Target pemasarannya sangat terbatas dan ditangani sendiri. Pada kelompok industri sentra, terdapat indikasi pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh terkonsentrasinya bahan mentah bagi suatu produksi di daerahdaerah tertentu. Ciri utama dari industri sentra adalah kelompok jenis industri yang dari segi satuan mempunyai skala kecil tetapi membentuk suatu pengelompokan atau kawasan produksi yang terdiri dari kumpulan unit usaha yang menghasilkan barang sejenis. Ditinjau dari target pemasarannya, industri sentra umumnya menjangkau pasar yang lebih luas sehingga peranan pedagang perantara atau pedagang pengumpul menjadi cukup menonjol. Jenis industrinya antara lain konveksi di Kecamatan Soreang, alat rumah tangga di Kecamatan Cileunyi, kerajinan bambu di Pacet, kerajinan topi di Margaasih dan boneka di Margahayu. Untuk melihat kontribusi dari masing-masing sektor ekonomi di atas terhadap perekonomian wilayah, dapat dilihat kontribusinya terhadap Produk
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 82

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Domestik Regional Bruto (PDRB). Sektor-sektor yang memiliki kontribusi besar menggambarkan tingginya potensi dari sektor tersebut dalam perekonomian wilayah. Pada tahun 2006, sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Bandung adalah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 60,74%, kemudian berturut-turut sektor perdagangan, hotel dan restoran 15,06% serta sektor pertanian 7,57%. Demikian pula halnya pada tahun 2007, sektor industri tetap menjadi sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 60,49%, disusul sektor perdagangan, hotel dan restaurant 15,34% dan sektor pertanian 7,4%. Walaupun sektor pertanian dalam kurun waktu 2006-2007 mengalami sedikit penurunan dalam memberikan kontribusi terhadap PDRB, namun nilai nominalnya mengalami peningkatan. Sektor pertanian masih tumbuh yang ditunjukkan dengan laju pertumbuhan sebesar 2,81% pada tahun 2007. Jika dilihat dari sisi ketenagakerjaan, data menunjukkan bahwa sektor yang memberikan kontribusi besar tidak serta merta dapat menyediakan tenaga kerja yang besar pula. Menurut data Suseda 2007, sektor industri yang memberikan kontribusi sebesar 61% ternyata hanya mampu menyerap tenaga kerja sebesar 23,56% dan sebaliknya sektor pertanian yang memberikan kontribusi hanya sebesar 7% mampu menyediakan lapangan kerja terbesar yaitu 25,02%, diikuti sektor jasa sebesar 21,19% dan perdagangan 18,54%. Berikut persentase penyerapan tenaga kerja menurut sektor sebagai berikut : Gambar 2.15
Persentase Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Sektor Tahun 2007
lainnya, 11.69 jasa, 21.19 industri, 23.56 pertanian, 25.02

perdagangan , 18.54 pertanian industri perdagangan

jasa

lainnya

Berkaitan dengan hal tesebut di atas, dari hasil analisis yang dilakukan terlihat bahwa Land-man ratio di sektor pertanian tercatat 0,3824 ha/org dan sektor industri 0,0037 ha/orang. Kondisi ini menunjukkan terlalu banyaknya penduduk yang menggarap lahan pertanian dan melebihi daya dukungnya. Dengan kata lain, telah terjadi involusi pertanian.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 83

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Tabel 2.6 Persentase Penggunaan Lahan dan Rasio Daya Dukung Lahan Terhadap Jumlah Tenaga Kerja (Land-man Ratio /LMR) Tahun 2007
Luas Lahan No Jenis Kegiatan Eksisting 2004 (Ha)
1 2 3 4 5 6 7 Pertanian Pertambangan Industri Perdagangan&Jasa Kawasan Lindung Perumahan Lainnya Jumlah 96.841,14 29,09 1.222,73 430,94 59.893,82 14.297,30 3.523,64 176.238,66

Persentase Penggunaan Lahan (%)


54,95 0,02 0,69 0,24 33,98 8,11 2,00

Jumlah Tenaga Kerja (Orang)


253.218 329.017 622.386 122.965 1,642,894

LMR (Ha/Org)
0,3824 0,0037 0,0007 -

Sumber : Hasil Analisis Bapeda 2007

Namun demikian, dari hasil analisis Location Quetion (LQ) menunjukkan bahwa sektor pertanian masih merupakan sektor basis di Kabupaten Bandung. Kecamatan-kecamatan yang memiliki basis pertanian yang ditunjukkan oleh angka LQ di atas 2 antara lain Kecamatan Rancabali, Pasirjambu, Ciwidey, Cimenyan, Cilengkrang, Kertasari dan Cikancung. Dengan demikian, walaupun dari land man ratio di sektor pertanian sudah melebihi daya dukung, mengingat sektor pertanian masih mampu menyediakan lapangan kerja nampaknya perlu diupayakan langkah-langkah intensifikasi maupun diversifikasi usaha untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Hal ini menjadi penting karena menurut Sensus Pertanian (2003) terdapat sekitar 84% rumah tangga petani yang masuk kategori gurem. Semua kegiatan yang menyangkut perekonomian wilayah sebagaimana diuraikan di atas tentunya berdampak terhadap tingkat kesejahteraan

masyarakat. Data Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan menunjukkan pada tahun 2007 terdapat 42,36% KK yang masuk kategori miskin (Pra KS dan KS). Apabila dipetakan ternyata wilayah yang memiliki tingkat prosentase penduduk miskin yang tinggi ternyata terkonsentrasi di kantongkantong seputar perkebunan, hutan negara, di sentra-sentra produksi pertanian dan daerah industri. Kecamatan-kecamatan yang memiliki jumlah KK miskin di atas rata-rata Kabupaten adalah sebagai berikut : Tabel 2.7 Kecamatan yang Memiliki Jumlah KK Miskin di Atas Rata-rata Kabupaten No Kecamatan % KK Miskin

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 84

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

1 2 3 4 5 6 7 9 10 11 12 13 14 15 16

Pasirjambu Pangalengan Pacet Paseh Cicalengka Majalaya Ciparay Pameungpeuk Ibun Kertasari Arjasari Cikancung Nagreg Rancabali Solokanjeruk

53,45 47,34 64,37 62,67 46,48 48,92 54,15 48,75 66,73 56,59 47,84 55,85 55,07 43,87 50,19

Apabila dilihat perkembangannya dalam kurun waktu 2005-2007 memang terjadi penambahan jumlah KK miskin yaitu 176.366 KK pada tahun 2005, menjadi 294.980 KK pada tahun 2006 dan 321.684 KK pada tahun 2007. Namun demikian apabila dilihat dari lajunya terjadi penurunan dalam laju

pertumbuhannya. Gambar 2.16


JUMLAH KK MISKIN TH. 2005-2007

350,000 300,000 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 Jml KK 2005 176,366 2006 294,980 2007 321,684

Indikator lain yang terkait kesejahteraan dapat dilihat dari jumlah penghasilan yang didapat masyarakat. Data Suseda 2007 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang bekerja dengan status buruh/karyawan/pegawai dan upah/gaji bersih selama sebulan sebagai berikut : Gambar 2.17

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 85

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Persentase Penduduk 10 thn Ke Atas yang Bekerja Dgn Status Buruh/Karyawan/Pegawai dan Upah/Gaji Bersih Selama Sebulan

1 jt - 1.499.999 8% 750.000 999.999 21%

> 1,5 jt 9% < 500 rb 45%

500 rb 749.999 17% < 500 rb 500 rb - 749.999 750.000 - 999.999 1 jt - 1.499.999 > 1,5 jt

2.4.3 Kondisi Fisik Wilayah 2.2.3.1 Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Berdasarkan analisis kesesuaian lahan, 26.22 % wilayah Kabupaten Bandung (46.205,67 Ha) seharusnya menjadi kawasan lindung baik berupa hutan, sempadan, ruang terbuka, dan wilayah perairan. Permasalahannya adalah di Wilayah Kabupaten Bandung banyak terdapat lahan kritis dan daerah rawan banjir termasuk di kawasan lindung. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa luas lahan kritis saat ini adalah sebesar 6.453,39 ha. Beberapa diantaranya ada di wilayah Kecamatan Arjasari, Baleendah, Banjaran, Cangkuang, Cicalengka, Cikancung, Cilengkrang, Cileunyi, Cimaung, Cimenyan, Ciparay, Ciwidey, Ibun, Kertasari, Margaasih, Margahayu, Nagreg, Pacet, Pameungpeuk, Pangalengan, Pasirjambu dan Soreang. Sedangkan daerah rawan banjir seluas 7.275 ha, lokasinya ada di wilayah Bojongsoang, Dayeuhkolot, Pameungpeuk, Cicalengka, Cikancung, Rancaekek, Ciparay, Baleendah, Majalaya dan Paseh. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tahun 2007, luas lahan kritis di Kabupaten Bandung sekitar 15.915 Ha, dimana luas lahan dengan kelas kritis 7.275 Ha, kelas semi kritis 3.285 Ha dan kelas potensial kritis 5.355 Ha. Sebaran lahan kritis di Desa dan Kecamatan wilayah Kabupaten Bandung dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2.8 Sebaran Lahan Kritis Desa dan Kecamatan Wilayah Kabupaten Bandung
No 1 KECAMATAN Cimenyan DESA Mandalamekar, Mekarsaluyu, Cimenyan dan Ciburial

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 86

BAB II
No 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH


DESA Girimekar, Cilengkrang, Cipanjalu, Ciporeat dan Melatiwangi Cileunyi Kulon, Cileunyi Wetan, Cimekar, Cibiruwetan Citaman, Bojong, Mandalawangi, Ciaro, Ciherang dan Nagreg Margaasih, Nagrog, Narawita, Babakan Peuteuy, Dampit, Tenjolaya, Tanjungwangi Srirahayu, Mekarlaksana, Ciluluk, Cihanyir, Cikancung dan Mandalasari Karangtunggal, Cipaku, Cipedes, Mekarpawitan, Sindangsari, L oa, Drawati Mekarwangi, Ibun, Laksana, Sudi Cibeureum, Sukapura, Cihawuk, Cikembang Cinangela, Pangauban, Sukarame, Mekarsari, Nagrak, Cikitu, Girimulya, Cikawao, Mandalahaji, Mekarjaya Pakutandang, Ciheulang, Mekarlaksana, Babakan Wargamekar, Jelekong, Manggahang, Baleendah Langonsari, Bojongmanggu Patrolsari, Ancolmekar, Lebakwangi, Wargaluyu, Baros, Mangunjaya, Mekarjaya, Rancakole, Pinggirsari, Arjasari Banjaran Wetan, Ciapus, Mekarjaya, PasIrmulya Cikalong, Mekarsari, Sukamaju, Malasari Warnasari, Sukaluyu, Pulosari, Sukamanah, Margamekar, Margamukti, Margamulya, Pangalengan, Tribaktimulya, Lamajang Bandasari, Jatisari, Nagrak, Pananjung Cilame, Cibodas, Sukajadi, Sukanagara, Sukamulya Tenjolaya, Sugihmukti, Cisondari Nengkelan, Rawabogo, Lebakmuncang, Sukawening Cipelah, Alamendah Sulaeman Lagadar

KECAMATAN Cilengkrang Cileunyi Nagreg Cicalengka Cikancung Paseh Ibun Kertasari Pacet Ciparay Baleendah Pameungpeuk Arjasari Banjaran Cimaung Pangalengan Cangkuang Soreang Pasirjambu Ciwidey Rancabali Margahayu Margaasih

Sumber : Hasil Analisa Bapeda 2007

Permasalahan

lingkungan

lainnya

di

Kabupaten

Bandung

adalah

pencemaran lingkungan baik air, udara maupun tanah. Pencemaran tanah yang menonjol terjadi di Kecamatan Rancaekek akibat pencemaran limbah industri dari Kabupaten Sumedang. Pencemaran udara cenderung mengkhawatirkan ditujukan dengan kualitas udara ambien setiap tahunnya cenderung menurun. Terdapat kecenderungan bahwa menurunnya kualitas udara ambien akibat kegiatan transportasi dan industri. Dari 12 titik lokasi pengukuran polusi udara di Kabupaten Bandung Tahun 2006 Kadar NO2 paling tinggi terdapat di Ruas Jalan Kopo Sayati sebesar 98,6 g/m3, sedangkan Kadar SO2 dan NO paling tinggi terjadi di Terminal Cileunyi yaitu masing masing sebesar 31,7 g/m3, dan 28.758 g/m3. Degradasi kualitas Sungai Citarum dan anak-anak sungainya akibat tidak terkendalinya pencemaran limbah dari sumber domestik, industri, rumah sakit, RPH, kegiatan lain, dan penggundulan hutan di hulu Sungai Citarum serta

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 87

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

desakan kegiatan perkotaan. Kualitas

air sungai di Kabupaten Bandung,

terutama pada Sungai Citarum dapat dilihat pada tabel berikut :

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 88

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Tabel 2. 9 Data Rata-rata Hasil Pengamatan Kandungan Limbah di Anak Sungai Citarum Tahun 2007 Per Bulan September
Nitrat LOKASI SAMPLING Debit m3/detik Kriteria PPRI No.82/2001 Kls II 6-9 pH TDS TSS Temp.
O

Nitrit (NO2N) mg/L 0,06 mg/L Min.4 mg/L 3 mg/L 25 DO0 BOD5 COD

(NO3N)

Total P mg/L 0,2

Minyak & Lemak g/L 1000 mg/L 0,05 mg/L 0,001 Zn Fenol

Amonia (NH3N) mg/L -

Sulfida sbg H2S mg/L 0,002

Deterjen (MBAS) mg/L 0,2

Total Coliform Jml/100ml 5000

mg/L 1000

mg/L 50

mg/L 10,0

RUAS GUNUNG WAYANG - JEMBATAN MAJALAYA

0,19

125

20,4

30,6

1,09

0,062

1,05

15,1

26,9

0,02

1000

0,045

0,002

0,098

0,0042

0,09

6628

RUAS JEMBATAN MAJALAYA - JEMBATAN DAYEUH KOLOT I. SUNGAI CIRASEA II. SUNGAI CITARIK III. SUNGAI CIKOPO IV. SUNGAI CIKERUH V. SUNGAI CIPAMOKOLAN VI. SUNGAI CIJAWURA VII. SUNGAI CIGANITRI VIII. SUNGAI CIKAPUNDUNG RUAS JEMBATAN DAYEUH KOLOT - WADUK SAGULING IX. SUNGAI CISANGKUY X. SUNGAI CISUMINTA XI. SUNGAI CITEPUS XII. SUNGAI CIHERANG XIII. SUNGAI CIRANJENG XIV. SUNGAI CICANGKUDU XV. SUNGAI CIKAMBUY XVI. SUNGAI CIWIDEY XVII. SUNGAI CIGONDEWAH - CIBALIGO RUAS WADUK SAGULING - WADUK CIRATA XVIII. SUNGAI CIMETA 0,35 7,42 210 318 29 0,77 0,01 1,04 19,19 114,64 0,01 1000 0,035 0,002 0,245 0,0021 0,15 125 2,55 0,22 0,42 1,38 0,56 0,05 0,17 6,23 0,42 3,52 7,75 10,3 7,67 7,38 7,09 8,13 7,31 7,46 224 276 610 75 25 64 181 135 1327 82,3 37,5 181,0 23,0 59,5 80,0 24,5 12,2 93,2 26,1 30,0 32,0 27,5 28,5 28,5 30,0 29,8 25,8 0,91 0,58 0,94 0,43 0,66 0,40 0,45 0,68 2,06 0,064 0,025 0,030 0,015 0,075 0,075 0,115 0,114 0,032 1,67 2,07 1,51 1,70 1,42 1,61 1,42 1,57 0,98 59,9 68,5 149,0 27,0 29,0 24,5 40,0 28,9 104,3 143,1 188,0 385,0 62,0 46,5 72,0 167,0 54,2 402,6 0,16 1,40 0,50 0,04 0,05 0,25 0,16 0,04 0,57 1000,0 1500,0 3000,0 1000,0 1000,0 1500,0 1000,0 1000,0 1833,3 0,075 0,045 0,270 0,020 0,040 0,025 0,030 0,038 0,125 0,007 0,003 0,003 0,002 0,008 0,008 0,012 0,012 0,003 3,550 32,020 31,890 7,235 0,185 1,935 11,445 0,883 5,518 0,0054 0,005 0,014 0,011 0,007 0,002 0,003 0,012 0,0288 0,29 3,00 1,70 0,25 0,08 0,30 0,14 0,10 0,57 471 4250 130 685 3500 1370 8115 2847 2823 0,01 1,20 0,60 0,68 0,36 0,21 1,20 1,06 0 0 0 0 0 7 7 0 367 2362 230 512 413 534 374 213 195,5 133,7 81,0 18,0 17,5 98,0 60,0 110,8 27,2 30,7 27,5 30,0 30,5 29,0 29,0 29,5 0,93 1,15 1,05 0,52 0,60 0,50 0,42 0,83 0,039 0,043 0,015 0,035 0,085 0,040 0,040 0,049 1,46 1,11 1,06 0,72 1,06 1,04 0,07 0,56 95,9 65,4 19,0 43,3 22,5 53,0 19,0 21,3 255,5 210,0 36,5 168,0 38,0 194,0 49,0 48,5 0,15 0,63 0,45 0,20 0,32 1,40 1,60 0,43 1090,9 1368,4 1000,0 1000,0 1000,0 1000,0 1000,0 1000,0 0,188 0,083 0,020 0,060 0,025 0,040 0,090 0,045 0,012 0,002 0,002 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 2,031 15,729 8,480 6,123 5,175 25,770 32,940 6,003 0,0062 0,0069 0,003 0,0027 0,0006 0,004 0,02 0,0028 0,52 1,08 1,30 0,43 0,16 3,50 2,86 0,50 1723 6783 1000 207 8030 220 600 8550

Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung 2007

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 89

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Dari hasil pengamatan kandungan limbah pada anak - anak sungai Citarum pada periode September tahun 2007, (TSS) tingkat Total Suspended Solid

paling tinggi terdapat pada ruas Jembatan Majalaya Jembatan

Dayeuhkolot yang berada pada titik Sungai Cirasea yaitu sebesar 195,5. Tingkat Biochemical Oxygen Demand (BOD) yang paling tinggi terdapat di ruas Jembatan Dayeuhkolot Saguling yang berada pada titik Sungai Citepus yaitu sebesar 149,00, dan tingkat Chemical Oxigen Demand (COD) tertinggi terdapat pada ruas Jembatan Dayeuhkolot Saguling yang berada pada titik Sungai Cigondewah - Cibaligo yaitu 402,6. Sedangkan untuk limbah padat yang dihasilkan industri pemanfaat batubara, dari sekitar 94 industri, menghasilkan limbah padat fly ash 144.34 ton per hari dan bottom ash lk. 114,45 ton per hari. Titik berat perhatian masalah lingkungan saat ini masih pada pencemaran yang dihasilkan oleh kalangan industri, domestik dan pertanian. Hal ini tentunya beralasan mengingat secara historis posisi Kabupaten Bandung dikenal sebagai sentra industri tekstil, yang merupakan industri yang dikenal menghasilkan limbah yang cukup polutif, sehingga intervensi dan program yang dilakukan pemerintah lebih memfokuskan pada penanganan limbah industri tersebut. Padahal limbah rumah tangga juga memberikan andil yang cukup besar terhadap ketidakseimbangan lingkungan. Namun beberapa upaya yang

dilakukan untuk menangani limbah rumah tangga kurang mendapat tanggapan dari masyarakat. Beberapa bangunan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) yang ada saat ini mengalami kesulitan beroperasi karena terbentur pada budaya masyarakat yang belum menyadari pentingnya instalasi IPLT tersebut bagi kelangsungan keseimbangan lingkungan. Tentunya pemerintah harus mulai memikirkan program/kegiatan yang biaya operasionalnya rendah sehingga masyarakat tidak dibebani iuran yang terlalu mahal, misalnya dengan memperluas dan mensosialisasikan septictank komunal. Beberapa program telah digulirkan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, dalam rangka mengendalikan pencemaran lingkungan dari kalangan industri. Program Surat Pernyataan Kali Bersih (Super Kasih) yang dimulai Tahun 2003 bertujuan mendorong percepatan penataan industri terhadap ketentuan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup yang berlaku. Sasaran program ini antara lain menurunkan beban pencemaran, khususnya yang bersumber dari air limbah industri, meningkatkan kualitas air sungai, dan meningkatkan kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 91

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) bertujuan mendorong penataan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan melalui instrumen insentif reputasi/citra bagi perusahaan yang mempunyai kinerja pengelolaan lingkungan yang baik, dan sebaliknya untuk kinerja pengelolaan yang buruk. Tentu saja program-program tersebut belum menyelesaikan

permasalahan pencemaran lingkungan secara keseluruhan. Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup pada Tahun 2006, Limbah Cair (m3/hari) di kabupaten Bandung adalah 65696,8 m3/hari dengan rata-rata limbah cair per industri 645,44 m3/hari. Ditinjau dari jumlah IPAL industri terdapat 126 perusahaan yang menerapkan pola penggunaan IPAL.

Jumlah industri yang memanfaatkan air bawah tanah sebanyak 305 industri, dari jumlah tersebut, industri memanfaatkan air tanah sebanyak 4.802.371,2 m3 per hari dengan rata-rata pemanfaatan air tanah per industri sebanyak 266.798,40 m3 per hari. Terkait dengan permasalahan bencana alam, secara geologis Kabupaten Bandung merupakan wilayah yang berpotensi terjadi gempa bumi, terutama tipe tektonik dan gempa vulkanik. Wilayah berpotensi terjadi gempa tektonik adalah cabang - cabang dari sesar utama (sesar Lembang dan sesar Cimandiri) yang pengaruhnya tidak terlalu signifikan, sedangkan wilayah yang berpotensi terjadi gempa akibat letusan gunung/vulkanik yaitu kawasan Gunung Papandayan di wilayah selatan Kabupaten Bandung. Selain gempa bumi, longsor merupakan salah satu bencana yang kerap menimpa wilayah Kabupaten Bandung. Longsor merupakan pergerakan tanah yang dapat disebabkan oleh gerusan air akibat adanya hujan lebat. Beberapa wilayah yang sering mengalami bencana longsor adalah Cicalengka, Cikancung, Cimaung, Cimenyan, Ciparay, Ibun, Katapang, Kertasari, Majalaya, Margahayu, Pacet, Pangalengan, Paseh, Pasirjambu dan Rancaekek. Sumber daya air juga merupakan sumber daya yang patut mendapat perhatian di Kabupaten Bandung terkait dengan bencana banjir dan kekeringan. Pada masa yang akan datang kebutuhan air masyarakat akan semakin meningkat. Permasalahan ini merupakan potensi konflik apabila pemerintah tidak dapat melakukan pelestarian dan pengaturan terkait dengan pemanfaatannya baik pemanfaatan air tanah maupun air permukaan. Beberapa sumber air di bagian hulu Cekungan Bandung yang perlu dipelihara fungsinya antara lain:

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 92

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

badan sungai Citarum dan anak-anaknya, danau atau situ (Ciharus, Cisanti, Cileunca dan Patengan). Permasalahan banjir di Kabupaten Bandung saat ini sudah menjadi permasalahan yang rutin setiap Tahun untuk wilayah-wilayah tertentu. Penyebab permasalahan ini disamping dimensi saluran drainase yang sudah tidak sesuai dengan kondisi jumlah permukiman yang ada, juga disebabkan oleh elevasi saluran yang sudah berubah. Selain itu, sedimentasi di sungai-sungai akibat gerusan air terhadap tanah saat ini sudah mencapai tingkat yang

mengkhawatirkan. Demikian pula halnya sampah domestik yang menggunung di aliran-aliran sungai juga seringkali menghambat kelancaran aliran air. Namun demikian, muara permasalahan banjir ada pada kondisi lingkungan yang rusak akibat budaya masyarakat yang kurang tertib. Penyelesaian masalah ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Penanganan permasalahan dari hulu sampai ke hilir sungai, serta penanganan dan pemeliharaan saluran-saluran drainase memerlukan penanganan yang

menyeluruh, termasuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang betapa pentingnya memelihara infrastruktur yang sudah terbangun. Berdasarkan data kondisi banjir akhir Tahun 2006 dan awal Tahun 2007, beberapa wilayah yang sampai saat ini menjadi langganan banjir di Kabupaten Bandung adalah:

1). Wilayah Margahayu: a) Desa Margaasih Kecamatan Margaasih dengan tinggi genangan 0,11,0 m dan lama genangan 6 jam disebabkan oleh luapan Sungai Rancamalang. b) Jalan Raya Kopo sepanjang 50-100 m dengan tinggi genangan 0,3 0,5 m dan lama genangan 5 jam disebabkan oleh luapan Kali Cikahyangan. c) Desa Cangkuang Wetan Kecamatan Pasawahan dengan tinggi genangan 0,25-2,8 m dan lama genangan 12 jam disebabkan oleh luapan Kali Citepus. d) Kampung Palasari Kelurahan Pasawahan dengan tinggi genangan 0,51,0 m dan lama genangan 2-3 hari disebabkan oleh luapan Kali Cipalasari.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 93

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

e) Kampung Bojongasih Desa Dayeuhkolot dengan tinggi genangan 0,51,0 m dan lama genangan 12 jam disebabkan oleh luapan Kali Citarum. f) Perbatasan Desa Sukamukti dan Desa Rancamanyar dengan tinggi genangan 0,250,40 m dan lama genangan 12 jam disebabkan oleh luapan Sungai Cicangkudu. g) Sepanjang Kali Cikambuy dengan tinggi genangan 0,3 m dan lama genangan 2-6 jam disebabkan oleh luapan Kali Cikambuy. 2). Wilayah Ciparay; terutama di Desa Andir, Kecamatan Baleendah akibat luapan Sungai Citarum. 3). Wilayah Majalaya: a) Desa Majalaya Kecamatan Majalaya dan Desa Sukamantri

Kecamatan Paseh dengan tinggi genangan 0,451,5 m dan lama genangan 4-5 hari disebabkan oleh luapan Saluran Wangisagara Kanan. b) Desa Panyadap, Padamukti, Cibodas dan Langensari Kecamatan Solokanjeruk dengan tinggi genangan 0,400,85 m dan lama genangan 1-2 jam hari disebabkan oleh luapan Sungai Citiis, Sungai Cijagra dan Sungai Cigentur, di samping itu penyebabnya adalah kondisi saluran drainase yang sudah tidak sesuai dengan beban aliran air. 4). Wilayah Cileunyi: Sebagian Kecamatan Cileunyi meliputi Desa Cibiru Hilir dengan tinggi genangan 0,61,2 m disebabkan oleh luapan yang disebabkan oleh ganguan aliran di Saluran Ciateul, Cijambe, Ciwaru dan Saluran Induk Sadang Pugur. 5). Wilayah Banjaran: Sebagian Kecamatan Cangkuang akibat luapan Kali Cijalupang dan Kali Cisangkuy; Kecamatan Banjaran akibat luapan Kali Cisangkuy, Kali Ciseureuh, dan Citaliktik; sebagian Kecamatan Pameungpeuk dan Arjasari akibat luapan Kali Cisangkuy, Cibintinu, Cibabakan dan Kali Pananjung. 6). Wilayah Cicalengka: Sebagian Kecamatan Rancaekek meliputi Desa Bojongsalam, Haurpugur, Cangkuang, Sukamulya, Linggar dan Nanjungmekar dengan tinggi genangan 0,2-0,4 m dan lama genangan lebih dari 7 hari.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 94

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Beberapa upaya untuk pengendalian banjir telah diupayakan oleh pemerintah baik secara fisik (struktur) maupun non fisik (non struktur). Upaya penanganan secara fisik (struktur) yaitu melakukan modifikasi dan perbaikan terhadap sungai serta pembuatan bangunan-bangunan pengendalian banjir. Sedangkan upaya non fisik adalah upaya penanganan banjir yang bersifat rekayasa sosial yang menuntut adanya keserasian atau keharmonisan dari seluruh kegiatan manusia dengan lingkungan hidup. Pengendalian fisik yang telah dilakukan oleh pemerintah adalah: Mencegah meluapnya banjir pada tingkat/besaran banjir tertentu. Merendahkan elevasi muka air banjir di sungai (normalisasi alur, penggalian sudetan & pembangunan banjir kanal). Memperkecil debit banjir di sungai (membangun bendungan/waduk dan pemanfaatan daerah rendah untuk waduk retensi banjir)

Sedangkan upaya non fisik yang telah dilakukan adalah: Kegiatan vegetatif/Penghijauan pada lahan-lahan kritis di kawasan hulu; Penegakan hukum Penyuluhan/peningkatan kesadaran masyarakat Sistem drainase permukiman yang berwawasan lingkungan Penetapan sempadan sungai dan penertiban penggunaan lahan di daerah manfaat sungai Perkiraan dan peringatan dini Pengaturan penggunaan lahan di dataran banjir yang disesuaikan dengan adanya resiko terjadinya banjir Pemberdayaan ekonomi masyarakat pada kawasan hulu

Perubahan fungsi lahan yang sangat cepat dan tidak terkendali menyebabkan berkurangnya daerah hutan sebagai resapan air. Saat ini lahanlahan yang berfungsi sebagai resapan air telah banyak yang beralih fungsi menjadi pemukiman, industri dan lahan pertanian, sehingga menyebabkan pasokan air permukaan maupun air tanah akan semakin sedikit akibat menurunnya kemampuan tanah menyimpan air (resapan). Akibatnya air permukaan menjadi tidak terkendali dan pada tingkat tertentu menyebabkan banjir. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan di wilayah Cekungan Bandung agar ketersediaan air tetap
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 95

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

lestari, sehingga pada saat musim hujan tidak menimbulkan banjir dan pada musim kemarau tidak terjadi kekeringan. Di lain fihak, kondisi air permukaan di wilayah cekungan Bandung semakin memprihatinkan. Setiap tahunnya terjadi penurunan muka air sebagai akibat dari pemanfaatan air bawah tanah yang berlebihan. Dari hasil studi Direktorat Geologi Tata Lingkungan, sumber air bawah tanah di Wilayah Kabupaten Bandung dibagi ke dalam beberapa zona: Zona kritis untuk pengambilan air tanah hanya diperuntukan untuk keperluan air minum dan rumah tangga dengan pengambilan maksimum 100 m3 per bulan. Penyebaran zona kritis pengambilan air tanah di Kabupaten Bandung sebagian ada di kecamatan-kecamatan sebagai berikut: Majalaya, Ciparay, Rancaekek, Pameungpeuk. Zona rawan untuk pengambilan air tanah hanya diperuntukan bagi keperluan air minum dan rumah tangga dengan debit maksimum 100 m3 per bulan. Zona rawan untuk pengambilan air tanah penyebarannya ada di Kecamatan: Margaasih, Margahayu, Dayeuhkolot, Pameungpeuk, Ciparay, Majalaya, Cileunyi, Rancaekek dan Cicalengka. Daerah resapan airtanah Margaasih, Margahayu, Dayeuhkolot, Batujajar dan

penyebarannya ada di kecamatan: Cimenyan, Cilengkrang, Rancabali, Pasirjambu, Pangalengan, Ibun, Cicalengka dan Nagreg. Daerah Aman pengambilan airtanah, pengambilan baru diperbolehkan dengan debit 170 m3 per hari dengan jumlah sumur terbatas. Daerah aman untuk pengambilan air tanah penyebarannya ada di Kecamatan: Cimenyan, Cilengkrang, Cileunyi, Rancaekek, Cicalengka, Nagreg, Majalaya, Ciparay, Pacet, Banjaran, Ciwidey dan Pasirjambu Daerah resapan, tidak dikembangkan bagi peruntukan kecuali untuk air minum dan rumah tangga dengan pengambilan maksimum 100 m3 per bulan. Daerah resapan ini meliputi Kecamatan : Cimenyan, Cilengkrang, Rancabali, Pasirjambu, Pangalengan, Ibun, Cicalengka dan Nagreg. Zona bukan cekungan air tanah, produktivitas aquifer rendah sehingga kurang layak dikembangkan, kecuali aquifer dangkal di daerah lembah untuk keperluan air minum dan rumah tangga dengan pengambilan maksimal 100 m3 per bulan per sumur Zona bukan cekungan air tanah penyebarannya di Kecamatan Margaasih dan Pasirjambu.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 96

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

2.2.3.2

Prasarana Wilayah

Prasarana wilayah, yang terdiri atas prasarana transportasi, sumber daya air, jaringan listrik, serta prasarana permukiman, berperan sebagai pembentuk struktur ruang, pemenuhan kebutuhan wilayah, pemacu pertumbuhan wilayah, serta pengikat antar-wilayah.

A. Transportasi Saat ini panjang jalan di Kabupaten Bandung adalah 1.250,04 km. Setelah Kabupaten Bandung Barat terbentuk maka panjang jalan yang ada di wilayah Kabupaten Bandung Induk adalah sepanjang 767,68 km dan sisanya berada pada wilayah Kabupaten Bandung Barat 482,36 km. Permasalahan yang dihadapi dalam urusan transportasi antara lain adalah masih tingginya tingkat kerusakan infrastruktur jalan, penyebaran pembangunan infrastruktur yang

belum merata dan masih rendahnya kualitas infrastruktur dasar wilayah. Belum meratanya penyebaran pembangunan infrastruktur disebabkan karena

inkonsistensi pemerintah dalam pengembangan wilayah, minimnya investor dan biaya penyediaan infrastruktur yang tinggi. Pada tahun 2008 sesuai dengan rencana kerja untuk tahun 2009 Dinas Bina Marga Kabupaten Bandung prosentase penanganan jalan Kabupaten meliputi 41% dengan kondisi 26% kerusakan kurang dari 10% perlu dilakukan pemeliharaan rutin, 4% dengan kerusakan 10% - 30% perlu dilakukan pemeliharaan periodik serta 12% mengalami kerusakan di atas 30% perlu dilakukan peningkatan. Selain permasalahan infrastruktur jalan, permasalahan lain yang dihadapi adalah terjadinya kemacetan yang sering terjadi pada titik-titik tertentu yaitu

pada ruas Jalan Kopo, Banjaran, Jalan Moh. Toha, dan Bojongsoang, sedangkan untuk wilayah barat titik kemacetan berada pada Jalan Margaasih. Untuk mengatasi kemacetan, pada ruas-ruas jalan tersebut menejemen dan rekayasa lalu lintas serta pemasangan rambu. Hal lainnya yang menambah permasalahan kemacetan adalah belum memadainya penanganan terminal. Dalam penanganan kesemrawutan terminal perlu adanya penataan dan pembangunan terminal yang representatif, mengingat Kabupaten Bandung belum mempunyai terminal yang layak. Selain itu perlu dikembangkan dan dilakukan penataan kembali sarana transportasi (angkutan) yang layak dan memadai serta penggantian moda angkutan dengan sistem transportasi/angkutan masal.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 97

telah dilakukan

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

B. Permukiman Berdasarkan data-data yang ada, kondisi permukiman di Kabupaten Bandung tidak cukup menggembirakan. Berdasarkan data dari Asosiasi Konsultan Perumahan dan Permukiman Indonesia (AKPPI), pada tahun 2003 saja kebutuhan perumahan yang belum terpenuhi (backlog) di Kabupaten Bandung 178.984 unit rumah. Angka backlog ini termasuk kategori tinggi untuk daerah-daerah di Jawa Barat. Beberapa upaya pemerintah dalam mengatasi hal tersebut diantaranya adalah menggulirkan Program Rumah Tidak Layak Huni, juga bekerja sama dengan pusat melalui Program Perumahan Swadaya dan Rumah Susun Kulalet di Baleendah. Pada Tahun 2006, telah berhasil dilakukan perbaikan rumah tidak layak huni sebanyak 440 unit . Namun hal tersebut belum cukup mengatasi permasalahan backlog permukiman di Kabupaten Bandung. Permasalahan ini tentunya perlu mendapat perhatian dari seluruh stake holders permukiman baik pemerintah, swasta maupun masyarakat melalui kebijakan dan strategi yang efektif dan efisien sehingga angka backlog permukiman tidak semakin tinggi. Sementara itu pada tahun 2007 jumlah keluarga yang tinggal di daerah kumuh sebanyak 884 kk, terdapat di 114 titik lokasi dengan luas total areal permukiman kumuh 328.935 m2.

C. Listrik dan Energi Berdasarkan cakupan pelayanan prasarana jaringan listrik di Kabupaten Bandung, pada tahun 2007 terdapat keluarga yang belum mendapatkan fasilitas listrik perdesaan yaitu sebesar 46.169 KK yang tersebar di beberapa kecamatan antara lain Kecamatan Arjasari, Cikancung, Cimenyan, Ibun, Pacet, Paseh,

Pasirjambu, Rancabali dan Soreang. Di bidang energi, Kabupaten Bandung memiliki potensi panas bumi yang cukup besar sebagai salah satu alternatif sumber pembangkit tenaga listrik. Dua dari 4 PLTP yang telah beroperasi di Jawa Barat berlokasi di wilayah

Kabupaten Bandung yaitu Kamojang (140 MW) dan Wayang Windu (110 MW). Seiring dengan semakin mahalnya TDL dan dikuranginya subsidi bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah yang menyebabkan tingginya harga BBM, serta ditetapkannya Kebijakan Diversifikasi Energi Nasional sebagai bagian dari Kebijakan Umum Bidang Energi (KUBE) yang mengarahkan pada pengurangan pemakaian minyak bumi dan meningkatkan pemakaian batubara dan gas, terjadi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 98

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

peningkatan penggunaan bahan bakar batubara sebagai pengganti BBM pada industri-industri. Penggunaan batubara di Kabupaten Bandung mulai menjadi fenomena tersendiri sejak tahun 2003. Setelah itu, terjadi peningkatan pengalihan atau penggunaan batubara pengganti BBM di Kabupaten Bandung dari tahun ke tahun. Sampai tahun 2007 telah tercatat 94 industri memanfaatkan batu bara untuk pemenuhan energinya, diperkirakan untuk masa yang akan datang kebutuhan batubara untuk industri akan meningkat sejalan dengan dikuranginya subsidi BBM dan TDL yang semakin mahal. Pada tahun 2006 berdasarkan data-data penggunaan batubara dari 40 industri serta data dari API Jabar dilakukan perhitungan dengan asumsi-asumsi tertentu, maka perkiraan penggunaan batubara di Kabupaten Bandung adalah 1.200 ton per hari. Sedangkan pada tahun 2007 seiring dengan meningkatnya penggunaan batubara sebagai energi alternatif, konsumsi batubara meningkat menjadi 2.099 ton per hari. Penggunaan batubara ini di satu pihak akan membantu industri dalam menjalankan kegiatan industrinya karena biaya produksi dapat ditekan. Namun di pihak lain, limbahnya dapat menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola secara benar. Menyikapi hal ini maka Pemerintah Kabupaten Bandung dipandang perlu untuk melakukan penanganan limbah batubara secara terpadu. Penanganan yang paling tepat adalah dengan memanfaatkan limbah batubara tersebut menjadi komoditi yang bernilai ekonomis serta aman bagi lingkungan. Energi alternatif lainnya yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah energi Biogas. Di Kabupaten Bandung, Energi Biogas ini sebagian besar dihasilkan dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi, sehingga sebagian besar lokasi pemanfaatan energi boigas terletak pada wilayah peternakan. Pada tahun 2007 telah tercatat 56 unit peralatan boigas yang dimanfaatkan masyarakat yang tersebar di beberapa kecamatan, antara lain; Kecamatan Cilengkrang, Kertasari, Paseh dan Rancabali.

D. Air Bersih Secara keseluruhan cakupan pelayanan air bersih di Kabupaten Bandung saat ini masih cukup rendah. Kebutuhan air bersih yang terlayani oleh pemerintah baik yang dilayani oleh PDAM (perkotaan) maupun Dinas Kimtawil (pedesaan) serta swadaya Kabupaten Bandung berdasarkan data Tahun 2007
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 99

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

baru mencapai 37,78% untuk seluruh Wilayah Kabupaten Bandung. Prosentase cakupan tersebut merupakan angka prosentase kumulatif kinerja PDAM, Dinas Kimtawil dan Swadaya, masing-masing memberikan kontribusi 4,42%, 3,70% dan 29,65%. Tentu saja cakupan tersebut belum memperhitungkan tingkat keamanan sumber air bersih bagi kegiatan masyarakat sehari-hari, sehingga angka tersebut belum bisa diakui sebagai angka cakupan pelayanan air bersih yang aman bagi aktivitas masyarakat dilihat dari sisi kesehatan. Tabel 2.10 Tingkat Cakupan Air Bersih di Kabupaten Bandung
PDAM Jumlah Penduduk Terlayani Air Bersih (Jiwa) Cakupan Pelayanan Air Bersih (%)
4,42 3,70 29,65 37,78 189.046 158.105 1.267.556 1.614.707

Kimtawil

Swadaya

Total

Sumber : Dinas Kimtawil Kabupaten Bandung 2007

Wilayah perkotaan yang sudah terlayani PDAM adalah sebagian Kec. Bojongsoang, Katapang, Banjaran, Majalaya, Pameungpeuk, Pangalengan, Arjasari, Cicalengka, Cikancung, Ciparay, Pacet, Baleendah, Majalaya, Solokan jeruk, Paseh, Ibun, Soreang, Rancabali, dan Cangkuang. Sedangkan wilayah cakupan penyediaan air bersih yang termasuk perdesaan adalah sebagian Kec. Cileunyi, Cimenyan, Cilengkrang, Margahayu, Margaasih, Cimaung, Nagreg, Kertasari, Ibun, Pasirjambu, dan Ciwidey. Sampai tahun 2006, untuk wilayah perdesaan, pemanfaatan sumber air bersih adalah lk. 110 desa berasal dari mata air dengan total kapasitas 415,6 lt/dt, lk. 35 desa berasal dari sumur dangkal dengan kapasitas 35 lt/dt dan lk. 20 desa berasal dari sumur bor dengan kapasitas 20 lt/dt . Sistem distribusinya menggunakan pompa atau pipa gravitasi.

E. Persampahan Pelayanan kebersihan di Kabupaten Bandung sampai saat ini masih belum optimal, mengingat belum seluruh wilayah terlayani oleh Dinas Kebersihan, terutama untuk wilayah pedesaan. Dinas Kebersihan saat ini membagi empat wilayah pelayanan sebagai berikut:

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 100

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Tabel 2.11 Wilayah Pelayanan Persampahan Kabupaten Bandung


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 III II I Wilayah Operasional Kecamatan Margahayu Katapang Soreang Ciwidey Pasirjambu Rancabali Margaasih Baleendah Banjaran Dayeuhkolot Ciparay Bojongsoang Pameungpeuk Arjasari Pangalengan Cangkuang Cimaung Pacet Kertasari Majalaya Cileunyi Rancaekek Cicalengka Cimenyan Paseh Solokanjeruk Ibun Nagreg Cikancung Cilengkrang JUMLAH
(* Keterangan: : terlayani : tidak terlayani

Terlayani/Tidak (*

Sampah Terangkut (m /hari) 90,82 21,21 42,06 18,72 20,07 37,92 37,44 43,68 9,00 14,94 7,50 4,53 1,50 6,03 45,12 67,25 54,15 29,97 9,00 3,03 1,50 12,06 577,50
3

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 101

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Kecamatan Kutawaringin masih tergabung dalam Kecamatan Soreang Sumber : Masterplan Persampahan Kabupaten Bandung 2007

Dari tabel 2.11 di atas dapat dilihat bahwa dari 30 kecamatan Dinas Kebersihan baru bisa melayani 21 kecamatan, dengan sampah terangkut ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) 577,50 m3 perhari, padahal berdasarkan data Dinas Kebersihan Tahun 2006, jumlah timbulan sampah per hari di Kabupaten Bandung adalah 8.322 m3 perhari. Artinya jumlah sampah yang terangkut ke TPSA di Kabupaten Bandung baru mencapai 11,78%, sisanya bisa dibuang ke sungai, ditimbun atau dibakar oleh masyarakat. Tentunya hal ini akan mempengaruhi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dengan prosentase timbulan sampah tidak terangkut yang masih besar, beban pemerintah di dalam mengatasi permasalahan sampah tentunya akan sangat berat tanpa dibantu oleh para pemangku kepentingan (stakeholders). Untuk itu pemerintah perlu mendorong partisipasi masyarakat dan swasta dalam mengatasi permasalahan sampah. Disamping itu rekayasa sosial yang

mengarah kepada peningkatan kedisiplinan masyarakat dalam membuang sampah, dengan demikian upaya mengurangi jumlah timbulan sampah yang harus diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Sementara (TPSS) dan TPSA bisa dikurangi di level rumah tangga sebagai unit terkecil di masyarakat. Rekayasa teknologi pengolahan sampah yang aman bagi lingkungan yang mampu mengurangi jumlah timbulan sampah TPSS dan TPSA juga perlu dilakukan sehingga kesulitan mencari lahan TPSS dan TPSA bisa teratasi. Dengan memiliki satu lokasi TPSA, yaitu TPSA Babakan di Kecamatan Ciparay dengan luas lahan 10,1 ha harus menjaga agar lokasi-lokasi TPSA tersebut tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, sehingga keberadaan TPSA tersebut mendapat dukungan dari masyarakat, terutama dari komunitas-komunitas pemerhati lingkungan. Melalui terobosan-terobosan

pengelolaan sampah yang baik dan aman terhadap lingkungan diharapkan akan memperpanjang usia TPSA dan meredam resistensi masyarakat terhadap keberadaan TPSA tersebut.

F. Pengairan/Irigasi Panjang saluran irigasi adalah 594 km dan terbagi atas saluran teknis sepanjang 183,8 km dengan kondisi 137,975 km kondisinya baik, 36,889 km rusak ringan dan 4,983 rusak berat serta saluran non teknis sepanjang 410,55
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 102

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

km dengan kondisi 28,741 km dalam keadaan baik, 103, 240 km rusak ringan dan 35,800 km rusak berat. Bendung teknis sebanyak 22 buah dengan 27% kondisinya baik, 41% rusak ringan dan 9% rusak berat serta 297 buah bangunan sadap terdiri dari 56% kondisinya baik, 44% rusak ringan dan 29% rusak berat. Untuk bangunan pelengkapnya terdiri dari 367 bh dengan 254 kondisinya baik, 72 bh rusak ringan dan 41 rusak berat serta 87.930 m bagunan pelengkap terdiri dari 4.000 m kondisi baik, 37.880 m kondisi rusak ringan serta 46.050 m rusak berat.

2.4.2 Isu Strategis Isu strategis merupakan pokok permasalahan yang belum dapat diselesaikan pada periode tahun sebelumnya dan memiliki dampak jangka panjang bagi keberlanjutan pelaksanaan pembangunan, sehingga perlu diatasi secara bertahap. Brdasarkan kondisi-kondisi sebagaimana diuraikan pada sub bab sebelumnya dan terkait dengan isu nasionals erta provinsi maka ditetapka Isu strategis Kabupaten Bandung pada tahun 2009 antara lain : Kemiskinan Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Infrastruktur Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Kesehatan Pendidikan Ketersediaan Energi Jumlah penduduk Kinerja pemerintahan Lunturnya Nilai-nilai religius

Berikut tabel yang menggambarkan isu strategis Kabupaten Bandung berdasarkan kajian permasalahan berdasarkan data yang terhimpun serta usulan dan masukan melalui berbagai mekanisme dan proses seperti musrenbang serta renja dan renstra SKPD terkait.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 103

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Tabel 2.12 Matriks Isu Strategis Kabupaten Bandung


ISU STRATEGIS 1 Kemiskinan MASALAH 2 Masih tingginya jumlah penduduk miskin. BASIS DATA 3 Jumlah keluarga miskin terendah adalah di Kec.Margahayu lk. 2.440 KK (miskin perkotaan), sedangkan jumlah gakin tertinggi yaitu di Kec. Ciparay. Lk. 19.871 KK (sumber data : gakin lk. 10.656 KK orang per kecamatan Lingkungan Hidup Tingginya terhadap dikategorikan pencemaran/polusi lingkungan menjadi yang limbah Debit limbah cair industri terbanyak di Kecamatan Dayeuhkolot lk. 1.511.827 m3/hari, sedangkan total debit limbah cair se Kabupaten Bandung lk. 4.014.144 m3/hari yang tersebar di 18 Kecamatan dengan rata-rata lk.223.000 m3/hr Pencemaran/polusi berupa limbah cair dapat dilihat dari kualitas badan air, terutama pada S. Citarum dan anak-anak sungainya. Kualitas anak-anak S. Citarum yaitui Sungai Cisangkan Hilir,S. Cibeusi serta S. Cisaranteun Hulu termasuk Kelas IV atau masih mungkin digunakan untuk kepentingan mengairi tanaman, sedangkan kualitas anak-anak S. Citarum lainnya tidak termasuk ke dalam kelas I,II,III,IV (tidak dapat digunakan) Sumber BPLHD thn 2007. Banyaknya industri yang membuang limbah cair menyebabkan tingginya konsentrasi COD. Pencemaran dalam bentuk limbah lain yaitu limbah cair karena aktivitas peternakan (kotoran ternak) yang menyebabkan tingginya konsentrasi BOD pada badan air penerima (S. Citarum dan anak sungainya). Sebaran lokasi peternakan sapi yaitu Pangalengan,Arjasari, Pacet, Kertasari, Ibun, Cikancung, Pasirjambu,Ciwidey, Cilengkrang, Cimenyan, Nagreg,Cicalengka. Jumlah ternak sapi perah lk.25.307 ekor, sedangkan sapi potong 11.510 ekor. Jumlah sapi potong terbanyak di Kec. Cilengkrang lk. 10.070 ekor, sedangkan jumlah sapi perah terbanyak di Kec. Pangalengan yaitu lk. 10.630 ekor Pencemaran berupa polusi udara akibat pemanfaatan batu bara sebagai pengganti energi listrik ) untuk rata-rata sebaran

dan Tata Ruang

industri, domestik serta limbah pertanian. Limbah tersebut dapat dikelompokkan menjadi limbah B3 dan non B3, sedangkan dari bentuknya terbagi menjadi limbah padat, cair dan gas.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 104

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

ISU STRATEGIS 1

MASALAH 2

BASIS DATA 3 Pencemaran berupa limbah B3 lainnya yang memerlukan penanganan khusus.

Luasnya lahan kritis

Terdapatnya Lahan kritis pada 16 Kecamatan, dengan luas lahan kritis tertinggi di Kecamatan Cimenyan lk.828 Ha atau 16 % dari luas lahan Kec. Cimenyan, sedangkan rata-rata persentase luas lahan kritis pada 16 kecamatan tersebut lk. 7% Luas lahan kritis tersebut umumnya berada pada lahan-lahan milik masyarakat, sehingga hal ini cukup menyulitkan dalam upaya penanganannya

Adanya eksploitasi Air Bawah Tanah pada beberapa lokasi

sudah sangat menghawatirkan. Penurunan muka air tanah

tertinggi di Kecamatan Dayeuh kolot Masih terbatasnya kuantiitas dan kualitas lingkungan /perumahan Terdapatnya kebencanaan Pendidikan Tingginya beban masyarakat potensi Peristiwa kebencanaan di Kabupaten Bandung meliputi kejadian banjir sebanyak 27 kali dengan luas total 500 Ha, kejadian longsor sebanyak 59 kali dan kekeringan sebanyak 71 lokasi kejadian. Tingginya biaya pendidikan (operasional & non operasional) karena (1) Tingginya biaya pendaptaran sekolah (2) biaya seragam (3) biaya pendidikan & non pendidikan lainnya yg langsung ditanggung siswa. sanitasi/kesehatan permukiman

dalam membiayai pendidikan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 105

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

ISU STRATEGIS 1

MASALAH 2

BASIS DATA 3 Jarak sekolah yg jauh dari tempat tinggal siswa dengan kondisi akses yang tidak memadai

Permasalahan (Guru) Permasalahan (Guru) Kesehatan Permasalahan

SDM

pendidik

Kualitas guru yang rendah, kurangnya minat untuk meng-upgrade kapasitasnya sendiri, serta sebaran guru yang tidak merata

SDM

pendidik

Sebaran tenaga pendidikan kurang merata

SDM

Penyedia

Jumlah tenaga kesehatan kurang Sebaran tenaga kesehatan kurang merata Dedikasi pemberi layanan kesehatan publik kurang Masih banyak pemberi layanan kesehatan dengan tingkat pendidikan yang rendah Jumlah dan sebaran prasarana kesehatan publik kurang merata

layanan (Dokter, Perawat, Bidan, dokter gigi, dll) serta sarana dan prasarana kesehatan

Ketahanan Pangan

Dari

sisi

produksi, tidak pangan

Kabupaten mengalami (beras),

Untuk ketahanan pangan sendiri apabila dihitung jumlah penduduk Kab. Bandung yang berjumlah lk. 2,9 juta orang, maka masih tersedia beras dalam jumlah berlebih (surplus).

Bandung kekurangan

namun dari sisi distribusi dan kemampuan/daya kurang. Jumlah produksi padi Kab. Bandung adalah 385.732 kw/ha/thn. Jumlah produksi terbanyak yaitu Kec. Rancaekek lk.35.307 kw/ha/thn, sedangkan yang paling rendah adalah Kec.Kertasari lk.870 kw/ha/thn. (Rata-rata 12.857 Ha). Ketenagakerjaan Masih tingginya jumlah penduduk Terdapatnya jumlah pengganguran lk. 280.368 orang, Bab II Hal. 106 beli masih

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

ISU STRATEGIS 1

MASALAH 2 yang menganggur.

BASIS DATA 3 dengan jumlah laki-laki lk. 143.124 org dan perempuan lk. 137.244 org. Penganggur terbanyak di Kec. Kertasari lk. 17.231 orang, sedangkan terkecil di Kec. Cimenyan lk. 2.101 orang..

Ketersediaan energi dan SDA lainnya

Masih banyaknya penduduk yang belum teraliri listrik terutama

masyarakat miskin Masih listrik : Kependudukan Tenaga panas bumi Biogas (kotoran ternak) Untuk energi berasal dari panas bumi berada di Kec. Pangalengan, Kertasari, Ibun serta Rancabali. Pengolahan kotoran ternak menjadi energi merupakan potensi energi alternatif, yang potensinya cukuo besar berada di beberapa Kecamatan, a.l: Kec. Pangalengan, Kec. Cilengkrang serta Kec. Cikancung. tenaga air (mikro) Tenaga angin Tenaga surya laju pertumbuhan Terdapatnya distribusi penduduk yang tidak seimbang terutama pada kawasan yang cepat tumbuh (kawasan indusdan kawasan perbatasan dengan Kota Bandung) Laju pertambahan penduduk alami masih tinggi Kepadatan penduduk tinggi Jumlah Penduduk 2,9 juta kurangnya pemanfaatan

Tingginya

penduduk (LPP) yaitu lk. 3,03%

dengan rata-rata 3.013 orang/ha Kinerja Pemerintahan Belum optimalnya kinerja Rasio aparatur Kecamatan terhadap jumlah penduduk 859 : 2,9 juta atau 1:3.376

pemerintahan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 107

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

ISU STRATEGIS 1 Lunturnya Nilai-nilai religius

MASALAH 2 Lunturnya nilai-nilai religius

BASIS DATA 3

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 108