BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH
2.1. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan Rencana yang disusun sebagai penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah. Visi Kabupaten Bandung 2005-2010 adalah “Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja melalui Akselerasi Pembangunan Partisipatif yang Berbasis Religius, Kultural dan

Berwawasan Lingkungan dengan Berorientasi pada Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa”, dirumuskan kedalam 8 (delapan) misi sebagai pedoman pelaksanaan bagi pemerintah daerah sebagai berikut : 1) Mewujudkan pemerintahan yang baik; 2) Memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman, tertib, tenteram dan dinamis; 3) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia; 4) Meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat; 5) Memantapkan kesalehan sosial berlandaskan iman dan taqwa; 6) Menggali dan menumbuhkembangkan budaya Sunda; 7) Memelihara keseimbangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan; 8) Meningkatkan kinerja pembangunan desa. Berkaitan dengan pencapaian Visi dan Misi di atas, terdapat beberapa pertimbangan untuk menentukan kriteria dalam memilih program-program pada RKPD 2009 dengan berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bandung 2006-2010. Pertimbangan tersebut antara lain : • Perubahan Lokasi program dan kegiatan. Program dan kegiatan yang berlokasi di Bandung Barat dipisahkan dan tidak lagi termasuk dalam rencana sebagai akibat dari pemekaran Kabupaten Bandung. • Perubahan tersebut memberikan ekses pada perubahan evaluasi, rencana serta pengalokasian pada mekanisme penyusunan RKPD 2009 sesuai

dengan revisi RPJMD 2006-2010 dalam hal ini bertumpu pada sisa rentang RPJMD yaitu 2009-2010. • Prioritas penerima manfaat program dan kegiatan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 1

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Sebagai konsekuensi perubahan serta tuntutan isu strategis yang ada adalah kebijakan penempatan Program dan kegiatan yang kurang bermanfaat langsung bagi masyarakat prioritasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. • Pelaksanaan program/kegiatan harus berorientasi pada pemecahan isue kebijakan prioritas yang tercantum pada RPJMD

2.2. Evaluasi status dan kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan Daerah Keberhasilan pelaksanaan pembangunan bergantung kepada perencanaan, terutama dalam memperhitungkan hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan sebelumnya. Berdasarkan hasil evaluasi, pada rentang waktu tertentu dapat dilakukan pengkajian serta analisis kecenderungan yang dapat mengindikasikan permasalahan yang mempengaruhinya sekaligus prediksi serta intervensi yang harus dilakukan melalui kebijakan. Evaluasi terhadap pencapaian pembangunan dapat dilihat melalui status dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan berdasarkan indikatorindikator makro pembangunan daerah dan penyelenggaraan urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan antara lain untuk : • Mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai terhadap target kinerja yang diharapkan menurut RPJMD, target pembangunan nasional (RPJM Nasional) maupun sektoral (Renstra K/L) • • Mengetahui kendala dan tingkat pemanfaatan potensi yang ada Menentukan langkah-langkah atau kebijakan yang diperlukan

Sebagaimana yang tercantum dalam RPJMD. Berikut akan diuraikan pencapaian IPM beserta komponen-komponennya (pendidikan, kesehatan, dll). Pencapaian tersebut akan dibandingkan dengan target yang ingin dicapai oleh Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat.

2.2.1 Kependudukan Salah satu indikator makro yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja pelasksanaan pembangunan adalah dengan menggunakan indikator jumlah penduduk sebagai dasar penentuan indikator lainnya terkait pemenuhan kesejahteraan penduduk. Jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2007 mencapai lk. 3.038.082 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) sebesar 3,2% (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil). Dengan LPP tersebut,
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009
Bab II Hal. 2

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

percepatan penambahan penduduk Kabupaten Bandung termasuk tinggi dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang berkisar di angka 2%. Gambaran pertumbuhan penduduk Kabupaten Bandung dapat dilihat pada Gambar 2.1. Dari diagram tersebut dapat dilihat bahwa sebelum pemekaran Kabupaten Bandung Barat (KBB), jumlah penduduk setiap tahunnya bertambah sekitar 100.000, dan hal ini tidak berubah setelah KBB memisahkan diri. Artinya bahwa pertambahan jumlah penduduk yang tinggi ada di kabupaten induk

Gambar 2.1 Diagram Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Bandung Tahun 2003 – 2007

5 4 3 2 1 0
2003 (45 kec) 2053 1964 4017 2004 (45 kec) 2087 2058 4145 2005 (45 kec) 2165 2109 4274 2006 (45 kec) 2224 2175 4399 2006 (30 kec) 1482 1462 2944 2007 (30 kec) 1533 1505 3038

Laki-Laki Perempuan Jumlah (ribu)

Catatan : Jumlah 45 kecamatan sebelum pemekaran wilayah Kabupaten, jumlah 30 Kecamatan setelah pemkaran wilayah Kabupaten.

Meskipun demikian, pemekaran tersebut menyebabkan meningkatnya angka IPM Kabupaten Bandung, artinya banyak penduduk miskin dan berpendidikan rendah berdomisili di KBB. Berikut gambaran LPP Kabupaten Bandung dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat:

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 3

dan Kecamatan Baleendah serta Kecamatan Cimenyan dan Kecamatan Cilengkrang.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Gambar 2. Dengan posisi strategis serta kekayaan alam yang cukup beragam. Kabupaten Bandung berpotensi besar menjadi kabupaten termaju.10% 2. sehingga peluang kerja tidak direbut oleh penduduk dari luar Kabupaten Bandung. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Banyak tenaga kerja di Kota Bandung yang memilih bertempat tinggal di Wilayah Kabupaten Bandung mengingat semakin mahalnya harga lahan atau perumahan di Kota Bandung. Namun hal tersebut harus ditunjang oleh SDM yang memadai. Kecamatan Margahayu.50% 0.50% 1.10% 3.19% 2. berpulang pada bagaimana potensi dan peluang tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal.00% 2005-2006 2005-2006 (30 kec) LPP Kab. Permasalahan terbesar terletak pada kesiapan sumber daya manusia yang dimiliki Kabupaten Bandung dalam menjawab tantangan tersebut.00% 3.20% 2.50% 2. khususnya perekonomian untuk sektor industri dan perdagangan serta jasa. Bandung LPP Prov Jawa Barat Pertumbuhan penduduk yang tinggi tersebut cukup beralasan mengingat posisi geografis Kabupaten Bandung sebagai salah satu daerah penyangga Ibukota Provinsi.00% 0. Kondisi geografis tersebut sebetulnya bisa menjadi potensi yang menguntungkan bagi Kabupaten Bandung.50% 3.00% 2003-2004 2004-2005 1. 4 .94% 0.64% 3. Bila pertumbuhaan serta perkembangan kualitasnya lambat atau cenderung di bawah kabupaten lain. Kecamatan Bojongsoang.97% 2.00% 1. pada akhirnya penduduk Kabupaten Bandung akan menjadi penonton roda pembangunan yang digerakkan oleh para pendatang. Hal ini terjadi terutama di wilayahwilayah yang berbatasan dengan Kota Bandung seperti Kecamatan Cileunyi.2 Diagram Perbandingan Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Bandung dengan Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 – 2006 3.

16 2006 70.2. Fokus pembangunan yang masih berpusat pada daerah-daerah yang cepat pertumbuhan ekonominya. hasil pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada daerah tertentu suatu saat diharapkan akan memberi efek tetesan ke bawah pada daerah-daerah periferal tersebut. Karena ada pemikiran. terutama daerah-daerah yang tertinggal/terpencil.52 2005 69. sehingga daerah-daerah tersebut tidak tertinggal terlalu jauh dibandingkan dengan daerah perkotaan.11 2007 71.IPM Kabupaten Bandung 2007 . Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 72 71 69. 5 .42 69. pencapaian angka IPM Kabupaten Bandung dari tahun ke tahun terlihat relatif Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.2 Pencapaian IPM Perkembangan pembangunan SDM di Kabupaten Bandung dapat kita lihat melalui pertumbuhan gambaran nilai IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di bawah ini: Gambar 2.11 69. Cheema : 1983).53 70 69 68 67 66 Target IPM Nilai IPM 68.53 70.52 2004 68.29 71.48 70. sehingga kualitas kesejahteraan masyarakat bisa meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah.RPJMD Kabupaten Bandung 2004 Pada Gambar di atas terlihat selama periode 4 (empat) tahun terakhir.48 70. Peningkatan kualitas SDM tersebut perlu memperhatikan pemerataan.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Jawaban dari permasalahan tersebut adalah strategi pembangunan yang berorientasi pada penyiapan kualitas SDM untuk menjawab tantangan kebutuhan lapangan kerja.42 70. 2. Rondinelli dan Shahir G.96 Sumber : .3 Nilai IPM serta Target Capaian Pertumbuhan IPM Kab.96 70.16 68. yang pada akhirnya diharapkan berdampak kuat pada upaya pemberantasan kemiskinan (Denis A. mengakibatkan daerah-daerah yang relatif tertinggal menjadi kurang mendapat perhatian dan menjadi prioritas.29 68.

Gambar 2.16 70.02 68.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH cukup baik.RPJMD Kabupaten Bandung 2004 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.RPJMD Kabupaten Bandung 2004 Gambar 2.11 pada tahun 2006.4 2005 98.4 Nilai IPM serta Laju Pertumbuhan IPM Kab. Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 73 72 71 70 69 68 67 66 0.96 Laju Pertum buhan Nilai IPM Sumber : . menjadi 70.52 2005 (20042005) 0.5 97 96.88 setelah pemekaran) pada tahun 2007.20 2006 98. dan 70.52.11 2004 (20032004) 1.65 98.64 1.96 (71.71 98.60 98.96 70.5 Nilai AMH Target AMH 2004 98.4 98. Capaian angka IPM Kabupaten Bandung pada tahun 2004 mencapai 68.90 97.2 98.64 69.16 2006 (20052006) 0.70 98.95 0.60 2007 98. selanjutnya meningkat menjadi 69.70 98.IPM Kabupaten Bandung 2007 . 6 .95 70.65 98.IPM Kabupaten Bandung 2007 .02 68.16 pada tahun 2005.20 98.5 98 97.5 99 98.90 Sumber : . Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 99.85 70.52 69.11 2007 (20062007) 0.71 98.5 Nilai AMH serta Target Capaian AMH Kab.85 0.2 97.

56 2004 68.72 69.93 2006 8.06 Bab II Hal.40 8.7 Indeks AHH serta Target Capaian AHH Kab.40 Sumber : .IPM Kabupaten Bandung 2007 .39 8.53 8. Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 73 72 71 70 69 68 67 66 Index AHH Target AHH 68.80 7.58 69.93 8.09 68.13 70.72 68.13 Sumber : .97 69.68 2005 8.IPM Kabupaten Bandung 2007 .93 72.26 7.68 7.56 72.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Gambar 2. Gambar 2.17 .20 8.60 7.00 7.58 2005 68.RPJMD Kabupaten Bandung 2004 Gambar 2.93 2007 70.20 Nilai RLS Target RLS 2004 8.03 7.8 Nilai PPP serta Tahun 2009 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Target Capaian PPP Kab.53 8. sebaliknya pengaruh negatif oleh nilai AHH.60 8. Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 555 550 545 539. 7 550.40 7.03 8.97 70.40 7.17 2007 8.39 8.42 549.75 2006 69.26 8. Bandung (45 Kecamatan) Tahun 2004-2007 8.09 68.RPJMD Kabupaten Bandung 2004 Dari grafik juga dapat dilihat bahwa target pencapaian dipengaruhi secara positif oleh nilai RLS dan AMH secara signifikan.88 545.75 70.17 8.6 Nilai RLS serta Target Capaian RLS Kab.

3 74 73 72 71 70 69 68 67 66 Target IPM Nilai IPM 68.8 68.3 70. pada tahun 2005 menjadi 71.16 70.8. Bandung (45 Kecamatan) serta Target Capaian Pertumbuhan IPM menurut Prov.2 70.2 2005 71 69.52 2004 69.11 69. target pencapaian IPM hendaknya memperhitungkan pencapaian IPM tahuntahun sebelumnya. pada tahun 2004 target capaian IPM seharusnya 69.9 Nilai IPM Kab.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Sumber : IPM Kabupaten Bandung 2007 RPJMD Kabupaten Bandung 2004 Namun hal tersebut belum berarti bahwa kemajuan pembangunan manusia Kabupaten Bandung sudah cukup membanggakan.96 Sumber : IPM Kabupaten Bandung 2007 Proyeksi IPM Kab/Kota Se Jawa Barat 2010 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. tahun 2006 menjadi 72. 8 .96 71 72. Jika dibandingkan dengan target yang akan dicapainya menurut Provinsi Jawa Barat.2.52 69. Jabar Tahun 2004-2007 73.11 2007 73.8 70.3 pada tahun 2007. Oleh karena itu. Gambar 2. dan menjadi 73.00.16 2006 72.

44 86.76 88. Bandung (45 Kecamatan) serta Target Capaian Indeks Pendidikan menurut Prov.7 68.8 2005 84.44 84.3 86.09 68.09 2004 68.97 69.11 Indeks Pendidikan Kab.5 2005 68.56 71 69.72 68.8 84 82 80 Indeks Pendidikan Target IP 83.76 2004 83.12 84.5 68.72 69. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Jawa Barat Tahun 2004-2007 70. Jawa Barat Tahun 2004-2007 90 88.3 2006 84.9 2006 69.3 84. sebaliknya nilai RLS dan AMH masih jauh dibawah target capaian RLS dan AMH Provinsi Jawa Barat.12 85.56 69.8 85.10 Indeks AHH Kab.3 2007 70.7 IPM Kabupaten Bandung 2007 Proyeksi IPM Kab/Kota Se Jawa Barat 2010 Gambar 2.3 68.2 Sumber : IPM Kabupaten Bandung 2007 Proyeksi IPM Kab/Kota Se Jawa Barat 2010 Dari grafik juga dapat dilihat bahwa target pencapaian dipengaruhi secara positif oleh nilai AHH yang telah melampaui target capaian AHH Provinsi Jawa Barat.3 83.97 70 69 68 67 66 Index AHH Target IK Sumber : 68.9 69. Bandung (45 Kecamatan) serta Target Capaian Indeks Kesehatan menurut Prov.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Gambar 2.2 88 86 83.8 2007 84. 9 .

58 63. 2.6 65.91 50 Indeks Daya Beli Target IDB 2004 54.12 Indeks Daya Beli Kab. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.3 2007 57. 10 . Tabel.6 55.15 63. Bandung (45 Kecamatan) serta Target Capaian Indeks Daya Beli Menurut Prov.58 65.3 64.15 54.2 Sumber : IPM Kabupaten Bandung 2007 Proyeksi IPM Kab/Kota Se Jawa Barat 2010 Sebagai gambaran terperinci terkait dengan indikator pencapaian kinerja pembangunan daerah Kabupaten Bandung dapat dilihat pada Tabel.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Gambar 2.1.1 menunjukkan hasil evaluasi status dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan daerah Kabupaten Bandung dari tahun 2006 sampai tahun 2007.1 2006 55.2 55 54.91 64. Jawa Barat Tahun 2004-2007 70 65 60 57. 2.1 64.65 2005 54.65 64.

1 Evaluasi Status dan Kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan Kabupaten Bandung Tahun 2006 – 2007 No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data 1 Urusan Pendidikan a.53 90.32 35. SLTP c. PT 98. SD b.27 46.562 KBDA 2007 Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Suseda Tahun 2006 dan 2007 .174 1.58 90.78 101. SD b.62 98.25 45.99 84.215277778 397.75% 8.215277778 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. 11 .492 2.27 35.1875 310.Jumlah SD/sederajat 2.70% 8.48 86.630 0.88 101.96 66.136 1.9 80. SLTA d.247 0. APK : a.36 e.71% 8.02 34.91 5.79 7.Jumlah penduduk usia SD (7-12 th) .73 6. Bandung 2007 d.63 10. SLTA d.Rasio SD/sederajat terhadap jumlah penduduk usia SD 457.72 7.29 66.46 48. c.722 1 : 208 596.01 63. AMH RLS APM : a.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Tabel 2. b.39 91.6 IPM Kab. PT 125.72 8.168 0. SLTP c.24 98. Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah .

733 6.400 1 : 338 274.161 13.Jumlah SMP/sederajat 311 223 349 f.544 Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Suseda Tahun 2006 dan 2007 1:33 11.540 188.597 .277 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.527 75.Jumlah murid SD/sederajat 457.722 418. .745 .Rasio SMP/sederajat terhadap jumlah penduduk SMP/sederajat Rasio guru terhadap murid .Jumlah penduduk usia SMP/sederajat (13-15 th) .400 147. 12 .Jumlah guru SD/sederajat 107.168 310.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data .Rasio guru SD/sederajat terhadap murid SD/sederajat 1:28 1 : 28 1:33 .088 1 : 344 1:14 16.Jumlah guru SMP/sederajat 8.893 Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) .349 7.088 75.Jumlah murid SMP/sederajat 107.

52 / 1000 67.631 158 2. Poliklinik.Jumlah tenaga medis Buku KBDA tahun 2007 dan olahan h. Rasio dokter per satuan penduduk .809 e. Buku KBDA tahun 2007 dan olahan g.828 1 : 29.Jumlah dokter .563 237 4.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data . pustu per satuan penduduk . Bandung 2007 2 Urusan Kesehatan a.482 1 : 29.870 248 Buku KBDA tahun 2007 Buku KBDA tahun 2007 dan olahan Buku KBDA tahun 2007 dan olahan f.89% 0.Jumlah Puskesmas.482 1 : 879.896 5 4. poliklinik.17 / 1000 67.80% 3.608 379 39. Pustu .943.888 1 : 18.Rasio guru SMP/sederajat terhadap murid SMP /sederajat 1 : 12 1 : 12 1 : 20 Buku Masterplan Pendidikan 2007 (data 2006) dan Statistik Pendidikan 2007 (data 2007) IPM Kab.Jumlah penduduk 40.943.111111111 5. 13 . b.Jumlah Penduduk Rasio rumah sakit per satuan penduduk .828 1 : 588.Jumlah rumah sakit . AKB AHH Persentase Balita Gizi Buruk Rasio posyandu per satuan balita .765 5 2.Jumlah Balita Rasio Puskesmas.18 / 1000 66.Jumlah posyandu .146 101 2.482 1 : 11.Jumlah penduduk Rasio tenaga medis per satuan penduduk .928 147 4.943. Buku KBDA tahun 2007 dan olahan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. d.891 1 : 18.399.399.98 Th 0.828 1 : 11. 265.399.687 404.86% 39.90 Th 0. Bandung 2007 IPM Kab. c.33 Th 0.

31 3.51 12 buah Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.085. b. Persentase Jumlah Tenaga Kerja Dibawah Umur . 4 Urusan Ketenagakerjaan a.40% 54. Jumlah uji kir angkutan Jumlah halte Jumlah terminal Persentase penanganan sampah Persentase penduduk berakses air minum 55.56 16 15. e. a. b. d.Jumlah tenaga kerja/bekerja Persentase Jumlah Perempuan di Lembaga Pemerintahan Partisipasi perempuan di lembaga swasta Rasio KDRT Angka partisipasi angkatan kerja (TPAK) Angka sengketa pengusaha pekerja per tahun Tingkat pengangguran terbuka Jumlah arus penumpang angkutan umum Rasio izin trayek : Jumlah trayek berizin Jumlah total trayek 51.938 1.Jumlah penduduk 4. 55.74 0.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data .621 51.482 2. 6 Lingkungan Hidup a.828 3 Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Anak a.Jumlah tenaga kerja < 10 th . 14 .45% 56. c. Bandung 2007 14. b.153 49.79% 0.81% b. d.943.64 % 5 Perhubungan 87 c.362 1.98% IPM Kab. c.74 8.399.204.

BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data c.Jumlah penduduk beragama Budha . b.Jumlah penduduk beragama Islam .Jumlah Gereja .Jumlah penduduk beragama Hindu . Persentase luas pemukiman yang tertata Sarana dan Prasarana Umum a.775 7 0 1 9. c.Rasio Gereja .630 11 0 1 KBDA Tahun 2006 & 2007 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.Jumlah Pura .Rasio Mesjid .Jumlah Wihara . Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio jaringan irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk : .Jumlah Mesjid .Rasio Wihara 10.Jumlah penduduk beragama Kriten . 15 .Rasio Pura .

e.279 Data Diskoperindag Tahun 2006 & 2007 Data Diskoperindag Tahun 2006 & 2007 9 Penanaman Modal a b c Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nasional Investasi berskala 5.570. g.481.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data d.375 25.360.907 77.613 91. Rata-rata jumlah kelompok binaan lembagapemberdayaan masyarakat (LPM Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.09% 8 Koperasi dan Usaha Kecil menengah a b c 46. h.796.456 3.20% 4.527.357 138 92 78. b.931 4.32% 3.78% 4.292. 7 Pertanahan - Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Rasio tempat pembuagan sampah per satuan penduduk Rasio rumah layak huni Rasio permukiman layak huni Persentase luas lahan bersertifikat Persentase jumlah koperasi aktif Jumlah UKM non BPR/LKM UKM Jumlah BPR/LKM 76.606 5.415 Data BPMP Tahun 2006 dan 2007 10 Pemberdayaan masyarakat dan desa a. 16 .421 5.956 - 97 Data BPMP Tahun 2006 dan 2007 Data BPMP Tahun 2006 dan 2007 Rasio daya serap tenaga kerja 79. f.

169 Kwt 644. 17 .498 Kwt 2.57 936 Kelompok 277 Kelompok 505 Kelompok 146 Kelompok 8 Kelompok 0.51 PDRB Tahun 2007 b.506 kelompok 501 kelompok 786 kelompok 200 kelompok 19 kelompok kredit usaha sumberdaya 7 Kelompok LUEP (Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan) LPE : PDRB: 7.573. Jumlah LPM 11 Pertanian a.066 Kwt 2.818.310 Kwt 2.222 Ton 68 Ton 350965 Kwt 317390 Kwt 2559430 Kwt 1788837 Kwt 1122080 Kwt 13 Ton 2.610 Kwt 858.Kelas madya .315.20 LPE : PDRB: 7.231 Kwt 18.495 Ton 55 Ton 290.786 Kwt 921 Ton 3.263.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data c.Kelas utama Akses terhadap pertanian dan permodalan Distanhutbun 6 Kelompok LUEP 15 Kelompok LUEP BKPPP Tingkat hasil Produksi Pertanian Unggulan -Kedele -Kacang Tanah -Kacang Hijau -Cabe besar -Bawang merah -Kentang -Kubis -Tomat Tingkat ketahanan kelompok Miskin pangan 1.Kelas pemula . Pertumbuhan PDRB (ADH pertanian dan kontribusi Konstan) sektor 1. Kualitas SDM pertanian di perdesaan (jumlah kelompok tani) .15 Ton 3.784 Kwt 13 Ton 1.532 kelompok 527 kelompok 786 kelompok 200 kelompok 19 kelompok 17 Kelompok LUEP 931 Kelompok 272 Kelompok 505 Kelompok 146 Kelompok 8 Kelompok 2.183 Ton 3 Ton 223111 Kwt 313434 Kwt 2505802 Kwt 1659678 Kwt 902676 Kwt Distanhutbun Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.922 Kwt 2.40 1.473 Kwt 24.871 Ton 4 Ton 146.Kelas lanjut .

9 Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan 42.626.373 32.94 1.98 1.Konsumsi telur (Kg/kap/thn) .389.Produksi daging (kg) .41 2.573.253. 18 .Konsumsi susu (Kg/kap/thn) Tingkat Produksi padi dan Beras Tingkat sarana hasil Produksi pertanian 8.533 52.860.39 6.924 8.964 112.768 55.21 8.482 Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan Basis data 2007 dan 2006 Disnnakan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.38 2.822 11.Produksi telur (kg) .069 47.Produksi susu (kg) Angka konsumsi RT per kapita .Konsumsi daging (Kg/kap/thn) .62 6.83 8.215.526.487 5.034.558.93 8.239.226 8.50 9.02 8.588 37.429 114.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data Tingkat produksi bahan pangan protein hewani dan hasil ternak dan ikan .670.853.

2003 tentang Pengelolaan Usaha Pertambangan PerBup No. gas ( dan Air bersih ) Ketersediaan regulasi untuk pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan Ketersediaan sistem pengawasan dan penertiban kegiatan rakyat yang berpotensi merusak 'LPE:5.2003. Citepus.428 Ha '-Cikapundung -SubDAS Citarik: 7.072 Ha '-Sub DAS Cisangkuy 9. Pelestarian sumber-sumber mata air DSDAPE Cakupan sistem penyuluhan Tingkat penggunaan tepat guna teknologi nilai tambah hasil pertanian.213 Ha '-SubDAS Cirasea: 6.8 DSDAPE Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.600.77 PDRB Tahun 2007 Perda No.715 Ha '-Sub DAS Ciwidey 4. Cipamokolan.961.18 Th.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data Cakupan lahan beririgasi Sub DAS:Cimeta.600.600.04 ADH:1. Umum No. 19 .961. Cipamokolan.715 Ha '-Sub DAS Ciwidey 4.072 Ha '-Sub DAS Cisangkuy 9.961.213 Ha '-SubDAS Cirasea: 6.072 Ha '-Sub DAS Cisangkuy 9.Cijanggel. Cimahi.Cijanggel. Cikeruh '-SubDAS Citarik: 7. Ciminyak.2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Th. Ciminyak.428 Ha '-Cikapundung DSDAPE Kualitas pengelolaan Aliran Sungai -Lingkungan.428 Ha '-Cikapundung Sub DAS:Cimeta.428 Ha '-Cikapundung Daerah -SubDAS Citarik: 7.961. Cidadap. Cimahi.715 Ha '-Sub DAS Ciwidey 4.072 Ha '-Sub DAS Cisangkuy 9.213 Ha '-SubDAS Cirasea: 6.252.252. peternakan dan perikanan tingkat infrastruktur perdesaan 12 Energi dan Sumberdaya Mineral Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor listrik.Tata olah tanah.252. Citepus. Cikeruh '-SubDAS Citarik: 7. Cidadap.8 Th.252. Tegakan.213 Ha '-SubDAS Cirasea: 6.74 ADH:1.715 Ha '-Sub DAS Ciwidey 4.600.78 LPE:6.

Pangalengan (Wayang Windu) '-Kec.3005 Ha 7 jenis (Andesit.Cimaung (Cikalong) '-Kec.Cimaung (Cikalong) '-Kec. Tanah urug.Pasir. Tanah urug.Pasir) 63 384.Ibun (Kamojang) PLTA: '-Kec. 19 81.Cipeundeuy (Cirata) '-Kec.045 KK Desa Kec tiang 14 10 76 542 KK Desa Desa tiang DSDAPE Ketersediaan Pembangkit Listrik PLTA: '-Kec. Trass.Kapur. Trass.Ibun (Kamojang) PLTA: '-Kec. 20 . PLTP: '-Kec.4605 Ha 7 jenis (Andesit.Cililin ( Saguling) '-Kec. Tanah urug.9386 Ha 4 jenis (Andesit.Ibun (Kamojang) PLTA: '-Kec.Cililin ( Saguling) '-Kec. Pangalengan (Kamojang dan Pulosari). Pangalengan (Kamojang dan Pulosari). Trass. PLTP: '-Kec. Marmer.Cipeundeuy (Cirata) '-Kec.Pangalengan (Wayang Windu) '-Kec.Pasir) Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data lingkungan Cakupan pelayanan kelistrikan 12 9 116 468 KK Desa Kec. PLTP: '-Kec.Ibun (Kamojang) DSDAPE Perijinan: -Jumlah ijin -Luas ijin -Jenis bahan galian DSDAPE 62 373.Pasir. Marmer.Cimaung (Cikalong) '-Kec. Trass.Pangalengan (Wayang Windu) '-Kec. PLTP: '-Kec.Kapur. Pangalengan (Kamojang dan Pulosari).9386 Ha 4 jenis (Andesit. 19 81.Pangalengan (Wayang Windu) '-Kec.Cimaung (Cikalong) '-Kec. tiang. Pangalengan (Kamojang dan Pulosari). 3 2 14 94 KK Desa Kec tiang 26 14 158 1. Tanah urug.

095. d.22 LPE:4.099.094.79 ton 247. Tingkat pemasaran perikanan produksi Tingkat perkembangan kawasanan budidaya air tawar h.23 ADH:0. Tingkat perkembangan perikanan tangkap Ketersediaan sistem penyuluhan perikanan Tingkat pengelolaan perikanan . 21 .39 ton 771.81 ton LPE:1. g. b.600 ton 807 orang 729 orang 760 orang f.873.98 ton Disnnakan c.RTP Pengolahan produksi Disnnakan 5.Produksi ikan konsumsi 967. Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perikanan Tingkat Perkembangan budidaya perikanan .83 ribu ekor 7.680.Produksi olahan ikan .33 ton 61.22 ADH:0.Produksi benih ikan .763.56 ton 878.22 Buku PDRB Tahun 2007 Disnnakan 861.125 ribu ekor 25. e.32 ribu ekor 7. Tingkat ilegal fishing Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data kuarsa) kuarsa) 13 Kelautan dan Perikanan a.

Katapang. Katapang. Banjaran. Cicalengka. Cipongkor. 22 . Pangalengan. Majalaya. Soreang. Cipatat. Rancaekek.198. Cikalongwetan. Dayeuhkolot. Rancaekek. Cilengkrang. Bojongsoang. Lembang.49 5. Padalarang. Cimenyan.55 LPE: ADH: 60.409. Dayeuhkolot. Padalarang. Margahayu.89 dan 12. Baleendah) 1. Cipongkor. Cililin.160.61 23 Kecamatan (Cikancung. Soreang.74 6.719. Cililin. Bojongsoang. Gununghalu.25 $ 32 Perusahaan 21 Kecamatan dan 23 Kecamatan 16 Kecamatan PDRB Tahun 2007(ADH berlaku) Laporan Tahunan Diskoperindag Tahun 2006 dan 2007 c d e f g Jumlah kerjasama perdagangan internasional/regional Tingkat pertumbuhan nilai ekspor Tingkat pertumbuhan nilai impor Tingkat efisiensi dan efektivitas pelayanan ekspor-impor Tingkat pertumbuhan realisasi omzet perdagangan per tahun - - 23 Perusahaan 16 Kecamatan dan 18 Kecamatan 26 Perusahaan 16 Kecamatan dan 18 Kecamatan Data Diskoperindag Tahun 2006 & 2007 Data Diskoperindag Tahun 2006 & 2007 15 Perindustrian a b Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perindustrian Tingkat kapasitas iptek sistem produksi LPE: ADH: 60. Lembang.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data 14 Perdagangan a b Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perdagangan Ketersediaan program perlindungan konsumen 5.84 23 Kecamatan (Cikancung. Cikalongwetan.90 PDRB Tahun 2007 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Baleendah) 3. Ciparay. Ibun. Pangalengan.74 dan 12. Gununghalu. Banjaran. Ciparay. Margahayu.761. Cicalengka. Cipatat. Cilengkrang. Majalaya. Ibun. Cimenyan.765.14 $ 29 Perusahaan 21 Kecamatan dan 23 Kecamatan 16 Kecamatan 9.

718 Data Diskoperindag Tahun 2007 Data Diskoperindag Tahun 2006 & 2007 KBDA Tahun 2007 16 Ketransmigrasian 17 Pekerjaan Umum Pemeliharaan rutin Peningkatan Jalan Pemeliharaan Periodik Pembebasan lahan utk Jalan Pembangunan Infrastruktur bangunan pelengkap jalan 246.318.6 km 50.3 km 5 km 75 lokasi Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.782 169.48 d e f g 2 Kecamatan ( Baleendah dan Soreang) 73 dan 42 16.6 km 7.123.323 42. 23 .673.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data c Tingkat penerapan standardisasi produk industri Laju pertumbuhan industri kecil dan menengah Tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri Volume ekspor produk industri dalam total ekspor daerah Ketersediaan kebijakan pengelolaan sentra-sentra industri potensial Tingkat perkembangan areal transmigrasi Jumlah transmigran yang berhasil dimukimkan Akses tranmigran kepada pelayanan pendidikan dan kesehatan Ketersediaan program penyuluhan bagi transmigrasi lokal/regional 18.232.73 166 161 20.7 km 233.8 km 233.7 km 900 m 10 lokasi 232.

BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data 18 Perumahan Luas Pemukiman kawasan kumbuh Luas wilayah Jumlah rumah tangga Keluarga yang tinggal di daerah kumbuh 1.266.974 kk 300.117.965 ha 1.787 km2 615. 60.118 ha 20 Perencanaan Pembangunan a.834 kk 1.400 ha 708.986 ha 3. 24 .900 kk 884 kk 19 Penataan Ruang Penggunaan lahan (existing) -Kawasan lindung -Kawasan budidaya -Kawasan lainnya Tingkat kelengkapan rencana tata ruang Tingkat pemamfaatan rencana tata ruang sebagai acuan koordinasi dan sinkronisasi pembangunan antar sektor dan antar sub wilayah Tingkat pengendalian pemamfaatan ruang Jumlah konflik pemamfaatan ruang antar stakeholder setempat . maupun antar kewenangan tingkatan pemerintahan.92 ha 115.966. Tingkat ketersediaan dan validitas informasi perencanaan pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. instansi pemerintah .074 km2 936.

l. f. e.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data b. 25 . k. g. h. c. m. Jumlah kerjasama pembangunan antar daerah Tingkat disparitas pembangunan antar sub wilayah Tingkat kelengkapan rencana wilayah cepat tumbuh Tingkat penanganan perencanaan wilayah tertinggal Tingkat penanganan wilayah strategis Tingkat penanganan wilayah cepat tumbuh Tingkat penanganan perkembangan pusat-pusat kegiatan wilayah Tingkat kesesuaian antara perencanaan pusat kegatan dengan perkembangan aktual Tingkat penerapan perencanaan partisipatif Tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan daerah Tingkat kapasitas kelembagaan perencanaan pembangunan daerah Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan daerah Tingkat implementasi dokumen perencanaan daerah Kualitas pelaksanaan Musrenbang i. j. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. n. d. o.

49 % 150 kk 553761 78.Jumlah penduduk wajib ber-KTP b.58 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.457 7 : 10 421. Tahun 2007 . Bandung tahun 2007 Jumlah penduduk usia subur Persentase akseptor KB (%) 23 Sosial Bimbingan sosial dan keterampilan bagi keluarga miskin 140 kk 865.Jumlah total bayi lahir 416030 466111 Rasio pasangan berakte nikah 22 Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera a.249 70. Rata-rata jumlah anak per keluarga Rasio akseptor KB Jumlah akseptor KB 1 -2 anak 7:10 631.324 72. Rasio bayi berakte kelahiran .Jumlah bayi lahir berakte kelahiran . KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL. Rasio penduduk ber KTP per satuan penduduk .97% 597.029 1 -2 anak 8:10 435145 Buku KBDA Tahun 2006 dan 2007 (Data Tahun 2005 dan 2006) BKBD Kab. b. 26 .BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data 21 Kependudukan dan Catatan Sipil a.Jumlah penduduk ber-KTP 9:10 395764 9:10 441200 DINAS SOSIAL.

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

24

Kebudayaan

25

Pemuda dan Olah Raga

Jumlah organisasi pemuda Jumlah organisasi olah raga Jumlah kegiatan kepemudaan Jumlah kegiatan olah raga

61 32 620 35

61 35 732 35

26

Kesatuan Bangsa dan Politik

27

Otonomi daerah , pemerintahan umum , administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaiaan dan persandian

28

Ketahanan Pangan

Cakupan bantuan beras subsidi pada keluarga miskin

98.580 RTM (Rumah Tangga Miskin)

59.578 RTM

274.064 RTM

184.024 RTM

BPS/BKPPP

Tingkat hasil Produksi Pertanian Unggulan -Padi sawah -Padi Gogo -Jagung -Ubi Kayu -Ubi Jalar 591,73 Ton 28,82 Ton 66,402 Ton 190,073 Ton 34,104 Ton 394,391 Ton 10,934 Ton 41694 Ton 108,169 Ton 22,477 Ton 579,455 Ton 28,305 Ton 57,115 Ton 182,353 Ton 22,972 Ton 385,735 Ton 11,923 Ton 23,866 Ton 107,766 Ton 16,869 Ton

Distanhutbun

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 27

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

29

Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM)

Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK Jumlah LSM

30

Statistik

Tingkat ketersediaan data / informasi dan statistik daerah.

Tingkat Penggunaan teknologi informasi untuk statistik daerah

Tingkat validitas dan kemutakhiran data dan informasi daerah Tingkat kemudahan akses informasi 31 Kearsipan Tingkat kelengkapan administrasi kearsipan Tingkat penetapan teknologi informasi dalam daministrasi kearsipan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 28

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

No

Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah

Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec

Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec

Keterangan /Sumber Data

Tingkat penetapan teknologi informasi dalam pengelolaan pelestarian dokumen/ arsip daerah Tingkat pelayanan informasi kearsipan daerah Tingkat keterbukaan informasi kearsipan daerah bagi masyarakat.

32

Komunikasi dan informatika

a. b. c. d. e.

Jumlah jaringan komunikasi (provider) Jumlah wartel/warnet terhadap penduduk Jumlah intranet SIMDA Jumlah surat kabar nasional/lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal - Niaga/broadcasting - Radio kumunitas (terdaftar di KPID) - Radio publik lokal

140

150

Dinas Perhubungan Kab. Bandung 2007

128

128

4 16 1

4 16 1

33

Perpustakaan

Jumlah perpustakaan

165 buah

225 buah

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 29

30 .222 org 13.03 0% 48.50% 19.84 dan 0.50% Dinas Pertanian.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data Jumlah pengunjung perpustakaan pertahun 34 Kehutanan Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor kehutanan Laju pertumbuhan luas hutan produksi laju pertumbuhan luas hutan tanaman industri Laju Deforestasi 11.03 8.03 6.03 -8% 10.25 LPE: ADH: 0. Perkebunan dan Kehutanan Buku PDRB 2006.486 org 10.27 dan 0.60% -4. 2007 (ah berlaku) Nilai tambah hasil hutan kayu Nilai tambah hasil hutan non kayu Cakupan sistim pengelolaan hutan yang berkelanjutan Cakupan penetapan kawasan hutan dalam tata ruang 35 Pariwisata a b Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor pariwisata Tingkat perkembangan kontribusi sektor pariwisata dalam PDRB LPE: ADH: 0.98 PDRB Tahun 2007 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.80% 9.

366 3.875 Data potensi Pariwisata Tahun 2006 dan 2007 e Tingkat perkembangan kerjasama/kemitraan pemasaran pariwisata 10 9 20 Data potensi Pariwisata Tahun 2006 dan 2007 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.340. 31 .BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH No Urusan Wajib/Pilihan Pemerintah Daerah Kondisi tahun 2006 Indikator 45 kec 31 kec Kondisi tahun 2007 45 kec 31 kec Keterangan /Sumber Data c Tingkat perkembangan obyek pariwisata jumlah 78 45 78 49 Data potensi Pariwisata Tahun 2006 dan 2007 d Tingkat perkembangan wisatawan jumlah 2.463.

implikasi yang timbul terhadap target capaian program RPJMD serta Kebijakan/tindakan perencanaan dan penganggaran yang perlu diambil untuk mengatasi faktor-faktor penyebab tersebut.465 orang (1. salah satu penyebabnya adanya keterbatasan dan kemampuan ekonomi masyarakat mengakibatkan anak usia sekolah tidak dapat bersekolah Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. hal ini tidak saja terjadi pada permasalahan pengadaan lahan untuk sekolah saja melainkan juga pada kegiatan lainnya yang berkaitan dengan ketidak sesuaian terhadap rencana tata ruang wilayah. d) Kualitas pendidikan masyarakat masih relatif rendah. b) Program lebih dominan pada aspek pembangunan fisik sehingga tidak terlalu memperhatikan mutu dan kualitas pendidikan. c) Masyarakat masih kurang memberikan perhatian terhadap pendidikan anak usia dini yaitu umur 0-6 tahun. 32 . Permasalahan diperoleh dari hasil evaluasi pelaksanaan program/kegiatan pembangunan yang dilaksanakan pada tahuntahun sebelumnya.3 Evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan RKPD 2007 Perencanaan pembangunan harus didasarkan pada permasalahan dan kebutuhan suatu daerah. kecenderungan yang terjadi adalah anak disekolahkan langsung pada jenjang pendidikan sekolah dasar. Evaluasi menyangkut realisasi capaian target kinerja kegiatan dan realisasi target capaian kinerja program tahun lalu terhadap RPJMD.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2. Evaluasi tersebut antara lain mencakup Realisasi program/kegiatan yang tidak memenuhi target kinerja keluaran yang diharapkan. Faktor-faktor penyebab tidak tercapainya target kinerja keluaran program/kegiatan.3%). Program/kegiatan yang tidak memenuhi target merupakan indikasi untuk dijadikan isu yang strategis sebagai prioritas pelaksanaan pembangunan dengan memperhatikan permasalahannya. Urusan Pendidikan Permasalahan : a) Permasalahan pembangunan gedung sekolah pada umumnya karena pada saat pemilihan lokasi tidak memasukan aspek perencanaan tata ruang serta aspek legalitas. Berikut uraian hasil evaluasi terhadap pelaksanaan program dan kegiatan RKPD 2007 yang diuraikan berdasarkan urusan. A. pemerataan serta upaya peningkatan minat baca masyarakat. hal tersebut misalnya dapat dilihat dari jumlah penduduk usia 15 tahun s/d 44 tahun yang buta huruf tahun 2007 mencapai 1.

dan lingkungan. 33 . rasio siswa terhadap daya tampung sekolah dan rasio guru terhadap sekolah. spasial. tetapi ada pula kecamatan yang kurang dari 70%. logikal-matematikal. intrapersonal. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH atau tidak dapat melanjutkan pendidikan. dan interpersonal. Kurangnya upaya kreatif dari setiap satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memperhatikan core competence agama. maupun yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (Gifted dan Talented). Selain itu tanggung jawab perusahaan/dunia usaha (Corporate Sosial Responsibility) masih sangat kurang terhadap pembangunan pendidikan. f) Persoalan tentang persepsi dalam pembangunan pendidikan bahwa fokus perhatian masyarakat dan pemerintah dalam menyusun perencanaan pembangunan pendidikan. sekolah dan pontren. yang keadaannya tidak sama. Faktor lain yang berpengaruh terhadap kualitas pendidikan adalah belum idealnya rasio siswa terhadap guru. g) Terbatasnya sumber daya manusia di bidang ilmu perpustakaan serta informasi dan teknologi serta belum optimalnya penyelenggaraan pengelolaan perpustakaan tingkat desa/kelurahan. musikal. lebih memperhatikan pada bangunan fisik persekolahan. SKPD. Ada kecamatan yang hampir mencapai 100% . kinestetik. selain itu kurangnya tenaga pendidik yang sesuai dengan kompetensinya sebagaimana tertuang dalam Undangundang Nomor 14 Tahun 2006 Tentang Guru dan Dosen beserta turunannya. baik yang bersifat intelektual maupun jenis kemampuan lainnya misalnya linguistik. termasuk sebarannya yang masih bervariasi di antara masing-masing wilayah kecamatan. budaya. jenjang dan jenis pendidikan. Masih belum difahaminya tentang perlunya layanan pendidikan bagi ALB/ABK baik bagi anak karena ketunaan. Sehingga pencapaian target wajar dikdas 9 tahun. kenakalan. e) Pendidikan non formal masih dianggap sebagai pendidikan yang di nomor duakan oleh masyarakat. h) Permasalahan pemerataan dan peningkatan kesempatan memperoleh pendidikan : Masih rendahnya APK/APM/AM pada setiap jalur.

Dinas Pendidikan. akuntabilitas. relevansi dan daya saing pendidikan : Pendidikan Formal : Masih rendahnya mutu hasil pendidikan pada setiap jalur. kurang berorientasi pada tugas. Masih lemahnya sistem evaluasi pendidikan. dan pencitraan publik : Elemen-elemen manajemen penopang pelaksanaan berdasarkan kebijakan UU. j) Permasalahan Tata kelola. baik di lingkungan instansi horizontal (beberapa SKPD seperti Bidang Kesejahteraan Rakyat. serta SKPD lainnya yang menyelenggarakan satuan pendidikan). fungsi dan tujuan. dan kurang berkelanjutan. Pendidikan Informal : Masyarakat belum begitu memahami tentang eksistensi pendidikan informal yang telah dijamin oleh undangundang. Dinas Tenaga Kerja.32/2004 otonomi belum pemerintahan memberikan keleluasaan penuh dalam manajemen pembangunan pendidikan di Kabupaten Bandung. Masih lemahnya sistem pengawasan mutu pendidikan.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH i) Permasalahan Peningkatan mutu. temporer. jenis dan jenjang pendidikan. Sehingga otoritas dan kewenangan dalam melaksanakan pembinaan pendidikan pun sering tumpang tindih. bahkan lebih bersifat mencaricari kesalahan.No. jalur dan jenjang pendidikan. Struktur Organasasi dan Tata Kerja (SOTK) setiap SKPD masih berubah-ubah. Sistem pengawasan yang dilakukan cenderung bersifat administratif. sehingga sering diintervensi oleh Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Pendidikan Nonformal : Eksistensi PNF masih dianggap belum mendapat perhatian yang profesional dari pemerintah maupun masyarakat dalam sistem pembangunan daerah. 34 . maupun dengan instansi vertikal (Departemen teknis seperti halnya Departemen Agama dan departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan). sehingga layanan pendidikan informal masih dianggap tidak penting bagi pendidikan anak. baik evaluasi hasil belajar maupun evaluasi program. Masih lemahnya kemampuan manjerial para pengelola kelembaagaan satuan pendidikan pada setiap jenis. Badan Diklat. baik berkenaan dengan peraturan perundangan maupun dukungan anggaran. Sehingga membuat ketidaknyamanan dalam melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dalam pendidikan.

dan versi Badan Perencana Daerah (Bapeda). penuntasan percepatan WAJARDIKDAS 9 tahun dan pendidikan menengah pada setiap jenis kelembagaan satuan program pendidikan. Di samping itu. ada versi pemerintah provinsi. 35 . Masih lemahnya inovasi dalam pembangunan pendidikan. prosedur yang harus ditempuh. dan waktu pelaksanaan oleh setiap pengelola pendidikan pada setiap jalur. baik yang berkenaan dengan bidang garapan. jenis dan jenjang kelembagaan pendidikan. Kebijakan UAN yang merugikan peserta didik merupakan bukti masih adanya ketidakpercayaan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah dalam penyelenggaraan evaluasi pendidikan. Sehingga kurang setiap kebijakan tentang pembangunan sebenarnya. versi Dinas Kependudukan.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. maupun yang berkenaan dengan konteks penyelenggaraan pendidikan. versi Dinas Tenaga Kerja. baik yang menyangkut bidang garapan dan proses pengelolaan. - pendidikan menyentuh permasalahan Lemahnya sistem kemitraan antara lembaga satuan pendidikan dengan stakeholders pendidikan sehingga menghambat pelaksanaan pendidikan. dan banyak versinya. Masih lemahnya sistem pelaporan dan pertanggungjawaban dalam pelaksanaan pendidikan. melalui : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Masih lemahnya mekanisme sistem pendataan dan jaringan informasi pendidikan yang kurang terintegrasi secara terpadu. Langkah yang ditempuh : a) Langkah yang ditempuh terkait permasalahan penyediaan lahan dalam pembangunan sekolah adalah menunggu ditetapkannya perda RTRW 2007-2027 sehingga pelaksanaan pembangunan sekolah sesuai dengan RTRW serta peninjauan aspek legalitas lahan sekolah. b) Peningkatan dan perluasan kapasitas daya tampung bagi pendidikan anak Usia dini. akses masyarakat dan pemerintah untuk mendapatkan data yang akurat sangat sulit didapat. dan ada versi pemerintah kabupaten. ada versi pemerintah pusat. ada data versi Dinas Pendidikan.

pendalaman. • Perintisan dan mengembangkan jumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) atau satuan program pendidikan menengah terpadu berbasis keunggulan. kompetensi guru/ tutor/ Pamong belajar. • Pembangunan UGB/ RKB dan sarana perlengkapan pendidikan menengah menengah). • Peningkatan kualifikasi. relevansi dan daya saing melalui penguatan. lingkungan hidup serta kebangsaan. kompetensi dan kapasitas kemampuan ketenagaan PAUD yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Peningkatan kualifikasi. laboran. tekhnologi dasar. budi pekerti. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. • • Penerapan tekhnologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam proses pembelajaran pendidikan dasar. peningkatan jumlah sarana peralatan dan sumber belajar dan peningkatan jumlah tutor/pelatih fasilitator dan tenaga lapangan DIKMAS pada program keaksaraan fungsional. kecakapan hidup dan kewirausahaan. perluasan dan pengembangan seluruh komponen dan bidang garapan kelembagaan satuan program pendidikan. lingkungan hidup dan kebangsaan. PKBM/ SKB dan Pesantren penyelenggara satuan pendidikan dasar. sehingga memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. formal dan nonformal (penyelenggara pendidikan c) Peningkatan jumlah kelompok sasaran program keaksaraan fungsional sampai kepelosok pedesaan. seni budaya dan keolahragaan. 36 . Modernisasi mutu alat peraga edukatif ( APE ) dan saran proses belajar/ bermain PAUD. budi pekerti.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH • Peningkatan jumlah UGB/ RKB dan sarana perlengkapan pada sekolah-sekolah. Pendalaman muatan kurikulum pendidikan dasar berbasis religius. Peningkatan kapasitas dan relevansi muatan kurikulum sekolah menengah kejuruan atau satuan program pendidikan menengah terpadu. serta memiliki relevansi dengan tuntutan kebutuhan masyarakat melalui : • • • • Penerapan kurikulum pada setiap satuan program PAUD berbasis iman dan taqwa. d) Peningkatan mutu. pustakawan dan tenaga administrasi pada satuan program pendidikan dasar.

Membentuk. g) Pengembangan pendidikan kesetaraan (Paket A. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Pemberian beasiswa secara berkelanjutan. • • Pengadaan koleksi bahan pustaka melalui APBD Kabupaten Bandung dan bantuan dari pusat (block grant dan S-IKIB) Penambahan sarana dan prasarana perpustakaan di tingkat desa/kelurahan. jalur dan jenis pendidikan. Memberikan subsidi pembiayaan PSB kepada sekolah-sekolah pada setiap jenjang. B dan C) h) Perencanaan program pendidikan mengacu pada standar Nasional dan masterplan pendidikan. bagi peserta didik yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan pada setiap jalur. Mengembangkan SMP/MTs terbuka pada setiap kecamatan. membina. Mengembangkan layanan pendidikan kesetaraan (Paket A dan B) untuk anak usia wajib belajar pada lokasi di mana anak itu bekerja. diadakan kegiatan pengadaan barang/jasa yaitu penambahan Mobil Unit Pelayanan Keliling (MUPK) sebanyak 3 unit serta bantuan motor pintar dari S-IKIB Jakarta 1 buah. Mengembangkan jejaring kemitraan dengan pusat-pusat kominitas masyarakat untuk sosialisasi. memfasilitasi komunitas-komunitas masyarakat peduli wajib belajar. peningkatan kualitas pengajar serta evaluasi terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan. komunikasi layanan pendidikan bagi ALB/ABK. jenis dan jenjang pendidikan negeri maupun swasta.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH e) Penyediaan dana beasiswa bagi anak tidak mampu agar bisa mendapatkan pendidikan dasar dan anak berprestasi untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. f) Dalam upaya mengoptimalkan pelayanan perpustakaan yaitu : • Perpustakaan keliling. 37 . Mengembangkan SD-SMP/MI-MTs satu atap. Untuk tahun 2009 hal yang perlu dilakukan sesuai dengan masterplan pendididikan 2008 2025 Penuntasan rehabilitasi gedung pada SD/MI dan SMP/MTs yang daya tampungnya rendah dan pengembangan RKB/UGB/USB pada SD/MI dan SMP/MTs yang daya tampungnya tinggi. Mengembangkan kelas-kelas jauh untuk tingkat SMP/MTs pada setiap SD/MI.

Memberikan beasiswa/hadiah atau bentuk reward lainnya kepada murid-murid. kepala sekolah dan pengawas sekolah. guru. pendistribusian yang merata tentang kebutuhan tenaga administrasi/tata usaha/penjaga sekolah untuk SD/MI dan SMP/MTs. keterampilan. maupun internasional yang sesuai dengan potensi dan pengembangan wilayah. apresiasi. 38 . kepala sekolah. kesenian. karya dan kreativitas dan inovasi murid. Pengembangan forum-forum ajang pengujian daya nalar. pengawas sekolah. regional. Pemberian tambahan hadiah/bonus atau insentif yang layak bagi guru. tenaga administrasi. dan atau sekolah-sekolah yang berprestasi dalam bidang pendidikan yang menjadi unggulan.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH - Pengadaan dan pendistribusian buku-buku dan alat peraga pendidikan yang merata untuk memenuhi kebutuhan guru dan murid dalam melaksanakan KBM Fasilitasi dan pendampingan peningkatan kemampuan bagi guru yang kurang sesuai dengan latar belakang pendidikan dengan memberikan sertifikasi sebagai bukti pengakuan resmi atas pelaksanaan tugasnya. pengawas sekolah. Penyusunan prosedur operasional standar yang dapat dijadikan panduan bagi para kepala sekolah dan pengurus komite/dewan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. kepala sekolah. Memberikan kemudahan kepada komunitas masyarakat untuk mendirikan sekolah-sekolah kejuruan yang berbasis potensi unggulan lokal. nasional. kepala sekolah & pengawas sekolah dalam pengembangan kurikulum KTSP berbasis potensi unggulan. termasuk olah raga. Fasilitasi dan pendampingan kepada guru dalam mengikuti uji peningkatan kompetensi dan sertifikasi. baik melalui pelatihan-pelatihan maupun pengembangan pendidikan lanjutan ke jenjang yang lebih tinggi. Fasilitasi dan pendampingan bagi guru. dan tenaga kependidikan lainnya yang telah berprestasi. maupun tugas-tugas kependidikan lainnya. guru. baik dalam melaksanakan tugas pokoknya. dan iptek untuk meneruskan dan meningkatkan prestasinya melalui pendidikan lanjutan ke jenjang yang lebih tinggi. Pengangkatan.

tata usaha sekolah. mengembangkan jaringan informasi dan kemitraan dengan pengelola PKBM dan unsur lainnya. TLD.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH sekolah. Pengembangan jaringan informasi dan kemitraan. lembaga pemerintah. kepala PKBM. dan pengawas sekolah. 39 . pengkajian. penilik dikmas. dan tenaga kependidikan PNF lainnya untuk mengikuti program pendidikan lanjutan yang relevan dengan tugas pokoknya. meliputi kegiatan pemeliharaan jaringan yang telah terbina. Pengadaan masyarakat Memberikan fasilitasi/kemudahan. tata usaha sekolah. mencari pola jaringan kemitraan yang efektif dan efesien. kelengkapan perpustakaan dan taman bacaan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Pengadaan sarana dan prasarana alat peraga edukatif yang memenuhi standar mutu yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pembelajaran PNF Mengembangkan lembaga-lembaga perpustakaan dan taman bacaan masyarakat yang dekat dengan pusat-pusat komunitas masyarakat pedesaan. penetapan standarisasi pelaksanaan program pelayanan pendidikan pada PKBM. Fasilitasi dan pendampingan bagi para kepala sekolah dan pengurus komite/dewan sekolah. Mengembangkan jaringan kerjasama dengan perguruan tinggi. swasta dan komunitas pendidikan lainnya dalam mengoptimalkan pelaksanaan MBS dan KTSP. dalam melaksanakan MBS dan KTSP yang sesuai dengan karakteristik lembaga satuan pendidikan yang dikelolannya. dan pengawas sekolah dalam melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sesuai dengan karakteristik lembaga satuan pendidikan yang dikelolannya. Membina kemampuan manajerial kelembagaan perpustakaan dan taman bacaan masyarakat di pedesaan. Perumusan. tenaga administrasi. biaya pendidikan bagi tutor. Perumusan kurikulum pendidikan keaksaraan yang berbasis kompetensi dan potensi wilayah serta bidang kehidupan warga belajar yang diminatinya.

d) Beberapa jenis obat tidak ada/tidak diproduksi dalam kegiatan pengadaan obat-obatan Rumah Sakit. untuk menentukan besaran alokasi dalam membiayai pendidikan untuk setiap satuan pendidikan. c) Kurangnya sarana.. prasarana dan tenaga kesehatan yang berkualitas. langsung/tidak langsung. Merintis model Pendidikan Dasar Terpadu dengan mengkaji kemungkinan SD-SMP satu atap dengan menghapuskan SD 6 tahun diganti dengan Pendidikan Dasar (PD) 9 tahun. Sosialisasi dan komunikasi publik Rencana Induk Pendidikan (Master Plan) untuk 5-20 ke depan. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. 40 . bekerjasama dengan Perguruan Tinggi atau Lembaga Diklat yang relevan dengan tugas pokoknya sebagai pengelola lembaga pendidikan. Perumusan standarisasi komponen dan aktivitas biaya pendidikan untuk setiap jalur. Menyediakan advokasi dan bantuan konsultasi terhadap pemahaman dalam pelaksanaan peraturan perundang-undangan.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH - Membentuk jaringan informasi kelembagaan pendidikan informal yang mewadahi dan memfasilitasi persoalan-persoalan yang dihadapi penyelenggaraan pendidikan informal. dan fusi SMP dan SMA menjadi SMU/SMK atau Sekolah Menengah (SM). Penguatan kapasitas manajemen melalui sertifikasi diklat reguler. personel/bukan personel. sebagai rujukan bagi SKPD dan lembaga satuan pendidikan dalam menyusun rencana-rencana strategis berdasarkan bidang garapan pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. serta perlindungan hukum dalam penyelenggaraan pendidikan. jenjang dan jenis kelembagaan pendidikan yang menjadi tanggung jawab Pemda. studi lanjutan. B. Pemetaan biaya (budget mapping allocation) satuan pendidikan (modal/operasional. Urusan Kesehatan Permasalahan : a) Masih tingginya Angka Kematian Ibu Melahirkan dan Bayi Baru Lahir b) Masih kurangnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat terutama masyarakat miskin.

h) Belum semua desa memiliki bidan desa. g) Pada beberapa lokasi pelayanan kesehatan (Puskesmas dan Pustu) belum didukung dengan aksesibilitas jalan yang memadai. q) Masalah perilaku sebagai faktor resiko kesehatan. i) Masih terbatasnya data dan informasi yang akurat mengenai kondisi kesehatan di wilayah Kabupaten Bandung. sampah dan air limbah). kakus. ISPA. Kusta dll) k) Masih rendahnya tingkat imunisasi pada anak. Langkah yang ditempuh : a) Optimalisasi pembinaan. HIV. TBC. m) Masih kurangnya sosialisasi tentang kesehatan dan gizi pada masyarakat n) Masih banyaknya produk-produk makanan/minuman yang menggunakan bahan berbahaya (termasuk juga penggunaan pestisida pada tanaman) serta tanpa izin (termasuk juga Depot air isi ulang) o) Masih rendahnya rasio syarat kesehatan lingkungan (rumah. DBD. air bersih.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH e) Kurang akuratnya data Gakin sehingga pelayanan Askeskin bagi masyarakat tidak mencapai target. r) Belum adanya Bank Data dan jaringan sistem informasi anatar Puskesmas/UPTD dan Dinas Kesehatan. j) Masih tingginya kejadian Penyakit dan rendahnya penanganan (Diare. l) Masih tingginya kasus gizi buruk dan gizi kurang. f) Masih terbatasnya rasio tenaga medis serta tenaga paramedis dengan cakupan wilayah pelayanan. penyuluhan dan sosialisasi tentang Kesehatan. s) Masih rendahnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan rujukan. p) Belum adanya standar teknis penanganan permasalahan penyakit dan kesehatan pasca bencana. 41 . t) Makin tingginya biaya pelayanan kesehatan dan peningkatan kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan. gizi dan penyakit terutama melalui pemberdayaan masyarakat secara terpadu (misal Pemberdayaan masyarakat dalam bidang KIA melalui Desa Siaga) Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.

q) Penyuluhan pada kelompok masyarakat tentang bahan berbahaya dalam makanan. d) Penerapan sistem tarif retribusi progresif dimana masyarakat mampu dapat melakukan sharing terhadap masyarakat miskin dalam pembiayaan kesehatan e) Perlunya Pengimplementasian Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM). antara lain melalui peningkatan kualitas SDM di bidang kesehatan. pemberdayaan masyarakat serta kerajsama lintas sektoral. h) Obat yang tidak ada/tidak diproduksi lagi. i) Pemutakhiran data Keluarga Miskin yang berhak mendapat Askeskin. s) Pelaksanaan kegiatan penjaringan kesehatan bagi murid sekolah. n) Pengawasan (audit) dan pembinaan kepada produsen makanan/minuman dan kepada masyarakat terkait keamanan dan kesehatan pengolahan makanan dan minuman. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. p) Membina kemitraan bidan dan paraji. f) Penanggulangan penyakit dengan pencegahan dan pemberantasan penyakit. l) Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. m) Penerapan insentif dan disinsentif yang jelas bagi tenaga medis dan paramedis serta tenaga lain di bidang kesehatan. k) Peningkatan aksesibilitas menuju Puskesmas dan Pustu. penyediaan obat dalam kuantitas dan kualitas baik. prasarana serta tenaga kesehatan sesuai standar. j) Penyebaran tenaga bidan bagi desa-desa yang belum memiliki bidan desa. dihilangkan dari daftar kebutuhan obat untuk pelayanan. r) Pembinaan kegiatan UKS di tingkat SD dan Sekolah Lanjutan. revitalisasi sistem pengamatan penyakit. 42 . o) Peningkatan sistem informasi bidang kesehatan serta penyusunan Nilai Standar Pelayanan Minimal. kemudian diganti dengan obat lain yang sejenis.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH b) Standarisasi pelayanan kesehatan melalaui penerapan SOP (Standard Operational Procedure) c) Pengembangan sistem jaminan pelayanan kesehatan masyarakat miskin. g) Peningkatan sarana.

sehingga ratio panjang jalan dibandingkan dengan bebannya sangat rendah. drainase. sehingga umur jalan tidak sesuai dengan umur teknisnya. b) Belum adanya besaran/ukuran indikator tingkat pelayanan jalan yang disepakati untuk mengukur tingkat pelayanan pemerintah dalam kebinamargaan. c) Pemerintah masih sulit mengimbangi perkembangan kebutuhan jalan sesuai dengan perkembangan wilayah di Kabupaten Bandung. d) Terlalu luasnya rentang pengendalian dan pengawasan pemerintah terhadap objek kegiatan intervensi peningkatan kualitas jalan.dan lain-lain) yang ada saat ini. jembatan maupun jaringan Irigasi. f) Permasalahan kegiatan pembebasan lahan pada pembangunan jalan serta jembatan pada umumnya antara lain. 43 . Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH t) Pembentukan sistem / jaringan informasi kejadian bencana dan KLB penyakit C. sehingga mengurangi kualitas perencanaan. g) Diperlukan Sumberdaya Manusia yang sesuai dengan bidang dan tugasnya. tingginya spekulasi tanah pada saat pembebasan lahan serta kurangnya sosialisasi kepada pihak/stakeholder terkait (pemilik lahan) menyebabkan kurang/rendahnya partisipasi masyarakat. j) Belum maksimalnya unsur pengawasan dan pembinaan teknis aparatur dinas dalam melaksanakan kegiatan di lapangan. agar mudah berkomunikasi dalam pelaksanaan tugas h) Belum seimbangnya rasio anggaran dengan beban tugas yang harus dilaksanakan i) Masih kurangnya usaha/fasilitasi pemberdayaan masyarakat dalam upaya pemeliharaan baik secara Swadaya terhadap hasil kegiatan fisik baik berupa jalan. jembatan. sehingga kualitas kegiatannya kurang optimal. Urusan Pekerjaan Umum Permasalahan : a) Masih terbatasnya data teknis kondisi infrastruktur(jalan. e) Beberapa ruas jalan kabupaten tidak dilengkapi dengan bangunan pelengkap jalan. sehingga target capaian pelayanan Kebinamargaan belum berdasarkan acuan yang legal dan valid. irigasi.

e) Diperlukan konsistensi mulai dari perencanaan. pelaksanaan serta pengendalian kegiatan. c) Perekrutan SDM dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan yang sesuai dengan pengembangan wawasan melalui Diklat Teknis maupun Fungsional. b) Masih lemahnya kebijakan dan strategi di bidang perumahan rakyat serta kurangnya pengendalian perkembangan permukiman. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. masyarakat maupun kalangan swasta/dunia usaha. Urusan Perumahan Rakyat Permasalahan : a) Menurunnya kualitas lingkungan. b) Penerapan sistem insentif dan disinsentif terhadap stakeholder yang berpartisipasi dan yang tidak dalam pemeliharaan dan pembangunan infrstruktur. g) Perlunya peningkatan sistem informasi bidang pekerjaan umum. antara lain penggunaan jalan disesuaikan dengan kapasitas jalan melalui revitalisasi jembatan timbang yang terkontrol dengan baik. 44 . D. antara lain masih banyak kendaraan yang tonasenya melebihi kapasitas jalan. sarana dan prasarana permukiman perkotaan dan perdesaan. f) Perlunya upaya peningkatan Fasilitasi pemberdayaan masyarakat melalui program kerja bakti secara kontinyu dalam pemeliharaan infrastruktur yang dapat dilakukan oleh masyarakat. d) Pengupayaan maksimal mengenai rasio anggaran agar sesuai dengan beban tugas atau volume pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan menggunakan Skala Prioritas. h) Perlunya pengendalian yang terpadu terhadap pemeliharaan jalan. baik mencakup unsur pemerintah sendiri. Langkah yang ditempuh : a) Langkah yang perlu ditempuh terkait permasalahan pembebasan lahan adalah dibangunnya pola pendekatan kepada masyarakat melalui tokoh dan pola partisipasi masyarakat. c) Kurangnya sosialisasi lingkungan sehat perumahan.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH k) Masih terbatasnya upaya pemeliharaan jalan.

antara lain sistem infrastruktur masingmasing kawasan perumahan masih berskala lokal/ belum lintas perumahan. j) Masih terbatasnya data dan peta mengenai kawasan-kawasan permukiman kumuh.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH d) Kurangnya regulasi pembangunan perumahan masyarakat kurang mampu (menengah ke bawah) e) Belum optimalnya sistem drainase perumahan/permukiman sehingga banyak menyebabkan genangan/banjir serta mengakibatkan berkurangnya umur infrastruktur yang telah dibangun. g) Belum optimalnya fasilitas pengelolaan lingkungan. c) Pemberdayaan masyarakat melalui program kerja bakti secara kontinyu dalam pemeliharaan infrastruktur yang dapat dilakukan oleh masyarakat terutama pedesaan terutama saluran drainase. sistem drainase masih parsial. f) Belum optimalnya penyediaan prasarana air bersih dan sanitasi lingkungan. k) Meningkatnya kebutuhan terhadap lahan perumahan di Kabupaten bandung akibat perkembangan yang pesat di Kota Bandung. h) Masih banyaknya fasilitas sosial/fasilitas umum perumahan belum diserahkan kepada pemerintah oleh para pengembang. ketersediaan fasos dan fasum masih berskala lokal. antara lain Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Terpadu di wilayah perkotaan untuk mengurangi tingkat pencemaran terhadap badan air penerima akibat limbah domestik. Langkah yang ditempuh : a) Melaksanakan penyuluhan dan Sosialisasi yang berkesinambungan ke seluruh stakeholder terkait dengan program pengembangan perumahan. i) Belum terintegrasinya sistem infrastruktur antar kawasan-kawasan perumahan sehingga menyebabkan beban infrastruktur makin tinggi karena perumahan-perumahan yang ada lebih banyak memanfaatkan infrastruktur utama yang ada. b) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia aparatur melalui pembinaan rutin maupun Diklat dan kualitas sumber daya manusia melalui sosialisasi peraturan di bidang permukiman dan tata wilayah. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Antara lain bisa dilihat bahwa interkoneksi jalan antar perumahan banyak yang terputus. 45 .

e) Perlunya optimalisasi sumber-sumber air bersih dan pengembangan jaringan perpipaan air bersih di wilayah perkotaan. pemanfaatan ruang maupun pengendalian ruang. g) Penyusunan rencana induk pengembangan perumahan dan permukiman daerah sebagai upaya perencanaan dan pengendalian pengembangan perumahan terorganisir di wilayah perkotaan dan permukiman tidak terorganisir di wilayah pedesaan. Urusan Penataan Ruang Permasalahan : a) Belum seluruh lahan wilayah di Kabupaten Bandung dipetakan dalam skala yang memadai sehingga (peta dasar belum mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bandung). 46 . h) Penyusunan masterplan drainase perkotaan sebagai upaya pengendalian banjir di wilayah perkotaan. antara lain manajmen Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Terpadu di wilayah perkotaan. j) Peningkatan peran dan fungsi Tim Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan Daerah (TKP4D). f) Mengoptimalkan manajemen pengelolaan fasilitas lingkungan. penerapan sistem insentif dan disinsentif serta penerapan sanksi bagi pengembang yang belum menyediakan dan menyerahkan fasilitas sosial/fasilitas umum kepada pemerintah. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. k) Perlunya pendataan dan pemetaan kawasan-kawasan permukiman kumuh l) Perlunya sistem insentif bagi pembangunan perumahan vertikal (Rusunawa. b) Belum lengkapnya data dan peta tematik untuk pendukung perwujudan Rencana Tata Ruang Wilayah. c) Belum optimalnya peran stakeholder untuk mendukung penataan ruang yang efisien dan efektif. meliputi perencanaan ruang.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH d) Peningkatan pengawasan dan pengendalian pengembangan perumahan. i) Mensinergiskan program pengembangan perumahan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam pengembangan perumahan. Rusunami) E.

e) Kurangnya sosialisasi peraturan yang terkait dengan rencana tata ruang serta pengendaliannya. sehingga di beberapa lokasi lokasi pasar terkadang menjadi terminal liar. c) Peningkatan kesadaran. pemanfaatan dan pengendalian ruang. b) Pola terminal dan pasar yang bersatu juga menjadi kendala setiap titik terminal. b) Penyusunan NSPM (Norma Standar Pedoman dan Manual) di Bidang Tata Ruang. e) Penyediaan peraturan ruang dan zonasi dalam Rencana Terperinci atau Detail Tata Ruang setiap wilayah perkotaan. F. g) Belum tersedianya sistem informasi tata ruang daerah sebagai perangkat sosialisasi perencanaan. sehingga prasarana yang berfungsi sebagai penyambung moda transportasi tersebut saat ini kurang bekerja optimal. f) Peningkatan pengawasan dan pengendalian ruang. pemahaman serta pemberdayaan masyarakat/stakeholder dalam penataan ruang. pemanfaatan dan pengendalian tata ruang.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH d) Belum tersedianya Rencana Terperinci atau Detail Tata Ruang Kota yang mengatur secara detail ruang dan zonasi di sebagian besar wilayah perkotaan. 47 . Implikasi dari ketiadaan prasarana yang memadai tersebut terjadi kemacetan di setiap lokasi terminal di Kabupaten Bandung. f) Belum optimalnya tim koordinasi penataan ruang daerah dalam perencanaan. penerapan sistem insentif dan disinsentif serta penerapan sanksi bagi pelanggar tata ruang. d) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia aparatur yang mengelola perencanaan. pemanfaatan dan pengendalian tata ruang melalui pembinaan rutin maupun diklat. Langkah yang ditempuh : a) Pemetaan secara sistematis mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bandung dan pendataan secara berkala kondisi tata ruang eksisting. Urusan Perhubungan Permasalahan : a) Kabupaten Bandung masih belum memiliki terminal yang memadai. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.

Perlu juga diperhatikan perkiraan pertumbuhan daerah yang akan dilayani Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. menyebabkan kapasitas jalan yang tersedia sudah tidak mampu menampung volume lalu lintas yang semakin meningkat. 48 . sebagaimana diketahui bahwa hampir semua terminal di Wilayah Kabupaten Bandung adalah milik Desa. g) Masih kurangnya sosialisasi berdisplin lalu lintas serta sanksi bagi pelanggar lalu lintas kepada masyarakat h) Tingkat pertumbuhan kendaraan terutama kendaraan bermotor roda dua yang jauh lebih tinggi dibanding dengan tingkat pertumbuhan sarana prasarana jalan. i) Masih banyak daerah di wilayah Kabupaten Bandung terlayani oleh Angkutan Umum. d) Masih terbatasnya jumlah ruas jalan penghubung dari wilayah satu ke wilayah lain (terutama daerah permukiman) juga menjadi salah satu hambatan dalam mengatasi kemacetan. kebutuhan sarana transportasi belum ditata ulang. sehingga rekayasa lalu lintas untuk mengatasi kemacetan di beberapa ruas jalan kurang begitu optimal. Beberapa trayek kendaraan umum yang tersedia saat ini terlihat kosong akibat tumpang tindihnya trayek pada ruas jalan yang sama.. e) Masih banyaknya fasilitas prasarana perhubungan yang belum dimiliki Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung. Hal ini menjadi penyebab utama kepadatan lalu lintas yang bermuara pada kemacetan lalu lintas. j) Belum adanya manajemen perparkiran yang belum Langkah yang ditempuh : a) Membangun kembali/merelokasi terminal-terminal yang ada sehingga tercapai ratio beban kendaraan dengan luasan terminal yang ideal. f) Adanya institusi-institusi lain yang turut terlibat dalam pelaksanaan pemungutan Pendapatan dari Sektor Perhubungan sehingga menyebabkan target pendapatan yang telah ditetapkan sulit terealisasi dengan baik. sehingga media untuk menghubungkan suatu titik ke titik tujuan lain kurang bekerja optimal.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH c) Disamping terminal. sehingga Pemerintah Daerah wajib membayar sewa untuk pelayanan terminal yang mempengaruhi APBD.

g) Perlu adanya koordinasi dengan pihak berwenang dalam hal ini pihak POLRI guna mengamankan fasilitas – fasilitas perhubungan yang telah terbangun. d) Sementara menunggu penambahan ruas jalan. untuk itu diperlukan kajian yang baik dan dukungan keberanian politis untuk melakukannya. h) Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung perlu melakukan peningkatan kapasitas jalan. penataan ruang terminal-pasar perlu dikaji sedemikian rupa sehingga terminal tidak menjadi pasar dadakan. situasi dan kebutuhan yang ada di lapangan i) Peningkatan petugas Pengamanan Lalu Lintas rutin terutama pada daerah-daerah rawan kemacetan. dan pasar tidak menjadi terminal liar. Serta melakukan sosialisali dan penyuluhan terhadap masyarakat tentang ketertiban lalu lintas j) Melakukan pendataan dan studi pelayanan dan operasional angkutan penumpang umum serta menyusun masterplan transportasi di wilayah Kab. operasional dan pengendalian angkutan umum di wilayah Kabupaten Bandung. f) Perlu adanya penertiban institusi – institusi lain yang turut terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan pendapatan dari sektor perhubungan. b) Mengingat tipologi terminal dan pasar yang selalu berdekatan. 49 . k) Pembenahan sarana dan prasarana lalu lintas (terminal. dengan demikian jangka waktu terhadap penataan kembali terminal akan lebih lama. e) Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung perlu memiliki semua fasilitas prasarana perhubungan yang ada di wilayah Kabupaten Bandung. c) Penataan ulang kendaraan umum dan trayeknya perlu segera dilakukan untuk menghindari penumpukan jumlah kendaraan umum di satu ruas jalan yang akan berakibat pada gejolak sosial dan ekonomi. rambu serta peralatan pendukungnya) Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. yang pada akhirnya diharapkan dapat menjadi kerangka acuan dalam pengembangan pelayanan. Serta diperlukan pelaksanaan manajemen dan rekayasa lalu lintas yang tepat sesuai dengan kondisi. Perlu segera dipikirkan untuk menggunakan kendaraan umum yang bermuatan lebih banyak. perlu dilakukan rekayasa arus lalu-lintas yang lebih efektif. sehingga titik-titik kemacetan dibeberapa titik bisa teratasi. Bandung.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH sehingga umur efektif terminal bisa lebih lama.

pemerintah serta masyarakat). sehingga pelayanan saat ini terkesan tidak terfokus. udara maupun limbah padat dan B3. b.Kapasitas pengelolaan sampah : Yang menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung adalah tingginya beban pengelolaan yang tidak diimbangi dengan kemampuan dalam aspek operasional dari Dinas Kebersihan yang menjadi pelaksana teknis pengelolaan. baru mencapai 20. b) Kurangnya sosialisasi dalam pengelolaan limbah (padat. Urusan Lingkungan Hidup Permasalahan : a) Masih kurangnya kualitas dan kuantitas Sumberdaya Manusia (SDM) dalam pengelolaan lingkungan hidup.8 %. masih jauh dari Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. baru mencapai 20. d) Masih tingginya pelanggaran terhadap sempadan sungai. Kualitas operasional yang masih rendah terlihat dari tingkat kebersihan di seluruh TPS yang ada. a.8 %.. cair dan gas) dan pengelolaan lingkungan. Rendahnya Kualitas dan Tingkat Pelayanan Tingkat pelayanan Dinas Kebersihan dilihat dari jumlah penduduk yang mampu dilayani oleh sistem eksisting. Tingginya Beban Pelayanan. e) Masih rendahnya perlindungan terhadap sumber mata air. g) Masih luasnya lahan kritis yang perlu direhabilitasi.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH G. h) Masih terbatasnya alternatif lokasi TPA (adanya pembatasan waktu operasional TPA Babakan). f) Masih cukup tingginya tingkat pencemaran lingkungan baik air. Demikian halnya dari Tingkat Keterangkutan sampah ke TPSA. Beban pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten dikategorikan tinggi disebabkan karena 2 faktor utama yaitu : besarnya jumlah penduduk dan luasnya wilayah administrasi. c) Masih rendahnya peran serta stakeholder dalam pengelolaan lingkungan (dunia usaha. j) Masih lemahnya upaya pengendalian di bidang lingkungan k) Permasalahan persampahan sesuai dengan masterplan persampahan sebagai berikut . 50 . i) Masih terbatasnya upaya pelestarian lingkungan dan pemulihan lingkungan.

badan air dan fasilitas lainnya. 51 . Fungsi yang tepat untuk diemban oleh Bapeda adalah fungsi regulator. Penggabungan kedua fungsi ini mengakibatkan tidak berjalannya fungsi pengawasan. Kapasitas dan kewenangan instansi pengelola persampahan menjadi sangat penting karena besarnya tanggung jawab yang harus dipikul dalam menjalankan roda pengelolaan yang biasanya tidak sederhana bahkan cenderung cukup rumit sejalan dengan makin tingginya dan kompleknya aktifitas kota. menujukkan rendahnya kualitas pelayanan yang ada. Dan segera disadari bahwa untuk menjadikan kota bersih memerlukan biaya tinggi.Peran Serta Masyarakat : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.Kemampuan persampahan Kelembagaan merupakan : Lembaga atau instansi seluruh pengelola kegiatan motor penggerak pengelolaan sampah dari sumber sampai ke TPA. . Kondisi kebersihan suatu kota atau wilayah merupakan output dari rangkaian pekerjaan manajemen pengelolaan persampahan yang keberhasilannya dipengaruhi oleh banyak faktor.Kemampuan Pembiayaan . Kehadiran Badan Perencana Daerah dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung ini akan menjadi sebuah peluang untuk peningkatan kinerja Dinas Kebersihan. sehingga Dinas Kebersihan dapat menjalankan fungsi operator dengan lebih efektif.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH kondisi bersih. Saat ini alokasi APBD untuk pengelolaan persampahan di Kabupaten Bandungbaru 0. Demikian halnya. Ketimpangan fungsi tersebut juga tidak didukung dengan SDM yang memadai baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. . Kemampuan SDM intern Dinas Kebersihan dalam 2 tahun mendatang selayaknya harus mendapat perhatian besar. tingkat kebersihan di permukiman. Hal ini menunjukkan perhatian Eksekutif kota dan Legislatif perlu di tingkatkan. dengan efektifitas retribusi yang masih sangat rendah baik dari segi kuantitas maupun kualitas mekanisme penarikannya. menyebabkan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung semata hanya menjadi beban APBD. Disamping itu. Saat ini Dinas Kebersihan di Kabupaten Bandung sesungguhnya mengemban dua fungsi yaitu sebagai regulator dan operator. Pemikiran bahwa pengelolaan sampah ala kadarnya sudah harus segera ditinggalkan. sarana kota. .8%.

Langkah yang ditempuh : a) Perlu adanya upaya peningkatan kesadaran. b) Pengadaan lokasi untuk TPSA lengkap dengan persyaratan sanitary landfill c) Penambahan sarana prasarana kebersihan. akan tetapi kesempurnaan materi peraturan memerlukan penyempurnaan. Namun implementasinya masih belum ada. walau masih dalam tahap studi kelayakan. d) Pembangunan infrastruktur TPA serta pengendalian dan penutupan sampah di TPA. peraturan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung sudah cukup lengkap dari kehadiran perangkatnya. g) Langkah yang harus ditempuh terkait masalah persampahan sesuai dengan masterplan eprsampahan antara lain: Desentralisasi Pengelolaan Sampah di Tingkat Kecamatan Implementasi 3R dari hulu ke hilir Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Pengembangan Sarana Prasarana Pengelolaan Sampah Terpadu Penguatan Pembiayaan Pengelolaan Sampah Bab II Hal.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH a. Potensi masyarakat belum dikembangkan. Sudah sejak lama sesungguhnya masyarakat telah mampu melakukan sebagian sistem pengelolaan sampah baik secara individual maupun skala lingkungan terutama di lingkungan permukiman. b.Lemahnya Penegakan dan Penaatan Hukum : Secara umum. e) Perlu adanya upaya-upaya pencegahan dan pengendalian dampak maupun pencemaran lingkungan. 52 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 . f) Diperlukan adanya upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah. . sehingga sudah selayaknya kemampuan masyarakat ini akan menjadi potensi yang dapat dikembangkan. pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan lingkungan hidup baik aparatur maupun masyarakat/swasta. Hal ini perlu diantisipasi dengan adanya pengaturan dan penetapan wilayah garapan yang akan diserahkan pada swasta. Hal ini diperkuat dengan ketentuan yang digariskan dalam Peraturan Daerah. Rendahnya investasi Dunia Usaha Di Kabupaten Bandung saat ini minat sektor swasta bisa dikatakan mulai ada.

Urusan Pemberdayaan Perempuan Permasalahan : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. TMM dll) untuk pelayanan di tempat serta sosialisasi kepada petugas di tingkat Kecamatan untuk disosialisasikan kepada masyarakat. e) Peningkatan pelayanan publik bidang kependudukan secara aktif (jemput bola) terhadap akta-akta catatan sipil di wilayah Kabupaten Bandung dan melalui Penyelenggaraan Pameran Pembangunan. d) Masih sedikitnya penduduk yang memiliki akta kelahiran (20%) serta belum terlayaninya masyarakat keluarga miskin dalam pembuatan Akta Catatan Sipil. Langkah yang ditempuh : a) Pemanfaatan sarana secara optimal yang ada baik pada tingkat Kabupaten maupun tingkat Kecamatan diarahkan kepada pelaksanaan SIAK secara bertahap b) Pemanfaatan kegiatan tingkat Kabupaten (Pameran.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH - Re-fungsionalisasi Lembaga Dinas Kebersihan. Urusan Kependudukan Dan Catatan Sipil Permasalahan : a) Belum optimalnya koordinasi serta belum terlaksananya pengelolaan Administrasi Kependudukan dengan tingkat Kecamatan maupun ke tingkat Departemen Dalam Negeri (Program SIAK) b) Sosialisasi Administrasi Kependudukan belum dapat dilaksanakan secara langsung kepada masyarakat c) Adanya ketidaksinkroanan dianatara peraturan yang ada terkait pengenaan retribusi penggantian biaya cetak (gratis atau tidak) dalam pelaksanaan administrasi penduduk dan pencatatan sipil khususnya pada penerbitan akta catatan sipil. 53 . c) Peningkatan pelayanan administrasi kependudukan kepada masyarakat. d) Revisi terhadap peraturan daerah yang tidak konsisiten terkait retribusi penggantian biaya cetak administrasi penduduk dan akta pencatatan sipil. I. dengan fungsi utama sebagai operator - Penataan Hukum dan Peraturan Pengelolaan Sampah H.

Obgynbed. Obat Side Efek) d) Data Base Keluarga Miskin tidak optimal e) Kurangnya bantuan dana Operasional Institusi Pos KB desa f) Kurangnya bantuan Modal bagi Kelompok UPPKS g) Kurangnya sosialisasi yang efektif terhadap kepala desa dan masyarakat tentang Tribina dan pendataan keluarga h) Masih kurang optimalnya sosialisasi kesehatan reproduksi kepada remaja. J.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH a) Masih banyak terjadi kasus tracfficking yang tidak teridentifikasi dan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dihindari pernikahan yang tidak dikehendaki (pernikahan dini). Langkah yang ditempuh : a. c) Masih kurangnya program pemberdayaan perempuan terutama masyarakat miskin. Penuysunan program dan pembentukan kelembagaan yang berkaitan dengan perlindungan dan pemberdayaan perempuan. Melakukan pembinaan dan pelatihan secara intensif agar tidak terjadi kasus trafficking ataupun pernikahan dini sehingga tidak terjadi tindak kekerasan dalam keluarga. 54 . Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Permasalahan : a) Rendahnya pemahaman pria/suami tentang KB-KR serta belum tertibnya pengendalian drop out peserta KB terutama Akseptor Pil dan Suntik b) Masih mahalnya biaya pelayanan KB sehingga masih rendahnya partisipasi keluarga miskin ber KB c) Terbatasnya sarana dan prasarana pelayanan KB (IUD Kit. i) Kurangnya partisipasi pria dalam program KB (sebagai akseptor) j) Masih adanya tindak kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak Langkah yang ditempuh : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. b) Belum ada lembaga serta program secara terpadu yang khusus menangani permasalahan perempuan. b.

KB dan Alkon bagi masyarakat terutama keluarga Miskin. Urusan Sosial Permasalahan : a) Pengumpulan dan pengolahan data PMKS dan PSKS mengalami keterlambatan dan pengumpulan data dari pihak PSM dan Kecamatan karena masalah koordinasi ke tingkat desa memerlukan dana dan mobilitas b) Rencana alokasi anggaran yang telah ditetapkan dalam RASK untuk mencapai target kinerja sering mengalami efisiensi pada pertengahan tahun anggaran sehingga mengurangi volume anggaran.dan pendataan keluarga melalui pemberdayaan masyarakat desa l) Optimalisasi sistem informasi pendataan keluarga sejahtera dan KB terpadu. 55 . c) Koordinasi antar stakeholder dalam pembangunan bidang kesejahteraan sosial belum sinergis dan terpadu d) Tidak adanya tenaga pendamping sosial yang dapat memantau lebih dekat perkembangan usaha kelompok e) Masih kurangnya kualitas dan kuantitas SDM bidang sosial f) Program dan kegiatan pembangunan bidang kesejahteraan sosial belum diketahui dan dipahami oleh masyarakat terutama stakeholder wilayah setempat sehingga masukan program dan kegiatan bidang kesejahteraan sosial dalam kegiatan Musrenbang masih terbatas.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH a) Mengadakan sosialisasi tentang KB-KR kepada peserta KB terutama kepada para suami/pria b) Pengadaan IUD Kit. e) Mingkatkan bantuan operasional bagi instituís Pos KB Desa f) Meningkatkan bantuan dana bergulir kepada kelompok-kelompok UPPK k) Mengadakan pelatihan tentang Tribuna. Obat side efek c) Pengadaan sarana dan prasarana tenaga entry data keluarga miskin d) Peningkatan pelayanan KIE. g) Pelaksanaan program dan kegiatan bidang sosial belum terlaksana secara efektif dan terpadu Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Obginbed. m) Peningkatan kapasitas dan jaringan kelembagan pemberdayaan perempuan dan anak K.

BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH h) Meningkatnya eskalasi permasalahan sosial akibat kenaikan BBM dan tingginya masyarakat miskin. Urusan Tenaga Kerja Permasalahan : a) Masih rendahnya partisipasi angkatan kerja (TPAK) dan angka pengangguran masih tinggi. i) Kurang optimalnya penanganan masalah kesejahteraan sosial sebagai akibat perubahan struktur penduduk dan perilaku masyarakat sebagai dampak mobilitas penduduk yang tidak terkendali. L. Pengurus Karang Taruna. b) Masih tingginya angkatan kerja berpendidikan rendah dan di bawah kualifikasi kerjanya. j) Sosialisasi dan need assesment belum dilaksanakan secara maksimal sehingga menghambat kepada penentuan kebutuhan dan bantuan. 56 . Langkah yang ditempuh : a) Meningkatkan koordinasi dalam pengumpulan data dan informasi PMKS. f) Melakukan sosialisasi pola-pola pembangunan bidang kesejahteraan sosial terhadap aparat desa di daerah sehingga dapat mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan di bidang kesejahteraan sosial. PSKS dan sasaran lainnya dari pihak terkait b) Mengajukan alokasi anggaran sesuai target kinerja yang akan dicapai. terutama dalam peningkatan SDM petugas melalui bimbingan dan latihan yang lebih intensif c) Meningkatkan koordinasi antar stakeholder dalam pembangunan bidang kesejahteraan sosial d) Memaksimalkan potensi Pekerja Sosial Masyarakat. kesejahteraan. Organisasi Kewanitaan dan Organisasi Sosial/Yayasan melalui berbagai pembinaan motivasi instensif agar dapat menanggulangi permasalahan kesejahteraan sosial e) Fasilitasi program pemberdayaan masyarakat penanggulangan masalah sosial terutama lewat ulama serta tokoh masyarakat. c) Kurangnya harmonisnya hubungan industrial serta kesefahaman terkait aspek teknis (kegiatan pekerjaan) dan non teknis (upah. kesehatan dan lain-lain) Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.

semakin mahalnya pembinaan dan pengembangan olah raga berprestasi b. Belum terpantaunya dan terevaluasinya pembangunan sarana dan prasarana olahraga. kurangnya even2 olahraga dalam rangka menggali potensi olahraga dan kepemudaan d. 57 . f. Belum terbinanya masyarakat penggerak dan pelopor keolahragaan. Belum teridentifikasinya bakat dan potensi pelajar dalam olahraga. pengawasan dan pemindahan terhadap perusahaan-perusahaan atas pelanggaran ketentuan danjaminan ketenagakerjaan serta fasilitasi penyelesaian prosedur pemberian perlindungan hukum dam jaminan sosial untuk tenaga kerja. g) Masih kurangnya pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan pengangguran dan tenaga kerja berbasis wilayah. produktivitas dan keterampilan tenaga kerja melalui bimbingan teknis pengelola LLS serta pelatihan dalam berbagai bidang. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. kurangnya sponsor dalam mendukung program olahraga dankepemudaan c. c) Peningkatan kemampuan/kualitas. e) Optimalisasi program transmigrasi lokal M. g. Semakin kurangnya pemberdayaan pemuda berpartisipasi dalam pembangunan. h) Masih tingginya angka kecelakaan kerja. Urusan Kepemudaan dan Olahraga Permasalahan : a. f) Belum optimalnya pelatihan untuk tenaga kerja industri kecil. e.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH d) Banyak Perusahaan yang tidak mentaati aturan tentang pembayaran UMK serta jaminan bagi tenaga kerja e) Masih kurangnya sosialisasi dan pelatihan tenaga kerja siap pakai. d) Peningkatan program monitoring dan evaluasi ketenagakerjaan. b) Peningkatan pembinaan yang meliputi penyuluhan. Langkah yang ditempuh : a) Peningkatan kesempatan kerja dan pemberdayaan penganggur dengan Program Gerakan tanggulangi angkatan kerja “Gertak” dan pengembangan sektor informal dan usaha mandiri terutama melalui partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.

Langkah yang ditempuh : a. Urusan Penanaman Modal Permasalahan : a. h. teknologi. i. d.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH h. b. Peningkatan sarana dan prasarana olahraga di Kabupaten Bandung. d. Pencarian atlet berbakat melalui PORKAB. seni budaya dan olah raga. Rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan dikalangan pemuda. Pelatihan peningkatan kemampuan pemuda dan membina kemitraan dengan dunia usaha. Rendahnya nilai religius dikalangan pemuda. Belum optimalnya koordinasi antar SKPD untuk penyediaan data dan penyepakatan jenis-jenis investasi yang akan ditawarkan kepada investor. f. Belum optimalnya laju pertumbuhan investasi sektor swasta yang disebabkan antara lain karena belum adanya regulasi sesuai standar serta masih panjangnya proses perijinan. Pemutakhiran data perijinan serta otomatisasi proses perijinan yang menghasilkam proses perijinan yang efektif dan efisien. g. b. Belum adanya kebijakan yang berkaitan dengan pemberian insentif bagi investor. Peningkatan pemahaman pemuda terhadap akibat NAPZA. Langkah yang ditempuh : a. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Mendorong pengembangan minat dan bakat generasi muda dalam pengembangan ilmu pengetahuan. N. Pembinaan kewirausahaan dalam industri olahraga. kemudahan berinvestasi dan pemberian insentif bagi investor. 58 . Penyempurnaan produk-produk hukum yang terkait dengan penanaman modal. c. e. b. c. Peningkatan penjaringan bibit olahragawan berprestasi melalui jalur sekolah dan pendidikan formal dan nonformal. Belum efektifnya pelayanan perijinan satu pintu yang disebabkan belum selesainya penyusunan payung hukum yang mengatur perijinan dan penyederhanaan perijinan. Peningkatan peran pemuda berpartisipasi dalam pembangunan terutama terkait dengan kebencanaan (taruna siap siaga).

Masih sulitnya UKM memperoleh akses ke lembaga permodalan perbankan dan terbatasnya pangsa pasar . Peningkatan kemampuan/profesionalisme koperasi. Penyusunan mekanisme penyaluran dan penyediaan kredit mikro yang berasal dari dana APBD dengan syarat-syarat yang ringan. Langkah yang ditempuh : a. Peningkatan koordinasi program pengembangan Koperasi dan UKM antar SKPD yang berbasis wilayah. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. d. dana CSR dan pasar. Belum tersedianya mekanisme yang mengatur penyaluran kredit mikro bagi kelompok UKM yang baru berkembang. c. d. e.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH c. Penyediaan data dan informasi perkembangan UKM serta analisis data untuk perencanaan pengembangan UKM. usaha kecil dan menengah melalui melalui pelatihan serta magang. Belum optimalnya pembinaan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang disebabkan belum tersedianya data perkembangan UKM yang akurat. Sosialisasi dan promosi pelayanan perijinan dan penanaman modal melalui berbagai media. Fasilitasi dan kemitraan yang mempertemukan UKM dengan lembaga keuangan. b. O. Penciptaan manajemen dan pola pemberdayaan UKM terintegrasi dengan berbagai sektor dari hulu ke hilir dalam usaha peningkatan perekonomian daerah. Belum optimalnya peran dan fungsi koperasi dalam mengembangkan potensi ekonomi masyarakat yang ditandai dengan bertambahnya jumlah koperasi yang tidak aktif dan menurunnya jumlah anggota koperasi. f. Belum optimalnya pemanfaatan dana-dana CSR yang berasal dari perusahaan terkait pengembangan UKM. c. Peningkatan koordinasi antar SKPD dalam upaya pemenuhan data yang dibutuhkan investor dan jenis investasi yang akan ditawarkan. d. Urusan Koperasi dan UKM Permasalahan : a. 59 . e. b. Belum tersedianya sistem dan pola pengelolaan UKM yang terintegrasi dengan berbagai sektor. f.

Belum efektif dan efisiennnya pemanfaatan teknologi informasi dan telekomunikasi dalam pengelolaan dan distribusi data antar satuan kerja terhubung dalam simpul e . Masih terbatasnya sumber daya profesional pengelola urusan komunikasi dan telekomunikasi. c. Masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui dan memahami tentang Perda / Produk hukum lainnya (sehingga masih banyaknya pelanggaran terhadap Perda) e. prostitusi. Masih kurangnya pengendalian dan pengawasan terhadap pemanfaatan sistem telekomunikasi (termasuk BTS) dan teknologi informasi. Penertiban secara berkala b. Pembinaan secara efektif kepada masyarakat oleh pemerintah. Penyusunan perda terkait pengendalian dan pengawasan terhadap pemanfaatan sistem telekomunikasi dan teknologi informasi. b. c. Masih adanya penyakit masyarakat (Miras. Urusan Komunikasi dan Informatika Permasalahan : a. Masih adanya daerah rawan bencana alam (banjir dan longsor) Langkah yang ditempuh : a. Langkah yang ditempuh : a. premanisme.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH P. Q. 60 .government. Masih adanya aliran sesat d. ulama serta tokoh masyarakat Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. pencurian dan perjudian) c. Peningkatan efektifitas dan efesiensi pengelolaan sistem informasi dan komunikasi melalui pihak ketiga b. Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Permasalahan : a. masih adanya konflik horizontal antar masyarakat b. Peningkatan pengeloalan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam jaringan basisdata menuju e-government melalui perubahan kebiasaan menuju pola sistemik.

Mengadakan pertemuan ulama umaro tokoh masyarakat dan tokoh agama. Belum optimalnya proses monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan unit kerja dengan mekanisme perencanaan dan pengawasan c. senam bersama setiap hari Jum’at. pengawasan dan pengendalian. Urusan Pemerintahan Umum Permasalahan : a. Kurangnya komitmen stakeholder dalam pemanfaatan dokumen perencanaan sebagai acuan penyusunan program b. h. 61 . d. Melaksanakan koordinasi kerjasama dengan unsur keamanan (Polres/Polsek dan Kodim/Koramil). Peningkatan pembinaan terhadap aparat diantaranya sembahyang dzuhur berjamaah. e. d. Langkah yang ditempuh : a. Peningkatan kualitas SDM dan efektiftas kerja. Peningkatan kemampuan teknis keterampilan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. tugas belajar serta izin belajar.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH c. Penyuluhan/Sosialisasi kesadaran hukum. kultum/siraman rohani. g. R. Melaksanakan penyuluhan kepada siswa /siswi tentang bahaya narkoba dan HIV. Peningkatan kemampuan anggota linmas desa (Linas init 20 orang/desa) dan pemberian bantuan dana operasional untuk setiap bulan bagi anggota linmas desa. e. c. Mengadakan dan mengirimkan peserta diklat. Dilakukannya pakta integritas bagi aparat Kabupaten Bandung. Peningkatan kewaspadaan dini terhadap gangguan trantib termasuk bencana alam. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Kurangnya aparat yang memadai/sesuai standar dalam melakukan pemeriksaan. perda-perda dan produk hukum lainnya. f. Meningkatkan sinergitas dan koordinasi yang dinamis antar SKPD serta stakeholder terkait. i. d. kinerja dan disiplin aparatur. Masih kurangnya SDM. b.

Masih kurangnya produk hukum di desa (Perdes. pengelolaan administrasi keuangan. d. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. kemampuan teknis lainnya. g. peningkatan kemampuan administrasi. Belum adanya peraturan Bupati/Keputusan Bupati tentang petunjuk pelaksanaan urusan Pemerintah Kabupaten Bandung yang pengaturannya diserahkan kepada desa sebagai tindak lanjut Perda Nomor 10 tahun 2007 tentang urusan Pemerintahan Kabupaten yang pengaturannya diserahkan kepada desa di lingkungan Pmerintah Kabupaten Bandung. Langkah yang ditempuh : a. Umumnya di desa belum mempunyai RPJM Desa dan belum tertibnya pelaksanaan APBD (Desa). Peningkatan pengendalian dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa b. Belum tersedianya mekanisme evaluasi dan monitoring yang efektif terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa. c. Belum adanya regulasi/aturan yang jelas pelimpahan kewenangan kepada pemerintah desa. e. Peningaktan kemampuan perangkat desa dan aparat kelembagaan masyarakat desa dalam bidang pelaksanaan pemerintahan desa. Urusan Pemberdayaan Masyarakat Desa Permasalahan : a. Masih kurang aktifnya/kurang optimalnya kinerja kelembagaan masyarakat desa. c. 62 . d. f. SDM Kelembagaan Pemerintah Desa dan Kelembagaan Masyarakat masih perlu ditingkatkan. Masih lemahnya pengawasan serta pengendalian dalam penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat desa.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH S. kemasyarakatan dan pembangunan. b. Peningkatan program-program swadaya dan swakelola masyarakat desa melalui fasilitasi pemberdayaan. Peraturan/Keputusan Kepala Desa). Fasilitasi/pembinaan terhadap desa dan kelembagaan kemasyarakatan desa tentang Penyusunan produk hukum (Perdes/Produk hukum lainnya). h.

b. Meningkatkan upaya penggalian seni. Urusan Kebudayaan Permasalahan : a. kajian (termasuk pengenalan situs budaya) dan pertemuan. budaya serta adat istiadat dalam pelaksanaan tata pemerintahan dan peraturan perundangan / perda. mengirimkan pelatihan tentang kearsipan bagi para petugas arisp di setiap SKPD c. Lunturnya nilai luhur adat istiadat serta norma yang disebabkan kurangnya apresiasi terhadap pentingnya pola hidup. Peningkatan peran yang jelas lembaga kearsipan dalam sistem egovernment yang telah terintegrasi. b. c. Urusan Perpustakaan Permasalahan : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. aparat desa dan aparat kelembagaan desa T. b. Urusan Kearsipan Permasalahan : a.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH e. keterampilan/seni dan olahraga. Kurang optimanya pemanfaatan lembaga kearsipan selain kurangnya sumber daya manusia yang sesuai standar untuk memahami teknologi informasi dan komunikasi. Mengadakan. Belum mempunyai depo arsip yang refresentatif di tingkat Kabupaten. 63 . Menghidupkan kajian budaya melalui pendidikan. Mengadakan pembinaan kepada petugas arsip pada setiap SKPD\Pembangunan depo arsip dan penunjang lainnya seperti CD/VCD V. Memberikan kesempatan kepada masyarakat dalam melakukan apresiasi terhadap seni sunda melalui event (termasuk hari bersejarah). U. prilaku dan cara pandang menurut adat (sunda) yang harmonis dengan alam tatar sunda Langkah yang ditempuh : a. Langkah yang ditempuh : a. Mengadakan diklat bagi kepala desa/BPD.

b. c. pemeliharaan data serta pengintegrasian data. Tingginya tingkat kerusakan jaringan irigasi dan menurunnya debit air untuk keperluan irigasi. Adanya kelangkaan pupuk yang disebabkan adanya gangguan dalam distribusi sarana produksi pertanian. terutama karena sulitnya penghimpunan data b. 64 . Pembangunan Infrastruktur Data Daerah dimana disepakatinya model dan bentuk data sesuai standar yang berlaku. Terjadinya alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi permukiman dan industri. X. Belum seragamnya penentuan model data Langkah yang ditempuh : a. Terbatasnya sarana dan prsarana perpustakaan serta SDM Langkah yang ditempuh : a. Belum optimalnya peran penyuluh lapangan e. h.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH a. Peningkatan koordinasi secara berkala dalam pengelolaan data b. g. Kurangnya koordinasi antar stakeholder dalam penyediaan data. Pengembangan perpusatakaan keliling roda empat dan dua b. Belum optimalnya peran dan fungsi kelembagaan petani d. Masih rendahnya minat baca masyarakat b. f. Masih tingginya tingkat kehilangan hasil produksi akibat penanganan pasca panen yang tidak tepat. W. pengelolaan data. Belum optimalnya produktivitas. Belum optimalnya koordinasi antar SKPD yang berbasis kewilayahan terkait dengan pengembangan pertanian. mutu dan efisiensi usaha tani yang disebabkan karena sempitnya kepemilikan lahan dan lemahnya permodalan untuk usaha tani. Urusan Statistik Permasalahan : a. Urusan Pertanian dan Kehutanan Permasalahan : a. Pengembangan perpusatakaan desa dan kecamatan. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.

Belum adanya peta lahan kritis yang akurat. e. o. Masih kurangnya mekanisme pengontrolan terhadap kualitas ternak yang telah dipotong di pasaran dan tingginya peredaran daging illegal. h. f. Penerapan teknologi tepat guna untuk mengurangi kehilangan hasil dan untuk mengendalikan hama dan penyakit secara terpadu yang ramah lingkungan. Mewabahnya penyakit ternak menular seperti flu burung dan brucellosis pada sapi perah. i.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH i. Masih tingginya tingkat kematian ikan yang disebabkan menurunnya kualitas perairan. d. Revitalisasi kelembagaan penyuluh pertanian dan peningkatan kapasitas penyuluh. Langkah yang ditempuh : a. p. Masih terdapatnya lahan kritis seluas 7. Revitalisasi kelembagaan kelompok tani dan gabungan kelompok tani. Menyusun mekanisme penyaluran kredit mikro yang didanai dari APBD yang diperuntukkan bagi permodalan sektor pertanian. m. Peningkatan koordinasi dengan SKPD terkait untuk mengamankan jalur distribusi pupuk dan mencari alternatif pupuk organik untuk mengurangi ketergantungan kepada pupuk kimia. Meningkatkan koordinasi antar SKPD berbasis wilayah dalam rangka pengembangan pertanian. Meningkatkan akses petani/kelompok tani ke lembaga keuangan agar dapat memperoleh permodalan dengan syarat ringan. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.275 ha yang tersebar di 115 desa 24 kecamatan. Belum optimalnya koordinasi antar stakeholder terkait dalam pelaksanaan gerakan rehabilitasi hutan. fasilitasi penyediaan mesin pompa air dan mengamankan sumber-sumber air yang digunakan untuk irigasi. c. Penyusunan regulasi untuk menghambat laju alih fungsi lahan pertanian. l. Belum optimalnya penanganan kesehatan hewan yang disebabkan kurangnya SDM teknis kesehatan hewan k. g. fluktuasi cuaca dan tingginya ancaman penyakit ikan menular. n. j. Musim kemarau yang panjang menyebabkan kekeringan terutama pada pertanian lahan sawah dan berkurangnya lahan usaha perikanan. 65 . Rehabilitasi jaringan irigasi. b.

l. Y Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral Permasalahan : a. o. b. Lemahnya pengawasan dan pengendalian terhadap eksploitasi sumber daya alam termasuk air. Peningkatan fungsi pengendalian dan pengawasan terhadap kegiatankegiatan pemanfaatan Sumber daya mineral. 66 . n.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH j. Peningkatan kemampuan peternak mengenai produksi pengendalian dan antisipasi penyebaran penyakit ternak serta penanganan pasca panen. Kurangnya pemberdayaan masyarakat sekitar dalam pengelolaan eksploitasi sumberdaya mineral dan energi Langkah yang ditempuh : a. e. Masih terdapatnya kegiatan usaha pemanfaatan potensi pertambangan dan energi yang tidak berwawasan lingkungan. k. Penyusunan Perda pengelolaan sumber daya mineral dan energi. Pemetaan lahan kritis berbasis spasial sebagai dasar pelaksanaan program rehabilitasi lahan kritis. c. Masih tingginya ketergantungan kepada PLN dalam hal penyediaan jaringan listrik. Peningkatan koordinasi dengan stakeholder dan peningkatan pelibatan masyarakat dalam program rehabilitasi lahan kritis. Belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam yang dapat dijadikan sumber energi alternatif. b. Peningkatan mekanisme kontrol terhadap produk pertanian lokal maupun regional melalui sweeping dan operasi pasar. e. d. Penyediaan sarana operasional pelayanan kesehatan hewan. Pengkajian potensi sumber daya alam wilayah yang dapat dijadikan energi alternatif. Peningkatan kerjasama dan koordinasi dengan pihak-pihak perusahaan untuk memanfaatkan CSR (Corporate Sosial Responsibility). d. Peningkatan kerjasama petani dengan pengusaha dalam memasarkan produk pertanian atau menampung hasil pertanian. Inventarisasi data dan peta potensi Sumber daya mineral dan energi. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. c. m.

BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Z. c. Implementasi program-program sesuai yang diamanatkan dalam Perda tentang RIPPDA. c. 67 . Kurang optimalnya implementasi masterplan pariwisata. Belum optimalnya kerjasama Pemda dan pihak lain (Perhutani. Peningkatan kerjasama dan koordinasi dengan pihak lain dalam upaya pengembangan obyek wisata. c. Belum optimalnya upaya pembinaan Industri Kecil Menengah (IKM) yang disebabkan belum tersedianya data dasar perkembangan industri kecil dan menengah. Masih rendahnya daya saing produk IKM yang disebabkan permodalan yang terbatas dan rendahnya inovasi produk. b. d. AA. Kurangnya penggalian potensi wisata setelah pemekaran Kabupaten Bandung Langkah yang ditempuh : a. Urusan Pariwisata Permasalahan : a. Belum optimalnya pemanfaatan dana-dana CSR yang berasal dari perusahaan terkait pengembangan IKM. b. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Peningkatan koordinasi antara SKPD dalam upaya menyediakan fasilitas penunjang pariwisata. b. d. f. Belum optimalnya koordinasi SKPD terkait dalam upaya pengembangan obyek wisata. Peningkatan koordinasi dengan pihak Pemerintah Propinsi dalam rangka meningkatkan aksesbilitas dan penyediaan infrastruktur menuju obyek wisata. Urusan Industri Permasalahan : a. e. PTP dan lain-lain) sebagai pemilik obyek-obyek wisata. Belum tertatanya beberapa obyek wisata potensial yang masih merupakan kewenangan desa. Belum memadainya infrastruktur jalan menuju kawasan wisata bagian selatan yang masih merupakan kewenangan propinsi.

BB. Penyediaan data dan informasi perkembangan IKM serta analisis data untuk perencanaan pengembangan IKM.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH d. Fasilitasi dan kemitraan yang mempertemukan IKM dengan lembaga keuangan. d. b. Langkah yang ditempuh : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Belum adanya regulasi dalam penanganan dan pengelolaan tradisional dan modern. c. Belum optimalnya upaya perlindungan konsumen yang ditandai masih adanya produk yang tidak aman dan tidak layak jual di pasaran. Belum optimalnya upaya pengawasan terhadap distribusi barang-barang strategis. 68 . Belum optimalnya aksesibilitas produk IKM ke potensi-potensi pasar yang ada. Masih kurangnya informasi pasar dan sarana promosi yang dapat membantu pemasaran produk-produk yang dihasilkan masyarakat pasar (industri kecil. Peningkatan koordinasi program pengembangan IKM antar SKPD yang berbasis wilayah. Belum optimalnya penataan pedagang kaki lima e. Langkah yang ditempuh : a. produk pertanian. c. Belum tersedianya regulasi yang efektif terkait kebijakan pengembangan industri yang terintegrasi dengan sistem infrastruktur lainnya. d. e. b. dana CSR dan pasar. Belum optimalnya koordinasi program antar SKPD yang terkait pengembangan industri. f. Urusan Perdagangan Permasalahan : a. Penyusunan regulasi yang mengatur pengembangan IKM mulai dari hulu sampai hilir. peternakan dan lain-lain). f. e. Belum optimalnya penataan pasar yang ditandai dengan keberadaan sarana dan prasarana pasar yang tidak memadai. Penyusunan mekanisme penyaluran dan penyediaan kredit mikro yang berasal dari dana APBD dengan syarat-syarat yang ringan.

8. APM.1.1 Pendidikan Jika dilihat berdasarkan komponennya.4 Isu Strategis dan Masalah mendesak 2. Indeks pendidikan ini merupakan agregat dari AMH (Angka Melek Huruf) dan Tingkat Partisipasi pendidikan murid (APK. menjadi 8. Peningkatan kerjasama dengan swasta serta pemerintah daerah lainnya terkait pemasaran produk.70 persen pada tahun 2006 dan 98.4.1 Kondisi Sosial 2. Demikian pula rata-rata lama sekolah meningkat dari 8. (Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Bandung Tahun 2007) Namun demikian jika melihat target yang harus dicapai Bandung Kabupaten berdasarkan proyeksi indikator makro yang dikeluarkan oleh BPS Bab II Hal. f. APS). Persentase penduduk dewasa (usia 15 tahun keatas) yang melek huruf di Kabupaten Bandung meningkat dari 98. d. Indikator-indikator tersebut menunjukan seberapa besar anak usia menurut tingkat pendidikan tertentu berada dalam lingkup pendidikan dan penyerapan pendidikan formal terhadap penduduk usia sekolah. 2.33 pada tahun 2004.03 persen pada tahun 2003 menjadi 83.39 tahun pada tahun 2006 dan 8. dan 84. b.20 persen pada tahun 2006 serta 84.65 persen di tahun 2005. Meningkatkan upaya perlindungan konsumen melalui kemitraan dengan lembaga perlindungan konsumen.03 tahun pada tahun 2004.12 persen pada tahun 2005.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH a. Peningkatan kerjasama dengan aparat penegak hukum dalam rangka pengawasan distribusi barang-barang strategis.23 persen pada tahun 2004 menjadi 98. 98. Peningkatan kerjasama dengan swasta dan Pemerintah Propinsi serta Pusat terkait revitalisasi pasar tradisional. dari 82.90 persen tahun 2007.26 tahun pada tahun 2005. Penataan pasar yang dikaitkan dengan upaya penertiban dan penempatan pedagang kali lima.58 pada tahun 2007. c.75 pada tahun 2007. peningkatan IPM Kabupaten Bandung disumbang oleh indeks pendidikan yang semakin baik. Penyusunan regulasi dan pengaturan keberadaan pasar tradisional dan modern.4. 84. 69 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 . e.

47 6.31 8.30 2007 Total (8) 91.56 33.18 48.30 67. Tabel 2.02 6.2 APK Menurut Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2007 Jenjang Pendidikan (2) SD SLTP SLTA PT 2005 Lakilaki (3) 104.36 (1) 1 2 3 4 Sumber : BPS Kabupaten Bandung.63 10.75 Total (11) 101.42 7.48 86.27 35.38 62.90 75. sesuai dengan usia sekolah dan jenjang pendidikannya.28 38.54 Lakilaki (9) 99.06 Perempuan (10) 103.45 dan AMH sebesar 0.55 42.91 5.08 35.43 9.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Kabupaten Bandung Tahun 2006 maka capaian indikator RLS dan AMH pada tahun 2010 adalah 9.46 48. Pada diagram berikut memperlihatkan bahwa APS Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.21 66. Kondisi tersebut di atas merupakan tantangan yang cukup berat.03 dan 99.25 45.75.54 64.07 38.25 Lakilaki (6) 129. artinya dalam kurun waktu 4 tahun harus mengejar point RLS sebesar 0.73 85.96 6.85 5.10 2006 Total (5) 105.11 80. Tabel 2.50.52 8.43 50. IPM 2005-2007 Angka Partisipasi Murni (APM) adalah indikator yang menunjukan proporsi penduduk yang usianya sesuai dengan usia sekolah yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan.82 5. IPM 2005-2007 Pendidikan yang sedang diikuti digambarkan secara umum oleh Angka Partisipasi Sekolah (APS).35 77. artinya lebih dari 90 persen penduduk usia sekolah SD bersekolah tepat waktu.96 87.49 Total (11) 90.48 41.90 82.35 12.07 9.29 66.42 66. APM SD di Kabupaten Bandung pada tahun 2007 sebesar 90.36 5.90 43.37 66.49 Perempuan (7) 88.78 No Perempuan (4) 105.10 Perempuan (7) 121.06 8.51 47.79 7.06 51.78 Perempuan (10) 91.29 persen.07 85.6 (1) 1 2 3 4 Sumber: BPS Kabupaten Bandung.07 33. 70 .43 65.01 Lakilaki (9) 89.72 7.63 2007 Total (8) 125.91 80.32 35.53 Lakilaki (6) 93.28 5.24 Perempuan (4) 93.12 No Jenjang Pendidikan (2) SD SLTP SLTA PT 2006 Total (5) 93.01 63.88 46.3 APM Menurut Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2007 2005 Lakilaki (3) 93.55 35.

pencapaian AMH sebesar 98. APK SD/MI sebesar 101.96 Jika dilihat dari APM dan APK tahun 2007 yang ada tersebut yaitu APM SD/MI sebesar 90.48%. APM SMA/MAK sebesar 35.32%.13 Diagram APS Menurut Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Bandung Tahun 2007 100 90 80 70 60 APS 50 40 30 20 10 0 Laki-Laki Perempuan Laki-laki + Perempuan SD 96. dari jumlah TK sebanyak 288 dan RA Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.21 41. APM SMP/MTs sebesar 66. Jenis pendidikan yang mempunyai peluang paling besar adalah sekolah kejuruan. Pada saat ini rasio SMA dan SMK di Kabupaten Bandung posisinya masih 3 berbanding 1. Gambar 2.86 PT 10.19 8.67 98. seperti pengembangan SMK (pembukaan program keahlian baru) atau mendirikan SMK baru dengan harapan rasio SMA dan SMK menjadi 40 berbanding 60.63 81. Dalam rangka menunjang fungsi pendidikan melalui pendidikan anak usia dini.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH penduduk laki-laki relatif lebih baik dibandingkan APS penduduk perempuan pada semua kelompok umur pendidikan. 71 .d 90% dan APK mencapai angka 98%).41 41. membentuk kerjasama Tri Partied sehingga pada gilirannya lulusan SMK bukan hanya mampu merebut pasar tenaga kerja tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.46% dan SMA/SMK/MAK sebesar 48. di Kabupaten Bandung hanya terdapat 1 (satu) TK Pembina. maka Kabupaten Bandung harus mengejar point standar tersebut dalam kurun waktu yang tersisa tinggal 2 tahun berjalan. idealnya di tiap Kecamatan terdapat 1 TK Pembina.69 SLTA 42.66 SLTP 79. Oleh karena itu berbagai upaya terus dilakukan.63% dan karena Kabupaten Bandung ditargetkan pada tahun 2008 secara Nasional termasuk harus tuntas madya (dicirikan dengan APM antara 86 s. SMP/MTs sebesar 86. Jadi masih membutuhkan upaya yang lebih keras lagi untuk mencapai rasio yang diharapkan.82 7.7 97.72%.75%.29%.73 83.

Dalam penyelenggaraan pendidikan non formal. pembinaan olah raga masyarakat serta pendidikan anak usia dini (kelompok bermain. Penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun menjadi prioritas. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Kursus-kursus. program pendidikan life skill. baik terhadap kelompok usia 5 – 6 tahun (sasaran TK/RA). ditandai dengan minimnya anggaran bagi program pengembangan PAUD dibandingkan dengan jenjang di atasnya.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH sebanyak 217 yang tersebar sampai Kecamatan dan Desa ternyata peran swasta sangat dominan ditandai dengan banyak berdirinya TK/RA yang dimiliki oleh masyarakat. Pemerintah Kabupaten Bandung menyadari bahwa pendidikan sebagai proses pemanusiaan niscaya tidak bisa direduksi sebagai kegiatan belajar mengajar yang hanya berlangsung disekolah sebagai pendidikan formal tapi juga harus dikembangkan keberlangsungannya melalui jalur pendidikan non formal dan pendidikan informal. tempat penitipan anak). Pendidikan Luar Sekolah dilaksanakan melalui penyelenggaraan kejar Paket A. Pemerataan dan perluasan akses pendidikan di Kabupaten Bandung diarahkan pada penuntasan wajar dikdas 9 tahun sebagai prioritas sampai tahun 2008 yang diawali dengan perintisan dan penuntasan wajar 12 tahun. 72 . Paket B dan Paket C. mengingat program ini secara nasional telah menetapkan target sebagaimana diatur dalam Intruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional percepatan penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun dan pemberantasan buta aksara. dukungan Pemerintah Kabupaten Bandung dilaksanakan melalui penyelenggaraan Pendidikan Luar Sekolah. maka misi ini menuntut pembangunan pendidikan yang memfokuskan program pada pendidikan budi pekerti. Berkaitan dengan misi ketiga Pemerintah Kabupaten Bandung yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia dan misi kelima adalah meningkatkan kesalehan sosial berlandaskan iman dan taqwa. Namun disisi lain perhatian Pemerintah terhadap Program Anak Usia Dini masih kurang. Keaksaraan fungsional serta mendorong kegiatan kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan juga kegiatan Sanggar. para ahli menyebutnya Golden Age (usia emas) . kelompok usia 2 – 4 tahun (sasaran kelompok bermain) serta usia 0-2 tahun sasaran Tempat Penitipan Anak (TPA) padahal kelompok-kelompok umur tadi memiliki peran yang sangat penting dalam mengawal pertumbuhan otak anak. pembinaan generasi muda. lomba-lomba. akal Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. pendidikan yang menggabungkan antara qolbu.

produktif. Hal ini dapat dimengerti bahwa pendidikan budi pekerti dipendidikan formal dalam aplikasinya masih bersifat kognitif belum kepada apektif (perilaku) dan praktik. cerdas. Terjadinya dekadensi moral atau penurunan budi pekerti (akhlakul karimah) di kalangan anak-anak dan kelompok pemuda sebaya. anak terlantar sebanyak 660 orang. Relevansi dan Daya saing c) Tata kelola. Menyikapi pengembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terkesan seporadis. Berkaitan dengan akuntabilitas dan pencitraan publik. meningkatnya kriminalitas di kalangan remaja serta meningkatnya jumlah anak jalanan dan anak terlantar. namun dalam pelaksanaannya belum berjalan secara optimal. parsial. ditandai dengan maraknya penyalahgunaan narkoba.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH dan jasadiah. Tidak hanya pendidikan yang sekedar menstransfer ilmu tapi juga membangun manusia yang memiliki karakter sehingga mutu lulusannya mampu menjadi tenaga kerja yang siap pakai. sementara pendidikan non formal dan informal sebagai salah satu wahana untuk membina moral atau akhlak anak-anak dan remaja baik dirumah. Menurut data dari Dinas Sosial Kabupaten Bandung tercatat korban narkoba sebanyak 367 orang. pengintegrasian pengelolaan SIM di Dinas Pendidikan dan Kantor PDE yang dapat mengakses SIM ke setiap satuan. APM. pemerintah Kabupaten Bandung telah melakukan terobosan seperti menyusun standarisasi pengembangan telematika. di Mesjid/Pondok Pesantren maupun di tempat-tempat lainnya masih terbatas. dalam upaya pencapaian visi Kabupaten Bandung Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. jenjang dan jenis pendidikan di seluruh wilayah Kabupaten Bandung. tuntutan masyarakat dewasa ini serba membutuhkan data dan informasi yang cepat. serta wanita tuna susila 250 orang. dan pragmatis. dapat berpengaruh terhadap menurunnya kualitas pendidikan dengan meningkatnya angka putus sekolah maupun angka mengulang. serta trasnparan. Akuntabilitas dan Pencitraan Publik Selain indikator generik yang dijadikan tolak ukur keberhasilan pembangunan pendidikan seperti APK. 73 . berdaya saing serta memiliki iman dan taqwa. akurat. Angka Mengulang. Angka Putus Sekolah dan lain-lain. Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Menengah menekankan pada 3 pilar (tantangan utama) untuk mewujudkan suatu kondisi yang diharapkan 5 tahun kedepan yaitu : a) Pemerataan dan Perluasan akses Pendidikan b) Peningkatan mutu. anak nakal sebanyak 169 orang.

5 persen yang disusui oleh ibunya selama 2 tahun atau lebih. seiring dengan terus membaiknya derajat kesehatan yang ditunjukkan dengan meningkatnya angka harapan hidup penduduk. Dari seluruh balita di Kabupaten Bandung pada tahun 2007. Air susu ibu (ASI) sangat penting bagi perkembangan dan kesehatan balita. 2.37 per 1000 kelahiran hidup.23 tahun pada tahun 2005.65% kelahiran bayi ditolong oleh Dokter.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH (relegius.98 tahun pada tahun 2006 dan 67. penolong pertama kelahiran bayi. 44. dan pada tahun 2006 turun lagi menjadi 40. menjadi 65. Air Susu Ibu (ASI) merupakan zat yang sempurna untuk pertumbuhan bayi dan mempercepat perkembangan berat badan. AKB dipengaruhi oleh faktor antara lain gizi ibu hamil. Dari jumlah tersebut hanya sekitar 40. 0. imunisasi ibu.85 tahun pada tahun 2004. pada tahun 2006 sebanyak 7. gizi.2 Kesehatan Di samping pendidikan. Pada tahun 2003. kultural dan berwawasan lingkungan) dipandang perlu mengembangkan indikator-indikator baru diluar yang telah ada yang merupakan representasi ciri dari visi dan misi tersebut. Pada tahun 2004 turun menjadi 46.50 per 1000 kelahiran hidup. AKB di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 47. 46. kualitas Sumber Daya Manusia juga tergambar dari derajat kesehatan masyarakat yang tercermin dari Angka Kematian Bayi (AKB). Angka Kematian Kasar (AKK).51%).93% ditolong oleh famili/lainnya.81 persen pernah diberi ASI. sebanyak 261 ribu balita atau 94. pada tahun 2005 berkurang menjadi 43. status gizi. Lamanya balita disusui secara tidak langsung berpengaruh pada faktor kesehatan. sedangkan yang disusui selama Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Angka pertolongan yang tinggi oleh dukun banyak dijumpai antara lain di Kecamatan Ciparay (77.4. Kecenderungan angka kematian bayi di Kabupaten Bandung selama beberapa dekade terakhir terus mengalami penurunan. selanjutnya 66. 74 .26 tahun pada 2007.8% oleh Bidan.1% oleh Dukun dan 0. Menurut data Suseda 2007.17%) dan Pangalengan (63.17 per 1000 kelahiran hidup.18 per 1000 kelahiran hidup sedangkan pada tahun 2007 semakin menurun menjadi 39. 66.1. dan ANC (Antenatal Care). dan Angka Harapan Hidup.5% oleh tenaga medis lainnya. Angka harapan hidup di kabupaten Bandung terus meningkat dari 65.4 tahun pada tahun 2003.74 per 1000 kelahiran hidup.

% disusui < 12 bulan 141.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH satu sampai kurang dari dua tahun sebesar 41.66 21. Kedua prasarana kesehatan dasar tersebut sebenarnya masuk Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. % disusui 12-23 bulan 5. ternyata tidak ditemukan perlakuan yang berbeda dalam hal menyusui balita di masyarakat Kabupaten Bandung. Sementara rasio Puskel terhadap Puskesmas adalah 0. Tabel 2.040 94. % disusui > 24 bulan 4. Persentase Lamanya Balita disusui Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Bandung Tahun 2007 Indikator (1) Laki-laki (2) Perempuan Jumlah (3) (4) 1. jumlah Pustu 67.397 95.11 19. Rata-rata rasio Pustu terhadap Puskesmas adalah 1.46 39.49 38.18 41.45 40.5 persen).64 16.4.85 134. Hasil Suseda 2007 Berdasarkan hasil data Suseda 2007. dan sisanya disusui kurang dari satu tahun (18. Jumlah tempat layanan kesehatan yang ada di Kabupaten Bandung masih kurang dibandingkan dengan jumlah penduduk.45 41. namun tidak seluruh Desa dan RW memiliki prasarana kesehatan dasar tersebut.91 276.1 artinya setiap Puskesmas di Kabupaten Bandung rata-rata mempunyai 1 sampai 2 Pustu. Balita yang Disusui 3. Kondisi tersebut menunjukkan telah bertumbuh kembangnya kesadaran para orang tua tentang pentingnya membangun kebersamaan dalam membesarkan anak-anak.45 persen.81 40.4 artinya belum semua Puskesmas mempunyai Puskel sebagai kendaraan operasionalnya. tanpa adanya perlakuan berbeda dalam pemenuhan kebutuhan gizinya atau ASI. Rasio Puskesmas terhadap penduduk pada tahun 2006 adalah 1 : 48.000 penduduk maka setiap penduduk dilayani oleh 2 – 3 Pustu. Polindes (Pondok Bersalin Desa) berada di tingkat desa dan Posyandu di tingkat RW. Pada tahun 2006 jumlah Puskesmas 56 TTP dan 5 DTP. karena menurut rasio idealnya setiap Puskesmas melayani 30. Jumlah Balita 2. Angka tersebut lebih dari rasio ideal.0 persen.260 penduduk. Persentase balita laki-laki yang disusui lebih dari 2 tahun mencapai 39.000 penduduk.44 Sumber: BPS Kab. Jika dilihat jumlah Pustu per 100. 75 .260 artinya setiap 1 Puskesmas melayani 48.643 94. Bandung .49 persen relatif tidak jauh berbeda dengan yang dialami balita perempuan yang mencapai 41. Pusling 26 serta polindes 63.

Polindes yang ada tersebut yang tersebar di beberapa desa di wilayah Kabupaten Bandung. di mana seluruhya berjumlah 5. Purnama. Untuk tenaga keperawatan seluruhnya berjumlah 1. sedang maupun ringan. namun menumpang di kantor RW atau Rumah Ketua RW. Tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan meliputi berbagai jenis. Madya. tenaga gizi.705 orang per penduduk.444 dengan rasio 1 : 2. di kantor Dinas Kesehatan sebanyak 39 orang. tenaga kefarmasian (apoteker.103 orang per penduduk yang terdiri dari 830 orang perawat dan dan 614 orang bidan. masing-masing tersebar di Kantor Dinas Kesehatan sebanyak 7 orang perawat dan 9 orang bidan. Adapun kondisi Puskesmas pada tahun 2007 sebagai berikut : rusak berat sebanyak 10 unit. khususnya Puskesmas. (KIA). Posyandu tersebut dibagi ke dalam 4 strata yaitu Pratama. Pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan anak baik di Polindes maupun di Posyandu keberadaannya sangat membantu dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak karena dapat menurunkan jumlah kematian ibu dan anak. yaitu seluruh kegiatan non teknis kesehatan diutamakan lebih berorientasi kepada usaha masyarakat setempat. namun rincian jumlahnya masih dalam survey. Adapun tenaga kesehatan yang ada di Kabupaten Bandung. Pustu dan Polindes bervariasi mulai dari rusak berat sampai dengan rusak ringan. dan tenaga kesehatan lainnya. Apabila ditinjau dari kondisi bangunan seluruh prasarana kesehatan dasar tersebut di atas. Pada umumnya pelayanan baik Polindes maupun Posyandu lebih dikhususkan untuk pelayanan kesehatan ibu dan anak. dan Mandiri. 76 . rusak sedang sebanyak 25 unit dan rusak ringan sebanyak 17 unit sedangkan yang kondisinya baik sebanyak 40 unit. tersebar di 92 Puskesmas sebanyak 167 orang. yaitu tenaga medis (dokter dan dokter gigi). tenaga keperawatan (perawat dan bidan).840 buah. baik berat. meliputi tenaga medis sebanyak 349 dengan rasio 1 : 8. Namun setiap tahun anggaran selalu dilakukan perbaikan/rehabilitasi seusai dengan kemampuan dana yang tersedia. Demikian pula Pustu dan Polindes masih terdapat kondisi bangunan yang mengalami rusak. di Puskesmas sebanyak 344 orang perawat Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. di sarana kesehatan lainnya 1 orang serta tersebar di rumah sakit baik pemerintah maupun swasta yang ada di Kabupaten Bandung sebanyak 142 orang. Sementara untuk lokasi Posyandu pada umumnya tidak tidak memiliki tempat tetap. analisis farmasi dan asisten apoteker).BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH ke dalam program UKBM (Usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat). tenaga kesehatan masyarakat.

di antaranya masih membutuhkan dokter umum sebanyak 117 orang. Rencana pembangunan RSD Cicalengka yang berlokasi Desa Tenjolaya Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Prasarana Kesehatan rujukan di Kabupaten Bandung baik pemerintah maupun swasta seluruhnya berjumlah 7 buah. analisis kesehatan/pranata laboratorium sebanyak 84 orang. RSD Majalaya. Sejalan dengan peningkatkan pelayanan kesehatan rujukan bagi masyarakat khususnya bagi masyarakat yang berdomisili di wilayah perbatasan maka akan dibangun RSD Cicalengka. Semetara untuk tenaga farmasi sebanyak 86 orang dan tenaga gizi sebanyak 85 orang. Untuk meningkatkan kinerja Puskesmas sehubungan dengan masih tingginya penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan. dan asisten apoteker sebanyak 67 orang. juga terutama dalam rangka meningkatkan IPM di bidang kesehatan. Kedua jenis tenaga kesehatan tersebut untuk tenaga farmasi tersebar di Kantor Dinas Kesehatan sebanyak 6 orang. RS Pasir Junghun. Sementara untuk RSD Majalaya masih perlu untuk meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan rujukan kepada masyarakat. serta RSU AMC Hospital. Untuk RS Pemerintah. Khusus tenaga kesehatan masyarakat (sanitarian) di Puskesmas adalah kualifikasi D-1 dan D-3 sebanyak 63 orang serta hanya 15 orang dengan kualifikasi S-1. khususnya untuk lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung masih perlu meningkatkan jumlah tenaga kesehatan tersebut. bidan sebanyak 137 orang. Proses relokasi RSD Soreang tersebut pada saat ini masih dalam taraf studi kelayakan.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH dan 570 orang bidan serta di Rumah Sakit sebanyak 479 orang perawat dan 35 orang bidan. ahli gizi sebanyak 27 orang. di Puskesmas sebanyak 42 orang dan di Rumah Sakit sebanyak 38 orang. RS Al-Ihsan. Rencana pembangunan RSD tersebut selain disebabkan oleh banyaknya kasus penyakit yang sudah tidak bisa ditangani lagi oleh Puskesmas setempat dan cukup jauhnya jarak ke rumah sakit terdekat. di Puskesmas sebanyak 59 orang dan di Rumah Sakit sebanyak 23 orang. RS Bina Sehat. khusunya RSD Soreang direncanakan akan dilakukan relokasi dikarenakan RS tesebut berada di pusat keramaian Kota Soreang. yaitu RSD Soreang. perawat sebanyak 63 orang. dokter gigi sebanyak 51 orang. Berdasarkan jumlah tenaga kesehatan di atas. sanitarian sebanyak 24 orang. 77 . paling tidak harus ada 1 orang sanitarian di setiap Puskesmas. perawat gigi sebanyak 33 orang. sedangkan untuk tenaga gizi tersebar di Kantor Dinas Kesehatan sebanyak 3 orang. Dari hasil analisis kebutuhan pegawai yang dilakukan oleh Dinas tersebut.

TPAK perempuan di kabupaten Bandung telah mencapai 36. Rumah Sakit tersebut di antaranya membutuhkan dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu kedokteran sebanyak 7 orang.35 persen.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Kecamatan Cicalengka sampai saat ini sudah dalam tahap persiapan pembangunan. Implikasi logisnya jelas bahwa upaya pengentasan kemiskinan antara lain harus ditempuh melalui upaya penyelesaian masalah ketenagakerjaan. Rencana kebutuhan pegawai baik di RSD Cicalengka khususnya untuk tenaga kesehatan.73 persen pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 menurun menjadi 9. pada tahun 2006 dan 25.86 persen. Jika dilihat berdasarkan perspektif jender. menurunnya tingkat pengangguran adalah sebagai akibat pemekaran Kabupaten Bandung menajadi Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Bandung Barat. alat kesehatan. dan bidan 3 orang. dokter gigi sebanyak 1 orang. 2. Hal ini menunjukan bahwa penopang kebutuhan hidup keluarga di Kabupaten Bandung didominasi oleh penduduk laki-laki yang bekerja . tingkat pengangguran terbuka Kabupaten Bandung mencapai 14.4. dokter umum sebanyak 14 orang.5 persen dari jumlah penduduk. Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bandung. Masalah ketenagakerjaan secara langsung berkaitan dengan masalah kemiskinan.52 persen sedangkan TPAK laki-laki yang mencapai lebih dari 77.1.47 persen.3 Tenaga Kerja dan Kondisi Sosial Lainnya Salah satu indikator yang biasa dipakai dalam melihat atau menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat adalah laju pertumbuhan angkatan kerja yang terserap di lapangan pekerjaan. sedikit mengalami kenaikan menjadi 14.25 persen menjadi 25. Menurut data Suseda 2005. serta obatabatan. Psikolog sebanyak 1 orang. penyerapan lapangan pekerjaan di Kabupaten Bandung periode tahun 2005-2007 mengalami sedikit pergeseran.02 persen Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. 78 .98 persen. Perawat sebanyak 115 orang. Untuk selanjutnya apabila sudah terbangun dengan sendirinya akan membutuhkan sarana dan prasarana penunjang Rumah Sakit tersebut. Penyediaan lapangan pekerjaan berkait erat dengan pengurangan angka pengangguran. yaitu penyediaan lapangan kerja/usaha dan peningkatan produktifitas tenaga kerja. sektor pertanian turun dari tahun 2005 sebesar 26. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kabupaten Bandung mencapai 56. antara lain tenaga kesehatan dan non kesehatan. Perawat gigi sebanyak 2 orang.

1 buah pura/klenteng. 31 buah gereja. kualitas.57 17. Jumlah tindak pidana yang dilaporkan pada tahun 2006 sebanyak 1. perdagangan mengalami penurunan dari 18. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.97 25. Sampai tahun 2006.56 18.971 buah mushola. Hal ini tercermin dari kesulitan pemeluk agama tertentu untuk mendirikan tempat ibadahnya. 31 buah gereja. dan 3 buah vihara. dan 3 buah vihara. dan ragamnya. sektor jasa naik dari 10.06 persen (2006) turun menjadi 18.825 buah mesjid. jumlah yang mengikuti shalat jum’at terus bertambah. Pecandu dan penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif yang tercatat pada tahun 2006 sebanyak 70 kasus. meskipun jumlah masjid.76(2006) menjadi 21.92 persen (2005). namun berbagai penyakit masyarakat juga tidak kalah cepat perkembangannya.56.02 23.64 Seiring dengan arus globalisasi. di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 5. Di sisi lain. Sedangkan Berdasarkan data BPS (Kabupaten Bandung Dalam Angka Tahun 2007). Dari pemberitaan media massa.261 kasus (Kabupaten Bandung dalam angka 2007). Toleransi dan kerukunan hidup beragama belum sepenuhnya tercipta.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH pada tahun 2007 dan sektor industri turun dari 27. 8.54 21.5 Persentase Lapangan Pekerjaan Penduduk Umur 10 Tahun Ke Atas Tahun 2005-2007 Lapangan Pekerjaan Angkatan Kerja yang Bekerja Pertanian Industri Perdagangan Jasa Lainnya Angkatan Kerja Menganggur Sumber : Suseda Kab.69 14. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.6 : Tabel 2. 10. makin banyaknya kasus-kasus pelanggaran/penyimpangan moral menunjukkan nilai-nilai moral dan agama semakin luntur. 1 buah pura/klenteng.00 persen pada tahun 2005 menjadi 26. 79 . baik kuantitas. di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 3.86 26.00 18. 3.193 buah langgar. masyarakat semakin permisif. 3.42 19. bergeser terutama ke sektor Jasa.92 10. terutama penetrasi budaya melalui media massa dan gaya hidup.26 14.42 persen pada tahun 2006 dan tahun 2007 menjadi 23. Bandung 2005-2007 Masih Memperhitungkan 45 Kecamatan 2005 2006 2007 26.19 persen.010 buah mushola.57 (2005).76 17. 19.90 14.25 27.19 11.06 10.210 buah langgar. kelompok-kelompok pengajian (majlis tak’lim).603 buah mesjid.73 25. 2.54 (2007). resistensi terhadap pemeluk agama lain relatif masih cukup tinggi.

banyak juga nilai-nilai budaya sunda yang tinggi dan relevan dalam kehidupan sekarang.238. secara nasional susu produk dalam negeri baru memenuhi sekitar 30% dari kebutuhan 4. perkebunan besar swasta dan perkebunan rakyat merupakan komoditas yang sebagian besar diekspor. Rendahnya produktivitas juga salah satunya berkaitan dengan rendahnya etos kerja dan disiplin. Dari total luas 176. kegiatan pertanian menggunakan lahan sebesar 54. Untuk komoditas beras. Namun demikian. Saat ini.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Ketertinggalan Bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain di antaranya disebabkan oleh rendahnya etos kerja dan disiplin. Kabupaten Bandung memberikan kontribusi yang cukup tinggi dalam memenui kebutuhan susu segar nasional maupun Jawa Barat. 2. industri 0.588 kg yang mengalami peningkatan jika dibandingkan produksi tahun 2006 sebesar 112. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan lahan yang digunakan untuk pertanian dan jumlah penduduk yang bermatapencaharian di sektor pertanian. untuk jenis komoditi sapi perah.5 juta liter susu/hari. disusul kawasan lindung 33.Etos kerja dan disiplin juga dipengaruhi oleh faktor budaya. dan sebagainya. sampai saat ini Kabupaten Bandung memasok kurang lebih 50-70 ton per hari ke Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta.66 ha. Bekasi dan pasar-pasar di Kota Bandung.4.69%.11%.239. Peluang pasar dalam negeri masih sangat terbuka.373 kg.626.2 Kondisi Ekonomi Daerah Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki struktur masyarakat agraris.98%. sekitar 25% dijual ke pasar Kota Bandung dan sisanya ke pasar lokal. domba dan unggas.95%. Dari sisi produksi. Sampai saat ini. perumahan 8. Komoditas lainnya yaitu produksi teh baik yang berasal dari perkebunan negara. 80 dan . Potensi lainnya yang dimiliki adalah potensi peternakan dengan jenis antara lain sapi perah. sapi potong. Bogor. Ketidakdisiplinan antara lain tercermin dari kesemrawutan lalu lintas. Tangerang. produksi susu dari Kabupaten Bandung Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Komoditas sayuran dataran tinggi sekitar 50% produksinya dijual ke pasar Jakarta dan sekitarnya. Produksi susu di Kabupaten Bandung pada tahun 2007 tercatat sebesar 114. berkeliarannya pelajar dan PNS di tempat-tempat perbelanjaan pada jam kerja. Kabupaten Bandung merupakan salah satu pemasok utama komoditi beras dan sayuran dataran tinggi bagi daerah perkotaan seperti Jakarta.

Komoditi lain yang juga potensial dikembangkan adalah sapi potong. dari luas areal 256. bibit bakalan sapi potong yang berasal dari pedet jantan sapi perah di Kabupaten Bandung lebih banyak dijual ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di lain pihak.8 – 12 liter per ekor per hari. 18 ha dapat dihasilkan benih ikan sebanyak 1.10. 787.316.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH memberikan kontribusi sebesar 43% terhadap total produksi susu di Jawa Barat. Berdasarkan data dari Dinas Indag Kabupaten Bandung. Potensi lainnya adalah perikanan yang terdiri dari pembenihan. Saat ini kebutuhan daging Kabupaten Bandung dan Kota Bandung sebagian besar dipenuhi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menyebabkan beban angkut menjadi lebih mahal. pendederan dan pembesaran ikan di kawasan segitiga emas budidaya ikan. Pada tahun 2007. kecil. konsumsi daging di Kabupaten Bandung pada tahun 2007 baru mencapai 8.98 kg/kapita/tahun dari target 10. Gambar 2.14%. Dengan kondisi tersebut.1 milyar. industri kecil 55 unit. Potensi lain yang dimiliki adalah sektor industri yang terdiri dari industri rumah tangga. Dengan tingkatan produktivitas tersebut.68 ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp.057. berkembang pula usaha pengolahan ikan yang tersebar di hampir seluruh wilayah Kabupaten Bandung. usaha persusuan relatif masih rendah dengan skala pemilikan sekitar 1-3 ekor per peternak dengan produktivitas sapi perah saat ini baru mencapai 10. menengah dan besar.126 ribu ekor dengan nilai ekonomi produksi sebesar Rp. Dari sisi efisiensi. Apabila dilihat dari penyerapan tenaga kerja. industri menengah 56 unit dan industri besar 53 unit. Hal ini tentunya menjadi suatu peluang bila Kabupaten Bandung mampu menyediakan sapi potong bagi konsumen di Kabupaten Bandung dan sekitarnya.1 kg/kapita/tahun. Selain itu. di Kabupaten Bandung saat ini belum mampu berkompetisi dengan produksi susu dunia dengan rata-rata liter/ekor/hari. tercatat produksi ikan sebesar 84.14 produksi susu ideal sekitar 25 – 35 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Gambar berikut menunjukkan penyerapan tenaga kerja dari masing-masing jenis industri.8 milyar. 81 . Dari potensi pembenihan. pada tahun 2006 terdapat industri rumah tangga sebanyak 139 unit. industri kecil ternyata mampu menyediakan lapangan kerja terbesar yaitu sebesar 58.

Ditinjau dari target pemasarannya. 82 . Jenis industrinya antara lain konveksi di Kecamatan Soreang. Kegiatan ini lebih merupakan manifestasi dari tradisi setempat dan membantu kegiatan utama yaitu kegiatan pertanian. kripik singkong. pola spesifik yang sangat menonjol di Kabupaten Bandung adalah kelompok industri lokal dan industri sentra. Skala usaha umumnya sangat kecil dan mencerminkan suatu pola pengusahaan yang bersifat subsisten Target pemasarannya sangat terbatas dan ditangani sendiri. gula aren dan lain-lain. Pada kelompok industri sentra. dapat dilihat kontribusinya terhadap Produk Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Ciri utama industri lokal adalah kelompok jenis industri yang menggantungkan kelangsungan hidupnya kepada pasar setempat yang terbatas serta relatif tersebar dari segi lokasinya. alat rumah tangga di Kecamatan Cileunyi. Ciri utama dari industri sentra adalah kelompok jenis industri yang dari segi satuan mempunyai skala kecil tetapi membentuk suatu pengelompokan atau kawasan produksi yang terdiri dari kumpulan unit usaha yang menghasilkan barang sejenis. kerajinan bambu di Pacet. Jenis yang diusahakan antara lain anyaman bambu. terdapat indikasi pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh terkonsentrasinya bahan mentah bagi suatu produksi di daerahdaerah tertentu.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Persentase Penyerapan Tenaga Kerja industri rumah tangga 18% industri besar 18% industri menengah 5% industri kecil 59% industri besar industri menengah industri kecil industri rumah tangga Berdasarkan pengelompokan kategori industri kecil. industri sentra umumnya menjangkau pasar yang lebih luas sehingga peranan pedagang perantara atau pedagang pengumpul menjadi cukup menonjol. kripik pisang. Kelompok industri lokal umumnya merupakan usaha kerajinan rumah tangga yang dikerjakan oleh anggota rumah tangga dan lebih merupakan aktivitas sambilan atau musiman dengan berpangkal tolak pada kultur tani. Untuk melihat kontribusi dari masing-masing sektor ekonomi di atas terhadap perekonomian wilayah. kerajinan topi di Margaasih dan boneka di Margahayu. anyaman mendong.

49%. disusul sektor perdagangan.02 perdagangan . sektor industri tetap menjadi sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 60. hotel dan restaurant 15.54%.19% dan perdagangan 18.3824 ha/org dan sektor industri 0. Pada tahun 2006.69 jasa.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Domestik Regional Bruto (PDRB). 18. telah terjadi involusi pertanian. 25. diikuti sektor jasa sebesar 21.34% dan sektor pertanian 7. Dengan kata lain.15 Persentase Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Sektor Tahun 2007 lainnya.19 industri. Menurut data Suseda 2007.56% dan sebaliknya sektor pertanian yang memberikan kontribusi hanya sebesar 7% mampu menyediakan lapangan kerja terbesar yaitu 25. sektor industri yang memberikan kontribusi sebesar 61% ternyata hanya mampu menyerap tenaga kerja sebesar 23. sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Bandung adalah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 60.57%. 23.81% pada tahun 2007.74%. 21.4%. 83 . Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.56 pertanian. Berikut persentase penyerapan tenaga kerja menurut sektor sebagai berikut : Gambar 2. data menunjukkan bahwa sektor yang memberikan kontribusi besar tidak serta merta dapat menyediakan tenaga kerja yang besar pula. 11. Sektor-sektor yang memiliki kontribusi besar menggambarkan tingginya potensi dari sektor tersebut dalam perekonomian wilayah. Kondisi ini menunjukkan terlalu banyaknya penduduk yang menggarap lahan pertanian dan melebihi daya dukungnya. kemudian berturut-turut sektor perdagangan. hotel dan restoran 15. namun nilai nominalnya mengalami peningkatan. Walaupun sektor pertanian dalam kurun waktu 2006-2007 mengalami sedikit penurunan dalam memberikan kontribusi terhadap PDRB. dari hasil analisis yang dilakukan terlihat bahwa Land-man ratio di sektor pertanian tercatat 0. Jika dilihat dari sisi ketenagakerjaan.0037 ha/orang.06% serta sektor pertanian 7.54 pertanian industri perdagangan jasa lainnya Berkaitan dengan hal tesebut di atas. Sektor pertanian masih tumbuh yang ditunjukkan dengan laju pertumbuhan sebesar 2. Demikian pula halnya pada tahun 2007.02%.

Dengan demikian.36% KK yang masuk kategori miskin (Pra KS dan KS).841.30 3.00 Jumlah Tenaga Kerja (Orang) 253.73 430. walaupun dari land man ratio di sektor pertanian sudah melebihi daya dukung.24 33. Cimenyan.222.218 329. Cilengkrang. Pasirjambu.14 29.98 8.017 622.894 LMR (Ha/Org) 0. Kecamatan-kecamatan yang memiliki basis pertanian yang ditunjukkan oleh angka LQ di atas 2 antara lain Kecamatan Rancabali.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Tabel 2.297. Apabila dipetakan ternyata wilayah yang memiliki tingkat prosentase penduduk miskin yang tinggi ternyata terkonsentrasi di kantongkantong seputar perkebunan.238.893.386 122.965 1.7 Kecamatan yang Memiliki Jumlah KK Miskin di Atas Rata-rata Kabupaten No Kecamatan % KK Miskin Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.0037 0. Ciwidey. Data Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan menunjukkan pada tahun 2007 terdapat 42.95 0.02 0.642. Kecamatan-kecamatan yang memiliki jumlah KK miskin di atas rata-rata Kabupaten adalah sebagai berikut : Tabel 2.82 14. 84 .09 1.523. mengingat sektor pertanian masih mampu menyediakan lapangan kerja nampaknya perlu diupayakan langkah-langkah intensifikasi maupun diversifikasi usaha untuk meningkatkan kesejahteraan petani. di sentra-sentra produksi pertanian dan daerah industri.11 2. Kertasari dan Cikancung.6 Persentase Penggunaan Lahan dan Rasio Daya Dukung Lahan Terhadap Jumlah Tenaga Kerja (Land-man Ratio /LMR) Tahun 2007 Luas Lahan No Jenis Kegiatan Eksisting 2004 (Ha) 1 2 3 4 5 6 7 Pertanian Pertambangan Industri Perdagangan&Jasa Kawasan Lindung Perumahan Lainnya Jumlah 96.0007 - Sumber : Hasil Analisis Bapeda 2007 Namun demikian.66 Persentase Penggunaan Lahan (%) 54.94 59.3824 0. hutan negara. dari hasil analisis Location Quetion (LQ) menunjukkan bahwa sektor pertanian masih merupakan sektor basis di Kabupaten Bandung. Semua kegiatan yang menyangkut perekonomian wilayah sebagaimana diuraikan di atas tentunya berdampak terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.64 176. Hal ini menjadi penting karena menurut Sensus Pertanian (2003) terdapat sekitar 84% rumah tangga petani yang masuk kategori gurem.69 0.

Data Suseda 2007 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang bekerja dengan status buruh/karyawan/pegawai dan upah/gaji bersih selama sebulan sebagai berikut : Gambar 2.000 250.45 47.37 62.67 46.85 55.34 64.87 50.366 2006 294.15 48.92 54. 2005-2007 350.980 KK pada tahun 2006 dan 321.84 55.000 50.16 JUMLAH KK MISKIN TH.000 200.73 56.000 Jml KK 2005 176. Gambar 2.000 300.000 100.59 47.07 43.48 48.75 66. menjadi 294.000 150. Namun demikian apabila dilihat dari lajunya terjadi penurunan dalam laju pertumbuhannya. 85 .17 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.366 KK pada tahun 2005.684 KK pada tahun 2007.684 Indikator lain yang terkait kesejahteraan dapat dilihat dari jumlah penghasilan yang didapat masyarakat.19 Apabila dilihat perkembangannya dalam kurun waktu 2005-2007 memang terjadi penambahan jumlah KK miskin yaitu 176.980 2007 321.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH 1 2 3 4 5 6 7 9 10 11 12 13 14 15 16 Pasirjambu Pangalengan Pacet Paseh Cicalengka Majalaya Ciparay Pameungpeuk Ibun Kertasari Arjasari Cikancung Nagreg Rancabali Solokanjeruk 53.

Beberapa diantaranya ada di wilayah Kecamatan Arjasari. Ciparay. Majalaya dan Paseh. Cileunyi. Cangkuang.67 Ha) seharusnya menjadi kawasan lindung baik berupa hutan. dan wilayah perairan.4. Kertasari.22 % wilayah Kabupaten Bandung (46. Ibun. dimana luas lahan dengan kelas kritis 7.5 jt 2. Baleendah. Dayeuhkolot. Margahayu. Pasirjambu dan Soreang. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa luas lahan kritis saat ini adalah sebesar 6.275 Ha. Cikancung. lokasinya ada di wilayah Bojongsoang.1. 26.000 999. sempadan.749. Cimenyan. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tahun 2007. Ciwidey. Cikancung. Pangalengan. Permasalahannya adalah di Wilayah Kabupaten Bandung banyak terdapat lahan kritis dan daerah rawan banjir termasuk di kawasan lindung.499.453.205.999 1 jt . Cicalengka. ruang terbuka. Mekarsaluyu. Pacet. Cicalengka.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Persentase Penduduk 10 thn Ke Atas yang Bekerja Dgn Status Buruh/Karyawan/Pegawai dan Upah/Gaji Bersih Selama Sebulan 1 jt .999 > 1.3. Cimenyan dan Ciburial Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Banjaran. Cimaung. Margaasih. Ciparay. Pameungpeuk. Pameungpeuk.355 Ha.915 Ha. Sedangkan daerah rawan banjir seluas 7.1.000 . 86 . Sebaran lahan kritis di Desa dan Kecamatan wilayah Kabupaten Bandung dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2.275 ha. Cilengkrang. kelas semi kritis 3.999 750.3 Kondisi Fisik Wilayah 2.1 Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Berdasarkan analisis kesesuaian lahan. luas lahan kritis di Kabupaten Bandung sekitar 15.39 ha. Nagreg. Baleendah.999 8% 750.499.5 jt 9% < 500 rb 45% 500 rb 749.2.999 17% < 500 rb 500 rb .999. Rancaekek.999 21% > 1.8 Sebaran Lahan Kritis Desa dan Kecamatan Wilayah Kabupaten Bandung No 1 KECAMATAN Cimenyan DESA Mandalamekar.285 Ha dan kelas potensial kritis 5.

Cileunyi Wetan.6 µg/m3. Baros. Ciheulang. Babakan Wargamekar. Mekarjaya Pakutandang. Nagrog.7 µg/m3. Cipaku. Cikawao. kegiatan lain. Cilengkrang. Mekarjaya. Mandalawangi. Margamulya. Sindangsari. Degradasi kualitas Sungai Citarum dan anak-anak sungainya akibat tidak terkendalinya pencemaran limbah dari sumber domestik. Terdapat kecenderungan bahwa menurunnya kualitas udara ambien akibat kegiatan transportasi dan industri. Mekarsari. Bojongmanggu Patrolsari. Cisondari Nengkelan. Ciporeat dan Melatiwangi Cileunyi Kulon. Ciapus. Sukamanah. Sukapura. Mekarlaksana. Cihawuk. Manggahang. Dampit.758 µg/m3. Alamendah Sulaeman Lagadar KECAMATAN Cilengkrang Cileunyi Nagreg Cicalengka Cikancung Paseh Ibun Kertasari Pacet Ciparay Baleendah Pameungpeuk Arjasari Banjaran Cimaung Pangalengan Cangkuang Soreang Pasirjambu Ciwidey Rancabali Margahayu Margaasih Sumber : Hasil Analisa Bapeda 2007 Permasalahan lingkungan lainnya di Kabupaten Bandung adalah pencemaran lingkungan baik air. Lamajang Bandasari. sedangkan Kadar SO2 dan NO paling tinggi terjadi di Terminal Cileunyi yaitu masing – masing sebesar 31. Ciluluk. industri. Sukamaju. Margamukti. Pananjung Cilame. Ciherang dan Nagreg Margaasih. Cipedes. Rawabogo. Sukawening Cipelah. Pencemaran tanah yang menonjol terjadi di Kecamatan Rancaekek akibat pencemaran limbah industri dari Kabupaten Sumedang. Wargaluyu. Margamekar. PasIrmulya Cikalong. Cikancung dan Mandalasari Karangtunggal. Pangauban. Nagrak. udara maupun tanah. Sukajadi. Ancolmekar. Lebakwangi. Babakan Peuteuy. Sukanagara. 87 . Pinggirsari. Baleendah Langonsari. Pencemaran udara cenderung mengkhawatirkan ditujukan dengan kualitas udara ambien setiap tahunnya cenderung menurun. Bojong. Sukaluyu. Tribaktimulya. Cihanyir. Mandalahaji. Ibun. Cipanjalu. Mangunjaya. Cimekar. Drawati Mekarwangi. Tenjolaya.BAB II No 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH DESA Girimekar. Cibodas. Lebakmuncang. Cikembang Cinangela. Mekarpawitan. rumah sakit. Sudi Cibeureum. Sugihmukti. Mekarjaya. Jatisari. Tanjungwangi Srirahayu. Malasari Warnasari. Arjasari Banjaran Wetan. Pangalengan. Narawita. Cikitu. Ciaro. dan 28. Mekarlaksana. Mekarsari. Dari 12 titik lokasi pengukuran polusi udara di Kabupaten Bandung Tahun 2006 Kadar NO2 paling tinggi terdapat di Ruas Jalan Kopo – Sayati sebesar 98. Sukamulya Tenjolaya. Sukarame. Girimulya. RPH. Cibiruwetan Citaman. Pulosari. L oa. Jelekong. Rancakole. Laksana. Nagrak. dan penggundulan hutan di hulu Sungai Citarum serta Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.

Kualitas air sungai di Kabupaten Bandung.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH desakan kegiatan perkotaan. 88 . terutama pada Sungai Citarum dapat dilihat pada tabel berikut : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.

0 1833.480 6.075 0.67 2.0 1500.5 30.05 0.0 43.0 24.19 0 125 20.040 0.WADUK SAGULING IX.770 32.125 0.52 7.090 0.01 1.16 0.012 0.5 12.70 0.001 0.20 0.42 210 318 29 0.0 167.43 0.9 65.42 1.67 7.20 0. SUNGAI CIWIDEY XVII.049 1.56 95.5 29.040 0.00 1.075 0.008 0.8 27.062 1.0021 0.30 0.0069 0.025 0.0 48.57 1000.23 0.030 0.035 0.21 1.82/2001 Kls II 6-9 pH TDS TSS Temp.38 7.0 38.5 40.0027 0.43 1090.06 0.001 0.50 2.2 Minyak & Lemak g/L 1000 mg/L 0.002 0.25 0.883 5.5 210.0 0.4 30.04 19.11 1.003 0. SUNGAI CIRANJENG XIV.01 1.52 1.114 0.CIBALIGO RUAS WADUK SAGULING .08 1.188 0.0 1500.043 0.085 0.25 0.8 0.025 0.060 0. SUNGAI CIPAMOKOLAN VI.5 72.235 0.51 1.05 15.038 0. SUNGAI CIRASEA II.0 1000.0 29.04 0. SUNGAI CIMETA 0.0 17.09 6628 RUAS JEMBATAN MAJALAYA .0 32.0006 0.8 25.42 3.02 0.518 0. SUNGAI CISANGKUY X.039 0. SUNGAI CITEPUS XII.3 7.9 0.46 224 276 610 75 25 64 181 135 1327 82.083 0.50 1723 6783 1000 207 8030 220 600 8550 Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung 2007 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.064 0.01 1000 0.06 0. 89 .5 30.729 8.29 3.025 0.31 7.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Tabel 2.115 0.75 10.43 0.30 0.040 0.86 0.35 7.0 29.02 1000 0.3 143.1 188.0 1000.003 0.002 0.0 385.5 181.098 0.3 255.38 0.15 1.0 194.46 1.002 0.0 1000.66 0.32 1.020 0.5 133.45 0.935 11.0028 0.93 1.72 1.0 1000.5 98.0 1000.05 0.6 0.015 0.045 0.0 ±3 RUAS GUNUNG WAYANG .06 1. SUNGAI CIKAMBUY XVI.4 1000.06 0 0 0 0 0 7 7 0 367 2362 230 512 413 534 374 213 195.16 1.50 0.002 0.1 26.9 68.0 49.0 29.245 0.0 30.0 1000.57 0.7 81.64 0.63 0.011 0.09 8.14 0.003 0.045 0.JEMBATAN MAJALAYA 0.WADUK CIRATA XVIII.45 0.003 0.9 104.0 60.22 0.2 26.012 0.0 3000.17 6.0 29.0 62.07 1.5 80.445 0.05 mg/L 0.68 2.007 0.5 0.040 0. SUNGAI CIHERANG XIII.035 0.004 0.0 59.0 28.002 Deterjen (MBAS) mg/L 0.032 1.07 0.0 46.001 0.3 37.5 28.40 1.001 2.04 0.012 0.550 32.7 27.0 110.0 23.0 18.890 7.77 0.005 0.002 0.020 31.04 0. SUNGAI CISUMINTA XI.6 1.075 0.09 0. SUNGAI CIGONDEWAH .JEMBATAN DAYEUH KOLOT I.2 30.014 0.003 3.15 0.94 0.030 0.5 0.0 36.0062 0.0 54.0 21.003 0.60 0.40 0.13 7.5 53.175 25.40 0.08 0. SUNGAI CIKAPUNDUNG RUAS JEMBATAN DAYEUH KOLOT . SUNGAI CICANGKUDU XV.10 0.0 19.031 15.91 0.58 0.020 0.045 0.3 0.2 402.0 27.98 59.16 3.19 114.0054 0.015 0.50 0.83 0.57 471 4250 130 685 3500 1370 8115 2847 2823 0.4 mg/L 3 mg/L 25 DO0 BOD5 COD (NO3N) Total P mg/L 0.185 1.2 93.5 168.002 0.0042 0.007 0.70 1.0 27.56 0.42 0.42 1.06 mg/L Min.270 0.61 1.60 0.008 0.0 1000.05 0.0 24.1 30. SUNGAI CITARIK III. SUNGAI CIJAWURA VII.20 1. 9 Data Rata-rata Hasil Pengamatan Kandungan Limbah di Anak Sungai Citarum Tahun 2007 Per Bulan September Nitrat LOKASI SAMPLING Debit m3/detik Kriteria PPRI No.4 19.012 0.9 1368.68 0.3 22.0 1000.15 125 2. O Nitrit (NO2N) mg/L 0. SUNGAI CIGANITRI VIII.001 0.55 0.0 1000.0288 0.60 0.5 28.123 5.42 1.001 Zn Fenol Amonia (NH3N) mg/L - Sulfida sbg H2S mg/L 0.940 6.52 0.2 Total Coliform Jml/100ml 5000 mg/L 1000 mg/L 50 C mg/L 10. SUNGAI CIKOPO IV.5 149.36 0. SUNGAI CIKERUH V.

.

00. Namun beberapa upaya yang dilakukan untuk menangani limbah rumah tangga kurang mendapat tanggapan dari masyarakat. sehingga intervensi dan program yang dilakukan pemerintah lebih memfokuskan pada penanganan limbah industri tersebut.45 ton per hari.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Dari hasil pengamatan kandungan limbah pada anak . Titik berat perhatian masalah lingkungan saat ini masih pada pencemaran yang dihasilkan oleh kalangan industri. 114. khususnya yang bersumber dari air limbah industri.Cibaligo yaitu 402. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Beberapa bangunan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) yang ada saat ini mengalami kesulitan beroperasi karena terbentur pada budaya masyarakat yang belum menyadari pentingnya instalasi IPLT tersebut bagi kelangsungan keseimbangan lingkungan. dalam rangka mengendalikan pencemaran lingkungan dari kalangan industri. Tentunya pemerintah harus mulai memikirkan program/kegiatan yang biaya operasionalnya rendah sehingga masyarakat tidak dibebani iuran yang terlalu mahal. dan tingkat Chemical Oxigen Demand (COD) tertinggi terdapat pada ruas Jembatan Dayeuhkolot – Saguling yang berada pada titik Sungai Cigondewah . meningkatkan kualitas air sungai. Program Surat Pernyataan Kali Bersih (Super Kasih) yang dimulai Tahun 2003 bertujuan mendorong percepatan penataan industri terhadap ketentuan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup yang berlaku. misalnya dengan memperluas dan mensosialisasikan septictank komunal. Padahal limbah rumah tangga juga memberikan andil yang cukup besar terhadap ketidakseimbangan lingkungan. Tingkat Biochemical Oxygen Demand (BOD) yang paling tinggi terdapat di ruas Jembatan Dayeuhkolot – Saguling yang berada pada titik Sungai Citepus yaitu sebesar 149. dari sekitar 94 industri. Sasaran program ini antara lain menurunkan beban pencemaran. (TSS) tingkat Total Suspended Solid paling tinggi terdapat pada ruas Jembatan Majalaya – Jembatan Dayeuhkolot yang berada pada titik Sungai Cirasea yaitu sebesar 195. domestik dan pertanian. 91 .6.34 ton per hari dan bottom ash lk. Sedangkan untuk limbah padat yang dihasilkan industri pemanfaat batubara. baik pusat maupun daerah. Hal ini tentunya beralasan mengingat secara historis posisi Kabupaten Bandung dikenal sebagai sentra industri tekstil. dan meningkatkan kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Beberapa program telah digulirkan oleh pemerintah.5. menghasilkan limbah padat fly ash 144. yang merupakan industri yang dikenal menghasilkan limbah yang cukup polutif.anak sungai Citarum pada periode September tahun 2007.

Majalaya. longsor merupakan salah satu bencana yang kerap menimpa wilayah Kabupaten Bandung. dan sebaliknya untuk kinerja pengelolaan yang buruk. Pasirjambu dan Rancaekek.8 m3/hari dengan rata-rata limbah cair per industri 645. Terkait dengan permasalahan bencana alam. Pada masa yang akan datang kebutuhan air masyarakat akan semakin meningkat. Beberapa sumber air di bagian hulu Cekungan Bandung yang perlu dipelihara fungsinya antara lain: Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Longsor merupakan pergerakan tanah yang dapat disebabkan oleh gerusan air akibat adanya hujan lebat. Beberapa wilayah yang sering mengalami bencana longsor adalah Cicalengka.cabang dari sesar utama (sesar Lembang dan sesar Cimandiri) yang pengaruhnya tidak terlalu signifikan.371.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) bertujuan mendorong penataan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan melalui instrumen insentif reputasi/citra bagi perusahaan yang mempunyai kinerja pengelolaan lingkungan yang baik. Sumber daya air juga merupakan sumber daya yang patut mendapat perhatian di Kabupaten Bandung terkait dengan bencana banjir dan kekeringan.44 m3/hari. Cikancung. Paseh. Ibun.802. Limbah Cair (m3/hari) di kabupaten Bandung adalah 65696. terutama tipe tektonik dan gempa vulkanik. Pangalengan. Ditinjau dari jumlah IPAL industri terdapat 126 perusahaan yang menerapkan pola penggunaan IPAL. secara geologis Kabupaten Bandung merupakan wilayah yang berpotensi terjadi gempa bumi. Tentu saja program-program tersebut belum menyelesaikan permasalahan pencemaran lingkungan secara keseluruhan. sedangkan wilayah yang berpotensi terjadi gempa akibat letusan gunung/vulkanik yaitu kawasan Gunung Papandayan di wilayah selatan Kabupaten Bandung. Cimenyan. Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup pada Tahun 2006. Katapang. Wilayah berpotensi terjadi gempa tektonik adalah cabang .798. industri memanfaatkan air tanah sebanyak 4. Pacet. Jumlah industri yang memanfaatkan air bawah tanah sebanyak 305 industri.2 m3 per hari dengan rata-rata pemanfaatan air tanah per industri sebanyak 266. Cimaung. Margahayu. Ciparay.40 m3 per hari. Permasalahan ini merupakan potensi konflik apabila pemerintah tidak dapat melakukan pelestarian dan pengaturan terkait dengan pemanfaatannya baik pemanfaatan air tanah maupun air permukaan. Kertasari. Selain gempa bumi. 92 . dari jumlah tersebut.

sedimentasi di sungai-sungai akibat gerusan air terhadap tanah saat ini sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. juga disebabkan oleh elevasi saluran yang sudah berubah.0 m dan lama genangan 6 jam disebabkan oleh luapan Sungai Rancamalang. Penyebab permasalahan ini disamping dimensi saluran drainase yang sudah tidak sesuai dengan kondisi jumlah permukiman yang ada. termasuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang betapa pentingnya memelihara infrastruktur yang sudah terbangun.0 m dan lama genangan 2-3 hari disebabkan oleh luapan Kali Cipalasari. Berdasarkan data kondisi banjir akhir Tahun 2006 dan awal Tahun 2007. b) Jalan Raya Kopo sepanjang 50-100 m dengan tinggi genangan 0. d) Kampung Palasari Kelurahan Pasawahan dengan tinggi genangan 0. muara permasalahan banjir ada pada kondisi lingkungan yang rusak akibat budaya masyarakat yang kurang tertib.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH badan sungai Citarum dan anak-anaknya. Penyelesaian masalah ini tidak bisa dilakukan secara parsial. beberapa wilayah yang sampai saat ini menjadi langganan banjir di Kabupaten Bandung adalah: 1). Cisanti.3– 0.8 m dan lama genangan 12 jam disebabkan oleh luapan Kali Citepus. Permasalahan banjir di Kabupaten Bandung saat ini sudah menjadi permasalahan yang rutin setiap Tahun untuk wilayah-wilayah tertentu. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. danau atau situ (Ciharus. Namun demikian. Demikian pula halnya sampah domestik yang menggunung di aliran-aliran sungai juga seringkali menghambat kelancaran aliran air.5–1. c) Desa Cangkuang Wetan Kecamatan Pasawahan dengan tinggi genangan 0. Cileunca dan Patengan).25-2. 93 . Penanganan permasalahan dari hulu sampai ke hilir sungai. serta penanganan dan pemeliharaan saluran-saluran drainase memerlukan penanganan yang menyeluruh. Selain itu. Wilayah Margahayu: a) Desa Margaasih Kecamatan Margaasih dengan tinggi genangan 0.11.5 m dan lama genangan 5 jam disebabkan oleh luapan Kali Cikahyangan.

Sungai Cijagra dan Sungai Cigentur. Cangkuang.4 m dan lama genangan lebih dari 7 hari. f) Perbatasan Desa Sukamukti dan Desa Rancamanyar dengan tinggi genangan 0. Wilayah Cileunyi: Sebagian Kecamatan Cileunyi meliputi Desa Cibiru Hilir dengan tinggi genangan 0. 94 . Cibabakan dan Kali Pananjung. b) Desa Panyadap.2 m disebabkan oleh luapan yang disebabkan oleh ganguan aliran di Saluran Ciateul.85 m dan lama genangan 1-2 jam hari disebabkan oleh luapan Sungai Citiis. di samping itu penyebabnya adalah kondisi saluran drainase yang sudah tidak sesuai dengan beban aliran air.5–1. 2). Wilayah Banjaran: Sebagian Kecamatan Cangkuang akibat luapan Kali Cijalupang dan Kali Cisangkuy. Padamukti. sebagian Kecamatan Pameungpeuk dan Arjasari akibat luapan Kali Cisangkuy. Cijambe. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Kecamatan Banjaran akibat luapan Kali Cisangkuy. terutama di Desa Andir. 4). 3).BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH e) Kampung Bojongasih Desa Dayeuhkolot dengan tinggi genangan 0. Cibintinu.3 m dan lama genangan 2-6 jam disebabkan oleh luapan Kali Cikambuy.6–1. Sukamulya. Wilayah Majalaya: a) Desa Majalaya Kecamatan Majalaya dan Desa Sukamantri Kecamatan Paseh dengan tinggi genangan 0. g) Sepanjang Kali Cikambuy dengan tinggi genangan 0.5 m dan lama genangan 4-5 hari disebabkan oleh luapan Saluran Wangisagara Kanan. Kali Ciseureuh. 6).40–0. Haurpugur. Ciwaru dan Saluran Induk Sadang Pugur. Linggar dan Nanjungmekar dengan tinggi genangan 0.2-0. Kecamatan Baleendah akibat luapan Sungai Citarum. Wilayah Cicalengka: Sebagian Kecamatan Rancaekek meliputi Desa Bojongsalam. Wilayah Ciparay.0 m dan lama genangan 12 jam disebabkan oleh luapan Kali Citarum.25–0. 5). Cibodas dan Langensari Kecamatan Solokanjeruk dengan tinggi genangan 0.40 m dan lama genangan 12 jam disebabkan oleh luapan Sungai Cicangkudu.45–1. dan Citaliktik.

sehingga menyebabkan pasokan air permukaan maupun air tanah akan semakin sedikit akibat menurunnya kemampuan tanah menyimpan air (resapan). Saat ini lahanlahan yang berfungsi sebagai resapan air telah banyak yang beralih fungsi menjadi pemukiman. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan di wilayah Cekungan Bandung agar ketersediaan air tetap Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Upaya penanganan secara fisik (struktur) yaitu melakukan modifikasi dan perbaikan terhadap sungai serta pembuatan bangunan-bangunan pengendalian banjir. Sedangkan upaya non fisik adalah upaya penanganan banjir yang bersifat rekayasa sosial yang menuntut adanya keserasian atau keharmonisan dari seluruh kegiatan manusia dengan lingkungan hidup.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Beberapa upaya untuk pengendalian banjir telah diupayakan oleh pemerintah baik secara fisik (struktur) maupun non fisik (non struktur). penggalian sudetan & pembangunan banjir kanal). Memperkecil debit banjir di sungai (membangun bendungan/waduk dan pemanfaatan daerah rendah untuk waduk retensi banjir) Sedangkan upaya non fisik yang telah dilakukan adalah: • • • • • • • • Kegiatan vegetatif/Penghijauan pada lahan-lahan kritis di kawasan hulu. Merendahkan elevasi muka air banjir di sungai (normalisasi alur. Penegakan hukum Penyuluhan/peningkatan kesadaran masyarakat Sistem drainase permukiman yang berwawasan lingkungan Penetapan sempadan sungai dan penertiban penggunaan lahan di daerah manfaat sungai Perkiraan dan peringatan dini Pengaturan penggunaan lahan di dataran banjir yang disesuaikan dengan adanya resiko terjadinya banjir Pemberdayaan ekonomi masyarakat pada kawasan hulu Perubahan fungsi lahan yang sangat cepat dan tidak terkendali menyebabkan berkurangnya daerah hutan sebagai resapan air. Pengendalian fisik yang telah dilakukan oleh pemerintah adalah: • • • Mencegah meluapnya banjir pada tingkat/besaran banjir tertentu. Akibatnya air permukaan menjadi tidak terkendali dan pada tingkat tertentu menyebabkan banjir. industri dan lahan pertanian. 95 .

Dayeuhkolot. Zona rawan untuk pengambilan air tanah penyebarannya ada di Kecamatan: Margaasih.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH lestari. Cicalengka dan Nagreg. Cilengkrang. Ciparay. Dayeuhkolot. Pameungpeuk. produktivitas aquifer rendah sehingga kurang layak dikembangkan. Setiap tahunnya terjadi penurunan muka air sebagai akibat dari pemanfaatan air bawah tanah yang berlebihan. Ciparay. Pangalengan. Banjaran. Cileunyi. Rancabali. • Daerah Aman pengambilan airtanah. kecuali aquifer dangkal di daerah lembah untuk keperluan air minum dan rumah tangga dengan pengambilan maksimal 100 m3 per bulan per sumur Zona bukan cekungan air tanah penyebarannya di Kecamatan Margaasih dan Pasirjambu. Rancaekek. Ibun. Majalaya. Di lain fihak. Rancaekek dan Cicalengka. Pangalengan. Ciparay. Pasirjambu. Nagreg. Penyebaran zona kritis pengambilan air tanah di Kabupaten Bandung sebagian ada di kecamatan-kecamatan sebagai berikut: Majalaya. • Zona rawan untuk pengambilan air tanah hanya diperuntukan bagi keperluan air minum dan rumah tangga dengan debit maksimum 100 m3 per bulan. Pasirjambu. Cicalengka. pengambilan baru diperbolehkan dengan debit 170 m3 per hari dengan jumlah sumur terbatas. Cilengkrang. Ibun. Pacet. Rancabali. • Zona bukan cekungan air tanah. Daerah aman untuk pengambilan air tanah penyebarannya ada di Kecamatan: Cimenyan. Batujajar dan penyebarannya ada di kecamatan: Cimenyan. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Dari hasil studi Direktorat Geologi Tata Lingkungan. Margahayu. sumber air bawah tanah di Wilayah Kabupaten Bandung dibagi ke dalam beberapa zona: • Zona kritis untuk pengambilan air tanah hanya diperuntukan untuk keperluan air minum dan rumah tangga dengan pengambilan maksimum 100 m3 per bulan. Margahayu. Pameungpeuk. kondisi air permukaan di wilayah cekungan Bandung semakin memprihatinkan. tidak dikembangkan bagi peruntukan kecuali untuk air minum dan rumah tangga dengan pengambilan maksimum 100 m3 per bulan. Ciwidey dan Pasirjambu • Daerah resapan. 96 . Majalaya. Cicalengka dan Nagreg. Daerah resapan airtanah Margaasih. Cileunyi. sehingga pada saat musim hujan tidak menimbulkan banjir dan pada musim kemarau tidak terjadi kekeringan. Daerah resapan ini meliputi Kecamatan : Cimenyan. Rancaekek. Cilengkrang.

04 km.2 Prasarana Wilayah Prasarana wilayah. A. Banjaran. Permasalahan yang dihadapi dalam urusan transportasi antara lain adalah masih tingginya tingkat kerusakan infrastruktur jalan. Setelah Kabupaten Bandung Barat terbentuk maka panjang jalan yang ada di wilayah Kabupaten Bandung Induk adalah sepanjang 767. jaringan listrik.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2. pemacu pertumbuhan wilayah. serta prasarana permukiman. Selain permasalahan infrastruktur jalan.36 km. berperan sebagai pembentuk struktur ruang. serta pengikat antar-wilayah. penyebaran pembangunan infrastruktur yang belum merata dan masih rendahnya kualitas infrastruktur dasar wilayah. pada ruas-ruas jalan tersebut menejemen dan rekayasa lalu lintas serta pemasangan rambu. dan Bojongsoang. sumber daya air.2. Untuk mengatasi kemacetan.68 km dan sisanya berada pada wilayah Kabupaten Bandung Barat 482. Transportasi Saat ini panjang jalan di Kabupaten Bandung adalah 1.3. minimnya investor dan biaya penyediaan infrastruktur yang tinggi. 97 telah dilakukan .250. Hal lainnya yang menambah permasalahan kemacetan adalah belum memadainya penanganan terminal. permasalahan lain yang dihadapi adalah terjadinya kemacetan yang sering terjadi pada titik-titik tertentu yaitu pada ruas Jalan Kopo. yang terdiri atas prasarana transportasi. mengingat Kabupaten Bandung belum mempunyai terminal yang layak. Toha. 4% dengan kerusakan 10% . Jalan Moh. Dalam penanganan kesemrawutan terminal perlu adanya penataan dan pembangunan terminal yang representatif. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Belum meratanya penyebaran pembangunan infrastruktur disebabkan karena inkonsistensi pemerintah dalam pengembangan wilayah. pemenuhan kebutuhan wilayah. Selain itu perlu dikembangkan dan dilakukan penataan kembali sarana transportasi (angkutan) yang layak dan memadai serta penggantian moda angkutan dengan sistem transportasi/angkutan masal. sedangkan untuk wilayah barat titik kemacetan berada pada Jalan Margaasih.30% perlu dilakukan pemeliharaan periodik serta 12% mengalami kerusakan di atas 30% perlu dilakukan peningkatan. Pada tahun 2008 sesuai dengan rencana kerja untuk tahun 2009 Dinas Bina Marga Kabupaten Bandung prosentase penanganan jalan Kabupaten meliputi 41% dengan kondisi 26% kerusakan kurang dari 10% perlu dilakukan pemeliharaan rutin.

C. Pasirjambu. Sementara itu pada tahun 2007 jumlah keluarga yang tinggal di daerah kumuh sebanyak 884 kk. Permukiman Berdasarkan data-data yang ada. pada tahun 2007 terdapat keluarga yang belum mendapatkan fasilitas listrik perdesaan yaitu sebesar 46. Seiring dengan semakin mahalnya TDL dan dikuranginya subsidi bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah yang menyebabkan tingginya harga BBM. Kabupaten Bandung memiliki potensi panas bumi yang cukup besar sebagai salah satu alternatif sumber pembangkit tenaga listrik. swasta maupun masyarakat melalui kebijakan dan strategi yang efektif dan efisien sehingga angka backlog permukiman tidak semakin tinggi. Cikancung.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH B. Pada Tahun 2006.935 m2. Angka backlog ini termasuk kategori tinggi untuk daerah-daerah di Jawa Barat. Beberapa upaya pemerintah dalam mengatasi hal tersebut diantaranya adalah menggulirkan Program Rumah Tidak Layak Huni. serta ditetapkannya Kebijakan Diversifikasi Energi Nasional sebagai bagian dari Kebijakan Umum Bidang Energi (KUBE) yang mengarahkan pada pengurangan pemakaian minyak bumi dan meningkatkan pemakaian batubara dan gas. 98 . Dua dari 4 PLTP yang telah beroperasi di Jawa Barat berlokasi di wilayah Kabupaten Bandung yaitu Kamojang (140 MW) dan Wayang Windu (110 MW). Rancabali dan Soreang. kondisi permukiman di Kabupaten Bandung tidak cukup menggembirakan. juga bekerja sama dengan pusat melalui Program Perumahan Swadaya dan Rumah Susun Kulalet di Baleendah. Ibun.169 KK yang tersebar di beberapa kecamatan antara lain Kecamatan Arjasari. terjadi Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Paseh. Berdasarkan data dari Asosiasi Konsultan Perumahan dan Permukiman Indonesia (AKPPI). Cimenyan. Namun hal tersebut belum cukup mengatasi permasalahan backlog permukiman di Kabupaten Bandung. terdapat di 114 titik lokasi dengan luas total areal permukiman kumuh 328. Permasalahan ini tentunya perlu mendapat perhatian dari seluruh stake holders permukiman baik pemerintah.984 unit rumah. pada tahun 2003 saja kebutuhan perumahan yang belum terpenuhi (backlog) di Kabupaten Bandung ± 178. Pacet. telah berhasil dilakukan perbaikan rumah tidak layak huni sebanyak 440 unit . Listrik dan Energi Berdasarkan cakupan pelayanan prasarana jaringan listrik di Kabupaten Bandung. Di bidang energi.

Pada tahun 2007 telah tercatat 56 unit peralatan boigas yang dimanfaatkan masyarakat yang tersebar di beberapa kecamatan. Kebutuhan air bersih yang terlayani oleh pemerintah baik yang dilayani oleh PDAM (perkotaan) maupun Dinas Kimtawil (pedesaan) serta swadaya Kabupaten Bandung berdasarkan data Tahun 2007 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. 99 . Paseh dan Rancabali. antara lain. maka perkiraan penggunaan batubara di Kabupaten Bandung adalah 1. Sampai tahun 2007 telah tercatat 94 industri memanfaatkan batu bara untuk pemenuhan energinya.099 ton per hari. Energi Biogas ini sebagian besar dihasilkan dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi. Pada tahun 2006 berdasarkan data-data penggunaan batubara dari 40 industri serta data dari API Jabar dilakukan perhitungan dengan asumsi-asumsi tertentu. Kecamatan Cilengkrang. limbahnya dapat menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola secara benar. Kertasari.200 ton per hari. Penggunaan batubara ini di satu pihak akan membantu industri dalam menjalankan kegiatan industrinya karena biaya produksi dapat ditekan. Energi alternatif lainnya yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah energi Biogas. sehingga sebagian besar lokasi pemanfaatan energi boigas terletak pada wilayah peternakan. Menyikapi hal ini maka Pemerintah Kabupaten Bandung dipandang perlu untuk melakukan penanganan limbah batubara secara terpadu. Di Kabupaten Bandung. diperkirakan untuk masa yang akan datang kebutuhan batubara untuk industri akan meningkat sejalan dengan dikuranginya subsidi BBM dan TDL yang semakin mahal.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH peningkatan penggunaan bahan bakar batubara sebagai pengganti BBM pada industri-industri. D. Penanganan yang paling tepat adalah dengan memanfaatkan limbah batubara tersebut menjadi komoditi yang bernilai ekonomis serta aman bagi lingkungan. Sedangkan pada tahun 2007 seiring dengan meningkatnya penggunaan batubara sebagai energi alternatif. konsumsi batubara meningkat menjadi 2. Air Bersih Secara keseluruhan cakupan pelayanan air bersih di Kabupaten Bandung saat ini masih cukup rendah. terjadi peningkatan pengalihan atau penggunaan batubara pengganti BBM di Kabupaten Bandung dari tahun ke tahun. Namun di pihak lain. Penggunaan batubara di Kabupaten Bandung mulai menjadi fenomena tersendiri sejak tahun 2003. Setelah itu.

78 189. Baleendah. Ibun. Margaasih.65%.556 1. Katapang. Pasirjambu. mengingat belum seluruh wilayah terlayani oleh Dinas Kebersihan. Arjasari.65 37. Banjaran. Margahayu. Sedangkan wilayah cakupan penyediaan air bersih yang termasuk perdesaan adalah sebagian Kec. E. Paseh.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH baru mencapai 37. Majalaya.78% untuk seluruh Wilayah Kabupaten Bandung.42 3. Soreang. Majalaya. terutama untuk wilayah pedesaan. masing-masing memberikan kontribusi 4.42%. Sistem distribusinya menggunakan pompa atau pipa gravitasi. Solokan jeruk. Nagreg. untuk wilayah perdesaan. Sampai tahun 2006. pemanfaatan sumber air bersih adalah lk. Pacet.70% dan 29. Bojongsoang. lk. Cicalengka. Tabel 2. Cilengkrang. Prosentase cakupan tersebut merupakan angka prosentase kumulatif kinerja PDAM. sehingga angka tersebut belum bisa diakui sebagai angka cakupan pelayanan air bersih yang aman bagi aktivitas masyarakat dilihat dari sisi kesehatan. 20 desa berasal dari sumur bor dengan kapasitas 20 lt/dt .70 29.046 158.267. Rancabali. Dinas Kimtawil dan Swadaya. 100 . Cimenyan. Pangalengan.105 1. Persampahan Pelayanan kebersihan di Kabupaten Bandung sampai saat ini masih belum optimal. dan Cangkuang. 35 desa berasal dari sumur dangkal dengan kapasitas 35 lt/dt dan lk. Cikancung. Ciparay.707 Kimtawil Swadaya Total Sumber : Dinas Kimtawil Kabupaten Bandung 2007 Wilayah perkotaan yang sudah terlayani PDAM adalah sebagian Kec. 3.614. dan Ciwidey. Cileunyi.10 Tingkat Cakupan Air Bersih di Kabupaten Bandung PDAM Jumlah Penduduk Terlayani Air Bersih (Jiwa) Cakupan Pelayanan Air Bersih (%) 4. Dinas Kebersihan saat ini membagi empat wilayah pelayanan sebagai berikut: Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Ibun. Kertasari.6 lt/dt. Pameungpeuk. Cimaung. 110 desa berasal dari mata air dengan total kapasitas 415. Tentu saja cakupan tersebut belum memperhitungkan tingkat keamanan sumber air bersih bagi kegiatan masyarakat sehari-hari.

50 3 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.03 1.72 20.50 4.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Tabel 2.50 6.03 45.50 12.06 18.21 42. 101 .07 37.00 3.68 9.94 7.82 21.06 577.15 29.00 14.53 1.92 37.12 67.97 9.44 43.11 Wilayah Pelayanan Persampahan Kabupaten Bandung No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 III II I Wilayah Operasional Kecamatan Margahayu Katapang Soreang Ciwidey Pasirjambu Rancabali Margaasih Baleendah Banjaran Dayeuhkolot Ciparay Bojongsoang Pameungpeuk Arjasari Pangalengan Cangkuang Cimaung Pacet Kertasari Majalaya Cileunyi Rancaekek Cicalengka Cimenyan Paseh Solokanjeruk Ibun Nagreg Cikancung Cilengkrang JUMLAH (* Keterangan: √ : terlayani  : tidak terlayani Terlayani/Tidak (* √ √ √ √   √ √ √ √ √ √ √ √ √     √ √ √ √ √ √ √    Sampah Terangkut (m /hari) 90.25 54.

padahal berdasarkan data Dinas Kebersihan Tahun 2006.55 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. 36.50 m3 perhari.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Kecamatan Kutawaringin masih tergabung dalam Kecamatan Soreang Sumber : Masterplan Persampahan Kabupaten Bandung 2007 Dari tabel 2. Pengairan/Irigasi Panjang saluran irigasi adalah 594 km dan terbagi atas saluran teknis sepanjang 183. Tentunya hal ini akan mempengaruhi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Rekayasa teknologi pengolahan sampah yang aman bagi lingkungan yang mampu mengurangi jumlah timbulan sampah TPSS dan TPSA juga perlu dilakukan sehingga kesulitan mencari lahan TPSS dan TPSA bisa teratasi.8 km dengan kondisi 137.975 km kondisinya baik.983 rusak berat serta saluran non teknis sepanjang 410. beban pemerintah di dalam mengatasi permasalahan sampah tentunya akan sangat berat tanpa dibantu oleh para pemangku kepentingan (stakeholders). dengan demikian upaya mengurangi jumlah timbulan sampah yang harus diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Sementara (TPSS) dan TPSA bisa dikurangi di level rumah tangga sebagai unit terkecil di masyarakat. sehingga keberadaan TPSA tersebut mendapat dukungan dari masyarakat. Melalui terobosan-terobosan pengelolaan sampah yang baik dan aman terhadap lingkungan diharapkan akan memperpanjang usia TPSA dan meredam resistensi masyarakat terhadap keberadaan TPSA tersebut. ditimbun atau dibakar oleh masyarakat.1 ha harus menjaga agar lokasi-lokasi TPSA tersebut tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.78%. terutama dari komunitas-komunitas pemerhati lingkungan. sisanya bisa dibuang ke sungai.322 m3 perhari. Disamping itu rekayasa sosial yang mengarah kepada peningkatan kedisiplinan masyarakat dalam membuang sampah. Untuk itu pemerintah perlu mendorong partisipasi masyarakat dan swasta dalam mengatasi permasalahan sampah.11 di atas dapat dilihat bahwa dari 30 kecamatan Dinas Kebersihan baru bisa melayani 21 kecamatan. dengan sampah terangkut ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) ± 577. jumlah timbulan sampah per hari di Kabupaten Bandung adalah ± 8. F. Artinya jumlah sampah yang terangkut ke TPSA di Kabupaten Bandung baru mencapai 11. yaitu TPSA Babakan di Kecamatan Ciparay dengan luas lahan ±10.889 km rusak ringan dan 4. Dengan prosentase timbulan sampah tidak terangkut yang masih besar. Dengan memiliki satu lokasi TPSA. 102 .

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

km dengan kondisi 28,741 km dalam keadaan baik, 103, 240 km rusak ringan dan 35,800 km rusak berat. Bendung teknis sebanyak 22 buah dengan 27% kondisinya baik, 41% rusak ringan dan 9% rusak berat serta 297 buah bangunan sadap terdiri dari 56% kondisinya baik, 44% rusak ringan dan 29% rusak berat. Untuk bangunan pelengkapnya terdiri dari 367 bh dengan 254 kondisinya baik, 72 bh rusak ringan dan 41 rusak berat serta 87.930 m’ bagunan pelengkap terdiri dari 4.000 m’ kondisi baik, 37.880 m’ kondisi rusak ringan serta 46.050 m’ rusak berat.

2.4.2 Isu Strategis Isu strategis merupakan pokok permasalahan yang belum dapat diselesaikan pada periode tahun sebelumnya dan memiliki dampak jangka panjang bagi keberlanjutan pelaksanaan pembangunan, sehingga perlu diatasi secara bertahap. Brdasarkan kondisi-kondisi sebagaimana diuraikan pada sub bab sebelumnya dan terkait dengan isu nasionals erta provinsi maka ditetapka Isu strategis Kabupaten Bandung pada tahun 2009 antara lain : • • • • • • • • • • • Kemiskinan Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Infrastruktur Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Kesehatan Pendidikan Ketersediaan Energi Jumlah penduduk Kinerja pemerintahan Lunturnya Nilai-nilai religius

Berikut tabel yang menggambarkan isu strategis Kabupaten Bandung berdasarkan kajian permasalahan berdasarkan data yang terhimpun serta usulan dan masukan melalui berbagai mekanisme dan proses seperti musrenbang serta renja dan renstra SKPD terkait.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 103

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

Tabel 2.12 Matriks Isu Strategis Kabupaten Bandung
ISU STRATEGIS 1 Kemiskinan MASALAH 2 Masih tingginya jumlah penduduk miskin. BASIS DATA 3 Jumlah keluarga miskin terendah adalah di Kec.Margahayu lk. 2.440 KK (miskin perkotaan), sedangkan jumlah gakin tertinggi yaitu di Kec. Ciparay. Lk. 19.871 KK (sumber data : gakin lk. 10.656 KK orang per kecamatan Lingkungan Hidup Tingginya terhadap dikategorikan pencemaran/polusi lingkungan menjadi yang limbah Debit limbah cair industri terbanyak di Kecamatan Dayeuhkolot lk. 1.511.827 m3/hari, sedangkan total debit limbah cair se Kabupaten Bandung lk. 4.014.144 m3/hari yang tersebar di 18 Kecamatan dengan rata-rata lk.223.000 m3/hr Pencemaran/polusi berupa limbah cair dapat dilihat dari kualitas badan air, terutama pada S. Citarum dan anak-anak sungainya. Kualitas anak-anak S. Citarum yaitui Sungai Cisangkan Hilir,S. Cibeusi serta S. Cisaranteun Hulu termasuk Kelas IV atau masih mungkin digunakan untuk kepentingan mengairi tanaman, sedangkan kualitas anak-anak S. Citarum lainnya tidak termasuk ke dalam kelas I,II,III,IV (tidak dapat digunakan) Sumber BPLHD thn 2007. Banyaknya industri yang membuang limbah cair menyebabkan tingginya konsentrasi COD. Pencemaran dalam bentuk limbah lain yaitu limbah cair karena aktivitas peternakan (kotoran ternak) yang menyebabkan tingginya konsentrasi BOD pada badan air penerima (S. Citarum dan anak sungainya). Sebaran lokasi peternakan sapi yaitu Pangalengan,Arjasari, Pacet, Kertasari, Ibun, Cikancung, Pasirjambu,Ciwidey, Cilengkrang, Cimenyan, Nagreg,Cicalengka. Jumlah ternak sapi perah lk.25.307 ekor, sedangkan sapi potong 11.510 ekor. Jumlah sapi potong terbanyak di Kec. Cilengkrang lk. 10.070 ekor, sedangkan jumlah sapi perah terbanyak di Kec. Pangalengan yaitu lk. 10.630 ekor Pencemaran berupa polusi udara akibat pemanfaatan batu bara sebagai pengganti energi listrik ) untuk rata-rata sebaran

dan Tata Ruang

industri, domestik serta limbah pertanian. Limbah tersebut dapat dikelompokkan menjadi limbah B3 dan non B3, sedangkan dari bentuknya terbagi menjadi limbah padat, cair dan gas.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 104

BAB II

EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

ISU STRATEGIS 1

MASALAH 2

BASIS DATA 3 Pencemaran berupa limbah B3 lainnya yang memerlukan penanganan khusus.

Luasnya lahan kritis

Terdapatnya Lahan kritis pada 16 Kecamatan, dengan luas lahan kritis tertinggi di Kecamatan Cimenyan lk.828 Ha atau 16 % dari luas lahan Kec. Cimenyan, sedangkan rata-rata persentase luas lahan kritis pada 16 kecamatan tersebut lk. 7% Luas lahan kritis tersebut umumnya berada pada lahan-lahan milik masyarakat, sehingga hal ini cukup menyulitkan dalam upaya penanganannya

Adanya eksploitasi Air Bawah Tanah pada beberapa lokasi

sudah sangat menghawatirkan. Penurunan muka air tanah

tertinggi di Kecamatan Dayeuh kolot Masih terbatasnya kuantiitas dan kualitas lingkungan /perumahan Terdapatnya kebencanaan Pendidikan Tingginya beban masyarakat potensi Peristiwa kebencanaan di Kabupaten Bandung meliputi kejadian banjir sebanyak 27 kali dengan luas total 500 Ha, kejadian longsor sebanyak 59 kali dan kekeringan sebanyak 71 lokasi kejadian. Tingginya biaya pendidikan (operasional & non operasional) karena (1) Tingginya biaya pendaptaran sekolah (2) biaya seragam (3) biaya pendidikan & non pendidikan lainnya yg langsung ditanggung siswa. sanitasi/kesehatan permukiman

dalam membiayai pendidikan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009

Bab II Hal. 105

857 Ha). Untuk ketahanan pangan sendiri apabila dihitung jumlah penduduk Kab. serta sebaran guru yang tidak merata SDM pendidik Sebaran tenaga pendidikan kurang merata SDM Penyedia Jumlah tenaga kesehatan kurang Sebaran tenaga kesehatan kurang merata Dedikasi pemberi layanan kesehatan publik kurang Masih banyak pemberi layanan kesehatan dengan tingkat pendidikan yang rendah Jumlah dan sebaran prasarana kesehatan publik kurang merata layanan (Dokter. Jumlah produksi terbanyak yaitu Kec. Bandung yang berjumlah lk.870 kw/ha/thn. dokter gigi. (Rata-rata 12. Bab II Hal.Kertasari lk. sedangkan yang paling rendah adalah Kec.35. Rancaekek lk.9 juta orang. 280. 106 beli masih Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 . kurangnya minat untuk meng-upgrade kapasitasnya sendiri. Bandung adalah 385. Ketenagakerjaan Masih tingginya jumlah penduduk Terdapatnya jumlah pengganguran lk.307 kw/ha/thn.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH ISU STRATEGIS 1 MASALAH 2 BASIS DATA 3 Jarak sekolah yg jauh dari tempat tinggal siswa dengan kondisi akses yang tidak memadai Permasalahan (Guru) Permasalahan (Guru) Kesehatan Permasalahan SDM pendidik Kualitas guru yang rendah.368 orang. 2. Jumlah produksi padi Kab.732 kw/ha/thn. Bandung kekurangan namun dari sisi distribusi dan kemampuan/daya kurang. tidak pangan Kabupaten mengalami (beras). Perawat. Bidan. dll) serta sarana dan prasarana kesehatan Ketahanan Pangan Dari sisi produksi. maka masih tersedia beras dalam jumlah berlebih (surplus).

Pengolahan kotoran ternak menjadi energi merupakan potensi energi alternatif. Cimenyan lk. yang potensinya cukuo besar berada di beberapa Kecamatan. sedangkan terkecil di Kec.244 org.03% dengan rata-rata 3. Penganggur terbanyak di Kec.124 org dan perempuan lk. Cikancung. 143. tenaga air (mikro) Tenaga angin Tenaga surya laju pertumbuhan Terdapatnya distribusi penduduk yang tidak seimbang terutama pada kawasan yang cepat tumbuh (kawasan indusdan kawasan perbatasan dengan Kota Bandung) Laju pertambahan penduduk alami masih tinggi Kepadatan penduduk tinggi Jumlah Penduduk 2.101 orang. Ibun serta Rancabali.376 pemerintahan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal. Cilengkrang serta Kec. 17. Pangalengan. 3. Kertasari lk. Ketersediaan energi dan SDA lainnya Masih banyaknya penduduk yang belum teraliri listrik terutama masyarakat miskin Masih listrik : • • • • • Kependudukan Tenaga panas bumi Biogas (kotoran ternak) Untuk energi berasal dari panas bumi berada di Kec. Kertasari.231 orang. Pangalengan. a.BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH ISU STRATEGIS 1 MASALAH 2 yang menganggur. Kec.013 orang/ha Kinerja Pemerintahan Belum optimalnya kinerja Rasio aparatur Kecamatan terhadap jumlah penduduk 859 : 2.l: Kec. 2. 137.9 juta kurangnya pemanfaatan Tingginya penduduk (LPP) yaitu lk. 107 ..9 juta atau 1:3. BASIS DATA 3 dengan jumlah laki-laki lk.

108 .BAB II EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH ISU STRATEGIS 1 Lunturnya Nilai-nilai religius MASALAH 2 Lunturnya nilai-nilai religius BASIS DATA 3 Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2009 Bab II Hal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful